Anda di halaman 1dari 162

RENCANA

PENGEMBANGAN

SENI RUPA
NA SIONAL

2015-2019

RENCANA PENGEMBANGAN
SENI RUPA NASIONAL 2015-2019

Mia Maria
Asep Topan
Dila Martina Ayu

PT. REPUBLIK SOLUSI

iv

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

RENCANA PENGEMBANGAN
SENI RUPA NASIONAL 2015-2019

Tim Studi dan Kementerian Pariwisata Ekonomi Kreatif:


Penasihat
Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI
Sapta Nirwandar, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI
Pengarah
Ukus Kuswara, Sekretaris Jenderal Kemenparekraf
Ahman Sya, Direktur Jenderal Ekonomi Kreatif berbasis Seni dan Budaya
Cokorda Istri Dewi, Staf Khusus Bidang Program dan Perencanaan
Penanggung Jawab
Mumus Muslim, Setditjen Ekonomi Kreatif berbasis Seni dan Budaya
Watie Moerany, Direktur Pengembangan Seni Rupa
Yusuf Hartanto, Kasubdit Pengembangan Seni Rupa Terapan
Tim Studi
Mia Maria
Asep Topan
Dila Martina Ayu
Tim Pengkaji
Hafiz Rancajale
Ade Darmawan
Hendro Wiyanto
ISBN
978-602-72367-9-0
Tim Desain
RURU Corps (www.rurucorps.com)
Sari Kusamaranti Subagiyo
Farly Pratama
Yosifinah Rachman
Penerbit
PT. Republik Solusi
Cetakan Pertama, Maret 2015
Hak cipta dilindungi undang-undang
Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara
apapun tanpa ijin tertulis dari penerbit

Terima kasih Kepada Narasumber dan Peserta Focus Group Discussion (FGD)
Tisna Sanjaya
Mella Jaarsma
Yoshi Fajar
Ade Darmawan
Heri Pemad
Agung Hujatnikajennong
Bre Redana
FX Harsono
Nyoman Visyasuri Utami
Farah Wardani
Wimo Ambala Bayang
Hendro Wiyanto
Tubagus Andre
Gita Putri Damayana
Bpk. Indra (Bappenas)
Rifky Effendy
Drs. Pustanto, MM (Dinas Kebudayaan)
Melati Suryodarmo
RURU Corps.
Nindityo Adipurnomo
Tim Indonesia Kreatif
Suwarno Wisetrotomo
Woto Wibowo
Hafiz Rancajale
Syafiatudina
Amir Sidharta
Siuli Tan (Singapore Art Museum)
Leo Silitonga
Seng Yu Jin (National Gallery of Singapore)
Dedi Irianto
Eko Nugroho
Bambang
Yustina Neni
Amalia Wirjono
Helen Silitonga
Agung Kurniawan

vi

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

Kata Pengantar
Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019 ini merupakan sebuah pemetaan dan
rekonstruksi untuk mewujudkan visi pengembangan seni rupa yaitu industri seni rupa yang
berkualitas hidup, berdaya saing, berwawasan, tersosialisasikan dan berkelanjutan. Di dalam buku
ini terdapat standarisasi, analisa, pengukuran dan perencanaan untuk membantu mewujudkan
masyarakat kreatif dengan kualitas hidup yang tinggi. Ekonomi kreatif yang mencakup industri
kreatif mulai diakui oleh berbagai negara di dunia, bahwa sektor ini dapat memberikan kontribusi
bagi perekonomian yang signifikan bagi negaranya. Indonesia juga melihat bahwa berbagai
subsektor dalam ekonomi kreatif berpotensi untuk dikembangkan, termasuk di dalamnya adalah
seni rupa. Sebagai bangsa kita memiliki modal yang cukup untuk bisa berkembang, dengan
warisan budaya, sumber daya alam dan manusia yang telah tersedia.
Sebagai langkah nyata dan komitmen pemerintah untuk mengembangkan Ekonomi Kreatif
Indonesia, maka pemerintah telah membuat Cetak Biru Ekonomi Kreatif yang menghadirkan
pemetaan mendalam tentang 18 Subsektor Ekonomi Kreatif 2015-2025. Pemetaan ini melibatkan
ratusan pelaku kreatif dan masukkan langsung dari lapangan. Rencana Pengembangan Seni Rupa
Nasional 2015-2019 ini akan memaparkan pemetaan ekosistem, pemetaan industri, perkembangan
dan sejarah singkat seni rupa, kontribusi ekonomi, definisi pelaku analisa potensi dan permasalahan,
dan rencana strategis pengembangan bagi subsektor seni rupa. Rencana Pengembangan Seni Rupa
Indonesia yang terdapat di dalam buku ini diharapkan dapat digunakan sebagai :
1. Pemetaan untuk pemahaman yang menyeluruh tentang industri seni rupa dan aspek-aspek
potensi untuk pengembangannya.
2. Pedoman operasional dan arah kebijakan bagi aparatur pemerintah yang bertanggungjawab
terhadap pengembangan ekonomi kreatif.
3. Rujukan bagi instansi-instansi yang terkait untuk terjadinya sinergi dalam usaha
pengembangan yang tepat sasaran.
4. Titik tolak untuk upaya pembangunan yang terpadu antarpelaku kreatif seni rupa yang
didukung oleh pemerintahan.
Akhir kata, Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019 ini diharapkan dapat
menghadirkan optimisme baru dalam pembangunan karakter bangsa yang dikuatkan oleh
seni, budaya dan kreativitas. Dengan adanya Rencana Pengembangan Seni Rupa 2015-2019
diharapkan pula adanya arahan yang jelas dan tepat sasaran mengenai pembangunan subsektor
seni rupa sebagai bagian dari Ekonomi Kreatif Indonesia.
Jakarta, September 2014
Salam Kreatif

Mari Elka Pangestu


Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
vii

Daftar Isi
Kata Pengantar

vii

Daftar Isi

viii

Daftar Gambar

xi

Daftar Tabel

xii

Ringkasan Eksekutif

xiii

BAB 1 PERKEMBANGAN SENI RUPA DI INDONESIA

1.1 Definisi dan Ruang Lingkup Seni Rupa Di Indonesia

1.1.1 Definisi Seni Rupa

1.1.2 Ruang Lingkup Pengembangan Seni Rupa

1.2 Sejarah dan Perkembangan Seni rupa

11

1.2.1 Sejarah dan Perkembangan Seni Rupa Dunia

11

1.2.2 Sejarah dan Perkembangan Seni Rupa Indonesia

16

BAB 2 EKOSISTEM DAN RUANG LINGKUP INDUSTRI SENI RUPA INDONESIA

25

2.1 Ekosistem Seni Rupa

26

2.1.1 Definisi Ekosistem Seni Rupa

26

2.1.2 Peta Ekosistem Seni Rupa

26

2.2 Peta dan Ruang Lingkup Industri Seni Rupa

57

2.2.1 Peta Industri Seni Rupa

57

2.2.2 Ruang Lingkup Industri Seni Rupa

63

2.2.3 Model Bisnis di Industri Seni Rupa

63

BAB 3 KONDISI UMUM SENI RUPA DI INDONESIA

69

3.1 Kontribusi Ekonomi Seni Rupa

70

viii

3.1.1 Berbasis Produk Domestik Bruto (PDB)

72

3.1.2 Berbasis Ketenagakerjaan

73

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

3.1.3 Berbasis Aktivitas Perusahaan 

74

3.1.4 Berbasis Konsumsi Rumah Tangga

75

3.1.5 Berbasis Nilai Ekspor

76

3.2 Kebijakan Pengembangan Seni Rupa

80

3.2.1 Pengarsipan dan Konversi

80

3.2.2Kepabeanan

81

3.2.3 Etika Tampilan Pornografi

82

3.2.4 Pendidikan Seni

83

3.2.5 Hak Kekayaan Intelektual

84

3.2.6 Posisi Seni dalam Kebijakan Pariwisata

86

3.2.7 Insentif Pajak Perusahaan Swasta untuk Sumbangan Kesenian

86

3.2.8 Dewan Kesenian (dan Taman Budaya)

87

3.3 Struktur Pasar Seni Rupa

87

3.4 Daya Saing Seni Rupa

89

3.5 Potensi dan Permasalahan dalam Pengembangan Seni Rupa

90

3.5.1 Isu-isu strategis Seni Rupa

90

3.5.2 Prioritas Permasalahan

92

BAB 4 RENCANA PENGEMBANGAN SENI RUPA INDONESIA

101

4.1 Arahan Strategis Pengembangan Ekonomi Kreatif 20152019

102

4.2 Visi, Misi, dan Tujuan Pengembangan Seni Rupa

103

4.2.1 Visi Pengembangan Seni Rupa

104

4.2.2 Misi Pengembangan Seni Rupa

104

4.2.3 Tujuan Pengembangan Seni Rupa

105

4.3 Sasaran dan Indikasi Strategis Pengembangan Seni Rupa

105

4.4 Arah Kebijakan Pengembangan Seni Rupa

107

4.4.1 Arah Kebijakan Peningkatan Kualitas dan Daya Saing Sumber Daya Kreatif di
Bidang Produksi, Manajemen, dan Pemasaran 

107

4.4.2 Arah Kebijakan Pengembangan Kualitas dan Daya Saing Sumber Daya Produksi
dalam Negeri yang Berkelanjutan 

108

4.4.3 Arah Kebijakan Peningkatan Kualitas Lingkungan Pengembangan yang


Berkelanjutan

108

ix

4.4.4 Pengembangan Fasilitas, Sistem Komunikasi dan Pemasaran Seni Rupa yang
Memadai

109

4.5 Strategi dan Rencana Aksi Pengembangan Seni Rupa

110

4.5.1 Meningkatnya Kuantitas dan Kualitas Orang Kreatif Dengan Pengetahuan


Produksi, Pengembangan Wacana, Manajerial, dan Pemasaran

110

4.5.2 Meningkatnya Pengadaan Bahan Baku dan Bahan Olahan yang Diproduksi Dalam
Negeri Dengan Harga dan Kualitas yang Bersaing

110

4.5.3 Meningkatnya Kualitas dan Kuantitas Alat Teknologi yang Dibarengi Dengan
Meningkatnya Kemampuan SDM yang Mengolahnya

110

4.5.4 Terjadinya Sistem yang Mengatur Pendanaan yang Berkualitas dan Berkelanjutan
bagi Produksi dan Lingkungan Pengembangan

110

4.5.5 Adanya Kelengkapan Kebijakan Pemerintah yang Mendukung Proses Produksi dan
Distribusi Produk Seni 

111

4.5.6 Meningkatnya Apresiasi Terhadap Seni Rupa yang Ditentukan oleh Meningkatnya
Penonton, Penulisan di Media Massa Baik di Forum Lokal dan Internasional

111

4.5.7 Adanya Program Pemerintah yang Aktif dan Tepat Sasaran untuk Pembentukan
Pencitraan Nasional Seni Rupa 

111

4.5.8 Aktivasi Lembaga-Lembaga Pemerintah dan Ruang Publik yang Mendukung


Terjadinya Sosialisasi Seni Rupa 

111

4.5.9 Meningkatnya Literasi Publik Terhadap Seni Rupa lewat Publikasi dan Pengajaran
Berkualitas

111

4.5.10 Peningkatan Aktivasi Koleksi Baik oleh Sektor Swasta Maupun Pemerintahan 112
BAB 5 PENUTUP

115

5.1Kesimpulan

116

5.2Saran

116

LAMPIRAN

119

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

Daftar Gambar
Gambar 1-1 Ruang Lingkup dan Fokus Pengembangan Seni Rupa

10

Gambar 1-2 Perkembangan Seni Rupa Indonesia

22

Gambar 2-1 Peta Ekosistem Seni Rupa 

28

Gambar 2-2 Proses Kreasi Seni Rupa 

38

Gambar 2-3 Proses Produksi Seni Rupa 

40

Gambar 2-4 Proses Distribusi Seni Rupa 

42

Gambar 2-5 Proses Presentasi Rupa 

45

Gambar 2-6 Apresiasi dalam Seni Rupa 

54

Gambar 2-7 Peta Industri Seni Rupa 

64

Gambar 2-8 Model Bisnis Perupa Individu 

66

Gambar 2-9 Model Bisnis Organisasi Nonprofit 

67

Gambar 3-1 Nilai Tambah Subsektor Seni Rupa

73

Gambar 3-2 Ketenagakerjaan Subsektor Seni Rupa

74

Gambar 3-3 Kontribusi Unit Usaha Subsektor Seni Rupa

75

Gambar 3-4 Kontribusi Konsumsi Rumah Tangga Subsektor Seni Rupa

76

Gambar 3-5 Pertumbuhan Ekspor Subsektor Seni Rupa

79

Gambar 3-6 Daya Saing Subsektor Seni Rupa

90

Gambar 4-1 Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran Strategis Pengembangan Seni Rupa

103

xi

Daftar Tabel
Tabel 2-1 Kelompok, Komunitas, dan Lembaga Seni Rupa yang Pernah Terbentuk
hingga 2014

31

Tabel 2-2 Lembaga Pendidikan yang Memiliki Fokus Pendidikan Seni Rupa

36

Tabel 2-3 Galeri Seni Rupa

48

Tabel 2-4 Museum di Indonesia

56

Tabel 3-1 Kontribusi Ekonomi Subsektor Seni Rupa (2010-2013)

70

Tabel 3-2 Ekspor Ekonomi Kreatif Indonesia Tahun 2010-2013 (Juta Rupiah)

76

Tabel 3-3 Ekspor Seni Rupa (2010-2013)

77

Tabel 3-4 Data Penjualan Beberapa Karya Seni Rupa 

80

Tabel 3-5 Potensi dan Permasalahan Pengembangan Seni Rupa 

95

xii

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

Ringkasan Eksekutif
Penerbitan buku ini merupakan salah satu upaya untuk mendampingi kelengkapan buku Cetak
Biru Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2025. Pada buku Cetak Biru Seni Rupa ini,
upaya penelaahan lebih jauh mengenai sektor seni rupa Indonesia dilakukan dengan hasil berupa
paparan mengenai ekosistem seni rupa Indonesia, analisis potensi dan permasalahan, usulan rencana
strategis, serta analisis kebijakan dalam bidang seni rupa yang berorientasi pada pengembangan
industri dan ekosistem sektor seni rupa, khususnya dalam periode 2015-2019.
Metode yang digunakan dalam penyusunan buku ini adalah studi literatur mengenai sejarah
seni rupa Indonesia, wawancara mendalam (in-depth interview) dengan berbagai pelaku seni rupa
Indonesia, dan grup diskusi terfokus (focus group discussion) bersama para pelaku dan pemangku
kepentingan di bidang seni rupa, seperti para seniman, kurator, akademisi, peneliti, pemilik
galeri seni rupa, pengelola balai lelang, dan tim dari kementrian terkait yang dapat mewakili
suara dan aspirasi pemangku kepentingan secara umum, baik dari sisi pengembangan wacana,
industri maupun pendidikannya.
Hasil analisis dalam buku ini menunjukan adanya iklim yang sangat positif dalam perkembangan
seni rupa Indonesia secara umum, terlepas dari peran pemerintah yang masih sangat minim dalam
bidang ini. Beberapa potensi menunjukan kemampuan sektor seni rupa bisa memiliki daya saing
yang sangat tinggi bukan hanya di wilayah nasional, tapi juga di dunia internasional. Selain
bekerja sebagai individu, para pelaku di bidang seni rupa Indonesia banyak yang bergiat bersama
kelompok-kelompok yang tersebar di beberapa kota besar di Indonesia. Dengan penguasaan
teknologi dan jaringan yang mereka bangun secara mandiri, kiprah mereka dalam dunia seni
rupa nasional dan internasional bisa dikatakan sangat baik.
Salah satu permasalahan utama yang muncul dari hasil analisis dalam buku ini ialah mengenai
pemerataan. Kegiatan seni rupa di Indonesia masih cenderung terpusat pada beberapa kota besar
seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Bali. Selanjutnya, permasalahan lain muncul dari segi
pendidikan dan dukungan dari pemerintah untuk kegiatan berkesenian para pelaku seni rupa
di Indonesia. Jumlah perguruan tinggi atau sekolah seni rupa di Indonesia masih kurang jika
dibandingkan dengan jumlah penduduk di Indonesia saat ini, dan utamanya mereka hanya terdapat
di kota-kota besar saja. Kemudian, permasalahan pada regulasi pemerintah yang masih dinilai
tidak berpihak pada pelaku. Isu utama pada regulasi ini terdapat pada hal-hal yang berkaitan
dengan kebijakan ekspor-impor, HAKI serta perlindungan hukum bagi para pelaku seni rupa.
Hasil penelitian dan analisis yang dilakukan dalam penyusunan buku ini mengindikasikan tren
yang positif. Dengan mempertimbangkan potensi permasalahan di sektor seni rupa, terdapat
beberapa rujukan utama yang harus dilakukan dalam upaya pengembangan sektor seni rupa di
periode lima tahun ke depan, yaitu fokus di bidang pengembangan SDM, sosialisasi, pembangunan
infrastruktur, kebijakan bea dan cukai, dan dukungan pendanaan bagi Lingkungan Pengembangan.
Tindak lanjut mengenai langkah-langkah kongkrit yang akan dilakukan sangat disarankan
dengan melibatkan tim perumus profesional, para pelaku di sektor seni rupa, dan para pemangku
kepentingan bersama Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (KEMENPAREKRAF)
untuk mewujudkan Seni Rupa Indonesia berkualitas tinggi, berdaya saing, dan tersosialisasikan.

xiii

If you fail to plan, you are planning to fail.

xiv

Sumber: Benjamin Franklin

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

BAB 1
Perkembangan Seni Rupa
di Indonesia

1.1 Definisi dan Ruang Lingkup Seni Rupa Di Indonesia


Perkembangan seni rupa yang terjadi sangat pesat sejak awal 1900-an telah meluaskan definisi
seni rupa dan melahirkan keragaman dalam pendekatan penciptaan karya. Interaksi antarpelaku
dan usaha-usaha untuk menopang proses produksi, distribusi dan wacana perkembangan karya
sudah menciptakan suatu sistem tersendiri yang tiap sektornya perlu ditelaah dan dijabarkan agar
pemetaan atas ruang-ruang pengembangan seni rupa dapat dilakukan. Pemetaan tersebut sangat
penting bagi pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia. Untuk melandasi pemetaan tersebut,
perlu dicapai keseragaman paradigma seni rupa yang sesuai dengan perkembangan mutakhir.

S. Sudjojono, Pasukan Kita yang Dipimpin Pangeran Diponegoro (1979)


Sumber: theedgegalerie.com

1.1.1 Definisi Seni Rupa


Titik awal terjadinya seni berasal dari dorongan dalam diri manusia untuk berekspresi dan
menciptakan sesuatu. Dorongan itu tumbuh dan berkembang menjadi praktik seni individual yang
dalam perkembangannya mengambil isu, respon, maupun energi dari komunitas di sekelilingnya.
Dilihat dari asal-muasal kata, seni berasal dari bahasa Sansekerta yaitusani yang berarti
pelayanan, persembahan, dan pemujaan. Kata tersebut berkembang menjadi bahasa Melayu,Seni,
yang kemudian digunakan dalam bahasa Indonesia. Kata seni juga digunakan dalam bahasa
Malaysia dan Singapura. Pendapat lain menyatakan bahwa kata seni dalam bahasa Indonesia
juga berasal dari kata genie dalam bahasa Belanda yang berarti jenius.
Istilahseni kemudian diperluas menjadi seni murni untuk mendefinisikan bentuk seni yang
termanifestasi dalam bentuk tertentu. Penggunaan istilahseni murni setara dengan penggunaan
istilah fine arts atau istilahbeaux arts yang penggunaannya pertama kali ditekankan di Perancis

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

saat Academie des Beaux Arts didirikan pada pertengahan abad ke-17. Istilah seni murni
kemudian diperluas lagi menjadi seni rupa yang diartikan dari istilah bahasa Inggris,visual art.

Pameran Eko Nugroho di dArt moderne de la Ville de Paris, 2012


Sumber: mam.paris.fr

Dalam istilah seni rupa terkandung penambahan keberagaman bentuk seni murni yang mulanya
hanya berupa seni lukis dan seni patung. Seni Murni sendiri didefinisikan sebagai seni yang
mengutamakan nilai-nilai keindahan dan konsep intelektual sebagai tujuan penciptaannya. Kini,
dalam perkembangan mutakhir seni rupa Indonesia, konsep intelektual dan eksplorasi medium
turut menjadi nilai-nilai mendasar suatu karya seni. Mengenai eksplorasi medium dan keberagaman
bentuk yang dimaksud akan diterangkan pada bagian Ruang Lingkup Pengembangan Seni Rupa.
Sementara itu, kurator seni rupa Jim Supangkat, dalam esainya The Seni Manifesto yang
ditulis pada 2009, mengungkapkan pentingnya istilah kagunan dalam bahasa Jawa untuk
mendeskripsikan konsep seni rupa, yaitu sebagai produk kegiatan yang menggambarkan kehalusan
jiwa manusia yang indah.
Melihat perkembangan seni rupa, baik dari tujuan penciptaannya, dinamika sistemnya, maupun
keberagaman penggunaan medium, maka dapat disimpulkan bahwa seni rupa adalah: cabang seni
yang mengutamakan manifestasi ide atau konsep sang seniman menjadi bentuk yang menstimulasi
indra penglihatan, yang dalam perkembangannya telah melampaui keterbatasan visual itu sendiri.
Seni rupa telah lama membuka dirinya pada pengalaman pendengaran (audiotory), interaksi
rabaan (tactile), dan stimulasi intelektual bagi pemirsanya. Semua pilihan medium dan metode
ini berdasar pada suatu konsep intelektual sang penciptanya.1

(1)Sumber: Focus Group Discussion Subsektor Seni Rupa, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (MeiJuni 2014).

BAB 1: Perkembangan Seni Rupa di Indonesia

Dasar dari penciptaan seni rupa mutakhir adalah ide atau konsep yang diwujudkan melalui
suatu bahan yang dipilih sebagai sarana untuk menyampaikan ide maupun konsep tersebut.
Bahan, material, alat, atau yang biasa disebut sebagai medium dalam dunia seni rupa, kini
sangat beragam hingga melampaui wujud seni rupa era pramodern di Barat yang masih berupa
patung dan lukisan.
Wujud karya seni rupa mutakhir bukan hanya dibuat untuk menciptakan pengalaman visual
yang kasat mata, melainkan juga untuk menciptakan pengalaman audio melalui pendengaran,
misalnya dengan susunan suara yang sering disebut sound art; melalui pengalaman sentuhan
atau rabaan melalui interaksi penonton terhadap karya; juga melalui stimulasi intelektual, ketika
karya dirancang untuk membuat penonton berpikir ulang, terkadang sampai merespons untuk
melengkapi karya tersebut.
Dalam konteks ekonomi kreatif, industri seni rupa merupakan sistem yang berlandaskan intelektual
serta pemahaman dan keahlian penciptaan nilai-nilai estetika. Sistem yang ditimbang, dikoordinasi
dan didukung oleh teknologi tersebut dapat mendukung keberlanjutan perkembangan bangsa
yang kreatif, memiliki pasar yang sehat, dan produksi yang berkualitas. Pemicu produktivitas
sistem tersebut adalah hasrat berekspresi, berbagi ilmu pengetahuan, dan kerja kolektif.
Hasrat berekspresi adalah pemicu paling awal dari kegiatan kesenian. Hasrat tersebut, yang
merupakan dorongan yang hadir terus-menerus pada setiap individu, menjadi energi utama
dari semua kerja kreatif. Hasrat itu lalu disalurkan secara spesifik dan sistematis dalam proses
berbagi ilmu pengetahuan, melalui pengajaran mengenai teknis maupun elaborasi ide, baik
secara formal maupun nonformal. Kerja kolektif merupakan aktivitas yang tepat untuk
mendukung produktivitas pelaku seni karena memperlancar proses berbagi ilmu pengetahuan.
Dalam kerja kolektif, terjadi proses diskusi, berlangsungmasukan (input) dan keluaran (output)
untuk mengembangkan praktik berkesenian, dan terbentuk jejaring distribusi. Melalui kerja
kolektif pula, seni memposisikan dirinya dalam masyarakat dengan menyerap, merespons, dan
mengekpresikan situasi sosial dan budayatempat seni itu tumbuh dan berkembang. Dalam
hampir semua kasus, seni rupa mutakhir turut menjadi proses investigasi maupun penelitian
sosialia mengamati, menyimpulkan, dan kadang memecahkan masalah. Penggunaan kreativitas
di dalam praktik bermasyarakat menandakan masyarakat yang sehat, sadar akan potensi diri,
dan percaya pada kebebasan berekspresi.
Oleh karena itu, definisi seni rupa dalam konteks ekonomi kreatif adalah:

Penciptaan karya dan saling berbagi pengetahuan


yang merupakan manifestasi intelektual dan keahlian
kreatif, yang mendorong terjadinyaperkembangan
budaya dan perkembangan industri dengan nilai
ekonomi untuk keberlanjutan ekosistemnya.2

(2)Ibid.

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

Berdasarkan definisi tersebut, terdapat beberapa kata kunci yang merupakan karakteristik utama
dari seni rupa itu sendiri, yaitu:
1. Penciptaan karya proses perwujudan gagasan atau ide menjadi sebuah bentuk karya
seni. Penciptaan karya adalah inti dan pusat dari seni rupa.
2. Saling berbagi pengetahuan pengetahuan dan kajian seni rupa merupakan faktor penting
untuk hadir bersama karya tersebut. Termasuk juga pengetahuan dan kajian tentang
konteks sosial, budaya, dan politik di mana karya tersebut diciptakan.
3. Manifestasi intelektual dasar dari penciptaan karya adalah perwujudan dari gagasan
pikiran intelektual penciptanya.
4. Keahlian kreatif perwujudan karya terjadi dengan penggunaan keahlian di bidang kreatif.
5. Mendorong perkembangan budayaperkembangan seni rupa mendorong perkembangan
budaya nasional melalui gagasan kreatif yang baru dan segar. Secara bersamaan,
perkembangan seni rupa menunjukkan dan merekam kemajuan budaya nasional.
6. Perkembangan industri dengan nilai ekonomi untuk keberlanjutan ekosistem
perkembangan industri yang memberi timbal-balik ekonomi bagi pelaku dan sistemnya
diperlukan untuk keberlanjutan ekosistem. Dalam seni rupa, sekalipun tujuan penciptaan
karya bukanlah demi nilai ekonomi, timbal-balik ekonomi tetap dibutuhkan untuk
menopang proses penciptaan karya tersebut.

1.1.2 Ruang Lingkup Pengembangan Seni Rupa


Ruang lingkup seni rupa dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang, diantaranya adalah
berdasarkan perkembangan budaya, akademis, dan produk yang dihasilkan.
Berdasarkan perkembangan budaya, seni rupa di Indonesia dibedakan menjadi tiga bagian:
1. Seni Rupa Klasik adalah bentuk seni rupa yang memiliki pola estetika yang tetap, tidak
berubah sejalan dengan waktu dan perkembangan budaya. Seni rupa klasik telah mencapai
puncak kejayaannya di masa lalu, yang berarti tidak diantisipasi untuk kembali dan
berkembang di masa kini. Dalam konteks Indonesia, puncak kejayaan seni rupa klasik
Indonesia terjadi pada masa kerajaan-kerajaan HinduBuddha yang berjaya pada sekitar
abad ke-4 sampai abad ke-17. Salah satu ciri fisik dari karya seni rupa klasik ialah memiliki
warna-warna yang terbatas pada warna alam: tanah, daun, kayu, batu, gading, dsb.
2. Seni Rupa Tradisional adalah bentuk seni rupa yang mengikuti pola dan bentuk-bentuk
tertentu berdasarkan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Seni rupa tradisional
dilestarikan tanpa terjadi perubahan yang besar dalam teknik, konsep, bentuk estetika,
dan filosofi simbolik, untuk menjaga eksistensi makna dan nilai tradisi yang diwariskan.

Seni rupa tradisional di Indonesia sangatlah beragam dan beberapa di antaranya terkait erat
dengan seni rupa tradisional Melayu dan Peranakan di negara sekitar Nusantara lainnya,
yaitu Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Pada umumnya, seni rupa tradisional
digunakan untuk keperluan upacara adat. Diletakkan dalam konteks Indonesia sebagai
satu bangsa, seni rupa tradisional merupakan perwujudan keberagaman dari kelompok
budaya tertentu.

Demi keberlanjutan dan perkembangan seni rupa tradisional, diperlukan perhatian khusus
pada usaha-usaha perlindungan sebagai bagian dari pelestarian budaya, dan diharapkan
adanya pembedahan dan pemetaan khusus bagi seni rupa tradisional. Selain itu, penerapan
seni rupa tradisional dalam konteks industri kreatif banyak digunakan dalam seni terapan,
yaitu seni kriya, yang bisa dipahami lebih detail dalam konteks pengembangan kerajinan
tradisional.

BAB 1: Perkembangan Seni Rupa di Indonesia

3. Seni Rupa Modern dan Seni Rupa Kontemporer. Sekalipun dalam praktiknya seni rupa
di tanah air mengusung konsep dan estetika budaya Indonesia, terminologi dan konsep
dasar seni rupa modern dan seni rupa kontemporer turut dipengaruhi oleh konsep seni
rupa global. Seni rupa modern dalam konteks global berkembang sejak 1860 hingga awal
1970-an. Perubahan revolusioner dalam ilmu pengetahuan, industri, dan masyarakat
pada masa itu memberikan pengaruh yang sangat kuat pada seni rupa yang kemudian
menghasilkan formulasi baru mengenai teori-teori estetika, pengembangan teknik dan
material baru, dan perubahan status para seniman.
Seni rupa modern menantang pandangan sebelumnya, bahwa seni harus mengimitasi
kenyataan, salah satunya melalui kemunculan aliran-aliran seperti kubisme dan surealisme
yang merupakan dekonstruksi dari bentuk-bentuk nyata. Di Indonesia, karya-karya seni
rupa modern yang mengusung gagasan tentang masyarakat modern, dimulai dari karyakarya PERSAGI (Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia). Pada karya-karya PERSAGI,
mulai terlihat pembentukan karakter seni berjiwa nasionalis.
Dalam konteks global, keberadaan seni rupa kontemporer sudah dapat dideteksi sejak
akhir 1940-an. Di Indonesia sendiri, seni rupa kontemporer mulai dipopulerkan oleh
Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia pada 1970-an. Definisi mendasar seni rupa kontemporer
adalah seni yang berkembang pada masa kini dan merupakan respons dan representasi
dari situasi mutakhir sosial dan budaya.

Apa yang kami namakan seni rupa modern


Indonesia bukanlah lanjutandalam bentuk apa
pun juga, jadi bukan transformasidari seni rupa
tradisional, baik seni rupa tradisional salah satu,
maupun semua kelompok etnis. Seni rupa modern
bukan lanjutan seni rupa tradisional. Namun tetap ia
harus berangkat dari seni rupa yang sudah ada.
Sanento Yuliman, Kelahiran Seni Rupa Modern di Indonesia, Dua Seni Rupa: Serpihan Tulisan Sanento Yuliman
(Jakarta: Yayasan Kalam, 2001).

Dalam pembagian akademis di sekolah tinggi seni rupa Indonesia, Seni Rupa terbagi menjadi
Seni Murni dan Seni Terapan. Seni Murni adalah seni rupa yang mengutamakan nilai estetika
dibandingkan kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari, sedangkan Seni Terapan menerangkan
karya seni rupa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan bertujuan melayani nilai fungsi
tertentu di samping nilai seni yang dimilikinya. Sebagaimana halnya seni rupa klasik dan seni
rupa tradisional Indonesia bukan berasal dari seni murni, seni rupa murni juga tidak lahir dan
berkembang dari seni rupa klasik dan seni rupa tradisional, sekalipun ada kalanya mengadopsi
bentuk-bentuk estetika seni rupa klasik dan seni rupa tradisional.
Untuk pengembangan subsektor Seni Rupa, ruang lingkup Produk Seni yang perlu dikembangkan
mencakup Karya Seni Rupa dan Produk Pengetahuan yang saling membutuhkan untuk menjadi

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

penggerak pertumbuhan seni rupa Indonesia. Karya seni rupa penting untuk dikembangkan
bersamaan dengan kajian terhadapnya. Produk Pengetahuan bukan hanya mengelaborasi studi
tentang karya, melainkan juga melakukan penelaahan tentang konteks sosial dan budaya dalam
penciptaan karya seni rupa.
Produk Seni dalam bentuk Karya Seni Rupa dapat dibedakan berdasarkan ruang lingkup bentuk
dan ruang lingkup medium.
Berdasarkan ruang lingkup bentuk:
1. Karya Dua Dimensi (2D). Karya yang memiliki dimensi panjang dan lebar, dan tidak
memiliki dimensi kedalaman.
2. Karya Tiga Dimensi (3D). Karya yang memiliki dimensi panjang, lebar, dan kedalaman,
atau volume.
3. Ruang dan Waktu.Karya-karya berbasis ruang dan waktu. Karya berbasis ruang adalah
karya yang menggunakan ruang sebagai salah satu unsur pembentuknya, antara lain
adalah: seni rupa di ruang publik (publik art) dan seni lingkungan (enviromental art). Karya
berbasis waktu adalah karya yang memiliki rentang waktu dalam proses presentasinya,
misalnya seni performans (performance art), seni video (video art), dan seni interaktif
(interactive art).
Performance art harus dibedakan dari performing art (seni pertunjukan: tari, teater, musik,
dll.). Berbeda dengan performing art, performance art terbebas dari berbagai struktur produksi
yang biasa diterapkan dalam performing art, misalnya performance art bisa dihadirkan di luar
panggung, diantara dan berinteraksi spontan dengan penonton, atau bahkan dihadirkan di
ruang yang sangat privat, misalnya di studio atau ruang tidur seniman. Performance art dalam
produksinya terbebas dari keharusan untuk memiliki plot, penyutradaraan, panggung, maupun
koreografi.
Terminologi performance art mulai ditekankan pada sekitar 1960, walaupun pada awal 1900an kelompok Futurist di Paris sudah menjalankan praktik performance art, yang menekankan
penggunaan tubuh sebagai medium, dengan pengalaman atas tubuh sebagai tujuannya. Seiring
dengan perkembangan media art, performance art menggunakan teknologi untuk proses produksi,
distribusi, maupun pengarsipan. Performance art di Indonesia mulai tumbuh dan berkembang
pada 1970-an seiring dengan kemunculan Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia. Performance art
dalam presentasinya kadang juga dilakukan untuk merespons suatu seni instalasi.

Berdasarkan ruang lingkup medium yang umum digunakan, maka produk karya seni dapat
dikelompokkan sebagai berikut:
1. Lukis. Teknik lukis umumnya menggunakan cat minyak, cat air, cat akrilik, tinta cina,
dan eksperimentasi pigmen lainnya tidak terbatas.
2. Gambar. Teknik gambar umumnya menggunakan pensil, charcoal, konte, ballpoint,
marker, dan sebagainya.

BAB 1: Perkembangan Seni Rupa di Indonesia

3. Fotografi. Teknik fotografi adalah gambar yang diambil menggunakan kamera, karya
fotografi bisa dicetak di berbagai bentuk datar untuk menciptakan karya dua dimensi,
bisa juga dicetak di bentuk tiga dimensi atau bahkan dipresentasikan dalam bentuk digital
tanpa melalui proses cetak.
4. Seni grafis. Teknik grafis adalah teknik cetak di permukaan datar. Teknik Grafis Indonesia
sangatlah beragam dan boleh dibilang lebih kaya daripada yang digunakan di Barat,
diantaranya yang sering digunakan adalah: teknik cukil kayu (woodcut), litografi (di atas
batu), etsa (di atas metal), drypoint (umumnya di atas kaca atau metal), sablon, dan stensil.

Tisna Sanjaya, Pesta Pencuri, Etsa (1988)


Sumber: universes-in-universe.org

5. Mural yaitu lukisan di dinding atau di bangunan, baik di ruang publik maupun pribadi.
6. Patung. Patung memiliki banyak medium: kayu, batu, resin, tembaga, dll.
7. Keramik. Keramik bisa berupa patung maupun bentuk lain, baik dengan menggunakan
teknik cetak ataupun hand-sculpting.
8. Tekstil atau kain, yaitu karya seni yang menggunakan tekstil atau kain sebagai mediumnya.
Bisa berupa karya dua dimensi yang diaplikasikan pada kain, atau penggunaan kain yang
sudah jadi untuk membentuk karya tiga dimensi.
9. Seni Instalasi adalah bentuk seni yang menggunakan beberapa benda untuk menciptakan
satu susunan karya. Benda itu bisa berupa objek temuan ( found object) atau benda yang
khusus diciptakan untuk keperluan karya tersebut. Seni Instalasi juga bisa menggunakan
suara, ruang, sinar, dan medium-medium media art.
8

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

10. Media Art mencakup bentuk seni rupa yang menggunakan teknologi dalam proses
produksi, presentasi, dan distribusi karyanya. Media art juga mencakup seni yang
berbasis waktu dan ruang. Media art juga disebut seni media baru. Kata media atau
media baru sebenarnya merujuk pada perkembangan teknologi komunikasi. Bentuk
seni rupa yang disebut sebagai media art diantaranya adalah video art, digital art, pixel
art, sound art, scannography, dll. Scannography didefinisikan sebagai teknik menangkap
gambar dengan menggunakan mesin scanner. Berbeda hasilnya dengan fotografi, gambar
yang ditangkap dengan teknik scannography hampir tidak memiliki kedalaman ruang,
dan jarak penjajaran antara benda tertekan hingga sedatar mungkin.

Angki Purbandono, Diamond Fish


Sumber: cemetiarthouse.com

11. Tubuh, misalnya dalam seni performans (performance art) dan seni interaktif (interactive
art). Seni performans dan seni interaktif juga menggunakan teknologi media untuk
dokumentasi dan distribusi.
12. Lingkungan, misalnya land art, ketika seniman membangun karya seninya menggunakan
bahan-bahan yang tersedia di lingkungan, misalnya tanah, batu, air, dll. Pada umumnya
land art tidak bersifat permanen dan dibiarkan lebur dengan kondisi lingkungan.
Dalam budaya seni kontemporer, ruang lingkup medium terus bertambah dan tidak terbatas.
Produk seni dalam bentuk Produk Pengetahuan, meliputi:
1. Tulisan, dalam bentuk tulisan kuratorial, artikel di media massa, esai, dll.
2. Presentasi, dalam proses distribusi pengetahuan, metode presentasi digunakan misalnya
dalam acara-acara seperti lokakarya, simposium, dll.
BAB 1: Perkembangan Seni Rupa di Indonesia

3. Proses dan hasil riset, termasuk proses penelitian dan hasilnya yang dituliskan dalam
bentuk esai, pengarsipan, atau diwujudkan dalam bentuk karya seni.
4. Jasa yang menggunakan pengetahuan khusus, misalnya kuratorial, lighting designer,
konsultan seni rupa, dll.
5. Program acara seni yang mengakomodasi terjadinya distribusi ilmu dan pengetahuan,
misalnya festival seni, pameran, lokakarya, seni interaksi, dll.
Pengelompokan seni rupa tersebut dapat dirangkum dalam diagram berikut ini.
Gambar 1-1 Ruang Lingkup dan Fokus Pengembangan Seni Rupa
SENI RUPA

BERDASARKAN
LINGKUP BUDAYA

Seni Modern
dan
Seni Kontemporer

Seni Tradisional

BERDASARKAN
LINGKUP
AKADEMIS

BERDASARKAN
LINGKUP
PRODUK

Seni Terapan

2 Dimensi

Bentuk

Karya Seni

Seni Murni

3 Dimensi

Ruang dan Waktu

Medium

Seni Klasik

Lukis

Gambar
Produk
Pengetahuan

Keterangan:
Ruang lingkup pengembangan
Inspirasi bagi lingkungan pengembangan
Tidak menjadi fokus pengembangan
Kategori Ruang Lingkup

Tulisan

Fotografi

Presentasi

Seni Grafis

Riset

Mural

Jasa

Patung

Program

Keramik

Acara Seni

Tekstil

dll

Instalasi

Media Art

Tubuh

Lingkungan

Berdasarkan perkembangan dan pemahaman mengenai seni rupa itu sendiri, maka fokus
pengembangan seni rupa dalam konteks ekonomi kreatif yang disarankan untuk dikembangkan
pada periode 20152019 adalah seni rupa modern dan kontemporer yang berdasar pada

10

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

nilai-nilai seni murni dengan menyertakan seni rupa tradisional sebagai sektor yang menjadi
inspirasi, sambil tidak menutup kemungkinan bagi bentuk perkembangan seni rupa tradisional
agar dapat tersalurkan dalam ruang seni rupa modern dan kontemporer.

1.2 Sejarah dan Perkembangan Seni rupa


1.2.1 Sejarah dan Perkembangan Seni Rupa Dunia
Untuk memahami keterkaitan sejarah seni rupa Indonesia dengan seni rupa dunia, maka kita
perlu melihat posisi regional Indonesia, yaitu Asia Tenggara. Sayangnya, saat membicarakan
sejarah regional seni rupa Asia Tenggara, kita akan metemukan konflik spesifik: pembentukan
Asia Tenggara sebagai wilayah regional adalah keputusan politik perdagangan, bukan karena
kesatuan akar budaya yang sama. Kondisi ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan
pencatatan sejarah seni rupa Asia Tenggara tidak cukup komprehensif seperti pencatatan sejarah
seni rupa Barat atau bahkan lebih minim daripada sejarah Asia Selatan sebagai satu lokasi regional.
Maka, ketika kita membicarakan sejarah seni rupa dunia, acuan dan aliran yang sering digunakan
sekaligus mendominasi adalah acuan seni rupa barat.

Patung Venus of Willendorf dari Austria


Sumber: melissanemitz.wordpress.com

Jejak seni rupa dapat ditemukan mulaizaman Paleolitikum (zaman Batu sekitar 3000 SM),
sejak patung Venus of Willendorf ditemukan di Austria. Jejak-jejak dari zaman Mesopotamia
Kuno dan Mesir Kuno, berupa tulisan dan gambar-gambar di dinding gua yang menceritakan
sejarah kepahlawanan, juga merupakan bagian dari periode awal sejarah seni rupa. Jejak yang
sangat kaya ditemukan dari zaman Yunani Kuno (800 SM) dan Romawi Kuno (500 SM). Saat
itu, teknik realisme yang berusaha mencapai kesempurnaan pada gambar-gambar para dewa
sangat terlihat. Pada sekitar masa itu jejak sejarah Asia Selatan, Jepang, dan China pada 700 SM
mulai ditemukan. Karya-karya seni yang berasal dari Asia memiliki karakteristik yang berbeda
daripada yang berasal dari Barat. Spiritualisme mendominasi karya-karya dari Asia. Secara visual,

BAB 1: Perkembangan Seni Rupa di Indonesia

11

berbeda dengan yang dilakukan di Barat, kemewahan dekoratif mengalahkan usaha pencarian
bentuk realisme.
Jejak seni dari kerajaan Konstantinopel di Eropa juga merupakan bagian sejarah seni rupa
yang penting untuk ditilik. Salah satunya adalah arsitektur Hagia Sophia yang menunjukkan
kejayaan kerajaan Kristen Eropa, sebelum kerajaan tersebut jatuh ke tangan bangsa Turki yang
kemudian mengubah fungsi Hagia Sophia, dari gereja menjadi masjid. Pada awal sejarah seni
rupa, keberadaan arsitektur dan seni rupa kerap disandingkan.
Kejayaan seni pada jaman tersebut berlanjut ke zaman Renaissance (14301550 M), pada masa
kelahiran para maestro seperti Michaelangelo dan Leonardo Da Vinci.Pada masa itu, peran gereja
dalam kerja komisi dan koleksi seni rupa sangatlah besar. Seni, sebagai alat propaganda gereja,
terutama oleh Gereja Katolik di Roma, semakin kental dipraktikkan pada periode Baroque
(16001700-an M), pada saat konflik antara Katolik dan Protestan memanas. Seniman-seniman
seperti Caravaggio, Reubens, dan Rembrandt berkarya pada periode Baroque ini. Periode-periode
seni berikutnyaromantisisme, realisme, dan Impresionisme (akhir 1800-an M)lebih merayakan
kebebasan individual, revolusi rakyat, dan isu sosial.

Lukisan karya Caravaggio berjudul Incredulity of Saint Thomas (1601)


Sumber: legatumorilatina.it

Setelah Perang Dunia I, seni cenderung menuntut kebebasan bereksperimen melalui


dekonstruksi bentuk visual dan persepsi. Pada era yang disebut Era Seni Modern ini, lahir
gerakan-gerakan seperti Kubisme, Futurisme, Dadaisme, dan Surealisme. Karya Marcel
Duchamp,Fountain (1917), yang merupakan objek temuan ( found object) berupa jamban
yang dipajang sebagai karya seni, selain menjadi ikon perlawanan atas persepsi estetika pada
masa itu juga merupakan revolusi seni konseptual. Filsuf dan seniman seperti Andre Breton,

12

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

Picasso, Frida Kahlo, Henri Matisse menjadi ikon era itu. Karya Edvard Munch, The Scream,
yang sempat menempati posisi sebagai karya termahal di dunia, juga diciptakan pada era itu.
Pasca-Perang Dunia II, seni semakin membebaskan dirinya dari persepsi bentuk. Konsep dan
bentuk dalam pop art, Fluxus, happening art, performance art, video art, land art, selain mengaburkan
batasan seni dan publik, juga membebaskan seni dari keterbatasan bentuk dan mediumnya.
Kecenderungan seni untuk terus merespons fenomena di sekelilingnya membuat seni kerap
menantang seni sebelumnya. Postmodernism, atau pasca-modernisme, hadir sebagai respons
atas seni modern dengan menolak persepsi tunggal, menjadikan seni sebagai ajang investigasi
sosial, budaya, maupun politik. Dari pandangan itulah seni kontemporer lahir dan berkembang,
memposisikan dirinya untuk mengikuti perkembangan dan perubahan terkini tanpa terbelenggu
persepsi tunggal. Seniman-seniman pada era seni kontemporer, salah satunya adalah Cindy
Sherman, Gerhard Richter, Marina Abramovic, dan Ai Wei Wei.
Jika kita fokus pada perkembangan seni rupa Asia Tenggara sebagai lokasi regional Indonesia,
maka dapat dilihat bahwa pengaruh kolonialisme dan keragaman budaya Hindu, Buddha,
Muslim, China, Melayu, dan India turut membentuk akar budaya Asia Tenggara yang sporadis
dan beragam. Selain itu, seni tradisi dan seni klasik banyak mengalami kepunahan.Penyebabnya,
antara lain, karena medium-medium seni tradisi dan seni klasik kebanyakan berasal dari bahan
yang mudah rusak.Kepunahan seni tradisi dan seni klasik juga terjadi karena tidak terkontrolnya
arus arus perdagangan budaya pada zaman kolonial, yang menjadikan karya seni tradisi dan
seni klasik sebagai benda dagangan yang eksotis. Ikon terpenting dan terbesar dari karya seni
Nusantara adalah Candi Borobudur.
Pada 2000-an, fokus dunia terhadap seni rupa mulai beralih ke Asia Tenggara, terutama setelah
seni rupa China sempat menjadi primadona. Berbagai kajian dan pameran yang berfokus pada
perkembangan seni rupa Asia Tenggara semakin banyak dilakukan. Pada saat ini, karya-karya seni
rupa dari Indonesia dan Filipina yang memiliki komunitas seni rupa terbesar di Asia Tenggara
tampak semakin menonjol. Seni rupa dari Vietnam dan Thailand pun berkembang dengan pesat
di forum global. Sementara itu, Singapura menjadi negara yang memiliki infrastrukturpaling
stabil di Asia Tenggara. Hal itu disebabkan oleh sistem sentralisasi yang didirikan pemerintahnya.
Singapura mendirikan National Heritage Board yang mengayomi sejumlah museum, institusi,
dan pusat konservasi yang berperan sangat aktif dalam program koleksi dan program publik
mereka. Program publiknya berupa program edukasi, pameran, pemutaran video dan film, dan
program-program lain yang melibatkan interaksi publik, termasuk program untuk anak-anak,
pelajar, dan mahasiswa.
Pada 2013, Guggenheim Museum of New York berinisiatif membuat pameran dan koleksi yang
berfokus pada Asia Tenggara. Kuratornya, June Yap, yang berasal dari Singapura, memilih
sejumlah karya-karya penting dari Asia Tenggara, di antaranya adalah karya Arin Sunaryo dan
Reza Afisina dari Indonesia. Pada tahun yang sama, Singapore Art Museum memutuskan untuk
berfokus pada Asia Tenggara melalui Singapore Biennale 2013 yang mereka adakan. Bienial
bertajuk If The World Changed tersebut melibatkan 27 kurator Asia Tenggara dan 85 seniman
asal Asia Tenggara dan dunia, yang berfokus pada isu-isu regional Asia Tenggara. Bienial, atau
dalam istilah Inggrisnya Biennale, adalah pameran besar seni rupa yang diadakan setiap dua
tahun sekali di suatu kota yang sama. Singapore Biennale 2013 melibatkan dua kurator dan
sepuluh seniman asal Indonesia.

BAB 1: Perkembangan Seni Rupa di Indonesia

13

Karya ruangrupa pada pameran 7th Asia Pacific Triennial of Contemporary Art (2013)
Sumber: thejakartapost.com

Eko Prawoto, Wormhole, Instalasi bambu, Singapore Biennale 2013


Sumber: designboom.com

14

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

Salah satu Biennale internasional di Asia Tenggara yang diadakan secara konsisten adalah Jakarta
Biennale dan Biennale Jogja, keduanya diselenggarakan di Indonesia oleh pelaku seni Indonesia.
Asia Tenggara juga memiliki dua festival seni rupa berskala internasional, diantaranya adalah
Singapore Art Festival dan OK. Video International Video Festival di Jakarta, Indonesia.
Selain itu, pelaku seni Asia Tenggara banyak melakukan kajian dan pameran dalam skala yang
lebih kecil, dengan tema-tema mengenai perkembangan seni Asia Tenggara, diantaranya adalah
Riverscapes Influx, pameran mengenai ekologi dan perubahan budaya di sekitar sungai-sungai
utama yang mendominasi Asia Tenggara. Proyek pameran keliling tersebut dikerjakan oleh
enam kurator Asia Tenggara, salah satunya Ade Darmawan dari Indonesia, dan melibatkan
17 seniman. Pada 2014 diadakan pula Concept Context Contestation, sebuah pameran besar
seni rupa kontemporer Asia Tenggara,yang dipamerkan pertama kali di Bangkok, sebelum
dipamerkan di sejumlah negara lain. Tiga kurator yang terlibat dalam pameran ini adalah Iola
Lenzi (Singapura), Agung Hujatnikajennong (Indonesia), dan Vipash Purichanont (Thailand).
Pameran ini melibatkan 30 seniman dari delapan negara.

Jompet Kuswidananto, Ghost Soldiers


Sumber: surfaceasiamag.com

Sejak pertengahan 2000-an, pasar seni rupa Asia Tenggara juga semakin berkembang pesat.
Galeri-galeri di Asia Tenggara marak mewarnai art fair bergengsi di berbagai belahan dunia. Ada
sejumlah art fair yang cukup besar di Asia Tenggara, salah satunya adalah Art Stage Singapore
dan Affordable Art Fair di Singapura; ManilART di Filipina, dan ART|JOG di Yogyakarta,
Indonesia. Pada 2010, Art Stage Singapore mengadakan Indonesian Pavilion yang berfokus sekaligus
memberikan ruang khusus bagi karya-karya Indonesia. Paviliun khusus tersebut menunjukkan
kuatnya potensi pasar seni rupa Indonesia di dunia internasional.

BAB 1: Perkembangan Seni Rupa di Indonesia

15

Terkait dengan maraknya aktivitas seni rupa Asia Tenggara, museum dan galeri dunia yang
mendominasi aktivitas koleksi seni rupa kontemporer Asia Tenggara adalah Singapore Art Museum,
Queensland Art Gallery Australia, Mori Museum Tokyo, dan Fukuoka Asian Art Museum.
Seni rupa global saat ini berkembang menuju bentuk-bentuk kolaborasi antarnegara, dengan
Asia dan Asia Tenggara sebagai fokusnya. Banyaknya dukungan global yang berfokus pada
Asia Tenggara tersebut menunjukkan adanya harapan besar bagi seni rupa Asia Tenggara untuk
berkembang. Dukungan-dukungan tersebut biasanya berbentuk kolaborasi, pameran, pendanaan
dari organisasi pendonor internasional; maupun pengembangan wacana berupa diskusi, riset, dan
penulisan mengenai seni rupa Asia Tenggara.

1.2.2 Sejarah dan Perkembangan Seni Rupa Indonesia


Jejak seni rupa Indonesia mulai terlihat sejak Raden Saleh kembali dari belajar seni rupa di Eropa
untuk berkarya dan mengajar di Indonesia pada 1857. Sejak saat itu, seni rupa Indonesia mulai
mendapat pengaruh dari seni rupa global.
Seni Rupa Indonesia berkembang bersamaan dengan keberadaankebudayaan nasional Indonesia,
yang dimulai dari pendirian Taman Siswa oleh Ki Hadjar Dewantara pada 1922. Pada masa itu,
pendidikan mulai menunjukkan fokus pada pendidikan seni dan budaya. Muncul pula insiatifinisiatif yang dilakukan oleh pelaku kreatif dalam perkembangan seni rupa, salah satu yang
pertama adalah komunitas Pita Maha di Bali. Komunitas ini didirikan oleh dua seniman Barat
yang menetap di Bali, yaitu Walter Spies dan Rudolf Bonnet, bersama dengan dua seniman Bali,
Cokorda Agung Sukawati dan Cokorda Raka Gde Sukowati.

Suasana Rapat Tahunan PERSAGI


Sumber: alixbumiartyou.blogspot.com

16

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

Pada 1938, S. Sudjojono dan Agus Djaja mendirikan PERSAGI (Persatuan Ahli-ahli Gambar
Indonesia). Sejak itulah seni rupa modern Indonesia mulai menunjukkan identitas nasional yang
jelas. PERSAGI mengkritik seni rupa Indonesia sebelumnya yang mereka sebut sebagai Mooi
Indie (Hindia Jelita), yaitu karya-karya yang semata-mata menggambarkan keindahan alam dan
keharmonisan rakyat Indonesia, sebagai seni yang menjual eksotisme Indonesia dan tunduk pada
pandangan kolonialisme. Pada masa pendudukan Jepang, pemerintah Jepang mendirikan Pusat
Kebudayaan bernama Kheimin Bunka Shidoso yang berfokus pada perkembangan seni budaya
Indonesia demi agenda propaganda Jepang. Dalam waktu kurang dari tiga tahun, seni lukis
Indonesia berkembang pesat, salah satunya karena Kheimin Bunka mengadakan banyak pameran.
Setelah Indonesia merdeka, sejak awal pemerintahan Presiden Sukarno hingga awal 1950, infrastruktur
seni rupa, baik yang akademis maupun yang organik, mulai terbentuk. Pada 1947, didirikan cikal
bakal Fakultas Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB). Pada 1950, didirikan Akademi Seni
Rupa Indonesia (sekarang bernama Institut Seni Indonesia) di Yogyakarta. Selain itu, sanggarsanggar seni rupa mulai bermunculan, di antaranya adalah Sanggar Bambu dan Sanggar Bumi
Tarung. Pada 1975, terbentuk Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia (GSRBI) sebagai reaksi dari
peristiwa Desember Hitam setahun sebelumnya. Dalam peristiwa tersebut, sejumlah mahasiswa
seni rupa di Indonesia memprotes penjurian Pameran Besar Seni Lukis Indonesia (cikal-bakal
Jakarta Biennale) yang mereka anggap membatasi perkembangan nilai-nilai seni rupaIndonesia.
Tokoh-tokoh GSRBI di antaranya adalah Jim Supangkat, F.X. Harsono, dan Dede Eri Supria.
Pada 1988, Galeri Seni Cemeti (kini Rumah Seni Cemeti atau Cemeti Art House) didirikan di
Yogyakarta oleh Mella Jaarsma dan Nindityo Adipurnomo. Galeri Seni Cemeti mulai membawa
seni rupa kontemporer Indonesia ke kancah internasional, diantaranya melalui pameran AWAS!
Recent Art from Indonesia pada 1999 yang dipamerkan di berbagai negara di Eropa dan Asia.
Cemeti turut mendirikan lembaga pengarsipan seni rupa Indonesia, yaitu Yayasan Seni Cemeti
(sekarang Indonesian Visual Art Archive, disingkat IVAA). Sejak 1990-an, kehadiran komunitas
seni di Indonesia semakin marak dan secara langsung mempercepat perkembangan seni rupa
Indonesia, di antaranya adalah Kelompok Seni Rupa Jendela, yang didirikan pada 1997 dan
secara signifikan berhasil menembus pasar global.
Indonesian Visual Art Archive sebelumnya bernama Yayasan Rumah Seni Cemeti (YSC). YSC
didirikan pada 1995 oleh Rumah Seni Cemeti sebagai lembaga arsip seni rupa Indonesia. Pada
2007, YSC berganti nama menjadi Indonesian Visual Art Archive (IVAA). Dipimpin oleh Farah
Wardani, sejak 2008 IVAA menjalin kerjasama dengan berbagai lembaga arsip di Indonesia
melakukan digitalisasi arsip. Pada 2010, IVAA meresmikan situs arsip dalam jaringannya (online). IVAA juga aktif dalam mempublikasikan buku-buku seni rupa dan menyelenggarakan
berbagai diskusi seni dan lokakarya untuk pelaku seni dan publik umum. Sampai akhir 2013,
IVAA telah menyimpan dan memelihara arsip tentang 1.811 seniman, 92 komunitas seni rupa,
dan 11.313 karya. Sampai 2014, IVAA merupakan salah satu lembaga pengarsipan seni rupa
yang paling komprehensif di seluruh Asia Tenggara.

Pada akhir 1980-an sampai akhir 1990-an, sejumlah sekolah tinggi seni rupa didirikan, salah
satunya adalah Sekolah Tinggi Seni Rupa Surakarta pada 1992 (STSI Surakarta, sekarang Institut
Seni Indonesia Solo), Sekolah Tinggi Seni Bandung pada 1995, Sekolah Tinggi Seni Padang
Panjang pada 1999. Pada saat itu pula bisnis galeri mulai marak bermunculan.

BAB 1: Perkembangan Seni Rupa di Indonesia

17

Indonesian Visual Art Archive


Sumber: kembarajiwaproject.blogspot.com

Pada periode pasca-reformasi 1998, semakin banyak komunitas seni dan ruang inisiatif seniman
yang dibentuk, di antaranya Taring Padi, Kelompok Seni Rupa Jendela. Sejak 2000, muncul lebih
banyak lagi komunitas-komunitas yang mengaktifkan roda seni rupa lokal dan membawanya
menembus seni rupa global, baik melalui forum pengembangan maupun melalui forum pasar,
di antaranya adalah ruangrupa (berdiri di Jakarta pada 2000), Komunitas Daging Tumbuh
(berdiri di Yogyakarta pada 2000), komunitas seni fotografi Mes 56 (berdiri di Yogyakarta pada
2002), serta puluhan komunitas lain yang tumbuh dan berkembang dengan fokus pada berbagai
medium dan kajian tertentu.
Ruangrupa di Jakarta adalah salah satu organisasi yang dengan aktifberhasil memicu pertumbuhan
komunitas-komunitas lain dan membentuk jaringan yang kuat baik di Jakarta maupun dalam
tingkat nasional dan global. Ruangrupa adalah organisasi yang menyelenggarakan OK. Video
festival seni video dan media baru terbesar di Asia Tenggara yang masih terus diadakan setiap
dua tahun sekali. Ruangrupa, seperti halnya Galeri Seni Cemeti dan Forum Lenteng, juga
secara konsisten mengadakan berbagai program tahunan untuk memberi pelatihan profesional
bagi publik, seperti lokakarya penulisan seni rupa (ruangrupa), Forum Kurator Muda (Cemeti)
maupun sejumlah program pameran, residensi, dan kolaborasi.
Komunitas seni rupa Indonesia memulai dirinya dengan sederhana, dari kesenangan berkumpul,
budaya guyub, dan membicarakan kesamaan minat. Mereka umumnya memulai kesepakatan
untuk berkumpul dan memberi ruang bagi satu sama lain, atau bagi komunitas lokal, dengan
menggunakan ruangan rumah sendiri atau menggunakan modal yang diambil dari kantong
anggotanya. Ruangan mereka digunakan untuk tempat diskusi, memamerkan karya, sekaligus
sebagai ruang produksi. Inisiatif sederhana ini terbukti sudah mampu memberi energi yang sangat
besar untuk menggerakkan roda sistem seni rupa Indonesia. Komunitas memberi identitas, rasa
kebersamaan bagi anggotanya, pengalaman bekerja bersama, meningkatkan akses pengetahuan,

18

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

menjadi ruang diskusi dan berbagi pengetahuan, pekerjaan, penghasilan, dan akses jejaring
profesional, baik lokal maupun internasional.

Ruang MES56, Komunitas Seni Fotografi Yogyakarta, Berdiri Tahun 2002


Sumber: orientationtrip2012.files.wordpress.com

Pada 20072008, terjadi ledakan (boom) seni rupa yaitu maraknya pasar seni rupa Indonesia. Mulai
saat itu, galeri-galeri di Indonesia semakin sering berpartisipasi di forum-forum internasional yang
bergengsi seperti Art Basel Miami, Art Basel Hong Kong, Art Dubai, dan Art Stage Singapore.
Galeri-galeri luar negeri pun mulai memamerkan karya seni rupa Indonesia secara reguler. Para
kurator dan seniman Indonesia juga semakin banyak yang diundang dan terlibat di dalam forum
wacana internasional, seperti di Asia Pasific Triennale, Singapore Biennale, Gwangju Biennale,
Venice Biennale, Sao Paolo Biennale, dan ratusan acara, simposium, dan lokakarya internasional.
Salah satu titik perayaan seni rupa kontemporer Indonesia terjadi pada 2008, yaitu pada saat
kurator Jim Supangkat mengadakan Pameran Besar Seni Rupa Indonesia: Manifesto di Galeri
Nasional Indonesia, Jakarta, yang melibatkan 354 seniman Indonesia.
Setelah ledakan seni rupa (art boom) 20072008 yang diikuti penurunan kemampuan ekonomi
dunia, seni rupa Indonesia tetap konsisten terlibat dalam forum wacana maupun pasar seni rupa.
Kehadiran pelaku seni dan karya seni Indonesia di bienial-bienial, trienial, festival, maupun acaraacara seni bergengsi lainnya justru semakin marak. Begitu pula kehadiran galeri Indonesia di art
fair dunia. Produktivitas seniman terus berjalan, walau untuk periode 20112013, sangat minim
usaha galeri-galeri di Indonesia untuk mengadakan pameran di dalam negeri.
Sementara itu, ART|JOG merupakan program art fair yang sejak 2009 diadakan setiap tahun di
Yogyakarta.ART|JOG menyajikan art fair yang tidak umum. Jika biasanya pada art fairlain karya
seniman dipamerkan dengan representasi galeri tertentu, pada ART|JOG representasi seniman
dilakukan oleh manajemen ART|JOG, begitu juga proses seleksi seniman juga dilakukan oleh
kurator ART|JOG sendiri,

BAB 1: Perkembangan Seni Rupa di Indonesia

19

Liputan profil Melati Suryodarmo di New York Times, 2014.


Sumber: nytimes.com

Indonesian Character Meeting oleh para street artist Indonesia


Sumber: tututupai.blogspot.com

20

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

Tim Studi melakukan pendataan peran serta pelaku seni rupa Indonesia pada forum internasional
selama lima tahun terakhir (20092014). Sejauh penulisan dokumen ini, diperkirakan terkumpul
sekitar 60% dari jumlah riil. Pelaku seni yang berpartisipasi di forum internasional ini mayoritas
adalah seniman, kurator, dan galeri. Dari hasil pendataan tersebut, didapatkan bahwa rata-rata
dalam satu tahun terjadi 144 keterlibatan pelaku seni Indonesia di forum-forum penting seni
rupa internasional, yang dengan detail adalah sebagai berikut:

Pada 2009, tercatat 77 partisipasi pelaku seni. Negara pengundang yang mendominasi
adalah Australia, Belanda, Hong Kong, dan India.

Pada 2010, tercatat 136 partisipasi pelaku seni. Negara pengundang yang mendominasi
adalah Singapura, Amerika Serikat, China, dan Korea Selatan.

Pada 2011, tercatat 182 partisipasi pelaku seni. Negara pengundang yang mendominasi
adalah Singapura, Australia, Inggris, Jerman, dan Italia.

Pada 2012, tercatat 168 partisipasi pelaku seni. Negara pengundang yang mendominasi
adalah Singapura, Australia, Jerman, Amerika Serikat, dan Korea Selatan.

Pada 2013, tercatat 163 partisipasi pelaku seni. Negara pengundang yang mendominasi
adalah Singapura, Jerman, Amerika Serikat, dan Australia.

Pada 2014, sampai Juni 2014 (tidak penuh satu tahun) tercatat sebanyak 97 partisipasi pelaku
seni. Negara pengundang yang mendominasi adalah Singapura, Hong Kong, Korea Selatan,
Amerika Serikat, dan Australia.
Melihat situasi seni rupa Indonesia, sangat diharapkan terjadinya perkembangan seni rupa Indonesia
yang stabil dan secara aktif mengarah pada partisipasi internasional. Sangat diharapkan terjadinya
sosialisasi seni rupa di dalam negeri, demi terjadinya branding seni rupa nasional yang dibutuhkan
untuk memperkuat keberadaannya di dalam forum internasional. Indonesia diharapkan juga
semakin membuka diri bagi pelaku intenasional untuk masuk ke dalam lingkungan seni rupa
Indonesia, baik melalui acara seni besar di dalam negeri maupun melalui kolaborasi-kolaborasi
berskala kecil dan medium.

BAB 1: Perkembangan Seni Rupa di Indonesia

21

Gambar 1-2 Perkembangan Seni Rupa Indonesia

22

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

BAB 2
Ekosistem dan
Ruang Lingkup Industri
Seni Rupa Indonesia

2.1 Ekosistem Seni Rupa


2.1.1 Definisi Ekosistem Seni Rupa
Kerja bersama adalah salah satu ciri khas masyarakat seni rupa Indonesia, terutama sejak awal
masa terbentuknya identitas seni nasional. Keterkaitan satu sama lain, melalui diskusi dan saling
respons di antara masyarakat seni rupa Indonesia itu kemudian membentuk suatu ekosistem seni
rupa yang dinamis. Untuk memahaminya, diperlukan pemetaan atas ekosistem seni rupa dan
industri kreatif lainnya. Pemahaman ini sangat dibutuhkan oleh berbagai pihak. Pelaku seni,
misalnya, membutuhkannya demi pengembangan diri; masyarakat membutuhkannya untuk
melihat posisi seni di dalam masyarakat, dan pemerintah membutuhkannya untuk membentuk
sistem yang dapat mendukung perkembangan budaya bangsa.
Pemetaan ekosistem seni rupa mencakup proses-proses yang dibayangkan perlu terjadi dalam
dunia seni rupa Indonesia yang ideal, penempatan posisi para pelaku utama dan pendukung
dalam proses tersebut, dan kaitannya satu sama lain. Pemetaan ekosistem ini, selain menerangkan
definisi atas proses, pelaku, dan ragam kegiatan seni rupa, juga menerangkan tentang dinamika
dan hasil dari setiap proses tersebut.
1. Pemetaan atas ekosistem seni rupa dapat dibagi menjadi empat bagian:
2. Lingkungan Pengembangan (Nurturance Environment);
3. Rantai Nilai Kreatif (Creative Value Chain);
4. Pasar - Konsumen, Audiens, dan Customer (Market);
5. Apresiasi;
6. Konservasi (Conservation).
Dalam pemetaan ekosistem seni rupa tersebut, lingkungan pengembangan diletakkan di awal
sebagai wadah bagi proses-proses rantai nilai kreatif, pasar, dan konservasi.

2.1.2 Peta Ekosistem Seni Rupa


A. Lingkungan Pengembangan (Nurturance Environment)
Dalam subsektor seni rupa, lingkungan pengembangan dibagi menjadi lingkungan pengembangan
produksi dan lingkungan pengembangan pendidikan.
Lingkungan pengembangan produksi adalah lingkungan yang mengayomi terciptanya
sistem kerja dalam jaringan dan proses berbagi pengetahuan, yang membuka peluang kerja,
dan sebagai tempat terjadinya pendidikan alternatif. Lingkungan tersebut membantu terjadinya
perkembangan sumber daya manusia dan proses kreasi, produksi, presentasi, distribusi, apresiasi,
dan pendidikan dalam ekosistem dan industri seni rupa. Berikut ini adalah faktor-faktor utama
dalam lingkungan pengembangan.
1. Ruang Alternatif: komunitas, kelompok, atau organisasi seniman. Di dalamnya terjadi
proses diskusi dan berbagi pengetahuan yang sering menjadi titik berangkat suatu proyek
seni rupa, baik yang pada akhirnya diwujudkan menjadi produk karya maupun produk
pengetahuan. Ruang-ruang ini bukan hanya menjadi ruang produksi karya seni rupa,
ataupun hanya menjadi ruang pameran, melainkan juga menjadi ruang penciptaan pelaku
kreatif (seniman, penulis, kurator, manajer seni rupa, dll.) lewat proses kerja lapangan,
magang, maupun lewat residensi seniman dan lokakarya. Di Indonesia terdapat 93
komunitas, kelompok, dan organisasi seniman.
26

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

ruangrupa Jakarta-Salah Satu Ruang Alternatif


Sumber: orientationtrip2012.wordpress.com

2. Lembaga riset, lembaga pengarsipan: di dalam dunia seni rupa, lembaga pengarsipan tak
hanya berperan sebagai lembaga konservasi dan perekaman sejarah. Bersandingan dengan
lembaga penelitian, lembaga pengarsipan menjadi bagian penting dari proses kreasi dan
produksi, baik sebagai penyedia materi untuk pengembangan konsep maupun sebagai
penyedia materi untuk hasil akhir. Salah satu contoh penyedia materi hasil akhir adalah
ketika materi dari arsip tersebut diikutsertakan dalam hasil akhir produk karya seni rupa,
misalnya menjadi bagian dalam objek-objek pada seni instalasi, atau digunakan sebagai
teks dan gambar pada karya dua dimensi maupun karya seni berbasis ruang dan waktu.
Perkembangan seni rupa saat ini menuntut seniman untuk melakukan penelitian dalam
proses kreasi dan produksi. Hal tersebut menambah alasan kita untuk melihat peran
lembaga penelitian dan pengarsipan sebagai bagian penting dari lingkungan pengembangan
untuk kemajuan kreasi dan produksi seni rupa.
Beberapa dari komunitas atau ruang alternatif seni rupa turut mengambil peran sebagai
lembaga penelitian dengan fokus tertentu. Forum Lenteng misalnya, berfokus pada
perkembangan media baru; Video Lab berfokus pada perkembangan seni video; Jatiwangi
Art Factory yang berfokus pada perkembangan kreativitas masyarakat; Indonesian Street
Art Database yang berfokus pada penelitian dan pengarsipan street art di Indonesia;
dan Kunci Cultural Studies Center yang berfokus pada penelitian dan pengarsipan
perkembangan budaya.

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Seni Rupa Indonesia

27

Gambar 2-1 Peta Ekosistem Seni Rupa

Keterangan:

28

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

KUNCI Cultural Studies Center memantapkan posisinya dengan tidak mendeskripsikan dirinya
dalam batasan disiplin-disiplin ilmu yang ada, tetapi terus berupaya berupaya meluaskan batasbatas tersebut. Keanggotaan kolektif ini bersifat terbuka dan sukarela, dan sejauh ini anggotaanggotanya menunjukkan ketertarikan bersama pada eksperimen kreatif dan penyelidikan
spekulatif yang berfokus pada persinggungan antara teori dan praktik. Sejak didirikan pada 1999
di Yogyakarta, Indonesia, KUNCI berkecimpung dengan produksi dan berbagi pengetahuan
kritis melalui publikasi media, perjumpaan lintas disiplin, riset-aksi, intervensi artistik dan
pendidikan ugahari baik di dalam maupun antara ruang-ruang komunitas.
Salah satu proyek riset yang dilakukan oleh kunci adalah Megamix Militia yang merupakan
bagian dari proyek riset eksperimental berdurasi dua tahun berjudul Konvergensi Media dan
Teknologi di Indonesia: Sebuah Tinjauan Perspektif Budaya. Proyek ini bertujuan untuk
melakukan eskplorasi atas bagaimana budaya lokal mengapropriasi perkembangan media
dan teknologi dalam kehidupan sehari-hari dan bagaimana praktik keseharian dari teknologi
informasi menawarkan kemungkinan dan tantangan baru pada perubahan sosial budaya di
Indonesia. Secara khusus, Megamix Militia didesain untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan
kritis seputar otentisitas, orisinalitas, kebaruan, serta melakukan eksperimen dan pencarian
bentuk-bentuk alternatif produksi budaya dalam konteks perkembangan media dan teknologi
yang berperan sebagai salah satu jalur utama produksi, persebaran, dan akumulasi produk
pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.
Sumber: www.kunci.or.id

Kantor KUNCI Cultural Studies, Yogyakarta


Sumber: orientationtrip2012.wordpress.com

3. Masyarakat luas: masyarakat turut berperan sebagai lingkungan yang menginspirasi seni
rupa. Selain itu, masyarakat juga berperan sebagai kolaborator dalam penciptaan seni
rupa. Masyarakat terlibat dan berperan aktif dalam perwujudan acara maupun hasil dan
keputusan sebuah proyek seni rupa. Peran masyarakat sebagai kolaborator itu terjadi,

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Seni Rupa Indonesia

29

misalnya, dalam beberapa proyek seni rupa yang dilakukan oleh Jatiwangi Art Factory
dan juga dalam program-program Jakarta Biennale dan Biennale Jogja.
Jatiwangi art Factory (JaF) adalah organisasi nirlaba yang didirikan pada 2005 di Jatiwangi.
JaF berfokus pada kajian kehidupan lokal perdesaan melalui kegiatan seni dan budaya seperti:
festival, pertunjukan, pameran, residensi, diskusi, penyiaran radio, dan pendidikan; yang
menggunakan berbagai medium seni rupa, dari video hingga keramik. JaF memiliki Program
Festival Residensi, Festival Video Residensi dan Festival Musik Keramik dua tahunan yang
mengundang seniman lintas disiplin dari berbagai negara untuk tinggal, berinteraksi, bekerja
sama dengan warga desa, merasakan kehidupan masyarakat Jatiwangi, serta merumuskan dan
membuat sesuatu yang kemudian dipresentasikan dan dikabarkan kepada semua orang di sana.
Pada 2012, JaF menyelenggarakan Festival Musik Keramik yang dibuka oleh sekitar 1.500 warga
dari 16 Desa se-Kecamatan Jatiwangi. Berlokasi di tanah bekas pabrik gula peninggalan kolonial
Belanda yang menjadi memori kolektif warga Jatiwangi, dalam festival itu JaF memanfaatkan
genteng menjadi alat musik. Melalui kegiatan tersebut dapat terlihat perwujudan nyata dari
inspirasi seni tradisional terhadap praktik seni rupa kontemporer.

Jatiwangi Art Factory - Proyek Panen Energi oleh Irwan Ahmett 2014
Sumber: panenergi.wordpress.com

Seni rupa tradisional: peran seni rupa tradisional, dalam penerapannya pada seni rupa
modern dan seni rupa kontemporer, sesuai yang dipetakan di sini, merupakan inspirasi
bagi proses pengembangan dan proses produksi. Seni tradisional, berikut nilai-nilai yang
diembannya, juga digunakan dalam seni rupa modern dan seni rupa kontemporer sebagai
basis bagi diterapkannya nilai-nilai budaya.

30

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

Berdasarkan pendataan tim perumus, tercatat 113 kelompok, komunitas, dan lembaga seni rupa
yang pernah terbentuk dengan status aktif dan nonaktif pada 2014. Sejumlah komunitas dan
lembaga ini secara langsung telah mengaktifkan lingkungan pengembangan produksi bagi dunia
seni rupa Indonesia.
Tabel 2-1 Kelompok, Komunitas, dan Lembaga Seni Rupa yang Pernah Terbentuk hingga 2014

Nama

Lokasi

Tahun
Berdiri

Fokus

Status
2014

Jakarta Selatan

2005

Komik

Aktif

Yogyakarta

2011

Seni rupa

Aktif

Jakarta

2007

Air Brush

Aktif

Yogyakarta

1997

Komik

Jakarta

2009

Street Art

Aktif

Yogyakarta

1994

Sosial
Kontemporer

Akademi Samali

Ace House Collective

Airbrush Indonesia art


community

Apotik Komik

Artcoholic

Babaran Segara Gunung

Bengkel Qomik Solo

Solo

2004

Komik

BSD Art Movement

Tangerang

2010

Seni rupa

Aktif

Buton Kultur 21

Bandung

2006

Seni rupa

Tidak aktif

10

Carterpaper

Jakarta

2006

Seni rupa

11

Clarion Alley Mural Project

YogyakartaSan Francisco

2003

Pertukaran
proyek seni rupa.

12

Collective Two

Seni rupa

13

Comical Brothers

Yogyakarta

Medium kardus

14

Common Room

Bandung

2003

Seni media baru

Tidak aktif

15

Cut and Rescue

Jakarta

2011

Seni rupa

Tidak aktif

16

Dagadu

Yogyakarta

Merchandise

Aktif

17

Dewan Kesenian Jakarta

Jakarta

1968

Institusi Seni

Aktif

18

DGTMB

Yogyakarta

2000

Komik dan
Merchandise

Aktif

19

Djagad Art House

Bali

2009

Seni rupa, esai

20

Forum Lenteng

Jakarta

2003

Audiovisual
media

Aktif

21

Gabungan Pelukis
Indonesia

Jakarta

1948

Seni rupa

Tidak aktif

22

Garden of The Blind

Yogyakarta

Seni media baru

Tidak aktif

23

Gardu House

Jakarta

2010

Street Art

Aktif

24

Garis

1995

Seni rupa, esai

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Seni Rupa Indonesia

31

Nama

32

Lokasi

Tahun
Berdiri

Fokus

Status
2014

Yogyakarta

1999

Seni rupa

Aktif

Jakarta

2006

Seni grafis

25

Gelaran Budaya

26

Grafisosial

27

House of Natural Fiber

Yogyakarta

1999

Seni media baru

Aktif

28

IKAISYO

Yogyakarta

1982

Seni lukis

29

indieguerillas

Yogyakarta

1999

Seni rupa

Aktif

30

IPWI

Jakarta

1985

Seni lukis

31

ISAD

Jakarta

2011

Street Art

Aktif

32

Jatiwangi Art Factory

Jatiwangi

2005

Seni dan
masyarakat

Aktif

33

Karang Taruna Krida


Wahana

Yogyakarta

1999

Seni dan
lingkungan

34

Keimin Bunka Shidoso

Jakarta

1943

Seni rupa

Tidak aktif

35

Kelas Pagi

Jakarta

2006

Fotografi

Aktif

36

Kelompok Cling

Yogyakarta

1992

Seni rupa

37

Kelompok Delivery Order

Seni rupa

38

Kelompok Idu Geni

Yogyakarta

2007

Seni rupa

39

Kelompok Kaweruh

1992

Seni rupa

40

Kelompok Ktok Project


Semarang

Semarang

2006

Seni dan
masyarakat

Aktif

41

Kelompok Lankisau

Yogyakarta

1992

Experimental Art

42

Kelompok lima

Bandung

1930

Seni Lukis

Tidak aktif

43

Kelompok Peduli
Lingkungan (Keliling)

Jakarta

Masyarakat

44

Kelompok Perupa
AntarKota

Yogyakarta

Seni rupa

45

Kelompok Sembilan

Seni rupa

46

Kelompok Seni Muara

Yogyakarta

Seni rupa

47

Kelompok Seni Rupa


Bermain

Surabaya

Seni rupa

48

Kelompok Seni Rupa


Jendela

Yogyakarta

1996

Seni rupa

Aktif

49

Kelompok SEPI

Yogyakarta

1998

Seni rupa

50

Kelompok Tanda Tanah

Yogyakarta

Seni rupa

51

Kemang 104

Jakarta

1992

Seni rupa

52

KMTA ATA YKPN


Yogyakarta

Yogyakarta

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

Nama

Lokasi

Tahun
Berdiri

Fokus

Status
2014

Yogyakarta

2009

Seni grafis

Seni rupa

53

Koloni Cetak

54

Komunitas Gurat JAC

55

Komunitas pensil Kertas

Bandung

Seni rupa

56

Komunitas Perupa Kota Tua


(KOTA)

Jakarta

2012

Seni rupa

Aktif

57

Komunitas Pojok

Denpasar, Bali

2003

Seni jalanan,
mural dsb

58

Komunitas REGOL Jogja

Yogyakarta

2006

Majalah

59

Komunitas Salihara

Jakarta

2008

Seni dan
pertunjukan

Aktif

60

Komunitas Seni Belanak

Padang

2003

Seni rupa

61

Komunitas Seni Sakato

Yogyakarta

1995

Seni rupa

62

Komunitas Seni Seringgit

Yogyakarta

Seni rupa

63

LEKRA (Lembaga
Kebudayaan Rakyat)

Indonesia

1950

Seni rupa

Tidak Aktif

64

Lembaga Kebudajaan
Indonesia

Indonesia

1950

Seni rupa

Tidak Aktif

65

Maranatha Art Project

Bandung

Seni rupa

Aktif

66

MES 56

Yogyakarta

2002

Seni rupa

Aktif

67

Militansi Seni Rupa


Soboman 219

Yogyakarta

Seni rupa

68

Mulyakarya

Yogyakarta

2007

Komik

69

Paguyuban Kartunis
Yogyakarta (Pakyo)

Yogyakarta

Kartunis

70

Paguyuban Kartunis
Yogyakarta (Pakyo)

Yogyakarta

Seni rupa

71

Parallabs

Bandung

2011

Seni rupa

72

Payung Teduh

Medan

1995

Seni rupa, esai

73

Pelukis Muda Indonesia

Yogyakarta

1947

Seni lukis

Tidak Aktif

74

Pelukis Rakyat

Yogyakarta

1947

Seni rupa

Tidak Aktif

75

Perempuan Eksperimen
(Perek)

Yogyakarta

Seni rupa

76

Performance Klub

Yogyakarta

2003

Performance Art

77

PERSAGI (Persatuan Ahli


Gambar Indonesia)

Jakarta

1938

Seni rupa

Tidak Aktif

78

PIPA (Kepripadian Apa)

Yogyakarta

1977

Seni rupa

79

Pisang Seger

Yogyakarta

2001

Seni grafis

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Seni Rupa Indonesia

33

Nama

Lokasi

Tahun
Berdiri

Fokus

Status
2014

Jakarta

1943

Seni rupa

Tidak Aktif

Batu, Malang

1983

Seni rupa

Yogyakarta

Fotografi

80

POETERA (Poesat Tenaga


Rakjat)

81

Pondok Seni Batu

82

Radio Kabel

83

Rewind Art Community

Jakarta

2001

Performance Art

Aktif

84

ruangrupa

Jakarta

2000

Seni rupa

Aktif

85

Rumah Budaya Nusantara

Banten

Budaya

86

Rumah proses

Bandung

2002

Seni rupa

87

Samar Mesem

Bantul

2008

Seni rupa

Tidak Aktif

88

Sanggar Anak Akar

Jakarta

1994

Seni dan
masyarakat

89

Sanggar Bambu

Yogyakarta

1959

Seni rupa

Aktif

90

Sanggar Bumi Tarung

Yogyakarta

1961

Seni rupa

91

Sanggar Dewata Indonesia

Yogyakarta

1970

Seni rupa

92

Sanggar Jidor Porah

Wonosobo

2003

Seni rupa

93

Sanggar Sangkerta

1991

Seni rupa

94

Sanggar Seniman Merdeka

Yogyakarta

Seni rupa

Tidak Aktif

95

Gerakan Seni Rupa Baru


(GSRB)

Indonesia

1979

Seni rupa,
gerakan

96

Seniman Masjarakat

Yogyakarta

1945

Seni rupa

Tidak Aktif

97

Seniman Tanggap
Perubahan

Yogyakarta

Seni rupa

Tidak Aktif

98

SERRUM

Jakarta

2006

Seni rupa

Aktif

99

Sharing Movement

Solo

1993

Seni rupa,
gerakan

100

SIM ( Seniman Indonesia


Muda )

Yogyakarta

1945

Seni rupa

Tidak Aktif

101

Sisir Tanah

Yogyakarta

2012

Sastra dan
musik

102

Slilit Gabah

Yogyakarta

103

Soboman 666

Yogyakarta

1999

Seni rupa

Tidak Aktif

104

Studio Grafis Minggiran

Yogyakarta

2001

Seni grafis

Aktif

105

Tanda 99

Yogyakarta

1999

Seni rupa

106

Tangan Reget

Yogyakarta

2007

Seni grafis

Tidak Aktif

107

Taring Padi

Yogyakarta

1998

Seni rupa
perlawanan

34

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

Nama

Lokasi

Tahun
Berdiri

Fokus

Status
2014

108

Teater Satu

Bandar
Lampung

1996

Teater

109

Tembok Bomber

Indonesia

2006

Street Art

Aktif

110

Tromarama

Bandung

2006

Video dan
instalasi

Aktif

111

Trotoart

Jakarta

Seni dan
masyarakat

Aktif

112

Tumor Ganas

Yogyakarta

2001

Seni grafis

113

Waroeng Kaos

Yogyakarta

2001

Merchandise

Lingkungan pengembangan pendidikan adalah lingkungan yang berfokus pada penciptaan


pekerja profesional seni rupa. Berbeda dengan lingkungan pengembangan produksi, lingkungan
pengembangan pendidikan memberikan pengetahuan sejarah, wacana, dan teknis, tanpa terlibat
secara langsung dengan proses-proses dalam rantai nilai kreatif. Lingkungan pengembangan
dibagi menjadi dua bagian.
1. Lingkungan pendidikan formal: lingkungan pendidikan yang sistematis, berjenjang, dan
mengikuti kurikulum yang ditetapkan pemerintah. Lingkungan pendidikan formal diakui
sebagai institusi resmi oleh pemerintah. Pendidikan formal mencakup pendidikan dasar
dan menengah umum, sampai pendidikan tinggi umum dan pendidikan tinggi senirupa,
baik swasta maupun negeri. Pendidikan formal secara ideal mencakup pengajaran dalam
hal keahlian teknis, sejarah, manajemen seni, kuratorial, pengembangan wacana.

Suasaan Kelas Studio di FSRD ITB


Sumber: www.senirupa.itb.ac.id

Tercatat 14 sekolah tinggi, dan 19 sekolah menengah kejuruan yang merupakan lembaga
pendidikan formal di Indonesia yang memiliki fokus pada pendidikan seni rupa.

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Seni Rupa Indonesia

35

Tabel 2-2 Lembaga Pendidikan yang Memiliki Fokus Pendidikan Seni Rupa

No

36

Nama

Lokasi

Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI)

Bandung

Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB)

Bandung

Institut Kesenian Jakarta (IKJ)

Jakarta

Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar

Bali

Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang

Sumatera Barat

Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta

Yogyakarta

Universitas Kristen Maranatha

Bandung

Universitas Negeri Jakarta (UNJ)

Jakarta

Universitas Negeri Makassar (UNM)

Makasar

10

Universitas Negeri Semarang (UNNES)

Semarang

11

Universitas Negeri Surabaya (UNESA)

Surabaya

12

Universitas PGRI Adi Buana (UNIPA)

Surabaya

13

Universitas Sebelas Maret

Solo

14

Lembaga Pendidikan Seni Nusantara

Jakarta

15

Erudio School of Art (ESOA)

Jakarta

16

SMK Negeri 8 Surakarta

Surakarta

17

SMK Kesenian

Jakarta

18

SMSR Jogja

Yogyakarta

19

SMSR Negeri Denpasar (SMK Negeri 1 Sukawati)

Bali

20

SMK Seni Ukir Tangeb

Bali

21

SMKN 10 Bandung

Bandung

22

SMKN 4 Padang

Padang

23

SMK Negeri 1 Kasihan

Yogyakarta

24

SMK Negeri 5 Kota Yogyakarta

Yogyakarta

25

SMK Negeri 9

Solo

26

FPBS UPI

Bandung

27

SMKN 58 Jakarta

Jakarta

28

SMK Pakungwati Cirebon

Cirebon

29

SMK Putera Nusantara Majalengka

Majalengka

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

No

Nama

Lokasi

30

SMKN 6 Jakarta

Jakarta

31

SMKN 7 Palembang

Palembang

32

SMKN 1 Sukasada

Bali

33

SMK N 9 SMKI

Surabaya

34

SMK N 11 SMSR

Surabaya

35

SMK Negeri 3 Kasihan

Yogyakarta

36

SMK Ubud ( SMSR )

Bali

2. Lingkungan pendidikan nonformal: lingkungan pendidikan dengan sistem pendidikan yang


tidak sistematis, tidak selalu berjenjang, dan umumnya merupakan produk dari inisiatif
masyarakat. Dalam dunia seni rupa, pendidikan nonformal memberikan pengetahuan
teori maupun teknis, pelatihan, pengembangan, dan proses produksi bagi pesertanya
melalui ruang alternatif kelompok dan komunitas seniman. Dalam pendidikan nonformal,
pelaku seni mempelajari keahlian-keahlian praktis dan teknis, sejarah, pemetaan jaringan
kerja, pemahaman konteks maupun studi sosial, manajamen seni, pengembangan wacana.
Dalam pendidikan nonformal, pelaku seni juga mendapatkan kesempatan memperluas
jaringan kerja samanya, mengembangkan sense of identity dan sense of belonging, dan
terlibat secara langsung dengan komunitas yang mendukung terjadinya studi sosial dan
studi spesifik tentang permasalahan dan wacana lokal dimana komunitas tersebut berada.

Definisi Sektor atau Pelaku yang terlibat dalam Lingkungan


Pengembangan.

Seni rupa tradisional: seperti yang sudah diterangkan dalam definisi seni rupa Indonesia,
seni tradisional dalam lingkungan pengembangan berfungsi sebagai inspirasi baik bagi
penerapan nilai-nilai budaya, maupun untuk digunakan sebagai elemen estetika dalam
karya seniman.

Kelompok, organisasi, maupun komunitas seniman: Kelompok seniman adalah


sejumlah seniman yang berkarya bersama, baik berkolaborasi membuat sebuah karya
maupun proyek seni maupun berkarya secara individual untuk dipamerkan dalam pameran
bersama. Organisasi seniman adalah sekelompok seniman yang bekerja bersama dan
memiliki struktur organisasi yang dibutuhkan untuk mewujudkan program publik yang
mereka miliki. Dalam perkembangannya, organisasi seniman disebut juga sebagai artists
initiatives yang memiliki peran ganda; selain berkarya secara individu maupun kelompok,
mereka juga bekerja mewujudkan berbagai kegiatan seni, seperti pameran, festival,
pasar seni, lokakarya, diskusi, hingga pendidikan seni untuk publik luas. Umumnya,
mereka juga menciptakan ruang alternatif yang terbuka untuk proses-proses pameran,
pendidikan, diskusi dan ruang berkumpul. Dalam kegiatan artistiknya, artists initiative
cenderung menggunakan pendekatan interdisiplin dan berperan kuat dalam pembentukan
jaringan dengan pelaku-pelaku maupun dengan komunitas sosial di luar ranah seni rupa.
Sementara itu, kelompok seniman yang keberadaannya bersifat terbuka dan jumlahnya
memiliki potensi untuk terus bertambah tanpa sifat keanggotaan yang formal disebut

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Seni Rupa Indonesia

37

sebagai komunitas seni rupa, yaitu kelompok atau kumpulan orang yang meminati dan
berkecimpung dalam bidang seni rupa.

Lembaga pengarsipan: lembaga yang menyimpan dan melakukan pendataan dokumen


tertulis, terekam, baik berupa suara maupun gambar (foto, film, dll.). Arsip dirawat dan
disimpan oleh suatu lembaga dalam media cetak, hingga elektronik, untuk digunakan
oleh publik umum atau pengguna terbatas sebagai basis penelitian.

Lembaga penelitian: lembaga yang berfokus pada pengkajian ulang serta perunutan dan
pengumpulan data tentang topik-topik yang digunakan sebagai basis pendukung atau
sebagai pemicu bagi proses produksi karya seni dan produksi pengetahuan.

Masyarakat: publik umum sebagai sumber pertumbuhan dan perkembangan seni.

Akademisi: merupakan orang yang memiliki pendidikan tinggi di bidang akademik.


Pengabdiannya pada profesinya diwujudkan dalam bentuk penelitian ilmiah yang bisa
dipertanggungjawabkan secara akademis.

B. Rantai Nilai Kreatif


B.1. Proses Kreasi
Gambar 2-2 Proses Kreasi Seni Rupa

38

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

Awal dari rantai nilai kreatif adalah proses kreasi yang didorong oleh insting manusia untuk
merespons, berekspresi, dan menciptakan, disebut sebagai proses kreasi, yaitu ketika suatu ide
diciptakan dan dirumuskan menjadi suatu konsep untuk menjadi acuan dasar penciptaan karya
seni. Ide berasal dari pemikiran dan respons-respons individual terhadap isu-isu yang dihadapi.
Ide ini kemudian ditelaah dan dikembangkan menjadi susunan pemikiran yang lebih sistematis
untuk penciptaan rencana kerja.
Pelaku utama dalam proses kreasi adalah:
1. Seniman,
2. Kurator,
3. Kelompok seniman atau organisasi seniman,
4. Manajer seni.
Proses penciptaan dapat terjadi secara terpisah. Seniman dan kelompok seniman dapat melakukan
proses kreasinya sendiri atau melalui dialog dengan kurator. Umumnya kelompok seniman berfokus
pada program acara seni rupa yang bersifat edukatif dan mengacu pada usaha pengembangan
wacana seni rupa, yang dalam pengelolaannya membutuhkan peran manajer seni.
Proses kreasi yang tercipta melalui seniman individual atau kelompok seniman adalah konsep
untuk produk karya seni. Proses kreasi yang tercipta melalui kurator adalah produk konsep
pameran yang lalu direspons dengan proses kreasi produk oleh seniman. Proses kreasi yang
tercipta melalui manajemen seni adalah program acara seni rupa. Program acara manajemen
seni bisa berupa acara yang bersifat untuk mendapatkan keuntungan ekonomi, maupun program
acara yang bersifat untuk pengembangan wacana. Produk lain-lain yang terjadi di dalam proses
kreasi adalah program acara seni rupa, produk konsep penelitian, yang akan berkembang menjadi
produk pengetahuan.

Definisi Pelaku Dalam Proses kreasi


Seniman yang juga dikenal dengan sebutan perupa, adalah seseorang yang menghasilkan
atau membuat karya seni dalam ruang lingkup konsep, bentuk, dan medium, maupun
pengembangannya.

Kurator adalah individu yang memiliki kemampuan dan pengalaman untuk menilai
kualitas karya seni dan menjadi mediator antara karya seniman dengan masyarakat luas.
Secara mendasar tugas seorang kurator adalah:
Memproduksi gagasan kuratorial untuk sebuah pameran;
Pelaksanaan suatu pameran seni rupa;
Membangun wacana representasi seni yang dipamerkan.
Dalam proses kreasi dan produksi, umumnya kurator menjadi sparring-partner dalam
diskusi pengembangan konsep karya dengan seniman. Kurator juga bertugas memproduksi
tulisan kuratorial sebagai jembatan pemahaman karya seni dengan penonton. Kurator
juga bertugas untuk memetakan dan membantu mengembangkan seniman-seniman
muda atau baru.
Kurator dalam konteks industri seni rupa yang lebih luas bisa juga berperan sebagai seseorang
yang menangani pekerjaan yang berhubungan dengan memelihara, memperhatikan,

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Seni Rupa Indonesia

39

menjaga, membenahi, sampai menyuguhkan kembali suatu artefak atau objek. Kerja
kurasi memerlukan pengetahuan kuratorial berupa pemahaman akan benda-benda yang
dipamerkan, termasuk posisinya dalam konteks sejarah.

Kelompok seniman: sudah dijelaskan di lingkungan pengembangan.

Manajemen seni: secara umum definisinya adalah bentuk usaha yang menjalankan fungsi
manajerial, mencakup manajemen acara seni, manajemen keuangan, distribusi, promosi,
pemasaran, pendataan karya, dan proses penjualan karya dari seniman-seniman yang berada
di bawah manajemennya. Manajemen seni bisa juga digunakan untuk mendefinisikan
manajemen acara seni yang tidak mengurus proses penjualan dan berfokus pada sistem
pengembangan wacana seni rupa, misalnya Yayasan Biennale Jogja, yaitu yayasan yang
mengatur acara seni dua tahunan Biennale Jogja di kota Yogyakarta.

B.2. Proses Produksi


Gambar 2-3 Proses Produksi Seni Rupa

40

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

Proses produksi adalah proses ketika ide atau konsep diwujudkan ke dalam bentuk final, baik
berupa karya seni melalui medium karya seni pilihan seniman atau berupa acara seni yang dikelola
oleh penyelenggara acara. Pelaku dalam proses produksi ada dua, yaitu pelaku utama: seniman,
kelompok seniman, kurator, periset, manajer seni; dan pelaku pendukung, yaitu artisan, teknisi,
lembaga pengarsipan, editor, maupun penerjemah.
Melihat keragaman jenis produk seni rupa, proses atau dinamika dalam proses produksi pun
sangat beragamtidak ada jalur ataupun batasan tertentu. Dalam penciptaan produk karya seni,
seniman atau kelompok seniman bisa melaksanakan proses produksi dengan atau tanpa bantuan
dari pelaku pendukung. Dialog dengan kurator kadang juga diteruskan di dalam proses produksi.
Sedangkan untuk proses perwujudan produk pengetahuan, misalnya tulisan, kurator atau penulis
dibantu dengan adanya akses ke lembaga pengarsipan, peran peneliti, dan juga dialog dengan
komunitas seni dan masyarakat.
Pelaksanaan proses produksi ini bisa terjadi di ruang kerja pelaku utama (studio atau kantor),
atau secara langsung di lokasi presentasi, misalnya untuk karya-karya instalasi dan performance
art, dan presentasi di ruang publik.

Definisi Pelaku dalam proses produksi


Kelompok seniman: sudah dijelaskan di lingkungan pengembangan.

Kurator dan seniman: sudah didefinisikan di proses kreasi.

Artisan: orang yang membantu seniman dalam hal teknis yang berkaitan dengan keahlian
di bidang seni rupa untuk merealisasikan ide kreatifnya dalam sebuah karya seni. Artisan
memiliki kemampuan teknis penciptaan produk karya seni rupa, namun dorongan
produksinya terbatas pada permintaan bantuan dari sang perupa.

Teknisi: orang yang ahli dalam hal teknis, tanpa harus memiliki keahlian teknis seni
rupa. Umumnya seorang teknisi tidak terlibat secara mendalam dengan pengertian ide
atau konsep kreatif seniman. Sebagai contoh ialah teknisi pencetak patung dalam teknik
cetak tiga dimensi.

Asisten periset: individu yang bertugas membantu periset mengumpulkan data, penulisan,
dan segala hal teknis maupun administratif dalam proses riset yang sedang dilakukan.
Umumnya asisten periset adalah periset muda atau mahasiswa sekolah seni.

Asisten kurator: individu yang bertugas membantu periset dalam pengumpulan data,
komunikasi dengan seniman, dan segala hal teknis maupun administratif dalam proses
kuratorial yang sedang dilakukan. Umumnya, asisten kurator adalah fresh graduate sekolah
tinggi seni rupa yang berminat pada bidang kuratorial.

Editor: individu yang melakukan proses penyuntingan tulisan, baik artikel maupun
buku atau katalog. Editor untuk bidang penulisan seni rupa secara ideal haruslah orang
yang mengerti terminologi seni rupa dan praktik seni rupa secara umum. Editor juga
dapat berperan lebih jauh dalam pembuatan konsep publikasi secara khusus untuk acara
seni tertentu.

Penerjemah: individu yang melakukan proses penerjemahan dari satu bahasa ke bahasa
lain apabila diperlukan. Penerjemah untuk penulisan seni rupa secara ideal haruslah orang
yang mengerti terminologi dan praktik seni rupa secara umum.

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Seni Rupa Indonesia

41

B.3. Proses Distribusi


Gambar 2-4 Proses Distribusi Seni Rupa

Proses distribusi adalah proses penyaluran karya menuju satu, atau lebih, ajang presentasi dengan
tujuan memberikan kesempatan kepada publik yang lebih luas untuk melihat atau mengenal
karya tersebut. Hasil atau output dari proses distribusi ini adalah manajemen penyaluran produk
seni rupa. Dari produser (pelaku utama di proses produksi), produk karya seni ditimbang dan
dipilih untuk dimasukkan ke dalam sistem distribusi melalui agen-agen (pelaku utama proses
distribusi), dengan sistem yang diterangkan di bawah ini.
Distribusi karya dibedakan lewat dua jenis sistem manajemen:
1. Sistem distribusi not-for-profit, yaitu kegiatan yang mencakup perencanaan, pengorganisasian,
dan pengendalian yang ditujukan untuk menyalurkan produk seni rupa ke presentasi
not-for-profit. Not-for-profit adalah kegiatan atau usaha-usaha yang tidak bertujuan untuk
mendapatkan margin keuntungan nilai ekonomi dari produk yang didistribusikan. Contoh
dari distrbusi not-for-profit adalah:
42

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

Kurator menyalurkan karya atau seniman yang dipilih untuk dipresentasikan di


museum atau bienial atau festival.
Kelompok seniman menyalurkan karya maupun produk pengetahuan ke ruang publik,
misalnya seniman yang menciptakan grafiti di ruang publik atau melakukan gerakan
kreatif untuk menyuarakan isu-isu tertentu.
Berbeda dan Merdeka 100%adalah sebuah gerakan sosial budaya yang dilakukan secara sukarela
dan mandiri diberbagai daerah di Indonesia. Dipicu oleh berbagai konflik SARA yang terjadi
di Indonesia, gerakan ini bertujuan untuk mengingatkan semua orang agar tetap menghargai
dan memberi ruang bagi perbedaan dan untuk tetap berusaha menjadi orang-orang yang
merdeka 100%. Gerakan ini digagas oleh sekelompok seniman street art yang tergabung dalam
Respecta Street Art Gallery yang merupakan sebuah galeri online yang dibentuk pada2010
oleh beberapa seniman street art yang mempunyai visi yang sama. Ajakan untuk terlibat dalam
gerakan ini disebarkan oleh berbagai komunitas street art melalui media online dan media sosial
seperti website, Facebook, Blog, dan Twitter. Gerakan ini didukung oleh para seniman street
art dari berbagai kota di Indonesia. Dalam gerakan ini, mereka membuat mural dan grafiti,
menempel poster dan stiker, serta melakukan berbagai kegiatan artistik lainnya di ruang kota
mereka masing-masing secara bersamaan pada 13 Februari 2011. Semua kegiatan itu bersifat
terbuka dan dapat dilakukan oleh semua orang, termasuk mereka yang bukan seniman, di mana
pun dan dengan caranya masing-masing. Gerakan ini berlanjut pada 17 April 2011 dan setiap
orang bebas untuk mengirimkan dokumentasi dari kegiatan artistik yang telah dilakukannya
ke situs web Berbeda dan Merdeka 100%. Berbagai seniman yang terlibat gerakan ini berasal
dari berbagai kota seperti Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya di Indonesia, termasuk Singapura.

2. Sistem distribusi for-profit, yaitu kegiatan yang mencakup perencanaan, pengorganisasian,


dan pengendalian untuk menyalurkan produk seni rupa ke presentasi for-profit. Tujuan
for-profit adalah menghasilkan margin keuntungan nilai ekonomi dari suatu produk seni
rupa, contoh:
Galeri menyalurkan karya ke art fair,
Art dealer menyalurkan karya ke balai lelang.

Art Basel Hongkong


Sumber: world.time.com

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Seni Rupa Indonesia

43

Catatan: distribusi dan presentasi not-for-profit penting untuk menjadi faktor penentu bagi
standar kualitas, berdasarkan sifat distribusinya yang membebaskan proses penciptaan karya
dari intervensi konsumen maupun dorongan ekonomi. Permintaan berdasarkan selera pasar
sering menjadi monoton dan tidak mendorong terjadinya kreativitas yang maksimal. Dalam
proses not-for-profit, pelaku seni berfokus pada penciptaan dan pengembangan karya, yang pada
akhirnya juga menentukan standar legitimasi pasar.Maksud dari berfokus pada pengembangan
merujuk pada inovasi kreatifbaik teknis, eksplorasi medium, dan pengembangan wacanayang
dilakukan seniman. Proses distribusi dan presentasi not-for-profit umumnya mendapat dukungan
biaya dari lembaga donor, sumbangan pribadi, maupun dari kantong pelaku seni sendiri.

Pelaku-pelaku utama dalam proses distribusi adalah:


1. Sistem distribusi not-for-profit: kurator, kelompok dan organisasi seniman, lembaga seni rupa.
2. Sistem distribusi for-profit: galeri, manajemen seni, individual art dealer.
3. Pelaku pendukung: event organizer, kolaborator, networker.

Definisi Pelaku dalam proses distribusi

44

Kurator: dalam proses distribusi berperan untuk memilih karya untuk dipresentasikan
ke ruang-ruang presentasi. Dalam praktik idealnya, pameran di galeri sebaiknya terjadi
melalui proses pelaksanaan yang utuh, dalam arti bahwa pameran disiapkan berdasarkan
konep tertentu dalam tenggat waktu tertentu. Pelaksanaan ini umumnya didampingi
kurator. Galeri juga berperan dalam melakukan promosi dan pemasaran yang pantas.
Galeri memiliki tujuan ideal sebagai tempat apresiasi karya seni rupa sekaligus menjadi
tempat penjualan karya. Galeri kadang juga berperan ganda sebagai pihak manajemen
bagi seniman, atau artists management.

Individual art dealer: penjual karya seni yang tidak mengkaitkan dirinya dengan
manajemen seni yang lebih besar atau berada dalam institusi tertentu. Individual art
dealer umumnya berinteraksi langsung dengan pembeli, bekerja sesuai dengan permintaan
pembeli, dan mendapatkan pasokan karya langsung dari seniman, dari kolektor lain, atau
dari galeri yang memiliki karya yang menjadi permintaan pasar.

Event organizer: orang atau sekelompok pekerja yang memikirkan dan merencanakan
strategi produksi acara seni, proyek seni, dll. Beberapa contoh kegiatan yang dilakukan
antara lain merancang kerangka waktu, menyusun proposal, dan mempersiapkan acara
dari praproduksi sampai pascaproduksi.

Kolaborator: orang yang melakukan kerja sama dengan pihak lain dalam kegiatan seni.
Kerja kolaborasi bisa dilakukan oleh dua atau lebih kolaborator dan bisa dilakukan secara
lintas negara.

Networker: orang yang membentuk jaringan-jaringan kesenian. Jaringan yang terbentuk


biasanya antarindividu atau kelompok seni dan antar-lembaga kesenian. Kerja jejaring sangat
membantu para pelaku kesenian melakukan kerja kolaborasi dan kerjasama lintas disiplin.

Artists initiative, komunitas seni rupa, kelompok seniman: sudah dijelaskan di


lingkungan pengembangan.

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

B.4. Proses Presentasi


Gambar 2-5 Proses Presentasi Seni Rupa

Tujuan penciptaan karya seni adalah untuk mendorong suatu ekspresi dan opini kepada publik.
Karya seni dan produk pengetahuan pada umumnya ditujukan untuk menjadi konsumsi masyarakat
seluas-luasnya. Untuk memenuhi tujuan ini, rantai terakhir dari proses rantai nilai kreatif adalah
proses presentasi. Proses presentasi, selain penting untuk eksposur karya dan produk pengetahuan
kepada publik, juga merupakan proses yang sangat penting untuk memicu pengembangan wacana
karya, merekam posisinya dalam konteks sejarah, juga untuk memicu terjadinya proses jual-beli.
Selain seniman sendiri masih memegang kendali mengenai bagaimana karyanya hendak
dipresentasikan, sebuah proses presentasi melibatkan banyak pihak. Proses presentasi karya seni
biasanya juga melibatkan keahlian kurator untuk proses pemilihan, penulisan, display karya, dan
komunikasi kepada penonton, juga dibantu oleh manajemen yang mengatur sistem dan ruang
presentasi. Peran pelaku pendukung seperti tim display, lighting designer, pihak pemasaran dan
public relation, juga tidak kalah penting dalam proses ini.

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Seni Rupa Indonesia

45

Proses presentasi produk pengetahuan bisa melibatkan manajemen seni, komunitas, atau institusi
seni seperti museum, lembaga pengarsipan, organisasi seni rupa, misalnya untuk program
workshop, simposium, maupun artist-talk. Proses presentasi produk pengetahuan juga didukung
oleh penerbit dan percetakan.
Sebagai terusan dari proses distribusi, proses presentasi juga dibagi menjadi dua sistem yang sama:
1. Presentasi not-for-profit, yaitu sistem saat karya atau produk pengetahuan dipresentasikan tanpa
bersamaan dengan sistem penjualan. Sistem ini didirikan dengan tujuan untuk menghasilkan
respons bagi pengembangan wacana dan standarisasi kualitas yang terbebas dari provokasi nilai
ekonomi. Nilai-nilai yang dicari dari memberlakukan sistem ini adalah nilai kreativitas murni
dan nilai inovasi, dengan tujuan mendorong peningkatan standarisasi kualitas kreatif dan
inovatif, yang pada akhirnya juga memengaruhi kualitas produk yang dijual di sektor for profit.
Dalam sistem presentasi not-for-profit tetap bisa terjadi interaksi ekonomi, misalnya berupa
gaji atau fee bagi orang-orang yang terlibat dalam penyelenggaraan, baik bagi pelaku utama
maupun pelaku pendukung. Dalam beberapa acara presentasi, juga diberikan artist-fee
dan production fee, yaitu bayaran untuk berpartisipasi dan bujet untuk menutup ongkos
produksi karya, termasuk biaya harian dan biaya pengiriman karya.
Proses presentasi not-for-profit dalam skala medium dan besar juga bisa memengaruhi
bisnis-bisnis di sekitar tempat acara, misalnya hotel dan rumah makan di sekitarnya. Secara
langsung, acara seni yang dihargai oleh masyarakat seni rupa internasional, misalnya
seperti bienial dan art fair, memengaruhi sektor pariwisata dalam negeri.
Presentasi nonkomersial dapat terjadi melalui berbagai bentuk presentasi seperti bienial,
trienial, pameran, presentasi di ruang publik, maupun acara-acara seni dan ajang
penghargaan. Pelaku-pelaku utama dalam presentasi not-for-profit sangatlah beragam,
di antaranya: seniman, kurator, direktur artistik, direktur museum, komunitas atau
organisasi seni, juri, dll.
Artistic director umumnya diperlukan dalam acara-acara besar seni rupa yang melibatkan
puluhan seniman dan menggunakan beberapa lokasi pameran, misalnya seperti yang
umumnya terjadi dalam sebuah bienial.
2. Presentasi for-profit, yaitu sistem presentasi karya atau produk pengetahuan yang
dipresentasikan dengan sistem penjualan untuk menghasilkan keuntungan ekonomi.
Sistem ini juga merespons perkembangan pasar dan rencana bisnis seni rupa. Ada banyak
sistem penjualan di dalam proses ini, di antaranya:
Sistem pameran atau galeri (karya seni rupa): karya-karya dikumpulkan dan dipamerkan
di galeri atau ruang pamer lainnya, dan karya seni dijual melalui pihak penyelenggara.
Pihak penyelenggara bisa merupakan galeri atau manajemen seni. Umumnya dalam
sistem ini karya berasal langsung dari seniman, dan idealnya melalui proses kuratorial
dan diiringi oleh tulisan kuratorial.
Sistem Lelang: sistem penjualan saat penjual menentukan harga minimun dan calon
pembeli memberikan penawaran tertinggi. Sistem ini memprovokasi kenaikan harga,

46

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

namun harga yang terjadi di dalam lelang belum tentu bisa dianggap sebagai harga
pasar umum dari sang seniman.
Sistem Art Fair: sejumlah galeri dikumpulkan dalam acara tahunan di satu ruang
atau gedung tertentu untuk berpameran dan menjual karya-karya seni. Lewat art fair
penonton bisa mendapatkan variasi hasil karya seni yang beragam dan mendapat ide
tentang tren pasar saat itu. Indonesia memiliki dua art fair yang tergolong besar, yaitu
Bazaar Art Jakarta dan ART|JOG. ART|JOG memiliki ciri khas yang lain dari art
fair pada umumnya, yaitu representasi dipegang bukan oleh sekumpulan galeri, tetapi
oleh satu manajemen, yaitu Heri Pemad Art Management.
Sistem retail (produk pengetahuan): produk pengetahuan (buku, katalog, dsb.) dijual
secara satuan melalui gerai-gerai buku ataupun toko seni rupa.
Presentasi for-profit ini terjadi di ruang-ruang: galeri, art fair, balai lelang, dan ruang
pamer umum. Berdasarkan data yang dikumpulkan tim perumus, di Indonesia terdapat
terdapat lima balai lelang, yaitu: Masterpiece, Borobudur, Larasati, 33 Auction House,
dan SidhArta Auctioneer yang berasal dari Indonesia, serta dua representasi dari balai
lelang internasional yaitu Christies dan Sothebys.

Edwins Gallery Jakarta


Sumber: edwinsgallery.com

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Seni Rupa Indonesia

47

Terdapat 74 galeri yang tersebar di Jawa, Bali, dan Sumatera berdasarkan data yang dikerjakan
oleh tim perumus.
Tabel 2-3 Galeri Seni Rupa

Nama

48

Lokasi

Tahun

Status

Galeri Nasional Indonesia

Jakarta

1999

Aktif

Andis Gallery

Jakarta

1990

Aktif

Ark Gallery

Yogyakarta

2007

Aktif

Art Season Gallery

Singapura, Beijing, dan Jakarta

2001

Aktif

Artsphere Gallery

Jakarta

2006

Aktif

Asbestos Art Space

Bandung

2002

Biasa Art Space

Seminyak dan Jakarta

2005

Aktif

Brush Brothers

Bandung

2014

Aktif

Cemeti Art House

Yogyakarta

1988

Aktif

10

CG Art space

Jakarta

2008

Aktif

11

Ciputra Artpreneur Centre

Jakarta

2014

Aktif

12

Common Room

Bandung

2001

Aktif

13

CP Artspace

Jakarta

14

D Gallery

Jakarta

2000

Aktif

15

Darga Gallery

Sanur, Bali

16

Dialogue Artspace

Jakarta

2010

Aktif

17

Duta Fine Art

Jakarta

18

Edwins Gallery

Jakarta

1984

Aktif

19

Emmitan CA Gallery

Surabaya

Aktif

20

Fang Gallery

Jakarta

Aktif

21

Galeri Apik

Jakarta

2009

Aktif

22

Galeri Canna

Jakarta

2001

Aktif

23

Galeri Cemara 6

Jakarta

1993

Aktif

24

Galeri Hadiprana

Jakarta

1961

Aktif

25

Galeri Mon Dcor

Jakarta

1983

Aktif

26

Galeri Nadi

Jakarta

2000

Aktif

27

Galeri Salihara

Jakarta

2008

Aktif

28

Galeri Semarang

Semarang

2001

Aktif

29

Galeri Seni Tong Sampah

Medan

1990

Tidak aktif

30

Galeri Tondi

Medan

2006

Tidak aktif

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

Nama

Lokasi

Tahun

Status

31

Galleri 678

Jakarta

1999

32

Gallery Cipta II and III

Jakarta

Aktif

33

Garis Artspace

Jakarta

2011

Aktif

34

GO Art Space

Surabaya

2011

Aktif

35

Green Artspace

Jakarta

2010

Aktif

36

Hanna Artspace

Ubud, Bali

2008

37

Jakarta Contemporary Artspace

Jakarta

2014

Aktif

38

Jogja Contemporary

Yogyakarta

2011

Aktif

39

Kedai Kebun Forum

Yogyakarta

1996

Aktif

40

Kendra Gallery

Denpasar

2008

Aktif

41

Kersan Art Studio

Yogyakarta

2009

Aktif

42

Koong Gallery

Jakarta

Aktif

43

Krack Studio

Yogyakarta

2013

Aktif

44

Langgeng Gallery

Magelang

2002

Aktif

45

Lawangwangi Creative Space

Bandung

2010

Aktif

46

Linda Gallery

Jakarta

1990

47

Linggar Seni Galeri

Jakarta

2008

48

Lontar Gallery

Jakarta

1996

Aktif

49

Maha Art Gallery

Sanur, Bali

2008

Aktif

50

OFCA International Sarang


Building

Yogyakarta

2004

Aktif

51

Padi Art Ground

Bandung

52

Philo Artspace

Jakarta

2005

Aktif

53

Platform3

Bandung

2009

Aktif

54

Puri Art Gallery

Malang

2001

55

Redpoint Gallery

Bandung

1995

56

ROH Projectatau Gallery Rachel

Jakarta

2012

Aktif

57

RURUGallery

Jakarta

2000

Aktif

58

Rumah Seni Embun

Medan

2013

Aktif

59

S.14

Bandung

2008

Aktif

60

Sangkring Art Space

Yogyakarta

2007

Aktif

61

Selasar Sunaryo Art Space

Bandung

1998

Aktif

62

Sika Gallery

Ubud, Bali

1996

Aktif

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Seni Rupa Indonesia

49

Nama

Lokasi

Tahun

Status

63

Soemardja Gallery

Bandung

1993

Aktif

64

Srisasanti Arthouse

Jakarta dan Yogyakarta

Aktif

65

Syang Art Space

Magelang

2009

Aktif

66

Taksu Bali

Bali-Sing_KL

1989

Aktif

67

Taman Budaya Yogyakarta

Yogyakarta

2001

Aktif

68

Tembi Contemporary

Yogyakarta

Aktif

69

Tony Raka Gallery

Ubud, Bali

1968

Aktif

70

Umahseni

Jakarta

2007

Aktif

71

Vanessa Art Link

Jakarta

2009

Aktif

72

Vivi Yip Art room

Jakarta

2008

Aktif

73

Waga Studio&Gallery

Jakarta

2014

Aktif

74

Zola Zolu Gallery

Jakarta dan Bandung

1998

Aktif

Definisi Pelaku atau Event Dalam Proses Presentasi

50

Dalam proses presentasi, seorang kurator bertugas menentukan dan menghasilkan bentuk
presentasi yang terbaik untuk karya yang dipamerkan.

Direktur artistik (artistic director): dalam seni rupa, direktur artistik adalah individu
yang bertugas menyusun dan mengembangkan suatu acara seni. Direktur artistik bertugas
mengatur penerapan rencana acara dan presentasi dari acara tersebut. Bekerja sama dengan
kurator, direktur artistik juga ikut berperan serta dalam mengkaji pemilihan karya seni
atau perupa yang berpartisipasi di acara tersebut. Umumnya direktur artistik diperlukan
untuk acara seni yang berskala besar.

Bienial atau Biennale: sebuah peristiwa seni dalam skala yang besar, diadakan setiap
dua tahun sekali. Dalam konteks seni rupa bienial berperan menjadi acara penting untuk
mendefinisikan standardisasi kualitas pencapaian seni rupa yang terjadi dalam periode dua
tahun tersebut. Peristiwa serupa dengan jarak waktu yang berbeda juga diselenggarakan
dengan istilah trienial (acara tiga tahunan).

Festival: berasal dari kata festivalis atau festivus dan festum dalam bahasa Latin yang
berarti pesta. Istilah festival bisa diartikan sebagai sebuah perayaan, pameran, dan
pertunjukan yang bertujuan menggalang kebersamaan, kadang tanpa kuratorial atau
seleksi yang sangat ketat.

Art Fair: acara di mana sejumlah galeri diseleksi dan dikumpulkan untuk menjual
karya-karya koleksinya dalam tenggang waktu tertentu, di ruang atau gedung yang sama.
Tujuan utama Art Fair adalah mewadahi proses jual-beli agar konsumen memiliki variasi
pilihan yang luas.

Museum: institusi yang bertugas untuk menyimpan benda-benda bersejarah. Sebagai


tempat publik umum mengakses pendidikan, museum seni rupa harus menyimpan
karya-karya seni yang menjadi representasi atau penanda dalam sejarah seni rupa. Selain
menyimpan, museum sebagai institusi juga bertugas mengkurasi, merawat, memelihara,
merestorasi, dan memamerkan karya sebagai akses bagi publik yang lebih luas.
Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

Museum secara ideal harus memiliki sistem kurasi yang up to date, sistem pengarsipan,
penelitian, konservasi dan restorasi yang memadai, juga program publik yang aktif. Dari
segi pengelolaannya, jenis museum bisa dibedakan menjadi dua.
Museum publik yang dikelola oleh pemerintah dan terbuka bagi masyarakat umum.
Museum publik memiliki sistem kurasi yang lebih luas dan mencakup semua aspek
sejarah bangsa atau regional.
Museum privat yang dimiliki oleh indivindu tertentu atau sebuah perusahaan, bisa
terbuka untuk penonton umum atau penonton terbatas. Museum privat cenderung
memiliki kurasi yang lebih spesifik sesuai dengan kecenderungan selera individu atau
korporasi yang mengelolanya.

Art Stage Singapore


Sumber: artstagesingapore

Program publik: program yang ditujukan untuk interaksi publik luas dan diselenggarakan
di ruang-ruang publik. Umumnya menjadi bagian dari rangkaian acara seni berskala
besar seperti festival atau bienial.

Persentasi proyek seni rupa: merupakan salah satu model persentasi karya selain melalui
pameran. Persentasi ini dilakukan untuk menjelaskan keseluruhan proses karya proyek
seni rupayang biasanya dilanjutkan dengan diskusi.

Balai lelang: agen yang menjual karya dari penjual ke pembeli dengan menggunakan
metode lelang. Secara ideal, balai lelang mendapatkan supply dari art dealer (individual
art dealer, galeri) dan kolektor yang ingin melepas karyanya. Proses lelang memprovokasi
kenaikan harga karya. Harga suatu karya bisa melambung tinggi, atau sebaliknya, harga
dipatok di harga yang terlalu rendah untuk memancing pembeli namun harga karya
tersebut kemudian tidak naik sesuai dengan perkiraan. Maka dari itu, hasil harga final
dari penjualan di balai lelang tidak boleh dijadikan sebagai acuan harga pasar. Di dalam
balai lelang juga dikenal individu yang bertitel specialist. Specialist adalah individu

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Seni Rupa Indonesia

51

yang memiliki pengetahuan dan keahlian khusus untuk mengenali dan menilai kategori
seni tertentu. Spesialist misalnya bisa berfokus pada era tertentu, seniman tertentu, atau
medium tertentu. Specialist bertugas untuk menganalisa autentisitas dari suatu karya,
posisinya dalam sejarah, dan juga posisi nilai ekonominya di pasar. Sering peran specialist
tertukar dengan terminologi kurator.

Juri: individu yang memiliki pengalaman dan kualifikasi yang cukup untuk menentukan
kriteria-kriteria dan menilai serta memilih peserta yang dianggap unggul dalam suatu
acara kompetitif.

Penerbit: sebagai pelaku pendukung; institusi yang mengatur penerbitan dan distribusi
dari karya tulis.

Percetakan: sebagai pelaku pendukung; perusahaan yang memberikan jasa mencetak


ke bentuk hard copy.

C. PASAR
Pasar dalam seni rupa pada umumnya adalah terminologi untuk menyebut suatu sistem yang
berperan sebagai wadah transaksi dengan margin keuntungan. Di dalam pemetaan ini yang
dimaksud pasar adalah konsumen, penonton, dan pembeli, yang mewadahi interaksi dengan
margin keuntungan maupun interaksi tanpa margin keuntungan nilai ekonomi. Pasar di sini
adalah respons dari proses presentasi yang menciptakan terjadinya penonton, dengan tujuan
untuk memicu terjadinya apresiasi.
Konsumen adalah orang-orang yang mengkonsumi seni rupa, dalam arti mereka menonton,
menikmati, membaca dan mengalami seni rupa, baik secara aktif dengan datang ke acara seni
rupa, membeli buku seni rupa, atau menikmati seni rupa lewat situs online, maupun yang secara
pasif terekspos pada pengalaman seni rupa, misalnya melihat seni rupa publik yang ada di ruangruang publik tanpa sengaja, maupun kebetulan membaca liputan seni di media massa.
Penonton adalah orang-orang yang dengan aktif mencari dan menonton hasil karya seni rupa
dan mengkonsumsi produk pengetahuannya, baik lewat pameran maupun situs-situs online.
Penonton dibagi menjadi dua:
1. Penonton umum: publik secara umum yang memiliki niat hanya sebagai penikmat.
2. Penonton ahli: individu-individu yang memiliki pengetahuan di bidang seni rupa dan
keahlian untuk menyediakan fasilitas pengkajian lewat medium yang berbeda-beda, di
antaranya: akademisi, kritikus seni, wartawan, periset, institusi seni, dll.
Pembeli adalah orang-orang yang membayar untuk memiliki atau menonton acara seni rupa
dan produk pengetahuannya. Pembeli bisa berupa orang-orang yang membeli untuk keperluan
tertentu, misalnya untuk mengisi rumah, atau pembeli yang secara intensif mengoleksi karya
seni rupa, yaitu yang disebut kolektor. Kolektor di Indonesia boleh dibilang aktif dan protektif
terhadap seni rupa Indonesia, dalam arti mereka secara sadar berfokus pada pengkoleksian
karya-karya dalam negeri. Beberapa kolektor aktif di Indonesia bahkan membangun museum
berdasarkan koleksinya.
Pembeli juga bisa berupa orang-orang yang membeli produk pengetahuan seni rupa, misalnya
buku-buku seni rupa, orang-orang yang membeli artist-merchandise, dan perusahaan yang
menggunakan jasa seni rupa, misalnya media massa yang menggunakan ilustrasi, atau perusahaan
yang menggunakan produk dan jasa pelaku seni rupa pada usaha promosinya. Contoh perusahaan

52

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

yang menggunakan produk dan jasa seni rupa dalam usaha promosinya adalah Sampoerna yang
secara berkelanjutan mengadakan acara-acara seni rupa, dan juga perusahaan kue Genji Pie yang
mengadakan acara promosi pada 2014 dengan cara membangun pop-up store dan melibatkan
sejumlah seniman mural untuk toko tersebut.
Definisi pelaku dan aktivitas pasar.

Kolektor: individu yang secara aktif, sistematis dan berkelanjutan melakukan kegiatan
koleksi karya seni rupa. Kolektor untuk membangun koleksi yang baik, juga dituntut
untuk membekali dirinya dengan pengetahuan seni rupa yang progresif.

Artist-merchandising: produk di mana karya seni perupa diaplikasikan ke bentuk-bentuk


yang memiliki fungsi guna yang umum, misalnya ke kaos atau cangkir dan tas.

Gardu House Jakarta - Ruang Alternatif yang Mengembangkan Industri Artists Merchandise
Sumber: 3.bp.blogspot.com

Ilustrasi media massa: gambar yang dihasilkan untuk mengilustrasikan komunikasi


tulisan di media massa. Gambar ilustrasi dihasilkan berdasarkan tulisan atau konsep
yang ingin disampaikan oleh media massa.

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Seni Rupa Indonesia

53

D. APRESIASI
Gambar 2-6 Apresiasi dalam Seni Rupa

Apresiasi adalah respons langsung dari kegiatan presentasi yang berlanjut dengan respons
dari kegiatan menonton. Dalam proses apresiasi terjadi reaksi dan pengkajian dari karya yang
dipamerkan. Apresiasi dan hasil-hasilnya digunakan oleh lingkungan pengembangan sebagai
data untuk studi, dan berfungsi sebagai berikut.
Acuan untuk menilai pandangan dan pemahaman publik tentang praktik seni rupa.
Media pengkajian ulang standardisasi kualitas.
Media pengkajian ulang perkembangan teknologi dan wacana.
Media penelitian untuk perumusan sistem pendidikan.
Pengembangan wacana kritik seni dan budaya.
Pengembangan wacana pasar .
Pengembangan konservasi, dsb.
Bentuk apresiasi dibedakan menjadi dua jenis.
1. Apresiasi pasif: penonton sebagai penikmat pasif, maksudnya reaksi penonton dalam grup
ini tidak disumbangkan kembali ke pelaku seni dalam bentuk tulisan, diskusi, ulasan
atau pengoleksian.
2. Apresiasi aktif: individu atau institusi yang memberi respons yang menghasilkan kegiatankegiatan:
Pengembangan wacana kritik seni: berupa kritik seni, ulasan, penelitian, dan pemberian
penghargaan (award). Pengembangan wacana kritik seni dilakukan umumnya oleh
kurator, kritikus seni, akademisi, seniman, kelompok seni, lembaga penelitian, lembaga
pengarsipan, dan institusi pendidikan.
Kegiatan koleksi publik: karya seni dikoleksi oleh lembaga-lembaga pemerintahan,
museum publik, dan institusi-institusi yang terbuka bagi publik umum.
Kegiatan koleksi privat: karya seni dikoleksi untuk pribadi, museum privat, maupun
perusahaan di mana akses untuk publik terbatas.
Kegiatan-kegiatan apresiasi ini berfungsi sebagai pemicu perkembangan substansi seni rupa.

54

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

KONSERVASI
Proses penyimpanan, pemeliharaan, pendataan, pengarsipan terhadap produk karya seni, acara
seni, dan distribusi produk pengetahuan dan wacana-wacana yang menyertainya disebut sebagai
proses konservasi. Hasil konservasi ditujukan untuk publik demi merawat sejarah dan mendukung
perkembangan budaya.
Konservasi adalah sektor krusial untuk terjadinya:
Pengembangan wacana;
Pengembanagan proses kreasi dan produksi;
Pelestarian sejarah.
Pendidikan publik.
Pembentukan minat pada sektor.
Pelaku utama dalam proses konservasi adalah museum(baik privat maupun publik), lembaga
penelitian, lembaga pengarsipan,sejarawan seni, periset, dan konservator. Seperti yang sudah
diterangkan di dalam lingkungan pengembangan produksi, lembaga pengarsipan khusus seni
rupa yang aktif dan ekstensif saat ini adalah Indonesian Visual Art Archive (IVAA). IVAA lahir
dan tumbuh dari inisiatif pelaku seni, dibiayai secara mayoritas oleh lembaga-lembaga donor luar
negeri dan usaha-usaha penggalangan dana dari manajemen IVAA sendiri. Insitusi-intistusi lain
yang mengadakan kegiatan pengarsipan juga termasuk perpustakaan dan lembaga arsip negara,
perguruan tinggi, Dewan Kesenian Jakarta, dan institusi-institusi seni rupa seperti Selasar
Sunaryo, dan organisasi-organisasi seniman yang lain.
Museum publik (dibangun dan dikelola pemerintah) secara ideal harus aktif mengoleksi karyakarya seni dan produk pengetahuan sesuai dengan perkembangan seni rupa demi terwujudnya
ruang-ruang yang membangun pengertian, kebanggaan bangsa akan budayanya, dan pembentukan
pencitraan nasional. Museum publik juga harus secara aktif menjalankan program-program untuk
distribusi pengetahuan kepada masyarakat umum, berupa tur museum, lokakarya, program
kegiatan untuk anak-anak dan dewasa, dsb.
Museum privat di Indonesia aktif dalam kegiatan koleksi seni rupa modern dan kontemporer.
Museum-museum ini telah memberikan dampak yang positif dan signifikan dalam usaha-usaha
pelestarian karya anak bangsa. Keterbatasan museum privat adalah kurasi yang spesifik sesuai
selera individu kolektor atau institusi yang mendirikannya. Di sini dirasakan pentingnya aktivasi
dan revitalisasi kegiatan koleksi museum publiksebagai institusi negara ia wajib memenuhi
kelengkapan koleksi yang netral dan mencakup seluruh perkembangan seni rupa Indonesia.

OHD Museum Magelang, Jawa Tengah - Museum Privat


Sumber: ohdmuseum.com

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Seni Rupa Indonesia

55

Tercatat ada 25 museum seni rupa, yang tersebar hanya di Jawa dan Bali. Lima di antaranya
merupakan museum publik.
Tabel 2-4 Museum di Indonesia

Nama

Kota

Tahun

Status

Status

Museum Seni Rupa dan Keramik

Jakarta

1976

Publik

Aktif

Bentara Budaya Jakarta

Jakarta

1985

Publik

Aktif

Museum Pelita Harapan

Tangerang

1993

Privat

Aktif

Gedung Kesenian Jakarta

Jakarta

1987

Publik

Aktif

Galeri Nasional Indonesia

Jakarta

1999

Publik

Aktif

Museum Basoeki Abdullah

Jakarta

1998

Privat

Aktif

Affandi Museum

Yogyakarta

1974

Privat

Aktif

Museum Barli

Bandung

1992

Privat

Aktif

The Agung Rai Museum Of Art

Bali

1996

Privat

Aktif

The Blanco Reinassance Museum

Bali

1998

Privat

Aktif

Le Mayeur Museum

Bali

Privat

Aktif

Neka Art Museum

Bali

1982

Privat

Aktif

Puri Lukisan Museum

Bali

1958

Privat

Aktif

Museum Rudana

Bali

1995

Privat

Aktif

Griya Seni Popo Iskandar

Bandung

1979

Privat

Aktif

Nu Art Sculpture Park

Bandung

2000

Privat

Aktif

Lawangwangi Creative Space

Bandung

2010

Privat

Aktif

Selasar Sunaryo Art Space

Bandung

1998

Privat

Aktif

OHD Museum

Magelang

1970

Privat

Aktif

Nyoman Gunarsa Museum

Yogyakarta

1990

Privat

Aktif

Art:1 New Museum

Jakarta

2011

Privat

Aktif

Akili Museum of Art

Jakarta

2006

Privat

Aktif

Yuz Art Museum

Jakarta

2008

Privat

Aktif

Ciputra Art Museum

Jakarta

2014

Privat

Aktif

Jogja National Museum

Yogyakarta

2005

Publik

Aktif

56

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

Definisi Pelaku:

Sejarawan seni: Individu yang berfokus untuk meneliti, mengkaji ulang, dan menuliskan
fakta-fakta dan kesimpulan tentang sejarah seni di masa yang telah lewat.

Konservator: individu yang memiliki pendidikan dan keahlian khusus untuk merawat
dan merenovasi karya seni.

Periset seni: seseorang yang melakukan penelitian di bidang seni secara sistematis, kritis
dan ilmiah untuk meningkatkan pengetahuan dan pengertian, mendapatkan fakta yang
baru atau melakukan penafsiran yang lebih baik.

Lembaga pengarsipan: sudah didefinisikan di lingkungan pengembangan produksi.

Museum privat dan museum publik: telah dijelaskan di proses presentasi.

2.2 Peta dan Ruang Lingkup Industri Seni Rupa


2.2.1 Peta Industri Seni Rupa
Industri seni rupa adalah sistem yang mencakup interaksi antar pelaku dan produk (hasil karya)
dari pelaku, beserta semua kegiatan yang terjadi di antaranya. Tujuan dari industri seni rupa
adalah untuk menjadi sistem di mana produk diciptakan, diwujudkan, didistribusikan, direspons,
dan dikembangkan untuk produksi berkelanjutan yang progresif.
Pemetaan industri di sini menerangkan kegiatan-kegiatan dalam industri, peran pelaku, perputaran
karya, bahan, dan jasa. Pemetaan industri penting untuk dilakukan untuk melihat perputaran
karya, bahan, dan jasa tersebut, dan bagaimana interaksi ekonomi terjadi di antaranya. Termasuk
menjelaskan hubungan pengadaan bahan dan jasa (supply) dari industri-industri terkait ke pelaku
industri utama (backward linkage) dan permintaan produk dan jasa (demand) dari industri-industri
terkait ke pelaku industri utama (forward linkage).

A. Proses Kreasi
Dalam proses kreasi, ide dituangkan dan disusun untuk membangun konsep dan rencana kerja.
Konsep dan rencana kerja disini termasuk untuk penciptaan karya seni rupa, penelitian dan
tulisan, dan juga program acara seni rupa. Perencanaan metode kerja, metode riset, pertimbangan
pemilihan bahan dan alat juga terjadi di sini.

Pelaku utama: seniman, kelompok seniman, kurator, manajemen seni.


Pelaku dan sistem pendukung: lembaga pengarsipan, lembaga penelitian, komunitas
seni, masyarakat, seni tradisional, penjual bahan dan alat, transportasi, internet dan jasa
telekomunikasi.

B. Proses Produksi
Di sini terjadi proses perwujudan ide atau konsep dan rencana kerja, proses manipulasi dan
pengembangan materi untuk menjadi produk final Karya Seni dan Produk Pengetahuan.
Dalam proses produksi karya seni, seniman sebagai pelaku utama kadang melibatkan peran
artisan dan teknisi, pada saat yang bersamaan juga berdiskusi dengan kurator. Sementara proses
produksi pengetahuan umumnya melibatkan peneliti, komunitas atau masyarakat, dan lembaga
pengarsipan.

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Seni Rupa Indonesia

57

OUTPUT: produk karya seni dan produk pengetahuan.


Pelaku utama: seniman, kelompok atau organisasi seniman, kurator, manajemen seni.

Pelaku pendukung: artisan, teknisi, peneliti, lembaga arsip, manajemen seni, komunitas
atau masyarakat; penjual bahan dan alat,transportasi, Internet dan jasa telekomunikasi.
Juga dibutuhkan ruang kerja atau studio, yang di dalamnya mencakup pelaku pendukung
yang membangun ruang kerja tersebut.

Studio Eko Nugroho, Yogyakarta


Sumber: universes-in-universe.org

C. Proses Distribusi
Distribusi disini adalah proses manajemen penyebaran suatu produk karya seni dan produk
pengetahuan untuk konsumsi yang lebih luas. Distribusi mencakup pemilihan seniman dan karya
seni untuk diikutsertakan dalam acara tertentu (presentasi) dan pemasaran produk pengetahuan.
Seperti halnya di dalam pemetaan ekosistem, proses distribusi dibagi menjadi dua, yaitu distribusi
dengan tujuan untuk presentasi not-for-profit dan distribusi untuk presentasi for-profit.

Pelaku-pelaku utama: manajemen seni, kurator, kelompok seniman atau organisasi


seniman, galeri, individual art dealer, lembaga seni rupa.

Pelaku pendukung adalah: event organizer, kolaborator, networker.

Lewat proses distribusi ini jugalah terjadi pemasaran ke industri paralel.


Industri paralel mencakup bentuk-bentuk usaha:

58

Penjualan karya seni yang tidak melalui rentetan proses lengkap yang tercakup di Pemetaan
Industri Utama, termasuk di dalamnya kios pasar seni, proses jual-beli dilakukan langsung
oleh seniman tanpa ada seleksi dari pihak lain maupun wacana yang menyertainya.

Artist merchandise: pengaplikasian karya seni ke dalam benda-benda pakai, seperti


ilustrasi di kaos, gelas, tas, dsb.
Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

Kafe galeri: bentuk usaha yang menjadikan makanan dan minuman sebagai usaha
utamanya, dan pameran serta penjualan karya seni sebagai usaha pelengkapnya. Tren
kafe galeri sangat marak terjadi pada 1990-an, namun sulit mencapai display karya seni
yang ideal dalam metode seperti ini. Maka pada akhirnya bentuk kafe galeri cenderung
berfokus pada karya-karya dekoratif atau karya dua dimensi yang mudah disesuaikan
dengan bentuk ruang kafe. Umumnya kafe galeri tidak menggunakan metode kuratorial
profesional.
Manajemen kreatif: manajemen yang menjual jasanya untuk koordinasi dan penciptaan
ide promosi kreatif yang berkaitan dengan praktik-praktik seni rupa (bukan desain
dan periklanan).
Jasa aktivitas seni dan kerajinan untuk anak-anak, produk jasa ini adalah penyediaan
fasilitas ruang, bahan, dan bimbingan untuk anak-anak sampai remaja dalam hal
aktivitas seni dan kerajinan. Misalnya les lukis, atau aktivitas liburan dan ekstrakurikuler.
Bentuk jasa ini kadang diterapkan di sekolah-sekolah sebagai aktivitas setelah kelas
formal, atau di ruang publik seperti di mal, toko buku, dan kadang di ruang-ruang
milik penyedia jasa. Beberapa contoh dari bentuk usaha ini adalah: Kutakatik Art
& Craft, Museum Layang-Layang, Kelas Seni Hadiprana, Global Art, dan aktivitasaktivitas di Taman Budaya Sentul.

Di antara berbagai bentuk usaha yang kami data, ada beberapa nama yang menonjol, seperti
Gardu House, DGTMB, RURU Corps dan Kutakatik Art & Craft Class. Gardu House dan
DGTMB merupakan bentuk usaha artist merchandise, RURU Corps adalah sebuah agensi
komunikasi visual yang terbentuk dari gabungan tiga organisasi yang berada di Jakarta, yaitu
rungrupa, Forum Lenteng dan SERRUM sedangkan Kutakatik Art & Craft merupakan bentuk
usaha workshop seni rupa dan kerajinan untuk anak-anak. Bentuk usaha paralel berkembang dan
mempunyai massa sendiri yang cukup loyal seperti Gardu House, tempatnya selalu dipenuhi
oleh remaja dan para seniman street art lokal yang ingin belanja atau sekadar nongkrong.
Gardu House merupakan sebuah ruang pamer dan toko merchandise yang didirikan oleh para
seniman street art yang juga tergabung dalam Artcoholic pada 2010 di Jakarta. Anggota Artcoholic
yaitu YEAH!, Break13, Bujangan Urban, Fine, Koma, Rest, Sid Vizeus dan Toxicologie membuat
sebuah wadah bagi para seniman street art untuk saling mengenal, berkolaborasi dalam sebuah
proyek, dan pameran bersama dengan semangat untuk memajukan street art di Indonesia.
Toko merchandise shop yang ada di Gardu House menjual berbagai produk yang dihasilkan
oleh berbagai seniman street art, seperti kaos, sweater, topi, stiker, dan karya seni, dan segala
sesuatu yang berhubungan dengan street art untuk dipasarkan ke publik. Pada 2013, omset
Gardu House bisa mencapai lebih dari Rp 300 juta, dengan profit sekitar 100 jutaan. Omset
tersebut mereka putarkan kembali untuk menambah modal produksi barang. Setiap tiga bulan
produksi mereka mencapai 350-500 buah, kebanyakan produk yang dihasilkan adalah kaos
bergambar. Artist merchandise yang dihasilkan oleh Gardu House hanya di jual lewat toko
dan media online seperti Blog, Twitter, Facebook dan Instagram pribadi mereka. Dengan media
online dan proyek kolaborasi antarnegara membuat produk mereka mulai dikenal hingga luar
negeri di kawasan ASEAN seperti Singapura dan Thailand.

C. Proses Presentasi
Salah satu tujuan utama dari penciptaan seni rupa berada di aktivitas presentasi, ketika karya
dihadirkan untuk publik dan mendapat resposn. Proses presentasi menjadi tujuan dari prosesproses sebelumnya. Melihat eksposur seni rupa Indonesia di forum global yang meningkat dengan
BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Seni Rupa Indonesia

59

pesat selama dekade terakhir, maka penting untuk menganalisis dua bentuk presentasi:

Lingkup lokal ,yaitu presentasi yang terletak di dalam negeri dan mendapatkan respons
dari mayoritas masyarakat lokal. Bentuk presentasi meliputi pameran di galeri dalam
negeri, seni publik di ruang publik, proyek interaktif, balai lelang dalam negeri,

Lingkup internasional, yaitu presentasi yang menghadirkan mayoritas penonton, pembeli,


dan ulasan-ulasan, baik dari dalam maupun luar negeri. Presentasi lingkup internasional
bisa terjadi di dua lokasi.
Lokasi dalam negeri, di antaranya adalah acara-acara seni seperti Biennale Jogja,
Jakarta Biennale, ART|JOG, OK. Video Festival, Bazaar Art Jakarta, dan banyak
pameran atau workshop yang melibatkan seniman internasional dan mendapat respons
dari masyarakat seni rupa internasional.
Lokasi luar negeri: keikutsertaan seniman, galeri, dan kurator Indonesia dalam acaraacara penting di luar negeri seperti Asia Pacific Triennale, Singapore Biennale, Sao
Paolo Biennale, Shanghai Biennale, Art Basel Hong Kong, Art Stage Singapore,
Guggenheim, Singapore Art Museum, museum-museum di Eropa, balai lelang lokal
dan internasional yang mengadakan lelang di luar negeri, dan pameran-pameran
regional dan internasional lainnya.

Pameran Prila Tania, Bandung


Sumber: fukuoka-now.com

Seperti sudah dijelaskan di dalam pemetaan ekosistem, proses presentasi dibagi menjadi presentasi
not-for-profit dan presentasi for-profit, dengan tujuan yang berbeda, tetapi keduanya merujuk ke
perkembangan habitat seni rupa secara holistik. Dalam proses presentasi not-for-profit walau meraih
margin keuntungan nilai ekonomi bukan menjadi tujuan utamanya, jenis presentasi ini mampu
menciptakan pasar abstrak, yaitu transaksi tidak terjadi langsung di waktu dan ruang presentasi,
tetapi memicu terjadinya permintaan (demand) terhadap karya dan seniman yang dipamerkan.

60

Pelaku-pelaku dalam industri utama di proses presentasi adalah galeri, kurator, seniman,
manajemen seni, direktur artistik, direktur museum, komunitas atau organisasi seni, juri.

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

Pelaku-pelaku di industri pendukung adalah tim display, penerbit, percetakan specialist,


penyedia ruang presentasi, vendor konsumsi makanan, manajemen kreatif, artists
merchandising.

Bentuk-bentuk ruang presentasi diantaranya adalah galeri, Art Fair, balai lelang, ruang
pamer umum, festival, museum, ruang publik.

Platform 3 Bandung, Ruang Presentasi yang Diinisiasi oleh Tiga Seniman dan Tiga Kurator
Sumber: infoplatform3.files.wordpress.com

D.Pasar
Pasar yang dipetakan di dalam pemetaan industri seni rupa terdiri atas konsumen, penonton,
dan pembeli. Aktivitas yang bisa terjadi adalah pengoleksian karya seni rupa maupun produk
pengetahuannya. Aktivitas pengoleksian karya seni rupa kadang bisa terjadi ketika karya sudah
dipresentasikan ataupun melalui karya-karya commissioned work; seniman didanai untuk membuat
suatu karya yang pasti akan dibelikeputusan ini berdasarkan kepercayaan kepada seniman atau
kurator dan agen lain yang menjadi perantara. Commissioned work bisa merupakan presentasi notfor-profit, seperti karya-karya untuk bienial (seniman menerima artists fee dan ongkos produksi),
atau karya-karya site-specific (misalnya untuk suatu gedung tertentu; seniman menerima margin
keuntungan selain ongkos produksi).
Aktivitas utama yang terjadi di pasar pemetaan industri ini adalah konsumsi aktif, yaitu karya
seni rupa dan produk pengetahuan dibeli dan dikoleksi untuk alasan apapun. Pelaku pembeli
umumnya adalah institusi pendidikan, institusi lain, korporasi, kolektor privat, pemerintah,
masyarakat umum. Pelaku penyedia adalah galeri, balai lelang, seniman, manajemen seni, art
dealer, museum, lembaga pengarsipan, manajemen seni not-for-profit, organisasi seniman. Industri
pendukung di dalam pasar adalah lembaga-lembaga konservasi, riset, data, media massa.
Konsumen lain adalah juga termasuk penonton umum dan penonton ahli seperti akademisi,
kritikus seni, media massa, periset, institusi senikonsumsi mereka kemudian berkembang
menjadi materi di lingkungan pengembangan.
BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Seni Rupa Indonesia

61

DGTMB Shop, Yogyakarta - Toko Merchandise Komunitas Daging Tumbuh


Sumber: 3.bp.blogspot.com

DGTMB Shop, Yogyakarta - Toko Merchandise Komunitas Daging Tumbuh


Sumber: media.viva.co.id

62

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

2.2.2 Ruang Lingkup Industri Seni Rupa


Pemetaan industri yang dilakukan disini mencakup perputaran produk, bahan, alat, dan jasa
terkait dengan proses kreasi, produksi, distribusi dan presentasi dan konsumsi seni rupa, dan
dampak terkait terhadap industri-industri pendukung dan industri paralel.
Pemetaan Industri mencakup empat jalur industri:
Industri utama: aktivitas perputaran karya seni dan produk pengetahuan terjadi. Karya
seni dan produk pengetahuan di industri utama adalah seperti yang dijelaskan di ruang
lingkup definisi seni rupa (ruang lingkup perkembangan, bentuk, medium, dan akademis).
Industri pendukung penawaran (supply): hubungan pengadaan bahan dan jasa dari
industri-industri terkait ke pelaku industri utama.
Industri pendukung permintaan (demand),menjelaskan permintaan produk dan jasa
dari industri-industri terkait ke pelaku industri utama
Industri paralel: industri yang bukan merupakan industri utama, tapi hadir dan
berkembang lewat individu-individu, ide, kreasi dan konsep, dan menciptakan subindustri
dan subpasar di peta industri. Industri paralel belum tentu secara langsung mendukung
industri utama, tetapi didukung dan hadir dari keberadaan industri pertama.
Dalam Klasifikasi Baku Lapangan Usaha (KBLI) Ekonomi Kreatif 2009, seni rupa diklasifikasikan
di dalam Pasar Seni dan Barang Antik, dengan definisi:

Kegiatan kreatif yang berkaitan dengan perdagangan


barang-barang asli, unik, dan langka serta memiliki
nilai estetika seni yang tinggi melalui lelang, galeri,
toko, pasar swalayan, dan internet, misalnya: alat
musik, percetakan, kerajinan, automobile, film, seni
rupa, dan lukisan.
Klasifikasi 2009 ini dideskripsikan dengan kategori-kategori gabungan antara seni rupa dan
barang antik, berikut yang terkait dengan seni rupa sendiri:


Kode 47883: Perdagangan Eceran Kaki Lima dan Los Pasar Lukisan.
Kode 47785: Perdagangan Eceran Lukisan.
Kode 91021: Museum yang Dikelola Pemerintah.

Lewat penjelasan KBLI 2009 ini ditemukan banyak kesenjangan pengertian praktik seni rupa
Indonesia, hal ini menunjukkan kebutuhan yang sangat tinggi untuk revisi KBLI Seni Rupa
dan kategori-kategorinya.

2.2.3 Model Bisnis di Industri Seni Rupa


Model bisnis diterapkan sebagai usaha-usaha keberlanjutan untuk mendukung produktivitas dan
pemasaran individu atau komunitas yang dimaksud. Model bisnis menerangkan jalur perputaran
modal, pemasukan (income) dan output oleh seniman, organisasi, institusi yang berpraktik dalam

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Seni Rupa Indonesia

63

Gambar 2-7 Peta Industri Subsektor Seni Rupa

64

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

dunia seni rupa sebagai sistem untuk pembiayaan karya dan keberlanjutannya. Model bisnis
di dalam seni rupa sangatlah beragam, maka diambil dua contoh, yaitu: perupa individu dan
organisasi not-for-profit.

Modal
Modal adalah biaya yang digunakan untuk melaksanakan produksi, distribusi, dan presentasi.
Modal menjadi faktor yang penting untuk dibahas dan dimasukkan ke dalam rantai ekonomi,
selain merupakan faktor krusial untuk pembiayaan produksi, juga berdasarkan sumbernya yang
berbeda dari kebanyakan industri kreatif lain.
Modal yang dihibahkan berupa commision atau funding atau endownment bisa menjadi ukuran
akan tingginya apresiasi dan usaha-usaha untuk mengembangkan, melestarikan dan merekam
kemajuan sosial budaya suatu bangsa.
Industri pendukung: organisasi seni, manajemen seni, organisasi manajemen funding.
Sumber pendanaan:
modal pribadi (termasuk pinjaman pribadi),
funding organizations: not-for-profit organizations mendapatkan funding tahunan dengan
mengajukan rencana program tahunan mereka,
Selain itu, funding juga bisa didapatkan dengan melalui proposal individual projects
Organisasi-organisasi internasional yang aktif membantu pendanaan, salah satunya adalah
HIVOS, FORD Foundation, dll., sedangkan organisasi lokal seperti Yayasan Kelola.
filantropi: individual funding inititation,
manajemen seni,
pinjaman galeri,
pemerintah Republik Indonesia,
kolaborasi.

Model bisnis perupa individu


Seniman individu mendapatkan modal dari sumber dana pribadi, manajemen seni atau pinjaman
dari galeri. Modal diolah oleh seniman menjadi output berupa karya atau merchandise (kaos,
buku, poster, emblem, komik, stiker, dll.). Hasil dari output disalurkan kepada konsumen lewat
distributor, seperti studio seniman, art dealer, galeri, balai lelang dan toko.
Konsumsi dari output akan memberikan hasil berupa dana untuk distributor dan seniman; dana
ini dapat menjadi tambahan modal dan pendapatan bagi seniman. Pendapatan lain bagi seniman
juga bisa didapatkan melalui grant sponsor(korporasi), adalah suatu bentuk pendanaan untuk
seniman dari korporasi pemerintah ataupun organisasi swasta dengan tujuan yang spesifik, dana
yang didapatkan bisa digunakan untuk menambah modal atau pendapatan pribadi.

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Seni Rupa Indonesia

65

Gambar 2-8 Model Bisnis Perupa Individu

Model bisnis organisasi nonprofit


Model bisnis organisasi nonprofit ini mengambil contoh dari ruangrupa, yaitu sebuah artists
initiative di Jakarta yang berdiri pada 2000, dan masih aktif hingga saat ini. Ruangrupa
mempunyai berbagai divisi, yaitu RURU Gallery, ArtLab, OK. Video, Jakarta 32oC, Jurnal
Karbon, Jarak Pandang, RURU Shop, RURU Radio, dan RURU Corps. Modal pembentukan
organisasi didapatkan melalui dana pribadi anggota dan funding organization. Pendapatan lain
berasal dari invidual grant dan sponsor (korporasi), yang membantu untuk mendanai operasional
dan berbagai output ruangrupa. Modal dan pendapatan digunakan untuk menjalankan berbagai
output berbasis program dari divisi yang ada di ruangrupa, seperti festival video internasional
yang diselenggarakan setiap dua tahun sekali oleh divisi OK. Video, pameran dan workshop oleh
Jakarta 32oC yang diadakan setiap dua tahun sekali, program Gerobak Bioskop oleh ArtLab,
program pameran rutin dari RURU Gallery, program Jalan Tikus dari RURU Radio, dan tulisan
serta penelitian yang dihasilkan Jurnal Karbon dan Jarak Pandang. Pendapatan lain berasal
dari invidual grant dan sponsor (korporasi), yang membantu untuk mendanai operasional dan
berbagai output ruangrupa.

66

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

Gambar 2-9 Model Bisnis Organisasi Nonprofit

Modal dan pendapatan digunakan untuk menjalankan berbagai output berbasis program dari
divisi yang ada di ruangrupa, seperti festival video internasional yang diselenggarakan setiap dua
tahun sekali oleh divisi OK. Video, pameran dan workshop oleh Jakarta 32oC yang diadakan setiap
dua tahun sekali, program Gerobak Bioskop oleh ArtLab, program pameran rutin dari RURU
Gallery, program Jalan Tikus dari RURU Radio, dan tulisan serta penelitian yang dihasilkan
Jurnal Karbon dan Jarak Pandang.
Ruangrupa juga mempunyai beberapa output yang memungkinkan mereka untuk menghasilkan dana,
seperti Holy Market yaitu pasar kaget barang-barang artistik yang murah meriah yang diadakan
setiap tahun menjelang hari raya lebaran, divisi RURU Radio yang membuka kemungkinan untuk
memasang iklan berbayar di radio dan situs web, juga penjualan merchandise yang dilakukan oleh
RURU Shop. Berbagai output dari ruangrupa diapresiasi oleh konsumen, baik secara finansial,
maupun edukasi dan hiburan. Berbagai demand produk dan jasa dari konsumen, membuat
ruangrupa akhirnya membuat divisi baru yang berorientasi komersial, yaitu RURU Shop dan
RURU Corps yang diharapkan dapat membantu pendanaan modal organisasi ini di masa depan.

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Seni Rupa Indonesia

67

BAB 3
Kondisi Umum
Seni Rupa di Indonesia

3.1 Kontribusi Ekonomi Seni Rupa


Sampai akhir tahun 2014, penilaian kontribusi ekonomi seni rupa dilihat berdasarkan data
kontribusi ekonomi seni rupa yang dihasilkan Badan Pusat Statistik (BPS). Dari data BPS ini
ditemukan kejanggalan besar dalam jumlah kontribusi ekonomi tersebut. Jumlah kontribusi
ekonomi seni rupa didata jauh di bawah perkiraan keadaan yang terjadi di lapangan. Diperkirakan
bahwa rendahnya perhitungan ini disebabkan karena ruang lingkup Klasifikasi Baku Lapangan
Industri yang digunakan sebagai acuan BPS juga jauh lebih sempit bila dibandingkan dengan
dinamika di lapangan. Oleh karena itu, sangat perlu dilakukan pemetaan yang lebih akurat
untuk mendapatkan gambaran kontribusi Seni Rupa terhadap perekonomian Indonesia, dan
diperlukan perombakan KBLI Seni Rupa. Secara umum, kontribusi ekonomi Seni Rupa terhadap
perekonomian nasional dapat dilihat pada Tabel 3-1.
Tabel 3-1 Kontribusi Ekonomi Subsektor Seni Rupa (2010-2013)

INDIKATOR

SATUAN

2010

2011

2012

2013

RATARATA

1. BERBASIS PRODUK DOMESTIK BRUTO


a

Nilai Tambah
Subsektor
(ADHB)*

Miliar
Rupiah

1,372.15

1,559.54

1,737.36

2,001.32

1,667.59

Kontribusi
Nilai Tambah
Subsektor
Terhadap
Ekonomi
Kreatif (ADHB)*

Persen

0.29

0.30

0.30

0.31

0.30

Kontribusi
Nilai Tambah
Subsektor
Terhadap Total
PDB (ADHB)*

Persen

0.02

0.02

0.02

0.02

0.02

Pertumbuhan
Nilai Tambah
Subsektor
(ADHK)**

Persen

6.84

2.74

4.07

4.55

2. BERBASIS KETENAGAKERJAAN
a

Jumlah
Tenaga Kerja
Subsektor

Orang

14,956

15,163

15,237

15,269

15,156

Tingkat
Partisipasi
Tenaga Kerja
terhadap
Ketenagakerjaan
Sektor Ekonomi
Kreatif

Persen

0.13

0.13

0.13

0.13

0.13

Tingkat
Partisipasi
Tenaga Kerja
terhadap
Ketenagakerjaan
Nasional

Persen

0.01

0.01

0.01

0.01

0.01

70

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

INDIKATOR

SATUAN

Pertumbuhan
Jumlah
Tenaga Kerja
Subsektor

Persen

Produktivitas
Tenaga Kerja
Subsektor

Ribu
Rupiah/
Pekerja
Pertahun

2010

2011

2012

2013

RATARATA

1.39

0.49

0.21

0.70

91,748

102,853

114,020

131,067

109,922.11

3. BERBASIS AKTIVITAS PERUSAHAAN


a

Jumlah
Perusahaan
Subsektor

Perusahaan

4,990

5,062

5,147

5,242

5,110

Kontribusi
Jumlah
Perusahaan
terhadap
Jumlah
Perusahaan
Ekonomi
Kreatif

Persen

0.09

0.09

0.10

0.10

0.10

Kontribusi
Jumlah
Perusahaan
terhadap Total
Usaha

Persen

0.01

0.01

0.01

0.01

0.01

Pertumbuhan
Jumlah
Perusahaan

Persen

1.44

1.68

1.84

1.65

Nilai Ekspor
Subsektor

Juta
Rupiah

9,951.00

10,727.20

10,989.58

11,405.43

10,768.30

Kontribusi
Ekspor
Subsektor
Terhadap
Ekspor Sektor
Ekonomi
Kreatif

Persen

0.01

0.01

0.01

0.01

0.01

Kontribusi
Ekspor
Subsektor
Terhadap Total
Ekspor

Persen

0.001

0.001

0.001

0.001

0.001

Pertumbuhan
Ekspor
Subsektor

Persen

7.80

2.45

3.78

4.68

1,096,039.31

1,220,319.26

1,393,520.13

1,161,229.17

4. BERBASIS KONSUMSI RUMAH TANGGA


a

Nilai Konsumsi
Rumah Tangga
Subsektor

Juta
Rupiah

935,038.00

BAB 3: Kondisi Umum Seni Rupa di Indonesia

71

INDIKATOR

SATUAN

2010

2011

2012

2013

RATARATA

Kontribusi
Konsumsi
Rumah Tangga
Subsektor
terhadap
Konsumsi
Sektor Ekonomi
Kreatif

Persen

0.15

0.15

0.16

0.16

0.15

Kontribusi
Konsumsi
Rumah Tangga
terhadap Total
Konsumsi
Rumah Tangga

Persen

0.03

0.03

0.03

0.03

0.03

Pertumbuhan
Konsumsi
Rumah Tangga

Persen

17.22

11.34

14.19

14.25

*ADHB = Atas Dasar Harga Berlaku **ADHK = Atas Dasar Harga Konstan
Sumber: Badan Pusat Statistik (2013)

3.1.1 Berbasis Produk Domestik Bruto (PDB)


PDB atau Produk Domestik Bruto diartikan sebagai nilai keseluruhan semua barang dan jasa yang
diproduksi di dalam wilayah tersebut dalam jangka waktu tertentu (biasanya per tahun). PDB
hanya menghitung total produksi dari suatu negara tanpa memperhitungkan apakah produksi
itu dilakukan dengan memakai faktor produksi dalam negeri atau tidak.
PDB dapat dihitung dengan memakai dua pendekatan, yaitu pendekatan pengeluaran dan
pendekatan pendapatan. Rumus umum untuk PDB dengan pendekatan pengeluaran adalah:
PDB = konsumsi + investasi + pengeluaran pemerintah + (ekspor - impor)
Di mana konsumsi adalah pengeluaran yang dilakukan oleh rumah tangga, investasi oleh sektor
usaha, pengeluaran pemerintah oleh pemerintah, dan ekspor dan impor melibatkan sektor luar
negeri.
Sementara pendekatan pendapatan menghitung pendapatan yang diterima faktor produksi:
PDB = sewa + upah + bunga + laba
Di mana sewa adalah pendapatan pemilik faktor produksi tetap seperti tanah, upah untuk tenaga
kerja,bunga untuk pemilik modal, dan laba untuk pengusaha.
Secara teori, PDB dengan pendekatan pengeluaran dan pendapatan harus menghasilkan angka
yang sama. Namun karena dalam praktik menghitung PDB dengan pendekatan pendapatan sulit
dilakukan, maka yang sering digunakan adalah dengan pendekatan pengeluaran.

72

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

PDB merupakan salah satu indikator untuk melihat kontribusi ekonomi industri kreatif. Salah
satu unit dari industri kreatif adalah Seni Rupa yang turut menambah nilai PDB. Untuk melihat
kontribusi ekonomi industri kreatif berbasis nilai PDB, kita perlu memperhatikan faktor-faktor
di bawah ini :

Nilai Tambah Bruto Industri Kreatif

Persentase Terhadap PDB

Pertumbuhan Tahunan Nilai Tambah Bruto3


Gambar 3-1 Nilai Subsektor Seni Rupa Terhadap Total PDB Ekonomi Kreatif (2013)

Sumber Data: Badan Pusat Statistik

3.1.2 Berbasis Ketenagakerjaan


Perhitungan berbasis Ketenagakerjaan adalah segala hal yang berhubungan dengan tenaga kerja
pada waktu sebelum, selama, dan sesudah masa kerja. Demikian pengertian Ketenagakerjaan dalam
Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003. Ketenagakerjaan merupakan salah satu indikator untuk
melihat kontribusi ekonomi industri kreatif. Faktor-faktor yang harus kita perhatikan adalah :
Jumlah Tenaga Kerja
Persentase Jumlah Tenaga kerja
Pertumbuhan Jumlah Tenaga Kerja
Produktivitas Tenaga Kerja4

(3) www.id.wikipedia.org/wiki/Produk_domestik_bruto & www.industrikreatif-depdag.blogspot.com/2007/10/studimapping-industri-kreatif.html


(4) www.industrikreatif-depdag.blogspot.com/2007/10/studi-mapping-industri-kreatif.html & www.kemenegpdt.
go.id/artikel/85/ketenagakerjaan-dan-daerah-tertinggal
BAB 3: Kondisi Umum Seni Rupa di Indonesia

73

Gambar 3-2 Kontribusi Subsektor Seni Rupa Terhadap Total Tenaga Kerja Ekonomi Kreatif (2013)

Sumber Data: Badan Pusat Statistik

3.1.3 Berbasis Aktivitas Perusahaan


Industri kreatif dapat didefinisikan sebagai berikut:

Industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas,


ketrampilan serta bakat individu untuk menciptakan
kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan
menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan
daya cipta individu tersebut.
Kelompok unit industri kreatif yang terdaftar adalah: periklanan; arsitektur; seni rupa; kerajinan;
desain; mode; video, film dan fotografi; permainan interaktif; musik; seni pertunjukkan;
penerbitan dan percetakan; teknologi dan informasi; televisi dan radio; riset dan pengembangan;
dan kulinerMenurut Badan Pusat statistik di tahun 2013 lalu, terdapat 56.007.862 unit jumlah
usaha di Indonesia. Jumlah unit usaha tersebut meningkat 0,89% dibandingkan dengan jumlah
55.510.746 unit pada tahun 2012. Khusus sektor ekonomi kreatif, terjadi pertumbuhan sebesar
0,41% dimana dari angka 5.398.162 unit di tahun 2012 meningkat menjadi 5.420.165 unit
pada tahun 2013.5 Dalam konteks seni rupa, unit usaha ini bisa berupa: galeri, manajemen seni,
produsen artists merchandise, dll.

(5) Sumber : www.gov.indonesiakreatif.net/research/kontribusi-ekonomi-kreatif-terhadap-tenaga-kerja-di-indonesia-2010-2013/industrikreatif-depdag.blogspot.com/2007/10/studi-mapping-industri-kreatif.html


74

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

Gambar 3-3 Kontribusi Subsektor Seni Rupa Terhadap Total Unit Usaha Ekonomi Kreatif (2013)

Sumber Data: Badan Pusat Statistik

3.1.4 Berbasis Konsumsi Rumah Tangga


Rumah tangga merupakan konsumen atau pemakai barang dan jasa sekaligus juga pemilik faktorfaktor produksi tenaga kerja, lahan, modal dan kewirausahaan. Rumah tangga menjual atau
mengelola faktor-faktor produksi tersebut untuk memperoleh balas jasa. Balas jasa atau imbalan
tersebut adalah upah, sewa, bunga dividen, dan laba yang merupakan komponen penerimaan
atau pendapatan rumah tangga
Faktor-faktor yang memengaruhi besarnya pengeluaran konsumsi rumah tangga adalah faktor
ekonomi dan minat pada seni rupa
Empat faktor yang menentukan tingkat konsumsi, yaitu :
1. Pendapatan Rumah Tangga (Household Income), Kekayaan Rumah Tangga (Household
Wealth), Tingkat Bunga (Interest Rate), Perkiraan Tentang Masa Depan (Household
Expectation About The Future)
2. Faktor Demografi yaitu jumlah Penduduk, Komposisi Penduduk
3. Faktor-faktor Non Ekonomi. Faktor-faktor nonekonomi yang paling berpengaruh terhadap
besarnya konsumsi adalah faktor sosial budaya masyarakat.
Semakin tinggi tingkat konsumsi rumah tangga maka akan semakin tinggi nilai PDB kita.
Badan Pusat Statistik melansir bahwa Indonesia pada tahun 2013 lalu telah menghasilkan nilai
konsumsi rumah tangga sebesar 5.047.085.707,2 juta rupiah. Nilai ini merupakan peningkatan
sebesar 12,25% dimana pada tahun 2012 di kategori yang sama, angka yang diperoleh adalah
4.496.373.431,3 juta rupiah.6

(6) Sumber : www.freewebs.com/nana-sudiana/teori_konsumsi_investasi.doc http: //ntt.bps.go.id/index.php/sosialdan-kependudukan/pengeluaran-dan-konsumsi.html?lang=id#konsep-dan-definisi


BAB 3: Kondisi Umum Seni Rupa di Indonesia

75

Gambar 3-4 Kontribusi Subsektor Seni Rupa Terhadap Total Konsumen Rumah Tangga Ekonomi Kreatif (2013)

Sumber Data: BPS

3.1.5 Berbasis Nilai Ekspor


Nilai Ekspor adalah nilai yang didapat berdasarkan perhitungan karya seni rupa yang dijual ke
luar negeri. Data ekspor yang dipublikasikan oleh BPS jauh lebih rendah dari nilai ekspor yang
terjadi di lapangan. Sebagai perbandngan yang mendukung kesimpulan bahwa data tersebut lebih
rendah dari seharusnya, juga bisa dilihat data Nilai Ekspor Seni Rupa 2013 yang dibuat oleh UN
ComTrade (The United Nations Commodity Trade Statistics Database), di mana terlihat bahwa
nilai yang terdata senilai Rp1.057.967.888.400,- yaitu sekitar 9 kali lipat dari Nilai Ekspor yang
terdata oleh BPS, yaitu Rp11.405.400.000,Melihat jauhnya perbedaan nilai-nilai ekspor antara pendataan CommTrade dan BPS, maka
disimpulkan bahwa data Ekspor Seni Rupa yang didapat dari BPS bukanlah data yang representatif
untuk menilai Kontribusi ekspor subsektor Seni Rupa.
Tabel 3-2 Ekspor Ekonomi Kreatif Indonesia Tahun 2010-2013 (Juta Rupiah)

SEKTOR

76

URAIAN

2010

2011

2012

2013*

Periklanan

16,728.0

17,629.5

18,889.3

19,932.2

Arsitektur

88,549.0

93,285.6

99,792.0

104,258.7

Seni Rupa

9,951.0

10,727.2

10,989.6

11,405.4

Kerajinan

15,539,776.5

17,773,447.0

20,176,373.9

21,723,601.0

Desain

1,484,368.6

1,551,788.6

1,611,491.5

1,612,590.7

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

Mode

62,470,814.2

67,896,022.7

70,120,777.1

76,788,615.1

Film, Video, dan


Fotografi

595,839.0

596,302.4

612,306.3

639,438.5

Permainan
Interaktif

568,808.4

572,056.2

588,034.5

593,039.6

Musik

899,558.7

909,294.5

913,803.0

934,236.7

10

Seni Pertunjukan

251,059.0

252,880.8

253,521.7

259,318.5

11

Penerbitan &
Percetakan

1,669,121.4

1,707,399.6

1,750,281.5

1,755,826.3

12

Teknologi
Informasi

1,021,332.0

1,066,255.9

1,107,831.9

1,125,528.4

13

Radio dan Televisi

1,335,320.0

1,378,471.6

1,447,760.2

1,509,450.1

14

Riset dan
Pengembangan

70,528.0

71,355.8

73,299.0

74,665.6

15

Kuliner

10,681,281.0

11,293,246.7

11,359,651.2

11,816,125.0

96,703,034.8

105,190,164.0

110,144,802.7

118,968,031.8

Ekspor Non Ekonomi Kreatif

1,487,970,765.2

1,850,630,836.0

1,889,235,127.3

1,960,973,294.2

Total Ekspor Indonesia

1,584,673,800.0

1,955,821,000.0

1,999,379,930.0

2,079,941,326.0

Ekspor Ekonomi Kreatif

Sumber: Badan Pusat Statistik

Tabel 3-3 Ekspor Seni Rupa (2010-2013)

INDONESIA: EXPORT VALUE OF CREATIVE GOODS (US$000- thousand usd)


HS
2002

DESKRIPSI

KLASIFIKASI
DALAM
BUKU
EKONOMI
KREATIF

2010

2011

2012

2013

Carpets

Kerajinan

28,111.61

35,601.06

34,208.82

38,810.57

10

Celebration

Seni
Pertunjukkan

8,340.46

7,713.65

8,475.63

7,671.68

11

Other

Kerajinan

111,416.23

98,516.49

92,727.52

41,211.98

12

Paperware

Kerajinan

1,987.72

90.45

36.67

166.31

13

Wickerware

Kerajinan

34,135.44

47,206.68

74,838.27

72,385.13

14

Yarn

Kerajinan

60,221.04

54,220.86

64,481.51

90,691.07

15

Film

Video, Film,
Fotografi

1.36

51.58

63.73

355.08

16

CD, DVD,
Tapes

Video, Film,
Fotografi

2,937.20

4,925.62

944.80

289.45

17

Architecture

Arsitektur

188.56

122.34

6.93

12.01

18

Fashion

Fesyen

183,083.47

214,434.67

250,866.73

251,209.84

BAB 3: Kondisi Umum Seni Rupa di Indonesia

77

HS
2002

DESKRIPSI

KLASIFIKASI
DALAM
BUKU
EKONOMI
KREATIF

2010

2011

2012

2013

19

Glassware

Desain

31,974.24

27,512.77

30,937.79

26,442.71

20

Interior

Desain

1,509,800.50

1,269,549.88

1,356,329.25

1,350,987.63

21

Jewellery

Desain

233,759.31

284,183.28

171,327.30

192,234.13

22

Toys

Desain

290,581.31

273,696.13

347,871.66

429,557.88

24

Video Games

Permainan
Interaktif

4,123.24

7,517.67

5,168.17

4,307.83

25

Musical
Instruments

Pasar Seni
dan Barang
Antik

395,450.44

459,599.78

483,323.09

478,478.03

26

Printed Music

Musik

4.78

0.11

5.46

0.08

27

Books

Penerbitan
dan
Percetakan

35,939.81

24,662.73

17,174.28

22,043.30

28

Newspaper

Penerbitan
dan
Percetakan

103,731.08

103,777.02

110,017.84

108,457.60

29

Other Printed
Matter

Penerbitan
dan
Percetakan

8,571.64

10,428.71

10,058.53

9,215.24

30

Antiques

Pasar Seni
dan Barang
Antik

14.60

0.43

0.31

0.34

31

Paintings

Pasar Seni
dan Barang
Antik

9,698.90

12,461.14

13,049.30

13,985.85

32

Photography

Video, Film,
Fotografi

1,150.56

1,053.34

1,668.86

1,298.83

33

Sculpture

Pasar Seni
dan Barang
Antik

71,911.63

69,324.89

79,333.53

93,501.36

3.127.135.126

3.006.651.267

3.152.915.982

3.233.313.916

TOTAL
Sumber: COMTRADE

Diperkirakan bahwa rendahnya perhitungan ini


disebabkan karena ruang lingkup Klasifikasi Baku
Lapangan Industri yang digunakan sebagai acuan
BPS juga jauh lebih sempit bila dibandingkan dengan
dinamika di lapangan.
78

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

Gambar 3-5 Pertumbuhan Ekspor Subsektor Seni Rupa

Sumber: Badan Pusat Statistik

Tim Studi mengadakan pendataan cepat untuk mengumpulkan kemungkinan nilai ekspor yang
datanya tersedia secara terbuka, yaitu data lelang karya Indonesia di acara-acara lelang luar negeri,
sebagai acuan kemungkinan nilai ekspor.
Namun pendataan lelang ini tidak bisa sepenuhnya didefinisikan sebagai nilai ekspor karena
ada kemungkinan, walau tidak terlalu besar, bahwa karya seni rupa Indonesia yang disuplai ke
balai-balai lelang ini sebagian merupakan karya dari luar negeri, yang mana menjadikan karya
tersebut bukan sebagai benda ekspor negara Indonesia. Namun data lelang ini bisa juga untuk
menjadi acuan penilaian seberapa tinggi permintaan pasar atas karya-karya seni rupa Indonesia
melalui Balai Lelang.
Perlu dipertimbangkan juga bahwa jalur ekspor karya seni rupa Indonesia bukan hanya melalui
Balai Lelang, tapi juga bisa melalui:
1. Galeri Indonesia yang menjual langsung ke luar negeri
2. Karya seni rupa Indonesia yang dipamerkan oleh Galeri luar negeri
3. Penjualan secara langsung dari seniman kepada pembeli di luar negeri.
4. Penjualan yang terjadi karena acara-acara seni lainnya di luar negeri, selain karena pameran
di galeri atau lewat balai lelang.
5. Penjualan kepada museum-museum luar negeri.
Selama ini, dalam perhitungan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, seni rupa dinilai
berdasarkan kontribusi ekonomi seperti yang dijabarkan di bab ini. Perhitungan dilakukan
berdasarkan data dari BPS. Maka perumus menganjurkan untuk metode pendataan dan
perhitungan kontribusi ekonomi untuk dievaluasi dan diubah dengan sistem yang bisa menarik
data yang lebih riil dari lapangan.

BAB 3: Kondisi Umum Seni Rupa di Indonesia

79

Tabel 3-4 Data penjualan Beberapa Karya Seni Rupa

TANGGAL

BALAI
LELANG

NEGARA

JUDUL LELANG

HASIL TOTAL DALAM


RUPIAH

25-May-03

Larasati

Hong Kong

United Auctioneers 2013


Modern & Contemporary
Art Spring Auction

Rp 8,168,469,273

4-Aug-13

Borobudur

Singapore

Asian Contemporary
& Modern Art and Fine
Jewellery

Rp 18,297,464,616

1-Sep-13

33 Auction

Singapore

Modern and Contemporary


Asian Art Evening Sale

Rp 20,952,508,968

6-Oct-13

Sothebys

Hong Kong

Modern and Contemporary


Southeast Asian

Rp 60,771,377,788

13-Oct-13

Masterpiece

Malaysia

Fine Art Auction

Rp 2,528,976,210

3-Nov-13

Larasati

Malaysia

Henry Butcher Malaysian


& Southeast Asian Art
Auction

TOTAL

Rp 862,460,954

Rp 111,581,257,809

Kategori-kategori lapangan usaha harus dievaluasi dan disesuaikan berdasarkan pemetaan yang
sudah dilakukan disini. Sedangkan data-data dan acuan perhitungan di bawah ini bisa menjadi
masukkan bagi pelaku industri seni rupa untuk melihat cara penilaian secara ekonomi terhadap
seni rupa.

3.2 Kebijakan Pengembangan Seni Rupa


Analisis kebijakan seni rupa berikut disusun berdasarkan peraturan perundangan yang berkaitan
dengan sektor seni rupa dan telah diberlakukan di Indonesia. Pembagian kategori analisis disusun
berdasarkan 8 isu kebijakan yang dihadapi dunia seni rupa saat ini. Analisis dilakukan dengan
menjelaskan penafsiran mengenai Perundang-undangan yang telah berlaku, baik kekurangan
dan kelebihannya, serta implementasinya di lapangan. Beberapa rekomendasi juga diajukan
berdasarkan penelaahan isi peraturan perundangan tersebut, dengan kondisi yang terjadi di seni
rupa Indonesia saat ini.

3.2.1 Pengarsipan dan Konversi


Undang-undang No. 43 atau 2009 Tentang Kearsipan
BAB 1 Pasal 1 No.17
Arsip perguruan tinggi adalah lembaga kearsipan berbentuk satuan organisasi perguruan tinggi,
baik negeri maupun swasta yang melaksanakan fungsi dan tugas penyelenggaraan kearsipan di
lingkungan perguruan tinggi.
BAB I Pasal 1 No.24
Penyelenggaraan kearsipan adalah keseluruhan kegiatan meliputi kebijakan, pembinaan kearsipan,
dan pengelolaan arsip dalam suatu sistem kearsipan nasional yang didukung oleh sumber daya
manusia, prasarana dan sarana, serta sumber daya lainnya.

80

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

BAB III Bagian Kesatu Pasal 6 No.1


Penyelenggaraan kearsipan secara nasional menjadi tanggung jawab ANRI sebagai penyelenggara
kearsipan nasional.
BAB III Bagian Keenam Pasal 30 Ayat 2 huruf b
Pengembangan kompetensi dan keprofesionalan arsiparis melalui penyelenggaraan, pengaturan,
serta pengawasan pendidikan dan pelatihan kearsipan;
Undang-undang No. 11 atau 2010 Tentang Cagar Budaya
BAB I Pasal 1 No.12
Insentif adalah dukungan berupa advokasi, perbantuan, atau bentuk lain bersifat nondana untuk
mendorong pelestarian Cagar Budaya dari Pemerintah atau Pemerintah Daerah.
Undang-undang No. 5 atau 1992 Tentang Cagar Budaya
Analisis:
Dalam Undang-undang tersebut dijelaskan bahwa salah satu tujuan pengarsipan adalah untuk
menjamin keselamatan aset nasional dalam bidang, ekonomi, sosial, politik, budaya, pertahanan,
serta keamanan sebagai identitas dan jati diri bangsa. Dalam Bagian Kesebelas bagian Pendanaan,
yaitu pasal 38 dan 39 kurang dijelaskan mengenai pendanaan keberlangsungan lembaga arsip
yang telah terbentuk. Klasifikasi bidang kearsipan dalam hal ini masih membedakan antara arsip
Daerah dan arsip Nasional, belum merujuk pada arsip bidang tertentu seperti arsip seni rupa
dan bidang seni lainnya. Kekurangan pada implementasi penyelenggaraan kearsipan terwujud
dalam tidak maksimalnya peran pemerintah maupun ANRI dalam membentuk jaringan arsip
nasional. Dalam kasus di bidang seni rupa, sistem yang dibangun saat ini berdasarkan kerja inisiatif
kelompok yang kemudian mendapatkan dukungan dari lembaga hibah luar negeri. Dengan
melihat potensi yang sangat besar di sektor seni rupa, penguatan dalam pengarsipan adalah hal
yang sangat mendasar demi menjaga kelangsungan hasil pengetahuan dan pemikiran para pelaku
seni rupa saat ini dan yang terdahulu. Jika melihat penjelasan dalan Undang-undang tersebut,
dengan implemetasi yang maksimal dalam hal penyelenggaraan, pendanaan dan pendidikan
pengarsipan, bukan tidak mungkin budaya pengarsipan seni rupa di Indonesia akan semakin kuat.
Dalam analisa hasil penelitian Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan Kesenian dan
Kebudayaan yang dilakukan oleh PSHK menyebutkan bahwa, UU No. 5 atau 1992 tidak
memberikan acuan bagi pemerintah dalam melakukan perlindungan dan pelestariannya secara
baik. Undang-undang ini telah menempatkan pemerintah dalam posisi sebagai regulator dan
operator. Posisi ini rentan pada lemahnya implementasi undang-undang.

3.2.2 Kepabeanan
Undang-undang No.17 atau 2006 Tentang Perubahan atas UU No.10 atau 1995 Tentang
Kepabeanan
Bagian Kelima, Pasal 25 No.1 huruf d, e dan f.
Pembebasan bea masuk diberikan atas impor:
d. Barang kiriman hadiah atau hibah untuk keperluan ibadah untuk umum, amal, sosial,
kebudayaan atau untuk kepentingan penanggulangan bencana alam;
e. Barang untuk keperluan museum, kebun binatang, dan tempat lain semacam itu yang
terbuka untuk umum serta barang untuk konservasi alam;
f. Barang untuk keperluan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan;
BAB 3: Kondisi Umum Seni Rupa di Indonesia

81

Penjelasan:
Yang dimaksud dengan barang untuk keperluan kebudayaan yaitu barang yang ditujukan untuk
meningkatkan hubungan kebudayaan antarnegara. Pembebasan bea masuk diberikan berdasarkan
rekomendasi dari kementerian terkait.
Analisis:
Pada dasarnya, Undang Undang ini mengisyaratkan bahwa barang keperluan kebudayaan
mendapatkan pembebasan bea masuk, dengan rekomendasi dari kementrian terkait. Permasalahan
di lapangan ialah, tidak adanya parameter yang jelas mengenai definisi barang kebudayaan yang
meningkatkan hubungan antarnegara. Selain itu, kegiatan pameran seni rupa yang dilaksanakan
dengan sifat nonkomersial mendapatkan perlakuan yang sama dengan barang yang bersifat
komersil lainnya. Regulasi yang jelas mengenai ini, serta peran aktif kementrian terkait sudah
seharusnya bisa menjembatani masalah tersebut. Hal ini diharapkan bisa mengurangi tindakan
sewenang-wenang aparat pabean yang menetapkan aturan berbelit-belit hingga pemerasan.
Ketidakjelasan posisi sektor seni rupa dalam wilayah kementerian semakin mempersulit akses
para perupa maupun penyelenggara pameran berskala internasional dalam urusan kepabeanan.

3.2.3 Etika Tampilan Pornografi


Undang-undang No.44 atau 2008 Tentang Pornografi
BAB I
Pasal 1
Pornografi adalah gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi,
kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media
komunikasi dan atau atau pertunjukan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi
seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat.
BAB II
Larangan dan Pembatasan
Pasal 4 No.1
Setiap orang dilarang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan,
menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau
menyediakan pornografi yang secara eksplisit memuat:
a. Persenggamaan, termasuk persenggamaan yang menyimpang;
b. Kekerasan seksual;
c. Masturbasi atau onani;
d. Ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan;
e. Alat kelamin; atau
f. Pornografi anak.
Penjelasan
Pasal 3
Perlindungan terhadap seni dan budaya yang termasuk cagar budaya diatur berdasarkan undangundang yang berlaku.

82

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

Pasal 6
Yang dimaksud dengan yang diberi kewenangan oleh perundang-undangan misalnya lembaga
yang diberi kewenangan menyensor film, lembaga yang mengawasi penyiaran, lembaga penegak
hukum, lembaga pelayanan kesehatan atau terapi kesehatan seksual, dan lembaga pendidikan.
Lembaga pendidikan tersebut termasuk pula perpustakaan, laboratorium, dan sarana pendidikan
lainnya. Kegiatan memperdengarkan, mempertontonkan, memanfaatkan, memiliki, atau
menyimpan barang pornografi dalam ketentuan ini hanya dapat digunakan di tempat atau di
lokasi yang disediakan untuk tujuan lembaga yang dimaksud.
Analisis:
Disahkannya Undang Undang Pornografi menimbulkan kontroversi dikalangan pelaku seni
terutama berkaitan dengan isu kebebasan berekspresi. Dalam Undang Undang ini, definisi
pornografi tidak dijelaskan dengan jelas, seperti ada kata tampilan yang mengesakan telanjang
yang sangat relatif tanpa ukuran yang jelas. Selain itu, kalimat yang melanggar norma kesusilaan
dalam masyarakat juga menimbulkan tafsir yang membingungkan karena definisi norma
kesusilaan di masyarakat sendiri tidak tertuliskan dengan jelas. Pada Pasal 3 bagian Penjelasan
disebutkan bahwa perlindungan terhadap seni dan budaya yang termasuk cagar budaya diatur
berdasarkan undang-undang yang berlaku. Mengenai ini, sangat disayangkan bahwa Undang
Undang yang dimaksud masih tidak jelas, dan perlindungan itu hanya terbatas pada seni dan
budaya yang termasuk cagar budaya. Itu berarti, benda seni yang termasuk kategori cagar budaya
ialah: berusia 50 (lima puluh) tahun atau lebih; mewakili masa gaya paling singkat berusia 50
(lima puluh) tahun; memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama,
dan atau atau kebudayaan; dan memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa (UU
No.11 atau 2010). Dalam melihat dinamika seni rupa saat ini, tentu undang undang pornografi
ini sangat bertentangan dengan kebebasan berekspresi yang menjadi nafas setiap insan kreatif
di tanah air. Salah satu kasus yang sempat mencuat dalam dunia seni rupa berkaitan dengan isu
pornografi ini ialah instalasi Pink Swing Park karya Agus Suwage dan Davy Linggar pada CP
Biennale 2005 di Museum Bank Mandiri. Karya ini mendapatkan kecaman dari sekelompok
masyarakat yang mengatasnamakan agama, dan terpaksa harus diturunkan ketika pameran
masih berlangsung. Padahal muatan karya tersebut masih bisa diperdebatkan apakah termasuk
pornografi atau tidak. Sangat disayangkan bahwasanya tidak ada ketegasan dari aparat dan
pemerintah dalam menyikapi kesewenang-wenangan sekelompok orang tertentu yang mencederai
kebebasan berekspresi masyarakat.

3.2.4 Pendidikan Seni


Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 39 atau 1984 (39 atau 1984) - Tentang
Pendirian Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 21 atau 1992 - Tentang Pendirian Sekolah
Tinggi Seni Indonesia Surakarta

Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 59 atau 1995 - Tentang Pendirian Sekolah
Tinggi Seni Indonesia Bandung

Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 56 atau 1999 - Tentang Pendirian Sekolah
Tinggi Seni Indonesia Padang Panjang

Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 33 atau 2003 - Tentang Pendirian Institut
Seni Indonesia Denpasar

Undang-undang No.20 atau 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional

BAB 3: Kondisi Umum Seni Rupa di Indonesia

83

Undang-undang No.12 atau 2012 Tentang Pendidikan Tinggi

Peraturan Pemerintah No.60 atau 1999 Tentang Pendidikan Tinggi

Analisis:
Empat dari lima Keputusan Presiden di atas memiliki tujuan yang sama mengenai pendirian
sekolah tinggi seni, yaitu untuk mengembangkan kebudayaan daerah sebagai bagian kebudayaan
nasional. Satu di antaranya ialah sebagai penggabungan beberapa perguruan tinggi seni di
Yogyakarta menjadi ISI Yogyakarta. Keempat Perpres tersebut tidak menjelaskan secara tajam
mengenai arah dan tujuan setiap sekolah tinggi seni tersebut dalam menyikapi kemajuan berpikir
dan berekspresi di bidang kesenian. Kecenderungan yang terjadi kemudian ialah hanya pelestarian
budaya tradisi, bukan berusaha mengkaji atau mengembangkan budaya baru yang relevan dengan
konteks saat ini. Selebihnya, mengenai pendidikan seni di Indonesia, tidak ada penetapan yang
lebih mendalam. Beberapa Undang Undang mengenai pendidikan atau pendidikan tinggi hanya
menyebutkan seni dan budaya sebagai klasifikasi baku penyelenggaraan pendidikan, seperti terdapat
dalam UU No.20 atau 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, UU No.12 atau 2012 Tentang
Pendidikan Tinggi, dan Peraturan Pemerintah No.60 atau 1999 Tentang Pendidikan Tinggi.

3.2.5 Hak Kekayaan Intelektual


Undang-undang Tentang Hak Cipta tahun 2014
BAB I
Pasal 1 angka 1
Hak Cipta adalah hak ekslusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif
setelah suatu ciptaan diwujudakan dalan bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 1 angka 2
Pencipta adalah seorang atau beberapa orang yang secara sendiri-sendiri atau bersama-sama
mengahsilkan suatu ciptaan yang bersifat khas dan pribadi.
Pasal 1 angka 3
Ciptaan adalah setiap hasil atas inspirasi, kemampuan, pikiran, imajinasi, kecekatan, keterampilan,
atau keahlian yang diekspresikan dalam bentuk nyata.
Pasal 1 angka 5
Hak terkait adalah hak yang berkaitan dengan Hak Cipta yang merupakan hak ekslusif bagi
pelaku pertunjukan, produser fonogram, atau lembaga penyiaran.
BAB II
Pasal 4
Hak Cipta sebagaimana dimaskud dalam pasal 3 huruf a merupakan hak ekslusif yang terdiri
atas hak moral dan hak ekonomi.
Pasal 10
Pengelola tempat perdagangan dilarang membiarkan penjualan dan/atau penggandaan barang
hasil pelanggaran Hak Cipta dan/atau Hak Terkait di tempat perdagangan yang dikelolanya.
Pasal 16 ayat 3
Hak Cipta dapat dijadikan sebagai objek jaminan fidusia
84

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

BAB III
Pasal 26
Pembatasan Perlindungan
a. Penggandaan Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait hanya untuk kepentingan penelitian
ilmu pengetahuan;
b. Penggandaan Ciptaan dan/atau produk Hak terkait hanya untuk keperluan pengajaran,
kecuali pertunjukan dan Fonogram yang telah dilakukan Pengumuman sebagai bahan
ajar; dan
c. Untuk kepentingan pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan yang memungkinkan
suatu Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait dapat digunakan tanpa izin Pelaku Pertunjukan,
Produser Fonogram, atau Lembaga Penyiaran.
BAB IX
Masa Berlaku Hak Ekonomi
Pasal 58 ayat 1
a. Buku, pamflet, dan semua hasil karya tulis lainnya;
b. Ceramah, kuliah, pidato, dan Ciptaan sejenis lainnya;
c. Alat peraga yang dibuat untuk untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan;
d. Lagu atau musik dengan atau tanpa teks;
e. Drama, drama musikal,
f. Karya seni rupa dalam segala bentuk seperti lukisan, gambar. ukiran, kaligrafi, seni pahat,
patung, patung, atau kolase;
g. Karya arsitektur;
h. Peta; dan
i. Karya seni batik atau seni motif lain,
berlaku selama hidup Pencipta dan terus berlangsung selama 70 (tujuh puluh) tahun setelah
Pencipta meninggal dunia, terhitung mulai tanggal 1 Januari tahun berikutnya.
Analisis:
Undang-undang Tentang Hak Cipta yang disahkan pada tahun 2014 ini merupakan pengganti
dari Undang-undang No.19 Tahun 2002 (UU 19/2002) tentang Hak Cipta yang dianggap sudah
tidak sesuai dengan perkembangan hukum dan kebutuhan masyarakat sehingga perlu diganti
dengan Undang-undang yang baru. Beberapa perubahan terjadi dalam Undang-undang ini, salah
satunya mengenai jangka waktu perlindungan hak cipta yang lebih panjang, dalam UU 19/2002
Pasal 29 ayat (1) disebutkan selama masa hidup pencipta dan 50 tahun setelah penciptanya
meninggal dunia, sedangkan dalam Undang-undang Hak Cipta yang baru, masa berlaku hak
cipta dibagi menjadi 2 (dua) yaitu masa berlaku hak moral dan hak ekonomi. Pada Pasal 57 ayat
(1) UU Tentang Hak Cipta, hak moral pencipta berlaku tanpa batas waktu. Sedangkan untuk
hak ekonomi atas ciptaan, perlindungan hak cipta berlaku selama hidup pencipta dan terus
berangsung hingga 70 tahun setelah pencipta meninggal dunia. Dalam Undang-undang baru ini,
terdapat poin menarik ketika pada Pasal 10 terdapat larangan bagi pengelola perdagangan untuk
membiarkan penjualan dan/atau penggandaan barang hasil pelanggaran Hak Cipta dan/atau

BAB 3: Kondisi Umum Seni Rupa di Indonesia

85

Hak Terkait di tempat perdagangan yang dikelolanya. Dengan pidana atas pelanggaran tersebut
yaitu denda paling banyak sebesar Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dijelaskan pada Pasal
114. Undang-undang baru ini juga melindungi pencipta dalam hal terjadinya jual putus (sold
flat) pada karya tulis, lagu dan musik yang dijual atau dialihkan hak ekonominya akan berlaih
lagi kepada pencipta setelah jangka waktu 25 tahun, seperti tercantum dalam Pasal 18 dan 30.
Beberapa pengecualian juga jelas tercantum dalam Undang-undang ini selama penggandaan
Ciptaan atau produk Hak Terkait digunakan untuk keperluan pendidikan, penelitian dan
pengembangan ilmu pengetahuan. Seiring dengan perubahan yang semakin baik ini, perlu juga
dilakukan implementasi yang serius berkaitan dengannya. Berkaca pada peristiwa sebelumnya di
dunia seni rupa, seorang pemalsu lukisan Nyoman Gunarsa (seniman asal Bali) divonis bebas oleh
Majelis Hakim Pengadilan Negeri Denpasar pada 2007 silam. Alasan dibebaskannya terdakwa
pemalsu lukisan tersebut ialah karena Majelis Hakim menganggap gugatan Nyoman Gunarsa
tersebut lemah, dan lukisan asli Nyoman Gunarsa belum didaftarkan menjadi Hak Kekayaan
Intelektual, sehingga pada kasus tersebut dianggap tidak terjadi pelanggaran terhadap Undangundang Hak Cipta No.19 atau 2002. Padahal, dalam Pasal 2 ayat 1 Undang-undang Hak Cipta
No.19 atau 2002 tersebut disebutkan bahwa Hak Cipta tersebut timbul secara otomatis setelah
suatu ciptaan dilahirkan.

3.2.6 Posisi Seni dalam Kebijakan Pariwisata


Undang-Undang No. 10 atau 2009 Tentang Kepariwisataan
Keputusan Presiden No. 22 atau 2011 Tentang Badan Promosi Pariwisata Indonesia
Analisis:
Baik dalam Undang-undang Kepartiwisataan maupun Keputusan Presiden Tentang Badan Promosi
Pariwisata Indonesia, isu yang banyak dibahas ialah mengenai kelembagaan Kepariwisataan.
Promosi citra nasional sangat ditekankan dalam keduanya. Meskipun pada implementasinya,
terutama di sektor seni rupa masih sangat sedikit upaya pemerintah untuk melakukan promosi
ke masyarakat luas. Kecenderungan pemerintah masih melihat kebudayaan tradisional sebagai
potensi utama yang citranya terus diangkat, tak terkecuali di seni rupa. Seni rupa Indonesia
yang sering diangkat citranya tidak pernah menyentuh ranah seni rupa kontemporer yang justru
benrkembang sangat pesat baik dalam skala nasional mapun global. Adanya peningkatan sosialisasi
pemerintah untuk pencitraan nasional di sektor seni rupa, akan semakin memunculkan potensi
seni rupa baik di tingkat nasional ataupun global.

3.2.7 Insentif Pajak Perusahaan Swasta untuk Sumbangan Kesenian


Undang-undang No. 11 atau 2010 Tentang Cagar Budaya
BAB IV Pasal 22 No.2
Insentif berupa pengurangan pajak bumi dan bangunan dan atau atau pajak penghasilan dapat
diberikan oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah kepada pemilik Cagar Budaya yang telah
melakukan perlindungan Cagar Budaya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Peraturan Pemerintah No.93 atau 2010 Tentang Sumbangan Penanggulangan Bencana Nasional,
Sumbangan Penelitian Dan Pengembangan, Sumbangan Fasilitas Pendidikan, Sumbangan
Pembinaan Olahraga, Dan Biaya Pembangunan Infrastruktur Sosial Yang Dapat Dikurangkan
Dari Penghasilan Bruto

86

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

Peraturan Menteri Keuangan No. 76 atau Pmk.03 atau 2011 Tentang Tata Cara Pencatatan
Dan Pelaporan Sumbangan Penanggulangan Bencana Nasional, Sumbangan Penelitian Dan
Pengembangan, Sumbangan Fasilitas Pendidikan, Sumbangan Pembinaan Olahraga, Dan Biaya
Pembangunan Infrastruktur Sosial Yang Dapat Dikurangkan Dari Penghasilan Bruto
Analisis:
Dalam Undang-undang No. 11 atau 2010 Tentang Cagar Budaya, pengurangan pajak bumi
dan bangunan atau pajak penghasilan memberikan makna positif dalam pengembangan potensi
kebudayaan di Indonesia. Namun, dalam kaitannya dengan sumbangan dari Wajib Pajak Peraturan
Pemerintah masih belum memasukan sumbangan untuk sektor seni budaya dalam kategorinya.
Menurut hasil laporan penelitian PSHK tentang Kajian Kerangka Hukum Untuk Kegiatan
Kesenian dan Kebudayaan, alasan pemerintah untuk menolak memasukkan komponen tersebut,
karena proses perumusan undang undang yang telah selesai dan tinggal menunggu penetapan.
Adanya Peraturan Pemerintah yang menambahkan pemberlakuan insentif pada sektor seni dan
budaya akan sangat membantu keberlangsungan komunitas-komunitas seni yang selama ini terus
bertahan dengan berbagai cara.

3.2.8 Dewan Kesenian (dan Taman Budaya)


Instruksi Menteri Dalam Negeri No. 5A atau 1993 Tentang Pembentukan Dewan Kesenian
dan Pembangunan Gedung Kesenian
Analisis:
Peraturan mengenai pembentukan Dewan Kesenian di Indonesia masih kurang kuat, karena
masih berdasarkan Instruksi Menteri Dalam Negeri. Peningkatan Instruksi Mendagri menjadi
Peraturan Menteri Dalam Negeri atau bahkan Peraturan Presiden akan lebih memperkuat
landasan Undang-undang yang menaungi Dewan Kesenian di seluruh daerah di Indonesia.
Keberadaan Dewan Kesenian dan Taman Budaya di setiap daerah sangat vital, terutama dalam
memberikan ruang kepada para pelaku seni di wilayahnya. Sayangnya, dalam FDG di sektor
seni rupa dijelaskan bahwa sarana dan ruang yang telah ada tidak didukung dengan program
pengembangan yang baik. Rekomendasi terpenting adalah revitalisasi taman budaya di setiap
daerah, yang akan berdampak pada pemerataan dan desentralisasi kegiatan kesenian, khususnya
seni rupa di Indonesia yang masih terpusat di pulau Jawa dan Bali.

3.3 Struktur Pasar Seni Rupa


Struktur Pasar Seni Rupa mencakup struktur yang mendukung pemasaran Produk Pengetahuan,
dan pemasaran Produk Karya Seni.
Industri Utama:
Perputaran pasar Produk Pengetahuan terjadi diantara Individu Pelaku Seni, Komunitas atau
Kelompok Seni, sektor-sektor riset dan pengembangan, Museum, Institusi Pendidikan, dan
event-event yang mengikutsertakan program workshop seni rupa, simposium, dsb.
Produk Pengetahuan seni rupa Indonesia sudah tersebar baik di dalam maupun di luar negeri.
Dalam setahun puluhan pelaku seni, baik kurator, seniman, periset, diundang dan dibiayai
institusi internasional untuk membagikan ilmu dan jasanya.

BAB 3: Kondisi Umum Seni Rupa di Indonesia

87

Produk karya seni umumnya dipasarkan lewat galeri, balai lelang, Kelompok Seni, Art Dealer,
ruang publik.
Tercatat sebanyak 93 kelompok seniman (Indonesian Visual Art Archive 2013) yang mendorong
terjadinya distribusi produk, jasa, dan penyediaan lapangan kerja.
Balai Lelang didominasi oleh dua balai lelang internasional yaitu Christies dan Sothebys.
Sedangkan balai lelang lokal didominasi oleh Larasati, Borobudur, Masterpiece, Sidharta, 33
auction. Suplai balai lelang didominasi oleh individual art dealer, galerist, dan kolektor yang
ingin menjual karya yang sudah dibelinya.
Galeri dan ruang pamer seni rupa yang aktif masih tersentralisasi di Jawa dan Bali, baik ruang
untuk industri utama maupun untuk industri paralel. Tercatat 46 galeri komersil yang terletak
di Jakarta, Yogya, Semarang, Surabaya, Bali, Bandung (Indonesian Visual Art Archive 2014).
Pelaku-pelaku galeri memperpanjang cakupannya dengan mendirikan ruang dan menjalankan
pameran di luar negeri, termasuk melalui keikutsertaan di Art Fair.
Beberapa galeri luar negeri secara konsisten dan regular menampilkan karya-karya seniman
Indonesia, terutama galeri Eropa dan Singapura.
Produk yang ditawarkan dari pasar seni rupa adalah: ide atau konsep kreatif yang dimanifestasikan
dalam bentuk dan teknis yang kreatif, dengan ciri-ciri estetika yang khas. Bentuk permintaan
adalah karya kreatif yang eksklusif dan merupakan manifestasi keahlian teknis estetika dan
intelektual dari penciptanya.
Produk Seni lukis mendominasi pasar seni rupa, walau seni video dan fotografi mulai dikoleksi.
Dorongan dari sektor pengembangan mengenai seni media baru sudah terjadi dengan gencar,
namun gap kesatuan pehamaman yang besar antara sektor pengembangan dan sektor komersil
menjadikan sempitnya jalur pemasaran untuk karya media baru. Isu-isu lemahnya perlindungan
HAKI juga menjadi penghambat bagi kegiatan koleksi seni media yang sifatnya bisa digandakan.
Dalam Struktur pasar Industri Paralel, pelaku seni bisa menjadi penjual produknya tanpa
perantara atau melalui toko merchandise, gallery shop, museum shop,community shop, kios barang
seni, online shop.
Produk seni rupa banyak diserap oleh industri penerbitan dan properti, dalam struktur Industri
Pendukung Permintaan. Sedangkan dalam Industri Pendukung Suplai seni rupa banyak
menyerap industri-industri yang beraneka ragam.
Terjadinya pasar atau sistem interaksi ekonomi di pasar seni rupa tidak semata-mata hanya terbatas
pada proses jual beli karya yang konkret, yaitu berupa produk karya seni, tapi sering juga tercipta
suatu interaksi ekonomi yang lebih luas lewat proyek-proyek yang bersifat lebih abstrak, dan juga
lewat kegiatan-kegiatan terkait yang terjadi dari proses suplai dan demand dalam pelaksanaan
kegiatan seni rupa.

88

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

Struktur pasar seni rupa mencakup sistem jual beli yang terjadi secara konkret, di mana ruang dan
produk hadir secara kasat mata dan transaksi terjadi di ruang tersebut, maupun secara abstrak,
di mana penjualan terjadi tanpa kehadiran produk yang kasat mata. Pasar abstrak ini bisa terjadi
dengan karya-karya commissioned work misalnya, di mana institusi memberikan kepercayaan
kepada seniman untuk menciptakan karya seni baru berdasarkan pertimbangan konsep yang
disetujui semata. Atau bisa juga melalui proses online, yang umumnya terjadi hanya melalui balai
lelang, yang mana penilaian value karya berdasarkan kredibiltas karya dan seniman yang sudah
diketahui dan dipercayai oleh calon pembeli.
Pasar Persaingan Sempurna di mana harga pasar terjadi dengan pertimbangan pertimbanagn
sejarah dan kredibilitas karya dan seniman sebagai pelaku, di mana tidak terjadi provokasi untuk
melambungkan harga jual lebih dari harga pasar normal.
Pasar Persaingan Tidak Sempurna, terjadi di Balai Lelang, di mana terjadi provokasi terencana
dan tidak terencana untuk membentuk harga jual on-off dari karya seni tertentu, yang bisa walau
tidak seharusnya memprovokasi harga pasar normal dari karya-karya lain seniman tersebut.

3.4 Daya Saing Seni Rupa


Reputasi yang telah dibangun oleh para pelaku kreatif seni rupa di kancah lokal, regional, maupun
global telah memberikan daya saing yang cukup tinggi bagi industri seni rupa. Bila dilihat dari
penilaian Daya Saing, Sektor Seni Rupa memiliki potensi daya saing yang paling besar dalam
Industri Kreatif Indonesia, dengan nilai total 7,7. Peran Komunitas untuk berjejaring berhasil
membuka jalan bagi seni rupa Indonesia untuk bersaing di kancah global melalui forum-forum
penting seperti Biennale, Art Fair, dan forum-forum diskusi seni rupa.
Posisi industri seni rupa Indonesia yang cukup kuat, terutama di lingkup regional Asia Tenggara. Pada
dasarnya, pasar lokal cukup protektif pada karya bangsanya sendiri dan secara sadar mendominasi
koleksinya dengan karya-karya Indonesia. Perhatian dunia yang teralih ke Asia Tenggara saat ini
menjadikan Indonesia salah satu primadona baru di dalam lingkup karya-karya Asia Tenggara.
Sayangnya perkembangan yang menjanjikan ini tidak diiringi dengan pemahaman pemerintah
maupun masyarakat mengenai perkembangan seni rupa Indonesia saat ini. Perubahan paradigma
sudah seharusnya terjadi dengan lebih melihat seni rupa pada perkembangan terkininya. Potensi
sumber daya kreatif yang begitu besar di sektor ini perlu terus didorong untuk seluas-luasnya
disosialisasikan kepada semua lapisan masyarakat. Dengan begitu, diharapkan dapat terciptanya
national branding seni rupa yang didukung secara terpadu oleh pelaku seni dan pemerintah.
Pada matriks daya saing seni rupa, nilai terendah terletak pada pilar Sumber Daya Pendukung,
terutama di bidang pengadaan dan pengolahan bahan baku dalam negeri. Titik lemah berikutnya
terletak pada Infrastruktur dan Teknologi, yaitu pada pengadaan alat-alat pendukung produksi
dan penguasaan teknologi yang sudah ada, serta jaringan telekomunikasi (Internet). Sebagai
Sumber Daya Pendukung Budaya, peran komunitas dan lembaga konservasi sangat penting
sebagai fasilitas proses produksi, alat sosialisasi dan branding. Lembaga arsip telah tersedia dan
terorganisir dengan sangat baik, namun sampai saat ini tidak menerima dukungan dari pemerintah.
Keberadaan lembaga arsip sangatlah penting untuk: penyimpanan sejarah, materi pendidikan,
fasilitasi riset dan pengembangan, serta pendukung materi konsep produksi.

BAB 3: Kondisi Umum Seni Rupa di Indonesia

89

Gambar 3-6 Daya Saing Subsektor Seni Rupa

Hal yang paling penting untuk didorong demi peningkatan daya saing subsektor seni rupa saat
ini adalah sosialisasi dan peningkatan literasi seni rupa. Kondisi pembentukan citra budaya
bangsa sangatlah lemah, dan terancam dari potensi keberlanjutan, salah satunya karena kepasifan
museum-museum negara dalam mengoleksi dan mempresentasikan bukti-bukti perkembangan
budaya bangsa. Desentralisasi di bidang pendidikan dan arus informasi juga perlu dilakukan,
dimana selama ini terfokus pada Pulau Jawa dan Bali. Revitalisasi taman-taman budaya yang
tersebar di setiap provinsi di seluruh Indonesia bisa membantu penyebaran perkembangan seni
Indonesia. Kebijakan terprogram dalam hal pembiayaan penelitian, pengembangan produksi
dan pemasaran akan meningkatkan iklim industri yang lebih kondusifuntuk peningkatan daya
saing subsektor seni rupa.

3.5 Potensi dan Permasalahan dalam Pengembangan Seni Rupa


3.5.1 Isu-isu strategis Seni Rupa
Dalam pemetaan perkembangan seni rupa, ditemukan beberapa poin isu strategis yang harus
dijabarkan sebagai acuan untuk menentukan strategi pengembangan subsektor seni rupa. Isu-Isu
ini dikelompokan dalam beberapa bagian.

A. SUMBER DAYA KREATIF


Faktor pertama dan terpenting dari terjadinya industri kreatif adalah pelaku yang berproduksi
dengan dorongan intuisi, intelektual, dan keahlian yang terlatih. Sumber Daya Kreatif yang
dimaksud di sini mencakup individu yang sedang, atau akan bekerja di dalam industri seni,
maupun individu yang sedang dan akan bekerja di sektor pendukung.
Untuk keberlangsungan industri kreatif yang sehat, produktif dan berkelanjutan, diperlukan
terjadinya penciptaan Sumber Daya Kreatif dengan kualitas, etos kerja, keragaman keahliandan
wawasan yang baik, melalui cara-cara:

90

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

Pendidikan, Formal dan Non Formal. Pendidikan teknis, manajerial, dan pengembangan
wacana.
Lingkungan Pengembangan: Lembaga riset dan pengarsipan. Komunitas atau Kelompok
Seni Rupa.
Desentralisasi ruang pendidikan. Selama ini ruang pendidikan seni rupa, baik lembaga
pendidikan formal maupun komunitas, penyebarannya kurang merata, berpusat pada
pulau Jawa dan Bali dengan dominasi sekitar 90%.

B. SUMBER DAYA PENDUKUNG


Untuk mendukung produktivitas pelaku seni rupa, dibutuhkan sumber daya pendukung, baik
yang sifatnya merupakan kebutuhan pokok untuk berkreasi, sumber daya yang menginspirasi,
ataupun yang sifatnya mendukung kelancaran sistem kerja. Sumber daya pendukung itu adalah:

Bahan: Ketersediaan bahan yang berkualitas dan berdaya saing.

Alat dan Teknologi: ketersediaan alat dan teknologi yang disertai dengan keahlian SDM
untuk menggunakan atau mengolahnya.

Sumber Daya Budaya: masyarakat, komunitas, literasi seni dan budaya.

C. PEMBIAYAAN
Pembiayaan, terutama bagi Lingkungan Pengembangan, masih merupakan permasalahan yang
harus diprioritaskan. Selama ini organisasi-organisasi not-for-profit, seperti komunitas dan lembaga
pengarsipan, yang berperan sangat penting bagi Lingkungan Pengembangan, menggantungkan
sebagian besar akses pembiayaannya pada lembaga funding luar negeri. Begitu juga platformplatform not-for-profit, yang berperan penting untuk standardisasi pengembangan wacana, harus
menggantungkan diri pada sponsor swasta atau dana dari luar negeri. Platform penting seperti
Biennale mendapatkan sebagian dananya dari pemerintah daerah, misalnya Jakarta Biennale
melalui Dewan Kesenian Jakarta, namun di banyak kasus, dana yang diberikan sangatlah
minim, bahkan untuk mendapatkan 10% dari biaya produksi harus melewati perjuangan dan
birokrasi yang sulit.
Dibutuhkan pembenahan di lembaga funding, akses kepada funding, dan manajemen funding
yang ada. Dibutuhkan juga pelatihan di bidang manajemen modal pribadi.

D. INFRASTRUKTUR
Infrastruktur seni rupa selama ini bergantung pada infrastruktur organik inisiasi pelaku kreatif
yang membentuk komunitas, organisasi pendukung, dan berjejaring untuk distribusi dan
sosialisasi. Fasilitasi Lingkungan Pengembangan yang berkualitas dan berkelanjutan menjadi isu
yang krusial untuk dianalisa dan dicari solusi-solusi permasalahannya untuk keberlangsungan
substansi seni rupa.
Isu-isu mengenai bangunan dan lembaga yang membentuk infrastruktur seperti museum,
lembaga pengarsipan, lembaga riset, dan institusi pendidikan menjadi isu yang penting untuk
menentukan strategi pembangungan.

E. SOSIALISASI DAN PEMASARAN


Isu yang perlu diketengahkan adalah sistem komunikasi distribusi informasi untuk perluasan
penonton atau konsumen atau pasar baik lokal maupun luar negeri. Metode sosialiasi dan pemasaran
yang didukung oleh kebijakan, program dan fasilitas pemerintah juga menjadi isu utama.
BAB 3: Kondisi Umum Seni Rupa di Indonesia

91

Literasi untuk penajaman pengertian masyarakat tentang seni rupa menjadi isu yang sangat
penting dan berkaitan dengan strategi di bidang pendidikan, media massa, dan manajerial. Juga
desentralisasi arus informasi dan pusat-pusat kegiatan yang saat ini aktivitasnya berpusat di
Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Bali.
Perlu ditelaah juga forum presentasi sebagai forum pemasaran dan sosialisasi. Fokus pada
presentasi-presentasi berskala internasional yang bertempat di dalam negeri, sebagai alat untuk
membawa devisa negara, maupun perluasan interaksi ekonomi bagi industri pendukung. Sebagai
pertimbangan:

Presentasi skala internasional yang bertempat di dalam negeri, memberikan kesempatan:


Perluasan penonton global
Perluasan peluang pasar
Memperbesar jaringan kerja
Kesempatan menilik ulang standardisasi manifestasi konsep dan estetika
Penerapan pendidikan manajemen seni
Pendapatan (gaji)
Pelatihan masyarakat lokal (melalui program publik, contohnya: workshop, program
magang)

Presentasi skala internasional yang bertempat di luar negeri, memberikan kesempatan:


Exposure penonton global
Memperluas peluang pasar
Memperbesar jaringan kerja
Penerapan pendidikan manajemen seni

F. KELEMBAGAAN
Dalam isu kelembagaan perlu ditilik hal-hal yang berkaitan dengan kebijakan yang diterapkan
pemerintah maupun asosiasi. Isu yang paling sering muncul adalah isu bea dan cukai.

Kualitas ruang dan tenaga kerja di institusi pendidikan

Aktivasi dan manajemen ruang publik yang mendukung pengembangan, penelitian,pengarsipan,


dan apresiasi, disertai oleh SDM dengan keahlian manajemen dan konservasi.

Lembaga dan Institusi yang mengatur dan mengawasi penerapan kode etik.

3.5.2 Prioritas Permasalahan


A. MENGOPTIMALKAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA
Termasuk di dalamnya adalah pembenahan sistem pendidikan dan pemerataan kuantitas dan
kualitas pendidikan seni di Indonesia yang saat ini berpusat di Jawa-Bali.
Potensi Sumber Daya Kreatif Seni Rupa Indonesia tergolong cukup besar dilihat dari reputasi
yang sudah terbentuk di forum regional dan global, dan juga dari kuantitas seniman, namun
kuantitas seniman ini tidak diimbangi dengan jumlah pelaku kreatif yang menekuni aspek
manajerial, promosi, dan penulisan.

92

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

Keahlian Manajerial yang dibutuhkan diantaranya adalah manajerial praktik seniman, termasuk
didalamnya keahlian self-management yang sebaiknya dimiliki oleh setiap pekerja seni, manajerial
acara seni, manajerial galeri komersil, manajerial organisasi nonprofit, dan manajerial bisnis seni
rupa secara lebih luas.
Keahlian di bidang promosi termasuk: keahlian self-promotion bagi setiap pekerja seni, pemahaman
pemetaan industri seni rupa bagi setiap pekerja seni, promosi pelaku kreatif individual, promosi
event lokal, promosi event internasional, pencitraan (branding) seniman individual, pencitraan
komunitas, pencitraan lembaga konservasi, dan pencitraan seni rupa nasional.
Sedangkan aspek penulisan yang perlu dikembangkan adalah:
1. Kuratorial, yang mencakup bukan hanya keahlian penulisan, tetapi juga riset, presentasi,
manajerial, exhibition, conceptual thinking, komunikasi.
2. Kritik seni.
3. Riset dan penulisan pengembangan seni rupa.
4. Penulisan jurnalisme seni rupa.

B. DUKUNGAN PADA LINGKUNGAN PENGEMBANGAN


Sistem pembiayaan yang paling dibutuhkan adalah pembiayaan bagi Lingkungan Pengembangan
Produksi, di antaranya komunitas, lembaga pengarsipan, dan acara-acara seni yang membangun
pencitraan nasional.
Sebagai contoh dari permasalahn yang sangat penting untuk segera ditangani adalah keberlanjutan
komunitas beserta program-program yang mereka bentuk sebagai pelayanan publik. Peran komunitas
seperti yang sudah diterangkan di Bab 1 penting dalam pembentukan dan pengembangan
individu kreatif, pembentukan citra budaya bangsa, dan wadah pengembangan produksi, yang
paling dibutuhkan adalah sistem pembiayaan infrastruktur komunitas. Komunitas membutuhkan
ruang fisik untuk mewadahi setiap kegiatannya. Permasalahan nyata yang dialami di aspek ini
adalah ketiadaan fasilitas pembiayaan yang berkompromi dengan arus pembiayaan komunitas.
Sampai tahun 2014, komunitas kita masih bergantung pada pembiayaan dari luar negeri dan
usaha-usaha dari industri paralel komunitas tersebut, funding dan penghasilan dari komunitas
oleh lembaga keuangan tidak dilihat sebagai penghasilan usaha kecil atau menengah, walau pada
umumnya komunitas mampu menghasilkan pendapatan yang sama dengan usaha kecil dan
menengah. Klasifikasi ini yang akhirnya menyulitkan approval dari sistem kredit untuk pembiayaan
infrastruktur komunitas. Ketiadaan kebijakan sistem kredit ini menyebabkan komunitas tidak
dimampukan untuk mendapatkan hak milik ruang, akibatnya terus terlibat di sistem penyewaan
ruang yang merupakan liability. Hal ini melemahkan usaha investasi dan usaha kemandirian
komunitas. Sangat penting untuk diadakannya kebijakan bagi sistem pembiayaan komunitas,
dukungan terhadap klasifikasi bagi komunitas dan organisasi seni yang memudahkan mereka
untuk mendapatkan fasilitas pembiayaan dari lembaga keuangan.

BAB 3: Kondisi Umum Seni Rupa di Indonesia

93

C. KONSERVASI DAN PENGARSIPAN


Lembaga pengarsipan dan museum menjadi faktor paling penting dalam proses konservasi dan
pengarsipan. Proses konservasi dan pengarsipan selain sebagai penyimpanan sejarah juga penting
untuk dipresentasikan ke publik sebagai alat indikator kemajuan budaya bangsa, pengenalan budaya
bangsa, dan untuk membangun kebanggaan akan citra nasional seni dan budaya bangsa. Terdata
saat ini Indonesia memiliki 6 museum publik bagi seni rupa, dan 20 museum privat. Satu lembaga
pengarsipan seni rupa yang terbesar adalah inisiasi privat, bersama dengan sejumlah lembaga
pengarsipan dan lembaga riset dengan skala lebih kecil yang terkait di dalam ruang alternatif
dan institusi pendidikan. Melihat angka itu terlihat dominasi yang jelas dari para pelaku privat
dalam usaha konservasi pengarsipan, semua tanpa campur tangan dari pemerintah. Museum
publik seni rupa Indonesia dalam aktivitas koleksinya sangatlah pasif terutama dalam koleksi seni
kontemporer. Begitu juga dalam usahanya untuk menunjukkan koleksinya bagi masyarakat luas.

D. SOSIALIASI SENI RUPA DAN DUKUNGAN PEMERINTAH UNTUK MEMBENTUK


PEMBANGUNAN CITRA SENI BUDAYA NASIONAL
Reputasi dan kekhas-an karya yang ditawarkan seni rupa Indonesia telah membangun permintan
dari pasar lokal dan internasional. Seperti yang telah diungkapkan di penjelasan Daya Saing
Industri Seni Rupa Indonesia, sayangnya permintaan ini tidak terdukung secara terpadu antara
pelaku seni dan pemerintah. Diperlukan pembangunan ikon-ikon dan citra seni rupa nasional
melalui promosi, fasilitas ruang publik, dan lembaga konservasi. Citra seni ini berbarengan harus
dibangun menargetkan pada perluasan penonton lokal dan internasional.

E. KEBIJAKAN BEA CUKAI DAN KEBIJAKAN DUKUNGAN LUAR NEGERI


Arus keluar masuk produk dan pelaku seni rupa ke luar negeri bertambah dengan pesat sejak
tahun 2007. Ditemukan permasalahan mengenai perlakuan bea dan cukai terhadap karya seni
Indonesia yang masuk kembali ke Indonesia. Misalnya saat seniman kita diundang memamerkan
karyanya di luar negeri, setelah pameran selesai dan karya dikembalikan ke Indonesia, karya
tersebut mengalami masalah dalam proses bea dan cukai, di mana bisa terjadi seniman harus
membayar puluhan juta untuk mengeluarkan karya tersebut dari pihak custom dan membawa
pulang. Situasi seperti ini sangat mengorbankan seniman yang sudah mewakili Indonesia sebagai
duta budaya di luar negeri, dan juga menunjukkan ketidakpedulian terhadap nilai produk seni
bangsa sendiri. Diperlukan kebijakan dan dukungan pemerintah yang spesifik untuk masalah ini.

F. POTENSI SUMBER DAYA PRODUKSI : BAHAN, ALAT DAN TEKNOLOGI DAN SDM
YANG BELUM OPTIMAL
Indonesia kaya akan bahan baku, namun diperlukan pengembangan dan pengolahan bahan
baku ini menjadi materi medium yang siap pakai untuk produksi karya seni rupa. Sebagai contoh
adalah bahan baku untuk medium keramik, Indonesia memiliki sumber daya alam yang besar
untuk diolah menjadi bahan dasar medium keramik, namun sayangnya teknologi pengolahan itu
belum dikembangkan di Indonesia, dan seniman keramik Indonesia terpaksa masih mengimpor
mayoritas dari bahan baku tersebut. Hal ini juga terjadi dengan medium-medium lain, di mana
minimnya bahan baku buatan dalam negeri yang berkualitas dengan harga yang bersaing.
Alat-alat teknologi seperti printer yang bisa mencetak dengan ukuran besar, dan tenaga manusia
yang menguasai teknologi tersebut juga belum ada di Indonesia, akibatnya seniman Indonesia
harus mengirimkan karyanya keluar negeri untuk dicetak dalam ukuran dan kualitas tertentu,
menyebabkan ongkos produksi menjadi mahal.

94

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

Tabel 3-5 Potensi dan Permasalahan Pengembangan Seni Rupa

NO.

POTENSI
(Peluang dan Kekuatan)

PERMASALAHAN
(Tantangan, Hambatan, Kelemahan, Ancaman)

1. SUMBER DAYA KREATIF


1

Banyaknya komunitas inisiatif


menyediakan pendidikan nonformal,
sekitar 30 perguruan tinggi yg
mengajarkan seni rupa

Penyebaran masih berpusat di Jawa-Bali

Kombinasi antara pendidikan formal


dan nonformal yang meningkatkan
kualitas dan variasi jenis pengetahuan

Sarana dan tenaga pengajar masih berpusat di


Jawa-Bali. Kurangnya tenaga pengajar dengan
kualifikasi yg sesuai. Kurikulum pendidikan
kuratorial baru dijalankan di satu perguruan
tinggi

Didorongnya pengembangan
kreativitas dan variasi teknis+medium
di Lingkungan Pengembangan

Ketidakmampuan pasar untuk menerima


variasi kreativitas dan teknis+medium.
Kurangnya pendidikan teknis media baru

Adanya pelatihan manajerial lewat kerja


nyata di komunitas-komunitas

Pendidikan untuk pemahaman pemetaan


industri dan manajerial yang kurang

Banyaknya peluang beasiswa


pendidikan formal dan pelatihan di luar
negeri

Pelaku seni rupa indonesia harus bersaing


dengan negara-negara lain

Cukup banyaknya jumlah seniman dan


lulusan sekolah seni

Terlalu sedikit tenaga kerja yang memiliki skill


di bidang manajerial, konservasi, dan kurasi.

Literasi dan kesadaran akan hukum dan caracara perlindungan diri melalui kontrak dsb
masih minim

2. SUMBER DAYA PENDUKUNG


1

Bahan baku dasar tersedia

Ketiadaan usaha pengolahan bahan baku


dasar, misalnya keramik dan kain kanvas.
Masih sangat menggunakan bahan-bahan
impor

Inisiasi swasta yang mulai diaktifkan,


adanya Indonesian Visual Art Archive
(IVAA)

Belum ada usaha-usaha signifikan di bidang


perlindungan (identifikasi, dokumentasi,
rehabilitasi, revitalisasi, archiving) di bidang
perlindungan sumber daya alam bahan baku
seni rupa

Inisiasi pelaku yang selalu akif dalam


pengembangan dan pelestarian sumber
daya budaya lewat riset pribadi atau
kelompok, dan pendirian lembaga riset
inisiasi pelaku kreatif

Ketidakjelasan usaha pemerintah untuk


memberikan usaha-usaha perlindungan seni
dan budaya sesuai dengan perkembangan
kini: a) museum publik yang tidak aktif, b) tidak
ada museum publik yang mengoleksi karya
kontemporer, c) tidak ada dukungan pada
lembaga pengarsipan inisiasi pelaku kreatif

Program museum yang tidak aktif, baik dalam


aktivitas koleksi maupun program pameran
dan workshop untuk publik

BAB 3: Kondisi Umum Seni Rupa di Indonesia

95

POTENSI
(Peluang dan Kekuatan)

NO.

PERMASALAHAN
(Tantangan, Hambatan, Kelemahan, Ancaman)
5

Tidak adanya usaha pemerintah yang


signifikan untuk distribusi pengetahuan seni
dan budaya yang progresif kepada masyarakat
luas.

Tidak adanya usaha terpadu dari pemerintah


bersama dengan pelaku kreatif untuk
penciptaan citra nasional

3.INDUSTRI
1

Inisiasi pelaku semakin aktif baik di


dalam maupun luar negeri.

Manajemen pemasaran yang masih kurang

Semakin aktif dan meningkat, baik


jejaring dalam negeri maupun global
terdata ada peningkatan keterlibatan
seni rupa Indonesia yang melonjak
tinggi di forum internasional selama 5
tahun terakhir

Minimnya dukungan pemerintah untuk


pemasaran, sosialisasi dan dukungan bagi
pelaku seni rupa Indonesia di luar negeri

Banyaknya komunitas yang produktif

Minimnya kesadaran pemerintah dan


masyarakat dalam negeri tentang peran seni
rupa sebagai duta budaya Indonesia

Hubungan kepada penggunaan jasa dan


produk seniman dan jejaringnya mulai
berjalan dengan baik

Komunitas yang terekspos di pemetaan


keseluruhan masih terpusat di Jawa-Bali.

Kreativitas tinggi, penciptaan model


usaha yang unik dan baru

Regulasi dan etika industri yang kurang jelas.

Beragam, baik dalam jenis usaha,


medium, dan konsep

Kurangnya pemahaman dan kemampuan


untuk branding

Kesadaran cukup tinggi akan


kreativitas, konten dan penampilan
karya yang baik

Kurangnya pengembangan dan penguasaan


teknis di medium-medium tertentu

Kualitas finishing dan packaging yang maish


harus ditingkatkan.

4.PEMBIAYAAN
1

Adanya peluang pembiayaan dari


pemerintahan, dan dari sektor swasta
dalam negeri

Regulasi pembiayaan infrastruktur bagi


organisasi dan komunitas seni, di perspektif
lembaga keuangan, masih dalam posisi lemah.

Adanya peluang pembiayaan dari luar


negeri

Metode pembiayaan pemerintah yang tidak


terprogram secara jelas

Harus bersaing dengan negara-negara lain

Minimnya penyebaran pengetahuan


tentang akses dan cara-cara mendapatkan
pembiayaan ini

Tidak adanya usaha terpadu dari pemerintah


untuk bersama-dengan pelaku kreatif untuk
menciptakan promosi terprogram dan
membangun citra nasional seni rupa Indonesia

5.PEMASARAN
1

96

Komunitas seni rupa dan galerigaleri yang sangat aktif dengan usaha
distribusi

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

NO.

POTENSI
(Peluang dan Kekuatan)

PERMASALAHAN
(Tantangan, Hambatan, Kelemahan, Ancaman)

Konsumen global yang semakin


meningkat bagi seni rupa Indonesia

Infrastruktur dalam negeri yang rentan,


menyebabkan dominasi negara-negara
dengan infrastruktur yang lebih kuat

Inisiasi swasta dan inisiasi dari pihak


luar negeri yang aktif, misalnya
undangan dan fasilitas-fasilitas dari
museum, organisasi Biennale, dan
manajemen Art Fair yang sangat baik

95% masih inisiasi privat dan internasional,


baik institusi maupun pelaku seni.

Tingginya demand dari konsumen


global; komunitas dan inisiasi individu
yang aktif di bidang ini

Praktik bea & cukai di lapangan yang tidak


jelas regulasi dan etikanya

Semua masih inisiasi pelaku seni dengan


keterbatasan managerial skill dan branding
skill; minimnya dukungan dan fasilitasi dan
representasi dari pemerintah

6. INFRASTRUKTUR DAN TEKNOLOGI


1

Membantu penyebaran aktivitas ke luar


Jawa-Bali, dan ke forum internasional

Internet dengan bandwidth yang lemah, logistik


yang terbatas, regulasi yang tidak masuk akal

Adanya museum, galeri nasional dan


taman budaya

Aktivasi program koleksi dan program untuk


publik yang harus dibenahi.

Pengetahuan pelaku seni akan


keberadaan teknologi ini sebagai
medium produksi

Alat yang tersedia di dalam negeri sangat


minimum. Pelatihan teknis yang tidak tersedia
di dalam negeri masih mengandalkan produk
impor

Sumber daya manusia untuk mengendalikan


dan mengembangkan masih terbatas

7.KELEMBAGAAN
1

Adanya undang-undang HKI

Penyebaran pendidikan berkualitas di luar


Jawa-Bali, dan kurikulum yang belum lengkap

Komunitas, intelektual dan pasar


berkembang secara paralel.

Belum ada regulasi yang jelas untuk


pengembangan sumber daya

Inisiasi pelaku (privat) yang tinggi dan


semakin bertambah banyak

Regulasi pembiayaan infrastruktur bagi


organisasi dan komunitas seni, di perspektif
lembaga keuangan, masih dalam posisi lemah.

Inisiasi pelaku kreatif yang aktif

Belum diketahui adanya regulasi yang


signifikan tentang perluasan pasar kreatif

Inisiasi pelaku (privat) yang tinggi dan


semakin bertambah banyak

Regulasi dan praktik bea cukai di lapangan


sering menghambat proses perluasan pasar
internasional

Apresiasi luar negeri yang cukup tinggi,


terutama di Asia Tenggara

Minimnya pengetahuan pelaku tentang


regulasi ini, dan lambatnya proses
pendaftaran hak cipta.

BAB 3: Kondisi Umum Seni Rupa di Indonesia

97

NO.

98

POTENSI
(Peluang dan Kekuatan)

PERMASALAHAN
(Tantangan, Hambatan, Kelemahan, Ancaman)
7

Minimnya apresiasi dan pemahaman


pemerintah akan potensi dan prestasi
sektor seni rupa. Gap pemahaman antara
perkembangan di sektor komunitas dan
intelektual dengan pemahaman sektor pasar

Tata kelola lembaga yang masih minim

Minimnya dukungan dan fasilitasi pemerintah


yang terpadu dan terprogram

10

Penggunaan dan pengelolalaan ruang publik


yang jauh dari maksimal

12

Kurangnya skill sosialisasi dan pemahaman


media massa tentang seni rupa

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

BAB 4
Rencana Pengembangan
Seni Rupa Indonesia

4.1 Arahan Strategis Pengembangan Ekonomi Kreatif 20152019


Arahan RPJPN 20052025, pembangunan nasional tahap ketiga (20152019) adalah ditujukan
untuk lebih memantapkan pembangunan secara menyeluruh di berbagai bidang dengan menekankan
pencapaian daya saing kompetitif perekonomian berlandaskan keunggulan sumber daya alam
dan sumber daya manusia berkualitas serta kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
terus meningkat.
Pembangunan periode 20152019 tetap perlu mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi tetapi
haruslah inklusif dan berkelanjutan, yaitu meminimasi permasalahan sosial dan lingkungan.
Pembangunan inklusif dilakukan terutama untuk mengurangi kemiskinan, ketimpangan antar
penduduk dan ketimpangan kewilayahan antara Jawa dan luar Jawa, kawasan barat dan kawasan
timur, serta antara kota-kota dan kota-desa. Pembangunan berkelanjutan dilakukan untuk
memberikan jaminan keberlanjutan manfaat yang bisa dirasakan generasi mendatang dengan
memperbaiki kualitas lingkungan (sustainable).
Tema pembangunan dalam RPJMN 20152019 adalah pembangunan yang kuat, inklusif dan
berkelanjutan. Untuk dapat mewujudkan apa yang ingin dicapai dalam lima tahun mendatang,
maka fokus perhatian pembangunan nasional adalah:
1. Merealisasikan potensi ekonomi Indonesia yang besar menjadi pertumbuhan ekonomi
yang tinggi, yang menghasilkan lapangan kerja yang layak (decent jobs) dan mengurangi
kemiskinan yang didukung oleh struktur dan ketahanan ekonomi yang kuat.
2. Membuat pembangunan dapat dinikmati oleh segenap bangsa Indonesia di berbagai
wilayah Indonesia secara adil dan merata.
3. Menjadikan Indonesia yang bersih dari korupsi dan memiliki tata kelola pemerintah dan
perusahaan yang benar dan baik.
4. Menjadikan Indonesia indah yang lebih asri, lebih lestari.
Dalam rancangan teknokratik RPJMN 20152019 terdapat enam agenda pembangunan
nasional, yaitu: (1) Pembangunan Ekonomi; (2) Pembangunan Pelestarian Sumber Daya Alam,
Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Bencana (3) Pembangunan Politik, Hukum, Pertahanan,
dan Keamanan; (4) Pembangunan Kesejahteraan Rakyat; (5) Pembangunan Wilayah; dan (6)
Pembangunan Kelautan.
Pembangunan Ekonomi Kreatif pada lima tahun mendatang ditujukan untuk memantapkan
pengembangan ekonomi kreatif dengan menekankan pencapaian daya saing kompetitif berlandaskan
keunggulan sumber daya alam dan sumber daya manusia berkualitas serta kemampuan ilmu dan
teknologi yang terus meningkat.
Memantapkan pengembangan ekonomi kreatif yang dimaksud adalah memperkuat landasan
kelembagaan untuk mewujudkan lingkungan yang kondusif yang mengarusutamakan kreativitas
dalam pembangunan dengan melibatkan seluruh pemangku kebijakan. Landasan yang kuat akan
menjadi dasar untuk mewujudkan daya saing nasional dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan
dan teknologi dan kreativitas serta kedinamisan masyarakat untuk berinovasi, dan menciptakan
solusi atas permasalahan dan tantangan yang dihadapi dengan memanfaatkan sumber daya lokal
untuk menciptakan industri kreatif yang berdaya saing, beragam, dan berkelanjutan.

102

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

Secara strategis pengembangan ekonomi kreatif tahun 20152019 bertujuan untuk menciptakan
ekonomi kreatif yang berdaya saing global. Tujuan ini akan dicapai antara lain melalui peningkatan
kuantitas dan kualitas orang kreatif lokal yang didukung oleh lembaga pendidikan yang sesuai
dan berkualitas, peningkatan kualitas pengembangan dan pemanfaatan bahan baku lokal yang
ramah lingkungan dan kompetitif, industri kreatif yang bertumbuh, akses dan skema pembiayaan
yang sesuai bagi wirausaha kreatif lokal, pasar yang makin beragam dan pangsa pasar yang makin
besar, peningkatan akses terhadap teknologi yang sesuai dan kompetitif, penciptaan iklim usaha
yang kondusif dan peningkatan apresiasi masyarakat terhadap karya kreatif lokal.

4.2 Visi, Misi, dan Tujuan Pengembangan Seni Rupa


Untuk menentukan arah dan strategi pengembangan seni rupa maka visi, misi, dan tujuan
pengembangannya harus didefinisikan sebagai kerangka strategis yang dijabarkan menjadi rencana
aksi pengembangan yang lebih detail di periode jangka menengah 20152019. Keterkaitan visi, misi,
tujuan, dan sasaran strategis pengembangan seni rupa di Indonesia dapat dilihat pada Gambar 4-1

VISI

1. Mengoptimalkan
pengembangan
Sumber Daya Manusia
dan Produksi

2. Mengembangkan lingkungan
industri yang kondusif yang
menitikberatkan pada peran
Lingkungan Pengembangan yang
aktif, kaya dan berkelanjutan
demi terciptanya perkembangan
produksi yang berkualitas.

Memaksimalkan komunikasi
dan sosialisasi seni
rupa.

1. Terciptanya
sumber daya kreatif,
berkualitas, dan
berdaya saing di
bidang produksi,
manajemen, dan
pemasaran

3. Terciptanya Lingkungan
Pengembangan yang
berkelanjutan dengan fasilitas
dan materi yang cukup untuk
terjadinya pengembangan
pengetahuan dan keahlian para
pelaku.

4. Terbentuknyas fasilitas,
sistem komunikasi dan
pemasaran seni rupa yg
memadai untuk perluasan
konsumen di forum lokal dan
internasional

TUJUAN

Industri Seni Rupa yang berdaya saing, berwawasan, memasyarakat, yang mendorong
penciptaan kualitas hidup masyarakat seni rupa secara berkelanjutan

MISI

Gambar 4-1 Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran Strategis Pengembangan Seni Rupa

SASARAN STRATEGIS

2.Berkembangnya
sumber daya produksi
dalam negeri yang
berkualitas, berdaya
saing, & berkelanjutan.
1. Meningkatnya
kuantitas dan kualitas
orang kreatif dengan
pengetahuan produksi,
pengembangan
wacana, manajerial,
dan pemasaran.

5. Terjadinya perkembangan
jumlah materi literasi
berkualitas
6. Terciptanya perluasan
konsumen di forum lokal dan
internasional

4. Terjadinya sistem yang


mengatur pendanaan yang
berkualitas dan berkelanjutan
bagi Produksi dan Lingkungan
Pengembangan

BAB 4: Rencana Pengembangan Seni Rupa Indonesia

8. Meningkatnya literasi
publik terhadap seni
rupa lewat publikasi dan
pengajaran berkualitas
9. Aktivasi lembaga-lembaga
pemerintah dan ruang publik
yang mendukung terjadinya
sosialisasi seni rupa

103

SASARAN STRATEGIS

2. Meningkatnya
pengadaan bahan
baku dan bahan olahan
yang diproduksi dalam
negeri dengan harga
dan kualitas yang
bersaing.

5. adanya kelengkapan kebijakan


pemerintah yang mendukung
proses produksi dan distribusi
produk seni

8. Meningkatnya literasi
publik terhadap seni
rupa lewat publikasi dan
pengajaran berkualitas
9. Aktivasi lembaga-lembaga
pemerintah dan ruang publik
yang mendukung terjadinya
sosialisasi seni rupa

3.Meningkatnya
kualitas dan kuantitas
alat teknologi dan SDM
yang mengolahnya

10. peningkatan aktifitas


koleksi baik oleh
sektor swasta maupun
pemerintahan

4.2.1 Visi Pengembangan Seni Rupa


Berdasarkan identifikasi definisi, ekosistem, kondisi perkembangan dan fungsi seni rupa yang
dibahas dalam diskusi dengan narasumber, maka disimpulkan visi seni rupa dalam konteks
ekonomi kreatif adalah sebagai berikut:

Industri Seni Rupa yang berdaya saing,


berwawasan, memasyarakat, yang mendorong
penciptaan kualitas hidup masyarakat seni rupa
secara berkelanjutan.
1. Berkualitas hidup: kondisi masyarakat seni rupa yang kreatif, aktif, dinamis.
2. Berdaya Saing: masyarakat seni rupa yang mampu menghasilkan produk karya seni dan
karya pengetahuan yang berkualitas, yang didukung dengan profesionalisme dan etika
kerja yang mampu bersaing di tingkat lokal dan internasional.
3. Berwawasan: masyarakat seni rupa yang dalam praktik keseniannya mengikuti, memahami,
dan merespon perkembangan sosial dan budaya.
4. Memasyarakat: terjadinya komunikasi, pemahaman, keterlibatan, dan apresiasi publik
yang luas dengan masyarakat seni rupa, karya seni, dan karya pengetahuannya, baik di
tingkat lokal maupun internasional.
5. Berkelanjutan: terwujudnya kemampuan untuk terus hidup dengan aktif, dinamis,
dan sejahtera, dan menghasilkan harmonisasi nilai pengembangan wacana, nilai sosial
budaya dan nilai ekonomi.

4.2.2 Misi Pengembangan Seni Rupa


Berdasarkan visi pengembangan seni rupa Indonesia 20152019 ini kemudian dirumuskan misi
pengembangannya. Misi pengembangan seni rupa ini diharapkan dapat menjadi usaha pewujudan
dari visi pengembangan. Misi pengembangan seni rupa Indonesia 20152019 dibagi menjadi tiga
misi utama dan dijelaskan di bawah ini.
1. Mengoptimalkan pengembangan sumber daya manusia dan produksi.
2. Mengembangkan lingkungan industri yang kondusif yang menitikberatkan pada
peran Lingkungan Pengembangan yang aktif, kaya dan berkelanjutan demi terciptanya
perkembangan produksi yang berkualitas.
3. Memaksimalkan komunikasi dan sosialisasi seni rupa.
104

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

4.2.3 Tujuan Pengembangan Seni Rupa


Dalam usaha untuk mewujudkan pengembangan seni rupa Indonesia, visi dan misi pengembangan
dalam jangka waktu 20152019 kemudian diturunkan lagi menjadi tujuan dan sasaran
pengembangan. Berdasarkan tiga misi utama, tujuan pengembangan seni rupa Indonesia dalan
jangka waktu 20152019 diturunkan menjadi enam tujuan sebagai berikut:
1. Terciptanya sumber daya kreatif, berkualitas, dan berdaya saing di bidang produksi,
manajemen, dan pemasaran.
2. Berkembangnya sumber daya produksi dalam negeri yang berkualitas, berdaya saing, &
berkelanjutan.
3. Terciptanya Lingkungan Pengembangan yang berkelanjutan dengan fasilitas dan materi
yang cukup untuk terjadinya pengembangan pengetahuan dan keahlian para pelaku.
4. Terbentuknyas fasilitas, sistem komunikasi dan pemasaran seni rupa yg memadai untuk
perluasan konsumen di forum lokal dan internasional.
5. Terjadinya perkembangan jumlah materi literasi berkualitas.
6. Terciptanya perluasan konsumen di forum lokal dan internasional.

4.3 Sasaran dan Indikasi Strategis Pengembangan Seni Rupa


Berdasarkan enam tujuan pengembangan seni rupa, dirumuskanlah sepuluh sasaran pengembangan.
Dari sepuluh sasaran pengembangan seni rupa, dirumuskan lagi 31 indikasi strategis. Berikut
ini adalah sasaran pengembangan seni rupa Indonesia dalam jangka waktu 20152019 yang
dijelaskan melalui beberapa indikasi strategis pengembangan seni rupa.
1. Meningkatnya kualitas dan kuantitas orang kreatif dengan pengetahuan menyeluruh
tentang wacana pengembangan, produksi, manajerial dan pemasaran. Sasaran ini
diindikasikan oleh:
a. Banyaknya pelaku kreatif seni rupa yang fasih dalam hal self-management dan selfpromotion;
b. Terciptanya ahli-ahli di bidang manajerial dan pemasaran yang berdasar pada
kepentingan pengembangan;
c. Meningkatnya jumlah pelaku dengan kesadaran tinggi akan quality controlproduk
seninya sendiri;
d. Meningkatnya kualitas dan penyebaran kurikulum seni di sekolah-sekolah baik
tingkat dasar, menengah, maupun di tingkat sekolah tinggi;
e. Terjadinya aktivasi komunitas seni dan pendidikan seni formal dan nonformal di
luar Jawa dan Bali;
f. Meningkatnya jumlah pekerja seni (termasuk artisan dan teknisi) dengan kemampuan
menggunakan teknologi yang tersedia semaksimal mungkin;
g. Adanya manajemen-manajemen seni yang profesional dan berkelanjutan dengan
pemahaman menyeluruh tentang ekosistem seni rupa
h. Adanya sistem beasiswa untuk pelajar seni rupa.
2. Meningkatnya bahan baku dan bahan olahan yang diproduksi di dalam negeri dengan
kualitas dan harga yang bersaing. Sasaran ini diindikasikan oleh:
a. Meningkatnya jumlah produksi bahan-bahan untuk karya seni dua dimensi di dalam
negeri yang berkualitas dengan harga bersaing;
BAB 4: Rencana Pengembangan Seni Rupa Indonesia

105

b. Meningkatnya kualitas dan kuantitas bahan dasar tiga dimensi yang diolah di dalam
negeri, dengan harga yang stabil.
3. Meningkatnya kualitas dan kuantitas alat teknologi yang dibarengi dengan meningkatnya
kemampuan SDM yang mengolahnya. Sasaran ini diindikasikan oleh tersedianya teknologi
yang sesuai, tepat guna, terjangkau dan berkualitas sebagai alat produksi karya seni rupa.
a. Berkembangnya kualitas teknologi pendukung;
b. Adanya alat-alat teknologi yang canggih dan berkualitas sebagai alat produksi,
dengan harga bersaing.
4. Terjadinya sistem yang mengatur pendanaan yang berkualitas dan berkelanjutan bagi
produksi dan lingkungan pengembangan. Sasaran ini diindikasikan oleh:
a. Tersedianya dana dukungan pemerintah yang dikelola secara transparan akuntabel
dan diperuntukkan bagi komunitas-komunitas seni rupa yang kredibel, lembagalembaga riset dan pengarsipan;
b. Tersebarnya pendidikan seni rupa ke seluruh Indonesia;
c. Tersebarnya ruang seni rupa di seluruh Indonesia.
5. Adanya kelengkapan kebijakan pemerintah yang mendukung proses produksi dan
distribusi produk seni
a. Kebijakan pemerintah yang mendukung pendanaan produksi seni rupa dengan kriteria
untuk kepentingan lingkungan pengembangan, misalnya: project riset, project yang
membangun citra nasional di mata internasional. Kebijakan ini bisa berupa pendanaan
langsung dari pemerintah atau kebijakan yang meringankan sistem pendanaan dari
lembaga keuangan;
b. Kebijakan pemerintah di bidang bea dan cukai, yaitu pembebasan bea dan cukai
untuk karya-karya seni rupa yang berpameran di luar negeri, maupun pembebasan
bea masuk untuk karya luar negeri yang berpameran di Indonesia dalam presentasi
not-for-profit.
6. Meningkatnya apresiasi seni rupa yang ditentukan oleh jumlah penonton, jumlah pembeli,
penulisan di media massa, baik di forum lokal maupun internasional
a. Adanya dukungan pemerintah di bidang produksi dan promosi untuk acara-acara
seni rupa internasional produksi dalam negeri;
b. Adanya dukungan pemerintah di bidang produksi dan promosi untuk acara-acara
seni rupa yang mendorong inovasi kreatif dan pengembangan substansi;
c. Adanya pusat informasi terpadu untuk penyebaran pengetahuan umum dan sosialisasi
event seni rupa. Hal ini bisa dilakukan dengan pengadaan buku panduan informasi
kegiatan, aktivasi promosi di ruang publik, aktivasi promosi di media massa, aktivasi
promosi melalui konsulat-konsulat Indonesia di luar negeri.
7. Adanya program pemerintah yang aktif dan tepat sasaran untuk pembentukan pencitraan
nasional seni rupa.
a. Adanya program pemerintah yang berlanjut untuk mendukung acara-acara seni di
dalam negeri yang membangun citra seni rupa nasional di mata masyarakat lokal
dan internasional;
b. Adanya sistem pengumpulan data, penulisan, dan penyampaian ke publik lokal dan
internasional tentang pencapaian seni rupa Indonesia.
106

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

8. Aktivasi lembaga-lembaga pemerintah dan ruang publik yang memasyarakatkan seni rupa
a. Aktivasi program-program di ruang publik, seperti Taman Budaya dan Museum;
b. Meningkatnya aktivitas koleksi seni rupa Indonesia oleh museum pemerintah;
c. Meningkatnya kualitas dan kuantitas pameran koleksi museum pemerintah dan
museum privat;
d. Revitalisasi Manajemen dan Kuratorial Galeri Nasional - perombakan terhadap
birokrasi manajerial dan kuratorial yang tidak representatif dalam menciptakan
citra nasional seni rupa.
9. Meningkatnya literasi publik terhadap seni rupa lewat publikasi dan pengajaran yang
berkualitas
a. Tersedianya publikasi produk pengetahuan berupa buku;
b. Meningkatnya jumlah penulis seni rupa di bidang riset dan pengembangan;
c. Meningkatnya jumlah jurnalis yang berfokus pada penulisan tentang seni rupa di
media massa;
d. Adanya pusat informasi terpadu untuk penyebaran pengetahuan umum dan sosialisasi
event seni rupa.
10. Meningkatnya aktivitas koleksi baik oleh sektor swasta maupun pemerintah
a. Meningkatnya aktivitas koleksi seni rupa Indonesia oleh museum pemerintah;
b. Bertambahnya jumlah konsumen, penonton, dan pembeli produk-produk seni rupa;
c. Adanya manajemen-manajemen seni yang profesional dan berkelanjutan dengan
pemahaman menyeluruh tentang ekosistem seni rupa.

4.4 Arah Kebijakan Pengembangan Seni Rupa


Arah kebijakan pengembangan seni rupa menunjukkan saran-saran pembangunan secara mendetil,
yang bisa dilihat juga dari lampiran RPJM Seni Rupa yang terdapat di akhir dokumen ini. Arah
kebijakan ini dikembangkan berdasarkan tujuan pengembangan seni rupa Indonesia dalam
periode 20152019. Tujuan pengembangan ini meliputi enam tujuan utama, yaitu: (1) Peningkatan
kualitas dan daya saing sumber daya kreatif (pelaku seni rupa) di bidang produksi, manajemen,
dan pemasaran; (2) Pengembangan kualitas dan daya saing sumber daya produksi dalam negeri
yang berkelanjutan; (3) Peningkatan kualitas Lingkungan Pengembangan yang berkelanjutan
dengan fasilitas dan materi yang cukup untuk terjadinya pengembangan pengetahuan dan
keahlian para pelaku; (4) Pengembangan fasilitas, sistem komunikasi dan pemasaran seni rupa
yg memadai; (5) Pengembangan jumlah materi literasi berkualitas; dan (6) Perluasan konsumen
di forum lokal dan internasional.

4.4.1 Arah Kebijakan Peningkatan Kualitas Dan Daya Saing Sumber Daya
Kreatif Di Bidang Produksi, Manajemen, Dan Pemasaran
Sebagai usaha peningkatan daya saing, diperlukan peningkatan kualitas sumber daya kreatif
(pelaku seni rupa), baik di bidang kemampuan produksi, manajerial, dan distribusi. Bidang
produksi menyangkut pelaku-pelaku yang sudah dijelaskan di pemetaan ekosistem, diantaranya
yaitu: seniman, kurator, penulis, dll. Sementara kualitas manajerial perlu ditingkatkan baik untuk
manajerial pribadi, maupun manajerial yang mengatur sistem yang lebih luas.

BAB 4: Rencana Pengembangan Seni Rupa Indonesia

107

Memberikan akses pendidikan ke jenjang lebih tinggi dan seluas-luasnya.


Mendirikan pendidikan tinggi seni rupa lebih banyak lagi di luar Jawa-Bali

Memberikan sistem dan pendanaan yang mendukung pendidikan nonformal

Memberikan fasilitas beasiswa

Memberikan akses ke variasi keahlian di bidang seni rupa


Revisi kurikulum di sekolah tinggi seni rupa, terutama tambahan mengenai teknis
pengolahan medium, manajerial, penggunaan teknologi multi media, dan kuratorial

Mengadakan fasilitas pendanaan untuk pendidikan nonformal

Dukungan terhadap komunitas, lembaga pengarsipan dan penelitian


Mengadakan kebijakan mengenai sistem pendanaan untuk pembangunan infrastruktur


lembaga-lembaga ini

Mengadakan kebijakan dan program untuk mendukung sistem dan pendanaan program
sistem lembaga-lembaga ini

Dukungan kepada program pendidikan nonformal, yaitu program magang, workshop dan
residensi bagi pelaku seni rupa Indonesia, baik seniman, penulis, manajer, kurator, dsb, pada
program dalam maupun luar negeri

Dukungan pada pembiayaan, proses pembuatan visa, dan promosi

Dukungan terhadap fasilitas pendidikan non-formal


Mengadakan kebijakan mengenai sistem pendanaan untuk pembangunan infrastruktur


komunitas dan organisasi seni rupa

4.4.2 Arah Kebijakan Pengembangan Kualitas Dan Daya Saing Sumber


Daya Produksi Dalam Negeri Yang Berkelanjutan
Mengembangkan bahan baku dan bahan olahan lokal yang kompetitif dan berkualitas

Mengadakan penelitian dan pengembangan teknologi pengolahan bahan baku dalam negeri

Mengadakan pengembangan industri pengolahan material medium seni rupa dalam negeri

Mengembangkan teknologi dan tenaga ahli dalam negeri


Mengadakan penelitian dan pengembangan industri teknologi dalam negeri

Pengadaan kurikulum dan dukungan untuk pendidikan nonformal untuk mempelajari


teknis penggunaan teknologi multi media

4.4.3 Arah Kebijakan Peningkatan Kualitas Lingkungan Pengembangan


yang berkelanjutan
Mengembangkan alternatif pembiayaan yang sesuai, dapat diakses dengan mudah, dan kompetitif

108

Mengadakan kebijakan mengenai sistem pendanaan produksi dan program Lingkungan


Pengembangan Produksi

Menciptakan dan mengembangkan lembaga pembiayaan yang mendukung laju perkembangan


industri kreatifKebijakan mengenai sistem pembiayaan bagi proses produksi seni rupa

Menciptakan sistem yang meringankan proses simpan-pinjam di lembaga keuangan

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

Kebijakan terkaitan dukungan pada penyelenggaraan acara-acara seni rupa di dalam negeri untuk
pembentukan citra nasional seni rupa

Mengadakan sistem promosi yang terprogram

Mengadakan sistem pendanaan yang terprogram

Kebijakan mengenai dukungan terhadap pelaku seni sebagai duta budaya di luar negeri

Dukungan dari konsulat Indonesia di negara terkait, yang mendukung promosi dan
fasilitasi pelaku

Kebijakan terkait bea cukai


Pembebasan bea dan cukai untuk barang seni rupa Indonesia yang dikirim untuk
berpameran di luar negeri
Pembebasan bea dan cukai untuk barang seni rupa Indonesia yang dikirim kembali ke
dalam negeri dari berpameran di luar negeri

4.4.4 Pengembangan Fasilitas, Sistem Komunikasi dan Pemasaran Seni


Rupa Yang Memadai
Aktivasi penulisan seni rupa di media-media massa

Adanya kolom seni rupa dan jurnalis-jurnalis yang 'up to date' dengan perkembangan
seni rupa di setiap surat kabar dan majalah, baik cetak maupun online

Pembelajaran tentang pengetahuan umum seni rupa bagi penulis, ekonom, dan masyarakat umum.

Adanya pembelajaran tentang ekosistem dan perkembangan seni rupa di kurikulum


sekolah menengah ke atas atau di ranah edukasi lain

Meningkatkan kualitas branding, promosi, pameran, festival, misi dagang, networking di dalam
dan luar negeri-mengadakan program-program promosi yang aktif dan tepat sasaran

Mengadakan program-program promosi event-event seni rupa yang sudah ada secara
konsisten, seperti : Biennale, Festival, dan Art Fair, yang ditujukan pada penonton lokal
dan internasional, baik melalui billboard di ruang publik, media cetak, media TV, dll

Adanya buku panduan informasi kegiatan seni rupa

Adanya program pengarsipan, penulisan, dan sosialisasi tentang prestasi dan pencapaian
seni rupa untuk diberitakan pada masyarakat lokal dan internasional

Mengaktifkan ruang-ruang publik dan museum


Mengadakan program pameran, workshop, tur untuk publik secara aktif dan berkala
(minimum 2 bulan sekali di setiap museum

Aktivasi Taman Budaya


Revitalisasi gedung, manajemen, dan pengadaan program yang aktif untuk publik umum

Aktivasi Museum Seni Rupa


Revitalisasi gedung dan manajemen museum,

Aktivasi kegiatan koleksi karya seni rupa, pengadaan program pameran dan pendidikan
yang aktif untuk akses publik umum

Pengadaan program pameran dan pendidikan yang aktif untuk akses publik umum

BAB 4: Rencana Pengembangan Seni Rupa Indonesia

109

4.5 Strategi dan Rencana Aksi Pengembangan Seni Rupa


Strategi dan Rencana Aksi disini berisi anjuran fokus pengembangan untuk subsektor seni
rupa. Lampiran Rencana Aksi Jangka Menengah Seni Rupa di akhir buku cetak biru ini juga
menunjukkan kementerian/lembaga serta pemangku kepentingan terkait yang bertanggung jawab
untuk menjalankan rencana aksi ini.

4.5.1 Meningkatnya Kuantitas dan Kualitas Orang Kreatif dengan Pengetahuan


Produksi, Pengembangan Wacana, Manajerial, dan Pemasaran
1. Menerapkan pembelajaran tentang industri yang menyeluruh, baik melalui pendidikan
formal maupun nonformal. Pembelajaran tentang industri yang menyeluruh meliputi
pendidikan tentang: teknis produksi, penulisan dan kuratorial, penggunaan teknologi
multi media, pemahaman pemetaan industri, manajerial, teknik promosi, dan kemampuan
quality control yang mampu bersaing dengan kualitas internasional.
2. Penyebaran pendidikan seni di luar jawa dan bali. Sekolah dasar, menengah dan sekolah
tinggi, mencakup pendidikan teknis produksi, penulisan, dan manajerial.

4.5.2 Meningkatnya Pengadaan Bahan Baku dan Bahan Olahan yang Diproduksi
Dalam Negeri Dengan Harga dan Kualitas yang Bersaing
1. Pengembangan riset dan teknologi pengolahan bahan baku, misalnya pengolahan bahan
dasar keramik menjadi medium siap pakai.
2. Pengembangan industri penciptaan bahan-bahan medium utama karya seni, bahan-bahan
dua dimensi dan tiga dimensi, seperti alat-alat lukis, resin, keramik, dll.

4.5.3 Meningkatnya Kualitas dan Kuantitas Alat Teknologi yang Dibarengi


Dengan Meningkatnya Kemampuan SDM yang Mengolahnya
1. Pengembangan teknologi dalam negeri yang digunakan untuk medium produksi karya
seni, misalnya: pengembangan piranti lunak dan alat cetak.
2. Keringanan bea cukai untuk barang-barang teknologi pendukung produksi yang diimpor
dari dalam negeri, misalnya: printer, piranti lunak, kamera, komputer, dll.
3. Pengembangan infrastruktur teknologi pendukung, misalnya : internet yang cepat.

4.5.4 Terjadinya Sistem yang Mengatur Pendanaan yang Berkualitas dan


Berkelanjutan bagi Produksi dan Lingkungan Pengembangan
1. Anggaran pendanaan terprogram dari pemerintahan untuk riset, termasuk di dalamnya:
riset untuk proses produksi maupun riset untuk konservasi dan pengarsipan.
2. Anggaran pendanaan terprogram dari pemerintahan untuk acara seni yang mendorong
pengembangan, sosialisasi dan pembentukan citra nasional seni rupa, baik di mata lokal
maupun internasional. Event-event seperti: Jakarta Biennale, Jogja Biennal, OK Video
Festival, Art Jog, dan event-event lainnya yang sudah teruji konsistensinya, diperlukan
anggaran terprogram selama jangka waktu tertentu atau tak terbatas, untuk mendorong
keberlanjutannya.
3. Anggaran pendanaan terprogram untuk perngarsipan dan konversi data. Anggaran
yang terpogram untuk lembaga pengarsipan seni rupa yang sudah teruji konsistensi dan
kualitasnya dalam usaha konservasi maupun dukungan pada proses produksi.
4. Anggaran pendanaan terprogram untuk mendorong terjadinya kreativitas yang baru dan
beragam. Anggaran terprogram untuk mendukung program produksi yang menunjukkan
kebaruan ide dan keunikan kreativitas.
110

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

4.5.5 Adanya Kelengkapan Kebijakan Pemerintah yang Mendukung Proses


Produksi dan Distribusi Produk Seni
1. Kebijakan-kebijakan yang mengatur bea keluar dan masuk, kebijakan yang meringankan
proses keluar dan masuk karya seni Indonesia.
2. P
rogram pemasaran lokal dan internasional, hal ini bisa dilakukan dengan terlebih dahulu

melakukan pemetaan pasar dunia, dan menargetkan program pemasarannya ke daerahdaerah dan target market lokal dan internasional.

4.5.6 Meningkatnya Apresiasi Terhadap Seni Rupa yang Ditentukan oleh


Meningkatnya Penonton, Penulisan di Media Massa Baik di Forum Lokal
dan Internasional
1. Online Directory, dibuatnya online directory sebagai pusat informasi terpadu tentang berita
seni, informasi acara seni, dan pengetahuan umum, sebagai alat promosi yang lengkap.
2.

Program promosi yang konsisten dan reguler, diperlukan dukungan dari pemerintah,
media massa dan ahli komunikasi untuk proses sosialisasi seni.

4.5.7 Adanya Program Pemerintah yang Aktif dan Tepat Sasaran untuk
Pembentukan Pencitraan Nasional Seni Rupa.
Demi perluasan penonton dan pembentukan pencitraan nasional seni rupa sangatlah penting
untuk pemerintah, bersama pelaku kompeten, untuk merancang program yang meningkatkan
kualitas branding, promosi, pameran, festival, misi pemasaran, networking dan sosialisasi di
dalam dan luar negeri
1. Mengadakan program-program promosi event-event seni rupa yang sudah ada secara
konsisten, seperti : Biennale, Festival, dan Art Fair, yang ditujukan pada penonton lokal
dan internasional, baik melalui billboard di ruang publik, media cetak, media TV, dll.
2. Adanya buku panduan informasi kegiatan seni rupa.
3. A
danya program pengarsipan, penulisan, dan sosialisasi tentang prestasi dan pencapaian
seni rupa untuk diberitakan pada masyarakat lokal dan internasional.

4.5.8 Aktivasi Lembaga-lembaga Pemerintah dan Ruang Publik yang


Mendukung Terjadinya Sosialisasi Seni Rupa
1. Aktivasi koleksi dan program museum dan Galeri Nasional. Pembenahan pengarsipan
dan kuratorial koleksi museum-museum seni rupa pemerintah. Pembenahan program dan
kuratorial pameran di Galeri Nasional. Mengaktifkan pameran-pameran dan program
publik yang memberi informasi tentang sejarah dan perkembangan seni rupa kepada
publik umum.
2. Aktivasi taman budaya revitalisasi Taman Budaya yang sudah ada di seluruh penjuru
Indonesia baik bentuk fisik maupun secara manajerial, untuk meningkatkan kualitas
lingkungan yang kondusif untuk aktifitas publik dan pengembangan komunitas.

4.5.9 Meningkatnya Literasi Publik Terhadap Senirupa lewat Publikasi dan


Pengajaran Berkualitas
1. P
rogram pembelajaran penulisan seni rupa, mencakup penulis seni, kurator, dan jurnalis.
Program riset, penulisan, dan publikasi buku buku sejarah seni rupa, mencakup sejarah
dan perkembangan seni rupa Indonesia dari awal terbentuknya identitas budaya nasional
hingga era kontemporer.

BAB 4: Rencana Pengembangan Seni Rupa Indonesia

111

4.5.10 Peningkatan Aktivitas Koleksi Baik oleh Sektor Swasta Maupun


Pemerintahan
1. M
engaktifkan kegiatan koleksi secara berstruktur dan berkala. Diaktifkannya kegiatan
koleksi karya seni modern dan kontemporer, maupun karya seni rupa tradisional, dengan
kuratorial yang mencakup semua jenis karya sebagai referensi perkembangan seni rupa
Indonesia.
2. A
kses publik ke museum privat. Beberapa museum privat di Indonesia memiliki koleksi
yang cukup ekstensif, namun sayangnya akses publik untuk melihat karya-karya di
museum privat sangatlah terbatas, museum `dibuka untuk pengunjung umum di hanya
di saat-saat tertentu. Info tentang karya dan kurasi dari museum tersebut juga umumnya
sangat minim.

112

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

BAB 5
Penutup

5.1 Kesimpulan
Sebagai lingkungan seni rupa yang relatif cukup muda, apabila dibandingkan dengan negaranegara lain, seni rupa Indonesia sudah berhasil menunjukkan ciri khas dan posisi yang semakin
kuat dan menarik di mata lingkungan seni rupa dunia. Di dalam negeri, komunitas dan individu
pelaku seni rupa telah berhasil menciptakan infrastruktur organik yang bukan hanya menjadi
wadah untuk pembelajaran dan pengembangan inovasi seni rupa, tetapi juga membentuk jaringan
berarti yang mampu memposisikan seni rupa Indonesia di ranah internasional.
Seni rupa Indonesia memegang posisi yang sangat penting dalam seni rupa Asia Tenggara, baik
dalam sektor perkembangan wacana Asia Tenggara maupun dalam sektor pasar. Asia Tenggara
memiliki tiga biennale yang diakui oleh dunia, dua diantaranya berada di Indonesia, yaitu
Jakarta Biennale dan Bienal Jogja. OK Video Festival juga berkembang menjadi festival video
art internasional terbesar di Asia Tenggara. Sementara Art Jog yang diselenggarakan setiap
tahun di kota Yogyakarta telah memberikan bentuk art fair seni rupa yang unik dan menarik.
Semua event besar yang secara konsisten telah dilakukan selama lebih dari lima tahun itu adalah
inisiasi dan usaha murni dari komunitas dan pelaku individu seni rupa Indonesia. Komunitas
seni Indonesia juga berhasil membangun pengarsipan seni rupa yang ekstensif, terstruktur dan
tepat guna. Lembaga pengarsipan ini dibangun semata lewat inisiasi para individual dan dengan
pendanaan di kantong pelaku atau lembaga pendanaan dari luar negeri.
Dari sini bisa disimpulkan bahwa lingkungan seni rupa Indonesia mampu berkembang pesat
secara mandiri memiliki kualitas SDM yang penuh potensi, dan kualitas pengembangan wacana
yang cukup baik.
Namun kemandirian ini sebenarnya menunjukkan permasalahan, yaitu tidak adanya dukungan
yang berarti dari pemerintahan. Ketidakaktifan infrastruktur dari pemerintah menghalangi
pendekatan antara seni rupa dengan penonton umum. Minimnya struktur kurikulum seni rupa
di sekolah dasar dan menengah menciptakan masyarakat dengan pemahaman minim atau tidak
ada sama sekali ttg sejarah, perkembangan dan ekosistem seni rupa. Begitu juga hanya dengan
kepasifan infrastruktur seperti museum dan taman budaya. Hal ini menghalagi sosialisasi dan
perkembangan jumlah penonton seni rupa, serta menghalangi pengertian dan rasa kepemilikan
masyarakat terhadap seni-budayanya sendiri.
Dalam konteks ekonomi kreatif, penilaian seni rupa melalui penghitungan kontribusi ekonomi
juga menunjukkan pemahaman fungsi seni rupa yang kurang. Di luar terjadinya transaksi produk
(karya dan pengetahuan), seni rupa dan juga kegiatan kreatif lainnya memberikan nilai kultural
bagi masyarakat. Sistem penilaian bagi subsektor kreatif berbasis seni budaya harus dikaji ulang
dan dimasukkan pertimbangan nilai non-nominal yang dihasilkan bagi perkembangan budaya
bangsa.

5.2 Saran
Dukungan dan pembangunan Lingkungan Pengembangan adalah kebutuhan yang mendasar
untuk terjadinya keberlanjutan ekonomi kreatif yang kuat. Lingkungan Pengembangan yang terdiri
dari Komunitas/Ruang Alternatif, Lembaga Riset, dan Pendidikan Formal menjadi inkubator
dimana kreativitas, inovasi, skill dan karakter pelaku berkembang.

116

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

Secara detil arahan dan saran sudah dijelaskan di Bab 4. Di bawah ini adalah rangkuman
berdasarkan urutan kepentingannya yang disarankan oleh tim studi:
1. Lingkungan Pengembangan:
a. Pendanaan infrastruktur dan program Komunitas,
b. Pengadaan program-program riset dan pendanaanya,
c. Pendanaan infrastruktur lembaga pengarsipan yang sudah dibangun dengan baik
oleh pelaku.
d. Pembenahan kurikulum seni rupa di sekolah dasar, menengah, dan perguruan tinggi.
2. Sosialisasi dan Komunikasi:
a. Program promosi yang berkelanjutan dan terus dibenahi selama 5-25 tahun mendatang.
b. Pembangunan citra nasional seni rupa seperti yang sudah dijelaskan secara rinci di
Bab 4.
3. Pembangunan Infrastruktur:
a. Revitalisasi Galeri Nasional, museum, dan Taman Budaya
4. Pengembangan Sumber Daya Pendukung:
a. Program riset dan pengembangan industri material dan alat seni rupa
b. Pembenahan infratsruktur telekomunikasi.
5. Kelembagaan:
a. Pembenahan kebijakan bea-cukai.
b. Perombakan Klasifikasi Baku Lapangan Industri Seni Rupa 2009. KBLI berikutnya
disarankan untuk disusun berdasarkan informasi dari Cetak Biru ini dan diskusi fokus
dengan pelaku-pelaku lapangan yang benar-benar memiliki pengalaman ekstensif.
Dalam proses pelaksanaan saran-saran di atas, komunikasi intensif antara lembaga terkait seni
rupa dengan pelaku kompeten dari berbagai sektor seni rupa harus terus dilanjutkan dan dibina,
demi terjadinya perubahan yang tepat sasaran.

BAB 5: Penutup

117

LAMPIRAN

120

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

ARAH KEBIJAKAN

STRATEGI

1.1

Meningkatnya kualitas dan kuantitas Orang


Kreatif dengan pengetahuan menyeluruh
tentang wacana, produksi, manajerial dan
pemasaran

Memberikan akses ke variasi keahlian


di bidang seni rupa

Dukungan terhadap komunitas,


lembaga pengarsipan dan penelitian

Dukungan kepada program


pendidikan nonformal, yaitu program
magang, workshop dan residensi
bagi pelaku seni rupa Indonesia, baik
seniman, penulis, manajer, kurator,
dsb, pada program dalam maupun
luar negeri
Dukungan terhadap fasilitas
pendidikan nonformal

Memberikan akses pendidikan ke


jenjang lebih tinggi dan seluasluasnya

Mengadakan kebijakan mengenai sistem pendanaan


untuk pembangunan infrastruktur komunitas dan
organisasi seni rupa

Dukungan pada pembiayaan, proses pembuatan visa,


dan promosi

Mengadakan kebijakan dan program untuk mendukung


sistem dan pendanaan program lembaga-lembaga ini

7
8

Mengadakan kebijakan mengenai sistem pendanaan


untuk pembangunan infrastruktur lembaga-lembaga ini

Mengadakan fasilitas pendanaan untuk pendidikan nonformal

Memberikan fasilitas beasiswa

Revisi kurikulum di sekolah tinggi seni rupa, terutama


tambahan mengenai teknis pengolahan medium,
manajerial, penggunaan teknologi multi media, dan
kuratorial

Memberikan sistem dan pendanaan yang mendukung


pendidikan non-formal

Mendirikan pendidikan tinggi seni rupa lebih banyak lagi


di luar Jawa-Bali

1. Terciptanya sumber daya kreatif, berkualitas, dan berdaya saing di bidang produksi, manajemen, dan pemasaran

MISI 1: Mengoptimalkan pengembangan sumber daya manusia dan produksi

MISI/TUJUAN/SASARAN

MATRIKS TUJUAN, SASARAN, ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN SENI RUPA

Lampiran

121

ARAH KEBIJAKAN

STRATEGI

Meningkatnya kualitas dan kuantitas alat


teknologi yang dibarengi dengan meningkatnya
kemampuan SDM yang mengolahnya

2.2

Mengembangkan teknologi dan


tenaga ahli dalam negeri

Mengembangkan bahan baku dan


bahan olahan lokal yang kompetitif
dan berkualitas

Mengadakan penelitian dan pengembangan industri


teknologi dalam negeri
Pengadaan kurikulum untuk mempelajari teknis
penggunaan teknologi multi media

Mengadakan pengembangan industri pengolahan


material medium seni rupa dalam negeri

2
1

Mengadakan penelitian dan pengembangan teknologi


pengolahan bahan baku dalam negeri

Terjadinya sistem yang mengatur pendanaan


yang berkualitas dan berkelanjutan bagi
Produksi dan Lingkungan Pengembangan

Adanya kelengkapan kebijakan pemerintah


yang mendukung proses produksi dan
distribusi produk seni

3.1

3.2

Kebijakan mengenai sistem


pembiayaan bagi proses produksi
seni rupa
Kebijakan terkaitan dukungan pada
penyelenggaraan acara-acara
seni rupa di dalam negeri untuk
pembentukan citra nasional seni rupa
Kebijakan mengenai dukungan
terhadap pelaku seni sebagai duta
budaya di luar negeri

Mengembangkan alternatif
pembiayaan yang sesuai, dapat
diakses dengan mudah, dan kompetitif

Dukungan dari konsulat Indonesia di negara terkait, yang


mendukung promosi dan fasilitasi pelaku seni Indonesia.

Mengadakan sistem pendanaan yang terprogram

Mengadakan sistem promosi yang terporgram

Menciptakan sistem yang meringankan proses simpanpinjam di lembaga keuangan

Menciptakan dan mengembangkan lembaga pembiayaan


yang mendukung laju perkembangan industri kreatif

2
1

mengadakan kebijakan mengenai sistem pendanaan


produksi dan program Lingkungan Pengembangan
Produksi

3. Terciptanya lingkungan pengembangan yang berkelanjutan dengan fasilitas dan materi yang cukup untuk terjadinya pengembangan pengetahuan dan keahlian
para pelaku

Misi 2 : Mengembangkan lingkungan industri yang kondusif yang menitikberatkan pada peran lingkungan pengembangan yang aktif, kaya dan berkelanjutan demi
terciptanya perkembangan produksi yang berkualitas

Meningkatnya bahan baku dan bahan olahan


yang diproduksi di dalam negeri dengan
kualitas dan harga yang bersaing

2.1

2. Berkembangnya sumber daya produksi dalam negeri yang berkualitas, berdaya saing, dan berkelanjutan

MISI/TUJUAN/SASARAN

122

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

Kebijakan terkait bea cukai

ARAH KEBIJAKAN

Pembebasan bea dan cukai untuk barang seni rupa


Indonesia yang dikirim untuk berpameran di luar negeri
Pembebasan bea dan cukai untuk barang seni rupa
Indonesia yang dikirim kembali ke dalam negeri dari
berpameran di luar negeri

5
6

STRATEGI

Meningkatnya apresiasi terhadap seni rupa


yang ditentukan oleh jumlah penonton,
penulisan di media massa, baik di forum lokal
maupun internasional

Adanya program pemerintah yang aktif dan


tepat sasaran untuk pembentukan pencitraan
nasional seni rupa.

4.1

4.2

Meningkatkan kualitas branding,


promosi, pameran, festival, misi
pemasaran, networking dan
sosialisasi di dalam dan luar negeri

Pembelajaran tentang pengetahuan


umum seni rupa bagi penulis,
ekonom, dan masyarakat umum.

Aktivasi penulisan seni rupa di mediamedia massa

Mengadakan program-program promosi event-event


seni rupa yang sudah ada secara konsisten, seperti :
Biennale, Festival, dan Art Fair, yang ditujukan pada
penonton lokal dan internasional, baik melalui billboard
di ruang publik, media cetak, media TV, dll
Adanya buku panduan informasi kegiatan seni rupa
Adanya program pengarsipan, penulisan, dan sosialisasi
tentang prestasi dan pencapaian seni rupa untuk
diberitakan pada masyarakat lokal dan internasional

2
3

Adanya pembelajaran tentang ekosistem dan


perkembangan seni rupa di kurikulum sekolah
menengah ke atas atau di ranah edukasi lain

Adanya kolom seni rupa dan jurnalis-jurnalis yang up


to date dengan perkembangan seni rupa di setiap surat
kabar dan majalah, baik cetak maupun online

4. Terbentuknya fasilitas, sistem komunikasi dan pemasaran seni rupa yang memadai untuk perluasan konsumen di forum lokal dan internasional

Misi 3: Memaksimalkan komunikasi dan sosialisasi seni rupa

MISI/TUJUAN/SASARAN

Lampiran

123

Aktivasi lembaga-lembaga pemerintah dan


ruang publik yang mendukung terjadinya
sosialisasi seni rupa

Mengaktifkan ruang-ruang publik dan


museum
Aktivasi Taman Budaya
Revitalisasi Galeri Nasional

b
c

ARAH KEBIJAKAN

Meningkatnya literasi publik tentang seni rupa


lewat publikasi berkualitas.

Menargetkan terjadinya publikasi


berkualitas tentang sejarah,
profil, kajian karya, dan kajian
pengembangan seni rupa

6.1

Peningkatan aktivitas koleksi baik oleh sektor


swasta maupun pemerintahan

Aktivasi kegiatan koleksi secara


berstruktur dan berkala
Akses publik ke museum privat

Pengaturan akses publik untuk bisa mengunjungi


museum privat.

Melibatkan kurator-kurator dan manajer-manajer seni


dengan kualifikasi dan pengalaman yang baik untuk
menggiatkan aktivitas koleksi

Pendanaan inisiasi pelaku kreatif untuk riset, penulisan,


dan penerbitan materi literasi

Pengadaan program pameran dan pendidikan yang aktif


dan lebih terstruktur, bukan sekedar menerima tawaran
mengisi pameran dari pihak lain.

Inisiasi project riset, penulisan dan penerbitan materi


literasi (buku sejarah, dokumentasi, kajian karya, kajian
perkembangan seni rupa, profil seni rupa,dll)

Aktivasi kegiatan koleksi karya seni rupa

Revitalisasi gedung, manajemen, dan program kuratorial


Galeri Nasional

Revitalisasi gedung, manajemen, dan pengadaan


program yang aktif untuk publik umum

Mengadakan program pameran, workshop, tur untuk


publik secara aktif dan berkala (minimum 2 bulan sekali
di setiap museum

STRATEGI

6. Terciptanya perluasan konsumen di forum lokal dan internasional

5.1

5. Terjadinya perkembangan jumlah materi literasi berkualitas

4.3

MISI/TUJUAN/SASARAN

124

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

INDIKASI STRATEGIS

Meningkatnya kualitas dan kuantitas Orang Kreatif dengan


pengetahuan menyeluruh tentang wacana pengembangan,
produksi, manajerial dan pemasaran







Banyaknya pelaku kreatif seni rupa yang fasih dalam hal self-management dan selfpromotion
Terciptanya ahli-ahli di bidang manajerial dan pemasaran yang berdasar pada
kepentingaan pengembangan
Meningkatnya jumlah pelaku dengan kesadaran tinggi akan quality control produk
seninya sendiri
Meningkatnya kualitas dan penyebaran kurikulum seni di sekolah-sekolah baik
tingkat dasar, menengah, maupun di tingkat sekolah tinggi
Aktivasi komunitas seni dan pendidikan seni formal dan nonformal di luar Jawa dan
Bali
Meningkatnya jumlah pekerja seni (termasuk artisan dan teknisi) dengan
kemampuan menggunakan teknologi yang tersedia semaksimal mungkin
Adanya manajemen-manajemen seni yang profesional dan berkelanjutan dengan
pemahaman menyeluruh tentang ekosistem seni rupa
Adanya sistem beasiswa untuk pelajar seni rupa

a
b
c
d
e
f
g
h

2.1

Meningkatnya bahan baku dan bahan olahan yang diproduksi di


dalam negeri dengan kualitas dan harga yang bersaing

Meningkatnya jumlah produksi bahan-bahan untuk karya seni dua dimensi di dalam
negeri yang berkualitas dengan harga bersaing
Meningkatnya kualitas dan kuantitas bahan dasar tiga dimensi yang diolah di dalam
negeri, dengan harga yang stabil

a
b

2. Berkembangnya sumber daya produksi dalam negeri yang berkualitas, berdaya saing, dan berkelanjutan

1.1

1. Terciptanya sumber daya kreatif, berkualitas, dan berdaya saing di bidang produksi, manajemen, dan pemasaran

MISI 1: Mengoptimalkan pengembangan sumber daya manusia dan produksi

MISI/TUJUAN/SASARAN

MATRIKS INDIKASI STRATEGIS PENGEMBANGAN SENI RUPA

Lampiran

125

Meningkatnya kualitas dan kuantitas alat teknologi yang dibarengi


dengan meningkatnya kemampuan SDM yang mengolahnya

Berkembangnya kualitas teknologi pendukung


Adanya alat-alat teknologi yang canggih dan berkualitas sebagai alat produksi,
dengan harga bersaing

a
b

INDIKASI STRATEGIS

Adanya kelengkapan kebijakan pemerintah yang mendukung proses


produksi dan distribusi produk seni

3.2

Kebijakan pemerintah di bidang bea dan cukai

Tersebarnya ruang seni rupa di seluruh Indonesia

Kebijakan pemerintah yang mendukung pendanaan produksi seni rupa dengan


kriteria untuk kepentingan lingkungan pengembangan, misalnya: project riset,
project yang membangun citra nasional di mata internasional.

Tersebarnya pendidikan seni rupa ke seluruh Indonesia

Tersedianya dana dukungan pemerintah yang dikelola secara transparan akuntabel,


diperuntukkan bagi komunitas-komunitas seni rupa yang kredibel, lembagalembaga riset dan pengarsipan

4.1

Meningkatnya apresiasi seni rupa yang ditentukan oleh jumlah


penonton, jumlah pembeli, penulisan di media massa, baik di forum
lokal maupun internasional


Adanya dukungan pemerintah di bidang produksi dan promosi untuk acara-acara


seni rupa internasional produksi dalam negeri.
Adanya dukungan pemerintah di bidang produksi dan promosi untuk acara-acara
seni rupa yang mendorong inovasi kreatif dan pengembangan substansi
Adanya pusat informasi terpadu untuk penyebaran pengetahuan umum dan
sosialisasi event seni rupa.

a
b
c

4. Terbentuknyas fasilitas, sistem komunikasi dan pemasaran seni rupa yang memadai untuk perluasan konsumen di forum lokal dan internasional

MISI 3: Memaksimalkan komunikasi dan sosialisasi seni rupa

Terjadinya sistem yang mengatur pendanaan yang berkualitas dan


berkelanjutan bagi Produksi dan Lingkungan Pengembangan


3.1

3. Terciptanya lingkungan pengembangan yang berkelanjutan dengan fasilitas dan materi yang cukup untuk terjadinya pengembangan pengetahuan dan keahlian
para pelaku.

MISI 2: Mengembangkan lingkungan industri yang kondusif yang menitikberatkan pada peran lingkungan pengembangan yang aktif, kaya dan berkelanjutan demi
terciptanya perkembangan produksi yang bekualitas.

2.2

MISI/TUJUAN/SASARAN

126

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

Aktivasi lembaga-lembaga pemerintah dan ruang publik yang


mendukung terjadinya sosialisasi seni rupa

4.3

Aktivasi program-program di ruang publik, seperti Taman Budaya dan Museum


Meningkatnya aktivitas koleksi seni rupa Indonesia oleh museum pemerintah.
Meningkatnya kualitas dan kuantitas pameran koleksi museum pemerintah dan
museum privat.
Revitalisasi Manajemen dan Kuratorial Galeri Nasional

b
c
d

Adanya sistem pengumpulan data, penulisan, dan penyampaian ke publik lokal dan
internasional tentang pencapaian seni rupa Indonesia

b
a

Adanya program pemerintah yang berlanjut untuk mendukung acara-acara seni di


dalam negeri yang membangun citra seni rupa nasional di mata masyarakat lokal
dan internasional.

Meningkatnya literasi publik tentang seni rupa lewat publikasi


berkualitas.

Publikasi produk pengetahuan berupa buku


Meningkatnya jumlah penulis seni rupa di bidang riset dan pengembangan
Meningkatnya jumlah jurnalis yang berfokus pada penulisan tentang seni rupa di
media massa

a
b
c

6.1

Meningkatnya aktivitas koleksi baik oleh sektor swasta maupun


pemerintahan

Meningkatnya aktivitas koleksi seni rupa Indonesia oleh museum pemerintah.


Bertambahnya jumlah konsumen, penonton, dan pembeli produk-produk seni rupa
Adanya manajemen-manajemen seni yang profesional dan berkelanjutan dengan
pemahaman menyeluruh tentang ekosistem seni rupa

a
b
c

6. Terciptanya perluasan konsumen di forum lokal dan internasional

5.1

INDIKASI STRATEGIS
a

5. Terjadinya perkembangan jumlah materi literasi berkualitas

Adanya program pemerintah yang aktif dan tepat sasaran untuk


pembentukan pencitraan nasional senirupa.

4.2

MISI/TUJUAN/SASARAN

Lampiran

127

DESKRIPSI
RENCANA AKSI

FOKUS
WILAYAH

PENANGGUNG
JAWAB
2015

2016

2017

TAHUN
2018

Menerapkan
pembelajaran
tentang industri
yang menyeluruh,
baik melalui
pendidikan formal
maupun nonformal

Pembelajaran
tentang industri
yang menyeluruh
meliputi
pendidikan
tentang: teknnis
produksi,
penulisan dan
kuratorial,
penggunaan
teknologi
multimedia,
pemahaman
pemetaan
industri,
manajerial,
teknik promosi,
dan kemampuan
quality control
yang mampu
bersaing
dengan kualitas
internasional

Seluruh
Indonesia
dengan fokus
desentralisasi
dari JawaBali

Kementerian/
Lembaga
yang membidangi urusan
pendidikan;
sekolah tinggi
Seni Rupa,
komunitas

1) Dukungan
pada sektor
pendidikan
nonformal,
terutama di
bidang manajerial, kuratorial, penulisan,
pemetaan;
2) Aktivasi
program bea
siswa seni
rupa

Dukungan
pada sektor
pendidikan
nonformal,
terutama
di bidang
manajerial,
kuratorial,
penulisan,
pemetaan

Kurikulum
kuratorial
dan
penulisan
seni rupa
di semua
perguruan
tinggi seni
rupa

Dukungan
terhadap
pendidikan
nonformal yg
berkelanjutan
dan
kelengkapan
kurikulum di
perguruan
tinggi seni
rupa

SASARAN 1: Meningkatnya kuantitas dan kualitas orang kreatif dengan pengetahuan produksi, pengembangan wacana, manajerial, dan pemasaran.

SASARAN/RENCANA
AKSI

MATRIKS RENCANA AKSI PENGEMBANGAN SENI RUPA 2015-2019

Dukungan
terhadap
pendidikan
nonformal yg
berkelanjutan
dan
kelengkapan
kurikulum di
perguruan
tinggi seni
rupa

2019

128

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

Penyebaran
pendidikan seni di
luar Jawa dan Bali

Sekolah dasar,
menengah dan
sekolah tinggi,
mencakup
pendidikan
teknis produksi,
penulisan, dan
manajerial

DESKRIPSI
RENCANA AKSI
Seluruh
Indonesia
dengan fokus
desentralisasi
dari JawaBali

FOKUS
WILAYAH
Kementerian/
Lembaga
yang
membidangi
urusan
pendidikan

PENANGGUNG
JAWAB
1) Revitalisasi
kurikulum
seni rupa di
pendidikan
dasar dan
menengah;
2) Dukungan
pendanaan
infrastruktur
dan aktivasi
komunitas dan
pendidikan
nonformal di
luar Jawa-Bali

2015
Aktivasi
kurikulum
seni rupa di
sekolah dasar/
menengah
di seluruh
Indonesia, yg
mencakup
pendidikan
teknis, sejarah
dan perkembangan seni
rupa

2016
1) Pendirian
sekolah
tinggi seni
rupa dengan
penyebaran
menyeluruh
di Indonesia
Tengah; 2)
Dukungan
pendanaan
infrastruktur
dan aktivasi
komunitas
dan pendidikan
nonformal
di seluruh
Indonesia

2017

TAHUN

1) Pendirian
sekolah
tinggi seni
rupa dengan
penyebaran
menyeluruh
di Indonesia
Timur; 2)
Dukungan
pendanaan
infrastruktur
dan aktivasi
komunitas
dan
pendidikan
nonformal di
luar JawaBali

2018

Pengembangan
riset dan teknologi
pengolahan bahan
baku

Misalnya
pengolahan
bahan dasar
keramik menjadi
medium siap
pakai

Seluruh
Indonesia

Kementerian/
Lembaga
yang
membidangi
urusan riset
dan teknologi,
serta
perindustrian

Riset dan
pengembangan teknologi
pengolahan
bahan baku

Riset dan
pengembangan teknologi
pengolahan
bahan baku

Riset dan
pengembangan teknologi
pengolahan
bahan baku

Riset dan
pengembangan
teknologi
pengolahan
bahan baku

SASARAN 2: Meningkatnya pengadaan bahan baku dan bahan olahan yang diproduksi dalam negeri dengan harga dan kualitas yang bersaing

SASARAN/RENCANA
AKSI

Riset dan
pengembangan teknologi
pengolahan
bahan baku

1) Pendirian
sekolah
tinggi seni
rupa dengan
penyebaran
menyeluruh
di seluruh
Indonesia;
2) Dukungan
pendanaan
infrastruktur
dan aktivasi
komunitas
dan
pendidikan
nonformal
di seluruh
Indonesia

2019

Lampiran

129

Pengembangan
industri
penciptaan bahanbahan medium
utama karya seni

Bahan-bahan dua
dimensi dan tiga
dimensi, seperti
alat-alat lukis,
resin, keramik, dll

DESKRIPSI
RENCANA AKSI
Seluruh
Indonesia

FOKUS
WILAYAH
Kementerian/
Lembaga
yang
membidangi
urusan riset
dan teknologi,
serta
perindustrian

PENANGGUNG
JAWAB
Pengembangan industri
penciptaan
material dan
teknologi untuk
produksi karya
seni

2015
Pengembangan industri
penciptaan
material dan
teknologi
untuk produksi
karya seni

2016
Pengembangan industri
penciptaan
material dan
teknologi untuk produksi
karya seni

2017

TAHUN

Pengembangan
teknologi dalam
negeri yang
digunakan untuk
medium produksi
karya seni

Keringanan
bea cukai untuk
barang-barang
teknologi
pendukung
produksi yang
diimpor dari dalam
negeri

Misalnya
printer, piranti
lunak, kamera,
komputer, dll.

Misalnya
pengembangan
piranti lunak dan
alat cetak

Seluruh
Indonesia

Seluruh
Indonesia

Kementerian/
Lembaga
yang
membidangi
urusan riset
dan teknologi;
perindustrian,
dan keuangan

Kementerian/
Lembaga
yang
membidangi
urusan riset
dan teknologi,
serta
perindustrian
Pembenahan
regulasi
dan praktek
lapangan di
bidang bea dan
cukai

Riset dan
pengembangan teknologi
alat-alat
multimedia

Keringanan
bea dan cukai
bagi produk
alat-alat
multimedia
dan medium
produksi
kreatif lainnya

Riset dan
pengembangan teknologi
alat-alat multimedia

Keringanan
bea dan cukai
bagi produk
alat-alat
multimedia
dan medium
produksi
kreatif
lainnya

Pengembangan industri
dan sumber
daya manusia di bidang
alat-alat multimedia

2018
Pengembangan
industri
penciptaan
material dan
teknologi
untuk
produksi
karya seni

Keringanan
bea dan cukai
bagi produk
alat-alat
multimedia
dan medium
produksi
kreatif lainnya

Pengembangan
industri dan
sumber daya
manusia
di bidang
alat-alat
multimedia

SASARAN 3: Meningkatnya kualitas dan kuantitas alat teknologi yang dibarengi dengan meningkatnya kemampuan SDM yang mengolahnya

SASARAN/RENCANA
AKSI

Keringanan
bea dan cukai
bagi produk
alat-alat
multimedia
dan medium
produksi
kreatif
lainnya

Pengembangan industri
dan sumber
daya manusia di bidang
alat-alat
multimedia

Pengembangan industri
penciptaan
material dan
teknologi untuk produksi
karya seni

2019

130

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

Pengembangan
infrastruktur
teknologi
pendukung

Internet yang
cepat

DESKRIPSI
RENCANA AKSI
Seluruh
Indonesia

FOKUS
WILAYAH
Kementerian/
Lembaga
yang membidangi urusan
telekomunikasi

PENANGGUNG
JAWAB
Pembentukan
infrastruktur
telekomunikasi
yang berkualitas di seluruh
Indonesia

2015
Pembentukan
infrastruktur
telekomunikasi yang
berkualitas
di seluruh
Indonesia

2016
Pembentukan
infrastruktur
telekomunikasi yang
berkualitas
di seluruh
Indonesia

2017

TAHUN

Pembentukan
infrastruktur
telekomunikasi
yang
berkualitas
di seluruh
Indonesia

2018

Anggaran
pendanaan
terprogram dari
pemerintahan
untuk riset

Termasuk di
dalamnya: riset
untuk proses
produksi maupun
riset untuk
konservasi dan
pengarsipan

Seluruh
Indonesia

Kementerian/
Lembaga
yang
membidangi
urusan
ekonomi
kreatif, dan
kebudayaan

Dukungan
pendanaan
infrastruktur
dan pendanaan
program bagi
lembaga riset
seni rupa yang
sudah ada

Inisiasi
program
riset yang
berkualitas
untuk
kajian dan
pelestarian
sejarah seni
rupa Indonesia

1) Inisiasi
program
riset yang
berkualitas
untuk kajian
perkembangan seni rupa
Indonesia; 2)
Sosialisasi
hasil riset
yang sudah
ada

1) Inisiasi
program
riset yang
berkualitas
untuk kajian
perkembangan
seni rupa
Indonesia; 2)
Sosialisasi
hasil riset
yang sudah
ada

SASARAN 4: Terjadinya sistem yang mengatur pendanaan yang berkualitas dan berkelanjutan bagi produksi dan lingkungan pengembangan

SASARAN/RENCANA
AKSI

Sosialisasi
hasil riset ke
masyarakat
luas lewat
program
pendidikan
formal,
program
pameran,
workshop,
dan program
publik
lainnya

Pembentukan
infrastruktur
telekomunikasi yang
berkualitas
di seluruh
Indonesia

2019

Lampiran

131

Anggaran
pendanaan
terprogram dari
pemerintahan
untuk acara seni
yang mendorong
pengembangan
dan sosialisasi
seni rupa baik di
mata lokal maupun
internasional

Anggaran
pendanaan
terprogram untuk
pengarsipan

SASARAN/RENCANA
AKSI

Anggaran yang
terprogram
untuk lembaga
pengarsipan seni
rupa yang sudah
teruji konsistensi
dan kualitasnya
dalam usaha
konservasi
maupun
dukungan pada
proses produksi

Event-event
seperti: Biennale,
OK Video Festival,
Art Jog, dan
event-event
lainnya yang
sudah teruji
konsistensinya,
diperlukan
anggaran
terprogram
selama jangka
waktu tertentu
atau tak terbatas,
untuk mendorong
keberlanjutannya

DESKRIPSI
RENCANA AKSI

Seluruh
Indonesia

Seluruh
Indonesia

FOKUS
WILAYAH

Kementerian/
Lembaga
yang
membidangi
urusan
ekonomi
kreatif, dan
kebudayaan

Kementerian/
Lembaga
yang
membidangi
urusan
ekonomi
kreatif, dan
kebudayaan

PENANGGUNG
JAWAB

Dukungan
pendanaan
program
dan fasilitas
pembangunan
infrastruktur
bagi lembaga
pengarsipan
seni rupa yang
sudah ada dan
sudah teruji
konsistensi
serta kualitasnya

Dukungan
terprogram
untuk promosi,
pendanaan
program,
pengembangan, dan fasilitas infrastruktur (ruang
pamer, gedung,
museum,
ruang publik,
dsb) bagi acara
seni rupa yang
dimaksud

2015

1) Program
sosialisasi
pengarsipan
ke masyarakat
luas; 2) Dukungan untuk
pembentukan
arsip baru
yang menyimpan data-data
perkembangan seni rupa
yang kini

Dukungan
terprogram
untuk promosi,
pendanaan
program,
pengembangan, dan
fasilitas
infrastruktur
(ruang pamer,
gedung, museum, ruang
publik, dsb)
bagi acara
seni rupa yang
dimaksud

2016

Program sosialisasi pengarsipan ke


masyarakat
internasional

Dukungan
terprogram untuk
promosi,
pendanaan
program,
pengembangan, dan
fasilitas
infrastruktur
(ruang pamer, gedung,
museum,
ruang publik,
dsb) bagi
acara seni
rupa yang
dimaksud

2017

TAHUN

Melanjutkan
rencana aksi
tahun 20152017

Dukungan
terprogram
untuk promosi, pendanaan program,
pengembangan, dan
fasilitas
infrastruktur
(ruang pamer,
gedung,
museum,
ruang publik,
dsb) bagi
acara seni
rupa yang
dimaksud

2018

Melanjutkan
rencana aksi
tahun 20152017

Dukungan
terprogram untuk
promosi,
pendanaan
program,
pengembangan, dan
fasilitas
infrastruktur
(ruang pamer, gedung,
museum,
ruang publik,
dsb) bagi
acara seni
rupa yang
dimaksud

2019

132

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

Anggaran
pendanaan
terprogram
untuk mendorong
terjadinya
kreativitas yang
baru dan beragam

Anggaran
terprogram untuk
mendukung
program
produksi yang
menunjukkan
kebaruan ide
dan keunikan
kreativitas

DESKRIPSI
RENCANA AKSI
Seluruh
Indonesia

FOKUS
WILAYAH
Kementerian/
Lembaga
yang
membidangi
urusan
Ekonomi
Kreatif

PENANGGUNG
JAWAB
1) Program
dukungan
pendanaan
terhadap
produksi
karya kreatif;
2) Program
penghargaan
seni rupa

2015
1) Program
dukungan
pendanaan
terhadap
produksi
karya kreatif;
2) Program
penghargaan
seni rupa

2016
1) Program
dukungan
pendanaan
terhadap
produksi
karya kreatif;
2) Program
penghargaan
seni rupa

2017

TAHUN

1) Program
dukungan
pendanaan
terhadap
produksi
karya kreatif
2) Program
penghargaan
seni rupa

2018

Kebijakankebijakan yang
mengatur bea
keluar dan masuk

Kebijakan yang
meringankan
proses keluar dan
masuk karya seni
Indonesia.

Seluruh
Indonesia

Kementerian/
Lembaga
yang
membidangi
urusan
perdagangan
dan bea cukai

1) Ditiadakannya bea dan


cukai bagi
karya seni
rupa Indonesia
yang keluar dan masuk
dengan tujuan
untuk berpameran di forum
luar negeri; 2)
Pembenahan
regulasi dan
praktek lapangan di bidang
bea dan cukai

Kelanjutan
dari program
tahun
sebelumnya

Kelanjutan
dari program
tahun
sebelumnya

Kelanjutan
dari program
tahun
sebelumnya

SASARAN 5: Adanya kelengkapan kebijakan pemerintah yang mendukung proses produksi dan distribusi produk seni

SASARAN/RENCANA
AKSI

Kelanjutan
dari program
tahun
sebelumnya

1) Program
dukungan
pendanaan
terhadap
produksi
karya kreatif;
2) Program
penghargaan
seni rupa

2019

Lampiran

133

Program pemasaran lokal dan internasional

Penyebaran
informasi di
billboard dan
media massa
dalam negeri
serta aktivasi
individu-individu
ahli pemasaran
untuk bergerak di
bidang seni rupa.

DESKRIPSI
RENCANA AKSI
Seluruh
Indonesia
dan luar
negeri

FOKUS
WILAYAH
Kementerian/
Lembaga
yang
membidangi
urusan
ekonomi
kreatif,
pendidikan
dan
kebudayan;
serta
kedutaankedutaan
Indonesia di
luar negeri

PENANGGUNG
JAWAB
Melakukan
pemetaan
pasar
seni rupa
global, dan
menentukan
target program
pemasaran
lokal dan
internasional.

2015
Mengaktifkan
program
pemasaran di
titik-titik target
pemasaran
seni rupa

2016
Kelanjutan/
pengulangan
dari program
tahun
sebelumnya

2017

TAHUN

Kelanjutan/
pengulangan
dari program
tahun
sebelumnya

2018

Online Directory

Dibuatnya
online directory
sebagai pusat
informasi terpadu
tentang berita
seni, informasi
acara seni, dan
pengetahuan
umum, sebagai
alat promosi yang
lengkap.
Online

Kementerian/
Lembaga
yang
membidangi
urusan
ekonomi
kreatif

Pembentukan
pusat
informasi seni
dan budaya
yang terpadu
melalui situs
online, yaitu
informasi
tentang
acara seni,
pendidikan
seni, profil
pelaku, kajian
karya, kajian
pengembangan,
untuk publik
umum

Melanjutkan
aktivitas situs
online directory
dengan
menyajikan
informasiinformasi
untuk
pemasaran
maupun
pendidikan

Melanjutkan
aktivitas
situs online
directory
dengan
menyajikan
informasiinformasi
untuk
pemasaran
maupun
pendidikan

Melanjutkan
aktivitas
situs online
directory
dengan
menyajikan
informasiinformasi
untuk
pemasaran
maupun
pendidikan

2019
Kelanjutan/
pengulangan
dari program
tahun
sebelumnya

Melanjutkan
aktivitas
situs online
directory
dengan
menyajikan
informasiinformasi
untuk
pemasaran
maupun
pendidikan

SASARAN 6: Meningkatnya apresiasi terhadap seni rupa yang ditentukan oleh meningkatnya penonton, penulisan di media massa baik di forum lokal dan
internasional

SASARAN/RENCANA
AKSI

134

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

Program promosi
yang konsisten dan
reguler

SASARAN/RENCANA
AKSI

Diperlukan
dukungan dari
pemerintah,
media massa dan
ahli komunikasi
untuk proses
sosialisasi seni

DESKRIPSI
RENCANA AKSI
Seluruh
Indonesia

FOKUS
WILAYAH
Kementerian/
Lembaga
yang
membidangi
urusan
ekonomi
kreatif dan
pendidikan,
bekerja
sama dengan
media
massa, ahli
komunikasi
dan pelaku
seni rupa

PENANGGUNG
JAWAB
Perancangan
program
promosi dan
menentukan
mediummedium
promosi yang
tepat baik di
forum lokal
maupun
internasional.
Menggunakan
peran
kedutaan
Indonesia
untuk
mengenalkan
seni rupa
Indonesia di
luar negeri.
Menjalin
hubungan
dengan media
massa dan
organisasi
budaya
negara-negara
lain

2015
Eksekusi dari
program yang
dirancang di
dalam dan luar
negeri

2016
Kelanjutan
dari program
tahun
sebelumnya

2017

TAHUN

Kelanjutan
dari program
tahun
sebelumnya

2018

Kelanjutan
dari program
tahun
sebelumnya

2019

Lampiran

135

DESKRIPSI
RENCANA AKSI

FOKUS
WILAYAH

PENANGGUNG
JAWAB
2015

2016

2017

TAHUN
2018

Koordinasi
publikasi dan
promosi tentang
seni rupa
Indonesia

Publikasi tentang
prestasi seni rupa
Indonesia

Pengakuan dari
pemerintah yang
disertai penulisan
di media
massa tentang
keterlibatan dan
prestasi pelaku
seni Indonesia
di forum-forum
Internasional.

Mencakup:
publikasi dan
promosi produk,
pelaku seni,
dan event seni
produksi dalam
negeri

Seluruh
Indonesia
dan
internasional

Seluruh
Indonesia
dan
internasional

Media massa,
Kementerian/
Lembaga
yang
membidangi
urusan
kebudayaan,
ekonomi
kreatif;
penulis seni
rupa, dan
lembaga
arsip

Kementerian/
Lembaga
yang
membidangi
urusan
pariwisata,
ekonomi
kreatif, dan
kebudayaan

Aktivasi
penulisan
laporan
kegiatan dan
prestasi seni
rupa Indonesia
di forum
lokal maupun
Internasional

1) Pelatihan
penulis seni
rupa, baik
di bidang
kajian, kritik,
maupun review
jurnalisme;
2) Pelatihan
manajerial
promosi yang
aktif dan
agresif secara
terencana
Program
penghargaan
bagi prestasiprestasi seni
rupa

1)
Diaktifkannya
penulisan
tentang seni
rupa di setiap
media massa;
2) Penerapan
manajerial
promosi

Kelanjutan/
pengulangan
dari program
tahun
sebelumnya

Kelanjutan
dari program
tahun
sebelumnya

Kelanjutan/
pengulangan
dari program
tahun
sebelumnya

Kelanjutan
dari program
tahun
sebelumnya

SASARAN 7: Adanya program pemerintah yang aktif dan tepat sasaran untuk pembentukan pencitraan nasional seni rupa.

SASARAN/RENCANA
AKSI

Kelanjutan/
pengulangan
dari program
tahun
sebelumnya

Kelanjutan
dari program
tahun
sebelumnya

2019

136

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

Publikasi online
seni rupa

Publikasi online
seni rupa
tentang prestasi,
penghargaan,
keikutsertaan
pelaku seni dan
event-event seni
rupa Indonesia

DESKRIPSI
RENCANA AKSI
Online

FOKUS
WILAYAH
Media massa,
Kementerian/
Lembaga
yang
membidangi
urusan
kebudayaan,
ekonomi
kreatif;
penulis seni
rupa, dan
lembaga
arsip

PENANGGUNG
JAWAB
Merancang dan
mendirikan
pusat publikasi
online seni
rupa serta
merancang
penetrasi
informasi
ke media
publikasi online
yang sudah
ada

2015
Diaktifkannya
program
pengarsipan,
penulisan, dan
sosialisasi
tentang
prestasi dan
pencapaian
seni rupa
untuk
diberitakan
pada
masyarakat
lokal dan
internasional

2016
Kelanjutan/
pengulangan
dari program
tahun
sebelumnya

2017

TAHUN

Kelanjutan/
pengulangan
dari program
tahun
sebelumnya

2018

Aktivasi koleksi
dan program
museum dan
Galeri Nasional

Pembenahan
pengarsipan
dan kuratorial
koleksi museummuseum seni
rupa pemerintah.
Pembenahan
program dan
kuratorial
pameran di
Galeri Nasional.
Mengaktifkan
pameranpameran dan
program publik
yang memberi

Seluruh
Indonesia

Kementerian/
Lembaga
yang
membidangi
urusan
kebudayaan

Revitalisasi
museum, baik
bentuk fisik
maupun secara
manajerial,
untuk
meningkatkan
kualitas
lingkungan
yang kondusif
untuk aktivitas
konservasi
dan pendidikan
publik

1) Aktivasi
kegiatan
koleksi karya
seni rupa di
museummuseum;
2) Aktivasi
program
publik di
museum

Mendirikan
Museum
Kontemporer
Seni Rupa
Indonesia

1) Aktivasi
kegiatan
koleksi karya
seni rupa di
museummuseum;
2) Aktivasi
program
publik di
museum,baik
pameran
maupun
workshop.

SASARAN 8: Aktivasi lembaga-lembaga pemerintah dan ruang publik yang mendukung terjadinya sosialisasi seni rupa

SASARAN/RENCANA
AKSI

Sosialisasi
dan promosi
karya
seni rupa
Indonesia
melalui
programprogram
museum
yang
membentuk
citra nasional

Kelanjutan/
pengulangan
dari program
tahun
sebelumnya

2019

Lampiran

137

Aktivasi Taman
Budaya

SASARAN/RENCANA
AKSI

Aktivasi
taman budaya
revitalisasi
Taman Budaya
yang sudah ada di
seluruh penjuru
Indonesia baik
bentuk fisik
maupun secara
manajerial, untuk
meningkatkan
kualitas
lingkungan
yang kondusif
untuk aktifitas
publik dan
pengembangan
komunitas

informasi tentang
sejarah dan
perkembangan
seni rupa kepada
publik umum

DESKRIPSI
RENCANA AKSI

Seluruh
Indonesia

FOKUS
WILAYAH

Kementerian/
Lembaga
yang
membidangi
urusan
kebudayaan

PENANGGUNG
JAWAB

Revitalisasi
Taman Budaya
yang sudah
ada di seluruh
penjuru
Indonesia baik
bentuk fisik
maupun secara
manajerial,
untuk meningkatkan kualitas
lingkungan
yang kondusif
untuk aktivitas
publik dan
pengembangan
komunitas

2015

Aktivasi program-program
publik dan
pengayoman
komunitas

2016

Aktivasi
programprogram
publik dan
pengayoman
komunitas

2017

TAHUN

Aktivasi
programprogram
publik dan
pengayoman
komunitas

2018

Aktivasi
programprogram
publik dan
pengayoman
komunitas

2019

138

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

DESKRIPSI
RENCANA AKSI

FOKUS
WILAYAH

PENANGGUNG
JAWAB
2015

2016

Program
pembelajaran
penulisan seni
rupa

Mencakup penulis
seni, kurator, dan
jurnalis

Seluruh
Indonesia

Kementerian/
Lembaga
yang
membidangi
urusan
pendidikan;
Komunitas,
Media Massa

1) Dukungan
pada pendidikan nonformal
di bidang
penulisan dan
kuratorial; 2)
Adanya kolom
seni rupa di
setiap media
massa utama,
baik media
cetak maupun
online

1) Adanya
pendidikan
kuratorial
dan penulisan
seni rupa di
kurikulum
setiap
perguruan
tinggi seni
rupa; 2)
Adanya
pendidikan
kajian seni
rupa dan
budaya di
fakultas ilmu
komunikasi
dan jurnalisme

SASARAN 9: Meningkatnya literasi publik terhadap seni rupa lewat publikasi dan pengajaran berkualitas

SASARAN/RENCANA
AKSI

1) Diaadakanya kolom seni


rupa di setiap
media massa
utama, baik
media cetak
maupun
online

2017

TAHUN

Kelanjutan/
pengulangan
dari program
tahun
sebelumnya

2018

Kelanjutan/
pengulangan
dari program
tahun
sebelumnya

2019

Lampiran

139

Program riset,
penulisan, dan
publikasi buku
buku sejarah seni
rupa

SASARAN/RENCANA
AKSI

Mencakup
sejarah dan
perkembangan
seni rupa
Indonesia
dari awal
terbentuknya
identitas budaya
nasional hingga
era kontemporer

DESKRIPSI
RENCANA AKSI
Seluruh
Indonesia

FOKUS
WILAYAH
Kementerian/
Lembaga
yang
membidangi
urusan
pendidikan
dan
kebudayaan;
Komunitas,
Media Massa

PENANGGUNG
JAWAB
Inisiasi dan
pendanaan
program
penulisan dan
publikasi bukubuku seni rupa.
Buku sejarah,
buku kajian
pengembangan,
buku kajian
karya, dan
buku tentang
profil seni rupa
Indonesia

2015
1) Penerbitan
dan
pemasaran
buku-buku
seni rupa. 2)
Mencanangkan
program wajib
baca buku
seni rupa
di sekolahsekolah,
minimum dua
buku di setiap
angkatan
sekolah
menengah
atas dan
perguruan
tinggi

2016
1) Sosialisasi
buku,
pengarsipan
dan
perpustakaan
seni rupa
Indonesia

2017

TAHUN

Melanjutkan
program
rencana aksi
dari tahun
2015-2017

2018

Melanjutkan
program
rencana aksi
dari tahun
2015-2017

2019

140

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Rupa Nasional 2015-2019

DESKRIPSI
RENCANA AKSI

FOKUS
WILAYAH

PENANGGUNG
JAWAB
2015

Aktivasi koleksi
museum
pemerintah

Aktivasi kegiatan
koleksi karya
seni modern dan
kontemporer,
maupun karya
seni rupa
tradisional,
dengan kuratorial
yang mencakup
semua jenis karya
sebagai referensi
perkembangan
seni rupa
Indonesia

Seluruh
Indonesia

Kementerian/
Lembaga
yang
membidangi
urusan
kebudayaan

Revitasisasi
manajemen.
Pendataan
ulang koleksi
museummuseum seni
rupa Indonesia.
Melibatkan
kuratorkurator yang
berpengalaman
untuk
mengaktifkan
proses
mengkoleksi
karya
seni rupa
modern dan
kontemporer

Sasaran 10: Peningkatan aktivitas koleksi baik oleh sektor swasta maupun pemerintahan

SASARAN/RENCANA
AKSI

Membangun/
menambah
koleksi
seni rupa
modern dan
kontemporer,
baik produk
karya seni
maupun
produk
pengetahuan

2016

Memamerkan
koleksi dan
mengadakan
programprogram
publik secara
terus-menerus

2017

TAHUN

Membenahi
program
publik,
aktivitas
koleksi, dan
pengarsipan.

2018

Kelanjutan/
pengulangan
dari program
tahun
sebelumnya

2019

Lampiran

141

Akses publik untuk


museum privat

SASARAN/RENCANA
AKSI

Memperluas
akses ke
museummuseum ini,
baik dari segi
memanjangkan
jam buka untuk
umum, mengatur
biaya masuk
yang terjangkau,
maupun
menyampaikan
informasi ke
publik mengenai
keberadaan
museummuseum ini.

DESKRIPSI
RENCANA AKSI
Seluruh
Indonesia

FOKUS
WILAYAH
Pemilik Museum Privat,
Kementerian/
Lembaga
yang membidangi urusan
pariwisata

PENANGGUNG
JAWAB
Membuka
museum untuk
publik umum di
jadwal-jadwal
tertentu.
Membangun
informasi
publik tentang
koleksi di
museum
privat.

2015
Kelanjutan/
pengulangan
dari program
tahun
sebelumnya

2016
Kelanjutan/
pengulangan
dari program
tahun
sebelumnya

2017

TAHUN

Kelanjutan/
pengulangan
dari program
tahun
sebelumnya

2018

Kelanjutan/
pengulangan
dari program
tahun
sebelumnya

2019

348

Ekonomi Kreatif: Rencana Aksi Jangka Menengah 2015-2019