Anda di halaman 1dari 36

1

Final Test
Cultural Anthropology

”Etnografi Suku Biak”


(Papua/Irian Jaya)

Disusun Oleh :
OLIVIA (2007110664)
MC11-1B

Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi


The London School of Public Relations
Jakarta
2

Kata pengantar

Segala puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat
dan rahmat karunianya, saya diberikan kekuatan dan kesempatan menyelesaikan sebuah
karya etnografi yang berdasarkan hasil pengamatan mengenai kebudayaan suatu daerah
sehingga karya ini pun dapat terselesaikan dengan tepat waktu.
Ada pun Karya etnografi ini dapat terselesaikan, semata-mata demi memenuhi
salah satu syarat untuk memperoleh nilai ujian akhir mata kuliah Cultural Anthropology.
Segala rasa puji dan syukur serta terima kasih saya haturkan atas dorongan dan dukungan
dari orang-orang terdekat yang senantiasa memberi semangat sehingga karya etnografi
ini dapat diselesaikan dengan baik walau pun didalam penyusunan dan penulisan karya
etnografi ini, penulis banyak menemukan hambatan dalam proses pengerjaan serta
kesulitan mengumpulkan data atau bahan yang berhubungan dengan kebudayaan atau
suku yang diangkat dalam etnografi ini.
Karya etnografi ini juga dapat terselesaikan karena bantuan, bimbingan, doa dan
dorongan dari pihak-pihak lain. Oleh karena itu saya ingin mengucapkan terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada pihak yang ikut terlibat dan membantu dalam pengerjaan
dan penyelesaian karya etnografi ini.
Namun, saya senantiasa menyadari akan kekurangan yang terdapat pada karya
tulis yang saya buat ini. Oleh karena itu, sudi kiranya pembaca memberi saran dan kritik
yang membangun sebagai bahan perbaikan di waktu mendatang. Saya pun sangat
berharap karya tulis ini dapat memberi manfaat bagi pembaca dan masyarakat luas.

Penulis,

Jakarta, 13 juli 2009


3

Daftar isi

Kata pengantar i
Daftar isi ii
Bab 1 Pendahuluan 1

Bab 2 Etnografi Suku Asmat


2.1 Lokasi......................................................................................................4-7
2.2 Sejarah / Asal Mula Suku BIAK............................................................8-10
2.3 Sistem Bahasa........................................................................................10-21
2.4 Sistem Mata pencaharian.......................................................................21-22
2.5 Sistem Organisasi Sosial........................................................................22-25
2.6 SistemKesenian......................................................................................25-29
2.7 Sistem Religi..........................................................................................30-31
Bab 3 Penutup 32- 33
Daftar pustaka 34
Biografi penulis 35
4

Bab I
Pendahuluan

Negara kita memiliki berbagai macam suku dan terbagi atas banyak wilayah.
Suku-suku tersebut menduduki di tiap-tiap wilayah Indonesia. seperti jawa,suku
batak,suku dayak,dan lain-lain. Diantaranya adalah suku-suku papua, mereka mempunyai
kebiasaan dan kebudayaan yang berbeda-beda. sesuatu yang dianggap biasa pada salah
satu suku,belum tentu dianggap biasa pula pada suku yang lain meski pun wilayah yang
mereka ditempati jaraknya berdekatan. Begitu pula dengan cara mereka bergaul dan
menjalani kehidupan mereka sehari-hari. bahasa yang mereka pakai sehari-
hari,Kepercayaan yang dianut, serta seni budaya yang ada pada tiap suku di papua belum
tentu sama.
Karena banyaknya perbedaan di berbagai hal,banyak suku-suku di
indonesia yang terlibat perang yang di karenakan salah paham atau kurangnya
komunikasi. sehingga terjadi perselisihan pendapat,dan lain-lain. Untuk itu didalam karya
etnografi ini, saya akan mengangkat topik pembahasan mengenai kebudayaan daerah
Irian Jaya dengan melihat salah satu suku budayanya yaitu suku Biak guna mengenalkan
suku biak terhadap pembaca, dimana suku tersebut sebagai salah satu suku yang menarik
perhatian saya dan kebudayaan yang melekat pada suku Biak masih kuat sehingga
membuat saya ingin lebih menggali informasi seputar asal usul biak serta kebudayaan
dari suku biak itu sendiri. Manfaat dari karya etnogragi suku ini adalah sebagai salah
satu cara mengetahui tentang kebudayaan suku asli biak dalam hal unsur-unsur yang
terkait dalam kebudayaan suku asli Biak-Numfor tersebut.

2.1 Lokasi
A.1. Letak dan Lingkungan Alam.
Kepulauan Biak-Numfor adalah salah satu kabupaten di Provinsi Papua yang
merupakan tempat asal dan tempat tinggal orang Biak terletak di sebelah utara Teluk
Cenderawasih dan terdiri dari tiga pulau besar dan puluhan pulau-pulau kecil. Tiga pulau besar
5

adalah Pulau Biak, Pulau Supiori dan Pulau Numfor. Sedangkan pulau-pulau kecil adalah
gugusan Kepulauan Padaido, yang terdapat di sebelat timur Pulau Biak, Pulau-pulau Rani dan
Insumbabi yang terdapat di sebelah selatan Pulau Supiori, Pulau-pulau Meosbefandi dan Ayau
yang terdapat di sebelah utara Pulau Supiori dan Kepulauan Mapia yang letaknya jauh di sebelah
utara Pulau Ayau.

Secara geografis Kepulauan Biak-Numfor terletak antara 134043’-137050’ Bujur


Timur dan antara 010-10045’ Lintang Selatan. Luas seluruh pulau-pulau yang tergabung
dalam gugusan Kepulauan Biak-Numfor adalah 2.500 km2 dengan perincian Pulau Biak
dengan luas 1.832 km2, Pulau Supiori dengan luas 434 km2 dan Pulau Numfor dengan
luas 324 km2. Luas keseluruhan Kabupaten Biak Numfor 21.572 km2 yang terdiri dari
luas daratan 3.130 km2 dan luas lautan 18.442 km2 atau sekitar 5,11 % dari luas wilayah
provinsi Papua.
6

Topografi

Keadaan topografi Pulau Biak Numfor sangat bervariasi mulai dari daerah pantai
yang tediri dari dataran rendah dengan lereng dan landai sampai dengan daerah
pedalaman yang memiliki kemiringan terjal, namun pada umumnya keadaan topografi
Pulau Biak Numfor itu sendiri yaitu berbentuk teras dan bergelombang tidak teratur.
Secara morfologi, Pulau Biak terbagi 4 (empat) satuan, yaitu dataran, daerah berombak,
daerah bergelombang, dan perbukitan. Berdasarkan ketinggiannya, Pulau Biak Numfor
berada pada ketinggian 0 sampai dengan 920 meter dari permukaan laut. Ketinggian
daerah pantai sebesar 0 - 5 m dpl, seperti daerah pantai pada Pulau Biak dan Pulau
Numfor.

Sedangkan ketinggian daerah pedalamannya sendiri adalah sebagai berikut:

• Pulau Biak : 10 - 600 m dpl


• Pulau Numfor : 10 - 201 m dpl

Pulau Numfor juga terbentuk dari karang laut dan bentuk topografinya menyerupai
sebuah cakram bulat panjang yang berbukit-bukit di bagian tengah dengan ketinggian
tidak lebih dari 225 m di atas permukaan air laut. Pada celah-celah yang ada di antara
bukit-bukit terdapat tanah-tanah yang cukup baik untuk usaha pertanian. Keadaan tanah
yang relatif subur ini menyebabkan sejak dahulu hingga sekarang mata pencaharian
pokok penduduknya adalah mengusahakan ladang dengan berbagai tanaman umbi-
umbian dan kacang hijau.

Secara tektonis, wilayah Indonesia Timur merupakan lokasi pertemuan tiga


lempeng tektonik, yaitu Lempeng Pasifik yang bergerak dari arah timur ke barat,
Lempeng Australia yang bergerak dari arah tenggara ke barat laut dan Lempeng Eurasia
yang bergerak dari arah barat laut ke tenggara.
7

IKLIM
Secara umum, pola iklim Biak-Numfor dipengaruhi oleh monsoon dan
maritime, yang mana porsi besaran pengaruhnya adalah pada maritimnya. Iklim di Irian
Jaya sangat dipengaruhi oleh letak astronomis maupun letak geografis, sehingga keadaan
iklim beberapa daerah Irian Jaya berbeda-beda. Secara keseluruhan daerah Irian Jaya
termasuk dalam golongan iklim tropis.

Curah hujan bervariasi (secara local) mulai 1.500 mm - 7.500 mm per tahun.
Jumlah hari-hari hujan per tahun : Jayapura 160, Biak 125, Guarotali 250, Manokwari
140, Merauke 100.

Temperatur rata-rata pada daerah pantai berkisar 260C, 170C dengan rata-rata
maksimum 32,10C. Temperatur daerah pegunungan pada umumnya berbeda secara
gradual menurut ketinggiannya, yaitu dengan rata-rata penurunan 0,20C untuk setiap
kenaikan setinggi 100 meter diatas permukaan laut.

Data demografi
Orang Biak yang berdomisili di Kepulauan Biak-Numfor pada tahun 1999
berjumlah ± 115.134 orang. Mereka tersebar pada 153 desa/kelurahan yang terbagi atas
dua belas wilayah kecamatan. Jumlah penduduk terbanyak terdapat pada Kecamatan Biak
Kota (36.098 jiwa) dan Kecamatan Biak Timur (10.121 jiwa), sedangkan kecamatan yang
paling sedikit yang paling sedikit jumlah penduduknya adalah Kecamatan Numfor Barat
yang hanya berpenduduk 3.656 jiwa. Perincian jumlah penduduk menurut kecamatan
adalah seperti pada tabel 1. Perbandingan jumlah penduduk (115.134 orang) dengan luas
wilayah (± 2.595 km2), menunjukkan bahwa kepadatan penduduk di Kabupaten Biak-
Numfor adalah sebesar 40,48 orang tiap km2. Angka tersebut menunjukkan bahwa
Kepulauan Biak-Numfor merupakan kabupaten yang paling tinggi kepadatan penduduknya
dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten lainnya di Papua.
8

2.2 Sejarah / Asal Mula Suku BIAK

Nama dan Latar Belakang Sejarah

Pada waktu pemerintah Belanda berkuasa di daerah Papua hingga awal


tahun 1960-an nama yang dipakai untuk menamakan Kepulauan Biak-Numfor adalah
Schouten Eilanden, menurut nama orang
Eropa pertama berkebangsaan Belanda, yang
mengunjungi daerah ini pada awal abad ke
17. Nama-nama lain yang sering dijumpai
dalam laporan-laporan tua untuk penduduk
dan daerah kepuluan ini adalah Numfor atau
Wiak. Fonem w pada kata wiak sebenarnya
berasal dari fonem v yang kemudian berubah
menjadi b sehingga muncullah kata biak seperti yang digunakan sekarang. Dua nama
terakhir itulah kemudian digabungkan menjadi satu nama yaitu Biak-Numfor, dengan
tanda garis mendatar di antara dua kata itu sebagai tanda penghubung antara dua kata
tersebut, yang dipakai secara resmi untuk menamakan daerah dan penduduk yang
mendiami pulau-pulau yang terletak di sebelah utara Teluk Cenderawasih itu. Dalam
percakapan sehari-hari orang hanya menggunakan nama Biak saja yang mengandung
pengertian yang sama juga dengan yang disebutkan di atas.

Tentang asal-usul nama serta arti kata tersebut ada beberapa pendapat.
Pertama ialah bahwa nama Biak yang berasal dari kata v`iak itu yang pada mulanya
merupakan suatu kata yang dipakai untuk menamakan penduduk yang bertempat tinggal
di daerah pedalaman pulau-pulau tersebut. Kata tersebut mengandung pengertian orang-
orang yang tinggal di dalam hutan,`orang-orang yang tidak pandai kelautan`, seperti
misalnya tidak cakap menangkap ikan di laut, tidak pandai berlayar di laut dan
menyeberangi lautan yang luas dan lain-lain. Nama tersebut diberikan oleh penduduk
pesisir pulau-pulau itu yang memang mempunyai kemahiran tinggi dalam hal-hal
kelautan. Sungguhpun nama tersebut pada mulanya mengandung pengertian menghina
9

golongan penduduk tertentu, nama itulah kemudian diterima dan dipakai sebagai nama
resmi untuk penduduk dan daerah tersebut.

Pendapat lain, berasal dari keterangan ceritera lisan rakyat berupa mite,
yang menceritakan bahwa nama itu berasal dari warga klen Burdam yang meninggalkan
Pulau Biak akibat pertengkaran mereka dengan warga klen Mandowen. Menurut mite
itu, warga klen Burdam memutuskan berangkat meninggalkan Pulau Warmambo (nama
asli Pulau Biak) untuk menetap di suatu tempat yang letaknya jauh sehingga Pulau
Warmambo hilang dari pandangan mata. Demikianlah mereka berangkat, tetapi setiap
kali mereka menoleh ke belakang mereka melihat Pulau Warmambo nampak di atas
permukaan laut. Keadaan ini menyebabkan mereka berkata, v`iak wer`, atau `v`iak`,
artinya ia muncul lagi. Kata v`iak inilah yang kemudian dipakai oleh mereka yang pergi
untuk menamakan Pulau Warmambo dan hingga sekarang nama itulah yang tetap
dipakai (Kamma 1978:29-33).

Kata Biak secara resmi dipakai sebagai nama untuk menyebut daerah dan
penduduknya yaitu pada saat dibentuknya lembaga Kainkain Karkara Biak pada tahun
1947 (De Bruijn 1965:87). Lembaga tersebut merupakan pengembangan dari lembaga
adat kainkain karkara mnu yaitu suatu lembaga adat yang mempunyai fungsi mengatur
kehidupan bersama dalam suatu komnunitas yang disebut mnu atau kampung.
Penjelasan lebih luas tentang kedua lembaga itu diberikan pada pokok yang
membicarakan organisasi kepemimpinan di bawah.

Nama Numfor berasal dari nama pulau dan golongan penduduk asli Pulau
Numfor. Penggabungan nama Biak dan Numfor menjadi satu nama dan pemakaiannya
secara resmi terjadi pada saat terbentuknya lembaga dewan daerah di Kepulauan
Schouten yang diberi nama Dewan daerah Biak-Numfor pada tahun 1959.
10

Tentang sejarah orang Biak, baik sejarah asal usul maupun sejarah kontaknya
dengan dunia luar, tidak diketahui banyak
karena tidak tersedia keterangan tertulis.
Satu-satunya sumber lokal yang
memberikan keterangan tentang asal-usul
orang Biak seperti halnya juga pada suku-
suku bangsa lainnya di Papua, adalah mite.
Menurut mite moyang orang Biak berasal
dari satu daerah yang terletak di sebelah
timur, tempat matahari terbit. Moyang
pertama datang ke daerah kepulauan ini
dengan menggunakan perahu. Ada
beberapa versi ceritera kedatangan Upacara Barapen suku-bangsa
Biak-Numfor
moyang pertama itu. Salah satu versi
mite itu menceriterakan bahwa moyang pertama dari orang Biak terdiri dari sepasang
suami isteri yang dihanyutkan oleh air bah di atas sebuah perahu dan ketika air surut
kembali terdampar di atas satu bukit yang kemudian diberi nama oleh kedua pasang
suami isteri itu Sarwambo. Bukit tersebut terdapat di bagian timur laut Pulau Biak (di
sebelah selatan kampung Korem sekarang). Dari bukit sarwambo, moyang pertama itu
bersama anak-anaknya berpindah ke tepi Sungai Korem dan dari tempat terakhir inilah
mereka berkembang biak memenuhi seluruh Kepulauan Biak-Numfor.

2.3 Sistem Bahasa

Bahasa Biak tergolong rumpun bahasa Melanesia terdiri atas beberapa dialek.
Menurut perkiraan, pada tahun 1983 sekitar 100.000 orang menggunakan bahasa Biak
ini, dengan pemakai terbesar orang-orang dari kepulauan sechouten. Penyebaran Bahasa
Biak paling luas bila dibandingkan dengan penyebaran bahasa daerah lain di wilayah
Propinsi Irian Jaya.

Secara linguistik, bahasa Biak adalah salah satu bahasa di Papua yang
dikategorikan dalam keluarga bahasa Austronesia (Muller 1876-1888; Wurm & Hattori
11

1982) dimana bahasa tersebut mempunyai kelainan dengan bahasa Austronesia bagian
barat” (Soeparno,1977:vii), khususnya bahasa Biak ini termasuk pada subgrup South-
Halmahera-West New Guinea (Blust 1978). Bahasa yang digunakan sehari-hari dalam
kehidupan masyarakat Biak adalah Bahasa Indonesia. Bahasa asli digunakan penduduk
asli hanya dibedakan oleh dialek bahasa seperti Samber, Swapodibo, Wadibu, Sopen,
Mandender, Wombonda, Urmbor, Sawias dan dialek Doreri.

Di Kepulauan Biak-Numfor sendiri terdapat sepuluh dialek sedangkan di daerah-


daerah migrasi atau perantauan terdapat tiga. Oleh karena bahasa Biak tersebut banyak
digunakan oleh para migran Biak di daerah-daerah perantauan, maka ia berfungsi di
tempat-tempat itu sebagai bahasa pergaulan antara orang-orang asal Biak dengan
penduduk asli. Jumlah penduduk yang menggunakan bahasa Biak di daerah Kepulauan
Biak-Numfor sendiri pada saat sekarang berjumlah lebih kurang +70.000 orang.
Membandingkan jumlah penduduk yang menggunakan bahasa Biak dengan bahasa-
bahasa daerah lainnya di Papua, maka bahasa Biak termasuk dalam kelompok bahasa-
bahasa daerah di Papua yang jumlah penuturnya lebih dari 10.000 orang. Kecuali itu, jika
dilihat dari segi luas wilayah pesebarannya maka bahasa Biak merupakan bahasa yang
paling luas wilayah pesebarannya di seluruh Papua. (Dr. J.R. Mansoben, MA, 2003)

Berikut penjelasan seputar arti serta tata cara penggunaan bahasa biak :
2.3.1 Hubungan Kata dalam bahasa Biak.
Bahasa biak memiliki ciri-ciri kata didalam kalimatnya yaitu dengan penggunaan
hubungan kata didalamnya. Berikut sekilas penjelasan hubungan kata pada kalimat
didalam bahasa Biak :

2.3.1.1 Hubungan Kata dalam Batas Satu Fungsi


Hubungan kata dalam batas satu fungsi ini mencakup frasa dan hubungan lain seprti
S,P,O,K. Bahasa Biak memiliki ciri-ciri hubungan yang menduduki salah satu fungsi
dalam kalimat , cukup banyak variasinya. Variasi yang dijumpai antara lain, ialah
sebagai berikut :
12

A. Hubungan yang membentuk kelompok kata biasa :


1.) rum (rumah) + ay (kayu) = rumah kayu
2.) suy (papeda) + sray (kelapa) = papeda kelapa
3.) ay (kayu) + ram (daun) = daun kayu

B. Hubungan yang menggunakan kata-kata tugas, seperti konjugasi :


1.) Konjugasi ma ’dan’
~ sup ma awan ’laut dan daratan’
(laut) (darat)
~ Kasum ma veba ’besar dan kecil’
(besar) (kecil)
~ Naek ma srar ’saudara dan saudari’
2.) Kata tugas Ve- ’yang’
~ Karuy veba ’batu yang besar’
(kayu) (yang besar)
~ War Vedafe ’air yang mengalir’
(air) (yang mengalir)
~ Masem verumek ’laut yg hijau(biru)’
(laut) (yang hijau)

C. Hubungan yang menggunakan kata tugas, yang penjelasnya berwujud


kelompok kata
1.) Faro (kepada) mansar apusi ’kepada kakek tua’
2.) ve (kepada) imem (i) yedi ’kepada pamanku’
3.) ker (dari) sup awa ’dari pulau sana’

D. Hubungan yang atributnya berwujud klausa


1.) karuy veba iyi ’batu yang besar (dia) itu’
2.) ve karuy iya bori ’ke atas batu (dia) itu’
3.) in veba ivavi ’ikan (yang) besar di bawah (dia) itu’
13

E. Hubungan yang sudah membentuk satu kata


1.) imbiswa ’suami istri’
2.) awini ’ibu saya’
3.) kamami ’ayah saya’

2.3.1.2 Hubungan kata dalam batas dua fungsi atau lebih dalam satu pola
tunggal
Hubungan kata dalam batas dua fungsi atau lebih dalam Bahasa Biak cukup banyak
dijumpai sebab didalam setiap konteks yang terdapat verba, adjektive, dan kata-kata
tugas tertentu selalu di rangkaikan dengan pronomina pesona.
Contoh : yan suy nabor kwar ’ saya sudah makan banyak sagu (papeda)’
S dan P pada kalimat tersebut dapat di katakan sebagai fungsi inti, maka hubungan
ini disebut klausa. Apabila ditinjau dari segi struktur Bahasa Biak, maka tuturan saya
sudah makan banyak sagu (papeda)’ yang dalam bahasa indonesia terdapat satu S dan
satu P (hanya satu klausa), Tetapi dalam bahasa Biak temasuk dalam pola yang
berklausa ganda.
~ yan ’saya makan’ (S-P)
~ suy ’sagu’ (O)
~ nabor ’mereka banyak’(S-P ket.objek)
~ kwar ’sudah/lama’ (K)

Berikut contoh-contoh yang menyatakan klausa tunggal dalam Bahasa Indonesia dan
klausa ganda (jamak) dalam Bahasa Biak :
~ imarisep oan suy
(dia suka) ( dia makan) (papeda)
’Dia suka makan papeda’
~ Skan fas siyi
(mereka makan) (nasi) (mereka nasi itu)
’mereka makan nasi itu’
14

2.3.1.3 Hubungan Kata dalam Batas Kompleks


Hubungan klauasa dengan klausa, yang banyak terdapat dalam Bahasa Biak yang
disebut kaliamt tunggal dan kalimat majemuk. Berikut adalah contoh-contoh
kalimatnya :
~ wan suy war iyine
(engkau makan) (papeda) (sudah) (dia ini)
’ Engkua makan sagu sekarang’

~ Yapepruk Vrampinbey Yedi


(saya potong) (jari-jari tangan) (saya punya)
’ Saya potong kuku saya’

2.3.2 Kalimat
kalimat Bahasa Biak ialah kata atau kelompok kata yang dapat berdiri sendiri, lebih
luas dari klausa dan lebih rendah dari wacana, yang ditentukan oleh unsur-unsur
suprasegmental bahasa, yakni intonasi, tekanan, dan nada dan dalam bahasa tulis
ditandai dengan tanda baca titik, koma, tanda tanya, tanda seru, dan lain – lain serta
pemaikaiannya sesuai dengan waktu, tempat, dan keadaan. Contoh :
~ rwai ! (engkau pergi) ’pergilah
~sa (apa) bari (kamu bawa) ? ’apa yang kamu ’bawa?
Ada 3 faktor sebagai bahan pertimbangan dalam mendefinisikan kaliama menurut
Elson and Pickett yaitu :
1.) bahwa level kalimat di dalam hierarki ialah di atas klausa dan dibawah paragraf
2.) kalimat dapat berdiri sendiri
3.) dalam banyak bahasa, kaliamat akan melibatkan intonasi morfem – morfem dan
jeda.

Ada 18 tipe kalimat dalam Bahasa Biak,Berikut ini adalah contoh –contoh kalimat
menurut tipe-tipenya :
15

a. Kalimat peristiwa –peristiwa bersamaan

* Bapak tidur waktu ibu mencuci pakaian


Fyor kamam denfay awin pyap sansunna

*waktu lusi ke kebun, ibu pergi ke kali


Fyor/fafisu lusi ryabe yafya, awin ryabe ware

b. Kalimat peristiwa –peristiwa berurutan

* John akan pergi kepasar dan sesudah itu maria pulang


John na rya ve pasar ma rasar/pasaido maria ibur.

* Anaknya perempuan itu mandi dan sesudah itu dia memandikan adiknya.
Ina/insos iya imasi ma pasaido imasiyo beknik vyedi

c. Kalimat syarat hasil

* kamu harus bayar dulu baru bisa minum


Mko vak kaku resari insape mkinem

*kamu kerja dulu baru bisa ikut om


Mko fararur resari insape mkoso memi

d. Kalimat sebab akibat

*karena kau marah, maka dia tidak dating


wamsor dari ryama vari

*dia tidak datang sebab dia sakit


Ryamavakukr idufri/ryama va snar idufe
16

e. Kalimat hubungan tambahan

*di samping kaya akan ikan, pulau irian kaya juga akan buah-buahan
Sup irian ine ifo kukr in ma fo kukr aybon kako

* disamping pandai berburu, anak laki-laki itu pandai berkebun


Roma iya ifawi syamnaf ma ifawi ifur yaf kako

f. Kalimat berlawanan

* kamu berdua penakut, tetapi orang itu berani


Mumakakk voy snonkaku iya im rorov (imakakva)

*lukman pinter, tetapi shinta tidak


Lukman ifawinananm, voy shinta roroy

g. Kalimat setara

* Tomas membuka pintu dan jendela


Tomas vyas kadwaya ma kovkiryakoko

*kita berdua makan dan minum


Kuvan ma kvyinem

h. Kalimat yang bertentangan dengan kenyataan

*kalau kau tadi ikut, kau pasti tidak sakit


Insade (ja) wasakade na wadufva kaku
17

*jika saja dia memanjat pohon itu, pasti pohon itu sudah patah.
Dove dek ay iyakada na ikar kaku dan kwar

i. Kalimat alasan dan tujuan

*orang itu minum mabuk supaya dia bisa bicara


Snonkaku iye dinmde imser same ido iwose

*anak itu pura-pura sakit supaya dia tidak bekerja


Roma iya iduf kasrer insame ifararur awer

j. Kalimat umum khusus

*orang itu memasak daging rusak itu dengan memanggangnya


Snon iye ikayaf rusa krafna

*dia membunuh babi dengan menikamnya


Iwan bos randipi

k. Kalimat hubungan antara proporsi dan perbandingan

*john membuat meja, seperti mejamu


John ifur meja yave imnis meja bani

*anak itu dansa, seperti bapaknya


Roma iya ifyer fa imnis kmari

l. Kalimat peristiwa dalam waktu


18

*hari itu hujan lebat waktu john pulang


John ibur do fafisu mekmya imyun fafaya bai

*hari itu panas terik waktu orang itu bekerja.


Ras fyor ifa snonkaku iya ifararur anya sup isam fafaya va

m. Kalimat perkiraan yang salah terhadap kenyataan

*kami kira orang itu miskin , tetapi ternyata orang itu kaya
Nkorkara vo nkove nyanava inkuroyiinsave inkofawi bos nyanari

*kamu kira dia bodoh, tetapi ternyata dia pintar


Mkokara vo mkove ifawinambe mbape nfasna bos ifam nanem

n. Kalimat Cara dan hasil

*Dengan memanjat pohon, ia mencapai puncak rumah


Dek aya rama insape rya ryus rumya dokori

*Dengan merayap, dia dapat memasuki kebun itu.


Vbyarkinawr random syum yaf (iya/iwa)

o. Kalimat hubungan proporsi – proporsi


*Makin cepat engkau pulang, makin cepat engkau dapat makan.
Wabur fawas fawas-sawido na wasma roveyan sambern kako

p. Kalimat proporsi dengan proporsi tambah

*keladi ada dan babi pun ada


Japan naisya ma warnano naisya kako
19

*sayur ada dan ikan pun ada


Wesya sisya ma insyano sisya kako

q. Kalimat proporsi-proporsi alternative

* orang itu sedang marah atau sedang susah


Snonkaku iye ise irmomnke rovaido ise vyesusa

*anak itu sedang menangis atau sedang tertawa


Roma iye ise kyansvado ise imbrif

r. Kalimat perbandingan

* anak itu berburu seperti ayahnya


Roma iye syamnafre rya kmari rya (bose)

*anak itu tidur seperti orang mati


Roma iye denfre rya vemaro

2.3.3 Kosakata umum


Berikut ini adalah beberapa kosakata yang digunakan oleh Orang Biak :

a) Kata benda
1. Rumah kayu = rum ay
2. batu besar = karuy veba
3. anak laki-laki = kabor
4. anak babi = ben/randip
5. orang jahat = snon mamun
6. tepi kebun = yaf andire
7. kelapa = sray
8. air = war
9. laut = masem
20

10. Pahlawan = mambri

b) Kata sifat
1. Besar = Kasum
2. kecil = veba
3. Sangat Kecil = vebava
4. Sakit sekali = duf fafayava
5. sama besar = ba mammis
6. lebih kecil = bava syadi
7. lebih besar = ba koper
8. sakit sekali = duf fafayave
9. tisak sakit = dufva
10. hampir sakit = kero dufe

c.) Kata kerja


1. belajar = farkor
2. pergi = Ryai
3. dia makan = dan
4. mereka makan = skan
5. kamu pukul = mkomun
6. Tersesat (hutan) = nimus
7. bekerja = fararur
8. yang berperang = mamun
9. yang menari = vefyeri
10. yang menangis = vekans
d.) Bilangan
1. satu = oser 3. tiga = rikyor
2. dua = ruru 4. lima = ririm

2.4 Sistem Mata pencarian


21

Mata pencaharian utama penduduk yang bermukim di perdesaan adalah petani dan
nelayan, sedangkan yang di kota lebih beragam antara lain sebagai PNS, pegawai swasta dan
pedagang. Orang Biak, terutama yang tinggal di pedesaan, hidup terutama dari berladang dan
menangkap ikan.

Jenis mata pencaharian hidup yang disebut pertama, berladang, dilakukan oleh sebagian
besar penduduk, sedangkan mata pencaharian yang kedua, menangkap ikan, dilakukan terutama
oleh penduduk yang bertempat tinggal di Kepulauan Padaido, Biak Timur dan di Desa Rayori

Pada umumnya penduduk yang melakukan pekerjaan berladang sebagai pekerjaan pokok, juga
melakukan penangkapan ikan sebagai mata pencaharian tambahan. Hal ini terjadi karena belum
ada pembagian kerja yang bersifat spesialisasi. Seperti halnya di daerah Papua lainnya, di daerah
Biak-Numfor, terutama di daerah pedesaan, tiap keluarga inti berfungsi unit produksi yang
menghasilkan semua kebutuhan pokok bagi kehidupan angngota keluarganya sendiri, tidak
tergantung pada keluarga lain. Hasil yang diperoleh dari berladang dipakai terutama untuk
memenuhi kebutuhan keluarga sendiri, jika ada kelebihan, maka dibagikan kepada anggota
keluarga yang lain (di waktu lalu) atau di jual ke pasar (di waktu sekarang).

Di masa lampau mata pencaharian lain yang sangat penting dalam kehidupan orang Biak adalah
perdagangan. Barang-barang perdagangan utama pada waktu itu adalah hasil laut, piring, budak
dan alat-alat kerja yang dibuat dari besi seperti parang dan tombak. Perlu dicatat disini bahwa
kepandaian besi sudah dikenal orang Biak melalui penduduk Maluku jauh sebelum orang Eropa
pertama datang di daerah ini pada awal abad ke-16 sehingga peralatan kerja tersebut di atas
merupakan hasil produksi sendiri (Kamma & Kooijman 1974).

Sistem perdagangan yang dilakukan pada waktu lampau ialah melalui cara tukar menukar barang
atau barter (dalam bahasa Biak disebut farobek), tanpa mata uang tertentu seperti halnya orang
Me dan Muyu yang menggunkan kulit kerang sebagai alat pertukaran yang terbaku dalam
kebudayaannya.

2.5 Sistem Organisasi Sosial


22

Stratifikasi Sosial
Dalam masyarakat Biak tidak terdapat pembagian menurut lapisan sosial yang
jelas.Golongan pertama, masyarakat bebas disebut manseren, artinya yang dipertuan, pemilik,
yang membuat putusan dan yang berkuasa, tetapi bukan dalam arti bangsawan atau ningrat yang
sesungguhya. Perbedaan antara kedua golongan manseren itu ialah bahwa golongan pertama
disebut manseren mnu, artinya golonan pendiri dan pemilik kampung, sedangkan golongan
kedua hanya disebut golongan manseren saja.

Golongan masyarakat yang disebut budak atau women berasal dari tawanantawanan
perang. Tugas utama golongan ini adalah membantu melakukan pekerjaan-pekerjaan bagi siapa
mereka dipertuan, seperti berkebun, mencari ikan, membangun rumah dan lain-lain. Oleh karena
tugas yang demikian maka seorang budak sering dinamakan juga dalam bahasa Biak
manfanwan, artinya yang dapat disuruh untuk melaksanakan pekerjaan tertentu.

Struktur Sosial. Kesatuan sosial dan tempat tinggal yang paling penting bagi masyarakat
Biak adalah KERET atau KLAN kecil. Suatu keret terdiri dari keluarga batih yang disebut SIM.
Pada masa sekarang masing-masing keluarga batih (sim) mempunyai rumah sendiri, tetapi
biasanya mereka berkelompok menurut keret dan Mnu. Wujud nyata dari kesatuan sosial
tersebut pada waktu lalu adalah rumah besar yang disebut rumah keret. Rumah keret merupakan
suatu bangunan yang berbentuk segi empat panjang dengan ukuran kurang lebih 30-40 m
panjang dan 15 m lebar. Rumah keret itu dibangun di ats tiang dan dibagi-bagi kedalam sejumlah
kamar atau sim yag letaknya disisi kiri-kanan dan dipisahkan oleh suatu ruang kosong di bagian
tengah rumah yang memanjang mulai dari depan sampai ke belakang. Fungsi utama ruang
tengah yang kosong itu adalah sebagai tempat menaruh perahu milik keret dan juga sebagai
tempat menerima tamu dan tempat berapat anggota keluarga keret.

Pada prinsipnya tanah dipemukiman atau mnu adalah milik keret pertama yang membuka
tempat tersebut menjadi pemukiman. Demikian pula tanah, hutan dan sumber-sumber daya lain
yang bermanfaat bagi kehidupan yang terdapat disekitar tempat pemukiman itu adalah milik
keret pendiri mnu yang disebut Manseren mnu. Jadi,pada dasarnya keret pendatang hanya
23

mendapatkan hak sebagai pemakai bukan hak sebagai pemilik. Dan biasanya ,para keret hanya
mencari nafkah dari hak yang menjadi miliknya. Apabila seseorang individu dari keret tertentu
hendak mencari hasil hutan atau membuka kebun di lokasi yang merupakan hak milik keret lain,
maka ia harsu meminta izin pada kepala keret pemilik dengan persetujuan dari individu yang
menggunakan lokasi tersebut terlebih dahulu.

a. Sistem kekerabatan

Dalam hubungan kekerabatan, orang Biak mengusut keturunannya melalui garis ayah,
jadi bersifat patrilineal. Sedangkan tipe pokok kekerabatan yang dianut menuurut pembagian
yang dibuat oleh Murdock (1949) adalah sistem Iroquois, yaitu penggunaan satu istilah yang
sama untuk menyebut kelas kerabat tertentu. Misalnya istilah naek digunakan untuk saudara-
saudara kandung dengan sudara-saudara sepupu paralel,yang berbeda dari istilah napirem untuk
menyebut semua saudara sepupu silang. Kecuali itu semua saudara laki-laki ayah disebut juga
dengan istilah ayah, kma, dan semua saudara perempuan ibu disebut, sna. Sebaliknya semua
saudara perempuan ayah disebut bibi, bin, dan semua saudara laki-laki ibu disebut paman.

Dalam kaitannya dengan pengklasifikasian anggota kerabat seperti tersebut di atas adalah
adanya larangan perkawinan antara saudara-saudara sepupu, baik saudara-saudara sepupu sejajar
maupun saudara-saudara silang. Larangan tersebut merupakan ketentuan adat yang menetapkan
perkawinan tersebut sebagai perkawinan inses.

Perkawinan dan pola menetap sesudah kawin


Prinsip perkawinan yang dianut oleh kesatuan sosial yang disebut keret itu adalah
eksogami, artinya antara anggota-anggota warga satu keret tidak boleh terjadi perkawinan.
Dengan demikian isteri harus diambil dari keret lain, apakah keret lain itu berada pada mnu yang
sama atau bukan. Selanjutnya pola perkawinan ideal menurut orang Biak, terutama pada waktu
lampau, adalah perkawinan yang disebut indadwer, atau exchange marriage, yaitu pertukaran
perempuan antara dua keluarga yang berasal dari dua keret yang berbeda. Di samping pola
perkawinan ideal tersebut, orang Biak mengenal juga bentuk perkawinan lainnya seperti
24

perkawinan melalui peminangan dan perkawinan ganti tikar baik yang bersifat levirate maupun
sororate. Bentuk perkawinan yang paling banyak terjadi adalah perkawinan melalui peminangan,
fakfuken.
Menurut tradisi pihak laki-lakilah yang berkewajiban untuk melakukan peminangan pada
pihak perempuan. Unsur-unsur penting dalam proses peminangan adalah penentuan jumlah
maskawin yag dibayarkan oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan dan penetuan waktu
pelaksanaan perkawinan,
Pola menetap sesudah kawin yang dianut adalah patrilokal, yaitu pasangan baru yang
menikah menetap di rumah atau lokasi tempat asal suami. Sering terjadi juga bahwa sesudah
menikah, pasangan baru itu menetap untuk waktu tertentu di rumah orang tua atau wali isteri.
Hal ini disebabkan oleh karena sang suami dari keluarga baru itu harus melakukan pekerjaan
tertentu misalnya membantu membuka kebun baru.

Struktur Organisasi pemerintahan Biak-Numfor


Menurut struktur organisasi pemerintahan sekarang. Kepulauan Biak-Numfor membentuk suatu
daerah pemerintahan berstatus daerah Tingkat II di propinsi Papua dengan nama Daerah Tingkat II
Kabupaten Biak-Numfor. Daerah Tingkat II tersebut selanjutnya dibagi ke dalam dua belas wilayah
kecamatan, dan 153 desa. Ibu kota daerah tingkat II Kabupaten Biak-Numfor adalah Kota Biak yang
berpenduduk ± 60.111 jiwa. Selain berfungsi sebagai ibu kota pemerintahan, kota Biak juga berfungsi
sebagai pusat pendidikan dan perekonomian daerah tersebut. Di Kota Biak terdapat suatu lapangan
terbang internasional yang dapat menghubungkan daerah Papua dengan daerah-daerah lainnya di
Indonesia maupun dengan dunia luar terutama ke Hawaii dan Los Angeles di Amerika Serikat.

2. 6 Sistem kesenian
Menurut seorang ahli antropologi Belanda Dr. G.J Held Kebudayaan penduduk Irian
memiliki ciri tersendiri yaitu keanekaragaman dan variabilitasnya yang besar. Kedua ciri
tersebut mencakup kebudayaan material seperti seni pahat dan seni ukir. Di mulai dari ujung
barat Irian Jaya ke ujung Timur Papua Nugini, terdapat 9 macam daerah kebudayaan, antara
lain :
1. daerah pantai Barat- Laut Irian yang mencakup daerah kebudayaan Biak-
Numfor;
25

2. Teluk Yos Sudarso- Danau sentani;

3. daerah Sepik;

4. daerah Teluk Huon;

5. daerah massim;

6. daerah Teluk Papua;

7. daerah Selat Torres;

8. daerah Marind-Anim; dan

9. daerah pantai Barat-daya.

Masyrakat Biak – numfor memiliki Kesenian yang terdiri dari seni tari dan
musik, dan teater modern dan tradisional. Berikut merupakan uraian kesenian
serta arti dibalik filosofi dari kesenian tersebut :

a. Seni Musik dan Tari

Bagi suku-bangsa Biak-Numfor, music dan tarian merupakan suatu kesatuan.


Dalam bahasa daerahnya. Mereka menyebut music dan tarian dengan satu istilah : WOR.
Penduduk daerah kebudayaan Biak-Numfor membedakan kira-kira 16-22 melodi baku
yang disertai syair-syairnya. Yang terutama menentukan sifat Wor adalah melodinya.
Setiap melodi berlaku untuk satu macam seremoni. Melodi wor umumnya berdsarkan
tangga nada pentatonis (lima nada) yang bersifat manis,ringan, gembira,hidup, keras, liar,
mistis, dan bahkan melankolis dan senitimental.

Lagu Kururuye! adalah contoh sebuah wor untuk berdayung dengan irama yang hidup.
Biasanya wor untuk berdayung dinyanyikan dan dilaksanakan oleh lebih daripada satu
orang.

Kururuye adalah kata seru untuk mengungkapkan rasa senang pelaut atau nelayan Biak
yang sambil berdayung atau berlayar menuju kampungnya dar laut. Angin Buritan yang
mengantarnya kembali dari “perjalanan”nya tidak terlalu kuat dan tidak terlalu lemah.
26

Sedangkan Pelabuhan Koreri yang di maksud pada syair ini adalah pelabuhan yang secara
ketat berarti pelabuhan Negara Adil , Negara Bahagia.

Berikut syair daripada Kururuye! :

Kururuye

1. Kururu, kururuye!

Perahu ini melaju dengan manis Refrein

Berlayarnya kemana? Aku ingin berlayar.

2. Kururu, kururuye! Aku, kururu, ingin mencari,

Janganlah salah berlayar Mencari Pelabuhan koreri,

Ke Tanah Orang Mati. Pelabuhan yang teduh,

Tanah Orang Mati adalah Teduh sekali.

Pelabuhan Derita.

Syori Wandama, adalah wor untuk suasana yang tenang dan teduh. Syair
lagu ini mengungkapkan “perjalanan Kehidupan” suku-bangsa Biak-
Numfor menuju Timur,lambing dari ketenangan, kedamaian.Syair Syori
Wandama sudah mendapat pengaruh Kristen.

Syori Wandama (Air Laut Yang Surut)

Air laut yang surut,

Yang surut,yang teduh,

Teduh dan tidak berombak.

Sorga tempatku,

Tempatku.
27

Aku kenangkan.

Masyarakat Biak juga memiliki


Tarian untuk mengiri lagu yang
dinyanyikan. Tari Yosim Pancar, Tarian
persahabatan Biak Numfor dikenal dengan
nama Yosim Pancar. Pertunjukkan yang
diadakan lebih dari satu orang denga
gerakan dasar yang penuh semangat,
dinamik dan menarik, seperti Pancar gas,
Gale-gale, Jef, Pacul Tiga, Seka dan lain-
Tarian adat Yosim Pancar yang dibawakan
lain. Yospan dalam arti sebenarnya adalah salah satu tarian pergaulan
oleh kaum yang
wanita biak.berasal

dari dua daerah, yakni Biak dan Yapen-Waropen. Awalnya, yospan terdiri dari tarian
pergaulan yosim dan pancar, dua tarian berbeda yang akhirnya dipadu menjadi satu.
Dalam pementasan yosim, yang berasal dari Yapen-Waropen, para penari juga
mengajak serta warga lainnya untuk hanyut dalam lagu-lagu yang dibawakan
kelompok penyanyi berikut pemegang perangkat musiknya.

Perangkat musik yang digunakan sangat sederhana, terdiri dari cuku lele dan
gitar yang merupakan alat musik dari luar Papua. Juga ada alat yang berfungsi sebagai
bas dengan tiga tali. Talinya biasa dibuat dari lintingan serat sejenis daun pandan yang
banyak ditemui di hutan-hutan daerah pesisir Papua.
Selain itu, ada alat musik yang disebut kalabasa. Alat ini terbuat dari labu yang
dikeringkan kemudian diisi dengan manik atau batu kecil.

Berbeda dengan yosim, tarian pancar yang berasal dari Biak hanya diiringi tifa,
yang merupakan alat musik tradisional semua suku bangsa pesisir di tanah Papua.
Gerakannya pun tidak lincah dan banyak gaya seperti pada yosim. Gerakan penari
pancar relatif lebih kaku karena mengikuti entakan pukulan tangan pemusik pada kulit
tifa yang biasa dibuat dari kulit soa-soa (biawak).
28

Tarian pergaulan anak muda itu diadopsi dari nama pesawat pancar gas yang pernah
melintas di angkasa Biak . Saking takjubnya masyarakat Biak dengan pesawat yang
meninggalkan awan tebal dan meninggalkan garis putih pada lintasannya, maka tarian
mereka pun kemudian diberi nama pancar. Ketika kedua tarian pergaulan tersebut
dipadukan menjadi yosim pancar atau yospan, tarian terkesan energik.

Semua tarian yang mengiringi melodi-melodi yang dinyanyikan oleh penduduk


daerah kebudayaan Biak-Numfor biasanya berfsifat tarian-tarian massal dengan
gerakan-gerakan kaki yang melingkari
tempat menari. Para penari seolah-
Hiasan-
olah”berlari-lari” dengan langkah-
hiasan
haluan langkah yang pendek dan terkadang
perahu kalau semakin meinggi –meloncat-
dari Teluk
loncat. Para peserta menari berdasarkan
Cendrawa
sih ciri-ciri:
tempo dari melodi yang dinyanyikan.
Dibuat Irama lagu dan tarian dipertegas oleh
Tarian adat suku-bangsa Biak-
dari kayu
Numfor. pukulan pada tifa. Tifa adalaha sejenis
gendering dari kulit biawak yang dikeringkan lalu dipasang
pada ujung kayu beronggga yang kering dan bulat. Tifa memakai gagang disalah satu
bagian luarnya. Kayu berongga tersebut bisa setinggi seorang dewasa tapi ada juga
yang kecil. Tari-tarian daerah kebudayaan Biak –Numfor adalah usaha manusia untuk
meniru gerakan-gerakan tertentu dari alam seperti gerakan-gerakan ular naga dalam
mitos-mitos penduduk setempat.

b. Seni ukir

Disamping seni musik dan tari-tarian,


penduduk Biak-Numfor pun memiiliki benda seni
berupa ukiran –ukiran kayu yang terdapat pada korwar ,
yaitu kotak kayu penyimpanan tengkorak nenek
moyang. Korwar berbentuk orang yang sedang
29

berjongkok dihiasi oleh hiasan gelung yang diukir. Ukiran lain terdapat pada kalang-
kalang kepala, haluan dan buritan perahu .

Di samping itu secara khusus, MON yaitu dukun


(shaman) dari suku-bangsa Biak-Numfor ini memiliki
suatu bentuk kesenian yang melambangkan ular naga
dan punya dasar keagamaan. Bentuk tersebut berupa
gambar mitologiis dalam bentuk manusia danbinatang
yaitu Ular dan ular naga. Para MON menggambarkan
bentuk-bentuk kesnian tersebut dan hanya merekalah yang mengetahui arti simbolis
dari bentuk-bentuk kesenian.

c. Seni teater tradisional dan


modern

kesenian lain suku-bangsa Biak-Numfor


antara lain teater tradisional dan teater
modern. Tradisinal dan modern memiliki
Sekelompok mahasiswa asal irian jayadi
Universitas Kristen Satya Wacana, salatiga.

persamaan. Keduanya mempunyai inti,


tujuan, dan fungsi. Keduanya pula memiliki
unsur ruangan, naskah, aksi, suara, adegan
dan suasana. Yang terkadang beda adalah isi
dari inti, tujuan, fungsi dan unsur-unsur dari

Kelompok teater Dai Rakuda Kan kedua


Korwar bertengkorak dr Pulau
mementaskan Kuda Laut Berbintik , jenis Roon,Teluk Cendrawasih. Cirri-ciri :
sebuah dansa di New York City,juli dibuat dari kayu; tinggi 41 cm dan
1982. teater ini. bagian muka bercat hitam.

Hakekat Teater modernl ternyata terdapat juga dalam


teater tradisional dari daerah kebudayaan Biak-Numfor.

2.7 Sistem Religi


30

Masyarakat & Adat Istiadat


Masyarakat Biak masih memiliki kebudayaan kuno yang berkisar pada kepercayaan
animisme bahkan kepercayaan tersebut lebih ditonjolkan melalui upacara ritual yang
lebih dikenal dengan WOR. Kata Wor sudah berarti lagu dan tari tradisional. Semua
anak yang terkena wabah penyakit dianggap bernasib malang sehingga harus diadakan
upacara adat. Wor dapat mengekspresikan semua aspek kehidupan orang Biak, seperti
halnya upacara tradisional para leluhur berupa ukiran kayu, dan lebih khusus pada
motif atribut yang digunakan mereka pada saat menyanyi dan menari; berupa motif
pada pakaian. Semua barang yang digunakan untuk upacara adat dapat disakralkan
atau dikeramatkan.

Beberapa upacara tradisional orang Biak antara lain Upacara gunting rambut/cukur
(Wor Kapapnik), Upacara memberi/mengenakan pakaian (Wor Famarmar), Upacara
perkawinan (Wor Yakyaker Farbakbuk), dan lain-lain. Seluruh upacara diiringi dengan
lagu dan tari bahkan merupakan sumbangan atau pendewaan kepada roh-roh para
leluhur.

Pekuburan Tua Padwa

Tempat di mana dapat dilihat tengkorak dan tulang belulang dari leluhur suku Biak
yang mendiami kampung Padwa yang teratur rapih di dalam goa batu/tebing karang.
Lokasi ini dapat ditempuh dengan kendaraan darat selama kurang lebih 20 menit.

Wor Barapen

Upacara Barapen adalah sebuah upacara yang dilaksanakan oleh para pemuda (Kabor
Insos) sebagai peringatan ketika mereka mulai memasuki usia remaja. Setelah upacara
selesai ribuan batu disusun dan dibakar sampai batu tersebut menjadi bara. Batu yang
masih membara disebar, sementara itu pemimpin keagamaan mempersiapkan dirinya
dengan melumuri kakinya dengan cairan khusus sambil mengucapkan mantra. Ketika
sang pemimpin upacara sudah siap, dia kemudian berjalan di atas batu yang masih
panas membara.
31

Festival Pesta Pernikahan Tradisional

Suku-suku di Biak sering sekali mengadakan Acara Perkawinan Adat, mereka


menyebutnya “MUNARA YAKYAKER PURBAKBUK”. YAKYAKER adalah suatu
upacara pengiringan penganten wanita ke
rumah penganten pria. Ini merupakan
puncak di upacara perkawinan (Munara
Purbakbuk). Yakyaker artinya membiarkan
seorang pengantin wanita pergi ke
kediaman pengantin pria.

Sebelum berlangsung upacara perkawinan,


didahului dengan sejumlah tahapan upacara
antara lain pembayaran mas kawin yang
disebut Ararem. Sesuai tradisi Suku Biak, besarnya mas kawin (ararem) ditentukan
oleh pihak keluarga wanita yang melalui kesepakatan besarnya antara sanak keluarga.
Untuk penentuan waktu penyerahan Ararem tersebut, dapat disepakati bersama oleh
kedua belah pihak yakni keluarga wanita dan pihak keluarga pria. Munara Yakyaker
(Upacara Pengiringan) selama 7 hari dan 7 malam, kedua calon pengantin diawasi
dalam rumah keluarga masing-masing dan setelah itu pengantin wanita diiring dengan
suatu arak-arakan tari dan lagu yang disebut “WOR” ke rumah pengantin pria, dan
disana dilangsungkan upacara Pengukuhan tanda sahnya perkawinan tersebut.
32

Bab III
Penutup

Menanggapi semua hal yang sudah di bahas pada bab-bab sebelumnya, saya
menyimpulkan bahwa suku bangsa Biak-Numfor, Irian Jaya mengalami proses
akulturasi pengaruh dari kebudayaan luar yang masuk ke wilayah Biak-Numfor,maka
muncul kebudayan-kebudayaan baru akibat hasil akulturasi tersebut. Berdasarkan
penelitian saya terhadap beberapa data dan fakta mengenai suku Biak di Irian Jaya,
kebudayaan Suku tersebut masih menyimpan benda-benda yang mengandung unsur
mistis.

Dari berbagai unsur-unsur kebudayaan, antara lain dalam sistem ekonomi,


sistem organisasi sosial,sistem religi, dan kesenian. Perubahan di sistem ekonomi
inilah, masyarakat suku Biak-Numfor mengalami perubahan yang cukup signifikan.
Karena di masa lampau mata pencaharian yang sangat penting dalam kehidupan orang
Biak adalah perdagangan. Barang-barang perdagangan utama pada waktu itu adalah
hasil laut, piring, budak dan alat-alat kerja yang dibuat dari besi seperti parang dan
33

tombak dan mereka pun menggunakan sistem perdagangan yang berupa barter (tukar
menukar barang). Kemudian masyarakat Biak tersebut mengalami
perubahan dalam sistem perdagangan seiring perkembangan jaman.
Namun cirri khas orang Biak khusunya daerah pedesaan serta pesisir pantai,
maka mata pencaharian untuk bertahan hidup ialah dengan berladang dan menangkap
ikan karena sulitnya mencari pekerjaan di sekitar wilayah mereka.

Satu hal yang patut disesalkan dari suku Biak ini ialah bahwa persaingan antara
organisasi-organisasi tersebut telah mempengaruhi para pengikutnya, sehingga timbul
permusuhan antar penduduk serta emosi yang di miliki tiap individual pun ketika
hakmereka di usik maka tempramen dari mereka pin cepat meningkat
tanpa peduli siapa. Namun sistem kekerabat dari suku itu sendiri sangat kental
dalam mengayomi satu sama lain.

Setiap kebudayaan suku suatu bangsa seiring perkembangan jaman sudah pasti
pula mengalami perubahan dalam setiap suku bangsa di Indonesia mau itu
berdampak buruk maupun baik, hal tersebut yang akan mempengaruhi
perkembangan negara Indonesia itu sendiri dalam hal pmerintahan dan kesejahteraan
rakyat. Patut kita sadari dari berbagai macam suku bangsa yang
Negara kita miliki, Negara kita termasuk Negara yang berhasil
menyatu padan kan berbagai suku diseluruh pelosok wilayanh
Indonesia menjadi suatu kesatuan di tanah air Indonesia kita yang
dipersatukan dan sering kita kenal dengan Bhinneka Tunggal Ika.
34

Daftar Pustaka

Akwan, C. Beberapa aspek teater tradisional didaerah kebudayaan Biak-Numfor.


Jakarta : Percetakan PT. BPK Gunung Mulia, 1984.

Bartolomeus Kaimakaimu, Frans Rumbrawer, Syahwin Faut Ngi. Sintaksis Bahasa


Biak. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa, 1994.

Dr. J.R. Mansoben, MA.SISTEM POLITIK TRADISIONAL ETNIS BYAK: Kajian


tentang Pemerintahan Tradisional. Antropologi Papua, Volume 1. No. 3 Agustus
2003

Enos Henok dan Rumansa. Transformasi Wor dalam lingkungan hidup orang Biak.
Jakarta : Perpustakaan Nasional 1995.
35

Ensiklopedia Nasional Indonesia Jilid 3. Jakarta : PT. Delta Pamungkas, 2004.

http://www.Biak.go.id, 3 juli 2009.

http://regional.coremap.or.id/biak/ , 10 juli 2009.

BIOGRAFI

Olivia lahir di Bandung , 17 September 1988.


Pendidikan SD hingga SMA diselesaikan.
Pendidikan Sekolah Dasar hanya ia jalani hingga
kelas 3 di SDN Taruma Jaya, Bekasi. Kemudian ia
melanjutkan serta menyelesaikan pendidikan
sekolah dasarnya di SD.St.Fransiskus III Jakarta.
Pendidikan Sekolah Menengah Pertama di SLTP
Budhaya III St.Agustinus,Jakarta dan pendidikan
Sekolah Menengah Atasnya di SMA I PSKD.
Status ia Saat ini masih sebagai salah satu
36

mahasiswi pendidikan S1 The London School of Public Relation , jurusan komunikasi


massa. Ia juga memiliki hobby bermain basket dan travelling, photograpfer,
adventuring . Selain itu, ia juga hobby membaca sehingga banyak pengetahuan yang ia
miliki. Menjadi salah satu perwakilan invitasi bola basket wilayah Jakarta Timur antar
pelajar ditingkat SD serta meraih dua gelar pemain terbaik pada kejuaraan bola basket
se-DKI di tingkat SLTP. Juara 1 Bulan Bahasa dalam kategori Pembaca Berita terbaik.

Ia adalah orang yang aktif dan perfeksionis, ia juga memiliki keuletan dan sifat
pantang menyerah sehingga dapat menyelesaikan tugas dengan tepat waktu serta hasil
yang cukup memuaskan. Namun, hal negatif yang ia miliki adalah pesimistis. Ia juga
termasuk orang yang supel berjiwa humoris sehingga dengan mudah menjalin
hubungan relasi pertemanan ,maupun pekerjaan karena sifatnya yang ramah dan
mampu mencairkan suasan yang tegang.