Anda di halaman 1dari 146

RENCANA

PENGEMBANGAN

PENERBITAN
NA SIONAL

2015-2019

RENCANA Pengembangan
PENERBITAN nasional 2015-2019

:

Galih Bondan Rambatan

PT. REPUBLIK SOLUSI

iv

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

RENCANA pengembangan
PENERBITAN nasional 2015-2019

Tim Studi dan Kementerian Pariwisata Ekonomi Kreatif:


Penasehat
Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI
Sapta Nirwandar, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI
Pengarah
Ukus Kuswara, Sekretaris Jenderal Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI
Harry Waluyo, Direktur Jenderal Ekonomi Kreatif berbasis Media, Desain dan IPTEK
Cokorda Istri Dewi, Staf Khusus Bidang Program dan Perencanaan
Penanggung Jawab
Poppy Safitri, Setditjen Ekonomi Kreatif berbasis Media, Desain, IPTEK
M.Iqbal Alamsjah, Direktur Pengembangan Ekonomi Kreatif berbasis Media
Anna Suharti, Kasubdit Pengembangan Tulisan Fiksi dan Nonfiksi
Tim Studi
Galih Bondan Rambatan
ISBN
978-602-72387-0-1
Tim Desain Buku
RURU Corps (www.rurucorps.com)
Rendi Iken Satriyana Dharma
Sari Kusmaranti Subagiyo
Yosifinah Rachman
Penerbit
PT. Republik Solusi
Cetakan Pertama, Maret 2015
Hak cipta dilindungi undang-undang
Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara
apapun tanpa ijin tertulis dari penerbit

Terima Kasih kepada Narasumber dan Peserta Focus Group Discussion (FGD):
Dra.Lucya Andams, Ketua Asosiasi Ikatan Penerbit Indonesia
Hikmat Darmawan, Komunitas Komik
Sinta Yudisia, Lingkar Pena Indonesia
Aulia Halimatussadiah, Nulisbuku.com
Hary Candra, Direktur Pesona Edukasi
Sweta Kartika, Komikus

vi

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

Kata Pengantar
Ekonomi kreatif memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu sektor penggerak yang
penting untuk mewujudkan Indonesia yang mandiri, maju, adil dan makmur. Ekonomi kreatif
adalah ekonomi yang digerakkan oleh sumber daya terbarukan dan tersedia secara berlimpah di
Indonesia, dimana kita memiliki sumber daya manusia kreatif dalam jumlah besar, sumber daya
alam terbarukan yang berlimpah dan sumber warisan budaya yang unik dan beragam. Ketiganya
menjadi kekuatan pendorong pertumbuhan ekonomi kreatif yang berkelanjutan.
Kita, secara bersama-sama telah meletakkan dasar pengembangan ekonomi kreatif yang akan
membawa bangsa menuju pembangunan ekonomi yang berkualitas. Sehingga diperlukan upaya
pengembangan ekonomi kreatif yang berkesinambungan untuk memperkuat ekonomi kreatif
sebagai sumber daya saing baru bagi Indonesia dan masyarakat yang berkualitas hidup.
Bagi Indonesia, ekonomi kreatif tidak hanya memberikan kontribusi ekonomi, tetapi juga
memajukan aspek-aspek nonekonomi berbangsa dan bernegara. Melalui ekonomi kreatif, kita
dapat memajukan citra dan identitas bangsa, mengembangkan sumber daya yang terbarukan
dan mempercepat pertumbuhan inovasi dan kreativitas di dalam negeri. Di samping itu ekonomi
kreatif juga telah memberikan dampak sosial yang positif, termasuk peningkatan kualitas hidup,
pemerataan kesejahteraan dan peningkatan toleransi sosial.
Penerbitan, sebagai salah satu dari 15 subsektor di dalam industri kreatif, merupakan kegiatan
mengelola informasi dan daya imajinasi untuk membuat konten kreatif yang memiliki keunikan
tertentu, dituangkan dalam bentuk tulisan, gambar dan/atau audio ataupun kombinasinya,
diproduksi untuk dikonsumsi publik, melalui media cetak, media digital, ataupun media daring
untuk mendapatkan nilai ekonomi, sosial ataupun seni dan budaya yang lebih tinggi. Saat ini
masih ada masalah-masalah yang menghambat pertumbuhan industri penerbitan di Indonesia,
termasuk didalamnya jumlah dan kualitas orang kreatif yang masih belum optimal, ketersediaan
sumber daya alam yang belum teridentifikasi dengan baik, keseimbangan perlindungan dan
pemanfaatan sumber daya budaya, minimnya ketersediaan pembiayaan bagi orang-orang kreatif,
pemanfaatan pasar yang belum optimal, ketersediaan infrastruktur dan teknologi yang kurang
memadai, serta kelembagaan dan iklim usaha yang belum sempurna.
Dalam upaya melakukan pengembangan industri penerbitan di Indonesia, diperlukan pemetaan
terhadap ekosistem penerbitan yang terdiri dari rantai nilai kreatif, pasar, nurturance environment,
dan pengarsipan. Aktor yang harus terlibat dalam ekosistem ini tidak terbatas pada model triple
helix yaitu intelektual, pemerintah dan bisnis, tetapi harus lebih luas dan melibatkan komunitas
kreatif dan masyarakat konsumen karya kreatif. Kita memerlukan quad helix model kolaborasi
dan jaringan yang mengaitkan intelektual, pemerintah, bisnis dan komunitas. Keberhasilan
ekonomi kreatif di lokasi lain ternyata sangat tergantung kepada pendekatan pengembangan yang
menyeluruh dan berkolaborasi dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

vii

Buku ini merupakan penyempurnaan dari buku Cetak Biru Pengembangan Ekonomi Kreatif
Indonesia 2025 yang diterbitkan pada tahun 2009, di mana terjadi pergeseran definisi dan
pemahaman penerbitan secara mendasar. Pada buku sebelumnya, pemakaian definisi mengacu
pada penerbitan dan percetakan secara umum. Pada buku ini, subsektor penerbitan dan percetakan
bergeser dan berfokus menjadi hanya penerbitan saja. Hal ini disebabkan karena dalam alur proses
penerbitan sendiri sudah terdapat kegiatan percetakan, sehingga penerbitan tidak hanya dimaknai
sebagai kegiatan produksi karya tetapi lebih kepada proses penciptaan konten berkualitas meliputi
kegiatan penyuntingan, proof reading, penyiapan disain dan layout, serta kegiatan penyebarluasan
atau distribusi karya.Dalam melakukan penyempurnaan dan pembaruan data, informasi, telah
melakukan sejumlah Focus Group Discussion (FGD) dengan berbagai pemangku kepentingan baik
pemerintah, pemerintah daerah, intelektual, media, bisnis, orang kreatif dan komunitas penerbitan
secara intensif. Hasilnya adalah buku ini, yang menjabarkan secara rinci pemahaman mengenai
industri penerbitan dan strategi-strategi yang perlu diambil dalam percepatan pengembangan
penerbitan lima tahun mendatang. Dengan demikian, masalah-masalah yang masih menghambat
pengembangan industri penerbian selama ini diharapkan dapat diatasi dengan baik, sehingga
dalam kurun waktu lima tahun mendatang, Penerbitan Indonesia dapat bertumbuh secara merata,
berkualitas, berbudaya, berdaya saing dan berkelanjutan.

Salam Kreatif

Mari Elka Pangestu


Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

viii

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

Daftar Isi
Kata Pengantar................................................................................................................... vii
Daftar Isi.............................................................................................................................. ix
Daftar Gambar..................................................................................................................... xii
Daftar Tabel......................................................................................................................... xiii
Ringkasan Eksekutif..........................................................................................................

xiv

BAB 1 PERKEMBANGAN PENERBITAN DI INDONESIA.............................................

1.1 Definisi dan Ruang Lingkup Penerbitan di Indonesia.......................................................4


1.1.1 Definisi Penerbitan...................................................................................................4
1.1.2 Ruang Lingkup Pengembangan Penerbitan.............................................................. 10
1.2 Sejarah dan Perkembangan Penerbitan..............................................................................15
1.2.1 Sejarah dan Perkembangan Penerbitan Dunia.......................................................... 15
1.2.2 Sejarah dan Perkembangan Penerbitan Indonesia................................................... 17
BAB 2 EKOSISTEM DAN RUANG LINGKUP INDUSTRI PENERBITAN INDONESIA..

27

2.1 Ekosistem Penerbitan........................................................................................................28


2.1.1 Definisi Ekosistem Penerbitan................................................................................. 28
2.1.2 Peta Ekosistem Penerbitan........................................................................................30
2.2 Peta dan Ruang Lingkup Industri Penerbitan................................................................... 44
2.2.1 Peta Industri Penerbitan...........................................................................................44
2.2.2 Ruang Lingkup Industri Penerbitan......................................................................... 47
2.2.3 Model Bisnis di Industri Penerbitan......................................................................... 50
BAB 3 KONDISI UMUM SUBSEKTOR PENERBITAN DI INDONESIA............................

53

3.1 Kontribusi Ekonomi Penerbitan....................................................................................... 54


3.1.1 Berbasis Produk Domestik Bruto (PDB)................................................................ 58
3.1.2 Berbasis Ketenagakerjaan......................................................................................... 59
3.1.3 Berbasis Aktivitas Perusahaan...................................................................................60
3.1.4 Berbasis Konsumsi Rumah Tangga...........................................................................61
3.1.5 Berbasis Nilai Ekspor................................................................................................62
3.2 Kebijakan Pengembangan Penerbitan............................................................................... 63

ix

3.3 Struktur Pasar Penerbitan................................................................................................. 64


3.4 Daya Saing Penerbitan......................................................................................................64
3.5 Potensi dan Permasalahan Pengembangan Penerbitan.......................................................65
BAB 4 RENCANA PENGEMBANGAN PENERBITAN INDONESIA........................................

73

4.1 Arahan Strategis Pengembangan Ekonomi Kreatif 20152019....................................... 74


4.2 Visi, Misi, dan Tujuan Pengembangan Penerbitan............................................................ 75
4.2.1 Visi Pengembangan Penerbitan................................................................................ 77
4.2.2 Misi Pengembangan Penerbitan............................................................................... 78
4.2.3 Tujuan Pengembangan Penerbitan........................................................................... 78
4.3 Sasaran dan Indikasi Strategis Pengembangan Penerbitan................................................ 79
4.4 Arah kebijakan Pengembangan Penerbitan........................................................................ 82
4.4.1 Arah Kebijakan Penciptaan Sumber Daya Manusia Kreatif Penerbitan yang
Berkualitas dan Berdaya Saing ................................................................................. 82
4.4.2 Arah Kebijakan Perlindungan, Pengembangan Dan Pemanfaatan Sumber
Daya alam dan sumber daya Budaya yang Mendukung Penerbitan Secara
Berkelanjutan........................................................................................................... 82
4.4.3 Arah Kebijakan Peningkatan Pertumbuhan Wirausaha, Usaha, dan Karya Kreatif
Penerbitan yang Merata dan Berdaya Saing ............................................................. 83
4.4.4 Arah Kebijakan Penciptaan Pembiayaan, Kemudahan Akses dan Kompetitif Bagi
Usaha, Wirausaha dan Orang Reatif Penerbitan....................................................... 83
4.4.5 Arah Kebijakan Perluasan Pasar Penerbitan di dalam dan Luar Negeri yang
Berkelanjutan.......................................................................................................... 83
4.4.6 Arah Kebijakan Penyediaan Infrastruktur Logistik dan Teknologi Pendukung
Industri Penerbitan yang Tepat Guna, Mudah Diakses dan Kompetitif.................... 83
4.4.7 Arah Kebijakan Penciptaan Kelembagaan yang Kondusif dan Mengarusutamakan
Kreativitas untuk Pengembangan Ekonomi Kreatif Penerbitan ................................ 83
4.5 Strategi dan Rencana Aksi Pengembangan Penerbitan....................................................... 84
4.5.1 Peningkatan Mutu Pengelolaan Pendidikan Formal, Nonformal dan Informal Yang
Mendukung Orang Kreatif Penerbitan Merata di Seluruh Provinsi, Kabupaten, dan
Kota......................................................................................................................... 84
4.5.2 Penyediaan dan Peningkatan Sarana dan Prasarana yang Mengarusutamakan
Kreativitas SDM Penerbitan.................................................................................... 85
4.5.3 Penyediaan bahan baku yang menunjang produktivitas penerbitan......................... 85
4.5.4 Penyediaan Data dan Informasi Sumber Daya Budaya yang Akurat Terpercaya dan
Dapat Diakses Secara Cepat dan Mudah.................................................................. 86
4.5.5 Peningkatan Wirausaha Kreatif Penerbitan Lokal yang Berdaya Saing, Bertumbuh
dan Berkelanjutan.....................................................................................................86
4.5.6 Peningkatan Usaha Kreatif Penerbitan Lokal yang Berdaya Saing............................ 86
x

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

4.5.7 Peningkatan Keragaman dan Kualitas Karya Kreatif Penerbitan Lokal Berbasis
Budaya .................................................................................................................... 87
4.5.8 Penyediaan Pembiayaan Penelitian dan Pelestarian Karya Kreatif Penerbitan
Berkaitan dengan Budaya Bangsa, Sastra dan Sejarah............................................... 87
4.5.9 Peningkatan Penetrasi dan Diversivikasi
Pasar Karya Kreatif Penerbitan Nasional dan
Internasional........................................................................................................... 87
4.5.10 Peningkatan Ketersediaan Infrastruktur Logistik dan Jaringan Internet Yang
Memadai dan Kompetitif......................................................................................... 88
4.5.11 Pengembangan Regulasi yang Mendukung Penciptaan Iklim yang Kondusif untuk
Meningkatkan Mutu Penerbitan Indonesia.............................................................. 89
4.5.12 Peningkatan Partisipasi Aktif Pemangku Kepentingan dalam Pengembangan
penerbitan indonesia Secara Berkualitas dan Berkelanjutan...................................... 89
4.5.13 Peningkatan Kreativitas Penerbitan Sebagai Paradigma Pembangunan dan dalam
Kehidupan Masyarakat ........................................................................................... 90
4.5.14 Peningkatan Posisi, Kontribusi, Kemandirian, serta Kepemimpinan Indonesia
dalam Fora Internasional Melalui Penerbitan........................................................... 90
4.5.15 Peningkatan Apresiasi Kepada Orang dan Karya Kreatif Penerbitan...................... 91
4.5.16 Peningkatan Posisi, Kontribusi, Kemandirian, serta Kepemimpinan Indonesia
dalam Fora Internasional Melalui penerbitan........................................................... 91
BAB 5 PENUTUP..................................................................................................................

93

5.1 Kesimpulan...................................................................................................................... 94
5.2 Saran................................................................................................................................ 95
REFERENSI...........................................................................................................................

99

LAMPIRAN............................................................................................................................. 101

xi

Daftar Gambar
Gambar 11 Perbedaan Alur Percetakan................................................................................. 5
Gambar 12 Alur Penerbitan...................................................................................................8
Gambar 13 Ruang Lingkup dan Fokus Pengembangan Penerbitan 20152019.....................11
Gambar 14 Perkembangan Penerbitan di Dunia....................................................................24
Gambar 15 Sejarah Perkembangan Penerbitan di Indonesia...................................................25
Gambar 21 Hubungan Antar Komponen Dalam Ekosistem..................................................29
Gambar 22 Peta Ekosistem Penerbitan...................................................................................31
Gambar 23 Pekerja Kreatif Industri Penerbitan......................................................................34
Gambar 24 Pekerja Kreatif Industri Penerbitan......................................................................43
Gambar 25 Mitra Pekerja Kreatif Industri Penerbitan............................................................45
Gambar 26 Peta Industri Penerbitan..................................................................................... 46
Gambar 27 Usaha, Pengembangan, dan Derivatif Penerbitan...................................................51
Gambar 31 Kontribusi terhadap total produk domestik bruto industri kreatif (2013)........... 58
Gambar 32 Kontribusi terhadap total tenaga kerja industri kreatif (2013).............................59
Gambar 33 Kontribusi terhadap total unit usaha bruto industri kreatif (2013)......................60
Gambar 34 Kontribusi terhadap total konsumsi rumah tangga industri kreatif (2013).......... 61
Gambar 35 Pertumbuhan ekspor 2010-2013.........................................................................62
Gambar 36 Jumlah Penerbit yang Menjadi Anggota IKAPI s/d 2013.................................... 64
Gambar 37 Daya Saing Penerbitan....................................................................................... 65

xii

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

Daftar Tabel
Tabel 11 Perbandingan Ruang Lingkup Penerbitan di Inggris dan Singapura.........................10
Tabel 21 Daftar Pemenang KLA Tahun 2002-2013................................................................41
Tabel 22 Daftar Konsumen Berdasarkan Jenis Buku yang diterbitkan.....................................44
Tabel 31 Produktivitas Penerbitan Buku Negara Asia/tahun...................................................54
Tabel 32 Kontribusi Ekonomi Subsektor Penerbitan 2010-2013............................................55
Tabel 33 Pemetaan Kebijakan..................................................................................................63
Tabel 34 Potensi Industri Penerbitan.......................................................................................66
Tabel 35 10 Buku Terlaris di Indonesia...................................................................................67
Tabel 36 Potensi dan Permasalahan Penerbitan.......................................................................67
Tabel 4-1 10 Buku Terlaris di Indonesia...................................................................................76

xiii

Ringkasan Eksekutif
Buku ini merupakan penyempurnaan dari buku Cetak Biru Pengembangan Ekonomi Kreatif
Indonesia 2025 yang diterbitkan pada tahun 2009. Seperti halnya terbitan sebelumnya, buku
ini menerangkan pemahaman, ruang lingkup, serta evaluasi dan analisa permasalahan yang
dihadapi oleh industri penerbitan dewasa ini hingga ke depannya. Walau menjelaskan kondisi
industri penerbitan secara umum, buku ini lebih berorientasi pada pengembangan industri lima
tahun ke depan.
Metode utama yang digunakan dalam penyusunan laporan di buku ini adalah wawancara
mendalam (In-Depth Interview atau IDI) dengan berbagai tokoh industri, serta tiga kali grup
diskusi terfokus (Focus Group Discussion atau FGD) bersama para pemangku kepentingan industri
yang dianggap dapat mewakili suara dan aspirasi industri secara umum, baik dari segi bisnis,
komunitas, akademisi, pemerintah, maupun orang-orang kreatif. Selain itu, kajian literatur dari
berbagai sumber yang dianggap relevan, baik nasional maupun internasional, juga dimanfaatkan
sebagai pendukung.
Hasil analisa dalam buku ini menunjukkan bahwa pemahaman industri penerbitan dan percetakan
sebagai salah satu dari lima belas subsektor industri kreatif di Indonesia hendaknya difokuskan
menjadi industri penerbitan saja. Namun, industri ini juga kini meliputi bukan hanya penerbitan
cetak namun juga penerbitan digital dan daring. Terlepas dari itu, bagaimanapun, permasalahanpermasalahan lama seperti kurangnya minat baca masyarakat, minimnya keawasan dan apresiasi
terhadap sastra Indonesia secara umum, pengadaan bahan baku kertas dan jalur distribusi buku
yang masih terpusat dan kurang efisien, dan sebagainya masih kurang lebih sama dengan yang
telah dialami selama dua puluh tahun terakhir. Sesungguhnya permasalahan-permasalahan
ini dapat kurang lebih diatasi dengan memanfaatkan teknologi dan jejaring komunitas kreatif
yang tersedia. Sayangnya, belum ada data komprehensif mengenai berbagai komunitas ini, dan
kesadaran pemanfaatan teknologi bagi orang kreatif maupun wirausahawan kreatif juga dirasa
masih kurang.
Penelitian yang telah dilakukan sepanjang penulisan buku ini mengindikasikan tren yang
positif, namun dengan beberapa rambu yang harus diwaspadai. Para pelaku menyarankan bahwa
pengembangan yang dilakukan hendaknya berfokus pada empat hal utama berikut.

xiv

Pembuatan portal pendataan orang kreatif, wirausaha dan usaha kreatif penerbitan
meliputi penerbit mandiri dan penerbit digital, karya kreatif penerbitan serta komunitas
terkait industri penerbitan.

Perencanaan alternatif untuk menjaga kestabilan harga kertas dan tinta untuk menekan
biaya produksi pencetakan serta alternatif jalur distribusi karya penerbitan cetak sehingga
karya penerbitan dapat dinikmati secara merata di seluruh Indonesia.

Pengadaan festival buku tingkat nasional maupun internasional dan sejenisnya secara berkala
yang bertujuan untuk promosi sekaligus penghargaan kepada pelaku industri penerbitan

Kegiatan sosialisasi kekayaan intelektual (IP) berkaitan dengan hak cipta karya kreatif
penerbitan sehingga diakui dan memiliki daya saing tinggi.
Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

Kegiatan pemberdayaan dan kemitraan bersama komunitas penerbitan untuk membentuk


dan meningkatkan kualitas orang kreatif dalam industri penerbitan

Pembentukan dan pelatihan kewirausahaan kreatif dalam industri penerbitan sehingga


memperluas dan meningkatkan pendapatan usaha penerbitan Indonesia.

Disarankan bahwa tindak lanjut pertama yang harus dilakukan adalah melakukan koordinasi
untuk merancang teknis pelaksanaan berbagai kegiatan yang telah direncanakan lima tahun
kedepan bersama tim perumus profesional, pelaku industri kreatif penerbitan dan para pemangku
kepentingan lainnya bersama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (KEMENPAREKRAF)
untuk mewujudkan Penerbitan Indonesia yang bertumbuh secara merata, berkualitas,
berbudaya, berdaya saing dan berkelanjutan.

xv

If you fail to plan, you are planning to fail.

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

PERIKLANAN 2015-2019

RENCANA AKSI
JANGK A MENENGAH

TV & RADIO 2015-2019

VIDEO 2015-2019

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

TEKNOLOGI INFORMASI 2015-2019

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

SENI RUPA 2015-2019

PENERBITAN 2015-2019

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

SENI PERTUNJUKAN 2015-2019

17

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

16

MUSIK 2015-2019

15

18

PENELITIAN & PENGEMBANGAN 2015-2019

PERFILMAN
2015-2019

14

KULINER 2015-2019

10

KERAJINAN 2015-2019

ARSITEKTUR 2015-2019

09

12
08

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI
JANGK A MENENGAH

11

ARSITEKTUR
2015-2019

06
05
04

KEKUATAN BARU INDONESIA


MENUJU 2025

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

xvi

Benjamin Franklin

Ekonomi Kreatif: Rencana Aksi Jangka Menengah Penerbitan 2015-2019

BAB 1
Perkembangan Penerbitan
di Indonesia

BAB 1: Perkembangan Penerbitan di Indonesia

1.1 Definisi dan Ruang Lingkup Penerbitan di Indonesia


Di Indonesia seringkali definisi penerbitan disamakan dengan definisi percetakan. Hal ini tidak
hanya dipahami oleh masyarakat awam, tetapi juga oleh pelaku bisnis. Bahkan pemerintah
sendiri masih sulit membedakan proses di antara kedua kegiatan tersebut. Padahal bila dilihat
secara etimologis dan konseptual, kedua kata tersebut memiliki makna yang sangat berbeda.
Selain itu, definisi penerbitan dan percetakan juga telah mengalami pergeseran makna, ruang
lingkup, bahkan karakteristik proses dan model bisnis searah dengan perkembangan informasi
dan teknologi yang semakin maju.
Pergeseran substansi industri penerbitan itu merupakan pergeseran pusat kreativitas dari kegiatan
penerbitan dan percetakan ke arah yang lebih menitikberatkan pada produksi konten. Peran
percetakan yang integral terhadap industri ini kini makin dapat digantikan oleh teknologi
informasi dan komunikasi (TIK). Pergeseran ini tentunya amat penting untuk dipahami jika
kita ingin memperoleh pemahaman yang menyeluruh dan relevan mengenai industri penerbitan
sebagai salah satu subsektor industri kreatif di Indonesia. Oleh karena itu, walau pada praktiknya
industri penerbitan dan percetakan masih sering berjalan sebagai satu kesatuan, ada baiknya jika
dalam pemahaman ekonomi kreatif kita lebih menitikberatkan pada industri penerbitan sebagai
pusat terjadinya kreativitas itu sendiri.
Untuk memahami hal ini, sekaligus untuk menghindari berbagai kerancuan yang ada dalam
pemahaman industri penerbitan dalam konteksnya sebagai salah satu subsektor industri kreatif
di Indonesia, menjadi penting bagi kita untuk melihat definisi dan ruang lingkup pengembangan
industri penerbitan di Indonesia.

1.1.1 Definisi Penerbitan


Penerbitan berasal dari kata publish yang mulai dicatat pada awal 1570 dengan pemahaman
the issuing of a written or printed work atau informasi yang ditulis atau pekerjaan yang dicetak.
Pemahaman penerbitan mulai dikembangkan pada 1650 dari bahasa Prancis kuno yang menyebutkan
bahwa kata publish berasal dari kata publier yang mengandung arti the act of making publicly
known. Sedangkan definisi printing berasal dari kata preinte yang diambil dari Prancis kuno
dan bahasa Latin premere yang mengandung arti top press atau cetak.
Berdasarkan pengertian tersebut, definisi penerbitan dan percetakan yang dikembangkan oleh
European Commission and Skillset Assesment UK (2011) adalah:
1. Penerbitan dapat didefinisikan sebagai proses produksi dan penyebaran informasi, yaitu
membuat informasi tersedia untuk publik. Informasi tersebut dapat berupa karya-karya
seperti buku, majalah, koran, dan rekaman suara dalam bentuk cetak maupun elektronik.
Fokusnya adalah menciptakan konten bagi konsumen.
2. Percetakan adalah proses untuk mereproduksi teks dan gambar, termasuk kegiatan
pendukung yang terkait, seperti penjilidan buku, jasa pembuatan piringan, dan pencitraan
data. Fokusnya adalah mereproduksi konten dalam bentuk media.
Berdasarkan definisi tersebut, maka aktivitas dalam penerbitan lebih bersifat kreasi dan
menitikberatkan pada muatan konten, sedangkan aktivitas pada percetakan lebih bersifat pada
produksi dan replikasi hasil karya berisikan muatan konten tersebut. Dengan demikian, penerbitan
dan percetakan memiliki aktivitas utama yang berbeda, tetapi sama-sama memiliki tujuan untuk
memperoleh keluaran berupa produk informasi yang baik dan bermutu kepada masyarakat.

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

Gambar 1-1 Perbedaan Alur Percetakan

Sumber: Lucya Andam, IKAPI (2014)

Hassan Pambudi, penulis buku Dasar dan Teknik Penerbitan Buku (1981), mendefinisikan
kegiatan menerbitkan sebagai kegiatan yang mempublikasikan kepada umum, mengetengahkan
kepada khalayak ramai, kata dan gambar yang telah diciptakan oleh jiwa-jiwa kreatif, kemudian
disunting oleh para penyunting untuk selanjutnya digandakan oleh bagian percetakan.1

Penerbitan adalah kegiatan


mempublikasikan kepada
umum, mengetengahkan kepada
khalayak ramai, kata dan
gambar yang telah diciptakan
oleh jiwa-jiwa kreatif.

Hasan Pambudi (1981)

(1) Hassan Pambudi, Dasar dan Teknik Penerbitan Buku (Jakarta: Sinar Harapan, 1981)

BAB 1: Perkembangan Penerbitan di Indonesia

Publication is the distribution of


copies or content to the public.
WIPO (2012).

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

Hal ini tentunya konsisten dengan padanan kata penerbitan dalam bahasa Inggris, yaitu publishing.
Badan hak milik intelektual dunia, WIPO, mengembalikan pemahaman penerbitan pada asal
katanya, yaitu publik. Dengan kata lain, penerbitan adalah industri yang mendistribusikan
konten kepada publik.
Di Indonesia, kita mengenal penerbitan dan percetakan sebagai salah satu subsektor industri
kreatif yang perlu dipahami lebih jauh definisi dan ruang lingkupnya sesuai dengan konteks
serta perkembangannya saat ini. Beberapa negara maju di Eropa, yaitu Inggris, Jerman, Spanyol,
dan Prancis memfokuskan pengembangan ekonomi kreatifnya dalam ruang lingkup penerbitan
(publishing), tanpa terlalu menekankan pada printing atau industri percetakan.
Inggris

Jerman

Spanyol

Prancis

Industri Kreatif
(Creative
Industries)

Industri Kreatif
dan Budaya
(Culture &
Creative
Industries)

Industri
Budaya
(Culture
Industries)

Sektor Budaya
(Cultural Sector)

Arsitektur

Audio-visual (Film, TV,


Radio)

Seni Pertunjukan

Perpustakaan

Desain

Pasar Barang Seni /


Seni Rupa

Penerbitan

Mode

Perangkat Lunak /Multi


Media

Museum/ Warisan
Budaya

Musik

Kerajinan

Periklanan

Istilah
yang digunakan

Sumber: Diadaptasi dari British Councils Creative and Cultural Economy Series, Singapore (2010); Hotzl.K (2006)
Creative Industries in Europe and Austria: Definition and Potential; dan Soenderman,.M et.al (2009) Culture and
Creative Industries in Germany

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, hal tersebut disebabkan karena sesungguhnya kegiatan
kreatif lebih berpusat pada penerbitan, sementara percetakan seringkali sekadar merupakan industri
pendukung saja. Orang dan usaha kreatif di industri ini lebih menekankan pada konten, sesuatu yang
berpusat pada rantai nilai penerbitan dan bukan percetakan. Jika dirunut perkembangannya, maka
model kegiatan penerbitan mengalami perkembangan sejalan dengan perkembangan teknologi, yaitu:

BAB 1: Perkembangan Penerbitan di Indonesia

1. Penerbitan Tradisional. Penerbitan secara tradisional meliputi kegiatan pemilihan,


penyusunan, dan distribusi barang cetakan seperti buku, surat kabar, majalah, dan
brosur. Penerbit bertanggung jawab sepenuhnya dalam memutuskan isi, struktur, dan
tampilan buku.2
2. Penerbitan Elektronik (Digital). Penerbitan elektronik mulai berkembang sehubungan
dengan perkembangan Internet. Hal ini memengaruhi keluaran produk dan juga rantai
nilai penjualan. Produk yang dulunya berbentuk fisik berubah menjadi bentuk digital.
Dalam hal pemasaran, penerbitan model elektronik ini memungkinkan terjadinya interaksi
langsung antara pihak penerbit dengan konsumen akhir.3
3. Penerbitan Mandiri/Self-publishing. Penerbit memfasilitasi para penulis untuk
mempublikasikan karya mereka sendiri dengan pencetakan sesuai permintaan (print on
demand). Hal ini membantu para penulis pemula untuk menerbitkan dan memasarkan
hasil karyanya tanpa harus mengajukan ke penerbit mayor. Keberadaan self-publishing
memberikan efisiensi dalam hal produksi.4
Dengan adanya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, maka penerbitan saat ini
tidak selalu diikuti dengan kegiatan percetakan dalam bentuk fisik ketika menciptakan sebuah
konten informasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, tetapi mulai berkembang ke arah
media digital/media baru. Berdasarkan alur penerbitan yang disusun oleh Ikatan Penerbitan
Indonesia (IKAPI), aktivitas percetakan masuk ke dalam alur proses penerbitan, yang dilakukan
setelah proses penyuntingan dan pemeriksaan aksara, sebelum didistribusikan ke toko buku baik
secara konvensional maupun daring (dalam jaringan atau online).
Gambar 1-2 Alur Penerbitan

Sumber: IKAPI, 2014

(2) (Gennard dan Dunn, 1983). Tolong ditulis dengan format yang sudah disepakati dengan Kemenparekraf.
(3) (Ronte, 2001, Behar, et al., 2011). Tolong ditulis dengan format yang sudah disepakati dengan Kemenparekraf
(4) (Wiener, 2013). Tolong ditulis dengan format yang sudah disepakati dengan Kemenparekraf

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

Berdasarkan konsep yang telah dikembangkan oleh IKAPI, maka definisi percetakan tidak lagi
dimaknai secara terpisah, tetapi menjadi satu bagian dalam proses penerbitan. Dengan demikian,
maka dapat diambil kesimpulan bahwa fokus utama dalam penerbitan adalah penciptaan konten
kreatif yang membutuhkan sumber daya manusia kreatif yang bekerja mengelola informasi dengan
mengandalkan ide atau gagasan (pemikiran kreatif).
Oleh karena itu, lingkup pengembangan ekonomi kreatif akan berfokus pada penerbitan yang
sarat dengan unsur kreativitas, sehingga dapat disimpulkan bahwa definisi penerbitan sebagai
bagian dari ekonomi kreatif adalah:

Suatu usaha atau kegiatan mengelola informasi


dan daya imajinasi untuk membuat konten kreatif
yang memiliki keunikan tertentu, dituangkan dalam
bentuk tulisan, gambar dan/atau audio ataupun
kombinasinya, diproduksi untuk dikonsumsi publik,
melalui media cetak, media digital, ataupun media
daring, untuk mendapatkan nilai ekonomi, sosial
ataupun seni dan budaya yang lebih tinggi.

Sumber: Focus Group Discussion Subsektor Penerbitan dan Percetakan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi
Kreatif, MeiJuni 2014

Dalam definisi penerbitan tersebut, terdapat beberapa kata kunci yang dapat menjelaskan makna
penerbitan secara lebih mendalam, yaitu:
1. Konten kreatif adalah informasi yang dikelola melalui proses kreativitas.
2. Keunikan adalah karya kreatif yang memiliki kekhususan atau keistimewaan, berbeda
dari yang lain.
3. Diproduksi untuk konsumsi publik adalah karya kreatif yang langsung memenuhi
keperluan hidup masyarakat (produk massal).
4. Media adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi
kepada penerima informasi, meliputi:
a. Media Cetak, yaitu media yang terdiri atas lembaran kertas dengan sejumlah kata,
gambar, atau foto dengan tata warna dan halaman;
b. Media Digital, yaitu media yang terdiri atas data-data digital dan ditampilkan berupa
kata-kata, gambar, video, maupun audio di layar;
c. Media Daring, yaitu media digital yang dapat diakses secara luas melalui Internet.
5. Nilai adalah manfaat yang diperoleh, meliputi:
a. Nilai ekonomi, yaitu nilai yang berhubungan dengan keuntungan secara finansial;
b. Nilai sosial, yaitu penghargaan yang diberikan masyarakat terhadap sesuatu yang
dianggap baik, luhur, pantas, dan mempunyai daya guna;
c. Nilai seni dan budaya, yaitu nilai yang berkaitan dalam pembuatan konten kreatif
dengan pengejawantahan estetika dan rasa seni yang di dalamnya mengandung
aspek kebudayaan.

BAB 1: Perkembangan Penerbitan di Indonesia

1.1.2 Ruang Lingkup Pengembangan Penerbitan


Penerbitan memiliki tiga fungsi utama yaitu publikasi, reproduksi, dan penyebarluasan. Fungsi
publikasi menjadi kunci utama dalam membangun pencitraan sebuah karya agar dapat diapresiasi
oleh masyarakat dengan baik dan akhirnya meningkatkan nilai ekonomis karya yang dihasilkan.
Proses publikasi erat kaitannya dengan kontrol kualitas di mana sebelum dipublikasikan sebuah
karya harus melewati proses seperti penilaian ahli atau review, penyuntingan konten, penyuntingan
bahasa, penggarapan desain, dan konversi format yang sesuai. Tujuannya adalah agar konten
karya yang telah dipublikasikan layak untuk dikonsumsi publik dan bernilai ekonomis.
Selain itu, penerbitan memiliki fungsi penggandaan atau reproduksi konten, yang dapat dilakukan
melalui pencetakan ataupun media lainnya. Wadah penyimpanan konten yang dihasilkan penerbitan
akan dikemas dalam media. Media yang dimaksud adalah media cetak, media elektronik, dan
media daring, ataupun kombinasinya seperti pemanfaatan multimedia serta fitur-fitur media sosial,
maupun potensi media lainnya yang mengikuti perkembangan teknologi. Dan yang terakhir,
fungsi yang tak kalah penting dari penerbitan adalah penyebarluasan, yaitu bagaimana konten
tersebut disalurkan ke masyarakat.
Berdasarkan pemahaman di atas, maka penerbitan memiliki makna yang luas dan tidak terbatas
pada penerbitan dalam bentuk buku, majalah, surat kabar, atau jurnal dan buletin, tetapi
mencakup pula konten-konten lainnya, seperti: musik, piranti lunak, atau film. Dengan kata
lain, penerbitan merupakan media perantara yang mempertemukan antara produsen dengan
konsumen. Setiap produsen bertujuan untuk memberikan informasi produk ataupun karyanya
kepada konsumen. Sedangkan konsumen membutuhkan informasi mengenai sebuah produk
ataupun karya agar dapat dikonsumsi. Oleh karena itu, posisi penerbitan di dalam peta industri
kreatif dapat dijadikan forward linkage (sebagai penerbit) maupun backward linkage (sebagai
penyedia referensi) terhadap tujuh belas subsektor ekonomi kreatif maupun industri lainnya
dalam rangka menyebarkan karya kreatifnya.
Di negara-negara maju seperti Inggris dan Singapura, ruang lingkup penerbitan yang dimaksudkan
berfokus pada publikasi karya kreatif yang memiliki hak cipta, seperti yang dapat dilihat pada
Tabel 1-1.
Tabel 1-1 Perbandingan Ruang Lingkup Penerbitan di Inggris dan Singapura

Inggris

Singapura

Penerbitan Buku

Penerbitan Buku

Penerbitan Surat Kabar

Penerbitan Surat Kabar

Penerbitan Jurnal dan Buletin

Penerbitan Jurnal dan Buletin

Penerbitan Lainnya

Penerbitan Lainnya

Penerbitan Permainan Komputer

Kegiatan Pemberitaan

Penerbitan Software lainnya


Penerbitan Rekaman Musik
Sumber: Department for Culture, Media & Sport Classifying and Measuring the Creative Industries (UK), 2011.
British Councils Creative and Cultural Economy Series, Singapore, 2010

10

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

Berdasarkan pemahaman di atas dan diskusi yang dilakukan, maka ruang lingkup penerbitan
dapat dipetakan seperti pada Gambar 1-3.
Gambar 1-3 Ruang Lingkup dan Fokus Pengembangan Penerbitan 20152019

Ruang lingkup penerbitan dalam konteks pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia dijelaskan
secara lebih detail sebagai berikut:
1. Penerbitan Buku. Penerbitan buku adalah penerbitan yang mempublikasikan informasi
atau gambar dalam bentuk buku. Di sini, buku dipahami sebagai kumpulan kertas atau
bahan lainnya yang dijilid menjadi satu pada salah satu ujungnya dan berisi tulisan
atau gambar. Pendaftaran atau pendokumentasian karya dalam bentuk buku dilakukan
menggunakan International Standard Book Number (ISBN).
Berdasarkan jenis kontennya, buku dapat memuat konten fiksi maupun nonfiksi dengan
penjelasan sebagai berikut:
a. Konten fiksi adalah konten kreatif berupa tulisan, gambar ataupun kombinasinya yang berisi
kisah rekaan, baik yang berlandaskan fakta-fakta nyata yang dibubuhi karangan pengarang
maupun yang murni merupakan rekayasa semata. Orang kreatif yang mendukung karya
fiksi meliputi novelis, cerpenis, dramawan, penyair, komikus, dan lain-lain.

BAB 1: Perkembangan Penerbitan di Indonesia

11

b. Konten nonfiksi adalah konten kreatif yang dalam penulisannya mengutamakan


data dan fakta yang tidak berisi imajinasi atau rekaan penulis dan dapat
dipertanggungjawabkan serta memiliki kelugasan makna. Orang kreatif yang
mendukung karya nonfiksi meliputi para jurnalis, esais, penulis biografi, penulis
fitur, penulis tulisan ilmiah, dan sebagainya.
Selain itu, penerbitan buku berdasarkan kategori jenis penerbitan dapat dikelompokkan
menjadi:
a. Penerbitan Buku Umum, yaitu penerbitan buku-buku bertemakan umum.
Kategorisasinya sebagai berikut: agama dan filsafat, bahasa, buku anak dan remaja,
buku sekolah, buku teks, hobi dan interest, hukum, kedokteran, perempuan,
komputer, manajemen dan bisnis, pertanian, psikologi dan pendidikan, referensi
dan kamus, sastra dan novel, sosial politik, pariwisata dan peta.
b. Penerbitan Buku Direktori,
yaitu
penerbit
yang
memproduksi
milis, buku telepon, dan berbagai jenis direktori lainnya. Dalam
perkembangannya, buku direktori ini makin banyak diterbitkan secara daring.
2. Penerbitan Media Berkala (Periodik). Penerbitan Media Berkala adalah penerbitan
kumpulan tulisan yang muncul dalam edisi baru pada jadwal teratur, termasuk surat
kabar, majalah, tabloid, buletin, jurnal, dan sebagainya. Ciri khas dari media berkala yaitu
memiliki nomor yang menandakan volume dan isu penerbitan. Volume biasanya mengacu
pada jumlah tahun publikasi yang telah beredar, sedangkan isu mengacu pada berapa kali
media yang bersangkutan telah terbit selama tahun itu. Pendaftaran atau pendokumentasian
media berkala dilakukan menggunakan International Standard Serial Number (ISSN).
Jenis-jenis media berkala adalah sebagai berikut:
a. Surat Kabar, didefinisikan sebagai publikasi yang menyajikan konten nonfiksi
berupa informasi terbaru terkait kegiatan pemberitaan (jurnalistik) atau informasi
lainnya, menggunakan jenis kertas murah yang disebut kertas koran. Hasil
karyanya diterbitkan dan didistribusikan kepada konsumen atau pelanggan secara
harian. Dalam perkembangannya, penerbitan koran juga makin sering disajikan
menggunakan media daring, misalnya: The New York Times, Kompas, Suara
Pembaruan, dan sebagainya.
b. Majalah dan Tabloid, yaitu publikasi yang menyajikan informasi populer atau
informasi dengan tema tertentu, disajikan dengan jadwal teratur secara mingguan
atau bulanan. Konten yang dimiliki berfokus pada tema tertentu dan mengacu pada
pembaca tertentu. Isinya dapat berupa fiksi dan nonfiksi. Contoh majalah, misalnya:
majalah Time, National Geographics, Tempo, Intisari, Femina, hingga majalah-majalah
remaja seperti Gadis dan Animonster.
c. Buletin, yaitu publikasi oleh organisasi yang mengangkat perkembangan suatu
topik atau aspek tertentu dan diterbitkan secara berkala dalam rentang waktu yang
relatif singkat, dari harian hingga bulanan. Buletin ditujukan kepada khalayak yang
sempit, yang berkaitan dengan bidang tertentu saja. Tulisan dalam buletin umumnya
singkat dan padat, menggunakan bahasa yang formal dan banyak istilah teknis yang
berkaitan dengan bidang tersebut.

12

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

d. Jurnal Akademik, yaitu publikasi yang mengembangkan konten nonfiksi hasil kajian
akademik, identik dengan konten yang memiliki spesialisasi dalam suatu bidang
akademik tertentu. Penerbit media ini umumnya merupakan universitas, lembaga
ilmiah, atau usaha komersial yang berfokus pada suatu disiplin ilmu tertentu.
3. Penerbitan Perangkat Lunak (Software) Komputer. Secara teknis, penerbitan
perangkat lunak komputer menerbitkan hasil-hasil karya kreatif dalam bentuk data
yang diformat dan disimpan secara digital, termasuk program komputer, dokumentasi,
dan berbagai informasi yang bisa dibaca dan ditulis oleh komputer. Walaupun berkaitan
dengan penyediaan informasi kepada khalayak luas, pada praktiknya, penerbitan ini
seringkali lebih terkait dengan subsektor teknologi informasi dan permainan interaktif.
Yang termasuk dalam produk perangkat lunak komputer adalah:

Perangkat lunak sistem yaitu program dasar yang berfungsi untuk mengontrol
perangkat keras sehingga berinteraksi dengan komputer untuk menjalankan aplikasi
perangkat lunak, contohnya adalah sistem operasi komputer seperti Ubuntu,
Windows, Android.

Aplikasi perangkat lunak yaitu perangkat lunak yang melakukan tugas tertentu
atau fungsi sebagai pengolah kata, misalnya Microsoft Word; Spreadsheet, misalnya
Microsoft Excel; pengolah grafis, misalnya Adobe Photoshop, Corel Draw, ACDSee;
software Internet browser, misalnya Internet Explorer, Mozilla Firefox.

Produk multimedia yaitu produk yang menyajikan dan menggabungkan teks,


suara, gambar, animasi, dan video dengan alat bantu dan koneksi sehingga pengguna
dapat melakukan navigasi, berinteraksi, berkarya, dan berkomunikasi. Multimedia
sering digunakan dalam dunia hiburan dan game.

Walau demikian, tidak jarang juga buku-buku panduan pemrograman dan sejenisnya
yang diterbitkan bersamaan dengan CD yang berisi perangkat lunak yang bersangkutan.
Dalam pengembangan subsektor penerbitan, bagaimanapun kita akan lebih berfokus pada
konten yang disebarluaskan terutama dalam bentuk buku, tanpa mengabaikan potensi
dan keterkaitan dengan subsektor-subsektor lain ini.
4. Penerbitan Audio-Visual Recording
Penerbitan karya-karya kreatif dalam bentuk perekaman audio ataupun audiovisual,
termasuk di dalamnya film, musik, dan video ataupun kombinasinya.
5. Penerbitan Lainnya. Penerbitan hasil karya kreatif berupa foto-foto, grafir (engraving)
dan kartu pos, formulir, poster, reproduksi karya seni, dan material periklanan serta
materi cetak lainnya dengan tujuan komersial, ataupun penerbitan yang tidak termasuk
ke dalam poin 1-4 tetapi konten ataupun pengembangan konten yang terdapat pada
media yang diterbitkannya mempublikasikan dan mendistribusikan informasi untuk
dikonsumsi publik.

BAB 1: Perkembangan Penerbitan di Indonesia

13

Adapun jenis-jenis media yang umum digunakan adalah sebagai berikut:


1. Media Cetak. Media cetak adalah media massa yang berbentuk printing yang dapat
dinikmati atau diakses langsung oleh pengguna akhir. Media ini terdiri atas lembaran
dengan sejumlah kata, gambar, atau foto dalam tata warna dan halaman.
2. Media Elektronik. Media elektronik adalah media yang untuk mengakses kontennya
diperlukan perangkat elektronik. Sumber media elektronik yang umum antara lain
adalah rekaman video, rekaman audio, presentasi multimedia, dan konten daring. Media
elektronik dapat berbentuk analog maupun digital, walaupun saat ini yang berkembang
pada umumnya berbentuk digital. Pada media elektronik, data/konten disimpan ke dalam
media penyimpan data seperti CD, DVD, dll.
3. Media Daring. Daring adalah singkatan dari dalam jaringan (online), yaitu keadaan
ketika seseorang terhubung dalam sebuah jaringan atau sistem yang lebih besar dalam
situasi interaksi langsung antara manusia, komputer, dan internet. Sedangkan yang
dimaksud dengan media daring adalah media yang digunakan untuk mengakses atau
menyajikan informasi/konten dengan menggunakan bantuan atau perantara teknologi
Internet. Yang termasuk dalam media daring antara lain adalah situs web, portal web,
weblog (blog). Berikut penjelasannya:
a. Situs web adalah halaman informasi yang disediakan kantor berita/perusahaan pers
melalui jalur Internet, sehingga informasi bisa diakses dari seluruh dunia selama
terkoneksi. Pada umumnya, situs web secara konvensional dikelola oleh suatu pihak.
b. Portal web adalah situs web yang lebih menitikberatkan pada basis data dan interaksi
pengguna, tidak jarang dengan menawarkan layanan lainnya seperti fasilitas surel,
forum, basis data pengguna, interaksi media sosial, dan sejenisnya.
c. Web log atau blog adalah media publikasi yang memuat tulisan (posting)
berupa artikel atau sejenisnya secara berkala, yang diurutkan sesuai waktu dan
dikelompokkan sesuai kategori jenis tulisan. Blog dapat dikelola secara perseorangan
maupun organisasi atau komunitas, dan merupakan alternatif media bagi penulis
pemula, karena media digital terbuka bagi siapa pun yang ingin membuat blog dan
menerbitkan tulisan mereka sendiri secara berkala.

Karakter komik fiksi terkenal:si Juki

Penerbitan permainan interaktif, teknologi informasi, musik,


dan film merupakan bagian subsektor yang berdiri sendiri
dan sudah memiliki peran penerbitan secara spesifik dalam
mengelola penyebarluasan dan pengelolaan hak cipta kontennya.
Namun, dalam praktik pengembangan konten di industri
kreatif, seringkali konten mengalami pengalihan media,
misalnya dari novel menjadi film, film menjadi komik,
komik menjadi mainan, dan lain sebagainya. Keterkaitan
ini mengindikasikan kecenderungan kolaborasi yang kuat
antarsubsektor ekonomi kreatif. Dalam kolaborasi ini, seringkali
industri penerbitan menjadi kunci awal bagi pengembangan
konten yang akan dialihmediakan, terutama dalam dunia komik
dan buku-buku nonfiksi. Salah satu contohnya adalah novel
Laskar Pelangi dan Perahu Kertas yang telah difilmkan, serta
karakter komik fiksi terkenal Si Juki yang dikembangkan
untuk menjadi sebuah ikon di Indonesia.

yang dibuat oleh Faza Meonk


14

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

Dengan berbagai pertimbangan dan pemahaman tersebut, maka ruang lingkup industri penerbitan
dalam konteks pengembangan subsektor industri kreatif di Indonesia meliputi dua kegiatan utama
berikut ini:
1. Penerbitan Buku Umum. Dilaksanakan dengan fokus pengembangan pada keberlangsungan
penerbitan buku cetak, khususnya buku-buku yang memiliki genre buku anak, sastra dan
novel, komik ataupun buku-buku yang mencerminkan nilai budaya bangsa serta buku
yang menjadi penunjang keberadaan ke-15 subsektor ekonomi kreatif lainnya.
2. Penerbitan Media Berkala. Penerbitan media berkala adalah penerbitan karya kreatif
dalam jangka waktu tertentu. Fokus pengembangan industri penerbitan ini meliputi surat
kabar, majalah, tabloid, buletin dan jurnal akademik yang terkait dengan penyampaian
informasi ataupun konten publikasi yang memiliki pengaruh signifikan terhadap perubahan
pola pikir masyarakat secara umum.

1.2 Sejarah dan Perkembangan Penerbitan


1.2.1 Sejarah dan Perkembangan Penerbitan Dunia
Perkembangan industri penerbitan tentunya sangat terkait dengan perkembangan teknologi
pendukungnya. Berikut akan kita lihat sejarah perkembangan penerbitan dunia dari akar
tradisionalnya hingga revolusi digital yang terjadi di masa kini, yang dapat dikelompokkan
menjadi beberapa masa, yaitu era pramodern, era modern (18001980), dan era digital (1980
sampai sekarang).
Era Pramodern. Kegiatan penerbitan, yang didefinisikan sebagai penyebarluasan konten dalam
wujud buku, telah ada jauh sebelum gagasan mengenai industri itu sendiri. Masa ini dikenal
dengan masa pramodern, yaitu masa sebelum Revolusi Industri.
1. Tradisional (10001400). Kegiatan penerbitan mulai berkembang setelah bangsa Tiongkok
memperkenalkan kertas kepada bangsa Eropa pada abad ke-11. Pada masa tradisional
ini, kegiatan penerbitan bertujuan untuk penyampaian informasi atau korespondensi,
serta untuk penyebarluasan ajaran-ajaran agama, terutama agama Kristen. Media yang
digunakan adalah kertas dari serat papirus dengan ciri tulisan tangan atau cap.
2. Moveable Type (14001800). Mesin cetak diciptakan oleh Johann Gutenberg di Mainz,
Jerman, pada abad ke-15. Moveable type menjadi awal Revolusi Gutenberg, yaitu ketika
media mulai dapat diduplikasi dan disebarkan secara massal. Reproduksi tulisan secara
massal ini pulalah yang mendorong orang untuk memikirkan hak cipta, hingga pada
1710 dikeluarkan Statute of Ann yang menjadi awal bagi perkembangan Undang-Undang
Hak Cipta. Statute of Ann memperkenalkan dua konsep baru mengenai hak cipta, yaitu
penulis sebagai pemilik hak cipta dan prinsip perlindungan untuk jangka waktu tertentu
bagi karya yang diterbitkan.
Era Modern (18001980). Revolusi Industri di Inggris mendorong pula berdirinya kegiatan
penerbitan sebagai suatu industri tersendiri. Teknik-teknik litografi dan offset makin mempercepat
kegiatan penerbitan. Berbagai kemelut sosial, politik, dan ekonomi dunia yang didorong oleh
Revolusi Industri dan kapitalisme awal melahirkan permintaan yang tidak sedikit atas media massa
yang tanggap dan informatif. Berbagai karya sastra, sains, dan filsafat di luar ajaran agama juga
mulai banyak diminati seiring dengan berkembangnya pemikiran-pemikiran Era Pencerahan.

BAB 1: Perkembangan Penerbitan di Indonesia

15

Pada era ini registrasi dan pengembangan hak cipta menjadi marak, sebagai cara perlindungan
teknologi dan inovasi baru agar dapat dikembangkan secara massal tanpa kekhawatiran pencurian
ide. Hak cipta adalah hak eksklusif bagi pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan,
memperbanyak, atau memberikan izin penggunaan karya ciptaannya menurut peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Pada 1974 berdirilah WIPO, sebuah badan khusus di bawah
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan mandat untuk mengelola hal-hal kekayaan intelektual
dari negara-negara anggota PBB.
Dengan kebijakan-kebijakan tersebut dan makin berkembangnya teknologi media, kini telah
banyak negara maju yang menetapkan kebijakan-kebijakan yang mendorong pertumbuhan
sektor swasta dan menguatkan perlindungan hak cipta berkaitan dengan industri penerbitan.
Dalam industri penerbitan, terdapat dua hak cipta yang berlaku, yakni hak cipta pembuat karya
(penulis) dan hak cipta penerbit. Hak cipta pembuat karya adalah hak yang menyangkut isi/
konten. Hak cipta penerbit adalah hak atas bentuk buku, desain sampul, ilustrasi dalam buku,
dan tata letak penulisan.
Jika seorang pembuat karya menyetujui naskahnya diterbitkan oleh penerbit, maka pembuat
karya tersebut akan menyerahkan hak cipta karyanya kepada penerbit secara tertulis dalam
surat perjanjian kerja sama. Melalui surat perjanjian kerja sama itu, pihak pembuat karya akan
mengetahui apa saja hak dan kewajibannya sebagai pemegang hak cipta. Sebaliknya, penerbit
bisa mendapatkan hak-hak antara lain untuk menerjemahkan, memperbanyak, dan menjual hasil
terjemahan karya penerbitan dalam bentuk cetakan, e-book ataupun konten lain. Pembuat karya
selaku pemegang hak cipta berhak melarang perbanyakan karya oleh pihak lain tanpa seizinnya.
Berkaitan dengan meningkatnya kesadaran pencipta bahwa suatu karya penerbitan bisa diterjemahkan
ke dalam berbagai format atau lintas media, maka hak cipta menjadi penting (misalnya novel yang
diterjemahkan ke dalam komik atau diadaptasi ke dalam film). Gagasan ini semakin meledak
seiring menjamurnya format multimedia dan teknologi digital, yang kian memudahkan suatu
karya untuk disalin, disebarluaskan, dan diterjemahkan ke dalam berbagai format baru. Sebagai
contoh, menjelang pertengahan abad ke-20, komik-komik Amerika seperti Superman dan Flash
Gordon mulai diadaptasi ke dalam kartun, film, dan serial televisi, tokoh-tokoh seperti Mickey
Mouse digunakan dalam suvenir dan pakaian, dan raksasa-raksasa konten seperti Walt Disney
dan DC Comics mulai bermunculan.
Era Digital (1980 ke atas). Pada penghujung abad ke-20, industri penerbitan mulai memasuki Era
Digital. Era ini ditandai dengan kelahiran Internet sebagai alternatif penyebarluasan informasi
yang dalam konteks penerbitan, semula hanya terbatas pada media cetakserta fokus yang lebih
tajam pada produk-produk kekayaan intelektual sebagai konten industri penerbitan itu sendiri.
Hal ini merupakan pergeseran dari fokus sebelumnya pada teknologi-teknologi percetakan dan
menandakan awal mula berdirinya industri percetakan dan penerbitan sebagai dua industri
yang terpisah.
Pada masa ini, aktivitas industri penerbitan semakin terkait dengan perkembangan teknologi informasi
dan komunikasi (TIK) Perkembangan ini membawa perubahan perilaku masyarakat dalam mengonsumsi
konten informasi, misalnya, minat masyarakat terhadap e-books, media sosial, maupun jasa print on
demand (POD), sehingga industri penerbitan pun mengalami perubahan untuk beradaptasi dengan

16

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

kondisi sosial yang baru ini. Di sisi lain, pada masa ini, percetakan pun mengalami perubahan yang
signifikan, yaitu pembuatan dummy yang telah memanfaatkan mesin Computer to Print (CTP) yang
mampu mempercepat proses pencetakan maupun penggandaan konten dalam bentuk media fisik.
Kemajuan informasi dan teknologi terbaru telah mengguncang keberlangsungan industri
penerbitan yang ada. Hal ini, diperkuat dengan berbagai isu pemanasan global dan gerakan-gerakan
pengurangan penggunaan kertas yang makin marak, berkontribusi terhadap tren masyarakat
yang bergeser dari konsumsi media cetak ke media digital. Perubahan ini pada akhirnya menjadi
ancaman sekaligus tantangan bagi industri penerbitan yang ada agar dapat bertahan. Oleh karena
itu, usaha kreatif pada industri penerbitan membutuhkan inovasi dalam penciptaan karya yang
menjawab kebutuhan pasar akan tren dan gaya hidup digital secara efektif dan efisien.
Di sisi lain, perkembangan TIK juga menumbuhkembangkan keberadaan penerbit mandiri (selfpublisher). Kemajuan teknologi seperti print on demand dan e-book maupun media-media baca-tulis
baru seperti situs web, blog, dan media sosial mendorong pertumbuhan pesat generasi penulis
yang menerbitkan karya mereka secara mandiri. Kini, para penulis tidak memerlukan sumber
daya yang banyak untuk mempublikasikan karya tulis mereka, sehingga kegiatan penerbitan
menjadi jauh lebih demokratis, tanpa harus bergantung pada industri-industri besar. Penulis
selaku penerbit mandiri bisa menerbitkan karya-karya tulis menggunakan berbagai sumber daya
terbuka yang memfasilitasi penerbitan karya tulis mereka atau mempublikasikan sendiri karya
mereka dalam blog maupun situs web.
Tentunya, berbagai kebebasan tersebut datang dengan ragam tantangannya sendiri. Media yang
terlalu terbuka dinilai kurang dapat mengasah kualitas insan kreatif yang berkarya di dalamnya,
sedangkan longgarnya penyensoran disayangkan sebagian kalangan masyarakat yang dengan
maraknya konten-konten yang dinilai kurang sesuai dengan nilai-nilai budaya yang berlaku. Selain
itu, teknologi digital juga memudahkan pembajakan karya dan penyebarluasannya, sebuah fakta
yang kerap kali membuat panik para penerbit besar karena dinilai amat merugikan bisnis mereka.

1.2.2 Sejarah dan Perkembangan Penerbitan Indonesia


Sejarah penerbitan di mana pun tentunya terkait erat dengan sejarah pers, tak terkecuali di
Indonesia yang kemudian dapat dirunut ke dalam beberapa masa, yaitu: masa penjajahan Belanda,
Era Orde Lama, Era Orde Baru, Era Reformasi.
Masa Penjajahan Belanda. Usaha penerbitan di Indonesia pada awalnya dimulai pada zaman
penjajahan Belanda yang berfokus pada kegiatan pers, hal ini ditandai dengan diterbitkannya
surat kabar pertama kali terbit pada 1615, yaitu Memoria der Nouvells, di mana teksnya ditulis
dengan tangan. Lembar tersebut memuat informasi pemerintah VOC mengenai mutasi pejabat di
wilayah Hindia Belanda. Lebih daripada satu abad kemudian, tulisan tangan tersebut diterbitkan
kembali di surat kabar Bataviaasche Nouvelles pada 17 Agustus 1744 sebagai surat kabar pertama
di Hindia Belanda. Surat kabar ini merupakan surat kabar pemerintah Hindia Belanda yang
diterbitkan dan dicetak oleh VOC. Dalam surat kabar ini hampir seluruh halamannya dipenuhi
oleh iklan. Setelah itu muncul pula penerbitan buku-buku sastra Melayu dan buku bahasa daerah.
Pelaku usaha penerbitan pada zaman Belanda cenderung dikuasai oleh para pendatang dan
pribumi. Dalam rangka mengimbangi perusahaan penerbitan yang dilakukan bangsa Indonesia,
maka pada 1908 Pemerintah Belanda membangun usaha penerbitan milik Belanda bernama

BAB 1: Perkembangan Penerbitan di Indonesia

17

Commissie voor de Volkslectuur yang selanjutnya dikenal dengan nama Balai Pustaka. Sebagai
badan penerbitan, Balai Pustaka mencitrakan sekumpulan orang terhormat, terpelajar, dan paling
berjasa dalam membangun sastra, bahasa, dan kebudayaan Indonesia.
Salah satu penerbitan yang juga penting dalam sejarah kebudayaan dan sastra adalah Boekhandel
Tan Khoen Swie. Boekhandel Tan Khoen Swie adalah penerbit yang menerbitkan buku-buku dengan
penggunaan bahasa maupun gaya penulisan yang membangun nilai kultural dan estetik dalam setiap
terbitannya. Kehadirannya memberikan sumbangan yang sangat besar bagi perkembangan sastra,
sehingga sampai saat ini buku-bukunya masih dianggap penting. Karya yang diterbitkan adalah
versi-versi awal Serat Kalatidha (Ranggawarsita) dan Serat Wedhatama (Mangkunagara IV).5

Penerbit Balai Pustaka


Sejarah perkembangan industri penerbitan sangat erat kaitannya dengan berdirinya perusahaan penerbitan dan percetakan milik negara pertama bernama Balai Pustaka pada abad ke-18. Balai Pustaka
didirikan dengan nama Commissie voor de Volkslectuur (bahasa Belanda: Komisi untuk Bacaan
Rakyat) oleh pemerintah Hindia-Belanda pada 1908 kemudian berubah menjadi Balai Poestaka pada
1917. Tujuan pendirian Balai Pustaka adalah untuk mengembangkan bahasa-bahasa daerah utama di
Hindia Belanda. Bahasa-bahasa ini adalah bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Melayu, dan bahasa
Madura. Melalui Balai Pustaka, Indonesia dikenal sebagai negara yang sangat kuat dalam karya sastra
melayu, seperti Sitti Nurbaya karya Marah Rusli dan Serat Rijanto karangan Raden Bagoes Soelardi.
Tetapi dalam perkembangannya, karya-karya yang dihasilkan oleh Balai Pustaka tidak lagi kompetitif
dengan munculnya perusahaan penerbitan swasta yang menguasai industri dari hilir ke hulu.

Era Orde Lama. Setelah masa kemerdekaan, pada 1950-an penerbit swasta nasional mulai
bermunculan. Sebagian besar berada di Pulau Jawa dan selebihnya di Sumatera. Pada awalnya,
mereka bermotif politis dan idealis. Mereka ingin mengambil alih dominasi para penerbit Belanda
yang setelah penyerahan kedaulatan pada 1950 masih diizinkan beroperasi di Indonesia.

(5) (Kristyowidi, B.I dan Moordiati, 2012).

18

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

Pada 1955, pemerintah Republik Indonesia mengambil alih dan menasionalisasi semua perusahaan
Belanda di Indonesia, termasuk Balai Pustaka. Setelah itu, pemerintah berusaha mendorong
pertumbuhan dan perkembangan usaha penerbitan buku nasional dengan memberikan subsidi
dan bahan baku kertas bagi para penerbit buku nasional dan mewajibkan penerbit menjual bukubukunya dengan harga murah.
Pemerintah kemudian mendirikan Yayasan Lektur yang bertugas mengatur bantuan pemerintah
kepada penerbit dan mengendalikan harga buku. Dengan adanya yayasan ini, pertumbuhan dan
perkembangan penerbitan nasional dapat meningkat dengan cepat. Di samping itu, pada 1950,
berdirilah Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) yang beranggotakan 13 penerbit Indonesia dan
bertujuan untuk menaungi keberadaan penerbit-penerbit Indonesia.
Masa tersebut juga ditandai oleh munculnya apa yang dikenal sebagai sastrawan angkatan 1945,
yang mempunyai karakteristik revolusioner dan penuh dengan nasionalisme, bebas berkarya sesuai
dengan alam kemerdekaan dan hati nurani. Para sastrawan angkatan ini antara lain Chairil Anwar
(Kerikil Tajam), Idrus (1948), dan Achdiat K.Miharja (Atheis). Selain itu, sejak 19501960-an,
muncul pula komik-komik silat seperti Sri Asih (1954) karya R.A. Kosasih dan Si Buta dari
Goa Hantu (1967) karya Ganes T.H.
Terbitnya majalah sastra Kisah asuhan H.B Jassin menandakan munculnya sastrawan angkatan
19501960-an, antara lain Pramoedya Ananta Toer (Bukan Pasar Malam), N.H. Dini (Dua
Dunia), Mochtar Lubis (Tak Ada Esok), Ajip Rosidi (Tahun-Tahun Kematian), dan W.S. Rendra
(Balada Orang-Orang Tercinta).
Era Orde Baru. Pada 1965, penerbit yang menjadi anggota IKAPI telah berjumlah lebih daripada
600, namun saat itu terjadi perubahan situasi politik di tanah air. Salah satu akibat dari perubahan
itu adalah keluarnya kebijakan baru pemerintah dalam bidang politik, ekonomi dan moneter.
Pada akhir 1965, subsidi bagi penerbit dihapus. Akibatnya, hanya 25% penerbit yang bertahan
dan situasi perbukuan mengalami kemunduran.
Masa Orde Baru dikenal sebagai masa kelam bagi industri penerbitan maupun pers. Pada masa
ini, aktivitas penerbitan ditandai dengan pembredelan dan penahanan, dan tidak sedikit wartawan
ataupun penulis yang dikucilkan dan dianiaya. Buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer,
Utuy Tatang Sontani, dan beberapa pengarang lainnya tidak dapat dipasarkan karena dianggap
bertentangan dengan ideologi yang berlaku pada masa itu.
Namun, bukan berarti dunia sastra Indonesia mati. Pada 19661970-an, ditandai dengan terbitnya
majalah Horison pimpinan Mochtar Lubis, muncul generasi sastrawan baru, antara lain Taufik
Ismail (Puisi-Puisi Langit), Umar Kayam (Para Priyayi), Sapardi Djoko Darmono (Dukamu
Abadi) dan Leon Agusta (Monumen Safari).
Pada 1980 pemerintah Indonesia menyadari pentingnya peran buku untuk memajukan peradaban
bangsa sehingga pada 17 Mei 1980 pemerintah membangun Perpustakaan Nasional Republik
Indonesia yang berlokasi di Jakarta. Selanjutnya pada 17 Mei diperingati sebagai hari buku nasional

BAB 1: Perkembangan Penerbitan di Indonesia

19

Sumber: www.profil.merdeka.com

Pramoedya Ananta Toer


Pramoedya Ananta Toer lahir di Blora, Jawa Tengah pada 1925. Pram adalah salah satu sastrawan
besar Indonesia yang telahmenghasilkan artikel, puisi, cerpen, dan novel lebih daripada 50 karya
dan telah diterjemahkan kedalam 41 bahasa asing. Banyak dari tulisannya menyentuh tema
interaksi antarbudaya; antara Belanda, kerajaan Jawa, orang Jawa secara umum, dan Tionghoa.
Dalam perjalanan hidupnya, beberapa karya Pram dilarang untuk dipublikasikan karenadianggap
mengganggu keamanan negara pada zamannya. Meskipun demikian, Pram mendapatkan
banyakpenghargaan dari lembaga-lembaga di luar negeri. Salah satunya pada 1995, Pram
memperoleh Ramon Magsaysay Award Foundation, Manila, Filipina, 1995 untuk kategori
Jurnalisme, Sastra, dan Seni Komunikasi Kreatif.
Pram meninggal di Jakarta, 30 April 2006 pada umur 81 tahun. Ia merupakan sosok idealis dalam
dunia kesastraan Indonesia. Karya-karya terbaik yang telah dihasilkannya antara lain, Bumi
Manusia, Gadis Pantai, Arus Balik, dan N yanyi Sunyi Seorang Bisu yang diterjemahkan ke
dalam bahasa Inggris oleh Willem Samuels, dengan judul The Mutes Soliloquy: A Memoir.
Pram memperoleh penghargaan di antaranya: Freedom to Write Award dari PEN American Center,
AS, 1988; Penghargaan dari The Fund for Free Expression, New York, AS, 1989; Wertheim Award,
untuk pelayanannya dalam memperjuangkan emansipasi orang Indonesia dari The Wertheim
Fondation, Leiden, Belanda, 1995; UNESCO Madanjeet Singh Prize, sebagai pengakuan
pada kontribusinya dalam mengkomunikasikan toleransi dan tanpa kekerasan dari UNESCO,
Prancis, 1996; Doctor of Humane Letters, sebagai pengakuan pada tulisannya yang melawan
tirani dan perjuangannya dalam kebebasan intelektual dari Universitas Michigan, Madison, AS,
1999; Chancellors distinguished Honor Award, untuk kontribusinya terhadap toleransi etnis
dan pemahaman global, dari Universitas California, Berkeley, AS, 1999; Chevalier de lOrdre
des Arts et des Letters, dari Le Ministre de la Culture et de la Communication Republique,
Paris, Perancis, 1999; New York Foundation for the Arts Award, New York, AS, 2000; Fukuoka
Cultural Grand Prize (Hadiah Budaya Asia Fukuoka), Jepang, 2000; The Norwegian Authors
Union, 2004; Centenario Pablo Neruda, Chili, 2004.

20

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

Era Reformasi. Setelah Reformasi bergulir tahun 1998, kebebasan penerbitan dan pers mulai
diperoleh kembali. Pada 1999, dikeluarkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang
Hak Asasi Manusia dan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Di dalam
undang-undang yang menyangkut kebebasan pers, tidak ada lagi penyensoran, pembredelan,
dan pelarangan penyiaran pada pers nasional.
Setelah itu, terjadilah booming penerbitan media massa yang menghasilkan potret dunia penerbitan
di Indonesia yang jauh lebih terbuka dibandingkan masa-masa sebelumnya. Fenomena ini ditandai
dengan munculnya media-media baru baik cetak maupun elektronik dengan berbagai kemasan
dan segmen. Namun, di sisi lain, beberapa pihak beranggapan bahwa tidak ada keseimbangan
antara kebebasan pers/penerbitan dengan tanggung jawab sosial. Media menjadi bebas untuk
mengeksploitasi informasi bersifat sensasional tanpa ada penegakan terhadap peraturan
perundangan serta etika jurnalistik yang berlaku. Oleh karena itu keberadaan otoritas yang
memiliki kewenangan untuk menegur atau menindaklanjuti kebijakan mengenai konten perlu
segera diberikan wewenang yang memadai.
Dari sisi karya, misalnya terkait dengan komik, di masa ini ditandai dengan munculnya generasi
baru komikus Indonesia seperti Is Yuniarto dengan komik Wind Rider-nya pada pertengahan
akhir 2000-an. Selain itu, tidak sedikit buku terbit dan kemudian menjadi bestseller alias laris
manis di pasaran dan terus diperbincangkan publik. Novel-novel ini banyak juga yang lantas
diadaptasi menjadi film, antara lain Laskar Pelangi, Jakarta Undercover, Habibie & Ainun, serta
karya-karya Raditya Dika yang juga sukses secara komersial dan mencetak tren sastra pribadi
di dunia penerbitan.
Memasuki era digital dan Internet, timbul dilema dalam keberlangsungan karya penerbitan cetak.
Pada era digital, sumber informasi yang mudah diakses lewat berbagai media, tidak hanya media
cetak, membuat daya tarik konsumen terhadap karya penerbitan cetak mulai menurun, terganti
oleh karya cetak digital. Pada era ini, banyak penerbit di Indonesia mulai memanfaatkan format
buku digital (e-book) untuk pembacanya. Era ini juga ditandai dengan munculnya penerbitpenerbit mandiri (self-publisher) yang memberikan kemudahan kepada penulis untuk menerbitkan
karya kreatifnya dan memasarkannya secara mandiri. Penerbitan mandiri memiliki prinsip
bahwa setiap penulis berhak menerbitkan buku seperti apa pun yang mereka kehendaki. Konsep
pelayanan penerbitan self-publisher adalah membantu mewujudkan impian penulis menerbitkan
buku secara gratis dan mudah.
Bila dilihat dari sejarah pendiriannya, keberadaan self-publisher di Indonesia sudah dimulai
pada 2008 dengan berdirinya komikoo.com. Komikoo adalah portal pertama di Indonesia yang
memuat komik online dengan konten swadaya dari para anggotanya. Keberadaannya sebagai
pelopor situs komik Indonesia online memberikan kesempatan kepada komikus (penulis) berbakat
untuk berekspresi atau menampilkan karya-karyanya.
Perkembangan kondisi pasar dan tingginya penetrasi penggunaan Internet di Indonesia juga
menjadi alasan berdirinya platform startup self-publishing online pertama di Indonesia bernama
Nulisbuku.com oleh Aulia Halimatussadiah (Ollie) dan teman-temannya pada 2010. Pendiriannya
dilatarbelakangi kesulitan yang dialami beberapa penulis untuk menerbitkan buku yang mengalami
penolakan dari penerbit besar karena dianggap tidak sesuai dengan selera pasar.

BAB 1: Perkembangan Penerbitan di Indonesia

21

Dalam pemasarannya, selain menggunakan media sosial untuk kegiatan promosi, nulisbuku.com
juga bermitra dengan salah satu toko buku online bernama Kutukutubuku.com (sebuah toko buku
online yang menjual dan memasarkan buku-buku dengan beragam kategori dan produksi dalam dan
luar negeri). Pada 2012, keberadaan self-publisher lainnya mulai bermunculan. Salah satunya adalah
dapurbuku.com oleh Jonru Ginting, seorang penulis, blogger dan entrepreneur di bidang penulisan.
Dapurbuku bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan nilai jual buku-buku self-publishing di Indonesia.
Pada awal 2013, penerbit di Indonesia mulai mengembangkan format buku digital versi keempat
atau yang dikenal dengan buku digital interaktif. Melalui buku tersebut, konsumen dapat
membaca karya penerbitan secara interaktif dan aplikatif. Salah satu penerbit Indonesia yang
sukses mengembangkan karya penerbitan digital adalah PT Pesona Edu. Oleh karena itu, dalam
perkembangannya ke depan, penerbit Indonesia akan menghadapai banyak tantangan, di satu sisi
karya cetak penerbitan mulai ditinggalkan konsumen seiring perkembangan teknologi, tetapi di sisi
lain penerbitan karya digital muncul dengan versi yang terus berkembang tetapi belum sepenuhnya
dapat menggantikan karya cetak penerbitan. Oleh karena itu, dibutuhkan peran pemerintah
dalam mengatur kebijakan karya cetak penerbitan yang memperhatikan keberlangsungan karya
penerbitan cetak dan digital secara merata di seluruh Indonesia.

Situs Nulisbuku.com

22

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

Nulisbuku.com adalah sebuah perusahaan jasa layanan penerbitan mandiri (online self-publishing
print on demand) di Indonesia yang membantu mewujudkan impian semua orang menerbitkan
buku secara gratis dan mudah. Kehadirannya lebih sebagai mitra para penulis untuk menerbitkan
buku sendiri. Nulisbuku.com menyediakan sebuah toko buku online yang digunakan sebagai
tempat untuk berbagi atau menjual sebuah karya (buku) yang telah diterbitkan. Keunikan dalam
pelayanannya adalah penulis dapat menentukan sendiri harga jual buku dan royaltinya sendiri.
Dalam perkembangannya Nulis.buku.com memiliki anggota sebanyak 36.000 (active) dan 10.000
(inactive). Jumlah buku yang telah diterbitkan sebanyak 3.880 naskah. Twitter @nulisbuku memiliki
100.000 followers dengan Facebook Nulisbuku.com 25.146 likes. Nulisbuku.com telah memiliki 55%
web visitors menggunakan desktop, 44% menggunakan smartphone, sisanya menggunakan tablet.

BAB 1: Perkembangan Penerbitan di Indonesia

23

Gambar 1-4 Perkembangan Penerbitan di Dunia

1892

1891

Mesin pencetakan 4 warna ditemukan

UU Hak Cipta 1891 melarang penerbitan kembali judul bahasa


Inggris dalam bentuk kertas, membuat novel hampir tidak ada

Penerbitan Readers Digest dimulai

500 SM
Penemuan kertas yang terbuat dari serat papyrus sebagai
media menulis/media informasi sekitar sungai Nil

Penemuan kertas oleh bangsa Tiongkok

ERA PRAMODERN

808

1922

1923

105 SM

The Diamond Sutra, sebuah gulungan tujuh halaman yang


dicetak dengan balok kayu di atas kertas, yang diproduksi di Cina

Penerbitan National Geographic dimulai

Penerbitan Time mulai muncul

1970

1982

1980

Transmedia storytelling
mulai dikembangkan

1985

1440

ERA PRAMODERN

Jerman Johann Gutenberg menciptakan


mesin pencetakan pertama di dunia

Munculnya toko buku swasta sehingga


mematikan toko buku kecil bangkrut

Gutenberg mencetak buku pertamanya dalam bentuk Injil

Surat Kabar Dunia Pertama yang diterbitkan di Jerman

1990
Kebanyakan surat kabar mulai menggunakan teknik produksi
digital dan layout menggunakan perangkat lunak

1455

1605

Dengan tersedianya relatif murah printer laser


dan komputer, alat untuk desktop publishing mulai
umum digunakan

Akademik Amerika Encyclopedia tersedia pada CD-ROM.


Ini adalah karya referensi pertama kali diterbitkan
pada media ini

Cina dan Korea mengembangkan teknik pencetakan movable type,


menggunakan tanah liat, kayu, perunggu dan besi

Konsep Internet mengambil alih dunia

Kadokawa Shoten mempelopori industri


konten melalui gerakan Media Mix

1986
1982

abad ke-11

1995

1996

ERA MODERN

1899

Penerbit Amazon.com memulai


penjualan secara online

1997

1731

Beberapa surat kabar tradisional meluncurkan versi online untuk internet

Majalah majalah modern pertama, diterbitkan di Inggris The Gentleman

1790

1796

Penemuan Kamera oleh


Thomas Wedgewood

Jerman Alois Senefelder mengembangkan litografi,


metode transfer gambar yang menghasilkan gambar
berkualitas tinggi dicetak

1843
Mesin tenaga uap mendorong penemuan mesin pencetakan yang
efisien dan menbawa bisnis penerbitan menjadi manufaktur

1999
Blogger ditemukan dan Self-publishing mulai berkembang.
Kehadiran self-publisher memberikan orang blog gratis
untuk berbagi pikiran, pendapat, dan menulis secara online

Twitter muncul sebagai cara baru


menerbitkan informasi pendek serta
cara baru untuk menyampaikan berita
dan menyebarkan informasi

2006

2007
Amazon Kindle rilis penjual,
yang mulai mendapatkan traksi

1886
Penemuan linotype

2010
Untuk pertama kalinya, eBook out
penjualan buku cetak di Amazon

2011

24

Penjualan tablet terus tumbuh, membuat


eBook lebih populer dari sebelumnya

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

Gambar 1-5 Perkembangan penerbitan di Indonesia

1972
1966-1970

Penerbit Gramedia
Pustaka Utama berdiri
untuk memberikan
layanan jasa cetak
Koran, tabloid, buku,
majalah dan material
promosi

Mulai bangkitnya dunia sastra Indonesia. Ditandai


dengan munculnya majalah Horison oleh Muchtar
lubis, dan beberapa sastrawan seperti Sapardi Djoko
Damono, Taufik Ismail

1980

ERA penjajahan
belanda

1615
Surat kabar pertamakali terbit yaitu memoria der Nouvells

Penerbitan Karya Sitti nurbaya,


Marah Rusli ,oleh Balai Pustaka

1908

1945
Muncul Sastrawan angkatan 45,
antara lain Chairil Anwar, Idrus

ERA orde lama

1950

1999

1955
Pemerintah Republik Indonesia mengambil alih dan
menasionalisasi semua perusahaan Belanda di Indonesia

Subsidi bagi penerbit dihapus,


matinya kebebasan pers

1965
1967
Penerbitan karya Si Buta dari Goa Hantu karya Ganes T.H

BAB 1: Perkembangan Penerbitan di Indonesia

Terbitnya karya Kisah Asuhan


H.B Jassin, dan beberapa
sastrawan pada zaman ini
adalah Pramoedya Ananta Toer,
Ajip Rosidi, W.S Rendra

ERA orde baru

Booming penerbitan media massa

2000

2001
Industri buku mulai mengembangkan e-book

1950

1950-1960

2000

Kebebasan penerbitan dan pers mulai diperoleh kembali

1954
Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI)
didirikan oleh 13 penerbit

Internet mulai masuk ke Indonesia

Adanya gerakan mahasiswa pada tahun 1998


yang menjatuhkan kekuasaan presiden Soeharto

Penerbitan swasta
nasional milik pribumi
mulai bermunculan

Terbitnya konten lokal komi berjudul


Sri Asih oleh R.A Kosasih

1990

1998

Pendirian usaha penerbitan milik Belanda


Commissie voor de Volkslectuur, yang
sekarang bernama Balai Pustaka

1922

ERA REFORMASI

Pembangunan Perpustakaan Nasional Republik


Indonesia di Jakarta. Tanggal 17 Mei 1980. Tanggal
17 Mei diperingati sebagai Hari Buku Nasional

2001

Munculnya generasi baru komikus


Indonesia seperti Is Yuniarto

2005

Mulai berkembangnya pengembangan


software pendidikan di Indonesia

Penerbitan Laskar Pelangi, novel pertama karya Andrea


Hirata yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka

2010

2013
Berkembangnya buku digital
interaktif di Indonesia

Berdirinya platform
startup self-publishing
online pertama di Indonesia

2014
ASEAN Literary Festival 2014. Pada festival ini
sastrawan dan aktivis Wiji Thukul mendapat
penghargaan atas dedikasinya menyuarakan
pesan moral, keadilan dan sosial

2008
Berdirinya portal komik online
komikoo.com di Indonesia

2015
Indonesia menjadi Guest of Honour
dalam Frankfurt Bookfair

25

26

Ekonomi Kreatif: Rencana Aksi Jangka Menengah Penerbitan 2015-2019

BAB 2
Ekosistem dan Ruang
Lingkup Industri
Penerbitan Indonesia

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Penerbitan Indonesia

27

2.1 Ekosistem Penerbitan


Membuat dokumen perancangan program pengembangan suatu subsektor industri kreatif tentunya
membutuhkan pemahaman yang komprehensif dan mendalam mengenai subsektor tersebut. Dengan
tujuan itulah bab berikut disusun. Di sini, kita akan melihat ekosistem dan ruang lingkup dari industri
penerbitan itu sendiri. Perlu dicatat bahwa yang tertera di sini merupakan sebuah model dari kondisi
ideal dunia penerbitan yang hendaknya menjadi acuan pengembangan subsektor penerbitan di Indonesia.
Model kondisi ideal ini dibangun berdasarkan hasil kajian yang sudah dilakukan, sedangkan untuk
penjelasan mengenai kondisi aktual penerbitan di Indonesia akan dijelaskan dalam pembahasan mengenai
dinamika yang akandiacu pada setiap proses di dalam ekosistem. Dengan demikian, perbedaan antara
kondisi ideal yang diharapkan dengan kondisi penerbitan aktual di Indonesia akan terlihat jelas.

2.1.1 Definisi Ekosistem Penerbitan


Ekosistem secara umum didefinisikan sebagai suatu tatanan kesatuan yang utuh dan menyeluruh antara
segenap unsur yang saling memengaruhi. Ekosistem yang dimaksud dalam proses pemetaan Ekonomi
Kreatif adalah sebuah sistem di mana setiap unsur yang berada di dalamnya memiliki hubungan timbalbalik sehingga membentuk sebuah lingkungan yang saling bergantung dan memberikan manfaat.
Ekosistem subsektor penerbitan adalah sebuah sistem yang menggambarkan hubungan saling
ketergantungan antara setiap peran di dalam proses penciptaan nilai kreatif khususnya di industri
penerbitan dan antara peran-peran tersebut dengan lingkungan sekitar yang mendukung terciptanya
nilai kreatif. Di dalam ekosistem ini, terdapat aktivitas utama, aktivitas pendukung, peranan dan pelaku
yang terlibat di dalamnya, serta keluaran dari setiap proses rantai nilai kreatif. Ekosistem ini menjelaskan
keterkaitan antar tiap-tiap komponennya dalam sebuah siklus. Rantai nilai kreatif menjelaskan proses
pertambahan nilai dalam penciptaan karya kreatif hingga dikonsumsi oleh pasar. Karya kreatif yang
dihasilkan kemudian diapresiasi di dalam lingkungan pengembangan (nurturance environment) yang
merupakan lingkungan di mana proses penciptaan karya kreatif dapat bertumbuh dan berkembang
dengan menghasilkan orang-orang kreatif baru untuk berkarya dan mendorong orang-orang kreatif
yang pernah berkarya untuk kembali menghasilkan karya-karya kreatif berikutnya.
Ekosistem dalam pengembangan industri penerbitan meliputi empat komponen utama, yaitu:
1. Rantai Nilai Kreatif (Creative Value Chain). Rantai nilai kreatif merupakan sebuah proses
penciptaan nilai tambah yang didukung oleh Industri utama (core indsustry) sebagai penggerak
dan backward-andforward linkage industry merupakan industri yang mendukung proses
penciptaan nilai tambah di industri kreatif utama. Rantai nilai dalam industri penerbitan
meliputi proses kreasi, produksi, distribusi, dan penjualan.
2. Lingkungan Pengembangan (Nurturance Environment). Lingkungan pengembangan adalah
lingkungan yang dapat menggerakkan dan meningkatkan kualitas proses penciptaan
nilai kreatif meliputi pendidikan dan apresiasi. Mata rantai pendidikan adalah proses
pembelajaran yang meliputi peningkatan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan perilaku
yang sangat berpengaruh pada penciptaan orang kreatif. Kegiatan pendidikan ini meliputi:
(1) pendidikan formal, yaitu pendidikan di sekolah yang diperoleh secara teratur, sistematis,
bertingkat, dan dengan mengikuti syarat-syarat yang jelas; (2) nonformal, yaitu pendidikan
di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang; dan
(3) informal, yaitu pendidikan yang diperoleh dari keluarga dan lingkungan yang berbentuk
kegiatan belajar secara mandiri. Mata rantai apresiasi merupakan tanggapan terhadap karya,

28

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

orang kreatif, serta proses penciptaan nilai kreatif yang menstimulasi peningkatan kualitas
karya, orang, dan proses kreatif tersebut. Apresiasi dapat dilihat dari dua sudut pandang,
yaitu apresiasi oleh pasar (konsumen, audiens, dan customer); dan apresiasi terhadap orang,
karya, dan proses kreatif. Kegiatan apresiasi oleh pasar dapat ditunjukkan dari konsumsi serta
tanggapan pasar terhadap karya, orang, dan proses kreatif, sedangkan kegiatan apresiasi untuk
orang dan karya kreatif dapat berupa penghargaan, pemberian insentif, dan juga apresiasi
terhadap HaKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual). Apresiasi oleh pasar dapat ditingkatkan
melalui proses peningkatan literasi masyarakat terhadap kreativitas, sedangkan kegiatan
apresiasi untuk orang dan karya kreatif dapat ditingkatkan dengan mengkomunikasikan
orang serta karya kreatif tersebut kepada masyarakat. Dengan adanya kegiatan apresiasi
yang baik, maka orang-orang kreatif akan terdorong untuk terus berkreasi.
3. Pasar (Market). Dalam ekosistem penerbitan dapat dibedakan menjadi konsumen umum
yang dapat dikategorikan sebagai konsumen sekolah, rumah tangga, perguruan tinggi,
profesi, kelompok hobi, dan pemerintah. Sedangkan konsumen ahli dapat dikelompokkan
menjadi pakar, pengamat, dan peneliti.
4. Pengarsipan (Archiving). Sistem pengarsipan yang telah diterapkan di Indonesia adalah
sistem ISSN (International Standard Serial Number) yang diperuntukkan bagi publikasi
berkala media cetak ataupun elektronik dan ISBN (International Standard Book Number)
yang diperuntukkan bagi identifikasi buku. Kedua standar ini merupakan adaptasi dari
standar internasional yang diberikan oleh lembaga yang berwenang. Pusat Dokumentasi
dan Informasi Ilmiah (PDII) LIPI memiliki tugas dan wewenang untuk melakukan
pemantauan atas seluruh publikasi terbitan berkala yang diterbitkan di Indonesia. Oleh
karena itu PDII menerbitkan ISSN yang merupakan tanda pengenal unik setiap terbitan
berkala yang berlaku global. Sedangkan Perpustakaan Nasional merupakan satu-satunya
lembaga di Indonesia yang berwenang untuk mengeluarkan ISBN. Dengan adanya sistem
pengarsipan ini, maka publikasi di Indonesia dapat terdokumentasikan dengan baik.
Keempat komponen dalam ekosistem saling berinteraksi dan merupakan proses yang tidak dapat
dipisahkan satu sama lain. Setiap komponen dalam ekosistem mempunyai peran yang berbeda
dan saling mempengaruhi dinamika yang terjadi dalam setiap komponen tersebut. Keterkaitan
antar komponen dapat dilihat pada Gambar 2-1.
Gambar 2-1 Hubungan Antar Komponen Dalam Ekosistem

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Penerbitan Indonesia

29

2.1.2 Peta Ekosistem Penerbitan


Secara mendetil, keempat komponen ekosistem tersebut dalam praktiknya pada subsektor industri
penerbitan dapat kita petakan sebagai berikut.

A. Rantai Nilai Kreatif


Komponen rantai nilai kreatif (creative value chain) merupakan proses utama yang terjadi pada
industri penerbitan. Pada bagian ini terjadi proses kreasi yang merupakan awal dari terciptanya
output dalam industri penerbitan hingga output tersebut ditampilkan atau diserap oleh pasar.
Pada umumnya, rantai proses yang terjadi adalah kreasi produksi distribusi penjualan.
Pada rantai proses ini, orang kreatif di setiap industri penerbitan memegang peranan penting
agar seluruh proses berjalan dengan baik.

A.1 Proses Kreasi


Kreasi adalah proses penggagasan ide yang diterjemahkan menjadi produk konten. Kreator adalah
seseorang yang menciptakan ide atau melahirkan gagasan yang kemudian dikembangkan menjadi
sebuah karya kreatif.Proses kreasi menitikberatkan pada muatan konten dari hasil karya kreator.
Dalam praktiknya, jenis kreator bisa bermacam-macam tergantung konten yang dihasilkan, misalnya
penulis, komikus, dan jurnalis.Dalam konteks industri penerbitan, tahap kreasi dapat diartikan
sebagai kemampuan untuk merubah ide atau gagasan maupun informasi menjadi konten sebuah
karya yang baik. Hal tersebut dapat diterjemahkan dalam lingkaran aktivitas sebagai berikut:

Konseptualisasi Ide
Konsep ide dan inovasi berawal dari individu/kelompok/institusi yang memiliki gagasan yang
kemudian dituliskan menjadikarya atau konsep untuk dijadikan bahan tulisan ataupun karakter
tokoh dalam sebuah cerita.Hal ini berkaitan dengan pengertian inovasi yaitu menciptakan atau
mengembangkan perubahan dari sesuatu yang belum ada menjadi ada (Schumpeter dalam Sozio,
2011). Pencarian ide sendiri adalah sebuah proses yang terjadi di dalam diri seseorang untuk
menemukan konten yang akan ditulis. Ide dapat berupa kerangka menulis, tema, ataupun potensi
dan permasalahan nyata yang ingin digali.

Eksplorasi Konten
Dalam industri penerbitan, pencarian sebuah gagasan atau inovasi terbaru yang tertuang dalam
sebuah naskah atau draf dapat dilakukan oleh penulis, penerbit, ataupun melalui agen naskah.
Ide sangat dipengaruhi oleh lingkungan pendidikan dan budaya. Proses pendidikan menjadi
kunci utama seseorang menemukan dan menuliskan ide mereka. Selain itu faktor lingkungan
memiliki pengaruh yang kuat dalam pembuatan ide. Pada umumnya, industri memerlukan
konten yang mampu menjawab kebutuhan ataupun selera pasar.Keberadaan pasar yang berubah
sangat berpengaruh terhadap konten penulisan dan hal ini mendorong penerbit ataupun agen
naskah melakukan riset dan pengembangan pasar untuk menemukan ide tulisan sebagai bentuk
perkiraan karya apa yang akan laku dijual.
Proses kreasi dalam industri penerbitan umumnya berjalan dua arah antara penerbit dan kreator
dan dikerjakan berulang-ulang sampai terjadi kesepakatan. Di negara-negara maju, agen naskah
(literary agent) berperan tinggi dalam mencari karya tulis yang baik untuk dihubungkan dengan
penerbit yang tepat. Literary Agentatau agen naskah berfungsi untuk menjembatani antara penulis
dengan penerbit dan bertugas untuk menilai dan memberi saran pengembangan naskah,misalnya
dalam hal cakupan, penyusunan isi, cara penyajian, dan penggunaan bahasa.

30

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

Gambar 2-2 Peta Ekosistem Penerbitan

Faktor Lingkungan:
Trend / Lifestyle

Faktor
Pendidikan dan Budaya
Literasi

Penghargaan

Beasiswa

Insentif

Institusi
Pendidikan

Kritikus
Komunitas

Industri Media

Asosiasi
Penerbitan

Asosiasi
Percetakan

Konsumen
Kebijakan Keterbukaan
Informasi dan Komunikasi

Kebijakan
Plagiarisme

Kebijakan
HAKI

Riset dan Pengembangan :


1. Pasar/Selera Konsumen
2. Kebutuhan Konsumen

Pemerintah
Kebijakan Bahan
Baku

Kebijakan IT

Pemantauan inflasi harga bahan baku

Kebijakan Distribusi Berkaitan


Dengan Perpajakan

Kebijakan Media
Informasi dan Komunikasi

Networking

Industri Media

Penerbit dan
Percetakan

Penulis Konten, Agen


Naskah dan Penerbit

Konseptualisasi ide

APRESIASI

Distributor, Toko
Buku Agen
Fisik

Pra Produksi (pra-cetak)

Faktor Lingkungan :
Trend/ Lifestyle

Penerbit & Event


Organizer, Penulis

Konsumer Umum:

Promosi

Laki - Laki

Logistik
Penyuntingan

Explorasi Konten

Perempuan

Produksi
Transportasi

Finalisasi Draf

KOMERSIALISASI
Naskah / Draf siap contoh

Digital

Direct Selling

Produk Massal :
Produk Cetak Publikasi: seperti Buku,
Majalah, Buletin, surat kabar
Produk Penerbitan Lainnya : Brosur, Poster,
Banner, Kartu Pos, Prangko
E - book

Profit Sharing

Material Promosi : banner, audio


visual, spanduk, banner (media
cetak, media elektronik)

Titip jual (retur)


Discount/ proyek
Obral

PRODUKSI

DISTRIBUSI

Terintegrasi dengan Kurikulum Pendidikan dan Budaya Nasional

Faktor Pendidikan
dan
Budaya Kebijakan

Sastra &
Budaya

Komunikasi /
Jurnalistik

Sekolah
Komik

Pendidikan Formal-Kesarjanaan

Pengembangan Pengetahuan dan


Kemampuan Menulis dan Editorial
IP
Creative Writing Jurnalistik
Awareness

Editorial

Pendidikan Nonformal

Kelompok Segmented
Konsumer Ahli:
Pakar
Pengamat

Seminar / Bedah Buku

Peneliti

KONSUMEN
PASAR

PENJUALAN

PENDIDIKAN

Pengembangan Industri Penerbitan dan Percetakan

Teknik Grafika

Anak-anak
Klub Buku

Pasca Produksi

KREASI

Pengembangan Ilmu Pengetahuan Sastra,


Budaya & Komunikasi

Manajemen Venue dan


Pameran

Penerbitan

PENGARSIPAN

Pengumpulan

Restorasi

Desain Grafis

Keterangan:

Pendidikan Formal-Diploma
Pendidikan Berkaitan
dengan Produksi

Pendidikan Berkaitan dengan Penulisan Konten

Akses Publik

Preservasi

Institusi Pendidikan, Lembaga Kebudayaan dan Asosiasi

Perpustakaan Lokal dan Nasional, Institusi Pendidikan,


Lembaga Pengarsipan, Museum,

Pengembangan Kemampuan Menulis, Editorial dan Industrial

Penomoran ISBN, Dokumentasi Karya

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Penerbitan Indonesia

Rantai Nilai
Aktivitas / Informasi Utama
Aktivitas / Informasi pendukung
Pelaku Utama

Output
Nurturance Environment
Kebijakan
31

Kebijakan Pendidikan

Kebijakan Pengarsipan

Kehadiran agen naskah seperti halnya seorang makelar yang menguntungkan kedua belah
pihak. Penulis berharap karya tulisnya dibaca oleh agen naskah lalu diberikan ke penerbit untuk
dipublikasikan, sedangkan penerbit berharap agen naskah dapat mencari dan menemukan naskah
yang berkualitas dan laku di pasaran. Industri penerbitan dan percetakan di Indonesia belum
sepenuhnya memberikan peran agen naskah untuk berpartisipasi dalam proses kreasi.
Belum berkembangnya agen naskah membuat penulis kerap dirugikan oleh penerbit. Penandatanganan
kontrak perjanjian yang diajukan kepada penulis seringkali tidak disertai kesepakatan mengenai
pengembangan konten, sehingga penulis harus membayar ekstra untuk mengembangkan konten
naskahnya.Hal ini berpengaruh terhadap kesejahteraan penulis serta kualitas buku yang dihasilkan
di Indonesia. Di negara-negara maju, hal-hal semacam ini umumnya diawasi oleh agen naskah.

Proses pembuatan komik di Akademi Samali


Sumber: www.indonesiakreatif.net

Akademi Samali adalah sebuah komunitas yang didirikan di Jakarta Indonesia pada tahun
2005 oleh Beng Rahadian, Hikmat Darmawan dan Zarki, dengan maksud menjadi tempat
untuk belajar membuat komik. Kini Akademi Samali telah bergerak menjadi organisasi yang
melakukan kegiatan workshop, penerbitan, dan pengarsipan perkembangan komik Indonesia.
Akademi Samali kerap bekerja sama dengan lembaga-lembaga kebudayaan seperti IFI (Indonesia-Francais Institut), Goethe Institut Jakarta, dan Japan Foundation sebagai mitra dalam
menjalankan program-program yang berkaitan dengan komik

32

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

Penyuntingan
Proses kreasi tidak bisa dipisahkan dari proses penyuntingan dan pengembangan karya. Proses
penyuntingan merupakan kunci utama dalam mendukung proses kreasi yang akan menentukan
apakah naskah tersebut layak diterbitkan.Setelah karya diterima oleh penerbit, maka akan melalui
proses penilaian oleh penyunting akuisisi. Jika karya tersebut dinilai potensial, tahap selanjutnya
adalah pengembangan karya itu sendiri agar dapat mencapai potensi maksimalnya.

Finalisasi Draf
Dalam proses finalisasi draf,bahan penerbitan yang berupa naskah yang telah melewati proses
pengembangan dan penyuntingan dipersiapkan untuk terbit dengan melibatkan peran penata
letak, ilustrator, dan proofreader sehingga naskah menjadi siap terbit. Setelah itu, baru dimulai
proses pencetakan atau produksi.
Dalam industri penerbitan, orang kreatif yang sering dijumpai adalah penulis konten, jurnalis,
perancang tata letak, ilustrator, dan editor/penyunting, sedangkan aktor utama yang berperan
dalam proses ide adalah penulis konten, penerbit, dan agen naskah. Penerbit umumnyaberperan
sebagai pemrakarsa, penyokong dan pengembang ide-ide hingga menjadi produk konten.
Pada praktiknya, seringkali terjadi perbedaan fokus mengenai konten.Penulis seringkalilebih
memfokuskan diri terhadap pengembangan gagasan dan bakat sesuai visinya sendiri, sedangkan
penerbit lebih menfokuskan pada penjualan konten.
Dalam seluruh proses ini, penerbit harus terlebih dahulu mengetahui informasi produk apa saja
yang dibutuhkan oleh pasar. Untuk tujuan itu, penerbit seringkali melakukan kegiatan kreatif,
seperti penelitian dan pengembangan internal, lokakarya, seminar, sayembara untuk menemukan
calonpenulis, penelitian melalui pameran buku, pertemuan antar pakar bidang ilmu tertentu,
dan akuisisi naskah dengan tema-tema tertentu.
Adapun berbagai peran yang terlibat dalam proses kreasi ini adalah sebagai berikut:
1. Pengarang atau Penulis sebagai Penyedia Konten
Pengarang atau penulis adalah orang yang memiliki bahan atau ide yang dituangkan
dalam bentuk karya tulis. Naskah merupakan ide awal, bahan baku yang diciptakan
oleh penulis (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008). Naskah dan karya tulis ini tidak
harus sepenuhnya berupa tulisan, tetapibisa juga berupa komik maupun paduan gambar,
tulisan, dan media-media lainnya.
2. Editor atau Penyunting
Penyunting bertugas untuk mempersiapkan karya untuk diterbitkan. Di dalam
proses penerbitan sebuah buku, bagian penyuntingan merupakan inti dari sebuah
penerbitankarena fungsinya yang utama untuk mengembangkan naskah.
3. Layouter atau Penata Letak
Penata letak bertugas untuk mengatur tulisan-tulisan dan gambar-gambar. Tujuan utama
layout adalah menampilkan elemen gambar dan teks agar menjadi komunikatif dalam
sebuah cara yang dapat memudahkan pembaca menerima informasi yang disajikan.
4. Ilustrator
Ilustrator merupakan seniman yang berprofesi khusus sebagai pencipta atau penyedia
gambar ilustrasi demi memperjelas maksud atau membuat tampilan karya-karya tulis
yang bersangkutan menjadi menarik, misalnya dalambuku, novel, majalah, koran, iklan,
dan poster.
BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Penerbitan Indonesia

33

5. Desainer Grafis
Seorang desainer grafis menciptakan karya untuk penerbit, media cetak maupun
elektronik, seperti brosur dan iklan produk. Ia bertanggung jawab untuk menyampaikan
informasi dalam bentuk desain yang menarik.
Gambar 2-3 Pekerja Kreatif Industri Penerbitan

Sumber: IKAPI (2014)

Di beberapa negara maju seperti Inggris, Amerika, dan Kanada, industri penerbitan berada dalam
asuhan industri kebudayaan dengan dukungan pemerintahyang sangat kuat. Di negara-negara
tersebut, pengembangan industri digiatkan sebagai bagian promosi kreativitas negaranya.
Keberlangsungan proses kreasi juga tidak bisa dilepaskan oleh peran komunitas atau asosiasi.
Peran aktif komunitas masyarakat dibutuhkan untukmengembangkan ekonomi kreatif dalam
industri penerbitan, seperti hadirnya kelompok-kelompok diskusi kepenulisan dan komunitas
buku. Komunitas-komunitas semacam ini berperan untuk membina dan melatih masyarakat
peminat agar dapat berkembang melalui penyediaan pelatihan, lokakarya, akses informasi, dan
sebagainya. Salah satu komunitas atau lembaga nirlaba yang aktif berperan dalam proses kreasi
penerbitan di Indonesia adalah Forum Lingkar Pena (FLP).

34

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

A.2 Proses Produksi


Proses produksi dalam rantai nilai kreatif penerbitan adalah proses pencetakan konten. Proses
produksi ataupun reproduksi dapat dilakukan langsung oleh penerbit yang dimiliki percetakan
atau bermitra dengan perusahaan percetakan lainnya. Proses tersebut pada umumnya melewati
tiga tahap berikut:
1. Pracetak: Proses pracetak adalahproses pengolahandan revisi naskah. Kegiatan dalam proses
ini adalah proses setting, edit huruf, tata letak, dan desain untuk dibuat draf contoh (dummy).
2.

Cetak: Dalam tahap ini draf contoh yang telah disetujui dicetak menjadi produk massal
menggunakan mesin pencetak sesuai jumlah yang ditetapkan masing-masing penerbit.

3.

Pascacetak: Proses pascacetak adalah proses pemotongan, penyusunan, pelipatan serta


pengemasan buku hingga siap diedarkan dan dijual di toko-toko buku maupun tempattempat penjualan lainnya.

Jenis pencetakan dalam proses produksi dapat dibagi menjadi dua cara, yaitu secara konvensional
dengan menggunakan plat filmatau secara digital. Secara keseluruhan, harga produksi ditentukan
oleh biaya produksi, sedangkan biaya produksi bergantung pada jenis bahan mentah, seperti ukuran
kertas, jenis kertas, dan kualitas tinta.Pencetakan memiliki batas minimum hargatergantung
pada segmentasi produk. Pencetakan biasanya berjumlah antara 2.000-20.000 eksemplar untuk
buku, sedangkan untuk surat kabar minimal 150.000 eksemplar.
Namun, pencetakan digital memungkinkan proses Print on Demand (PoD) yaitu mencetak sesuai
permintaan. Pencetakan ini tentunya lebih menguntungkan bagi penerbit-penerbit kecil, walau
harga produk buku satuannya akan lebih mahal dibandingkan dengan yang dicetak secara massal.
Di Indonesia, penggunaan mesin percetakan yang berteknologi tinggi hanya dimiliki oleh
perusahaan-perusahaan percetakan besar. Tidak semua perusahaan penerbitan memiliki percetakan
sendiri. Perusahaan penerbit kecil terkadang harus bekerja sama dengan beberapa percetakan untuk
mencetak konten yang diajukan. Selain itu, penerbit kecil cenderung hanya mampu menggunakan
teknologi rendah, yang berdampak pada produktivitas yang rendah dan kualitas yang kurang.
Hampir 65% mesin dan peralatan cetak di Indonesia sudah berusia lebih dari 20 tahun. Hal ini
memberi pengaruh besar terhadap kinerja dan kualitas produk-produk percetakan, seperti produksi
buku yang tertinggal (Print Media, 2012). Berbagai kondisi ini menciptakan keadaan monopolistik
yang menguntungkan berbagai perusahaan besar, namun merugikan kondisi industri dalam jangka
panjangnya. Usaha-usaha percetakan di Indonesia tergabung dalam Persatuan Perusahaan Grafika
Indonesia (PPGI). Hampir semua percetakan yang ada di Indonesia hanya bertugas mencetak saja
dan tidak memiliki izin untuk menjual hasil cetakansehingga penerbit harus juga bermitra dengan
distributor untuk menyebarluaskan dan menjual produk-produknya.
Menurut data IKAPI, terdapat 1.261 daftar penerbit di Indonesia (IKAPI, 2014). Dibandingkan
dengan negara-negara maju, jumlah ini masih tergolong rendah.Selain itu, dunia penerbitan masih
didominasi oleh penerbit besar. Namun di sisi lain, pelaku usaha percetakanbila digabungkan
dengan percetakan-percetakan kecil seperti percetakan kartu nama dan undangan, maka jumlahnya
tidak kurang dari 7.000 usaha (Printmedia, 2012).
Dalam proses produksi, peran pemodal sangatlah penting. Pemodal disini adalah badan atau
perseorangan yang mendukung dana untuk mewujudkan buku yang bersangkutan. Modal bisa

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Penerbitan Indonesia

35

juga difasilitasi oleh penerbit, percetakan, atau perorangan/organisasi/lembaga baik akademisi


maupun pemerintahan. Di negara-negara maju, modal awal dilakukan oleh industri percetakan,
sementara penerbit hanya bertanggung jawab setelah hasil cetakan diterima dan membayar ganti
rugi biaya percetakan. Selain itu, pemerintah dapat berperan melalui pemberian modal usaha
ataupun kebijakan perpajakan yang mendukung proses pencetakan.
Di Indonesia, terdapat beberapa Kebijakan Pemerintah yang telah diterapkan untuk membantu
pertumbuhan produktivitas industri, terutama yang berkaitan dengan proses pendidikan,antara lain:
1. Buku pelajaran dibebaskan dari PPN.
2. Buku pendidikan impor dibebaskan dari pajak impor.
3. Bantuan dana untuk penerjemahan dan kerja sama antara Indonesia dan penerbit internasional.
(Sumber: IKAPI, 2014)
Di samping ketiga hal di atas, sebetulnya masih diperlukan juga pengaturan kebijakan lain
untukstabilitas bahan baku, misalnya tinta dan kertas. Industri penerbitan pada proses produksi
banyak menggunakan bahan baku berdasarkan kertas dan kayu sebagai produk hasil hutan
sehingga eksistensi industri ini berseberangan dengan isu pengurangan emisi karbon.
Selain itu, ketidakstabilan harga bahan baku dan mentah sangat berpengaruh terhadap biaya
produksi. Perkembangan industri inidibayang-bayangi oleh tingginya harga kertas dan tinta. Oleh
karena itu, diperlukan alternatif bahan baku lain untuk keberlangsungan industri penerbitan dan
percetakan. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah memanfaatkan sarana digital secara
maksimal serta pengunaan kertas daur ulang.

Komik Nusantara Ranger karya Sweta Kartika


Sumber: facebook.com/swetakartika

36

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

A.3 Proses Distribusi


Proses distribusi adalah proses menyebarluaskan produk setelah dicetak kepada perusahaan logistik
yang bekerjasama dengan toko buku, pemasar, atau agen pengecer agar produk dapat dibeli oleh
masyarakat. Setiap perusahaan penerbitan memiliki berbagai pilihan saluran distribusi yang
dapat dipilih terkait dengan produk yang ingin dipasarkan. Misalnya, dalam pendistribusian
buku, penerbit dapat bekerjasama dengan toko buku atau agen pengecer lain. Koran dan majalah
biasanya dijual secara langsung oleh penerbit, sistem pos, mesin penjual, agen pengecer, hingga
media daring. Pemasar atau pengecer adalah perorangan atau institusi yang memasarkan atau
menjual produk sampai ke tangan pembaca atau konsumen.
Permasalahan kerap terjadi pada proses pengangkutan buku seperti pendistribusian yangbisa
memakan waktu hingga tiga bulan untuk sampai ke daerah-daerah pelosok.Hal ini juga
menyebabkan tingginya harga karena sistem logistik yang kurang efisien. Belum lagitoko bukutoko buku didaerah menaikkan harga buku yang tidak sesuai dengan perjanjian. Oleh karena
itu dalam proses distribusi, peran jaringan sangat kuat. Jaringan tersebut juga dapat dilakukan
melalui institusi pendidikan seperti perpustakaan ataupun komunitas pencinta buku dan instansi
pemerintah yang terkait dengan produk yang ingin dijual.
Di Indonesia, terdapat 150 perusahaan distributor yang menyuplai buku ke toko-toko maupun
kios buku. Beberapa penerbit besar memiliki perusahaan distribusi sendiri dan kadangkala
melayani penerbit-penerbit kecil untuk menyalurkan buku mereka (IKAPI, 2014). Namun, dalam
perkembangan saat inikeberadaan toko buku besar yang mendominasi pasar membuat penerbitpenerbit kecil mengalami kesulitan untuk memasukkan produknya. Dengan demikian, jaringan
distribusi alternatif seperti disebut di atas menjadi amat penting untuk dibangun.
Dalam era digital saat ini, industri penyedia jasa komunikasi, terutama layanan internet, juga berperan
besar dalam menyediakan sarana bagi distribusi hasil produksi industri penerbitan.Banyak industri
penerbitan yang juga sudah menggunakan kehadiran media daring sendiri sebagai strategi bisnis yang
terintegrasi dengan industri layanan komputer dan jasa piranti lunak baik untuk mendapatkan perangkat
keras yang dibutuhkan ataupun mengembangkan solusi multimedia untuk penyedia konten digital.
Strategi bisnis yang terintegrasi tersebut sangat dibutuhkan industri penerbitan dan percetakan
dalam menjawab tantangan globalwalaupun untuk pasar Indonesia penjualan konten digital
belum terlalu populer di masyarakat. Menurut IKAPI, Pertumbuhan signifikan dari pengguna
internet di Indonesia menciptakan prospek penjualan buku digital di Indonesia.Beberapa penerbit
besar di Indonesia telah menerbitkan buku-buku mereka dalam format buku digital atau format
digital lainnya. Hal ini menunjukkan munculnya kebutuhan akan buku-buku digital di Indonesia
dan juga mendorong munculnya berbagai toko buku digital. Meskipun bertumbuh, penjualan
e-book masih kurang dari 2% pada pasar buku lokal (IKAPI, 2014).
Sebagaimana telah disebutkan di atas, jalur distribusi produk industri penerbitan di Indonesia
masih cenderung terpusat pada jejaring toko buku besar di mal kota-kota besar. Padahal, potensi
toko buku mandiri, perpustakaan daerah, lembaga pendidikan, serta komunitas-komunitas
peminat di luar kota-kota besar amat potensial untuk dikembangkan sebagai pasar-pasar baru
produk penerbitan. Tentunya, untuk memaksimalkan hal ini, diperlukan kebijakan-kebijakan
yang mendukung stabilitas harga bahan baku industri penerbitan, kemudahan jalur transportasi
produk-produk industri penerbitan, serta pengembangan pasar berminat baca di luar kota-kota besar.

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Penerbitan Indonesia

37

A.4 Proses penjualan


Dalam kegiatan pemasaran yang dilakukan penerbitan sangat kompleks dan saling berkaitan yang
satu dengan yang lainnya. Hal ini dikarenakan dalam rantai nilai industri penerbitan, setelah
melalui proses produksi maka diasumsikan produk ataupun konten kreatif sudah tersedia atau
berwujud. Oleh karena itu , kegiatan yang dilakukan oleh penerbitan berfokus pada aktivitas
penjualan dan promosi yang dikelola secara terintegrasi untuk mencapai tujuan perusahaan.

Penjualan
Proses penjualan dalam industri penerbitan menjadi tanggung jawab penerbit maupun penulis.
Penjualan adalah suatu usaha yang terpadu untuk mengembangkan rencana-rencana strategis
yang diarahkan pada usaha pemuasan kebutuhan dan keinginan pembeli untuk menghasilkan
laba perusahaan. Dalam proses penjualan lebih menitik beratkan pada bagaimana cara menjual
produk mencapai target yang ditentukan. Oleh karena itu, penerbit bertugas menyiapkan strategi
penjualan yang membantu agen-agen penjual atau pengecer dalam memasarkan produknya.

Promosi
Aktivitas promosi dalam penerbitan berfungsi untuk meningkatkan volume penjualan karya kreatif
juga sebagai strategi untuk menjangkau konsumen sehingga terjadi pembelian produk. Dalam
proses promosi lebih menekankan kepada bagaimana cara mengkomunikasikan karya kreatif kepada
konsumen untuk membentuk suatu citra positif dimata para konsumen. Dalam proses promosi,
karya yang akan dipromosikan telah berwujud, sehinga konsumen dapat mengetahui klasifikasi
dan keunggulan dari karya yang dipromosikan tersebut. Pada umumnya penerbit mempercepat
proses peningkatan volume penjualan dengan menggunakan alat promosi seperti rabat atau
potongan harga ataupun mengadakan kegiatan promosi melalui program promosi penjualan
(biasanya diatur oleh asosiasi), pameran dagang, iklan khusus, personal selling, dan publisitas.
Sayangnya, masih sedikit penerbit di Indonesia yang memiliki cukup modal untuk melakukan
kegiatan promosi. Sehingga, pelaku yang berperan dalam kegiatan penjualan biasanya adalah agen
penerbitan, percetakan, periklanan, event organizer, maupun jejaring Oleh karena itu, berbagai
ajang pameran dan festival buku menjadi tumpuan bagi banyak penerbit untuk memasarkan
bukunyasekaligus melakukan penjualan langsung kepada konsumen.
Aktor lainnya yang berfungsi untuk melakukan kegiatan promosi adalah komunitas dan pemerintah.
Berbagai komunitas juga seringkali menjadi mitra utama penerbit. Komunitas dapat sangat
membantu penjualan buku dengan mempromosikan dan menjual secara langsung produk-produk
buku dari penerbit. Selain itu, peran pemerintah juga sangat dibutuhkan dengan menjadi jembatan
penghubung antara penerbit dan masyarakat dalam rangka membangun budaya berkreasi. Di
beberapa negara maju pelaku utama dalam kegiatan promosi penerbitan biasanya dilakukan oleh
pemerintah seperti menggagas pentingnya membaca buku dan juga memberikan fasilitas dan
kemudahan akses untuk kegiatan promosi. Sedangkan di Indonesia, peran pemernitah dalam
kegiatan mempromosikan karya penerbitan masih sangat minim. Menurut data IKAPI, hanya
beberapa kota besar yang sering melakukan pameran atau bookfair, seperti Bandung, Jakarta
atau Yogyakarta, (IKAPI, 2014).

38

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

Indonesia Book Fair 2010


Sumber: beatmag.com

B. Lingkungan Pengembangan (Nurturance Environment)


Komponen lingkungan pengembangan (nurturance environment) terdiri dari dua aktivitas utama,
yaitu apresiasi dan pendidikan. Komponen ini memiliki peranan penting dalam mendukung
proses rantai nilai kreatif penerbitan agar dapat berjalan dengan baik.
Kegiatan apresiasi bertujuan untuk memberikan pengakuan terhadap pelaku industri dan juga
memberikan pemahaman mengenai gambaran besar industri penerbitan itu sendiri. Kegiatan
apresiasi umumnya dimulai melalui proses literasi yang bertujuan untuk memberikan pengetahuan
dan pemahaman kepada masyarakat seputar industri penerbitan dan karya-karya kreatif yang
dihasilkannya. Setelah mendapatkan pemahaman yang baik, maka diharapkan proses-proses
apresiasi berikutnya akan lebih mudah untuk dilakukan. Adapun kegiatan-kegiatan lain ini
dapat berupa penghargaan, pemberian insentif, serta apresiasi khalayak luas terhadap HKI (Hak
Kekayaan Intelektual) orang kreatif. Dengan adanya kegiatan apresiasi yang baik, maka orangorang kreatif penerbitan akan terdorong untuk terus berkreasi.

B.1 Apresiasi
Apresiasi adalah penilaian atau penghargaan terhadap suatu karya atau produk buku. Apresiasi
akan menentukan sejauh mana sebuah karya dapat diterima oleh masyarakat dan kalangan
tertentu. Apresiasi juga berperan sebagai proses umpan balik dari karya yang telah dibuat oleh
penggagas ide atau inovator. Dalam industri penerbitan, apresiasi bisa didapatkan melalui berbagai
kegiatan, seperti konferensi, diskusi bedah buku, maupun penganugerahan.Apresiasi terhadap
sebuah karya bisa dilakukan oleh kritikus independen, media, komunitas, ataupun pemerintah
dan akademisi, berupa ulasan sederhana, diskusi dalam media sosial, hingga penyelenggaraan
acara penghargaan. Contohnya adalah S.E.A Awards dan Khatulistiwa Literary Award.

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Penerbitan Indonesia

39

S.E.A awards
Southeast Asian Writers Award atau S.E.A Awards adalah penghargaan yang diberikan setiap
tahunsejak tahun 1979 untuk penyair dan penulis dari Asia Tenggara. Penghargaan ini diberikan
kepada penulis dari masing-masing negara yang terdiri dari Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia
Tenggara, meskipun tidak semua negara di ASEAN terwakili setiap tahun. Penghargaan ini
kadang-kadang diberikan untuk pekerjaan tertentu oleh seorang penulisatau bisa juga diberikan
untuk pencapaian seumur hidup. Jenis-jenis karya yang dihormati bervariasidan telah memasukkan
puisi, cerita pendek, novel, drama, cerita rakyat dan karya-karya ilmiah dan religius. Penulis
Indonesia yang pernah menerima penghargaan ini adalah Putu Wijaya (1980), Y.B Mangun
Wijaya (1983), Sapardi Djoko Damono (1986), Arifin C.Noor (1990), W.S Rendra (1996), Seno
Gumira Ajidarma (1997), N.H Dini (2003), Afrizal Malna (2010) dan Linda Christanty (2013).

Penerima S.E.A Awards 2013 di Bangkok, Thailand


Sumber: mc.edu.ph

Khatulistiwa Literary Award


Salah satu penghargaan yang cukup bergengsi dalam dunia sastra di Indonesia adalah Khatulistiwa
Literary Award (KLA). KLA adalah suatu program penghargaan yang diberikan kepada penulis.
Tujuannya adalah memberikan apresiasi atas karya seni, anugerah sastra, dan hadiah insentif
senilai ratusan juta melalui sistem penjurian yang terdiri dari sastrawan, akademisi, budayawan,
dan wartawan dalam sebuah komunitas. Setiap tahun KLA menyeleksi karya sastra yang terbit
dalam kurun 12 bulan. Sejak tahun 2004 anugerah sastra khatulistiwa diberikan untuk kategori
prosa, puisi, dan penulis muda berbakat.

40

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

Tabel 2-1 Daftar Pemenang KLA Tahun 2002-2013

KATEGORI
TAHUN

PROSA

PUISI

PENULIS MUDA BERBAKAT

2002

Kerudung Merah Kirmizi


karya Remy Silado

2003

Bibir Dalam Pispot karya


Hamsad Rangkuti

2004

Kuda Terbang Maria Pinto


karya Linda Christanty

Puisi Indonesia Sebelum


Kemerdekaan karya Sapardi
Djoko Damono

2005

Kitab Omong Kosong karya


Seno Gumira Ajidarma

Kekasihku karya Joko Pinorbo

2006

Mandi Api karya Gde


Aryantha Soetama

Santa Rosa karya Dorothea


Rosa Herliany

2007

Perantau karya Gus tf Sakai

Menjadi Penyair lagi karya Acep


Zamzam Noor

Dan Hujan Pun Berhenti


karya Farida Susanty

2008

Bilangan Fu karya Ayu


Utami

Jantung Lebah Ratu karya


Nirwan Dewanto

Cari Aku Di Canti karya Wa


Ode Wulan Ratna

2009

Lembata karya F.Rahardi

Dongeng Anjing Api karya Sindu


Putra

Fortunata karya Ria


N.Badaria

2010

Rahasia Selma karya Linda


Christanty

Sejumlah Perkutut Buat Bapak


karya Gunawan

Buwun karya Mardi Luhung

2011

Lampuki karya Arafat Nur

Buli-buli Lima Kaki karya


Nirwan Dewanto

Perempuan yang dihapus


Namanya karya Avianti Armand

2012

Maryam karya Okky


Madasari

Postkolonial dan Wisata


Sejarah karya Zeffrey Alkatiri

2013

Pulang karya Laila S Chuori

Museum Penghancur Dokumen


karya Afrizal Malna

Di Indonesia, terdapat banyak komunitas peminat maupun akademisi yang menggeluti dunia
pengulasan buku maupun kritik sastra. Sayangnya, sebagian besar komunitas dan kritikus ini
seringkali dirasa kurang menghargai satu sama lain. Akibatnya, para pelaku kegiatan apresiasi
industri penerbitan cenderung berjalan sendiri-sendiri dan saling mencari kesalahan yang lainnya.
Tiadanya lembaga kritik yang terpercaya dan kurangnya sosialisasi akan kriteria-kriteria kritik
yang baik dan sesuai akan karya-karya konten industri penerbitan menyebabkan kecenderungan
ini makin tumbuh subur dan merenggangkan komunitas-komunitas peminat yang seharusnya
bisa lebih diberdayakan dalam perkembangan industri penerbitan di Indonesia.

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Penerbitan Indonesia

41

Sumber: uniknya.com

Seno Gumira Ajidarma


Seno Gumira Ajidarma lahir di Boston, Amerika Serikat, 19 Juni1958 adalah penulis dari generasi
baru di sastra Indonesia. Beberapa buku karyanya adalah Atas Nama Malam, WisanggeniSang
Buronan, Sepotong Senja untuk Pacarku, Biola tak berdawai, Kitab Omong Kosong, Dilarang
Menyanyi di Kamar Mandi, dan Negeri Senja. Sampai saat ini Seno telah menghasilkan puluhan cerpen yang dimuat di beberapa media massa. Cerpennya Pelajaran Mengarang terpilih
sebagai cerpen terbaik Kompas 1993. Buku kumpulan cerpennya, antara lain: Manusia Kamar
(1988), Penembak Misterius (1993), Saksi Mata (l994), Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi
(1995), Sebuah Pertanyaan untuk Cinta (1996), Iblis Tidak Pernah Mati (1999), novel Matinya
Seorang Penari Telanjang (2000), Nagabumi (2009), Nagabumi II (2011), Antara Tawa dan
Bahagia (2012). Pada tahun 1987, Seno mendapat SEA Write Award. Berkat cerpennya Saksi
Mata, Seno memperoleh Dinny OHearn Prize for Literary pada tahun 1997 dan menerima
Khatulistiwa Literary Award pada tahun 2005.

B.2 Pendidikan
Komponen yang tentunya tak kalah penting adalah pendidikan. Seperti yang kita ketahui,
pendidikan merupakan salah satu alat utama dalam menciptakan orang kreatif. Pendidikan dinilai
sangat penting sebagai wadah untuk mengasah kemampuan orang agar mampu menjadi orang
kreatif yang berkualitas dan mampu menjalankan rantai proses kreasi dengan baik. Kegiatan
pendidikan ini dapat dilakukan melalui pendidikan formal (sekolah resmi), non-formal (lembaga
kursus), dan juga informal (otodidak, melalui komunitas, dsb.)
Pendidikan pada lingkungan pengembangan penerbitan di sini didefinisikan sebagai proses yang
bertujuan untuk menumbuhkan motivasi, kreativitas, dan apresiasi penulis dan pembaca untuk
menghasilkan pengetahuan dan karya kreatif penerbitan baru. Institusi pendidikan yang mendukung
kemajuan industri penerbitan saat ini dapat dibedakan menjadi dua yaitu pendidikan berbasis
konten dan pendidikan berbasis produksi. Pendidikan berbasis konten mengutamakan teknik
kreasi dan apresiasi konten itu sendiri baik dari segi sastra, jurnalistik, komik, dan sejenisnya.
Sedangkan pendidikan berbasis produksi lebih mengutamakan teknik produksi karya buku,
misalnya teknik-teknik percetakan, tata letak, desain, dan ilustrasi.

42

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

Gambar 2-4 Pekerja Kreatif Industri Penerbitan

Sumber: IKAPI (2014)

Dalam proses pendidikan, kolaborasi antar berbagai aktor sangat penting untuk membangun budaya
belajar yang mendukung kreasi, konsumsi, dan apresiasi terhadap produk-produk industri penerbitan.
Hal ini bisa dilakukan oleh akademisi melalui penyediaan buku-buku berkualitas di perpustakaan dan
program-program kerjasama yang diadakan oleh pemerintah, penerbit, akademisi, maupun komunitas
dalam wujud kegiatan lokakarya, bedah buku, dan sejenisnya. Selain itu, penekanan berlebih terhadap
ilmu pasti di tingkat pendidikan dasar serta kecurigaan terhadap karya fiksi sebagai pengganggu mata
pelajaran seringkali menjadi penghambat bagi apresiasi karya-karya fiksipada generasi muda.
Kondisi lain yang sering dikeluhkan para peminat adalah biaya lokakarya penulisan dan sejenisnya
yang cenderung mahal dan hanya terjangkau oleh kalangan-kalangan tertentu di kota-kota
besar. Hal ini menyebabkan masyarakat di luar kalangan tersebut mengalami kesulitan dalam
menyuarakan aspirasi kreatif mereka dalam wujud produk buku maupun konten lainnya, padahal
potensi dan hasrat kreatif di daerah-daerah pelosok maupun wilayah-wilayah yang lebih tradisional
tidak kalah dibandingkan mereka yang berasal dari kota-kota besar.

C. Pasar, Khalayak, dan Konsumen


Komponen pasar (market) ini menggambarkan karakter dari pasar, khalayak, dan konsumen di
industri penerbitan. Pasar dapat diartikan sebagai tempat, interaksi (permintaan dan penawaran)
dan sekelompok anggota masyarakat yang memiliki kebutuhan/keinginan atau daya beli. Dalam
industri secara umum ditemukan tipe dari komponen pasar in misalnya, konsumen dapat dibagi
menjadi dua kelompok, yaitu konsumen umum dan konsumen ahli yang keduanya memiliki
perbedaan dalam cara maupun gaya menyerap karya kreatif yang dihasilkan. Berdasarkan data dari
IKAPI, berdasarkan kebutuhan pasar akan buku konsumen dapat diklasifikasikan menjadi berikut:

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Penerbitan Indonesia

43

Tabel 2-2 Daftar Konsumen Berdasarkan Jenis Buku yang diterbitkan

KONSUMEN

JENIS BUKU

Sekolah

Buku Pelajaran

Rumah Tangga

Fiksi, Religi, Kesehatan, Gaya Hidup, Referensi

Perguruan Tinggi

Buku Ajar, Buku Teks, Referensi

Profesi

Buku Panduan

Kelompok Hobi atau Komunitas

Buku Panduan

Pemerintah

Buku Panduan, Referensi

Sumber: IKAPI, 2014

D. Pengarsipan
Komponen terakhir dalam peta ekosistem penerbitan adalah pengarsipan (archiving). Tujuan
dari proses pengarsipan ini adalah untuk menyediakan basis data yang dapat diakses oleh publik
untuk mendapatkan informasi dan data terkait industri kreatif. Akses ini dapat digunakan oleh
orang kreatif penerbitan maupun oleh masyarakat sebagai sumber inspirasi dan referensi. Arsip
juga dapat digunakan sebagai media pembelajaran di lembaga atau institusi pendidikan.
Proses pengarsipan pada umumnya dilakukan melalui tahapan pengumpulan restorasi
penyimpanan preservasi. Proses restorasi hanya dilakukan apabila dokumen atau hal yang
perlu diarsipkan tersebut sudah mengalami kerusakan atau ketidaksesuaian sehingga perlu
dilakukan proses perbaikan tanpa merubah nilai atau makna aslinya sebelum dilakukan proses
penyimpanan dan preservasi.
Pengarsipan adalah kegiatan melestarikan, menyimpan, dan mendata secara tertulis karyakarya yang mempunyai nilai historis. Pada umumnya, kegiatan ini dilakukan oleh pustakawan,
lembaga pengarsipan, dan asosiasi penerbit dan pengarang. Dalam proses pengarsipan, penerbit
menyerahkan ISBN yang akan tersimpan dalam arsip perpustakaan daerah dan nasional.
Sayangnya, keberadaan basis data tersebut di Indonesia masih terpisah-pisah sehingga belum
memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk mengakses informasi berkaitan dengan karya
cipta industri penerbitan. Selain itu, saat ini jumlah perpustakaan di Indonesia sudah sangat
banyak, tetapi minat baca masyarakat masih sangat rendah. Hal ini dapatdilihat dari rendahnya
kunjungan masyarakat ke perpustakaan. Perbaikan kualitas perpustakaan dan kemudahan akses
arsip karya-karya yang menarik diharapkan akan turut membantu meningkatkan minat baca
masyarakat.

2.2 Peta dan Ruang Lingkup Industri Penerbitan


2.2.1 Peta Industri Penerbitan
Peta industri dibuat sebagai gambaran ruang lingkup aktor-aktor yang terlibat secara langsung maupun
industi pendukung yang terlibat secara tidak langsung dalam menjalani proses bisnis industri yang
terkait (Gambar 2-5). Untuk lebih jelasnya, berikut adalah pelaku industri dalam setiap mata rantai nilai:

44

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

Gambar 2-5 Mitra Pekerja Kreatif Industri Penerbitan

Sumber : IKAPI (2014)

Pelaku Industri dalam Proses Kreasi


Proses kreasi pada industri penerbitan didukung dan mendukung berbagai subsektor industri kreatif
lainnya. Industri penerbitan memiliki peran strategis untuk menciptakan dan mengembangkan
konten. Dalam menciptakan orang kreatif, industri penerbitan didukung oleh lembaga pendidikan.
Sedangkan dalam pengembangan konten kreatif penerbitan, peran industri penelitian dan
pengembangan sangat penting. Selain itu, industri penerbitan dapat mendukung dokumentasi
karya industri kreatif lainnya.Hasil dari proses kreasi dapat berupa ide, draf, atau naskah yang
dapat dicetak atau dikelola dan dikembangkan menjadi karya kreatif lainnya.

Pelaku Industri dalam Proses Produksi


Proses produksi dalam industri penerbitan melibatkan beberapa industri pendukung seperti
industriinformasi dan teknologi, industri pengolahan bahan, dan industri desain. Tidak jarang
pula hasil tulisan dilanjutkan dengan melibatkan industri kreatif lainnya, seperti film, mode,
musik, dan produksi alih media.Selanjutnya, pada kegiatan promosi, industri penerbitan tentunya
melibatkan industri media komunikasi khususnya publikasi seperti televisi dan radio, industri
periklanan, dan event organizer.
Proses produksi pada industri penerbitan didukung oleh keberadaan industri pengolahan bahan
baku khususnya kertas dan tinta. Sampai saat ini, Indonesia merupakan pengelola industri
kertas terbesar di Asia. Namun hal ini tidak berpengaruh terhadap biaya produksi kertas untuk
industri penerbitan. Perusahaan penerbit di Indonesia cenderung mengimpor kertas dan tinta

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Penerbitan Indonesia

45

INDUSTRI PENDUKUNG
(Forward Linkage)

Gambar 2-6 Peta Industri Penerbitan

15 Subsektor
Industri Kreatif

15 Subsektor
Industri Kreatif

KOMERSIALISASI

INDUSTRI UTAMA

KONSUMEN

KREASI

PRODUKSI

DISTRIBUSI

PENJUALAN

Penulis Konten

Penerbit Mandiri

Agen Distribusi

Penerbit

Penyunting

Penerbit Major

Toko Buku

Penulis

Layouter

Asosiasi

Event Organizer

Ilustrator

Komunitas

Toko Buku

Disainer Grafis

Media Daring

Toko Buku Online

KONSUMEN

Agen Naskah

15 Subsektor
Industri Kreatif

Institusi
Pendidikan

Percetakan

Jasa Pendidikan

Industri
Pengolahan
Bahan Baku

Supplier Mesin
Percetakan

Industri ICT

Jasa Hiburan
Jasa Periklanan

Jasa Perdagangan

Industri
Perhubungan

Jasa Transportasi
dan
Pengangkutan
Barang

Jasa Tempat Show

INDUSTRI PENDUKUNG
(Backward Linkage)

Supplier Tinta & Kertas

46

Jasa Penjualan
Jasa Lainnya
Jasa Fotografi

KREASI

PRODUKSI

DISTRIBUSI

PENJUALAN
Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

untuk memproduksi karya kreatif cetak. Hal ini berpengaruh terhadapharga karya kreatif cetak
penerbitan yang tinggi.

Pelaku Industri dalam Proses Distribusi


Proses distribusi pada industri penerbitan didukung oleh keberadaan industri perhubungan. Hal
terpenting dalam proses ini adalah permasalahan pendistribusian barang yang melibatkan usaha jasa
transportasi dan pengangkutan barang dan amat berpengaruh pada harga jual produk buku. Di sisi
lain, kemajuan teknologi informasi dan internet telah membuat perubahan dalam jalur distribusi
konten kreatif digital sehingga konsumen dapat langsung mengakses karya kreatif tanpa perantara.

Pelaku Industri dalam Proses Penjualan


Kegiatan penjualan produk buku terutama disokong oleh industri perdagangankarena aktoraktor yang berperan merupakan bagian dari industri perdagangan dan usaha kecil menengah
seperti agen dan toko buku. Selain itu, proses penjualan juga dilakukan secara langsung melalui
kegiatan festival buku, lokakarya, serta melalui internet.

2.2.2 Ruang Lingkup Industri Penerbitan


Berdasarkan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2009 Bidang Ekonomi Kreatif,
Pengertian Penerbitan adalah kegiatan kreatif yang terkait dengan dengan penulisan konten dan
penerbitan buku, jurnal, koran, majalah, tabloid, dan konten digital serta kegiatan kantor berita
dan pencari berita. Kelompok ini juga mencakup penerbitan perangko, materai, uang kertas,
blanko cek, giro,surat andil, obligasi surat saham, surat berharga lainnya, paspor, tiket pesawat
terbang, dan terbitan khusus lainnya, serta penerbitanfoto-foto, grafir (engraving) dan kartu
pos, formulir, poster, reproduksi karya cetak, percetakan lukisan, dan barang cetakan lainnya,
termasuk rekaman mikrofilm.
Industri penerbitan mencakup perolehan hak cipta untuk isinya (produk informasi) dan membuat
isinya tersedia ke masyarakat umum melalui reproduksi dan distribusi dalam berbagai bentuk.
Percetakan meliputi kegiatan kreatif meliputi penerbit buku dan koran, jurnal dan buletin, agen
berita, serta jasa dan kegiatan lainnya. Hal ini sejalan dengan perkembangan dan pergeseran
makna definisi penerbitan menurut Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2009
yang mendefinisikan dan mengklasifikasikan kegiatan penerbitan menjadi tiga bagian berdasarkan
pada tujuan utama masing masing.
Dalam perubahan KBLI tahun 2005-2009, diungkapkan bahwa yang merupakan bagian dari
kategori industri penerbitan adalah penulisan konten dan penerbitan buku, jurnal, koran, majalah,
tabloid, dan konten digital serta kegiatan kantor berita. Maka, menurut KBLI, ruang lingkup
industri penerbitan dapat dijelaskan sebagai berikut:

A. Industri Percetakan
Industri percetakan terbagi menjadi tiga kelompok sebagai berikut:
1. Industri Pencetakan Umum (18111): Kelompok ini mencakup kegiatan industri percetakan
surat kabar, majalah dan periodik lainnya, jurnal, pamflet, buku dan brosur, naskah musik,
peta, atlas, poster, katalog periklanan, prospektus dan iklan cetak lainnya, perangko pos,
perangko perpajakan, dokumen, cek dan kertas rahasia lainnya, buku harian, kalender,
formulir bisnis dan barang-barang cetakan komersial lainnya, kertas surat atau alat tulis

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Penerbitan Indonesia

47

pribadi dan barang-barang cetakan lainnya hasil mesin cetak, offset, klise foto, fleksografi dan
sejenisnya, mesin pengganda, printer komputer, huruf timbul dan sebagainya, termasuk alat
cetak cepat; pencetakan langsung ke bahan tekstil, plastik, kaca, logam, kayu dan keramik,
kecuali pencetakan tabir sutera pada kain dan pakaian jadi; dan pencetakan pada label
atau tanda pengenal (litografi, pencetakan tulisan di makam, pencetakan fleksografi dan
sebagainya). Termasuk pula mencetak ulang melalui komputer, mesin stensil dan sejenisnya,
misal kegiatan fotokopi atau thermocopy. Barang cetakan ini biasanya merupakan barang
dengan hak cipta.
2. Industri Pencetakan Khusus (18112): Kelompok ini mencakup industri pencetakan
Perangko, Materai, Uang Kertas,Blangko Cek, Giro, Surat Andil, Obligasi Surat Saham,
Surat Berharga Lainnya,Paspor, Tiket Pesawat Terbang, dan cetakan khusus lainnya.
3. Jasa Penunjang Pencetakan (18120): Kelompok ini mencakup usaha penjilidan lembar
cetakan, misalnya menjadi buku, brosur, majalah, katalog, dan sebagainya, dengan melipat,
memasang, menjahit, merekatkan, menyatukan, penjilidan dengan perekat, perapihan dan
gold stamping; produksi tipografi terkomposisi (composed type), pelat atau silinder, penjilidan
buku; komposisi, pemasangan huruf, pemasangan foto, input data mencakup pemindaian
dan pengenalan karakter atau huruf optik, penyusunan elektronik; pembuatan gambar,
mencakup pemasangan citra atau gambar (untuk proses pencetakan mesin cetak dan offset);
pengukiran atau sketsa silinder untuk grafir; proses pembuatan gambar langsung di atas
pelat (temasuk pelat fotopolimer); pembuatan gambar untuk pencetakan dan pengecapan
relief; pembuatan cetakan untuk percobaan; pekerjaan artistik mencakup penyiapan batu
lito dan balok kayu (produksi batu litografik, untuk digunakan dalam kegiatan percetakan
di unit lain); pembuatan barang reprografi; desain barang cetakan seperti sketsa, tata letak,
barang contoh dan sebagainya; dan kegiatan grafis lainnya seperti die-sinking dan diestamping, penggandaan huruf Braille, pemukulan dan pengeboran, penyulaman timbul,
pemvernisan dan pelapisan, penyisipan dan pelipatan.

B. Industri Perdagangan
Industri perdagangan terbagi menjadi sepuluh kelompok sebagai berikut:
1. Perdagangan Besar Piranti Lunak (46512): Kelompok ini mencakup usaha perdagangan
besar piranti lunak.
2. Perdagangan BesarPerlengkapan Elektronik (46521): Kelompok ini mencakup usaha
perdagangan besar katup dan tabung elektronik, peralatan semi konduktor, mikrochip
dan IC dan PCB.
3. Perdagangan BesarDisket, Pita Audio, dan Video, CD dan DVD Kosong (46522):
Kelompok ini mencakup usaha perdagangan besar disket, pita audio dan pita video
kosong, CD dan DVD kosong.
4. Perdagangan BesarPeralatan Telekomunikasi (46523): Kelompok ini mencakup usaha
perdagangan besar peralatan telekomunikasi, seperti perlengkapan telepon dan komunikasi.
5. Perdagangan Besar Mesin, Peralatan dan Perlengkapan Lainnya (46599): Kelompok
ini mencakup usaha perdagangan besar yang belum diklasifikasikan di tempat lain, seperti
perdagangan besar furnitur kantor, kabel dan sakelar serta instalasi peralatan lain untuk
keperluan industri, perkakas mesin dan berbagai jenis dan untuk berbagai bahan, perkakas
mesin yang dikendalikan komputer dan peralatan dan perlengkapan pengukuran.
6. Perdagangan Besar Alat Laboratorium, Farmasi dan Kedokteran (46693): Kelompok

48

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

ini mencakup usaha perdagangan besar alat laboratorium, farmasi dan kedokteran.
7. Perdagangan Besar Berbagai Macam Barang (46900): Kelompok ini mencakup usaha
perdagangan besar dari berbagai macam barang yang tanpa mengkhususkan barang
tertentu (tanpa ada kekhususan tertentu) yang belum tercakup dalam salah satu kelompok
dalam golongan 461-466.
8. Perdagangan Eceran Peralatan Video Game dan Sejenisnya (47412): Kelompok ini
mencakup perdagangan eceran peralatan video game.
9. Perdagangan Eceran Piranti Lunak (Software) (47413): Kelompok ini mencakup usaha
perdagangan eceran khusus piranti lunak (software), seperti bermacam piranti lunak,
termasuk piranti lunak untuk video game.
10. Perdagangan Eceran Alat Telekomunikasi (47414): Kelompok ini mencakup usaha
perdagangan eceran alat telekomunikasi, seperti handphone, pesawat telepon dan
perlengkapannya serta usaha jasa penjualan pulsa, baik berupa voucher maupun elektronik,
termasuk pula jasa penjualan kartu perdana telepon selular.

C. Industri Penerbitan
Industri penerbitan terbagi menjadi lima kelompok sebagai berikut:
1. Penerbitan Buku (J 58110): Kelompok ini mencakup kegiatan penerbitan buku dalam
bentuk cetakan, elektronik (CD, CD-ROM, DVD, dan lain-lain), audio, atau secara
daring. Kegiatan usahanya meliputi penerbitan buku, brosur, selebaran, dan publikasi
sejenis, termasuk penerbitan kamus dan ensiklopedia, penerbitan atlas, peta dan grafik,
penerbitan buku dalam bentuk audio dan penerbitan ensiklopedia dan lain-lain dalam
CD-ROM dan publikasi lainnya, termasuk penerbitan elektroniknya.
2. Penerbitan Buku Direktori dan Milis (J 58120): Kelompok ini mencakup penerbitan daftar
informasi atau basis data. Penerbitan ini dapat dipublikasikan baik dalam bentuk elektronik
atau cetak. Kegiatan usahanya meliputi penerbitan daftar alamat, penerbitan buku telepon, dan
penerbitan direktori dan kompilasi lainnya, seperti perkara hukum, ikhtisar farmasi dan lain-lain.
3. Penerbitan Surat Kabar, Jurnal, Tabloid, dan Majalah (58130): Kelompok ini mencakup
usaha penerbitan surat kabar dan surat kabar iklan,jurnal, buletin, majalah umum dan teknis,
komik, termasuk penerbitan jadwalsiaran radio dan televisi, dan sebagainya. Informasi ini
dapat dipublikasikan dalam bentuk elektronik maupun cetak, termasuk secara daring.
4. Penerbitan Lainnya (58190): Kelompok ini mencakup usaha penerbitan foto-foto, grafir
(engraving) dan kartu pos, formulir, poster, reproduksi karya seni, dan material periklanan
serta materi cetak lainnya, termasuk penerbitan statistik dan informasi lainnya secara
daring dan rekaman mikrofilm.
5. Penerbitan Dalam Media Rekaman yaitu Penerbitan Musik dan Buku Musik (59202):
Kelompok ini mencakup usaha penerbitan musik, seperti perolehan dan pencatatan hak
cipta untuk gubahan musik, promosi, pengesahan dan penggunaan gubahan dalam
perekaman, radio, televisi, film, pertunjukkan langsung, media cetak dan lainnya dan
pendistribusian rekaman suara ke pedagang besar, eceran, atau langsung ke masyarakat,
termasuk penerbitan buku musik dan buku lembaran musik.

D. Kegiatan Kantor Berita


Kegiatan kantor berita terbagi menjadi tiga kelompok sebagai berikut:
1. Kegiatan Kantor Berita oleh Pemerintah (63911): Kelompok ini mencakup kegiatan

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Penerbitan Indonesia

49

pemerintah dalam usaha mencari, mengumpulkan, mengolah dan mempublikasikan


berita melalui media cetak maupun elektronik, dengan tujuan untuk menyampaikannya
kepada masyarakat sebagai informasi. Contohnya adalah Kantor Berita Antara.
2. Kegiatan Kantor Berita oleh Swasta (63912): Kelompok ini mencakup usaha
mengumpulkan dan menyebarluaskan berita melalui media cetak maupun elektronik
dengan tujuan untuk menyampaikannya kepada masyarakat sebagai informasi yang
dikelola oleh swasta.
3. Jurnalis Berita Independen (990005): Kelompok ini mencakup usaha mencari berita
yang dilakukan oleh perseorangan sebagai bahan informasi.

2.2.3 Model Bisnis di Industri Penerbitan


Secara umum, ada dua pendekatan yang dilakukan para aktor bisnis dalam industri penerbitan.
Aktor-aktor bisnis konvensional cenderung menitikberatkan pada penghasilan dan penjualan
buku baik cetak maupun daring. Sementara aktor-aktor bisnis yang lebih muda, pada umumnya
komikus, lebih berfokus pada pengembangan konten HKI. Secara lebih rinci, perbedaan keduanya
adalah sebagai berikut:

A. Model Bisnis Penerbitan Penghasil Buku


Model bisnis penerbitan cetak mengacu pada bisnis penerbitan yang memiliki tujuan untuk
menciptakan dan mencetak konten berwujud buku maupun media berkala yang diterbitkan
secara cetak maupun daring. Model bisnis ini meliputi semua rantai nilai, mulai dari proses ide,
kreasi, produksi, distribusi dan penjualan. Monetisasi bisnis penerbitan cetak di Indonesia pada
umumnya dibagi sebagai berikut:

Penulis: 10% dari harga buku

Produksi: 20% dari harga buku

Penerbit: 15-20% dari harga buku

Distributor: 50-55% dari harga buku

Dari sini, dapat dilihat bahwa distributor mendapatkan porsi paling besar dari keuntungan
penjualan buku. Hal ini menyebabkan minimnya alokasi dana untuk agen naskah dan berbagai
keperluan penerbit seperti pemasaran dan sejenisnya. Pembagian ini terjadi karena kondisi
monopolistik yang membuat distributor memiliki daya tawar yang amat tinggi sebagaimana
akan kita bahas pada bab selanjutnya.

B. Model Bisnis Pengembang Konten terkait Hak Kekayaan Intelektual


Model bisnis pengembang konten sangat erat kaitannya dengan pengelolaan Hak Kekayaan
Intelektual (HKI) atau lebih tepatnya Hak Cipta sebuah karya kreatif penerbitan. Dalam proses
pengelolaan HKI di Indonesia, penerbit sering menyalahartikan perannya dengan memfokuskan
pada pemenuhan kuota penjualan judul-judul baru,bukan kepada pengelolaan HKI. Di negaranegara maju, HKI menjadi dasar pengelolaan hasil karya untuk dikembangkan lebih lanjut
menjadi karya-karya turunan. Hal inilah yang menjadikan model bisnis pengembang konten
penerbitan muncul dan berkembang.
Model bisnis pengembang konten HKI adalah model bisnis yang memiliki tujuan untuk
menciptakan konten yang dialihmediakan atau dalam bentuk karakter.Model bisnis ini sangat
berkembang dewasa ini seiring perkembangan teknologi. Pada umumnya, cerita akan melahirkan

50

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

ragam karakter yang dapat dikelola hak cipta-nya ataupun dialihmediakan seperti Harry Potter,
X-Men, Doraemon dan lainnya. Bisnis ini seringkali berjalan secara berkebalikan dengan cara
membentuk karakter konten terlebih dahulu baru dilanjutkan dengan cerita yang mengikuti
karakter tersebut.
Dalam bisnis pengembangan konten, media cetak bukan menjadi tujuan utama produksi.Prioritas
utama lebih kepada penyebarluasan konten menggunakan media daring dan multimedia lainnya.
Bisnis ini sangat diminati oleh komikus-komikus maupun penulis muda. Karena inti dari bisnis
ini lebih kepada pengembangan konten, model bisnis ini tidak terlalu dibatasi pengeluaran sumber
daya (manusia dan mesin) seperti bisnis penerbitan cetak.
Gambar 2-7 Usaha, Pengembangan, dan Derivatif Penerbitan

Sumber: IKAPI (2014)

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Penerbitan Indonesia

51

52

Ekonomi Kreatif: Rencana Aksi Jangka Menengah Penerbitan 2015-2019

BAB 3
Kondisi Umum Penerbitan
di Indonesia

BAB 3: Kondisi Umum Penerbitan di Indonesia

53

Dalam perkembangannya, industri penerbitan selalu berubah mengikuti tantangan yang ada di
lingkungannya. Permasalahan utama yang terjadi adalah bagaimana industri ini dapat tumbuh
menjadi besar. Bila dibandingkan dengan negara-negara lain, jumlah penerbitan buku di Indonesia
berada di peringkat 18, masih jauh di bandingkan dengan Amerika Serikat yang berada pada
peringkat pertama dengan 292.014 buku per tahun. Berdasarkan data Kementrian Pendidikan
dan Kebudayaan,jumlah penerbit yang ada di Indonesia masih sangat rendah bila dibandingkan
dengan negara-negara seperti Jepang, Korea ataupun India. Hal ini berpengaruh terhadap jumlah
produksi buku di Indonesia yang juga masih rendah, tidak sampai 18.000 judul buku per tahun,
dibandingkan dengan Jepang yang mencapai 40.000 buku pertahun, atau India pada 60.000
dan Cina pada 140.000 (Kompas, 2012).
Tabel 3-1 Produktivitas Penerbitan Buku Negara Asia/tahun

NEGARA

PRODUKSI BUKU

Cina

140.000/tahun

India

60.000/tahun

Jepang

40.000/tahun

Vietnam

15.000/tahun

Indonesia

18.000/tahun

Sumber: IKAPI, 2012

Pertumbuhan industri penerbitan berkaitan dengan pengembangan teknologi pendukungnya.


Kemajuan teknologi memiliki peran positif dan negatif dalam meningkatkan pertumbuhan
industri penerbitan di dalam negeri.Pengaruh positifnya terutama berkaitan dengan penerbitan
buku digital, seperti eBook store.Saat ini ada eBook store yang cukup aktif, yaitu Scoop (di bawah
manajemen Gramedia), Gramediana (milik Gramedia), Lumos (milik Mizan) dan Wayang Force
(milik Megindo).Tetapi, sayangnya, mesin percetakan berteknologi tinggi dan penjualan buku
digital hanya dimiliki oleh perusahaan penerbitan dan percetakan besar, sehingga perusahaan
penerbitan kecil menjadi terbatas geraknya dan kurang dapat berkembang.
Di Indonesia sendiri, masih banyak penerbit yang menggunakan cara konvensional untuk
melakukan pencetakan. Hal ini membuktikan bahwa semakin majunya teknologi dan pendidikan
tidak lantas otomatis membuat industri penerbitan tumbuh.

3.1 Kontribusi Ekonomi Penerbitan


Perhitungan kontribusi ekonomi subsektor penerbitan terhadap perekonomian nasiona sangatlah
penting untuk melihat posisi subsektor penerbitan dalam perekonomian nasional. Data kontribusi
ini diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang dipublikasikan pada tahun 2013. Perhitungan
kontribusi ekonomi ini masih memiliki banyak kekurangan karena lingkup subsektor penerbitan
berdasarkan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) masih belum sesuai dengan ruang
lingkup industri penerbitan yang masuk dalam subsektor ekonomi kreatif. Namun sebagai data
awal, kontribusi ekonomi subsektor teknologi informasi dapat dilihat pada Tabel 3-1. Data ini
tentunya perlu dievaluasi dan direvisi sesuai dengan konteks industri penerbitan yang merupakan
bagian dari subsektor penerbitan.

54

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

Tabel 3-2 Kontribusi Ekonomi Subsektor Penerbitan 2010-2013


INDIKATOR

SATUAN

2010

2011

2012

2013

RATA-RATA

Berbasis Produk Domestik Bruto

Nilai Tambah
Subsektor
(ADHB)*

Miliar
Rupiah

40,226.96

43,757.01

47,896.67

52,037.56

45,979.55

Kontribusi
Nilai Tambah
Subsektor
Terhadap
Ekonomi
Kreatif (ADHB)*

Persen

8.50

8.30

8.28

8.11

8.30

Kontribusi
Nilai Tambah
Subsektor
Terhadap Total
PDB (ADHB)*

Persen

0.62

0.59

0.58

0.57

0.59

Pertumbuhan
Nilai Tambah
Subsektor
(ADHK)**

Persen

0.68

3.60

3.39

2.56

Berbasis Ketenagakerjaan

Jumlah
Tenaga Kerja
Subsektor

Orang

490,422

496,067

503,925

505,757

499,043

Tingkat
Partisipasi
Tenaga Kerja
terhadap
Ketenagakerjaan Sektor
Ekonomi
Kreatif

Persen

4.27

4.25

4.27

4.26

4.26

Tingkat
Partisipasi
Tenaga Kerja
terhadap
Ketenagakerjaan
Nasional

Persen

0.45

0.45

0.45

0.46

0.45

Pertumbuhan
Jumlah
Tenaga Kerja
Subsektor

Persen

1.15

1.58

0.36

1.03

Produktivitas
Tenaga Kerja
Subsektor

Ribu
Rupiah/
Pekerja
Pertahun

82,025

88,208

95,047

102,890

92,042.66

BAB 3: Kondisi Umum Penerbitan di Indonesia

55

INDIKATOR

SATUAN

2010

2011

2012

2013

RATA-RATA

Berbasis Aktivitas Perusahaan

Jumlah
Perusahaan
Subsektor

Perusahaan

54,492

55,035

55,232

55,396

55,039

Kontribusi
Jumlah
Perusahaan
terhadap
Jumlah
Perusahaan
Ekonomi
Kreatif

Persen

1.04

1.03

1.02

1.02

1.03

Kontribusi
Jumlah
Perusahaan
terhadap Total
Usaha

Persen

0.10

0.10

0.10

0.10

0.10

Pertumbuhan
Jumlah
Perusahaan

Persen

1.00

0.36

0.30

0.55

Nilai Ekspor
Subsektor

Juta
Rupiah

1,669,121.41

1,707,399.55

1,750,281.53

1,755,826.28

1,720,657.19

Kontribusi
Ekspor
Subsektor
Terhadap
Ekspor Sektor
Ekonomi
Kreatif

Persen

1.73

1.62

1.59

1.48

1.60

Kontribusi
Ekspor
Subsektor
Terhadap Total
Ekspor

Persen

0.11

0.09

0.09

0.08

0.09

Pertumbuhan
Ekspor
Subsektor

Persen

2.29

2.51

0.32

1.71

Berbasis Konsumsi Rumah Tangga

Nilai Konsumsi
Rumah Tangga
Subsektor

Juta
Rupiah

30,266,172.00

31,648,560.35

33,538,099.71

36,117,970.86

32,892,700.73

Kontribusi
Konsumsi
Rumah Tangga
Subsektor
terhadap
Konsumsi
Sektor Ekonomi
Kreatif

Persen

4.71

4.47

4.29

4.17

4.41

56

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

INDIKATOR

SATUAN

2010

2011

2012

2013

RATA-RATA

Kontribusi
Konsumsi
Rumah Tangga
terhadap Total
Konsumsi
Rumah Tangga

Persen

0.83

0.78

0.75

0.72

0.77

Pertumbuhan
Konsumsi
Rumah Tangga

Persen

4.57

5.97

7.69

6.08

*ADHB = Atas Dasar Harga Berlaku

**ADHK = Atas Dasar Harga Konstan

Sumber: Badan Pusat Statistik (2013), diolah

Jumlah penerbit yang ada di


Indonesia masih sangat rendah bila
dibandingkan dengan negara-negara
seperti Jepang, Korea ataupun
India, yang berpengaruh terhadap
rendahnya jumlah produksi buku
per tahun yang tidak sampai 18.000
judul buku, dibandingkan dengan
Jepang yang mencapai 40.000 buku,
atau India pada 60.000 dan Cina pada
140.000

BAB 3: Kondisi Umum Penerbitan di Indonesia

57

3.1.1 Berbasis Produk Domestik Bruto (PDB)


Gambar 3-1 Kontribusi terhadap total produk domestik bruto industri kreatif (2013)

Sumber: Badan Pusat Statistik

Berdasarkan Gambar 3.1, dapat dilihat bahwa industri penerbitan memberikan kontribusi 8% terhadap
total produk domestik bruto industri kreatif. Rata-rata pertumbuhan NTB industri kreatif dan Indonesia
secara keseluruhan adalah 5,2% dan 6,1%. Nilai tambah bruto pada tahun 2013 sendiri bernilai Rp52
triliun dengan rata-rata pertumbuhan nilai tambah bruto sebesar 2,5% untuk periode 2011-2013.

58

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

3.1.2 Berbasis Ketenagakerjaan


Gambar 3-2 Kontribusi terhadap total tenaga kerja industri kreatif (2013)

Sumber: Badan Pusat Statistik

Berdasarkan Gambar 3.2, dapat dilihat bahwa industripenerbitan memberikan kontribusi


4,26% terhadap total tenaga kerja industri kreatif. Rata-rata pertumbuhan tenaga kerja industri
kreatif dan Indonesia secara keseluruhan adalah 1,09% dan 0,79%. Nilai tersebut didapatkan
dari 505.757 tenaga kerja pada tahun 2013 dengan rata-rata pertumbuhan tenaga kerja sebesar
1,03% untuk periode 2011-2013.

BAB 3: Kondisi Umum Penerbitan di Indonesia

59

3.1.3 Berbasis Aktivitas Perusahaan


Gambar 3-3 Kontribusi terhadap total unit usaha bruto industri kreatif (2013)

Sumber: Badan Pusat Statistik

Berdasarkan Gambar 3.3, dapat dilihat bahwa industri penerbitan memberikan kontribusi 1,02%
terhadap total unit usaha industri kreatif. Rata-rata pertumbuhan unit usaha industri kreatif dan
Indonesia secara keseluruhan adalah 0,98% dan 1,05%. Nilai tersebut didapatkan dari 55.396
unit usaha pada tahun 2013 dengan rata-rata pertumbuhan tenaga kerja sebesar 0,55% untuk
periode 2011-2013.

60

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

3.1.4 Berbasis Konsumsi Rumah Tangga


Gambar 3-4 Kontribusi terhadap total konsumsi rumah tangga industri kreatif (2013)

Sumber: Badan Pusat Statistik

Berdasarkan Gambar 3.4, dapat dilihat bahwa industri penerbitan memberikan kontribusi
4,17% terhadap total konsumsi rumah tangga industri kreatif. Rata-rata pertumbuhan konsumsi
rumah tangga industri kreatif dan Indonesia secara keseluruhan adalah 10,5% dan 11,15%.
Nilai konsumsi rumah tangga pada tahun 2013 sendiri bernilai Rp 36 triliun dengan rata-rata
pertumbuhan konsumsi rumah tangga sebesar 6,07% untuk periode 2011-2013.

BAB 3: Kondisi Umum Penerbitan di Indonesia

61

3.1.5 Berbasis Nilai Ekspor


Gambar 3-5 Pertumbuhan ekspor 2010-2013

Sumber: Badan Pusat Statistik

Berdasarkan Gambar 3-5, dapat dilihat bahwa industri penerbitan memberikan kontribusi 1,48%
terhadap total nilai ekspor industri kreatif. Nilai ekspor pada tahun 2013 sendiri bernilai Rp 1,7
Miliar dengan rata-rata pertumbuhan ekspor sebesar 0,14% untuk periode 2010-2013.

62

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

3.2 Kebijakan Pengembangan Penerbitan


Tabel 3-3 berikut merupakan analisis evaluatif terhadap kebijakan yang terkait dengan Penerbitan,
baik dari sisi Penerbitan dan Percetakan sebagai industri maupun dari sisi pendidikan yang terkait
dengan dunia penerbitan.
Tabel 3-3 Pemetaan kebijakan

KEBIJAKAN

UNDANG-UNDANG, PERATURAN, DAN


KEBIJAKAN YANG BERLAKU

ANALISIS

Keterbukaan
Informasi

UU 40/1999 tentang pers


UU 32/2002 tentang penyiaran
UU No 14/2008 tentang keterbukaan
informasi publik

Hak Cipta(LIPI,
2004)

UU Nomor 19 Tahun 2002 tentang


Hak Cipta

Pendaftaran hak cipta atas suatu


produk masih memakan waktu
terlalu lama.

Kebijakan
Plagiarisme

Peraturan Menteri Pendidikan


Nasional Nomor 17 Tahun
2010 tentang Pencegahan dan
Penanggulangan Plagiarisme di
Perguruan Tinggi

Kebijakan plagiarisme yang ada


belum mengatur secara spesifik
mengenai plagiarisme karya kreatif
penerbitan

Klasifikasi Baku
Lapangan Usaha
Indonesia (KBLI)

Klasifikasi Baku Lapangan Usaha


Indonesia tahun 2009
Klasifikasi Baku Lapangan Usaha
Indonesia Bidang Ekonomi Kreatif

Klasifikasi dari KBLI ini masih


terlalu besar berikaitan dengan
subsektor Kebanyakan klasifikasi
dalam KBLI masihtumpang tindih
dengan subsektor lainnya, seperti
musik, video, IT, dll. Oleh karena itu
diperlukan pengklasifikasian KBLI
khusus penerbitan dan percetakan
yang lebih mendetil.

Regulasi Terkait Penerbitan


Industri penerbitan di Indonesia telah mengalami pasang surut. Perubahan dinamika dalam
kebijakan pendidikan dan perkembangan informasi dan teknologi sangat berpengaruh dalam
keberlangsungan subsektor ini. Upaya pemerintah sampai saat ini dinilai kurang terfokus untuk
membangun industri penerbitan. Terutama, diperlukan pengkajian lebih mendalam mengenai
kebijakan-kebijakan sebagai berikut:
1. Kebijakan Plagiarisme. Pembajakan tumbuh subur di Indonesia, melihat dari banyaknya
karya tulis mahasiswa yang menjiplak karya orang lain serta banyaknya buku-buku bajakan
yang dijual di kaki lima. Oleh karena peran kebijakan pemerintah pusat dan daerah
dalam memberantas pembajakan sangat diperlukan untuk keberlangsungan industri ini.
2. Kebijakan Jalur Distribusi Alternatif. Struktur distribusi yang kurang efisien menyebabkan
buku-buku yang dijual di daerah pelosok menjadi lebih mahal dibandingkan dengan kotakota besar di pulau Jawa, berbanding terbalik dengan struktur daya beli masyarakatnya.
Hal ini menyebabkan minat beli masyarakat daerah pun menjadi kecil. Oleh karena itu
diperlukan kebijakan mengenai distribusi industri perbukuan sehingga produk buku
dapat dikonsumsi secara nasional dengan harga yang lebih adil dan sesuai dengan daya
beli masyarakatnya.

BAB 3: Kondisi Umum Penerbitan di Indonesia

63

3.3 Struktur Pasar Penerbitan


Menurut data IKAPI, pada tahun 2013 terdapat 1.219 penerbit yang terdaftar sebagai anggotanya.
Di antara penerbit itu, 800 tercatat sebagai penerbit aktif.Keseluruhan penerbit adalah penerbit
swasta, dan hanya satu penerbit yang tercatat sebagai badan usaha milik negara (BUMN) yaitu
Balai Pustaka. Kategorisasi penerbit di Indonesia terbagi menjadi empat jenis, yaitu:

Self Publisher: Penerbit yang memfasilitasi penulis untuk menerbitkan naskahnya sendiri,
tanpa bergantung ketentuan kuota judul maupun penjualan per tahun

Small Publisher: Penerbit skala kecil dengan jumlah terbitan judul kurang dari 10 pertahun

Medium Publisher: Penerbit skala menegah dengan jumlah terbitan judul 10-50 pertahun

Major Publisher: Penerbit skala besar dengan jumlah terbitan lebih dari 50 judul per tahun
Gambar 3-6 Jumlah Penerbit yang Menjadi Anggota IKAPI s/d 2013

Sumber: IKAPI (2014)

Pada umumnya, penerbit mempunyai ukuran yang relatif sama. Hal ini berarti produksi dari setiap
penerbit jumlahnya relatif kecil dibandingkan dengan jumlah produksi yang beredar di keseluruhan pasar.
Walaupun demikian, saat ini pasar masih di kuasai oleh penerbit-penerbit besar yang terpusat di kota-kota
besar di Indonesia (Gambar 3-6). Persaingan monopolistik semacam ini menyebabkan penerbit-penerbit
besar mempunyai daya tawar yang begitu tinggi dalam mempromosikan produk serta menetapkan harga
dan struktur laba dalam penjualan produk penerbit, sehingga dirasa kurang adil bagi beberapa pihak.

3.4 Daya Saing Penerbitan


Berdasarkan matriks daya saing, Penerbitan Indonesia memiliki nilai rata-rata 4,3. Potensi terbesar
dariindustri penerbitan berada pada sumber daya kreatif yang memiliki nilai diatas rata-rata, yaitu
4,9. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya jumlah orang/wirausaha/usaha kreatif dan karya-karya
kreatif milik Indonesia yang telah disebarluaskan.

64

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

Gambar 3-7 Daya Saing Penerbitan

Tinggi-rendahnya potensi sumber daya kreatif sangat dipengaruhi oleh nilai sumber daya pendukung
dan kelembagaan. Bila dilihat dari matriks,sumber daya pendukung memiliki potensi cukup strategis
untuk meningkatkan kreasi dan produktivitasindustri penerbitan. Alih-alih, sebagai salah satu
pemilik hutan terbesar, Indonesia berpotensi untuk memproduksi kertas secara mandiri sehingga
mampu menekan biaya produksi karya kreatif.Selain itu, keragaman budaya yang ada Indonesia
berpotensi untuk mengembangkan konten dari karya kreatif yang memiliki nilai budaya bangsa
sehingga memiliki nilai keunikan yang tinggi.
Sayangnya, dalam perkembangan daya saingnya, nilai kelembagaan penerbitan Indonesia masih
sangat rendah, berada pada nilai 4,0. Hal ini dapat dilihat dari regulasi dan apresiasi yang masih
sangat kurang dalam mendukung kinerja sumber daya kreatif. Struktur distribusi yang kurang
efisien, ketidakstabilan bahan baku kertas dan tinta, dan rentannya pembajakan terhadap karyakarya kreatif penerbitan semua berkontribusi pada nilai rendah ini. Oleh karena itu, diperlukan
intervensi dalam pilar kelembagaan untuk meningkatkan daya saing penerbitan.
Matriks daya saing menunjukkan nilai terendah pada pilar pembiayaan, yaitu 3,0. Beratnya biaya
produksi dalam pembuatan karya kreatif, khususnya cetak, sangat tinggi, sehingga alokasi dana
untuk kegiatan pemasaran sangat terbatas dan cenderung tidak dapat dilakukan oleh penerbit.
Sampai saat ini, belum ada sumber atau alternatif lembaga yang memberikan informasi dan
dukungan mengenai pembiayaan. Oleh karena itu, diperlukan intervensi dalam pilar pembiayaan
yang akan meningkatkan daya saing industri melalui kegiatan pemasaran yang aktif.

3.5 Potensi dan Permasalahan Pengembangan Penerbitan


Pertumbuhan ekonomi kreatif sangat penting untuk meningkatkan perekonomian nasional dan
persaingan global.Ekonomi kreatif berfokus pada penciptaan barang dan jasa dengan mengandalkan
keahlian, bakat dan kreativitas sebagai kekayaan intelektual, dan merupakan harapan bagi ekonomi
Indonesia untuk tumbuh. Berdasarkan rata-rata pertumbuhan PDB tahunan periode 2002-2006,

BAB 3: Kondisi Umum Penerbitan di Indonesia

65

industri kreatif memiliki rata-rata pertumbuhan di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional
sebesar 5,76%. Sedangkan pertumbuhan ekspor industri kreatif tahun 2013 mencapai 119,7 T,
meningkat 8% dari tahun 2012 (Merdeka, 2014). Salah satu subsektor potensial dalam industri
kreatif adalah penerbitan. Berdasarkan data yang didapat,industripenerbitan termasuk salah satu
yang mendominasi industri kreatif. Hal ini dilihat dari peningkatansebesar 4,7% tahun 2011
menjadi 4,86% tahun 2012. Kedua hal ini membuktikan bahwa industri penerbitan berpotensi
untuk bersaing dan meraih keunggulan dalam ekonomi global.
Industri penerbitan dan percetakan memiliki posisi yang sangat fundamental, karena
industri inilah yang paling bertahan lama dan mengalami pertumbuhan dari tahun ke tahun.
Saat iniindustri penerbitan mengalami perkembangan yang pesat. Dengan luas wilayah 1.910.931
km2 dan besar populasi sebanyak 244,2 juta yang 93,4% penduduknya telah melek huruf.
Tabel 3-4 Potensi Industri Penerbitan pada Tahun 2012

Luas

1.910.931 km2

Populasi

244,2 juta

Pertumbuhan Populasi

1,31%

Angka Melek Huruf

93,4%

Pengguna Internet

71,19 Juta

Produk Domestik Bruto

$878 Milliar

PDB/kapita

$3,556.79

Pertumbuhan Ekonomi

6,2%

Angka Pengangguran

6,1%

Sumber: IKAPI (2014)

Dalam perkembangan penerbitan di Indonesia terdapat 1126 Penerbit yang terdaftar di Pulau
Jawa sebanyak 1004, berarti sebanyak 122 penerbit tersebar di luar pulau Jawa. Lain dari pada
itu penerbit yang ada 60% menerbitan buku teks dan hanya 40% buku umum. Oleh karena itu,
dapat dilihat bahwa dalam penerbitan Indonesia mayoritas masyarakat mengkonsumsi buku teks
untuk keperluan pendidikan. PT.Gramedia sendiri, selaku penerbit dan distributor buku terbesar
menerbitkan 2300 judul perbulannya di tahun 2011. Selain itu terdapat beberapa lembaga yang
tidak terdeteksi menerbitkan buku seperti lembaga pemerintah, perusahaan swasta/BUMN,
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Self Publisher, komunitas hobi dan Lembaga lainnya. Bila
dilihat demikian potensi pengembangan buku memiliki pasar yang sangat besar dan masyarakat
memiliki beragam pilihan, sehingga persaingan menjadi ketat.
Pasar penerbitan buku di Indonesia tumbuh sebanyak 6% pertahun (IKAPI, 2014) antara tahun
2007-2012. Pertumbuhan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi di Indonesia, perkembangan
pesat di kelas menengah dan meningkatnya kesadaran akan pendidikan. Pada tahun 2013, ada
33.199.557 eksemplar buku terjual di Indonesia dimana peringkat pertama penjualan dikuasai oleh
penjualan buku anak sebanyak 10,9 Juta eksemplar (Tabel.12). Oleh karena itu bila dibandingkan
dengan total populasi sebesar 244 juta,2 Juta Jiwa maka produksi buku di Indonesia memiliki
potensi besar untuk dikembangkan menjadi maju.

66

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

Tabel 3-5 10 Buku Terlaris di Indonesia

Anak

10,9 Juta

Religi

3,7 Juta

Sastra/Fiksi

3,6 Juta

Sekolah

3,5 Juta

Referensi/Kamus

2 Juta

Bisnis/Ekonomi

1 Juta

Pengembangan Diri

900 Ribu

Ilmu Sosial

800 Ribu

Masakan

700 Ribu

10

Komputer

700 Ribu

Sumber: IKAPI, 2013

Permasalahan utama yang di hadapi penerbitan Indonesia adalah keberlangsungan penerbitan


cetak. Berkembangnya teknologi digital dan internet membuat beberapa penerbitan cetak lokal
Indonesia mengalami kebangkrutan. Tetapi hal ini juga dapat dilihat sebagai tantangan untuk
menciptakan bisnis model baru pada industri penerbitan. Selanjutnya, akan kita lihat secara
mendetil berbagai potensi dan permasalahan industri penerbitan dalam matriks di bawah
Tabel 3-6 Potensi dan Permasalahan Penerbitan

POTENSI
(Peluang dan kekuatan)

PERMASALAHAN
(tantangan, hambatan, kelemahan, ancaman)

SUMBER DAYA KREATIF


1

Tersedianya pendidikan non-formal


yang dilakukan lembaga atau
komunitasberkaitan dengan creative
writing, design, tata letak, dll.

Masih mahalnya biaya pendidikan nonformal untuk melatih keahlian orang kreatif
penerbitan

Semua tingkat dan jalur pendidikan dari


TK sampai perguruan tingggi mengajarkan
anak untuk menggali imajinasi,
menggambar, menulis danmenganalisa

Institusi pendidikan memperbolehkan


siswa dan pengajar untuk menggunaan
buku-buku bajakan di dalam proses belajar
mengajar

Tersedianya orang kreatif yang memiliki


minat menulis

Masih jarangnya institusi pendidikan yang


membuat ekstrakulikuler untuk melatih
cara menulis dan membaca siswa

Sudah adanya penulis-penulis Indonesia


yang diakui karyanya di Internasional ( GoInternasional)

Mundurnya penggunaan bahasa penulisan


karya kreatif menggunakan bahasa baku
(KBBI)

BAB 3: Kondisi Umum Penerbitan di Indonesia

67

POTENSI
(Peluang dan kekuatan)

PERMASALAHAN
(tantangan, hambatan, kelemahan, ancaman)
5

Masih jarangnya pelaku kreatif penerbitan


yang memiliki link and match dunia
pendidikan dan dunia usaha

Belum terhubungnya dunia pendidikan


dengan dunia usaha penerbitan

Belum banyaknya beasiswa yang


mendukung kreativitas penulis /orang
kreatif penerbitan

Hilangnya kualitas gaya dan kemampuan


penulis ataupun penyunting

Rendahnya pemahaman penulis dalam


pengelolaan Hak Kekayaan Intelektual yang
masih rendah

10

Kesejahteraan tenaga kerja penerbitan dan


percetakan yang masih rendah

SUMBER DAYA PENDUKUNG


1

Penggunaan kertas-kertas daur ulang


untuk pencetakan karya tulis

Masih rendahnya pengarsipan terhadap


karya-karya budaya bangsa.

Tersedia banyak sumber daya budaya yang


dapat menjadi identitas Penerbitan dan
Percetakan Indonesia.

Kurangnya penelitian terkait sumber daya


pembuatan kertas produksi dalam negeri.
Kertas masih impor

Karya kreatif yang bernilai budaya


Indonesia

Invasi budaya-budaya negara lain seperti


korea, jepang yang lebihdiminati pembaca

Penggunaan karya-karya penerbitan untuk


pengembangan karya subsektor ekonomi
kreatif lainnya

Karya-karya budaya / sastra/ sejarah yang


kurang peminat atau mulai ditinggalkan
pembaca(terancam punah)

Kurangnya penelitian terkait sumber daya


budaya oleh peneliti Indonesia

INDUSTRI

68

Tersedianya wirausaha kreatiflokal yang


banyak

Masih rendahnya wirausaha kreatiflokal


yang menembus pasar internasional

Jumlah usaha penerbitan cetak sudah


banyak

Masih rendahnya jejaring dan kerjasama di


tingkat lokal, nasional maupun global

Tumbuh dan berkembangnya model bisnis


baru seperti pengembangan konten, self
publisher dan digital publisher

Kesiapan industri untuk memenuhi


permintaan pasar masih kurang

Sudah ada beberapa usaha kreatif yang


mengembangkan karya kreatif untuk alih
media oleh industri kreatif lain seperti film,
seni pertunjukan, animasi dll

Pemahaman penulis dan penerbit dalam


pengelolaan Hak Cipta yang masih rendah

Tumbuh dan berkembangnya self publisher

Penyebaran usaha kreatif belum merata


di seluruh Indonesia (penerbit terpusat di
kota besar)

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

POTENSI
(Peluang dan kekuatan)

PERMASALAHAN
(tantangan, hambatan, kelemahan, ancaman)

Kualitas dan keragaman beberapa karya


kreatif hasil Penerbitan dan Percetakan
Indonesia sudah diakui oleh pasar
internasional.

Belum adanya pemetaan tentang penerbit


mandiri dan penerbit digital yang
berkembang saat ini

Terdapat karya-karya tulis Penerbitan dan


Percetakan produknya sudah dipasarkan
ke luar negeri seperti pesona edu, gagas
media dll.

Masih kurangnya kesempatan alih media


terhadap karya-karya tulis Indonesia

Monetisasi yang merugikan penulis dan


penerbit

Perusahaan Penerbitan dan Percetakan


lokal masih susah bersaing dengan
internasional di negeri sendiri

10

Kesiapan industri untuk memenuhi


permintaan pasar masih kurang

11

Serapan industri terhadap hasil-hasil


kompetisi rendah

12

Kualitas karya kreatif penulisan Indonesia


masih rendah

Belum adanya alternatif pembiayaan terkait


pengembangan bisnis baru dalam industri
penerbitan dan percetakan. Khususnya
karya penulisan seperti sastra / sejarah
yang kurang diminati pasar

Tidak adanya informasi terkait sumber


pembiayaan untuk produksi penerbitan dan
percetakan

Pembajakan karya tulis

Pembajakan karya tulis

PEMBIAYAAN
1

Penyewaan lisensi asing untuk pasar global

PEMASARAN
1

Besarnya potensi perkembangan produk


penerbitan lokal

Adanya kesepakatan pasar bebas pada


tahun 2015, sementara Indonesia belum
siap untuk menghadapi hal tersebut.

Potensi pasar domestik(pasar pemerintah


dan pasar swasta) dan pasar internasional

Karya-karya tulis/komik (produk)


internasional yang lebih diminati
masyarakat

Pertumbuhan konsumsi Indonesia


bertambah sehingga dapat menambah
peluang bagi Penerbitan dan Percetakan
untuk memasarkan produknya

Penyediaan ruang promosi dan pameran


nasional dan internasional yang masih
sangat mahal

Besarnya potensi penggunaan produkproduk penerbitan padasemua sektor


seperti : pendidikan,komunikasi,
kesehatan,ekonomi kreatif, dan pariwisata

Belum banyaknya pameran yang diadakan


di tingkat internasional

BAB 3: Kondisi Umum Penerbitan di Indonesia

69

POTENSI
(Peluang dan kekuatan)
5

Adanya media sosial seperti Facebook,


Twitter, dan Instagram untuk membantu
perluasan pasar hingga internasional

PERMASALAHAN
(tantangan, hambatan, kelemahan, ancaman)
5

Belum banyaknya pameran yang diadakan


di tingkat internasional

INFRASTRUKTUR DAN TEKNOLOGI


1

Banyaknya jumlah Perpustakaan yang perlu


direvitalisasi berbasis kemajuan

Pengangkutan / distribusi yang memakan


waktu tidak singkat ke daerah pelosok

Perkembangan teknologi internet


memunculkan pengembangan model bisnis
baru, konten penulisan untuk alih media,
kemudahan informasi dan publikas karya

Mesin-mesin teknologi tinggi untuk


pencetakan yang masih mahal

Berkembangnya teknologi digital dan


multimedia membuat proses kreasi
Penerbitan dan Percetakan lebih mudah dan
cepat

Teknologi mengganggu kestabilan karya


kreatif cetak penerbitan dan percetakan

Teknologi mengganggu kestabilan karya


kreatif cetak penerbitan dan percetakan

KELEMBAGAAN

70

Sudah ada regulasi terkait kebebasan


informasi danperpajakan produk penerbitan
yang berkaitan dengan pendidikan

Belum adanya regulasi terkait penciptaan


nilai kreatif (creative chain) dan penataan
industri kreatif dan industri pendukung
penciptaan nilai kreatif (backward and
forward linkage)

RUU Perbukuan yang sedang diajukan IKAPI

Belum adanya kebijakan terkait perluasan


karya ekspor Penerbitan dan Percetakan

Adanya insentif keringanan pajak untuk


pelaku penerbitan buku/produk pendidikan

Belum adanya regulasi


terkaitpengembangan dan penyediaan
teknologi dan infrastruktur pendukung
industri kreatif, terutama distribusi produk
Penerbitan dan Percetakan di Indonesia

Sudah ada regulasi terkait HAKI bagi karya


Penerbitan dan Percetakan.

Belum adanya ketegasan sanksi


plagiarisme terhadap karya kreatif
Penerbitan dan Percetakaner di Indonesia
Permasalahan HAKI

Kerjasama pemangku kepentingan dalam


membangun even-event internasional

Potensi komunitas terkait industri


penerbitan yang tersebar dan tidak terdata

Eksistensi komunitas-komunitas berkaitan


dengan industri penerbitan dan percetakan
yang banyak dan merata

Tempat umum yang masih jarang


dalammerepresentasikan karya Penerbitan
dan Percetakan Indonesia

Berkerjasama dan bermitra dengan


komunitas-komunitas yang tersebar di
seluruh Indonesia

Belum adanya peningkatan diplomasi


secara bilateral, regional dan multirateral
mengenai karya-karya penerbitan
Indonesia

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

POTENSI
(Peluang dan kekuatan)
8

Sudah ada beberapa program untuk


mengembangkan unit usaha Penerbitan dan
Percetakan dari pemerintah

BAB 3: Kondisi Umum Penerbitan di Indonesia

PERMASALAHAN
(tantangan, hambatan, kelemahan, ancaman)
8

Kurangnya apresiasi/ penghargaan


terhadap karya kreatif penerbitan dan
percetakan

Kurangnya literasi masyarakat terhadap


orang/karya/wirausaha/usaha kreatif lokal
dan konsumsi karya kreatif lokal

10

Masih rendahnyaminat baca masyarakat

11

Belum adanya lembaga kritik, komite


ataupun dewan buku yang berstandar
sehingga karya penulis indonesia menjadi
tidak berkualitas

12

Pembajakan karya kreatif yang cukup


banyak

13

Masih rendahnya akses dan distribusi


terhadap informasi/pengetahuan terhadap
sumber daya alam dan sumber daya
budaya lokal

14

Kurangnya apresiasi masyarakat untuk


mendukung produk penerbitan nasional

71

72

Ekonomi Kreatif: Rencana Aksi Jangka Menengah Penerbitan 2015-2019

BAB 4
Rencana Pengembangan
Penerbitan Indonesia

BAB 4: Rencana Pengembangan Penerbitan Indonesia

73

4.1 Arahan Strategis Pengembangan Ekonomi Kreatif 20152019


Arahan RPJPN 2005-2025, pembangunan nasional tahap ketiga (2015-2019) adalah ditujukan
untuk lebih memantapkan pembangunan secara menyeluruh di berbagai bidang dengan
menekankan pencapaian daya saing kompetitif perekonomian berlandaskan keunggulan
sumber daya alam dan sumber daya manusia berkualitas serta kemampuan ilmu pengetahuan
dan teknologi yang terus meningkat.
Pembangunan periode 2015-2019 tetap perlu mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi tetapi
haruslah inklusif dan berkelanjutan, yaitu meminimasi permasalahan sosial dan lingkungan.
Pembangunan inklusif dilakukan terutama untuk mengurangi kemiskinan, ketimpangan antar
penduduk dan ketimpangan kewilayahan antara Jawa dan luar Jawa, kawasan barat dan kawasan
timur, serta antara kota-kota dan kota-desa. Pembangunan berkelanjutan dilakukan untuk
memberikan jaminan keberlanjutan manfaat yang bisa dirasakan generasi mendatang dengan
memperbaiki kualitas lingkungan (sustainable).
Tema pembangunan dalam RPJMN 2015- 2019 adalah pembangunan yang kuat, inklusif dan
berkelanjutan. Untuk dapat mewujudkan apa yang ingin dicapai dalam lima tahun mendatang,
maka fokus perhatian pembangunan nasional adalah:
1. Merealisasikan potensi ekonomi Indonesia yang besar menjadi pertumbuhan ekonomi
yang tinggi, yang menghasilkan lapangan kerja yang layak (decent jobs) dan mengurangi
kemiskinan yang didukung oleh struktur dan ketahanan ekonomi yang kuat.
2. Membuat pembangunan dapat dinikmati oleh segenap bangsa Indonesia di berbagai
wilayah Indonesia secara adil dan merata.
3. Menjadikan Indonesia yang bersih dari korupsi dan memiliki tata kelola pemerintah
dan perusahaan yang benar dan baik.
4. Menjadikan Indonesia indah yang lebih asri, lebih lestari.
Dalam rancangan teknokratik RPJMN 2015-2019 terdapat enam agenda pembangunan
nasional, yaitu: (1) Pembangunan Ekonomi; (2) Pembangunan Pelestarian Sumber Daya Alam,
Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Bencana (3) Pembangunan Politik, Hukum, Pertahanan,
dan Keamanan; (4) Pembangunan Kesejahteraan Rakyat; (5) Pembangunan Wilayah; dan (6)
Pembangunan Kelautan. Pembangunan ekonomi kreatif pada lima tahun mendatang ditujukan
untuk memantapkan pengembangan ekonomi kreatif dengan menekankan pencapaian daya saing
kompetitif berlandaskan keunggulan sumber daya alam dan sumber daya manusia berkualitas
serta kemampuan ilmu dan teknologi yang terus meningkat.

Pembangunan Ekonomi Kreatif pada lima tahun mendatang


ditujukan untuk memantapkan pengembangan ekonomi
kreatif dengan menekankan pencapaian daya saing kompetitif
berlandaskan keunggulan sumber daya alam dan sumber
daya manusia berkualitas serta kemampuan ilmu dan
teknologi yang terus meningkat.

74

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

Memantapkan pengembangan ekonomi kreatif yang dimaksud adalah memperkuat landasan


kelembagaan untuk mewujudkan lingkungan yang kondusif yang mengarusutamakan kreativitas
dalam pembangunan dengan melibatkan seluruh pemangku kebijakan. Landasan yang kuat akan
menjadi dasar untuk mewujudkan daya saing nasional dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan
dan teknologi dan kreativitas serta kedinamisan masyarakat untuk berinovasi, dan menciptakan
solusi atas permasalahan dan tantangan yang dihadapi dengan memanfaatkan sumber daya lokal
untuk menciptakan industri kreatif yang berdaya saing, beragam, dan berkelanjutan.
Secara strategis pengembangan ekonomi kreatif tahun 2015-2019 bertujuan untuk menciptakan
ekonomi kreatif yang berdaya saing global. Tujuan ini akan dicapai antara lain melalui peningkatan
kuantitas dan kualitas orang kreatif lokal yang didukung oleh lembaga pendidikan yang sesuai
dan berkualitas, peningkatan kualitas pengembangan dan pemanfaatan bahan baku lokal yang
ramah lingkungan dan kompetitif, industri kreatif yang bertumbuh, akses dan skema pembiayaan
yang sesuai bagi wirausaha kreatif lokal, pasar yang makin beragam dan pangsa pasar yang makin
besar, peningkatan akses terhadap teknologi yang sesuai dan kompetitif, penciptaan iklim usaha
yang kondusif dan peningkatan apresiasi masyarakat terhadap karya kreatif lokal.
Sejalan dengan tujuan pengembangan ekonomi kreatif 2015-2019, pengembangan penerbitan
sebagai salah satu subsektor ekonomi kreatif juga diarahkan untuk membangun landasan yang
kuat agar mampu memberdayakan seluruh potensi dan pengetahuan yang dimiliki oleh semua
sumber daya manusia di penerbitan sehingga tercipta profesionalisme-yang diperlukan untuk
membentuk mekanisme yang dapat mendukung terbentuknya industri penerbitan sehingga mampu
untuk terus menghadirkan karya-karya berkualitas dan menginspirasi kehidupan bermasyarakat
di Indonesia sehingga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Pengembangan penerbitan dalam lima tahun mendatang dilakukan melalui: Penciptaan sumber daya
manusia kreatif penerbitan yang berkualitas dan berdayasaing; Perlindungan, pengembangan
dan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya budaya yang mendukung penerbitan
secara berkelanjutan; Pengembangan wirausaha, usaha, dan karya kreatif penerbitan yang
merata dan berdaya saing; Penciptaan pembiayaan, kemudahan akses dan kompetitif bagi
usaha, wirausaha dan orang kreatif penerbitan; Perluasan pasar penerbitan di dalam dan
luar negeri yang berkelanjutan; Penyediaan infrastruktur logistik dan teknologi pendukung
industri penerbitan yang tepat guna, mudah diakses dan kompetitif; dan Penciptaan
kelembagaan yang kondusif dan mengarusutamakan kreativitas untuk pengembangan
ekonomi kreatif penerbitan.

4.2 Visi, Misi, dan Tujuan Pengembangan Penerbitan


Visi, misi, tujuan dan sasaran strategis merupakan kerangka strategis pengembangan seni
pertunjukan pada periode 2015-2019 yang menjadi landasan dan acuan bagi seluruh pemangku
kepentingan dalam melaksanakan program kerja di masing-masing organisasi/lembaga terkait
secara terarah dan terukur. Secara umum, kerangka strategis pengembangan penerbitan pada
periode 2015-2019 dapat dilihat pada Tabel 4-1.

BAB 4: Rencana Pengembangan Penerbitan Indonesia

75

VISI

Mengembangkan sumberdaya
lokal kreatif bagi penerbitan
Indonesia yang berkualitas
dan berdaya saing

Mengembangkan
penerbitan Indonesia yang
tumbuh merata, berdaya
saing dan berkelanjutan

Mengembangkan lingkungan
penerbitan Indonesia yang
mengarusutamaan kreativitas dan
kondusif dalam pembangunan nasional
dengan melibatkan seluruh pemangku
kepentingan

Penciptaan model pembiayaan


yang sesuai, mudah diakses, dan
kompetitif bagi usaha, wirausaha
dan orang kreatif penerbitan

Pengembangan pasar yang luas


bagi penerbitan di dalam dan
luar negeri yang berkualitas dan
berkelanjutan

Penyediaan infrastruktur
logistik dan teknologi pendukung
industri penerbitan yang tepat
guna, mudah diakses, dan
kompetitif

Penciptaan kelembagaan
yang kondusif dan
mengarusutamakan kreativitas
dalam pengembangan ekonomi
kreatif penerbitan

Menyediakan pembiayaan
penelitian dan pelestarian karya
kreatif penerbitan berkaitan
dengan budaya bangsa, sastra
dan sejarah

Meningkatnya penetrasi dan


diversifikasi pasar karya
kreatif penerbitan nasional dan
internasional

10

Menyediakan infrastruktur
logistik dan jaringan internet
yang memadai dan kompetitif
untuk pemenuhan kebutuhan
pasar bagi industri penerbitan
secara merata di seluruh
provinsi, kabupaten, dan kota

11

Menciptakan regulasi yang


mendukung penciptaan
iklim yang kondusif untuk
meningkatan mutu dan
penyebaran orang kreatif,
wirausaha kreatif dan usaha
kreatif penerbitan Indonesia

TUJUAN

Penerbitan Indonesia yang bertumbuh secara merata, berkualitas, berbudaya, berdaya saing dan
berkelanjutan

MISI

Tabel 4-1 Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran Pengembangan Penerbitan 2015-2019

Pertumbuhan
wirausaha, usaha
dan karya kreatif
penerbitan yang
merata dan berdaya
saing

Perlindungan,
pengembangan dan
pemanfaatan sumber daya
alam dan sumber daya
budaya yang mendukung
usaha penerbitan secara
berkelanjutan

Meningkatnya mutu
pengelolaan Pendidikan
Formal, Non-Formal dan
Informal yang mendukung
orang kreatif Penerbitan
merata di seluruh provinsi,
kabupaten, dan kota

Meningkatnya
wirausaha kreatif
penerbitan lokal
yang berdaya saing
, bertumbuh dan
berkelanjutan

SASARAN STRATEGIS

Penciptaan sumber daya


manusia kreatif penerbitan
yang berkualitas dan
berdaya saing

76

Mengoptimalkan
penyediaan dan
peningkatan sarana
dan prasarana yang
mengarusutamakan
kreativitas SDM Penerbitan
merata di seluruh provinsi,
kabupaten, dan kota

Meningkatnya usaha
kreatif penerbitan
lokal yang berdaya
saing, bertumbuh,
dan berkelanjutan

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

Mendukung penyediaan
bahan baku yang
menunjang produktivitas
penerbitan dengan
menggunakan sumber
daya alam Indonesia (yang
terbarukan)

Meningkatnya
keragaman dan
kualitas karya
kreatif penerbitan
lokal berbasis
budaya bangsa

Menyediakan data dan


informasi sumber daya
budaya yang akurat
dan terpercaya dan
dapat diakses secara
mudah dan cepat untuk
mengembangkan konten
kreatif penerbitan

12

Meningkatnya partisipasi
aktif pemangku kepentingan
dalam pengembangan industri
penerbitan secara berkualitas
dan berkelanjutan

13

Tercapainya kreativitas
penerbitan sebagai paradigma
pembangunan dan dalam
kehidupan masyarakat

14

Meningkatnya posisi,
kontribusi, kemandirian serta
kepemimpinan penerbitan
Indonesia dalam fora
internasional

15

Meningkatnya apresiasi kepada


orang/karya/wirausaha/usaha
kreatif penerbitan lokal di tingkat
nasional dan internasional

16

Meningkatnya apresiasi
masyarakat terhadap sumber
daya alam dan budaya lokal
yang dihasilkan melalui karya
kreatif penerbitan

4.2.1 Visi Pengembangan Penerbitan


Dalam rangka memasuki tahap pembangunan ke-3 (20152019), pengembangan ekonomi
kreatif akan difokuskan untuk pengembangan sumber daya kreatif dan sumber daya pendukung,
meningkatkan daya saing industri kreatif, meningkatkan akses pembiayaan dan pasar, serta
harmonisasi regulasi dan penguatan kelembagaan ekonomi kreatif. Berkaitan dengan itu, berdasarkan
kondisi dan tantangan yang dihadapi penerbitan serta memperhitungkan daya saing dan potensi
yang dimiliki, maka visi pengembangan seni pertunjukan selama periode 20152019 adalah:

Penerbitan Indonesia yang bertumbuh secara


merata, berkualitas, berbudaya, berdaya saing dan
berkelanjutan

Pada visi diatas terdapat lima kata kunci yakni merata, berkualitas, berbudaya, berdayasaing
dan berkelanjutan.
Pemahaman dari lima kata kunci tersebut adalah:
1. Bertumbuh secara merata adalah penyebaran usaha kreatif dan wirausaha kreatif
penerbitan Indonesia ke seluruh Indonesia, tidak hanya terpusat di Pulau Jawa ataupun
kota-kota besar.
2. Berkualitas adalah penerbitan Indonesia yang memiliki mutu yang baik dalam hal
pengkaryaan, hal ini menunjuk untuk mengembangkan sumber daya manusia penerbitan
agar menghasilkan karya-karya kreatif yang berkualitas.
BAB 4: Rencana Pengembangan Penerbitan Indonesia

77

3. Berdaya saing adalah menunjuk karya kreatif penerbitan yang dapat disandingkan dengan
karya kreatif penerbitan lainnya di tingkat nasional maupun global.
4. Berbudaya mengandung arti nilai karya kreatif, usaha kreatif dan wirausaha kreatif
penerbitan yang menjunjung tinggi budaya bangsa Indonesia.
5. Berkelanjutanmenunjuk pada keberlangsungan usaha penerbitan yang mampu bertahan
dan berkembang besar dengan memanfaatkan peluang yang ada dan bertahan terhadap
tantangan globalisasi.

4.2.2 Misi Pengembangan Penerbitan


Untuk mencapai visi subsektor penerbitan 2019, Misi subsektor penerbitan 20152019 dikemas
dalam Misi sebagai berikut:
1. Mengembangkan sumber daya lokal kreatif bagi penerbitan Indonesia yang berkualitas
dan berdaya saing.
Misi 1 diatas bermaksud untuk mendorong pemanfaatan serta pengembangan sumber
daya lokal baik sumber daya manusia, sumber daya alam maupun budaya agar dapat
memiliki kualitas dan mutu yang cakap sehingga mampu bersaing dengan sumber daya
kreatif lainnya.
2. Mengembangkan penerbitan Indonesia yang tumbuh merata, berdaya saing dan berkelanjutan.
Misi 2 diatas bermaksud untuk mendukung pertumbuhan usaha penerbitan dan wirausaha
penerbitan yang tersebar di seluruh indonesia, mampu bersaing dan bertahan baik nasional
maupun internasional.
3. Mengembangkan lingkungan penerbitan Indonesia yang mengarusutamaan kreativitas dan
kondusif dalam pembangunan nasional dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.
Misi 3 diatas bermaksud untuk mengembangkan lingkungan kondusif yang menyokong
keberlangsungan industri penerbitan. Dalam hal ini, pengembangan lingkungan kondusif
berkaitan dengan peran regulasi dan para pemangku kepentingan seperti pemerintah,
bisnis, akademisi dan komunitas.

4.2.3 Tujuan Pengembangan Penerbitan


Untuk merealisasikan visi dan misi subsektor penerbitan maka perlu dirumuskan tujuan dan
sasaran-sasaran strategis tahun 20152019 yang lebih jelas guna menggambarkan ukuran-ukuran
terlaksananya misi dan tercapainya visi.
Tujuan rencana strategis pengembangan industri penerbitan adalah:
1. Penciptaan sumber daya manusia kreatif penerbitan yang berkualitas dan berdaya saing.
2. Perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya
budaya yang mendukung usaha penerbitan secara berkelanjutan.
3. Pertumbuhan wirausaha, usaha dan karya kreatif penerbitan yang merata dan berdaya saing.
4. Penciptaan model pembiayaan yang sesuai, mudah diakses, dan kompetitif bagi industri
penerbitan.
5. Pengembangan pasar yang luas bagi penerbitan di dalam dan luar negeri yang berkualitas
dan berkelanjutan.
6. Penyediaan infrastruktur logistik dan teknologi pendukung usaha penerbitan yang tepat
guna, mudah diakses, dan kompetitif.
7. Penciptaan kelembagaan yang kondusif dan mengarusutamakan kreativitas dalam
pengembangan ekonomi kreatif industri penerbitan.

78

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

4.3 Sasaran dan Indikasi Strategis Pengembangan Penerbitan


Untuk mencapai tujuan pengembangan seni pertunjukan maka terdapat empat belas sasaran
strategis yang dapat diindikasikan oleh 41 indikasi strategis. Sasaran dan indikasi strategis
pengembangan seni pertunjukan meliputi:
Untuk keperluan pengukuran ketercapaian tujuan strategis pengembangan penerbitan maka
diperlukan 16 sasaran strategis yang dapat diindikasikan oleh 35 indikasi strategis yang
menggambarkan kondisi yang harus dicapai pada tahun 2019. Sasaran strategis dan indikasi
strategis untuk tiap tujuan strategis tersebut adalah sebagai berikut.
a. Sasaran strategis untuk mencapai tujuan strategis 1.
1. Meningkatnya mutu pengelolaan Pendidikan Formal, Non-Formal dan Informal
yangmendukung orang kreatif Penerbitan merata di seluruh provinsi, kabupaten,
dan kota
2. Mengoptimalkan penyediaan dan peningkatan sarana dan prasarana yang
mengarusutamakan kreativitas untuk penerapan sistem pembelajaran Pendidikan
Formal merata di seluruh provinsi, kabupaten, dan kota
Sasaran strategis 1 dan 2 untuk mencapai tujuan strategis 1 dapat diindikasikan oleh:
Meningkatnya jumlah Pendidikan Formal dan Nonformal di provinsi/Kabupaten/
Kota yang menimplementasikan kurikulum pendidikan soft skill yang mendukung
keberlangsungan orang kreatifdi bidang penerbitan.
Bertambahnya sejumlah lembaga pendidikan formal, non-formal, komunitas yang
difasilitasi sarana dan prasarana kreativitas di seluruh provinsi, kabupaten, dan kota
terkait pembuatan karya kreatif penerbitan.
Adanya pemetaan lembaga nonformal dan komunitas di Indonesia terkait pengembangan
SDM kreatif.
Meningkatnya sejumlah peserta pelatihan/workshop berkaitan dengan penulisan
konten (IP Awareness, Creative Thinking, Editing, Design dan Animation).
b. Sasaran strategis untuk mencapai tujuan strategis 2.
3. Mendukung penyediaan bahan baku yang menunjang produktivitas penerbitan
dengan menggunakan sumber daya alam Indonesia (yang terbarukan).
4. Menyediakan data dan informasi sumber daya budaya yang akurat dan terpercaya
dan dapat diakses secara mudah dan cepatuntuk mengembangkan konten kreatif
penerbitan.
Sasaran strategis 3 dan 4 untuk mencapai tujuan strategis 2 dapat diindikasikan oleh:
Tersedianya bahan baku kertas dan tinta yang menunjang produktivitas penerbitan
sehingga terjangkau dan terbarukan.
Tersedianya sejumlah data dan informasi sumber daya budaya yang akurat dan
terpercaya dan dapat diakses secara mudah dan cepatuntuk mengembangkan konten
kreatif penerbitan.
Meningkatnya sejumlah penelitian / karya kreatif berbasis sumber daya budaya lokal
untuk pengembangan karya kreatif penerbitan.

BAB 4: Rencana Pengembangan Penerbitan Indonesia

79

c. Sasaran strategis untuk mencapai tujuan strategis 3.


5. Meningkatnya wirausaha kreatif penerbitan lokal yang berdaya saing, bertumbuh
dan berkelanjutan.
6. Meningkatnya usaha kreatif penerbitan lokal yang berdaya saing, bertumbuh, dan
berkelanjutan.
7. Meningkatnya keragaman dan kualitas karya kreatif penerbitan lokal berbasis
budaya bangsa.
Sasaran strategis 5, 6 dan 7 untuk mencapai tujuan strategis 3 dapat diindikasikan oleh:
Adanya pemetaan terkait wirausaha, usaha dan karya kreatif penerbitan.
Bertambahnya jumlah wirausaha kreatif penerbitan lokal yang berdaya saing,
bertumbuh dan berkelanjutan.
Bertambahnya sejumlah usaha kreatif penerbitan lokal yang merata berdaya saing,
bertumbuh, dan berkelanjutan di wilayah Indonesia Timur.
Berkembangnya model bisnis baru yang tumbuh dan berkembang di bidang penerbitan
Indonesia.
Bertambahnya sejumlah karya kreatif penerbitan lokal yang beragam dan berkualitas
dan berbasis budaya bangsa.
Adanya sejumlah kerjasama terkait pengelolaan hak cipta (alih media) karya kreatif
peninggi terbitan menjadi karya kreatif lain yang bernilai ekonomi dan budaya tinggi.
d. Sasaran strategis untuk mencapai tujuan strategis 4.
8. Menyediakan pembiayaan penelitiandan pelestarian karya kreatif penerbitan berkaitan
dengan budaya bangsa, sastra dan sejarah.
Sasaran strategis 8 untuk mencapai tujuan strategis 4 dapat diindikasikan oleh:
Bertambahnya sejumlah karya kreatif penerbitan (berkaitan dengan budaya bangsa
dan bahasa daerah yang mulai hilang) kembali dilestarikan.
Bertambahnya sejumlah penelitian/karya kreatif yang di produksi berkaitan dengan
pelestarian budaya bangsa, bahasa daerah, sastra dan sejarah
e. Sasaran strategis untuk mencapai tujuan strategis 5.
9. Meningkatnya penetrasi dan diversifikasi pasar karya kreatif penerbitan nasional
dan internasional
Sasaran strategis 9 untuk mencapai tujuan strategis 5 dapat diindikasikan oleh:
Bertambahnya sejumlahkarya kreatif penerbitan yang diterjemahkan ke dalam bahasa
asing (Go Internasional).
Adanya kegiatan pameran/festival yang memasarkan karya kreatif penerbitan Indonesia
yang dilakukan secara merata di provinsi/kabupaten/kota.
Meningkatnya sejumlah kegiatan pameran karya kreatif penerbitan Indonesia yang
dilakukan di luar negeri (event-event internasional).
Meningkatnya pesertakegiatan pameran karya kreatif penerbitan Indonesia yang
dilakukan di luar negeri (event-even internasional).

80

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

Meningkatnya sejumlah karya kreatif penerbitan Indonesia yang dialihmediakan


baik nasional maupun internasional.
Tersedianya portal data base karya kreatif penerbitan yang dapat diakses dan digunakan
untuk membangun jejaring pemasaran.

f. Sasaran strategis untuk mencapai tujuan strategis 6.


10. Menyediakan infrastruktur logistik dan jaringan internet yang memadai dan kompetitif
untuk pemenuhan kebutuhan pasar bagi industri penerbitan secara merata di seluruh
provinsi, kabupaten, dan kota
Sasaran strategis 10 untuk mencapai tujuan strategis 6 dapat diindikasikan oleh:
Bertambahnyainfrastruktur logistik untuk distribusi karya kreatif cetak yang memadai
dan kompetitif untuk pemenuhan kebutuhan pasar secara merata di seluruh provinsi,
kabupaten, dan kota.
Meningkatnya persebaran akses jaringan internet yang memadaisecara merata di
seluruh provinsi, kabupaten, dan kota yang menunjang karya kreatif penerbitan
digital.
Pertambahan kecepatan akses internet (MB/s) yang dapat digunakan untuk kemajuan
penerbitan terkait penggunaan media daring.
g. Sasaran strategis untuk mencapai tujuan strategis 7.
11. Menciptakan regulasi yang mendukung penciptaan iklim yang kondusif untuk
meningkatan mutudan penyebaran orang kreatif, wirausaha kreatif dan usaha
kreatif penerbitan Indonesia.
12. Meningkatnya partisipasi aktif pemangku kepentingan dalam pengembangan
industri penerbitan secara berkualitas dan berkelanjutan.
13. Tercapainya kreativitas penerbitan sebagai paradigma pembangunandan dalam
kehidupanmasyarakat.
14. Meningkatnya posisi, kontribusi, kemandirian serta kepemimpinan penerbitan
Indonesia dalam fora internasional.
15. Meningkatnya apresiasi kepada orang/karya/wirausaha/usaha kreatif penerbitanlokal
di tingkat nasional dan internasional.
16. Meningkatnya apresiasi masyarakat terhadap sumber daya alam dan budaya lokalyang
dihasilkan melalui karya kreatif penerbitan
Sasaran strategis 11, 12, 13, 14, 15 dan 16 untuk mencapai tujuan strategis 7 dapat
diindikasikan oleh:
Adanya sejumlah regulasi yang mendukung dan melindungi penciptaaniklim yang
kondusif untuk meningkatan mutudan penyebaran orang kreatif, wirausaha kreatif
dan usaha kreatif penerbitan Indonesia.
Meningkatnya jumlah partisipasi aktif komunitas dan pemerintah dalam pengembangan
penerbitan Indonesia secara berkelanjutan.
Meningkatnya jumlahkarya kreatif penerbitan nasional yang dikonsumsi masyarakat.

BAB 4: Rencana Pengembangan Penerbitan Indonesia

81

Mengoptimalkan standarisasi karya-karya kreatif penerbitan seperti bahasa, etika


penulisan, EYD (Ejaan Yang Disempurnakan).

Meningkatnya intelektualitas dan gaya hidup berbudaya masyarakat melalui karya


kreatif penerbitan.

Meningkatnya jumlah media baru yang digunakan untuk mengembangkan konten


karya kreatif penerbitan.

Meningkatnya kerjasama berkaitan dengan penerjemahan karya kreatif, penerbitan


event / konferensi / dalam fora internasional.

Meningkatnya jumlah kritikus karyakreatif penerbitanlokal.

Meningkatnya jumlah penghargaan kepada karyakreatif/wirausaha/usaha kreatif


penerbitan lokal di tingkat nasional dan internasional.

Meningkatnya minat baca dan tulis masyarakat terhadap karya kreatif penerbitan lokal.

Meningkatnya apresiasi masyarakat terhadap karya kreatif penerbitan lokal.

4.4 Arah Kebijakan Pengembangan Penerbitan


Arah pengembangan penerbitan Indonesia dijabarkan berdasarkan tujuan pengembangan penerbitan,
meliputi 7 tujuan utama, yaitu: penciptaan Sumber Daya Manusia kreatif penerbitan yang berkualitas
dan berdayasaing; perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber
daya budaya yang mendukung penerbitan secara berkelanjutan; pengembangan wirausaha, usaha, dan
karya kreatif penerbitan yang merata dan berdaya saing; penciptaan pembiayaan, kemudahan akses
dan kompetitif bagi usaha, wirausaha dan orang kreatif penerbitan; perluasan pasar penerbitan di
dalam dan luar negeri yang berkelanjutan; penyediaan infrastruktur logistik dan teknologi pendukung
industri penerbitan yang tepat guna, mudah diakses dan kompetitif; dan penciptaan kelembagaan
yang kondusif dan mengarusutamakan kreativitas untuk pengembangan ekonomi kreatif penerbitan.

4.4.1 Arah Kebijakan Penciptaan Sumber Daya Manusia Kreatif


Penerbitan yang Berkualitas dan Berdayasaing

Bekerjasama dengan Departemen Pendidikan dalam melakukan kajian dan penyempurnaan


kurikulum pendidikan dan pelatihan agar lebih berorientasi pada pembentukan kreativitas
dan kewirausahaan.

Membangun mekanisme kemitraan antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan pelatihan


dengan pelaku usahadan komunitas untuk mengembangkan pendidikan dan pelatihan
berkualitas untuk mengembangkan penerbitan Indonesia.

Bekerja sama dengan Departemen Pendidikan Nasional dalam Pengembangan Pendidikan


yang Membangun SDM penerbitanyang Berjiwa Kreatif, Inovatif, Sportif dan Wirausaha

4.4.2 Arah Kebijakan Perlindungan, Pengembangan dan Pemanfaatan


Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Budaya yang Mendukung
Penerbitan Secara Berkelanjutan
Penyediaan bahan baku untuk kebutuhan produksi karya kreatifpenerbitan.

82

Pengembangan, Pembinaan dan Perlindungankarya kreatifpenerbitan indonesia yang


bernilai budayasebagai jati diri bangsa.

Pelestarian karya kreatif penerbitanyang memiliki nilai sejarah budaya bangsa.


Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

4.4.3 Arah Kebijakan Peningkatan Pertumbuhan Wirausaha, Usaha,


dan Karya Kreatif Penerbitan yang Merata dan Berdaya Saing

Optimalisasi iklim kolaborasi dan penciptaan jejaring kreatif antar wirausaha kreatif
penerbitan di tingkat lokal, nasional, dan global.

Penyelarasan pendidikan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.

Penciptaan usaha kreatif penerbitan lokal di wilayah Indonesia Timur dengan melakukan
Koordinasi antar Kementrian dan/atau Lembaga Pemerintah pusat dan daerah.

Optimalisasi iklim kolaborasi dan keterkaitan antar usaha kreatif penerbitan maupun
antara industri kreatiflainnya di tingkat lokal, nasional, dan global.

Pengembangan wacana dan eksplorasi bentuk-bentuk baru dalam penciptaan karya


kreatif penerbitan yang memanfaatkansumber daya budaya lokal secara berkelanjutan.

4.4.4 Arah Kebijakan Penciptaan Pembiayaan, Kemudahan Akses


dan Kompetitif Bagi Usaha, Wirausaha dan Orang Kreatif Penerbitan.

Pengembangan alternatif pembiayaan untuk penelitian pembuatan karya kreatif penerbitan


yang sesuai, dapat diakses dengan mudah, dan kompetitif.

Penyediaan pembiayaan pencetakan karya kreatif penerbitan lokal untuk mendorong


kemajuan usaha penerbitan cetak lokal.

4.4.5 Arah Kebijakan Perluasan Pasar Penerbitan di dalam dan Luar


Negeri yang Berkelanjutan

Peningkatan kualitas branding, promosi, pameran, festival, misi dagang, B2B networking
industri penerbitan di dalam dan luar negeri.

Pengembangan sistem informasi pasar karya kreatif penerbitan di dalam negeri yang dapat
diakses dengan mudah dan informasi didistribusikan dengan baik.

Pembatasan terhadap karya kreatif penerbitan mancanegara dan mendukung karya


kreatif penerbitan lokal.

4.4.6 Arah Kebijakan Penyediaan Infrastruktur Logistik dan Teknologi


Pendukung Industri Penerbitan yang Tepat Guna, Mudah Diakses dan
Kompetitif

Pengembangan infrastruktur logistikdan jaringan internet di dalam negeri yang dapat


diakses dengan mudah untuk mendukung industri penerbitan.

Penguatan dan perluasan pemanfaatan TIK (Teknologi, Informasi dan Komunikasi)


untuk mengakses karya kreatif penerbitan Indonesia.

4.4.7 Arah Kebijakan Penciptaan Kelembagaan yang Kondusif dan


Mengarusutamakan Kreativitas untuk Pengembangan ekonomi
Kreatif Penerbitan

Harmonisasi regulasi (menciptakan, de-regulasi) dalam hal pendidikan dan apresiasi,


pemanfaatan dan pengembangan sumber daya bangsa, penciptaan nilai kreatif dan

BAB 4: Rencana Pengembangan Penerbitan Indonesia

83

industri penerbitan beserta industri pendukunganya, pembiayaan, perluasan pasar,


infrastruktur, HKI.

Peningkatan sinergi, koordinasi, dan kolaborasi antar aktor (intelektual, bisnis, komunitas,
dan pemerintah) dan orang kreatif penerbitan dalam mengembangkan ekonomi kreatif.

Pengembangan, pembentukan dan peningkatan kualitas organisasi atau wadah yang dapat
mempercepat pengembangan ekonomi kreatif industri penerbitan.

Pengembangan dan pembangunan kreativitas dan intelektual masyarakat melalui karya


kreatif penerbitan Indonesia.

Meningkatnya posisi, kontribusi, kemandirian serta kepemimpinan Indonesia dalam


forum diplomasi bilateral, regional dan multilateral.

Meningkatnya jumlah peserta dalam festival dan even internasional.

Memfasilitasi dan memberikan penghargaan yang prestisius bagi orang/karya/ wirausaha/


usaha kreatif lokal di tingkat nasional dan internasional.

Meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat untuk menggunakan karya


kreatif penerbitan lokal.

4.5 Strategi dan Rencana Aksi Pengembangan Penerbitan


Strategi pengembangan penerbitan merupakan pendekatan pelaksanaan perencanaan, dan rencana
aksidalam kurun waktu tertentu.

4.5.1 Peningkatan Mutu Pengelolaan Pendidikan Formal, Nonformal dan


Informal yang mendukung Orang Kreatif Penerbitan Merata di Seluruh
Provinsi, Kabupaten, dan Kota
Peningkatan mutu pengelolaan pendidikan formal, nonformal dan informal yang mendukung
orang kreatif penerbitan merata di seluruh provinsi, kabupaten dan kota memiliki empat strategi
utamayang dicapai melalui empat rencana aksi, sebagai berikut:
1. Strategi 1: Meningkatan mutu lembaga pendidikan, tenaga kependidikan yang mendukung
penciptaan dan penyebaran orang kreatif penerbitan secara berkelanjutan khususnya di
Wilayah Indonesia Tengah dan Timur. Untuk melaksanakan strategi ini, maka rencana
aksi yang perlu dilakukan adalah: Mendukung dan memfasilitasi kementerian pendidikan
nasional untuk menerapkan kurikulum pendidikan softskill kepada sejumlah pendidikan
formal dan nonformal di 10 provinsi berpotensi di Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan
Nusa tenggara dan Papua.
2. Strategi 2:Mendorong tersedianya tenaga ahlipendidikan yang berkualitas, yang
mendukung penciptaan dan penyebaran orang kreatifpenerbitan secara berkelanjutan
khususnya di Wilayah Indonesia Tengah dan Timur. Untuk melaksanakan strategi ini,
maka rencana aksi yang perlu dilakukan adalah Penyediaan tenaga pendidik dan tutor
berkompeten yang merata di 10 provinsi berpotensi di Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan
Nusa tenggara dan Papua.
3. Strategi 3: Melakukan pemetaan lembaga nonformal dan komunitas terkait industri
penerbitan. Untuk melaksanakan strategi ini, maka rencana aksi yang perlu dilakukan
adalah sebagai berikut: Melakukan pemetaan potensi dan publikasi hasil pemetaan

84

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

lembaga pendidikan nonformal dan komunitas serta stakeholder terkait pengembangan


sdm kreatif penerbitan
4. Strategi 4: Memberdayakan komunitas dan lembaga pendidikan formal/nonformal yang
mendukung penciptaan dan penyebaran orang kreatif penerbitan secara berkelanjutan.
Untuk melaksanakan strategi ini, maka rencana aksi yang perlu dilakukan adalah
Melaksanakan Kerjasama dengan Lembaga Pelatihan Non-Formal dan Komunitas
dalam mengembangkan kualitas SDM penerbitan melalui pelatihan/workshop berkaitan
pengembangan/penulisan konten kreatif (IP Awareness, Creative Thinking, Editing,
Design dan Animation).

4.5.2 Penyediaan dan Peningkatan sarana Dan prasarana yang


mengarusutamakan kreativitas SDM penerbitan
Mengoptimalkan penyediaan dan peningkatan sarana dan prasarana yang mengarusutamakan
kreativitas SDM Penerbitan merata di seluruh provinsi, kabupaten, dan kota memilikidua strategi
utama yang dicapai melalui dua rencana aksi, sebagai berikut:
1. Strategi 1: Membangun dan mengembangkan fasilitas pendidikan dan pelatihan
berkualitas untuk mengembangkan industri penerbitan Indonesia di tingkat provinsi,
kabupaten dan kota. Untuk melaksanakan strategi ini, maka rencana aksi yang perlu
dilakukan adalah Penyediaan dan peningkatan sarana dan prasarana untuk penerapan
sistem pembelajaran mengasah kreativitas yang merata di 10 provinsi berpotensi di
Indonesia.
2. Strategi 2: Meningkatkan jumlah dan memperbaiki fasilitas lembaga pendidikan dan
pelatihan formal dan informal yang mendukung penciptaan orang kreatif penerbitan
di provinsi, kabupaten dan kota. Untuk melaksanakan strategi ini, maka rencana aksi
yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut: Penyediaan dan pengembangan sistem
pembelajaran mengarusutamakan kreativitasdan IP Awareness di lembaga pendidikan
nonformal terkait industri penerbitan di 10 provinsi berpotensi Indonesia.

4.5.3 Penyediaan Bahan Baku yang Menunjang Produktivitas Penerbitan


Mendukung penyediaan bahan baku yang menunjang produktivitas penerbitan dengan menggunakan
sumber daya alam Indonesia (yang terbarukan) memiliki dua strategi utama yang dicapai melalui
empat rencana aksi, sebagai berikut:
1. Strategi 1: Meningkatkan akses dan distribusi terhadap penyediaan bahan baku kertas
dan tinta yang murah dan terjangkau untuk mendukung keberlangsungan karya kreatif
penerbitan cetak. Untuk melaksanakan strategi ini, maka rencana aksi yang perlu
dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Mengusulkan kebijakanperpajakan mengenai harga bahan baku khususnya kertas
dan tinta untuk produktivitas penerbitan cetak.
b. Mempermudah pendistribusian bahan baku kertas dan tinta untuk menunjang
ketersediaan bahan baku produksi penerbitan cetak.
2. Strategi 2: Mendukung ketersediaan sumber daya lokal khususnya kertas dan tinta ramah
lingkungan untuk digunakan sebagai bahan baku produksi industri penerbitan. Untuk
melaksanakan strategi ini, maka rencana aksi yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Menyediakandata dan informasi terkait sumber daya alam yang dapat digunakan
untuk bahan bakupenerbitan alternatif.
b. Memberikan dana hibah penelitian terkait bahan baku produksi penerbitan berbasis
sumber daya lokal.
BAB 4: Rencana Pengembangan Penerbitan Indonesia

85

4.5.4 Penyediaan Data dan Informasi Sumber Daya Budaya yang Akurat
Terpercayan dan dapat Diakses Secara Cepat dan Mudah
Penyediaan data dan informasi sumber daya budaya yang akurat dan terpercaya dan dapat diakses
secara mudah dan cepatuntuk mengembangkan konten kreatif penerbitan memiliki tiga strategi
utama yang dicapai melalui tiga rencana aksi, sebagai berikut:
1. Strategi 1: Melakukan kerjasama dengan subsektor ekonomi kreatif lainnya untuk
mengembangkan karya kreatif penerbitan yang menunjukkan identitas budaya bangsa.
Untuk melaksanakan strategi ini, maka rencana aksi yang perlu dilakukan adalah sebagai
berikut: Mengembangkan konten karya kreatif penerbitan yang dapat menjadi identitas
budaya bangsa Indonesia.
2. Strategi 2: Mengoptimalkan penelitian terkait dengan karya kreatif penerbitan yang
bernilai budaya tinggi. Untuk melaksanakan strategi ini, maka rencana aksi yang perlu
dilakukan adalah Meningkatkan karya kreatif penerbitanyangberbasis penelitian,bermutu,
berbudaya, danberdaya saing internasional.
3. Strategi 3: Memberikan perlindungan karya kreatifpenerbitan lokal terhadap invasi
budaya negara lain masuk ke Indonesia. Untuk melaksanakan strategi ini, maka rencana
aksi yang perlu dilakukan adalah Menyediakan sistem, data dan informasi berbasis riset
budaya yang dapat diakses oleh orang kreatif penerbitan untuk pengembangan konten
kreatif berbasis budaya.

4.5.5 Peningkatan Wirausaha Kreatif Penerbitan Lokal yang Berdaya


Saing, Bertumbuh dan Berkelanjutan
Meningkatnya wirausaha kreatif penerbitan lokal yang berdaya saing, bertumbuh dan berkelanjutan
memiliki 2 strategi dan 4 rencana aksi, sebagai berikut:
1. Strategi 1: Melakukan pendataan dan pemetaan mengenai potensi wirausaha kreatif, usaha
kreatif dan orang kreatif penerbitan serta stakeholder yang terkait industri penerbitan.
Untuk melaksanakan strategi ini, maka rencana aksi yang perlu dilakukan adalah sebagai
berikut:
a. Melakukan pemetaan potensi wirausaha kreatifpenerbitan Indonesia
b. Mengadakan event/kompetisi untuk menyaring wirausaha kreatif
2. Strategi 2: Mendorong para wirausahawan sukses untuk berbagi pengalaman dan
keahlian di institusi pendidikan menengah dan pendidikan tinggi dalam pengembangan
calonwirausahakreatif penerbitan. Untuk melaksanakan strategi ini, maka rencana aksi
yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Memfasilitasi penciptaan danpeningkatan profesionalisme (skill-knowledge-attitude)
wirausaha kreatif penerbitan lokal
b. Memfasilitasi kolaborasi dan penciptaan jejaring kreatif antar wirausaha kreatif di
tingkat lokal, nasional, dan global

4.5.6 Peningkatan Usaha Kreatif Penerbitan Lokal yang Berdaya Saing

Peningkatan usaha kreatif penerbitan lokal yang berdaya saing, bertumbuh, dan berkelanjutan
memiliki tiga strategi dan tiga rencana aksi, sebagai berikut:
1. Strategi 1: Mendukung pemerataan industri penerbitan dan percetakan ke seluruh
Indonesia khususnya bagian wilayah Indonesia Tengah dan Timur. Untuk melaksanakan
strategi ini, maka rencana aksi yang perlu dilakukan adalah Melakukan pemetaan potensi
86

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

keberadaaanusaha kreatif penerbitan di Indonesia.


2. Strategi 2: Membuka jalur kerjasama dengan subsektor ekonomi kreatif lainnya untuk
mengembangkan karya kreatif penerbitan yang menunjukkan identitas budaya bangsa.
Untuk melaksanakan strategi ini, maka rencana aksi yang perlu dilakukan adalah sebagai
berikut: Meningkatkan kolaborasi dan kemitraan unit usaha penerbitan lokal di Indonesia
3. Strategi 3: Mendukung pengembangan model bisnis wirausaha dan usaha kreatif
baru. Untuk melaksanakan strategi ini, maka rencana aksi yang perlu dilakukan adalah
Perbaikan KBLI untuk ruang lingkup produk dan jasa terkait industri penerbitan

4.5.7 Peningkatan Keragaman dan Kualitas Karya Kreatif Penerbitan


Lokal Berbasis Budaya Bangsa
Meningkatnya keragaman dan kualitas karya kreatif penerbitan lokal berbasis budaya bangsa.
memiliki dua strategi dan tiga rencana aksi, sebagai berikut:
1. Strategi 1: Memfasilitasi penelitian terkait dengan karya kreatif penerbitanyang bernilai
budaya bangsa dan sumber daya lokal tinggi. Untuk melaksanakan strategi ini, maka
rencana aksi yang perlu dilakukan adalah memfasilitasi penelitian dan pengembangan
konten karya kreatif penerbitan Indonesia berbasis budaya bangsa.
2. Strategi 2: Memfasilitasi pendaftaran karya kreatif penerbitanberkualitas untukterdaftar
dalam HKI dan masuk menjadi kekayaaan intelektual dan budaya bangsa. Untuk
melaksanakan strategi ini, maka rencana aksi yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Melakukan pemetaan potensi keberadaaan karya kreatif penerbitan yang potensial
dan berkualitas
b. Mengadakan event atau kompetisi untuk menyaring karya kreatif penerbitan yang
berkualitas untuk didaftarkan ke HKI

4.5.8 Penyediaan Pembiayaan Penelitian dan Pelestarian Karya Kreatif


Penerbitan Berkaitan dengan Budaya Bangsa, Sastra dan Sejarah
Menyediakan pembiayaan penelitiandan pelestarian karya kreatifpenerbitan berkaitan dengan
budaya bangsa, sastra dan sejarah memiliki dua strategi dan tiga rencana aksi, sebagai berikut:
1. Strategi 1: Memfasilitasi adanya skema pembiayaan pencetakan untuk keberlangsungan
produktivitas usaha penerbitan karya kreatif cetak lokal khususnya berkaitan dengan
budaya bangsa dan bahasa daerah yang mulai hilang. Untuk melaksanakan strategi ini,
maka rencana aksi yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut: Penyediaan subsidi
pembiayaan untuk produktivitas karya kreatif penerbitan berbasis budaya bangsa, bahasa
daerah,sejarah dan sastra klasik.
2. Strategi 2: Membantu pembiayaan penelitian karya kreatif penerbitan (berkaitan dengan
budaya bangsa dan bahasa daerah yang mulai hilang)agar dapatbertahan dan lestari.
Untuk melaksanakan strategi ini, maka rencana aksi yang perlu dilakukan penyediaan
subsidi pembiayaan untuk penelitian berkaitan dengan karya kreatif bermuatan budaya,
kenegaraan, bahasa daerah dan sejarah bangsa.

4.5.9 Peningkatan Penetrasi dan Diversivikasi Pasar Karya Kreatif


Penerbitan Nasional dan Internasional
Meningkatnya penetrasi dan diversifikasi pasar karya kreatif penerbitan nasional dan internasional
memiliki tiga strategi dan lima rencana aksi, sebagai berikut:

BAB 4: Rencana Pengembangan Penerbitan Indonesia

87

1. Strategi 1: Mengadakan festival internasional yang akan mempertemukan pelaku kreatif


penerbitan Indonesia dan pemangku kepentingan industri penerbitan manca negara.
Untuk melaksanakan strategi ini, maka rencana aksi yang perlu dilakukan adalah sebagai
berikut
a. Mengadakan pameran Internasional untuk mempromosikan karya kreatif penerbitan
nasional kepada dunia.
b. Memfasilitasi keikutsertaan karya penerbitan Indonesia yang berkualitas untuk
mengikuti pameran di dalam negerimaupun luar negeri
2. Strategi 2: Membuat portal data basedalam rangka membangun jejaring antara pelaku
usaha penerbitan dan stakeholder industri penerbitan dan memperluas jangkauan distribusi
produk kreatif penerbitan Indonesia di dalam dan luar negeridi tingkat lokal, nasional
dan global. Untuk melaksanakan strategi ini, maka rencana aksi yang perlu dilakukan
adalah membangun portal sebagai saranapromosi dan sistem informasi pasar karya kreatif
di dalam negeri dan luar negeri yang dapat diakses dengan mudah dan informasinya
didistribusikan dengan baik
3. Strategi 3: Memfasilitasi jejaring pelaku industri penerbitandi tingkat lokal, nasional,
dan global dalam skema ko-produksi sebagai bagian dari rantai distribusi karya kreatif
penerbitan Indonesia.Untuk melaksanakan strategi ini, maka rencana aksi yang perlu
dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Mengadakan festival nasional dan internasinal berkala untuk mempertemukan karya
kreatif penerbitan nasional dan internasional.
b. Proaktif mendukung pemasaran dan keberlangsungankarya kreatif penerbitan lokal
di pasardomestik

4.5.10 Peningkatan Ketersediaan Infrastruktur Logistik dan Jaringan


Internet yang Memadai dan Kompetitif
Menyediakan infrastruktur logistik dan jaringan internet yang memadai dan kompetitif untuk
pemenuhan kebutuhan pasar bagi industri penerbitan secara merata di seluruh provinsi, kabupaten,
dan kota. Untuk melaksanakan strategi ini, maka rencana aksi yang perlu dilakukan memiliki
dua strategi dan empat rencana aksi, sebagai berikut:
1. Strategi 1: Memfasilitasi alternatif jalur distribusi dan kerja sama industri untuk
memberikan kemudahan akses dan harga khusus bagi konsumen pelajar terkait karya
kreatif penerbitan. Untuk melaksanakan strategi ini, maka rencana aksi yang perlu
dilakukan adalah sebagai berikut
a. Menyediakan jalur distribusi alternatif untuk meningkatkan keterjangkauan logistik
dan transportasi karyakreatif penerbitan yang merata di seluruh provinsi, kabupaten,
dan kota; dan provinsi
b. Memberikan fasilitas teknologi pendukung untuk menyebarkan karya kreatif di
bidang penerbitan
2. Strategi 2: Memfasilitasi peningkatan persebaran dan kecepatan internet di Indonesia
untuk mendukung produktivitas pelaku penerbitan Indonesia. Untuk melaksanakan
strategi ini, maka rencana aksi yang perlu dilakukan adalah
a. Perluasan jaringan internet untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap
karyakreatif penerbitan digital yang merata di seluruh provinsi, kabupaten, dan kota;
dan provinsi
b. Peningkatan persebaran dan kecepatan internet di Indonesia secara bertahap
88

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

4.5.11 Pengembangan Regulasi Yang Mendukung Penciptaan Iklim yang


Kondusif untuk Meningkatkan Mutu Penerbitan Indonesia
Menciptakan regulasi yang mendukung penciptaan iklim yang kondusif untuk meningkatan
mutudan penyebaran orang kreatif, wirausaha kreatif dan usaha kreatif penerbitan Indonesia
memiliki tiga strategi dan tujuh rencana aksi, sebagai berikut:
1. Strategi 1: Harmonisasi-regulasi terkait pendidikan, kebudayaan dan penerbitan. Untuk
melaksanakan strategi ini, maka rencana aksi yang perlu dilakukan adalah
a. Menyusun dan mengkaji ulang kebijakan terkait keberlangsungan karya kreatif
penerbitan, salah satunya adalah Undang-Undang Perbukuan
b. Memfasilitasidan mengkaji ulang kebijakan pemerintah mengenai keutamaan
menggunakan produk dan jasa penerbitan lokal dibanding asing,khususnya penerbit
yang melestarikan karya-karya sejarah dan budaya bangsa
2. Strategi 2: Harmonisasi-regulasi terkait perdagangan, teknologi dan penerbitan. Untuk
melaksanakan strategi ini, maka rencana aksi yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Menyusun dan mengkaji ulang kebijakan terkait persaingan bisnis terkait teknologi
(cetak dan digital) terkait keberlangsungan industri penerbitan.
b. Menyusun dan mengkaji ulang kebijakan terkait perlindungan hak cipta danpelaku
usaha kreatif penerbitan lokal dalammenciptakan iklim persaingan usaha yang kondusif
c. Menyusundan mengkaji ulang kebijakan pemerintah mengenai keutamaan
menggunakan produk dan jasa penerbitan lokal dibanding asing, khususnya penerbit
yang melestarikan karya-karya sejarah dan budaya bangsa
d. Menyusun dan mengkaji ulang kebijakan perluasan distribusi pasar untuk karya
kreatif di bidang penerbitan baik di dalam dan di luar negeri
3. Strategi 3: Harmonisasi-regulasi terkait perpajakan dan penerbitan. Untuk melaksanakan
strategi ini, maka rencana aksi yang perlu dilakukan adalah menyusun dan mengkaji ulang
kebijakan akses pembiayaan dan keringanan pajak bagi pelaku penerbitan lokal

4.5.12 Peningkatan Partisipasi Aktif Pemangku Kepentingan dalam


Pengembangan Penerbitan Indonesia Secara Berkualitas dan
Berkelanjutan
Peningkatan partisipasi aktif pemangku kepentingan dalam pengembangan penerbitan Indonesia
secara berkelanjutanmemiliki tiga strategi dan tiga rencana aksi, sebagai berikut:
1. Strategi 1: Menciptakan dan memberdayakan wadah konsolidasi, koordinasi, resource
sharing, dan kerja kolektif antar pemangku kepentingan dalam bentuk forum maupun
komunitas. Untuk melaksanakan strategi ini, maka rencana aksi yang perlu dilakukan
adalah
a. Membentuk Dewan Penerbitan sebagai lembaga penghubung antar pemangku
kepentingan dalam industri penerbitan Indonesia
b. Membangun portal subsektor industri kreatif penerbitan sebagai sarana pendataan
potensi lembagapendidikan, industri dan komunitas yang mendukung kegiatan
ekosistem penerbitan.

BAB 4: Rencana Pengembangan Penerbitan Indonesia

89

2. Strategi 2: Mengaktifkan dan memfasilitasi asosiasi penerbit untuk berjejaring di tingkat


lokal, nasional, maupun global. Untuk melaksanakan strategi ini, maka rencana aksi
yang perlu dilakukan adalah mendukung kegiatan dan pembentukan asosiasi keprofesian
penerbitan untuk berjejaring di tingkat lokal, nasional, maupun global.

4.5.13 Peningkatan Kreativitas Penerbitan Sebagai


Pembangunan dan dalam Kehidupan Masyarakat

Paradigma

Pencapaian kreativitas penerbitan sebagai paradigma pembangunan dan dalam kehidupan


masyarakat memiliki dua strategi dan dua rencana aksi, sebagai berikut:
1. Strategi 1: Meningkatkan minat baca dan tulis masyarakat serta berpihak pada penggunaan
karya kreatif penerbitan nasional. Untuk melaksanakan strategi ini, maka rencana aksi
yang perlu dilakukan adalah mendorong tersedianya karya kareatif penerbitan yang
berkualitas dan terjangkau untuk meningkatkan minat baca dan tulis masyarakat serta
penyediaan karya kreatif penerbitan nasional di institusi-institusi pendidikan.
2. Strategi 2: Adanya perubahan pola pikir dan kemajuan kreativitas masyarakat melalui
adaptasi karya-karya kreatif penerbitan yang dikelola menjadi karya kreatif lain yang
bernilai ekonomi dan budaya yang tinggi. Untuk melaksanakan strategi ini, maka rencana
aksi yang perlu dilakukan adalah
a. Mengelola konten karya kreatif penerbitan yang berkualitas untuk dialihmediakan
ke subsektor ekonomi kreatif lain.
b. Mengoptimalkan standarisasi karya-karya kreatif penerbitan seperti bahasa, etika
penulisan, EYD (Ejaan Yang Disempurnakan.

4.5.14 Peningkatan Posisi, Kontribusi, Kemandirian, Serta Kepemimpinan


Indonesia dalam Fora Internasional Melalui Penerbitan
Peningkatan posisi, kontribusi, kemandirian, serta kepemimpinan dalam fora internasional melalui
penerbitan memiliki dua strategi dan dua rencana aksi, sebagai berikut:
1. Strategi 1: Menjalin kemitraan strategis dengan negara yang memiliki kemajuan di
bidang penerbitan dalam forum diplomasi bilateral, regional dan multilateral. Untuk
melaksanakan strategi ini, maka rencana aksi yang perlu dilakukan adalah
a. Memfasilitasi akses pasar nasional dan global agar industri penerbitan semakin
semakin bertumbuh dan berdaya saing global dengan negara ASEAN, Jepang,
Korea, Jerman, Perancis, Australia, Amerika, dll.
b. Mengoptimalkan fungsi kedutaan besar RI di luar negeri sebagai Market Intelligence
untuk mempromosikan karya penerbitan Indonesia ke kalangan internasional
2. Strategi 2: Memfasilitasi keikutsertaan pelaku penerbitan Indonesia dengan memberikan
subsidi atau sponsorship bagi orang kreatif dan penerbit indonesia yang mampu ikut serta
dalam festival dan event internasional. Untuk melaksanakan strategi ini, maka rencana
aksi yang perlu dilakukan adalah mengoptimalkan kerjasamadengan stakeholder untuk
menyediakan ruang ekspresi dan fasilitasi kegiatan pamerankarya kreatif penerbitan
melalui pemanfaatan berbagai media untuk promosi strategis yang mendukung sektor
pariwisata dan ekonomi kreatif.

90

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

4.5.15 Peningkatan Apresiasi Kepada Orang dan Karya Kreatif Penerbitan


Peningkatan apresiasi kepada orang/karya/wirausaha/usaha kreatif penerbitan lokal di tingkat
nasional dan internasional memiliki tiga rencana strategis dan 2 rencana aksi, sebagai berikut:
1. Strategi 1: Memfasilitasi terbentuknya lembaga penghargaan bagi karya maupun usaha
kreatif di bidang penerbitan yang a dilakukan secara berkelanjutan dan prestisius.. Untuk
melaksanakan strategi ini, maka rencana aksi yang perlu dilakukan adalah pendaftaran
dan sosialisasi penghargaan; Penjurian karya kreatif; Publikasi dan kegiatan lanjutan dari
penghargaan seperti networking;
2. Strategi 2: Memberikan penghargaan bagi karya maupun usaha kreatif dalam bidang
penerbitan secara berkala. Untuk melaksanakan strategi ini, maka rencana aksi yang
perlu dilakukan adalah Dengan makin banyaknyakarya kreatif penerbitan Indonesia
dipamerkan ke ajang internasional maka diharapkan adanya kesempatan karya kreatif
penerbitan Indonesia dapat Go Internasional.
3. Strategi 3: Memfasilitasi keikutsertaan karya penerbitan yang berkualitas untuk mengikuti
kompetisi karya kreatifdi dalam maupun luar negeri. Untuk melaksanakan strategi ini,
maka rencana aksi yang perlu dilakukan adalah fasilitas yang dapat diberikan antara lain
adalah ruang publik, pusat kreatifitas, inkubator teknologi, dan sebagainya.

4.5.16 Peningkatan Posisi, Kontribusi, Kemandirian, Serta Kepemimpinan


Indonesia dalam Fora Internasional Melalui Penerbitan
Peningkatan apresiasi masyarakat terhadap sumber daya alam dan budaya lokal yang dihasilkan
melalui karya kreatif penerbitan memiliki strategi dan dua rencana aksi, sebagai berikut:
1. Strategi 1: Mengadakan sosialisasi dan informasi terkait pentingnya penggunaan produk
penerbitan lokal serta kualitas karya kreatif penerbitan lokal yang tidak kalah bersaing
dengan karya penerbitan asing. Untuk melaksanakan strategi ini, maka rencana aksi yang
perlu dilakukan adalah
a. Sosialisasi dan penyebaran informasi terkait potensi dan kualitas karya kreatif
penerbitan lokal
b. Menjalin kerjasama dengan komunitas di bidang penerbitan untuk membantu
meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap karya penerbitan lokal.

BAB 4: Rencana Pengembangan Penerbitan Indonesia

91

92

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

BAB 5
Penutup

BAB 5: Penutup

93

5.1 Kesimpulan
Dalam penyusunan Rencana Aksi Jangka Menengah Penerbitan 2015-2019, penerbitan didefinisikan
sebagai Suatu usaha atau kegiatan mengelola informasi dan daya imajinasi untuk membuat
konten kreatif yang memiliki keunikan tertentu, dituangkan dalam bentuk tulisan, gambar dan/
atau audio ataupun kombinasinya, diproduksi untuk dikonsumsi publik, melalui media cetak,
media digital, ataupun media daring,untuk mendapatkan nilai ekonomi, sosial ataupun seni dan
budaya yang lebih tinggi.. Definisi tersebut merupakan hasil elaborasi dari proses analisis yang
meliputi kajian pustaka, wawancara mendalam, dan focus group discussion, yang melibatkan
para narasumber yang mewakili pemangku kepentingan dari unsur pemerintah, pelaku industri,
komunitas/asosiasi, dan kalangan intelektual.
Secara umum ruang lingkup pengembangan penerbitan meliputi penerbitan buku umum dan
penerbitan media berkala. Penerbitan buku umum dilaksanakan dengan fokus pengembangan
pada keberlangsungan penerbitan buku cetak, khususnya buku-buku yang memiliki genre buku
anak, sastra dan novel, komik ataupun buku-buku yang mencerminkan nilai budaya bangsa serta
buku yang menjadi penunjang keberadaan subsektor ekonomi kreatif lainnya. Penerbitan media
berkala dilaksanakan dengan fokus pengembangan surat kabar, majalah, tabloid, buletin dan
jurnal akademik yang terkait dengan penyampaian informasi ataupun konten publikasi yang
memiliki pengaruh signifikan terhadap perubahan pola pikir masyarakat secara umum.
Perkembangan penerbitan di Indonesia dimulai tahun 1615 dengan terbitnya surat kabar Memoria
der Nouvells serta pendirian usaha penerbitan milik pemerintah Belanda pada tahun 1908,
Commissie voor de Volkslectuur, yang sekarang bernama Balai Pustaka. Maraknya subsektor
penerbitan terjadi pada tahun 2000 ditandai dengan terjadinya booming penerbitan media massa.
Perkembangan penerbitan juga ditandai dengan apresiasi dari dunia internasional terhadap karya
nusantara. Pada ASEAN Literary Festival 2014, sastrawan dan aktivis Wiji Thukul mendapat
penghargaan atas dedikasinya menyuarakan pesan moral, keadilan, dan sosial.
Untuk menggambarkan hubungan saling ketergantungan antara setiap peran di dalam proses
penciptaan nilai kreatif dengan lingkungan sekitar, dikembangkan peta ekosistem penerbitan
yang terdiri atas empat komponen utama, yaitu rantai nilai kreatif, lingkungan pengembangan,
pasar, dan pengarsipan. Rantai nilai kreatif penerbitan terdiri dari proses kreasi (konseptualisasi
ide, eksplorasi konten, penyuntingan, dan finalisasi draf), produksi, distribusi, dan penjualan,
sedangkan lingkungan pengembangan penerbitan terdiri dari kegiatan apresiasi dan pendidikan.
Pasar di dalam subsektor penerbitan dikelompokkan kedalam pasar umum dan pasar ahli yang
juga dapat dibedakan menjadi konsumen sekolah, rumah tangga, perguruan tinggi, profesi,
kelompok hobi/komunitas, dan pemerintah. Kegiatan pengarsipan pada subsektor penerbitan
dilakukan melalui tahapan pengumpulan, restorasi, penyimpanan, dan preservasi.
Dampak ekonomi dari pengembangan subsektor penerbitan dapat dilihat dari peta industri
yang menggambarkan keterkaitan dari suatu proses rantai nilai kreatif ke arah hulu (backward
linkage) dan ke arah hilir (forward linkage). Backward linkage di dalam subsektor penerbitan
diantaranya adalah industri pendidikan, industri percetakan (pemasok mesin percetakan dan
industri pengolahan bahan baku tinta dan kertas), industri ICT, industri perhubungan (jasa
transportasi dan pengangkutan barang), jasa periklanan, jasa fotografi, dan lain-lain. Forward
linkage di dalam subsektor penerbitan pada dasarnya adalah subsektor-subsektor lain dalam industri
kreatif. Selain digunakan dalam melihat dampak ekonomi dari subsektor penerbitan, rantai nilai

94

Ekonomi Kreatif: Rencana Aksi Jangka Menengah Penerbitan 2015-2019

kreatif juga digunakan dalam mengidentifikasi model bisnis yang umumnya terjadi di subsektor
penerbitan, yaitu model bisnis penerbitan penghasil buku dan model bisinis pengembang konten
terkait hak kekayaan intelektual.
Kontribusi ekonomi subsektor penerbitan dapat dilihat dari nilai tambah bruto, ketenagakerjaan,
aktivitas perusahaan, konsumsi rumah tangga, dan nilai ekspor. Sebagai contoh dapat dilihat
di tahun 2013, subsektor penerbitan memberikan kontribusi nilai tambah bruto sebesar 8%
terhadap total nilai tambah bruto industri kreatif Indonesia, dengan rata-rata pertumbuhan
2010-2013 sebesar 2,5%. Dari sisi ketenagakerjaan, subsektor penerbitan memberikan kontribusi
sebesar 4,26% terhadap total jumlah tenaga kerja industri kreatif Indonesia, dengan rata-rata
pertumbuhan 2010-2013 sebesar 1,03%.
Berdasarkan hasil temuan-temuan selama penyusunan rencana aksi jangka menengah di subsektor
penerbitan dapat disimpulkan bahwa isu strategis yang muncul adalah keberlangsungan penerbitan
cetak. Berkembangnya teknologi digital dan internet membuat beberapa penerbitan cetak lokal
Indonesia mengalami kebangkrutan. Tetapi hal ini juga dapat dilihat sebagai tantangan untuk
menciptakan bisnis model baru pada industri penerbitan.
Visi, misi, tujuan dan sasaran strategis merupakan kerangka strategis penerbitan pada periode
2015-2019 menjadi landasan dan acuan bagi seluruh pemangku kepentingan dalam melaksanakan
program kerja di masing-masing organisasi/lembaga terkait secara terarah dan terukur. Dalam
rangka memasuki tahap pembangunan ke-3 (20152019), pengembangan ekonomi kreatif akan
difokuskan untuk pengembangan sumber daya kreatif dan sumber daya pendukung, meningkatkan
daya saing industri kreatif, meningkatkan akses pembiayaan dan pasar, serta harmonisasi regulasi
dan penguatan kelembagaan ekonomi kreatif. Berkaitan dengan itu, berdasarkan kondisi dan
tantangan yang dihadapi penerbitan serta memperhitungkan daya saing dan potensi yang dimiliki,
maka visi pengembangan penerbitan selama periode 20152019 adalah Penerbitan Indonesia
yang bertumbuh secara merata, berkualitas, berbudaya, berdaya saing dan berkelanjutan.

5.2 Saran
Pengembangan subsektor penerbitan dalam satu tahun kedepan akan difokuskan pada:

Mulai melakukan pemetaan potensi dan publikasi hasil pemetaan lembaga pendidikan
nonformal dan komunitas serta stakeholder terkait pengembangan sdm kreatif penerbitan.

Mulai melaksanakan Kerjasama dengan Lembaga Pelatihan Non-Formal dan Komunitas


dalam mengembangkan kualitas SDM penerbitan melalui pelatihan/workshop berkaitan

Pengembangan/penulisan konten kreatif (IP Awareness, Creative Thinking, Editing,


Design dan Animation).

Mengusulkan kebijakan perpajakan mengenai harga bahan baku khususnya kertas dan
tinta untuk produktivitas penerbitan cetak.

Mulai menyediakan data dan informasi terkait sumber daya alam yang dapat digunakan
untuk bahan baku penerbitan alternatif.

Mulai memberikan dana hibah penelitian terkait bahan baku produksi penerbitan berbasis
sumber daya lokal.

Melakukan pemetaan potensi wirausaha kreatif penerbitan Indonesia.

BAB 5: Penutup

95

Melakukan pemetaan potensi keberadaaan usaha kreatif penerbitan di Indonesia.

Memfasilitasi penelitian dan pengembangan konten karya kreatif penerbitan Indonesia


berbasis budaya bangsa.

Mulai menyediakan subsidi pembiayaan untuk produktivitas karya kreatif penerbitan


berbasis budaya bangsa, bahasa daerah, sejarah dan sastra klasik.

Mulai menyediakan subsidi pembiayaan untuk penelitian berkaitan dengan karya kreatif
bermuatan budaya, kenegaraan, bahasa daerah dan sejarah bangsa.

Membangun portal sebagai sarana promosi dan sistem informasi pasar karya kreatif
di dalam negeri dan luar negeri yang dapat diakses dengan mudah dan informasinya
didistribusikan dengan baik.

Mulai menyediakan jalur distribusi alternatif untuk meningkatkan keterjangkauan logistik


dan transportasi karya kreatif penerbitan yang merata di seluruh provinsi, kabupaten,
dan kota; dan provinsi.

Mulai memberikan fasilitas teknologi pendukung untuk menyebarkan karya kreatif di


bidang penerbitan.

Mulai meningkatkan persebaran dan kecepatan internet di Indonesia secara bertahap.

Melakukan harmonisasi kebijakan perbukuan (Undang-Undang Perbukuan).

Melakukan harmonisasi kebijakan tata niaga produk penerbitan (isu buku cetak dan
digital, isu keberpihakan pada industri penerbitan lokal, pengembangan konten lokal,
perluasan pasar bagi penerbit lokal).

Melakukan harmonisasi kebijakan pembiayaan bagi industri penerbitan lokal.

Melakukan harmonisasi kebijakan fasilitasi insentif bagi industri penerbitan lokal

Membangun portal subsektor industri kreatif penerbitan sebagai sarana pendataan potensi
lembaga pendidikan, industri dan komunitas yang mendukung kegiatan ekosistem
penerbitan.

Mendorong tersedianya karya kareatif penerbitan yang berkualitas dan terjangkau untuk
meningkatkan minat baca dan tulis masyarakat serta penyediaan karya kreatif penerbitan
nasional di institusi-institusi pendidikan.

Mengoptimalkan standarisasi karya-karya kreatif penerbitan seperti bahasa, etika penulisan,


EYD (Ejaan Yang Disempurnakan).

Memberikan fasilitas untuk pameran karya penerbitan di tingkat internasional.

Menjalin kerjasama dengan komunitas di bidang penerbitan untuk membantu meningkatkan


kesadaran masyarakat terhadap karya penerbitan lokal.

Untuk penyempurnaan studi dan penulisan buku rencana aksi periode selanjutnya, perlu
dilakukan beberapa hal seperti: meningkatkan intensitas kolaborasi antar pemangku kepentingan
di subsektor penerbitan, meningkatkan intensitas komunikasi lintas kementerian/lembaga, dan
memutakhirkan data kontribusi ekonomi dengan perbaikan pada Klasifikasi Baku Lapangan
Usaha Indonesia (KBLI) Kreatif.

96

Ekonomi Kreatif: Rencana Aksi Jangka Menengah Penerbitan 2015-2019

Referensi
Baiquni, Ahmad, Ekspor produk industri kreatif 2013 tembus Rp.119,7T, 13 Februari 2014, diakses
daring melalui www.merdeka.com.
Behar, dkk (2011) Publishing in the digital era. A Bain & Company study for the Forum dAvignon,
Bain & Company, Inc.
Bismo, Mahesa, Jumlah Penerbitan Buku Indonesia Tergolong Rendah, 9 Oktober 2013, Diakses
daring melalui www.beritasatu.com
Business & Economy, Farid Aulia Tanjung, Ekonomi Kreatif, Seberapa penting bagi Indonesia, 3
Maret 2014, Diakses daring melalui www.bglconline.com.
Carreiro, E. (2010) Electronic books: How digital devices and supplementary new technologies are
changing the face of the publishing industry, Publishing research quarterly, 26(4), pp. 219235.
Gennard, John dan Dunn, Steve (1983) The impact of new technology on the structure and organization
of craft unions in the printing industry. Business Journal of Industrial Relations, 21(1)17-32, diterbitkan
daring pada 2 Januari 2009.
Lina, Kemendikbud : Indonesia masih kekurangan penulis, 25 November 2013, Diakses daring
melalui www.mizan.com.
Lyubareva I., Benghozi P.-J.,Fidele T. (2013), Online Business Models in Creative Industries: Diversity
and Structure, Journal of International Studies in Management and Organization, forthcoming
Miyamoto, Dai dan Whittaker, D.H (2005) The Book Publishing Industry in Japan and the UK:
Corporate Philosophy/Objectives, Behaviour and Market Structure. ESRC Centre for Business
Research, University of Cambridge Working Paper No. 309.
Moldvay, Caitlin(2012) Industry Analysis: Publi.shing. Printing in the US IBISWorld Industry
Report. Diakses daring pada www.ibisworld.com.
Morgan, Nick (2012) What Is the Future of Publishing?. Diakses daring pada 14 maret 2014,
melaluihttp://www.valueline.com.
Mussinelli, C. (2010) Digital Publishing in Europe: a Focus on France, Germany, Italy and Spain,
Publishing research quarterly, 26(3), pp. 168175.
Osterwalder.A dan Pigneur (2010) Business Model Generation, Wiley.
Piergiovanni, R., Carree, M. A. and Santarelli, E. (2012) Creative industries, new business formation,
and regional economic growth,Small Business Economics, 39, pp. 539560
Ronte, H. (2001) The impact of technology on publishing, Publishing research quarterly, 16(4), pp.
1122.

BAB 5: Penutup

97

Simon, JP dan De Pratto, G (2012) Statistical, Ecosystem and Competitivenes, Analysis of the Media
and Content Industry: The publishing Industry. JRC Technical Reports, European Commission.
Siregar, Aminuddin, Klub Haus Buku, 4 Juni 2008, Penerbit Buku Di Indonesia, Diakses daring
melalui www.klubhausbuku.wordpress.com
Sozio, Lauren.C (2011) From Hardback to Software: How the Publishing Industry is Coping with
Convergence.MSc in Global Media and Communications, Compiled by Dr. Bart Cammaerts and
Dr. Nick Anstead.MEDIA@LSE Electronic MSc Dissertation Series
Throsby, D., (2001), Economics and Culture, Cambridge: Cambridge University Press
Tian, X. and Mrtin, B. (2010) Digital technologies for book publishing, Publishing research
quarterly, 26(3), pp. 151167
Wedhaswary, Inggried dwi, Jumlah Terbitan Buku di Indonesia Rendah, 25 Juni 2012, Diakses
daring melalui www.kompas.com.
Wiener,Jessica (2013)The Benefits of Self-Publishing vs. Traditional Publishing. Diakses daring
pada 14 Maret 2014,melalui http://www.amarketingexpert.com
Yew, Cheang Chee.,dan Tan, Eugene., (2005).The Print Industry: An Overview. Publisher:
Information Services Division. National Library Board, Singapore.

Laporan
Rencana Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2009-2015
Peraturan Kepala Badan Pusat Statistik No. 57 Tahun 2009 Tentang Klasifikasi Baku Lapangan
Usaha Indonesia.
Skillset Assesment United Kingdom Tahun 2011, Sector Skills Assessment for the Creative
Industries of the UK.
European Commission. (2009) Printing and Publishing. Comprehensive sectoral analysis of
emerging competencesand economic activities in the European Union, Directorate-General
for Employment, Social Affairs and Equal OpportunitiesUnit F3. Diakses daring pada http://
ec.europa.eu
Department for Culture, Media & Sport Classifying andMeasuring the Creative Industries
(UK)(2011)
British Councils Creative and CulturalEconomy Series, Singapore (2010)

98

Ekonomi Kreatif: Rencana Aksi Jangka Menengah Penerbitan 2015-2019

Lain-lain
Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Jakarta
Merriam - Webster Dictionary
[Liputan 6] Forum Lingkar Pena: Pabrik Penulis Cerita, 22 September 2013, Diakses daring
melalui www.news.liputan6.com.
Majalah Indonesia Print Media Edisi 48 September - Oktober 2012.
Kurangnya Perhatian Pemerintah Indonesia pada Penerbitan Buku, Diakses online melalui www.
infoakademika.com
Informasi Industri Buku Indonesia, 14 Maret 2014, Diakses online melalui http://ikapi.org
Mengenal eBook Store, Apa pandangan Anda tentang buku digital?, 27 September 2013, Diakses
online melalui www.ikapi.com
Bowker: annual report on U.S print book publishing for 2012
Publications Collection Classification Guidelines, MAY 2013,For the Collection and Classification
of 2013 University Research Publications, The Melbourne University

BAB 5: Penutup

99

100

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

LAMPIRAN

Lampiran

101

102

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

ARAH KEBIJAKAN

1.2

1.1

Mengoptimalkan penyediaan dan


peningkatan sarana dan prasarana
yang mengarusutamakan kreativitas
SDM Penerbitan merata di seluruh
provinsi, kabupaten, dan kota

Meningkatnya mutu pengelolaan


Pendidikan Formal, Non-Formal dan
Informal yang mendukung orang
kreatif Penerbitan merata di seluruh
provinsi, kabupaten, dan kota

Bekerja sama dengan Departemen


Pendidikan Nasional dalam Pengembangan
Pendidikan yang Membangun SDM
penerbitan yang Berjiwa Kreatif, Inovatif,
Sportif dan Wirausaha

Membangun mekanisme kemitraan


antara pemerintah, lembaga pendidikan,
dan pelatihan dengan pelaku usaha
dan komunitas untuk mengembangkan
pendidikan dan pelatihan berkualitas untuk
mengembangkan penerbitan Indonesia

Bekerjasama dengan Departemen Pendidikan


dalam melakukan kajian dan penyempurnaan
kurikulum pendidikan dan pelatihan agar
lebih berorientasi pada pembentukan
kreativitas dan kewirausahaan

1, Penciptaan sumber daya manusia kreatif penerbitan yang berkualitas dan berdaya saing

Membangun dan mengembangkan fasilitas pendidikan


dan pelatihan berkualitas untuk mengembangkan industri
penerbitan Indonesia di tingkat provinsi, kabupaten dan kota
Meningkatkan jumlah dan memperbaiki fasilitas lembaga
pendidikan dan pelatihan formal dan informal yang
mendukung penciptaan orang kreatif penerbitan di provinsi,
kabupaten dan kota

Memberdayakan komunitas dan lembaga pendidikan formal/


nonformal yang mendukung penciptaan dan penyebaran
orang kreatif penerbitan secara berkelanjutan

Melakukan pemetaan lembaga nonformal dan komunitas


terkait industri penerbitan

Mendorong tersedianya tenaga ahli pendidikan yang


berkualitas ,yang mendukung penciptaan dan penyebaran
orang kreatif penerbitan secara berkelanjutan khususnya di
Wilayah Indonesia Tengah dan Timur

Meningkatan mutu lembaga pendidikan, tenaga kependidikan


yang mendukung penciptaan dan penyebaran orang kreatif
penerbitan secara berkelanjutan khususnya di Wilayah
Indonesia Tengah dan Timur

STRATEGI

MISI 1: Mengembangkan sumberdaya lokal kreatif bagi penerbitan Indonesia yang berkualitas dan berdaya saing

MISI/TUJUAN/SASARAN

MATRIKS TUJUAN, SASARAN, ARAH KEBIJAKAN, DAN STRATEGI PENGEMBANGAN PENERBITAN

Lampiran

103

ARAH KEBIJAKAN

STRATEGI

Menyediakan data dan informasi


sumber daya budaya yang akurat
dan terpercaya dan dapat diakses
secara mudah dan cepat untuk
mengembangkan konten kreatif
penerbitan

2.2

Pengembangan, Pembinaan dan


Perlindungan karya kreatif penerbitan
indonesia yang bernilai budaya sebagai jati
diri bangsa

Pelestarian karya kreatif penerbitan yang


memiliki nilai sejarah budaya bangsa

Penyediaan bahan baku untuk kebutuhan


produksi karya kreatif penerbitan

3.1

Meningkatnya wirausaha kreatif


penerbitan lokal yang berdaya saing ,
bertumbuh dan berkelanjutan
b

Penyelarasan pendidikan dengan


kebutuhan dunia usaha dan dunia industri

Optimalisasi iklim kolaborasi dan penciptaan


jejaring kreatif antar wirausaha kreatif
penerbitan di tingkat lokal, nasional, dan
global

3. Pertumbuhan wirausaha, usaha dan karya kreatif penerbitan yang merata dan berdaya saing

Mendorong para wirausahawan sukses untuk berbagi


pengalaman dan keahlian di institusi pendidikan menengah
dan pendidikan tinggi dalam pengembangan calon
wirausaha kreatif penerbitan

Melakukan pendataan dan pemetaan mengenai potensi


wirausaha kreatif, usaha kreatif dan orang kreatif penerbitan
serta stakeholder yang terkait industri penerbitan

Memberikan perlindungan karya kreatif penerbitan lokal


terhadap invasi budaya negara lain masuk ke Indonesia

Mengoptimalkan penelitian terkait dengan karya kreatif


penerbitan yang bernilai budaya tinggi

2
3

Melakukan kerjasama dengan subsektor ekonomi kreatif


lainnya untuk mengembangkan karya kreatif penerbitan yang
menunjukkan identitas budaya bangsa

Mendukung ketersediaan sumber daya lokal khususnya


kertas dan tinta ramah lingkungan untuk digunakan sebagai
bahan baku produksi industri penerbitan

Meningkatkan akses dan distribusi terhadap penyediaan


bahan baku kertas dan tinta yang murah dan terjangkau
untuk mendukung keberlangsungan karya kreatif penerbitan
cetak

MISI 2: Mengembangkan penerbitan Indonesia yang tumbuh merata, berdaya saing dan berkelanjutan

Mendukung penyediaan bahan


baku yang menunjang produktivitas
penerbitan dengan menggunakan
sumber daya alam Indonesia (yang
terbarukan)

2.1

2. Perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya budaya yang mendukung usaha penerbitan secara berkelanjutan

MISI/TUJUAN/SASARAN

104

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

Meningkatnya keragaman dan


kualitas karya kreatif penerbitan
lokal berbasis budaya bangsa

3.3

Pengembangan wacana dan eksplorasi


bentuk-bentuk baru dalam penciptaan karya
kreatif penerbitan yang memanfaatkan
sumber daya budaya lokal secara
berkelanjutan

Optimalisasi iklim kolaborasi dan keterkaitan


antar usaha kreatif penerbitan maupun
antara industri kreatif lainnya di tingkat
lokal, nasional, dan global

Penciptaan usaha kreatif penerbitan lokal di


wilayah Indonesia Timur dengan melakukan
Koordinasi antar Kementrian dan/atau
Lembaga Pemerintah pusat dan daerah

ARAH KEBIJAKAN

Memfasilitasi penelitian terkait dengan karya kreatif


penerbitan yang bernilai budaya bangsa dan sumbser daya
lokal tinggi
Memfasilitasi pendaftaran karya kreatif penerbitan
berkualitas untuk terdaftar dalam HKI dan masuk menjadi
kekayaaan intelektual dan budaya bangsa

Mendukung pengembangan model bisnis wirausaha dan


usaha kreatif baru

3
1

Membuka jalur kerjasama dengan subsektor ekonomi kreatif


lainnya untuk mengembangkan karya kreatif penerbitan yang
menunjukkan identitas budaya bangsa

Mendukung pemerataan industri penerbitan dan percetakan


ke seluruh Indonesia khususnya bagian Wilayah Indonesia
Tengah dan Timur

STRATEGI

4.1

Menyediakan pembiayaan penelitian


dan pelestarian karya kreatif
penerbitan berkaitan dengan budaya
bangsa, sastra dan sejarah

Pengembangan alternatif pembiayaan


untuk penelitian pembuatan karya kreatif
penerbitan yang sesuai, dapat diakses
dengan mudah, dan kompetitif
Penyediaan pembiayaan pencetakan karya
kreatif penerbitan lokal untuk mendorong
kemajuan usaha penerbitan cetak lokal

Membantu pembiayaan penelitian karya kreatif penerbitan


(berkaitan dengan budaya bangsa dan bahasa daerah yang
mulai hilang) agar dapat bertahan dan lestari

Memfasilitasi adanya skema pembiayaan pencetakan untuk


keberlangsungan produktivitas usaha penerbitan karya
kreatif cetak lokal khususnya berkaitan dengan budaya
bangsa dan bahasa daerah yang mulai hilang

4. Penciptaan model pembiayaan yang sesuai, mudah diakses, dan kompetitif bagi usaha, wirausaha dan orang kreatif penerbitan

MISI 3: Mengembangkan lingkungan penerbitan Indonesia yang mengarusutamaan kreativitas dan kondusif dalam pembangunan nasional dengan melibatkan seluruh
pemangku kepentingan

Meningkatnya usaha kreatif


penerbitan lokal yang berdaya saing,
bertumbuh, dan berkelanjutan

3.2

MISI/TUJUAN/SASARAN

Lampiran

105

ARAH KEBIJAKAN

Meningkatnya penetrasi dan


diversifikasi pasar karya kreatif
penerbitan nasional dan
internasional

Peningkatan kualitas branding, promosi,


pameran, festival, misi dagang, B2B
networking industri penerbitan di dalam dan
luar negeri
Pengembangan sistem informasi pasar karya
kreatif penerbitan di dalam negeri yang
dapat diakses dengan mudah dan informasi
didistribusikan dengan baik
Pembatasan terhadap karya kreatif
penerbitan mancanegara dan mendukung
karya kreatif penerbitan lokal.

Memfasilitasi jejaring pelaku industri penerbitan di tingkat


lokal, nasional, dan global dalam skema ko-produksi
sebagai bagian dari rantai distribusi karya kreatif penerbitan
Indonesia

Membuat portal data base dalam rangka membangun


jejaring antara pelaku usaha penerbitan dan stakeholder
industri penerbitan dan memperluas jangkauan distribusi
produk kreatif penerbitan Indonesia di dalam dan luar
negeridi tingkat lokal, nasional dan global

Mengadakan festival internasional yang akan


mempertemukan pelaku kreatif penerbitan Indonesia dan
pemangku kepentingan industri penerbitan manca negara

STRATEGI

6.1

Menyediakan infrastruktur logistik


dan jaringan internet yang memadai
dan kompetitif untuk pemenuhan
kebutuhan pasar bagi industri
penerbitan secara merata di seluruh
provinsi, kabupaten, dan kota

Pengembangan infrastruktur logistik di


dalam negeri yang dapat diakses dengan
mudah untuk mendukung industri penerbitan

Penguatan dan perluasan pemanfaatan TIK


untuk mengakses karya kreatif penerbitan
Indonesia

Tersedianya teknologi pendukung dalam memfasilitasi


peningkatan kualitas usaha dan perlindungan karya kreatif
penerbitan

Memfasilitasi peningkatan persebaran dan kecepatan


internet di Indonesia untuk mendukung produktivitas pelaku
penerbitan Indonesia

Memfasilitasi alternatif jalur distribusi dan kerja sama


industri untuk memberikan kemudahan akses dan harga
khusus bagi konsumen pelajar terkait karya kreatif
penerbitan

6. Penyediaan infrastruktur logistik dan teknologi pendukung industri penerbitan yang tepat guna, mudah diakses, dan kompetitif

5.1

5. Pengembangan pasar yang luas bagi penerbitan di dalam dan luar negeri yang berkualitas dan berkelanjutan

MISI/TUJUAN/SASARAN

106

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

ARAH KEBIJAKAN

STRATEGI

7.3

Meningkatnya partisipasi aktif


pemangku kepentingan dalam
pengembangan penerbitan Indonesia
secara berkelanjutan

7.2

Tercapainya kreativitas penerbitan


sebagai paradigma pembangunan
dan dalam kehidupan masyarakat

Menciptakan regulasi yang


mendukung penciptaan iklim yang
kondusif untuk meningkatan mutu
dan penyebaran orang kreatif,
wirausaha kreatif dan usaha kreatif
penerbitan Indonesia

7.1

Pengembangan dan pembangunan kreativitas


dan intelektual masyarakat melalui karya
kreatif penerbitan Indonesia

Pengembangan, pembentukan dan


peningkatan kualitas organisasi atau wadah
yang dapat mempercepat pengembangan
ekonomi kreatif industri penerbitan

Peningkatan sinergi,koordinasi, dan


kolaborasi antar aktor (intelektual, bisnis,
komunitas, dan pemerintah) dan orang kreatif
penerbitan dalam mengembangkan ekonomi
kreatif

Harmonisasi regulasi (menciptakan,


de-regulasi) dalam hal pendidikan dan
apresiasi, pemanfaatan dan pengembangan
sumber daya bangsa, penciptaan nilai kreatif
dan industri penerbitan beserta industri
pendukunganya, pembiayaan, perluasan
pasar, infrastruktur, HKI

Harmonisasi-regulasi terkait perpajakan dan penerbitan.

Meningkatkan minat baca dan tulis masyarakat serta


berpihak pada penggunaan karya kreatif penerbitan nasional
Adanya perubahan pola pikir dan kemajuan kreativitas
masyarakat melalui adaptasi karya-karya kreatif penerbitan
yang dikelola menjadi karya kreatif lain yang bernilai
ekonomi dan budaya yang tinggi

Mengaktifkan dan memfasilitasi asosiasi penerbit untuk


berjejaring di tingkat lokal, nasional, maupun global

Menciptakan dan memberdayakan wadah konsolidasi,


koordinasi, resource sharing, dan kerja kolektif antar
pemangku kepentingan dalam bentuk forum maupun
komunitas

H armonisasi-regulasi terkait perdagangan, teknologi dan


penerbitan khususnya terkait persaingan usaha penerbitan
Indonesia yang kondusif

Harmonisasi-regulasi terkait pendidikan dan


penerbitanterkait keberlangsungan karya kreatif penerbitan,
salah satunya adalah Undang-Undang Perbukuan

7. Penciptaan kelembagaan yang kondusif dan mengarusutamakan kreativitas dalam pengembangan ekonomi kreatif penerbitan

MISI/TUJUAN/SASARAN

Lampiran

107

Meningkatnya apresiasi kepada


orang/karya/wirausaha/usaha
kreatif penerbitan lokal di tingkat
nasional dan internasional

Meningkatnya apresiasi masyarakat


terhadap sumber daya alam dan
budaya lokal yang dihasilkan melalui
karya kreatif penerbitan

7.6

Meningkatnya posisi, kontribusi,


kemandirian serta kepemimpinan
penerbitan Indonesia dalam fora
internasional

7.5

7.4

MISI/TUJUAN/SASARAN

Meningkatkan kesadaran dan pengetahuan


masyarakat untuk menggunakan karya
kreatif penerbitan lokal

Memfasilitasi dan memberikan penghargaan


yang prestisius bagi orang/karya/
wirausaha/ usaha kreatif lokal di tingkat
nasional dan internasional

Meningkatnya jumlah peserta dalam festival


dan even internasional

Meningkatnya posisi, kontribusi, kemandirian


serta kepemimpinan Indonesia dalam forum
diplomasi bilateral, regional dan multilateral

ARAH KEBIJAKAN

Memfasilitasi keikutsertaan karya penerbitan yang


berkualitas untuk mengikuti kompetisi karya kreatif di dalam
maupun luar negeri

Mengadakan sosialisasi dan informasi terkait pentingnya


penggunaan produk penerbitan lokal serta kualitas karya
kreatif penerbitan lokal yang tidak kalah bersaing dengan
karya penerbitan asing

Memberikan penghargaan bagi karya maupun usaha kreatif


dalam bidang penerbitan secara berkala

Memfasilitasi terbentuknya lembaga penghargaan bagi karya


maupun usaha kreatif di bidang penerbitan yang a dilakukan
secara berkelanjutan dan prestisius.

Memfasilitasi keikutsertaan pelaku penerbitan Indonesia


dengan memberikan subsidi atau sponsorship bagi orang
kreatif dan penerbit indonesia yang mampu ikut serta dalam
festival dan even internasional

Menjalin kemitraan strategis dengan negara yang memiliki


kemajuan di bidang penerbitan dalam forum diplomasi
bilateral, regional dan multilateral

STRATEGI

108

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

INDIKASI STRATEGIS

Perlindungan, pengembangan dan


pemanfaatan sumber daya alam dan sumber
daya budaya bagi industri penerbitan secara
berkelanjutan

Penciptaan sumber daya manusia kreatif


penerbitan yang berkualitas dan berdaya
saing

Adanya pemetaan lembaga nonformal dan komunitas di Indonesia terkait pengembangan SDM kreatif

Tersedianya bahan baku kertas dan tinta yang menunjang produktivitas penerbitan sehingga terjangkau dan
terbarukan
Tersedianya sejumlah data dan informasi sumber daya budaya yang akurat dan terpercaya dan dapat diakses
secara mudah dan cepat untuk mengembangkan konten kreatif penerbitan
Meningkatnya sejumlah penelitian / karya kreatif berbasis sumber daya budaya lokal untuk pengembangan
karya kreatif penerbitan

a
b
c

Meningkatnya sejumlah peserta pelatihan/workshop berkaitan dengan penulisan konten (IP Awareness,
Creative Thinking, Editing, Design dan Animation)

Bertambahnya sejumlah lembaga pendidikan formal, non-formal, komunitas yang difasilitasi sarana dan
prasarana kreativitas di seluruh provinsi, kabupaten, dan kota terkait pembuatan karya kreatif penerbitan

Meningkatnya jumlah Pendidikan Formal dan Nonformal di provinsi/ Kabupaten/Kota yang


menimplementasikan kurikulum pendidikan soft skill yang mendukung keberlangsungan orang kreatif di
bidang penerbitan

3.

Pertumbuhan industri penerbitan yang


merata dan berdaya saing

Adanya pemetaan terkait wirausaha, usaha dan karya kreatif penerbitan


Bertambahnya jumlah wirausaha kreatif penerbitan lokal yang berdaya saing , bertumbuh dan
berkelanjutan
Bertambahnya sejumlah usaha kreatif penerbitan lokal yang merata berdaya saing, bertumbuh, dan
berkelanjutan di wilayah Indonesia Timur
Berkembangnya model bisnis baru yang tumbuh dan berkembang di bidang penerbitan Indonesia

a
b
c
d

MISI 2: Mengembangkan industri penerbitan yang tumbuh merata, berdaya saing dan berkelanjutan

2.

MISI 1 Mengembangkan sumberdaya lokal kreatif bagi industri penerbitan yang berkualitas dan berdaya saing

MISI/TUJUAN/SASARAN

MATRIKS INDIKASI STRATEGIS PENGEMBANGAN PENERBITAN

Lampiran

109

Bertambahnya seJumlah karya kreatif penerbitan lokal yang beragam dan berkualitas dan berbasis budaya
bangsa
Adanya sejumlah kerjasama terkait pengelolaan hak cipta (alih media) karya kreatif peninggi erbitan menjadi
karya kreatif lain yang bernilai ekonomi dan budaya tinggi

e
f

INDIKASI STRATEGIS

Penciptaan model pembiayaan yang sesuai,


mudah diakses, dan kompetitif bagi industri
penerbitan

Pengembangan pasar yang luas bagi


penerbitan di dalam dan luar negeri yang
berkualitas dan berkelanjutan

Penyediaan infrastruktur logistik dan


teknologi pendukung industri penerbitan yang
tepat guna, mudah diakses, dan kompetitif

4.

5.

6.

Meningkatnya sejumlah kegiatan pameran karya kreatif penerbitan Indonesia yang dilakukan di luar negeri
(event-event internasional)
Meningkatnya peserta kegiatan pameran karya kreatif penerbitan Indonesia yang dilakukan di luar negeri
(event-even internasional)
Meningkatnya sejumlah karya kreatif penerbitan Indonesia yang dialihmediakan baik nasional maupun
internasional
Tersedianya portal data base karya kreatif penerbitan yang dapat diakses dan digunakan untuk membangun
jejaring pemasaran

c
d
e
f

Bertambahnya infrastruktur logistik untuk distribusi karya kreatif cetak yang memadai dan kompetitif untuk
pemenuhan kebutuhan pasar secara merata di seluruh provinsi, kabupaten, dan kota

Adanya kegiatan pameran/festival yang memasarkan karya kreatif penerbitan Indonesia yang dilakukan
secara merata di provinsi/kabupaten/kota

Bertambahnya sejumlah karya kreatif penerbitan yang diterjemahkan ke dalam bahasa asing (Go
Internasional)

Bertambahnya sejumlah penelitian/karya kreatif yang di produksi berkaitan dengan pelestarian budaya
bangsa, bahasa daerah, sastra dan sejarah

b
a

Bertambahnya sejumlah karya kreatif penerbitan (berkaitan dengan budaya bangsa dan bahasa daerah yang
mulai hilang) kembali dilestarikan

MISI 3: Mengembangkan lingkungan penerbitan yang kondusif yang mengarusutamaan kreativitas dalam pembangunan nasional dengan melibatkan seluruh pemangku
kepentingan

MISI/TUJUAN/SASARAN

110

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

Penciptaan kelembagaan yang kondusif


dan mengarusutamakan kreativitas dalam
pengembangan ekonomi kreatif industri
penerbitan

MISI/TUJUAN/SASARAN

Adanya sejumlah regulasi yang mendukung dan melindungi penciptaan iklim yang kondusif untuk
meningkatan mutu dan penyebaran orang kreatif, wirausaha kreatif dan usaha kreatif penerbitan Indonesia
Meningkatnya jumlah partisipasi aktif komunitas dan pemerintah dalam pengembangan penerbitan
Indonesia secara berkelanjutan
Meningkatnya jumlah karya kreatif penerbitan nasional yang dikonsumsi masyarakat
Mengoptimalkan standarisasi karya-karya kreatif penerbitan seperti bahasa, etika penulisan, EYD (Ejaan
Yang Disempurnakan)
Meningkatnya intelektualitas dan gaya hidup berbudaya masyarakat melalui karya kreatif penerbitan
Meningkatnya jumlah media baru yang digunakan untuk mengembangkan konten karya kreatif penerbitan
Meningkatnya kerjasama berkaitan dengan penerjemahan karya kreatif , penerbitan event / konferensi /
dalam fora internasional
Meningkatnya jumlah kritikus karya kreatif penerbitan lokal
Meningkatnya jumlah penghargaan kepada karya kreatif/wirausaha/usaha kreatif penerbitan lokal di
tingkat nasional dan internasional
Meningkatnya minat baca dan tulis masyarakat terhadap karya kreatif penerbitan lokal
Meningkatnya apresiasi masyarakat terhadap karya kreatif penerbitan lokal

b
c
d
e
f
g
h
i
j
k

Pertambahan kecepatan akses internet (MB/s) yang dapat digunakan untuk kemajuan penerbitan terkait
penggunaan media daring.

c
a

Meningkatnya persebaran akses jaringan internet yang memadai secara merata di seluruh provinsi,
kabupaten, dan kota yang menunjang karya kreatif penerbitan digital

INDIKASI STRATEGIS

Lampiran

111

DESKRIPSI RENCANA AKSI

PENANGGUNGJAWAB
2015

2016

2017

TAHUN
2018

Mendukung dan memfasilitasi


kementerian pendidikan nasional
untuk menerapkan kurikulum
pendidikan softskill kepada
sejumlah pendidikan formal
dan nonformal di 10 provinsi
berpotensi di Kalimantan,
Sulawesi, Kepulauan Nusa
tenggara dan Papua.

Penyediaan tenaga pendidik


dan tutor berkompeten yang
merata di 10 provinsi berpotensi
di Kalimantan, Sulawesi,
Kepulauan Nusa tenggara dan
Papua.

Melakukan pemetaan
potensi dan publikasi hasil
pemetaan lembaga pendidikan
nonformal dan komunitas
serta stakeholder terkait
pengembangan sdm kreatif
penerbitan

Pemetaan dibutuhkan untuk melihat


potensi dan peluang yang dimiliki
penerbitan indonesia untuk menjawab
tantangan membentuk SDM Kreatif
Penerbitan

Bermitra dengan lembaga pendidikan


formal, non formal dan komunitas
untuk mengembangkan soft skill karya
kreatif penerbitan dengan fokus materi
IP Awareness, menulis kreatif dan
penyuntingan

Memasukkan unsur-unsur soft skill di


dalam rancangan kurikulum pendidikan
dasar

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;


Menteri Pendidikan Nasional; Institusi
Pendidikan; Komunitas

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;


Menteri Pendidikan Nasional; Institusi
Pendidikan

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;


Menteri Pendidikan Nasional; Institusi
Pendidikan

SASARAN 1: Meningkatnya mutu pengelolaan Pendidikan Formal, Non-Formal dan Informal yang mendukung orang kreatif Penerbitan merata di seluruh provinsi,
kabupaten, dan kota

SASARAN/RENCANA AKSI

MATRIKS RENCANA AKSI PENGEMBANGAN PENERBITAN 2015-2019

2019

112

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

Melaksanakan Kerjasama
dengan Lembaga Pelatihan
Non-Formal dan Komunitas
dalam mengembangkan kualitas
SDM penerbitan melalui
pelatihan/workshop berkaitan
pengembangan/penulisan
konten kreatif (IP Awareness,
Creative Thinking, Editing, Design
dan Animation)

Ip awareness adalah kesadaran untuk


mengelola hak cipta, creative thinking
adalah metode atau cara penulisan
konten melalui proses kreativitas

DESKRIPSI RENCANA AKSI


Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;
Menteri Pendidikan Nasional; Dirjen HKI,
Institusi Pendidikan; Komunitas

PENANGGUNGJAWAB
x

2015
x

2016
x

2017

TAHUN

2018

Penyediaan dan peningkatan


sarana dan prasarana untuk
penerapan sistem pembelajaran
mengasah kreativitas yang
merata di 10 provinsi berpotensi
di Indonesia.

Penyediaan dan pengembangan


sistem pembelajaran
mengarusutamakan kreativitas
dan IP Awareness di lembaga
pendidikan nonformal terkait
industri penerbitan di 10 provinsi
berpotensi di Indonesia

Ip awareness adalah kesadaran untuk


mengelola hak cipta

Bekerjasama dengan Departemen


Pendidikan dalam menyediakan saran
danprasarana seperti buku berkualitas,
teknologi pendukung dan revitalisasi
perpusatakaan

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;


Menteri Pendidikan Nasional; Dirjen HKI,
Institusi Pendidikan , Komunitas

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;


Menteri Pendidikan Nasional; Dirjen HKI,
Institusi Pendidikan , Komunitas

2019

SASARAN 2: Mengoptimalkan penyediaan dan peningkatan sarana dan prasarana yang mengarusutamakan kreativitas SDM Penerbitan merata di seluruh provinsi,
kabupaten, dan kota

SASARAN/RENCANA AKSI

Lampiran

113

DESKRIPSI RENCANA AKSI

PENANGGUNGJAWAB
2015

2016

2017

TAHUN
2018

Mempermudah pendistribusian
bahan baku kertas dan tinta
untuk menunjang ketersediaan
bahan baku produksi penerbitan
cetak

Menyediakan data dan


informasi terkait sumber daya
alam yang dapat digunakan
untuk bahan baku penerbitan
alternatif.

Memberikan dana hibah


penelitian terkait bahan baku
produksi penerbitan berbasis
sumber daya lokal.

cukup jelas

cukup jelas

cukup jelas

cukup jelas

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;


Menteri Perdagangan; Dirjen Pajak

Mengembangkan konten karya


kreatif penerbitan yang dapat
menjadi identitas budaya bangsa
Indonesia.

cukup jelas

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;


Menteri Perdagangan

SASARAN 4: Menyediakan data dan informasi sumber daya budaya yang akurat dan terpercaya dan dapat diakses secara mudah dan cepat untuk mengembangkan
konten kreatif penerbitan

Mengusulkan kebijakan
perpajakan mengenai harga
bahan baku khususnya kertas
dan tinta untuk produktivitas
penerbitan cetak

SASARAN 3: Mendukung penyediaan bahan baku yang menunjang produktivitas penerbitan dengan menggunakan sumber daya alam Indonesia (yang terbarukan)

SASARAN/RENCANA AKSI

2019

114

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

Menyediakan sistem, data


dan informasi berbasis riset
budaya yang dapat diakses oleh
orang kreatif penerbitan untuk
pengembangan konten kreatif
berbasis budaya

cukup jelas

cukup jelas

DESKRIPSI RENCANA AKSI

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;


Menteri Perdagangan

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;


Menteri Perdagangan

PENANGGUNGJAWAB

Melakukan pemetaan potensi


wirausaha kreatif penerbitan
Indonesia

Mengadakan event/kompetisi
untuk menyaring wirausaha
kreatif

Memfasilitasi penciptaan dan


peningkatan profesionalisme
(skill-knowledge-attitude)
wirausaha kreatif penerbitan
lokal

Memfasilitasi kolaborasi dan


penciptaan jejaring kreatif antar
wirausaha kreatif di tingkat
lokal, nasional, dan global

cukup jelas

cukup jelas

cukup jelas

cukup jelas

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;


Menteri Perdagangan

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;


Menteri Perdagangan

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;


Menteri Perdagangan

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;


Menteri Perdagangan

SASARAN 5: Meningkatnya wirausaha kreatif penerbitan lokal yang berdaya saing , bertumbuh dan berkelanjutan

Meningkatkan karya kreatif


penerbitan yang berbasis
penelitian,bermutu, berbudaya,
dan berdaya saing internasional.

SASARAN/RENCANA AKSI

2015

2016

2017

TAHUN

2018

2019

Lampiran

115

Perbaikan KBLI untuk ruang


lingkup produk dan jasa terkait
industri penerbitan

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;


Menteri Perdagangan; Menteri KUKM

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;


Menteri Perdagangan; Menteri KUKM

Memfasilitasi penelitian dan


pengembangan konten karya
kreatif penerbitan Indonesia
berbasis budaya bangsa.

Melakukan pemetaan potensi


keberadaaan karya kreatif
penerbitan yang potensial dan
berkualitas

Mengadakan event/kompetisi
untuk menyaring karya kreatif
penerbitan yang berkualitas

Memfasilitasi penelitian penerbitan


untuk menghasilkan penciptaan karya
kreatif penerbitan Indonesia;

Mengadakan ajang kompetisi untuk


menambah keanekaragaman karya
teknologi informasi;

cukup jelas

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;


Menteri Pendidikan Nasional; Institusi
Desain, Budaya dan Sejarah

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;


Menteri Pendidikan Nasional; Institusi
Budaya dan Ssejarah

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;


Menteri Pendidikan Nasional; Institusi
Budaya dan Sejarah

SASARAN 7: Meningkatnya keragaman dan kualitas karya kreatif penerbitan lokal berbasis budaya bangsa

cukup jelas

cukup jelas

Meningkatkan kolaborasi dan


kemitraan unit usaha penerbitan
lokal di Indonesia

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;


Menteri Perdagangan; Menteri KUKM

cukup jelas

Melakukan pemetaan potensi


keberadaaan usaha kreatif
penerbitan di Indonesia

2015

PENANGGUNGJAWAB

DESKRIPSI RENCANA AKSI

SASARAN 6: Meningkatnya usaha kreatif penerbitan lokal yang berdaya saing, bertumbuh, dan berkelanjutan

SASARAN/RENCANA AKSI

2016

2017

TAHUN

2018

2019

116

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

DESKRIPSI RENCANA AKSI

PENANGGUNGJAWAB
2015

2016

Penyediaan subsidi pembiayaan


untuk penelitian berkaitan
dengan karya kreatif bermuatan
budaya, kenegaraan, bahasa
daerah dan sejarah bangsa

cukup jelas

cukup jelas

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;


Menteri Pendidikan Nasional; Institusi
Budaya dan Sejarah

Menteri Perdagangan; Menteri


Pariwisata dan Ekonomi Kreatif; Menteri
Komunikasi dan Informatika; Institusi
Pendidikan

Mengadakan pameran
Internasional untuk
mempromosikan karya kreatif
penerbitan nasional kepada
dunia

Memfasilitasi keikutsertaan
karya penerbitan Indonesia yang
berkualitas untuk mengikuti
pameran di dalam negeri
maupun luar negeri

Membangun portal sebagai


sarana promosi dan sistem
informasi pasar karya kreatif
di dalam negeri dan luar negeri
yang dapat diakses dengan
mudah dan informasinya
didistribusikan dengan baik

cukup jelas

cukup jelas

cukup jelas

Menteri Perdagangan; Menteri


Pariwisata dan Ekonomi Kreatif; Menteri
Komunikasi dan Informatika; Institusi
Pendidikan

Menteri Pariwisata dan Ekonomi


Kreatif; Menteri Luar Negeri; Menteri
Komunikasi dan Informatika; Institusi
Pendidikan

Menteri Perdagangan; Menteri


Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;
Menteri Komunikasi dan Informatika;
Institusi Pendidikan

SASARAN 9: Meningkatnya penetrasi dan diversifikasi pasar karya kreatif penerbitan nasional dan internasional

Penyediaan subsidi pembiayaan


untuk produktivitas karya kreatif
penerbitan berbasis budaya
bangsa, bahasa daerah, sejarah
dan sastra klasik

2017

TAHUN

SASARAN 8: Menyediakan pembiayaan penelitian dan pelestarian karya kreatif penerbitan berkaitan dengan budaya bangsa, sastra dan sejarah

SASARAN/RENCANA AKSI

2018

2019

Lampiran

117

Proaktif mendukung pemasaran


dan keberlangsungan karya
kreatif penerbitan lokal di pasar
domestik

cukup jelas

cukup jelas

DESKRIPSI RENCANA AKSI

Menteri Perdagangan; Menteri


Pariwisata dan Ekonomi Kreatif; Menteri
Komunikasi dan Informatika; Institusi
Pendidikan

Menteri Perdagangan; Menteri


Pariwisata dan Ekonomi Kreatif; Menteri
Komunikasi dan Informatika; Institusi
Pendidikan

PENANGGUNGJAWAB

2015

2016

2017

TAHUN

2018

Menyediakan jalur distribusi


alternatif untuk meningkatkan
keterjangkauan logistik dan
transportasi karya kreatif
penerbitan yang merata di
seluruh provinsi, kabupaten, dan
kota; dan provinsi

Memberikan fasilitas teknologi


pendukung untuk menyebarkan
karya kreatif di bidang penerbitan

Perluasan jaringan internet


untuk meningkatkan akses
masyarakat terhadap karya
kreatif penerbitan digital yang
merata di seluruh provinsi,
kabupaten, dan kota; dan
provinsi

cukup jelas

cukup jelas

cukup jelas

Menteri Perdagangan; Menteri


Pariwisata dan Ekonomi Kreatif; Menteri
Komunikasi dan Informatika;Menteri PU

Menteri Perdagangan; Menteri


Pariwisata dan Ekonomi Kreatif; Menteri
Komunikasi dan Informatika;Menteri PU

Menteri Perdagangan; Menteri


Pariwisata dan Ekonomi Kreatif; Menteri
Komunikasi dan Informatika;Menteri PU

SASARAN 10: Menyediakan infrastruktur logistik dan jaringan internet yang memadai dan kompetitif untuk pemenuhan kebutuhan pasar bagi industri penerbitan
secara merata di seluruh provinsi, kabupaten, dan kota

Mengadakan festival nasional


dan internasinal berkala
untuk mempertemukan karya
kreatif penerbitan nasional dan
internasional

SASARAN/RENCANA AKSI

2019

118

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

Peningkatan persebaran dan


kecepatan internet di Indonesia
secara bertahap

cukup jelas

DESKRIPSI RENCANA AKSI


Menteri Perdagangan; Menteri
Pariwisata dan Ekonomi Kreatif; Menteri
Komunikasi dan Informatika;Menteri PU

PENANGGUNGJAWAB
x

2015
x

2016
x

2017

TAHUN

2018

2019

Harmonisasi kebijakan
perbukuan (Undang-Undang
Perbukuan)

melakukan diskusi publik rancangan


perbaikan Undang-undang perbukuan
melakukan proses pengharmonisasian,
pembulatan dan pemantapan konsepsi
terhadap Undang-undang perbukuan
melakukan sosialisasi Undang-undang
perbukuan

melakukan koordinasi lintas sektor


untuk menyusun perbaikan Undangundang perbukuan

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi


Kreatif; Kementerian Pendidikan,
Kementerian Perdagangan;
Kemenkumham

Melakukan kajian terhadap substansi


Undang-undang perbukuan

Membentuk panitia pembahasan


terhadap substansi Undang-undang
perbukuan

SASARAN 11: Menciptakan regulasi yang mendukung penciptaan iklim yang kondusif untuk meningkatan mutu dan penyebaran orang kreatif, wirausaha kreatif dan
usaha kreatif penerbitan Indonesia

SASARAN/RENCANA AKSI

Lampiran

119

Harmonisasi kebijakan tata


niaga produk penerbitan (isu
buku cetak dan digital, isu
keberpihakan pada industri
penerbitan lokal, pengembangan
konten lokal, perluasan pasar
bagi penerbit lokal)

SASARAN/RENCANA AKSI

melakukan diskusi publik rancangan


regulasi tata niaga
melakukan proses pengharmonisasian,
pembulatan dan pemantapan konsepsi
terhadap regulasi tata niaga
melakukan sosialisasi peraturan
regulasi tata niaga

melakukan koordinasi lintas sektor


untuk menyusun regulasi tata niaga

2015

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;


Menteri Perdagangan; Kemenkumham

PENANGGUNGJAWAB

melakukan kajian terhadap substansi


regulasi tata niaga

Membentuk panitia pembahasan


terhadap substansi regulasi tata niaga

DESKRIPSI RENCANA AKSI

2016

2017

TAHUN

2018

2019

120

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

Harmonisasi kebijakan
pembiayaan bagi industri
penerbitan lokal

SASARAN/RENCANA AKSI

melakukan diskusi publik rancangan


regulasi pembiayaan bagi industri
penerbitan lokal
melakukan proses pengharmonisasian,
pembulatan dan pemantapan konsepsi
terhadap regulasi pembiayaan bagi
industri penerbitan lokal
melakukan sosialisasi peraturan
regulasi pembiayaan bagi industri
penerbitan lokal

melakukan koordinasi lintas sektor


untuk menyusun regulasi pembiayaan
bagi industri penerbitan lokal

2015

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;


Menteri Perdagangan; Kemenkumham

PENANGGUNGJAWAB

melakukan kajian terhadap substansi


pembiayaan bagi industri penerbitan
lokal

Membentuk panitia pembahasan


terhadap substansi regulasi pembiayaan
bagi industri penerbitan lokal

DESKRIPSI RENCANA AKSI

2016

2017

TAHUN

2018

2019

Lampiran

121

Harmonisasi kebijakan fasilitasi


insentif bagi industri penerbitan
lokal

melakukan koordinasi lintas sektor


untuk menyusun regulasi insentif bagi
industri penerbitan lokal
melakukan diskusi publik rancangan
regulasi insentif bagi industri penerbitan
lokal
melakukan proses pengharmonisasian,
pembulatan dan pemantapan konsepsi
terhadap regulasi insentif bagi industri
penerbitan lokal
melakukan sosialisasi peraturan
regulasi insentif bagi industri penerbitan
lokal

2015

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;


Menteri Perdagangan; Kemenkumham

PENANGGUNGJAWAB

melakukan kajian terhadap substansi


regulasi insentif bagi industri penerbitan
lokal

Membentuk panitia pembahasan


terhadap substansi regulasi insentif
bagi industri penerbitan lokal

DESKRIPSI RENCANA AKSI

Membangun portal subsektor


industri kreatif penerbitan
sebagai sarana pendataan
potensi lembaga pendidikan,
industri dan komunitas yang
mendukung kegiatan ekosistem
penerbitan

Cukup jelas

Menteri Pariwisata dan Ekonomi


Kreatif;Segala elemen pemerintah;
Komunitas; Asosiasi Profesi

SASARAN 12: Meningkatnya partisipasi aktif pemangku kepentingan dalam pengembangan penerbitan Indonesia secara berkelanjutan

SASARAN/RENCANA AKSI

2016

2017

TAHUN

2018

2019

122

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

Mendukung kegiatan dan


pembentukan asosiasi
keprofesian penerbitan untuk
berjejaring di tingkat lokal,
nasional, maupun global

Cukup jelas

Cukup jelas

DESKRIPSI RENCANA AKSI

segala elemen pemerintah; Komunitas;


Asosiasi Profesi

segala elemen pemerintah; Komunitas;


Asosiasi Profesi

PENANGGUNGJAWAB

Mendorong tersedianya karya


kareatif penerbitan yang
berkualitas dan terjangkau
untuk meningkatkan minat
baca dan tulis masyarakat
serta penyediaan karya kreatif
penerbitan nasional di institusiinstitusi pendidikan.

Mengoptimalkan standarisasi
karya-karya kreatif penerbitan
seperti bahasa, etika penulisan,
EYD (Ejaan Yang Disempurnakan)

Mengelola konten karya kreatif


penerbitan yang berkualitas untuk
dialihmediakan ke subsektor
ekonomi kreatif lain

cukup jelas

Cukup jelas

Cukup jelas

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;


Menteri Pendidikan Nasional; Institusi
Pendidikan

menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;


Menteri Pendidikan Nasional; Institusi
Pendidikan

menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;


Menteri Pendidikan Nasional; Institusi
Pendidikan

SASARAN 13:Tercapainya kreativitas penerbitan sebagai paradigma pembangunan dan dalam kehidupan masyarakat

Membentuk Dewan Penerbitan


sebagai lembaga penghubung
antar pemangku kepentingan
dalam industri penerbitan
Indonesia

SASARAN/RENCANA AKSI

2015

2016

2017

TAHUN

2018

2019

Lampiran

123

DESKRIPSI RENCANA AKSI

PENANGGUNGJAWAB

Mengoptimalkan fungsi
kedutaan besar RI di luar negeri
sebagai Market Intelligence
untuk mempromosikan karya
penerbitan Indonesia ke
kalangan internasional

Mengoptimalkan penyediaan
ruang ekspresi dan fasilitasi
kegiatan pameran karya kreatif
penerbitan melalui pemanfaatan
berbagai media untuk promosi
strategis yang mendukung
sektor pariwisata dan ekonomi
kreatif

cukup jelas

cukup jelas

cukup jelas

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;


Menteri Perdagangan; Menteri Luar
Negeri

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;


Menteri Perdagangan; Menteri Luar
Negeri

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;


Menteri Perdagangan; Menteri Luar
Negeri

2015

2016

Memberikan penghargaan bagi


karya, wirausaha maupun usaha
kreatif dalam bidang penerbitan
yang berskala nasional

Pendaftaran dan sosialisasi


penghargaan; Penjurian karya kreatif;
Publikasi dan kegiatan lanjutan dari
penghargaan seperti networking;

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;


Dirjen HKI; Menteri Perdagangan;

SASARAN 15: Meningkatnya apresiasi kepada orang/karya/wirausaha/usaha kreatif penerbitan lokal di tingkat nasional dan internasional

Memfasilitasi akses pasar


nasional dan global agar industri
penerbitan semakin semakin
bertumbuh, merata di seluruh
Indonesia dan berdaya saing
global

SASARAN 14: Meningkatnya posisi, kontribusi, kemandirian serta kepemimpinan penerbitan Indonesia dalam fora internasional

SASARAN/RENCANA AKSI

2017

TAHUN

2018

2019

124

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019

Memberikan fasilitas untuk


pameran karya penerbitan di
tingkat internasional

Fasilitas yang dapat diberikan antara lain


adalah ruang publik, pusat kreatifitas,
inkubator teknologi, dan sebagainya

Dengan makin banyaknya karya kreatif


penerbitan Indonesia dipamerkan ke
ajang internasional maka diharapkan
adanya kesempatan karya kreatif
penerbitan Indonesia dapat Go
Internasional

DESKRIPSI RENCANA AKSI

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif;


Menteri Pendidikan dan Kebudayaan,
Menteri Perdagangan

Menteri Pariwisata dan Ekonomi


Kreatif; Menteri Luar Negeri; Menteri
Perdagangan

PENANGGUNGJAWAB

2015

2016

Sosialisasi dan penyebaran


informasi terkait potensi dan
kualitas karya kreatif penerbitan
lokal

Menjalin kerjasama dengan


komunitas di bidang penerbitan
untuk membantu meningkatkan
kesadaran masyarakat terhadap
karya penerbitan lokal

Dengan makin banyaknya tulisan


dan ulasan mengenai karya kreatif
penerbitan Indonesia diharapkan
meningkatkan pengetahuan dan
pemahaman masyarakat terhadap karya
kreatif penerbitan

Untuk meningkatkan pemahaman


masyarakat bahwa karya kreatif
penerbitan Indonesia memiliki kualitas
yang tidak kalah dibandingkan karya kreatif
manca negara, sehingga mengurangi
tingkat ketergantungan masyarakat akan
karya penerbitan luar negeri

Menteri Pariwisata dan Ekonomi


Kreatif;Segala elemen pemerintah;
Komunitas; Asosiasi Profesi

Menteri Pariwisata dan Ekonomi


Kreatif;Segala elemen pemerintah;
Komunitas; Asosiasi Profesi

2017

TAHUN

SASARAN 16: Meningkatnya apresiasi masyarakat terhadap sumber daya alam dan budaya lokal yang dihasilkan melalui karya kreatif penerbitan

Mengadakan dan mengikutsertakan


festival ataupun ajang penghargaan
bagi pelaku industri penerbitan
secara berkala di tingkat nasional dan
internasional

SASARAN/RENCANA AKSI

2018

2019

128

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Penerbitan Nasional 2015-2019