Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN RESMI

PRAKTEK PENCAPAN II
PR.3 PENCAPAN ETSA PUTIH DAN ETSA
WARNA

Nama : Toha Hidayatullah


NIM :134015
Prodi : Kimia Tekstil

AKADEMI TEKNOLOGI WARGA SURAKARTA


JANUARI 2015

I.

TUJUAN

Untuk mengetahui hasil pencapan etsa utih dan warna pada kapas
yang dilakukan dengan menggunakan zat warna dasar reaktif.
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mendapatkan hasil pencapan
etsa utih dan warna pada kapas yang dilakukan dengan menggunakan zat
warna bejana pada dasar reaktif yang merata dan permanen dengan
menggunakan variasi resep pencapan.
II.

TEORI DASAR
Pencapan Etsa / discharge

Pencapan etsa atau pencapan rusak merupakan salah satu metode


pencapan khusus. Dengan metode ini bahan yang telah berwarna baik
dengan dicelup maupun dicap sebagai warna dasar, dicap dengan pasta cap
yang mengandung zat perusak sehingga warna putih tekstil semula akan
tampak kembali (etsa putih). Apabila pada pasta cap ditambahkan zat warna
yang tahan terhadap zat perusak, maka bahan yang dicap akan berwarna
lain (etsa warna).
Zat warna dasar dipilih zat warna yang tidak tahan terhadap zat
perusak atau zat pengetsa, sedangkan untuk zat warna cap motif dipilih zat
warna yang tahan terhadap zat pengetsa. Zat warna yang digunakan
sebagai zat warna dasar biasanya terdiri dari kromofor gugus azo yang
kurang /tidak tahan terhadap zat pengetsa, meskipun rumus bangun zat
warna keseluruhan sangat menentukan ketahanan terhadap zat pengetsa.
Untuk pemilihan zat warna yang digunakan untuk motif dipilih zat
warna yang tahan terhadap zat pengetsa yang pada umumnya bergugus
antrakinon, ptalosianin atau trifelnilmetan, yang pemilihannya tergantung
dari yang diinginkan, zat pereduksi yang digunakan, dan bahan tekstilnya.
Zat pengetsa yang digunakan adalah zat pereduksi. Secara garis besar
ada beberapa jenis zat pengetsa yang dipergunakan. Hal ini tergantung dari
zat warna yang dipakai, dan serat tekstil yang digunakan. Zat pengetsa
berfungsi sebagai zat perusak zat warna dasar. Dalam pencapan etsa ini
jumlah penggunaan zat pereduksi optimum yang digunakan tergantung
dari :
1. Zat warna yang akan dietsa
2. Tua muda warna dasar
3. Jenis kain yang akan dicap.
Serat Kapas
Kapas (dari bahasa
Hindi kapas,
sendirinya
dari bahasa
Sanskerta karpasa adalah serat halus yang menyelubungi biji beberapa jenis
Gossypium (biasa disebut "pohon"/tanaman kapas), tumbuhan 'semak' yang
berasal dari daerah tropika dan subtropika. Serat kapas menjadi bahan
penting dalam industri tekstil. Serat itu dapat dipintal menjadi benang dan

ditenun menjadi kain. Produk tekstil dari


sebagai katun (benang maupun kainnya).

serat

kapas

biasa

disebut

Serat kapas merupakan produk yang berharga karena hanya sekitar


10% dari berat kotor (bruto) produk hilang dalam pemrosesan.
Apabila lemak, protein, malam (lilin), dan lain-lain residu disingkirkan,
sisanya adalah polimer selulosa murni dan alami.Selulosa ini tersusun
sedemikian rupa sehingga memberikan kapas kekuatan, daya tahan
(durabilitas), dan daya serap yang unik namun disukai orang.Tekstil yang
terbuat dari kapas (katun) bersifat menghangatkan di kala dingin dan
menyejukkan di kala panas (menyerap keringat).

Serat kapas merupakan serat alam yang berasal dari serat tumbuhtumbuhan yang tergolong kedalam serat selulosa alam yang diambil dari
buahnya.Serat kapas dihasilkan dari rambut biji tanaman yang termasuk
dalam jenis Gossypium.Species yang berkembang menjadi tanaman industri
kapas ialah Gossypium hirstum, yang kemudian dikenal sebagai kapas
Upland atau kapas Amerika. Serat kapas merupakan sumber bahan baku
utama pembuat kain katun termasuk kain rajut bahan pembuat kaos murah.
Struktur Fisik Serat Kapas
Bentuk dan ukuran penampang melintang serat kapas dipengaruhi
oleh tingkat kedewasaan serat yang dapat dilihat dari tebal tipisnya dinding
sel. Serat makin dewasa dinding selnya makin tebal.Untuk menyatakan
kedewasaan serat dapat dipergunakan perbandingan antara tebal dinding
dengan diameter serat.Serat dianggap dewasa apabila tebal dinding lebih
dari lumennya.
Pada satu biji kapas banyak sekali serat, yang saat tumbuhnya tidak
bersamaan sehingga menghasilkan tebal dinding yang tidak sama.
Seperlima dari jumlah serat kapas normal adalah serat yang belum dewasa.
Serat yang belum dewasa adalah serat yang pertumbuhannya terhenti
karena suatu sebab,misalnya kondisi pertumbuhan yang jelek, letak buah
pada tanaman kapas dimana bnuah yang paling atas tumbuh paling akhir,
kerusakan karena serangga dan udara dingin, buah yang tidak dapat
membuka dan lain-lain. Serat yang belum dewasa kekuatannya rendah dan
apabila jumlahnya terlalu banyak, dalam pengolahan akan menimbulkan
limbah yang besar.
Struktur Kimia Serat Kapas

Apapun sumbernya derivat selulosa secara prinsif memiliki struktur


kimia yang sama. Hal ini bisa terlihat pada analisa hidrolisis, asetolisis dan
metilasi yang menunjukan bahwa selulosa pada dasarnya mengandung
residu
anhidroglukosa. Subsequent tersebut
menyesun
molekul
glukosa(monosakarida) dalam bentuk -glukopironase dan berikatan
bersama-sama yang dihubungkan pada posisi 1 dan 4 atom karbon
molekulnya. Formula unit pengulanganya menyerupai selobiosa (disakarida)
yang kemudian membentuk selulosa (polisakarida).

Sifat Fisika Serat Kapas


o Warna
Warna serat kapas secara umum adalah putih cream, tetapi sesungguhnya
terdapat
bermacam-macam
warna
putih.Pengaruh
mikroorganisme
menyebabkan warna kapas menjadi suram. Dalam kondisi cuaca yang jelek ,
warna kap[as menjadi sangat gelap abu-abu kebiruan. Kapas yang
pertumbuhannya terhenti akan berwarna kekuningan. Warna kapas
merupakan salah satu factor penentu grade.
o Kekuatan
Kekuatan serat kapas terutama dipengaruh oleh kadar selulosa dalam serat,
panjang rantai dan orientasinya. Kekutan serat kapas perbundel rata- rata
adalah 96.700 pound per inci2 dengan minimum 70.000 dan maksimum
116.000 pound per inci2. Kekuatan serat bukan kapas pada umumnya
menurundalam keadaan basah, tetapi sebaliknya kekuatan serat kapas
dalam keadaan basah makin tinggi.
o Mulur
Mulur saat putus serat kapas termasuk tinggi diantara serat-serat selulosa
alam, kira-kira dua kali mulur rami. Diantara serat alam hanya sutera dan
wol yang mempunyai mulur lebih tinggi dari kapas. Mulur serat kapas
berkisar 4 13 % bergantung pada jenisnya dengan mulur rata-rata 7 %.
o Moisture Regain
Serat kapas mempunyai afinitas yang besar terhadap air, dan air mempunyai
pengaruh yang nyata pada sifat-sifat serat.Serat kapas yang sangat kering
bersifat kasar, rapuh dan kekuatannya rendah. Moisture regain serat kapas

bervariasi dengan perubahan kelembaban relatif atmosfir sekelilingnya.


Moiture regain serat kapas pada kondisi standar berkisar antara 7 - 8,5 %
Sifat Kimia Serat Kapas
Serat kapas sebagian besar tersusun atas selulosa maka sifat-sifat
kimia kapas sama dengan sifat kimia selulosa. Serat kapas umumnya tahan
terhadap kondisi penyimpanan, pengolahan dan pemakaian yang normal,
tetapi beberapa zat pengoksidasi dan penghidrolisa menyebabkan kerusakan
dengan akibat penurunan kekuatan
Kerusakan karena oksidasi dengan terbentuknya oksiselulosa biasanya
terjadi dalam proses pemutihan yang berlebihan, penyinaran dalam keadaan
lembab atau pemanasan yang lama suhu diatas 140oC.

Zat Warna Reaktif


Pada pencapan kali ini kain dasar yang digunakan terlebih dahulu
dicelup dengan zat warna reaktif.Zat warna reaktif adalah suatu zat warna
yang dapat mengadakan reaksi dengan serat, sehingga zat warna tersebut
merupakan bagian daripada serat.Olehkarena itu hasil pencapan dengan
menggunakan zat warna reaktif mempunyai ketahanan cuci yang sangat
baik. Demikian pula karena berat molekul zat warna reaktif kecil maka
kilapnya akan lebih baik daripada zat warna direk.Zat warna ini dapat
bereaksi dengan selulosa atau protein sehingga memberikan tahan luntur
warna yang baik. Reaktifitas zat warna ini bermacam-macam, sehingga
sebagian dapat digunakan pada suhu rendah sedangkan yang lain harus
digunakan pada suhu tinggi.
Stuktur zat warna reaktif yang larut dalam air mempunyai bagianbagian dengan fungsi tertentu. Kromofor zat warna reaktif biasanya system
azoAkinon. Dengan berat molekul yang kecil menyebabkan daya serap zat
warnanya kecil dan menimbulkan warna warna yang muda. Adanya gugus
penghubung dapat mempengaruhi daya serap dan ketahanan zat
warnaterhadap asam dan basa. Gugusan gugusan reaktif merupakan
bagian zat warna yang mudah bereaksi dengan serat.
Disamping terjadi reaksi antar zat warna dan serat dengan
membentuk ikatan primer kovalen yang merupakan ikatan pseudoester atau
eter, molekul airpun dapat juga mengadakan reaksi hidrolisa dengan molekul
zat warna, dengan memberikan komponen zat warna yang tidak reaktif lagi.
Zat warna reaktif termasuk golongan zat warna yang larut dalam air.Karena
mengadakan reaksi dengan serat selulosa, maka hasil pencelupan zat warna
reaktif mempunyai ketahanan luntur yang sangat baik. Demikian pula karena
berat molekul kecil maka kilapnya baik.Berdasarkan cara pemakaiannya, zat
warna reaktif digolongkan menjadi dua golongan, yaitu :
1.

Zat warna reaktif dingin

Yaitu zat warna reaktif yang mempunyai kereaktifan tinggi, dicelup pada
suhu rendah.Misalnya procion M, dengan sistem reaktif dikloro triazin.

2.

Zat warna reaktif panas

Yaitu zat warna reaktif yang mempunyai kereaktifan rendah, dicelup pada
suhu tinggi. Misalnya Procion H, Cibacron dengan sistem reaktif mono kloro
triazin, Remazol dengan sistem reaktif vinil sulfon.
Di dalam air, zat warna reaktif dapat terhidrolisa, sehingga sifat
reaktifnya hilang dan hal ini menyebabkan penurunan tahan cucinya.
Hidrolisa tersebut menurut reaksi sebagai berikut :
D - Cl +H2O D OH + HCl
Mekanisme masuknya zat warna reaktif pada serat kapas
Dalam larutan reaktif zat warna akan berdifusi masuk kedalam
strukturselulousa dan sebagian lagi teradsorpsi pada antar muka selulousaair di dalam serat. Saat kesetimbangan tercapai, zat warna berada dalam
kondisi terdifusi masuk dan keluar serat dengan laju yang sama. Pada kondisi
larutan seperti ini, konsentrasi ion hidroksil dalam ion selulosat di dalam
larutan sangat rendah sehingga dikatakan bahwa ada proses yang bersifat
fisika.
Penambahan alkali ke dalam larutan akan mendorong pembentukan
ion selulosat sehingga menaikan konsentrasi hiingga satu jumlah yang cukup
berarti yang akan memungkinkan terjadinya reaksi antara zat warna dengan
serat. Ion selulosa (Sel-O-) akan menyerang atom karbon pada gugus reaktif
yang kekurangan elektron melalui mekanisme adisi atau substitusi
menghasilkan suatu ikatan kovalen antara serat dan zat warna reaktif.
Terbentuknya senyawa serat-zat warna menyebabkan adsorpsi
berhenti dan menyebabkan berkurangnya zat warna dalam larutan dan
serat.Perbedaaan konsentrasi zat warna berdifusi masuk kedalam serat dan
memperbesar penyerapan yang semula kecil.Tidak semua zat warna dapat
teradsorpsi beereaksi dengan serat. Biasanya hanya sekitar60-70% zat
warna yang akan terfiksasi. Hal ini dikarenakan selain bereaksi dengan serat
selulousa, zat warna reaktif juga dapat bereaks dengan air yang disebut
hidrolisis meskipun jumlahnya relatif kecil dibandingkan dengan reaksi zat
warna dengan serat. Reaksi ini bertambah cepat dengan bertambahnya suhu
dan alkali yang menghasilkan zat warna yang tidak reaktif lagi.
Oleh karena itu, pada akhir proses pencucian dengan sabun untuk
mnghilangkan zat warna yang terhidrolisa dan tidak terfiksasi tersebut
sehingga diperoleh sifat tahan luntur yang lebih baik.Pencapan kapas (pada
kain poliester-kapas) dengan zat warna reaktif mengalamitahaptahap sebagai berikut :
1. Proses penyerapan
Pada tahap ini, molekul-molekul zat warna akan masuk kedalam, tetapi
belum mengadakan reaksi atau ikatan dengan serat. Mula-mula terjadi
migrasi molekul zat warna di dalam larutan.Molekul zat warna bergerak

menuju permukaan serat. Tahap selanjutnya terjadi proses adsorpsi pada


permukaan serat dengan adanya afinitas dari zat warna.
2. Proses fiksasi
Pada tahap ini, terjadi pemasukan zat warna dari permukaan serat kedalam
serat. Pada pencelupan kapas dengan zat warna reaktif akan terjadi ikatan
kovalen. Selain terjadi ikatan kovalen antara zat warna dengan serat, pada
proses fiksasi ini faktor yang harus diperhatikan adalah suhu baking.
Pada proses fiksasi ini terjadi pula reaksi hidrolisa zat warna reaktif
karena adanya reaksi antara zat warna, air dan alkali. Ketahanan zat warna
reaktif akan reaksi hidrolisa ini berbeda-beda. maka yang terjadi selanjutnya
adalah reaksi hidrolisa zat warna seperti reaksi :
D - Cl + H2O

D-OH + HCl

D-OH tersebut tidak reaktif lagi, Hidrolisis tersebut mengakibatkan afinitas


zat warna semakin berkurang terhadap serat.
ALAT DAN BAHAN
1.

Resep etsa putih


Resep etsa warna

Na2 S2 O4
NaOH

: 7 gr
38 Be

Pembasah
Manutex 8%
Air
Jumlah
II.

:
:
:
:

: 2 gr
2 gr
65 gr
24 gr
100 gr

Na2 S2 O4

: 7 gr

Na2 CO 3

: 4 gr

Pembasah
: 2 gr
Manutex 8% : 70 gr
Zw reaktif (blue)
: 2 gr
Air
: 15 gr
Jumlah
: 100 gr

Prosedur kerja

1. Persiapan Alat dan Bahan


2. Pembuatan Pengental
3. Pembuatan larutan pencelupan
Zat-zat yang digunakan dilarutkan dalam air sesuai kebutuhan.
4. Pembuatan Pasta cap motif rintang warna rintang putih
Zat-zat yang digunakan dilarutkan dalam air terlebih dahulu, kemudian
dicampurkan dengan pengental, lalu diaduk hingga rata.
5. Proses pencelupan kain kain kapas dengan zat warna reaktif untuk
dasar cap.
6. Proses Pencapan

u
o
g
d
y
n
r
p
i
h
s
w
m
a
e
t
f

a. Kain yang akan dicap dipasang pada meja cap dengan posisi terbuka
sempurna dan konstan pada meja cap.
b. Screen diletakkan tepat berada pada bahan yang akan dicap
c. Dengan bantuan rakel, pasta cap etsa putih pada screen pada
bagian pinggir kasa (tidak mengenai motif) secara merata pada
seluruh permukaan.
d. Frame ditahan agar mengepres pada bahan, kemudian dilakukan
proses pencapan dengan cara memoles screen dengan pasta cap
menggunakan rakel.
e. Pada proses pencapan, penarikan rakel harus kuat dan menekan ke
bawah agar dapat mendorong zat warna masuk ke motif.
f. screen dilepaskan ke atas.
g. Setelah selesai, biarkan pasta pada kain sedikit mongering kemudian
angkat secara hati-hati
7. Setelah dicap dengan pasta cap, kain di pre dry 80 selama 5 menit
dan kemudian kain disteam 100 0C selama 20 menit.
8. Untuk menghilangkan sisa pasta cap dan zat lainnya, dilakukan proses
pencucian kemudian dilakukan pula proses cuci reduksi setelah itu cuci
panas, cuci dingin pengeringan.
III.

IV.

Flow proses

FUNGSI ZAT

Zat warna reaktif


: Memberi warna pada kain secara merata
dan permanen dengan pencelupan

Pengental
: melekatkan zat warna pada bahan tekstil
serta mengatur viskositas pasta cap sehingga diperoleh gambar yang
tajam, warna yang rata dan penetrasi yang baik.

Teefol
: Sabun untuk menghilangkan pengental,
zat warna yang tidak terfiksasi dan zat lain pada proses pencucian
sabun.
Zat anti reduksi
: mengurangi
redukstor terhadap zat warna

reduksi

pengetal

atau

Pengental
: melekatkan zat warna pada bahan tekstil
serta mengatur viskositas pasta cap sehingga diperoleh gambar yang
tajam, warna yang rata dan penetrasi yang baik.
NaOH
: sebagai alkali yang berfungi untuk
membuat suasana alkali pada larutan pereduksi sehingga proses
reduksi zat warna bejana berlangsung dengan sempurna.
Na2 CO3
: berfungsi sebagai pembuat suasana alkali
pada pasta cap.
V.
VI.

FUNGSI PROSES
Grounding
: untuk memberi warna pada kain
Print
: untuk melekatkan pasta cap ke kain
Pre Dry
:untuk mengeringkan pasta cap dan membantu penetrasi
zat warna kedalam serat.
Steam
: untuk proses fiksasi agar pasta cap berikatan dengan
serat.
Washing off : untuk menghilangkan sisa-sisa pasta cap yang tidak
tertempel pada kain.
DISKUSI ANALISA
Dari hasil pratikum didapatkan beberapa :
Zat warna yang digunakan Grounding yaitu zat warna reaktif
(remazaol) yang tidak tahan terhadap reduktor sehingga zat warna
dasarnya dapat direduksi pada motifnya ketika di steam dan
groundingnya terfiksasi, sedangkan untuk etsa warnanya digunakan
zat warna reaktif jenis MCT yang tahan terhadap reduktor, sehingga
gronding yang bermotif dapat direduksi sekaligus memfiksasi zat
warnanya reaktif pada saat disteam.
- Etsa putih
Kain yang dihasilkan cukup bagus, tetapi setelah pencucian
terlihat ada warna putih di pinggiran kain, ini disebabbakan karna
waktu steam yang kurang tepat, yang menyebabbkan proses
ppereduksian zat warna kurang sempurna. Dan penggunaan
reduktor yang terlalu banyak.
- Etsa warna
Kain yang dihasilkan kurang memuasakan, ini disebabkan
penggunaan reduktor pada etsa warna kurang kuat sehingga
proses pereduksi terhambat dan tidak sempurnadan penggunaan
zat warna yang kurang tepat. Pada saat praktek etsa warna sering
gagal ketika mengunakan NaOH 38 Be sebagai fiksatornya karena
sebelum pasta zat warna di gunakan maka zat warna akan
terhidrolisa oleh alkali kuat ditambah dry (udara panas) dan steam
(suhu panas dan lama) akan menambah kerusakan zat warna,
sehingga tidak bisa menwarnai kain yang telah dicabut warna
Na 2 CO 3
dasarnya dan diganti dengan

VII.

KESIMPULAN
Dalam pencapan tsa jika menginginkan hasil yang bagus harus
memperhatikan prosesnya, metode yang dipakai, penggunaan zat-zat
bantu harus teat. Waktu yang dibutuhkan dalam proses pencapan etsa.

VIII. DAFTAR PUSTAKA


Arifin Lubis, S. Teks., dkk, Teknologi Pencapan Tekstil, STTT,Bandung, 1998