Anda di halaman 1dari 114

RENCANA

PENGEMBANGAN

VIDEO

NA SIONAL

2015-2019

RENCANA PENGEMBANGAN VIDEO


NASIONAL 2015-2019

:

Achmad Ghazali
Muhammad Ilham Fauzi

PT. REPUBLIK SOLUSI

iv

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

a
RENCANA PENGEMBANGAN VIDEO
NASIONAL 2015-2019

Tim Studi dan Kementerian Pariwisata Ekonomi Kreatif:


Penasihat
Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI
Sapta Nirwandar, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI
Pengarah
Ukus Kuswara, Sekretaris Jenderal Kemenparekraf
Harry Waluyo, Direktur Jenderal Ekonomi Kreatif berbasis Media, Desain dan IPTEK
Cokorda Istri Dewi, Staf Khusus Bidang Program dan Perencanaan
Penanggung Jawab
Poppy Savitri, Setditjen Ekonomi Kreatif berbasis Media, Desain, dan IPTEK
M. Iqbal Alamsjah, Direktur Pengembangan Kreatif Berbasis Media
M. Juffry, Kasubdit Pengembangan Karya Kreatif Audio dan Video
Tim Studi
Achmad Ghazali
Muhammad Ilham Fauzi
ISBN
978-602-72387-6-3
Tim Desain Buku
RURU Corps (www.rurucorps.com)
Farly Putra Pratama
Sari Kusmaranti Subagiyo
Penerbit
PT. Republik Solusi
Cetakan Pertama, Maret 2015
Hak cipta dilindungi undang-undang
Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara
apapun tanpa ijin tertulis dari penerbit

Terima Kasih kepada Narasumber dan Peserta Focus Group Discussion (FGD):
Diki Umbara
Benny Kadarhariarto
Krisna Murti
Dennis Adishwara
Sony Budi Sasono
Yusuf Ismail
Deny Setyawan
Mahatma Putra
Moch.Susanto
Anto Motulz
Sakti Marendra
Upie Guava
Muhammad Firdaus
Dedih Nur Fajar Paksi
Eric Wiradipoetra
German Mintapradja
Abie Besman
Romi Ramdani
Ika Ahyani Kurniawati
Nuraziz Widayanto
Hafiz Rancajale

vi

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

Kata Pengantar
Ekonomi kreatif memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu sektor penggerak yang penting
untuk mewujudkan Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur. Ekonomi kreatif adalah
ekonomi yang digerakan oleh sumber daya terbarukan dan tersedia secara berlimpah di Indonesia,
di mana kita memiliki sumber daya manusia kreatif dalam jumlah besar, sumber daya alam
terbarukan yang berlimpah dan sumber warisan budaya yang unik dan beragam. Kita, secara
bersama-sama telah meletakan dasar pengembangan ekonomi kreatif yang akan membawa
bangsa menuju pembangunan ekonomi yang berkualitas. Kesinambungan upaya pengembangan
ekonomi kreatif diperlukan untuk memperkuat ekonomi kreatif sebagai sumber daya saing baru
bagi Indonesia dan masyarakat yang berkualitas hidup lebih baik.
Bagi Indonesia, ekonomi kreatif tidak hanya memberikan kontribusi ekonomi, tetapi juga
memajukan aspek-aspek non-ekonomi berbangsa dan bernegara. Melalui ekonomi kreatif, kita
dapat memajukan citra dan identitas bangsa, mengembangkan sumber daya yang terbarukan dan
mempercepat pertumbuhan inovasi dan kreativitas di dalam negeri. Di samping itu ekonomi
kreatif juga telah memberikan dampak sosial yang positif, termasuk peningkatan kualitas hidup,
pemerataan kesejahteraan, dan peningkatan toleransi sosial.
Video, bersama fotografi dan film sebagai salah satu dari 15 subsektor di dalam industri kreatif.
Merupakan sebuah aktivitas kreatif, berupa eksplorasi dan inovasi dalam cara merekam (capture)
atau membuat gambar bergerak. Saat ini masih ada masalah-masalah yang menghambat
pertumbuhan industri video di Indonesia, termasuk di dalamnya jumlah dan kualitas orang
kreatif yang masih belum optimal, ketersediaan sumber daya alam yang belum teridentifikasi
dengan baik, keseimbangan perlindungan dan pemanfaatan sumber daya budaya, minimnya
ketersediaan pembiayaan bagi orang-orang kreatif yang masih kurang memadai, pemanfaatan
pasar yang belum optimal, ketersediaan infrastruktur dan teknologi yang sesuai dan kompetitif,
serta kelembagaan dan iklim usaha yang belum sempurna.
Dalam upaya melakukan pengembangan industri video di Indonesia, diperlukan pemetaan
terhadap ekosistem video yang terdiri dari rantai nilai kreatif, pasar, nurturance environment,
dan pengarsipan. Aktor yang harus terlibat dalam ekosistem ini tidak terbatas pada model triple
helix yaitu intelektual, pemerintah, dan bisnis, tetapi harus lebih luas dan melibatkan komunitas
kreatif dan masyarakat konsumen karya kreatif. Kita memerlukan quad helix model kolaborasi
dan jaringan yang mengaitkan intelektual, pemerintah, bisnis, dan komunitas. Keberhasilan
ekonomi kreatif di lokasi lain ternyata sangat tergantung kepada pendekatan pengembangan yang
menyeluruh dan berkolaborasi dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan.
Buku ini merupakan penyempurnaan dari Cetak Biru Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia
2025 yang diterbitkan pada tahun 2009. Dalam melakukan penyempurnaan dan pembaruan data,
informasi, telah dilakukan sejumlah Focus Discussion Group (FGD) dengan semua pemangku
kepentingan baik Pemerintah, Pemerintah Daerah, intelektual, media, bisnis, orang kreatif,
dan komunitas video secara intensif. Hasilnya adalah buku ini, yang menjabarkan secara rinci

vii

pemahaman mengenai industri video dan strategi-strategi yang perlu diambil dalam percepatan
pengembangan industri video lima tahun mendatang. Dengan demikian, masalah-masalah yang
masih menghambat pengembangan industri video selama ini dapat diatasi sehingga dalam kurun
waktu lima tahun mendatang, industri video dapat menjadi industri yang berbudaya, berdaya
saing, kreatif, dan dinamis secara berkelanjutan sebagai landasan yang kuat untuk pengembangan
Ekonomi Kreatif Indonesia.
Salam Kreatif,

Mari Elka Pangestu


Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

viii

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

Daftar Isi
Kata Pengantar

vii

Daftar Isi

ix

Daftar Gambar

xi

Daftar Tabel

xii

Ringkasan Eksekutif

xiii

BAB 1 PERKEMBANGAN VIDEO DI INDONESIA

1.1 Definisi Dan Ruang Lingkup Video di Indonesia

1.1.1 Definisi Video

1.1.2 Ruang Lingkup Pengembangan Video

1.2 Sejarah dan Perkembangan Video

13

1.2.1 Sejarah dan Perkembangan Video Dunia

13

1.2.2 Sejarah dan Perkembangan Video Indonesia

15

BAB 2 EKOSISTEM DAN RUANG LINGKUP INDUSTRI VIDEO INDONESIA

21

2.1 Ekosistem Subsektor Video

22

2.1.1 Definisi Ekosistem Video

22

2.1.2 Peta Ekosistem Pengembangan Video

23

2.2 Peta dan Ruang lingkup Industri Video

33

2.2.1 Peta Industri Video

33

2.2.2 Ruang Lingkup Industri Video

35

2.2.3 Model Bisnis di Industri Video

37

BAB 3 KONDISI UMUM VIDEO DI INDONESIA

41

3.1 Kontribusi Ekonomi Video

42

3.1.1 Berbasis Produk Domestik Bruto (PDB)

44

3.1.2 Berbasis Ketenagakerjaan

45

3.1.3 Berbasis Aktivitas Perusahaan

46

3.1.4 Berbasis Konsumsi Rumah Tangga

47

3.1.5 Berbasis Nilai Ekspor

48

3.2 Kebijakan Pengembangan Video

49

ix

3.3 Struktur Pasar Video

50

3.4 Daya Saing Video

51

3.5 Potensi dan Permasalahan Pengembangan Video

52

BAB 4 RENCANA PENGEMBANGAN VIDEO INDONESIA

59

4.1 Arahan Strategis Pengembangan Ekonomi Kreatif 20152019

60

4.2 Visi, Misi, dan Tujuan Pengembangan Video

61

4.2.1 Visi Pengembangan Video

62

4.2.2 Misi Pengembangan Video

63

4.2.3 Tujuan Pengembangan Video

63

4.3 Sasaran dan Indikasi Strategis Pengembangan Video

64

4.4 Arah Kebijakan Pengembangan Video

66

4.5 Strategi dan Rencana Aksi Pengembangan Video

69

BAB 5 PENUTUP

75

5.1 Kesimpulan 

76

5.2 Saran 

77

LAMPIRAN

79

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

Daftar Gambar
Gambar 1-1 Irisan Video dengan bidang lainnya.................................................................. 8
Gambar 1-2 Ruang Lingkup dan Fokus Pengembangan Subsektor Video............................. 12
Gambar 1-3 Sejarah Perkembangan Video.............................................................................18
Gambar 2-1 Peta Ekosistem Industri Kreatif........................................................................ 22
Gambar 2-2 Peta Ekosistem Subsektor Video.........................................................................24
Gambar 2-3 Peta Industri Subsektor Video............................................................................34
Gambar 2-4 Klasifikasi Berdasarkan Model Bisnis Video.......................................................37
Gambar 2-5 Kilasifikasi Berdasarkan Sistem Kompensasi.......................................................37
Gambar 3-1 Diagram Nilai Tambah Bruto (NTB) Ekonomi Kreatif Indonesia Subsektor
Film, Video, dan Fotografi......................................................................................................44
Gambar 3-2 Diagram Ketenagakerjaan Ekonomi Kreatif Indonesia Subsektor Film, Video,
dan Fotografi..........................................................................................................................45
Gambar 3-3 Diagram Aktivitas Perusahaan Ekonomi Kreatif Indonesia Subsektor Film,
Video, dan Fotografi...............................................................................................................46
Gambar 3-4 Diagram Konsumsi Rumah Tangga Ekonomi Kreatif Indonesia Subsektor
Film, Video, dan Fotografi......................................................................................................47
Gambar 3-5 Neraca Perdagangan Ekspor Impor Ekonomi Kreatif Indonesia Subsektor
Film, Video, dan Fotografi..................................................................................................... 48
Gambar 3-6 Matrix Daya Saing Subsektor Video.................................................................. 51
Gambar 4-1 Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran Pengembangan Video 20152019.................... 61

xi

Daftar Tabel
Tabel 1-1 Ragam Dasar Karya Video..................................................................................... 10
Tabel 2-1 Institusi Model Bisnis Video.................................................................................. 38
Tabel 3-1 Kontribusi Ekonomi Film, Video, dan Fotografi.................................................... 42
Tabel 3-2 Potensi dan Permasalahan Pengembangan Video....................................................52

xii

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

Ringkasan Eksekutif
Video merupakan bentuk pengembangan teknologi alat rekam gambar dari fotografi dan film.
Maka dari itu, dalam rencana pengembangan ekonomi kreatif Indonesia, video, film, dan fotografi
tergabung dalam satu kesatuan subsektor dari 15 subsektor ekonomi kreatif yang ada di Indonesia.
Kemajuan teknologi dan turunannya berpengaruh terhadap perkembangan subsektor video,
film, dan fotografi. Begitu juga dengan teknologi video yang awalnya menggunakan konsep
analog kemudian berubah menjadi konsep digital. Hal ini turut mengubah pemahaman akan
video itu sendiri. Lebih jauh lagi, apabila dahulu video hanya dipahami sebagai media alat
rekam, video saat ini sudah meluas maknanya karena fungsinya yang memiliki dampak lebih
terhadap ekonomi, sosial, dan budaya. Berdasarkan hal tersebut, diperlukan pemahaman secara
komprehensif mengenai definisi dan ruang lingkup subsektor video agar kontribusinya dapat
lebih fokus dan menghasilkan manfaat yang signifikan terhadap pembangunan industri dan
ekonomi kreatif nasional.
Berdasarkan pemahaman di atas, diperlukan sebuah kesepakatan definisi dari subsektor video
yang teraktualisasi dengan konsep ekonomi kreatif. Hal tersebut juga sebagai respon terhadap
perkembangan teknologi dan sifat media saat ini, yang erat kaitannya dengan perkembangan
industri video. Oleh karena itu kelak kemudian akan melahirkan ruang lingkup dari subsektor
video di Indonesia yang dijadikan fokus dalam pengembangan ekonomi kreatif ke depan.
Sehingga diperlukan bingkai pemahaman yang menyeluruh dan mendalam mengenai industri
kreatif, khususnya subsektor video. Caranya yaitu melakukan pemetaan terhadap kondisi ideal,
yaitu suatu kondisi yang diharapkan terjadi dan merupakan best practices dari negara-negara lain
maupun hasil perenungan dari para ahli atau pelaku, sebagai bentuk pemahaman aktual terhadap
kondisi industri video di Indonesia berikut dinamikanya saat ini.
Pemahaman di atas akan memudahkan saat merencanakan suatu program pengembangan industri
video Indonesia. Karena dari sana kita dapat melihat secara jelas potensi (kekuatan dan peluang)
dan permasalahan (tantangan, kelemahan, ancaman, dan hambatan) yang dihadapi dalam usaha
pengembangan industri video tanah air.
Ekosistem video, yaitu sebuah sistem yang menggambarkan hubungan saling ketergantungan
(interdependent relationship) antara setiap peran di dalam proses penciptaan nilai kreatif dan
antara peran-peran tersebut dengan lingkungan sekitar yang mendukung terciptanya nilai kreatif.
Peranan ekonomi kreatif bagi Indonesia sudah semestinya mampu diukur secara kuantitatif sebagai
indikator yang bersifat nyata. Hal ini dilakukan untuk memberikan gambaran riil mengenai
keberadaan ekonomi kreatif yang mampu memberikan manfaat dan mempunyai potensi untuk

xiii

ikut serta dalam memajukan Indonesia. Bentuk nyata dari kontribusi ini dapat diukur dari nilai
ekonomi yang dihasilkan oleh seluruh subsektor pada ekonomi kreatif termasuk video.
Perhitungan kontribusi ini ditinjau dari empat basis, yaitu Produk Domestik Bruto (PDB),
ketenagakerjaan, aktivitas perusahaan, dan konsumsi rumah tangga yang dihimpun berdasarkan
perhitungan yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Untuk perhitungan kontribusi
ekonomi video, nilai yang ada pada data BPS tersebut dihitung berdasarkan data Klasifikasi Baku
Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) Kreatif 2009. Namun berdasarkan perkembangan penelitian,
KBLI tersebut belun terlalu mengakomodir keseluruhan industri ataupun praktik ekonomi dari
subsektor video ini. sehingga banyak penilaian kontribusi ekonomi video pada data saat ini yang
cenderung pesemis. Belum lagi pemahaman ruang lingkup industri yang belum merata dan
masih banyak irisan definitive maupun praktik dengan bidang serupa, seperti fotografi dan film.
Sehingga akurasi nilai PDB ini belum terlalu optimal penilaiannya.
Visi, misi, tujuan, dan sasaran strategis merupakan kerangka strategis pengembangan video pada
periode 20152019 yang menjadi landasan dan acuan bagi seluruh pemangku kepentingan dalam
melaksanakan program kerja di masing-masing organisasi/lembaga terkait secara terarah dan
terukur yang dijabarkan pada Bab 4 Rencana Pengembangan Video Indonesia.

xiv

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

If you fail to plan, you are planning to fail.

Benjamin Franklin

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

KULINER 2015-2019

10

KERAJINAN 2015-2019

ARSITEKTUR 2015-2019

09

12
08

PERIKLANAN 2015-2019

RENCANA AKSI
JANGK A MENENGAH

17

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

SENI PERTUNJUKAN 2015-2019

SENI RUPA 2015-2019

TEKNOLOGI INFORMASI 2015-2019

TV & RADIO 2015-2019

VIDEO 2015-2019

PENERBITAN 2015-2019

16

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

PENELITIAN & PENGEMBANGAN 2015-2019

15

18

MUSIK 2015-2019

PERFILMAN
2015-2019

14

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI JANGK A MENENGAH

RENCANA AKSI
JANGK A MENENGAH

11

ARSITEKTUR
2015-2019

06
05
04

KEKUATAN BARU INDONESIA


MENUJU 2025

xv

xvi

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

BAB 1
Perkembangan Video
di Indonesia

BAB 1: Perkembangan Video di Indonesia

1.1 Definisi dan Ruang Lingkup Video di Indonesia


Video merupakan pengembangan teknologi alat rekam gambar dari fotografi dan film. Oleh
karena itu, video, film, dan fotografi dalam rencana pengembangan ekonomi kreatif Indonesia
tergabung dalam satu kesatuan subsektor dari total 18 subsektor ekonomi kreatif Indonesia.
Kemajuan teknologi dan turunannya berpengaruh terhadap perkembangan subsektor video, film,
dan fotografi. Begitulah yang terjadi dengan dengan teknologi video, yang awalnya menggunakan
konsep analog dan kemudian berubah menjadi digital. Kemajuan tersebut turut mengubah
pemahaman video itu sendiri. Lebih jauh lagi, jika dahulu hanya dipahami sebagai media alat
rekam, kini makna video sudah meluas karena fungsinya memiliki dampak lebih terhadap ekonomi,
sosial, dan budaya. Maka, kita perlu memahami secara komprehensif definisi dan ruang lingkup
subsektor video agar kontribusinya dapat lebih terfokus dan menghasilkan manfaat signifikan
terhadap pembangunan industri dan ekonomi kreatif nasional.

1.1.1 Definisi Video


Pada kurun 1970an, muncul istilah videography atau yang biasa kita sebut dengan kata videografi
ataupun video. Istilah itu diperkenalkan oleh Bob Kiger, seorang sarjana profesional fotografi
lulusan Rochester Institute of Technology dengan predikat cum laude. Ia kemudian berkarier
sebagai videografer profesional dan dikenal dengan inovasi dan pengembangan teknik-teknik
pengambilan gambar video (Point of View Videography).
Bob Kiger mengartikan videografi sebagai sebuah kegiatan produksi serupa film dengan menggunakan
alat rekam gambar dan teknik pascaproduksi elektronik. Secara teknis, perbedaan antara film
dan video terletak pada jenis media rekamnya. Film menggunakan alat rekam yang disebut film
stock atau gulungan film, sedangkan video menggunakan tape (pita rekam elektronik). Pita
elektronik tersebut merekam gambar diam berupa frame, dengan jumlah ratusan, ribuan, hingga
jutaan. Frame tersebut dibaca dalam susunan yang teratur dengan kecepatan tertentu sehingga
dapat menghasilkan gambar bergerak. Satuan gambar tersebut biasa juga dikenal dengan istilah
Frame Rate, dalam hitungan frame per second (FPS).
Seiring waktu, teknologi video terus disempurnakan dan terus berkembang. Teknologi yang lama
tergantikan teknologi berikutnya. Pada 1975, Steven Sasson yang bekerja di Eastman Kodak
Company berhasil menciptakan kamera digital pertama dengan menggunakan teknologi sensor
Charge-Couple Device (CCD) sebagai pengganti film. Beberapa tahun berikutnya muncul teknologi
Complementary Metal-Oxide Semiconductor (CMOS) yang memperbaiki beberapa keterbatasan
teknologi sensor CCD. Kedua jenis sensor tersebut (CCD dan CMOS) masih digunakan hingga
saat ini dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dengan teknologi tersebut, susunan
gambar dapat dibaca dengan kecepatan tinggi, sehingga gerak yang ditampilkan semakin halus
dan gambar diam pun terkesan hidup dan lebih nyata; semakin besar nilai FPS suatu video,
semakin halus pergerakan gambar yang ditampilkan.
Teknologi di atas dapat ditemukan pada jenis kamera Digital Single Lens Reflect (DSLR).
Kamera-kamera jenis DSLR yang ada di pasaran saat ini tak hanya alat rekam gambar diam
(foto), namun juga berkembang menjadi alat rekam gambar bergerak dengan kualitas tinggi.
Kamera DSLR tersebut dapat memenuhi berbagai kebutuhan media presentasi gambar bergerak,
mulai dari layar High Definition (HD) TV/LCD, hingga standar spesifikasi media untuk sinema
layar lebar (bioskop).

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

Foto Alat Rekam Gambar Kamera dengan Teknologi Terbarukan format 4K. Panasonic Lumix GH4 4K DSLR dan
Blackmagic 4K.
Sumber: http://www.videomaker.com/article/17333-new-gear-blackmagic-design-4k-production-camera-canoneos-rebel-t5-panasonic-lumix-gh4-4k-dslr

Kedua kamera di atas merupakan sebuah terobosan baru teknologi alat rekam gambar jenis
kamera DSLR. Hadir dengan teknologi 4K, kamera ini dirancang untuk memenuhi standar
spesifikasi baru media layar presentasi. Teknologi ini mampu mengakomodasi kebutuhan
produksi sinema digital dan ultra HD resolution dalam ProRes 422 high quality (HQ) format.

BAB 1: Perkembangan Video di Indonesia

Resolusi 4K merupakan resolusi di mana sisi horizontalnya mencapai (atau) mendekati 4000 pixel. Nama lain dari
resolusi 4K adalah Ultra (HD). Angka 4000 inilah yang kemudian disingkat menjadi 4K.1

Jika dilihat dari skala produksinya, skala produksi video lebih kecil dibandingkan film. Produksi
film banyak sekali memerhatikan berbagai macam aspek dalam pengambilan setiap adegannya.
Film cenderung lebih kompleks, dengan teknik yang lebih rumit, dan memerlukan banyak peran
individu dalam proses produksinya, sedangkan video biasanya dapat dilakukan tim yang lebih
kecil, bahkan dapat dilakukan oleh satu orang saja, dengan konsep, peralatan, dan pengelolaan
yang lebih sederhana.
Video saat ini biasanya dikenal penggunaannya untuk mendokumentasikan kegiatan-kegiatan
tertentu yang bersifat pribadi dan cenderung sederhana misalnya, dokumentasi pernikahan, kelahiran,
dan acara sekolah. Namun, sebenarnya media video dan teknik videografi juga berkembang untuk
kepentingan yang lebih luas lagi, seperti untuk pembuatan profil perusahaan, iklan, video klip,
serial televisi, liputan jurnalistik, hingga untuk kepentingan riset dan media seni rupa.
(1) April, Sueswit. 2014. Apa Itu 4K? http://sueswit.net/2014/07/07/apa-itu-4k/ (diakses 26 Juli 2014)

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

Dari beberapa definisi yang ada, video dipahami berdasarkan teknologi dan pengembangan media
presentasi visual (broadcasting), seperti definisi dari beberapa sumber sebagai berikut:
Oxford Dictionaries:2
The recording, reproducing, or broadcasting of moving visual imagesorA recording of moving
visual images made digitally or on videotape.
Cara merekam, mereproduksi, atau menyiarkan suatu gambar bergerak atau cara merekam
gambar bergerak secara digital atau dengan menggunakan pita video.
Meriam-Webster Encyclopedia:3
A movie, television show, event, etc., that has been recorded onto a video cassette, DVD, etc., so
that it can be watched on a television or computer screen.
Sebuah sinema, acara televisi, peristiwa, dll., yang sudah direkam ke dalam video kaset,
DVD, dll., yang dapat ditonton dari televisi atau layar komputer.
Business Dictionary.Com:4
Visual multimedia source that combines a sequence of images to form a moving picture. The video
transmits a signal to a screen and processes the order in which the screen captures should be shown.
Videos usually have audio components that correspond
with the pictures being shown on the screen.
Sumber multimedia visual yang merupakan hasil kombinasi rangkaian gambar-gambar
untuk suatu format gambar bergerak. Video mengirimkan sinyal ke layar dan kemudian
memprosesnya untuk ditangkap dan ditampilkan di layar lainnya. Video biasanya memiliki
komponen audio yang sesuai dengan gambar-gambar yang telah ditampilkan di layar.

Pemahaman mengenai video berdasarkan basis teknologi (device) dan media broadcasting di atas
masih tetap relevan. Namun, ada aspek lain yang sebenarnya memicu kemunculan video, yaitu
fenomena sosial saat video hadir pertama kali.
Keberadaan video memiliki makna berbeda-beda di berbagai belahan dunia. Di Amerika Serikat,
video lahir dari reaksi terhadap kemapanan industri media massa yang besar, yakni industri
pertelevisian (broadcasting industry). Reaksi tersebut berasal dari kejenuhan masyarakat akan
penyeragaman tontonan dan sifat komunikasi satu arah dari media massa. Pada saat itu, publik
membayangkan memiliki media sendiri yang mandiri.

(2) Dari www.oxfordictionaries.com. Tautan: http://www.oxforddictionaries.com/definition/english/video. Terakhir


diakses pada 18 September 2014.
(3) Dari www.merriam-webster.com. Tautan: http://www.merriam-webster.com/dictionary/video. Terakhir diakses
pada 18 September 2014.
(4) Dari www.businessdictionary.com. Tautan: http://www.businessdictionary.com/definition/video.
html#ixzz387ayHHdD. Terakhir diakses pada 18 September 2014.
BAB 1: Perkembangan Video di Indonesia

Paradigma ini diperlukan dalam memahami video secara komprehensif, yaitu bahwa video bukan
sekadar alat rekam gambar bergerak, melainkan juga alat yang memudahkan publik dalam
menjangkau media yang dahulunya sangat terbatas. Dengan demikian, video sebenarnya juga
merupakan antitesis terhadap privatisasi media massa. Video dapat mengubah karakter budaya
masyarakat dalam bermedia. Ketika media massa hanya menempatkan publik sebagai penonton
(objek), dengan kehadiran teknologi video, publik dapat mendudukkan dirinya sebagai pelaku
(subjek). Di Indonesia, fenomena pemanfaatan video oleh masyarakat bisa kita lihat salah satunya
di komunitas di Purbalingga, Jawa Tengah, yang menjadikan video sebagai media warga.

Purbalingga Merayakan Demokrasi dengan Video


Di Purbalingga, ada sebuah komunitas masyarakat yang menjadikan video sebagai media baru
dalam interaksi sosialnya. Masyarakat di sana, kemudian secara aktif membuat karya tontonan
yang sesuai kebutuhan dan keinginan mereka sendiri. Video karya mereka dijadikan sebagai
pembanding stasiun televisi mainstream, yang mereka anggap kurang dapat mengakomodasi
sajian tontonan yang sesuai dengan harapan mereka. Komunitas video Purbalingga ini juga
menjadikan video sebagai ajang media aspirasi sekaligus media pendidikan demokrasi di
daerahnya. Seperti pada momen Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA), masyarakat di sana
merekam para calon kepala daerahnya dalam sebuah karya video, untuk kemudian ditonton
secara bersama seperti menonton Layar Tancep, untuk kemudian mereka simak biografi,
visi-misi, dan program kerja masing-masing calon, sebelum pemilihan dilakukan. Hal ini tentu
mustahil dilakukan oleh stasiun televisi mainstream.

Fungsi video yang bukan sekadar sebagai alat perekam gambar bergerak banyak terjadi di tanah
air. Pada 1990an, mulai bermunculan pegiat kesenian dan kebudayaan yang merintis penggunaan
video sebagai media dalam berekspresi dan berkarya. Kondisi tersebut menunjukkan bagaimana
video dapat berperan dalam bidang seni dan budaya sehingga mampu menghasilkan nilai tambah
dalam sebuah karya seni. Peran video di dalam kesenian dapat dilihat dari inovasi dan eksplorasi
pengambilan gambar, serta cara mempresentasikannya.

Video Art
Sumber: http://ministryofartisticaffairs.com/blog/case-study-video-art-in-the-digital-era/

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

Kemajuan teknologi informasi yang berkembang pesat melahirkan media baru (new media) sebagai
media presentasi dan distribusi karya video. Media baru ini kemudian menjadi wahana dalam
kebudayaan visual, ketika video dapat dipresentasikan secara lebih eksploratif dan apresiatif.

Video dalam wacana media baru merupakan seni bahasa dalam media. Ia memiliki kebaruan
dalam hal konten dan peralatan (device). Media baru sarat akan pengaruh dari teknologi informasi,
banyak yang sudah umum ada di tengah masyarakat, seperti smartphone dengan beragam fitur
dan aplikasinya. Video kemudian dapat berpameran di mana saja, termasuk saku kemeja kita.
Sehingga dengan mobilitas smartphone tersebut, ruang tayang video pun menjadi semakin luas
dan beragam. Bisa ditonton di mana saja, ditransferkan ke peralatan yang lain, dan sebagainya.
Masih melalui smartphone, penggunanya bisa sebagai videografer juga sekaligus penonton, ia
dapat merekam lalu kemudian bisa ia nikmati khusus secara pribadi.
Khusus dalam memahami media baru, maka akhirnya media baru tersebut kemudian menjadi
pemicu perubahan dan perkembangan dalam cara berpikir dan cara melihat terhadap realitas
sosial yang baru. Akhirnya berpengaruh terhadap perilaku manusia dan tata nilai baru, serta
posisi manusia di tengah dunia kontemporer yang diciptakan.5

Salah satu format media baru untuk karya video yang sudah akrab dengan keseharian kita adalah
video sharing berbasis media sosial, seperti YouTube dan Vimeo. Dari media baru tersebut kita
jadi banyak menyaksikan fenomena sosial yang tak kita perkirakan sebelumnya dapat terjadi di
tengah-tengah kita. Maka, muncullah pesohor instan dari YouTube, atau lebih dikenal sebagai artis
YouTube. Contoh kasus artis YouTube menggambarkan pengaruh media baru terhadap pola
ekosistem konvensional pada proses kreasi, distribusi, dan presentasi sebuah karya kreatif video.
Berdasarkan pemahaman di atas, referensi dari beberapa literatur, dan juga hasil focus group
discussion (FGD), definisi video dalam pemahaman ekonomi kreatif Indonesia adalah:

Kegiatan kreatif berupa eksplorasi dan inovasi


dalam cara merekam (capture) atau membuat
gambar bergerak, yang ditampilkan melalui media
presentasi, yang mampu memberikan karya
gambar bergerak alternatif yang berdaya saing
dan memberikan nilai tambah budaya, sosial, dan
ekonomi.

Sumber: Focus Group Discussion subsektor Video, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, MeiJuni 2014

Penjelasan kata kunci dalam definisi tersebut adalah sebagai berikut:


1. Kegiatan kreatif adalah kumpulan kegiatan yang terkait dengan penciptaan atau
penggunaan pengetahuan dan informasi untuk melahirkan gagasan dan konsep baru
maupun pembaharuan dari konsep dan gagasan yang sudah ada sebelumnya. Dalam
kegiatan penciptaan video, hal ini berarti kegiatan merekam atau membuat gambar
bergerak yang dilakukan secara inovatif dan eksploratif baik dalam hal cara, konten,
maupun media presentasinya.
BAB 1: Perkembangan Video di Indonesia

2. Eksplorasi dan Inovasi adalah kegiatan untuk memperoleh hal baru dari berbagai situasi
permasalahan, serta penemuan hal-hal baru, baik dari sesuatu yang sudah maupun belum ada.
3. Capture adalah proses perekaman gambar bergerak melalui media penyimpanan data
seperti pita rekam elektronik, memory card/hardisk, CD/DVD, dan media rekam lainnya.
4. Gambar bergerak adalah objek yang dapat direkam maupun ditampilkan secara dinamis,
yaitu susunan kumpulan gambar diam yang diolah untuk ditampilkan secara hidup dalam
suatu karya kreatif video.
5. Media presentasi adalah sarana pertunjukan bagi khalayak untuk menonton suatu karya
kreatif video.
6. Berdaya saing adalah kondisi saat orang kreatif (videografer) dan karya kreatif video
yang ia hasilkan mampu berkompetisi secara adil, jujur, dan menjunjung tinggi etika.
7. Nilai tambah adalah keunggulan dan manfaat baru dari suatu karya kreatif video bagi
penontonnya, misalnya untuk kepentingan ekspresi, edukasi, dan informasi.

1.1.2 Ruang Lingkup Pengembangan Video


Sebagaimana telah dibahas, video banyak beririsan dengan film dan fotografi, yakni sama-sama
merupakan bidang dengan produk kreatif yang memiliki wilayah dan cakupan sangat luas.
Berbagai bidang industri dapat beririsan dengan video seperti dipetakan dalam Gambar 1-1.

Gambar 1-1 Irisan Video dengan bidang lainnya


E-Learning
(Video Tutorial)

Iklan Televisi
Iklan Luar Ruang (Megatron)

Biro Iklan

Sinetron
FTV
PROGRAM TV
BERITA

Kartun Games

Pendidikan
Animasi

Footage Video
Video Stockshoot

VIDEO

TV

Video Klip

Sinema

Klien

Musik
Seni

Profil Perusahaan
Video Pernikahan
Biografi

Publishing

Video Mapping
Video Seni

Trailer/ Teaser Novel

Berdasarkan pemahaman sebelumnya bahwa video mengacu pada tradisi media, perkembangan
video sangat dipengaruhi perkembangan teknologi media. Lahirnya media baru membuat praktik
penciptaan karya kreatif video dilakukan dengan gaya baru, baik dalam mengekspresikan,
mengapresiasi, membaca, dan memaknainya. Adapun karakter umum media baru adalah:
1. Alat (teknologi) medianya yang terbarukan;
2. Budaya literasi (ekspresi dan apresiasi) medianya yang terbarukan;
8

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

3. Berada dalam realitas sosial dan budaya yang terbarukan;


4. Bersifat masif dan viral;
5. Peran subjek menjadi lebih utama.
Dari poin-poin di atas, kita dapat melihat transformasi suatu karya kreatif dengan memanfaatkan
media baru, misalnya media-media tradisional dalam format pertunjukan (wayang, tari, dan
pentas seni budaya lainnya) kini sudah dipresentasikan dalam ruang-ruang virtual kasat mata
dengan bantuan teknologi seperti komputer, ponsel pintar, dan televisi digital. Sebagai contoh,
kita dapat melihat tampilan sebuah pertunjukan wayang yang dikemas menggunakan teknologi
dan efek-efek visual seperti Liquid-Crystal Display (LCD) proyektor, format animasi, yang
didramatisasi dengan teknologi baru lainnya yang kemudian melahirkan genre pewayangan
baru, yakni wayang virtual. Dari hal tersebut, kita dapat melihat seorang dalang menampilkan
karya pertunjukan wayang dengan gaya baru, serta penonton yang menonton, memaknai, dan
mengapresiasi dengan cara baru. Dari sini dapat disimpulkan bahwa media baru merupakan
sebuah budaya media masyarakat modern beserta kenyataan sosial yang mengiringinya.
Pengaruh media baru dalam penciptaan karya kreatif video sebagai media dan juga sebagai alat
melahirkan pengalaman-pengalaman estetik baru, misalnya pengalaman yang dihasilkan melalui
teknik video mapping yang saat ini banyak diminati, yakni sebuah metode baru dalam evolusi seni
visual dengan memanfaatkan proyeksi yang ditembakkan ke bidang yang tidak umumbukan
layar dalam pengertian konvensionalseperti gedung, kendaraan, lantai, tubuh, dan sebagainya.
Hasil proyeksi tersebut dipetakan menggunakan teknologi khusus sehingga tampak presisi. Dengan
memasukkan animasi yang sesuai dengan objek, akan timbul ilusi 3D yang menarik. Kini masih
banyak lagi perkembangan kreasi karya video dalam format media baru seperti video animasi,
video hologram, video interaktif, dan sebagainya. Pengembangan karya video masih terus berjalan
hingga saat ini, baik dalam teknik produksi maupun media presentasinya.

Proyeksi Video Mapping New visual worlds Cones vs Rods oleh Tony Oursler. (Foto: (c) Lisson Gallery/returned.
Sumber: http://www.theguardian.com/artanddesign/jonathanjonesblog/2013/jan/23/video-art-in-the-vanguard)

BAB 1: Perkembangan Video di Indonesia

Selain teknik produksi maupun media presentasinya, karya kreatif video dapat dikelompokkan
berdasarkan ragam dasar (basic genre) dari video, seperti yang dilakukan Stanford University
Libraries.
Tabel 1-1 Ragam Dasar Karya Video5
3-D films/Video

Newsreels

Actualities (Motion pictures)

Puppet television programs

Adventure television programs

Quiz shows

Animated television programs

Reality television programs

Anti-war television programs

Rural comedies

Audience participation television programs

Rushes (Motion pictures)

Biographical television programs

Science fiction television programs

Christmas television programs

Science television programs

City symphonies (Motion pictures)

Soap operas (sinetron)

Comedy programs

Sound motion pictures

Cop shows

Sports videos

Detective and mystery television programs

Spy television programs

Documentary television programs

Stock footage

Educational television programs

Superhero television programs

Erotic videos

Talk shows

Ethnographic television programs

Television comedies (collections only)

Experimental videos

Television commercial films

Fantasy television programs

Television dance parties

Feminist motion pictures

Television mini-series

Game shows

Television musicals

Ghost television programs

Television pilot programs

Haunted house television programs

Television programs for people with visual disabilities

Historical television programs

Television programs for the hearing impaired

Horror television programs

Television programs, Public service

Hospital television programs

Television serials

Instructional television programs

Thrillers (Motion pictures, television, etc.)

Jungle television programs

Travelogues (Motion pictures, television, etc.)

Live television programs

Trick films

Lost television programs

True crime television programs

Low budget motion pictures

Unfinished motion pictures

(5) Sumber: https://lib.stanford.edu/metadata-department/filmvideo-genre-basic-list


10

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

Low budget television programs

Variety shows (Television programs)

Made-for-TV movies FTV

Video art

Magazine format television programs

Video recordings for children

Motion picture remakes

Video recordings for the visually handicapped

Motion picture sequels

War television programs

Motion picture serials

Western television programs

Music videos

Wildlife television programs

Nature television programs

Wedding Video (ext)

Ekonomi kreatif merupakan era ketika produk budaya beserta pelakunya menjadi industri strategis.
Nilai budaya yang terkandung dalam musik, drama, hiburan, maupun seni visual telah menjadi
pemicu sekaligus poros kekuatan perekonomian masa kini dan masa depan. Dengan demikian,
video dalam kerangka ekonomi kreatif bergantung pada subjek/kreator (videografer) sebagai
tokoh sentral penggerak kreativitas dan perekonomiannya. Individulah yang menghasilkan ide
dan inovasi dari daya imajinasi, kreativitas, dan pengetahuan yang ia miliki.
Dari hasil berbagai literatur dan pendalaman hasil FGD, berikut ini adalah ruang lingkup video
berdasarkan tujuan umumnya:
1. Video Komersial. Untuk keperluan penunjang bidang usaha maupun bidang industri
kreatif lainnya yang sudah berkembang dan bersifat masif, contohnya adalah klip musik,
iklan, sinetron/FTV, program televisi, industri film layar lebar, footage (stock shoot), company
profile, penelitian, dan pendidikan.
2. Seni Video dan Media Baru. Karya video eksploratif dan inovatif yang sarat nilai seni,
menggunakan teknologi baru, baik sebagai alat produksi maupun media presentasinya,
misalnya web series (YouTube, Vimeo, atau Vines), video mapping, video animasi, video
fashion show, seni video, video interaktif, dan video intermedia.
3. Video Dokumentasi. Untuk keperluan pendokumentasian ragam kegiatan yang awalnya
berakar dari ilmu jurnalistik, misalnya biografi, jurnalisme warga, acara pernikahan,
seremonial dan sejenisnya.

Lahirnya media baru membuat praktik penciptaan


karya kreatif video dilakukan dengan gaya baru, baik
dalam mengekspresikan, mengapresiasi, membaca,
dan memaknainya.

BAB 1: Perkembangan Video di Indonesia

11

Gambar 1-2 Ruang Lingkup dan Fokus Pengembangan Subsektor Video

12

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

Model Bisnis Video dan Pengelolaannya


Self Agency: Merupakan suatu istilah untuk jenis usaha kreatif video dengan pengelolaan oleh
kelompok kecil, biasanya tidak lebih dari lima orang atau bahkan satu orang saja ( freelance).
Sehingga cakupan produksinya pun cenderung sederhana seperti pada jasa video dokumentasi
personal, seperti wedding video, ceremonial event, dan sejenisnya.
Production House (creative studio): Merupakan kategori usaha kreatif video yang memiliki
jumlah personil atau unit yang cukup besar dengan berbagai fungsi dan peran. Biasanya tidak
sekadar memproduksi video saja, namun juga tergabung dengan jasa kreatif lainnya seperti film
(sinema), fotografi hingga desain komunikasi visual (grafis).
Video Stock Agency: Merupakan usaha kreatif yang menghimpun karya video berupa stock shoot
(cuplikan) video, yang dijual sebagi foottage untuk melengkapi kebutuhan suatu karya gambar
bergerak seperti pada video iklan maupun film (sinema). Di dalam negeri jenis usaha kreatif
video dalam kategori video stock agency memang tidak berkembang secara khusus/mandiri,
biasanya tergabung dalam satu kesatuan production house.
Multichannel Network: Merupakan jenis usaha kreatif video yang berkembang dari fenomena
media baru kekinian. Layaknya seperti sebuah talent agent, yaitu usaha yang menghimpun karya
kreatif video berbasis media online untuk kemudian dikembangkan dan dibantu pemasarannya.
Komunitas: Komunitas disini bukanlah sebuah model satu jenis usaha kreatif video, namun
keberadaannya tidak dapat dikesampingkan, karena dalam ekosistem industri video komunitas
berperan dalam proses nurturing berupa apresiasi dan edukasi hingga proses distribusi dan
pengembangan pasar karya kreatif video.

1.2 Sejarah dan Perkembangan Video


1.2.1 Sejarah dan Perkembangan Video Dunia
Fotografi memberi dampak pada lahirnya gambar bergerak (motion pictures) yang kita kenal dengan
sebutan film. Pada 1878, dengan menggunakan sejumlah kamera, seorang fotografer Inggris,
Eadweard Muybridge, melakukan percobaan untuk merekam kuda yang berlari. Percobaan ini
bertujuan untuk mengetahui apakah ketika kuda berlari keempat kakinya secara bersamaan
pernah tak menginjak tanah. Terinspirasi dari percobaan tersebut, pada 1880an, seseorang
berkebangsaan Prancis bernama Louis Le Prince berhasil membuat kamera pertama yang dapat
merekam gambar bergerak.
Sepuluh tahun setelah penemuan kamera film, seorang sinematografer berkebangsaan Inggris
bernama Edward Raymond berhasil mengembangkan film berwarna dengan menggunakan
tiga filter berwarna merah-hijau-biru. Pada 1927, film memasuki babak lain karena pada tahun
tersebut untuk pertama kalinya sebuah film menggunakan sinkronisasi dialog dan nyanyian
antara gambar dan alat perekam suara sehingga film mulai dapat dinikmati secara audio-visual.
Pada 1941, tercatat keberadaan iklan televisi pertama dengan format film, dibuat untuk sebuah
perusahaan jam tangan dengan merek Bulova dan ditayangkan selama 10 detik di stasiun televisi
NBC. Iklan tersebut ditayangkan pada jeda siaran pertandingan bisbol antara The Brooklyn
Dodgers dan Philadelphia Phillies. Video tersebut berupa visualisasi jam tangan Bulova yang

BAB 1: Perkembangan Video di Indonesia

13

melintasi gambar peta Amerika Serikat beserta voice-over yang mengucapkan slogan perusahaan,
America runs on Bulova time! Setelah itu, teknologi video pertama kali ditemukan dan
dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan penyempurnaan teknologi sistem siaran di stasiun
televisi, yaitu sistem CRT Television (cathode ray tube). Charles Ginsburg adalah orang yang
berperan dalam membidani lahirnya teknologi video pada saat ia memimpin tim penelitian di
Ampex Corporation. Pada 1951, barulah alat perekam atau video tape pertama merekam gambar
bergerak melalui kamera televisi yang dikonversi secara elektronik.
Pada 1956, video recorder diluncurkan ke tengah masyarakat Amerika Serikat. Pada 1970an,
Steve Sasson memberikan sentuhan monumental pada teknologi kamera dengan menerapkan
teknologi digital temuannya. Setelah itu, untuk pertama kalinya video menjadi populer pada
1972 dan mulai banyak digunakan dalam produksi serial televisi dan iklan komersial.

Steve Sasson dengan kamera digital pertamanya (spectrum)


Sumber: http://inet.detik.com/read/ 2013/05/23/121126/2253881/1277/penemu-kamera-digital-bercerita-tentang-kejatuhan-kodak

Walaupun ketika itu penjualan video recorder tersebut kurang begitu berhasil, kejelian para investor
untuk terus mengembangkan alat rekam gambar bergerak akhirnya membuahkan hasil, salah
satunya adalah Sony. Perusahaan itu secara konsisten terus mengembangkan video recorder agar
sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan pasar. Sony memfokuskan pemasarannya
pada keluarga. Jenis kamera video V8, 8Hi, Digital 8, VHS, dan pemutar video jenis Betamax
adalah produk yang cukup populer bagi keluarga kelas menengah. Jenis kamera ini cukup lama
beredar pada 1980an. Pada akhir 1980an, mulai ditemukan format-format penyimpanan
(record) video melalui piringan cakram yang terus mengalami pengembangan, mulai dari Laser
Disc (LD), Video Compact Disc (VCD), Digital Video Disc (DVD), dan BlueRay Disc.

14

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

Saat ini, media presentasi video sudah memiliki standar kualitas tinggi, sehingga alat (device) video
pun turut dikembangkan agar lebih canggih lagi. Tercatat pada 2013 teknologi untuk kamera
rekam gambar dengan istilah 4k atau ultra HD mulai populer. Teknologi ini dikembangkan demi
kebutuhan penyesuaian dengan spesifikasi layar televisi terbaru 4.000 pixel (4K). Sampai saat
ini, teknologi kamera rekam dan layar (media) presentasi berbasis teknologi 4K masih terbilang
jarang dan mahal. Namun, melihat fenomena percepatan perkembangan teknologi dalam satu
dekade terakhir, tampaknya sifat kebaruan itu rata-rata hanya bertahan hingga dua tahun saja.

1.2.2 Sejarah dan Perkembangan Video Indonesia


Perkembangan video di Indonesia dimulai pada 24 Agustus 1962, yaitu saat TVRI (Televisi
Republik Indonesia), stasiun televisi pertama pemerintah Indonesia berdiri dan mengudara.
TVRI mendapat tugas sebagai alat sosialisasi dan komunikasi kebijakan pemerintah sekaligus
pemersatu bangsa lewat jaringan informasinya yang masif. Peluncuran Satelit Palapa pada 8 Juli
1976 oleh roket milik Amerika Serikat memajukan perkembangan telekomunikasi Indonesia,
hingga berpengaruhnya besar terhadap kehidupan sosial masyarakatnya. TVRI yang semula
bersiaran lokal pun dapat dinikmati di seluruh nusantara.
Lahirnya TVRI berdampak pada pengembangan industri lainnya. TVRI cukup baik dalam
mendukung perkembangan industri musik. Banyak program acara yang mengangkat khazanah
musik Indonesia. Secara tidak langsung, hal ini menjadi pemicu kreativitas dalam video, yang
memang menjadi salah satu elemen promosi (marketing) dalam pengembangan industri musik.
TVRI benar-benar menjadi medium ampuh untuk mendongkrak popularitas para musisi pada
saat itu dan secara otomatis mengembangkan industri musik tanah air.

Videoklip pertama Indonesia Ernie Djohan garapan Budi


Scwarczkrone (TVRI) th 1972 menggunakan kamera Eclair 16 mm.
Sumber: http://dennysakrie63.wordpress.com/2013/11/05/kapankahvideoklip-mulai-muncul-di-indonesia/

P a d a p a r u h e r a 19 7 0 - a n
T V R I mulai bereksperimen
menampilkan lagu dengan setting
outdoor yang terlihat lebih natural.
Boleh jadi ini merupakan embrio
atau cikal bakal munculnya era
video klip yang mulai marak di
era 80-an hingga 90-an. Menurut
Budi Schwarzkrone, yang saat itu
menjabat sebagai pengarah acara
di TVRI, video klip pertama
yang muncul di TVRI adalah
penampilan penyanyi Ernie
Djohan di tahun 1972 dengan
menggunakan kamera clair 16
mm. Tetapi yang bisa dianggap
video klip utuh dengan memakai
playback atau lipsynch adalah
video klip kelompok Panbers
di tahun 1974 dengan memakai
kamera Arriflex 16 BL. 6

(6) Sumber: http://dennysakrie63.wordpress.com/2013/11/05/kapankah-videoklip-mulai-muncul-di-indonesia/

BAB 1: Perkembangan Video di Indonesia

15

Periode awal 1980an merupakan masa ketika masyarakat Indonesia mulai dibanjiri produkproduk video, mulai dari media aplikasi maupun alat (device) rekam video itu sendiri. Konsumsi
masyarakat ketika itu cukup tinggi. Hal ini dibuktikan dengan semakin populernya sinema (film)
serial gangster Hongkong, Bollywood India, dan karya-karya lokal seperti film horor Susana, atau
grup komedi Warkop DKI. Selain di bioskop, semua karya itu juga didistribusikan lewat kaset
video (Betamax dan VHS). Maka, muncullah model bisnis baru dalam industri video, yaitu
bisnis pendukung penjualan dan penyewaan (rental) kaset video.
Perkembangan industri video di atas selanjutnya memberikan pengaruh besar terhadap karakter
sosial dan kultural masyarakat Indonesia. Kesadaran ini pun ada dalam benak pemerintah Orde
Baru ketika itu, sehingga pemerintah mulai memberlakukan aturan sensor tampilan dan isi setiap
produk visual yang akan ditonton masyarakat luas.
Industri pertelevisian nasional terus berkembang setelah lahirnya stasiun televisi swasta pertama
di Indonesia, Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI), yang mengudara secara nasional sekitar
1992, disusul setahun kemudian oleh Surya Citra Televisi (SCTV). Periode itu merupakan fasefase monumental, saat karya video kreatif sebetulnya baru mulai dikenal masyarakat Indonesia.
Semakin bertambahnya stasiun televisi swasta secara perlahan membuat kegiatan produksi
karya video semakin bertambah. Pada masa ini, masyarakat kita mulai diperkenalkan dengan
siaran seri drama sinema elektronik (sinetron), yang masih bersiaran hingga saat ini. Pada masa
19911994 inilah produksi materi berbasis teknologi video di tanah air meningkat hingga 50
persen dari periode sebelumnya.
Pada era yang sama, industri video klip juga sangat dipengaruhi keberadaan stasiun paling populer
di kalangan anak muda dunia, yaitu Music Television (MTV). Hal ini kemudian melahirkan
sosok-sosok muda dalam penyutradaraan videoklip di tanah air. Sebut saja nama-nama seperti
Rizal Mantovani hingga Dimas Djayadiningrat, Garin Nugroho, Ria Irawan, Jay Subiakto, dan
lainnya. Mereka mulai unjuk kreasi dengan sederet video klip yang memiliki kreativitas modern
dan berdaya saing.
Teknologi video berkembang ke arah baru ketika media rekam digital ada dalam bentuk kepingan
CD. Setelah Laser Disc yang memiliki ukuran besar seperti piringan hitam, muncul VCD (1997)
dengan ukuran yang lebih kecil dan praktis dengan kualitas yang lebih baik, kemudian muncul DVD
(2003), hingga paling akhir BlueRay (2006). Namun yang paling populer di tengah masyarakat
hingga saat ini adalah kepingan VCD dan DVD. Pasalnya, media aplikasinya terjangkau oleh
kalangan ekonomi menengah ke bawah. Namun, cukup ironis ketika hal tersebut dipicu oleh
tingginya produksi VCD dan DVD bajakan yang ada di tengah masyarakat. Walaupun aturan
sudah ada, fungsi kontrol dan penindakannya masih lemah. Hal tersebut perlu dikaji tersendiri
mengingat produksi dan konsumsi VCD dan DVD bajakan berkaitan dengan tingkat kesadaran
dan apreasiasi publik yang masih lemah terhadap karya kreatif visual.
Kemudian pada medio 1990an, geliat seniman (seni rupa) tanah air mulai merambah media
dan teknologi video sebagai sarana ekspresi seninya. Salah satu pelopornya ialah Krisna Murti,
yang berfokus pada pengembangan seni rupa dan kajian media baru. Pada 2000an, komunitas
yang mengembangkan praktik video kreatif sebagai media sosial mulai marak. Dari segi bisnis,
mulai lahir rumah-rumah produksi video kreatif berbasis media baru di beberapa kota.

16

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

Pada 2003, festival OK. Video diadakan oleh organisasi


seni rupa bernama ruangrupa. OK. Video merupakan
festival video dua tahunan yang menjadi festival video
internasional cukup besar di Asia. Ada kesadaran
baru yang muncul terkait kebanggaan akan mitos Go
International: kita seharusnya justru menjadi tuan rumah,
kitalah yang mengundang orang dari mancanegara untuk
datang ke Indonesia. Hal tersebut merupakan pemahaman
yang perlu dicontoh dan menjadi kesadaran bersama,
terutama bagi para pelaku ekonomi kreatif Indonesia.
Indonesia merupakan negara dengan peringkat ke8
dalam konsumsi Internet tertinggi di dunia. Pada 2005,
lahir situs web berbagi video berbasis media sosial. Hal ini
kemudian memicu penciptaan karya video dan alternatif
baru dalam pendistribusian karya kreatif video. Turut
berkembang pula model bisnis baru dalam industri
kreatif video seperti yang dilakukan multichannel network
Layaria, yang aktif dalam pengembangan industri video
kreatif tanah air.
Di Bandung, lahir kelompok kreatif yang turut
menyemarakkan industri kreatif subsektor video, yaitu
Sumber: www.ruangrupa.org
Sembilan Matahari yang didirikan pada 2007 sebagai
www.okvideofestival.org
sebuah creative agency. Mereka dapat dikatakan sebagai
salah satu pelaku yang berhasil mengembangkan video
di tanah air, sesuai dengan definisi subsektor video dalam ekonomi kreatif Indonesia. Dengan
genre seni video, mereka menjadi pionir dalam eksplorasi dan inovasi media presentasi video
dengan teknik video mapping. Pangsa pasar mereka tak hanya klien kota-kota besar di Indonesia,
tapi juga para klien mancanegara seperti Timur Tengah.
Logo ruangrupa dan OK. Video Festival

Video memang belum memiliki sejarah panjang dan mapan seperti industri fotografi dan film yang
membidaninya. Seperti halnya pemahaman publik mengenai jenis karya, untuk mengapresiasinya
pun masih diperlukan pendidikan. Di sisi lain, pendidikan, peningkatan sumber daya manusia,
dan keilmuan manajemen dan bisnis untuk mengembangkan industri ini perlu didukung baik
melalui institusi pendidikan formal, informal, maupun nonformal. Pasalnya, video sudah masuk
pada tahap melepaskan diri dari industri induknya, yaitu film atau sinematografi.
Layaknya industri animasi yang sama-sama menginduk ke industri perfilman, video pun kelak
memiliki karakter industrinya sendiri yang khas, memiliki perkembangan dan pasarnya sendiri
yang lebih spesifik. Pemahaman tersebut mengemuka dengan munculnya social media sharing
berbasis video seperti YouTube, Vimeo, atau Vines; Juga video agency berbasis news (online) media/
networking channel, seperti Layaria dan malesbanget.com dari Indonesia atau Big Frame dan Maker
Studio dari Amerika Serikat. Jadi, saat ini bukan berarti video sebagai medium kreatif tidak
berkembang, melainkan lebih marak dan luas diberdayakan di berbagai jenis komunitas kreatif
independen dan LSM, mulai dari dokumenter, video participatory, dan aktivisme dengan media
video seperti yang dilakukan Engagemedia, Forum Lenteng, dan Yayasan Kampung Halaman.

BAB 1: Perkembangan Video di Indonesia

17

Gambar 1-3 Sejarah Perkembangan Video

18

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

20

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

BAB 2
Ekosistem dan Ruang
Lingkup Industri Video
Indonesia

BAB 2:BAB 2

21

2.1 Ekosistem Subsektor Video


2.1.1 Definisi Ekosistem Video
Ekosistem dalam terjemahan bebas dipahami sebagai sebuah lingkungan (komunitas) dengan
kesatuan unsur atau nilai yang saing terkait satu sama lainnya. Ekosistem dalam konteks ekonomi
kreatif video ini, dapat juga dipahami sebagai sebuah lingkungan unsur atau nilai yang membentuk
suatu kesatuan aktivitas bersifat kreatif, bernilai ekonomis, dan mengembangkan kebudayaan,
yang dimulai dari proses pengaryaan hingga bentuk apresiasinya.
Ekosistem yang akan digambarkan pada ekosistem video adalah sebuah model ideal dan aktual
(best practice) untuk sebuah lingkungan ekonomi kreatif subsektor video. Ekosistem ini merupakan
sebuah sistem yang menggambarkan hubungan saling ketergantungan (interdependent relationship)
yang mendukung terciptanya nilai kreatif pada industri video Indonesia. Untuk menggambarkan
hubungan saling ketergantungan ini maka akan dibuat sebuah peta ekosistem yang terdiri atas
empat komponen utama, yaitu:
a. Rantai Nilai Kreatif (Creative Value Chain), yang terdiri dari tahap kreasi, produksi, dan
distribusi karya kreatif video;
b. Lingkungan Pengembangan (Nurturance Environment), yang terdiri dari ruang pengembangan
melalui apresiasi dan aktivitas pendidikan bidang video;
c. Pasar-Konsumen, Audiens, dan Customer (Market);
d. Pengarsipan (Archiving).
Keempat komponen di atas memiliki nilai dan perannya masing-masing, namun tetap saling
terkait dengan membentuk sebuah pola atau siklus yang mebuat hubungan sebab akibat. Dengan
memetakan empat komponen di atas dalam ekosistem industri kreatif video, diharapkan dapat
melahirkan arah kebijakan dan program pengembangan yang sistematis dan tepat sasaran.
Berikut skema yang merangkum empat komponen rantai nilai kreatif dalam subsektor video:

Gambar 2-1 Peta Ekosistem Industri Kreatif

22

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

Berdasarkan penjelasan, ruang lingkup video sebagai salah satu subsektor ekonomi kreatif pada
sub-bab sebelumnya, maka ekosistem yang akan dibangun memiliki fokus pada pengembangan
nilai kreatif pada bentuk karya video yang sudah eksis, atau baru melalui pengembangan yang
terdapat pada media baru.

2.1.2 Peta Ekosistem Pengembangan Video


A. RANTAI NILAI KREATIF (CREATIVE VALUE CHAIN)
A.1. PROSES KREASI
Kreasi merupakan aktvitas praproduksi, dimana dipahami sebagai sebuah aktvitas yang dominan
akan kerja ideasi (pencarian dan penciptaan ide), dibandingkan dengan aktivitas yang bersifat
teknis. Brain-storming, mind-mapping, forced association, dan sinektik, merupakan beberapa
metode-metode untuk pencarian ide.

AKTIVITAS UTAMA
Aktivitas utama dalam proses kreasi meliputi rangkaian kegiatan sebagai berikut:
(1) Pencarian Ide atau gagasan untuk sebuah karya kreatif video. Ide atau gagasan dapat muncul
dari mana saja - mulai dari klien (pihak yang memesan jasa atau karya video), fenomena sosial
(tren), novel, karya seni/kreatif lainnya, hingga dari pengalaman atau imajinasi sendiri. Semua
itu bergantung pada tujuan pembuatan video itu sendiri. Dari ide kemudian dituangkan dalam
bentuk tertulis yakni (2) pembuatan sinopsis. Isi sinopsis yang masih bersifat abstrak (umum)
lalu dituangkan ke dalam bentuk tulisan yang lebih sistematis, yaitu (3) pembuatan rancangan
(treatment). Sinopsis yang dibuat sebelumnya sudah tertuang dalam konten yang tersusun
(sequential). Dalam pembuatan rancangan, alur cerita dari awal hingga akhir sudah terbentuk ini
kemudian dituangkan ke dalam format tulisan yang lebih rinci/detail dan teknis dengan adanya
(4) pembuatan skenario, yang diturunkan menjadi rencana teknis (Breakdown Script). Pada
tahap ini, konten yang sudah ditetapkan dalam sinopsis kemudian diuraikan dalam bentukbentuk treatment, ditambahkan dengan hal-hal yang cukup teknis, seperti script (penulisan dialog
atau alur cerita, suara yang mengisi (voice over), imajinasi pergantian gambar (storyboard), dan
sebagainya). Pada tahap ini juga menjadi proses pemahaman bersama untuk setiap peran yang
bekerja dalam proses pembuatan karya kreatif video. Pada tahap terakhir, idealnya dilakukan
(5) General Reherseal (GR), yaitu cek & ricek agar segala sesuatunya sesuai dengan isi yang
sudah dituangkan dalam tulisan rencana teknis pengaryaan. Seperti artist (aktor/aktris), persiapan
perlengkapan, pengurusan perizinan, dan sebagainya.

PELAKU UTAMA PROSES KREASI DALAM PEMBUATAN KARYA VIDEO


Pelaku utama dalam proses kreasi tergantung pada konteks atau cakupan produksi dari karya
video yang akan dibuat. Hal ini berarti, suatu proses produksi memerlukan jumlah orang yang
tidak sedikit dan tahapan kreasi ini biasanya dilakukan atau dibantu oleh seorang produser.
Produser memiliki kewenangan dalam pematangan konsep/ide, memproyeksikan anggaran
biaya, dan kebutuhan teknis maupun nonteknis lainnya, sehingga produser sangat berperan dan
bertanggung jawab dalam semua tahapan proses produksi dari awal sampai akhir.
Berbeda dengan proses produksi yang sederhana, adakalanya seorang produser juga merangkap
sebagai seorang videografer. Hal ini menyebabkan, pelaku utama dalam proses kreasi adalah

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Video Indonesia

23

Gambar 2-2 Peta Ekosistem Subsektor Video

Videografer
Rumah
Produksi

Produser/
Videografer

IDE:
Brainstorming

Eksplorasi

Pendalaman

KONSEPTUALISASI:
Sinopsis
(Naskah)

Breakdown
Script

Storyboard

ASOSIASI

Penjadwalan

PRA
PRODUKSI:

MEDIA
BARU

Stasiun Televisi
(Broadcasting)

Sewa
Alat

Syuting

Klien (Individu/
Perusahaan)

Kontrak
Model

Merekam
(Capture)

Biro Iklan

Perizinan

Editing

Rumah
Produksi

PRODUKSI:

Presentasi
(Display)

Video Stock
Agency

Budgeting

Asosiasi
Nurturance Environment
Rantai Nilai
Pelaku Utama
Hasil
Aktivitas Utama

Multi Channel
Network

Penonton
Televisi

Offline
(New) Media

Penyuntingan
Shooting
List

Keterangan:

Online
(New) Media

Syuting
PASCA
PRODUKSI:

DESAIN &
PERENCANAAN:
General
Reherseal

ASOSIASI

Pengemasan

Penonton
Event Publik

Ruang Publik
Konsep/Naskah

Video

Video

KREASI

PRODUKSI

DISTRIBUSI

Pengumpulan

Rumah
Produksi

AKSES PUBLIK

SPESIFIK
Preservasi
PENGARSIPAN

Komunitas, Pemerintah, Industri, Akademisi

Netizen
Penonton Web
Series

KONSUMEN

KONSUMSI

Restorasi

Penonton
Video Seni
Klien
Perseorangan/
Perusahaan
Video
Footage Agency

ASOSIASI

NURTURANCE

Netizen

MASSAL

Galeri

Komunitas, Pemerintah, Industri

Biro
Iklan

Pemerintah
Literasi
Umum

INDUSTRI PENDIDIKAN VIDEOGRAFI


Formal

Nonformal

Informal

Ilmu
Dasar

Teknis

Manajemen

SMK

Seminar

Internship

Seni

Lighting

Manajemen
Bisnis

Perguruan
Tinggi

Kursus

Internet
Tutorial

Komunikasi

Teknologi
(Engineering)

Pemasaran

Workshop

Community
Sharing

Fotografi

Teknologi
Informasi

Film/
Sinematografi

Audio/
Lighting
Sound

Pengembangan SDM, Industri, Ilmu dan Teknologi Videografi

Literasi
Khusus

24

Institusi
Pendidikan

INDUSTRI PENDIDIKAN UMUM


Festival,
Penghargaan &
Eksibisi

Sistem Pengontrol
Konten Videografi

PASAR

OrangTua/ Komunitas
Masyarakat/
Netizen

Literasi
Videografi

Terintegrasi Dalam
Kurikulum
Pendidikan Nasional

Komunitas
Videografi/ Netizen
Penghargaan
Pemerintah &
Industri

Hak
Cipta
Kritik & Ulasan
Videografi

PENDIDIKAN

Profesional

Pengamat
Videografi
Media
Videografi
APRESIASI
Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

videografer (video artist/seniman video seni), produser, ataupun kedua-duanya secara bersamaan.
Tidak menutup kemungkinan dalam proses kreasi ini terdapat andil dari klien, apabila video yang
dibuat atas dasar permintaan seperti pada kategori video-video komersil seperti iklan, company
profile, biografi, dan sebagainya.

A.2. PROSES PRODUKSI


Tahap produksi dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu, praproduksi, produksi, dan pascaproduksi.
Dalam proses produksi atau pengaryaan, karya video ini pada intinya adalah proses syuting antara
videografer dan perangkat (crew) produksi lainnya, bekerja untuk mengubah bahan tertulis
(skenario/sinopsis/naskah/ide/konsep) ke dalam materi visual gambar bergerak dan biasanya juga
dikombinasikan dengan materi audio sebagai pelengkap karya video.
Perencanaan yang telah dibuat dengan matang di dalam tahap kreasi akan dieksekusi satu per
satu. Namun pada tahap produksi ini, ada kalanya videografer melakukan modifikasi rencana
atau eksperimen di tengah-tengah syuting, karena biasanya eksekusi yang dilakukan tidak semulus
yang direncanakan. Faktor-faktor eksternal dapat mempengaruhi keberlangsungan produksi
dan akan berbeda kasus atau problem permasalahan produksi, bergantung pada bentuk karya
video dan media presentasinya. Seperti misalnya, bentuk video untuk kepentingan sinetron/
FTV dengan video mapping (seni).
Tahap penyuntingan (editing) video-video (stock) hasil syuting merupakan tahap akhir dalam
proses produksi. Video-video yang didapatkan dalam proses produksi kemudian dipilah, video
yang digunakan sebagai master atau video utama, dan video yang akan digunakan sebagai video
pelengkap. Setelah video diseleksi dan diurutkan sesuai dengan naskah, materi tayangan memiliki
pesan komunikasi, dan menghasilkan proses pemaknaan oleh penontonnya. Sentuhan terakhir
dalam proses penyuntingan adalah memperbaiki kualitas gambar apabila diperlukan. Tahap
pascaproduksi bisa dilakukan oleh videografer, ataupun dapat dilakukan oleh orang lain yang
berprofesi secara khusus sebagai editor video. Editor adalah tenaga kreatif yang memberi sentuhan
akhir pada sebuah produksi video. Editor memiliki insting dalam mengkombinasikan cuplikan
gambar-gambar bergerak, yang kemudian dikolaborasikan secara apik dengan audio, grafis, dan
sebagainya. Proses produksi ini pun bisa berlaku sama pada format produksi video eksploratif
seperti pada karya video seni. Walaupun tentu saja akan memiliki sentuhan dan instrumen yang
berbeda dalam praktik produksinya seperti yang dilakukan oleh Sembilan Matahari, pionir video
mapping di Indonesia.

Sembilan Matahari

Sembilan Matahari adalah sebuah creative studio berbasis di kota Bandung yang berdiri pada
tahun 2007 dengan Adi Panuntun dan Sony Budi Sasono sebagai founder dan head creative.
Saat ini, Sembilan Matahari didukung oleh sebuah tim yang masing-masing individunya
memiliki latar belakang edukasi dan minat yang berbeda namun saling berbagi sebuah
nilai kepercayaan yang sama untuk terus menerus menghasilkan karya seni dan berbagi
hasil karya tersebut kepada khalayak umum.
Sembilan Matahari merupakan pionir dalam eksplorasi video mapping di tanah air. Boleh
dibilang sampai saat ini belum ada pesaing satu pun di Indonesia. Video mapping yaitu
video metode baru yang menarik dalam evolusi seni visual.

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Video Indonesia

25

Dengan memanfaatkan proyeksi proyektor yang ditembakkan pada bidang yang tidak
umum, seperti fasad gedung, kendaraan, lantai, dan lainnya. Hasil proyeksi tersebut
dipetakan menggunakan teknologi khusus sehingga tampak presisi. Dengan memasukkan
animasi yang sesuai dengan obyek yang sudah dipresisikan, maka akan timbul ilusi 3D yang
menarik. Di samping video mapping, Sembilan Matahari juga mengembangkan metode
eksploratif seni video dengan medium lainnya, seperti 3D Hologram.
Karya yang diciptakan tidak hanya indah untuk dinikmati tapi juga harus memiliki makna
bagi para penikmatnya. Sembilan Matahari memfokuskan diri dalam menyuguhkan
Designed Film yaitu karya yang menggabungkan unsur kemajuan teknologi terkini
dengan seni yang mampu mengikutsertakan rasa dan emosi dari para audiens.
Tahun 2013 Sembilan Matahari mendapatkan penghargaan internasional, dalam perhelatan
MAPPING FESTIVAL GENEVA Visual Audio & Deviant Electronics 9th Edition. Bukan
hanya penghargaan saja yang bertaraf internasional, kini jaringan kliennya pun sudah
meluas hingga negara-negara Timur Tengah.
Sumber: http://www.infobdg.com/v2/blending-the-boundaries-a-video-mapping-documentary/

Pada era media baru, video dapat dibuat tanpa melewati tiga proses konvensional tahapan produksi.
Hal ini dimungkinkan oleh meningkatnya aksesibilitas teknologi alat video dan penggunaan
media baru.
Sebagai contoh kasus, ada karya video yang tidak melakukan proses syuting. Video seperti ini
hanya berupa kompilasi dan editing dari karya video yang sudah ada (reproduksi) yang kemudian
ditampilkan sebagai sebuah karya video yang baru. Contoh lainnya, ada pula proses produksi
sebuah karya video yang dilakukan oleh pelaku-pelaku utamanya namun tidak bertemu antara
satu sama lain secara langsung. Misalnya, dalam naskah karya video yang bercerita (story telling),
dibutuhkan pengambilan latar belakang tempat di dua negara berbeda. Proses syuting bisa
dilakukan oleh dua videografer di dua negara tersebut. Hal ini tentu saja bisa dilakukan dengan
teknologi informasi dan media yang ada saat ini. Aplikasi media daring seperti Dropbox dan
aplikasi pengarsipan data lainnya memudahkan materi hasil syuting untuk dikirim lintas batas
dan waktu. Pada tahap editing, akan timbul proses kolaborasi dari editor atau videografer antar
kedua negara tersebut, walaupun masing-masing memiliki tingkat keterampilan produksi atau
editing yang berbeda. Kolaborasi seperti ini dapat dijadikan sarana transfer pengetahuan dan
kemampuan. Inilah realitas yang ada dalam sebuah rantai nilai produksi karya video saat ini.
Adapun aktivitas pendukung dalam proses produksi, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan
penggunaan karya video tersebut secara hukum dan etika. Hal-hal hukum, seperti izin model
(model release), izin properti (property release), hak cipta, serta hak kekayaan intelektual (HKI).
HKI atau copyright, merupakan nilai fundamental dalam sebuah ekosistem industri dan ekonomi
kreatif. Selain melindungi videografer dengan payung hukum formal sebagai pemiliki ide dan
pencipta karya video, HKI juga memberikan hak pada videografer untuk mengelola karyanya
sebagai sebuah produk bernilai ekonomi.

26

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

A.3. PROSES DISTRIBUSI


Perkembangan teknologi informasi dan internet saat ini, telah mengubah secara radikal rantai
nilai distribusi. Prinsip utama dalam lingkup industri kreatif, produk dan jasa lebih bersifat
i-material. Pada satu dekade sebelumnya, model distribusi produk video hanya melalui stasiun
televisi, rumah produksi, ataupun biro periklanan. Namun sekarang ini pada praktiknya, peta
distribusi produk video sudah sangat terbuka luas dengan beragam alternatif. Oleh karena itu,
seorang videografer bisa saja melakukan aktivitas distribusinya sendiri atau berhubungan langsung
dengan pihak konsumen atau klien, yaitu dengan cara memangkas jalur distribusi konvensional.
Pola distribusi saat ini sudah semakin efektif dan efisien.
Distribusi berbasis media internet dapat dilihat dari dua sisi, yakni sebagai peluang dan tantangan.
Sebagai peluang, internet memungkinkan videografer untuk dapat leluasa mengembangkan
pasar atau customer segment-nya secara mandiri tanpa harus berada di bawah struktur sebuah
rumah produksi atau menunggu pesanan dari biro iklan dan stasiun televisi. Videografer bisa
saja membuat sebuah kanal sendiri misalnya di media sosial video sharing YouTube. Dengan hal
ini, seorang fotografer dapat memilih dan menyapa kelompok audiens-nya seusai target atau
segmentasi yang tepat menurut diri sendiri.

Layaria Multi Channel Network

Beranjak dari kepedulian akan semangat komunitas, yang dibalut dengan visi dan misi
yang kuat untuk pengembangan pengaryaan dan industri kreatif video. Layaria lahir
sebagai sebuah entitas baru sebagai bagain dari ekosistem ekonomi kreatif subsektor video
Indonesia. Layaria pada praktiknya berperan selain sebagai produser dan distributor karya
video. Bahkan lebih jauh lagi, menjadi motivator pengembangan industri kreatif video
tanah air. Hal tersebut menjadikan Layaria memiliki model bisnis yang cukup atraktif.
Selain atas dasar modal inovasi dan kreativitas, model bisnis alternatif tersebut didukung
oleh perkembangan teknologi informasi atau digital multimedia, sebagai kanal untuk
mengirimkan produk kepada pelanggan (customer segment)-nya.

Videografer harus menampilkan karyanya di


situs video sharing YouTube, dengan syarat telah
memiliki karya video yang berkesinambungan
dalam satu tema/judul minimal enam episode.
(WebseriesLayaria)

Layaria dapat diasosiasikan dengan talent agent atau management artist, yang berperan
dalam mencari videografer dan seniman potensial beserta karyanya, untuk kemudian
dikembangkan, dipromosikan (pemasaran), dan didistribusikan.
Layaria merupakan Multi Channel Network Youtube Pertama di Indonesia atau terkenal
dengan sebutan NETWORK yang kini yang bergerak sebagai wadah bagi para kreator Youtube
Indonesia untuk bersama-sama menciptakan, membangun, menciptakan atmosfir bisnis, dan
mendistribusikan karyanya melalui online video streaming via Youtube.

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Video Indonesia

27

Layaria menawarkan kesempatan kepada setiap kreator-kreatornya untuk saling bekerja


sama dalam mengembangkan (development), memproduksi (production), mempromosikan
(promotion), mendistribusikan (distribution), serta menjual dan memasarkannya (sales &
marketing) karya-karyanya.
Tidak hanya itu, Layaria bertujuan untuk meningkatkan kualitas video kreator-kreator,
meningkatkan kemampuan kreator kreator baru online video Indonesia, serta menjadi jembatan
antara brands dengan khalayak sesuai dengan target marketnya, melalui media online video.
Pada praktiknya, Layaria memiliki standardisasi sendiri untuk para videografer yang ingin
bergabung. Videografer harus menampilkan karyanya di situs video sharing YouTube,
dengan syarat telah memiliki karya video yang berkesenimbungan dalam satu tema/
judul minimal enam episode (webseries), target market jelas dan spesifik, dan kuat akan
nilai-nilai atau konten lokal sesuai dengan daerah asal pembuatan karya video tersebut.
Standardisasi ini dilakukan untuk mengerucutkan kelompok target pasar dengan isi dari
karya videografi itu sendiri.
Hal ini kemudian diakui sebagai sebuah differentiation dan positioning dengan bentuk
media mainstream yang menjadi distributor karya video lainnya. Di mana keutamaannya
di sini ialah sangat fokus terhadap target audiens atau kelompok pelanggan.
Melalui program Layaria Tancap, Layaria menjalani tugasnya sebagai motivator dalam
konteks edukatif. Program ini merupakan kegiatan nonton bareng layaknya layar tancap
tradisional untuk karya-karya video yang terhimpun dalam Layaria.
Selain sebagai ajang promosi Layaria, kegiatan ini juga bertujuan sebagai media edukasi
publik atau bahkan para videografernya sendiri mengenai segala aspek dalam industri
atau karya video, termasuk apresiasi dan pengarsipan yang berkaitan dengan regulasi Hak
Kekayaan Intelektual, aspek ekonomi atau bisnis dalam industri video pada media sosial
YouTube, dan isu-isu penting lainnya.
Pola pendapatan dari bisnis model Layaria, memiliki beberapa saluran. Mulai dari penggunaan
media YouTube, yaitu dalam bentuk profit sharing dari iklan yang ditampilkan per 1.000
penonton, ataupun iklan yang memang ditempelkan pada karya videonya itu sendiri secara
langsung. Dengan demikian, Layaria disini dapat diasosiasikan sebagai sebuah perusahaan
jasa periklanan yang menawarkan media dan karya video untuk para calon pengiklan.
Saat ini, kemajuan teknologi informasi dan dunia maya/internet sangat mempengaruhi
perkembangan sektor industri kreatif, terutama video yang sama-sama berbasis pada aspek
teknologi. Oleh karena itu, perkembangan teknologi informasi dan teknologi pendukung
lainnya perlu menjadi perhatian semua pihak yang berkepentingan. Di samping para pelaku
video, pemerintah sebagai lembaga pengayom pun turut memiliki andil penting.

28

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

Sebagai saluran distribusi berbasis media daring, Layaria memerlukan kekuatan, kapasitas,
dan kecepatan jaringan internet yang mendukung untuk mempublikasikan karya-karya
videonya. Sebagai catatan, kapasitas internet Indonesia masih berada di bawah negeri tetangga
Malaysia. Untuk mengatasi hal ini, perlu dilakukan kerjasama lintas sektor, termasuk
antar lembaga pemerintah. Artinya, bukan hanya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi
Kreatif saja, Kementerian Komunikasi dan Informasi juga perlu memiliki semangat yang
sama sesuai dengan koridor fungsi dan tugasnya masing-masing. Dalam bidang lainnya,
ada pula Kementerian Hukum dan HAM yang harus mendukung dalam usaha penerapan
HKI (Hak Kekayaan Intelektual) yang optimal terhadap karya-karya video dalam negeri,
di samping melakukan program edukasi kepada khalayak luas (audiens) di dalam negeri,
yang memang belum teredukasi secara baik menangani hal tersebut.

B. LINGKUNGAN PENGEMBANGAN KREATIVITAS (NURTURANCE ENVIRONMENT)


Pengembangan industri kreatif video harus dilakukan secara komprehensif. Dalam industri
ini, terdapat banyak elemen yang saling berkaitan dan memberikan manfaat atau nilai tambah.
Pengembangan ekosistem industri kreatif video tidak hanya berfokus pada konteks pendidikan
formal saja, namun juga pada aktivisme industri video ini (nonformal). Selain pada institusi seperti
perguruan tinggi, industri ini dapat terlihat dari praktik produksi dan apresiasi.
Selain itu, latar belakang definisi dan ruang lingkup subsektor ekonomi kreatif video Indonesia
merupakan acuan dalam menganalisis wilayah-wilayah pengembangan agar terarah dan memiliki
fokus yang jelas. Jika mengacu pada hal tersebut, aktivisme pengembangan subsektor ekonomi kreatif
video Indonesia memiliki tiga kategori pendekatan, sebagai berikut: (1) aktivisme komersial, yaitu
praktik pengaryaan video dengan tujuan utama kapitalisasi (bisnis); (2) aktivisme eksperimental,
yaitu praktik pengaryaan video yang berorientasi pada pengembangan bentuk (alat dan media)
karya baru dan eksplorasi seni video; (3) aktivisme dokumenter, praktik pengaryaan yang
berdasarkan pada nilai-nilai jurnalistik. Oleh karena itu, aktivisme pengembangan lingkungan
kreatif subsektor video akan mengacu pada ketiga kategori tersebut.

B.1. PENDIDIKAN
Pendidikan memiliki fungsi sebagai media belajar dan mengajar video dalam bentuk teori dan
praktik, serta sebagai laboratorium pengembangan. Ditemukannya inovasi alat (device), media
presentasi, konten dan teknik-teknik terbaru dalam seni video, menumbuhkan kategori-kategori
(genre) baru video.
Dalam institusi formal nasional, studi video sudah mulai ada di tingkat pendidikan menengah
yaitu di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). SMK yang memberikan pendidikan di bidang video
biasanya adalah SMK yang memiliki jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV), Penyiaran TV,
atau Multimedia. Selain diajarkan mengenai pengoperasian kamera, para siswa juga diajarkan
tahapan-tahapan dalam memproduksi video, sampai dengan pascaproduksi dengan menggunakan
perangkat lunak pada komputer.
Berbeda dengan pendidikan formal video di perguruan tinggi, video biasanya tergabung ke dalam
jurusan perfilman (sinematografi), broadcasting (televisi), dan sejenisnya. Beberapa perguruan

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Video Indonesia

29

tinggi yang membuka jurusan tersebut di Indonesia diantaranya adalah Institut Kesenian Jakarta,
Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Sekolah Tinggi Seni Bandung, International Design School
Jakarta, SAE Institute Jakarta, STMIK Amikom Yogyakarta, AKINDO Yogyakarta, STIKOM
Interstudi Jakarta, ATKI Indosiar Jakarta, FIKOM Universitas Padjadjarab Bandung, FIKOM
Universitas Dr.Moestopo Jakarta, dan FIKOM Universitas Atmajaya Yogyakarta. Peranan
pemerintah cukup besar, sebagai yang membentuk kebijakan kurikulum, dan akademisi maupun
praktisi sebagai tenaga pengajar.
Pendidikan nonformal, dapat dilakukan di beberapa tempat dalam format kursus ataupun melalui
komunitas, seperti Dapur Film Community (oleh Hanung Bramantyo, dkk.), Ruang Rupa, Forum
Lenteng, Reload Film Center (oleh Rudi Soedjarwo), International Design School Jakarta, Diklat
TVRI Jakarta, Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail Jakarta, atau di Broadcast Center Universitas
Indonesia Jakarta, Layaria, Storylab Bandung, dan sebagainya.
Jalur pendidikan informal juga tidak kalah penting. Proses belajar secara otodidak dapat dilakukan
melalui magang pada sebuah perusahaan ataupun bisnis jasa video. Peranan kalangan profesional
dan pelaku bisnis dalam menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang bersifat pendidikan video
ini cukup dominan, dibandingkan dengan peran entitas lainnya yang sudah cukup berperan
melalui pendidikan formal.
Dengan kehadiran media baru menjadi alternatif sarana untuk belajar otodidak melalui media
online. Salah satu media pembelajaran video di internet yang cukup baik adalah www.creativelive.
com. Di situs ini, kita dapat mengikuti kelas-kelas online secara gratis yang menghadirkan
instruktur-instruktur berkelas yang ada di industri video Amerika. Namun, kelas online samacam
ini belum ada di Indonesia.
Untuk mendukung kompetensi para calon pelaku industri video di Indonesia, dibutuhkan adanya
materi-materi studi video yang komprehensif. Tiga bidang utama yang perlu diajarkan dalam
proses studi ini adalah 1) pengetahuan teknis tentang video, 2) pengetahuan dasar penunjang/
pendukung ilmu video, serta 3) pengetahuan di bidang manajemen atau bisnis untuk industri
video, serta tambahan kombinasi dengan bidang keilmuan lainnya seperti jurnalistik dan seni
rupa. Pengetahuan di bidang manajemen dan softskill (kemampuan interaksi dengan orang lain)
juga diperlukan dalam industri video. Pengetahuan manajemen dibutuhkan untuk mengatur
bisnis video yang dijalankan oleh seorang videografer. Seorang videografer tidak hanya dituntut
untuk mampu membuat video, tetapi juga harus mampu mengatur jadwal, keuangan, sumber
daya, serta berinteraksi dengan orang lain. Beragam kemampuan tersebut diperlukan karena
videografer akan bertemu dengan banyak pihak seperti pelanggan atau klien, model, rekan kerja,
dan sebagainya.

B.2. APRESIASI
Di dalam siklus rantai nilai ekosistem subsektor ekonomi kreatif video, apresiasi merupakan
bagian dari lingkungan pengembangan (nurturance environment). Apresiasi merupakan bentuk
penghargaan dan literasi dari penonton (audiens) dan proses pengembangan bagi orang kreatif
kreator video (videografer) karena dalam apresiasi biasanya akan timbul feedback atau kritik
yang konstruktif. Aspek penting mengenai hak kekayaan intelektual (HKI) karya video juga
merupakan bentuk apreasiasi yang bersifat legal formal.

30

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

Literasi video merupakan kemampuan untuk memahami dan menilai karya video, yang juga
berfungsi sebagai bentuk kontrol mengenai isi dari karya video sehingga layak dipertontonkan
kepada khalayak luas atau kelompok spesifik. Individu maupun lembaga formal ataupun non
formal ikut berperan serta dalam literasi video. Literasi ini dapat kita kelompokkan menjadi dua
bagian, yaitu: Literasi Spesifik, yaitu para profesional, baik individu maupun dalam wadah
asosiasi; dan Literasi Umum, yaitu lembaga pendidikan formal yang secara khusus mendalami
atau mengkaji bidang video.
Dalam konteks apresiasi sebagai bentuk penghargaan dan literasi, karya video di tingkat nasional
maupun internasional, di antaranya:

OK.Video Ruang Rupa Jakarta, merupakan salah satu divisi dari Ruang Rupa, sebuah
organisasi seni rupa kontemporer yang didirikan pada 2000 oleh sekelompok seniman
di Jakarta yang giat mendorong kemajuan gagasan seni rupa dalam konteks urban dan
lingkup luas kebudayaan melalui pameran, festival, laboratorium seni rupa, lokakarya,
penelitian, serta penerbitan buku, majalah, dan jurnal. Selain menyelenggarakan festival
video dua tahunan OK. Video Jakarta International Video Festival, divisi ini juga
mengadakan lokakarya, produksi, pendataan, pendokumentasian, dan distribusi karya
video Indonesia.

Layaria Tancap, adalah webseries yang ditampilkan dalam format tradisional pertunjukan
layar tancap. Sebuah ajang pentas (festival) videografer lokal, dengan konten lokal yang kuat.

Video Musik Indonesia, merupakan ajang penganugerahan video klip musik terbaik
Indonesia.

AVA Digital Awards. Penghargaan ini diberikan kepada insan kreatif dan profesional
yang bertanggungjawab terhadap perencanaan, konsep, pengarahan (direction), desain, dan
produksi komunikasi digital. Kategori penghargaan meliputi kampanye digital, produksi
audio dan video, pengembangan website, interaksi media sosial, dan pemasaran mobile.
AVA Digital Awards diselenggarakan dan dijurikan oleh Association of Marketing and
Communication Professionals (AMCP). Ajang ini mulai diadakan di tahun 1994 dan
masih berlangsung hingga sekarang.

Videographer Awards. Ajang ini merupakan penghargaan di tingkat internasional yang


diselenggarakan oleh para profesional di bidang komunikasi untuk mengapresiasi bakatbakat individu dan perusahaan di bidang produksi video. Saat ini, Videographer Awards
telah berlangsung hingga tahun ke17.

Telly Awards. Ajang ini memberi apresiasi terhadap produksi video dan film-film terbaik,
web komersial yang inovatif, dan program serta iklan TV baik lokal maupun regional. Misi
yang diusung adalah untuk memperkuat komunitas seni visual dengan cara menginspirasi,
promosi, dan mendukung kreativitas. Telly Awards ke34 di tahun 2013 yang lalu telah
berhasil mengumpulkan 12.000 karya yang berasal dari 50 negara bagian dan lima benua.

Music Video Productions Association Awards. Ajang ini ditujukan untuk mengapresiasi
karya-karya video musik yang diproduksi oleh anggota-anggota dari MVPA. Kategori
yang diperebutkan cukup banyak yaitu 29 kategori.

Dalam industri video nasional, apresiasi baik berupa penghargaan (awards) kepada pelaku
kreatif (kreator video/videografer) maupun penghargaan secara materil, masih dinilai lemah.
Dalam konteks ini, peranan sebuah asosiasi profesi menjadi medium daya tawar dalam sebuah

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Video Indonesia

31

ekosistem industri terutama diperlukan pada saat videografer Indonesia harus berhadapan
dengan videografer mancanegara. Keberadaan asosiasi berperan sebagai benteng pertahanan
dalam sebuah persaingan industri di dalam lingkup ekonomi makro nasional maupun global.

C. PASAR (MARKET)
Masyarakat Indonesia sudah tercatat masuk dalam kategori tiga besar konsumsi internet di dunia.
Kultur masyarakat yang kurang dalam budaya membaca dan lebih gemar terhadap produk visual
mengakibatkan terjadinya gap antara permintaan dan ketersediaan pada pasar dalam negeri.
Saat ini, industri video tanah air masih bergantung pada industri penyerap mainstream seperti
industri periklanan dan stasiun televisi. Sedangkan kesadaran terhadap kehadiran media baru
atau media daring sebagai kanal alternatif untuk distribusi dan pemasaran oleh para pelaku bisnis
video masih sangatlah minim dan belum optimal.
Sama halnya dengan fotografi, video memiliki serapan pasar yang sangat luas dikarenakan sifat
produk akhirnya yang dapat kontekstual dengan beragam bidang industri lain. Dalam hal ini,
kelompok pasar yang ada menjadi terbagi dua kategori umum berdasarkan media presentasinya,
yaitu: (1) pasar spesifik (khusus), merupakan karya video yang ditujukan untuk kelompok
penonton yang tersegmentasi secara sempit, misalnya penonton genre video seni. Penonton kategori
ini biasanya memiliki latar belakang yang sama dengan referensi pengetahuan tertentu dalam
menginterpretasi suatu karya seni video yang cenderung eksploratif dan sulit untuk dinikmati
atau dimaknai oleh khalayak awam; dan (2) pasar massal (masif), merupakan kelompok pasar
acak yang bersifat umum, dan biasanya mengikuti karakter dari media presentasi yang bersifat
masif, seperti pada media massa broadcasting stasiun televisi.

D. PENGARSIPAN (ARCHIVING)
Salah satu indikator negara maju ialah memiliki aktivitas literasi yang baik seperti pengarsipan.
Perngarsipan merupakan usaha menyimpan dan mengelola kumpulan dokumentasi, yang
memiliki siklus sebagai berikut: (1) pengumpulan, yaitu aktivitas menginvetarisasi menyusun
dan mengamankannya; (2) restorasi, yaitu aktivitas mengelola dan memperbaiki ataupun
mengulang dokumentasi, yang akan menjadi materi arsip; (3) preservasi, merupakan aktivitas
mempersiapkan materi arsip yang sudah siap, hasil dari proses restorasi dokumen, untuk kemudian
dilakukan pengarsipan, ataupun justru untuk digunakan kembali sesuai kebutuhan; (4) akses
publik, aktivitas publik dalam memanfaatkan materi arsip hasil olah restorasi dokumentasi,
yang disiapkan untuk digunakan kembali sebelum kemudian diarsipkan kembali. Akses publik
tidak berlaku tetap atau menjadi keharusan karena ada juga sifat arsip yang rahasia, atau tidak
dapat diakses oleh publik.
Lembaga pemerintah yang melakukan pengarsipan adalah Arsip Nasional Republik Indonesia.
Selain itu, museum-museum kekinian juga turut memajang arsipnya melalui bentuk karya video,
dengan tujuan bukan hanya sekedar menyimpan, namun juga sebagai media presentasi aset-aset
museum. Bentuk karya video ini dapat dikolaborasikan dengan perangkat multimedia interaktif
lainnya. Oleh karena itu, video dapat berlaku pula sebagai alat cara pengarsipan.
Kemajuan teknologi informasi dan digitalisasi, turut mempengaruhi usaha pengarsipan kekinian.
Dalam era digital saat ini, pengarsipan dapat dilakukan dengan berbagai macam bentuk dan
cara. Karya-karya video kini dapat disimpan baik dalam bentuk fisik, seperti cakram (CD/DVD/
BlueRay), hard disk, ataupun chip memory card yang biasa menyatu dengan perangkat kamera

32

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

video. Media daring merupakan alternatif media baru dalam hal pengarsipan. Seorang videografer
dapat menjadikan video sebagai media penyimpan, seperti halnya promo karya. Dengan adanya
video daring, publik dapat mengakses secara leluasa. Hal ini menjadikan empat siklus pengarsipan
yang sebelumnya diutarakan, dapat dilakukan dalam satu media dan satu waktu secara bersamaan.
Banyak jasa penyedia media daring yang khusus menyediakan jasa pengarsipan virtual, seperti
halnya Dropbox. Ataupun dapat pula melalui layanan-layanan video sharing berbasis sosial media
yang ada di internet, seperti YouTube, Vimeo, Vines, Instagram dan lain-lain.
Dinamika umum yang terjadi pada subsektor video adalah sebagai berikut:

Minimnya festival membuat jasa videografer tidak terapresiasi dengan baik.

Tidak tersedia atau masih minimnya ruang tayang alternatif yang memadai bagi masyarakat
untuk mengakses karya/produk video.

Distribusi online menjadi alternatif akan tetapi lambannya jaringan dan infrastruktur
teknologi pendukung lainnya menjadi kendala tersendiri.

Pasar besar bagi videografer adalah media. Namun demikian, kebijakan media yang
tidak seragam dalam pemberian upah ataupun standar kompensasi yang digunakan,
sering menjadi kendala.

Masih belum optimalnya peran asosiasi nasional menyebabkan jasa videografer dinilai
sangat rendah oleh pasar meski permintaannya sangat tinggi.

Program-program pengarsipan yang dilakukan oleh lembaga pemerintah yang belum


jelas orentasinya dan publikasi cara pemanfaatannya kepada publik yang lemah. Sehingga
diperlukan pengarsipan yang terkelola dengan baik, dapat dikerjasamakan dengan asosiasi,
dan jelas bagaimana cara publik mengaksesnya.

Youtube dan media sosial video sharing lainnya melahirkan model bisnis tersendiri yang
baru dalam proses produksi video.

Pemanfaatan videografer daerah untuk kepentingan efisiensi ongkos produksi liputan


konten daerah dapat menjadi pertimbangan bagi industri stasiun televisi nasional.

Belum siapnya videografer daerah dalam standarisasi broadcasting yang sering tidak match
dalam memproduksi konten. Namun demikian, potensinya yang besar memerlukan
perhatian khusus dalam hal peningkatan sumber daya potensi di daerah.

Video mapping dan video seni eksploratif lainnya masih berupa sajian tontonan gratis.
Belum ditemukan formula bisnis yang tepat untuk dikomersialisasikan untuk kategori
pasar umum. Sedangkan potensi untuk itu bisa saja dilakukan, layaknya ajang pentas
sebuah seni pertunjukan atau bahkan seperti sinema (bioskop).

2.2 Peta dan Ruang lingkup Industri Video


2.2.1 Peta Industri Video
Pemetaan industri video dilakukan dengan menghubungkan industri utama (videografi), dengan
industri pendukung yang memberikan suplai (supply) ke pelaku industri utama (backward linkage),
dan pelaku industri yang memberikan permintaan (demand) oleh pelaku industri utama (forward
linkage) dalam rantai nilai ekosistem video.

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Video Indonesia

33

Pemetaan ini tidak dilakukan secara menyeluruh dan hanya mengambil beberapa contoh dari
aktivitas yang terjadi dalam industri video yang terkait dengan beberapa industri video lain. Hal
ini disebabkan karena industri video memiliki cakupan yang sangat luas dan kontekstual. Hampir
semua kategori industri dapat saja dihubungkan secara langsung maupun tidak langsung dengan
industri video. Penyederhanaan yang dilakukan dalam pemetaan pada proses ini dan dilakukan
untuk memudahkan keterkaitan antar sektor industri.

INDUSTRI UTAMA

INDUSTRI PENDUKUNG
FORWARD LINKAGE

Gambar 2-3 Peta Industri Subsektor Video

Industri
Periklanan
& Film

Industri
Periklanan
& Film

Industri Media:
-Stasiun TV
-Media Online

Industri Media:
-Stasiun TV
-Media Online

Perseorangan
dan Semua
Industri
yang Membutuhkan Jasa
Videografi

Perseorangan
dan Semua
Industri
yang Membutuhkan Jasa
Videografi

Pra-Produksi &
Produksi

Pasca
Produksi

Videografer

Videografer

Editing
Video

Videografer

Rumah
Produksi

Rumah
Produksi

Pengemasan

Rumah
Produksi
Agen
Stok Video

INDUSTRI PENDUKUNG
BACKWARD LINKAGE

Industri
Pendidikan
Videografi

Jasa
Transportasi

Industri IT

Industri
New Media

Agen
Model

Industri
Percetakan/
Rekaman

Industri
Percetakan/
Rekaman

Jasa Tata Rias


& Rambut

Industri
Audio/ Musik

Industri IT

PH Special Effect

Industri
Peralatan
Elektronik

PH
Sound Engineering

Merchandising

Jasa Penyewaan
Tata Lampu
Industri
Mode
Industri IT
Industri
Peralatan Video
KREASI

34

PRODUKSI

DISTRIBUSI

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

2.2.2 Ruang Lingkup Industri Video


Di dalam Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2009 yang diterbitkan oleh Badan
Pusat Statistik, yang termasuk ke dalam ruang lingkup subsektor video antara lain:
1. Kelompok 18202, yaitu reproduksi media rekaman film dan video;
2. Kelompok 59111, yaitu produksi film, video dan program televisi oleh Pemerintah;
3. Kelompok 59112, yaitu produksi film, video dan program televisi oleh swasta;
4. Kelompok 59121, yaitu pascaproduksi film, video, dan program televisi oleh Pemerintah;
5. Kelompok 59122, yaitu pascaproduksi film, video, dan program televisi oleh swasta;
6. Kelompok 59131, yaitu distribusi film, video, dan program televisi oleh Pemerintah;
7. Kelompok 59132, yaitu distribusi film, video, dan program televisi oleh swasta;
8. Kelompok 74909, yaitu jasa profesional, ilmiah dan teknik lainnya yang tidak dapat
diklasifikasikan di tempat lain. Kelompok ini mencakup usaha jasa profesional, ilmiah
dan teknik lainnnya yang tidak diklasifikasikan di tempat lain, seperti jasa konsultasi
ilmu pertanian (agronomist), konsultasi lingkungan, konsultasi teknik lain dan kegiatan
konsultan selain konsultan arsitek, teknik dan manajemen. Kelompok ini juga mencakup
kegiatan yang dilakukan oleh agen atau perwakilan atas nama perorangan yang biasa
terlibatkan dalam pembuatan gambar bergerak, produksi teater atau hiburan lainnya atau
atraksi olahraga dan penempatan buku, permainan (sandiwara, musik dan lain-lain), hasil
seni, fotografi dan lain-lain, dengan publisher, produser dan lain-lain;
9. Kelompok 85420, yaitu jasa pendidikan kebudayaan. Kelompok ini mencakup pengajaran
seni, drama, dan musik. Kegiatan pada kelompok ini dapat disebut dengan sekolah, studio,
kelas, dan lain-lain. Kegiatan ini, menyediakan pengajaran yang diatur secara formal,
terutama untuk hobi, rekreasi atau untuk tujuan pengembangan diri, tetapi pengajaran
tersebut tidak ditujukan untuk mendapatkan ijazah profesional, sarjana muda atau gelar
sarjana. Kelompok ini mencakup kegiatan guru piano dan pengajaran musik lainnya,
pengajaran seni, pengajaran dansa dan studio dansa, sekolah drama (bukan akademis),
sekolah seni rupa (bukan akademis), sekolah seni pertunjukan (bukan akademis), sekolah
fotografi (bukan yang bersifat komersial) dan lain-lain;
10. Kegiatan 9499, yaitu kegiatan organisasi keanggotaan lainnya yang tidak dapat
diklasifikasikan di tempat lain. Subgolongan ini mencakup perkumpulan atau asosiasi
untuk pencarian kegiatan kebudayaan atau rekreasi atau hobi seperti kelas foto.
Kesepuluh kelompok ini secara garis besar telah mewakili ruang lingkup subsektor video di
Indonesia untuk saat ini. Namun begitu, perlu dilakukan kajian lebih lanjut guna menyempurnakan
ruang lingkup dari subsektor ini.
Untuk itu, akan ditinjau ruang lingkup subsektor video yang diterapkan oleh PBB melalui UNDP
(United Nations Development Programme) dan UNCTAD (United Nations Conference on
Trade and Development), serta Pemerintahan UK. Laporan dari PBB dipilih karena penelitiannya
mencakup banyak negara, yaitu beberapa dari negara-negara anggotanya, sehingga hasil publikasinya
diharapkan dapat diadaptasi dengan baik oleh Indonesia. Laporan dari DCMS (Department for
Culture, Media, and Sport) UK dipilih karena bentuk industri kreatif Indonesia secara umum
diadaptasi dari sana.

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Video Indonesia

35

Di dalam Creative Industries Mapping Document 2001 yang dipublikasikan oleh DCMS UK,
bidang video termasuk ke dalam subsektor film, video, dan fotografi. Aktivitas utama dalam
subsektor ini adalah penulisan naskah, produksi, distribusi, dan pertunjukan. Aktivitas yang
berkaitan dengan subsektor film dan video di antaranya: music soundtrack, promosi, set design
building, katering, manufaktur perangkat/peralatan, rental video, fotografi, pencahayaan, sound
recording, desain kostum, penjualan hak distribusi film dan video, penyimpanan dan pengiriman
film dan tape, videos on demand, distribusi film digital, film websites, pascaproduksi dan special
effects, permainan komputer, multimedia, dan media digital. Industri-industri yang terkait dengan
subsektor ini antara lain: televisi, produksi film TV, musik, penerbitan, periklanan, media digital,
pertunjukan seni, merchandising, dan pelatihan.
Pemetaan ruang lingkup subsektor film, video dan fotografi menurut Standard Industrial
Classification untuk industri kreatif di UK meliputi: (1) reproduksi rekaman video; (2) kegiatankegiatan fotografi; (3) kegiatan produksi film dan gambar bergerak; (4) kegiatan pascaproduksi
gambar bergerak, video, dan televisi; (5) kegiatan distribusi gambar bergerak dan video; dan (6)
kegiatan proyeksi/pertunjukan gambar bergerak.
Dari kedua contoh pengelompokan ruang lingkup di atas, model yang dikeluarkan oleh PBB
dalam Creative Economy Report 2010 lebih mendekati dengan tujuan pengelompokan ruang
lingkup industri kreatif Indonesia subsektor video dan fotografi karena telah memisahkan bidang
video dengan perfilman. Sedangkan model dari DCMS UK masih menyatukan bidang video
dengan perfilman.
Ruang lingkup fotografi saat ini sudah cukup jelas dapat diterjemahkan oleh KBLI 2009, namun
tidak untuk ruang lingkup video. Pada KBLI 2009, bidang video masih tidak terpisahkan dengan
film. Untuk itu, perlu untuk mendefinisikan ruang lingkup video dan mencoba mengambil
pendekatan ruang lingkup video dari ruang lingkup fotografi dan film. Ruang lingkup video
adalah perluasan dari ruang lingkup fotografi dari bentuk hasil karyanya, dan penyempitan ruang
lingkup film dari sisi skala produksi, tujuan produksi, serta distribusinya.
Penyempitan ruang lingkup film yang termasuk ke dalam bidang video adalah sebagai berikut:

36

Skala produksi. Video umumnya hanya melibatkan individu (yaitu sebagai videografer)
atau tim kecil yang bertugas untuk membantu proses syuting. Jika produksi video sudah
melibatkan sutradara, penulis naskah, sinematografer, tata cahaya yang kompleks, desainer,
dan lain-lain, maka itu bukanlah ranah video, melainkan perfilman.

Tujuan produksi. Video dibuat dengan beragam tujuan, diantaranya: (1) mendokumentasikan
ragam kegiatan yang memiliki unsur jurnalistik untuk ragam kebutuhan seperti pernikahan,
event, biografi, dan video dokumentasi lainnya; (2) membuat karya dengan tujuan
komersial atau publikasi dan penyebaran informasi baik itu oleh individu, perusahaan,
atau organisasi seperti sinetron, video profil perusahaan, video tutorial, video stok (footage),
video iklan dan sebagainya (3) membuat karya seni dengan bentuk dan medium akhir
karya seni berupa video, seperti video mapping, video animasi, video musik, video seni
panggung, dan video seni lainnya.

Distribusi video dalam video dapat bersifat terbatas (hanya ditujukan kepada pemakai
jasa), seperti rumah produksi, stasiun televisi, dan biro iklan; atau dapat juga bersifat
terbuka untuk publik.

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

2.2.3 Model Bisnis di Industri Video


Pasar industri video secara umum memang sudah terbentuk dan tumbuh dengan baik, walaupun
rata-rata masyarakat cenderung lebih mengenal jasa video yang diasosiakan hanya dengan
pendokumentasian video untuk suatu event personal, seperti momen pernikahan, dan acara
seremonial lainnya. Namun demikian, apabila kita melihat peta ekosistem dan industri dari video,
selain diserap oleh industri mainstream seperti stasiun televisi dan periklanan, sebetulnya masih
sangat luas untuk digali potensi ekonominya. Banyak keterkaitan dengan sektor industri lainya,
baik secara langsung maupun tidak langsung. Apalagi berkenaan lagi-lagi dengan perkembangan
industri Teknologi Informasi. Melalui media daring model bisnis untuk video, dapat dikreasikan
dengan lebih leluasa untuk meningkatkan nilai ekonominya.
Model bisnis yang berkembang dalam industri video, berkaitan klasifikasi berdasarkan tujuan
umumnya, seperti yang telah dipaparkan pada sub-bab sebelumnya. Tentu saja model bisnis
video yang dijelaskan di sini, akan mengacu pada pengaryaan video yang bersifat profesional
karena bersifat industri. Maka dapat disimpulkan, model bisnis video ke dalam pendekatan
empat kategori umum berikut ini.
Gambar 2-4 Klasifikasi Berdasarkan Model Bisnis Video

Dari gambar pengkategorian model bisnis (Gambar 2-4), diperoleh sistem kompensasi (salary)
untuk masing-masing kategori model bisnis video tersebut.
Gambar 2-5 Klasifikasi Berdasarkan Sistem Kompensasi

BAB 2: Ekosistem dan Ruang Lingkup Industri Video Indonesia

37

Tabel 2-1 Institusi Model Bisnis Video

RANTAI NILAI
KREASI

INSTITUSI MODEL BISNIS


Self Agency.

PRODUKSI

Rumah Produksi, Self Agency.

DISTRIBUSI

Rumah Produksi Stasiun Televisi, Multi Channel Network, Biro Iklan,


Video Stock Agency.

SELF AGENCY
Dalam kategori Self Agency, dimaksudkan untuk jasa video yang dilakukan oleh kelompok kecil
orang dalam bentuk tim. Biasanya terdiri dari dua sampai dengan lima orang saja. Namun, ada
pula yang melakukannya hanya dengan seorang diri sebagai pekerja jasa video lepas (freelance).
Masyarakat secara umum mengenal kategori model bisnis ini, dalam bentuk jasa wedding
videography, dan jasa dokumentasi ceremonial event lainnya. Kecenderungan umum, biasanya
jasa video ceremonial event ini tergabung dalam satu paket dengan jasa fotografi.
Pemasaran untuk kategori model bisnis video ini sering bertumpu pada kepercayaan (trust), yang
kemudian akan berlanjut pada pola pemasaran World of Mouth Effect. Sedangkan pola kompensasi
yang didapatkan, kebanyakan menawarkan berdasarkan paket produk (product oriented). Namun
demikian, ada pula yang memberikan atau menambahkan harga atas dasar waktu (time based),
karena proses pengerjaan yang memakan waktu mulai dari tahapan praproduksi, produksi, dan
pascaproduksi (editing).

RUMAH PRODUKSI/ CREATIVE STUDIO


Seorang videografer yang berada dalam sebuah rumah produksi, dimaksudkan untuk mengkategorikan
jasa video dalam kesatuan unit yang cenderung lebih besar. Karena kebutuhan produksi karya
video yang berasal dari rumah produksi, biasanya akan lebih kompleks atau rumit proses
pengerjaannya. Seperti produksi video klip yang dipesan oleh industri musik, iklan televisi oleh
biro iklan, ataupun program televisi seperti sinetron untuk stasiun televisi.

VIDEO STOCK AGENCY


Bentuk bisnis video yang dilakukan dalam kategori ini ialah, mengelola dan menghimpun karya
video berupa stock shoot saja (video stock). Pelanggan kategori ini berasal dari agensi film atau biro
iklan, yang bertujuan untuk kepentingan penunjang karya film atau iklan. Biasanya cuplikan
video pendek ini akan menjadi footage melengkapi karya film atau iklan tersebut. Sehingga jika
melihat pola bisnis seperti pada paragraf sebelumnya, maka klasifikasi kompensasinya bisa saja
merangkum semua klasifikasi berdasarkan sistem kompensasi.

MULTICHANNEL NETWORK
Bentuk perusahaan atau bisnis karya video Layaria merupakan best practice dari model bisnis ini.
Model bisnis ini berkembang akibat dari kemunculan media baru. Praktiknya ialah menghimpun
karya video untuk kemudian dikembangkan lebih baik, mengelola proses distribusinya dan
membantu pemasarannya. Untuk media presentasinya itu sendiri merupakan video sharing seperti
YouTube. Bentuk kompensasinya bisa dikategorikan Product Oriented. Karena perusahaan
ini berbasis media daring, maka bagi hasil keuntungan diberikan atas dasar jumlah penonton
(subscribe) untuk karya video yang ditampilkan.

38

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

40

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

BAB 3
Kondisi Umum Video di
Indonesia

BAB 3: Kondisi Umum Video di Indonesia

41

3.1 Kontribusi Ekonomi Video


Industri video di tanah air belum semapan film dan fotografi, namun cenderung melebur secara
bersamaan dengan keduanya karena memang ada pada wilayah kerja dan karya akhir yang sama.
Maka, seperti diungkapkan sebelumnya, terjadi kesulitan dalam mengukur aspek ekonominya.
Memang pada realitasnya banyak sekali irisan dalam ruang lingkup produk visual dan gambar
bergerak. Video ada dalam sinema, industri periklanan, animasi, jurnalistik, dan sebagainya.
Diperlukan kriteria yang tegas dan jelas, yang mengacu pada ruang lingkup dan praktik video
secara definitif dalam kerangka ekonomi kreatif Indonesia, agar dapat dihitung secara benar nilai
ekonomis industri kreatifnya apabila bersifat tunggal.
Video tergabung dengan film dan fotografi dalam 15 subsektor lainnya, yang terbagi dalam dua
kelompok wilayah kerja struktural di dalam Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI
(Kemenparekraf), di mana subsektor video berada di bawah Dirjen Ekonomi Kreatif Berbasis
Media, Desain, dan Iptek, sedangkan film dan fotografi berada di bawah Dirjen Ekonomi Kreatif
Berbasis Seni dan Budaya.
Perkembangan video Indonesia memberikan dampak ekonomi yang semakin besar pada negara,
baik secara langsung maupun tidak. Hal ini menyebabkan penghitungan kontribusi ekonomi
dalam industri video dinilai cukup penting. Tujuan penghitungan ini adalah untuk melihat
seberapa besar potensi yang dimiliki industri video, sehingga dapat terus dikembangkan.
Kontribusi ekonomi dilihat pada empat aspek yaitu, berbasis produk domestik bruto (PDB);
berbasis ketenagakerjaan; berbasis aktivitas perusahaan; dan berbasis konsumsi rumah tangga.
Namun hingga saat ini penghitungan kontribusi ekonomi industri video masih digabungkan
dalam subsektor film, video, dan fotografi seperti yang tampak pada Tabel 3-1.
Tabel 3-1 Kontribusi Ekonomi Film, Video, dan Fotografi
INDIKATOR

SATUAN

2010

2011

2012

2013

RATA-RATA

1. BERBASIS PRODUK DOMESTIK BRUTO


a

Nilai Tambah
Subsektor (ADHB)*

Miliar
Rupiah

5,587.71

6,466.84

7,399.80

8,401.44

6,963.95

Kontribusi Nilai
Tambah Subsektor
terhadap Ekonomi
Kreatif (ADHB)*

Persen

1.18

1.23

1.28

1.31

1.25

Kontribusi Nilai
Tambah Subsektor
terhadap Total PDB
(ADHB)*

Persen

0.09

0.09

0.09

0.09

0.09

Pertumbuhan Nilai
Tambah Subsektor
(ADHK)**

Persen

7.74

6.82

6.27

6.94

56,937

60,006

62,495

63,755

60,798

2. BERBASIS KETENAGAKERJAAN
a

Jumlah Tenaga
Kerja Subsektor

42

Orang

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

INDIKATOR

SATUAN

2010

2011

2012

2013

RATA-RATA

Tingkat Partisipasi
Tenaga Kerja
terhadap
Ketenagakerjaan
Sektor Ekonomi
Kreatif

Persen

0.50

0.51

0.53

0.54

0.52

Tingkat Partisipasi
Tenaga Kerja
terhadap
Ketenagakerjaan
Nasional

Persen

0.05

0.05

0.05

0.05

0.05

Pertumbuhan
Jumlah Tenaga
Kerja Subsektor

Persen

5.39

4.15

2.02

3.85

Produktivitas
Tenaga Kerja
Subsektor

Ribu
Rupiah/
Pekerja
Pertahun

50,819

52,159

53,787

56,211

53,244

27,239

28,155

28,992

29,785

28,543

0.52

0.53

0.54

0.55

0.53

0.05

0.05

0.05

0.05

3. BERBASIS AKTIVITAS PERUSAHAAN


a

Jumlah Perusahaan
Subsektor

Perusahaan

Kontribusi Jumlah
Perusahaan
terhadap Jumlah
Perusahaan
Ekonomi Kreatif

Persen

Kontribusi Jumlah
Perusahaan
terhadap Total
Usaha

Persen

Pertumbuhan
Jumlah Perusahaan

Persen

3.36

2.97

2.74

3.02

Nilai Ekspor
Subsektor

Juta
Rupiah

595,839.00

596,302.39

612,306.27

639,438.51

610,971.54

Kontribusi Ekspor
Subsektor terhadap
Ekspor Sektor
Ekonomi Kreatif

Persen

0.62

0.57

0.56

0.54

0.57

Kontribusi Ekspor
Subsektor terhadap
Total Ekspor

Persen

0.04

0.03

0.03

0.03

0.03

Pertumbuhan
Ekspor Subsektor

Persen

0.08

2.68

4.43

2.40

1,052,832.32

1,173,625.13

1,331,063.50

1,116,959.49

4. BERBASIS KONSUMSI RUMAH TANGGA


a

Nilai Konsumsi
Rumah Tangga
Subsektor

Juta
Rupiah

BAB 3: Kondisi Umum Video di Indonesia

910,317.00

43

INDIKATOR

SATUAN

2010

2011

2012

2013

RATA-RATA

Kontribusi
Konsumsi Rumah
Tangga Subsektor
terhadap Konsumsi
Sektor Ekonomi
Kreatif

Persen

0.14

0.15

0.15

0.15

0.15

Kontribusi
Konsumsi Rumah
Tangga terhadap
Total Konsumsi
Rumah Tangga

Persen

0.02

0.03

0.03

0.03

0.03

Pertumbuhan
Konsumsi Rumah
Tangga

Persen

15.66

11.47

13.41

13.51

*ADHB = Atas Dasar Harga Berlaku **ADHK = Atas Dasar Harga Konstan

3.1.1 Berbasis Produk Domestik Bruto (PDB)


Gambar 3-1 Diagram Nilai Tambah Bruto (NTB) Ekonomi Kreatif Indonesia Subsektor Film, Video, dan Fotografi.

Sumber: Badan Pusat Statistik 2013, diolah

44

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

Berdasarkan data yang diperoleh oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2013, kelompok industri
kreatif dalam basis MDI, kontribusi terhadap ekonominya boleh dibilang cukup baik. Dalam
Produk Domestik Bruto sejauh ini kelompok industri fesyen, penerbitan dan percetakan, serta
desain yang masing-masing memiliki rata-rata NTB ADHK sebesar 57.687,4 miliar rupiah,
18.586,1 miliar rupiah, dan 9.747,8 miliar rupiah.
Subsektor video sendiri seperti yang tertera dalam Gambar 3.1, bersama subsektor film dan fotografi
menyumbang 1% untuk kontribusinya terhadap PDB industri kreatif pada 2013. Namun perhitungan
ini masih mengacu pada Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KLBI) yang dirasa masih
terbatas dalam ruang lingkup definisi maupun praktik subsektor industri kreatifnya, utamanya video.
Sampai saat ini belum ada data yang sangat spesifik menghitung kontribusi ekonomi subsektor video.
Adapun penjelasan mengenai data statistik yang didapat mengacu pada pemahaman umum tentang
suatu industri, yaitu perhitungan produk akhir yang sudah sampai ke tangan konsumen. Namun,
sebetulnya, seperti yang kita ketahui sebelumnya, bidang video itu sendiri cenderung memiliki nilai
yang cukup lumayan yang tidak terhitung dengan baik nilai ekonominya karena cakupan kerjanya
yang luas, utamanya dalam aspek jasa. Misalkan saja jasa pembuatan video komersial, seperti iklan
televisi, video company profile, rumah produksi, dan sebagainya. Jadi, angka yang tertera pada data
statistik yang ada saat ini belum mampu menghitung secara jelas kontribusi ekonomi subsektor
video secara spesifik. Atau, dengan kata lain, angka yang tertera pada data statistik yang ada saat
ini masih perkiraan kasar. Di masa depan, untuk mengkuantifikasi kontribusi ekonomi industri
kreatif yang berbasis jasa, termasuk subsektor video, diperlukan metode atau formula yang tepat.

3.1.2 Berbasis Ketenagakerjaan


Gambar 3-2 : Diagram Ketenagakerjaan Ekonomi Kreatif Indonesia Subsektor Film, Video, dan Fotografi.

Sumber: Badan Pusat Statistik 2013, diolah

BAB 3: Kondisi Umum Video di Indonesia

45

Subsektor film, video, dan fotografi menyerap tenaga kerja sebesar 0,54% yakni sejumlah 63.755
orang, dengan laju pertumbuhan per tahun semenjak 20102013 3,85%. Angka tersebut sangat
kecil apabila kita mengacu pada serapan ketenagakerjaan dalam industri kreatif, bahkan sangat
jauh apabila mengacu pada lingkup ketenagakerjaan secara umum tingkat nasional. Ini bisa saja
disebabkan oleh perhitungan para pelaku industri subsektor ini sebagai jasa atau profesi perorangan,
seperti filmmaker, videografer, dan fotografer. Akan tetapi angka yang tertera di sini pun terbilang
masih sangat kasar, mengingat pada kenyataannya cakupan industri film, video, dan fotografi
ini memiliki irisan yang cukup banyak, utamanya dengan subsektor industri kreatif lainnya.

3.1.3 Berbasis Aktivitas Perusahaan


Gambar 3-3 : Diagram Aktivitas Perusahaan Ekonomi Kreatif Indonesia Subsektor Film, Video, dan Fotografi.
KONTRIBUSI TERHADAP TOTAL UNIT USAHA INDUSTRI KREATIF (2013)
Riset & Pengembangan, 0.04%
Arsitektur, 0.07%
Periklanan, 0.05%
Seni Rupa, 0.10%
Desain, 0.52%
Kerajinan,
19.86%
Kuliner,
56.07%

Mode,
20.44%

Film, Video, & Fotografi, 0.55%


Permainan Interaktif, 0.14%
Musik, 0.30%
Seni Pertunjukan, 0.45%

JUMLAH UNIT USAHA (2013)

29.785
RATA-RATA PERTUMBUHAN UNIT

Penerbitan & Percetakan, 1.02%


Teknologi Informasi, 0.16%
Radio & Televisi, 0.23%

USAHA (2010-2013)

3,02%
Sumber: Badan Pusat Statistik 2013, diolah

Pengelompokan menjadi satu subsektor antara film, video, dan fotografi di satu sisi merepresentasikan
pelaku bisnis yang secara umum menjadi penyedia jasa dan produk ketiga bidang tersebut.
Bahkan ada juga yang menyatukannya sekaligus dengan jasa atau produk animasi dan desain
komunikasi visual (grafis). Selama rentang waktu tahun 20102013 jumlah perusahaan di
subsektor ini terus meningkat dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 3,02%. Hal ini sekaligus
menjadi indikasi daya serap pasar yang turut meningkat. Tercatat pada 2013 jumlah unit usaha
subsektor ini sejumlah 29.785.

46

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

3.1.4 Berbasis Konsumsi Rumah Tangga


Gambar 3-4 : Diagram Konsumsi Rumah Tangga Ekonomi Kreatif Indonesia Subsektor Film, Video, dan Fotografi

.
Sumber: Badan Pusat Statistik 2013, diolah

Berdasarkan gambar di atas konsumsi untuk subsektor ini memberikan kontribusi ekonomi
sebesar 13,5 % atau sejumlah Rp1,33 triliun per tahun pada 2013. Urutannya ke-14 dari 15
subsektor ekonomi kreatif lainnya. Rata-rata pertumbuhannya terhadap pengembangan konsumsi
ekonomi kreatif secara keseluruhan adalah 0,15%. Dalam konteks konsumsi rumah tangga ini
pun sama dengan hasil data sebelumnya, angka yang ada adalah perkiraan akibat keterbatasan
ruang lingkup industri dalam KLBI yang ada saat ini.

Sampai saat ini belum ada data yang spesifik


menghitung kontribusi ekonomi subsektor
video

BAB 3: Kondisi Umum Video di Indonesia

47

3.1.5 Berbasis Nilai Ekspor


Gambar 3-5 : Neraca Perdagangan Ekspor Impor Ekonomi Kreatif Indonesia Subsektor Film, Video, dan Fotografi.

Sumber: Badan Pusat Statistik 2013

Ekonomi kreatif dianggap memiliki fungsi dan cara baru dalam mengembangkan peran dan posisi
suatu negara di kancah global. Ekonomi kreatif juga sering dikaitkan dengan istilah softpower,
yang memiliki arti aktivitas ekspor untuk sesuatu yang bersifat imaterial. Hal ini berarti sejauh
mana suatu negara dapat menularkan kebudayaan beserta aktivitas penyertanya terhadap negara
lainnya tanpa pemaksaan. Maka, bentuk-bentuk softpower bisa menjadi alat pemasaran yang
efektif dan efisien untuk suatu negara. Tentu ini bukan berarti tidak ada transaksi material yang
dipertukarkan/diperjualbelikan. Sebaliknya, saat tujuan softpower ini berhasil, secara otomatis
saat terjadi sebuah transaksi ekonomi calon konsumen sudah pada kondisi pengetahuan brand
awareness yang baik.
Kita tengok bagaimana industri musik Korea dan Jepang berhasil menginvasi pasar dalam negeri
bahkan dunia. Isitilah K-Pop maupun K-Movie menjadi begitu akrab di kalangan masyarakat
kita saat ini. Segala sesuatu yang berbau Korea pun dikonsumsi. Apa yang dilakukan Korea
merupakan kerja sistematis yang terintegrasi di dalam negeri; bukan hanya gerakan industri
musiknya saja, melainkan juga semua bidang atau subsektor industri dalam negeri yang bersatu
padu membangun pasar dunia, dengan softpower produk budaya dan kreativitas yang menjadi
ujung tombak mereka dalam menembus pasar mancanegara.

48

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

Berdasarkan Gambar 3.5 terlihat jelas perbedaan yang cukup tinggi dalam persentase antara
pertumbuhan ekspor dan impor Indonesia. Rata-rata setiap tahunnya praktik impor dalam
subsektor ini tumbuh 16,3% sedangkan ekspor 2,4%. Hal ini memang beralasan dengan
realitas yang ada saat ini, utamanya dalam produk gambar bergerak seperti film (sinema) dan
video. Produk impor subsektor ini lebih banyak terlihat dibandingkan dengan produk ekspor
kita. Namun, sesungguhnya geliat ekspor pada subsektor ini beberapa tahun belakangan sudah
menunjukan sinyal yang positif. Apalagi dengan kehadiran format media baru seperti yang telah
diulas sebelumnya, di mana akses distribusi sudah menjadi begitu murah dan mudah. Di masa
depan, aktivitas ekspor subsektor ini harus kita usahakan berkembang secara lebih signifikan.

3.2 Kebijakan Pengembangan Video


Dinamika dalam usaha mengembangkan subsektor video tidak terlepas dari sisi kebijakan
(peraturan), yang juga memiliki andil untuk hal tersebut. Analisis kebijakan yang perlu ditinjau
atau dikembangkan dalam subsektor video ini akan diklasifikasikan mengacu pada pemahaman
rantai nilai ekosistem subsektor video yang telah dipaparkan sebelumnya, dan juga resume dari
hasil FGD yang sudah dilakukan.

A. KEBIJAKAN KEPROFESIAN (VIDEOGRAFER)


Diperlukan perlindungan keprofesian untuk videografer, sebagai bentuk peningkatan apresiasi
pasar atau publik terhadap daya tawar dari jasa seorang videografer (pengarya video). Salah satu
tindakan riilnya di sini, yaitu pemerintah dapat mendorong asosiasi keprofesiaan di bidang video
ini untuk membuat sertifikasi yang memiliki kekuatan daya tawar terhadap industri penyerap.
Khususnya saat ini ialah apabila videografer lokal harus bersaing dengan videografer asing yang
turut memasarkan jasa atau profesinya di Indonesia.

B. KEBIJAKAN AKSES TEKNOLOGI


Dengan adanya fenomena media baru sebagai jalur distibusi karya video terhadap pasar, maka
penguatan teknologi pendukung menjadi substansial. Tujuannya adalah penguatan akses teknologi
itu sendiri, di mana diperlukan koordinasi lintas sektoral dengan lembaga pemerintah lainnya,
misalkan Kementerian Komunikasi dan Informasi. Harus ada regulasi yang dapat menjamin
kebutuhan pengembangan industri agar dapat dipenuhi oleh pihak-pihak terkait.

C. KEBIJAKAN INDUSTRI/BISNIS
Pemerintah harus mengupayakan diri untuk mampu mengatasi hal-hal yang menjadi hambatan
para videografer dalam konteks industri/bisnis. Dalam hal ini, pemerintah dapat berperan sebagai
perangsang pasar dengan menciptakan hubungan antara industri/bisnis yang memerlukan jasa
atau produk video. Misalnya, pemerintah dapat menyediakan sentra data nasional (data base)
potensi video tanah air, yang dapat memberikan akses bagi para pengguna jasa dan produk video
untuk memilih sesuai kebutuhannya.

D. KEBIJAKAN DISTRIBUSI/PEMASARAN (RUANG TAYANG)


Diperlukan kebijakan yang mendukung pengembangan media distribusi dalam negeri, seperti
memperbanyak ruang tayang di daerah-daerah potensial. Distribusi dalam bentuk ruang tayang
itu sendiri dapat bermanfaat dalam dua hal. Pertama, berfungsi dalam nurturing process, dan
kedua sebagai infrastruktur jaringan pemasaran di mana para videografer dengan produknya
dapat bertemu dengan pengguna jasa dan produk video dalam satu medium khusus.

BAB 3: Kondisi Umum Video di Indonesia

49

E. KEBIJAKAN PENDIDIKAN
Perlunya kebijakan terkait upaya aktualisasi kurikulum video pada intitusi pendidikan kita.
Apalagi industri video kian hari kian luas cakupannya dan semakin dinamis.

F. KEBIJAKAN ISI (CONTENT)


Berlimpahnya sumber daya isi (content) dalam negeri untuk materi karya video, baik bersumber
dari warisan budaya Nusantara, maupun fenomena-fenomena sosial di tengah kehidupan
berbangsa dan bernegara kita saat ini. Harus pula dipahami bersama bahwa produk atau karya
video mampu menjadi alat propaganda atau investasi aset tidak tampak negara, untuk banyak
kepentingan melalui karya video, misal saja untuk mendukung industri pariwisata. Maka, sudah
sepatutnya pemerintah memberikan bantuan ataupun regulasi yang memudahkan dan menjamin
para videografer mulai dari mendapatkan izin, jaminan, dan perlindungan dari pungutan liar,
dan sebagainya, minimal selama produsen video tersebut menggunakan materi sumber daya
lokal dalam negeri.
Adapun sasaran utama dalam konteks pengembangan kebijakan dari subsektor video ini, ialah
terciptanya iklim industri kondusif dalam negeri, misalnya agar videografer lokal mampu
menghadapi arena pasar bebas ASEAN 2015 dan konteks global lainnya melalui kerja kolaboratif
antar pemerintah, asosiasi profesi, dunia pendidikan, dan komunitas. Membenahi regulasi, sekaligus
meningkatkan kesadaran pemangku kebijakan, utamanya berkaitan dengan HAKI dan bantuan
pengembangan pemasaran pelaku industri dalam negeri, agar mampu berdaya saing di kancah global.

3.3 Struktur Pasar Video


Dalam konteks persaingan pasar industri video berada dalam pasar sempurna, di mana kompetitor
cukup banyak, produk/jasa bersifat homogen, pasar cukup sensitif dengan penawaran harga,
dan mudah untuk masuk dan keluar dari pasar. Kondisi pasar sempurna seperti ini memiliki
konsekuensi terhadap apresiasi pasar terhadap harga, karena posisi tawar konsumen yang cukup
kuat. Apalagi konsumen dalam negeri sendiri cenderung kurang apresiatif terhadap jasa ataupun
produk video. Di masa depan dibutuhkan daya inovasi dan kreativitas dari para produsen produk
dan jasa video yang cukup kuat.
Seperti halnya dalam bentuk jasa video komersial, di mana industri-industri besar dan mapan
(mainstream) seperti biro periklanan yang kerap kali menggunakan produk video. Mereka rupanya
lebih percaya diri dengan menggunakan jasa videografer ataupun produk video yang berasal dari
luar negeri seperti Singapura dan Thailand. Ironisnya, banyak perusahaan maupun individu jasa
video memposisikan perusahaan mereka di Singapura untuk menangkap klien dari Indonesia.
Pada kenyataannya, dari segi infrastruktur dan ekosistem, industri video tanah air memang masih
perlu mendapat perhatian khusus dari semua pemangku kepentingan.
Pada praktiknya, payung organisasi/perusahaan bisnis untuk subsektor video biasanya beririsan
atau tergabung dengan bidang film (sinema), audio, animasi, ataupun bidang kreatif lainnya.
Jarang sekali penyedia jasa video secara spesifik membatasi wilayah produk dan jasa bisnisnya
untuk video saja. Jadi, untuk menghitung berapa banyak jumlah pelaku usaha video, dan seberapa
jauh kontribusi ekonominya, diperlukan penghitungan detail yang mengacu pada ruang lingkup
industri secara definitif, agar tidak bias dengan bidang dan jasa produk serupa lainnya. Rata-rata
umumnya penyedia jasa dan produk video di Indonesia berada dalam bentuk model bisnis rumah

50

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

produksi (PH) atau creative agency, dan ini pun hanya terkonsetrasi di kota-kota besar dengan
tingkat permintaannya yang tinggi.
Adapun pola persaingan bisnis dalam industri video memiliki kekhasannya tersendiri di mana
antar pelaku dalam industrinya cukup cair, persaingan tidak terlalu tajam, dan bahkan bersifat
seperti layaknya pola hubungan dalam sebuah komunitas. Namun pola hubungan seperti
ini terkadang tidak menjadikan hubungan antar pelaku industri video solid, terutama saat
berhadapan dengan kelompok pelanggan atau klien, misalnya yang tercakup dalam industri
penyerap produk dan jasa video paling besar dalam negeri, yaitu industri broadcasting (TV)
dan periklanan. Namun, sayangnya, justru kedua bidang tersebut kurang memiliki daya
konstruktif terhadap industri video, khususnya dalam hal standardisasi kelayakan kompensasi
pendapatan, sampai dengan ruang kreativitas videografer yang ditumpulkan. Misalnya saja,
saat ini mekanisme kompensasi bulanan yang diterapkan oleh biro iklan layaknya pegawai
regular, dan kurang baiknya standard kualitas yang diminta oleh stasiun televis. Hal tersebut
biasanya disebabkan oleh sifat pragmatis untuk semata-mata mencari keuntungan. Maka, para
pemangku kepentingan industri video tanah air, harus memiliki semangat bersama berupa
idealisme, visi, dan misi untuk saling menumbuhkembangkan dalam ekosistem industri video ini.

3.4 Daya Saing Video


Dari Gambar 3.6 kita dapat melihat salah satu variabel daya saing subsektor video yang paling
lemah, yaitu aspek pembiayaan dan kelembagaan (nilai 2,5 dan 2,6). Dari segi pembiayaan
memang terdapat hambatan karena belum ada institusi keuangan formal seperti bank yang
mau menjamin investasi (pinjaman) dengan jaminan sebuah produk kreatif. Kalaupun ada,
pembiayaan bergantung pada kategori ruang lingkup tujuan umumnya video-nya. Pembuatan
video komersial atau dokumenter tidak akan terlalu kesulitan untuk mencari sumber pendanaan,
karena ada permintaan dari klien. Namun, untuk video seni dan media baru, selain bersumber
dari donatur (funding) juga membutuhkan modal awal yang bersumber dari pendanaan secara
mandiri (self-funding).
Gambar 3-6 : Matrix Daya Saing Subsektor Video

BAB 3: Kondisi Umum Video di Indonesia

51

Aspek kelembagaan sendiri masih lemah karena kurangnya regulasi yang mampu mendukung
keberlangsungan aktivitas pencipaan video. Di antaranya, lemahnya perlindungan HKI, perlindungan
profesi dari asosiasi dan lembaga pemerintah yang menaunginya, kebijakan pembiayaan, dan
juga kemudahan proses produksi seperti perizinan dan jumlah ruang tayang di lokasi umum,
merupakan kendala utama yang ada dalam aspek kelembagaan.
Aspek pemasaran memiliki nilai serupa dengan infrastruktur teknologi dan sumber pendukung
(nilai, 3). Pada praktiknya, ketiga aspek ini memang berkaitan, apalagi industri video di era
media baru ini yang sangat bertumpu kepada kesiapan infrastruktur teknologi informasi di mana
distribusi dan pemasaran (marketing) berbasis web aplikasi video sharing seperti YouTube atau
Vimeo. Kecepatan dan kuota Internet nasional menjadi keluhan yang sering terungkap dari para
praktisi dalam industri video ini.
Aspek sumber daya kreatif dan industri memiliki nilai yang paling baik dalam perannya membantu
daya saing subsektor video ini (nilai, 4,05 dan 4,1). Kedua aspek ini pun sama-sama berkaitan.
Sumber daya kreatif (orang kreatif) dalam negeri cukup mampu bersaing secara global, bahkan
sudah banyak karya video Indonesia diakui dan diserap oleh industri mancanegara. Akibatnya,
banyak unit usaha dan wirausahawan kreatif video bermunculan dengan berbagai macam kompetensi
dan ragam karya yang semakin inovatif dan eksploratif, seperti lahirnya tren video mapping dan
web series di tanah air, yang kemudian turut merangsang pengembangan pasar video itu sendiri.

3.5 Potensi dan Permasalahan Pengembangan Video


Dalam usaha pengembangan subsektor video, perlu terlebih dahulu dipahami aspek potensi dan
permasalahan yang kelak menjadi kerangka kerja sistematis pengembangan subsektor video ke
depan.
Identifikasi potensi dan permasalahan subsektor video akan mengacu pada tujuh pilar pengembangan
ekonomi kreatif Indonesia, yang akan diuraikan dalam bentuk tabel sebagai berikut:
Tabel 3-2

NO

52

Potensi dan Permasalahan Pengembangan Video


PERMASALAHAN
(Tantangan, Hambatan, Kelemahan, Ancaman)

POTENSI

SUMBER DAYA KREATIF

Antusiasme masyarakat terutama di


daerah (selain kota besar) yang tinggi,
dalam basis komunitas video yang
mendukung nurturing environment
video cukup baik untuk pengembangan
ekosistem dan industri video secara
keseluruhan.

Belum terjadinya pemerataan untuk nurturing


environment, utamanya di daerah-daerah kota
kecil, pedesaan, atau wilayah terpencil.

Serapan industri pendukung yang cukup


banyak. Dan yang paling besar ada pada
industri broadcasting (stasiun televisi)
dan periklanan.

Lemahnya pengetahuan pihak terkait mengenai


penyusunan kurikulum tingkat nasional yang formal
untuk pengembangan lembaga pendidikan video.

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

NO

POTENSI

Sudah mulai tumbuh dan banyak


videografer Indonesia yang berkarya di
kancah global, khususnya dalam kategori
video seni.

SUMBER DAYA PENDUKUNG

Budaya masyarakat Indonesia yang


cenderung akrab dengan budaya
visual memberikan peluang untuk
pengembangan pasar video dalam
negeri.

BAB 3: Kondisi Umum Video di Indonesia

PERMASALAHAN
(Tantangan, Hambatan, Kelemahan, Ancaman)
3

Pendidikan yang menitikberatkan pada nilai


kreatifitas dalam karya video belum menjadi
orientasi para kurikulum yang ada saat ini, namun
masih pada batas memenuhi kebutuhan pasar/
industri.

Praktisi belum dilibatkan secara aktif dalam


penyusunan kurikulum.

Praktisi belum dilibatkan secara aktif dalam proses


belajar-mengajar.

Program beasiswa nasional oleh pemerintah


maupun lembaga donor lainnya, yang ada dan
tersebar saat ini, masih sedikit sekali yang
mengakomodir bidang seni, utamanya video.

Pemahaman mengenai konsep media baru (new


media) yang masih sedikit di kalangan videografer.
Para pelaku video terbatas eksplorasi dan
kreatifitasnya, karena terbatas pada saluran media
konvensional yang bersifat pabrikasi.

Ruang eksplorasi kreatifitas proses ideasi dan


berkarya masih terbatas, akibat serapan industri
yang kurang sehat

Daya tawar yang lemah terhadap industri pelanggan


seperti stasiun televisi dan biro iklan, misalkan,
untuk pemenuhan sinetron yang terlalu didominasi
oleh kepentingan keuntungan, yang dilakukan
dengan menurunkan biaya produksi sehingga
mengorbankan kulitas kreasi videografernya.

10

Lemahnya perlindungan dalam negeri terhadap


videografer dalam negeri saat bersaing dengan
videografer luar negeri.

Aktivitas pengarsipan yang masih lemah akibat


budaya literasi masyarakat kita yang masih rendah.

Belum adanya asosiasi profesi, ataupun sejenisnya,


yang memiliki peran sebagai analisator mengenai
tren perkembangan industri, pasar, teknologi,
dan media baru sebagai perangsang ide kreasi
videografer.

Pemanfaatan arsip dirasa masih kurang maksimal


dilakukan oleh para praktisi maupun publik secara
umum. Ini pun akibat lemahnya usaha untuk
melakukan pengarsipan itu sendiri.

53

NO
3

INDUSTRI

Karakter kreatif dan eksploratif (usaha


pengembangan) sudah ada pada diri para
videografer Indonesia.

Dinamika dalam industri video berkaitan dengan


pesatnya perkembangan teknologi pendukung,
dan media pencitra (display)-nya. Harus diimbangi
dengan daya inovasi dan kreatifitas yang cepat pula
dari para produsen video itu sendiri.

Dengan kemunculan teknologi


pendukung media baru, dan
perkembangan yang pesat dalam bidang
teknologi informasi. Memungkinkan
kolaborasi karya video secara global.

Pemerataan sebaran pengguna jasa dan produk


video yang selama ini masih terpusat di ibukota.
Namun potensi daerah juga harus dimanfaatkan
khususnya apabila audiens dari karya video
tersebut bersifat lokal.

Media baru mampu mengubah peta


ekosistem dan peta industri, yang
sekaligus menjadi potensi dan tantangan
untuk mengembangkan praktik ekonomi
bidang video.

Kolaborasi masih lemah. Daya tawar videografer


dengan industri yang menyerap masih belum
seimbang.

Beragam dan semaraknya konten lokal


yang berbasis pada produk budaya
maupun pariwisata nusantara sebagai
bahan baku ide/konsep karya video.

Indonesia memiliki lingkungan yang


mendukung untuk meciptakan karya
kreatif, sehingga secara kualitas karya
video Indonesia mampu bersaing dalam
lingkup global, utamanya di wilayah Asia.

PEMBIAYAAN

Crowd-funding dan jenis pembiyaan


sejenisnya merupakan pola sumber
pendanaan yang mulai berkembang
dalam pembiayaan sebuah karya kreatif
video.

Masih sangat jarang institusi keuangan resmi


seperti Bank, yang mau meminjamkan uang
ataupun berinvestasi untuk sebuah karya video.

Pengembangan pendapatan dari sebuah


karya video dapat dikolaborasikan
dengan produk jual lainnya seperti
merchandising dan sejenisnya.

PEMASARAN

Produk video mampu memiliki irisan


dengan banyak bidang atau industri
lainnya. Di masa depan produk video
kelak menjadi elemen utama sebuah
industri, khususnya dalam aspek
pemasaran dan media informasi
pendukung industri.

Masih kurangnya ruang tayang, utamanya di daerah


selain kota besar. Padahal peminatnya cukup tinggi.

Kemunculan media baru berbasis


teknologi informasi dan media online
dapat memperluas potensi pasar. Salah
satunya dimotivasi oleh tingkat konsumsi
dalam negeri media itu yang cukup
tinggi.

54

PERMASALAHAN
(Tantangan, Hambatan, Kelemahan, Ancaman)

POTENSI

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

NO

PERMASALAHAN
(Tantangan, Hambatan, Kelemahan, Ancaman)

POTENSI

INFRASTRUKTUR DAN TEKNOLOGI

Akses untuk teknologi pendukung atau


alat penyerta produksi video di dalam
negeri sudah sangat memadai.

KELEMBAGAAN

Jaringan infrastruktur pendukung, utamanya


kuota dan kecepatan internet dalam negeri yang
menghambat proses kreasi, produksi, dan distribusi
untuk media baru yang berbasiskan jaringan media
tersebut.

Mulai tumbuh dan semaraknya aktivitas


produksi video di level komunitas, di
masyarakat daerah selain kota besar.

Bentuk apreasi masyarakat masih lemah dalam


konteks literasi video media baru.

Banyak potensi daerah yang terangkat,


seperti bidang pariwisata akibat
penyertaan dalam sebuah karya video.

Perlidungan terhadap profesi videografer,


khususnya dalam hal penghargaan atau dalam
bentuk kompensasi harus memiliki standar
kelayakan yang mendukung upaya pengembangan
subsektor video yang sehat.

Pemanfaatan video sebagai media publik,


untuk pendidikan demokrasi sudah mulai
digunakan oleh masyrakat di daerah.

Apresiasi dalam bentuk penghargaan terhadap


pekerja video masih minim, baik itu oleh
konsumen individu maupun industri mapan seperti
stasiun televise dan biro iklan, yang ada malah
dekonstruktif terhadap ekosistem dan industri video
itu sendiri.

Meningkatnya tren/isu nasionalisme, dan


basis kedaerahan (konten lokal).

Peralatan pendukung produksi video yang masih


impor, masuk dalam kategori pajak barang mewah,
sehingga masih menjadi hambatan dalam proses
produksi yang menjadi mahal.

Diperlukan wadah asosiasi yang berafiliasi dengan


institusi pemerintahan dengan tujuan perlindungan
terhadap videografer dalam negeri, dalam
menyambut pasar terbuka Asean (AFTA). Usaha ini
dapat ditempuh dengan bentuk sertifikasi Internasional.

Perlunya asosiasi industri pelaku utama video


untuk memperkuat daya tawar videografer
dengan pengguna jasanya; ancaman industri yang
bersifat pabrikasi, seperti biro periklanan dan
stasiun televisi dengan cara menyamaratakan pola
kompensasi untuk videografer dengan standarisasi
kompensasi yang tidak tepat dan layak.

Perlunya asosiasi industri pelaku utama video


untuk memperkuat daya tawar videografer
dengan pengguna jasanya; ancaman industri yang
bersifat pabrikasi, seperti biro periklanan dan
stasiun televisi dengan cara menyamaratakan
pola kompensasi untuk videografer dengan
standardisasi kompensasi yang tidak tepat dan
layak.

BAB 3: Kondisi Umum Video di Indonesia

55

NO

56

PERMASALAHAN
(Tantangan, Hambatan, Kelemahan, Ancaman)

POTENSI
8

Belum menjadi fokus utama pihak-pihak yang


berkepentingan dalan usaha pengarsipan utamanya
jenis media baru berbasis teknologi informasi,
kaitannya dengan HAKI diperlukan kesepakatan dan
kesepahaman bersama.

Belum berjalannya hubungan quadrohelix


(pemerintah, akademisi, industri, dan komunitas).

10

Perlunya penguatan kelembagaan asosiasi profesi


video nasional terpusat yang didukung penuh oleh
pemerintah, seperti AIVI (Asosiasi Industri Video
Indonesia), atau IMPAS (Indonesia Motion Picture
and Audio Association).

11

Belum adanya regulasi yang memudahkan


kemudahan perizinan ruang atau fasilitas publik
sebagai elemen karya video.

12

Minimnya dukungan pemerintah terhadap delegasi


videografer Indonesia dalam festival dan acara
internasional.

13

Masih minimnya festival maupun even sejenis


sebagai media apresiasi dan pengembangan karya
kreatif video secara nasional.

14

Edukasi yang masih lemah dalam hal pemanfaatan


produk dan jasa video kepada publik lebih luas lagi.

15

Kurangnya informasi mengenai mekanisme


pengurusan HKI kepada para videografer.

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

58

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

BAB 4
Rencana
Pengembangan Video
Indonesia

BAB 4: Rencana Pengembangan Video Indonesia

59

4.1 Arahan Strategis Pengembangan Ekonomi Kreatif 20152019


Arahan RPJPN 20052025, pembangunan nasional tahap ketiga (20152019) adalah ditujukan
untuk lebih memantapkan pembangunan secara menyeluruh di berbagai bidang dengan
menekankan pencapaian daya saing kompetitif perekonomian berlandaskan keunggulan
sumber daya alam dan sumber daya manusia berkualitas serta kemampuan iptek yang
terus meningkat
Pembangunan periode 20152019 tetap perlu mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi tetapi
haruslah inklusif dan berkelanjutan, yaitu meminimasi permasalahan sosial dan lingkungan.
Pembangunan inklusif dilakukan terutama untuk mengurangi kemiskinan, ketimpangan antar
penduduk dan ketimpangan kewilayahan antara Jawa dan luar Jawa, kawasan barat, dan kawasan
timur, serta antara kota-kota dan kota-desa. Pembangunan berkelanjutan dilakukan untuk
memberikan jaminan keberlanjutan manfaat yang bisa dirasakan generasi mendatang dengan
memperbaiki kualitas lingkungan (sustainable).
Tema pembangunan dalam RPJMN 20152019 adalah pembangunan yang kuat, inklusif, dan
berkelanjutan. Untuk dapat mewujudkan apa yang ingin dicapai dalam lima tahun mendatang,
maka fokus perhatian pembangunan nasional adalah:
1. Merealisasikan potensi ekonomi Indonesia yang besar menjadi pertumbuhan ekonomi
yang tinggi, yang menghasilkan lapangan kerja yang layak (decent jobs) dan mengurangi
kemiskinan yang didukung oleh struktur ekonomi dan ketahanan ekonomi yang kuat;
2. Membuat pembangunan dapat dinikmati oleh segenap bangsa Indonesia di berbagai
wilayah Indonesia secara adil dan merata;
3. Menjadikan Indonesia yang bersih dari korupsi dan memiliki tata kelola pemerintah
dan perusahaan yang benar dan baik;
4. Menjadikan Indonesia indah yang lebih asri, lebih lestari.
Dalam rancangan teknokratik RPJMN 20152019 terdapat enam agenda pembangunan, yaitu: (1)
Pembangunan Ekonomi; (2) Pembangunan Pelestarian Sumber Daya Alam, Lingkungan Hidup,
dan Pengelolaan Bencana (3) Pembangunan Politik, Hukum, Pertahanan, dan Keamanan; (4)
Pembangunan Kesejahteraan Rakyat; (5) Pembangunan Wilayah; dan (6) Pembangunan Kelautan.
Pembangunan Ekonomi Kreatif pada lima tahun mendatang ditujukan untuk memantapkan
pengembangan ekonomi kreatif dengan menekankan pencapaian daya saing kompetitif
berlandaskan keunggulan sumber daya alam dan sumber daya manusia berkualitas serta
kemampuan ilmu dan teknologi yang terus meningkat.
Memantapkan pengembangan ekonomi kreatif yang dimaksud adalah memperkuat landasan
kelembagaan untuk mewujudkan lingkungan yang kondusif yang mengarusutamakan kreativitas
dalam pembangunan dengan melibatkan seluruh pemangku kebijakan. Landasan yang kuat akan
menjadi dasar untuk mewujudkan daya saing nasional dengan memanfaatkan iptek dan kreativitas
serta kedinamisan masyarakat untuk berinovasi, dan menciptakan solusi atas permasalahan dan
tantangan yang dihadapi dengan memanfaatkan sumber daya lokal untuk menciptakan industri
kreatif yang berdaya saing, beragam, dan berkelanjutan.

60

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

Secara strategis pengembangan ekonomi kreatif tahun 20152019 bertujuan untuk menciptakan
ekonomi kreatif yang berdaya saing global. Tujuan ini akan dicapai antara lain melalui peningkatan
kuantitas dan kualitas orang kreatif lokal yang didukung oleh lembaga pendidikan yang sesuai
dan berkualitas, peningkatan kualitas pengembangan dan pemanfaatan bahan baku lokal yang
ramah lingkungan dan kompetitif, industri kreatif yang bertumbuh, akses dan skema pembiayaan
yang sesuai bagi wirausaha kreatif lokal, pasar yang makin beragam dan pangsa pasar yang makin
besar, peningkatan akses terhadap teknologi yang sesuai dan kompetitif, penciptaan iklim usaha
yang kondusif dan peningkatan apresiasi masyarakat terhadap karya kreatif lokal.

4.2 Visi, Misi, dan Tujuan Pengembangan Video


Visi, misi, tujuan dan sasaran strategis merupakan kerangka strategis pengembangan Video pada
periode 20152019 yang menjadi landasan dan acuan bagi seluruh pemangku kepentingan
dalam melaksanakan program kerja di masing-masing organisasi/lembaga terkait secara terarah
dan terukur. Secara umum, kerangka strategis pengembangan video pada periode 20152019
dapat dilihat pada Gambar 4-1.

VISI

Menjadikan karya video sebagai media dan alat kebudayaan juga penggerak kewirausahaan
masyarakat Indonesia yang kreatif dan berdaya saing

MISI

Gambar 4-1 Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran Pengembangan Video 20152019

Mengoptimalkan
pemanfaatan video sebagi
media dan alat konservasi
untuk kreasi sumber daya
alam dan produk budaya
Indonesia.

TUJUAN

Peningkatan daya
saing dan kreativitas
videografer di daerahdaerah potensial
pengembangan
ekonomi kreatif

Mengembangkan industri
kreatif video Indonesia yang
kolaboratif dan terintegrasi
agar berdaya saing
internasional
3

Peningkatan
kesadaran komunitas
masyarakat dan
Pemerintah Daerahnya
dalam pemanfaatan
video sebagai alat dan
media komunikasi
untuk pembangunan
daerah

BAB 4: Rencana Pengembangan Video Indonesia

Peningkatan daya
saing, kedinamisan,
dan keragaman
industri video di daerah
yang berpotensi

Mengembangkan kekuatan
hubungan antar pemangku
kepentingan dalam
pengembangan ekosistem
ekonomi kreatif video
4

Peningkatan kualitas
infrastruktur pemasaran
karya video di tingkat
lokal, nasional, dan
internasional

Peningkatan kualitas
akses terhadap teknologi
yang dibutuhkan oleh
industri video

Peningkatan kuantitas
dan kualitas komunitas
dan asosiasi video
di daerah secara
terintegrasi secara
nasional

61

SASARAN STRATEGIS

Meningkatnya
kuantitas dan kualitas
pendidikan yang
mendukung penciptaan
dan penyebaran
videografer di daerah
secara berkelanjutan

Meningkatnya
kuantitas dan kualitas
individu serta peran
serta komunitas video
di daerah potensi
terhadap problem
daerahnya melalui
pengaryaan video yang
kreatif

Terciptanya sentra data


nasional mengenai
ruang lingkup dan
infrastruktur industri
kreatif video

Meningkatnya usaha
dan wirausahawan
industri kreatif video di
daerah-daerah potensi
bertaraf internasional

Meningkatnya
keragaman kualitas
video kreatif lokal
daerah potensi

Meningkatnya daya serap


pasar terhadap karya
video dalam negeri, dan
penetrasi pasar luar
negeri

Tercapainya
pembangunan
infrastruktur fisik
maupun nonfisik, dan
teknologi pendukung
industri video di daerahdaerah potensi yang
mudah di akses dan
kompetitif

Terciptanya regulasi
nasional yang
mendukung pengarus
utamaan industri kreatif
termasuk video dalam
kebijakan pengembangan
daerah

Terciptanya promosi
parawisata dan
kebudayaan di daerah
potensi berbasis karya
kreatif video

10

Meningkatnya apresiasi
masyarakat terhadap
sumber daya alam dan
budaya lokal melalui
media karya video

4.2.1 Visi Pengembangan Video


Mengacu pada perkembangan ekonomi dan industri kreatif bidang video di Indonesia saat ini,
tantangan yang mungkin dihadapi, serta dengan memperhitungkan daya saing serta potensi yang
dimiliki dan juga arahan strategis pembangunan nasional dan juga pengembangan ekonomi
kreatif periode 20152019, maka visi pengembangan video selama periode 20152019 adalah:

Menjadikan karya video sebagai media


dan alat kebudayaan juga penggerak
kewirausahaan masyarakat Indonesia
yang kreatif dan berdaya saing

62

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

Karya video sebagai media dan alat kebudayaan, maksud dari ini adalah karya-karya kreatif video
yang mampu menjadi alternatif media untuk mengembangkan aktivitas dan produk kebudayaan
masyarakat saat ini, maupun produk-produk budaya terdahulu (tradisi) untuk di kreasikan secara
kreatif dengan format baru, dalam media pengaryaan video sebagai usaha konservasi nilai-nilai
kerarifan lokal yang turut pula menampilkan bentang alam Indonesia dalam bingkai visualnya.
Karya video sebagai penggerak kewirausahaan masyarakat Indonesia yang kreatif dan
berdaya saing, gagasan ini selaras dengan pemahaman visi sebelumnya, di mana kemudian
aktivitas kebudayaan yang ditampilkan melalui media video tersebut, mampu untuk merangsang
kewirausahaan masyarakat, baik itu karya langsung dari video itu sendiri sebagai produk usaha
kreatif, maupun karya kreatif video tersebut sebagai media pengembangan pasar (pemasaran)
agar produk atau jasa usahanya memiliki nilai tambah kreativitas dan berdaya saing.

4.2.2 Misi Pengembangan Video


Visi pengembangan video akan diwujudkan melalui tiga misi utama, sebagai berikut:
1. Mengoptimalkan pemanfaatan video sebagi media dan alat konservasi untuk kreasi
sumber daya alam dan produk budaya Indonesia. Misi ini bermuara pada konsep
dasarnya yaitu:
a. Mengembangkan SDM kreatif bidang video, maksudnya yaitu (1) Pengembangan
SDM kreatif bidang video yang berkualitas di daerah-daerah potensi secara merata, dan
turut serta mengembangkan rantai nilai kreatif yang menyertainya. (2) Peningkatan
dan pemerataan lembaga pendidikan tinggi di daerah-daerah potensi, juga bentukbentuk nurturing lainnya;
b. SDM kreatif bidang video yang mampu mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya
budaya dan bentang alam Indonesia, dalam proses maupun konten karya kreatif
videonya.
2. Mengembangkan industri kreatif video Indonesia yang kolaboratif dan terintegrasi
agar berdaya saing internasioal. Ini memiliki arti yaitu usaha berupa pengarusutamaan
program, utamanya oleh pemberi kebijakan untuk mendorong tumbuh kembangnya orang,
wirausaha, dan usaha kreatif serta meningkatnya kualitas maupun kuantitas karya video
yang berdasaing di pasar global.
3. Mengembangkan kekuatan hubungan antar pemangku kepentingan dalam
pengembangan ekosistem ekonomi kreatif video. Misi ini memiliki arti berupa usaha
bersama yang bertumpu pada kekuatan hubungan antar pemangku kepentingan. Hal ini
meliputi bentuk-bentuk kerja kolaboratif yang saling teritegrasi antar pemangku kepentingan,
demi terwujudnya infrastruktur pendukung yang mendukung pengembangan industri
dan ekonomi kreatif bidang video, seperti peningkatan inrastruktur teknologi pendukung,
regulasi bantuan keuangan hingga perizinan, bantuan pengembangan pasar, mendorong
kelembagaan asosiasi profesi, dan sebagainya yang bersifat konstruktif terhadap usaha
pengembangan ekosistem industri kreatif subsektor video.

4.2.3 Tujuan Pengembangan Video


Dalam rencana program pengembangan subsektor video ini terdapat enam tujuan yang ingin
dicapai berdasarkan tiga misi utama yang diemban untuk mencapai visi yang telah ditetapkan.
Tujuan tersebut adalah sebagai berikut:

BAB 4: Rencana Pengembangan Video Indonesia

63

1. Peningkatan daya saing dan kreativitas videografer di daerah-daerah potensial


pengembangan ekonomi kreatif. Artinya adalah fenomena media baru dan kemudahan
akses teknologi media video saat ini, turut pula merangsang produktifitas videografer di
daerah-daerah. Situasi tersebut tentunya harus direspon secara positif, misalnya dari aspek
pendidikan yang ditingkatkan mutunya, ataupun optimalisasi asosiasi profesi yang fokus
terhadap upaya pengembangan SDM di daerah potensi tersebut.
2. Peningkatan kesadaran komunitas masyarakat dan Pemerintah Daerahnya dalam
pemanfaatan video sebagai alat dan media komunikasi untuk pembangunan daerah.
Artinya adalah kemudahan distribusi informasi yang tidak terbatas dengan adanya
perkembangan pada bidang teknologi informasi dan internet, sebaran karya video sebagai
media dan karya kreatif yang mampu meraih ketertarikan dan kesadaran audiens secara
efektif ini, bisa dimanfaatkan untuk kepentingan PEMDA sebagai medium komunikasi
warganya, ataupun juga kepentingan daerah lainnya, seperti promosi pariwisata dan usaha
menarik investor untuk pengembangan kesejahteraan daerah.
3. Peningkatan daya saing, kedinamisan, dan keragaman industri video di daerah yang
berpotensi. Artinya adalah masih dalam upaya pemerataan kemampuan dan kualitas SDM
bidang video di daerah potensial, agal timbul karya orisinil dan otentik yang kontennya
bersumber material lokal daerah setempat. Sehingga muncul keberagaman karya secara
nasional, semakin dinamis dalam perkembangannya dan kelak akan memiliki daya saing
secara global.
4. Peningkatan kualitas infrastruktur pemasaran karya video di tingkat lokal, nasional,
dan internasional. Artinya adalah semakin banyaknya media presentasi karya kreatif
video, berupa ruang tayang baik dalam bentuk statis maupun dinamis seperti event festival
yang terintegrasi mulai dari level lokal di daerah potensi nasional hingga manca negara.
5. Peningkatan kualitas akses terhadap teknologi yang dibutuhkan oleh industri
video. Artinya adalah fasilitas dan kemajuan teknologi yang mendukung aspek distribusi
ataupun pemasaran dari karya kreatif video. Seperti halnya kecepatan dan kuota internet,
pengembangan media persentasi di ruang-ruang publik yang berbasis pada teknologi,
dan sebagainya.
6. Peningkatan kuantitas dan kualitas komunitas dan asosiasi video di daerah secara
terintegrasi secara nasional. Artinya adalah, ruang-ruang nurturing baik dalam konteks
pendidikan formal, informal, dan non-formal, juga aktivitas pengarsipan dan apresiasi
untuk bidang video yang dikelola dan dimanfaatkan secara optimal.

4.3 Sasaran dan Indikasi Strategis Pengembangan Video


Untuk mencapai tujuan pengembangan video maka terdapat 10 sasaran strategis yang dapat
diindikasikan oleh 28 indikasi strategis. Sasaran dan indikasi strategis pengembangan video meliputi:
1. Meningkatnya kuantitas dan kualitas pendidikan yang mendukung penciptaan dan
penyebaran videografer di daerah secara berkelanjutan, dengan indikasi sebagai berikut:
a. Adanya perkembangan kualitas dan kuantitas pada institusi pendidikan formal video.
Utamanya tingkat pergguran tingga di daerah-daerah potensi.
b. Adanya kurikulum dan metode pendidikan video yang teraktualisasi dengan kebutuhan
industri penyerap, dan perkembangan tren global.
c. Adanya program pemberdayaan lembaga pendidikan non formal dan informal oleh
Pemerintah Daerah yang berkolaborasi dengan sektor industri kreatif lainnya.

64

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

d. Adanya pemanfaatan potensi media video sebagai media pendidikan institusi pendidikan
formal untuk pengembangan daya kreativitas siswa didik dan alat belajar mengajar.
2. Meningkatnya kuantitas dan kualitas individu serta peran serta komunitas video di
daerah potensi terhadap problem daerahnya melalui pengaryaan video yang kreatif,
dengan indikasi sebagai berikut:
a. Adanya program pembinaan dan pengembangan komunitas video di daerah-daerah
potensi di bawah Asosiasi profesi Nasional dan Pemerintah Pusat maupun Daerah.
b. Jumlah videografer daerah potensi meningkat.
c. Adanya penggunaan jasa videografer lokal oleh Pemerintah Daerah setempat.
d. Adanya karya video lokal hasil dari program kolaboratif antara videografer lokal dengan
Pemerintah Daerah setempat untuk pemanfaatan media video berbasis potensi lokal.
3. Terciptanya sentra data nasional mengenai ruang lingkup dan infrastruktur industri
kreatif video, dengan indikasi sebagai berikut:
a. Adanya pemetaan dan database sumber daya dan potensi video nasional, yang
terintegrasi dikelola oleh asosiasi profesi nasional dan Pemerintah Pusat.
b. Produktivitas karya video kreatif di daerah potensi dan secara nasional meningkat.
4. Meningkatnya usaha dan wirausahawan industri kreatif video di daerah-daerah
potensi bertaraf internasional, dengan indikasi sebagai berikut:
a. Adanya penggunaan jasa videografer lokal, utamanya oleh institusi Pemerintah Daerah.
b. Adanya penggunaan media video sebagai salah satu ruang interaksi sosial masyarakat
di daerah potensi.
c. Adanya informasi pada media publik, dan kemudahan dalam mengakses segala
sesuatu yang berkaitan dengan HKI.
5. Meningkatnya keragaman kualitas video kreatif lokal daerah potensi, dengan
indikasi sebagai berikut:
a. Adanya peta sumber daya budaya dan potensi industri pariwisata daerah yang dapat
dimanfaatkan produktivitas karya video secara nasional.
b. Adanya kebijakan khusus yang berpihak pada videografer lokal dan membatasi
videografer asing yang bekerja di Indonesia.
c. Adanya program pembinaan dan pengembangan oleh asosiasi profesi nasional untuk
pengembangan sumber daya orang kreatif videografer di daerah-daerah potensi.
d. Adanya karya terbaik video nasional dalam ajang fetival atau eksibisi video bertaraf
internasional.
6. Meningkatnya daya serap pasar terhadap karya video dalam negeri, dan penetrasi
pasar luar negeri, dengan indikasi sebagai berikut:
a. Adanya peningkatan kuota dan kecepatan internet nasional, karena menjadi basis
distribusi video saat ini.
b. Adanya kebijakan terkait pengutamaan penggunaan jasa videografer lokal oleh agensi
atau rumah produksi, biro iklan, dan stasiun televisi nasional.
c. Adanya program pemanfaatan oleh Pemerintah Daerah, terhadap jasa dan karya
videografer daerah untuk pengembangan sektor pariwisata daerah.

BAB 4: Rencana Pengembangan Video Indonesia

65

d. Membuat program festival video tahunan di daerah-daerah potensi yang terintegrasi


secara nasional.
7. Tercapainya pembangunan infrastruktur fisik maupun non fisik, dan teknologi
pendukung industri video di daerah-daerah potensi yang mudah di akses dan
kompetitif, dengan indikasi sebagai berikut:
a. Adanya kebijakan mengenai subsidi pajak barang mewah atas peralatan, perangkat
lunak dan teknologi produksi video lainnya. Utamanya bagi videografer bersertifikasi
dari asosiasi nasional yang bernaung di bawah pemerintah.
b. Adanya kebijakan kemudahan pemanfaatan ruang publik untuk eksplorasi karya video.
c. Adanya kebijakan memperbanyak ruang tayang di daerah yang berkaitan dengan
kepentingan umum.
8. Terciptanya regulasi nasional yang mendukung pengarus utamaan industri kreatif
termasuk video dalam kebijakan pengembangan daerah, dengan indikasi sebagai berikut:
a. Adanya kemudahan dan bantuan dari Pemerintah Daerah untuk karya video yang
menampilkan potensi daerah.
b. Adanya investasi yang dilakukan oleh pemangku kepentingan di daerah untuk
pengembangan industri kreatif video di daerah potensi.
9. Terciptanya promosi parawisata dan kebudayaan di daerah potensi berbasis karya
kreatif video, dengan indikasi sebagai berikut:
a. Adanya program/event rutin penyelenggaraan didaerah potensi yang bertujuan
sebagai medium nurturing, pengembangan industri kreatif video.
10. Meningkatnya apresiasi masyarakat terhadap sumber daya alam dan budaya lokal
melalui media karya video, dengan indikasi sebagai berikut:
a. Adanya penghargaan (awarding) bagi orang, karya, wirausaha, atau usaha videografer
lokal.

4.4 Arah Kebijakan Pengembangan Video


Arah pengembangan bidang video dijabarkan berdasarkan tujuan pengembangan video itu sendiri,
yang meliputi 6 tujuan utama, yaitu: (1) Terciptanya videografer yang kreatif dan berdaya saing
di daerah-daerah potensial pengembangan ekonomi kreatif; (2) Terciptanya kesadaran komunitas
masyarakat berikut Pemerintah Daerahnya dalam pemanfaatan video sebagai alat dan media
komunikasi untuk pembangunan daerah; (3) Terwujudnya industri video di daerah potensi yang
kreatif, beragam, dinamis dan berdaya saing; (4) Terciptanya infrastruktur yang mendukung
distribusi pemasaran karya video secara lokal, nasional, dan internasional; (5) Terciptanya
infrastruktur teknologi pendukung industri video yang mudah di akses dan kompetitif; dan (6)
Terciptanya komunitas/asosiasi video di daerah yang terintegrasi secara nasional;
1. Arah kebijakan : Penciptaan Videografer yang Kreatif dan Berdaya Saing di Daerahdaerah Potensial Pengembangan Ekonomi Kreatif
Faktor Sumber Daya Manusia (SDM) dalam pengembangan ekonomi kreatif merupakan
urusan sentral. Hal ini juga berlaku pada subsektor video. Hal ini tentu saja dipengaruhi
oleh ruang nurturing dan pendidikan yang memadai secara kualitas dan kuantitas.

66

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

Peningkatan kualitas dan kuantitas pendidikan. Arahnya ialah memfasilitasi penciptaan


lembaga pendidikan baik formal maupun nonformal daerah-daerah di Indonesia yang
memiliki potensi untuk berkembangnya ekonomi kreatif. Karena bidang video itu sendiri
dapat menjadi media bantu untuk hal tersebut.
Penyelarasan kurikulum pendidikan dengan kebutuhan pasar dan tren global. Agar
karya kreatif video tersebut dapat berkembang secara ekonomis, tentu saja dibutuhkan
metode dan kurikulum yang tepat dengan kebutuhan pasar. Sehingga perlunya perbaikan
kurikulum video utamanya di tingkat perguruan tinggi yang lebih banyak diserap
industri,dan mendukung dan memberdayakan ruang-rang nurturing, utamanya dalam
ruang komunitas di daerah-daerah potensi oleh Pemerintah Daerah setempat.
2. Arah kebijakan : Peningkatan Kesadaran Komunitas Masyarakat dan Pemerintah
Daerahnya dalam Pemanfaatan Video sebagai Alat dan Media Komunikasi untuk
Pembangunan Daerah
Perlunya pengarus utamaan untuk memajukan ekonomi dan industri kreatif di daerah
potensi termasuk subsektor video, melalui kebijakan dan program strategis oleh
Pemerintah Daerah setempat. Hal ini kelak akan bermanfaat bagi daerah itu sendiri
karena dapat menjadi media dan alat yang efektif sebagai media komunikasi warga dengan
pemerintahnya, sekaligus presentasi potensi daerha tersebut kepada daerah lain ataupun
bahkan manca negara melaui distribusi informasi yang mengunakan karya kreatif video
sebagai alat dan medianya.
Hal di atas turut pula kemudian dapat mendorong lahirnya videografer di daerah-daerah
potensi yang dinamis, professional, dan menjunjung tinggi kode etik profesi di tingkat
nasional maupun internasional. Lebih jauh lagi saat masyarakat dan pemerintahnya
sadar mengenai potensi dan manfaat dari sebuah karya kreatif video ini, akan turut pula
meningkatkan kesadaran dalam hal apresiasi terhadap videografer itu sendiri. Sehingga
keberpihakan pemerintah dalam hal perlindungan baik karya maupun videografer itu
sendiri akan tercapai melalui kebijakan-kebijakan yang konstruktif.
3. Arah kebijakan : Peningkatan Daya Saing, Kedinamisan, dan Keragaman Industri
Video di Daerah yang Berpotensi
Memfasilitasi penciptaan dan peningkatan profesionalisme (skill-knowledge-attitude)
wirausaha kreatif bidang video di daerah potensi. Gagasan tersebut harus merupakan
kerja kolaboratif utamanya oleh pemerintah dan asosiasi profesi. Karena kesinambungan
visi dari praktisi itu harus pula mendapatkan dukungan dari regulator agar terjadi
akselerasi pencapaian tujuan pengembangan bidan video ke depan. Seperti pada bentuk
harmonisasi-regulasi sebagai berikut: (1) Pendidikan dan apresiasi; (2) Pemanfataan dan
(3) pengembangan SDB; (4) Penciptaan nilai kreatif dan industri kreatif beserta industri
pendukunganya; (5) Pembiayaan; (6) Perluasan pasar; (7) Infrastruktur; dan (8) HKI.
Hal di atas juga memberikan penekanan terhadap usaha-usaha yang memfasilitasi
kolaborasi dan penciptaan jejaring kreatif, antar wirausaha kreatif bidang video di daerah
potensi. Perlunya program-program yang mampu memfasilitasi kebutuhan tersebut. Misal

BAB 4: Rencana Pengembangan Video Indonesia

67

saja dengan mengadakan ajang festival industri video, ataupun melalui pengembangan
ruang-ruang tayang di daerah-daerah potensi oleh pemerintah setempat.
4. Arah kebijakan : Peningkatan Kualitas Infrastruktur Pemasaran Karya Video di
Tingkat Lokal, Nasional, dan Internasional
Usaha pengembangan industri kreatif juga membutuhkan investasi atau modal untuk
memperoleh hasil yang diharapkan. Adanya jaminan ketersediaan, kesesuaian, jangkauan
harga dan biaya, sebaran dan penetrasi, kemudian performansi, infrastruktur telematikajaringan internet (infrastruktur logistik dan energi) dan sebagainya, merupakan hal-hal
yang membutuhkan investasi yang dapat menjadi pemicu pengembangan ekonomi kreatif
termasuk subsektor video, utamanya dalam konteks penguatan distribusi dan pemasaran.
Oleh karena itu aspek kebijakan juga tidak bisa dikesampingkan, karena semua hal di
atas memerlukan izin dan ketersediaan biaya yang memadai. Sehingga campur tangan
pemerintah dalam hal ini sangat dibutuhkan.
Di sisi lain kebijakan tersebut juga salah satunya adalah keberpihakan pada wirausaha
video kreatif lokal. Seperti dengan membuat aturan pengaturan kebijakan pengutamaan
penggunaan jasa lokal pihak ke tiga oleh Pemerintah Daerah misalnya.
5. Arah kebijakan : Peningkatan Kualitas Akses terhadap Teknologi yang Dibutuhkan
oleh Industri Video
Terkadang yang menjadi faktor kegagalan program-program Pemerintah, adalah
permasalahan komunikasi terhadap publik sebagai objek. Dalam hal ini akses publik
terhadap terhadap fasilitas teknologi harus dapat diketahui dengan baik dan mudah
untuk diakses agar kemudian melahirkan kompetisi yang adil antar semua pengarya,
usaha, dan wirausaha video kreatif.
Kemudahan askes terhadap teknologi selai faktor komunikasi di atas, juga perlu didorong
pengembangan basis-basis teknologi di daerah potensi yang mendukung pengembangan
industri kreatif video itu sendiri.
6. Arah kebijakan : Peningkatan Kuantitas dan Kualitas Komunitas dan Asosiasi
Video di Daerah Secara Terintegrasi Secara Nasional
Semangat dan usaha bersama oleh insan ekonomi kreatif termasuk dalam subsektor
video, akan membuat percepatan dalam mencapai tujuan pengembangan dari ekonomi
dan industri kreatif video itu sendiri. Sehingga program-program yang melahirkan atau
sinergi, koordinasi, dan kolaborasi antar-aktor (media, intelektual, bisnis, komunitas, dan
Pemerintah) dan orang kreatif dalam pengembangan industri kreatif video daerah dan
nasional, itu perlu dijadikan basis dari setiap rencana ataupun program kerja pengembangan
ekonomi dan industri kreatif video.
Hal di atas akan lebih baik beranjak dari skala lokal di daerah-daerah potensi. Kolaborasi
antar pemangku kepentingan dalam melakukan pengembangan teknologi penunjang
karya kreatif video yang berbasis potensi daerah, dapat menjadi salah satu tema di
dalam program pengembangan bidang video di daerah yang teritegrasi secara nasional ke
depannya. Sehingga secara nasional akan muncul keragaman karya produk video berbasis
potensi dan isu lokal, yang berdaya saing secara nasional bahkan global.

68

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

Namun usaha di atas tersebut agar dapat berjalan secara terukur dan terarah, diperlukan
dorongan untuk pembentukan, pengembangan, dan peningkatan kualitas organisasi atau
wadah yang dapat mempercepat pengembangan industri kreatif video di daerah-daerah
potensi terlebih dahulu.

4.5 Strategi dan Rencana Aksi Pengembangan Video


Strategi pengembangan video merupakan pendekatan pelaksanaan perencanaan, dan rencana
aksi dalam kurun waktu tertentu.
a. Peningkatan Kuantitas dan Kualitas Pendidikan yang Mendukung Penciptaan dan
Penyebaran Videografer di Daerah Secara Berkelanjutan
Peningkatan kuantitas dan kualitas pendidikan yang mendukung penciptaan dan
penyebaran videografer di daerah secara berkelanjutan, memiliki empat strategi utama
yang dapat diindikasikan oleh empat rencana aksi, sebagai berikut:
1. Strategi 1: Mengembangkan kualitas dan kuantitas institusi pendidikan formal
video. Utamanya tingkat pergguran tinggi di daerah-daerah potensi. Rencana
Aksi: Melakukan pemetaan daerah potensi untuk pengembangan pendidikan seraya
memperbaiki kurikulum dan metode pendidikan video perguruan tinggi.
2. Strategi 2: Memperbaiki kurikulum dan metode pendidikan video yang teraktualisasi
dengan kebutuhan industri penyerap, dan perkembangan tren global. Rencana Aksi:
Mengevaluasi dan menganalisa orientasi kurikulum pendidikan yang sesuai dengan
perkembangan industri penyerap dan trend pasar global.
3. Strategi 3: Memberdayakan lembaga pendidikan nonformal dan informal oleh
Pemerintah Daerah yang berkolaborasi dengan sektor industri kreatif lainnya. Rencana
Aksi: Melakukan pemetaan dan pemanfaatan lembaga pendidikan nonformal dan
informal di daerah potensi untuk kepentingan pengemangan industri kreaatif di
daerah tersebut.
4. Strategi 4: Membuat program pemanfaatan potensi media video sebagai media
pendidikan institusi pendidikan formal untuk pengembangan daya kreativitas siswa
didik dan alat belajar mengajar. Rencana Aksi: Melakukan pengembangan metode
pemanfaatan media video sebagai perangsang kreativitas siswa didik dan alat belajar
mengajar.
b. Peningkatan Kuantitas dan Kualitas Individu Serta Peran Serta Komunitas Video di
Daerah Potensi terhadap Problem Daerahnya Melalui Pengaryaan Video yang Kreatif

Peningkatan kuantitas dan kualitas individu serta peran serta komunitas video di daerah
potensi terhadap problem daerahnya melalui pengaryaan video yang kreatif, memiliki
empat strategi utama yang dicapai melalui empat rencana aksi, sebagai berikut:
1. Strategi 1: Pembinaan dan pengembangan komunitas video di daerah-daerah potensi
di bawah Asosiasi Nasional dan Pemerintah Pusat maupun Daerah. Rencana Aksi:
Memetakan kemudian memberikan pembinaan simpul-simpul komunitas yang aktif
dalam pengaryaan karya kreatif video di daerah potensi.
2. Strategi 2: Melakukan program usaha peningkatan jumlah videografer di daerah
potensi. Rencana Aksi: Melakukan workshop, seminar dan eksibisi traveling ke
daerah-daerah potensi.

BAB 4: Rencana Pengembangan Video Indonesia

69

3. Strategi 3: Melakukan usaha apresiasi berupa pengakuan keberdaan profesi videografer


daerah, dalam bentuk penggunaan jasanya oleh Pemerintah Daerah setempat. Recana
Aksi: Memetakan dan mengembangkan videografer (orang kreatif, wirausaha kreatif,
dan usaha kreatif video) di daerah potensi oleh PEMDA setempat.
4. Strategi 4: Membuat program kolaboratif dengan Pemerintah Daerah setempat untuk
pemanfaatan media video berbasis potensi lokal. Rencana Aksi: Inventarisasi potensi
daerah dan pengaryaan menjadi karya kreatif video untuk publikasi dan pemasaran.
c. Penciptaan Sentra Data Nasional Mengenai Ruang Lingkup dan Infrastruktur
Industri Kreatif Video
Penciptaan sentra data nasional mengenai ruang lingkup dan infrastruktur industri kreatif
video, memiliki dua strategi utama yang dapat dicapai oleh dua rencana aksi, sebagai berikut:
1. Strategi 1: Membuat pemetaan dan database sumber daya dan potensi video nasional,
yang terintegrasi dikelola oleh asosiasi nasional dan Pemerintah Pusat. Rencana
Aksi: Memetakan potensi nasional industri kreatif video baik yang langsung seperti
para orang kreatif (videografer), wirausaha dan usaha kreatif video, dan juga potensi
pendukung seperti infrastruktur, perizinan, keuangan dan sebagainya dibuat dalam
media yang terintegrasi dan mudah diakses.
2. Strategi 2: Membuat program yang merangsang produktivitas karya video kreatif
di daerah potensi dan dapat meningkatkan kuantitas maupun kualitasnya secara
nasional. Rencana Aksi: Membuat program pengembangan sumber daya di daerah
potensi, melalui workshop, seminar, ajang perlobaan, ataupun proyek pengaryaan
karya video secara nasional.
d. Peningkatan Usaha dan Wirausahawan Industri Kreatif Video di Daerah-daerah
Potensi Bertaraf Internasional
Peningkatan usaha dan wirausahawan industri kreatif video di daerah-daerah potensi
bertaraf internasional, memiliki tiga strategi utama yang dapat dicapai oleh tiga rencana
aksi, sebagai berikut:
1. Strategi 1: Membuat program yang berusaha melakukan peningkatan penggunaan
jasa videografer lokal. Utamanya oleh institusi Pemerintah Daerah. Rencana Aksi:
Memetakan kebutuhan daerah yang bebrbasis media, dan melakukan penawaran
(tender) pada pelaku kratif video lokal.
2. Strategi 2: Melakukan optimalisasi penggunaan media video sebagai salah satu
ruang interaksi sosial masyarakat di daerah potensi. Rencana Aksi: Mengoptimalkan
media video sebagai media komunikasi publik di daerah potensi.
3. Strategi 3: Membuat progam publikasi mengenai informasi dan kemudahan dalam
mengakses segala sesuatu yang berkaitan dengan HKI. Rencana Aksi: Membuat media
publikasi nasional yang saling terintegrasi dan aktual mengenai seluk beluk HKI.
e. Peningkatan Keragaman Kualitas Video Kreatif Lokal Daerah Potensi
Peningkatan keragaman kualitas video kreatif lokal daerah potensi, memiliki empat
strategi utama yang dapat dicapai oleh empat rencana aksi, sebagai berikut:
1. Strategi 1: Membuat pemetaan sumber daya budaya dan potensi industri pariwisata
daerah yang dapat dimanfaatkan produktivitas karya video. Rencana Aksi: Memetakan
potensi pariwisata daerah baik landscape maupun produk-produk tradisi dan budaya
di daerah potensi.

70

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

2. Strategi 2: Membuat kebijakan khusus yang berpihak pada videografer lokal dan
membatasi videografer asing yang bekerja di Indonesia. Rencana Aksi: Membuat
regulasi mengenai perlindungan para pekerja, usaha, dan wirausaha kreatif video
dari para pekerja, usaha, dan wirausaha kreatif video asing.
3. Strategi 3: Membuat program pembinaan dan pengembangan oleh asosiasi profesi
nasional untuk pengembangan sumber daya orang kreatif videografer di daerahdaerah potensi. Rencana Aksi: Membuat program workshop, eksibisi dan seminar
travelling nasional.
4. Strategi 4: Keikutsertaan karya terbaik dari ajang festival atau eksibisi daerah potensi
dan nasional, dalam ajang fetival atau eksibisi video bertaraf internasional. Rencana
Aksi: Membuat program pengembangan sumber daya di daerah potensi, melalui
keikutsertaan dalam ajang kreatif pengaryaan video dalam event bertaraf internasional.
f. Peningkatan Daya Serap Pasar Terhadap Karya Video Dalam Negeri dan Penetrasi
Pasar Luar Negeri
Peningkatan daya serap pasar terhadap karya video dalam negeri dan penetrasi pasar
luar negeri, memiliki empat strategi utama yang dapat dicapai oleh empat rencana aksi,
sebagai berikut:
1. Strategi 1: Membuat program peningkatan kuota dan kecepatan internet nasional,
karena menjadi basis distribusi video saat ini. Rencana Aksi: Membuat program
peningkatan kuota dan kecepatan internet nasional, karena menjadi basis distribusi
video saat ini.
2. Strategi 2: Membuat kebijakan terkait pengutamaan penggunaan jasa videografer lokal
oleh agensi atau rumah produksi, biro iklan, dan stasiun televisi nasional. Rencana
Aksi: Membuat regulasi yang memprioritaskan jasa atau pekerja video dalam negeri
untuk semua pihak yang membutuhkan karya kratif video.
3. Strategi 3: Membuat program pemanfaatan oleh Pemerintah Daerah, terhadap
jasa dan karya videografer daerah untuk pengembangan sektor pariwisata daerah.
Rencana Aksi: Membuat program pengembangan media ruang tayang karya kreatif
video untuk publik lebih luas lagi di daerah-daerah potensi.
4. Strategi 4: Membuat program festival video tahunan di daerah-daerah potensi
yang terintegrasi secara nasional. Rencana Aksi: Membuat sebuah program berupa
festival nasional sebagai ajang apreasiasi dan pengembangan industri kreatif video
di daerah-daerah potensi yang teritegrasi secara nasional.
g. Pencapaian Pembangunan Infrastruktur Fisik maupun Non Fisik, dan Teknologi
Pendukung Industri Video di Daerah-Daerah Potensi yang Mudah Diakses dan
Kompetitif
Pencapaian pembangunan infrastruktur fisik maupun nonfisik, dan teknologi pendukung
industri video di daerah-daerah potensi yang mudah di akses dan kompetitif, memiliki
tiga strategi utama yang dapat dicapai oleh tiga rencana aksi, sebagai berikut:
1. Strategi 1: Membuat kebijakan mengenai subsidi pajak barang mewah atas peralatan,
perangkat lunak dan teknologi produksi video lainnya. Utamanya bagi videografer
bersertifikasi dari asosiasi nasional yang bernaung di bawah Pemerintah Pusat.

BAB 4: Rencana Pengembangan Video Indonesia

71

Rencana Aksi: Membuat regulasi yang memberikan kebijakan keringanan harga


untuk peralatan pendukung (impor) produksi karya kreatif video.
2. Strategi 2: Membuat kebijakan kemudahan pemanfaatan ruang publik untuk eksplorasi
karya video. Rencana Aksi: Membuat peraturan daerah dalam pemanfaatan ruang
publik untuk kepentingan pengembangan industri dan ekonomi kreatif di daerah
potensi, ataupun lokasi strategis.
3. Strategi 3: Membuat kebijakan memperbanyak ruang tayang di daerah yang berkaitan
dengan kepentingan umum. Rencana Aksi: Membuat program pengembangan
jumlah ruang tayang untuk karya kreatif video sebagai medium apresiasi dan edukasi
publik terhadap karya kreatif video.
h. Penciptaan Regulasi Nasional yang Mendukung Pengarusutamaan Industri Kreatif
Termasuk Video dalam Kebijakan Pengembangan Daerah
Penciptaan regulasi nasional yang mendukung pengarusutamaan industri kreatif termasuk
video dalam kebijakan pengembangan daerah, memiliki dua strategi utama yang dapat
dicapai oleh dua rencana aksi, sebagai berikut:
1. Strategi 1: Membuat kemudahan dan bantuan dari Pemerintah Daerah untuk
karya video yang menampilkan potensi daerah. Rencana Aksi: Mempuat program
kerjasama dengan pelaku orang kreatif (videografer), usaha dan wirausaha kreatif
video lokal di daerah potensi, dalam bentuk bantuan dan dukungan kemudahan
perizinan pembiayaan dan sebagainya apabila mengandung muatan lokal (promosi)
daerah setempat.
2. Strategi 2: Membuat program investasi yang dilakukan oleh pemangku kepentingan
di daerah untuk pengembangan industri kreatif video di daerah potensi. Rencana
Aksi: Membuat program kolaboratif yang memanfaatkan media video dalam
pengembangan daerah secara kreatif.
i. Penciptaan Promosi Parawisata dan Kebudayaan di Daerah Potensi Berbasis Karya
Kreatif Video

Penciptaan promosi parawisata dan kebudayaan di daerah potensi berbasis karya kreatif
video, memiliki satu strategi utama yang dapat dicapai oleh dua rencana aksi, sebagai
berikut:
1. Strategi 1: Membuat program/event rutin penyelenggaraan di daerah potensi yang
bertujuan sebagai medium nurturing, pengembangan industri kreatif video. Rencana
Aksi: Menyelengrakan events daerah yang melibatkan pemanfaatan karya video
kreatif dalam setiap kegiatannya, baik sebagai media maupun konten utama kegiatan.

j. Peningkatan apresiasi masyarakat terhadap sumber daya alam dan budaya lokal
melalui media karya video
Peningkatan apresiasi masyarakat terhadap sumber daya alam dan budaya lokal melalui
media karya video, memiliki satu strategi utama yang dapat dicapai oleh dua rencana
aksi, sebagai berikut:
1. Strategi 1: Membuat penghargaan (awarding) bagi orang, karya, wirausaha, atau
usaha videografer lokal. Rencana Aksi: Membuat program berupa eksibis dan ajang
penghargaan untuk para praktisi industri dan ekonomi kretif daerah potensi termasuk
subsektor video secara berkala.

72

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

74

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

BAB 5
Penutup

BAB 5: Penutup

75

5.1 Kesimpulan
Dalam penyusunan rencana aksi jangka menengah video 2015-2019, video di definisikan sebagai:
Kegiatan kreatif berupa eksplorasi dan inovasi dalam cara merekam (capture) atau membuat
gambar bergerak, yang ditampilkan melalui media presentasi, yang mampu memberikan karya
gambar bergerak alternatif yang berdaya saing dan memberikan nilai tambah budaya, sosial, dan
ekonomi. Definisi tersebut merupakan hasil elaborasi dari proses analisis yang meliputi: kajian
pustaka, wawancara mendalam, dan focus group discussion, yang melibatkan para narasumber yang
mewakili pemangku kepentingan dari unsur pemerintah, pelaku industri, komunitas/asosiasi,
dan kalangan intelektual.
Secara umum ruang lingkup pengembangan video meliputi video komersial, seni video dan media
baru, dan video dokumentasi. Video komersial adalah video untuk keperluan penunjang bidang
usaha maupun bidang industri kreatif lainnya yang sudah berkembang dan bersifat masif, contohnya
adalah klip musik, iklan, sinetron/FTV, program televisi, industri film layar lebar, footage (stock
shoot), company profile, penelitian, dan pendidikan. Video seni adalah karya video eksploratif dan
inovatif yang sarat nilai seni, menggunakan teknologi baru, baik sebagai alat produksi maupun
media presentasinya, misalnya web series (YouTube, Vimeo, atau Vines), video mapping, video
animasi, video fashion show, seni video, video interaktif, dan video intermedia. Video komersial
adalah untuk keperluan pendokumentasian ragam kegiatan yang awalnya berakar dari ilmu
jurnalistik, misalnya biografi, jurnalisme warga, acara pernikahan, seremonial dan sejenisnya.
Perkembangan video di Indonesia dimulai tahun 1962 saat TVRI (Televisi Republik Indonesia),
stasiun televisi pertama pemerintah Indonesia, berdiri dan mengudara. TVRI mendapat tugas
sebagai alat sosialisasi dan komunikasi kebijakan pemerintah sekaligus pemersatu bangsa lewat
jaringan informasinya yang massif. Maraknya subsektor video dapat dilihat periode awal 1980an merupakan masa ketika masyarakat Indonesia mulai dibanjiri produk-produk video, mulai
dari media aplikasi maupun alat (device) rekam video itu sendiri. Konsumsi masyarakat ketika
itu cukup tinggi. Hal ini dibuktikan dengan semakin populernya sinema (film) serial gangster
Hongkong, Bollywood India, dan karya-karya lokal seperti film horor Susana atau grup komedi
Warkop DKI. Saat ini Indonesia merupakan negara dengan peringkat ke-8 dalam konsumsi
Internet tertinggi di dunia. Pada 2005, lahir situs web berbagi video berbasis media sosial. Hal
ini kemudian memicu penciptaan karya video dan alternatif baru dalam pendistribusian karya
kreatif video. Turut berkembang pula model bisnis baru dalam industri kreatif video seperti
yang dilakukan multichannel network Layaria, yang aktif dalam pengembangan industri video
kreatif tanah air.
Untuk menggambarkan hubungan saling ketergantungan antara setiap peran di dalam proses
penciptaan nilai kreatif dengan lingkungan sekitar, dikembangkan peta ekosistem Video yang
terdiri atas empat komponen utama, yaitu: rantai nilai kreatif, lingkungan pengembangan,
pasar, dan pengarsipan. Rantai nilai kreatif video adalah terdiri dari tahap kreasi, produksi dan
distribusi karya kreatif video. Lingkungan pengembangan video adalah yang terdiri dari ruang
pengembangan melalui apresiasi dan aktivitas pendidikan bidang video. Pasar di dalam subsektor
video adalah pasar spesifik khusus dan pasar masal (massif). Lembaga pemerintah yang melakukan
pengarsipan adalah Arsip Nasional Republik Indonesia. Selain itu, museum-museum kekinian
juga turut memajang arsipnya melalui bentuk karya video, dengan tujuan bukan hanya sekedar
menyimpan, namun juga sebagai media presentasi aset-aset museum. Bentuk karya video ini

76

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

dapat dikolaborasikan dengan perangkat multimedia interaktif lainnya. Oleh karena itu, video
dapat berlaku pula sebagai alat cara pengarsipan.
Dampak ekonomi dari pengembangan subsektor video dapat dilihat dari peta industri yang
menggambarkan keterkaitan dari suatu proses rantai nilai kreatif ke arah hulu (backward linkage)
dan ke arah hilir ( forward linkage). Backward linkage di dalam subsektor video diantaranya
adalah industri pendidikan videografi, jasa transportasi, agen model, jasa tata rias dan rambut,
production house special effect, jasa penyewaan tata lampu, industri mode, industri IT, industri
peralatan video, industri percetakan/rekaman, industri audio/musik, industri media baru, industri
peralatan elektronik, dan merchandising. Forward linkage di dalam subsektor video diantaranya
adalah industri periklanan dan film, dan industri media. Selain digunakan dalam melihat dampak
ekonomi dari subsektor video, rantai nilai kreatif juga digunakan dalam mengidentifikasi model
bisnis yang umumnya terjadi di subsektor video, yaitu self agency, video stock agency, rumah
produksi, dan multichannel network.
Kontribusi ekonomi subsektor video dapat dilihat dari nilai tambah bruto, ketenagakerjaan,
aktivitas perusahaan, konsumsi rumah tangga, dan nilai ekspor. Sebagai contoh dapat dilihat
di tahun 2013, subsektor video memberikan kontribusi nilai tambah bruto sebesar 1% terhadap
total nilai tambah bruto industri kreatif Indonesia, dengan rata-rata pertumbuhan 2010-2013
sebesar 6.94%. Dari sisi ketenagakerjaan, subsektor video memberikan kontribusi sebesar 3.85%
terhadap total jumlah tenaga kerja industri kreatif Indonesia, dengan rata-rata pertumbuhan
2010-2013 sebesar 0.54%.
Berdasarkan hasil temuan-temuan selama penyusunan rencana aksi jangka menengah di subsektor
video dapat disimpulkan bahwa isu strategis yang muncul adalah Menjadikan karya video sebagai
media dan alat kebudayaan juga penggerak kewirausahaan masyarakat Indonesia yang kreatif
dan berdaya saing.

5.2 Saran
Pengembangan subsektor video dalam satu tahun kedepan akan difokuskan pada program-program:

Memberdayakan lembaga pendidikan non formal dan informal oleh pemerintah daerah.
Yang berkolaborasi dengan sektor industri kreatif lainnya.

Pembinaan dan pengembangan komunitas video didaerah-daerah potensi dibawah Asosiasi


Nasional dan pemerintah pusat maupun daerah

Membuat pemetaan dan database sumber daya dan potensi video nasional, yang terintegrasi
dikelola oleh asosiasi nasional dan pemerintah pusat

Pengembangan kebijakan terkait pengutamaan penggunaan jasa videografer lokal oleh


agensi atau rumah produksi, biro iklan, dan stasiun televisi nasional, dan pemerintah

Pengembangan kebijakan keberpihakan dan insentif terhadap penggunaan jasa videografer


lokal oleh swasta

Untuk penyempurnaan studi dan penulisan buku rencana aksi periode selanjutnya, perlu dilakukan
beberapa hal seperti: meningkatkan intensitas kolaborasi antar pemangku kepentingan di subsektor
video, meningkatkan intensitas komunikasi lintas kementerian, dan memutakhirkan data kontribusi
ekonomi dengan perbaikan pada Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) Kreatif.

BAB 5: Penutup

77

78

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

LAMPIRAN

BAB 4: Rencana Pengembangan Video Indonesia

79

80

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

ARAH KEBIJAKAN

STRATEGI PENGEMBANGAN

Meningkatnya kuantitas dan kualitas


pendidikan yang mendukung
penciptaan dan penyebaran
videografer di daerah secara
berkelanjutan

Menyelaraskan aspek
pendidikan (keilmuan) video
dengan kebutuhan pasar
kekinian.

Mengembangkan dan
memfasilitasi penciptaan
lembaga pendidikan
(formal dan nonformal) oleh
pemerintah dan swasta di
daerah yang memiliki potensi
ekonomi kreatif di bidang
video

Memperbaiki kurikulum dan metode pendidikan video yang teraktualisasi


dengan kebutuhan industri penyerap, dan perkembangan tren global
Memberdayakan lembaga pendidikan nonformal dan informal oleh
Pemerintah Daerah yang berkolaborasi dengan sektor industri kreatif
lainnya
Membuat program pemanfaatan potensi media video sebagai media
pendidikan institusi pendidikan formal untuk pengembangan daya
kreatifitas siswa didik dan alat belajar mengajar

Mengembangkan kualitas dan kuantitas institusi pendidikan formal video.


Utamanya tingkat perguruan tinggi di daerah-daerah potensi

2.1

Meningkatnya kuantitas dan


kualitas individu serta peran serta
komunitas video di daerah potensi
terhadap permasalahan daerahnya
melalui pengaryaan video yang
kreatif

Mendorong lahirnya
videografer kreatif yang
dinamis dan profesional yang
menjunjung tinggi kode etik
profesi di tingkat nasional
dan internasional

Pembinaan dan pengembangan komunitas video di daerah-daerah potensi


di bawah Asosiasi Nasional dan Pemerintah Pusat maupun Daerah

2. Peningkatan kesadaran komunitas masyarakat dan pemerintah daerahnya dalam pemanfaatan video sebagai alat dan media komunikasi untuk pembangunan
daerah

1.1

1. Peningkatan daya saing dan kreativitas videografer di daerah-daerah potensial pengembangan ekonomi kreatif

Misi 1: Mengoptimalkan pemanfaatan video sebagai media dan alat konservasi untuk kreasi sumber daya alam dan produk budaya Indonesia.

MISI/TUJUAN/SASARAN

MATRIKS TUJUAN, SASARAN, ARAH KEBIJAKAN, DAN STRATEGI PENGEMBANGAN VIDEO

LAMPIRAN

81

Perlindungan kerja terhadap


tenaga kerja kreatif video
Indonesia di dalam dan luar
negeri

ARAH KEBIJAKAN

Melakukan program usaha peningkatan jumlah videografer di daerah


potensi
Melakukan usaha apresiasi berupa pengakuan keberadaan profesi
videografer daerah, dalam bentuk penggunaan jasanya oleh Pemerintah
Daerah setempat
Membuat program kolaboratif dengan Pemerintah Daerah setempat untuk
pemanfaatan media video berbasis potensi lokal

2
3

STRATEGI PENGEMBANGAN

Terciptanya sentra data nasional


mengenai ruang lingkup dan
infrastruktur industri kreatif video

Meningkatnya usaha dan


wirausahawan industri kreatif video
di daerah-daerah potensi bertaraf
internasional

3.1

3.2

Memfasilitasi kolaborasi dan


penciptaan jejaring kreatif
antar wirausaha kreatif
bidang video di daerah
Harmonisasi-regulasi
(menciptakan) dalam hal :
1. Pendidikan dan apresiasi
2. Pemanfaatan dan
pengembangan SDB
3. Penciptaan nilai kreatif
dan industri kreatif beserta
industri pendukunganya
4. Pembiayaan
5. Perluasan pasar
6. Infrastruktur
7. HKI

Memfasilitasi penciptaan dan


peningkatan profesionalisme
(skill-knowledge-attitude)
wirausaha kreatif bidang
video di daerah

Melakukan optimalisasi penggunaan media video sebagai salah satu ruang


interaksi sosial masyarakat di daerah potensi
Membuat progam publikasi mengenai informasi dan kemudahan dalam
mengakses segala sesuatu yang berkaitan dengan HKI

2
3

Membuat program yang berusaha melakukan peningkatan penggunaan


jasa videografer lokal. Utamanya oleh institusi Pemerintah Daerah

Membuat program yang merangsang produktivitas karya video kreatif di


daerah potensi dan dapat meningkatkan kuantitas maupun kualitasnya
secara nasional

Membuat pemetaan dan database sumber daya dan potensi video nasional,
yang terintegrasi dikelola oleh asosiasi nasional dan Pemerintah Pusat

3. Peningkatan daya saing, kedinamisan, dan keragaman industri video di daerah yang berpotensi

Misi 2: Mengembangkan industri kreatif video Indonesia yang kolaboratif dan terintegrasi agar berdaya saing internasional

MISI/TUJUAN/SASARAN

82

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

Meningkatnya keragaman kualitas


video kreatif lokal daerah potensi

Merangsang tumbuh
kembangnya para
videografer daerah potensi
dengan kebijakan yang
melahirkan bantuan riil

ARAH KEBIJAKAN

Membuat pemetaan sumber daya budaya dan potensi industri pariwisata


daerah yang dapat dimanfaatkan produktivitas karya video
Membuat kebijakan khusus yang berpihak pada videografer lokal dan
membatasi videografer asing yang bekerja di Indonesia
Membuat program pembinaan dan pengembangan oleh asosiasi profesi
nasional untuk pengembangan sumber daya orang kreatif videografer di
daerah-daerah potensi
Keikutsertaan karya terbaik dari ajang festival atau eksibisi daerah
potensi dan nasional, dalam ajang festival atau eksibisi video bertaraf
internasional

1
2
3

STRATEGI PENGEMBANGAN

4.1

Meningkatnya daya serap pasar


terhadap karya video dalam negeri,
dan penetrasi pasar luar negeri

Menjamin ketersediaan,
kesesuaian, jangkauan harga/
biaya, sebaran/penetrasi, dan
performansi, infrastruktur
telematika-jaringan internet;
dan infrastruktur logistik dan
energi
Mengatur kebijakan
pengutamaan penggunaan
jasa lokal pihak ke tiga oleh
Pemerintah Daerah

Membuat kebijakan terkait pengutamaan penggunaan jasa videografer


lokal oleh agensi atau rumah produksi, biro iklan, dan stasiun televisi
nasional
Membuat program pemanfaatan oleh Pemerintah Daerah, terhadap jasa
dan karya videografer daerah untuk pengembangan sektor pariwisata
daerah
Membuat program festival video tahunan di daerah-daerah potensi yang
terintegrasi secara nasional

Membuat program peningkatan kuota dan kecepatan internet nasional,


karena menjadi basis distribusi video saat ini

4. Peningkatan kualitas infrastruktur pemasaran karya video di tingkat lokal, nasional, dan internasional

Misi 3: Mengembangkan kekuatan hubungan antarpemangku kepentingan dalam pengembangan ekosistem ekonomi kreatif video

3.3

MISI/TUJUAN/SASARAN

LAMPIRAN

83

ARAH KEBIJAKAN

Tercapainya pembangunan
infrastruktur fisik maupun nonfisik,
dan teknologi pendukung industri
video di daerah-daerah potensi yang
mudah diakses dan kompetitif

Memfasilitasi akses terhadap


teknologi secara mudah dan
kompetitif

Mendorong pengembangan
basis-basis pengembangan
teknologi di daerah
potensi yang mendukung
pengembangan industri
kreatif video

Membuat kebijakan memperbanyak ruang tayang di daerah yang berkaitan


dengan kepentingan umum

Membuat kebijakan kemudahan pemanfaatan ruang publik untuk


eksplorasi karya video

2
3

Membuat kebijakan mengenai subsidi pajak barang mewah atas peralatan,


perangkat lunak dan teknologi produksi video lainnya. Utamanya bagi
videografer bersertifikasi dari asosiasi nasional yang bernaung di bawah
pemerintah pusat

STRATEGI PENGEMBANGAN

Terciptanya regulasi nasional yang


mendukung pengarusutamaan
industri kreatif termasuk video
dalam kebijakan pengembangan
daerah

Terciptanya promosi pariwisata


dan kebudayaan di daerah potensi
berbasis karya kreatif video

6.1

6.2

Meningkatnya ragam karya


produk video berbasis
potensi dan isu lokal

Meningkatkan kolaborasi
antar pemangku kepentingan
dalam melakukan
pengembangan teknologi
penunjang karya kreatif video
yang berbasis potensi daerah

Meningkatkan sinergi,
koordinasi, dan kolaborasi
antar-aktor (media,
intelektual, bisnis, komunitas,
dan Pemerintah) dan orang
kreatif dalam pengembangan
industri kreatif video daerah
dan nasional

Membuat program/event rutin penyelenggaraan di daerah potensi yang


bertujuan sebagai pembinaan dan pengembangan industri kreatif video

Membuat program investasi yang dilakukan oleh pemangku kepentingan di


daerah untuk pengembangan industri kreatif video di daerah potensi

Membuat kemudahan dan bantuan dari Pemerintah Daerah untuk karya


video yang menampilkan potensi daerah

6. Peningkatan kuantitas dan kualitas komunitas dan asosiasi video di daerah yang terintegrasi secara nasional

5.1

5. Peningkatan kualitas akses terhadap teknologi yang dibutuhkan oleh industri video

MISI/TUJUAN/SASARAN

84

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

6.3

Meningkatnya apresiasi masyarakat


terhadap sumber daya alam dan
budaya lokal melalui media karya
video

MISI/TUJUAN/SASARAN

Mengembangkan,
memfasilitasi pembentukan,
dan peningkatan kualitas
organisasi atau wadah
yang dapat mempercepat
pengembangan industri
kreatif video

ARAH KEBIJAKAN

Membuat penghargaan (awarding) bagi orang, karya, wirausaha, atau


usaha videografer lokal

STRATEGI PENGEMBANGAN

LAMPIRAN

85

INDIKASI STRATEGIS

Meningkatnya kuantitas dan kualitas pendidikan


yang mendukung penciptaan dan penyebaran
videografer di daerah secara berkelanjutan

Adanya perkembangan kualitas dan kuantitas pada institusi pendidikan formal video, utamanya
tingkat perguruan tinggi di daerah-daerah potensi
Adanya kurikulum dan metode pendidikan video yang teraktualisasi dengan kebutuhan industri
penyerap dan perkembangan tren global
Adanya program pemberdayaan lembaga pendidikan nonformal dan informal oleh Pemerintah
Daerah yang berkolaborasi dengan sektor industri kreatif lainnya
Adanya pemanfaatan potensi media video sebagai media pendidikan institusi pendidikan formal
untuk pengembangan daya kreatifitas siswa didik dan alat belajar mengajar

a
b
c
d

Meningkatnya kuantitas dan kualitas individu serta


peran serta komunitas video di daerah potensi
terhadap problem daerahnya melalui pengaryaan
video yang kreatif

Adanya program pembinaan dan pengembangan komunitas video di daerah-daerah potensi di


bawah Asosiasi profesi Nasional dan Pemerintah Pusat maupun Daerah
Jumlah videografer daerah potensi meningkat
Adanya penggunaan jasa videografer lokal oleh Pemerintah Daerah setempat
Adanya karya video lokal hasil dari program kolaboratif antara videografer lokal dengan
Pemerintah Daerah setempat untuk pemanfaatan media video berbasis potensi lokal

a
b
c
d

3.1

Terciptanya sentra data nasional mengenai ruang


lingkup dan infrastruktur industri kreatif video

Adanya pemetaan dan database sumber daya dan potensi video nasional, yang terintegrasi
dikelola oleh asosiasi profesi nasional dan Pemerintah Pusat
Produktivitas karya video kreatif di daerah potensi dan secara nasional meningkat

a
b

3. Terwujudnya industri video di daerah potensi yang kreatif, beragam, dinamis, dan berdaya saing

MISI 2: Mengembangkan industri kreatif video Indonesia yang kolaboratif dan terintegrasi agar berdaya saing internasional

2.1

2. Terciptanya kesadaran komunitas masyarakat berikut Pemerintah Daerahnya dalam pemanfaatan video sebagai alat dan media komunikasi untuk pembangunan
daerah

1.1

1. Terciptanya videografer yang kreatif dan berdaya saing di daerah-daerah potensial pengembangan ekonomi kreatif.

Misi 1: Mengoptimalkan pemanfaatan video sebagai media dan alat konservasi untuk kreasi sumber daya alam dan produk budaya Indonesia

MISI/TUJUAN/SASARAN

MATRIKS INDIKASI STRATEGIS PENGEMBANGAN VIDEO

86

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

Meningkatnya keragaman kualitas video kreatif lokal


daerah potensi

3.3

Adanya kebijakan khusus yang berpihak pada videografer lokal dan membatasi videografer asing
yang bekerja di Indonesia
Adanya program pembinaan dan pengembangan oleh asosiasi profesi nasional untuk
pengembangan sumber daya orang kreatif videografer di daerah-daerah potensi
Adanya karya terbaik video nasional dalam ajang festival atau eksibisi video bertaraf
internasional

b
c
d

Adanya informasi pada media publik, dan kemudahan dalam mengakses segala sesuatu yang
berkaitan dengan HKI

Adanya peta sumber daya budaya dan potensi industri pariwisata daerah yang dapat
dimanfaatkan produktivitas karya video secara nasional

Adanya penggunaan media video sebagai salah satu ruang interaksi sosial masyarakat di daerah
potensi

a.

Adanya penggunaan jasa videografer lokal, utamanya oleh institusi Pemerintah Daerah

INDIKASI STRATEGIS

4.1

Meningkatnya daya serap pasar terhadap karya


video dalam negeri, dan penetrasi pasar luar negeri

Adanya peningkatan kuota dan kecepatan internet nasional, karena menjadi basis distribusi video
saat ini
Adanya kebijakan terkait pengutamaan penggunaan jasa videografer lokal oleh agensi atau
rumah produksi, biro iklan, dan stasiun televisi nasional
Adanya program pemanfaatan oleh Pemerintah Daerah, terhadap jasa dan karya videografer
daerah untuk pengembangan sektor pariwisata daerah
Membuat program festival video tahunan di daerah-daerah potensi yang terintegrasi secara
nasional

a
b
c
d

4. Terciptanya infrastruktur yang mendukung distribusi pemasaran karya video secara lokal, nasional, dan internasional

Misi 3: Mengembangkan kekuatan hubungan antarpemangku kepentingan dalam pengembangan ekosistem ekonomi kreatif video

Meningkatnya usaha dan wirausahawan industri


kreatif video di daerah-daerah potensi bertaraf
internasional

3.2

MISI/TUJUAN/SASARAN

LAMPIRAN

87

Tercapainya pembangunan infrastruktur fisik


maupun nonfisik, dan teknologi pendukung industri
video di daerah-daerah potensi yang mudah di akses
dan kompetitif

Adanya kebijakan mengenai subsidi pajak barang mewah atas peralatan, perangkat lunak, dan
teknologi produksi video lainnya, utamanya bagi videografer bersertifikasi dari asosiasi nasional
yang bernaung di bawah Pemerintah
Adanya kebijakan kemudahan pemanfaatan ruang publik untuk eksplorasi karya video
Adanya kebijakan memperbanyak ruang tayang di daerah yang berkaitan dengan kepentingan
umum

b
c

Terciptanya regulasi nasional yang mendukung


pengarusutamaan industri kreatif termasuk video
dalam kebijakan pengembangan daerah

Terciptanya promosi pariwisata dan kebudayaan di


daerah potensi berbasis karya kreatif video

Meningkatnya apresiasi masyarakat terhadap


sumber daya alam dan budaya lokal melalui media
karya video

6.1

6.2

6.3

INDIKASI STRATEGIS

Adanya penghargaan (awarding) bagi orang, karya, wirausaha, atau usaha videografer lokal

Adanya program/event rutin penyelenggaraan di daerah potensi yang bertujuan sebagai


pembinaan dan pengembangan industri kreatif video

Adanya investasi yang dilakukan oleh pemangku kepentingan di daerah untuk pengembangan
industri kreatif video di daerah potensi

b
a

Adanya kemudahan dan bantuan dari pemerintah daerah untuk karya video yang menampilkan
potensi daerah

6. Terciptanya komunitas/asosiasi video di daerah yang terintegrasi secara nasional

5.1

5. Terciptanya infrastruktur teknologi pendukung industri video yang mudah di akses dan kompetitif

MISI/TUJUAN/SASARAN

88

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

DESKRIPSI RENCANA AKSI

PENANGGUNGJAWAB
2015

2016

2017

TAHUN
2018

Memperbaiki kurikulum dan metode


pendidikan video yang teraktualisasi
dengan kebutuhan industri penyerap, dan
perkembangan tren global

Memberdayakan lembaga pendidikan


nonformal dan informal oleh Pemerintah
Daerah yang berkolaborasi dengan sektor
industri kreatif lainnya

Membuat program pemanfaatan potensi


media video sebagai media pendidikan
institusi pendidikan formal untuk
pengembangan daya kreativitas siswa didik
dan alat belajar mengajar

Melakukan pengembangan metode


pemanfaatan media video sebagai
perangsang kreativitas siswa didik
dan alat belajar mengajar

Melakukan pemetaan dan


pemanfaatan lembaga pendidikan non
formal dan informal di daerah potensi
untuk kepentingan pengemangan
industri kreatif di daerah tersebut

Mengevaluasi dan menganalisa


orientasi kurikulum pendidikan yang
sesuai dengan perkembangan industri
penyerap dan trend pasar global

Melakukan pemetaan daerah potensi


untuk pengembangan pendidikan
seraya memperbaiki kurikulum dan
metode pendidikan video perguruan
tinggi

Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan;
Asosiasi keprofesian

Kementerian
PAREKRAF, PEMDA,
Komunitas, dan
Asosiasi Profesi

Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan;
Asosiasi keprofesian

Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan;
Asosiasi keprofesian

2019

Pembinaan dan pengembangan komunitas


video di daerah-daerah potensi di bawah
Asosiasi Nasional dan Pemerintah Pusat
maupun Daerah

Memetakan kemudian memberikan


pembinaan simpul-simpul komunitas
yang aktif dalam pengaryaan karya
kreatif video di daerah potensi

Kementerian
PAREKRAF, PEMDA,
Komunitas, dan
Asosiasi Profesi

SASARAN 2: Meningkatnya kuantitas dan kualitas individu serta peran serta komunitas video di daerah potensi terhadap problem daerahnya melalui pengaryaan
video yang kreatif

Mengembangkan kualitas dan kuantitas


institusi pendidikan formal video, utamanya
tingkat pergguran tingga di daerah-daerah
potensi

SASARAN 1: Meningkatnya kuantitas dan kualitas pendidikan yang mendukung penciptaan dan penyebaran videografer di daerah secara berkelanjutan

SASARAN/RENCANA AKSI

MATRIKS RENCANA AKSI PENGEMBANGAN VIDEO 2015-2019

LAMPIRAN

89

Melakukan usaha apresiasi berupa


pengakuan keberdaan profesi videografer
daerah, dalam bentuk penggunaan jasanya
oleh Pemerintah Daerah setempat

Membuat program kolaboratif dengan


Pemerintah Daerah setempat untuk
pemanfaatan media video berbasis potensi
lokal

Membuat program yang merangsang


produktivitas karya video kreatif di daerah
potensi dan dapat meningkatkan kuantitas
maupun kualitasnya secara nasional

Membuat program pengembangan


sumber daya di daerah potensi,
melalui workshop, seminar, ajang
perlombaan, ataupun proyek
pengaryaan karya video secara
nasional

Inventarisasi potensi daerah dan


pengaryaan menjadi karya kreatif
video untuk publikasi dna pemasaran

Memetakan dan mengembangkan


videografer (orang kreatif, wirausaha
kreatif, dan usaha kreatif video) di
daerah potensi oleh PEMDA setempat

Melakukan workshop, seminar dan


eksibisi traveling ke daerah-daerah
potensi

DESKRIPSI RENCANA AKSI

Kementerian
PAREKRAF, PEMDA,
Komunitas, dan
Asosiasi Profesi

Kementerian
PAREKRAF, PEMDA,
Komunitas, dan
Asosiasi Profesi

Kementerian
PAREKRAF, PEMDA,
Komunitas, dan
Asosiasi Profesi

Kementerian
PAREKRAF, PEMDA,
Komunitas, dan
Asosiasi Profesi

PENANGGUNGJAWAB

Membuat pemetaan dan database sumber


daya dan potensi video nasional yang
terintegrasi dikelola oleh asosiasi nasional
dan pemerintah pusat

Memetakan potensi nasional


industri kreatif video baik yang
langsung seperti para orang kreatif
(videografer), wirausaha dan usaha
kreatif video, dan juga potensi
pendukung sperti infrastruktur,
perizinan, keuangan dan sebagainya.
Dibuat dalam media yang terintegrasi
dan mudah diakses

Kementerian
PAREKRAF,
Komunitas, dan
Asosiasi Profesi

SASARAN 3: Terciptanya sentra data nasional mengenai ruang lingkup dan infrastruktur industri kreatif video

Melakukan program usaha peningkatan


jumlah videografer di daerah potensi

SASARAN/RENCANA AKSI

2015

2016

2017

TAHUN

2018

2019

90

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

DESKRIPSI RENCANA AKSI

PENANGGUNGJAWAB
2015

Melakukan optimalisasi penggunaan media


video sebagai salah satu ruang interaksi
sosial masyarakat di daerah potensi

Membuat progam publikasi mengenai


informasi HKI

Membuat media publikasi nasional


yang saling terintegrasi dan aktual
mengenai seluk beluk HKI

Mengoptimalkan media video sebagai


media komunikasi publik di daerah
potensi

Memetakan kebutuhan daerah yang


berbasis media, dan melakukan
penawaran (tender) pada pelaku
kreatif video lokal

Membuat pemetaan sumber daya budaya


dan potensi industri pariwisata daerah yang
dapat dimanfaatkan produktivitas karya
video

Membuat kebijakan khusus yang berpihak


pada videografer lokal dan membatasi
videografer asing yang bekerja di Indonesia

Membuat program pembinaan dan


pengembangan oleh asosiasi profesi
nasional untuk pengembangan sumber daya
orang kreatif videografer di daerah-daerah
potensi

Membuat program workshop, eksibisi


dan seminar traveling nasional

Membuat regulasi mengenai


perlindungan para pekerja, usaha,
dan wirausaha kreatif video dari para
pekerja, usaha, dan wirausaha kreatif
video asing

Memetakan potensi pariwisata daerah


baik landscape maupun produkproduk tradisi dan budaya di daerah
potensi

SASARAN 5: Meningkatnya keragaman kualitas video kreatif lokal daerah potensi

Membuat program yang berusaha melakukan


peningkatan penggunaan jasa videografer
lokal, utamanya oleh institusi Pemerintah
Daerah

Kementerian
PAREKRAF, PEMDA
dan Asosiasi Profesi

Kementerian
PAREKRAF dan
MENHUNKAM,
MENAKERTRANS

Kementerian
PAREKRAF dan
PEMDA

Kementerian
PAREKRAF,
MENHUNKAM, dan
MEKOMINFO

PEMDA, Komunitas,
dan Asosiasi Profesi

PEMDA, Komunitas,
dan Asosiasi Profesi

SASARAN 4: Meningkatnya usaha dan wirausahawan industri kreatif video di daerah-daerah potensi bertaraf internasional

SASARAN/RENCANA AKSI

2016

2017

TAHUN

2018

2019

LAMPIRAN

91

Keikutsertaan karya terbaik dari ajang


festival atau eksibisi daerah potensi dan
nasional dalam ajang fetival atau eksibisi
video bertaraf internasional

Membuat program pengembangan


sumber daya di daerah potensi,
melalui keikutsertaan dalam ajang
kreatif pengaryaan video dalam event
bertaraf internasional

DESKRIPSI RENCANA AKSI


Kementerian
PAREKRAF, dan
Asosiasi Profesi

PENANGGUNGJAWAB

Membuat program pemanfaatan oleh


Pemerintah Daerah, terhadap jasa dan karya
videografer daerah untuk pengembangan
sektor pariwisata daerah

Membuat program festival video tahunan


di daerah-daerah potensi yang terintegrasi
secara nasional

Membuat sebuah program berupa


festival nasional sebagai ajang
apreasiasi dan pengembangan
industri kreatif video di daerahdaerah potensi yang teritegrasi
secara nasional

Membuat program pengembangan


media ruang tayang karya kreatif
video untuk publik lebih luas lagi di
daerah-daerah potensi

Membuat program pemutakhiran


infrastruktur teknologi pendukung
pengaryaan, distribusi, dan
pemasaran karya kreatif video

Kementerian
PAREKRAF, Asosiasi
Profesi dan komunitas

Kementerian
PAREKRAF, PEMDA,
MENKOMINFO ,
Asosiasi Profesi dan
komunitas

Kementerian
PAREKRAF, BAPENAS,
MENKOMINFO dan
Asosiasi Profesi

2015

2016

2017

TAHUN

2018

2019

Membuat kebijakan mengenai subsidi pajak


barang mewah atas peralatan, perangkat
lunak dan teknologi produksi video lainnya.
Utamanya bagi videografer bersertifikasi
dari asosiasi nasional yang bernaung di
bawah pemerintah pusat

Membuat regulasi yang memberikan


kebijakan keringanan harga untuk
peralatan pendukung (impor) produksi
karya kreatif video

Kementerian
Perdagangan,
KEMENHUNKAM,
dan Kementerian
PAREKRAF

SASARAN 7: Tercapainya pembangunan infrastruktur fisik maupun nonfisik, dan teknologi pendukung industri video di daerah-daerah potensi yang mudah di akses
dan kompetitif

Membuat program peningkatan kuota dan


kecepatan internet nasional, karena menjadi
basis distribusi video saat ini

SASARAN 6: Meningkatnya daya serap pasar terhadap karya video dalam negeri dan penetrasi pasar luar negeri

SASARAN/RENCANA AKSI

92

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019

Membuat kebijakan memperbanyak ruang


tayang di daerah yang berkaitan dengan
kepentingan umum

Membuat program pengembangan


jumlah ruang tayang untuk karya
kreatif video sebagai medium
apresiasi dan edukasi publik terhadap
karya kreatif video

Membuat peraturan daerah dalam


pemanfaatan ruang publik untuk
kepentingan pengembangan industri
dan ekonomi kreatif di daerah potensi,
ataupun lokasi strategis

DESKRIPSI RENCANA AKSI

Kementerian
PAREKRAF,
KEMENDIKBUD,
MEKOMINFO, dan
PEMDA

Kementerian
PAREKRAF, PEMDA,
dan KEPOLISIAN

PENANGGUNGJAWAB
2015
x

2016

2017

TAHUN

2018

Pengembangan kebijakan pembiayaan


dan kemudahan bagi videografer yang
mengangkat potensi daerah

Pengembangan kebijakan insentif bagi


investasi di daerah untuk pengembangan
industri kreatif video

Pengembangan kebijakan terkait


pengutamaan penggunaan jasa videografer
lokal oleh agensi atau rumah produksi, biro
iklan, dan stasiun televisi nasional, dan
pemerintah

Membuat regulasi yang


memprioritaskan jasa atau pekerja
video dalam negeri untuk semua pihak
yang membutuhkan karya kratif video

Membuat program kolaboratif yang


memanfaatkan media video dalam
pengembangan daerah secara kreatif

Mempuat program kerjasama dengan


pelaku orang kreatif (videografer),
usaha dan wirausaha kreatif video
lokal di daerah potensi, dalam bentuk
bantuan dan dukungan kemudahan
perizinan pembiayaan dan sebagainya
apabila mengandung muatan lokal
(promosi) daerah setempat

Kementerian
PAREKRAF,
MENHUMKAM,
MENKOMINFO dan
Asosiasi Profesi

PEMDA, dunia usaha,


institusi pendidikan,
komunitas dan media
massa

PEMDA dan komunitas

SASARAN 8: Terciptanya regulasi nasional yang mendukung pengarus utamaan industri kreatif termasuk video dalam kebijakan pengembangan daerah

Membuat kebijakan kemudahan pemanfaatan


ruang publik untuk eksplorasi karya video

SASARAN/RENCANA AKSI

2019

LAMPIRAN

93

Pengembangan kebijakan keberpihakan


dan insentif terhadap penggunaan jasa
videografer lokal oleh swasta

Membuat regulasi yang


memprioritaskan jasa atau pekerja
video dalam negeri untuk semua pihak
yang membutuhkan karya kratif video

DESKRIPSI RENCANA AKSI


Kementerian
PAREKRAF,
MENHUMKAM,
MENKOMINFO dan
Asosiasi Profesi

PENANGGUNGJAWAB

Membuat program/event rutin


penyelenggaraan di daerah potensi yang
bertujuan sebagai medium nurturing,
pengembangan industri kreatif video

Menyelengrakan events daerah yang


melibatkan pemanfaatan karya video
kreatif dalam setiap kegiatannya, baik
sebagai media maupun konten utama
kegiatan

PEMDA dan
Komunitas

2015

Membuat penghargaan (awarding) bagi orang,


karya, wirausaha, atau usaha videografer
lokal

Membuat program berupa eksibisi


dan ajang penghargaan untuk para
praktisi industri dan ekonomi kreatif
daerah potensi termasuk subsektor
video secara berkala

PEMDA

SASARAN 10: Meningkatnya apresiasi masyarakat terhadap sumber daya alam dan budaya lokal melalui media karya video

SASARAN 9: Terciptanya promosi parawisata dan kebudayaan di daerah potensi berbasis karya kreatif video

SASARAN/RENCANA AKSI

2016

2017

TAHUN

2018

2019

348

Ekonomi Kreatif: Rencana Aksi Jangka Menengah 2015-2019

96

Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Video Nasional 2015-2019