Anda di halaman 1dari 144

RENCANA

PENGEMBANGAN

PENELITIAN &
PENGEMBANGAN
NA SIONAL

2015-2019

RENCANA Pengembangan
PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
Nasional 2015-2019

:

Ami Fitri Utami


Mandra Lazuardi Kitri

PT. REPUBLIK SOLUSI

iv

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

RENCANA pengembangan
PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
nasional 2015-2019

Tim Studi dan Kementerian Pariwisata Ekonomi Kreatif:


Penasihat
Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI
Sapta Nirwandar, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI
Pengarah
Ukus Kuswara, Sekretaris Jenderal Kemenparekraf
I Gde Pitana, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
Cokorda Istri Dewi, Staf Khusus Bidang Program dan Perencanaan
Penanggung Jawab
Raseno Arya, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebijakan Ekonomi Kreatif
Tim Studi
Ami Fitri Utami
Mandra Lazuardi Kitri
ISBN
978-602-72367-8-3
Desainer
RURU Corps (www.rurucorps.com)
Rendi Iken Satriyana Dharma
Sari Kusmaranti Subagiyo
Farly Putra Pratama
Penerbit
PT. Republik Solusi
Cetakan Pertama, Maret 2015
Hak cipta dilindungi undang-undang
Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara
apapun tanpa ijin tertulis dari penerbit

Terima kasih Kepada Narasumber dan Peserta Focus Group Discussion (FGD)
Prakoso Bhairawa Putera
Aldrin Herwany
Warsito P.Taruno
Kristanto Santosa
Mohammad Faisal
R. Adjie Wicaksana
Ari Juliano Gema
Ratna Ariyanti
Ronaldiaz Hartantyo
Diah Setiari Husodo
Siti Dloyana Kusumah
Budiana Setiawan
Dhani Agung Darmawan
Dudi Iskandar
Yusmaini Eriawati
Genardi Atmadiredja
M. Ikhsan Akhirulsyah
Nurul Widyaningrum
Sunu Widianto
Tri Moelyono
Ida Suhadi

vi

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

Kata Pengantar
Ekonomi kreatif memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu sektor penggerak yang
penting untuk mewujudkan Indonesia yang mandiri, maju, adil dan makmur. Ekonomi kreatif
adalah ekonomi yang digerakkan oleh sumber daya terbarukan dan tersedia secara berlimpah di
Indonesia, dimana kita memiliki sumber daya manusia kreatif dalam jumlah besar, sumber daya
alam terbarukan yang berlimpah dan sumber warisan budaya yang unik dan beragam. Ketiganya
menjadi kekuatan pendorong pertumbuhan ekonomi kreatif yang berkelanjutan.
Kita, secara bersama-sama telah meletakkan dasar pengembangan ekonomi kreatif yang akan
membawa bangsa menuju pembangunan ekonomi yang berkualitas. Kesinambungan upaya
pengembangan ekonomi kreatif diperlukan untuk memperkuat ekonomi kreatif sebagai sumber
daya saing baru bagi Indonesia dan masyarakat yang berkualitas hidup.
Bagi Indonesia, ekonomi kreatif tidak hanya memberikan kontribusi ekonomi, tetapi juga
memajukan aspek-aspek nonekonomi berbangsa dan bernegara. Melalui ekonomi kreatif, kita
dapat memajukan citra dan identitas bangsa, mengembangkan sumber daya yang terbarukan
dan mempercepat pertumbuhan inovasi dan kreativitas di dalam negeri. Di samping itu ekonomi
kreatif juga telah memberikan dampak sosial yang positif, termasuk peningkatan kualitas hidup,
pemerataan kesejahteraan dan peningkatan toleransi sosial.
Penelitian dan pengembangan sebagai salah satu dari 15 subsektor di dalam industri kreatif,
merupakan kegiatan sistematis untuk mengumpulkan, memanfaatkan serta mengolah ilmu
pengetahuan dengan tujuan untuk mengkonfirmasi dan atau merancang dan atau mengembangkan
suatu hal (objek penelitian) menjadi hal baru yang lebih baik dan inovatif yang dapat memenuhi
kebutuhan pasar dan memberikan manfaat ekonomi. Saat ini masih ada masalah-masalah yang
menghambat pertumbuhan industri penelitian dan pengembangan di Indonesia, termasuk
didalamnya jumlah dan kualitas orang kreatif yang masih belum optimal, ketersediaan sumber
daya alam yang belum teridentifikasi dengan baik, keseimbangan perlindungan dan pemanfaatan
sumber daya budaya, minimnya ketersediaan pembiayaan bagi orang-orang kreatif yang masih
kurang memadai, pemanfaatan pasar yang belum optimal, ketersediaan infrastruktur dan
teknologi yang sesuai dan kompetitif serta kelembagaan dan iklim usaha yang belum sempurna.
Dalam upaya melakukan pengembangan industri penelitian dan pengembangan di Indonesia,
diperlukan pemetaan terhadap ekosistem penelitian dan pengembangan yang terdiri dari rantai
nilai kreatif, pasar, nurturance environment, dan pengarsipan. Aktor yang harus terlibat dalam
ekosistem ini tidak terbatas pada model triple helix yaitu intelektual, pemerintah dan bisnis, tetapi
harus lebih luas dan melibatkan komunitas kreatif dan masyarakat konsumen karya kreatif. Kita
memerlukan quad helix model kolaborasi dan jaringan yang mengaitkan intelektual, pemerintah,
bisnis dan komunitas. Keberhasilan ekonomi kreatif di lokasi lain ternyata sangat tergantung
kepada pendekatan pengembangan yang menyeluruh dan berkolaborasi dengan melibatkan
seluruh pemangku kepentingan.

vii

Buku ini merupakan penyempurnaan dari Cetak Biru Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia
2025 yang diterbitkan pada tahun 2009. Dalam melakukan penyempurnaan dan pembaruan
data dan informasi, telah dilakukan sejumlah Focus Discussion Group (FGD) dengan semua
pemangku kepentingan baik pemerintah, pemerintah daerah, intelektual, media, bisnis, orang
kreatif, dan komunitas kuliner secara intensif. Hasilnya adalah buku ini, yang menjabarkan
secara rinci pemahaman mengenai penelitian dan pengembangan sebagai industri yang dapat
mendatangkan nilai ekonomi, serta perencanaan terkait kegiatan penelitian dan pengembangan
dalam industri kreatif.
Dengan demikian, masalah-masalah yang masih menghambat pengembangan industri penelitian
dan pengembangan selama ini dapat diatasi sehingga dalam kurun waktu lima tahun mendatang,
serta mencapai kegiatan penelitian dan pengembangan terkait industri kreatif yang berbudaya
inovatif, berdaya saing dan terintegrasi secara berkelanjutan untuk memberi kontribusi ekonomi
dan berperan dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat Indonesia

Salam Kreatif

Mari Elka Pangestu


Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

viii

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

Daftar Isi
Kata Pengantar................................................................................................................... vii
Daftar Isi.............................................................................................................................. ix
Daftar Gambar..................................................................................................................... xii
Daftar Tabel......................................................................................................................... xiii
Ringkasan Eksekutif.........................................................................................................

xiv

BAB 1 PERKEMBANGAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DI INDONESIA

1.1 Definisi dan Ruang Lingkup Penelitian dan Pengembangan

1.1.1 Definisi Penelitian dan Pengembangan

1.1.2 Ruang Lingkup Pengembangan Penelitian dan Pengembangan

1.2 Sejarah dan Perkembangan Penelitian dan Pengembangan

1.2.1 Sejarah dan Perkembangan Penelitian dan Pengembangan Dunia

1.2.2 Sejarah dan Perkembangan Penelitian dan Pengembangan Indonesia

13

BAB 2 EKOSISTEM DAN RUANG LINGKUP INDUSTRI PENELITIAN DAN


PENGEMBANGAN INDONESIA.............................................................................

19

2.1 Ekosistem Penelitian dan Pengembangan

20

2.1.1 Definisi Ekosistem Penelitian dan Pengembangan

20

2.2 Peta Ekosistem Penelitian dan Pengembangan

23

2.3 Peta dan Ruang lingkup Industri Penelitian dan Pengembangan

39

2.3.1 Peta Industri Penelitian dan Pengembangan

39

2.3.2 Ruang Lingkup Industri Penelitian dan Pengembangan

42

2.3.3 Model Bisnis Industri Penelitian dan Pengembangan

45

BAB 3 Kondisi Umum Penelitian dan Pengembangan di Indonesia

49

3.1 Kontribusi Ekonomi Penelitian dan Pengembangan

50

3.1.1 Berbasis Produk Domestik Bruto (PDB)

51

3.1.2 Berbasis KetenagaKerjaan

52

3.1.3 Berbasis Aktivitas Perusahaan

54

3.1.4 Berbasis Konsumsi Rumah Tangga

55

3.2 Kebijakan Pengembangan Penelitian dan Pengembangan

57

3.2.1 Kebijakan Terkait Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan dan Penerapan Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi
57

ix

3.2.2 Kebijakan Terkait Hak Kekayaan Intelektual

59

3.3 Struktur Pasar Penelitian dan Pengembangan

60

3.4 Daya Saing Penelitian dan Pengembangan

61

3.5 Potensi dan Permasalahan Pengembangan Penelitian dan Pengembangan

64

BAB 4 RENCANA PENGEMBANGAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN


INDUSTRI KREATIF INDONESIA

71

4.1 Arahan Strategis Pengembangan Ekonomi Kreatif 20152019

72

4.2 Visi, Misi, dan Tujuan Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Industri Kreatif 73
4.2.1 Visi Pengembangan Penelitian dan Pengembangan Industri Kreatif

75

4.2.2 Misi Pengembangan Penelitian dan Pengembangan Industri Kreatif

76

4.2.3 Tujuan Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Industri Kreatif

76

4.3 Sasaran dan Indikasi Strategis Pencapaian Pengembangan Penelitian dan Pengembangan
Industri Kreatif
78
4.4 Arah Kebijakan Pengembangan Penelitian dan Pengembangan Industri Kreatif
4.4.1 Arah Kebijakan Penciptaan Sumber Daya Manusia Kreatif di Bidang Penelitian
dan Pengembangan Yang Memiliki Inovasi Serta Daya Saing.

82
82

4.4.2 Arah Kebijakan Perlindungan, Pengembangan dan Pemanfaatan Sumber Daya


Budaya Bagi Kegiatan Penelitian dan Pengembangan Industri Kreatif di Indonesia
Secara Berkelanjutan
83
4.4.3 Arah Kebijakan Penelitian dan Pengembangan Industri Kreatif Yang Inovatif,
Berdaya Saing, dan Terintegrasi Secara Berkelanjutan

83

4.4.4 Arah Kebijakan Penciptaan Pembiayaan Bagi Kegiatan Penelitian dan


Pengembangan Terkait Bidang dalam Industri Kreatif Yang Sesuai, Mudah Diakses
dan Kompetitif
83
4.4.5 Arah Kebijakan Penciptaan Kegiatan Penelitian dan Pengembangan Terkait Bidang
dalam Industri Kreatif Yang Sesuai dengan Kebutuhan Pasar
83
4.4.6 Arah Kebijakan Penciptaan Kelembagaan yang Kondusif yang Mendukung
Pengembangan Kegiatan Penelitian dan Pengembangan Terkait Bidang-Bidang
dalam Industri Kreatif di Indonesia

84

4.4.7 Arah Kebijakan Infrastruktur dan Teknologi Yang Tepat Guna Serta Mudah
Diakses untuk Mendukung Kegiatan Penelitian dan Pengembangan Terkait Bidang
dalam Industri Kreatif
84
4.5 Strategi dan Rencana Aksi Pengembangan Penelitian dan Pengembangan Industri
Kreatif
4.5.1 Peningkatan Kualitas dan Kuantitas Pendidikan yang Mendukung Penciptaan
Orang Kreatif (Peneliti dan Perekayasa) Terkait Bidang Industri Kreatif.

84
84

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

4.5.2 Peningkatan Kualitas dan Kuantitas Orang Kreatif (Peneliti dan Perekayasa) Terkait
Bidang Bidang dalam Industri Kreatif
86
4.5.3 Penciptaan Pusat Pengetahuan Sumber Daya Alam Dan Budaya Lokal Yang Akurat
Dan Terpercaya Serta Dapat Diakses Secara Mudah Dan Cepat.
86
4.5.4 Peningkatan Kegiatan Penelitian dan Pengembangan Terkait dengan Bidang Dalam
Industri Kreatif yang Inovatif, Berdaya Saing dan Terintegrasi
Secara Berkelanjutan.................................................................................................87
4.5.5 Peningkatan Keragaman dan Kualitas Hasil Penelitian dan Pengembangan Terkait
dengan Bidang Bidang dalam Industri Kreatif
87
4.5.6 Peningkatan Apresiasi Kepada Orang Kreatif (Peneliti & Perekayasa) dalam Bidang
Penelitian dan Pengembangan Industri Kreatif Indonesia Baik di dalam dan Luar
Negeri
88
4.5.7 Peningkatan Ketersediaan Pembiayaan Bagi Seluruh Kegiatan Penelitian dan
Pengembangan Terkait dengan Bidang Bidang dalam Industri Kreatif yang
Aksesibel, Transparan dan Memiliki Skema Pembiayaan yang Baik (Besaran yang
Sesuai, Sistem Tidak Rumit)

89

4.5.8 Peningkatan Jumlah Kegiatan Penelitian dan Pengembangan Terkait Bidang Bidang
dalam Industri Kreatif Yang Sesuai dengan Kebutuhan Pasar
89
4.5.9 Penciptaan Regulasi Yang Mendukung Penciptaan Iklim yang Kondusif Bagi
Pengembangan Kegiatan Penelitian dan Pengembangan Terkait dengan Bidang
Bidang dalam Industri Kreatif Indonesia

90

4.5.10 Peningkatan Partisipasi Aktif dan Kolaborasi Pemangku Kepentingan dalam


Pengembangan Kegiatan Penelitian dan Pengembangan Terkait Bidang-Bidang
dalam Industri Kreatif Secara Berkualitas dan Berkelanjutan

90

4.5.11 Peningkatan Ketersediaan Teknologi Tepat Guna yang Mudah Diakses oleh Para
Orang Kreatif di Bidang Penelitian dan Pengembangan Terkait Bidang Bidang
dalam Industri Kreatif.
91
4.5.12 Peningkatan Ketersediaan Infrastruktur yang Memadai yang Dibutuhkan Oleh
Para Orang Kreatif di Bidang Penelitian dan Pengembangan Terkait Bidang Bidang
dalam Industri Kreatif
91
BAB 5 PENUTUP

93

5.1 Kesimpulan

94

5.2 Saran

96

LAMPIRAN

99

xi

Daftar Gambar
Gambar 11 Ruang Lingkup dan Fokus Pengembangan Penelitian dan Pengembangan
dalam Ekonomi Kreatif 2015-2019

Gambar 12 Perkembangan Penelitian dan Pengembangan di Indonesia

16

Gambar 21 Peta Ekosistem Penelitian dan Pengembangan

21

Gambar 22 Peta Kreasi

24

Gambar 23 Peta Implementasi Rancangan

29

Gambar 24 Potret Paten di Indonesia


Gambar 25 Peta Diseminasi

32
33

Gambar 26 Peta Pasar (Market)

36

Gambar 27 Peta Industri Penelitian dan Pengembangan

40

Gambar 28 Peta Model Bisnis Penelitian dan Pengembangan

45

Gambar 31 Kondisi Penelitian dan Pengembangan Indonesia Berbasis Produk Domestik


Bruto

51

Gambar 32 Kondisi Penelitian dan Pengembangan Indonesia Berbasis Tenaga Kerja

53

Gambar 33 Kondisi Penelitian dan Pengembangan Indonesia Berbasis Aktivitas Perusahaan 54


Gambar 34 Kondisi Penelitian dan Pengembangan Indonesia Berbasis Konsumsi Rumah
Tangga

56

Gambar 35 Diagram Daya Saing Penelitian dan Pengembangan

61

xii

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

Daftar Tabel
Tabel 21 Skema Ruang Lingkup Industri Subsektor Penelitian dan Pengembangan

44

Tabel 31 Kontribusi Ekonomi Subsektor Penelitian dan Pengembangan 2010-2013

50

Tabel 32 Potensi dan Permasalahan Penelitian dan Pengembangan Indonesia

65

Tabel 41 Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran Pengembangan Penelitian dan Pengembangan
Industri Kreatif 2015-2019

74

xiii

Ringkasan Eksekutif
Penelitian dan pengembangan seringkali dipahami secara luas sebagai bagian dari kegiatan
pemanfaatan ilmu pengetahuan untuk memecahkan suatu permasalahan, menjawab suatu
pertanyaan, hingga mendeteksi hal-hal yang belum terungkap secara keilmuan. Namun, di dalam
ekonomi kreatif, kegiatan penelitian dan pengembangan tidak hanya dianggap sebagai salah satu
payung yang dapat mengembangkan industri di dalamnya melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan,
namun juga dianggap sebagai salah satu subsektor dalam industri kreatif. Pemahaman penelitian
dan pengembangan sebagai dua fungsi ini tentu akan memberikan paradigma yang berbeda dari
sisi konsep ruang lingkup hingga rencana pengembangan di dalamnya. Oleh sebab itu, dalam
bagian ini penting untuk dijelaskan mengenai apa sebetulnya yang berbeda dari kegiatan penelitian
dan pengembangan, baik dari sisi keilmuan dengan mempertimbangkan pegangan baku yang
sudah ada (undang-undang dan definisi konsep menurut penelitian terdahulu), maupun dari sisi
ekonomi kreatif yang menganggap kegiatan ini sebagai salah satu subsektor dalam industrinya.
Maka, berdasarkan pemahaman tersebut diperlukan sebuah kesepakatan definisi dari subsektor
penelitian dan pengembangan yang sesuai dengan konsep ekonomi kreatif. Untuk mencapai
pemahaman tersebut maka dilakukan beberapa metode dimulai dari pemetaan atas kondisi ideal,
serta pemahaman mengenai kondisi aktual di Indonesia. Dari hasil pemetaan inilah kemudian
akan didapatkan suatu gambaran mengenai kebutuhan dari untuk mengembangkan penelitian
dan pengembangan baik sebagai subsektor industri maupun sebagai kegiatan yang dapat
menunjang perkembangan industri kreatif, hal ini tentu dilakukan dengan mempertimbangkan
aspek potensi (kekuatan dan peluang) serta permasalahan (tantangan, kelemahan, ancaman
dan hambatan) yang ada. Berbicara mengenai pemetaan, maka yang dihasilkan adalah suatu
ekosistem yang menggambarkan hubungan saling ketergantungan antara setiap peran di dalam
proses penciptaan nilai kreatif dan antara peran-peran tersebut dengan lingkungan sekitar yang
mendukung terciptanya nilai kreatif.
Lebih lanjut lagi, peranan ekonomi kreatif bagi Indonesia sudah semestinya mampu diukur
secara kuantitatif sebagai indikator yang bersifat nyata. Hal ini dilakukan untuk memberikan
gambaran riil mengenai keberadaan ekonomi kreatif yang mampu memberikan manfaat dan
mempunya potensi untuk ikut serta dalam memajukan Indonesia. Bentuk nyata dari kontribusi
ini dapat diukur dari nilai ekonomi yang dihasilkan oleh seluruh subsektor pada ekonomi kreatif
termasuk usaha-usaha yang ada dalam subsektor penelitian dan pengembangan.Perhitungan
kontribusi ini ditinjau dari empat basis, yaitu Produk Domestik Bruto (PDB), ketenagakerjaan,
aktivitas perusahaan, dan konsumsi rumah tangga yang dihimpun berdasarkan perhitungan
yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
Selanjutnya, sebagai bentuk analisa atas keadaan aktual yang ada disusunlah visi, misi, tujuan
dan sasaran strategis yang merupakan kerangka strategis pengembangan kegiatan penelitian dan
pengembangan yang difokuskan pada industri kreatif pada periode 2015-2019.

xiv

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

If you fail to plan, you are planning to fail.

Benjamin Franklin

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

KULINER 2015-2019

10

KERAJINAN 2015-2019

ARSITEKTUR 2015-2019

09

12
08

PERIKLANAN 2015-2019

RENCANA AKSI
JANGK A MENENGAH

17

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

SENI PERTUNJUKAN 2015-2019

SENI RUPA 2015-2019

TEKNOLOGI INFORMASI 2015-2019

TV & RADIO 2015-2019

VIDEO 2015-2019

PENERBITAN 2015-2019

16

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

PENELITIAN & PENGEMBANGAN 2015-2019

15

18

MUSIK 2015-2019

PERFILMAN
2015-2019

14

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI
JANGK A MENENGAH

11

ARSITEKTUR
2015-2019

06
05
04

KEKUATAN BARU INDONESIA


MENUJU 2025

xv

xvi

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

BAB 1
Perkembangan Penelitian
dan Pengembangan di
Indonesia

BAB 1: Perkembangan Penelitian dan Pengembangan di Indonesia

1.1 Definisi dan Ruang Lingkup Penelitian dan Pengembangan


Pemahaman mengenai kegiatan penelitian dan pengembangan seringkali bersifat luas dan
menjadi bagian dari kegiatan pemanfaatan ilmu pengetahuan. Kegiatan ini berperan untuk
untuk memecahkan permasalahan, menjawab pertanyaan, hingga mendeteksi hal-hal yang belum
terungkap secara keilmuan. Namun, hal ini sedikit berbeda jika mempertimbangkan kegiatan
penelitian dan pengembangan dalam konteks ekonomi kreatif. Di dalam ekonomi kreatif,
kegiatan penelitian dan pengembangan tidak hanya dianggap sebagai salah satu payung yang
dapat mengembangkan industri melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan, namun juga dianggap
sebagai salah satu subsektor. Pemahaman penelitian dan pengembangan sebagai dua fungsi
ini akan memberikan paradigma yang berbeda dari sisi konsep ruang lingkup hingga rencana
pengembangan. Oleh sebab itu, penting untuk dijelaskan mengenai perbedaan definisi kegiatan
penelitian dan pengembangan dari sisi keilmuan dengan mempertimbangkan pegangan baku
yang sudah ada (berdasarkan undang-undang dan definisi konsep menurut penelitian terdahulu),
maupun dari sisi ekonomi kreatif yang menganggap kegiatan ini sebagai salah satu subsektor.

1.1.1 Definisi Penelitian dan Pengembangan


Kegiatan penelitian dan pengembangan telah memiliki definisi tersendiri berdasarkan UndangUndang Nomor 18 Tahun 2012 mengenai Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan
Penerapan IPTEK. Namun, perlu dikaji kembali definisi kegiatan penelitian dan pengembangan
sebagai subsektor dalam ekonomi kreatif. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012,
definisi dari kata penelitian dan pengembangan, yaitu:

Penelitian adalah kegiatan yang dilakukan menurut


kaidah dan metode ilmiah secara sistematis untuk
memperoleh informasi, data, dan keterangan yang
berkaitan dengan pemahaman dan pembuktian
kebenaran atau ketidakbenaran suatu asumsi dan atau
hipotesis di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta
menarik kesimpulan ilmiah bagi keperluan kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pengembangan adalah kegiatan ilmu pengetahuan dan
teknologi yang bertujuan memanfaatkan kaidah dan teori
ilmu pengetahuan yang telah terbukti kebenarannya
untuk meningkatkan fungsi, manfaat, dan aplikasi
ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada, atau
menghasilkan teknologi baru.
Dari definisi tersebut diketahui bahwa suatu kegiatan penelitian dan pengembangan terkait erat
dengan pemanfaatan ilmu pengetahuan. Namun, definisi tersebut tidak menjelaskan penelitian
dan pengembangan sebagai suatu subsektor industri dalam ekonomi kreatif.

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

Definisi tersebut hanya menjelaskan suatu kegiatan sistematis pemanfaatan ilmu pengetahuan
tanpa memperjelas status profit atau nirlabanya. Oleh karena itu, harus dibuat suatu definisi dan
ruang lingkup tersendiri untuk membedakan subsektor penelitian dan pengembangan di dalam
ekonomi kreatif dengan kegiatan penelitian dan pengembangan secara umum.
Pada buku Pengembangan Industri Kreatif yang disusun pada 2008 oleh Departemen Perdagangan,
dinyatakan bahwa subsektor penelitian dan pengembangan dalam industri kreatif merupakan:

Kegiatan kreatif yang terkait dengan usaha inovatif


yang menawarkan penemuan ilmu dan teknologi dan
penerapan ilmu dan pengetahuan tersebut untuk
perbaikan produk dan kreasi produk baru, proses baru,
material baru, alat baru, metode baru, dan teknologi baru
yang dapat memenuhi kebutuhan pasar.
Berdasarkan definisi tersebut dapat dilihat bahwa kegiatan penelitian dan pengembangan dalam
ekonomi kreatif memiliki dua poin utama yang membedakannya dengan kegiatan penelitian dan
pengembangan pada umumnya. Dua poin utama tersebut adalah inovasi dan penerapan ilmu
pengetahuan untuk memenuhi kebutuhan pasar. Kedua poin utama ini juga muncul sebagai inti
dari kegiatan penelitian dan pengembangan dalam ekonomi kreatif berdasarkan forum diskusi
grup yang telah dilaksanakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Usaha melakukan inovasi yang didasari dengan penelitian dan pengembangan untuk memenuhi
kebutuhan pasar dan bertujuan mendatangkan profit atau keuntungan bagi si peneliti atau
perekayasa. Dalam konteks ini, jenis-jenis kegiatan penelitian dan pengembangan yang termasuk
dalam ekonomi kreatif adalah kegiatan yang bertujuan untuk menghasilkan keuntungan, artinya
hasil penelitian tidak hanya didiseminasikan secara cuma-cuma tetapi juga secara komersial.
Berdasarkan pertimbangan tersebut maka jenis penelitian yang sifatnya nirlaba, seperti jenis
penelitian yang murni untuk keilmuan, kebijakan, investasi, atau penelitian yang dilakukan
oleh lembaga penelitian nirlaba milik pemerintah maupun nonpemerintah tidak termasuk dalam
konteks penelitian dan pengembangan sebagai subsektor dalam ekonomi kreatif. Mengacu pada
penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan penelitian dan pengembangan
sebagai subsektor dalam ekonomi kreatif adalah

Kegiatan sistematis untuk mengumpulkan, memanfaatkan


serta mengolah ilmu pengetahuan dengan tujuan
untuk mengkonfirmasi dan/atau merancang dan/atau
mengembangkan suatu hal (obyek penelitian) menjadi hal
baru yang lebih baik dan inovatif yang dapat memenuhi
kebutuhan pasar dan memberikan keuntungan
Sumber: Focus Group Discussion Subsektor Animasi, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, MeiJuni 2014

BAB 1: Perkembangan Penelitian dan Pengembangan di Indonesia

Frasa kegiatan sistematis merupakan salah satu kata kunci atau karakteristik dalam kegiatan
penelitian dan pengembangan. Makna frasa ini adalah kegiatan yang dilakukan dengan proses yang
teratur dan menggunakan metode yang runtut untuk menghasilkan tujuan yang diinginkan. Selain
itu, frasa hal baru yang lebih baik dan inovatif juga menjadi karakteristik di dalam penelitian
dan pengembangan, yang berarti menghasilkan suatu inovasi berupa perbaikan, peningkatan
kualitas, peningkatan atau penambahan fungsi dan hal baik lainnya yang meningkatkan nilai
suatu produk. Pada akhirnya, kegiatan sistematis dalam membentuk hal baru yang lebih baik dan
inovatif tersebut diharapkan akan mampu memberikan nilai tambah bagi peneliti atau perekayasa
yang dijelaskan dalam frasa memberikan manfaat ekonomi.

1.1.2 Ruang Lingkup Pengembangan Penelitian dan Pengembangan


Berdasarkan laporan National Science Foundation (NSF) Amerika Serikat tahun 2010, kegiatan
penelitian dan pengembangan pada umumnya terbagi ke dalam tiga bagian besar yaitu penelitian
dasar, penelitian terapan, dan kegiatan pengembangan . Sejalan dengan hal ini, John Howkins
pakar ekonomi kreatif, menyatakan bahwa secara garis besar memang terdapat tiga jenis kegiatan
penelitian, yaitu penelitian dasar (basic blue sky research), penelitian terapan (applied research),
dan pengembangan (development).
Penelitian dasar merupakan kegiatan penelitian yang bertujuan untuk mengumpulkan pemahaman
lebih mendalam mengenai suatu hal tanpa adanya rencana penerapan spesifik atas hasil penelitian.
Penelitian terapan merupakan suatu kegiatan penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan
pengetahuan untuk kemudian digunakan pada kebutuhan tertentu yang spesifik. Pengembangan
(development) merupakan penggunaan sistematis atas pengetahuan yang didapatkan dari penelitian
untuk kemudian menghasilkan hal yang lebih berguna (termasuk sistem, metode, perancangan,
pengembangan purwarupa, dan proses).

Penelitian dan pengembangan meliputi


cakupan aktivitas yang luas, mulai dari
penelitian fundamental pada ranah
fisik, kehidupan, serta ilmu sosial;
penelitian yang mengemukakan isu-isu
kritis seperti perubahan iklim, efesiensi
energi, dan kesehatan; hingga kegiatan
pengembangan atas teknologi serbaguna
dan barang jasa yang baru
Sumber: NSF Science and Engineering Indicators (2010)

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

The National Science Foundation


Sumber: nsf.gov

The National Science Foundation


The National Science Foundation (NSF) merupakan lembaga federal yang dibentuk oleh Kongres
Amerika Serikat pada tahun 1950 dengan tujuan untuk mendorong kemajuan ilmu pengetahuan
demi keunggulan kesehatan, kesejahteraan, kemakmuran, keamanan, dan pertahanan nasional
Amerika Serikat.
Lembaga ini kemudian menjadi lembaga pembiayaan untuk lebih dari 24% penelitian dasar
yang dilakukan oleh universitas dan lembaga pendidikan lainnya di Amerika Serikat. Uniknya,
tidak seperti lembaga penelitian lain yang merekrut peneliti dan menjalankan kegiatan
laboratoriumnya secara mandiri, NSF justru mencoba mencapai tujuannya dengan memberikan
dukungan berupa pembiayaan pada para ilmuwan, insinyur, pengajar, dan pelajar melalui
institusi asal mereka sendiri.
Sejalan dengan perkembangan waktu, setiap tahunnya NSF memberikan dukungan terhadap
200.000 ilmuwan, insinyur, pengajar, dan pelajar di berbagai universitas, hingga laboratorium
di seluruh wilayah di Amerika Serikat dan dunia.
Sumber: www.nsf.gov

Dari ketiga jenis kegiatan penelitian ini, sebagian besar penelitian terapan dan kegiatan pengembangan
berorientasi pada bisnis atau berorientasi pada perolehan manfaat ekonomi, sementara kegiatan
penelitian dasar biasanya lebih banyak berfokus pada kontribusi terhadap bidang keilmuan dan
bebas dari sisi komersial1. Inilah sebabnya dunia bisnis akan lebih tertarik untuk menyoroti
penelitian terapan dan pengembangan. Selain berdasarkan jenis kegiatannya, ruang lingkup
penelitian dan pengembangan juga mempertimbangkan sisi bidang keilmuannya yang dapat
dibedakan menjadi bidang keilmuan Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Teknologi Rekayasa,
Ilmu Pengetahuan Sosial, dan Humaniora.2 Wujud hasil penelitian dan pengembangan yang
(1) John Howkins, The Creative Economy how people make money from ideas (Penguin, 2013).
(2) www.lipi.go.id diakses pada 19 Juli 2014 pukul 16.30

BAB 1: Perkembangan Penelitian dan Pengembangan di Indonesia

berkaitan dengan ilmu pengetahuan alam dan teknologi rekayasa biasanya bersifat tangible
(berwujud), sementara hasil penelitian yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan sosial dan
humaniora biasanya berbentuk intangible (tak berwujud).
Menurut LIPI, penelitian berdasarkan bidang keilmuan dapat diperinci menjadi bidang-bidang
keilmuan lainnya yang lebih detil:
1. Ilmu pengetahuan alam dan ilmu teknologi rekayasa, dapat dibedakan menjadi:
a. Bidang keilmuan ilmu pengetahuan alam, di antaranya adalah matematika, ilmu
alam, astronomi, geologi, dan lain-lain.
b. Bidang keilmuan teknologi rekayasa, di antaranya adalah ilmu teknik dan teknologi
hingga ilmu medis atau kesehatan, bioteknologi, dan cabang ilmu lainnya.
Bidang keilmuan pengetahuan alam dan teknologi ini beririsan dengan industri-industri
yang berbasis teknologi secara luas, misalnya industri farmasi, bahan kimia, teknologi
informasi, otomotif, pertanian, dan industri lainnya.
2. Ilmu pengetahuan sosial dan humaniora, terdiri dari:
a. Bidang keilmuan sosial, di antaranya adalah ekonomi, psikologi, filsafat, sejarah,
sosiologi, ilmu hukum, dan lain-lain;
b. Bidang keilmuan humaniora, di antaranya adalah sastra, bahasa, dan seni.
Pada kegiatan penelitian dan pengembangan sosial dan humaniora terdapat beberapa
industri yang terkait, misalnya industri seni, literatur, riset pasar, dan periklanan. Selain
itu, banyak juga industri yang terkait dengan bidang teknologi yang didukung oleh
kegiatan penelitian dan pengembangan bidang keilmuan sosial dan humaniora. Salah
satu contohnya adalah perusahaan manufaktur makanan olahan (Fast Moving Consumer
GoodsFMCG) di Indonesia yang sering kali menggunakan jasa penelitian pasar dan
merupakan kegiatan penelitian sosial untuk melihat preferensi pasar.
Kegiatan penelitian dan pengembangan juga dapat dibedakan berdasarkan bentuk kegiatannya:
1. Kegiatan penelitian dan pengembangan yang bebasis desain penelitian dan
pengembangan, yaitu kegiatan penelitian dan pengembangan yang murni kreasi dari
peneliti atau perekayasa tanpa adanya permintaan pihak lain untuk melakukan kegiatan
tersebut;
2. Kegiatan penelitian dan pengembangan yang dilakukan berdasarkan permintaan
atau kebutuhan, yaitu kegiatan yang dilakukan atas permintaan dari pihak lain diluar
peneliti atau perekayasa.
Dalam konteks ini, walaupun kegiatan penelitian dan pengembangan dilakukan berdasarkan
permintaan pihak lain, peneliti atau perekayasa tetap memiliki kewajiban dan tanggung jawab
penuh dalam menjaga kemandirian metode dan hasil. Adanya dua bentuk kegiatan ini akan
memengaruhi cara peneliti dan perekayasa mendapatkan pemasukan finansial.
Gambar 1-1 mengilustrasikan ruang lingkup subsektor penelitian dan pengembangan di Indonesia.
Sebagai upaya untuk melakukan pengembangan secara optimal, pada periode 2015-2019
pengembangan subsektor penelitian dan pengembangan Indonesia akan memfokuskan diri terhadap
kegiatan penelitian dan pengembangan yang berbentuk penelitian terapan dan pengembangan.
Hal ini didasari oleh pertimbangan bahwa kegiatan penelitian terapan dan pengembangan dapat
menciptakan nilai tambah bagi objek penelitian dan memberikan manfaat ekonomis bagi pelaku
penelitian dan pengembangan (peneliti dan perekayasa). Kegiatan penelitian dan pengembangan

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

yang berpotensi mendapatkan keuntungan biasanya dilakukan dengan tujuan untuk memenuhi
kebutuhan pasar, misalnya kegiatan menginovasi produk berdasarkan permintaan pasar serta
kegiatan penelitian yang hasilnya dapat dijual kepada konsumen perorangan maupun perusahaan.
Gambar 1-1 Ruang Lingkup dan Fokus Pengembangan Penelitian dan Pengembangan
dalam Ekonomi Kreatif 2015-2019

1.2 Sejarah dan Perkembangan Penelitian dan Pengembangan


1.2.1 Sejarah dan Perkembangan Penelitian dan Pengembangan Dunia
Kegiatan penelitian dan pengembangan tidak terlepas dari berkembangnya ilmu pengetahuan
secara luas. Kegiatan ini dimulai pada masa sebelum masehi dan terlihat pada berbagai macam
karya atau penemuan. Jika ditelusuri, karya-karya tersebut merupakan contoh hasil kegiatan
penelitian dan pengembangan, meskipun pada masa itu belum dikenal istilah penelitian dan
pengembangan.
Perkembangan ancient science atau era keilmuan masa kuno didominasi oleh para filsuf Yunani
dengan karya-karyanya dalam bidang astronomi, obat-obatan, dan arsitektur. Socrates, Plato,
Aristotle, dan Phytagoras merupakan tokoh filsuf klasik serta ilmuwan bidang astronomi dan
matematika Yunani pada masa itu. Banyak karya dalam bidang astronomi, teknologi, dan
pengobatan yang juga dihasilkan di Mesir dan Babilonia. Pada 1600 SM ditemukan buku
pengobatan ala Mesir, Edwin Smith Papyrus, yang di dalamnya terkandung beberapa metode
penelitian, dimulai dari pemeriksaan atau deteksi, diagnosa, dan solusi masalah. Ketiga tahap
metode ini menunjukan suatu contoh kegiatan sistematis. Masa ini dapat dikatakan sebagai
awal munculnya keingintahuan lebih manusia terhadap fenomena alam yang terjadi secara
rasional, meskipun kebanyakan penelitian pada masa ini dijalankan dengan metode empiris yang
menggunakan asumsi-asumsi berdasarkan pengalaman.
BAB 1: Perkembangan Penelitian dan Pengembangan di Indonesia

(Kiri) Phytagoras, (Kanan) Patung Phytagoras di pelabuhan Phytagrio


Sumber: (kiri) agazsantiago.blogspot.com, (kanan) samos-beaches.com

Phytagoras
Phytagoras (570 495 SM) adalah salah seorang filsuf Yunani serta ilmuwan matematika pada
masa sebelum masehi. Phytagoras sering disebut-sebut sebagai ilmuwan matematika yang hebat
dengan Teori Phytagoras atau Phytagorean Theorem.

Pada abad pertengahan, selain untuk menemukan inovasi, kegiatan penelitian dan pengembangan
dilakukan untuk mendapatkan metode keilmuan yang lebih baik dari sebelumnya. Hal ini
ditandai dengan dunia penelitian dan pengembangan yang diwarnai oleh hasil-hasil penelitian
yang dilakukan melalui metode eksperimental induktif. Metode ini merupakan suatu pergeseran
karena penelitian pada masa kuno kebanyakan dilakukan melalui metode empiris.
Salah seorang ilmuwan yang mengkombinasikan berbagai metode penelitian dan pengembangan
adalah Ibn al-Haytham. Ibn al-Haytham menulis sebuah buku berjudul Book of Optics tentang
usahanya dalam mengombinasikan metode observasi, eksperimen, dan argumen. Dari hasil
penelitiannya dengan menggunakan metode yang lebih objektif, metodologis, dan rasional, Ibn
al-Haytham kemudian dapat membuktikan bahwa teori yang ditemukan oleh Aristotle di mana
suatu objek memancarkan partikel pada mata adalah salah. Selain itu, pada 1619, Rene Descrates
mulai menulis suatu risalah terkait dengan cara berpikir filosofis dan ilmiah yang kemudian
diselesaikan pada 1637 dengan judul Discourse on Method dan Meditations pada 1641
Usaha-usaha untuk memperkuat metodologi penelitian secara keilmuan kemudian dilakukan
kembali oleh Isaac Newton. Hasil kerjanya menjadi dasar bagi banyak filosofi alam sepanjang
abad ke-18 dan ke-19. Pada masa ini, Eropa juga mengalami pertumbuhan ekonomi disertai
inovasi dalam proses produksi yang ditandai dengan penemuan kincir angin, jam mekanik,
minuman distilasi (alkohol), hingga astrolablealat yang dapat digunakan untuk memprediksi
posisi matahari, bulan planet, bintang, hingga meramalkan horoskop.

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

Liber ethicorum des Henricus de Alemannia, single sheet. Scena: Henricus de Alemannia con i suoi studenti
Suasana Perkuliahan di Abad ke-14.
Sumber: upload.wikimedia.org
Lukisan: Laurentius de Voltolina

Middle Ages
Menurut sejarah Eropa, masa abad pertengahan jatuh pada abad ke-5 hingga ke-15 yang
ditandai oleh runtuhnya Kerajaan Roma pada masa itu. Salah satu tonggak dalam masa ini
adalah perkembangan teknologi serta peningkatan aktivitas intelektual. Hal ini mulai terjadi
di tengah masa abad pertengahan yang ditandai dengan peningkatan inovasi dalam bidang
pertanian, munculnya scholasticism yang merupakan metode dalam berpikir kritis, dan mulai
dibentuknya universitas.

Abad ke-18 dan ke-19 juga disebut sebagai masa pencerahan, ditandai dengan adanya pergeseran
pemikiran yang lebih menitikberatkan pada keilmuan dan rasionalitas. James Watt menemukan
mesin uap pada tahun 1765 dan Giussepe Antonio Anastassio Volta menemukan baterai kimia
atau chemical battery pada tahun 1800-an. Kemunculan temuan-temuan mutakhir seperti inilah
yang kemudian memberikan perubahan bagi dunia dan mengantarkan manusia pada masa
industrialisasi.

BAB 1: Perkembangan Penelitian dan Pengembangan di Indonesia

Iron and CoalLukisan yang Mengilustrasi Masa Revolusi Industri


Sumber: en.wikipedia.org Lukisan: William Bell Scott

10

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

Pekerja di Masa Revolusi Industri. (Foto: Huffington-post)


Sumber: thefederalist.com

Masa industrialisasi merupakan masa revolusi dengan proses manufaktur yang mulai berubah akibat
dorongan dari berbagai inovasi yang ditemukan pada periode tersebut. Pada masa ini, perubahan
proses produksi ditandai dengan perubahan penggunaan tenaga manusia yang digantikan oleh
mesin sehingga kapasitas produksi meningkat secara tajam. Pada masa industrialisasi terdapat tiga
tonggak perkembangan teknologi, yaitu perkembangan teknologi tekstil (contohnya mekanisasi
alat pintal), teknologi tenaga uap (seperti mesin uap), serta teknologi pembuatan besi dan baja
(penggunaan batubara sebagai substitusi penggunaan arang) yang ketiganya dapat mendorong
produktivitas manufaktur saat itu.

(Kiri)James Watt, ( Kanan) Mesin Uap


Sumber: (kiri) ichef.bbci.co.uk, (kanan) upload.wikimedia.org

BAB 1: Perkembangan Penelitian dan Pengembangan di Indonesia

11

James Watt
James Watt (1736-1819) adalah seorang inventor dan insinyur dalam bidang permesinan
yang hasil penemuannya (mesin uap yang lebih efisien) telah mengantarkan dunia pada era
revolusi industri. Watt mulai tertarik untuk meneliti mesin uap pada tahun 1764 saat ia sedang
membetulkan mesin uap ciptaan Thomas Newcomen. Terdapat berbagai penyempurnaan yang
Watt lakukan pada mesin uap versi sebelumnya, diantaranya penambahan ruang terpisah yang
diperkokoh pada mesin uap di tahun 1769 serta pembuatan isolasi pemisah pada tahun 1782.
Penyempurnaan inilah yang kemudian membuat hasil temuan Watt dapat mencuri perhatian
industri.

Seiring dengan berjalannya waktu, mulai muncul kesadaran dari perusahaan besar bahwa aktivitas
penelitian dan pengembangan yang melahirkan inovasi dapat memberikan pengetahuan bagi
perusahaan serta membantu keadaan bisnis dan masyarakat menjadi lebih baik 3. Pada 1890-an,
GE (General Electric) membentuk suatu departemen resmi bernama Calculating Department
yang kemudian disupervisi oleh ilmuwan dalam bidang matematika bernama Charles Steinmetz
untuk melaksanakan analisis efisiensi atas gejala yang ditemukan di lapangan.
Sejalan dengan perkembangan industri penelitian dan pengembangan, pada abad ke-19 banyak muncul
institusi publik di Amerika Serikat yang mengedepankan kegiatan penelitian dan pengembangan.
Sebagai contoh, pembentukan USDA (The United States Department of Agriculture) pada 1862
awalnya didasari oleh kesadaran pemerintah untuk mengatur sumber ekonomi utama saat itu, yaitu
agrikultur. Pembentukan USDA merupakan suatu bentuk institusionalisasi program-program
penelitian dan pengembangan bidang agrikultur yang meliputi teknik, pengembangan varietas
baru, dan pemberantasan hama. Saat itu, USDA tidak hanya melakukan kegiatan penelitian dan
pengembangan sendiri, tetapi juga berkolaborasi dengan universitas milik pemerintah dalam
bidang agrikultur. Selain USDA, fokus Pemerintah Amerika Serikat pada masa itu juga berlanjut
ke kegiatan penelitian dan pengembangan sektor pertambangan. Tanggung jawab penelitian dan
pengembangan serta pengelolaan sektor ini diserahkan kepada United States Geological Survey
dan The Bureau of Mines.
Demi menjawab kebutuhan akan kegiatan penelitian dan pengembangan bagi sektor bisnis dan
pemerintahan, kegiatan penelitian dan pengembangan mulai tumbuh sebagai industri tersendiri.
Sebagai contoh, pada akhir abad ke-19, salah satu perusahaan di Boston bernama The Arthur D.
Little Company of Boston sudah menyediakan jasa analisis kimia kepada perusahaan yang tidak
mampu mengerjakan pekerjaan laboratoriumnya sendiri. Selain itu, pada 1923, AC Nielsen (kini
Nielsen Holdings N.V.) berdiri sebagai perusahaan riset pasar pertama di dunia.
Berbeda dengan Amerika Serikat, pada 1900-an Republik Rakyat Tiongkok justru belum memiliki
teknologi dan ilmu modern. Akhirnya, pada awal abad ke-21 Republik Rakyat Tiongkok dapat
mengejar ketertinggalannya di bidang teknologi.4 Hal ini juga ditandai dengan menduduki posisi
kedua sebagai negara yang berinvestasi di bidang penelitian dan pengembangan tertinggi pada
2011, dibawah Amerika Serikat.5
(3) Usselman, W. S, Research and development in the United States since 1900: an interpretive history (New Haven: Yale
University, 2013)
(4) www.china.org diakses pada 19 juli 2014 pukul 13.25.
(5) World Intelectual Property Organization, World Intelectual Property Organization, Brands-Reputation and Image in
the Global Marketplaca (WIIPO Publication: 2013).
12

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

Jika Amerika Serikat mengawali lembaga penelitian milik pemerintahnya dengan pembentukan
USDA hingga NSF, Republik Rakyat Tiongkok pertama kali membentuk The Chinese Academy
of Sciences (CAS) pada 1949. Setelah menghadapi goncangan atas revolusi budaya, politik,
ekonomi, serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi selama 10 tahun, Republik Rakyat
Tiongkok mengalami masa perbaikan. Pada masa perbaikan inilah pemerintah Republik Rakyat
Tiongkok mengatur kembali agenda pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi negaranya.
Pada 2001, pemerintah Republik Rakyat Tiongkok memutuskan untuk memfokuskan kegiatan
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologinya untuk memperkuat industri tradisional,
mendorong penelitian berteknologi tinggi, memperkuat penelitian dasar, memperdalam sistem
ilmu pengetahuan dan teknologi, dan membentuk suatu sistem inovasi. Keseriusan pemerintah
dalam bidang pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi inilah yang membuat Republik
Rakyat Tiongkok saat ini memiliki hasil-hasil penelitian kelas dunia.6
Kegiatan penelitian dan pengembangan saat ini dianggap sebagai keharusan untuk meningkatkan
kemajuan dan kesinambungan bisnis perusahaan. Hal ini ditandai dengan semakin tingginya nilai
investasi yang dikeluarkan oleh perusahaan global terhadap kegiatan penelitian dan pengembangan.
Sebagai contoh, pada 2012 Volkswagen mengeluarkan dana hingga lebih dari sembilan miliar
Euro dan Samsung Electronics menghabiskan lebih dari delapan miliar Euro untuk kegiatan
penelitian dan pengembangan. Selain itu, kegiatan penelitian dan pengembangan semakin tidak
berbatas dari segi jangka waktu, biaya, hingga ruang lingkup keilmuannya. Hal ini disebabkan
oleh kemajuan teknologi dan pergeseran nilai-nilai sosial yang terjadi di masyarakat. Banyaknya
media diseminasi penelitian seperti konferensi, jurnal, dan komunitas memberikan kesempatan
bagi peneliti dan perekayasa untuk mengembangkan topik penelitian dan menyebarkan hasil
penelitiannya. Cepatnya proses pertukaran informasi inilah yang kemudian merangsang ragam
penelitian baru yang lebih inovatif dan lebih unik.

1.2.2 Sejarah dan Perkembangan Penelitian dan Pengembangan Indonesia


Kegiatan ilmiah di Indonesia dimulai pada abad ke-16 oleh Jacob Bontius yang mempelajari flora7.
Namun, sejarah perkembangan kegiatan penelitian dan pengembangan di Indonesia ditunjukkan
oleh hadirnya lembaga-lembaga penelitian milik negara yang kemudian mendominasi kegiatan
penelitian dan pengembangan di Indonesia hingga saat ini.
Kegiatan penelitian dan pengembangan yang dilakukan pemerintah diawali dengan pembentukan
OPIPA (Organisasi untuk Penyelidikan Ilmu Pengetahuan Alam) pada 1948. Pada masa ini,
ketertarikan pemerintah akan kegiatan penelitian dan pengembangan diawali dengan mengeksplorasi
kekayaan alam. Ketertarikan ini kemudian berkembang ke bidang penelitian radioaktif pada 1954
dengan pembentukan BATAN (Badan Tenaga Atom Nasional) untuk memanfaatkan tenaga
atom dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selanjutnya, OPIPA diubah namanya
menjadi Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia (MIPI) pada 1956 dan kemudian diubah kembali
namanya menjadi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 1967. Fungsi dari LIPI
adalah melaksanakan tugas pemerintah di bidang ilmu pengetahuan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(6) www.china.org diakses pada 19 juli 2014 pukul 13.25.


(7) www.nsf.gov/about/history/ diakses pada 19 Juli 2014 pukul 16.30

BAB 1: Perkembangan Penelitian dan Pengembangan di Indonesia

13

Lembaga pemerintahan lain yang terbentuk pada periode 19481967 adalah LAPAN (Lembaga
Penerbangan dan Antariksa Nasional). LAPAN dibentuk pada 1963 untuk melembagakan
penyelenggaraan program-program kedirgantaraan nasional. Pembentukan LAPAN menunjukan
bahwa pada 1960-an Indonesia mulai berkonsentrasi pada kegiatan penelitian dan pengembangan
bidang penerbangan. Hal ini juga ditandai dengan munculnya peneliti terkemuka Indonesia yaitu
B.J. Habibie. B.J. Habibie memfokuskan kegiatan penelitiannya dalam bidang teknologi pesawat
terbang hingga tahun 1990-an. Kemunculan B.J. Habibie kemudian semakin memengaruhi
kemajuan kegiatan penelitian dan pengembangan di Indonesia dengan pengangkatannya sebagai
Kepala BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) yang dibentuk pada 1974.

B.J. Habibie

Sumber: penangmonthly.com

Habibie
Prof.DR(HC).Ing.Dr.Sc.Mult. Bacharuddin
Jusuf Habibie atau B.J. Habibie merupakan salah
satu ilmuwan terkemuka di Indonesia dalam
bidang penerapan ilmu pengetahuan teknologi.
Menghabiskan masa pendidikan sarjana hingga
doktoralnya di Jerman, Habibie kemudian
bekerja di MBB-Hamburg (MesserschmittBlkow-Blohm) hingga kemudian dipercaya
untuk menjabat sebagai vice president. Selama
masa kerjanya di MBB, Habibie banyak
memberikan sumbangsih berupa hasil penelitian
berbentuk teori-teori yang berkaitan dengan
ilmu pengetahuan di bidang thermodinamika,
aerodinamika, dan konstruksi. Beberapa teori
yang terkenal diantaranya adalah Habibie
Factor, Habibie Theorem, dan Habibie
Method.

Dunia penelitian dan pengembangan Indonesia secara perlahan mulai berkembang dan tidak
hanya dilakukan oleh lembaga pemerintah, tetapi juga dilakukan oleh akademisi, individu
mandiri, hingga usaha-usaha penelitian nonpemerintah, baik yang beriorientasi profit maupun
nirlaba. Sebagai contoh, pada 1971 terbentuk Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan
Ekonomi dan Sosial (LP3ES) serta AKATIGA. Keduanya merupakan lembaga penelitian nirlaba
nonpemerintah. Di sisi lain, perusahaan penelitian yang bersifat profit pun mulai muncul pada
era ini seperti perusahaan riset pasar, baik yang bersifat lokal maupun multinasional.
Pada era 2000-an, perkembangan dunia penelitian dan pengembangan di Indonesia ditandai
dengan munculnya beberapa peneliti nasional yang kayanya memengaruhi dunia. Salah satunya
adalah Warsito P. Taruno yang menemukan Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT),
serta Khoirul Anwar yang menemukan dan memiliki paten teknologi 4G berbasis Orthogonal
Frequency Division Multiplexing (OFDM). Selain itu, tokoh lain dari Indonesia adalah Nelson
Tansu yang pada usia muda sudah mendapatkan gelar profesor di Amerika Serikat dan hingga
2011 tercatat memiliki lebih dari 220 publikasi. Kemunculan para peneliti dan perekayasa individu
ini menunjukan bahwa para peneliti Indonesia mulai bisa diperhitungkan karyanya secara global.

14

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

Warsito P. Taruno
Sumber : c-techlabs.com

Warsito P. Taruno
Dr. Warsito P. Taruno, direktur perusahaan riset dan pengembangan CTECH Labs Edwar
Technology, lahir di Karanganyar, 15 Mei 1967. Warsito lebih banyak dikenal sebagai peneliti
dalam bidang teknologi tomografi yang merupakan suatu teknologi untuk memindai berbagai
macam objek, mulai dari tubuh manusia hingga perut bumi. Salah satu temuan besarnya adalah
tomografi volumetric 4D berbasiskan ECVT. Tidak tanggung-tanggung, hasil temuannya yang
berkaitan dengan teknologi tersebut tidak hanya dapat menghiasi berbagai macam konferensi
ternama di dunia, tetapi juga telah dipatenkan di Amerika Serikat pada lembaga paten internasional
di tahun 2006. Teknologi ini juga telah digunakan oleh lembaga sekelas NASA dan banyak
perusahaan asing dalam bidang perminyakan seperti Shell dan Conoco Phillips. Saat ini Warsito
mengembangkan suatu perusahaan dalam bidang penelitian dan pengembangan teknologi
dengan nama Ctech Labs (Center for Tomography Research Laboratory) Edwar Technology
yang dibentuk bersama rekannya semasa mengenyam jenjang doktoral di Jepang.

Perkembangan penelitian dan pengembangan di Indonesia memang terhitung lambat, namun


terdapat banyak peluang bagi para peneliti untuk menggiatkan kegiatan penelitian dan
pengembangannya. Dengan munculnya lembaga-lembaga intermediator serta inkubator pada era
2000-an, semakin terbuka kesempatan bagi para peneliti dan perekayasa untuk berkolaborasi,
baik dari sisi konten penelitian hingga pembiayaan. Kesempatan-kesempatan inilah yang juga
memengaruhi kemunculan para peneliti individu muda yang kegiatan penelitiannya sangat beragam.
Dimulai dari pemanfaatan kekayaan alam lokal untuk menjadi produk yang memiliki semangat
kekinian, hingga pemanfaatan teknologi tepat guna. Saat ini, peluang untuk melakukan kegiatan
penelitian dan pengembangan tidak lagi terpaku pada pemerintah dan lembaga penelitian besar,
namun sudah dapat dilakukan oleh peneliti dan perekayasa secara mandiri.

BAB 1: Perkembangan Penelitian dan Pengembangan di Indonesia

15

Gambar 1-2 Perkembangan Penelitian dan Pengembangan di Indonesia

16

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

18

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

BAB 2
Ekosistem dan Ruang
Lingkup Industri Penelitian
dan Pengembangan
Indonesia
BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Penelitian dan Pengembangan Indonesia

19

2.1 Ekosistem Penelitian dan Pengembangan


2.1.1 Definisi Ekosistem Penelitian dan Pengembangan
Untuk mendapatkan pemahaman secara menyeluruh mengenai subsektor penelitian dan
pengembangan, diperlukan suatu pemetaan yang merupakan hasil elaborasi antara kondisi ideal
yang diharapkan untuk terjadiberdasarkan best practices yang telah berjalan di negara yang
memiliki keunggulan dalam penelitian dan pengembangandengan kondisi aktual dari subsektor
penelitian dan pengembangan di Indonesia. Untuk menjawab hal ini, disusunlah suatu pemetaan
ekosistem yang menunjukkan hubungan keterkaitan antarperan di dalam proses penciptaan nilai
kreatif setiap kegiatan di dalam subsektor penelitian dan pengembangan.
Pada dasarnya peta ekosistem subsektor penelitian dan pengembangan akan terbagi ke dalam
empat komponen utama yang akan menggambarkan siapa saja pihak yang terlibat dan kegiatan
apa saja yang terjadi di dalamnya. Keempat komponen tersebut adalah:
1. Rantai Nilai Kreatif (Creative Value Chain);
2. Lingkungan Pengembangan (Nurturance Environment);
3. Pasar Konsumen, Khalayak, dan Customer (Market);
4. Pengarsipan (Archiving).

A. RANTAI NILAI KREATIF (CREATIVE VALUE CHAIN)


Rantai nilai kreatif merupakan suatu rangkaian proses penciptaan nilai kreatif, yang di dalamnya
terdapat suatu transaksi sosial, budaya, dan ekonomi. Di dalam rantai nilai kreatif akan ditunjukkan
bagaimana suatu kegiatan penelitian dan pengembangan dilakukan dimulai dari pencarian ide
penelitian, penyusunan kerangka rencana penelitian, proses penelitian lapangan, hingga tahap
penyampaian seperti diseminasi dan produksi secara komersial. Oleh karena itu, rantai nilai kreatif
subsektor penelitian dan pengembangan terbagi ke dalam empat tahap, yaitu: tahap kreasi; tahap
implementasi rancangan; tahap diseminasi; dan tahap produksi komersial.
Berdasarkan buku Rencana Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia Tahun 2009-2015 (2008),
tahap kreasi merupakan tahap penciptaanya itu meng-input daya kreasi input dalam industri
kreatif dengan melibatkan segala hal yang berhubungan dengan cara-cara mendapatkan input,
menyimpannya, dan mengolahnya. Dalam subsektor penelitian dan pengembangan, tahap
kreasi merupakan tahap di mana ide, latar belakang, tujuan, hingga perencanaan atas kegiatan
penelitian dan pengembangan yang akan dilakukan tercipta. Tahap kreasi ini bisa saja hanya
melibatkan aktor utama peneliti atau perekayasa maupun melibatkan para pengguna hasil
penelitian dan pengembangan klien.
Proses implementasi rancangan merupakan suatu proses tempat hasil kreasirancangan sistematis
kegiatan penelitian dan pengembangan diimplementasikan untuk mencapai tujuan dari kegiatan
penelitian dan pengembangan. Proses ini akan melibatkan banyak pihak, mulai dari peneliti
atau perekayasa itu sendiri, target sampel (masyarakat umum maupun sampel khusus), hingga
jasa-jasa pihak ketiga seperti penyedia peralatan laboratorium hingga jasa analis. Lama waktu
dan kompleksitas proses implementasi akan sangat tergantung terhadap rancangan yang dibuat
dalam proses kreasi.

20

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

Gambar 2-1 Peta Ekosistem Penelitian dan Pengembangan

CREATIVE CHAIN
PENELITI DAN/
ATAU PEREKAYASA

PENCARIAN DANA

PENGAJUAN HAK PATEN

Observasi

Persiapan

Pelaksanaan
(Actual Fieldwork)

Pelaporan

Persiapan Sarana
& Prasarana

Pelaksanaan metode
penelitian & pengembangan
yang telah dirancang.

Pembuatan Laporan
Penelitian

Akses Data
Studi Penelitian
Terdahulu

PENELITI DAN PEREKAYASA

Diskusi

Kebijakan
Pengajuan HKI

Peralatan
Finalisasi Konsep

Kebijakan
Pembiayaan

Melakukan Survey/
Interview/ Observasi/
Pengambilan Data Statistik
atau Kuantitatif Lainnya/
Eksperimen Laboratorium/
Eksperimen Lapangan/
Eksperimen Perakitan/
Studi Literatur, dll

Dana

Proses penyebaran hasil penelitian dan pengembangan yang dihasilkan dari


proses implementasi rancangan, biasanya berbentuk publikasi yang
mencakup promosi temuan penelitian dan pengembangan

Contoh kanal diseminasi hasil


penelitian dan pengembangan

Konferensi, Seminar Nasional, Internasional

Jurnal Akademik Online, Non-online


Hasil Tidak Sesuai
Pameran & Kompetisi Hasil Inovasi

Analisa
Hasil Sesuai

SDM

Kebijakan
Insentif Pajak

Finalisasi Hasil
Penelitian & Pengembangan

Media Cetak (Majalah,


Koran, Flyer, Poster)

Hasil Temuan Penelitian & Pengembangan (segala hal yang ingin


dicapai pada tujuan penelitian: jawaban pertanyaan penelitian pada proses perancangan):

Media Elektronik (TV, Radio,


Internet, Media Sosial, Website)

Tujuan, Kegunaan Kegiatan


Formula Baru, Metode Baru, Konsep Baru, Produk Baru,
Rancangan Baru, Sistem Baru, dll yang Biasanya Dikemas dalam Bentuk Laporan dan Prototipe
Metode

RANCANGAN SISTEMATIS KEGIATAN


PENELITIAN & PENGEMBANGAN

Program Diseminasi Khusus


Berkaitan dengan Hasil Litbang
KONSUMSI

Latar Belakang (Fenomena yang


Mendasari Kegiatan, Teoretis
dan atau Non Teoretis)

Kebijakan Kemudahan
Akses Penelitian Terdahulu

Promosi atas temuan


Penelitian kepada calon Pembeli
maupun Lembaga intermediator

PUBLISHER, PENELITI,
PEREKAYASA

Toko Buku, Perpustakaan

Alokasi Sumber Daya (SDM,


Finansial, Peralatan)

Penjadwalan

Penelitian Sosial &


Humaniora

Penelitian &
Pengembangan
Sains, Teknologi & Rekayasa

Hasil Penelitian Lebih Banyak


Bersifat Intangible berupa Konsep,
Rancangan Sistem, Hingga Metode

Hasil Penelitian Lebih Banyak


Bersifatt Tangible berupa Produk
Baru, Formula Baru, Sistem, dll

KREASI

MARKET
Sesi Presentasi Klien

Masyarakat Luas

Pelanggan/Klien

IMPLEMENTASI RANCANGAN

Kritikus/Ahli dalam
Setiap Bidang Keilmuan

DISEMINASI

Pengamat Industri
Penelitian dan Pengembangan
NURTURANCE
AKSES PUBLIK

KONSUMEN

NURTURANCE ENVIRONMENT
APRESIASI

PENDIDIKAN
Pendidikan Berbasis Penelitian dan aplikasi
pada setiap bidang keilmuan (sosial, humaniora,
sains, teknologi & rekayasa)

Kebijakan Beban Penelitian dalam Pendidikan Tinggi

Kebijakan Insentif bagi Profesi Peneliti


dan Perekayasa

ARCHIVING

Penghargaan
Finansial

Bonus,
Dana Hibah/Grant

Formal

Non Formal

Penghargaan
Non-Finansial

Award, Akses Peningkatan


Kualitas Penelitian dan
Kapabilitas Peneliti/Perekayasa

Pendidikan kejuruan,
Diploma, Sarjana,
Pasca Sarjana

Kursus, Training,
Workshop

Konferensi, Kompetisi,
Pameran, Inovasi

Konferensi Penelitian
Nasional/Internasional

Standar Kompetensi
Profesi pada setiap
Bidang Keilmuan

INSTITUSI PENDIDIKAN

Literasi

Pengamat Industri Terkait


Dengan Hasil Penelitian dan
Pengembangan

AKSES PUBLIK

Pengumpulan
AKSES PUBLIK
Penyimpanan

Restorasi

Keterangan:
Preservasi

Literasi akan Hasil


Penelitian & Pengembangan

PUBLISHER, PERPUSTAKAAN, PENELITI, PEREKAYASA

Kebijakan
Kewajiban
Repository

Rantai Nilai
Aktivitas/ Informasi Utama
Aktivitas Pendukung
Pelaku Utama

SELURUH PEMANGKU KEPENTINGAN

(Contoh: Institusi Pendidikan, Asosiasi Peneliti, Asosiasi Terkait


Bidang Penelitian, Lembaga Pemerintah, dan Bisnis/Perusahaan)

Output
Nurturance Environment
Kebijakan
APRESIASI

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Penelitian dan Pengembangan Indonesia

Alternatif Jalur Diseminasi

21

Diseminasi dalam konteks subsektor penelitian dan pengembangan merupakan kegiatan untuk
menyebarkan informasi mengenai hasil penelitian. Kegiatan diseminasi tidak hanya dibutuhkan
untuk mempublikasikan hasil penelitian, namun juga sebagai suatu tahap promosi, terutama untuk
hasil penelitian tangible yang membutuhkan investor untuk merealisasikan produksi komersial
hasil penelitian dan pengembangan.
Proses produksi komersial merupakan proses penyerapan hasil penelitian yang telah ditemukan
oleh pelaku industri untuk diproduksi sehingga menghasilkan nilai tambah ekonomi baik bagi
peneliti atau perekayasa serta bagi pelaku industri yang memanfaatkan hasil penelitian dan
pengembangan. Proses ini biasanya ditempuh oleh kegiatan penelitian dan pengembangan yang
menghasilkan suatu hasil penelitian yang berwujud atau tangible.

B. LINGKUNGAN PENGEMBANGAN (NURTURANCE ENVIRONMENT)


Lingkungan pengembangan merupakan suatu lingkungan yang dapat meningkatkan proses
penciptaan nilai kreatif. Dua komponen di dalam lingkungan pengembangan ini adalah pendidikan
dan apresiasi. Dalam subsektor penelitian dan pengembangan, pendidikan merupakan suatu
proses pembelajaran yang sangat berpengaruh terhadap penciptaan para peneliti dan perekayasa.
Beberapa proses di dalamnya menyangkut kegiatan peningkatan pengetahuan, keterampilan, hingga
sikap dan perilaku. Lingkungan pendidikan dibagi kedalam tiga komponen, yaitu pendidikan
formal, pendidikan nonformal, dan pendidikan informal.
Selain pendidikan, apresiasi menjadi suatu komponen penting yang dapat meningkatkan penciptaan
nilai kreatif. Dalam hal ini, apresiasi merupakan tanggapan terhadap karya kreatif yang dapat
menstimulasi peningkatan karya dari orang kreatif. Apresiasi tentu tidak hanya dijalankan dalam
bentuk pemberian penghargaan. Hingga saat ini, apresiasi yang berupa literasi atas karya justru
sangat dibutuhkan dalam industri kreatif.

C. PASAR, KONSUMEN, KHALAYAK DAN CUSTOMER (MARKET)


Pasar merupakan pihak yang mengapresiasi dan/atau memanfaatkan karya kreatif. Pada dasarnya,
setiap industri akan memiliki istilah pasar yang berbeda-beda. Terkait dengan subsektor penelitian
dan pengembangan, beberapa istilah pasar yang dimaksud adalah:
1. Khalayak, merupakan pihak yang mengamati hasil karya kreatif penelitian dan
pengembangan yang terbagi menjadi khalayak umum dan khalayak ahli. Khalayak
umum adalah pihak yang hanya mengamati karya kreatif berdasarkan panca inderanya
saja, sementara khalayak ahli adalah pihak yang mengamati karya kreatif tetapi memiliki
peran vital bagi pengembangan subsektor tersebut atau memiliki pengetahuan khusus
atas karya kreatif yang dipamerkan.
2. Customer, merupakan pihak yang membeli barang atau menggunakan jasa dari sebuah
usaha kreatif penelitian dan pengembangan.

D. PENGARSIPAN (ARCHIVING)
Pengarsipan merupakan proses preservasi terhadap karya kreatif penelitian dan pengembangan
serta dokumentasi karya kreatif tersebut untuk kemudian dapat dimanfaatkan oleh seluruh
pemangku kepentingan seperti peneliti dan perekayasa, pemerintah, lembaga pendidikan, pelaku
bisnis, komunitas, intelektual, bahkan masyarakat umum.

22

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

2.2 Peta Ekosistem Penelitian dan Pengembangan


Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai proses apa saja yang terjadi di dalam suatu kegiatan
penelitian dan pengembangan, aktor mana saja yang terlibat, hingga output apa saja yang dihasilkan
dari setiap proses dengan tujuan memberikan gambaran komprehensif mengenai subsektor
penelitian dan pengembangan. Peta ekosistem ini difokuskan untuk kegiatan penelitian terapan
dan pengembangan secara umum tanpa mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan spesifik dari
setiap kegiatan penelitian dan pengembangan. Hal ini dilakukan karena bila mempertimbangkan
kebutuhan spesifik, maka setiap kegiatan penelitian dan pengembangan tentu akan memiliki
kebutuhan yang berbeda-beda bergantung pada bidang keilmuan dan tujuan penelitian dan
pengembangannya. Inilah sebabnya pada peta ekosistem ini hanya akan diperlihatkan bagaimana
pada umumnya proses penelitian dan pengembangan dilakukan oleh para aktor utama, yakni
peneliti dan/ atau perekayasa.
Pada peta ekosistem subsektor penelitian dan pengembangan, bagian aktivitas utama digambarkan
dengan empat aktivitas, yaitu kreasi, implementasi rancangan, hingga diseminasi dan komersialisasi.
Disisi lain, terdapat juga bagian lingkungan pengembangan atau nurturance environment yang
menunjukkan aspek lingkungan yang dapat mendukung tumbuhnya perkembangan subsektor
penelitian dan pengembangan. Pada bagian ini, aspek nurturance environment dibagi ke dalam
tiga bagian, yaitu pengarsipan, apresiasi dan pendidikan.

A. RANTAI NILAI KREATIF (CREATIVE VALUE CHAIN)


A.1. PROSES KREASI

Proses kreasi adalah proses pencarian ide penelitian dan pengembangan hingga akhirnya
menghasilkan rancangan sistematis atas kegiatan penelitian yang dilakukan. Rancangan ini berisi
berbagai macam konten, dimulai dari latar belakang atau fenomena yang mendasari penelitian
baik bersifat teoretis dan nonteoretis, tujuan, metode, hingga rencana alokasi sumber daya yang
lazim dikemas dalam bentuk proposal penelitian, poster, hingga jurnal pribadi. Dalam kegiatan
penelitian dan pengembangan, pencarian ide penelitian tentu dilakukan secara sistematis dan
runtut sehingga penelitian yang dijalankan memiliki latar belakang penelitian yang kuat.
Dalam proses kreasi subsektor penelitian dan pengembangan terdapat beberapa aktivitas utama,
di antaranya diskusi, studi penelitian terdahulu, observasi, serta finalisasi konsep. Keempat konsep
ini pada dasarnya memiliki urutan yang dinamis karena setiap peneliti dan perekayasa dapat
memiliki tahap awal aktivitas utama yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhannya. Inilah
sebabnya pada Gambar 2.2 yang menunjukkan aktivitas utama kreasi (kotak abu), arah panah
antara setiap aktivitas di dalamnya saling berhubungan tanpa urutan yang runtut. Berikut adalah
penjelasan lebih detail berkaitan dengan setiap aktivitas utama dalam kreasi:
1. Diskusi, merupakan aktivitas pencarian ide dan konsep penelitian yang dilakukan oleh
peneliti atau perekayasa melalui penggalian informasi secara langsung pada para narasumber
ahli. Diskusi dapat dilakukan sebagai proses awal, tengah, maupun akhir. Jika dilakukan
sebagai proses awal, diskusi biasanya bertujuan untuk mendeteksi permasalahan yang ada
untuk mendapatkan latar belakang penelitian sesuai dengan kondisi lapangan.
2. Studi penelitian terdahulu, merupakan suatu kegiatan mengkaji hasil-hasil penelitian
yang telah ada sebelumnya. Aktivitas ini, dapat juga dijadikan sebagai aktivitas awalan
untuk mendapatkan latar belakang penelitian secara teoretis. Biasanya, yang menjadikan

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Penelitian dan Pengembangan Indonesia

23

aktivitas studi penelitian terdahulu sebagai aktivitas awalan pada kreasi adalah para
akademisi yang harus memberikan alasan kuat secara teori atas ide penelitiannya. Disisi
lain, studi penelitian terdahulu juga bisa dijadikan sebagai aktivitas tengah atau akhir,
bahkan menjadi aktivitas pendamping setiap kali peneliti menemukan fakta baru melalui
diskusi maupun observasi lapangan.
3. Observasi, merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh para peneliti dan perekayasa
untuk mengamati dan menganalisis gejala-gejala yang ada pada suatu objek penelitian.
Dari kegiatan observasi ini diharapkan peneliti mendapatkan pandangan atas realita
yang terjadi di lapangan.
4. Finalisasi konsep, merupakan proses akhir dalam aktivitas utama kreasi. Kegiatan finalisasi
ini yang kemudian menghasilkan rancangan untuk melakukan kegiatan penelitian dan
pengembangan yang akan diimplementasikan pada tahapan berikutnya. Seperti telah
dijelaskan sebelumnya, konten-konten dalam tahap kreasi seperti latar belakang, tujuan,
hingga rencana alokasi sarana dan prasarana biasanya dikemas dalam bentuk jurnal,
poster, hingga proposal penelitian.
Gambar 2-2 Peta Kreasi

Pada aktivitas utama di dalam subsektor ini, peneliti dan perekayasa menjadi aktor utama yang
menggerakkan aktivitas didalamnya. Peneliti dan perekayasa merupakan orang kreatif yang
menjalankan kegiatan penelitian dan pengembangan baik secara individu maupun berada di bawah

24

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

suatu lembaga penelitian tertentu. Di Indonesia terdapat berbagai contoh peneliti dan perekayasa
dalam kategori individu maupun yang tergabung dalam kelembagaan serta perusahaan. Dari
kategori individu terdapat beberapa ilmuwan di Indonesia seperti Dr. Soetanto yang memiliki
29 paten di Jepang dan dua paten di Amerika Serikat8, Dr. Warsito, hingga Arief Budiman yang
merupakan ahli genetika. Selain itu, akademisi seringkali melakukan penelitian secara individu,
seperti Dr. Made Tri Ari Penia Kresnowati yang telah mendapatkan anugerah IPTEK dari
KEMENRISTEK serta memenangkan program hibah dana penelitian yang diselenggarakan
oleh Loreal dalam Loreal-UNESCO For Women in Science 2008.

Dr. Made Tri Ari Penia Kresnowati


Sumber: thejakartapost.com

DR. Made Tri Ari Penia Kresowati


Dr. Made Tri Ari Penia Kresnowati merupakan salah satu peneliti wanita di Indonesia yang
mencapai prestasi tinggi di kancah internasional. Pada tahun 2008 ia berhasil meraih fellowship
dari Loreal dan UNESCO senilai 40.000 Dolar AS dalam program Loreal UNESCO for
Woman in Science melalui penelitiannya yang berjudul Teknologi Bioproses: Konsepsi Prototipe
Bioreaktor untuk Pengembangan Stem Cell. Penia merupakan peneliti Indonesia ketiga yang
berhasil menerima anugerah penghargaan prestisius ini setelah Dr. Ines Atmosukarto dan Dr.
Fenny Dwifany pada tahun 2004 dan 2007. Penelitiannya merupakan penelitian yang memiliki
kesulitan tinggi serta memakan waktu yang cukup lama. Dinyatakan bahwa diperlukan waktu
hingga dua tahun untuk membuat konsep model peralatan saja.
Sumber :
www.inspirasi-insinyur.com
www.netsains.net

(8) Ilmuwan Asal Indonesia Berprestasi Internasional, indonesiahebat.org, 2014. tautan: http://indonesiahebat.org/
news/2014/02/4-ilmuwan-asal-indonesia-berprestasi-internasional diakses 20 Juli 2014 pukul 00.12

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Penelitian dan Pengembangan Indonesia

25

Dari sisi peneliti yang tergabung secara kelembagaan maupun dalam bentuk perusahaan, beberapa
lembaga penelitian dan pengembangan seperti AKATIGA, BIGS, dan LP3ES memfokuskan diri
di bidang keilmuan sosial. Perusahaan penelitian dan pengembangan asing seperti McKinsey,
Boston Consulting Group, Price Waterhouse Cooper dan perusahaan penelitian dan pengembangan
dalam bidang pemasaran seperti Markplus&Co, DEKA Marketing Consultant, Kadence, hingga
Nielsen Indonesia juga mendirikan kantor cabangnya di Indonesia.
Kemunculan lembaga dan perusahaan penelitian dan pengembangan nonpemerintah dalam
bidang sosial dan pemasaran didasari oleh kecenderungan inovasi yang dilakukan oleh para
pelaku bisnis. Diketahui bahwa 85.41% dari kegiatan inovasi yang dilakukan oleh pelaku bisnis
di Indonesia bergerak pada ranah pemasaran, misalnya pengenalan produk hasil inovasi ke pasar
serta analisis kegiatan pascapenjualan.9

Markplus Insight Perusahaan Penelitian Pemasaran dan Sosial


Berdiri pada tahun 1995, Markplus Insight merupakan perusahaan milik swasta di Indonesia
yang bergerak dalam bidang penelitian sosial dan pemasaran. Walaupun belum 15 tahun
berdiri, Markplus Insight terhitung sebagai perusahaan terkemuka di Asia Tenggara. Hingga
saat ini, Markplus Insight diperkuat oleh 17 kantor cabang diluar Jakarta. Markplus Insight
merupakan salah satu contoh perusahaan yang murni bergerak dalam bidang penelitian, dimana
jasa penelitian merupakan komoditas bagi perusahaan dalam menghasilkan nilai ekonomi.

Disisi lain, walaupun sedikit, perusahaan yang berkecimpung dalam penelitian di bidang sains,
teknologi, dan rekayasa juga tidak bisa dilupakan. Di Indonesia, perusahaan seperti ini dapat
menjual hasil inovasinya dalam bentuk rancangan maupun dalam bentuk produk. Sebut saja
CTECH Laboratories EdWar Technology, CV Ideas Indonesia, PT Multidaya Teknologi Nusantara
(CYBREED), hingga CV Piksel Indonesia.

CTECH Laboratories EdWar Technology Lembaga Penelitian Swasta bidang Teknologi


CTECH Laboratories EdWar Technology merupakan lembaga penelitian swasta yang bergerak
di bidang pengembangan teknologi khususnya pemindaian untuk aplikasi di bidang industri dan
kedokteran. CTECH Labs mengelola berbagai grup penelitian di dalamnya seperti Center for
Electronic Science and Technology, Center for Non-Destructive Testing and Process Imaging,
Center for High Performance Computing, hingga Center for Medical Physics and Cancer Research.
Sumber : www.miti.or.id

Beralih dari pembahasan mengenai proses dan pelaku utama, terdapat juga aktivitas pendukung
pada tahap kreasi, yaitu pencarian dana penelitian dan pengembangan. Aktivitas ini kemudian
dijadikan aktivitas pendukung karena tidak semua peneliti perlu melakukan aktivitas pencarian
dana mandiri dalam membuat rencana penelitian dan pengembangannya. Misalnya, untuk
kegiatan penelitian dan pengembangan yang dilakukan berdasarkan permintaan konsumen,
(9) Survei inovasi Sektor Industri Manufaktur, 2011. Pappiptek-LIPI

26

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

seluruh biaya penelitian tentu akan ditanggung oleh pelanggan sehingga peneliti hanya cukup
menjalankan fungsi utamanya dalam mempersiapkan rancangan sistematis kegiatan penelitian
dan pengembangan. Kondisi di atas berbeda dengan kegiatan penelitian dan pengembangan
yang dijalankan bukan berdasarkan permintaan. Aktivitas pencarian dana akan menjadi sangat
penting karena seluruh biaya penelitian harus ditanggung oleh peneliti dan perekayasa itu sendiri.
Hingga kini banyak sekali hibah dana penelitian yang dikucurkan, baik dari pemerintah dalam
negeri hingga organisasi nirlaba internasional (DIKTI, UN, dan lain-lain). Selain itu, saat ini
perusahaan swasta sudah mulai banyak menyisihkan dana pengabdian masyarakatnya (Corporate
Social ResponsibilityCSR) dalam bentuk kegiatan penelitian ilmiah, seperti yang diakukan oleh
Loreal dengan program Loreal For Women in Science. Proses yang ditempuh dalam pencarian
dana ini pun sudah bermacam-macam bentuknya, dimulai dari pencarian dana hibah melalui
pengajuan proposal penelitian, partisipasi kompetisi, hingga crowd funding.

Loreal For Women in Science


Sumber: www,cri-paris.org

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Penelitian dan Pengembangan Indonesia

27

Loreal merupakan salah satu perusahaan yang peduli pada pemberdayaan wanita dalam
kemajuan dunia ilmu pengetahuan. Hingga kini, di dalam payung program bertajuk Women
And Scientific Excellence, Loreal memiliki tiga program utama yakni The for Women in
Science Program, Loreal-UNESCO Award for Women in Science, serta Loreal International
Fellowship. Loreal-UNESCO Award for Women in Science merupakan program yang bertujuan
untuk meningkatkan posisi wanita di dalam dunia ilmu pengetahuan dengan memberikan
penghargaan bagi para peneliti wanita yang berkontribusi bagi kemajuan ilmu pengetahuan.
Penghargaan ini merupakan hasil dari kerjasama Loreal bersama UNESCO (United Nations
Educational, Scientific and Culturan Organization) dengan nilai dana hingga 100.000 Dolar
AS bagi setiap penerima penghargaan. Disisi lain, Loreal International Fellowship merupakan
suatu kerjasama penelitian yang diberikan bagi para wanita muda yang memiliki proposal proyek
penelitian yang menjanjikan dan memiliki potensi kontribusi yang tinggi bagi lingkungan dan
kesejahteraan masyarakat.
Sumber : www.loreal.com

Kelancaran suatu kegiatan tidak dapat lepas dari kebijakan yang berlaku. Pada proses kreasi,
kebijakan mengenai akses terhadap penelitian terdahulu menjadi perhatian utama. Akses ini
menjadi penting karena para peneliti akan membutuhkan banyak sekali kajian dari penelitian
terdahulu yang kemudian dapat memperkuat maupun melemahkan rancangan penelitian mereka.
Disisi lain, kebijakan HKI yang terkait dengan plagiarisme juga sudah perlu diinisiasi. Para peneliti
yang menemukan suatu produk baru tidak jarang mengklaim bahwa produk sejenisnya belum
ada di Indonesia. Hal ini seringkali menjadi bumerang karena terkadang klaim tersebut tidak
berdasarkan observasi yang mendalam. Namun, untuk mengetahui apakah rencana penelitiannya
sudah pernah dilakukan atau belum, diperlukan kajian terhadap penelitian terdahulu sehingga
akses terhadap penelitian-penelitian di masa lampau menjadi sangat penting.
Berbicara mengenai kegiatan penelitian dan pengembangan, kesulitan dalam mengukur hasil-hasil
kreasi terjadi karena pengukuran secara statistik hanya dilakukan terhadap inovasi yang sudah
dimanfaatkan oleh industri lain atau industri pengguna hasil penelitian dan pengembangan.
Inilah sebabnya mengapa kontribusi dari subsektor penelitian dan pengembangan agak sulit
untuk diukur karena hasil penelitian dan pengembangan yang sudah dikomersialisasi tentu akan
diperhitungkan sebagai nilai tambah dari industri lainnya.
Berdasarkan data BPS, hingga tahun 2013, jumlah tenaga kerja yang bekerja pada subsektor
penelitian dan pengembangan sudah mencapai angka 15.373 pekerja. Jumlah unit usaha yang
berkecimpung di dalam bidang penelitian dan pengembangan sudah mencapai 2.130 unit
usaha.10 Hal ini menunjukkan bahwa sudah terdapat ketertarikan yang cukup besar dari para
pelaku bisnis dalam memandang kegiatan penelitian dan pengembangan sebagai kegiatan yang
dapat memberikan nilai ekonomi, meskipun bila dilihat dari data LIPI dinyatakan bahwa 42,8%
kegiatan penelitian masih dilakukan oleh pemerintah, yang 38,5% nya dilakukan oleh perguruan
tinggi, dan 18,7% nya baru dilakukan oleh industri.11

(10) Hasil olahan data dari Badan Pusat Statistik per tahun 2013
(11) Data estimasi dari survei litbang sektor perguruan tinggi (2009) dan Industri Manufaktur (2009) yang dilakukan
PAPPIPTEK-LIPI dan survei litbang sektor pemerintah (2008)

28

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

A.2. PROSES IMPLEMENTASI RANCANGAN


Proses implementasi rancangan merupakan proses menjalankan hasil rencana dan rancangan
penelitian dari proses kreasi sehingga dapat mencapai tujuan dari kegiatan penelitian dan
pengembangan yang ingin dihasilkan. Beberapa contoh hasil dari implementasi rancangan
pada kegiatan penelitian dan pengembangan adalah formula baru, metode baru, konsep baru,
produk baru, rancangan baru, hingga sistem baru yang biasanya dikemas dalam bentuk laporan
dan atau prototipe.
Gambar 2-3 Peta Implementasi Rancangan

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Penelitian dan Pengembangan Indonesia

29

Hasil penelitian dan pengembangan memiliki bentuk yang berbeda-beda, tergantung pada
keterkaitan bidang keilmuan yang melingkupi kegiatan penelitian dan pengembangan tersebut.
Sebagai contoh, penelitian yang terkait dengan ilmu sosial dan humaniora biasanya bersifat
intangible sehingga dikemas dalam bentuk teks, sementara penelitian yang terkait ilmu sains,
teknologi, dan rekayasa biasanya lebih banyak bersifat tangible sehingga dapat dikemas dalam
bentuk teks yang disertai prototipe.
Proses implementasi rancangan terbagi menjadi tiga aktivitas utama, yaitu:
1. Persiapan, aktivitas ini meliputi persiapan sarana dan prasarana kegiatan penelitian dan
pengembangan seperti akses data, peralatan, dana, hingga sumber daya manusia. Jika pada
tahap rancangan yang dihasilkan adalah ramalan kebutuhan akan sarana dan prasarana,
maka pada tahap persiapan ini idealnya seluruh kebutuhan tersebut harus sudah tersedia
atau bisa diakses kapan pun. Kondisi ideal ini biasanya sudah disadari oleh para peneliti
dan perekayasa di Indonesia, namun pada praktiknya seringkali bersifat dinamis yang
berarti sarana dan prasarana belum dipenuhi sepenuhnya oleh para peneliti dan perekayasa
sebelum melakukan pelaksanaan rencana atau banyak perubahan terhadap komposisi
kebutuhan sarana dan prasarana sesuai dengan perubahan yang terjadi di lapangan.
Aktivitas persiapan ini dilakukan dengan berbagai cara. Sebagai contoh, di perusahaan
penelitian pasar yang besar seperti Nielsen Indonesia, sistem informasi digunakan untuk
menetapkan sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam merampungkan satu kegiatan
penelitian. Kebutuhan sampel yang tinggi dalam satu penelitian menyebabkan peneliti
harus dapat melakukan kalkulasi beban dan harga yang sesuai bagi setiap kuesioner
yang harus diisi.
2. Pelaksanaan, aktivitas ini merupakan tahap dijalankannya metode penelitian dan
pengembangan yang telah dirancang pada tahap kreasi. Metode yang dijalankan tentu
berbeda-beda sesuai dengan bidang keilmuan, mulai dari metode survei hingga observasi
lapangan dan eksperimen. Tahap pelaksanaan merupakan tahap yang sangat dinamis
karena tidak setiap kegiatan penelitian dan pengembangan langsung mendapatkan hasil
yang ingin dicapai dalam satu kali pelaksanaan metode. Sebagai contoh, saat peneliti telah
melaksanakan survei sebagai metode yang dipilih untuk mengumpulkan data, peneliti
tersebut akan melakukan proses analisis terhadap data tersebut. Setelah proses analisis
dijalankan, peneliti akan mengetahui apakah data tersebut menghasilkan informasi yang
sesuai dengan kebutuhan kegiatan penelitiannya. Jika informasi yang didapatkan sesuai,
maka peneliti akan melanjutkan proses selanjutnya, misalnya proses finalisasi atas hasil
yang didapat. Jika tidak sesuai, peneliti harus mengkaji ulang metode penelitian yang telah
dirumuskan sebelumnya sehingga dapat mengetahui kelemahan yang perlu diperbaiki,
baik dari sisi metode maupun jumlah data. Proses pengulangan ini merupakan dinamika
yang biasa terjadi di dalam kegiatan penelitian dan pengembangan. Hal ini sama-sama
berlaku dalam jenis penelitian yang bertujuan untuk menghasilkan prototipe produk.
Tidak jarang proses eksperimen serta analisis dilakukan berkali-kali demi mencapai hasil
yang ditargetkan.

30

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

E-fishery dan Dinamika Implementasi Rancangannya


PT Multidaya Teknologi Nusantara merupakan perusahaan start-up yang memproduksi produk
bernama e-Fishery alat pemberi makan ikan otomatis untuk segala jenis ikan dan udang.
Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu pendirinya, M. Ihsan Akhirulsyah, diketahui
bahwa jalan yang ditempuh untuk mencapai pembentukan prototipe yang sesuai dengan
spesifikasi sebagai proses implementasi rancangan tidaklah mudah. Menurutnya, diperlukan
proses yang lama dan berulang-ulang hingga akhirnya ia dan timnya mendapatkan prototipe dari
e-Fisherry yang pantas untuk ditawarkan pada investor dan dipasarkan kepada calon pembeli.
Terjadinya proses berulang pada implementasi rancangan merupakan hal yang biasa terjadi.
Adanya sedikit saja ketidaktepatan perhitungan seperti yang terjadi pada proses perancangan
e-Fisherry dapat mempengaruhi hasil prototipe yang dirancang.

3. Pelaporan, aktivitas ini merupakan aktivitas akhir pada proses implementasi rancangan
yaitu menyusunlaporan penelitian baik berdasarkan tujuan diseminasi, pertanggungjawaban,
maupun pengarsipan bagi peneliti itu sendiri.
Dalam proses implementasi rancangan, peneliti dan perekayasa masih menjadi aktor utama yang
menjalankan keseluruhan koordinasi dalam aktivitas. Untuk kasus penelitian yang dijalankan
oleh individu, biasanya seluruh aktivitas dalam implementasi rancangan dilaksanakan sendiri.
Disisi lain, untuk kasus penelitian yang dijalankan dalam perusahaan, pembagian tugas yang
terstruktur dalam menjalankan suatu proyek penelitian dapat dilaksanakan. Sebagai contoh,
aktivitas persiapan serta koordinasi lapangan biasanya dilaksanakan oleh manajer proyek yang biasa
disebut sebagai research project management, fieldwork facilitator, atau project developer. Aktivitas
pengambilan data lapangan biasanya dilakukan oleh para interviewer atau surveyor yang umumnya
bekerja paruh waktu dan dibayar sesuai dengan kuantitas sampel yang didapat. Jika sampel yang
dibutuhkan sangat banyak dan pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner
kertas (pen and paper process), maka akan terjadi proses input data yang biasanya dijalankan oleh
punchersumber daya manusia yang khusus dialokasikan untuk melakukan input data dari
kertas ke dalam komputer. Walaupun biasanya istilah yang digunakan berbeda-beda, namun
biasanya posisi-posisi tersebutlah yang ada pada perusahaan penelitian besar.
Karena hasil dari implementasi rancangan adalah hasil penelitian dan pengembangan, kegiatan
untuk mengajukan label hak paten merupakan kegiatan pendukung dalam proses ini. Mengajukan
hak paten atas hasil penelitian memang sangat penting untuk melindungi hasil penelitian dari
pembajakan, namun pada kenyataannya pengajuan hak paten seringkali bukan merupakan suatu
tujuan akhir dari para peneliti. Mengajukan hak paten kemudian merupakan suatu pilihan,
namun tetap dianggap penting dalam kegiatan penelitian dan pengembangan. Biasanya, hasil
penelitian yang berkaitan dengan bidang keilmuan sains, teknologi, dan rekayasa lebih banyak
dipatenkan dibandingkan dengan hasil penelitian dari bidang keilmuan sosial. Hasil penelitian
dan pengembangan yang berkaitan dengan bidang keilmuan humaniora seperti seni dan sastra
juga banyak dipatenkan dan dikemas dalam produk industri lain seperti musik, film, tari, literatur
sastra, dan lain-lain.

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Penelitian dan Pengembangan Indonesia

31

Gambar 2-4 Potret Paten di Indonesia

Sumber: Indikator IPTEK Indonesia 2011 PAPPITEK-LIPI

Potret Paten di Indonesia


Berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001, paten merupakan hak eksklusif yang
diberikan oleh negara kepada inventor atas hasil invensinya di bidang teknologi selama kurun
waktu tertentu. Dalam hal ini, paten dapat dianggap sebagai salah satu bentuk keluaran
kegiatan penelitian dan pengembangan. Berdasarkan grafik di atas, dapat dilihat bahwa
jumlah paten yang dihasilkan di Indonesia jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah
paten yang dihasilkan di luar negeri.

32

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

A.3. PROSES DISEMINASI


Gambar 2-5 Peta Dimensi

Proses diseminasi adalah proses


menyebarluaskan hasil penelitian
d a n pengemba ng a n ya ng tela h
dihasilkan dari proses implementasi
rancangan. Kegiatan diseminasi ini
dapat bersifat komersial maupun
nonkomersial. Kegiatan penelitian
yang dilakukan oleh organisasi nirlaba
seringkali didiseminasikan secara
nonkomersial karena tujuan penelitian
dan pengembangan yang dilakukan
biasanya adalah untuk meningkatkan
literasi masyarakat terhadap hal
tertentu. Untuk kegiatan penelitian
dan pengembangan yang dinaungi oleh
perusahaan pada umumnya, proses
diseminasi biasanya juga bertujuan
untuk mela kukan promosi atau
komersialisasi atas hasil penelitian
yang dilakukan. Tidak jarang para
peneliti juga mencari investor yang
mungkin tertarik akan hasil temuan
penelitian mereka.
Da la m kegiata n penelitia n da n
pengembangan, secara umum proses
diseminasi dapat memiliki dua fungsi,
yaitu sebagai tahap akhir dalam
penelitian dan pengembangan atau
sebagai tahap yang menjembatani
hasil penelitian yang ada dengan calon
pembeli yang kemudian akan memproduksi hasil penelitian dan pengembangan secara komersial.
Tahap diseminasi akan menjadi tahap akhir dalam penelitian jika memang tidak perlu ada
proses produksi massal atau komersial atas hasil penelitian untuk mendapatkan nilai ekonomi.
Sebagai contoh, suatu perusahaan penelitian dalam bidang sosial biasanya menjadikan tahap
diseminasi sebagai tahap akhir ketika mereka menyampaikan hasil penelitiannya kepada klien
atau pasar tertentu yang ditargetkan dan sudah bisa mendapatkan nilai ekonomi dari proses ini.
Dilain pihak, perusahaan penelitian dan pengembangan yang memang berniat menjual hasil
implementasi rancangannya akan memanfaatkan tahap diseminasi sebagai jembatan antara
hasil penelitian yang ada dengan calon pembeli (pelaku industri yang relevan dengan penelitian
dan pengembangan yang dihasilkan) sehingga hasil penelitiannya dapat membawa nilai tambah
ekonomi bagi perusahaan penelitian dan pengembangan.

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Penelitian dan Pengembangan Indonesia

33

Dalam proses diseminasi, tidak terdapat perubahan bentuk atas apa yang telah dihasilkan pada
tahap implementasi rancangan secara substansial. Biasanya perubahan terjadi dalam bentuk
pengemasannya sesuai dengan jalur atau channel diseminasi yang dimanfaatkan. Aktivitas
pada proses diseminasi hanyalah berupa penyebaran hasil penelitian dan pengembangan, baik
dilakukan secara langsung seperti melalui presentasi, maupun sebatas penyebaran poster atas
hasil penelitian. Inilah sebabnya hal yang disoroti pada tahap diseminasi adalah pemilihan jalur
atau channel diseminasi yang dimanfaatkan oleh para peneliti dan perekayasa. Berikut ini adalah
beberapa jalur atau channel diseminasi yang umumnya digunakan untuk mendiseminasikan hasil
penelitian dan pengembangan:
1. Konferensi Nasional dan Internasional

Konferensi merupakan ajang berkumpulnya para individu dan organisasi yang memiliki
bidang usaha atau keahlian yang serupa. Hingga saat ini banyak konferensi nasional maupun
internasional berbasis akademis maupun profesional yang digunakan sebagai media berbagi
pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki. Tidak hanya akademisi yang bisa menjadi
penyelenggara konferensi ini, lembaga pemerintah, perusahaan, hingga komunitas sudah
mulai banyak mengadakan kegiatan berjenis konferensi. Contoh konferensi di antaranya
adalah International Conference on Biotechnology and Food Science, Startup Asia, MIT
Innovation Conference, Global Innovation Summit & Week, UK Indonesia Science and
Innovation Conference, dan lain sebagainya.
2. Jurnal Ilmiah

Jurnal ilmiah biasanya digunakan oleh para peneliti akademisi untuk mendiseminasikan
hasil penelitiannya. Jurnal ilmiah biasanya menjadi media diseminasi nonkomersial karena
peneliti tidak mendapatkan nilai ekonomi apapun dari proses diseminasi ini. Hingga
saat ini banyak jurnal yang tidak hanya menerima academical insight tetapi juga business
insight yang biasanya dikemas dalam artikel kasus bisnis. Beberapa contoh jurnal ilmiah
yang memiliki tingkat pengutipan tinggi dalam bidang keilmuan sosial di antaranya
adalah Journal of International Business Studies, Journal of Service Management, dan
Annual Review of Sociology. Dalam bidang keilmuan sains, teknologi, dan rekayasa,
jurnal ilmiah yang memiliki tingkat pengutipan tinggi di antaranya adalah International
Journal of Robotics Research, Nature Biotechnology, dan International Journal of Computer
Vision. Di Indonesia sendiri, Akreditasi DIKTI (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi,
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) atas jurnal imliah menunjukkan kualitas atas
jurnal tersebut. Contoh jurnal yang mendapatkan akreditasi A di antaranya adalah Media
Ilmiah Indonusa yang diterbitkan oleh Universitas Indonusa Esa Unggul, Paediatrica
Indonesiana yang diterbitkan oleh Pengurus Besar Ikatan Dokter Anak Indonesia, dan
Jurnal Mikrobiologi Indonesia yang diterbitkan oleh Perhimpunan Mikrobiologi Indonesia.
3. Pameran dan Kompetisi Hasil Inovasi

Pameran dan ajang kompetisi merupakan salah satu media diseminasi yang dapat digunakan
oleh para peneliti dan perekayasa untuk menyebarluaskan hasil penelitiannya. Terdapat
berbagai contoh pameran dan kompetisi hasil inovasi baik yang diselenggarakan oleh
pemerintah maupun nonpemerintah. Sebagai contoh, Kompetisi Technopreneurship
Pemuda yang diselenggarakan oleh Kementerian Riset dan Teknologi, National Young
Inventor Award, dan Lomba Karya Ilmiah Remaja yang diselenggarakan oleh LIPI. Disisi
lain, terdapat juga kegiatan kompetisi untuk inovasi yang diselenggarakan oleh lembaga
nonpemerintah seperti Djarum Black Innovation.

34

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

4. Program Diseminasi Khusus



Program diseminasi khusus adalah suatu program diseminasi yang biasanya dibuat oleh
peneliti dan perekayasa itu sendiri secara sengaja dan terfokus. Saat peneliti membuat suatu
agenda tersendiri untuk menyelenggarakan sosialisasi atas hasil penelitiannya, program
diseminasi khusus dilakukan. Biasanya program ini dilakukan oleh para peneliti dalam
bidang sosial yang target akhirnya adalah memberikan sosialisasi atau menerapkan suatu
sistem baru atas apa yang ditemukan dari kegiatan penelitian dan pengembangan.
5. Media Cetak dan Media Elektronik

Hingga saat ini, media cetak dan elektronik sering menjadi tempat untuk menampilkan
hasil penelitian. Biasanya yang dikemas dalam media ini berbentuk berita hasil inovasi
hingga profil dari peneliti yang terkait. Penampilan pada media dapat dilakukan oleh
peneliti yang membuat artikel mengenai temuannya atau klien yang membuat iklan atau
tampilan singkat atas temuan penelitian.
6. Toko Buku

Fungsi dari toko buku adalah sebagai etalase hasil penelitian dan pengembangan yang telah
dilakukan serta didistribusikan dalam bentuk buku maupun majalah. Saat ini toko buku
tidak hanya dikelola dalam bentuk fisik, namun juga dikelola dalam bentuk online sehingga
dapat memudahkan konsumen dalam mengakses buku maupun majalah yang diterbitkan.
7. Sesi Presentasi Klien
Jalur distribusi ini sangat spesifik berlaku pada kegiatan penelitian dan pengembangan
yang pada tahap awalnya sudah melibatkan klien. Selain sebagai jalur distribusi, sesi
presentasi klien juga berfungsi sebagai sarana bagi peneliti untuk mempertanggungjawabkan
pekerjaan yang diberikan oleh klien.
Proses distribusi dan/atau diseminasi biasanya dilakukan secara langsung oleh peneliti atau
perekayasa. Tidak jarang proses diseminasi dilakukan oleh pihak lain selain peneliti dan
perekayasa itu sendiri, misalnya saat peneliti atau perekayasa memasukkan hasil penelitian dan
pengembangannya ke dalam jurnal, maka penerbit dari jurnal tersebut yang akan melakukan
publikasi atas hasil penelitian dan pengembangan. Penerbit di dalam konteks diseminasi disebut
juga sebagai publisher karena dapat diperankan oleh penerbit jurnal, penerbit buku, maupun
penyelenggara liputan atas hasil penelitian dan pengembangan. Peran publisher muncul disaat
proses penyampaian hasil penelitian kepada pasar tidak lagi dipegang secara langsung oleh peneliti
atau perekayasa itu sendiri.
AKATIGA dan Kegiatan Diseminasi Penelitiannya
AKATIGA merupakan salah satu lembaga penelitian nonpemerintah dan nonprofit yang
bergerak dalam bidang penelitian sosial. Biasanya, dalam menyebarkan hasil penelitiannya,
AKATIGA menyelenggarakan program diseminasi khusus, baik yang diselenggarakan secara
mandiri, maupun bekerjasama dengan pihak lain. Sebagai contoh, dalam salah satu studinya
yang berjudul Studi Identitas Buruh dan Komunitas: Hubungan Sosial Buruh dalam Komunitas,
AKATIGA melakukan diseminasi penelitian dengan menjalankan proses diskusi bersama
30 peserta dari serikat buruh, tokoh desa, masyarakat, dan buruh di Ringkut Lor Surabaya.
Program diseminasi ini diberi judul Ojo Njawil, Ojo Nyaduk: Hubungan Sosial Buruh dalam
Komuniti Rungkut Lor, Surabaya. Program diseminasi ini dilaksanakan atas kerjasama antara
AKATIGA dengan ISBS (Institut Solidaritas Buruh Surabaya)
Sumber: www.akatiga.org

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Penelitian dan Pengembangan Indonesia

35

Dalam proses diseminasi, perlu diperhatikan juga kebijakan HKI yang ada. Dengan adanya
proses penyebaran hasil penelitian, meningkat pula potensi duplikasi hasil penelitian tersebut.
Baik peneliti dan juga instansi terkait harus memperhatikan hak kekayaan intelektual peneliti
atas penelitiannya. Pada proses ini, para peneliti terkadang harus mencari sendiri cara atau akses
untuk menyebarluaskan penelitiannya. Banyak hasil penelitian yang akhirnya hanya berakhir
menjadi arsip karena kurangnya akses terhadap media diseminasi.

B. PASAR (MARKET)
Gambar 2-6 Peta Pasar (Market)

Pada peta ekosistem ditunjukkan adanya bagian pasar khusus dan


pasar umum. Pembahasan mengenai pasar dimaksudkan untuk
memperlihatkan siapa saja yang menjadi konsumen potensial atas
hasil dari kegiatan penelitian dan pengembangan.
Pasar umum yang dimaksud adalah seluruh masyarakat luas. Seperti
dijelaskan pada bagian diseminasi, terdapat banyak sekali media atau
jalur untuk menyebarkan hasil penelitian, bahkan tidak tertutup
untuk media cetak, televisi, hingga radio. Seluruh media tersebut
tidak luput dari kemungkinan konsumsi publik. Inilah sebabnya
hasil penelitian apapun, saat disebarkan melalui media, masyarakat
umum akan dapat mengakses baik secara sengaja maupun tidak
sengaja sehingga dikonsumsi oleh pasar umum.

Sebagai contoh, pada tahun 2011, sebuah acara televisi (Kick


Andy) menayangkan liputan mengenai inovasi terbaik anak negeri.
Liputan ini berisi beberapa inovasi unggulan yang dipilih oleh
Djarum Black Innovation Award yang di antaranya adalah produk
Trafellow yang merupakan bentuk produk tas travel multifungsi, hingga alat bantu pemeras
baju bernama CapRes. Hasil penelitian sosial, terutama survei politik, sering kali ditayangkan
di media masa. Seperti yang terjadi saat jelang pemilihan presiden, sering kali terdapat hasil survei
elektabilitas kandidat dari berbagai macam lembaga survei. Saat hasil-hasil penelitian ini dilihat
dan diperhatikan oleh masyarakat melalui media apapun, maka masyarakat menjadi pasar bagi
hasil penelitian tersebut.
Berbeda halnya dengan pasar umum, pasar khusus atau ahli adalah pasar yang secara spesifik
mengetahui, mengerti, dan atau memiliki kepentingan atas hasil penelitian dan pengembangan
yang didiseminasikan. Contoh dari pasar khusus adalah klien, ahli (expert) dalam bidang yang
diteliti. Pasar khusus biasanya tersebar di media diseminasi yang tidak semua masyarakat dapat
mengaksesnya seperti konferensi, seminar, hingga program diseminasi yang sudah diatur.

C. LINGKUNGAN PENGEMBANGAN KREATIVITAS (NURTURANCE ENVIRONMENT)


C.1 APRESIASI

Dalam konteks penelitian dan pengembangan, yang dimaksud dengan proses apresiasi adalah
suatu kegiatan ketika pihak lain selain pelaku utama memberikan tanggapan terhadap karya
yang dihasilkan. Apresiasi dapat dilakukan dalam bentuk penghargaan, literasi, hingga insentif.
Pada tahap apresiasi, yang berperan adalah seluruh pemangku kepentingan atau stakeholders
yang terkait, misalnya asosiasi yang terkait dengan cakupan penelitian, universitas sebagai salah

36

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

satu wadah penelitian akademis, bahkan pihak bisnis atau perusahaan. Pada tahap apresiasi ini
perlu diperhatikan juga kebijakan kebijakan apresiasi bagi jabatan peneliti dan penelitiannya.
Terdapat berbagai macam apresiasi yang diselenggarakan untuk menghargai hasil temuan
penelitian dan pengembangan. Di Indonesia, tahap apresiasi dinilai sudah cukup baik meskipun
memang apresiasi yang baik biasanya didapat hanya dari kalangan sesama peneliti. Sebagai
contoh, suatu perguruan tinggi biasanya memberikan insentif kepada para akademisi yang
berhasil mempublikasikan hasil penelitiannya pada kancah internasional. Umumnya, insentif
diberikan secara finansial berupa bonus bagi penulis utama dalam publikasi tersebut, sementara
secara nonfinansial akan diberikan berupa credit point untuk jabatan. Disisi lain, kompetisi dan
konferensi atau seluruh kegiatan yang berkaitan dengan memperkenalkan hasil penelitian dapat
dianggap juga sebagai proses apresiasi. Dengan adanya kegiatan tersebut, maka kepedulian akan
hasil temuan penelitian ditunjukkan.
Hingga saat ini terdapat beberapa kompetisi inovasi baik dalam bidang khusus maupun umum.
Sebagai contoh adalah Djarum Black Innovation yang merupakan kegiatan untuk mengapresiasi
inovasi out of the box yang dihasilkan anak bangsa. Selain berupa kegiatan, apresiasi tentu
berkaitan erat dengan penghargaan atau award. Beberapa contoh award yang telah ada misalnya
penghargaan dari LIPI untuk para peneliti unggulan dalam lembaganya, penghargaan dari Loreal
untuk peneliti wanita, Habibie Award, Ristek-Kalbe Science Award hingga Anugerah Riset Sobat
Bumi yang diberikan oleh Pertamina Foundation.

Anugerah Riset Sobat Bumi, Bentuk Kepedulian Pertamina pada Bidang Penelitian
Sumber: sobatbumi.com

PT Pertamina (Persero) melalui Pertamina Foundation membuat suatu program bertajuk


Anugerah Riset Sobat Bumi yang selain bertujuan untuk mengapresiasi kegiatan penelitian
dan pengembangan yang dijalankan oleh para peneliti, juga bertujuan untuk mendorong
tumbuhnya penelitian berbasis pemberdayaan masyarakat yang aplikatif. Pada tahun 2014
terdapat 15 penerima Anugerah Riset Sobat Bumi yang di antaranya terdiri dari para peneliti
mandiri, peneliti yang melakukan program pengabdian masyarakat, serta para peneliti yang
sedang melakukan disertasi. Kelima belas peneliti tersebut berhasil mengungguli 1.023 proposal
lainnya yang masuk pada ajang anugerah penelitian ini. Anugerah Riset Sobat Bumi merupakan
contoh program dalam negeri yang komprehensif sebagai bentuk apresiasi, kompetisi, serta
sumber pendanaan bagi para peneliti dan perekayasa.
Sumber: www.pertamina.com

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Penelitian dan Pengembangan Indonesia

37

C.2 PENDIDIKAN

Pendidikan termasuk ke dalam salah satu komponen dalam lingkungan pengembangan


kreativitas. Seperti yang telah dijelaskan, dalam konteks ini yang dimaksud sebagai pendidikan
adalah seluruh proses pembelajaran yang meliputi peningkatan keterampilan dan penciptaan
orang kreatif, yaitu para peneliti dan perekayasa. Karena kegiatan penelitian dan pengembangan
secara garis besar memiliki keterkaitan dengan seluruh bidang keilmuan yang ada, maka yang
perlu diperhatikan adalah seluruh kegiatan pendidikan yang diselenggarakan baik secara formal,
nonformal, maupun informal. Pada tahap ini juga perlu ditekankan bahwa kurikulum yang dapat
merangsang kemampuan meneliti dan menginovasi secara kritis adalah hal yang penting karena
seorang peneliti dan perekayasa yang berkualitas adalah mereka yang memiliki pemikiran kritis
sehingga menghasilkan inovasi yang baik.
Peran lembaga intermediator yang menjadi wadah untuk para peneliti mandiri dalam mengembangkan
penelitiannya bisa menjadi salah satu komponen dalam pendidikan. Sebagai contoh, BIC dan
INOTEK yang selain menjadi wadah namun juga berfungsi memberikan bimbingan pada para
peneliti mandiri bidang teknologi yang ingin mengembangkan penelitiannya. Sayangnya, lembaga
intermediator seperti ini masih terkonsentrasi di kota-kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta,
Bandung, dan Bali saja.

D. PENGARSIPAN (ARCHIVING)
Pengarsipan atau archiving dalam konteks penelitian dan pengembangan adalah proses ketika
dokumen penting yang berkaitan dengan kegiatan penelitian dan pengembangan disimpan atau
diarsipkan. Pengarsipan merupakan suatu proses pendukung bagi seluruh aktivitas inti pada
penelitian dan pengembangan, karena tentu saja setiap proses inti akan memerlukan dokumentasi
yang terorganisir dengan baik di dalamnya.
Kegiatan pengarsipan dilakukan pada setiap proses dalam kegiatan penelitian dan pengembangan.
Mulai dari tahap kreasi, produksi, hingga diseminasi serta subkegiatan pada kegiatan-kegiatan
utama tersebut memerlukan proses pendokumentasian atau pengarsipan atas apa yang dihasilkan
dari waktu ke waktu. Inilah sebabnya mengapa setiap peneliti dalam kegiatan penelitian dan
pengembangan yang dilakukannya biasanya menyusun log book yang menunjukkan perkembangan
serta perubahan pada setiap kejadian dalam proses penelitian dan pengembangan.
Pada tahap ini, yang berperan sebagai aktor, selain dari para peneliti dan perekayasa itu sendiri,
adalah instansi yang bertanggung jawab atas proses penelitian dan pengembangan sesuai dengan
aktor peneliti. Misalnya, jika peneliti berasal dari akademisi, maka universitas asal akademisi tersebut
berperan untuk mengarsipkan. Begitu juga dengan peneliti lainnya seperti dari lembaga penelitian
milik pemerintah, lembaga penelitian swasta, serta organisasi nirlaba. Perlu diperhatikan juga
bahwa publisher memiliki peran didalam pengarsipan. Untuk riset yang kemudian dipublikasikan
dalam bentuk buku, jurnal, artikel, dan sejenisnya, penerbit atau publisher tentu memiliki peran
untuk mengarsipkan hasil penelitian.
Penerbit jurnal ilmiah seperti Emerald, Ebsco Host, dan Inderscience memiliki dokumentasi atas
hasil penelitian mana saja yang mereka terbitkan. Selain itu, perpustakaan masih menjadi tempat
pengarsipan yang berperan penting dalam dunia penelitian dan pengembangan, terutama yang
dijalankan oleh akademisi. Lembaga penelitian seperti LIPI juga memiliki peran dalam proses
pengarsipan ini. Sebagai bukti, LIPI memiliki pusat arsip yang berperan sebagai pusat penyimpanan
hasil-hasil penelitian yang dilakukan oleh lembaga-lembaga penelitian dan institusi pendidikan.
38

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

2.3 Peta dan Ruang Lingkup Industri Penelitian dan Pengembangan


2.3.1 Peta Industri Penelitian dan Pengembangan
Peta industri pada Gambar 2-7 menunjukkan aktor-aktor yang berperan di dalam industri utama,
yakni industri penelitian dan pengembangan, serta peran aktor di industri lain yang memberikan
kontribusi dalam berjalannya proses bisnis kegiatan penelitian dan pengembangan. Dalam
konteks subsektor penelitian dan pengembangan, yang difokuskan adalah kegiatan penelitian
yang bersifat terapan dan kegiatan pengembangan.
Peta industri ini terbagi menjadi tiga bagian, yakni backward linkage, forward linkage, dan
industri utama. Backward Linkage menunjukan aktor mana saja yang berasal dari industri lain
diluar penelitian dan pengembangan yang dibayar jasanya atau dibeli produknya oleh pelaku
utama dalam industri penelitian dan pengembangan untuk digunakan didalam setiap proses
utama. Di sisi lain, forward linkage menunjukan aktor mana saja yang berasal dari industri lain
diluar penelitian dan pengembangan yang membayar atau membeli output dari setiap proses.
Adapun suatu kegiatan penelitian dan pengembangan memiliki cakupan yang sangat beragam
sesuai dengan agenda tujuannya. Maka, di dalam peta industri ini yang akan dijelaskan adalah
bagaimana hubungan antara industri penelitian dan pengembangan dengan industri lainnya
secara umum tanpa mengkhususkan terhadap satu jenis kasus penelitian dan pengembangan saja.
A. PELAKU INDUSTRI DALAM PROSES KREASI

Pada tahap kreasi, seorang peneliti seringkali mencari referensi melalui jurnal, buku, hingga media
cetak maupun elektronik. Pencarian ini, seringkali menghasilkan suatu transaksi ekonomi karena
terdapat beberapa sumber referensi yang mengharuskan pembelian untuk memperoleh data yang
diinginkan. Inilah sebabnya mengapa, walaupun terkadang kegiatan pencarian referensi ini tidak
direncanakan, tetapi perlu dilihat bahwa penerbit jurnal hingga media memiliki kaitan dalam
proses kreasi seorang peneliti. Selain penerbit jurnal dan buku, para peneliti dan perekayasa
juga tidak jarang mendapatkan inspirasi untuk pengembangan saat mereka membeli produk
dasarnya. Inilah sebabnya mengapa, konsumsi produk dasar, apapun itu, yang terkait dengan
bidang penelitian bisa memberikan ide akan pengembangan yang dilakukan. Selain itu, hasil
dari tahap kreasi bisa ditawarkan bahkan digunakan oleh industri yang berkaitan dengan bidang
penelitian. Inilah sebabnya mengapa, seringkali para peneliti dan perekayasa mendapatkan dana
untuk mengimplementasikan rancangannya dari tahap kreasi.
B. PELAKU INDUSTRI DALAM PROSES IMPLEMENTASI RANCANGAN

Pada tahap implementasi rancangan, cukup banyak pihak industri lain yang terlibat karena tidak
jarang seorang peneliti atau lembaga penelitian membutuhkan fasilitas yang tidak dimiliki oleh
mereka. Misalnya, banyak peneliti yang berkecimpung pada bidang penelitian terkait sains,
teknologi, dan rekayasa yang membutuhkan fasilitas laboratorium yang hanya dimiliki oleh
beberapa lembaga tertentu. Di sisi lain, penelitian yang berkaitan dengan ilmu sosial biasanya
menggunakan survei sebagai metode penelitiannya. Hal inilah yang menyebabkan mengapa jasa
penyurvei memiliki peran untuk mendukung jalannya kegiatan penelitian dan pengembangan.
Sementara itu, untuk jasa percetakan, penerbit jurnal, serta buku dapat berperan saat hasil penelitian
ingin dibuat dalam bentuk tulisan dan didiseminasikan pada tahap berikutnya.

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Penelitian dan Pengembangan Indonesia

39

Gambar 2-7 Peta Industri Penelitian dan Pengembangan

40

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

C. PELAKU INDUSTRI DALAM PROSES DISEMINASI

Pada tahap diseminasi, yaitu penyebaran hasil penelitian, selain peneliti dan lembaga penelitian,
terdapat beberapa pihak di luar industri yang memiliki peran. Media cetak serta elektronik memiliki
peran dalam menyebarkan hasil penelitian hingga sampai ke khalayak. Adanya hasil penelitian
yang dipublikasikan melalui talkshow, majalah, koran, hingga media lainnya menunjukan peran
media cetak dan elektronik. Di sisi lain, jasa percetakan juga berperan dalam memperbanyak
tulisan hasil penelitian, terutama jika hasil penelitian dikemas dalam bentuk buku, poster, flyer,
hingga artikel tertentu. Adapun jasa event organizer lebih berperan untuk hasil penelitian yang
memang proses diseminasinya melewati pameran, seminar, atau program lainnya yang memerlukan
tata acara yang teratur dan sistematis. Selanjutnya, hasil dari tahap diseminasi ini tentu akan
dapat digunakan oleh seluruh industri yang berkaitan dengan bidang keilmuan dari kegiatan
penelitian dan pengembangan yang dilakukan.

Showdown of The Unbeatables, Peran Media dalam Menyoroti Sebuah Temuan


Sumber : lh6.ggpht.com

Showdown of The Unbeatables, merupakan serial TV yang ditayangkan oleh National


Geographic Channel yang meliput serta menunjukkan penemuan-penemuan unik dan inovatif
di Amerika Serikat. Temuan yang dipilih adalah temuan dari para peneliti dan perekayasa
mandiri. Dalam media serial TV ini, masyarakat kemudian dapat mengetahui inovasi-inovasi
produk seperti apa yang telah ditemukan. Dalam satu episode, tidak hanya ditunjukkan profil
dari produk, tetapi juga cara bekerja hingga demo bagaimana produk berfungsi. Acara ini
dikemas dengan sangat menarik dan merupakan contoh bagaimana media berperan sebagai
aktor diseminasi, baik sebagai aktor utama maupun pendukung. Media akan menjadi aktor
utama saat semua agenda diseminasi diinisiasi oleh pihak media itu sendiri dan akan menjadi
pendukung disaat peneliti atau perekayasa meminta media untuk menyoroti dan meliput hasil
penelitian dan pengembangannya. Dunia penelitian dan pengembangan sangatlah luas, banyak
pihak dapat terlibat di dalam proses penyebaran informasi, apalagi dengan kemajuan teknologi
yang semakin cepat.

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Penelitian dan Pengembangan Indonesia

41

2.3.2 Ruang Lingkup Industri Penelitian dan Pengembangan


Berdasarkan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha (KBLI 2005),12 ruang lingkup subsektor industri
kreatif penelitian dan pengembangan adalah sebagai berikut :
1. Kelompok 73120, yaitu usaha penelitian dan pengembangan yang dilakukan secara
sistematis, diselenggarakan oleh swasta, serta berkaitan dengan teknologi dan rekayasa;
2. Kelompok 73210, yaitu penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan sosial yang
mencakup usaha penelitian dan pengembangan yang dilakukan secara sistematis,
diselenggarakan oleh swasta, berkaitan dengan ilmu sosial, seperti penelitian dan
pengembangan ekonomi, psikologi, sosiologi, ilmu hukum, dan lainnya;
3. Kelompok 73220, yaitu penelitian dan pengembangan humaniora yang mencakup usaha
penelitian dan pengembangan yang dilakukan secara teratur yang diselenggarakan oleh
swasta berkaitan dengan humaniora seperti penelitian dan pengembangan bahasa, sastra,
dan seni;
4. Kelompok 74140, yaitu jasa konsultasi bisnis dan manajemen yang mencakup usaha
pemberian saran dan bantuan operasional pada dunia bisnis, seperti konsultan pada
bidang hubungan masyarakat dan berbagai fungsi manajemen, konsultasi manajemen
oleh agronomis, dan agrikultural ekonomis pada bidang pertanian dan sejenisnya.
Pada tahun 2009, BPS kemudian mengeluarkan KBLI terbaru yang menjadi acuan bagi
penetapan ruang lingkup subsektor industri kreatif penelitian dan pengembangan saat ini dengan
mengklasifikasikan kegiatan penelitian dan pengembangan ke dalam klasifikasi kategori M,
yaitu kategori jasa profesional, ilmiah, dan teknis yang dapat dilihat detailnya pada penjelasan
di bawah ini:
1. Kelompok 70100 (Kegiatan Kantor Pusat)
Kelompok ini mencakup pengawasan dan pengelolaan unit-unit perusahaan yang lain
atau firma; pengusahaan strategi atau perencanaan organisasi dan pembuatan keputusan
dari peraturan perusahaan atau firma. Unit-unit dalam kelompok ini melakukan kontrol
operasi pelaksanaan dan mengelola operasi dari unit-unit yang berhubungan. Kegiatan
yang termasuk dalam kelompok ini antara lain kantor pusat, kantor administrasi pusat,
kantor yang berbadan hukum, kantor distrik dan kantor wilayah, dan kantor manajemen
cabang.
2. Kelompok 70202 (Jasa Konsultasi Transportasi)

Kelompok ini mencakup kegiatan jasa konsultan transportasi, antara lain penyampaian
pandangan, saran, penyusunan studi kelayakan, perencanaan, pengawasan, serta manajemen
dan penelitian di bidang transportasi baik darat, laut maupun udara.
3. Kelompok 70209 (Kegiatan Konsultasi Manajemen Lainnya)

Kelompok ini mencakup ketentuan bantuan nasihat, bimbingan dan operasional usaha
dan permasalahan organisasi dan manajemen lainnya, seperti perencanaan strategi dan
organisasi; keputusan wilayah yang secara alami berkaitan dengan keuangan; tujuan
dan kebijakan pemasaran; perencanaan, praktik dan kebijakan sumber daya manusia;
perencanaan penjadwalan dan pengontrolan produksi. Penyediaan jasa usaha ini dapat
mencakup bantuan nasihat, bimbingan dan operasional usaha dan pelayanan masyarakat
mengenai hubungan dan komunikasi masyarakat atau umum, kegiatan lobi, berbagai
fungsi manajemen, konsultasi manajemen oleh agronomis dan agrikultural ekonomis
(12) Buku Pengembangan Industri Kreatif Menuju Visi Ekonomi Kreatif Indonesia 2025
42

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

pada bidang pertanian dan sejenisnya, rancangan dari metode dan prosedur akuntansi,
program akuntansi biaya, prosedur pengawasan anggaran belanja, pemberian nasihat dan
bantuan untuk usaha dan pelayanan masyarakat dalam perencanaan, pengorganisasian,
efisiensi dan pengawasan, informasi manajemen dan lain-lain.
4. Kelompok 72102 (Penelitian dan Pengembangan Ilmu Teknologi dan Rekayasa)
Kelompok ini mencakup usaha penelitian dan pengembangan yang dilakukan secara
teratur (sistematis), yang diselenggarakan oleh swasta, berkaitan dengan teknologi dan
rekayasa (engineering). Kegiatan yang tercakup dalam kelompok ini seperti penelitian
dan pengembangan ilmu teknik dan teknologi, ilmu pengetahuan medis/kedokteran,
bioteknologi, ilmu pengetahuan pertanian, serta penelitian dan pengembangan antarcabang
ilmu pengetahuan terutama ilmu pengetahuan alam dan teknik.
5. Kelompok 72201 (Penelitian dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan Sosial)
Kelompok ini mencakup usaha penelitian dan pengembangan yang dilakukan secara
teratur (sistematis), yang diselenggarakan oleh swasta, berkaitan dengan ilmu sosial,
seperti penelitian dan pengembangan ekonomi, psikologi, filsafat, sejarah, sosiologi, ilmu
hukum, dan lainnya.
6. Kelompok 72202 (Penelitian dan Pengembangan Humaniora)
Kelompok ini mencakup usaha penelitian dan pengembangan yang dilakukan secara
teratur (sistematis), yang diselenggarakan oleh swasta, berkaitan dengan humaniora,
seperti penelitian dan pengembangan bahasa, sastra dan seni.
7. Kelompok 73200 (Penelitian Pasar dan Jajak Pendapat Masyarakat)
Kelompok ini mencakup usaha penelitian potensi pasar, penerimaan produk di pasar,
kebiasaan dan tingkah laku konsumen, dalam kaitannya dengan promosi penjualan
dan pengembangan produk baru. Termasuk pula penelitian mengenai opini masyarakat
mengenai permasalahan politik, ekonomi, dan sosial.
8. Kelompok 74902 (Jasa Konsultasi Bisnis dan Broker Bisnis)
Kelompok ini mencakup usaha pemberian saran dan bantuan operasional pada dunia
bisnis, seperti kegiatan broker bisnis yang mengatur pembelian dan penjualan bisnis
berskala kecil dan menengah, termasuk praktik profesional, kegiatan broker hak paten
(pengaturan pembelian dan penjualan hak paten), kegiatan penilaian selain real estate
dan asuransi (untuk barang antik, perhiasan dan lain-lain), audit rekening dan informasi
tarif barang atau muatan, kegiatan pengukuran kuantitas dan kegiatan peramalan cuaca.
Tidak termasuk makelar real estate.
9. Kelompok 85500 (Jasa Penunjang Pendidikan)
Kelompok ini mencakup usaha pemberian saran dan bantuan operasional pada dunia
pendidikan, seperti jasa konsultasi pendidikan, jasa penyuluhan dan bimbingan pendidikan,
jasa evaluasi uji pendidikan, jasa uji pendidikan dan organisasi dalam pertukaran pelajar.
Berdasarkan penjabaran mengenai KBLI diatas, dapat dilihat bahwa terdapat perkembangan
cakupan usaha yang termasuk ke dalam subsektor penelitian dan pengembangan. Setelah melalui
proses diskusi grup serta wawancara kembali dengan para ahli, disimpulkan bahwa sebaiknya
lembaga konsultansi hingga jasa lainnya di luar usaha penelitian dan pengembangan seharusnya
tidak termasuk ke dalam subsektor ini. Hal ini disebabkan oleh definisi atas subsektor ini
sendiri yang kata kuncinya terdapat pada pemanfaatan ilmu pengetahuan yang sistematis untuk
menghasilkan hal yang baru sementara lembaga konsultansi dinilai belum memiliki hal tersebut
dan lebih berfungsi sebagai pemecah masalah.

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Penelitian dan Pengembangan Indonesia

43

Berdasarkan hal tersebut, disarankan bahwa yang termasuk ke dalam subsektor penelitian dan
pengembangan hanyalah usaha pada kode 73120, 73210, dan 73220 pada buku 1 atau kode
70102, 72201, dan 72202 pada KBLI 2009 Bidang Ekonomi Kreatif. Terdapat saran lain lagi
dimana kegiatan riset pemasaran sebaiknya dimasukan ke dalam kode 73210 yaitu penelitian dan
pengembangan ilmu pengetahuan sosial bukan termasuk ke dalam kode 73200 yang digabungkan
dengan usaha jajak pendapat. Untuk mempermudah pemahaman mengenai saran perbaikan KBLI,
berikut ini adalah tabel saran perubahan ruang lingkup Subsektor Penelitian dan Pengembangan:
Tabel 21 Skema Ruang Lingkup Industri Subsektor Penelitian dan Pengembangan

RUANG LINGKUP INDUSTRI BERDASARKAN KBLI

Buku 1
(Mengacu pada KBLI 2005)

KBLI 2009 Bidang Ekonomi Kreatif


(Dibuat tahun 2009 oleh BPS)

Saran Perbaikan yang


termasuk dalam lingkup
subsektor penelitian dan
pengembangan industri
kreatif

Kelompok 73120
(usaha penelitian dan
pengembangan bidang
teknologi & rekayasa)

Kelompok 70100
(kegiatan kantor pusat)

Kelompok 70102
(Penelitian dan pengembangan
ilmu teknologi dan rekayasa)

Kelompok 73210
(usaha penelitian dan
pengembangan sosial)

Kelompok 70202
(Jasa Konsultasi Transportasi)

Kelompok 72201
(Penelitian dan pengembangan
ilmu pengetahuan sosial)

Kelompok 73220
(usaha penelitian
dan pengembangan
humaniora)

Kelompok 70209
(Kegiatan konsultasi manajemen
lainnya)

Kelompok 72202
(Penelitian dan pengembangan
humaniora)

Kelompok 74140
(jasa konsultasi
manajemen)

Kelompok 72101
(Penelitian dan Pengembangan Ilmu
Pengetahuan Alam)

Kelompok 72101
( Penelitian dan
Pengembangan Ilmu
Pengetahuan Alam)

Kelompok 70102
(Penelitian dan pengembangan ilmu
teknologi dan rekayasa)

Kelompok 73200
(Penelitian pasar dan jajak
pendapat masyarakat)
Kelompok ini sebaiknya
dijadikan kelompok jajak
pendapat saja, sementara
usaha penelitian pasar masuk
kedalam kode72201 yaitu
penelitian dan pengembangan
bidang ilmu pengetahuan
sosial.

Kelompok 72201
(Penelitian dan pengembangan ilmu
pengetahuan sosial)
Kelompok 72202
(Penelitian dan pengembangan
humaniora)
Kelompok 73200
(Penelitian pasar dan jajak pendapat
masyarakat)
Kelompok 74902
(Jasa konsultasi bisnis dan broker
bisnis)
Kelompok 85500
(Jasa penunjang pendidikan)

44

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

2.3.3 Model Bisnis Industri Penelitian dan Pengembangan


Pada bagian ini akan dijelaskan mengenai bentuk bentuk kegiatan yang dilaksanakan untuk
mendapatkan nilai ekonomi dalam subsektor penelitian dan pengembangan. Berdasarkan analisis
lapangan serta wawancara yang dilakukan, maka dipetakanlah gambar berikut ini :
Gambar 2-8 Peta Model Bisnis Penelitian dan Pengembangan

Bidang penelitian dan pengembangan akan sangat luas jika dikaitkan dengan industri. Pada
umumnya sumber pendapatan dari kegiatan ini didapat dari dua sumber, yaitu dana hibah
penelitian serta penjualan hasil penelitian. Dana hibah penelitian atau research grant yang dimaksud
di sini adalah dana yang disuntikkan oleh pihak ketiga diluar peneliti kepada peneliti agar dapat
menjalankan kegiatan penelitian dan pengembangan yang direncanakan. Dana hibah ini tidak
selalu diberikan oleh institusi pendidikan atau pemerintahan tetapi banyak juga diberikan oleh
para investor yang berasal dari perusahaan swasta yang tertarik akan konsep rancangan penelitian,
bahkan saat ini sumber dana sejenis crowd funding sudah mulai dilirik. Berbeda halnya dengan
dana hibah, penjualan hasil penelitian merupakan sumber dana yang didapat saat penelitian baik
dari rancangan maupun hasil sudah dapat dikomersialkan.

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Penelitian dan Pengembangan Indonesia

45

Experiment.com
Sumber : Experiment.com

Experiment.com merupakan suatu wadah untuk mengumpulkan dana khusus untuk proyek
penelitian ilmiah. Kesadaran akan tingginya kebutuhan dana suatu penelitian serta fenomena
bahwa para peneliti sering kali gagal dalam melakukan penelitiannya karena hambatan dana
merupakan alasan mengapa wadah ini dibentuk. Dengan menggunakan sistem crowdsourcing atau
patungan, maka semua orang dapat turut memberikan dukungan dana pada proyek penelitian
manapun hanya dengan menggunakan kartu kredit. Hingga saat ini cukup banyak proyek
penelitian yang terlibat dan muncul dari berbagai bidang keilmuan, baik sosial hingga sains,
teknologi, dan rekayasa. Wadah sejenis Experiment.com memang sudah mulai bermunculan,
namun hanya sedikit yang mengkhususkan diri hanya untuk mewadahi proyek penelitian.

Tidak semua peneliti menggunakan kedua jenis sumber pendapatan tersebut. Jika dilihat pada
peta Gambar 2-8, terlihat bahwa ada dua bentuk kegiatan penelitian dan pengembangan, yaitu
kegiatan yang berdasarkan desain dan kegiatan yang berdasarkan permintaan (by project). Kegiatan
penelitian yang dilakukan berdasarkan desain maksudnya adalah kegiatan penelitian yang tidak
didasari oleh permintaan secara resmi dari pihak lain. Kegiatan penelitian ini biasanya murni
dibangun sendiri oleh peneliti tersebut. Pada jenis kegiatan ini sumber dana bisa didapatkan
dari dana hibah dan penjualan produk. Misalnya, salah satu peneliti dalam bidang perikanan
yang menemukan produk e-fishery menyatakan bahwa pada awal tahap penelitian mereka
mengandalkan dana hibah untuk menjalankan proses operasional kegiatan, namun saat produk
sudah final mereka mulai mengandalkan penjualan atas temuan untuk mengelola usaha. Disisi
lain, terdapat juga sumber pendapatan dari lisensi paten yang dihasilkan atas hak paten produk
hasil penelitian dan pengembangan.

46

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

Selain bentuk kegiatan penelitian berdasarkan desain seperti yang telah dijelaskan, terdapat
bentuk kegiatan penelitian dan pengembangan yang bersifat berdasarkan permintaan atau by
project. Bentuk kegiatan ini biasanya sudah memiliki sumber pendapatan sejak awal karena
kegiatan penelitian dan pengembangan dilaksanakan sesuai dengan permintaan dari klien atau
pihak lain yang membutuhkan atau biasa disebut customized project. Namun tetap saja, walaupun
berdasarkan permintaan, peneliti harus memiliki independensi dalam melaksanakan kegiatan
penelitian dan pengembangannya. Berbeda halnya dengan kegiatan yang dilakukan berdasarkan
desain yang seringkali bergantung pada dana hibah, dalam kegiatan yang bersifat berdasarkan
permintaan atau by project ini peneliti biasanya tidak perlu lagi mencari dana pendukung karena
sejak awal rancangan penelitiannya sudah menjadi produk yang telah terjual.

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Penelitian dan Pengembangan Indonesia

47

BAB 3
Kondisi Umum Penelitian
dan Pengembangan di
Indonesia

3.1 Kontribusi Ekonomi Penelitian dan Pengembangan


Penelitian dan pengembangan merupakan potensi ekonomi kreatif yang besar bagi Indonesia.
Oleh karena itu, perlu dilakukan pendataan yang spesifik terhadap kontribusi ekonomi penelitian
dan pengembangan Indonesia.
Kontribusi penelitian dan pengembangan terhadap perekonomian dapat ditinjau dari beberapa
aspek yaitu kontribusi ekonomi berdasarkan produk domestik bruto, ketenagakerjaan, aktivitas
perusahaan, konsumsi rumah tangga, dan berdasarkan kontribusi terhadap ekspor nasional. Secara
umum kontribusi ekonomi subsektor penelitian dan pengembangan dapat dilihat pada Tabel 3-1.
Tabel 3-1 Kontribusi Ekonomi Subsektor Penelitian dan Pengembangan 2010-2013
NO.

50

INDIKATOR

SATUAN

2010

2011

2012

2013

RATA-RATA

BERBASIS PRODUK DOMESTIK BRUTO

Nilai Tambah
Subsektor (ADHB)*

Miliar
Rupiah

9,109.11

9,957.99

11,040.95

11,778.48

10,471.63

Kontribusi Nilai
Tambah Subsektor
Terhadap Ekonomi
Kreatif (ADHB)*

Persen

1.93

1.89

1.91

1.84

1.89

Kontribusi Nilai
Tambah Subsektor
Terhadap Total PDB
(ADHB)*

Persen

0.14

0.13

0.13

0.13

0.13

Pertumbuhan Nilai
Tambah Subsektor
(ADHK)**

Persen

8.13

6.26

7.44

7.27

BERBASIS KETENAGAKERJAAN

Jumlah Tenaga Kerja


Subsektor

Orang

13,851

14,537

15,148

15,373

14,727

Tingkat Partisipasi
Tenaga Kerja terhadap
Ketenagakerjaan
Sektor Ekonomi
Kreatif

Persen

0.12

0.12

0.13

0.13

0.13

Tingkat Partisipasi
Tenaga Kerja terhadap
Ketenagakerjaan
Nasional

Persen

0.01

0.01

0.01

0.01

0.01

Pertumbuhan
Jumlah Tenaga Kerja
Subsektor

Persen

4.95

4.21

1.48

3.55

Produktivitas Tenaga
Kerja Subsektor

Ribu
Rupiah/
Pekerja
Pertahun

657,640

685,012

728,856

766,185

709,423.44

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

BERBASIS AKTIVITAS PERUSAHAAN

Jumlah Perusahaan
Subsektor

Perusahaan

1,863

1,973

2,068

2,130

2,008

Kontribusi Jumlah
Perusahaan terhadap
Jumlah Perusahaan
Ekonomi Kreatif

Persen

0.04

0.04

0.04

0.04

0.04

*ADHB **ADHK
Sumber: Badan Pusat Statistik 2013, diolah

3.1.1 Berbasis Produk Domestik Bruto (PDB)


Pada tahun 2013, subsektor penelitian dan pengembangan berkontribusi sebesar 2% terhadap
total Produk Domestik Bruto industri kreatif Indonesia. Kontribusi ini berasal dari seluruh
usaha yang termasuk ke dalam klasifikasi subsektor penelitian dan pengembangan dalam
KBLI Kreatif 2009. Jika dibandingkan dengan saran perbaikan yang perlu dilakukan terhadap
KBLI Kreatif 2009, ketika jenis usaha yang diklasifikasikan ke dalam subsektor penelitian dan
pengembangan berkurang jenisnya, kontribusi sebesar 2% ini menjadi overestimated karena
masih memperhitungkan beberapa klasifikasi usaha yang secara ruang lingkup seharusnya tidak
termasuk ke dalam subsektor ini.
Gambar 3-1 Kondisi Penelitian dan Pengembangan Indonesia Berbasis Produk Domestik Bruto

Sumber: Badan Pusat Statistik 2013, diolah

BAB 3: Kondisi Umum Penelitian dan Pengembangan di Indonesia

51

Sumber: Badan Pusat Statistik 2013, diolah

Dibandingkan dengan subsektor lain dalam industri kreatif, nilai tambah bruto subsektor penelitian
dan pengembangan terhitung relatif sangat kecil. Meskipun menempati peringkat ketujuh, nilai
kontribusi subsektor penelitian dan pengembangan menjadi sangat kecil karena subsektor kuliner,
mode, kerajinan, serta penerbitan dan percetakan yang menempati posisi empat teratas memiliki
kontribusi kumulatif yang mencapai 83%. Kesebelas subsektor lainnya berkontribusi tidak lebih
dari 27% terhadap total nilai tambah bruto industri kreatif.
Laju pertumbuhan subsektor penelitian dan pengembangan terus mengalami penurunan dari
tahun ke tahun. Pada tahun 2011 laju pertumbuhan subsektor ini mencapai angka 6,49%
per tahun dan terus mengalami penurunan hingga hanya mencapai angka 5,47% per tahun
pada tahun 2013. Salah satu penyebab terjadinya hal ini adalah paradigma yang memandang
kegiatan penelitian dan pengembangan sebagai pengeluaran atau expenses, dibandingkan sebagai
kegiatan investasi. Terlepas dari penurunan laju pertumbuhan yang terjadi selama beberapa
tahun belakangan, laju pertumbuhan subsektor penelitian dan pengembangan masih berada di
atas rata-rata laju pertumbuhan nilai tambah bruto industri kreatif dan produk domestik bruto
Indonesia secara keseluruhan.

3.1.2 Berbasis Ketenagakerjaan


Dilihat dari sudut pandang ketenagakerjaan, subsektor penelitian dan pengembangan berkontribusi
sebesar 0,13% terhadap total penyerapan tenaga kerja industri kreatif pada tahun 2013.
Laju pertumbuhan jumlah tenaga kerja subsektor penelitian dan pengembangan juga mengalami
penurunan dari tahun ke tahun sejalan dengan penurunan laju pertumbuhan tenaga kerja industri
kreatif dan Indonesia, namun tetap berada di atas laju pertumbuhan jumlah tenaga kerja industri
kreatif dan Indonesia secara keseluruhan.

52

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

Gambar 3-2 Kondisi Penelitian dan Pengembangan Indonesia Berbasis Tenaga Kerja

Sumber: Badan Pusat Statistik 2013, diolah

BAB 3: Kondisi Umum Penelitian dan Pengembangan di Indonesia

53

Apabila dilihat dari peringkat dalam hal kontribusi dalam menyerap tenaga kerja, subsektor
penelitian dan pengembangan menempati urutan terakhir (ke-15). Hal ini berbeda dengan
posisi subsektor pada peringkat ke-7 terkait dengan kontribusi nilai tambah bruto. Fenomena ini
kemudian menjelaskan bahwa produktivitas tenaga kerja subsektor penelitian dan pengembangan
berada di atas rata-rata produktivitas tenaga kerja industri kreatif lain.

3.1.3 Berbasis Aktivitas Perusahaan


Tidak jauh berbeda dengan potret kondisi subsektor penelitian dan pengembangan yang dilihat
berdasarkan aspek ketenagakerjaan, berdasarkan aktivitas perusahaan pun subsektor penelitian
dan pengembangan menempati peringkat terakhir terkait dengan kontribusinya terhadap total
unit usaha industri kreatif, yaitu sebesar 0,04%. Pertumbuhan unit usaha per tahun sejak tahun
2010 hingga 2013 pun terus mengalami penurunan sejalan dengan turunnya laju pertumbuhan
unit usaha industri kreatif keseluruhan dan Indonesia.
Selain diakibatkan oleh dominasi sektor pemerintahan dalam kegiatan penelitian dan pengembangan
(tidak diperhitungkan dalam memotret kondisi subsektor industri), rendahnya kontribusi
subsektor penelitian dan pengembangan terhadap total unit usaha industri kreatif juga disebabkan
oleh kurangnya minat sektor usaha (bisnis) dalam melakukan penelitian dan pengembangan
untuk mengembangkan usahanya. Terlepas dari itu, mayoritas perusahaan yang berinvestasi
dalam kegiatan penelitian dan pengembangan lebih banyak melakukan kegiatan penelitian dan
pengembangannya secara in-house.
Gambar 3-3 Kondisi Penelitian dan Pengembangan Indonesia Berbasis Aktivitas Perusahaan

Sumber: BadanPusat Statistik 2013, diolah

54

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

Sumber : Badan Pusat Statistik

3.1.4 Berbasis Konsumsi Rumah Tangga


Dilihat dari sisi konsumsi rumah tangga, sejalan dengan peningkatan laju pertumbuhan konsumsi
rumah tangga industri kreatif, laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga subsektor penelitian
dan pengembangan semakin meningkat pada periode empat tahun belakangan (2010-2013). Hal
ini tidak sejalan dengan penurunan laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga barang dan jasa
agregat Indonesia. Fenomena ini menunjukkan adanya peningkatan minat masyarakat dalam
mengonsumsi produk-produk kreatif.
Dalam konteks kontribusi terhadap pembentukkan total konsumsi rumah tangga, subsektor
penelitian dan pengembangan kembali menempati peringkat terakhir dengan nilai kontribusi
sebesar 0,01%. Dengan mengamati kondisi subsektor penelitian dan pengembangan dilihat dari
segi ketenagakerjaan, aktivitas perusahaan, dan konsumsi rumah tangga, dapat disimpulkan
bahwa memang subsektor penelitian dan pengembangan masih belum banyak berkembang di
Indonesia, namun memiliki potensi karena dinilai memiliki produktivitas yang tinggi.

BAB 3: Kondisi Umum Penelitian dan Pengembangan di Indonesia

55

Gambar 3-4 Kondisi Penelitian dan Pengembangan Indonesia Berbasis Konsumsi Rumah Tangga

Sumber : Badan Pusat Statistik 2013, diolah

56

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

3.2 Kebijakan Pengembangan Penelitian dan Pengembangan


Penelitian dan pengembangan sebagai subsektor dalam industri kreatif sesungguhnya menggambarkan
seluruh usaha yang menjadikan kegiatan penelitian dan pengembangan sebagai roda utama
penghasil nilai ekonomi dalam usahanya. Keberlangsungan subsektor ini tentu juga dipengaruhi
oleh adanya kebijakan yang menyeluruh untuk mendukung iklim kegiatan penelitian dan
pengembangan yang ada sehingga memudahkan para aktor untuk menjalankan setiap proses di
dalam kegiatannya.
Pada dasarnya, subsektor ini berkaitan erat dengan Kementerian Riset dan Teknologi karena ruang
lingkup kegiatan dari subsektor ini adalah kegiatan penelitian dan pengembangan. Oleh karena
itu, arah pengembangan kegiatan penelitian dan pengembangan akan berkaitan erat dengan apa
yang Kementrian Riset dan Teknologi sudah miliki, yaitu Kerangka Kebijakan Inovasi Nasional
yang bertujuan untuk:
1. Mengembangkan kerangka umum yang kondusif bagi perkembangan inovasi dan bisnis;
2. Memperkuat kelembagaan dan daya dukung penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi serta meningkatkan kemampuan absorpsi dunia usaha;
3. Menumbuhkembangkan kolaborasi bagi inovasi dan meningkatkan difusi inovasi;
4. Mendorong budaya kreatif-inovatif;
5. Menumbuhkembangkan dan memperkuat keterpaduan pemajuan sistem inovasi dan
klaster industri nasional dan daerah;
6. Penyelarasan dengan perkembangan global.13
Disisi lain, terdapat beberapa kebijakan yang memang perlu disoroti berkaitan dengan kepentingannya
untuk kegiatan penelitian dan pengembangan. Analisis terhadap beberapa kebijakan tersebut
akan dijelaskan pada subbab berikut.

3.2.1 Kebijakan Terkait Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan dan


Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan
Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi merupakan undang-undang terkait sistem nasional
penelitian, pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diimplementasikan
berdasarkan beberapa peraturan pemerintah sebagai berikut:
1. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2005 tentang Alih Teknologi Kekayaan Intelektual
serta Penelitian dan Pengembangan oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan
Pengembangan, mengamanatkan agar hasil-hasil penelitian yang dilakukan oleh perguruan
tinggi dan lembaga penelitian dan pengembangan dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya
untuk kepentingan masyarakat serta dapat menghasilkan nilai tambah ekonomi dan
perbaikan kualitas kehidupan bangsa dan negara;
2. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2006 tentang Perizinan Melakukan Kegiatan
Penelitian dan Pengembangan bagi Perguruan Tinggi Asing, Lembaga Penelitian dan
Pengembangan Asing, Badan Usaha Asing, dan Orang Asing, mengatur tentang perizinan

(13) Renstra Kementerian Riset dan Teknologi 2010-2014

BAB 3: Kondisi Umum Penelitian dan Pengembangan di Indonesia

57

bagi individu maupun lembaga asing yang akan melaksanakan penelitian pengembangan
di Indonesia.
3. Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2007 tentang Pengalokasian Sebagian Pendapatan
Badan Usaha untuk Peningkatan Kemampuan Perekayasaan, Inovasi, dan Difusi
Teknologi, dirancang untuk memajukan pelaksanaan pengembangan di lingkungan
badan usaha nasional.
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 memang sangat berkaitan dengan kegiatan penelitian dan
pengembangan di Indonesia. Undang-undang ini memiliki peran penting dalam pembangunan
ilmu pengetahuan dan teknologi serta memberikan landasan aturan mengenai penggunaan
ilmu pengetahuan dan teknologi bagi percepatan kemajuan negara. Sebagai contoh, dirilisnya
Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2006 yang mengatur perizinan lembaga penelitian swasta
milik asing yang saat ini beroperasi di Indonesia tentu merupakan suatu respon atas munculnya
banyak lembaga penelitian swasta, baik nasional maupun multinasional, yang mulai beroperasi
di Indonesia sejak era tahun 1990-an hingga 2000-an.
Pembentukan peraturan pemerintah ini didasari oleh pemikiran bahwa kegiatan penelitian,
pengembangan, dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak akan terlepas dari adanya
kerjasama internasional serta pemikiran bahwa jika kegiatan penelitian, pengembangan, dan
penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilakukan oleh pihak asing tidak diatur oleh
perundang-undangan, maka akan menimbulkan potensi adanya pemanfaatan sumber daya alam,
artefak, hingga harta karun yang dimiliki Indonesia dengan tidak bertanggung jawab. Atas dasar
pemikiran tersebutlah kemudian ditetapkan berbagai ketentuan persyaratan, kewajiban dan
larangan yang harus ditaati oleh lembaga atau peneliti asing dalam peraturan pemerintah tersebut.
Selain Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2006, terdapat Peraturan Pemerintah Nomor 20
Tahun 2005 yang menjabarkan Undang-Undang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan dan
Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi ini. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2005
berbicara mengenai peraturan alih teknologi kekayaan intelektual serta hasil kegiatan penelitian
dan pengembangan oleh perguruan tinggi dan lembaga penelitian dan pengembangan. Peraturan
pemerintah ini dibuat dengan tujuan untuk membantu penyebarluasan ilmu pengetahuan dan
teknologi serta meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan dan menguasai
ilmu pengetahuan dan teknologi guna kepentingan masyarakat dan negara.14 Namun, pada
aplikasinya, berdasarkan hasil wawancara dan diskusi, Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun
2005 mengenai alih teknologi kekayaan intelektual ini dirasa sangat rumit sehingga para peneliti
dan perekayasa justru merasa terhambat dengan adanya peraturan pemerintah ini. Oleh karena
itu, sebaiknya perlu diadakan kembali kajian mengenai Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun
2005 beserta sosialisasi penerapannya pada para lembaga penelitian.
Berbicara mengenai kegiatan penelitian dan pengembangan yang dijalankan oleh badan usaha,
maka Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2007 memiliki keterkaitan yang erat dengan hal
ini. Di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2007 disebutkan bahwa terdapat insentif
pajak dan kepabeanan bagi badan usaha yang menjalankan kegiatan penelitian dan pengembangan.
Namun, pada praktiknya peraturan pemerintah ini dirasa belum efektif pelaksanaannya.
Indonesia telah mengeluarkan sejumlah peraturan yang dimaksudkan untuk mendorong
kemajuan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun, banyak peraturan yang
(14) Naskah Peraturan Pemerintah No.20 Tahun 2005
58

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

pada praktiknya dirasa belum memenuhi apa yang diharapkan. Misalnya, Peraturan Pemerintah
Nomor 35 Tahun 2007 dirasa kurang efektif karena adanya skema tax deduction dirasa kurang
optimal karena yang diharapkan oleh para pelaku penelitian dan pengembangan adalah skema
tax deduction yang lebih besar. Di sisi lain, insentif perpajakan ini sulit untuk diurus sehingga
para pelaku lebih memilih untuk membayar dibanding mengurus persyaratan pengajuan. Selain
itu, Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2005 juga dirasa kurang efektif karena realisasi
yang tidak jelas dan rumit pada tahap hak menggunakan sebagian Pendapatan Negara Bukan
Pajak (PNBP) dengan pembagian royalty bagi para peneliti. Kerumitan dan kurang optimalnya
realisasi atas peraturan-peraturan inilah yang perlu dikaji kembali sebagai bentuk penuntasan
bottlenecking yang ada dan memotivasi seluruh pihak dalam pengembangan dan pemanfaatan
ilmu pengetahuan dan teknologi.

3.2.2 Kebijakan Terkait Hak Kekayaan Intelektual


Hak atas Kekayaan Intelektual secara umum terbagi menjadi dua, jenis yaitu Hak Cipta dan
Hak Kekayaan Industri. Di dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta
dijelaskan bahwa yang dimaksud Hak Cipta adalah suatu hak ekslusif yang dimiliki oleh pencipta
untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya, sementara Hak Kekayaan Industri
meliputi Hak Paten, Hak Merek, Hak Desain Industri, Hak Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu,
Hak Rahasia Dagang, hingga Hak Indikasi.
Berikut adalah beberapa kebijakan yang terkait dengan Hak Kekayaan Intelektual:
1. Keputusan Direktur Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Nomor H-08-PR.07.10 Tahun
2000 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penerimaan Permohonan Pendaftaran Hak Kekayaan
Intelektual melalui Kantor Wilayah Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia
Republik Indonesia (8 Desember 2000);
2. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 tentang Paten (Lembaran Negara RI Tahun
2001 Nomor 109);
3. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek (Lembaran Negara RI Tahun
2001 Nomor 110);
4. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta;
5. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri (Lembaran Negara RI
Tahun 2000 Nomor 243).
Indonesia telah memiliki sejumlah peraturan terkait dengan pengajuan maupun pengawasan
terhadap Hak Kekayaan Intelektual, namun pada praktiknya masih terdapat kekurangan dari
sisi kemudahan hingga pengawasan atas Hak Kekayaan Intelektual yang dimiliki. Sejumlah
peneliti dan perekayasa memiliki anggapan bahwa untuk mengajukan Hak Kakayaan Intelektual
atas karya mereka adalah suatu pilihan, yang kebanyakan peneliti dan perekayasa tidak memilih
untuk mematenkan karyanya. Hal ini disebabkan oleh rumitnya sistem pengajuan Hak Kekayaan
Intelektual. Selain kerumitan yang ada, proses yang ditempuh pun memakan waktu yang
cukup lama. Bahkan, karena rumit dan lamanya proses pengajuan Hak Kekayaan Intelektual
di Indonesia, beberapa peneliti dan perekayasa dalam negeri lebih memilih untuk mematenkan
karyanya di luar negeri terlebih dahulu sebelum mengajukan paten di dalam negeri. Selain itu,
beberapa peneliti dan perekayasa berpikir bahwa Hak Kekayaan Intelektual yang dimiliki tidak
berperan banyak dalam melindungi karya mereka. Tingginya tingkat pembajakan di Indonesia
menunjukkan lemahnya peran pengawasan atas karya bahkan karya-karya yang sudah resmi
Hak Kekayaan Intelektualnya.
BAB 3: Kondisi Umum Penelitian dan Pengembangan di Indonesia

59

3.3 Struktur Pasar Penelitian dan Pengembangan


Di Indonesia, pemerintah masih mendominasi kegiatan penelitian dan pengembangan. Berdasarkan
estimasi yang dilakukan oleh Pappitek LIPI, bahwa sektor pemerintahan berkontribusi sebesar
42,8% terhadap penelitian dan pengembangan, sementara perguruan tinggi sebesar 38,5%, dan
sektor swasta sebesar 18,7%.15 Hal ini tentu saja menunjukkan kurangnya ketertarikan sektor
swasta terhadap kegiatan penelitian dan pengembangan.
Terlepas dari rendahnya ketertarikan sektor swasta dalam kegiatan penelitian dan pengembangan,
saat ini mulai bermunculan perusahaan penelitian swasta, baik yang murni dibentuk oleh
perusahaan dalam negeri maupun perusahaan agensi riset multinasional yang membuka kantor
cabangnya di Indonesia. Para akademisi juga sudah mulai mencoba mengintegrasikan kemampuan
penelitiannya dengan pihak industri. Hal-hal tersebut menyebabkan jumlah usaha kreatif penelitian
dan pengembangan terus bertambah.
Dilihat dari segi jasa yang ditawarkan, setiap perusahaan yang menyediakan jasa penelitian
dan pengembangan tentu saja memiliki keunikan masing-masing. Keunikan tersebut murni
muncul dari adanya spesialisasi keahlian yang dimiliki oleh setiap usaha kreatif penelitian dan
pengembangan sesuai dengan bidang keilmuan yang ditawarkan. Selain itu, karena penelitian
dan pengembangan pada dasarnya merupakan industri yang berbasiskan proses berpikir, setiap
usaha kreatif penelitian dan pengembangan memiliki keunikan-keunikan tersendiri.
Berdasarkan makin banyaknya usaha kreatif dalam subsektor penelitian dan pengembangan serta
keunikan dan kekhasan jasa penelitian dan pengembangan yang ditawarkan kepada konsumen,
subsektor penelitian dan pengembangan saat ini dinilai memiliki struktur pasar persaingan
monopolistik.
Pada struktur pasar persaingan monopolistik, jumlah usaha kreatif dan konsumen yang terus
tumbuh menyebabkan timbulnya persaingan di pasar jasa penelitian dan pengembangan, seperti
halnya pasar persaingan sempurna. Namun, di sisi lain, adanya kekhasan produk akhir penelitian
dan pengembangan yang ditawarkan oleh setiap usaha kreatif menyebabkan timbulnya sifat-sifat
monopoli yang dimiliki oleh masing-masing usaha kreatif.
Mendukung pernyataan tersebut, barrier to entry pada subsektor penelitian dan pengembangan
juga dinilai tidak terlalu tinggi sehingga memungkinkan bagi para pelaku usaha untuk keluar dan
masuk ke dalam industri ini dengan mudah. Hal ini dibuktikan dengan mulai banyaknya agensi
riset bersifat swasta serta indie atau bermodalkan mandiri. Namun, hal ini tidak berlaku secara
menyeluruh disetiap bidang keilmuan penelitian dan pengembangan. Fenomena tersebut lebih
banyak muncul pada penelitian dan pengembangan bidang sosial karena relatif membutuhkan
modal yang lebih kecil dibandingkan dengan penelitian dalam bidang sains, teknologi, dan
rekayasa yang membutuhkan banyak material dan peralatan.

(15) Indikator IPTEK Indonesia 2011, PAPPITEK-LIPI 2012

60

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

3.4 Daya Saing Penelitian dan Pengembangan


Gambar 3-5 Diagram Daya Saing Penelitian dan Pengembangan

SUMBER DAYA KREATIF

10
8
KELEMBAGAAN

SUMBER DAYA
PENDUKUNG

4,9
4

3,4

4,0

2
0

3,5

4,4

INFRASTRUKTUR
DAN TEKNOLOGI

2,7

INDUSTRI

4,0

PEMASARAN

PEMBIAYAAN

Mengacu pada Gambar 3.5, dapat terlihat bahwa sumber daya kreatif memiliki nilai indeks
tertinggi dibanding komponen lainnya. Walaupun jumlah peneliti sebagai sumber daya kreatif
masih terbatas, Indonesia sudah mulai memiliki potensi dalam hal ini. Mulai munculnya para
peneliti yang hasil karyanya diapresiasi di mancanegara menunjukkan bahwa sebenarnya hasil
karya sumber daya kreatif dalam negeri tentu masih bisa bersaing dengan karya kreatif lainnya.
Meskipun memiliki kekuatan pada sumber daya kreatif (peneliti atau perekayasa), minimnya
pembiayaan serta peran kelembagaan (kebijakan) dalam mendukung kegiatan penelitian dan
pengembangan terkait dengan bidang dalam industri kreatif menjadi persoalan. Minimnya
pembiayaan terlihat dari persentase biaya yang dialokasikan negara terhadap kegiatan penelitian
dan pengembangan. Adanya pengurangan jumlah biaya yang dialokasikan pemerintah tentu akan
membuat para peneliti atau perekayasa mencari alternatif pembiayaan agar kegiatan penelitian dan
pengembangannya selesai pada waktunya. Sisi pembiayaan pun masih lemah karena masih adanya
paradigma bahwa kegiatan penelitian dan pengembangan dianggap sebagai suatu pengeluaran
bukan bentuk investasi. Hal ini yang menyebabkan antusiasme terhadap kegiatan penelitian dan
pengembangan relatif kurang.
Komponen lainnya yang cukup mencolok adalah kelembagaan. Yang dimaksud dengan kelembagaan
adalah peran serta regulasi dari pemerintah. Berdasarkan hasil diskusi grup dan wawancara

BAB 3: Kondisi Umum Penelitian dan Pengembangan di Indonesia

61

mendalam, sering ditemukan bahwa regulasi yang ada terkait dengan kegiatan penelitian dan
pengembangan menghambat jalannya proses penelitian. Di sisi lain, kurangnya kolaborasi
antarlembaga akan menyebabkan kurangnya link and match antara apa yang dibutuhkan di
lapangan dengan apa yang telah dihasilkan dari kegiatan penelitian dan pengembangan.
Selain komponen kelembagaan, infrastruktur dan teknologi juga memiliki nilai yang relatif
rendah. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan semasa diskusi grup bahwa jika dibandingan
dengan negara lain, ketersediaan infrastruktur yang sesuai masih sangat kurang. Maka, dapat
dinyatakan bahwa secara garis besar Indonesia memiliki potensi untuk mengembangkan lagi
subsektor penelitian dan pengembangannya, namun hal ini tidak dapat dilakukan begitu saja,
melainkan harus ada kerjasama dan kolaborasi antara pelaku industri, akademisi, komunitas,
dan pemerintah agar penelitian yang dilakukan dapat tepat guna.
Berbicara mengenai daya saing lebih jauh, komposisi penelitian dan pengembangan di Indonesia
80% di antaranya dilakukan oleh pemerintah.16 Di sisi lain, berdasarkan survei yang dilakukan
Pappitek LIPI, dominasi pemerintah mencapai angka 42,8% terhadap total kegiatan penelitian
dan pengembangan. Hal ini tentu patut diperhatikan karena menunjukkan dominasi yang begitu
tinggi dari lembaga penelitian milik pemerintah, sedangkan penelitian dan pengembangan yang
dilakukan oleh pihak lain (universitas dan bisnis) relatif masih rendah.
Amerika Serikat sebagai negara yang termasuk kedalam top spenders untuk penelitian dan
pengembangan memiliki proporsi penelitian oleh lembaga pemerintah sebanyak 10% saja,
dimana 70% dilakukan oleh peneliti swasta, 13% oleh akademisi, dan sisanya oleh lembaga
penelitian nonprofit.17 Malaysia sekalipun memiliki kontribusi sektor swasta terhadap penelitian
dan pengembangan sebesar 84,9%.18 Jauhnya perbedaan antara Indonesia dan Amerika Serikat
serta Malaysia juga menunjukkan perbedaan concern dari sektor bisnis akan pentingnya penelitian
dan pengembangan. Tidak mengherankan jika di dalam Laporan Pengembangan Industri Kreatif
tahun 2008 dinyatakan bahwa terdapat kekurangan komitmen dalam menjalankan penelitian
dan pengembangan dari sektor bisnis. Hal ini juga sejalan dengan survei yang menyatakan
bahwa 85,41% inovasi yang dilakukan oleh perusahaan manufaktur lebih banyak dilakukan
pada tahap pemasaran, bukan tahap produksi, sehingga dapat diartikan bahwa inovasi terhadap
produk masih dinilai kurang.19
Komersialisai penelitian dan pengembangan masih sangat kurang. Pada tahun 2013 terdeteksi
bahwa hanya 8% dari inovasi yang terpilih dalam buku serial 100 penemuan baru yang dikeluarkan
oleh Kementerian Riset dan Teknologi.20 Hal ini juga dinyatakan oleh Gusti Muhammad
Hatta (Menteri Riset dan Teknologi) bahwa sangat sedikit hasil riset dan pengembangan yang
diproduksi secara massal disebabkan oleh kurang applicable nya hasil riset untuk pengguna
industri, masyarakat, dan pemerintah.
Hafid Abbas sebagai koordinator FKK (Forum Komunikasi Kelitbangan) menyatakan bahwa
Indonesia memiliki posisi yang rendah terkait dengan hak paten. Berdasarkan data bank dunia,
(16)
(17)
(18)
(19)
(20)

62

Laporan Rencana Pengembangan Industri Kreatif, 2008


NSF (National Science Foundation), 2010
State Development R&D in ASEAN, de la Pena
Survey Inovasi Sektor Industri Manufaktur, PAPITEK LIPI, 2011
Business Inovation Centre dalam Antara News, 2013

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

Indonesia menempati urutan ke-92 pada tahun 2007 dan urutan 98 pada tahun 2008. Urutan ini
lebih rendah daripada Srilanka dan Singapura.21 Hal ini menggambarkan daya saing Indonesia
dalam bidang penelitian dan pengembangan terutama IPTEK dibanding dengan negara lainnya.
Di Indonesia jumlah paten yang berasal dari luar negeri jauh lebih banyak dengan jumlah paten
yang berasal dari dalam negeri.22
Berbeda dengan Amerika Serikat sebagai negara nomor 1 Top Spenders pada bidang penelitian
dan pengembangan, pemerintah Amerika Serikat sangat mendorong perlindungan kekayaan
intelektual sehingga tingkat pengajuan serta lisensi paten memuncak dari tahun 1980-an.23
Pemerintah Amerika Serikat melakukan suatu kebijakan untuk membatasi diseminasi hasil
penelitian untuk membuat para peneliti mematenkan hasil penelitiannya. Pemerintah Amerika
Serikat pun turut memperjuangkan lisensi paten secara internasional atas karya dalam negerinya.
Pada tahun 2008, Amerika Serikat memiliki pencapaian hak paten sebanyak 400 ribu per tahun
dan menjadi peringkat kedua penghasil paten tertinggi setelah Jepang.24
Selain tingkat dominasi pemerintah yang tinggi serta kurang gencarnya kegiatan komersialisasi,
jumlah sumber daya periset juga perlu diperhatikan. Hasil penemuan riset dan pengembangan
Amerika Serikat dalam bidang teknologi menjadi lebih tinggi dibanding Jepang karena Amerika
Serikat memiliki jumlah PhD lebih banyak.25 Hal ini menunjukkan bahwa, tingginya jumlah
ahli yang merupakan keluaran dari perguruan tinggi tentu akan meningkatkan jumlah penelitian
dan pengembangan yang dijalankan. Sementara itu, Indonesia sendiri masih memiliki jumlah
peneliti yang relatif rendah, begitu juga dengan jumlah peneliti PhD. Menurut Iskandar Siregar,
profesor dari Institut Pertanian Bogor, minimnya jumlah PhD di Indonesia juga disebabkan
oleh banyak faktor, pertama adalah faktor pribadi bahwa para peneliti merasa tidak ingin untuk
meneruskan jenjang pendidikannya ke tingkat doktoral, kedua adalah kurangnya jaringan untuk
merambah universitas luar negeri untuk melanjutkan studi, dan ketiga adalah kurangnya insentif
bagi para peneliti.26
Berbicara mengenai insentif sebagai salah satu bentuk apresiasi bagi peneliti, walau masih dinilai
kurang, Indonesia sudah mulai beranjak pada kemajuan. Hingga saat ini terdapat berbagai macam
bentuk apresiasi penelitian dari mulai penghargaan, dana insentif peneliti, hingga hibah dana
penelitian. Pemerintah pun sudah mulai menekankan pentingnya apresiasi hasil karya sebagai
sarana untuk memotivasi para peneliti untuk berinovasi kembali. Indonesia memiliki beberapa
penghargaan penelitian seperti Innovating Region Award, kemudian LIPI Science Based Award,
serta penghargaan lainnya yang diberikan oleh pelaku bisnis.
Di Amerika Serikat terdapat beberapa penghargaan tertinggi untuk para peneliti yang dinilai
langsung oleh tim yang ditunjuk oleh presiden, sehingga tim yang menilai betul-betul terintegrasi.
Misalnya, National Medal of Science yang diberikan khusus pada peneliti individu yang
menghasilkan kontribusi luar biasa bagi pengetahuan. Kemudian ada juga Alan T. Waterman
Award yang khusus memberikan penghargaan bagi para peneliti muda. The Presidential Early
(21)
(22)
(23)
(24)
(25)
(26)

Laporan Pers FKK, www.pu.go.id/


Indikator IPTEK Indonesia tahun 2011
Mowery, 1998
Komunikasi Publik Pekerjaan Umum, Bank Dunia, 2008
Sadao & Walsh, 2009
www.kompas.com

BAB 3: Kondisi Umum Penelitian dan Pengembangan di Indonesia

63

Career Award for Scientists and Engineers (PECASE), merupakan penghargaan untuk menghargai
para ilmuwan dan insinyur yang memulai karier mandirinya dengan luar biasa. Hal inilah yang
cukup berbeda dengan Indonesia. Hingga saat ini penyelenggaraan penghargaan pun kurang
dipublikasikan sehingga informasi mengenai apresiasi kurang menyebar. Begitu juga dengan
penyelenggaranya, Amerika Serikat memiliki beberapa jenis penghargaan presidensial yang
sangat bergengsi, sedangkan Indonesia belum memiliki hal ini karena beberapa penyelenggaraan
penghargaan kurang terintegrasi.
Dikemukakan oleh Kepala LIPI, Lukman Hakim bahwa jumlah peneliti di Indonesia masih tidak
seimbang dengan jumlah penduduknya. Pada tahun 2013, dengan jumlah peneliti sebanyak 18.000
orang baik yang terdaftar di LIPI dan perguruan tinggi, Indonesia masih membutuhkan sekitar
200.000 peneliti untuk mengimbangi jumlah penduduknya. Bulgaria memiliki perbandingan 36
peneliti setiap 10.000 penduduk, Malaysia sekitar 18 peneliti per 10.000 penduduk, sementara
negara-negara maju sekitar 80 peneliti per 10.000 peduduk. Hal ini tentu berbeda jauh dengan
Indonesia yang pada tahun 2009 masih memiliki rasio 4,7 peneliti per 10.000 penduduk.27
Dari penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa walaupun sudah memiliki beberapa potensi
untuk berkembang, Indonesia masih memiliki banyak pekerjaan rumah untuk meningkatkan
daya saing subsektor penelitian dan pengembangannya baik dari sisi penciptaan kreasi, proses
menjalankan penelitian dan pengembangan, komersialisasi, serta hal pendukung lainnya.
Selain dinilai masih kurang produktif, hasil penelitian dan pengembangan di Indonesia dinilai
masih sulit untuk diaplikasikan. Hal ini disebabkan oleh kurangnya komunikasi dan kerjasama
antara peneliti dan calon pengguna penelitian. Di sisi lain, jumlah peneliti masih relatif kurang.
Selain disebabkan oleh ketertarikan anak bangsa yang masih kurang terhadap penelitian dan
pengembangan, kurangnya apresiasi dalam profesi ini juga menjadi penyebab kurang diminatinya
profesi sebagai seorang peneliti. Sisi komersialisasi hasil penelitian pun masih jauh tertinggal
dibandingkan dengan negara maju, bahkan negara ASEAN lainnya. Kurangnya jumlah paten
menjadi salah satu akar mengapa tingkat komersialisasi dari hasil penelitian dan pengembangan
masih sangat kurang.

3.5 Potensi dan Permasalahan Pengembangan Penelitian dan


Pengembangan
Bagian ini akan menjelaskan potensi dan permasalah penelitian dan pengembangan sebagai
subsektor industri kreatif di Indonesia. Penjelasan atas potensi dan permasalahan akan dianalisa
melalui tujuh isu strategis yang dialami oleh ekonomi kreatif, mulai dari sumber daya kreatif,
sumber daya pendukung, industri, pembiayaan, pemasaran, infrastruktur dan teknologi serta
kelembagaan. Terdapat beberapa potensi dan permasalahan yang sangat penting dan perlu
diselesaikan secara segera, di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Kurangnya sinergi antara lembaga pendidikan dan sektor industri untuk mengakomodasi
kebutuhan tenaga peneliti dan perekayasa;
2. Banyaknya tenaga peneliti yang hasil karyanya terlebih dahulu diapresiasi oleh pihak luar;
3. Kurangnya pusat informasi sumber daya alam dan budaya yang dimiliki tiap daerah;
Masih ditemukan ketidakselarasan antara kegiatan penelitian dan pengembangan dengan
kebutuhan pasar;
(27) Forum Komunikasi Kelitbangan (FKK), www.pu.go.id

64

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

4. Masih muncul preferensi pasar dalam negeri terhadap kegiatan penelitian dan pengembangan
yang dilakukan oleh pihak asing;
5. Kurangnya kolaborasi antara pihak intelektual (akademisi), bisnis, pemerintah, dan
komunitas dalam menyinergikan arah kegiatan penelitian dan pengembangan;
6. Terbatasnya akses terhadap hasil penelitian terdahulu.
Selain permasalahan tersebut, terdapat juga potensi dan permasalahan lain yang kemudian
disusun dalam tabel berikut :
Tabel 32 Potensi dan Permasalahan Penelitian dan Pengembangan Indonesia

NO

POTENSI
(Peluang dan Kekuatan)

PERMASALAHAN
(Tantangan, Hambatan, Kelemahan, Ancaman)

SUMBER DAYA KREATIF

Kuantitas lembaga pendidikan di


Indonesia (formal dan non formal)
yang meningkat.

Belum meratanya sebaran lembaga pendidikan di


Indonesia baik secara kuantitas maupun kualitas

Subsektor penelitian dan


pengembangan melingkupi
berbagai bidang keilmuan, hingga
saat ini terdapat berbagai macam
beasiswa yang dicanangkan baik
oleh pemerintah, swasta maupun
organisasi internasional yang dapat
diakses oleh para orang kreatif

Kurikulum pendidikan yang masih berfokus


pada keterampilan kerja, bukan keterampilan
melakukan riset dan pengembangan.

Jumlah penduduk yang mengenyam


pendidikan tinggi meningkat

Pola pendidikan yang masih berfokus pada


keterampilan kerja, bukan keterampilan
melakukan riset dan pengembangan.

Meningkatnya daya saing para


pakar peneliti maupun perekayasa
baik secara nasional maupun
internasional

Kurangnya sinergi antara lembaga pendidikan


dan sektor industri menyebabkan penelitian dan
pengembangan yang dihasilkan tidak sepenuhnya
sesuai dengan kebutuhan pasar.
Mayoritas penelitian dan pengembangan yang
dilakukan bersifat basic research sehingga tidak
dapat langsung dimanfaatkan oleh dunia usaha.

Mulai munculnya para peneliti dan


perekayasa mandiri

Banyaknya tenaga peneliti yang terlebih dahulu


diapresiasi oleh pihak asing. Kualitas peneliti
Indonesia yang memiliki daya saing terkadang
tidak diikuti dengan insentif yang sesuai.

SUMBER DAYA PENDUKUNG

Indonesia memiliki
keanekaragaman hayati dan budaya
yang dapat dijadikan potensi untuk
diteliti dan dikembangkan

Kurangnya perlindungan terhadap sumber


daya alam & budaya yang dimiliki (kurangnya
pusat informasi) tiap daerah, seringkali terjadi
ketidaktahuan masyarakat akan kekayaan
hayati & budaya yang dimiliki daerahnya. Hal ini
menyebabkan sering terjadinya apresiasi terlebih
dahulu dari pihak asing atas kekayaan yang
dimiliki

BAB 3: Kondisi Umum Penelitian dan Pengembangan di Indonesia

65

66

Kegiatan penelitian dan


pengembangan yang terkait dengan
pemanfaatan SDA serta topik ramah
lingkungan sudah mulai banyak
bermunculan dimana kebanyakan
terkait dengan bidang ilmu sains,
teknologi dan rekayasa

INDUSTRI

Kurangnya publikasi karya-karya penelitian, buku,


dan majalah seni pertunjukan

Indonesia mulai memiliki banyak


bibit bibi peneliti mandiri lainnya
yang tidak tergabung dengan
lembaga penelitian pemerintah
(terlihat dari antusiasme pendidikan
tinggi akan program technopreneur
dan kompetisi inovasi yang banyak
diikuti)

Paradigma Kegiatan Penelitian dan


Pengembangan di Indonesia yang masih
dipandang sebagai pengeluaran bukan investasi.
(dimana walaupun sudah mulai muncul kesadaran
akan pentingnya R&D namun masih ada
paradigma pemikiran seperti itu)

Mulai munculnya kesadaran dari


pihak swasta untuk mengadakan
kompetisi mengenai inovasi yang
memiliki tindak lanjut.

Belum banyak usaha kreatif di Indonesia


yang menjadikan kegiatan penelitian dan
pengembangan sebagai bisnis utamanya.

Seringkali terjadi ketidakselarasan antara


kegiatan penelitian & pengembangan dengan
kebutuhan pasar

Mulai berkembangnya institusi


kolaborator yang melakukan
link and match, advokasi kepada
kebijakan dan implementasi hasil
Penelitian & Pengembangan
menjadi suatu produk yang memiliki
nilai jual

Jumlah usaha kreatif bidang Teknik Iluminasi


sangat minim

Dengan munculnya berbagai


macam karya kreatif hasil
penelitian dan pngembangan
muncul juga brand produk baru
yang unik

Beberapa hasil penelitian dan


pengembangan tidak hanya
berfokus pada bidang keilmuan
sains dan teknologi saja, saat ini
mulai bermunculan karya yang
menggabungkan seni dan teknologi,
hingga ilmu sosial dan teknologi

Terdapat berbagai macam karya


kreatif hasil penelitian dan
pengembangan yang diapresiasi
secara global (partisipasi aktif para
peneliti dalam konferensi, produk
yang dapat dikonsumsi pasar luar
negeri)

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

PEMBIAYAAN

Mulai berkembangnya kesempatan


dana kegiatan penelitian dan
pengembangan yang dapat
dimanfaatkan

Alokasi anggaran pemerintah Indonesia untuk


kegiatan Penelitian dan Pengembangan paling
kecil proporsinya dibandingkan Negara G20
lainnya

Alternatif pembiayaan selain dari biaya


pemerintah yang bemunculan seringkali tersebar
informasinya hanya pada komunitas itu itu saja
walaupun sebenarnya aksesnya tidak terlalu sulit

PEMASARAN

Walaupun memang belum banyak,


tetapi sudah ada beberapa karya
kreatif hasil penelitian dan
pengembangan yang dimanfaatkan
atau dikonsumsi oleh konsumen
luar negeri baik industri maupun
perorangan

Proses penjualan karya ke luar negeri diurus


secara mandiri oleh orang kreatif (peneliti)
tersebut serta tidak tercatat secara baik.

Adanya media internet


mempermudah penyebaran
informasi, adanya channel distribusi
produk seperti jasa pengiriman baik
dalam negeri maupun luar negeri
juga mempermudah distribusi
produk kreatif

Hasil inovasi produk dalam negeri yang seringkali


kalah dengan produk impor yang lebih murah

Hasil penelitian & pengembangan yang seringkali


berujung pada tahap pengarsipan saja

INFRASTRUKTUR DAN TEKNOLOGI

Perkembangan teknologi khususnya


internet yang bisa menjadi wadah
untuk mengembangkan kegiatan
penelitian & pengembangan.

Kecepatan jaringan internet yang masih lambat


dibanding negara lain di Asia

Kecanggihan teknologi informasi


memperbesar peluang berjejaring
& promosi melalui dunia maya
(online).

Fasilitas teknologi sebagai infrastruktur


penelitian yang masih tertinggal dengan Negara
lain

Aksesibilitas terhadap hasil penelitian terdahulu


yang masih sulit

KELEMBAGAAN

Adanya kebijakan mengenai


kewajiban repository karya
kreatif bidang penelitian dan
pengembangan.

Ketentuan akan repository yang masih belum


dipahami oleh para peneliti di berbagai lembaga
penelitian

Adanya kebijakan mengenai


komersialisasi karya kreatif
penelitian dan pengembangan.

Apresiasi bagi profesi peneliti serta kegiatan


penelitian & pengembangan yang masih kurang
(finansial maupun non- finansial)

Adanya kebijakan mengenai insentif


pajak untuk kegiatan penelitian dan
pengembangan.

Kebijakan arah pembangunan yang belum


terfokus (hal ini membingungkan para investor
untuk menfokuskan diri investasi pada kegiatan
penelitian apa)

Adanya kebijakan mengenai insentif


pajak untuk kegiatan penelitian dan
pengembangan.

Kebijakan arah pembangunan yang belum


terfokus (hal ini membingungkan para investor
untuk menfokuskan diri investasi pada kegiatan
penelitian apa)

BAB 3: Kondisi Umum Penelitian dan Pengembangan di Indonesia

67

68

Mulai muncul lembaga


intermediator yang mewadahi para
technopreneur (BIC, INOTEK, dll)

Regulasi & sistem riset pemerintah yang


seringkali menghambat kegiatan penelitian dan
pengembangan di Indonesia untuk berkembang

Mulai muncul sentra kreatif atau


ruang kreatif untuk kegiatan
penelitian dan pengembangan (BDV,
LabFab, dll) yang difasilitasi swasta
maupun pemerintah

Kebijakan komersialisasi karya kreatif yang masih


belum dapat diimplementasikan dengan baik
(pertentangan antara kebijakan komersialisasi
dengan kebijakan kementerian keuangan sehingga
kebijakan htersebut belum banyak memberikan
nilai tambah bagi orang kreatif)

Mulai banyak peneliti Indonesia


yang karyanya telah diapresiasi
secara internasional

Insentif pajak bagi kegiatan penelitian dan


pengembangan yang kurang berfungsi (tidak
implementable).

Mulai muncul ajang penghargaan


yang diselenggarakan oleh pihak
swasta untuk orang orang yang
memberikan efek pada lingkungan
sekitar diantaranya peneliti (Bakrie
Award, Habibie Award, dll)

Fasilitas laboratorium teknologi yang biasanya


dimiliki oleh pemerintah, dan akses yang kurang
mudah

Kegiatan dalam subsektor


penelitian dan pengembangan
banyak mencoba menggunakan
kekayaan budaya dan hayati lokan
(Batik Fractal - batik, Growbox usahanya yang membudidayakan
jamur dan mencoba membuat
gabus ramah lingkungan)

Sistem HKI di Indonesia yang kurang


mendukung komersialisasi hasil penelitian dan
pengembangan

Kurangnya kolaborasi antara pihak intelektual


(akademisi), bisnis, pemerintah dan komunitas
dalam mengembangkan kegiatan penelitian dan
pengembangan

10

Penyebaran lembaga intermediator i kebanyakan


bersifat swasta dan dikota besar

11

Kegiatan penelitian dan pengembangan masih


belum banyak tersekpos.

12

Partisipasi aktif (dalam seminar maupun


konferensi internasional) masih dilakukan secara
individual oleh orang kreatif (belum terorganisir
dengan baik)

13

Apresiasi bagi profesi peneliti serta kegiatan


penelitian & pengembangan yang masih kurang
(finansial maupun non- finansial)

14

Masih ada cara berpikir atau paradigma bahwa


hasil penelitian yang dilakukan atau ditemukan
oleh pihak asing lebih baik

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

15

Mematenkan hasil karya masih dianggap sebagai


suatu pilihan belum kewajiban karena prosesnya
yang rumit dan efeknya yang masih dirasa belum
signifikan.

16

Kurangnya perlindungan terhadap sumber daya


budaya (kurangnya pusat informasi) yang dimiliki
tiap daerah, seringkali terjadi ketidaktahuan
masyarakat akan kekayaan hayati yang dimiliki
daerahnya. Hal ini menyebabkan sering terjadinya
apresiasi terlebih dahulu dari pihak asing atas
kekayaan yang dimiliki

BAB 3: Kondisi Umum Penelitian dan Pengembangan di Indonesia

69

70

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

BAB 4
Rencana Pengembangan
Penelitian dan
Pengembangan Industri
Kreatif Indonesia
BAB 4: Rencana Pengembangan Penelitian dan Pengembangan Industri Kreatif Indonesia

71

Dunia penelitian dan pengembangan yang bersifat mendatangkan nilai ekonomi atau menjadi
suatu lini bisnis utama perusahaan memang mulai berkembang saat ini. Hal ini ditandai dengan
munculnya para peneliti mandiri swasta yang tidak lagi bernaung dibawah lembaga penelitian
pemerintah baik berdiri secara perorangan maupun dalam bentuk perusahaan. Walaupun
kebanyakan muncul di bidang keilmuan sosial, disisi lain terdapat juga sebagian kecil yang
fokus terhadap penelitian di bidang sains, teknologi dan rekayasa. Namun walaupun begitu,
di bagian rencana pengembangan ini akan lebih difokuskan kepada rencana pengembangan
untuk kegiatan penelitian dan pengembangan terkait bidang-bidang industri kreatif di Indonesia
dimana kegiatan penelitian dan pengembangan juga idealnya dijadikan arus utama untuk
mengembangkan industri kreatif.

4.1 Arahan Strategis Pengembangan Ekonomi Kreatif 2015-2019


Arahan RPJPN 2005-2025, pembangunan nasional tahap ketiga (2015-2019) adalah ditujukan
untuk lebih memantapkan pembangunan secara menyeluruh di berbagai bidang dengan
menekankan pencapaian daya saing kompetitif perekonomian berlandaskan keunggulan
sumber daya alam dan sumber daya manusia berkualitas serta kemampuan ilmu pengetahuan
dan teknologi yang terus meningkat.
Pembangunan periode 2015-2019 tetap perlu mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi tetapi
haruslah inklusif dan berkelanjutan, yaitu meminimasi permasalahan sosial dan lingkungan.
Pembangunan inklusif dilakukan terutama untuk mengurangi kemiskinan, ketimpangan antar
penduduk dan ketimpangan kewilayahan antara Jawa dan luar Jawa, kawasan barat dan kawasan
timur, serta antara kota-kota dan kota-desa. Pembangunan berkelanjutan dilakukan untuk
memberikan jaminan keberlanjutan manfaat yang bisa dirasakan generasi mendatang dengan
memperbaiki kualitas lingkungan (sustainable).
Tema pembangunan dalam RPJMN 2015-2019 adalah pembangunan yang kuat, inklusif dan
berkelanjutan. Untuk dapat mewujudkan apa yang ingin dicapai dalam lima tahun mendatang,
maka fokus perhatian pembangunan nasional adalah:
1. Merealisasikan potensi ekonomi Indonesia yang besar menjadi pertumbuhan ekonomi
yang tinggi, yang menghasilkan lapangan kerja yang layak (decent jobs) dan mengurangi
kemiskinan yang didukung oleh struktur dan ketahanan ekonomi yang kuat.
2. Membuat pembangunan dapat dinikmati oleh segenap bangsa Indonesia di berbagai
wilayah Indonesia secara adil dan merata.
3. Menjadikan Indonesia yang bersih dari korupsi dan memiliki tata kelola pemerintah
dan perusahaan yang benar dan baik.
4. Menjadikan Indonesia indah yang lebih asri, lebih lestari.
Dalam rancangan teknokratik RPJMN 2015-2019 terdapat enam agenda pembangunan
nasional, yaitu: (1) Pembangunan Ekonomi; (2) Pembangunan Pelestarian Sumber Daya Alam,
Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Bencana (3) Pembangunan Politik, Hukum, Pertahanan,

72

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

dan Keamanan; (4) Pembangunan Kesejahteraan Rakyat; (5) Pembangunan Wilayah; dan (6)
Pembangunan Kelautan.
Pembangunan Ekonomi Kreatif pada lima tahun mendatang ditujukan untuk memantapkan
pengembangan ekonomi kreatif dengan menekankan pencapaian daya saing kompetitif
berlandaskan keunggulan sumber daya alam dan sumber daya manusia berkualitas serta
kemampuan ilmu dan teknologi yang terus meningkat.
Memantapkan pengembangan ekonomi kreatif yang dimaksud adalah memperkuat landasan
kelembagaan untuk mewujudkan lingkungan yang kondusif yang mengarusutamakan kreativitas
dalam pembangunan dengan melibatkan seluruh pemangku kebijakan. Landasan yang kuat akan
menjadi dasar untuk mewujudkan daya saing nasional dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan
dan teknologi dan kreativitas serta kedinamisan masyarakat untuk berinovasi, dan menciptakan
solusi atas permasalahan dan tantangan yang dihadapi dengan memanfaatkan sumber daya lokal
untuk menciptakan industri kreatif yang berdaya saing, beragam, dan berkelanjutan.
Secara strategis pengembangan ekonomi kreatif tahun 2015-2019 bertujuan untuk menciptakan
ekonomi kreatif yang berdaya saing global. Tujuan ini akan dicapai antara lain melalui peningkatan
kuantitas dan kualitas orang kreatif lokal yang didukung oleh lembaga pendidikan yang sesuai
dan berkualitas, peningkatan kualitas pengembangan dan pemanfaatan bahan baku lokal yang
ramah lingkungan dan kompetitif, industri kreatif yang bertumbuh, akses dan skema pembiayaan
yang sesuai bagi wirausaha kreatif lokal, pasar yang makin beragam dan pangsa pasar yang makin
besar, peningkatan akses terhadap teknologi yang sesuai dan kompetitif, penciptaan iklim usaha
yang kondusif dan peningkatan apresiasi masyarakat terhadap karya kreatif lokal.
Disisi lain, penelitian dan pengembangan sebagai salah satu subsektor dalam industri kreatif tentu
memiliki peran bagi penciptaan daya saing bangsa. Hasil penelitian dan pengembangan seringkali
dikaitkan dengan identitas inovasi suatu bangsa. Dalam konteks sebagai subsektor industri
kreatif, penelitian dan pengembangan yang dimaksud adalah penelitian dan pengembangan
komersial yang dilakukan bukan hanya untuk menciptakan inovasi tetapi juga mendapatkan
nilai ekonomi bagi si pelaku. Maka, berkembangnya subsektor ini dapat menunjukkan bahwa
tidak hanya peneliti yang berada dalam instansi pemerintahan saja yang dapat membuat suatu
hasil inovasi, tetapi bahkan para peneliti muda yang bekerja secara mandiri juga dapat membuat
suatu inovasi yang meningkatkan daya saing bangsa karena justru yang menjadi pelaku dalam
subsektor ini adalah para peneliti dan perekayasa mandiri yang tidak tergabung dalam instansi
peneliti milik pemerintah. Namun, untuk tahun 2015-2019 pengembangan lebih difokuskan
pada kegiatan penelitian terapan dan pengembangan yang berhubungan dengan pengembangan
industri kreatif. Hal ini bertujuan untuk mendukung percepatan pengembangan Industri Kreatif
secara umum, dan menjadikan kegiatan penelitian dan pengembangan sebagai payung dalam
mengembangkan industri kreatif.

4.2 Visi, Misi, dan Tujuan Pengembangan Penelitian Dan


Pengembangan Industri Kreatif
Kerangka strategis pengembangan pada periode 2015-2019 untuk kegiatan penelitian dan
pengembangan dalam industri kreatif dapat digambarkan melalui visi, misi, tujuan serta sasaran
yang dijelaskan didalam bagian ini. Secara umum, kerangka strategis pengembangan ini dapat
dilihat pada gambar sebagai berikut :

BAB 4: Rencana Pengembangan Penelitian dan Pengembangan Industri Kreatif Indonesia

73

TUJUAN

MISI

VISI

Tabel 4-1 Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran Pengembangan Penelitian dan Pengembangan Industri Kreatif 2015-2019

Penelitian dan pengembangan industri kreatif Indonesia yang berbudaya inovatif, berdaya saing
dan terintegrasi secara berkelanjutan untuk memberi kontribusi ekonomi dan berperan dalam
peningkatan kualitas hidup masyarakat Indonesia
1. Mengoptimalkan
pemanfaatan dan
mengembangkan
sumber daya lokal yang
inovatif, berdaya saing,
dan terintegrasi secara
berkelanjutan

2. Mengembangkan kegiatan
penelitian dan pengembangan
industri kreatif yang
inovatif, berdaya saing,
dan terintegrasi secara
berkelanjutan

3. Mengembangkan
lingkungan yang kondusif
dalam membangun kegiatan
penelitian dan pengembangan
industri kreatif yang berdaya
saing, inovatif dan terintegrasi
secara berkelanjutan dengan
melibatkan seluruh pemangku
kepentingan

1. Penciptaan sumber
daya manusia kreatif di
bidang penelitian dan
pengembangan yang
memiliki inovasi serta daya
saing

3. Penciptaan kegiatan
penelitian dan pengembangan
industri kreatif yang
inovatif , berdaya saing,
dan terintegrasi secara
berkelanjutan

4. Penciptaan pembiayaan
bagi kegiatan penelitian dan
pengembangan terkait bidang
bidang dalam industri kreatif
yang sesuai, mudah diakses,
dan kompetitif

2. Perwujudan perlindungan,
pengembangan, dan
pemanfaatan sumber
daya alam dan sumber
daya budaya bagi
kegiatan penelitian dan
pengembangan industri
kreatif di Indonesia secara
berkelanjutan

5. Penciptaan kegiatan
penelitian dan pengembangan
terkait bidang bidang dalam
industri kreatif yang sesuai
dengan kebutuhan pasar
6. Penciptaan kelembagaan
yang kondusif yang
mendukung pengembangan
kegiatan penelitian dan
pengembangan terkait bidang
bidang dalam Industri Kreatif
di Indonesia

SASARAN STRATEGIS

7. Penyediaan infrastruktur
dan teknologi yang tepat guna
serta mudah diakses untuk
mendukung kegiatan penelitian
dan pengembangan terkait
bidang bidang industri kreatif
di Indonesia

74

1. Meningkatnya kualitas &


kuantitas pendidikan yang
mendukung penciptaan
orang kreatif (peneliti dan
perekayasa) terkait bidang
industri kreatif secara
berkelanjutan (Tujuan 1).
2. Meningkatnya kualitas
& kuantitas orang kreatif
(peneliti dan perekayasa)
terkait bidang bidang dalam
industri kreatif. (Tujuan 1)

4. Meningkatnya kegiatan
penelitian dan pengembangan
terkait dengan bidang bidang
dalam industri kreatif yang
inovatif, berdaya saing
dan terintegrasi secara
berkelanjutan (Tujuan 3)

7. Meningkatnya ketersediaan
pembiayaan bagi seluruh
kegiatan penelitian dan
pengembangan terkait
dengan bidang bidang dalam
industri kreatif yang memiliki
skema pembiayaan yang baik
(besaran yang sesuai, sistem
tidak rumit) (Tujuan 4)

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

3. Terciptanya pusat
pengetahuan sumber daya
alam dan budaya lokal yang
akurat dan terpercaya serta
dapat diakses secara mudah
dan cepat (Tujuan 2)

5. Meningkatnya keragaman
dan kualitas hasil penelitian
dan pengembangan terkait
dengan bidang bidang dalam
industri kreatif (Tujuan 3)

SASARAN STRATEGIS

6. Meningkatnya apresiasi
kepada orang kreatif (peneliti
& perekayasa) dalam bidang
penelitian dan pengembangan
industri kreatif Indonesia
baik di dalam dan luar negeri.
(Tujuan 3)

8. Meningkatnya jumlah
kegiatan penelitian dan
pengembangan terkait bidang
bidang dalam industri kreatif
yang sesuai dengan kebutuhan
pasar. (Tujuan 5)
9. Terciptanya regulasi yang
mendukung penciptaan
iklim yang kondusif bagi
pengembangan kegiatan
penelitian dan pengembangan
terkait dengan bidang
bidang dalam industri kreatif
indonesia. (Tujuan 6)
10. Meningkatnya partisipasi
aktif dan kolaborasi
pemangku kepentingan dalam
pengembangan kegiatan
penelitian dan pengembangan
terkait bidang bidang dalam
industri kreatif secara
berkualitas dan berkelanjutan.
(Tujuan 6)
11. Meningkatnya ketersediaan
teknologi tepat guna yang
mudah diakses oleh para orang
kreatif di bidang penelitian dan
pengembangan terkait bidang
bidang dalam industri kreatif .
(Tujuan 7)
12. Meningkatnya ketersediaan
infrastruktur yang memadai
yang dibutuhkan oleh para
orang kreatif di bidang
penelitian dan pengembangan
terkait bidang bidang dalam
industri kreatif . (Tujuan 7)

4.2.1 Visi Pengembangan Penelitian dan Pengembangan Industri Kreatif


Berdasarkan kondisi kegiatan penelitian dan pengembangan terkait bidang industri kreatif saat
ini, serta tantangan yang mungkin dihadapi dan dengan mempertimbangkan arahan strategis
pembangunan nasional serta pembangunan ekonomi kreatif selama periode 20152019 maka visi
untuk pengembangan penelitian dan pengembangan industry kreatif periode 2015-2019 adalah :
Penelitian dan pengembangan industri kreatif Indonesia yang berbudaya inovatif, berdaya
saing dan terintegrasi secara berkelanjutan untuk memberi kontribusi ekonomi dan berperan
dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat Indonesia.
Pada visi diatas terdapat empat kata-kata kunci yakni inovatif, berdaya saing serta integrasi secara
berkelanjutan dan memberi kontribusi ekonomi. Yang dimaksud dengan inovatif adalah suatu

BAB 4: Rencana Pengembangan Penelitian dan Pengembangan Industri Kreatif Indonesia

75

kegiatan penelitian dan pengembangan yang dapat menciptakan nilai tambah atas suatu karya
kreatif sehingga membedakannya dengan karya karya lainnya. Disisi lain, kata berdaya saing
menunjukan kualitas atas kegiatan dan hasil dari penelitian dan pengembangan yang dapat
disandingkan dengan hasil penelitian dan pengembangan lainnya. Dan kata terintegrasi secara
berkelanjutan berarti bahwa hasil dari penelitian dan pengembangan dapat ditindaklanjuti
bahkan dimanfaatkan oleh industri dan tidak hanya berakhir pada proses pengarsipan. Selain itu,
diharapkan kegiatan ini memberikan kontribusi ekonomi baik dari sisi temuan yang meningkatkan
inovasi sehingga dapat meningkatkan keuntungan usaha, hingga kegiatan penelitian yang dapat
membuka lapangan pekerjaan.

4.2.2 Misi Pengembangan Penelitian dan Pengembangan Industri Kreatif


Visi dari pengembangan penelitian dan pengembangan industri kreatif akan diujudkan melalui
tiga misi utama, diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Mengoptimalkan pemanfaatan dan mengembangkan sumber daya lokal yang
inovatif, berdaya saing dan terintegrasi secara berkelanjutan.

Misi diatas bermaksud untuk mendorong pemanfaatan serta pengembangan sumber daya
lokal baik sumber daya manusia, sumber daya alam maupun budaya agar dapat memiliki
nilai inovasi, serta daya saing yang terus secara berkelanjutan.
2. Mengembangkan kegiatan penelitian dan pengembangan industri kreatif yang
inovatif, berdaya saing dan terintegrasi secara berkelanjutan.
Misi diatas bermaksud untuk mendukung segala bentuk pengembangan dan membuat
kegiatan kegiatan untuk mengembangkan penelitian dan pengembangan yang berkaitan
dengan bidang dalam industri kreatif. Misi ini dilakukan untuk menambah nilai inovasi
dan daya saing kegiatan penelitian dan pengembangan serta agar kegiatan kegiatan tersebut
dapat terus ditindaklanjuti secara berkelanjutan.
3. Mengembangkan lingkungan yang kondusif yang mengarusutamakan kreativitas
dalam membangun kegiatan penelitian dan pengembangan industri kreatif yang
berdaya saing, inovatif dan terintegrasi secara berkelanjutan dengan melibatkan
seluruh pemangku kepentingan.
Lingkungan kondusif merupakan salah satu hal mendasar yang dapat menyokong
perkembangan kegiatan penelitian dan pengembangan industry kreatif. Dalam hal ini,
pengemangan lingkungan kondusif berkaitan dengan peran para pemangku kepentingan
seperti pemerintah, komunitas kreatif terkait, bisnis atau industri pengguna karya kreatif
serta intelektual atau akademisi sebagai think tank dalam lingkungan.

4.2.3 Tujuan Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Industri


Kreatif
Dalam pengembangan penelitian dan pengembangan industri kreatif terdapat tujuh tujuan yang
ingin dicapai berdasarkan tiga misi utama serta satu visi yang dibuat. Berikut adalah tujuantujuan tersebut :
1. Penciptaan sumber daya manusia kreatif di bidang penelitian dan pengembangan
yang memiliki inovasi serta daya saing
Tujuan 1 bermaksud untuk mencapai peningkatan sumber daya manusia kreatif baik
secara kuantitas dan kualitas. Peningkatan kualitas dilihat dari nilai inovasi serta daya

76

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

saing yang dimiliki oleh setiap SDM kreatif dalam bidang penelitian dan pengembangan
yang disebut juga sebagai peneliti.
2. Perwujudan perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan sumber daya alam dan
sumber daya budaya bagi kegiatan penelitian dan pengembangan industri kreatif
di Indonesia secara berkelanjutan
Tujuan 2 bermaksud untuk menciptakan usaha perlindungan, pengembangan dan
pemanfaatan sumder daya alam dan budaya. Usaha perlindungan dan pengembangan
ini dilakukan untuk meningkatkan literasi masyarakat akan sumber daya alam dan
budaya yang dimiliki daerahnya masing masing. Sumber daya alam dan budaya Indonesia
selain menjadi kekayaan bangsa tetapi juga dapat dijadikan materi atau inspirasi dalam
melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan.
3. Penciptaan kegiatan penelitian dan pengembangan industri kreatif yang inovatif,
berdaya saing, dan terintegrasi secara berkelanjutan

Tujuan 3 bermaksud untuk meningkatkan jumlah kegiatan penelitian dan pengembangan
yang berkaitan dengan bidang bidang didalam industri kreatif. Peningkatan ini tidak
hanya diusahakan dari sisi kuantitas, tetapi juga kualitas yaitu nilai inovasi serta daya
saing. Disisi lain, tujuan ini juga bermaksud untuk memantau secara berkelanjutan hasil
dari penelitian dan pengembangan yang ada. Hal ini dilakukan untuk menghindari proses
stagnan yang terjadi pada kegiatan penelitian dan pengembangan dimana kebanyakan
berakhir pada proses pengarsipan saja.
4. Penciptaan pembiayaan kegiatan penelitian dan pengembangan terkait bidang
bidang dalam industri kreatif yang sesuai, mudah diakses, dan kompetitif

Salah satu permasalahan dalam subsektor penelitian dan pengembangan adalah aksesibilitas
pembiayaan. Tujuan 4 bermaksud untuk meningkatkan program pembiayaan kegiatan
penelitian dan pengembangan, baik kolaborasi antar lembaga maupun mandiri yang
dapat diakses dengan mudah oleh para peneliti.
5. Penciptaan kegiatan penelitian dan pengembangan terkait bidang-bidang dalam
industri kreatif yang sesuai dengan kebutuhan pasar

Hasil dari kegiatan penelitian dan pengembangan seringkali tidak dapat diaplikasikan oleh
industri karena kurang sesuai dengan kebutuhan pasar. Hal ini merupakan permasalahan
yang sering terjadi di berbagai bidang penelitian dan pengembangan. Maka tujuan kelima
bermaksud untuk meningkatkan kegiatan kegiatan penelitian dan pengembangan yang
dijalankan atas dasar kebutuhan pasar.
6. Penciptaan kelembagaan yang kondusif yang mendukung pengembangan kegiatan
penelitian dan pengembangan terkait bidang bidang dalam industri kreatif di Indonesia
Tujuan keenam bermaksud untuk mendukung tercapainya penciptaan lingkungan
kondusif bagi kegiatan penelitian dan pengembangan. Adapun dukungan ini dicapai
dengan adanya kolaborasi kelembagaan yang sadar akan nilai kreativitas dalam kegiatan
penelitian dan pengembangan yang berkaitan dengan bidang industri kreatif.
7. Penyediaan infrastruktur dan teknologi yang tepat guna serta mudah diakses, untuk
mendukung kegiatan penelitian dan pengembangan terkait bidang-bidang dalam
industri kreatif di Indonesia
Tujuan ketujuh bermaksud untuk memeratakan ketersediaan infrastruktur dan teknologi
yang dibutuhkan oleh kegiatan penelitian dan pengembangan yang berkaitan dengan
bidang bidang dalam industri kreatif. Pemerataan ini juga dilakukan agar infrastruktur

BAB 4: Rencana Pengembangan Penelitian dan Pengembangan Industri Kreatif Indonesia

77

yang dibuat dapat mudah diakses oleh para orang kreatif dalam bidang penelitian dan
pengembangan industri kreatif.

4.3 Sasaran dan Indikasi Strategis Pencapaian Pengembangan


Penelitian dan Pengembangan Industri Kreatif
Usaha pengembangan penelitian dan pengembangan industri kreatif memiliki 12 sasaran strategis
yang kemudian diindikasikan kedalam 36 indikasi strategis sebagai berikut :
1. Meningkatnya kualitas & kuantitas pendidikan yang mendukung penciptaan orang
kreatif di bidang penelitian dan pengembangan terkait bidang industri kreatif secara
berkelanjutan, yang dapat diindikasikan oleh :
a. Terselenggaranya program pelatihan yang diselenggarakan bagi para tenaga pengajar
terkait bidang dalam industri kreatif di setiap Perguruan Tinggi di Indonesia. Dimana
Program pelatihan yang terselenggara meliputi pendalaman metodologi penelitian
dan pengembangan pelatihan peningkatan inovasi, serta pelatihan kepribadian
dinamis & pemikiran kritis.
b. Terselenggaranya kerjasama antara PTN dan PTS dalam negeri dengan PT asing
dalam melaksanakan kegiatan penelitian dan pengembangan yang terkait dengan
bidang bidang dalam industri kreatif. Dimana Kerjasama penelitian dapat berbentuk
kerjasama pembiayaan, bimbingan penelitian, hingga fellowship. Targetnya adalah
setiap perguruan tinggi memiliki minimal satu kerjasama penelitian dengan pihak
asing terkait bidang bidang dalam industri kreatif.
c. Terselenggaranya kurikulum pada bidang keilmuan terkait dengan industri kreatif
yang menyertakan penelitian dan pengembangan sebagai salah satu unsur penting
dalam materi pembelajaran. Maksudnya adalah, mewajibkan kegiatan penelitian
dan pengembangan sebagai syarat kelulusan bagi seluruh program studi terkait
dengan bidang bidang dalam industri kreatif, Menyertakan mata kuliah metodologi
penelitian sebagai mata kuliah wajib tempuh di setiap program studi terkait bidang
bidang dalam industri kreatif.
d. Terbentuknya program studi yang terkait dengan bidang bidang dalam industri
kreatif di tiap PT di Indonesia. Dimana setidaknya satu perguruan tinggi memiliki
dua atau tiga program studi yang terkait dengan bidang bidang dalam industri kreatif
(cth : musik, arsitektur, periklanan, seni rupa, dll). Setiap program studi tersebut
tidak hanya mengajarkan keterampilan tetapi juga mengajarkan metode penelitian
dan pengembangan sesuai dengan bidang keilmuannya.
e. Adanya perguruan tinggi yang memanfaatkan program fasilitasi yang dibentuk untuk
meningkatkan jumlah ketersediaan program studi terkait bidang dalam industri
kreatif. Terbentuknya program fasilitasi dimulai dari bantuan akses biaya, penyaluran
tenaga pengajar dan pembentukan kurikulum untuk pembentukan program studi
terkait bidang dalam industri kreatif.
2. Meningkatnya kualitas & kuantitas tenaga kerja kreatif (orang kreatif ) di bidang
penelitian dan pengembangan terkait bidang bidang dalam industri kreatif. Sasaran
ini diindikasikan dengan :
a. Terselenggaranya program pelatihan yang diselenggarakan bagi para peneliti dan
perekayasa terkait bidang dalam industri kreatif. Dimana Program pelatihan yang
terselenggara meliputi : pendalaman metodologi penelitian dan pengembangan,

78

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

pelatihan peningkatan inovasi, pelatihan kepribadian dinamis & pemikiran kritis.


Program ini kemudian dapat diakses secara mudah oleh para peneliti dan perekayasa
baik yang tergabung dalam pemerintahan, bisnis hingga peneliti mandiri.
b. Munculnya kegiatan penelitian dan pengembangan yang dilakukan oleh para pelaku
industri kreatif.
3. Terciptanya pusat pengetahuan sumber daya alam dan budaya lokal yang akurat dan
terpercaya serta dapat diakses secara mudah dan cepat. Terdapat tiga indikasi strategis
atas sasaran ini diantaranya :
a. Munculnya hasil-hasil penelitian yang mengeksplorasi kekayaan sumber daya alam
dan budaya lokal Indonesia. Hasil penelitian yang muncul tidak hanya mewakili satu
daerah tetapi merata pada setiap daerah di Indonesia, sehingga setiap daerah atau
provinsi tereksplorasi secara maksimal kekayaan alam dan budayanya.
b. Terbentuknya suatu pusat informasi yang menampung seluruh informasi mengenai
kekayaan sumber daya alam dan budaya lokal di tiap propinsi di Indonesia.
c. Jumlah pemanfaatan pusat informasi. Maksudnya adalah pusat informasi yang telah
dibangun kemudian dipantau jumlah pemanfaatannya melalui pendataan jumlah
akses atau jumlah orang yang mengambil informasi dari pusat informasi.
4. Meningkatnya kegiatan penelitian dan pengembangan terkait dengan bidang bidang
dalam industri kreatif yang inovatif, berdaya saing dan terintegrasi secara berkelanjutan.
Sasaran ini diindikasikan dengan :
a. Peningkatan jumlah peneliti dan perekayasa terkait bidang dalam industri kreatif yang
mendapatkan program beasiswa, studi banding, hingga pelatihan. Hal ini dilakukan
dengan memberikan beasiswa, kesempatan studi banding serta pelatihan sebagai
usaha untuk meningkatkan kapabilitas peneliti dan perekayasa khusus untuk bidang
terkait industri kreatif dalam melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan.
b. Terselenggaranya kompetisi penelitian dan pengembangan yang diadakan khusus
terkait bidang bidang dalam industri kreatif. Misalnya, diadakannya ajang kompetisi
khusus untuk kegiatan penelitian dan pengembangan terkait bidang dalam industri
kreatif. Ajang ini diselenggarakan secara berkala misalnya satu tahun 2 kali di
tingkat nasional.
c. Meningkatnya jumlah peserta dari kompetisi penelitian dan pengembangan yang
memiliki kegiatan penelitian khusus terkait bidang dalam industri kreatif. Peningkatan
jumlah peserta dapat dilihat berdasarkan dua aspek yaitu peningkatan jumlah
kumulatif peserta kompetisi, serta penambahan jumlah daerah atau provinsi yang
menyertakan peneliti dan perekayasa nya untuk mengikuti kompetisi.
d. Meningkatnya jumlah dan penyebaran lembaga intermediator di Indonesia. Idealnya,
pada 5 tahun mendatang setidaknya satu provinsi memiliki satu lembaga intermediator
yang dapat menjadi wadah bertemunya para peneliti, pelaku industri, pemerintah
dan komunitas.
5. Meningkatnya keragaman dan kualitas hasil penelitian dan pengembangan terkait dengan
bidang bidang dalam industri kreatif. Sasaran ini diindikasikan dengan :
a. Terselenggaranya kegiatan pengkajian mengenai penelitian terdahulu yang terkait
dengan bidang dalam industri kreatif. Kegiatan pengkajian dapat berbentuk
konferensi, diskusi grup atau seminar yang melibatkan peneliti dan pelaku industri

BAB 4: Rencana Pengembangan Penelitian dan Pengembangan Industri Kreatif Indonesia

79

dengan agenda mengkaji penelitian terdahulu untuk kemudian mendeteksi kebutuhan


penelitian selanjutnya.
b. Adanya roadmap penelitian yang khusus berkaitan dengan bidang dalam industri
kreatif. Terbentuknya roadmap atau peta jalan yang dapat menjadi acuan bagi para
peneliti dan perekayasa dalam melakukan kegiatan penelitian dan pengembangannya
agar tepat guna dan memenuhi kebutuhan yang ada berdasarkan hasil kajian.
c. Jumlah penelitian yang sesuai dengan roadmap yang telah disusun atas hasil kajian.
6. Meningkatnya apresiasi kepada orang kreatif (peneliti & perekayasa) dalam bidang
penelitian dan pengembangan industri kreatif Indonesia baik di dalam dan luar negeri.
Sasaran ini diindikasikan dengan :
a. Terbentuknya ajang penghargaan bergengsi atau prestisius pada tingkat nasional
khusus untuk penelitian yang berkaitan dengan bidang dalam industri kreatif. Hal
ini dilakukan dengan dibentuknya ajang bergengsi bertaraf nasional yang khusus
diadakan untuk bidang penelitian terkait industri kreatif dilakukan untuk menunjukkan
pentingnya hasil penelitian dan pengembangan bagi kemajuan industri kreatif.
b. Terbentuknya dewan khusus penilaian dan pengkajian kegiatan penelitian dan
pengembangan terkait bidang dalam industri kreatif. Dewan khusus dapat terdiri
atas pelaku industri, para ahli peneliti, pihak pemerintah dan perwakilan asosiasi
profesi. Dewan ini kemudian menjadi tim pengkaji bagi kegiatan penghargaan.
c. Meningkatnya jumlah insentif finansial yang diberikan pada peneliti dan perekayasa
terkait bidang dalam industri kreatif. Peningkatan insentif finansial dilakukan sesuai
dengan pengkajian terhadap proporsi ideal pembiayaan bagi kegiatan penelitian dan
pengembangan yang terkait dengan bidang dalam industri kreatif.
d. Adanya program insentif selain insentif keuangan bagi para peneliti dan perekayasa
yang berprestasi. Contoh selain insentif keuangan yang dibutuhkan adalah peningkatan
kapabilitas diri seperti kesempatan belajar di luar negeri, kesempatan kerjasama
penelitian dengan perguruan tinggi asing ternama.
e. Meningkatnya jumlah peneliti dan perekayasa terkait bidang dalam industri kreatif
yang menerima insentif selain insentif keuangan. Semakin banyaknya jumlah peneliti
yang mendapatkan program belajar penelitian di luar negeri, hingga peneliti yang
mendapatkan kesempatan untuk bekerjasama dalam melakukan penelitian dan
pengembangan di perguruan tinggi asing ternama.
f. Meningkatnya usaha kreatif yang menggunakan penelitian dan pengembangan
sebagai langkah inovasi bisnisnya. Maksudnya adalah, semakin banyaknya jumlah
usaha kreatif yang melaksanakan kegiatan penelitian dan pengembangan untuk
mendapatkan inovasi dalam bisnis.
7. Meningkatnya ketersediaan pembiayaan bagi seluruh kegiatan penelitian dan pengembangan
terkait dengan bidang bidang dalam industri kreatif yang aksesibel, transparan dan
memiliki skema pembiayaan yang baik (besaran yang sesuai, sistem tidak rumit). Sasaran
ini diindikasikan melalui :
a. Meningkatnya jumlah peneliti dan perekayasa yang mendapatkan bantuan dana dari
para penghibah dana yang terlah ada. Peningkatan jumlah peneliti yang mendapatkan

80

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

hibah dana menunjukan penyerapan dana yang optimal. Peningkatan jumlah dapat
dilihat dari jumlah peneliti yang menyerap maupun jumlah dana yang terserap.
b. Meningkatnya jumlah dan ragam kesempatan pembiayaan bagi kegiatan penelitian
dan pengembangan khusus bidang terkait industri kreatif.
c. Adanya suatu portal yang menampung informasi seluruh kesempatan pembiayaan
bagi kegiatan penelitian dan pengembangan yang terkait dengan bidang dalam
industri kreatif.
8. Meningkatnya jumlah kegiatan penelitian dan pengembangan terkait bidang bidang dalam
industri kreatif yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Sasaran ini diindikasikan dengan :
a. Peningkatan jumlah produk kreatif yang dihasilkan melalui kegiatan penelitian dan
pengembangan.
9. Terciptanya regulasi yang mendukung penciptaan iklim yang kondusif bagi pengembangan
kegiatan penelitian dan pengembangan terkait dengan bidang bidang dalam industri
kreatif Indonesia. Sasaran ini diindikasikan dengan :
a. Naskah regulasi terkait HKI yang memudahkan kepengurusan HKI bagi hasil
penelitian dan pengembangan terkait bidang industri kreatif.
b. Terbentuknya standar pembiayaan untuk kegiatan penelitian dan pengembangan
terkait bidang dalam industri kreatif.
c. Peningkatan jumlah peneliti dan perekayasa yang mendapatkan insentif pajak atas
kegiatan penelitian dan pengembanganya.
d. Jumlah program studi terkait bidang dalam industri kreatif yang menyertakan
kegiatan penelitian dan pengembangan sebagai persyaratan kelulusan.
10. Meningkatnya partisipasi aktif dan kolaborasi pemangku kepentingan dalam pengembangan
kegiatan penelitian dan pengembangan terkait bidang bidang dalam industri kreatif secara
berkualitas dan berkelanjutan. Sasaran ini diindikasikan dengan :
a. Peningkatan jumlah kerjasama kegiatan penelitian dan pengembangan. Maksudnya
adalah munculnya berbagai macam kerjasama penelitian yang dipartisipasi oleh
pemerintah, pelaku industri (perusahaan), serta para peneliti dan perekayasa baik
yang terbagung dalam lembaga penelitian maupun mandiri.
b. Peningkatan jumlah kegiatan penelitian dan pengembangan yang dapat memiliki
implikasi besar terhadap industri. Dalam hal ini, implikasi besar terhadap industri
maksudnya adalah sesuai dengan kebutuhan industri pada masa itu, atau peneltian
yang melahirkan inovasi mutakhir bagi kemajuan industri kreatif.
11. Meningkatnya ketersediaan teknologi tepat guna yang mudah diakses oleh para orang
kreatif di bidang penelitian dan pengembangan terkait bidang bidang dalam industri
kreatif. Sasaran ini diindikasikan dengan :
a. Peningkatan pemanfaatan laboratorium IPTEK yang ada oleh para peneliti dan
perekayasa terkait bidang industri kreatif. Yang diharapkan dari hal ini adalah,
adanya para peneliti mandiri atau non-pemerintah yang dapat memanfaatkan fasilitas
laboratorium IPTEK yang dimiliki oleh para lembaga penelitian milik pemerintah.
b. Terbentuknya suatu portal yang dapat menyalurkan kebutuhan fasilitas teknologi
dari para peneliti dan perekayasa terkait bidang industri kreatif. Maksudnya adalah,

BAB 4: Rencana Pengembangan Penelitian dan Pengembangan Industri Kreatif Indonesia

81

adanya suatu jejaring yang dapat mendata serta menyalurkan kebutuhan teknologi
dari kegiatan penelitian dan pengembangan.
12. Meningkatnya ketersediaan infrastruktur yang memadai yang dibutuhkan oleh para orang
kreatif di bidang penelitian dan pengembangan terkait bidang bidang dalam industri
kreatif. Sasaran ini diindikasikan dengan :
a. Peningkatan jumlah dan keragaman langganan jurnal ilmiah terkait bidang bidang
dalam industri kreatif. Keberagaman langganan jurnal ilmiah yang terkait dengan
bidang dalam industri kreatif dapat memperkaya sumber informasi yang merupakan
infrastruktur bagi kegiatan penelitian dan pengembangan.

4.4 Arah Kebijakan Pengembangan Penelitian dan Pengembangan


Industri Kreatif
Arah kebijakan pengembangan diturunkan berdasarkan tujuan pengembangan yang ingin dicapai.
Seperti diketahui, bahwa tujuan pengembangan penelitian dan pengembangan industri kreatif
terbagi kedalam tujuh tujuan diantaranya adalah :
1. Penciptaan sumber daya manusia kreatif di bidang penelitian dan pengembangan yang
memiliki inovasi serta daya saing.
2. Perwujudan perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan sumber daya alam dan
sumber daya budaya bagi kegiatan penelitian dan pengembangan industri kreatif di
Indonesia secara berkelanjutan.
3. Penciptaan kegiatan penelitian dan pengembangan industri kreatif yang inovatif, berdaya
saing, dan terintegrasi secara berkelanjutan.
4. Penciptaan pembiayaan kegiatan penelitian dan pengembangan terkait bidang bidang
dalam industri kreatif yang sesuai, mudah diakses, dan kompetitif.
5. Penciptaan kegiatan penelitian dan pengembangan terkait bidang-bidang dalam industri
kreatif yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
6. Penciptaan kelembagaan yang kondusif yang mendukung pengembangan kegiatan
penelitian dan pengembangan terkait bidang bidang dalam industri kreatif di Indonesia.
7. Penyediaan infrastruktur dan teknologi yang tepat guna serta mudah diakses, untuk
mendukung kegiatan penelitian dan pengembangan terkait bidang-bidang dalam industri
kreatif di Indonesia.
Berdasarkan seluruh tujuan diatas kemudian dibuatlah perancangan arah kebijakan untuk bisa
mendukung pencapaian tujuan yang akan dijelaskan pada bagian berikutnya.

4.4.1 Arah Kebijakan Penciptaan Sumber Daya Manusia Kreatif di Bidang


Penelitian dan Pengembangan yang Memiliki Inovasi Serta Daya Saing.
a. Meningkatkan kualitas lembaga pendidikan tinggi formal terkait dengan bidang bidang
dalam industri kreatif yang sudah ada untuk dapat mendukung terciptanya orang kreatif
di bidang penelitian dan pengembangan terkait industri kreatif.
b. Memberikan dukungan pengembangan dan fasilitas terhadap penciptaan lembaga
pendidikan tinggi formal baru yang dapat menghasilkan para peneliti dan perekayasa
dalam bidang industri kreatif.

82

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

c. Menciptakan para peneliti dan perekayasa terkait bidang bidang dalam industri kreatif
yang berkuallitas dinamis dan inovatif.

4.4.2 Arah Kebijakan Perlindungan, Pengembangan dan Pemanfaatan


Sumber Daya Budaya Bagi Kegiatan Penelitian dan Pengembangan Industri
Kreatif di Indonesia Secara Berkelanjutan
a. Mengembangkan pusat pengetahuan sumber daya alam dan budaya lokal yang akurat
terpercaya serta mudah diakses secara cepat oleh para peneliti dan perekayasa terkait
bidang bidang dalam industri kreatif.

4.4.3 Arah Kebijakan Penelitian dan Pengembangan Industri Kreatif yang


Inovatif, Berdaya Saing, dan Terintegrasi Secara Berkelanjutan
a. Memfasilitasi peningkatan keahlian dan pengetahuan para peneliti dan perekayasa terkait
bidang bidang dalam industri kreatif.
b. Memfasilitasi kolaborasi serta penciptaan jejaring diantara para peneliti dan perekayasa
terkait bidang bidang dalam industri kreatif dengan para pelaku industri, pemerintah,
komunitas hingga akademisi.
c. Memfasilitasi kegiatan pengkajian hasil karya penelitian dan pengembangan yang sudah
ada terkait bidang bidang dalam industri kreatif.
d. Mengembangkan kegiatan eksplorasi terhadap kebutuhan penelitian dan pengembangan
yang tepat guna.
e. Mengembangkan kegiatan pemberian penghargaan yang prestisius untuk hasil karya
penelitian dan pengembangan terkait dengan bidang bidang dalam industri kreatif.
f. Meningkatkan apresiasi berbentuk insentif bagi profesi peneliti dan perekayasa terkait
bidang bidang dalam industri kreatif.
g. Meningkatkan apresiasi dalam bentuk literasi pelaku industri akan urgensi kegiatan
penelitian dan pengembangan.

4.4.4 Arah Kebijakan Penciptaan Pembiayaan Bagi Kegiatan Penelitian


dan Pengembangan Terkait Bidang dalam Industri Kreatif yang Sesuai,
Mudah Diakses dan Kompetitif
a. Menciptakan dan mengembangkan wadah (baik berbentuk lembaga baru,sentra, atau
suatu jejaring) yang dapat menyediakan pembiayaan bagi kegiatan penelitian dan
pengembangan terkait bidang bidang dalam industri kreatif yang cepat dengan skema
yang baik (sesuai dan tidak rumit).
b. Memperkuat hubungan dan akses informasi antara para peneliti dan perekayasa terkait
bidang bidang dalam industri kreatif dengan lembaga keuangan baik pemerintah maupun
non pemerintah.

4.4.5 Arah Kebijakan Penciptaan Kegiatan Penelitian dan Pengembangan


Terkait Bidang dalam Industri Kreatif yang Sesuai dengan Kebutuhan Pasar
a. Mengembangkan agenda penelitian dan pengembangan yang dihasilkan berdasarkan
eksplorasi mendalam pada para pelaku didalam industri kreatif.

BAB 4: Rencana Pengembangan Penelitian dan Pengembangan Industri Kreatif Indonesia

83

4.4.6 Arah Kebijakan Penciptaan Kelembagaan yang Kondusif yang


Mendukung Pengembangan Kegiatan Penelitian dan Pengembangan
Terkait Bidang-Bidang dalam Industri Kreatif di Indonesia
a. Harmonisasi - regulasi terkait penciptaan nilai kreatif (creative value chain).
b. Harmonisasi - regulasi terkait lingkungan pendukung.
c. Meningkatkan sinergi, dan kolaborasi antara akademisi, komunitas, bisnis dan para
peneliti dan perekayasa terkait bidang bidang dalam industri kreatif.
d. Mengembangkan dan memfasilitasi segala bentuk wadah yang dapat mengembangkan
kegiatan penelitian dan pengembangan terkait bidang bidang dalam industri kreatif.

4.4.7 Arah Kebijakan Infrastruktur dan Teknologi yang Tepat Guna serta
Mudah Diakses untuk Mendukung Kegiatan Penelitian dan Pengembangan
Terkait Bidang dalam Industri Kreatif
a. Mengembangkan sentra IPTEK untuk mendukung kegiatan penelitian dan pengembangan.
b. Meningkatkan kemudahan akses terhadap data dan penelitian terdahulu terkait kegiatan
penelitian dan pengembangan dalam bidang bidang industri kreatif.

4.5 Strategi dan Rencana Aksi Pengembangan Penelitian dan


Pengembangan Industri Kreatif
Pada bagian ini, strategi dan rencana aksi penelitian dan pengembangan industri kreatif diturunkan
berdasarkan sasaran dari rencana pengembangan. Seperti diketahui bahwa terdapat 12 sasaran
pengembangan, maka keterkaitan antara sasaran, strategi serta rencana aksi akan dijelaskan pada
sub-bab berikut ini :

4.5.1 Peningkatan Kualitas dan Kuantitas Pendidikan yang Mendukung


Penciptaan Orang Kreatif (Peneliti Dan Perekayasa) Terkait Bidang Industri
Kreatif.
Sasaran ini kemudian dicapai melalui strategi:
1. Memfasilitasi kemampuan pengajar di lembaga pendidikan tinggi formal dalam
melaksanakan kegiatan penelitian dan pengembangan melalui pelatihan tentang teknis
metodologis kegiatan penelitian dan pengembangan serta cara berpikir kritis dalam
bidang terkait industri kreatif. Adapun strategi ini memiliki rencana aksi sebagai berikut :
a. Memberikan fasilitas berupa bimbingan, bantuan tenaga pengajar, hingga pembiayaan
bagi perguruan tinggi yang akan membentuk program studi baru terkait bidang dalam
industri kreatif. Hal ini dilakukan melalui, analisa kebutuhan pelatihan kompetensi
penelitian dan pengembangan bagi para tenaga pengajar di program studi terkait
dengan bidang dalam industri kreatif, kemudian fasilitasi pelatihan bagi para tenaga
pengajar di perguruan tinggi khususnya program studi terkait bidang dalam industri
kreatif dalam konteks peningkatan kemampuan penelitian dan pengembangan
berdasarkan hasil analisa kebutuhan yang dijalankan (lokasi, banyaknya pelatihan
hingga konten pelatihan).

84

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

2. Mengembangkan kerjasama kegiatan penelitian dan pengembangan antara lembaga


pendidikan tinggi formal dalam negeri dan luar negeri khusus dalam ranah terkait
bidang bidang industri kreatif. Adapun strategi ini memiliki rencana aksi sebagai berikut:
a. Pengembangan kerjasama penelitian dan pengembangan antara program studi
terkait bidang bidang dalam industri kreatif di dalam negeri dan di luar negeri yang
dilakukan melalui fasilitasi akses pada perguruan tinggi dalam negeri untuk bisa
melakukan kerjasama terkait penelitian dan pengembangan dengan perguruan tinggi
luar negeri, serta pembentukan agenda penelitian dan pengembangan terkait bidang
dalam industri kreatif yang melibatkan peneliti dan perekayasa asing.
3. Mendorong besaran beban kegiatan penelitian dan pengembangan pada program studi
yang terkait dengan bidang bidang dalam industri kreatif, melalui pengkajian dan
pengembangan kurikulum yang meningkatkan intensitas kajian ilmiah. Adapun strategi
ini memiliki rencana aksi sebagai berikut:
a. Pengkajian kurikulum pada setiap program studi yang berkaitan dengan bidang bidang
dalam industri kreatif. Hal ini dilakukan melalui pemetaan atas kurikulum pada
program studi yang terkait bidang dalam industri kreatif, analisa atas hasil pemetaan
dengan mempertimbangkan kebutuhan beban penelitian dan pengembangan dalam
setiap program studi.
b. Pengembangan kurikulum yang memasukan unsur penelitian dan pengembangan
pada setiap program studi yang berkaitan dengan bidang bidang dalam industri kreatif.
Hal ini dilakukan melalui, penyusunan kurikulum bagi setiap program studi yang
terkait dengan bidang bidang dalam industri kreatif, dengan mempertimbangkan
hasil pengkajian kurikulum yang telah dilaksanakan sebelumnya serta sosialisasi
standar komposisi kurikulum pada perguruan tinggi yang memiliki program studi
terkait bidang bidang dalam industri kreatif di Indonesia.
4. Mendorong terbentuknya program studi terkait dengan bidang bidang dalam industri
kreatif di setiap lembaga pendidikan tinggi formal di Indonesia yang tidak hanya
memberikan materi ajar keterampilan tetapi juga peningkatan kemampuan berpikir
kritis yang dituangkan dalam kegiatan penelitian dan pengembangan. Strategi ini, dapat
senantiasa dicapai bersamaan dengan pelaksanaan rencana aksi pada strategi sebelumnya
(poin ketiga).
5. Memberikan program fasilitasi pada lembaga pendidikan tinggi formal yang akan
membangun program studi baru terkait bidang bidang dalam industri kreatif baik dalam
bentuk bantuan akses pembiayaan, tenaga pengajar, dan pendampingan pembentukan
kurikulum. Adapun strategi ini memiliki rencana aksi sebagai berikut:
a. Peningkatan ketersediaan program studi yang berkaitan dengan bidang bidang
dalam industri kreatif di perguruan tinggi. Hal ini dapat dilakukan melalui, analisa
kebutuhan terhadap para peneliti dan perekayasa terkait bidang dalam industri kreatif
berdasarkan jumlah, keilmuan program studi, hingga lokasi, perencanaan peningkatan
ketersediaan program studi berdasarkan hasil analisa kebutuhan, pemberian instruksi
& mentoring atas pembentukan program studi baru berdasarkan hasil perencanaan
& analisa kebutuhan pada para perguruan tinggi, hingga pemberian fasilitas berupa
bimbingan, bantuan tenaga pengajar, hingga pembiayaan bagi perguruan tinggi yang
akan membentuk program studi baru terkait bidang dalam industri kreatif.

BAB 4: Rencana Pengembangan Penelitian dan Pengembangan Industri Kreatif Indonesia

85

4.5.2 Peningkatan Kualitas dan Kuantitas Orang Kreatif (Peneliti dan


Perekayasa) Terkait Bidang-bidang dalam Industri Kreatif
Sasaran ini kemudian dicapai melalui strategi:
1. Memfasilitasi pemberdayaan para peneliti dan perekayasa terkait bidang bidang dalam
industri kreatif dengan pemberian diklat dari sisi teknis dan metodologis kegiatan penelitian
dan pengembangan sesuai dengan kepakarannya. Adapun strategi ini memiliki rencana
aksi sebagai berikut:
a. Pemberdayaan para peneliti dan perekayasa melalui pemberian pelatihan dalam
peningkatan kompetensi (teknis metodologi, inovasi, berpikir kritis dan dinamis).Hal
ini kemudian dilakukan melalui, pembentukan suatu asosiasi peneliti dan perekayasa
khusus bidang bidang dalam industri kreatif yang berfungsi sebagai wadah pertukaran
informasi seputar perkembangan penelitian dan pengembangan dalam bidang industri
kreatif, serta penyakuran fasilitas pelatihan dengan tema teknis metodologi, cara
berpikir kritis serta pribadi dinamis melalui asosiasi tersebut.
2. Memfasilitasi pemberdayaan para peneliti dan perekayasa terkait bidang bidang dalam
industri kreatif dengan pemberian diklat dari sisi pengembangan kepribadian dinamis
serta kemampuan berpikir kritis dan inovatif. Strategi ini dapat dicapai bersamaan melalui
pelaksanaan rencana aksi yang dilakukan pada strategi sebelumnya diatas (poin pertama).
3. Mendorong para pelaku industri kreatif untuk dapat memanfaatkan ilmu pengetahuan
atau kepakarannya dalam kegiatan penelitian dan pengembangan.. Adapun strategi ini
memiliki rencana aksi sebagai berikut:
a. Pemberdayaan para pelaku industri kreatif untuk dapat melakukan kegiatan penelitian
dan pengembangan. Hal ini dapat dilakukan melalui, sosialisasi pada para pelaku
industri kreatif mengenai pentingnya kegiatan penelitian dan pengembangan
sebagai salah satu tonggak bagi perkembangan bisnis, serta memberikan pelatihan
mengenai tata cara melakukan penelitian dan pengembangan sederhana bagi para
pelaku industri kreatif.

4.5.3 Penciptaan Pusat Pengetahuan Sumber Daya Alam dan Budaya


Lokal yang Akurat dan Terpercaya serta Dapat Diakses Secara Mudah
dan Cepat.
Sasaran ini dapat dicapai melalui strategi:
1. Memfasilitasi kegiatan penelitian dan pengembangan yang bertujuan untuk mengeksplorasi
sumber daya budaya dan alam lokal di setiap daerah di Indonesia.
2. Melakukan sosialisasi atas adanya pusat pengetahuan sumber daya alam dan budaya
lokal yang telah terbentuk, serta sistematika aksesnya kepada para peneliti dan perekayasa
khususnya yang meneliti dalam bidang industri kreatif.
3. Membentuk suatu jaringan informasi yang kuat dan komprehensif yang menampung
seluruh informasi terbaru atas hasil penelitian dan pengembangan yang dilakukan terkait
dengan kekayaan sumber daya alam dan budaya lokal di Indonesia.
Adapun ketiga strategi ini dapat dijalankan melalui beberapa rencana aksi secara bersamaan seperti:
a. Pemberian fasilitas dalam mendukung kegiatan pemetaan sumber daya alam dan
budaya di setiap daerah di Indonesia. Hal ini dilakukan dengan, membentuk agenda
penelitian untuk memetakan sumber daya alam dan budaya di setiap daerah di Indonesia,

86

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

memberikan fasilitas berupa akses data serta pembiayaan bagi kegiatan penelitian dan
pengembangan yang bertujuan untuk mengeksplorasi sumber daya alam dan budaya di
Indonesia, mengumpulkan seluruh hasil penelitian yang meengeksplorasi sumber daya
alam dan budaya di Indonesia.
b. Pemberian fasilitas dalam pembentukan pusat informasi sumber daya alam dan budaya
di setiap daerah di Indonesia. Hal ini dilakukan dengan, menyediakan pembiayaan guna
membentuk pusat informasi sumber daya alam dan budaya di setiap daerah di Indonesia,
membentuk sistem atau standar yang nantinya akan diadopsi oleh seluruh pusat informasi
yang dibentuk, membentuk sistem atau standar yang nantinya akan diadopsi oleh seluruh
pusat informasi yang dibentuk.

4.5.4 Peningkatan Kegiatan Penelitian dan Pengembangan Terkait dengan


Bidang dalam Industri Kreatif yang Inovatif, Berdaya Saing dan Terintegrasi
Secara Berkelanjutan.
Sasaran ini dapat dicapai melalui strategi sebagai berikut:
1. Memfasilitasi para peneliti dan perekayasa dengan program program beasiswa, studi
banding, dan pelatihan untuk peningkatan kapasitas ilmu pengetahuan terkait bidang
bidang dalam industri kreatif yang dimiliki. Rencana aksi yang dapat dijalankan adalah,
selain memberikan pelatihan tetapi juga membuat suatu agenda konferensi sesuai dengan
masing masing bidang dalam industri kreatif yang melibatkan para ahli baik akademisi
maupun praktisi dan peneliti untuk saling bertukar pikiran & berbagi ilmu.
2. Memfasilitasi peningkatan keahlian dan motivasi dengan penyelenggaraan kompetisi
diantara para peneliti dan perekayasa terkait bidang bidang dalam industri kreatif yang
dapat merangsang tumbuhnya karya karya penelitian yang inovatif, berdaya saing dan
dapat diimplementasikan secara berkelanjutan. Rencana aksi yang dapat dilakukan adalah
dengan membuat suatu kompetisi khusus untuk bidang penelitian yang terkait dengan
industri kreatif secara nasional dan mudah diakses.
3. Mendorong terciptanya lembaga lembaga intermediator yang menjadi wadah bertemunya
peneliti dan perekayasa, pelaku industri, pemerintah dan komunitas serta akademisi. Hal
ini dapat dicapai melalui pemberian kemudahan akses bagi para lembaga intermediator.
Misalnya : memberikan kemudahan akses informasi terkait investor dari sisi pemerintahan
maupun bisnis.
4. Memberikan fasilitas dalam bentuk konferensi berkala, portal, maupun pembentukan
asosiasi sebagai ajang diseminasi hasil penelitian dan pengembangan yang dilakukan
terkait bidang bidang dalam industri kreatif yang mengundang pihak pemerintah, pelaku
industri, komunitas dan akademisi.

4.5.5 Peningkatan Keragaman dan Kualitas Hasil Penelitian dan


Pengembangan Terkait dengan Bidang Bidang dalam Industri Kreatif.
Sasaran ini dicapai melalui strategi:
1. Membuat agenda, Mendampingi dan memberikan dukungan sarana dan prasarana
terhadap kegiatan pengkajian hasil penelitian dan pengembangan terdahulu yang terkait
bidang bidang dalam industri kreatif secara berkala dengan mengundang pemerintah,
pelaku industri, komunitas terkait serta pihak pelaku penelitian.

BAB 4: Rencana Pengembangan Penelitian dan Pengembangan Industri Kreatif Indonesia

87

Adapun strategi ini dapat dicapai melalui dua rencana aksi misalnya melakukan kegiatan
pengkajian terhadap penelitian terdahulu terkait bidang dalam industri kreatif, serta
memberikan fasilitasi kegiatan eksplorasi kebutuhan akan penelitian dan pengembangan
terkait bidang dalam industri kreatif yang tepat guna. Hal ini dilakukan dengan membentuk
suatu agenda untuk mengkaji penelitian terdahulu terkait bidang bidang dalam industri
kreatif dengan tujuan untuk memetakan penelitian apa yang dibutuhkan selanjutnya,
menjalankan agenda tersebut serta melakukan sosialisasi atas hasil yang didapatkan sebagai
acuan penelitian lainnya, melakukan suatu penelitian yang melibatkan pemikiran seluruh
pemangku kepentingan yakni pemerintah, pelaku industri, komunitas dan akademisi dalam
mengeksplorasi kebutuhan penelitian dan pengembangan terkait bidang industri kreatif,
melakukan suatu penelitian yang melibatkan pemikiran seluruh pemangku kepentingan
yakni pemerintah, pelaku industri, komunitas dan akademisi dalam mengeksplorasi
kebutuhan penelitian dan pengembangan terkait bidang industri kreatif.

4.5.6 Peningkatan Apresiasi kepada Orang Kreatif (Peneliti & Perekayasa)


dalam Bidang Penelitian dan Pengembangan Industri Kreatif Indonesia
Baik di dalam dan Luar Negeri
Sasaran ini dicapai melalui beberapa strategi, yaitu:
1. Membentuk suatu ajang penghargaan prestisius untuk hasil karya penelitian dan
pengembangan khusus terkait bidang dalam industri kreatif secara berkala dan bertahap
(tingkat propinsi dan nasional). Strategi ini dapat dicapai melalui aksi, pembentukan
suatu pedoman standar bagi kegiatan penelitian dan pengembangan terkait bidang
dalam industri kreatif yang berprestasi (berimplikasi besar), pembentukan suatu ajang
penghargaan yang bergengsi dan bertaraf nasional dimana penghargaan hanya diberikan
pada penelitian yang memiliki implikasi besar pada bidang industri kreatif, pelaksanaan
sosialisasi atas ajang penghargaan kepada para peneliti dan perekayasa secara luas misalnya
melalui sorotan media.
2. Membentuk suatu dewan khusus yang dapat mengkaji kualitas dari penelitian dan
pengembangan terkait bidang bidang dalam industri kreatif. Strategi ini dapat dilakukan
dengan aksi, pembentukan dewan yang beranggotakan para ahli baik praktisi maupun
akademisi dalam bidang bidang terkait industri kreatif yang dapat mengkaji kualitas dari
kegiatan dan hasil penelitian dan pengembangan.
3. Mengkaji ulang dan melakukan peningkatan atas insentif finansial yang diberikan bagi
para peneliti dan perekayasa terkait bidang bidang dalam industri kreatif. Strategi ini
dapat dilakukan dengan aksi, melakukan pengkajian standar insentif finansial bagi para
peneliti yang melakukan penelitian dan pengembangan dalam bidang industri kreatif
yang berprestasi (memiliki implikasi yang besar), serta melakukan peningkatan sesuai
dengan hasil pengkajian serta melakukan sosialisasi.
4. Meningkatkan keberagaman insentif yang diberikan kepada para peneliti dan perekayasa
terkait bidang bidang dalam industri kreatif yang berprestasi (peningkatan keterampilan,
akses belajar ke kuar negeri, sertifikasi profesional). Strategi ini dapat dilakukan melalui
aksi pembentukan berbagai macam program insentif bagi para peneliti dan perekayasa
yang tidak hanya berbentuk finansial tetapi juga non finansial seperti memberikan akses
belajar keluar negeri, memberikan kesempatan pengembangan kemampuan teknis, dll.
5. Memberikan sosialisasi terhadap para pelaku industri kreatif akan pentingnya kegiatan
penelitian dan pengembangan untuk kemajuan bisnis yang dijalankan (cth: melalui seminar).

88

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

4.5.7 Peningkatan Ketersediaan Pembiayaan bagi Seluruh Kegiatan


Penelitian dan Pengembangan Terkait dengan Bidang Bidang dalam Industri
Kreatif yang Aksesibel, Transparan dan Memiliki Skema Pembiayaan yang
Baik (Besaran yang Sesuai, Sistem Tidak Rumit).
Sasaran ini dicapai melalui beberapa strategi, yaitu:
1. Meningkatkan mutu layanan lembaga lembaga pemerintah (Kementerian & BUMN)
dan nonpemerintah (asosiasi, korporasi, filantropi) yang telah memiliki skema hibah
pendanaan penelitian dan pengembangan khusus terkait bidang bidang dalam industri
kreatif agar dapat lebih transparan, aksesibel, adil dan sesuai secara besarannya. Hal
ini dapat dilakukan melalui aksi pendataan atas lembaga mana saja yang menyediakan
pembiayaan serta pengawasan proses pembiayaan tersebut, kemudian memberikan fasilitasi
lembaga intermediator yang telah ada sebagai jembatan antara peneliti dan perekayasa
dengan calon investor atau dengan para lembaga yang memiliki pembiayaan.
2. Mendorong peningkatan ragam dan jumlah kesempatan skema pembiayaan bagi kegiatan
penelitian dan pengembangan khusus terkait bidang bidang dalam industri kreatif baik
dari lembaga pemerintah maupun nonpemerintah. Hal ini dapat dilakukan dengan
rencana aksi pengkajian standar pembiayaan kegiatan penelitian dan pengembangan
dengan melibatkan para peneliti dan perekayasa terkait bidang dalam industri kreatif, serta
membentuk skema pembiayaan yang ideal berdasarkan hasil pengkajian yang kemudian
disosialisasikan kepada lembaga penyedia pembiayaan penelitian.
3. Membentuk suatu portal terpusat yang berisikan tentang informasi seluruh skema alternatif
pembiayaan yang disediakan dari lembaga pemerintah maupun nonpemerintah khusus
terkait bidang bidang dalam industri kreatif. Hal ini dapat dilakukan dengan rencana
aksi, melakukan pendataan atas kesempatan pembiayaan yang dapat didapatkan oleh
para peneliti dan perekayasa terkait bidang dalam industri kreatif, serta membentuk
suatu sistem yang dapat menampung seluruh informasi atas kesempatan pembiayaan
yang dapat didapatkan.

4.5.8 Peningkatan Jumlah Kegiatan Penelitian dan Pengembangan Terkait


Bidang Bidang dalam Industri Kreatif yang Sesuai dengan Kebutuhan
Pasar.
Sasaran ini dicapai melalui beberapa strategi, diantaranya:
1. Memfasilitasi kolaborasi antara para peneliti dan perekayasa terkait bidang bidang dalam
industri kreatif dengan para pelaku dalam industri kreatif untuk mendeteksi kebutuhan
akan penelitian dan pengembangan di masa kini dan masa mendatang melalui konferensi
atau diskusi berkala. Hal ini dilakukan dengan aksi pembentukan agenda pengkajian
berkala bersama peneliti, industri, pemerintah serta komunitas dalam mendeteksi kebutuhan
penelitian dan pengembangan terkait bidang industri kreatif, melalui pengkajian akan
kebutuhan penelitian dalam bidang industri kreatif dengan mengundang para peneliti,
pelaku industri dan pemerintah untuk memperkaya pemikiran.
2. Melakukan sosialisasi atas hasil eksplorasi kebutuhan penelitian dan pengembangan
kepada para peneliti dan perekayasa (cth : melalui seminar, sorotan media, maupun diskusi
tertutup dengan para peneliti dan perekayasa). Strategi ini dapat dilakukan dengan cara
membentuk program sayembara penelitian dengan topik sesuai hasil kajian berkala akan
kebutuhan penelitian dan pengembangan terkait bidang dalam industri kreatif.

BAB 4: Rencana Pengembangan Penelitian dan Pengembangan Industri Kreatif Indonesia

89

4.5.9 Penciptaan Regulasi yang Mendukung Penciptaan Iklim yang


Kondusif bagi Pengembangan Kegiatan Penelitian dan Pengembangan
Terkait dengan Bidang Bidang dalam Industri Kreatif Indonesia.
Sasaran ini dicapai melalui beberapa strategi, diantaranya:
1. Harmonisasi - regulasi terkait dengan kepengurusan HKI untuk karya karya hasil penelitian
dan pengembangan terkait bidang dalam industri kreatif.
2. Harmonisasi - regulasi terkait pembiayan kegiatan penelitian dan pengembangan dalam
bidang bidang industri kreatif.
3. Harmonisasi - regulasi dan pengawasan penerapan insentif pajak bagi kegiatan penelitian
dan pengembangan.
4. Harmonisasi - regulasi terkait penyelenggaraan pendidikan yang mementingkan sisi
penelitian dan pengembangan dalam bidang bidang industri kreatif.
Adapun seluruh strategi yang berkaitan dengan pencapaian penciptaan regulasi yang mendukung
bagi kegiatan penelitian dan pengembangan terkait bidang dalam industri kreatif dapat dijalankan
melalui rencana aksi sebagai berikut:
a. Pengkajian kembali regulasi terkait HKI yang memudahkan para peneliti dan perekayasa
terkait bidang dalam industri kreatif, melalui studi kebijakan terkait HKI bagi para
peneliti dan perekayasa khususnya terkait bidang dalam industri kreatif (studi kebijakan
meliputi analisa kebijakan saat ini, optimalisasi penyelenggaraan kebijakan serta harapan
kebijakan dimasa mendatang).
b. Pengkajian dan pembentukan regulasi terkait standar pembiayaan bagi kegiatan penelitian
dan pengembangan terkait bidang dalam industri kreatif, melalui studi kebijakan
terkait standar pembiayaan bagi para peneliti dan perekayasa khususnya terkait bidang
dalam industri kreatif (studi kebijakan meliputi analisa kebijakan saat ini, optimalisasi
penyelenggaraan kebijakan serta harapan kebijakan dimasa mendatang).
c. Pengkajian optimalisasi praktik kebijakan insentif pajak bagi kegiatan penelitian dan
pengembangan khususnya terkait bidang dalam industri kreatif, melalui studi kebijakan
terkait insentif pajak bagi para peneliti dan perekayasa khususnya terkait bidang
dalam industri kreatif (studi kebijakan meliputi analisa kebijakan saat ini, optimalisasi
penyelenggaraan kebijakan serta harapan kebijakan dimasa mendatang).

4.5.10 Peningkatan Partisipasi Aktif


dan Kolaborasi Pemangku
Kepentingan dalam Pengembangan Kegiatan Penelitian dan Pengembangan
Terkait Bidang-Bidang dalam Industri Kreatif secara Berkualitas dan
Berkelanjutan.
Sasaran ini dicapai melalui strategi:
1. Membentuk suatu wadah baik berupa konferensi, jejaring, komunitas, maupun lembaga
resmi dimana para akademisi, komunitas, pelaku industri, pemerintah serta peneliti dapat
berkolaborasi dalam memecahkan masalah yang terjadi di ranah industri kreatif melalui
kegiatan penelitian dan pengembangan.

90

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

4.5.11 Peningkatan Ketersediaan Teknologi Tepat Guna yang Mudah


Diakses oleh Para Orang Kreatif di Bidang Penelitian dan Pengembangan
Terkait Bidang Bidang dalam Industri Kreatif.
Sasaran ini dicapai melalui strategi:
1. Meningkatkan kerja sama dengan lembaga penelitian milik pemerintah dan nonpemerintah
agar para peneliti dan perekayasa yang akan meneliti bidang bidang terkait industri kreatif
dapat mengakses fasilitas laboratorium IPTEK yang dimiliki.
Strategi ini pada dasarnya dapat dicapai melalui :
a. Pembentukan kerjasama dengan lembaga penelitian lain dalam fasilitasi kebutuhan
teknologi para peneliti dan perekayasa terkait bidang dalam industri kreatif, dengan cara
melakukan pendataan akan fasilitas teknologi yang dimiliki oleh para lembaga penelitian
di Indonesia, kemudian melakukan pendataan akan fasilitas teknologi yang dimiliki oleh
para lembaga penelitian di Indonesia.
b. Pembentukan portal khusus yang dapat memuat dan menyalurkan kebutuhan fasilitas
teknologi yang dibutuhkan oleh peneliti dan perekayasa terkait bidang dalam industri
kreatif, dengan cara pembentukan sistem untuk wadah yang berbentuk portal yang dapat
menyalurkan kebutuhan fasilitas teknologi para peneliti dan perekayasa, serta sosialisasi
atas wadah yang telah terbentuk untuk kemudian dapat dimanfaatkan oleh para peneliti
dan perekayasa yang membutuhkan.

4.5.12 Peningkatan Ketersediaan Infrastruktur yang Memadai yang


Dibutuhkan oleh Para Orang Kreatif di Bidang Penelitian dan
Pengembangan Terkait Bidang Bidang dalam Industri Kreatif.
Sasaran ini dicapai melalui strategi :
1. Membentuk dan meningkatkan kerjasama dengan lembaga repository swasta dan publisher
internasional agar akses terhadap penelitian terdahulu dapat semakin meluas.
2. Meningkatkan sosialisasi cara akses terhadap penelitian terdahulu yang dimiliki oleh
lembaga lembaga penelitian milik pemerintah maupun non pemerintah yang dimiliki.

BAB 4: Rencana Pengembangan Penelitian dan Pengembangan Industri Kreatif Indonesia

91

92

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

BAB 5
Penutup

BAB 4: Rencana Pengembangan Penelitian dan Pengembangan Industri Kreatif Indonesia

93

5.1 Kesimpulan
Kegiatan penelitian dan pengembangan pada umumnya memiliki definisi tersendiri berdasarkan
pada Undang-Undang No. 18 Tahun 2012 mengenai Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan
dan Penerapan IPTEK. Namun, penelitian dan pengembangan yang termasuk sebagai salah
satu subsektor industri dalam keseluruhan industri kreatif merupakan kegiatan penelitian dan
pengembangan yang ditujukan untuk mendapatkan nilai ekonomi dan dapat memenuhi kebutuhan
pasar. Hal ini perlu dibedakan karena tidak semua kegiatan penelitian dan pengembangan
dilakukan demi alasan komersial atau bisnis.
Disisi lain, meningkatnya permintaan lingkungan bisnis akan penelitian dan pengembangan
baik dari sisi produk maupun pasar turut mendorong peningkatan jumlah dan keragaman para
pelaku kreatif dalam subsektor penelitian dan pengembangan. Misalnya, dahulu profesi peneliti
biasanya hanya diduduki oleh peneliti yang berada dalam lembaga penelitian milik pemerintah
namun saat ini banyak bermunculan para peneliti mandiri baik yang tergabung dalam suatu
perusahaan maupun organisasi hingga para peneliti individu yang menjadikan kegiatan penelitian
dan pengembangan sebagai kegiatan bisnis utama didalam usahanya. Para peneliti mandiri inilah
yang menjadi fokus utama sebagai pelaku didalam subsektor penelitian dan pengembangan di
industri kreatif Indonesia.
Terlepas dari fokus siapa saja para pelaku didalam subsektor ini, kegiatan apa saja yang termasuk
didalamnya pun menjadi pemikiran yang penting. Secara luas menurut LIPI, kegiatan penelitian
dan pengembangan dapat dilihat dari pembagian rumpun keilmuannya yang terdiri atas ilmu
sosial, humaniora, sains serta teknologi dan rekayasa. Sementara mengikuti acuan NSF atau
National Science Foundation di Amerika Serikat, serta pemikiran John Howkins dinyatakan
bahwa penelitian dan pengembangan dapat dibagi berdasarkan jenis kegiatannya yaitu penelitian
dasar, penelitian terapan, serta kegiatan pengembangan.
Namun, mengetahui definisi serta jenis kegiatan dan pemain tidaklah cukup untuk menggambarkan
fokus strategi yang dapat dilakukan untuk mengembangkan subsektor ini. Berdasarkan bagianbagian sebelumnya diketahui bahwa terdapat isu-isu utama yang perlu ditangani segera agar
daya saing kegiatan penelitian dan pengembangan sebagai subsektor dalam industri kreatif dapat
meningkat. Isu tersebut diantaranya adalah,kurangnya sinergi antara lembaga pendidikan dan
sektor industri untuk megakomodasi kebutuhan tenaga peneliti dan perekayasa, banyaknya
hasil penelitian dan pengembangan yang dihasilkan ternyata lebih dahulu diapresiasi oleh pihak
asing dibandingkan dengan pihak dalam negeri, masih ditemukannya ketidakselarasan antara
kegiatan penelitian dan pengembangan dengan kebutuhan pasar, hingga kurangnya kolaborasi
antara pihak intelektual, bisnis, pemerintah, dan komunitas dalam menyinergikan arah kegiatan
penelitian dan pengembangan. Maka, berdasarkan isu isu inilah kemudian dibentuk suatu
strategi yang disarankan untuk dilakukan sebagai upaya peningkatan daya saing penelitian dan
pengembangan dalam industri kreatif.
Penyusunan strategi serta rencana aksi tentu tidak begitu saja disusun tanpa mempertimbangkan
strategi serta rencana aksi dari Ekonomi Kreatif Nasional Tahun 2015-2019. Penyusunan strategi serta
rencana aksi inipun dimulai dari menurunkan visi misi pengembangan ekonomi kreatif menjadi visi
misi pengembangan subsektor penelitian dan pengembangan. Berdasarkan hasil penurunan, maka
pengembangan dari subsektor penelitian dan pengembangan memiliki visi untuk menghasilkan
Penelitian dan pengembangan industri kreatif Indonesia yang berbudaya inovatif, berdaya saing

94

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

dan terintegrasi secara berkelanjutan untuk memberi kontribusi ekonomi dan berperan dalam
peningkatan kualitas hidup masyarakat Indonesia. Visi ini kemudian diterjemahkan kedalam
tiga misi yang bermaksud untuk mendorong pemanfaatan serta pengembangan sumber daya lokal
yang inovatif, berdaya saing serta terintegrasi secara berkelanjutan, mendukung segala bentuk
pengembangan dan membuat kegiatan untuk mengembangkan penelitian dan pengembangan
yang berkaitan dengan bidang dalam industri kreatif, hingga mengembangkan lingkungan
kondusif yang dapat menyokong perkembangan penelitian dan pengembangan industri kreatif.
Penyusunan visi serta misi ini tentu memiliki tujuan yang digambarkan secara lebih taktis
agar dapat diukur keberhasilannya. Terdapat tujuh tujuan yang perlu dicapai dengan segera
diantaranya adalah :
1. Penciptaan sumber daya manusia kreatif di bidang penelitian dan pengembangan yang
memiliki inovasi serta daya saing
2. Perwujudan perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan sumber daya alam dan
sumber daya budaya bagi kegiatan penelitian dan pengembangan industri kreatif di
Indonesia secara berkelanjutan
3. Penciptaan kegiatan penelitian dan pengembangan industri kreatif yang inovatif,,,, berdaya
saing, dan terintegrasi secara berkelanjutan
4. Penciptaan pembiayaan kegiatan penelitian dan pengembangan terkait bidang bidang
dalam industri kreatif yang sesuai, mudah diakses, dan kompetitif.
5. Penciptaan kegiatan penelitian dan pengembangan terkait bidang-bidang dalam industri
kreatif yang sesuai dengan kebutuhan pasar
6. Penciptaan kelembagaan yang kondusif yang mendukung pengembangan kegiatan
penelitian dan pengembangan terkait bidang bidang dalam industri kreatif di Indonesia
7. Penyediaan infrastruktur dan teknologi yang tepat guna serta mudah diakses, untuk
mendukung kegiatan penelitian dan pengembangan terkait bidang-bidang dalam industri
kreatif Indonesia
Tujuan tujuan ini kemudian diuraikan kembali kedalam 12 sasaran sebagai tolak ukur keberhasilan
secara garis besar atas perwujudan visi misi serta pelaksanaan strategi. Disisi lain, sebelum menyusun
strategi pengembangan, tujuan-tujuan ini mejadi acuan dalam pengembangan arah kebijakan.
Adapun penyusunan arah kebijakan ini dilakukan untuk mendorong pembentukan kebijakan
yang dapat mendukung pengembangan subsektor penelitian dan pengembangan dalam industri
kreatif. Berdasarkan hasil analisa atas tujuan maka dibuatlah arah kebijakan atas setiap tujuan
yang dibentuk. Misalnya, dimulai dari mendorong peningkatan kualitas lembaga pendidikan
tinggi formal terkait dengan bidang dalam industri kreatif hingga meningkatkan keberadaan dan
aksesibilitas sentra IPTEK sebagai pendukung kegiatan penelitian dan pengembangan. Seluruh
arah kebijakan ini disusun agar kegiatan penelitian dan pengembangan tidak lagi terbentur oleh
permasalahan kebijakan yang telah dibentuk.
Setelah seluruh komponen pembentuk strategi pengembangan ini tersusun, maka disusunlah
suatu strategi dan rencana aksi pengembangan untuk subsektor penelitian dan pengembangan
industri kreatif. Strategi ini diturunkan berdasarkan 12 sasaran yang telah dibentuk sebelumnya,
salah satu diantaranya adalah memfasilitasi kemampuan pengajar di lembaga pendidikan tinggi
formal sebagai bentuk strategi untuk mencapai peningkatan kualitas dan kuantitas pedidikan
yang mendukung penciptaan orang kreatif. Adapun untuk lima tahun kedepan, strategi yang

BAB 5: Penutup

95

disusun lebih fokus terhadap peran penelitian dan pengembangan dalam bidang industri
kreatif. Hal ini dilakukan menilai dibutuhkannya secara segera dan merata kegiatan penelitian
dan pengembangan industri kreatif yang tepat guna sehingga dapat mendukung percepatan
perkembangan industri kreatif di Indonesia. Inilah mengapa, strategi ini tentu dapat dijadikan
sebagai acuan bagi para pemangku kepentingan selanjutnya dalam mengembangkan penelitian
dan pengembangan baik sebagai subsektor maupun sebagai kegiatan yang dapat mendukung
perkembangan industri kreatif.

5.2 Saran
Dokumen perencaaan ini diharapkan dapat menjadi panduan untuk pengembangan industri
kreatif sebagai penguatan ekonomi kreatif di Indonesia. Adapun pada masa penyusunannya
masih terdapat beberapa kekurangan baik dari sisi materi maupun metodologi yang dilakukan.
Maka, dalam penyusunan dokumen berikutnya diharapkan dapat dilakukan penambahan data
dan penguatan metode seperti sebagai berikut :

Penambahan literatur sebagai acuan penulisan

Penambahan narasumber ahli

Penguatan metode melalui pengolahan data kualitatif atas hasil wawancara dan diskusi

Disisi lain, perencanaan ini merupakan langkah awal untuk mengembangkan ekonomi kreatif
Indonesia untuk mensinergikan seluruh sumber daya untuk mencapai visi, misi, tujuan, dan sasaran
yang sama sehingga diperoleh hasil yang optimal bagi masyarakat. Pelaksanaan, pemantauan
dan evaluasi dari pelaksanaan perencanaan yang dibuat merupakan salah satu tantangan di
masa mendatang. Adapun untuk bidang penelitian dan pengembangan, isu utama yang perlu
diperhatikan adalah perlu ditingkatkannya sinergi antara para peneliti, pemerintah dan industri.
Hal ini perlu segera dilakukan agar kegiatan penelitian dan pengembangan tidak lagi dipandang
sebagai menara gading yang seringkali tidak bertemu dengan kebutuhan di industri. Untuk
mencapai sinergi ini maka diperlukan lebih banyak ruang dan media bagi para peneliti serta
pihak industri untuk dapat berkomunikasi mengenai kebutuhan penelitian dan pengembangan.
Dalam hal ini, peran pemerintah dibutuhkan sebagai fasilitator serta pengatur kebijakan yang
dapat mendukung kegiatan peningkatan sinergi penelitian dan pengembangan.

96

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

98

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

LAMPIRAN

BAB
4:Dalp
sin
siei,rencanaam
niierupakaalnngkaahwuanltum
kengembangkaenkonom
kreinIadftionesuaintum
kensniergkiasneu
lrushumbedrayuantum
kencap
m
va
stu
i,iusji,iadna,snasaraynansgamsaehniggdapieroelhaysalinogpm
ti baalm
giasyarakPaet.alksanaapne,mantauad
naenvau
ladsa
pireialksanaap
nerencanaaynand
gbium
aterupakasnaalshata
untangad
n

99

100

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

ARAH KEBIJAKAN

STRATEGI

1.1

Meningkatnya kualitas & kuantitas


pendidikan yang mendukung penciptaan
orang kreatif (peneliti dan perekayasa)
terkait bidang industri kreatif secara
berkelanjutan
Meningkatkan kualitas lembaga
pendidikan tinggi formal terkait
dengan bidang bidang dalam
industri kreatif yang sudah ada
untuk dapat mendukung terciptanya
orang kreatif di bidang penelitian
dan pengembangan terkait industri
kreatif

Memberikan dukungan
pengembangan dan fasilitas
terhadap penciptaan lembaga
pendidikan tinggi formal baru yang
dapat menghasilkan para peneliti dan
perekayasa dalam bidang industri
kreatif

Memberikan program fasilitasi pada lembaga pendidikan tinggi


formal yang akan membangun program studi baru terkait
bidang bidang dalam industri kreatif baik dalam bentuk bantuan
akses pembiayaan, tenaga pengajar, dan pendampingan
pembentukan kurikulum

Mendorong besaran beban kegiatan penelitian dan


pengembangan pada program studi yang terkait dengan
bidang bidang dalam industri kreatif, melalui pengkajian dan
pengembangan kurikulum yang meningkatkan intensitas kajian
ilmiah.

Mendorong terbentuknya program studi terkait dengan bidang


bidang dalam industri kreatif di setiap lembaga pendidikan
tinggi formal di Indonesia yang tidak hanya memberikan
materi ajar keterampilan tetapi juga peningkatan kemampuan
berpikir kritis yang dituangkan dalam kegiatan penelitian dan
pengembangan

Mengembangkan kerjasama kegiatan penelitian dan


pengembangan antara lembaga pendidikan tinggi formal dalam
negeri dan luar negeri khusus dalam ranah terkait bidang
bidang industri kreatif

Memfasilitasi kemampuan pengajar di lembaga pendidikan


tinggi formal dalam melaksanakan kegiatan penelitian dan
pengembangan melalui pelatihan tentang teknis metodologis
kegiatan penelitian dan pengembangan serta cara berpikir
kritis dalam bidang terkait industri kreatif

1. Penciptaan sumber daya manusia kreatif di bidang penelitian dan pengembangan yang memiliki inovasi serta daya saing

MISI 1: Mengoptimalkan pemanfaatan dan mengembangkan sumber daya lokal yang inovatif, berdaya saing, dan terintegrasi secara berkelanjutan

MISI/TUJUAN/SASARAN

MATRIKS TUJUAN, SASARAN, ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN

LAMPIRAN

101

Meningkatnya kualitas & kuantitas orang


kreatif (peneliti dan perekayasa) terkait
bidang bidang dalam industri kreatif.
a

Menciptakan para peneliti dan


perekayasa terkait bidang bidang
dalam industri kreatif yang
berkuallitas dinamis dan inovatif

ARAH KEBIJAKAN

Memfasilitasi pemberdayaan para peneliti dan perekayasa


terkait bidang bidang dalam industri kreatif dengan pemberian
diklat dari sisi teknis dan metodologis kegiatan penelitian dan
pengembangan sesuai dengan kepakarannya
Memfasilitasi pemberdayaan para peneliti dan perekayasa
terkait bidang bidang dalam industri kreatif dengan pemberian
diklat dari sisi pengembangan kepribadian dinamis serta
kemampuan berpikir kritis dan inovatif
Mendorong para pelaku industri kreatif untuk dapat
memanfaatkan ilmu pengetahuan atau kepakarannya dalam
kegiatan penelitian dan pengembangan

STRATEGI

2.1

Terciptanya pusat pengetahuan sumber


daya alam dan budaya lokal yang akurat
dan terpercaya serta dapat diakses
secara mudah dan cepat
a

Mengembangkan pusat pengetahuan


sumber daya alam dan budaya
lokal yang akurat terpercaya serta
mudah diakses secara cepat oleh
para peneliti dan perekayasa terkait
bidang bidang dalam industri kreatif

Memfasilitasi kegiatan penelitian dan pengembangan yang


bertujuan untuk mengeksplorasi sumber daya budaya dan alam
lokal di setiap daerah di Indonesia
Melakukan sosialisasi atas adanya pusat pengetahuan sumber
daya alam dan budaya lokal yang telah terbentuk, serta
sistematika aksesnya kepada para peneliti dan perekayasa
khususnya yang meneliti dalam bidang industri kreatif
Membentuk suatu jaringan informasi yang kuat dan
komprehensif yang menampung seluruh informasi terbaru
atas hasil penelitian dan pengembangan yang dilakukan terkait
dengan kekayaan sumber daya alam dan budaya lokal di
Indonesia

2. Perwujudan perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya budaya bagi kegiatan penelitian dan pengembangan industri
kreatif di Indonesia secara berkelanjutan

1.2

MISI/TUJUAN/SASARAN

102

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

ARAH KEBIJAKAN

STRATEGI

Meningkatnya kegiatan penelitian dan


pengembangan terkait dengan bidang
bidang dalam industri kreatif yang
inovatif, berdaya saing dan terintegrasi
secara berkelanjutan

Meningkatnya keragaman dan kualitas


hasil penelitian dan pengembangan
terkait dengan bidang bidang dalam
industri kreatif

3.1

3.2

Memfasilitasi kegiatan pengkajian


hasil karya penelitian dan
pengembangan yang sudah ada
terkait bidang bidang dalam industri
kreatif
Mengembangkan kegiatan eksplorasi
terhadap kebutuhan penelitian dan
pengembangan yang tepat guna

Memfasilitasi kolaborasi serta


penciptaan jejaring diantara para
peneliti dan perekayasa terkait
bidang bidang dalam industri
kreatif dengan para pelaku industri,
pemerintah, komunitas hingga
akademisi

Memfasilitasi peningkatan keahlian


dan pengetahuan para peneliti dan
perekayasa terkait bidang bidang
dalam industri kreatif

Membuat agenda, Mendampingi dan memberikan dukungan


sarana dan prasarana terhadap kegiatan pengkajian hasil
penelitian dan pengembangan terdahulu yang terkait
bidang bidang dalam industri kreatif secara berkala dengan
mengundang pemerintah, pelaku industri, komunitas terkait
serta pihak pelaku penelitian

Memberikan fasilitas dalam bentuk konferensi berkala, portal,


maupun pembentukan asosiasi sebagai ajang diseminasi
hasil penelitian dan pengembangan yang dilakukan terkait
bidang bidang dalam industri kreatif yang mengundang pihak
pemerintah, pelaku industri, komunitas dan akademisi

Mendorong terciptanya lembaga lembaga intermediator yang


menjadi wadah bertemunya peneliti dan perekayasa, pelaku
industri, pemerintah dan komunitas serta akademisi

Memfasilitasi peningkatan keahlian dan motivasi dengan


penyelenggaraan kompetisi diantara para peneliti dan
perekayasa terkait bidang bidang dalam industri kreatif yang
dapat merangsang tumbuhnya karya karya penelitian yang
inovatif, berdaya saing dan dapat diimplementasikan secara
berkelanjutan

Memfasilitasi para peneliti dan perekayasa dengan program


program beasiswa, studi banding, dan pelatihan untuk
peningkatan kapasitas ilmu pengetahuan terkait bidang bidang
dalam industri kreatif yang dimiliki

3. Penciptaan kegiatan penelitian dan pengembangan industri kreatif yang inovatif , berdaya saing, dan terintegrasi secara berkelanjutan

MISI 2: Mengembangkan kegiatan penelitian dan pengembangan industri kreatif yang inovatif, berdaya saing, dan terintegrasi secara berkelanjutan

MISI/TUJUAN/SASARAN

LAMPIRAN

103

3.3

Meningkatnya apresiasi kepada orang


kreatif (peneliti & perekayasa) dalam
bidang penelitian dan pengembangan
industri kreatif Indonesia baik di dalam
dan luar negeri

MISI/TUJUAN/SASARAN
Mengembangkan kegiatan pemberian
penghargaan yang prestisius
untuk hasil karya penelitian dan
pengembangan terkait dengan
bidang bidang dalam industri kreatif

Meningkatkan apresiasi berbentuk


insentif bagi profesi peneliti dan
perekayasa terkait bidang bidang
dalam industri kreatif

Meningkatkan apresiasi dalam


bentuk literasi pelaku industri akan
urgensi kegiatan penelitian dan
pengembangan

ARAH KEBIJAKAN

Memberikan sosialisasi terhadap para pelaku industri kreatif


akan pentingnya kegiatan penelitian dan pengembangan untuk
kemajuan bisnis yang dijalankan (cth: melalui seminar) .

Meningkatkan keberagaman insentif yang diberikan kepada


para peneliti dan perekayasa terkait bidang bidang dalam
industri kreatif yang berprestasi (peningkatan keterampilan,
akses belajar ke kuar negeri, sertifikasi profesional)

Mengkaji ulang dan melakukan peningkatan atas insentif


finansial yang diberikan bagi para peneliti dan perekayasa
terkait bidang bidang dalam industri kreatif

Membentuk suatu dewan khusus yang dapat mengkaji kualitas


dari penelitian dan pengembangan terkait bidang bidang dalam
industri kreatif

Membentuk suatu ajang penghargaan prestisius untuk hasil


karya penelitian dan pengembangan khusus terkait bidang
dalam industri kreatif secara berkala dan bertahap (tingkat
propinsi dan nasional).

STRATEGI

104

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

ARAH KEBIJAKAN

STRATEGI

Meningkatnya ketersediaan
pembiayaan bagi seluruh kegiatan
penelitian dan pengembangan terkait
dengan bidang bidang dalam industri
kreatif yang aksesibel, transparan dan
memiliki skema pembiayaan yang baik
(besaran yang sesuai, sistem tidak
rumit)
Menciptakan dan mengembangkan
wadah (baik berbentuk lembaga
baru,sentra, atau suatu jejaring) yang
dapat menyediakan pembiayaan
bagi kegiatan penelitian dan
pengembangan terkait bidang bidang
dalam industri kreatif yang cepat
dengan skema yang baik (sesuai dan
tidak rumit)

Memperkuat hubungan dan akses


informasi antara para peneliti dan
perekayasa terkait bidang bidang
dalam industri kreatif dengan
lembaga keuangan baik pemerintah
maupun non pemerintah

Membentuk suatu portal terpusat yang berisikan tentang


informasi seluruh skema alternatif pembiayaan yang
disediakan dari lembaga pemerintah maupun nonpemerintah
khusus terkait bidang bidang dalam industri kreatif

Mendorong peningkatan ragam dan jumlah kesempatan skema


pembiayaan bagi kegiatan penelitian dan pengembangan
khusus terkait bidang bidang dalam industri kreatif baik dari
lembaga pemerintah maupun nonpemerintah

Meningkatkan mutu layanan lembaga lembaga pemerintah


(Kementerian & BUMN) dan nonpemerintah (asosiasi, korporasi,
filantropi) yang telah memiliki skema hibah pendanaan
penelitian dan pengembangan khusus terkait bidang bidang
dalam industri kreatif agar dapat lebih transparan, aksesibel,
adil dan sesuai secara besarannya.

5.1

Meningkatnya jumlah kegiatan


penelitian dan pengembangan terkait
bidang bidang dalam industri kreatif
yang sesuai dengan kebutuhan pasar
a

Mengembangkan agenda penelitian


dan pengembangan yang dihasilkan
berdasarkan eksplorasi mendalam
pada para pelaku didalam industri
kreatif

Memfasilitasi kolaborasi antara para peneliti dan perekayasa


terkait bidang bidang dalam industri kreatif dengan para
pelaku dalam industri kreatif untuk mendeteksi kebutuhan
akan penelitian dan pengembangan di masa kini dan masa
mendatang melalui konferensi atau diskusi berkala.
Melakukan sosialisasi atas hasil eksplorasi kebutuhan
penelitian dan pengembangan kepada para peneliti dan
perekayasa (cth : melalui seminar, sorotan media, maupun
diskusi tertutup dengan para peneliti dan perekayasa)

5. Penciptaan kegiatan penelitian dan pengembangan terkait bidang bidang dalam industri kreatif yang sesuai dengan kebutuhan pasar

4.1

4. Penciptaan pembiayaan bagi kegiatan penelitian dan pengembangan terkait bidang bidang dalam industri kreatif yang sesuai, mudah diakses, dan kompetitif

MISI 3: Mengembangkan lingkungan yang kondusif dalam membangun kegiatan penelitian dan pengembangan industri kreatif yang berdaya saing, inovatif dan
terintegrasi secara berkelanjutan dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan

MISI/TUJUAN/SASARAN

LAMPIRAN

105

ARAH KEBIJAKAN

STRATEGI

Terciptanya regulasi yang mendukung


penciptaan iklim yang kondusif bagi
pengembangan kegiatan penelitian dan
pengembangan terkait dengan bidang
bidang dalam industri kreatif indonesia

Meningkatnya partisipasi aktif dan


kolaborasi pemangku kepentingan
dalam pengembangan kegiatan
penelitian dan pengembangan terkait
bidang bidang dalam industri kreatif
secara berkualitas dan berkelanjutan

6.1

6.2
Meningkatkan sinergi, dan kolaborasi
antara akademisi, komunitas, bisnis
dan para peneliti dan perekayasa
terkait bidang bidang dalam industri
kreatif
Mengembangkan dan memfasilitasi
segala bentuk wadah yang dapat
mengembangkan kegiatan penelitian
dan pengembangan terkait bidang
bidang dalam industri kreatif

Harmonisasi - regulasi terkait


lingkungan pendukung

Harmonisasi - regulasi terkait


penciptaan nilai kreatif (creative value
chain)

Membentuk suatu wadah baik berupa konferensi, jejaring,


komunitas, maupun lembaga resmi dimana para akademisi,
komunitas, pelaku industri, pemerintah serta peneliti dapat
berkolaborasi dalam memecahkan masalah yang terjadi
di ranah industri kreatif melalui kegiatan penelitian dan
pengembangan

Harmonisasi - regulasi terkait penyelenggaraan pendidikan


yang mementingkan sisi penelitian dan pengembangan dalam
bidang bidang industri kreatif

Harmonisasi - regulasi dan pengawasan penerapan insentif


pajak bagi kegiatan penelitian dan pengembangan

Harmonisasi - regulasi terkait pembiayan kegiatan penelitian


dan pengembangan dalam bidang bidang industri kreatif

2
3

Harmonisasi - regulasi terkait dengan kepengurusan HKI untuk


karya karya hasil penelitian dan pengembangan terkait bidang
dalam industri kreatif

6. Penciptaan kelembagaan yang kondusif yang mendukung pengembangan kegiatan penelitian dan pengembangan terkait bidang bidang dalam Industri Kreatif di
Indonesia

MISI/TUJUAN/SASARAN

106

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

ARAH KEBIJAKAN

STRATEGI

Meningkatnya ketersediaan teknologi


tepat guna yang mudah diakses oleh
para orang kreatif di bidang penelitian
dan pengembangan terkait bidang
bidang dalam industri kreatif

Meningkatnya ketersediaan infrastruktur


yang memadai yang dibutuhkan oleh
para orang kreatif di bidang penelitian
dan pengembangan terkait bidang
bidang dalam industri kreatif

7.1

7.2

Mengembangkan sentra IPTEK untuk


mendukung kegiatan penelitian dan
pengembangan

Meningkatkan kemudahan akses


terhadap data dan penelitian
terdahulu terkait kegiatan penelitian
dan pengembangan dalam bidang
bidang industri kreatif

Meningkatkan sosialisasi cara akses terhadap penelitian


terdahulu yang dimiliki oleh lembaga lembaga penelitian milik
pemerintah maupun non pemerintah yang dimiliki.

Membentuk dan meningkatkan kerjasama dengan lembaga


repository swasta dan publisher internasional agar akses
terhadap penelitian terdahulu dapat semakin meluas.

Meningkatkan kerja sama dengan lembaga penelitian milik


pemerintah dan nonpemerintah
agar para peneliti dan perekayasa yang akan meneliti bidang
bidang terkait industri kreatif dapat mengakses fasilitas
laboratorium IPTEK yang dimiliki.

7. Penyediaan infrastruktur dan teknologi yang tepat guna serta mudah diakses untuk mendukung kegiatan penelitian dan pengembangan terkait bidang bidang
industri kreatif di Indonesia

MISI/TUJUAN/SASARAN

LAMPIRAN

107

INDIKASI STRATEGIS

Meningkatnya kualitas & kuantitas tenaga kerja


kreatif (orang kreatif) di bidang penelitian dan
pengembangan terkait bidang bidang dalam
industri kreatif.

1.2

Adanya perguruan tinggi yang memanfaatkan program fasilitasi yang dibentuk untuk meningkatkan
jumlah ketersediaan program studi terkait bidang dalam industri kreatif

Munculnya kegiatan penelitian dan pengembangan yang dilakukan oleh para pelaku industri kreatif

Terbentuknya program studi yang terkait dengan bidang bidang dalam industri kreatif di tiap PT di
Indonesia.

Terselenggaranya kurikulum pada bidang keilmuan terkait dengan industri kreatif yang menyertakan
penelitian dan pengembangan sebagai salah satu unsur penting dalam materi pembelajaran

Terselenggaranya program pelatihan yang diselenggarakan bagi para peneliti dan perekayasa terkait
bidang dalam industri kreatif

Terselenggaranya kerjasama antara PTN dan PTS dalam negeri dengan PT asing dalam
melaksanakan kegiatan penelitian dan pengembangan yang terkait dengan bidang bidang dalam
industri kreatif

Terselenggaranya program pelatihan yang diselenggarakan bagi para tenaga pengajar terkait bidang
dalam industri kreatif di setiap Perguruan Tinggi di Indonesia

2.1

Terciptanya pusat pengetahuan sumber daya alam


dan budaya lokal yang akurat dan terpercaya
serta dapat diakses secara mudah dan cepat

Munculnya hasil hasil penelitian yang mengeksplorasi kekayaan sumber daya alam dan budaya lokal
Indonesia
Terbentuknya suatu pusat informasi yang menampung seluruh informasi mengenai kekayaan sumber
daya alam dan budaya lokal di tiap propinsi di Indonesia
Jumlah pemanfaatan pusat informasi

a
b
c

2. Perwujudan perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya budaya bagi kegiatan penelitian dan pengembangan industri
kreatif di Indonesia secara berkelanjutan

Meningkatnya kualitas & kuantitas pendidikan


yang mendukung penciptaan orang kreatif di
bidang penelitian dan pengembangan terkait
bidang industri kreatif secara berkelanjutan

1.1

1. Penciptaan sumber daya manusia kreatif di bidang penelitian dan pengembangan yang memiliki inovasi serta daya saing

MISI 1: Mengoptimalkan pemanfaatan dan mengembangkan sumber daya lokal yang inovatif, berdaya saing, dan terintegrasi secara berkelanjutan

MISI/TUJUAN/SASARAN

INDIKASI STRATEGIS PENGEMBANGAN SUBSEKTOR PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN

108

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

INDIKASI STRATEGIS

Meningkatnya kegiatan penelitian dan


pengembangan terkait dengan bidang bidang
dalam industri kreatif yang inovatif, berdaya saing
dan terintegrasi secara berkelanjutan

Meningkatnya keragaman dan kualitas hasil


penelitian dan pengembangan terkait dengan
bidang bidang dalam industri kreatif

Meningkatnya apresiasi kepada orang kreatif


(peneliti & perekayasa) dalam bidang penelitian
dan pengembangan industri kreatif Indonesia baik
di dalam dan luar negeri

3.1

3.2

3.3

Terbentuknya ajang penghargaan bergengsi atau prestisius pada tingkat nasional khusus untuk
penelitian yang berkaitan dengan bidang dalam industri kreatif
Terbentuknya dewan khusus penilaian dan pengkajian kegiatan penelitian dan pengembangan terkait
bidang dalam industri kreatif
Meningkatnya jumlah insentif finansial yang diberikan pada peneliti dan perekayasa terkait bidang
dalam industri kreatif
Adanya program insentif selain insentif keuangan bagi para peneliti dan perekayasa yang berprestasi
Meningkatnya jumlah peneliti dan perekayasa terkait bidang dalam industri kreatif yang menerima
insentif selain insentif keuangan
Meningkatnya usaha kreatif yang menggunakan penelitian dan pengembangan sebagai langkah
inovasi bisnisnya

b
c
d
e
f

Jumlah penelitian yang sesuai dengan roadmap yang telah disusun atas hasil kajian

c
a

Adanya roadmap penelitian yang khusus berkaitan dengan bidang dalam industri kreatif

Meningkatnya jumlah dan penyebaran lembaga intermediator di Indonesia

Meningkatnya jumlah peserta dari kompetisi penelitian dan pengembangan yang memiliki kegiatan
penelitian khusus terkait bidang dalam industri kreatif

Terselenggaranya kegiatan pengkajian mengenai penelitian terdahulu yang terkait dengan bidang
dalam industri kreatif

Terselenggaranya kompetisi penelitian dan pengembangan yang diadakan khusus terkait bidang
bidang dalam industri kreatif

Peningkatan jumlah peneliti dan perekayasa terkait bidang dalam industri kreatif yang mendapatkan
program beasiswa, studi banding, hingga pelatihan

3. Penciptaan kegiatan penelitian dan pengembangan industri kreatif yang inovatif , berdaya saing, dan terintegrasi secara berkelanjutan

MISI 2: Mengembangkan kegiatan penelitian dan pengembangan industri kreatif yang inovatif, berdaya saing, dan terintegrasi secara berkelanjutan

MISI/TUJUAN/SASARAN

LAMPIRAN

109

INDIKASI STRATEGIS

Meningkatnya ketersediaan pembiayaan bagi


seluruh kegiatan penelitian dan pengembangan
terkait dengan bidang bidang dalam industri
kreatif yang aksesibel, transparan dan memiliki
skema pembiayaan yang baik (besaran yang
sesuai, sistem tidak rumit)

Meningkatnya jumlah peneliti dan perekayasa yang mendapatkan bantuan dana dari para penghibah
dana yang terlah ada
Meningkatnya jumlah dan ragam kesempatan pembiayaan bagi kegiatan penelitian dan
pengembangan khusus bidang terkait industri kreatif
Adanya suatu portal yang menampung informasi seluruh kesempatan pembiayaan bagi kegiatan
penelitian dan pengembangan yang terkait dengan bidang dalam industri kreatif

a
b
c

Meningkatnya jumlah kegiatan penelitian dan


pengembangan terkait bidang bidang dalam
industri kreatif yang sesuai dengan kebutuhan
pasar
a

Peningkatan jumlah produk kreatif yang dihasilkan melalui kegiatan penelitian dan pengembangan

6.1

Terciptanya regulasi yang mendukung penciptaan


iklim yang kondusif bagi pengembangan kegiatan
penelitian dan pengembangan terkait dengan
bidang bidang dalam industri kreatif indonesia

Naskah regulasi terkait HKI yang memudahkan kepengurusan HKI bagi hasil penelitian dan
pengembangan terkait bidang industri kreatif
Terbentuknya standar pembiayaan untuk kegiatan penelitian dan pengembangan terkait bidang dalam
industri kreatif
Peningkatan jumlah peneliti dan perekayasa yang mendapatkan insentif pajak atas kegiatan penelitian
dan pengembanganya
Jumlah program studi terkait bidang dalam industri kreatif yang menyertakan kegiatan penelitian dan
pengembangan sebagai persyaratan kelulusan

a
b
c
d

6. Penciptaan kelembagaan yang kondusif yang mendukung pengembangan kegiatan penelitian dan pengembangan terkait bidang bidang dalam Industri Kreatif di
Indonesia

5.1

5. Penciptaan kegiatan penelitian dan pengembangan terkait bidang bidang dalam industri kreatif yang sesuai dengan kebutuhan pasar

4.1

4. Penciptaan pembiayaan bagi kegiatan penelitian dan pengembangan terkait bidang bidang dalam industri kreatif yang sesuai, mudah diakses, dan kompetitif

MISI 3: Mengembangkan lingkungan yang kondusif dalam membangun kegiatan penelitian dan pengembangan industri kreatif yang berdaya saing, inovatif dan
terintegrasi secara berkelanjutan dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan

MISI/TUJUAN/SASARAN

110

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

Meningkatnya partisipasi aktif dan kolaborasi


pemangku kepentingan dalam pengembangan
kegiatan penelitian dan pengembangan terkait
bidang bidang dalam industri kreatif secara
berkualitas dan berkelanjutan
Peningkatan jumlah kerjasama kegiatan penelitian dan pengembangan

Peningkatan jumlah kegiatan penelitian dan pengembangan yang dapat memiliki implikasi besar
terhadap industri

a
b

INDIKASI STRATEGIS

Meningkatnya ketersediaan teknologi tepat guna


yang mudah diakses oleh para orang kreatif di
bidang penelitian dan pengembangan terkait
bidang bidang dalam industri kreatif

Meningkatnya ketersediaan infrastruktur yang


memadai yang dibutuhkan oleh para orang kreatif
di bidang penelitian dan pengembangan terkait
bidang bidang dalam industri kreatif

7.1

7.2

Peningkatan jumlah dan keragaman langganan jurnal ilmiah terkait bidang bidang dalam industri
kreatif

Terbentuknya suatu portal yang dapat menyalurkan kebutuhan fasilitas teknologi dari para peneliti
dan perekayasa terkait bidang industri kreatif

b
a

Peningkatan pemanfaatan laboratorium IPTEK yang ada oleh para peneliti dan perekayasa terkait
bidang industri kreatif

7. Penyediaan infrastruktur dan teknologi yang tepat guna serta mudah diakses untuk mendukung kegiatan penelitian dan pengembangan terkait bidang bidang
industri kreatif di Indonesia

6.2

MISI/TUJUAN/SASARAN

LAMPIRAN

111

DESKRIPSI RENCANA AKSI

PENANGGUNGJAWAB
2015

2016

2017

TAHUN
2018

Pengkajian kurikulum pada


setiap program studi yang
berkaitan dengan bidang bidang
dalam industri kreatif

Pengembangan kurikulum yang


memasukan unsur penelitian
dan pengembangan pada setiap
program studi yang berkaitan
dengan bidang bidang dalam
industri kreatif

Peningkatan ketersediaan
program studi yang berkaitan
dengan bidang bidang dalam
industri kreatif di perguruan
tinggi

Melakukan analisa kebutuhan


terhadap para peneliti dan perekayasa
terkait bidang dalam industri kreatif
berdasarkan jumlah, keilmuan program
studi, hingga lokasi

Sosialisasi standar komposisi


kurikulum pada perguruan tinggi
yang memiliki program studi terkait
bidang bidang dalam industri kreatif di
Indonesia

Melakukan penyusunan kurikulum


bagi setiap program studi yang terkait
dengan bidang bidang dalam industri
kreatif, dengan mempertimbangkan
hasil pengkajian kurikulum yang telah
dilaksanakan sebelumnya.

Melakukan analisa atas hasil pemetaan


dengan mempertimbangkan kebutuhan
beban penelitian dan pengembangan
dalam setiap program studi

Melakukan pemetaan atas kurikulum


pada program studi yang terkait bidang
dalam industri kreatif

Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan, PTN &
PTS di Indonesia

Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan, PTN &
PTS di Indonesia

Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan, PTN &
PTS di Indonesia

Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan, PTN &
PTS di Indonesia

Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan, PTN &
PTS di Indonesia
X

2019

SASARAN 1: Meningkatnya kualitas & kuantitas pendidikan yang mendukung penciptaan orang kreatif (peneliti dan perekayasa) terkait bidang industri kreatif
secara berkelanjutan

SASARAN/RENCANA AKSI

RENCANA AKSI PENGEMBANGAN SUBSEKTOR PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN

112

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

Pengembangan kerjasama
penelitian dan pengembangan
antara program studi terkait
bidang bidang dalam industri
kreatif di dalam negeri dan di
luar negeri

SASARAN/RENCANA AKSI

Memberikan fasilitas akses pada


perguruan tinggi dalam negeri untuk
bisa melakukan kerjasama terkait
penelitian dan pengembangan dengan
perguruan tinggi luar negeri
Pembentukan agenda penelitian dan
pengembangan terkait bidang dalam
industri kreatif yang melibatkan peneliti
dan perekayasa asing

Memberikan fasilitas berupa


bimbingan, bantuan tenaga pengajar,
hingga pembiayaan bagi perguruan
tinggi yang akan membentuk program
studi baru terkait bidang dalam industri
kreatif

Memberi instruksi & mentoring atas


pembentukan program studi baru
berdasarkan hasil perencanaan &
analisa kebutuhan pada para perguruan
tinggi

Melakukan perencanaan peningkatan


ketersediaan program studi
berdasarkan hasil analisa kebutuhan

DESKRIPSI RENCANA AKSI

Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan, PTN &
PTS di Indonesia

Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan, PTN &
PTS di Indonesia

Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan, PTN &
PTS di Indonesia

Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan, PTN &
PTS di Indonesia

Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan, PTN &
PTS di Indonesia

PENANGGUNGJAWAB

2015

2016

2017

TAHUN

2018

2019

LAMPIRAN

113

Pemberian pelatihan
peningkatan kompetensi dalam
melakukan kegiatan penelitian
dan pengembangan bagi para
pendidik di program studi terkait
bidang bidang dalam industri
kreatif
Menganalisa kebutuhan pelatihan
kompetensi penelitian dan
pengembangan bagi para tenaga
pengajar di program studi terkait
dengan bidang dalam industri kreatif

Memberikan fasilitas pelatihan bagi


para tenaga pengajar di perguruan
tinggi khususnya program studi terkait
bidang dalam industri kreatif dalam
konteks peningkatan kemampuan
penelitian dan pengembangan
berdasarkan hasil analisa kebutuhan
yang dijalankan (lokasi, banyaknya
pelatihan hingga konten pelatihan)

DESKRIPSI RENCANA AKSI

Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan, PTN
& PTS di Indonesia,
Kementerian Riset dan
Teknologi, Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia,
BPPT

Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan, PTN
& PTS di Indonesia,
Kementerian Riset dan
Teknologi, Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia,
BPPT

PENANGGUNGJAWAB

2015

2016

Pemberdayaan para pelaku


industri kreatif untuk dapat
melakukan kegiatan penelitian
dan pengembangan
Melakukan sosialisasi pada para pelaku
industri kreatif mengenai pentingnya
kegiatan penelitian dan pengembangan
sebagai salah satu tonggak bagi
perkembangan bisnis
Memberikan pelatihan mengenai
tata cara melakukan penelitian dan
pengembangan sederhana bagi para
pelaku industri kreatif

Kementerian Pariwisata
dan Ekonomi Kreatif,
Kementerian Riset dan
Teknologi, Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia,
BPPT

Kementerian Pariwisata
dan Ekonomi Kreatif,
Kementerian Pemuda dan
Olahraga, Kementerian
Riset dan Teknologi

SASARAN 2: Meningkatnya kualitas & kuantitas orang kreatif (peneliti dan perekayasa) terkait bidang bidang dalam industri kreatif.

SASARAN/RENCANA AKSI

2017

TAHUN

2018

2019

114

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

Pemberdayaan para peneliti dan


perekayasa melalui pemberian
pelatihan dalam peningkatan
kompetensi (teknis metodologi,
inovasi, berpikir kritis dan
dinamis)
Membentuk suatu asosiasi peneliti
dan perekayasa khusus bidang bidang
dalam industri kreatif yang berfungsi
sebagai wadah pertukaran informasi
seputar perkembangan penelitian dan
pengembangan dalam bidang industri
kreatif
Menyalurkan fasilitas pelatihan dengan
tema teknis metodologi, cara berpikir
kritis serta pribadi dinamis melalui
asosiasi tersebut

DESKRIPSI RENCANA AKSI

Kementerian Pariwisata
dan Ekonomi Kreatif,
Asosiasi profesi peneliti
yang telah ada

Kementerian Pariwisata
dan Ekonomi Kreatif,
Kementerian riset dan
teknologi, Asosiasi
profesi peneliti yang telah
ada

PENANGGUNGJAWAB
X

2015
X

2016

2017

TAHUN

2018

Pemberian fasilitas dalam


mendukung kegiatan pemetaan
sumber daya alam dan budaya di
setiap daerah di Indonesia
Membentuk agenda penelitian untuk
memetakan sumber daya alam dan
budaya di setiap daerah di Indonesia

Memberikan fasilitas berupa akses


data serta pembiayaan bagi kegiatan
penelitian dan pengembangan yang
bertujuan untuk mengeksplorasi
sumber daya alam dan budaya di
Indonesia
Mengumpulkan seluruh hasil penelitian
yang meengeksplorasi sumber daya
alam dan budaya di Indonesia

Kementerian Pariwisata
dan Ekonomi Kreatif,
Kementerian Riset dan
Teknologi, Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia,
BPPT, Pemerintah daerah

Kementerian Pariwisata
dan Ekonomi Kreatif,
Kementerian Riset dan
Teknologi, Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia,
BPPT, Pemerintah daerah

Kementerian Pariwisata
dan Ekonomi Kreatif,
Kementerian Riset dan
Teknologi, Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia,
BPPT

SASARAN 3: Terciptanya pusat pengetahuan sumber daya alam dan budaya lokal yang akurat dan terpercaya serta dapat diakses secara mudah dan cepat

SASARAN/RENCANA AKSI

2019

LAMPIRAN

115

Pemberian fasilitas dalam


pembentukan pusat informasi
sumber daya alam dan budaya di
setiap daerah di Indonesia
Menyediakan pembiayaan guna
membentuk pusat informasi sumber
daya alam dan budaya di setiap daerah
di Indonesia
Membentuk sistem atau standar yang
nantinya akan diadopsi oleh seluruh
pusat informasi yang dibentuk
Melakukan sosialisasi keberadaan dan
cara akses pusat informasi yang telah
dibentuk pada masyarakat luas

DESKRIPSI RENCANA AKSI

Kementerian Pariwisata
dan Ekonomi Kreatif,
Pemerintah & Dinas
setempat di daerah

Kementerian Pariwisata
dan Ekonomi Kreatif

Kementerian Pariwisata
dan Ekonomi Kreatif,
Kementerian Pekerjaan
Umum, Pemerintah &
Dinas setempat di daerah

PENANGGUNGJAWAB

2015

2016

2017

TAHUN

2018

Fasilitasi peningkatan kapasitas


ilmu pengetahuan bagi para
peneliti dan perekayasa terkait
bidang-bidang dalam industi
kreatif
a

Membuat suatu agenda konferensi


sesuai dengan masing masing bidang
dalam industri kreatif yang melibatkan
para ahli baik akademisi maupun
praktisi dan peneliti untuk saling
bertukar pikiran & berbagi ilmu

Kementerian
Pariwisata dan Ekonomi
Kreatif, Kementerian
Perindustrian,
Kementerian
Perdagangan,
Kementerian riset dan
teknologi, Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia,
BPPT

SASARAN 4: Meningkatnya kegiatan penelitian dan pengembangan terkait dengan bidang bidang dalam industri kreatif yang inovatif, berdaya saing dan
terintegrasi secara berkelanjutan

SASARAN/RENCANA AKSI

2019

116

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

Mendukung pengembangan
lembaga intermediator

Fasilitasi penyelenggaraan ajang


diseminasi hasil penelitian dan
pengembangan terkait bidang
dalam industri kreatif

4
a

Membuat suatu wadah baik berupa


portal, seminar maupun konferensi
berkala yang menjadi tempat
diseminasi hasil penelitian dan
pengembangan khusus terkait bidang
bidang dalam industri kreatif

Memberikan kemudahan akses bagi


para lembaga intermediator. Misalnya:
memberikan kemudahan akses
informasi terkait investor dari sisi
pemerintahan maupun bisnis.

Membuat suatu kompetisi khusus untuk


bidang penelitian yang terkait dengan
industri kreatif secara nasional dan
mudah diakses

DESKRIPSI RENCANA AKSI

Kementerian Pariwisata
dan Ekonomi Kreatif,
Kementerian riset dan
teknologi, Lembaga ilmu
pengetahuan Indonesia,
BPPT

Kementerian
Pariwisata dan Ekonomi
Kreatif, Kementerian
Perindustrian,
Kementerian
Perdagangan

Kementerian
Pariwisata dan Ekonomi
Kreatif, Kementerian
Perindustrian,
Kementerian
Perdagangan,
Kementerian riset dan
teknologi, Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia,
BPPT

PENANGGUNGJAWAB

2015

2016

Melakukan kegiatan pengkajian


terhadap penelitian terdahulu
terkait bidang dalam industri
kreatif
a

Membentuk suatu agenda untuk


mengkaji penelitian terdahulu terkait
bidang bidang dalam industri kreatif
dengan tujuan untuk memetakan
penelitian apa yang dibutuhkan
selanjutnya, menjalankan agenda
tersebut serta melakukan sosialisasi
atas hasil yang didapatkan sebagai
acuan penelitian lainnya

Kementerian Pariwisata
dan Ekonomi Kreatif, LIPI

2017

TAHUN

SASARAN 5: Meningkatnya keragaman dan kualitas hasil penelitian dan pengembangan terkait dengan bidang bidang dalam industri kreatif

Fasilitasi penyelenggaraan
kompetisi bagi para peneliti dan
perekayasa terkait bidangbidang dalam industri kreatif
sebagai bentuk peningkatan
motivasi

SASARAN/RENCANA AKSI

2018

2019

LAMPIRAN

117

Fasilitasi kegiatan eksplorasi


kebutuhan akan penelitian dan
pengembangan terkait bidang
dalam industri kreatif yang tepat
guna
Melakukan suatu penelitian yang
melibatkan pemikiran seluruh
pemangku kepentingan yakni
pemerintah, pelaku industri,
komunitas dan akademisi dalam
mengeksplorasi kebutuhan penelitian
dan pengembangan terkait bidang
industri kreatif
Membentuk peta jalan atau roadmap
penelitian atas hasil pengkajian pada
penelitian terdahulu dan pemikiran
seluruh pemangku kepentingan yakni
pemerintah, pelaku industri, komunitas
dan akademisi.

DESKRIPSI RENCANA AKSI

Kementerian Pariwisata
dan Ekonomi Kreatif, LIPI

Kementerian Pariwisata
dan Ekonomi Kreatif, LIPI

PENANGGUNGJAWAB

2015
X

2016
X

2017

TAHUN

2018

2019

Pembentukan dewan khusus


yang dapat mengkaji kualitas
penelitian dan pengembangan
terkait bidang dalam industri
kreatif
a

Membentuk dewan yang beranggotakan


para ahli baik praktisi maupun
akademisi dalam bidang bidang terkait
industri kreatif yang dapat mengkaji
kualitas dari kegiatan dan hasil
penelitian dan pengembangan

Kementerian
Pariwisata dan ekonomi
kreatif, Kementerian
perindustrian,
Kementerian
perdagangan,
Kementerian riset dan
teknologi

SASARAN 6: Meningkatnya apresiasi kepada orang kreatif (peneliti & perekayasa) dalam bidang penelitian dan pengembangan industri kreatif Indonesia baik di
dalam dan luar negeri.

SASARAN/RENCANA AKSI

118

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

Pemberian penghargaan
prestisius bagi penelitian
dan pengembangan yang
berimplikasi besar terkait bidang
dalam industri kreatif

Peningkatan insentif finansial


bagi para peneliti dan
perekayasa terkait bidang dalam
industri kreatif yang berprestasi

SASARAN/RENCANA AKSI

Melakukan sosialisasi atas ajang


penghargaan kepada para peneliti
dan perekayasa secara luas misalnya
melalui sorotan media

Melakukan pengkajian standar


insentif finansial bagi para peneliti
yang melakukan penelitian dan
pengembangan dalam bidang industri
kreatif yang berprestasi (memiliki
implikasi yang besar)

Membentuk suatu ajang penghargaan


yang bergengsi dan bertaraf nasional
dimana penghargaan hanya diberikan
pada penelitian yang memiliki implikasi
besar pada bidang industri kreatif

Membentuk suatu pedoman standar


bagi kegiatan penelitian dan
pengembangan terkait bidang dalam
industri kreatif yang berprestasi
(berimplikasi besar)

DESKRIPSI RENCANA AKSI

Kementerian Pariwisata
dan ekonomi kreatif,
Kementerian riset dan
teknologi

Kementerian
Pariwisata dan ekonomi
kreatif, Kementerian
perindustrian,
Kementerian
perdagangan,
Kementerian riset dan
teknologi, Asosiasi
profesi terkait

Kementerian
Pariwisata dan ekonomi
kreatif, Kementerian
perindustrian,
Kementerian
perdagangan,
Kementerian riset dan
teknologi

Kementerian
Pariwisata dan ekonomi
kreatif, Kementerian
perindustrian,
Kementerian
perdagangan,
Kementerian riset dan
teknologi

PENANGGUNGJAWAB

2015
X

2016

2017

TAHUN

2018

2019

LAMPIRAN

119

Meningkatkan keberagaman
insentif bagi para peneliti
dan perekayasa berprestasi
(akses belajar keluar negeri,
peningkatan kapasitas diri, dll)

5
a

Membentuk berbagai macam program


insentif bagi para peneliti dan
perekayasa yang tidak hanya berbentuk
finansial tetapi juga non finansial
seperti memberikan akses belajar
keluar negeri, memberikan kesempatan
pengembangan kemampuan teknis, dll.

Melakukan kegiatan sosialisasi pada


para pelaku industri kreatif mengenai
pentingnya kegiatan penelitian dan
pengembangan bagi kemajuan usaha

Melakukan peningkatan sesuai dengan


hasil pengkajian serta melakukan
sosialisasi

DESKRIPSI RENCANA AKSI

Kementerian
Pariwisata dan ekonomi
kreatif, Kementerian
perindustrian,
Kementerian
perdagangan,
Kementerian riset dan
teknologi, Kementerian
Pendidikan Nasional

Kementerian Pariwisata
dan Ekonomi Kreatif,
Asosiasi profesi terkait

Kementerian Pariwisata
dan ekonomi kreatif,
Kementerian riset dan
teknologi, Asosiasi
profesi terkait

PENANGGUNGJAWAB

2015

2016

2017

TAHUN
2018

2019

Pembentukan portal khusus


yang memuat kesempatan
pembiayaan untuk kegiatan
penelitian dan pengembangan
terkait dengan bidang dalam
industri kreatif
a

Melakukan pendataan atas kesempatan


pembiayaan yang dapat didapatkan oleh
para peneliti dan perekayasa terkait
bidang dalam industri kreatif

Kementerian Pariwisata
dan Ekonomi Kreatif, LIPI,
Kementerian Riset dan
Teknologi

SASARAN 7: Meningkatnya ketersediaan pembiayaan bagi seluruh kegiatan penelitian dan pengembangan terkait dengan bidang bidang dalam industri kreatif
yang memiliki skema pembiayaan yang baik (besaran yang sesuai, sistem tidak rumit)

Fasilitasi kegiatan sosialisasi


mengenai urgensi kegiatan
penelitian dan pengembangan
dalam mendukung kemajuan
industri kreatif

SASARAN/RENCANA AKSI

120

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

Pembentukan skema
pembiayaan ideal untuk kegiatan
penelitian dan pengembangan
terkait dengan bidang dalam
industri kreatif

Fasilitasi lembaga intermediator


yang telah ada sebagai jembatan
antara peneliti dan perekayasa
dengan calon investor

SASARAN/RENCANA AKSI

Memberikan fasilitas berupa akses


pembiayaan hingga pemberian
dukungan biaya untuk pengembangan
lembaga intermediator yang ada

Membentuk skema pembiayaan yang


ideal berdasarkan hasil pengkajian
yang kemudian disosialisasikan
kepada lembaga penyedia pembiayaan
penelitian

Melakukan pengkajian standar


pembiayaan kegiatan penelitian dan
pengembangan dengan melibatkan
para peneliti dan perekayasa terkait
bidang dalam industri kreatif

Membentuk suatu sistem yang dapat


menampung seluruh informasi atas
kesempatan pembiayaan yang dapat
didapatkan

DESKRIPSI RENCANA AKSI

Kementerian
Pariwisata dan ekonomi
kreatif, Kementerian
perindustrian,
Kementerian
perdagangan,
Kementerian riset dan
teknologi

Kementerian pariwisata
dan ekonomi kreatif,
asosiasi profesi peneliti
yang telah ada

Kementerian pariwisata
dan ekonomi kreatif,
asosiasi profesi peneliti
yang telah ada

Kementerian Pariwisata
dan Ekonomi Kreatif

PENANGGUNGJAWAB

2015

2016

2017

TAHUN

2018

2019

LAMPIRAN

121

DESKRIPSI RENCANA AKSI

PENANGGUNGJAWAB
2015

2016

2017

TAHUN
2018

Membentuk program sayembara


penelitian dengan topik sesuai
hasil kajian berkala akan
kebutuhan penelitian dan
pengembangan terkait bidang
dalam industri kreatif

2
a

Membentuk sayembara penelitian


sesuai dengan analisa kebutuhan yang
dilakukan di tahap sebelumnya melalui
kerjasama dengan lembaga penelitian
lain baik milik pemerintah maupun
swasta

Mengadakan pengkajian akan


kebutuhan penelitian dalam bidang
industri kreatif dengan mengundang
para peneliti, pelaku industri dan
pemerintah untuk memperkaya
pemikiran

Kementerian pariwisata
dan ekonomi kreatif,
kementerian riset dan
teknologi

Kementerian
Pariwisata dan ekonomi
kreatif, Kementerian
perindustrian,
Kementerian
perdagangan,
Kementerian riset dan
teknologi, Asosiasi
profesi terkait
X

Pengkajian kembali regulasi


terkait HKI yang memudahkan
para peneliti dan perekayasa
terkait bidang dalam industri
kreatif
a

Melakukan studi kebijakan terkait HKI


bagi para peneliti dan perekayasa
khususnya terkait bidang dalam
industri kreatif (studi kebijakan meliputi
analisa kebijakan saat ini, optimalisasi
penyelenggaraan kebijakan serta
harapan kebijakan dimasa mendatang)

Kementerian pariwisata
dan ekonomi kreatif,
Kementerian Hukum dan
HAM

SASARAN 9: Terciptanya regulasi yang mendukung penciptaan iklim yang kondusif bagi pengembangan kegiatan penelitian dan pengembangan terkait dengan
bidang bidang dalam industri kreatif indonesia

Pembentukan agenda pengkajian


berkala bersama peneliti,
industri, pemerintah serta
komunitas dalam mendeteksi
kebutuhan penelitian dan
pengembangan terkait bidang
industri kreatif

2019

SASARAN 8: Meningkatnya jumlah kegiatan penelitian dan pengembangan terkait bidang bidang dalam industri kreatif yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

SASARAN/RENCANA AKSI

122

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019

Pengkajian optimalisasi
praktik kebijakan insentif pajak
bagi kegiatan penelitian dan
pengembangan khususnya
terkait bidang dalam industri
kreatif

3
a

Melakukan studi kebijakan terkait


insentif pajak bagi para peneliti
dan perekayasa khususnya terkait
bidang dalam industri kreatif (studi
kebijakan meliputi analisa kebijakan
saat ini, optimalisasi penyelenggaraan
kebijakan serta harapan kebijakan
dimasa mendatang)

Melakukan studi kebijakan terkait


standar pembiayaan bagi para peneliti
dan perekayasa khususnya terkait
bidang dalam industri kreatif (studi
kebijakan meliputi analisa kebijakan
saat ini, optimalisasi penyelenggaraan
kebijakan serta harapan kebijakan
dimasa mendatang)

DESKRIPSI RENCANA AKSI

Kementerian pariwisata
dan ekonomi kreatif,
Kementerian keuangan

Kementerian pariwisata
dan ekonomi kreatif,
Kementerian keuangan,
Kementerian Riset dan
Teknologi

PENANGGUNGJAWAB

2015

2016

2017

TAHUN
2018

2019

Menyelenggarkan konferensi
berkala

Menyusun agenda konferensi serta


mengundang pihak pemerintah, pelaku
industi, peneliti serta komunitas untuk
membahas pengembangan arah
kegiatan penelitian terkait bidang
dalam industri kreatif

SASARAN 11: Meningkatnya ketersediaan teknologi tepat guna yang mudah diakses

Kementerian
pariwisata dan ekonomi
kreatif, Kementerian
perindustrian,
Kementerian
perdagangan,
Kementerian riset dan
teknologi, Asosiasi
profesi terkait

SASARAN 10: Meningkatnya partisipasi aktif dan kolaborasi pemangku kepentingan dalam pengembangan kegiatan penelitian dan pengembangan terkait bidang
bidang dalam industri kreatif secara berkualitas dan berkelanjutan.

Pengkajian dan pembentukan


regulasi terkait standar
pembiayaan bagi kegiatan
penelitian dan pengembangan
terkait bidang dalam industri
kreatif

SASARAN/RENCANA AKSI

LAMPIRAN

123

Pembentukan portal khusus


yang dapat memuat dan
menyalurkan kebutuhan fasilitas
teknologi yang dibutuhkan oleh
peneliti dan perekayasa terkait
bidang dalam industri kreatif

2
Pembentukan sistem untuk wadah
yang berbentuk portal yang dapat
menyalurkan kebutuhan fasilitas
teknologi para peneliti dan perekayasa
Sosialisasi atas wadah yang telah
terbentuk untuk kemudian dapat
dimanfaatkan oleh para peneliti dan
perekayasa yang membutuhkan

Melakukan kerjasama dengan para


lembaga penelitian yang memiliki
fasilitas teknologi agar dapat diakses
secara lebih luas oleh para peneliti dan
perekayasa mandiri

Melakukan pendataan akan fasilitas


teknologi yang dimiliki oleh para
lembaga penelitian di Indonesia

DESKRIPSI RENCANA AKSI

Melakukan kerjasama dengan


lembaga repository swasta
hingga publisher internasional
agar akses terhadap penelitian
terdahulu semakin luas
a

Berlangganan jurnal internasional


berkualitas yang berkaitan dengan
bidang bidang dalam industri kreatif
dan menyebarkan aksesnya kepada
para peneliti dan perekayasa agar
dapat dimanfaatkan secara optimal

SASARAN 12: Meningkatnya ketersediaan infrastruktur yang memadai

Pembentukan kerjasama dengan


lembaga penelitian lain dalam
fasilitasi kebutuhan teknologi
para peneliti dan perekayasa
terkait bidang dalam industri
kreatif

SASARAN/RENCANA AKSI

Kementerian
pariwisata dan ekonomi
kreatif,Kementerian
riset dan teknologi,
Kementerian pendidikan
dan kebudayaan

Kementerian Pariwisata
dan ekonomi kreatif,
Kementerian riset dan
teknologi, Asosiasi
profesi terkait

Kementerian pariwisata
dan ekonomi kreatif,
Kementerian riset dan
teknologi

Kementerian pariwisata
dan ekonomi kreatif,
Kementerian riset dan
teknologi

Kementerian pariwisata
dan ekonomi kreatif,
Kementerian riset dan
teknologi

PENANGGUNGJAWAB

2015

2016

2017

TAHUN

2018

2019

126

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penelitian Dan Pengembangan Nasional 2015-2019