P. 1
modul-4

modul-4

|Views: 375|Likes:
Dipublikasikan oleh iwan rio

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: iwan rio on Apr 06, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/24/2012

pdf

text

original

Seri Matematika Terapan untuk S2

Intellectual Property of DR. Ir. Setijo Bismo, DEA., TGP-FTUI Modul 4 – Solusi Sistem Persamaan Aljabar Non-Linier Tunggal (PANLT) (1/1)

Modul 4:


Solusi Persamaan Aljabar Non-Linier Tunggal (PANLT)
dengan Metode-Metode Newton-Raphson, Secant, dan Aitken


A. Definisi Persamaan Aljabar Non-Linier Tunggal

Persamaan Aljabar Non-Linier Tunggal atau PANLT
merupakan suatu fungsi sembarang atau persamaan aljabar yang
terbentuk berdasarkan proyeksi ‘fungsional’ variabel bebasnya
(pada sumbu datar, absis) pada variabel terikatnya (pada sumbu
tegak, ordinat):
) ( ) ( x f x y ≡
Sedangkan problem utama yang dijumpai dalam pencarian akar
suatu PANLT adalah: ‘perpotongan’ persamaan (kurva) itu dengan
sumbu datar pada titik α (sehingga akarnya disebut juga sebagai
α), dan pada saat yang bersamaan fungsi f(x) tersebut juga
mencapai ‘nilai nol’nya. Bentuk umum PANLT ini dapat dituliskan
sebagai:
0 ) ( · x f
Berbagai teknik telah dikembangkan untuk pencarian akar (atau
akar-akar) dari suatu PANLT dengan bentuk umum seperti di atas.
Bebarapa di antaranya dapat dikelompokkan dalam metode-metode
berikut:
1. ‘Metode Titik Tetap’ (fixed-point), yaitu suatu metode
pendekatan numeris yang terbentuk dari reorganisasi PANLT
sedemikian rupa sehingga dihasilkan 2 buah fungsi, di sisi yang
satu hanya mengandung variabel bebasnya saja sedangkan di
Seri Matematika Terapan untuk S2
Intellectual Property of DR. Ir. Setijo Bismo, DEA., TGP-FTUI Modul 4 – Solusi Sistem Persamaan Aljabar Non-Linier Tunggal (PANLT) (2/2)

sisi lainnya berbentuk g(x), suatu fungsi dalam bentuk yang
lain. Metode ini memerlukan 1 (satu) buah harga x (disebut
sebagai x-awal) sebagai ‘tebakan’ untuk memulai proses iterasi.
Karena sifatnya yang kurang praktis, bahkan tidak efisien dan
juga lambat dalam mencapai konvergensi, maka metode ini
tidak akan dibicarakan lebih lanjut dalam kuliah ini.
2. ‘Metode Bidang Bebas’ atau lebih spesifik lagi disebut sebagai
‘Metode Bidang Paruh’ (Bisection). Prinsip dari metode ini
adalah “pemaruhan” (nilai rata-rata) dari nilai estimasi akar
suatu PANLT yang dibentuk dengan cara ‘menebak’ 2 buah
harga awal pada interval [a,b] yang bertempat-kedudukan
‘mengapit’ (di kiri dan kanan) akar atau jawab yang sebenarnya.
Metode ini pada umumnya memerlukan 2 (dua) buah tebakan
untuk harga-harga x-awal (x
0
dan x
1
).
3. ‘Metode Tangent’ atau yang dikenal sebagai Metode Newton
atau Metode Newton-Raphson, yang dihasilkan dari ekspansi
f(α) sampai suatu harga x tertentu (x
n
) menggunakan deret
Taylor, dengan cara mengabaikan term order (α - x
n
)2 atau yang
lebih tinggi. Alternatif lain, penurunan tersebut juga dapat
dilakukan secara geometris, yang akan dijelaskan lebih lanjut
pada bagian awal dari modul 4 ini.
4. ‘Metode Secant’, yang terbentuk dari pendekatan melalui ‘garis
secant’ (garis busur) di sekitar jawab atau akar persamaan α. Di
sisi lain, metode ini sebenarnya bentuk atau ‘varian numeris’
dari bentuk turunan yang dipersyaratkan oleh Metode Newton
Raphson. Metode ini akan dijelaskan lebih jauh di modul ini.
5. Metode Delta-Kuadrat (
2
∆ ), yang dikembangkan karena
adanya divergensi, kendala waktu pencapaian konvergensi dan
juga waktu perhitungan fungsi. Yang termasuk dalam keluarga
metode ini adalah metode-metode Aitken, Shanks, dan
Steffensen).
Seri Matematika Terapan untuk S2
Intellectual Property of DR. Ir. Setijo Bismo, DEA., TGP-FTUI Modul 4 – Solusi Sistem Persamaan Aljabar Non-Linier Tunggal (PANLT) (3/3)

Pengembangan Metode Secant, Metode Aitken, dan varian-
variannya menjadi lebih intensif dan meluas terutama untuk solusi
SPANL (sistem persamaan aljabar non-linier) yang akan dibahas
pada Modul 5.
Fokus utama pembahasan pada Modul 4 ini adalah pada metode-
metode Newton-Raphson, Secant, dan Aitken, karena metode-
metode ini juga menjadi sangat penting pemanfaatannya pada
solusi SPANL.

B. Solusi Pendekatan Garis Tangent untuk PANLT

Metode solusi PANLT yang paling dikenal adalah Metode
Newton-Raphson yang prinsipnya bekerja berdasarkan GARIS
TANGENT (garis singgung) yang menyinggung kurva ) (x f y ·
di suatu titik dalam kurva, sedemikian rupa sehingga akar dari garis
lurus yang terbentuk dapat digunakan untuk melakukan pendekatan
pada akar eksak dari PANLT (α atau x
*
) yang dimaksud. Metode
ini dikenal juga sebagai Metode Newton-Raphson, yang
kinerjanya relatif paling cepat dalam mencapai konvergensi, karena
memiliki laju konvergensi kuadrat. Namun, agar supaya metode
ini dapat bekerja dengan baik, harus dipenuhi beberapa persyaratan
berikut:
ð Diperlukan SATU HARGA AWAL (dapat berupa tebakan), dan
tebakan harga awal tersebut tidak menyebabkan harga fungsi
menjadi tak berhingga (∞),
ð Persamaan ) (x f y · mempunyai turunan yang dapat disebut
sebagai ) (
' '
x f y · dan harus kontinyu di daerah domain jawab,
ð Turunan fungsi tersebut tidak berharga nol, 0
'
≠ y , pada harga
x
k
(pada iterasi ke-k) yang diinginkan,
Seri Matematika Terapan untuk S2
Intellectual Property of DR. Ir. Setijo Bismo, DEA., TGP-FTUI Modul 4 – Solusi Sistem Persamaan Aljabar Non-Linier Tunggal (PANLT) (4/4)

ð Kriteria penghentian iterasi dilakukan bilamana SALAH SATU
syarat berikut telah dipenuhi:
(a). Selisih harga x
k
(pada iterasi terbaru) dengan x
k-1
(pada
iterasi sebelumnya) lebih kecil atau sama dengan harga ε,
atau dapat dituliskan sebagai:
ε ≤ ∆
k
x , atau
(b). Harga fungsi f(x
k
) (dengan menggunakan harga x pada
iterasi terbaru) sudah sangat kecil dan menuju nol atau
dapat dikatakan juga lebih kecil atau sama dengan harga ε,
yang dapat dituliskan sebagai:
ε ≤ ) (
k
x f

Solusi akar (atau akar-akar) dengan menggunakan Metode Newton-
Raphson seperti di atas, secara sederhana, dapat diturunkan dari
geometri gambar di bawah ini:


Gambar 4.1. Representasi garis tangent pada metode Newton-Raphson.

Garis tangent yang dimaksudkan pada Gb. 7.1. di atas adalah garis
AC, yang berarti juga bahwa tangent dari CAB ∠ (sudut CAB)
dapat dituliskan sebagai berikut:
Seri Matematika Terapan untuk S2
Intellectual Property of DR. Ir. Setijo Bismo, DEA., TGP-FTUI Modul 4 – Solusi Sistem Persamaan Aljabar Non-Linier Tunggal (PANLT) (5/5)

AB
CB
) CAB tan( · ∠
Bila diperhatikan pada gambar di atas, maka akan diperoleh
kesamaan-kesamaan berikut:
) ( 0 ) ( CB
n n
x f x f · − ·
1
AB
+
− ·
n n
x x , dan
) ( ) CAB tan(
'
n
x f · ∠
Sehingga, persamaan ) CAB tan(∠ dapat ditulis kembali sebagai:
( )
( )
1
'
+

·
n n
n
n
x x
x f
x f
atau setelah disusun-ulang, akan diperoleh formula rekursif dari
Metode Newton-Raphson:
( )
( )
n
n
n n
x f
x f
x x
'
1
− ·
+

Formula rekursif di atas juga dapat diperoleh dengan cara
pengembangan pengembangan deret Taylor pada titik x
n
, sebagai
berikut:
( ) ( ) ( )
( )
( ) L +

+ ⋅ − + · ξ
"
2
'
2
) ( f
x x
x f x x x f x f
n
n n n

dengan ξ berada di antara x dan x
n
. Kemudian, pada saat tercapai
solusi eksak, atau α · x , yang berarti juga bahwa 0 ) ( · x f , maka
akan deperoleh rumus rekursif berikut:
( )
( )
( ) ( )
( )
L − ⋅

− − ·
n
n n
n
n
n
x f
f x
x f
x f
x
ξ α
α
" 2
'
2

Seri Matematika Terapan untuk S2
Intellectual Property of DR. Ir. Setijo Bismo, DEA., TGP-FTUI Modul 4 – Solusi Sistem Persamaan Aljabar Non-Linier Tunggal (PANLT) (6/6)

Dari persamaan di atas, jika iterasi masih atau sedang berlangsung
maka formula Newton-Raphson yang lengkap (dengan formula
sesatannya) akan diperoleh sebagai berikut:
( )
( )
( ) ( )
( )
¹
¹
¹
'
¹
¹
¹
¹
'
¹
+ ⋅

− − ·
+
L
n
n n
n
n
n n
x f
f x
x f
x f
x x
ξ α
" 2
'
1
2

Term
( ) ( )
( )
¹
'
¹
¹
'
¹
+ ⋅

L
n
n n
x f
f x ξ α
"
2
2
merupakan term ‘ketelitian’ dari
formula rekursif perhitungan yang dikembangkan dari deret Taylor,
namun dengan alasan bahwa term tersebut juga sekaligus berperan
sebagai sesatan (error) dari formula Newton-Raphson, maka
Metode Newton-Raphson tersebut di atas sekaligus dapat dikatakan
memiliki LAJU KONVERGENSI KUADRATIS, karena adanya
term ( )
2
n
x − α .

B1. Algoritma Metode Newton-Raphson

Berbeda dengan metode-metode sebelumnya, bahkan berbeda
dengan Metode Secant yang akan dibahas pada Modul 8, Metode
Newton-Raphson ini hanya membutuhkan ‘tebakan’ 1 buah harga
awal yang seharusnya terletak di sekitar DOMAIN JAWAB (secara
intuitif) nilai akar α, sedemikian rupa sehingga formula tersebut
konvergen (menuju ke titik jawab).
Hal lain yang harus diperhatikan adalah bahwa Metode Newton-
Raphson ini memberikan beban tambahan kepada penggunanya,
karena adanya keharusan menghitung fungsi turunan ( )
n
x f
'
, di
setiap iterasi (titik
n
x ). Hal ini merupakan salah satu kekurangan
dari metode ini, mengingat tidak semua fngsi dapat diturunkan atau
mempunyai turunan pada suatu interval yang kontinyu. Namun,
sekali lagi, analisis tentang kelemahan metode ini masih dapat
diterima mengingat kecepatan konvergensinya yang relatif paling
baik.
Seri Matematika Terapan untuk S2
Intellectual Property of DR. Ir. Setijo Bismo, DEA., TGP-FTUI Modul 4 – Solusi Sistem Persamaan Aljabar Non-Linier Tunggal (PANLT) (7/7)

Secara ringkas, algoritma dari Metode Newton-Raphson ini adalah
sebagai berikut:

Algoritma NEWRAP(f,df,xold,x,ε,iter,itmax,flag)
1. Set harga variabel-variabel: iter = 0,
flag = 0;
2. Set x = xold;
3. x = x - f(x)/df(x);
4. Set iter = iter + 1;
5. Jika abs(x – xold) ≤ ε maka flag = 1
atau jika iter > itmax maka flag = 2
atau jika tidak maka xold = x;
6. Jika flag = 0 ulangi ke nomor 3;
7. Selesai.


Perhatikan dengan baik-baik: bahwa algoritma di atas tidak
memperhitungkan adanya kemungkinan harga fungsi turunan yang
berharga nol ( 0 ) ( ) (
'
· · x df x f ). Cobalah analisis atau beri
komentar saudara tentang masalah tersebut ! Jika saudara
berpendapat harus ada peringatan tentang bahaya fungsi turunan
yang berharga nol, bagaimanakah bentuk algoritmanya menurut
saudara ?

Dari uraian-uraian di atas, berikut ini diberikan suatu ringkasan
umum tentang sifat dan karakteristik metode ini, agar supaya dapat
memudahkan penggunaannya:
ð Memerlukan penebakkan 1 harga awal (≡ x
0
),
ð Laju konvergensinya merupakan yang paling cepat, yaitu
konvergensi kuadratis,
ð Hanya sesuai untuk fungsi PANLT yang memiliki turunan
Seri Matematika Terapan untuk S2
Intellectual Property of DR. Ir. Setijo Bismo, DEA., TGP-FTUI Modul 4 – Solusi Sistem Persamaan Aljabar Non-Linier Tunggal (PANLT) (8/8)

( ) (
'
x f ) yang terdefinisi dengan jelas (≡ kontinyu dan dapat
diturunkan pada x
n
); sebaliknya akan menjadi kendala bila
fungsinya dan turunannya tidak jelas,
ð Dapat berakibat ‘divergen’, bila 0 ) ( · ′
n
x f (≡ titik optimum)
ð Kriteria penghentian proses iterasi ada 2 kemungkinan, yaitu:
ε ≤ ∆
n
x dan atau ε ≤ ) (
n
x f .

Adapun tabel kerja dari metode ini (sesuai dengan algoritmanya),
dapat disajikan secara sistematis sebagai berikut:

Tabel 4.1. Tabel Kerja Metode Newton-Raphson

n xn f(xn) f’(xn)
0
… … …
1
… … …
… … … …




B2. Listing Program Metode Newton-Raphson

Seperti juga problem yang sama pada modul sebelumnya, diberikan
persoalan untuk menghitung akar (akar-akar) persamaan f(x) = 0,
sebagai berikut:
0 ) (
1
· − ≡
x
e x x f

Listing program sederhana (non-subroutine) dan program dengan
subroutine untuk Metode Newton-Raphson disertakan dalam
gambar-gambar 4.2. dan 4.3. di bawah ini, yang ditulis dalam
Bahasa FORTRAN 77 (kompatibel dengan Bahasa FORTRAN
90/95):

Seri Matematika Terapan untuk S2
Intellectual Property of DR. Ir. Setijo Bismo, DEA., TGP-FTUI Modul 4 – Solusi Sistem Persamaan Aljabar Non-Linier Tunggal (PANLT) (9/9)



C Program: Solusi Persamaan Aljabar Non-Linier Tunggal (PANLT)
C dengan Metode 'Newton-Raphson'
C VARIAN: Program sederhana/Non-Subroutine
C Kondisi proses dinyatakan dalam variabel 'flag'
C flag = 0; berarti sistem masih dalam proses iterasi
C flag = 1; berarti proses telah mencapai konvergensi
C flag = 2; berarti jumlah iterasi maksimum telah terlampaui
C -------------------------------------------------------------
implicit none
REAL*8 eps,f,df,x,xold
INTEGER flag,iter,maxiter

WRITE(*,'(A,$)') 'Harga awal untux x (x0) : '
READ(*,*) xold
WRITE(*,'(A,$)') 'Jumlah iterasi maksimum : '
READ(*,*) maxiter
WRITE(*,'(A,$)') 'Epsilon/kriteria proses : '
READ(*,*) eps

iter = 0
flag = 0
x = xold

DO WHILE(flag .EQ. 0)
x = x - f(x)/df(x)
IF (ABS(x - xold) .LE. eps) THEN
flag = 1
ELSEIF (iter .GT. maxiter) THEN
flag = 2
ELSE
iter = iter + 1
xold = x
ENDIF
ENDDO

WRITE(*,*) 'xold = ',xold
WRITE(*,*) 'x = ',x
WRITE(*,*) 'f(x) = ',f(x)
WRITE(*,*) 'df(x) = ',df(x)
WRITE(*,*) 'Flag = ',flag
WRITE(*,*) 'Jumlah iterasi = ',iter

STOP
END


FUNCTION f(x)
REAL*8 f,x

f = x - exp(1.0D0/x)

RETURN
END


FUNCTION df(x)
REAL*8 df,x

df = 1.0D0 + exp(1.0D0/x)/(x**2)

RETURN
END


Gambar 4.2. Listing program Newton-Raphson sederhana (tanpa subroutine).
Seri Matematika Terapan untuk S2
Intellectual Property of DR. Ir. Setijo Bismo, DEA., TGP-FTUI Modul 4 – Solusi Sistem Persamaan Aljabar Non-Linier Tunggal (PANLT) (10/10)



C Program: Solusi Persamaan Aljabar Non-Linier Tunggal (PANLT)
C dengan Metode 'Newton-Raphson'
C VARIAN: Program dengan Subroutine
C Kondisi proses dinyatakan dalam variabel 'flag'
C flag = 0; berarti sistem masih dalam proses iterasi
C flag = 1; berarti proses telah mencapai konvergensi
C flag = 2; berarti jumlah iterasi maksimum telah terlampaui
C -------------------------------------------------------------
implicit none
external f,df
REAL*8 eps,f,df,x,xold
INTEGER flag,iter,maxiter

WRITE(*,'(A,$)') 'Harga awal untux x (x0) : '
READ(*,*) xold
WRITE(*,'(A,$)') 'Jumlah iterasi maksimum : '
READ(*,*) maxiter
WRITE(*,'(A,$)') 'Epsilon/kriteria proses : '
READ(*,*) eps

iter = 0
flag = 0
x = xold

CALL NEWRAP(f,df,xold,x,eps,iter,maxiter,flag)

WRITE(*,*) 'xold = ',xold
WRITE(*,*) 'x = ',x
WRITE(*,*) 'f(x) = ',f(x)
WRITE(*,*) 'df(x) = ',df(x)
WRITE(*,*) 'Flag = ',flag
WRITE(*,*) 'Jumlah iterasi = ',iter

STOP
END


SUBROUTINE NEWRAP(ff,dff,xold,x,eps,itnum,itmax,prflag)
C --------------------------------------------------------
C Sub-program: Solusi PANLT dengan metode NEWTON-RAPHSON |
C ff : fungsi f(x) = 0 yang akan dicari akarnya |
C xold : nilai x-awal di sebelah kiri akar f(x) |
C x : akar f(x), nilai paruh (antara x0 dan x1) |
C eps : kriteria atau ketelitian penghitungan |
C itnum : jumlah iterasi yang dilakukan proses |
C itmax : jumlah pembatas iterasi untuk proses |
C prflag : identifikasi untuk konvergensi, yaitu: |
C 0 = proses sedang/akan berlangsung |
C 1 = proses mencapai konvergensinya |
C 2 = jumlah iterasi maksimum (itmax) telah |
C terlampaui |
C --------------------------------------------------------

REAL*8 eps,ff,dff,x,xold
INTEGER prflag,itnum,itmax

itnum = 0
prflag = 0
x = xold

DO WHILE(prflag .EQ. 0)
x = x - ff(x)/dff(x)
itnum = itnum + 1
IF (ABS(x - xold) .LE. eps) THEN
prflag = 1
ELSEIF (iter .GT. itmax) THEN
prflag = 2
ELSE

Seri Matematika Terapan untuk S2
Intellectual Property of DR. Ir. Setijo Bismo, DEA., TGP-FTUI Modul 4 – Solusi Sistem Persamaan Aljabar Non-Linier Tunggal (PANLT) (11/11)


xold = x
ENDIF
ENDDO

RETURN
END


FUNCTION f(x)
REAL*8 f,x

f = x - exp(1.0D0/x)

RETURN
END


FUNCTION df(x)
REAL*8 df,x

df = 1.0D0 + exp(1.0D0/x)/(x**2)

RETURN
END

Gambar 4.3. Listing program dengan subroutine.

Perhatikan sekali lagi dengan baik-baik: program-program di
atas juga tidak memperhitungkan adanya kemungkinan harga
fungsi turunan yang berharga nol ( 0 ) ( ) (
'
· · x df x f ) ! Coba
sempurnakan program-program tersebut !


Tugas:
(a). Analisislah grafik di bawah ini, bagaimana karakteristik
solusinya bila digunakan Metode Newton-Raphson

(b). Cari akar (akar-akar) dari persamaan-persamaan berikut:
) cos( ) (
2
x e x x f
x B −
+ · ; dengan harga-harga B = 1, 5,
10, 25 dan 50. Analisislah hasil-hasilnya.
Seri Matematika Terapan untuk S2
Intellectual Property of DR. Ir. Setijo Bismo, DEA., TGP-FTUI Modul 4 – Solusi Sistem Persamaan Aljabar Non-Linier Tunggal (PANLT) (12/12)


C. Solusi Pendekatan Garis Secant untuk PANLT

Untuk dapat memahami metode ini dengan baik, coba perhatikan
representasi grafis berikut ini:


garis secant
f(x)
x
1
x
2
x
3

α α = x
*

f(x
1
)
f(x
2
)

Gambar 4.4. Representasi grafis untuk Metode Secant.

Dari Gb. 4.1. di atas, maka kesebangunan segitiga yang terbentuk
adalah perbandingan berikut:
3 2
2
3 1
1
) ( ) (
x x
x f
x x
x f

·


atau
) ( ) ( ) ( ) (
2 3 2 1 1 3 1 2
x f x x f x x f x x f x − · −
dan, pindahkan faktor ) (
3 3
x f x di ruas kanan ke ruas kiri:
) ( ) ( ) ( ) (
2 1 1 2 1 3 2 3
x f x x f x x f x x f x · + −
kemudian, tambahkan masing-masing ruas dengan [ ) (
2 2
x f x − ],
sehingga diperoleh:
Seri Matematika Terapan untuk S2
Intellectual Property of DR. Ir. Setijo Bismo, DEA., TGP-FTUI Modul 4 – Solusi Sistem Persamaan Aljabar Non-Linier Tunggal (PANLT) (13/13)


) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) (
2 2 2 1 1 2 2 2 1 3 2 3
x f x x f x x f x x f x x f x x f x − · + − −
kemudian, setelah penyusunan ulang akan diperoleh:
( )( ) ( ) ) ( ) ( ) (
2 2 1 1 2 2 3
x f x x x f x f x x − · − −
dengan demikian,
3
x dapat dihitung dari persamaan di atas setelah
dilakukan penyusunan ulang persamaan, sebagai berikut:
) ( ) (
) (
1 2
1 2
2 2 3
x f x f
x x
x f x x


− ·
atau secara umum, dalam bentuk formula rekursif beturutan dari
Metode Secant:
) ( ) (
) (
1
1
1


+


− ·
n n
n n
n n n
x f x f
x x
x f x x

Seperti juga pada metode-metode solusi PANLT lainnya, metode
ini hanya dapat bekerja dengan baik jika dipenuhi beberapa
persyaratan berikut:
ð Diperlukan DUA HARGA AWAL (yaitu:
1 − n
x dan
n
x , yang
keduanya merupakan tebakan yang nilainya hampir
berdekatan),
ð Kedua tebakan harga awal diatas, tidak boleh mengakibatkan
kedua harga ‘fungsi denominator’ (masing-masing ) (
n
x f dan
) (
1 − n
x f ) menjadi ‘saling meniadakan’ ataupun 0 (nol),
ð Selama proses iterasi, harga-harga ) (
n
x f dan ) (
1 − n
x f tidak
boleh tepat sama,
Seri Matematika Terapan untuk S2
Intellectual Property of DR. Ir. Setijo Bismo, DEA., TGP-FTUI Modul 4 – Solusi Sistem Persamaan Aljabar Non-Linier Tunggal (PANLT) (14/14)

ð Kriteria penghentian iterasi dilakukan bilamana SALAH SATU
syarat berikut telah dipenuhi:
(a). Selisih harga
1 + n
x (harga akar terbaru) dengan
n
x (harga
akar pada iterasi sebelumnya) lebih kecil atau sama dengan
harga ε, atau dapat dituliskan sebagai:
ε ≤ −
+ n n
x x
1
, atau
(b). Harga fungsi f(
1 + n
x ) (dengan menggunakan harga x pada
iterasi terbaru) sudah sangat kecil dan menuju nol atau
dapat dikatakan juga lebih kecil atau sama dengan harga ε,
yang dapat dituliskan sebagai:
ε ≤
+
) (
1 n
x f


C1. Algoritma Metode Secant

Selain karakteristik evaluasi turunan fungsi yang tidak dilakukan
oleh Metode Secant ini, perbedaan fundamental lainnya dengan
Metode Newton-Raphson adalah bahwa Metode Secant ini
membutuhkan ‘tebakan’ 2 buah harga awal yang semuanya harus
berada di sekitar DOMAIN JAWAB dari akar α α atau x
*
(secara
intuitif), sedemikian rupa sehingga formula tersebut konvergen
(menuju ke titik jawab).
Hal lain yang harus diperhatikan adalah meskipun Metode Secant
ini membutuhkan 2 buah nilai awal, namun ia dapat meringankan
beban tambahan kepada penggunanya dalam hal perhitungan fungsi
turunan ( )
n
x f
'
, di setiap iterasi (titik
n
x ). Hal ini merupakan salah
satu keuntungan dari penggunaan metode ini dibandingkan Metode
Newton-Raphson, mengingat tidak semua fungsi dapat diturunkan
atau bahkan belum tentu memiliki turunan pada suatu interval yang
kontinyu. Di samping itu juga, jaminan konvergensi dan bahkan
Seri Matematika Terapan untuk S2
Intellectual Property of DR. Ir. Setijo Bismo, DEA., TGP-FTUI Modul 4 – Solusi Sistem Persamaan Aljabar Non-Linier Tunggal (PANLT) (15/15)

laju konvergensinya masih jauh lebih baik dari Metode Bidang
Bebas (misalnya: Metode Regula-Falsi) yang tida dibahas pada
modul ini.
Secara ringkas, algoritma Metode Secant ini dapat disajikan
sebagai berikut:

Algoritma SECANT(f,x,x0,x1,ε,iter,itmax,flag)
1. Set harga variabel-variabel: iter = 0,
flag = 0;
2. x = x1 - f(x1)[x1 – x0]/[f(x1) – f(x0)];
3. Jika abs(x – x1) ≤ ε maka flag = 1 atau
jika iter > itmax maka flag = 2 atau
jika tidak maka set
iter = iter + 1;
x0 = x1;
x1 = x;
4. Jika flag = 0 ulangi ke nomor 2;
5. Selesai.



Perhatikan dengan baik-baik: bahwa algoritma di atas tidak
memperhitungkan adanya kemungkinan kedua fungsi denominator
(f(x1) dan f(x0)) berharga nol atau berharga sama. Cobalah analisis
atau perbaiki algoritma tersebut, jika saudara berpendapat harus
ada peringatan tentang bahaya fungsi turunan yang berharga nol!


C2. Perbandingan Metode Secant dan Metode Newton-Raphson

Karena adanya kemiripan formula antara Metode Secant dengan
Metode Newton-Raphson, maka disini perlu ditinjau secara ringkas
Seri Matematika Terapan untuk S2
Intellectual Property of DR. Ir. Setijo Bismo, DEA., TGP-FTUI Modul 4 – Solusi Sistem Persamaan Aljabar Non-Linier Tunggal (PANLT) (16/16)

tentang beberpa aspek efisiensi penggunaan dari kedua metode ini.
Dalam pandangan sederhana, mungkin dapat disimpulkan bahwa
Metode Newton-Raphson bekerja dengan lebih efisien dan cepat.
Namun demikian, perlu dicatat pula disini, bahwa Metode Secant
sebenarnya hanya memerlukan ‘sekali evaluasi fungsi’ per-
langkah, sedangkan nilai fungsi yang sudah ada sebelumnya tidak
perlu lagi dievaluasi; sedangkan Metode Newton-Raphson ternyata
selalu memerlukan 2 kali evaluasi fungsi per-langkahnya. Jadi
secara umum, Metode Newton akan memerlukan lebih sedikit
iterasi untuk mendapatkan akurasi yang diinginkan, namun, ia akan
memerlukan lebih banyak waktu komputasi per-langkah iterasi
yang dilakukan.
Atkinson (1978) menganalisis keduanya, bahwa bila waktu yang
dibutuhkan oleh program untuk mengevaluasi ) (
'
x f lebih besar
dari 44 % dari waktu yang diperlukan untuk mengevaluasi ) (x f ,
maka sudah dapat dipastikan bahwa Metode Secant akan lebih
efisien untuk digunakan.
Ringkasan umum tentang sifat dan karakteristik metode ini adalah
sebagai berikut:
ð Memerlukan 2 harga awal (≡ x
0
dan x
1
),
ð Konvergensi superlinier, namun mendekati Kuadratis
(mendekati metode Newton-Raphson),
ð Sesuai untuk fungsi yang turunannya tak terdefinisi dengan
jelas atau sulit dilakukan (≡ diskontinyu); sehingga kendala
perhitungan turunan fungsi dapat dihindari,
ð Divergen (RTE, run time error) bila selama proses iterasi
diperoleh harga x
n
= x
n-1
(≡ ∆x = 0 tepat),
ð Kriteria penghentian iterasi : ε ≤ −
+ n n
x x
1
dan atau
ε ≤
+
) (
1 n
x f .

Adapun tabel kerja dari metode ini (sesuai dengan algoritmanya),
dapat disajikan secara sistematis sebagai berikut:
Seri Matematika Terapan untuk S2
Intellectual Property of DR. Ir. Setijo Bismo, DEA., TGP-FTUI Modul 4 – Solusi Sistem Persamaan Aljabar Non-Linier Tunggal (PANLT) (17/17)


Tabel 4.2. Tabel Kerja Metode Secant


n xn-1 xn f(xn-1) f(xn)
0
… … … …
1
… … … …
… … … … …




C3. Listing Program Metode Secant

Sama seperti pada modul-modul sebelumnya, problem yang
diberikan adalah perhitungan untuk akar (akar-akar) persamaan
berikut:
0 ) (
1
· − ≡
x
e x x f

Listing program sederhana (non-subroutine) dan program dengan
subroutine untuk Metode Secant disertakan dalam gambar-gambar
8.2. dan 8.3. di bawah ini, yang ditulis dalam Bahasa FORTRAN
77 (kompatibel dengan Bahasa FORTRAN 90/95):


C Program: Solusi Persamaan Aljabar Non-Linier Tunggal (PANLT)
C dengan Metode 'SECANT'
C VARIAN: Program sederhana/Non-Subroutine
C Kondisi proses dinyatakan dalam variabel 'flag'
C flag = 0; berarti sistem masih dalam proses iterasi
C flag = 1; berarti proses telah mencapai konvergensi
C flag = 2; berarti jumlah iterasi maksimum telah terlampaui
C -------------------------------------------------------------
implicit none
REAL*8 eps,f,x,x0,x1
INTEGER flag,iter,maxiter

WRITE(*,'(A,$)') 'Harga-harga awal x0, x1 : '
READ(*,*) x0,x1
WRITE(*,'(A,$)') 'Jumlah iterasi maksimum : '
READ(*,*) maxiter
WRITE(*,'(A,$)') 'Epsilon/kriteria proses : '
READ(*,*) eps

iter = 0
flag = 0

Seri Matematika Terapan untuk S2
Intellectual Property of DR. Ir. Setijo Bismo, DEA., TGP-FTUI Modul 4 – Solusi Sistem Persamaan Aljabar Non-Linier Tunggal (PANLT) (18/18)


DO WHILE(flag .EQ. 0)
x = x1 - f(x1)*(x1 - x0)/(f(x1) - f(x0))
IF (ABS(x - x1) .LE. eps) THEN
flag = 1
ELSEIF (iter .GT. maxiter) THEN
flag = 2
ELSE
iter = iter + 1
x0 = x1
x1 = x
ENDIF
ENDDO

WRITE(*,*) 'x0 = ',x0
WRITE(*,*) 'x1 = ',x1
WRITE(*,*) 'x = ',x
WRITE(*,*) 'f(x) = ',f(x)
WRITE(*,*) 'Flag = ',flag
WRITE(*,*) 'Jumlah iterasi = ',iter

STOP
END


FUNCTION f(x)
REAL*8 f,x

f = x - exp(1.0D0/x)

RETURN
END

Gambar 4.5. Listing program Metode Secant sederhana (tanpa subroutine).


C Program: Solusi Persamaan Aljabar Non-Linier Tunggal (PANLT)
C dengan Metode 'SECANT'
C VARIAN: Program dengan Subroutine
C Kondisi proses dinyatakan dalam variabel 'flag'
C flag = 0; berarti sistem masih dalam proses iterasi
C flag = 1; berarti proses telah mencapai konvergensi
C flag = 2; berarti jumlah iterasi maksimum telah terlampaui
C -------------------------------------------------------------
implicit none
external f
REAL*8 eps,f,x,x0,x1
INTEGER flag,iter,maxiter

WRITE(*,'(A,$)') 'Harga-harga awal x0, x1 : '
READ(*,*) x0,x1
WRITE(*,'(A,$)') 'Jumlah iterasi maksimum : '
READ(*,*) maxiter
WRITE(*,'(A,$)') 'Epsilon/kriteria proses : '
READ(*,*) eps


iter = 0
flag = 0
CALL SECANT(f,x0,x1,x,eps,iter,maxiter,flag)


Seri Matematika Terapan untuk S2
Intellectual Property of DR. Ir. Setijo Bismo, DEA., TGP-FTUI Modul 4 – Solusi Sistem Persamaan Aljabar Non-Linier Tunggal (PANLT) (19/19)


WRITE(*,*) 'x0 = ',x0
WRITE(*,*) 'x1 = ',x1
WRITE(*,*) 'x = ',x
WRITE(*,*) 'f(x) = ',f(x)
WRITE(*,*) 'Flag = ',flag
WRITE(*,*) 'Jumlah iterasi = ',iter

STOP
END


FUNCTION f(x)
REAL*8 f,x

f = x - exp(1.0D0/x)

RETURN
END


SUBROUTINE SECANT(ff,x0,x1,x,eps,itnum,itmax,prflag)
C --------------------------------------------------------
C Sub-program: Solusi PANLT dengan metode SECANT |
C sebagai varian dari metode BISECTION |
C ff : fungsi f(x) = 0 yang akan dicari akarnya |
C x0 : nilai x-awal, identik dengan x(n-1) |
C x1 : nilai x-awal, identik dengan x(n) |
C x : nilai x-baru, identik dengan x(n+1) |
C eps : kriteria atau ketelitian penghitungan |
C itnum : jumlah iterasi yang dilakukan proses |
C itmax : jumlah pembatas iterasi untuk proses |
C prflag : identifikasi untuk konvergensi, yaitu: |
C 0 = proses sedang/akan berlangsung |
C 1 = proses mencapai konvergensinya |
C 2 = jumlah iterasi maksimum (itmax) telah |
C terlampaui |
C --------------------------------------------------------

REAL*8 eps,ff,x,xold,x0,x1
INTEGER prflag,itnum,itmax

itnum = 0
prflag = 0

DO WHILE(prflag .EQ. 0)
x = x1 - ff(x1)*(x1 - x0)/(ff(x1) - ff(x0))
IF (ABS(x - x1) .LE. eps) THEN
prflag = 1
ELSEIF (itnum .GT. itmax) THEN
prflag = 2
ELSE
itnum = itnum + 1
x0 = x1
x1 = x
ENDIF
ENDDO

RETURN
END

Gambar 4.6. Listing program dengan subroutine.

Seri Matematika Terapan untuk S2
Intellectual Property of DR. Ir. Setijo Bismo, DEA., TGP-FTUI Modul 4 – Solusi Sistem Persamaan Aljabar Non-Linier Tunggal (PANLT) (20/20)

Perhatikan sekali lagi dengan baik-baik: semua listing program-
program di atas juga tidak memperhitungkan adanya kemungkinan
harga kedua fungsi f(x
1
) dan f(x
0
) berharga sama atau keduanya nol
(yang menyebabkan harga denominator menjadi nol)!

Bila saudara anggap perlu, coba perbaiki atau modifikasi program-
program di atas, agar supaya kemungkinan adanya masalah
divergensi akibat fungsi-fungsi denominator dapat dihindari !


Tugas:
Cari akar (akar-akar) dari persamaan-persamaan berikut:
(c). ) ln( ) ( x e x f
x
⋅ ·


(d). 1 ) (
6
− − · x x x f dan
(e). ) cos( ) (
2
x e x x f
x B −
+ · ; dengan harga-harga B = 1, 5,
10, 25 dan 50. Analisislah hasil-hasilnya.


D. Metode ‘Delta-Kuadrat’ untuk perbaikan Konvergensi

Seperti telah dipelajari dan dibahas pada metode-metode Newton-
Raphson dan Secant di atas, daya tarik paling menonjol dari
Metode Newton-Raphson adalah dalam hal laju konvergensinya
yang kuadratis, dan tentu saja nilai tebakan awal yang diperlukan
hanya 1 buah saja. Di sisi lain, Metode Secant sebagai kompetitor
paling serius dari Metode Newton-Raphson terutama dalam hal
kemudahan prosedurnya yang tidak memerlukan perhitungan atau
evaluasi fungsi turunan (derivative), bahkan relatif sangat hemat
dalam hal evaluasi fungsi pada saat proses iterasi telah berjalan.
Walaupun laju konvergensi Metode Secant tersebut hanya sekitar
1,62 (superlinier), namun kekurangan ini masih dapat tertutupi
oleh penghematan yang dilakukannya dalam hal evaluasi fungsi
PANLT ataupuun turunannya.
Kompetitor lain dari metode-metode di atas, adalah metode-metode
Seri Matematika Terapan untuk S2
Intellectual Property of DR. Ir. Setijo Bismo, DEA., TGP-FTUI Modul 4 – Solusi Sistem Persamaan Aljabar Non-Linier Tunggal (PANLT) (21/21)

yang mendasarkan proses iterasisnya berdasarkan selisih kuadrat
(Proses Ä
2
atau Delta-Squares Process) dari akar-akar yang
diperolehnya pada iterasi yang baru dilangsungkan. Metode-
metode yang termasuk keluarga atau memiliki kemiripan proses
seperti disebutkan di atas diantaranya dikembangkan oleh: Aitken,
Shanks, dan Steffensen.
Secara matematis, prinsip kerja dari metode-metode ini adalah
melakukan evaluasi dan perbaikan rasio nilai-nilai akar yang telah
diperoleh relatif terhadap akar eksaknya sedemikian rupa sehingga
dapat meningkatkan laju konvergensinya (dan bahkan menghindari
divergensi) sampai mendekati konvergensi kuadratis. Bila
digunakan α sebagai akar atau solusi eksaknya, maka rasio delta
nilai-nilai akar yang diperoleh pada 2 langkah iterasi secara
berturutan adalah:
konstan
1
· ≈


+
λ
α
α
n
n
x
x
; 0 ≥ n
dengan perbaikan nilai pendekatan sejalan dengan bertambahnya
nilai n. Dengan analogi yang serupa dengan formula di atas, maka
dapat dituliskan pula:
1
2 1
+
+ +





n
n
n
n
x
x
x
x
α
α
α
α
; 0 ≥ n
atau jika disusun-ulang akan diperoleh:
( ) ( )( )
2
2
1 + +
− − ≈ −
n n n
x x x α α α
sehingga diperoleh
( )
( ) ( )
2 1 1
2
1 2
2 2
+ + +
+ +
+ +
− − −

− ≡ ≈
n n n n
n n
n n
x x x x
x x
x a α
Formula di atas dikenal sebagai formula ekstrapolasi dari Aitken.
Bila rasio delta nilai-nilai akar seperti di atas ternyata sudah cukup
Seri Matematika Terapan untuk S2
Intellectual Property of DR. Ir. Setijo Bismo, DEA., TGP-FTUI Modul 4 – Solusi Sistem Persamaan Aljabar Non-Linier Tunggal (PANLT) (22/22)

memuaskan, maka ‘ekstrapolan’
2 + n
a adalah suatu perbaikan
pendekatan yang sangat memuaskan pada
2 + n
x di sekitar akar
eksak α .
Nilai rasio delta nilai-nilai akar, λ , dapat dihitung dengan cara
penggabungan atau modifikasi persamaan-persamaan di atas, atau
secara langsung akan dihasilkan:
( ) ( )
( ) ( )
λ
λ
λ
α
α
α
α
α α
α α
·


,
`

.
|


,
`

.
|



·
− − −
− − −
·


+
+
+
+
+ +
+
+ +
1
1
1
1
1
1
1
2
1
2 1
1
1 2
n
n
n
n
n n
n n
n n
n n
x
x
x
x
x x
x x
x x
x x

atau, pada akhirnya
λ ·


+
+ +
n n
n n
x x
x x
1
1 2

Ketelitian dari ketiga formula terakhir tidak bergantung pada besar
atau ukuran λ , melainkan lebih pada ketelitian ‘rasio delta nilai-
nilai akar’ untuk nilai
n
x yang sedang digunakan.
Aplikasi dari metode-metode Ä-kuadrat seperti di atas, secara
umum diterapakan pada PANLT yang telah disusun-ulang menjadi:
) (
1 n n
x g x ·
+

yang disebut sebagai ‘formula titik-tetap’ (fixed-point), dimana:
0 ) ( ) ( · − ≡ x x g x f
Dari fungsi di atas, perlu diketahui bahwa tutunan fungsi ) (x g
memegang peran yang penting dalam memberikan informasi
Seri Matematika Terapan untuk S2
Intellectual Property of DR. Ir. Setijo Bismo, DEA., TGP-FTUI Modul 4 – Solusi Sistem Persamaan Aljabar Non-Linier Tunggal (PANLT) (23/23)

tentang konvergensi metode yang digunakan. Dalam hal ini, syarat
yang harus dipenuhi agar sistem konvergen pada domain tersebut
adalah;
1 ) ( < x g
Perlu diingat, bahwa angka ‘1’ sebenarnya menggambarkan fungsi
) (x g yang berdampingan dengan fungsi lain, yaitu x x f · ) ( (garis
lurus yang melalui titik (0,0) dengan sudut 45º). Untuk lebih
jelasnya, bersama ini diberikan skematis tentang konvergensi
metode titik-tetap ini:

y
x
y = x
y = g(x)
á x
2
x
1
x
0

0 < g’(á) < 1

y
x
y = x
y = g(x)
á x
2
x
1
x
0

-1 < g’(á) < 0


y
x
y = x
y = g(x)
á
x
2
x
1

x
0

g’(á) > 1

y
x
y = x
y = g(x)
á x
1
x
0

g’(á) < -1

Gambar 4.7. Contoh-contoh sekuens konvergen dan divergen dari fungsi ) (
1 n n
x g x ·
+
.
Seri Matematika Terapan untuk S2
Intellectual Property of DR. Ir. Setijo Bismo, DEA., TGP-FTUI Modul 4 – Solusi Sistem Persamaan Aljabar Non-Linier Tunggal (PANLT) (24/24)

Secara ringkas, algoritma Metode Aitken ini dapat disajikan
sebagai berikut:

Algoritma AITKEN(g,x0,ε,iter,itmax,flag)
1. Periksa terlebih dahulu karakteristik
konvergensinya, yaitu: |g(x)| < 1 ?
2. Set x1 = g(x0); x2 = g(x1);
3. a = x2 - (x1 – x2)
2
/{(x2 – x1) - (x1 –
x0)};
4. Jika abs(a – x2) ≤ ε maka flag = 1 atau
jika iter > itmax maka flag = 2 atau
jika tidak maka set
iter = iter + 1;
x0 = a;
5. Jika flag = 0 ulangi ke nomor 2;
6. Selesai.



Varian lain dari Metode Detlta-Kuadrat ini dapat dituliskan dalam
prosedur berikut:
( )
1 2 2 2
1
2
+ + + +



+ · ≈
n n n n
x x x a x
λ
λ

dengan
n n
n n
x x
x x


·
+
+ +
1
1 2
λ
Prosedur di atas dimulai pada harga awal
n
x (identik dengan
0
x ),
kemudian lakukan iterasi biasa secara berturut-turut, yaitu
Seri Matematika Terapan untuk S2
Intellectual Property of DR. Ir. Setijo Bismo, DEA., TGP-FTUI Modul 4 – Solusi Sistem Persamaan Aljabar Non-Linier Tunggal (PANLT) (25/25)

memasukan harga
0
x ke dalam fungsi ) (x g untuk mendapatkan
1
x
dan kemudian
1
x yang baru diperoleh dimasukan juga ke dalam
fungsi ) (x g sehingga diperoleh
2
x , baru kemudian menghitung
harga
2

x menggunakan formula varian di atas. Hal ini berarti baru
saja menyelesaikan satu siklus perhitungan
2
∆ ; bila ingin
meneruskan ke siklus berikutnya, maka ambil harga
2

x yang baru
diperoleh sebagai harga awal lagi, atau dalam hal ini sebagai
0
x
dalam siklus yang baru, kemudian berturut-turut lakukan
penghitungan
1
x dan
2
x yang baru, kemudian hitung lagi untuk
siklus tersebut harga
2

x ; demikian seterusnya sebagai proses
iterasi secara menyeluruh. Iterasi dihentikan bilamana kriteria yang
diinginkan ( ε ≤ − ≡

2
2
x x ) telah tercapai.
Dapat ditunjukan dai formula-formula rekursif di atas, bahwa
proses
2

x merupakan konvergensi kuadrat, karena harga
1 + n
ε
(yang identik dengan harga
1 +

n
x α ) sebanding dengan kuadrat
harga
n
ε . Jadi proses
2
∆ ini akan menuju konvergen (memiliki laju
konvergensi) dengan sangat cepat (sebanding dengan Metode
Newton-Raphson) untuk sembarang ) (x g , dengan syarat bahwa
harga awal
0
x harus benar-benar berada dalam DOMAIN JAWAB
akar eksak α atau
*
x . Demikian pula, perlu dicatat bahwa pada
saat telah sangat dekat dengan akar eksaknya, maka laju
konvergensi dapat berubah menjadi konvergensi superlinier, namun
hal ini tetap saja menunjukkan bahwa prosedur
2
∆ ini masih lebih
cepat daripada metode titik-tetap (iterasi suksesif) yang biasa.
Sebagai contoh untuk aplikasi metode di atas, diberikan persoalan
untuk menghitung akar (akar-akar) dari persamaan:
0 2 ) (
2 3
· − − ≡ x x x f
menggunakan formula rekursif
2

x di atas.
Seri Matematika Terapan untuk S2
Intellectual Property of DR. Ir. Setijo Bismo, DEA., TGP-FTUI Modul 4 – Solusi Sistem Persamaan Aljabar Non-Linier Tunggal (PANLT) (26/26)

Maka, ringkasan hasil-hasil komputasinya dapat disajikan seperti
pada tabel 4.3. berikut ini:
Tabel 4.3. Metode
2
∆ untuk akselerasi iterasi suksesif solusi 2 ) (
2 3
+ − · x x x f .
(a). [ ]
3 / 1
2
1
2 ) ( + ·
+ n n
x x
· 0
x 2.0 1.6945
1.6956
1.871 1.6952 1.6956
1.744 1.6954 1.6956
· 0
x 1.0 1.6825
1.6956
1.442 1.6905 1.6956
1.508 1.6936 1.6956
(b). [ ]
2 / 1
3
1
2 ) ( + ·
+ n n
x x
· 0
x 2.0 1.6959
1.6956
2.449 1.6952 1.6956
3.563 1.6971 1.6956
Catatan:
Harga akar eksak (akar analitis) dari persamaan di atas adalah:
6956 . 1
*
· ≡ x α .

Bagaimana program dalan FORTRAN untuk prosedur atau proses
2
∆ yang terakhir seperti di atas ?
Seri Matematika Terapan untuk S2
Intellectual Property of DR. Ir. Setijo Bismo, DEA., TGP-FTUI Modul 4 – Solusi Sistem Persamaan Aljabar Non-Linier Tunggal (PANLT) (27/27)


Tugas:
Coba buat program untuk aplikasi Metode AITKEN dalam Bahasa
FORTRAN dengan algoritma seperti di atas (dalam versi
SUBROUTINE) untuk persamaan-persamaan berikut:
(a).
x
e x g
/ 1
) ( ·
(b). x x g / 3 ) ( ·
(c).

,
`

.
|
+ ·
x
x x g
3
2
1
) (


E. Daftar Pustaka

Atkinson, Kendal E., “An Introduction to Numerical Analysis”,
John Wiley & Sons, Toronto, pp. 58-70, 1978.
Atkinson, L.V., Harley, P.J., “An Introduction to Numerical
Methods with Pascal”, Addison-Wesley Publishing Co.,
Tokyo, pp. 54-63, 1983.
Bismo, Setijo, “Modul Kuliah Metode Numerik”, TGP-FTUI,
1999.
Hanna, O.T., Sandall, O.C., “Computational Methods in
Chemical Engineering”, Prentice-Hall International Inc.,
Englewood Cliffs, New Jersey, pp. 153-157, 1995.
Press, W.H., Flannery, B.P., Teukolsky, S.A., dan Vetterling,
W.T., “Numerical Recipes”, Cambridge Univ. Press, 1986.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->