Anda di halaman 1dari 35

Jamaluddin, S.Farm., M.

Si

PENDAHULUAN
Senyawa heterosiklik adalah senyawa siklik

yg pada cincinnya terdapat atom hetero


seperti N, O, S, B dan P.
Senyawa
heterosiklik
berdasarkan
aromatisitasnya terbagi atas aromatik dan
non aromatik.
Bentuk atom hetero yg paling banyak adalah
N (golongan Aza), O (golongan Okso) dan S
(golongan Tio).

TATANAMA
Senyawa

heterosiklik mempunyai aturan


tatanama baik secara TRIVIAI (umum : nama
dagang) maupun secara IUPAC (sistemik :
ilmiah).
Secara umum, penamaan diawali dgn Aza
untuk heterosiklik N, Okso (oxo) untuk
heterosiklik O dan Tio (Tia) untuk heterosiklik
S.
Penamaan juga didasarkan pd cincin, yaitu
monosiklik dan polisiklik.

a. Cincin monosiklik
Dengan menyebutkan ukuran cincin, jenis dan
posisi hetero atom dgn awalan/aturan :
1.Ukuran cincin merupakan ketentuan pokok
untuk masing2 ukuran cincin .
2.Jenis hetero atom ditandai dgn awalan : Oksa
(oxo) untk O, Tio (tia) untk S dan Aza untk N.
3.Untuk lebih dr satu hetero atom yg sama diberi
awalan di, tri, tetra dst.
4.Untuk dua atom hetero atom yg bbeda maka
urutanx : O>S>N.

Cont
5. Penomoran dimulai dari atom hetero dan
perputaran ke arah posisi substituen dgn jumlah
nomor tkecil dan blaku untuk 2 atau lbih atom
hetero yg sma. Bila tdpat 2 atau lbih atom
hetero yg bbda maka digunakan aturan 4.
6. Senyawa yg diperoleh dr hasil hidrogenasi diberi
awalan dihidro, tetrahidro dst. Sesuai jumlah
atom hidrogen yg ditambahkan kemudian diikuti
nama induk yg terhidrogenasi.
7. Tergantung pd derajat ketidak jenuhan dan pd
keberadaan N dalam heterosiklik.

b. Cincin Polisiklik
Poliheterosiklik adalah senyawa yg mengandung
dua sistem cincin atau lebih tatanama/penulisan
berpedoman pd aturan :
1.Sistem cincin yg mengandung hetero atom dibuat
sbg induk senyawa dan cincin yg bgabung dibuat
sbg awalan.
2.Bila 2 atau lbih cincin mengandung hetero atom,
maka cincin yg mengandung N diproritaskan sbg
induk seblum oksigen dan belerang ttapi dlam
penomoran proritasnya ttap pd Oksigen.
3.Bila
ada kemungkinan dua induk cincin
heterosiklik, maka paling besar adalah induknya.

Cont
4. Pada

aturan 2 dan 3 ada keracunan, yaitu


disebelah
mana
cincin
bergabung.
Untuk
mengatasi , maka setiap sisi cincin induk diberi
notasi huruf yg dimulai dari sisi : 1-2 = a, 2-3 = b,
3-4 = c, dst.
5. Beberapa kesempatan lain untuk penggambaran
orientasi cincin polisiklik adalah :
a. Jumlah cincin terbanyak adalah arah horizontal.
b. Bagian lain dari cincin sebelah atas diletakkan
disebelah kanan dan penomoran dimulai dari
puncak siklik yg sebelah kanan.
c. Penomoran di atas berlaku jg walaupun hetero
atomnya tidak berada pd posisi no. 1.

Senyawa aromatik Polisiklik dirujuk sebagai :


- Senyawa aromatik Polinuklir/Poli inti (polynuclear) ;
- Cincin terpadu (fused ring) ;
- Cincin mampat (condensed ring)
8

Beberapa Senyawa Aromatik Polisiklik :


7

3
5

1 .NAFTALENA

5
4

6
5

10

2. ANTRASENA

7
8

3
9

2
1

10

3. FENANTRENA

-NAFTOL

-NAFTOL
OH

OH

1
2

6
5

10

2
1

10

JUMLAH ELEKTRON PI (4n+2)


ENERGI RESONANSI (KKAL/MOL)

(4n+2) = 6
(n = 1)

14 (n=3)

10 (4n + 2)
(n = 2)

14 (n=3)

Pengikatan dalam Senyawa Aromatik


Polisiklik
Agar suatu sistem
cincin monosiklik bersifat
aromatik, terdapat tiga kriteria yang harus dipenuhi :
1. Sistem cincin mengandung elektron (pi) yang
terkonyugasi.
2. Sistem cincin harus datar (planar).
3. Harus terdapat (4n + 2) elektron dalam sistem
cincin (aturan Huckel).

NAFTALENA

PENTASENA

KORONENA

Senyawa Polisiklik lebih reaktif terhadap Oksidasi, Reduksi dan Substitusi


elektrofilik daripada benzena
OKSIDASI

O
C OH

V2O5
Udara, kalor
NAFTALENA

C OH
O

Asam-O-ftalat
O
O

-H2O

Anhidrida asam ftalat

CrO3
H2SO4

NAFTALENA

kalor
O

1,4-naftokuinon

CrO3

H2SO4
kalor

ANTRASENA

9,10-antrakuinon

CrO3
H2SO4
kalor

FENANTRENA

O
O
9,10-fenantrakuinon

REDUKSI

Na-EtOH

TIDAK ADA REAKSI

kalor

Na-EtOH
kalor

NAFTALENA

TETRALINA

Na-EtOH
kalor

ANTRASENA

9,10-DIHIDROANTRASENA

Br

SUBSTITUSI ELEKTROFILIK Br

HNO3, H2SO4

NAFTALENA

1-bromonaftalen

H2SO4 pekat

NO3

1-nitronaftalen

SO3H

Asam-1-naftalen
sulfonat

80 C
Asetilklorida, AlCl3

Mekanisme substitusi seperti


benzena

CH3
C

O
1-asetilnaftalen

HETEROSIKLIK

Senyawa Heterosiklik lebih menarik daripada Polisiklik karena heterosiklik


mempunyai atom hetero

CINCIN LIMA

N1
H

PIROLA
4
5

2
1

FURAN
4

2
1

TIOFENA

3
2

TIAZOLA

3
2

5
N 1
H

IMODAZOL

N
H

N2
1

PIRAZOL

3
2

O 1
OXAZOL

CINCIN ENAM
4
5

KUINOLINA

PIRIDINA
N

N
PIRIMIDINA

ISOKUINOLINA

N
H

INDOLA

N
N

H
N

N
H

PURINA

KARBAZOL

H H
C6H5CH2CO

NH

CH3
CH3

N
O

COOH

PENNICILLIN-G

NIKOTIN
N
N

Cl
CH3

N
N

NH3

S
+

CH2

CH2CH2OH

N
-

Cl

THIAMIN
VITAMIN-B1

CH3

CH3

HETEROSIKLIK AROMATIK CINCIN LIMA

..
N
..

= 2,26 D

N
H

= 1,81 D

PIRIDIN BERSIFAT BASA


pKb = 8,75

PIROLA TIDAK BERSIFAT BASA


(pKb = 14)

PASANGAN ELEKTRON
DARI ATOM NITROGEN
DISUMBANGKAN KE ION
HIDROGEN

CINCIN PIROLA MEMPUNYAI 6


ELEKTRON (DUA DIANTARANYA
DARI PASANGAN ELEKTRON ATOM
NITROGEN DENGAN (HANYA) 5
ATOM ; TIAP ATOM RELATIF LEBIH
KAYA ELEKTRON DIBANDING
PIRIDIN

A. SUBSTITUSI ELEKTROFILIK
Karbon cincin KAYA elektron (bagian negatif) molekul Pirola Teraktifkan
terhadap serangan elektrofilik,
Dan Terdeaktifkan terhadap serangan Nukleofilik

SO2
piridina

N
H
pirola

SO3H
N
H
Asam 2-pirolasulfonat (90%)

HNO3
(CH3CO)2O

N
H

NO2

2-nitropirola (80%)

URUTAN KEREAKTIFAN TERHADAP SUBSTITUSI ELEKTROFILIK

<

<

N
H

N
piridina

benzena

pirola

URUTAN KEREAKTIFAN TERHADAP SUBSTITUSI NUKLEOFILIK

<

Br

Br

B. Cincin Porfirin
Sistem cincin porfirin terdiri dari empat cincin pirol yang dihubungkan
oleh gugus =C-. Sistem cincin keseluruhan bersifat aromatik.

Sistem cincin porfirin merupakan satuan yang secara biologis sangat


penting khususnya dalam : heme, komponen hemoglobin yang
mengangkut oksigen, dalam klorofil A suatu pigmen pd tumbuhan , dan
dalam sitokrom C suatu senyawa yg tlibat dlam pemamfaatan O2 oleh
hewan.
HOOCCH2 CH2
CH2CH2 COOH
CH3

HEME
CH2 CH

CH3

N
Fe

CH3

CHCH2

CH3

CHCH2
CH3

CH3

CH2CH3

Mg
H
O
C20H39O

CH3
C

CH2CH2

H
H
O C O
OCH3

KLOROFIL A

CH3

HOOCCH2CH2
CH3

CH2CH2COOH

CH3

N
Fe

CO
NH

CHCH2S

CH3

CH3

CO
CHSCH2CH
NH
CH3

SITOKROM C

HETEROSIKLIK AROMATIK CINCIN ENAM


karbon sp2

PIRAN

atau

..N

..O

..N
AROMATIK

NON AROMATIK

PIRIDINA
TIDAK SIMETRIS POLAR
KEKURANGAN ELEKTRON REAKTIVITAS LEBIH RENDAH

- ALKILASI-ASILASI NEGATIF
- BROMINASI TEMPERATUR TINGGI

BENZENA
SIMETRIS NON POLAR
REAKTIVITAS TINGGI
- ALKILASI-ASILASI
- BROMINASI MUDAH

Kekurangan
elektron

..N

300 C

Br

Br

Br2

PIRIDINA

N+

- FeBr

PIRIDINA

Lebih kekurangan
elektron

Br

+
N

3-bromopiridina
37%

3,5 dibromopiridin
26%

HCl
N
..

N
+
HCl

Piridinium klorida

PASANGAN ELEKTRO SUNYI

DAPAT DISUMBANGKAN KE ION HIDROGEN, SEPERTI AMINA, PRIDINA


BERSIFAT BASA (pKb = 8,75 ORBITAL SP2 ; AMINA ALIFATIK = 4
ORBITAL SP3)

CH3

COOH

KMnO4
kalor

ASAM BENZOAT

TOLUENA
CH3
N

3-METILPIRIDINA

COOH

KMnO4
kalor

ASAM-3-PIRIDINAKARBOKSILAT

SUBSITUSI NUKLEOFILIK
NH3

Br

kalor

NH2

2-aminopiridina

2-bromopiridina
Cl

NH2
NH3

4-kloropiridina

kalor

N
4-aminopiridina

Substitusi berlangsung paling gampang di posisi 2, diikuti posisi 4,


tidak 3

100 C

NH2

Tidak terjadi reaksi

benzena

100 C

NH2

+ OH-H2

N
piridina

NH2

2-aminopiridina (70%)

+
N

Li

1-fenilpiridina

+ LiH

KUINOLIN DAN ISOKUINOLIN

NO2
HNO3
H2SO4

kuinolin
pKb = 9,1

NO2

5-nitrokuinolin
(52%)

8-nitrokuinolin
(48%)

NO2
HNO3
N

isokuinolin
pKb = 8,6

H2SO4

N
N

5-nitroisokuinolin

NO2
8-nitroisokuinolin

35