Anda di halaman 1dari 10

Laporan Tugas Akhir

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Logam mangan pertama kali dikenali oleh Scheele,
Bergman dan ahli lainnya sebagai unsur dan diisolasi oleh
Gahn pada tahun 1774, dengan mereduksi mangan dioksida
dengan karbon. Dalam tabel periodik unsur kimia, Mangan
memiliki lambang Mn dengan nomor atom 25. Unsur kimia
adalah zat kimia yang tidak dapat dapat diubah menjadi zat
kimia lain dengan cara biasa dan tidak dapat dipisah menjadi
zat yang lebih kecil. Unsur-unsur kimia dalam bentuk tabel
ditampilkan dalam bentuk tabel periodik unsur-unsur kimia.
Nomor atom adalah angka yang menunjukkan jumlah proton
dalam inti atom. Yang berarti bahwa Mangan memiliki 25
jumlah proton dalam inti atomnya.
Mineral mangan tersebar secara luas dalam banyak
bentuk; oksida, silikat, karbonat adalah senyawa yang paling
umum. Penemuan sejumlah besar senyawa mangan di dasar
lautan merupakan sumber mangan dengan kandungan 24%,
bersamaan dengan unsur lainnya dengan kandungan yang
lebih sedikit. Mangan ditemukan sebagai unsur bebas dalam
sifat dasarnya dan sering dicampur dengan besi, seperti
mineral-mineral lainnya. Sebagai unsur bebas, Mangan adalah
logam yang penting dalam penggunaan campuran logamlogam di industri baja. Dalam baja, mangan bersifat
meningkatkan kualitas tempaan baik dari segi kekuatan,
kekerasan,dan kemampuan pengerasan
Mangan fosfat sering digunakan sebagai perawatan
dalam pencegahan karat dan kerusakan di besi. Pemanfaatan
mangan di dunia sebagian besar digunakan untuk tujuan
metalurgi, yaitu untuk proses produksi besi-baja, sedangkan
penggunaan mangan untuk tujuan non-metalurgi antara lain
produksi baterai kering, keramik dan gelas, dan kimia.
Mangan dioksida (sebagai mineral mangan) juga digunakan

Pendahuluan

2
Laporan Tugas Akhir
sebagai pendepolarisasi pada sel kering baterai dan untuk
menghilangkan warna hijau pada gelas yang disebabkan oleh
pengotor besi.
Potensi cadangan bijih mangan di Indonesia cukup
besar, namun terdapat di berbagai lokasi yang tersebar di
seluruh Indonesia. Potensi tersebut terdapat di Pulau Sumatera
dan Kepulauan Riau, Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa
Tenggara, Maluku, dan Papua. Produksi mangan di seluruh
Indonesia tidak mencapai 10%. Pada gambar 1.1 dapat
menjelaskan peta loksasi mineral mangan (Redaksi
Flores.Net.com. 2010). Dengan diberlakukannya Undangundang Pertambangan No. 4 Tahun 2009 tentang
Pertambangan Mineral dan Batubara, dimana bijih mineral
dilarang untuk dieskpor, maka terbuka luas peluang untuk
memproses dan mengolahnya di daerah (R. Sukhyar,2010).

Gambar 1.1 Peta sebaran lokasi mineral logam di Provinsi


NTT (R. Sukhyar,2010)
Tahapan proses ekstraksi metalurgi ada dua yaitu
pirometalurgi dan hidrometalurgi. Hidrometalurgi merupakan
cabang tersendiri dari metalurgi. Secara harfiah
hidrometalurgi dapat diartikan sebagai cara pengolahan logam
dari batuan atau bijihnya dengan menggunakan pelarut berair
(aqueous solution). Atau secara detilnya proses
Hydrometalurgi adalah suatu proses atau suatu pekerjaan
dalam metalurgy, dimana dilakukan pemakaian suatu zat
kimia yang cair untuk dapat melarutkan suatu partikel

Pendahuluan

3
Laporan Tugas Akhir
tertentu, contonya leaching. Pirometalurgi adalah Suatu proses
ekstraksi metal dengan memakai energi panas. Suhu yang
dicapai ada yang hanya 50 - 250 C (proses Mond untuk
pemurnian nikel), tetapi ada yang mencapai 2.000 C (proses
pembuatan paduan baja). Yang umum dipakai hanya berkisar
500 - 1.600 C ; pada suhu tersebut kebanyakan metal atau
paduan metal sudah dalam fase cair bahkan kadang-kadang
dalam fase gas, contohnya furnace reverberatory, deep
reduction.
Ada beberapa metode secara pyro metalurgi yaitu
bijih dipisahkan dari bahan bakar tapi berada dalam kontak
dengan pembakaran gas dengan menggunakan furnace
reverberatory. Teknologi ini lama dan digunakan untuk
tembaga atau mangan. Saat ini digunakan terutama di
sekunder aluminium (skrap) industri, peleburan sebelum diecasting. Digunakan di Cina di sejumlah ElMn pabrik-pabrik
untuk mengurangi bijih oksida Mn. Jika gas buang tidak
dikumpulkan dan dibakar sepenuhnya, proses ini berpotensi
sangat polusi (Madelein Todd,2010). Gambar 1.2
menggambarkan furnace reverberatory.

Gambar 1.2 Furnace reverberatory (Madelein Todd,2010).

Pendahuluan

4
Laporan Tugas Akhir
Selain itu, Ada metode sederhana yaitu Heap
reduction. Tidak ada instalasi yang signifikan peralatan yang
diperlukan, hanya sistem gas perpipaan. Metode ini digunakan
pada Kerr-McGee EMM pabrik di Amerika Serikat (ditutup
pada tahun 2001). Gas alam merupakan sumber panas dan
reduktor tersebut. Substoikiometri pembakaran gas
menyediakan panas dan reduksi hidrokarbon. Temperatur di
dalam tumpukan harus 700 sampai 900 C. Paling cocok
untuk bijih kadar tinggi - reaksi eksoterm. Proses Batch,
biasanya diikuti dengan polishing langkah dalam tempat
vertical (Madelein Todd,2010). Gambar 1.3 Menggambarkan
deep reduction.

Gambar 1.3 Deep reduction (Madelein Todd,2010).


Ekstraksi mangan dapat menggunakan fluidized bed
reactor yaitu cara kerjanya aliran udara dilewatkan melalui
piring berlubang di bagian bawah reaksi vertical ruang, di
mana bijih yang diberi dasar yang kontinyu. Partikel yang
bagus tersuspensi dalam aliran gas panas memungkinkan
pengurangan. Hasil quenching dapat dipompa langsung ke
resapan tangki. Reduktor berupa gas atau batu bara sebagian
dibakar di ruang terpisah. Efisien penggunaan pereduksi

Pendahuluan

5
Laporan Tugas Akhir
(Madelein Todd,2010).
fluidized bed reactor.

Gambar

1.4

menggambarkan

Gambar 1.4 Fluidized bed reactor (Madelein Todd,2010).


Dan ada cara dengan hidrometalurgi yaitu leaching.
Leaching adalah metode alternatif untuk reduktif roasting
temperatur tinggi. MnO2 bijih dilarutkan langsung diencerkan
sulfat atau klorida asam dalam zat pereduksi yang cocok,
misalnya: belerang dioksida sulfat, besi klorida atau besi,
hidrogen peroksida, unsur besi, tongkat molase, dll. Standar
desain tangki leaching dengan pra-basah, agitator dan
ventilasi. Efisiensi proses dipengaruhi oleh temperatur, ukuran
partikel bijih, mereduksi konsentrasi, dan konsentrasi asam
(Madelein Todd,2010). Gambar 1.5 menggambarkan
leaching reductor.

Pendahuluan

6
Laporan Tugas Akhir

Gambar 1.5 Leaching reductor (Madelein Todd,2010).


Ada teknologi terbaru untuk ekstraksi mangan yaitu
microwave yang cara kerja hampir sama dengan kalsinasi,
tapi sumber panas adalah gelombang mikro. Reduktor
(batubara atau minyak) akan bertambah dari bijih di dalam
tabung berputar. Efisiensi dari proses ini tergantung pada
desain magnetron dan material yang memanas saat terkena
gelombang mikro. Suasana harus dikendalikan mirip dengan
kalsinasi. Panas microwave hanya substansi dikurangi dan
tidak atmosfer di sekitarnya atau dindingnya. Hal ini membuat
sangat hemat energi. Dengan fisik yang lebih kecil dan
substansial lebih kecil, microwave menawarkan jauh lebih

Pendahuluan

7
Laporan Tugas Akhir
rendah biaya operasional dari proses kalsinasi atau furnace
reverberatory (Madelein Todd,2010). Teknologi ini dapat
menghasilkan mangan dari konsentrat mineral mangan.
Teknologi ini dapat diproyeksikan sebagai metode alternatif
ekstraksi mangan di Indonesia selain metode furnace
reverberatory, kalsinasi, leaching, fluidized bed reactor, dll.
Gambar 1.6 menggambarkan microwave.

Gambar 1.6 Microwave (Madelein Todd,2010).


Dengan
metode
gelombang
mikro,
panas
dibangkitkan secara internal akibat getaran molekul-molekul
target oleh gelombang mikro. Karena karakter gelombang
mikro yang dapat menembus molekul target, maka pemanasan
dengan gelombang mikro berlangsung secara simultan. Oleh
karena itu pemanasan dengan menggunakan gelombang mikro
dapat berlangsung sangat cepat. Berbagai penelitian
penggunaan gelombang mikro pada proses ekstraksi metalurgi
secara langsung menunjukkan bahwa gelombang mikro sangat
efektif untuk menunjang proses ekstraksi material.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi reduksi
mineral mangan dengan menggunakan microwave ini, antara
lain konstanta dielektrik material (permitivitas nyata),
permitivitas imajiner, frekuensi microwave, jenis bahan bakar,
komposisi bahan bakar, daya, waktu radiasi, , dsb.

Pendahuluan

8
Laporan Tugas Akhir
Penggunaan daya dan waktu penyinaran yang berbeda akan
berpengaruh terhadap cepat lambat atau optimal tidaknya
ekstraksi yang dilakukan. Oleh karena itu perlu dilakukan
penelitian terhadap penggunaan daya dan waktu penyinaran
gelombang mikrowave yang optimal sehingga proses
ekstraksi lebih optimal.
Diharapkan penelitian ini akan memberikan kontribusi
yang cukup berarti dalam ilmu pengetahuan, khususnya
dibidang pengolahan bahan tambang, dalam penemuan proses
alternatif.
1.2

Perumusan Masalah
Berdasarkan penjelasan pada latar belakang di atas,
maka rumusan masalah dalam Tugas Akhir ini yaitu,
bagaimana fungsi gelombang mikro dalam mereduksi mineral
mangan dengan variabel konstanta dielektrik material
(permitivitas nyata), permitivitas imajiner, frekuensi
microwave, jenis bahan bakar, komposisi bahan bakar, daya,
dan waktu radiasi. Dan yang dilakukan untuk penelitian saat
ini yaitu bagaimana pengaruh variasi daya dan waktu proses
penyinaran menggunakan gelombang mikro terhadap reduksi
mineral mangan.
Batasan Masalah
Agar diperoleh hasil akhir yang baik dan sesuai
dengan yang diinginkan serta tidak menyimpang dari
permasalahan yang ditinjau, maka batasan masalah pada
penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Mineral Mangan dan pereduksi dianggap homogen
pada tiap perlakuan dan pengaruh lingkungan
diabaikan.
2. Panas
terisolasi sempurna yang keluar dari
microwave oven selama penyinaran.
3. Tekanan udara dianggap konstan.

1.3

Pendahuluan

9
Laporan Tugas Akhir
4. Pengaruh pancaran gelombang mikro dianggap
sempurna.
5. Batu tahan api dianggap isolator sempurna.
1.4

Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah dapat mengetahui
mekanisme proses reduksi mineral mangan menggunakan
energi gelombang mikro serta mengetahui daya dan waktu
radiasi yang optimal.
1.5

Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat
meningkatkan perkembangan teknologi metalurgi ekstraksi di
Indonesia. Penggunaan radiasi gelombang mikro sebagai
alternatif dalam menghasilkan produk mangan dalam mineral
mangan dengan waktu yang relatif singkat dan tidak banyak
menimbulkan polusi dan ramah lingkungan. Serta sebagai
bahan masukan bagi pemerintah dan masyarakat agar
mengembangkan pemanfaatan gelombang mikro dalam proses
reduksi mineral mangan.
1.6

Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan laporan tugas akhir ini disusun
sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Berisi tentang latar belakang, perumusan masalah,
batasan masalah, tujuan, manfaat dan sistematika
penulisan dari penelitian tugas akhir.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Berisi tentang teori-teori dan penelitian sebelumnya yang
menjadi dasar dari penelitian.
BAB III METODOLOGI PENELTIAN
Berisi tentang rancangan penelitian termasuk bahan
penelitian, peralatan, diagram alir dan pengujian yang
dilakukan pada penelitian.

Pendahuluan

10
Laporan Tugas Akhir
BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
Berisi tentang data hasil pengujian dan pembahasan data
hasil pengujian tersebut sehingga diperoleh solusi dari
permasalahan.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Berisi pokok-pokok uraian analisa data dan pembahasan
pada bab sebelumnya, dan hal-hal yang dapat dijadikan
masukan pada penyelesaian permasalahan.
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

Pendahuluan