Anda di halaman 1dari 14

ACARA III

MEMBUAT CAKE MANDARIN


A. TUJUAN PRAKTIKUM
Tujuan praktikum pada acara III. Membuat Roti Mandarin adalah:
1. Mahasiswa mengetahui fungsi bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan
roti mandarin.
2. Mahasiswa mengetahui teknik pembuatan roti mandarin.
3. Mahasiswa dapat mengetahui jenis-jenis bakery.
4. Mahasiswa dapat mengetahui faktor yang mempengaruhi keberhasilan
pembuatan cake.
B. TINJAUAN PUSTAKA
Cake adalah salah satu makanan busa semi kering yang memiliki kantung
udara tertutup dalam jaringan protein dan pati. Hal ini dihasilkan dari adonan
yang menghasilkan gas yang terlarut dalam medium bahan. Bahan-bahan
pembuatan cake adalah tepung, gula, telur, milk, baking powder, emulsifier, dan
bahan-bahan lainnya yang umum digunakan seperti coklat, kacang-kacangan,
buah-buahan, dan lain sebagainya tergantung cake apa yang akan dibuat(Dmoor,
2013).
Produk roti merupakan salah satu makanan yang paling banyak
dikonsumsi di dunia. Diantaranya kue yang popeler adalah bentuk sponge yang
lezat dengan karakteristik organoleptik yang dikehendaki. Sifat fiskokimia dari
kue sangat tergantung dari struktur makro dan mikro produk roti. Adonan kue
adalah emulsifier yang komplek dan system busa. Tepung terigu, susu, lemak,
gula, telur adalah bahan utama pembuatan kue, masing-masing bahan memiliki
fungsi dan peran masing-masing dalam membentuk struktur dari kue(Garcia,
2013).

Roti berasal dari negara mesir kuno ribuan tahun lampau. Orang mesir
kuno mengolah tepung gandum menjadi roti gepeng yang dipanggang diatas batu
yang dipanaskan. Pada abad pertengahan di Eropa mulai dikembangkan cara
pengolahan roti yang lebih modern, seperti misalnya roti menjadi lebih harum
dan lembut karena diperkaya dengan susu dan kuning telur. Kini roti dibuat oleh
bakery atau pabrik roti dengan peralatan yang meoderen. Jenis rotipun ada
banyak macamnya, ada yang kecil hingga besar(Sufi, 2006).
Roti banyak dijumpai di toko kue, pasar swalayan, dan pasar tradisional,
dari yang harganya murah sampai yang harganya mahal dengan cita rasa yang
berbeda-beda. Roti sanggat praktis dibawa kemana-mana, bisa digunakan sebagai
sarapan atau penganjal perut di siang hari. Harga menentukan kualitas dan rasa
serta kelembutan roti. Saat ini banyak variasi roti lembut yang terkenal. Bahan
dasar pembuatan roti adalah tepung terigu. Tepung terigu yang biasa digunakan
adalah terigu dengan protein tinggi atau yang biasa dikenal dengan terigu
cakra(Lilyana, 2005).
Roti adalah produk makanan yang terbuat dari fermentasi tepung terigu
dengan ragi atau bahan pengembang lainnya, kemudian dipanggang. Pada
awalnya, roti dibuat dari bahan yang sederhana dengan cara pembuatan yang
sederhana pula. Caranya, roti dibuat dari gandum yang digiling menjadi terigu
murni dan dicampur air, kemudian dibakar diatas batu panas atau oven. Dengan
berkembangnya teknologi,tercipta roti yang lebih bervariasi baik dari segi
ukuran, penampilan, bentuk, tektur, rasa, dan rasa. Hal ini karena adanya
pengaruh terhadap perkembangan pembuatan roti yang meliputi aspek bahan
baku, proses pencampuran, dan metode pengembangan adonan(Mubiajanto,
2008).
Telur merupakan bahan baku yang sanggat berpengaruh terhadap hasil
ahir adonan roti. Selain itu, telur juga berfungsi untuk menambah nilai gizi,
menguatkan rasa, membantu proes pengembangna produk, memperlunak dan

memperbaiki tekstur remah dalam adonan, serta memperbaiki kulit adonan.


Penggunaan telur dalam roti harus mempertimbangkan kandungan air dalam
telur. Putih telur mengandung 85%air, sedangkan kuning telur mengandung 50%
air. Kuning telur mengandung lecithin yang berfungsi sebagai emulsifier yang
membuat adonan roti menjadi empuk(Chan, 2009).
Tepung terigu berasal dari tananman gandum (tricium sp) yng tumbuh
dan dapat berproduksi dengan baik di daerah sub-tropis seperti Australia,
Kanada, Amerika Serikat. Setelah melalui berbagai macam proses, gandum
giling dan diayak sehingga mendapatkan tepung terigu yang bisa kita gunakan.
Jumlah gluten yang dibutuhkan untuk pembuatan makanan berbasis tepung terigu
seperti mie dan roti membutuhkan gluten yang lumayan tinggi(Murthando, 2010)
Terigu merupakan bahan pangan utama yang digunakan untuk membuat
makanan di seluruh dunia. Selama beberapa abad, terigu digunakan sebagai
bahan baku dalam berbagai jenis makanan seperti roti, kue, crackers, pasta dan
mie. Selama ini kebutuhan terigu di indonesia diperoleh dengan cara mengimpor
dalam jumlah besar. Pada tahun 2003 Indonesia mengimpor terigu sebanyak
344,2 juta ton yang setara US$75,3 juta atau Rp 677,9 Milyar(Widaningrum,
2005).
Tepung terigu merupakan hasil ekstraksi dari proses penggilingan
gandum (T. sativum) yang tersusun oleh 67-70% karbohidrat, 10-14% protein,
dan 1-3% lemak. Pada sebagian besar produk makanan, pati terigu terdapat
dalam bentuk granula kecil (1-40m) dan dalam suatu system, contohnya
adonan, pati terigu terdispersi dan berfungsi sebagai bahan pengisi. Protein dari
tepung terigu membentuk suatu jaringan yang saling berikatan (continous) pada
adonan dan bertanggung jawab sebagai komponen pembentuk viscoelastik.
Gluten merupakan komponen utama dalam tepung terigu yang terdiri dari gliadin
(20-25%) dan glutenin (35-40%)(Fitasari, 2009).

Gula digunakan sebagai bahan dalam pembuatan roti. Jenis gula yang
paling banyak digunakan adalah sukrosa. Selain sebagai pemanis sukrosa juga
berperan dalam penyempurnaan mutu pangangan dan warna kerak, dan
memungkinkan proses pematangan yang lebih cepat, sehingga air lebih banyak
dipertahankan dalam roti. Dengan adanya gula maka waktu pembakaran harus
sesingkat mungkin agar roti tidak menjadi hangus karena sisa gula yang masih
terdapat dalam adonan dapat mempercepat proses pembentukan warna pada kulit
roti. Dengan singkatnya waktu pembakaran tersebuyt, maka masih banyak uap
air yang tertinggal dalam adonan, dan ini akan mengakibatkan roti akan tetap
empuk(Koswara, 2009).
C. METODOLOGI
1. Alat
a. Mixer
b. Loyang
c. Oven
d. Baskom
e. Solet
f. Kertas roti
2. Bahan
a. Mandarin Polos
1. 75 g tepung terigu
2. 175 g gula halus
3. 18 butir kuning telur
4. 2 butir putih telur
5. 1 sdm quik
6. 125 g margarin
7. 25 g tepung maizena
8. 10 g susu bubuk

9. 1 s mk room bakar
b. Mandarin Coklat
1. 75 g tepung terigu
2. 175 g gula halus
3. 18 butir kuning telur
4. 2 butir putih telur
5. 1 sdm quik
6. 125 g margarin
7. 25 g tepung maizena
8. 10 g susu bubuk
9. 10 g coklat powder
c. Selai stroberi

3. Cara Kerja
175 g gula halus,18 butir kuning telur, 2 butir
putih telur, 1 sdm quic

125 gr margarin
Pengocokan

75 tepung terigu, 25 gr maizena

Pengocokan

Pencampuran

Pencampuran

Pengovenan

Pengolesan selai stroberi

Penumpukan

Pengujian organoleptik

D. HASIL & PEMBAHASAN


Tabel 3.1 Pengamatan Uji Organoleptik Roti Mandarin

Sampel
123
321
231

Warna
3,15a
3,50ab
3,85b

Aroma
3,10a
3,30ab
3,75b

Rasa
3,45a
3,45a
3,95a

Tekstur
3,35a
3,35a
4,05b

Overall
3,20a
3,55a
4,15a

Sumber : Laporan Sementara


Keterangan :
Sampel 123 (kel 7, 8)
: tepung terigu cakra kembar
Sampel 321 (kel 9,10)
: tepung terigu segitiga biru
Sampel 231 (kel 11,12)
: tepung terigu kunci biru

Roti didefinisikan sebagai makanan yang dibuat dari tepung terigu yang
diragikan dengan ragi roti dan dipanggang. Ke dalam adonan boleh ditambahkan
garam, gula, susu, lemak dan bahan-bahan pelezat seperti coklat, kismis dan
sukade. Bahan baku untuk proses pembuatan roti dapat digolongkan menjadi tiga
kelompok, yaitu bahan pokok atau bahan utama seperti tepung terigu, ragi dan
air, bahan penambah rasa yaitu gula, garam, lemak dalam bentuk
shortening/mentega/margarin, susu dan telur, serta bahan tambahan berupa
mineral yeast food (MYF), malt, emulsifier, bahan untuk meningkatkan mutu
adonan (dough improver) dan pengawet terutama terhadap jamur (Koswara,
2009).
Mandarin adalah produk makanan yang terbuat dari tepung terigu dan
ditambahkan bahan lainnya, kemudian dipanggang atau dioven. Mandarin ini
termasuk jenis cake. Bahan-bahan yang digunakan dalam membuatan mandarin
adalah telur, gula halus, Quik atau ovalet, margarine, room botter, rhum bakar,
terigu, maizena dan susu powder, yang semuanya harus sudah diketahui
takarannya dan kualitasnya sebelum digunakan untuk membuat cake (Narpinder,
2006).
Pada praktikum yang telah dilakukan cara pembuatan roti mandarin yaitu
mula-mula disiapkan 2 buah loyang persegi. Loyang persegi tersebut kemudian
dioles dengan margarin sampai rata disetiap sisi loyang dan alasi dengan kertas
roti. Sebelum membuat adonan roti mandarin, 125 gram margarine dikocok
terlebih dahulu dengan menggunakan mixer sampai berwarna putih. Setelah itu,
18 butir kuning telur, 2 butir telur dan 175 gr gula halus dikocok dengan mixer

posisi miring V tinggi sampai naik sampai mengembang dan kental, dengan
mixer berkecepatan tinggi. Dimasukkan 1 sdm quik 75 ( 50 gr), aduk rata.
Untuk adonan mandarin lapis kuning ditambahkan dengan 75 gr terigu, 25 gr
maizena, 10 gr susu powder, dan untuk adonan mandarin lapis coklat
ditambahkan 60 gr terigu, 20 gr maizena, 10 gr coklat powder, 10 gr susu powder
dan diaduk rata. Tuang tiap adonan ke dalam loyang yang sudah disiapkan.
Panggang dalam oven selama 20 menit atau sampai matang lalu angkat dan
dinginkan. Oles permukaan lapisan kuning roti mandarin yang sudah matang
dengan selai strawberry, kemudian tumpuk dengan lapisan coklat roti mandarin.
Potong-potong menjadi beberapa bagian lalu dilakukan pengujian organolpetik.
Pembuatan roti mandarin yang dilakukan menggunakan jenis tepung terigu
yang berbeda yaitu, tepung terigu dengan merk cakra kembar, segitiga biru dan
kunci biru. Dalam pembuatan roti bahan utama yang digunakan adalah tepung
terigu. Tepung terigu dibuat dari pengolahan biji gandum. Dibandingkan bijibijian yang lain, gandum memiliki keistimewaan karena adanya kandungan
protein yang disebut gluten. Komponen terpenting yang membedakan dengan
bahan lain adalah kandungan protein jenis glutenin dan glidin, yang pada kondisi
tertentu dengan air dapat membentuk massa yang elastis dan dapat mengembang
yang disebut gluten. Sifat-sifat fisik gluten yang elastis dan dapat mengembang
ini memungkinkan adonan dapat menahan gas pengembang dan adonan dapat
menggelembung seperti balon. Keadaan ini memungkinkan produk roti
mempunyai struktur berongga yang halus dan seragam serta tekstur yang lembut
dan elastis. Tepung terigu harus mampu menyerap air dalam jumlah banyak
untuk mencapai konsistensi adonan yang tepat, dan memiliki elastisitas yang baik
untuk menghasilkan roti dengan remah yang halus, tekstur lembut dan volume
yang besar. Tepung yang demikian disebut tepung keras (hard wheat). Tepung
keras mengandung 12-13 % protein dan cocok untuk pembuatan roti, misal
tepung terigu merk cakra kembar. Sebaliknya tepung terigu yang kecil
kemampuannya menyerap air, menghasilkan adonan yang kurang elastis

sehingga menghasilkan roti yang padat serta tekstur yang tidak sempurna.
Tepung terigu demikian disebut tepung lunak (soft wheat), mengandung protein
sekitar 7,5-8 %, bias digunakan untuk biskuit, bolu, kue kering,dan crakers,
misal tepung terigu jenis segitiga biru, kunci biru dan lencana merah (Koswara,
2009).
Pada roti, tepung terigu diperlukan bersama bahan lainnya untuk
membentuk adonan dan merupakan bahan dasar yang penting dalam pembuatan
roti. Pada saat air ditambahkan dan dicampurkan ke dalam tepung terigu, protein
tidak larut air dalam terigu (gliadin dan glutelin) akan mengikat air tersebut dan
membentuk gluten yang akan menahan gas yang dihasilkan dari fermentasi gula
oleh ragi. Partikel gluten yang tersebar dalam adonan akan mengembang dan
saling merajut membentuk kerangka adonan yang bersifat spongy dan menjadi
tempat melekatnya butir-butir pati, ragi roti serta berbagai bahan lainnya. Efek
dari kondisi tepung terigu pada mutu roti adalah terhadap volume, bentuk, warna
kulit, struktur jaringan, aroma, rasa dan tekstur roti (Koswara, 2009).
Lemak digunakan dalam pembuatan roti

sebagai

shortening karena dapat memperbaiki struktur fisik seperti


volume, tekstur, kelembutan, dan flavor. Selain itu penambahan
lemak menyebabkan nilai gizi dan rasa lezat roti bertambah.
Penambahan

lemak

dalam

adonan

akan

menolong

dan

mempermudah pemotongan roti, juga dapat menahan air,


sehingga masa simpan roti lebih panjang dan kulit roti lebih
lunak.

Penggunaan

lemak

dalam

proses

pembuatan

roti

membantu mempertinggi rasa, memperkuat jaringan zat gluten,


roti tidak cepat menjadi keras dan daging roti tidak lebih empuk
(lemas) sehingga dapat memperpanjang daya tahan simpan
roti..

Lemak

memperbaiki

berfungsi
remah

roti.

sebagai

pelumas

Disamping

itu,

sehingga
lemak

akan

berfungsi

mempermudah pemotongan roti dan membuat roti lebih lunak


(Koswara, 2009).
Penggunaan susu untuk produk-produk bakery berfungsi
membentuk

flavor,

mengikat

air,

sebagai

bahan

pengisi,

membentuk struktur yang kuat dan porous karena adanya


protein berupa kasein, membentuk warna karena terjadi reaksi
pencoklatan dan menambah keempukan karena adanya laktosa.
Alasan utama pemakaian susu dalam pembuatan roti adalah
untuk meningkatkan nilai gizi. Susu mengandung protein
(kasein),

gula

laktosa

dan

mineral

kalsium.

Susu

juga

memberikan efek terhadap warna kulit roti dan memperkuat


gluten karena kandungan kalsiumnya.Susu juga memberikan
efek terhadap kulit dan memperkuat gluten karena kandungan
kalsiumnya. Dalam proses pembuatan roti, telur berfungsi untuk
meningkatkan nilai gizi, memberikan rasa yang lebih enak dan
membantu untuk memperlemas jaringan zat gluten karena
adanya lesitin dalam telur yang mengakibatkan roti menjadi
lebih empuk dan lemas (Koswara, 2009).
Setelah dilakukan proses pembuatan roti mandarin dengan menggunakan
perbedaan jenis merk tepung terigu, dilakukan uji organoleptik untuk mengetahui
tingkat kesukaan panelis terhadap produk yang telah dibuat. Uji organoleptik
yang dilakukan juga berguna untuk mengetahui perbedaan nyata atau tidak
berbeda nyata pada tiap sampel yang diujikan. Pada keterangan nilai uji mulai
dari 1 sampai 5 yaitu 1 adalah sangat tidak suka, 2 adalah tidak suka, 3 adalah
netral, 4 adalah suka dan 5 adalah sangat suka. Nilai sampel tiap parameter yang
memiliki nilai terkecil merupakan sampel yang paling tidak disukai oleh panelis
sedangkan nilai yang paling besar adalah sampel yang sangat disukai panelis.
Pada Tabel 3.1 dapat dilihat hasil uji organoleptik pembuatan roti mandarin
dari hasil praktikum yang telah dilakukan. Terdapat tiga kode sampel yang

disajikan kepada panelis dengan jenis tepung terigu yang berbeda. Sampel 123
(kel 7,8) adalah roti mandarin dengan penggunaan tepung terigu cakra kembar.
Sampel 321 (kel 9,10) adalah roti mandarin dengan penggunaan tepung terigu
segitiga biru. Sampel 231 (kel 11,12) adalah roti mandarin dengan penggunaan
tepung terigu kunci biru.
Uji organoleptik yang dilakukan kali ini untuk mengetahui perbedaan nyata
atau tidak berbeda nyata pada tiap sampel yang diujikan. Dari tabel hasil uji
organoleptik dapat diketahui bahwa pada parameter warna sampel 123, 321 dan
231 berbeda nyata. Artinya panelis dapat membedakan warna dari ketiga sampel
roti. Warna yang digunakan pada pembuatan roti mandarin ini terdiri dari 2
lapisan yaitu warna polos atau kuning dan warna coklat. Perbedaan warna ini
didasarkan pada penambahan susu powder putih dan susu powder coklat untuk
membentuk warna pada roti. Urutan sampel dari yang paling disukai sampai
yang paling tidak disukai oleh panelis yaitu sampel 231, 321 dan 123.
Pada parameter aroma sampel 123, 321 dan 231 berbeda nyata. Artinya
panelis dapat membedakan aroma dari ketiga sampel. Aroma yang dihasilkan
dari roti mandarin ini muncul setelah proses pemanggangan roti selesai. Pada
dasarnya aroma ini juga bisa muncul akibat dari penambahan bahan tambahan
seperti telur dan rhum bakar. Urutan sampel dari yang paling disukai sampai
yang paling tidak disukai oleh panelis yaitu sampel 231, 321 dan 123.
Pada parameter rasa ketiga sampel 123, 321 dan 231 saling tidak berbeda
nyata. Artinya panelis tidak dapat membedakan rasa dari ketiga sampel tersebut
atau dengan kata lain ketiga sampel memiliki rasa yang hampir sama.
Penambahan gula dapat mempengaruhi rasa manis yang dihasilkan
dalam pembuatan roti. Telur

juga berfungsi untuk memberikan

rasa yang lebih enak (Koswara, 2009). Urutan sampel dari yang paling

disukai sampai yang paling tidak disukai oleh panelis yaitu sampel 231, 321 dan
123.

Pada parameter tekstur sampel 123 dan 321 saling tidak berbeda nyata.
Artinya panelis tidak dapat membedakan tekstur sampel 123 dan 321. Kemudian
sampel 123 dan 321 berbeda nyata dengan sampel 231, yakni tekstur sampel 123
dan 321 berbeda dengan sampel 231. Proses mixing, waktu pengovenan dan jenis
tepung terigu yang dipakai dapat mempengaruhi tekstur yang dibentuk pada roti
mandarin.

Penambahan

lemak

seperti

margarine

juga

dapat

memperbaiki struktur fisik seperti volume, tekstur, kelembutan,


dan flavor (Koswara, 2009). Urutan sampel dari yang paling disukai sampai

yang paling tidak disukai oleh panelis yaitu sampel 231, 321 dan 123.
Sedangkan untuk parameter yang terakhir yaitu overall atau secara
keseluruhan sampel 123 dan 321 saling tidak berbeda nyata. Artinya panelis
secara keseluruhan tidak dapat membedakan sampel 123 dan 321. Kemudian
sampel 123 dan 321 berbeda nyata dengan sampel 231, yakni secara keseluruhan
sampel 123 dan 321 berbeda dengan sampel 231. Urutan sampel dari yang paling
disukai sampai yang paling tidak disukai oleh panelis yaitu sampel 231, 321 dan
123.
Secara kasat mata, perbedaan diantara ketiga tepung yang berbahan dasar
gandum ini tidaklah terlalu signifikan sehingga kita akan sulit untuk
membedakannya. Secara tekstur, tepung terigu dengan protein yang lebih tinggi
memiliki tekstur yang lebih lembut dan lebih kenyal. Gluten bersifat kedap
udara, sehingga terigu yang mengandung lebih banyak gluten memiliki
kemampuan memerangkap dan mengikat gas lebih baik. Dengan begitu, terigu
ini dapat mengembang dengan baik jika dipadukan dengan bahan pengembang,
tekstur yang didapat juga lebih kenyal.
Tepung Cakra Kembar diperoleh dari gandum keras (hard wheat) dan
memiliki kandungan protein 11-13%.Tepung yang satu ini sangat cocok untuk
membuat berbagai jenis roti. Selain untuk roti, tepung Cakra kembar juga pas
untuk dijadikan bahan baku mie yang berkualitas tinggi dengan rasa yang
memanjakan lidah (Media Indonesia, 2000). Tepung tepung ini memiliki

kandungan protein gluten 8-9%, memiliki sifat daya serap air yang rendah dan
menghasilkan adonan yang sukar diuleni, tidak elastis, lengket, daya
pengembang yang rendah. Sedangkan tepung segitiga biru (terigu protein
sedang), tepung ini memiliki kandunga protein 10-11%, dikenal dengan tepung
serba guna (all-purpose flour). Tepung medium wheat dibuat dari campuran
tepung terigu hard wheat dan soft wheat.
Pada hasil praktikum yang dilakukan didapatkan hasil bahwa sampel dari
yang paling disukai sampai yang paling tidak disukai oleh panelis yaitu sampel
dengan bahan tepung kunci biru, tepung segitiga biru dan cakra kembar. Hasil
tersebut berbeda dengan teori. Teori menyatakan bahwa tepung cakra akan
menghasilkan sampel yang paling baik karena tepung cakra mengandung protein
yang sangat tinggi sehingga akan membentuk kue/ roti yang berteksur baik.
Sedangkan tepung kunci biru dengan protein yang rendah didapatkan hasil yang
tinggi yaitu sebesar 4,15 hal ini berbanding terbalik dengan teori.
E. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum pembuatan kue mandarin
pada kali ini adalah :
1. Roti mandarin adalah produk makanan yang terbuat dari tepung terigu dan
ditambahkan bahan lainnya, kemudian dipanggang atau dioven. Roti
mandarin ini termasuk jenis cake.
2. Bahan-bahan yang digunakan dalam membuat roti mandarin adalah telur,
gula halus, Quik atau ovalet, margarine, room botter, rhum bakar, terigu,
maizena, dan susu powder.
3. Hasil uji tersebut menunjukkan bahwa dari ketiga sampel, yaitu sampel 243,
sampel 324,dan sampel 432 tidak beda nyata.
4. Hasil pada praktikum yang dilakukan

berbeda dengan teori. Teori

menyatakan bahwa tepung cakra akan menghasilkan sampel yang paling


baik karena tepung cakra mengandung protein yang sangat tinggi sehingga
akan membentuk kue/ roti yang berteksur baik. Sedangkan tepung kunci

biru dengan protein yang rendah didapatkan hasil yang tinggi yaitu sebesar
4,15 hal ini berbanding terbalik dengan teori

DAFTAR PUSTAKA

Chan, Levi Aditya. 2009. Panduan Wirausaha Roti Modern. Penebar Swadana.
Yogyakarta.
Dmoor, Hanee M. Al. 2013. Cake Flour: Functionality and Quality (Review). Journal
European Scientific, Vol.9, No.3.
Fitasari, Eka. 2009. Pengaruh Tingkat Penambahan Tepung Terigu Terhadap Kadar
Air, Kadar Lemak, Kadar Protein, Mikrostruktur, dan Mutu Organoleptik
Keju Gounda Olahan. Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan, Vol.4, No.2.
Garcia, Julia Rodriguez. 2013. Fungctionality of Saveral Cake Ingredients: A
Comprehensive Approach. Journal Food, Vol.31, No.4.
Koswara, Sutrisno. 2009. Teknologi Pengolahan Roti. eBookPangan.com
Lilyana, 2005. Kreasi Baru Roti Taiwan. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Mubiajanto, Eddy Setyo. 2008. Bisnis Roti. Penebar swadana. Yogyakarta.
Murthado, Taufik. 2010. Bolu Gulung. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Sufi. 2006. Kreasi Roti. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Widaningrum. 2005. Pengayakan Tepung Kedalai pada Pembuatan Mie Basah
Dengan Bahan Baku Tepung Terigu yang Disubtitusi Tepung Garut. Jurnal
Pasca Panen, Vol.2, No.1.