Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PRAKTIKUM

DASAR-DASAR BIOTEKNOLOGI TANAMAN


( AGH 330 )

KULTUR ANTHERA PEPAYA

Kelompok 9
Ricky Okta Amanda (A24130110)

DOSEN
Dr. Ir. NI MADE ARMINI WIENDI, MS

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA


FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2015

BAB I
PENDAHULUAN
Latar belakang
Kultur antera merupakan salah satu teknik untuk mendapatkan tanaman haploid sehingga
seringkali dikenal dengan nama kultur haploid. Tanaman dari hasil kultur antera merupakan
tanaman haploid digunakan untuk menghasilkan kultivar atau hibrida FI yang akan digunakan
sebagai bahan seleksi oleh pemulia tanaman. Yang dimaksud tanaman haploid adalah tanaman
yang mempunyai jumlah kromosom sama dengan gemetofitik dalam sel sporofitik (Bajaj 1983
dalam Gunawan 1992).
Kultur antera atau kultur haploid banyak dipergunakan dalam menghasilkan kultivarkultivar baru karena memiliki beberapa keunggulan. Menurut Wattimena et al (1992)tanaman
haploid memberikan beberapa keuntungan antara lain : (1)semua sifat dapat ditampilkan pada
keadaan monohaploid baik sifat dominan maupun sifat resesif, (2) seleksi pada tingkat haploid
(mono atau di)jauh lebih mudah dari tingkat polidi yang lebih tinggi , (3)penggandaan dari
tanaman monohaploid akan menghasilkan tanaman tetraploid yang homozigot. (4)hibridisasi
seksual antara tetraploid dan diploid akan menghasilkan tanaman triploid, demikian pula dengan
hibridiasi somatic antara monohaploid dan dihaploid, (5) pada tanaman asparagus kultur haploid
dipergunakan untuk menghasilkan tanaman super jantan yang selanjutnya dipergunakan untuk
menghasilkan tanaman jantan, (6) tanaman diploid dan tetraploid dapat dilepaskan sebagai
kultivar baru atau dipergunakan sebagai hibrida FI.
Menurut Rostini (1999), keberhasilkan kultur antera sangat dipengaruhi oleh kondisi
pertumbuhan dari tanaman donor, umur tanaman donor, tahap perkembangan antera/pollen,
metode sterilisasi , perlakuan sebelum kultur, metode pengambilan antera, medium kultur (cair
atau padat), kondisi inkubasi dan subkultur dari kalus mikrospora atau embrio.
Dalam kultur antera , sering timbul masalah seperti munculnya tanaman albino, dimana
frekuensi terjadinya tanaman albino bervariasi dan dipengaruhi oleh tanaman donor dan kondisi
kultur in-vitro (Chung, 1992 dalam Wattimena et al 1992).
Tujuan
Tujuan dari percobaan ini adalah melatih untuk mengisolasi anthera dari bunga dan
menanam anthera secara in vitro untuk diinduksi menjadi tanaman haploid secara androgenesis.

BAB II
BAHAN DAN METODE
Bahan dan Alat
1. Bahan tanaman berupa kuncup bunga pepaya jantan pada berbagai umur fisiologi
2. media N6 (dari komposisi Nitch) + 0.5 mg/l NAA + 2 mg/l Kinetin + 30 g/l gula dan pH 6.5
3. Alkohol 70%
4. Alat tanam yang di gunakan adalah pinset

Metode Pelaksanaan
1. Pisahkan kuncup bunga jantan dari tanaman pepaya sesuai ukurannya. Ukuran kuncup bunga
berkorelasi dengan umur bunga
2. Sterilisasi kuncup bunga dengan cara mencelupkan bunga ke dalam alkohol 70% lalu
lewatkan di atas api bunsen, lalu diamkan sampai apinya padam
3. Lakukan hal yang sama seperti nomor 2 sebanyak 2 kali
4. Buka kuncup bunga dengan pinset dan buang korolanya dengan hati-hati agar antheranya
tidak rusak
5. Lepaskan anthera dari tangkai bunga dan tanam padamedia kultur N6
6. Kultur anthera selanjutnya di simpan dalam gelap selama 2 bulan untuk menginduksi
pertumbuhan kalus
7. Anthera yang berasal dari kuncup bunga yang berukuran sama di kulturkan di dalam botol
yang sama

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Tabel 1.1
Eksplan Ulangan

Besar

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Rataan
1
2
3
4
5
6
Sedang
7
8
9
10
11
Rataan
Kecil
1
2
3
4
5
6
7
8

% Kontam
1 MST
2 MST
3 MST
60
80
100
75
95
100
0
100
100
0
0
0
0
0
0
90
95
98
95
97
98
95
95
95
95
95
100
80
80
90
100
100
100
62,73
76,09
80,09
30
50
80
10
10
50
0
0
0
5
100
100
75
100
100
78
80
95
90
95
97
80
80
80
80
80
100
80
80
100
0
0
0
48,00
61,36
72,91
60
80
100
85
100
100
0
0
0
15
100
100
30
50
50
97
100
100
85
88
95
100
100
100

1 MST
0
0
0
80
100
0
0
0
0
0
0
16,36
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0,00
0
0
0
90
0
0
0
0

% Kalus
2 MST 3 MST
0
0
4
4
0
0
80
80
100
100
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
16,73
16,73
0
0
0
10
0
0
0
0
0
25
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0,00
3,18
0
0
0
0
0
0
95
97
0
0
0
0
0
0
0
0

9
10
11
Rataan

100
80
0
59,27

100
100
0
74,36

100
100
0
76,82

0
0
0
8,18

0
0
0
8,64

0
0
0
8,82

Pembahasan
Kultur antera atau kultur haploid banyak dipergunakan dalam menghasilkan kultivarkultivar baru karena memiliki beberapa keunggulan. Anther diperoleh dari tunas bunga dan dapat
dikulturkan pada medium padat atau cair sehingga terjadi embriogenesis. Selain itu pollen juga
dapat diambil secara aseptik dan dikulturkan pada medium cair. Proses perbanyakan tanaman
haploid dengan menggunakan gametofit jantan semacam ini diesebut sebagai androgenesis.

BAB IV
KESIMPULAN
Kultur anther dan serbuk sari digunakan untuk menghasilkan tanaman monoploid atau
haploid. Meskipun mutasi mudah terjadi dalam sel biakan namun banyak mutasi tersebut
bersifat resesif.

BAB V
DAFTAR PUSTAKA
Hendaryono,D. P. S. Dan Ari. W., 2004. Teknik Kultur Jaringan-Pengenalan dan Petunjuk
Perbanyakan Tanaman Secara Vegetatif Modern, Kanisius, Yogyakarta.
Rahardja, D. C. 2001. Kultur Jaringan, Teknik Perbanyakan Tanaman Secara Modern. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Rostini, N. 1999.Diktat Kuliah Pengantar Bioteknologi Dalam Pemuliaan Tanaman.Bandung
:Fakultas Pertanian, Universitas Pedjadjaran.