Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah suatu wilayah negara
kepulauan besar yang terdiri dari ribuan pulau dan diapit oleh dua samudra
dan dua benua, serta didiami oleh ratusan juta penduduk. Disamping itu
Indonesia memiliki keanekaragaman budaya dan adat istiadat yang
berlainan satu sama lain, dan tercemin dalam satu ikatan kesatuan yang
terkenal dengan sebutan Bhinneka Tunggal Ika. Karena letak wilayah
Indonesia di sekitar khatulistiwa, maka Indonesia memiliki iklim tropis
dan rnemiliki dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau.
Indonesia memiliki 17.504 pulau (termasuk 9.634 pulau yang
belum diberi nama dan 6.000 pulau tidak berpenghuni). Di sini ada 3 dari
6 pulau terbesar di dunia yaitu Kalimantan, Sumatera, dan Papua. Wilayah
Indonesia terbentang sepanjang 3.977 m di antara Samudra Hindia dan
Samudra Pasifik. Luas daratan Indonesia 1.922.570 km2 dan luas
perairannya 3.257.483 km2.
Indonesia merupakan negara dengan suku bangsa yang terbanyak
di dunia. Terdapat lebih dari 740 suku bangsa/etnis, di mana di Papua saja
terdapat 270 suku. Selain itu, negara ini merupakan negara dengan bahasa
daerah terbanyak, yaitu 583 bahasa dan dialek dari 67 bahasa induk yang
digunakan berbagai suku bangsa di Indonesia. Bahasa nasional yang
merupakan bahasa pemersatu adalah bahasa Indonesia.
Seiring dengan perkembangan jaman, banyak anak muda Indonesia
yang kurang mengetahui apakah itu NKRI, apa saja fungsi dan tujuan
NKRI, serta bagaimana proses pergantian bentuk negara Indonesia sampai
memantapkan diri untuk kembali ke NKRI. Bangsa Indonesia pernah
mengalami masa-masa sulit untuk menentukan jati dirinya. Untuk itulah
kita sebagai generasi penerus bangsa ini harus pandai betul menjaga apa
yang telah diperjuangkan oleh nenek moyang kita pada masa penjajahan
dulu.
B. Rumusan Masalah

1. Apakah pengertian NKRI dan bagaimanakah sistem pemerintahan


NKRI?
2. Bagaimanakah proses penentuan bentuk negara Indonesia?
3. Apakah fungsi dan tujuan NKRI?
4. Bagaimana cara menjaga keutuhan NKRI?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian NKRI dan sistem pemerintahan
NKRI.
2. Untuk mengetahui proses penentuan bentuk negara Indonesia.
3. Untuk mengetahui fungsi dan tujuan NKRI.
4. Untuk mengetahui cara menjaga keutuhan NKRI.

BAB II
PEMBAHASAN

Di dunia ini terdapat banyak bentuk negara antara lain Negara Kesatuan,
Negara Serikat, Perserikatan Negara (Konfederasi) , UNI (dibagi menjadi 2 yaitu
Uni Riil dan Uni Personil), Dominion, Koloni, Protektorat, Mandat, dan Trust.
Setiap negara memiliki bentuk negara yang berbeda-beda karena disesuaikan
dengan keadaan negara tersebut masing-masing. Untuk menentukan bentuk
negara apa yang akan dipakaipun tidak semudah membalikan telapak tangan,
perlu proses yang panjang dan rumit sampai benar-benar tersepakati suatu bentuk
negara yang ideal. Hal itu juga terjadi di Indonesia. Bangsa ini mengalami
beberapa kali pergantian bentuk negara hingga akhirnya memutuskan untuk
menggunakan bentuk Negara Kesatuan, dibawah ini merupakan penjelasannya.
A. Pengertian dan Sistem Pemerintahan NKRI
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan negara kesatuan
berbentuk republik dengan sistem desentralisasi (pasal 18 UUD 1945), di mana
pemerintah daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya di luar bidang
pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan pemerintah
pusat.
Pasal 18 UUD 45 menyebutkan :
1. Negara Kesatuan Republik Indonesia bagi atas daerah provinsi dan daerah
provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota, yang tiap-tiap provinsi,
kabupaten dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah yang diatur
dengan undang-undang.
2. Pemerintahan Daerah Provinsi, daerah kabupaten dan kota mengatur
dengan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan
tugas pembantuan.
3. Pemerintahan daerah provinsi, daerah kabupaten dan kota memiliki DPRD
yang anggotanya dipilih melalui pemilihan umum.
4. Gubernur, Bupati dan Walikota masing-masing

sebagai

kepala

pemerintahan daerah provinsi, kabupaten dan kota dipilih secara


demokrasi.
5. Pemerintah daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya kecuali urusan
pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan
pemerintah pusat.
3

6. Pemerintahan daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturanperaturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan.
7. Susunan dan tata cara penyelenggaran pemerintahan daerah diatur dalam
undang-undang.
Negara Republik Indonesia adalah suatu wilayah negara kepulauan besar
yang terdiri dari ribuan pulau dan diapit oleh dua samudra dan dua benua, serta
didiami oleh ratusan juta penduduk. Disamping itu Indonesia memiliki
keanekaragaman budaya dan adat istiadat yang berlainan satu sama lain, dan
tercemin dalam satu ikatan kesatuan yang terkenal dengan sebutan Bhinneka
Tunggal Ika. Mengingat keberadaan dan demi menjaga penyelenggaran tertib
pemerintah yang baik dan efisien, maka kekuasaan negara tentu tidak dapat
dipusatkan dalam satu tangan kekuasaan saja. Oleh sebab itu penyebaran
kekuasaan haruslah dijalankan secara efektif untuk mencapai cita-cita dan tujuan
akhir negara sebagaimana disebutkan dalam pembukaan UUD 45. Sebagai
konsekuensinya, maka wilayah negara kesatuan republik Indonesia haruslah
dibagi atas beberap daerah, baik besar maupun kecil.
Amanat

konstitusi

diatas

implementasinya

diatur

oleh

peraturan

perundang-undangan tentang pemerintahan daerah dan terakhir diatur dalam UU


No. 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah yang mengatur pemerintahan
local yang bersifat otonom (local outonomous government) sebagai pencerminan
dilaksanakannya

asas

desentralisasi

dibidang

pemerintahan.

Keberadaan

pemerintahan local yang bersifat otonom diatas ditandai oleh pemberian


wewenang yang sekaligus menjadi kewajiban bagi daerah untuk mengatur dan
mengurus urusan rumah tangganya sendiri sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. Hak dan kewajiban untuk mengurus urusan rumah tangga
sendiri inilah yang disebut dengan otonomi.
Untuk menyelenggarakan otonomi pemerintah pusat menyerahkan
sejumlah urusan pemerintahan sebagai urusan rumah tangga daerah otonom baik
pada daerah provinsi maupun daerah kabupaten dan kota, berdasarkan kondisi
politik, ekonomi, social, dan budaya, pertahanan dan keamanan, serta syaratsyarat keadaan dan kemampuan daerah otonom yang bersangkutan. Dalam politik
desentralisasi terkandung juga masalah pengaturan sumber-sumber pembiayaan

bagi daerah otonom (keuangan daerah). Oleh sebab itu sumber-sumber keuangan
bagi daerah otonom dipandang essensial untuk mengembangkan potensi daerah
yang bersangkutan. Perhatian yang mendasar terhadap keuangan daerah semakin
dibutuhkan, mengingat daerah-daerah otonom di Indonesia juga dibebani
kewajiban untuk melaksanakn berbagai kepentingan daerah pusat yang terdapat
didaerah-daerah. (Muhammad Nishom, 2012)
Dari beberapa penjelasan diatas dapat disimpulkan mengenai kelebihan
dan kekurangan NKRI, antara lain:
Kelebihan Sistem Sentralisasi:
- Keseragaman peraturan di semua wilayah,
- Kesederhanaan hukum,
- Pendapatan daerah dapat di alokasikan ke semua daerah dengan adil
dan sesuai kebutuhan.
Kelemahan Sistem Sentralisasi:
- Penumpukan pekerjaan di pusat, sehingga menghambat kinerja
-

pemerintahan,
Tidak sinkron antara peraturan yang dibuat di pusat dan kondisi

lapangan di daerah,
Pemerintah daerah menjadi pasif dan kurang inisiatif,
Peran masyarakat daerah sangat kurang mendapat kesempatan,
Keterlambatan respon dari pemerintah pusat karena kondisi geografis
Indonesia yang luas dan berat.

Sedangkan jika negara menggunakan sistem desentralisasi, daerah


memiliki kewenangan (otonomi) mengatur rumah tangga daerah untuk membuat
kebijakan dan membuat peraturan ( selain 6 kewenangan pemerintah pusat di atas)
namun tetap harus selaras dengan pemerintah pusat.
Kelebihan Sistem Desentralisasi
- Daerah lebih berkembang, pembangunan lebih cepat,
- Peraturan dan kebijakan lebih tepat dan sesuai kebutuhan daerah,
- Kinerja pemerintahan lebih lancar,
- Partisipasi rakyat lebih tinggi.
Kekurangan Sistem Desentralisasi
- Ketidakseragaman peraturan pusat dan daerah. (Echo, 2015)
B. Proses Penentuan Bentuk Negara Indonesia

Awal tahun 1950 merupakan periode krusial bagi Indonesia.


Pertentangan dan konflik untuk menentukan bentuk negara bagi bangsa dan
negara Indonesia tengah berlangsung. Pada satu sisi, secara resmi saat itu
Indonesia merupakan negara federal, sebagaimana hasil Konferensi Meja
Bundar (KMB). Akan tetapi, pada saat yang bersamaan muncul gerakan yang
menentang keberadaan negara federal itu. Gerakan ini eksis bukan saja dari
kalangan elit. Tetapi juga dikalangan masyarakat bawah. Gerakan tersebut
menghendaki diubahnya bentuk negara federal menjadi Negara Kesatuan.
Dengan diratifikasinya hasil-hasil KMB oleh KNIP yang bersidang
tanggal 6-15 Desember 1949, terbentuklah Republik Indonesia Serikat (RIS).
Negara yang berbentuk federal ini terdiri dari 16 negara bagian yang masingmasing mempunyai luas daerah dan jumlah penduduk yang berbeda. Negara
bagian yang terpenting, selain Republik Indonesia yang mempunyai daerah
terluas dan penduduk yang terbanyak, ialah Negara Sumatra Timur, Negara
Sumatra Selatan, Negara Pasundan, Dan Negara Indonesia Timur. Sebagian
besar negara bagian yang tergabung dalam RIS mendukung untuk
terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Bagian terpenting dari keputusan KMB adalah terbentuknya Negara
Republik Indonesia Serikat. Memang hasil KMB diterima oleh pemerintah
Republik Indonesia. Namun hanya setengah hati. Hal ini terbukti dengan
adanya pertentangan dan perbedaan antar kelompok bangsa.
Dampak dari terbentuknya negara RIS adalah konstitusi yang
digunakan bukan lagi UUD 1945, melainkan konstitusi RIS tahun 1949.
Dalam pemerintahan RIS jabatan presiden dipegang oleh Ir. Soekarno, dan
Drs. Mohammad hatta sebagai perdana menteri. Berdasarkan pandangan kaum
nasionalis pembentukan RIS merupakan strategi pemerintah kolonial Belanda
untuk memecah belah kekuatan bangsa indonesia sehingga belanda akan
mudah mempertahankan kekuasaan dan pengaruhnya di Republik Indonesia.
Reaksi rakyat atas terbentuknya RIS terjadinya demontrasi-demontrasi yang
menghendaki pembubaran RIS dan penggabungan beberapa Negara bagian
RIS.

Belanda membentuk federal sementara yang akan berfungsi sampai


terbentuknya negara Indonesia Serikat. Dalam hal ini, RI baru akan diizinkan
masuk dalam NIS jika permasalahan dengan Belanda sudah dapat teratasi.
Selain itu, Belanda berusaha melenyapkan RI dengan melaksanakan Agresi
Militer II. Belanda berharap jika RI dilenyapkan, Belanda dapat dengan
mudah mengatur negara-negara bonekanya. Akan tetapi, perhitungan Belanda
melesat. Agresi militer belanda II, menyebabkan Indonesia mendapatkan
simpati dari negara Internasional. Akhirnya, Belanda harus mengakui
Kedaulatan Indonesia berdasarkan hasil Konferensi Meja Bundar.
Pada tanggal 27 Desember 1949 diadakan penandatanganan pengakuan
kedaulatan. Dengan diakuinya kedaulatan RI oleh Belanda, Indonesia berubah
menjadi Negara Serikat. Akibatnya terbentuklah Republik Negara Serikat.
Meskipun demikian, bangsa Indonesia bertekad untuk mengubah RIS menjadi
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kurang dari delapan bulan masa
berlakunya, RIS berhasil dikalahkan oleh semangat persatuan bangsa
Indonesia.

Proses kembalinya ke NKRI:


1. Beberapa negara bagian membubarkan diri dan bergabung dengan RI,
Negara Jawa Timur, Negara Pasundan, Negara Sumatra Selatan,
Negara Kaltim, Kalteng, Dayak, Bangka, Belitung dan Riau.
2. Negara Padang bergabung dengan Sumatra Barat, Sabang bergabung
dengan Aceh.
3. Tanggal 5 April 1950 RIS hanya terdiri dari : Negara Sumatra Timur,
Negara Indonesia Timur, Republik Indonesia.
4. Ketiga negara ini (Negara Republik Indonesia, Negara Indonesia
Timur, Negara Sumatra Timur) kemudian bersama RIS sepakat untuk
kembali ke negara kesatuan dan bukan melabur ke dalam Republik.

5. Pada tanggal 3 April 1950 dilangsungkan konferensi antara RIS- NISNST. Kedua negara bagian tersebut menyerahkan mendatnya kepada
perdana Menteri RIS Moh. Hatta pada tanggal 12 Mei 1950.
6. Pada 19 Mei 1950 diadakan kesepakatan dan persetujuan yang masingmasing diwakili oleh : RIS oleh Moh. Hatta, RI oleh dr. Abdul Halim.
7. Hasil kesepakatan NKRI akan dibentuk di Jogjakarta, dan
pembentukan panitia perancang UUD.
8. Pada 15 Agustus 1950, setelah melalui berbagai proses, dilakukan
pengesahan UUS RIS yang bersifat sementara sehingga dikenal
dengan UUDS 1950. Ini menunjukkan akan terjadi perubahan. UUDS
ini di sahkan oleh presiden RIS. UUD RIS terdiri dari campuran UUD
45 dan UUD RIS.
9. Pada 17 Agustus 1950. RIS secara resmi dibubarkan dan Indonesia
kembali ke bentuk negara kesatuan.
Indonesia mengalami perubahan bentuk Negara kesatuan menjadi Negara
federal bukan saja disebabkan oleh faktor dalam negeri, tetapi ada hubungannya
dengan kehadiran Belanda. Kuatnya keinginan Belanda sebagai Negara koloni
untuk mempertahankan pengaruh dan kekuasaanya di Indonesia membuat Negara
ini sempat mengalami perubahan bentuk Negara. Terjadinya perubahan dari
Negara federal menjadi Negara kesatuan tidak dapat disangkal disebabkan
dukungan politik dari masyarakat Indonesia terhadap ide Negara federal
sesunguhnya sangat lemah. Ide negara federal muncul dari ambisi politik orangorang Belanda yang sepertinya takut negerinya tidak lagi mempunyai peran di
Asia. Oleh karena itulah ketika masalah kemerdekaan Indonesia sudah tidak dapat
ditawar lagi, mereka memperkenalkan ide mengenai pembentukan negara federal.
Republik Indonesia Serikat yang berbentuk federal itu tidak disenangi oleh
sebagian besar rakyat Indonesia, karena sistem federal digunakan oleh Belanda
sebagai muslimat untuk menghancurkan RI selain itu bentuk negara serikat tidak
sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia dan tidak sesuai dengan cita-cita
proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 agustus 1945. Disamping itu,
konstitusi federal dianggap hanya menimbulkan perpecahan. Hal tersebut
mendorong keinginan untuk kembali ke negara kesatuan. Pada dasarnya
pembentukan negara-negara bagian adalah keinginan Belanda, bukan kehendak

rakyat karena Belanda ingin menanamkan pengaruhnya dalam RIS. Rapat-rapat


umum diselenggarakan di berbagai daerah, juga demontrasi-demontrasi yang
membentuk pembubaran RIS. Sebagian dari pemimpin RI termasuk yang ada
dalam parlemen, bertekat untuk secepat mungkin menghapus sistem federal dan
membentuk negara kesatuan. (Echo, 2015)
Meskipun telah kembali menjadi negara kesatuan sesuai dengan konstitusi
yang berlaku UUDS 1950 pasal 1 ayat (1) banyak sekali timbul upaya
pemberontakan di berbagai daerah hingga tahun 1958. Kondisi ini membuat
penyelenggaraan negara tidak optimal sehingga Presiden harus mengambil
tindakan dengan mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang isinya konstitusi
Negara Kesatuan Republik Indonesia kembali menggunakan Undang-undang
Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Hal ini mampu meyakinkan
kembali bahwa negara kesatuan merupakan yang terbaik dan menghilangkan
keraguan akan pecahnya negara Indonesia. Dalam Pasal 1 ayat (1) UUD Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 yang merupakan naskah asli mengandung prinsip
bahwa Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan, yang berbentuk Republik. dan
Pasal 37 ayat (5) "Khusus mengenai bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia
tidak dapat dilakukan perubahan".
Bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia semakin kokoh setelah
dilaksanakan amandemen dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945, yang diawali dari adanya kesepakatan MPR yang salah
satunya yaitu tidak mengganti bunyi Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 sedikitpun & terus mempertahankan Negara
Kesatuan Republik Indonesia menjadi bentuk final negara Indonesia. Kesepakatan
untuk tetap mempertahankan bentuk negara kesatuan dilandasi pertimbangan
bahwa negara kesatuan merupakan bentuk yang ditetapkan dari mulai berdirinya
negara Indonesia & dianggap paling pas untuk mengakomodasi ide persatuan
sebuah bangsa yang plural atau majemuk dilihat dari berbagai latar belakang.
UUD RI tahun 1945 secara nyata memiliki spirit agar Indonesia terus
bersatu, baik yang terdapat dalam Pembukaan ataupun dalam pasal-pasal UndangUndang Dasar yang langsung menyebutkan tentang Negara Kesatuan RI dalam 5

Pasal, yaitu: Pasal 1 ayat (1), Pasal 18 ayat (1), Pasal 18B ayat (2), Pasal 25A dan
pasal 37 ayat (5) UUD RI tahun 1945. Prinsip kesatuan dalam Negara Kesatuan
Republik Indonesia dipertegas dalam alinea keempat Pembukaan Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam upaya membentuk suatu
Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan
seluruh tumpah darah Indonesia. Dengan menyadari seutuhnya bahwa dalam
pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
adalah dasar berdirinya bangsa Indonesia dalam Negara Kesatuan, Pembukaan
tersebut tetap dipertahankan & dijadikan pedoman. (Echo, 2015)
C. Fungsi dan Tujuan NKRI
Dalam kaitan dengan negara, tujuan adalah apa yang secara ideal akan
dicapai oleh negara, sedangkan fungsi merupakan pelaksanaan tujuan yang
hendak dicapai. Jadi, negara adalah alat dan bukan sebagai tujuan itu sendiri.
Pembukaan UUD 1945 secara lebih lengkap menyebutkan tujuan nasional
negara Indonesia sebagai berikut:
1. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia,
2. Memajukan kesejahteraan umum,
3. Mencerdaskan kehidupan bangsa,
4. Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Menurut Miriam Budiardjo, setiap negara menyelenggarakan beberapa
minimum fungsi, yaitu:
1. Melaksanakan penertiban untuk mencapai tujuan bersama dan mencegah
bentrokan-bentrokan dalam masyarakat,
2. Mengusahakan kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya,
3. Pertahanan, untuk menjaga serangan dari luar,
4. Menegakkan keadilan melalui badan-badan pengadilan.
D. Menjaga Keutuhan NKRI
Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 menandai lahirnya bangsa
Indonesia. Sejak saat itu, Indonesia menjadi negara yang berdaulat dan berhak
10

untuk mementukan nasib dan tujuannya sendiri. Bentuk negara yang dipilih oleh
para pendiri bangsa adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Meski dalam
perjalanan sejarah ada upaya untuk menggantikan bentuk negara, tetapi upaya itu
tidak bertahan lama dan selalu digagalkan oleh rakyat. Hingga saat ini negara
kesatuan itu tetap dipertahankan. Sebagai generasi penerus bangsa kita merasa
terpanggil untuk turut serta dalam usaha membela negara. Berikut beberapa sikap
dan perilaku mempertahankan NKRI:
1. Menjaga wilayah dan kekayaan tanah air Indonesia, artinya menjaga
seluruh kekayaan alam yang terkandung di dalamnya.
2. Menciptakan ketahanan nasional, artinya setiap warga negara menjaga
keutuhan, kedaulatan negara, dan mempererat persatuan bangsa.
3. Menghormati perbedaan suku, budaya, agama, dan warna kulit.
Perbedaan yang ada akan menjadi indah jika terjadi kerukunan, bahkan
menjadi sebuah kebanggaan karena merupakan salah satu kekayaan
bangsa.
4. Mempertahankan kesamaan dan kebersamaan, yaitu kesamaan
memiliki bangsa, bahasa persatuan, dan tanah air Indonesia, serta
memiliki pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Sang Saka
Merah

putih.

Kebersamaan

dapat

diwujudkan

dalam

bentuk

mengamalkan nilai-nilai pancasila dan UUD 1945.


5. Memiliki semangat persatuan yang berwawasan nusantara, yaitu
semangat mewujudkan persatuan dan kesatuan di segenap aspek
kehidupan sosial, baik alamiah maupun aspek sosial yang menyangkut
kehidupan bermasyarakat. Wawasan nusantara meliputi kepentingan
yang sama, tujuan yang sama, keadilan, solidaritas, kerjasama, dan
kesetiakawanan

terhadap

ikrar

bersama.

Memiliki wawasan nusantara berarti memiliki ketentuan-ketentuan


dasar yang harus dipatuhi, ditaati, dan dipelihara oleh semua
komponen masyarakat. Ketentuan-ketentuan itu, antara lain Pancasila
sebagai landasan dan UUD 1945 sebagai landasan konstitusional.
Ketentuan lainnya dapat berupa peraturan-peraturan yang berlaku di
daerah yang mengatur kehidupan bermasyarakat.

11

6. Mentaati peraturan, agar kehidupan berbangsa dan bernegara berjalan


dengan tertib dan aman. Jika peraturan saling dilanggar, akan terjadi
kekacauan yang dapat menimbulkan perpecahan. (Pusaka Indonesia,
2014)
Generasi muda tidak bisa melepaskan diri dari kewajiban untuk
memelihara dan membangun masyarakat dan negara. Pemuda memiliki peran
yang lebih berat karena merekalah yang akan hidup dan menikmati masa depan.
Sejarah memperlihatkan kiprah kaum muda selalu mengikuti setiap tapak-tapak
penting sejarah. Pemuda sering tampil sebagai kekuatan utama dalam proses
modernisasi dan perubahan.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan
negara kesatuan berbentuk republik dengan sistem desentralisasi di
mana pemerintah daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya di
luar bidang pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan
sebagai urusan pemerintah pusat. Bangsa Indonesia pernah
mengalami masa-masa sulit untuk mencari jati dirinya. Hal ini
dibuktikan dengan berganti-gantinya bentuk negara Indonesia.
Pembukaan UUD 1945 secara lebih lengkap menyebutkan tujuan
nasional negara Indonesia yaitu melindungi segenap bangsa
Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi dan keadilan sosial.

12

B. Saran
Sebagai penerus bangsa hendaknya kita lebih menjaga dan
mencintai negara kita. Ada pun beberapa hal yang dapat kita
lakukan untuk menunjukkan hal tersebut misalnya meningkatkan
kebangaan dan rasa memiliki bangsa Indonesia dalam diri setiap
warga negara, membangun saling pengertian dan pengahargaan
antarsesama warga yang memiliki latar belakang kepentingan yang
berbeda dan etnik yang berbeda, para pemimpin negara sebaiknya
menjalankan roda pemerintahan secara efektif dan efisien, dan
memperkuat unsur-unsur yang menjadi alat pertahanan negara,
seperti TNI.

DAFTAR RUJUKAN

Echo. 2015. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), (online),


(http://www.academia.edu/7663694/Negara_Kesatuan_Republik_Indonesia_NKR
I), diakses tanggal 15 Januari 2015
______. 28 Februari 2014. Keutuhan NKRI, (online),
(http://www.rangkumanmakalah.com/keutuhan-nkri/), diakses tanggal 15 Januari
2015
Nishom, Muhammad. 13 Juli 2012. Makalah NKRI, (online),
(http://www.isomwebs.net/2012/07/makalah-nkri/), diakses tanggal 15 Januari
2015
Indonesia, Pusaka. 23 Oktober 2014. Lima Sikap Dalam Menjaga Keutuhan
NKRI, (online), (http://www.pusakaindonesia.org/lima-sikap-dalam-menjagakeutuhan-nkri/), diakses tanggal 15 Januari 2015

13

14