Anda di halaman 1dari 17

FARMAKOTERAPI

ASMA

KELOMPOK 2 AC
Ratih Dara Syadillah
Ummum Nada
Ervina Octaviani
Sri Mardiah Islami
Auliyani Rosdiana .K
Primo Bittaqwa
Muhammad Faisal
Rahma Atikah O.P

1113102000003
1113102000044
1113102000025
1113102000005
1113102000015
1113102000063
1113102000064
1113102000021

Tujuan Terapi
Asma Kronik
1. Mempertahankan tingkat aktivitas normal (termasuk latihan fisik)
2. Mempertahankan fungsi paru-paru (mendekati normal)
3. Mencegah gejala kronis dan yang menganggu (contoh : batuk atau
kesulitan bernafas pada malam hari, pada pagi hari atau setelah
latihan berat)
4. Mencegah memburuknya asma secara berulang dan meminimalisasi
kebutuhan untuk masuk ICU atau rawat inap.
5. Menyediakan farmakoterapi optimum dengan tidak ada atau sedikit
efek samping.
6. Memenuhi keinginan pelayanan terhadap pasien dan keluarga.

Tujuan Terapi
Asma Parah Akut
1. Perbaikan hipoksemia signifikan
2. Pembalikan cepat penutupan jalan udara (dalam
hitungan menit)
3. Pengurangan kecenderungan penutupan aliran udara
yang parah timbul kembali.
4. Pengembangan rencana aksi tertulis jika keadaan
memburuk.

FARMAKOTERA

Agonis 2
Mekanisme Kerja
Sebagai Obat pilihan pertama terhdap serangan asma
akut. Merupakan bronkodilator kerja singkat yang
paling efektif, mengaktivasi adenil siklase, yang
menghasilkan peningkatan AMP siklik intraseluler
sehingga menyebabkan relaksasi otot polos, stabilisasi
membran sel mast dan stimulasi otot skelet.
Salbutamol dan Terbutalin merupakan conton dari
Agonis 2 yang kerja singkat (short-acting).

Golongan
Obat

Fenoterol

Efikasi

Keamanan

Suitability

Harga

+++

++

++

++

++

++++

++

+++

++

++

Salbutamol
++++
+++
Kesimpulan :
Obat golongan Agonis 2 yang lebih baik berdasarkan
Terbutalin
++++
+++
efikasi, keamanan, dan suitability adalah Salbutamol dan
Terbutalin. Tetapi, dari sisi farmakoekonomi Terbutalin
lebih
terjangkau dibadingkan
Salbutamol. ++
Tulobuterol
+++

Kortikosteroid
Mekanisme Kerja
Meningkatkan jumlah reseptor 2 adrenergik dan
meningkatkan respon reseptor terhadap stimulasi 2
adrenergik, yang mengakibatkan penurunan produksi
mukus dan hipersekresi, mengurangi hiperesponsivitas
bronkus
serta
mencegah
dan
mengembalikan
perbaikan jalur nafas. Mengurangi edema dan eksudasi
pada jalur nafas.

Metil Xanthin
Mekanisme Kerja
Menghasilkan bronkodilatasi dengan menginhibisi
fosfodiesterase.
Selain
itu,
juga
menginhibisi
permeabilitas
vaskular,
meningkatkan
kliens
mukosiliar dan memperkuat kontraksi diafragma yang
kelelahan.
Metil Xanthin tidak efektif dalam bentuk aerosol dan
harus diberikan secara sistemik (oral/IV)
Contoh obat :
Teofilin

Antikolinergik
Mekanisme Kerja :
Merupakan bronkodilator efektif tetapi tidak sekuat agonis 2. Obat ini
menekan tetapi tidak mem block asma yang dipicu alergen atau latihan
pada fashion bergantung dosis. Digunakan untuk pemeliharaan HRB dan
juga untuk meniadakan serangan asma akut tetapi tidak sekuat agonis 2,
biasanya dikombinasi dengan agonis 2 untuk menghasilkan efek additif.
Contoh obat :
1. Ipatropium
2. Iotropium
3. Deptropin
(Hanya diindikasikan sebagai terapi tambahan pd asma parah akut)

TERAPI SERANGAN AKUT


Agonis 2 kerja cepat contohnya : Salbutamol dan Torbutalin.

Prinsip terapi : Merupakan terapi pilihan meredakan gejala serangan


akut dan pencegahan bronkospasmus akibat exercise.
Antikolinergik : Ipatropium Bromide

Prinsip terapi : Memberi manfaat klinis sebagai tambhan inhalasi 2


agonis pada serangan akut berat dan juga merupakan bronkodialator
alternatif bagi pasien yang tidak mentoleransi 2 agonis.
Kortikosteroid : short-term use for exaxerbation

Prinsip terapi : Digunakan jangka pendek untuk mengatasi ekseserbasi


yang sedang sampai berat, untuk mempercepat penyembuhan dan
mencegah ekseserbasi berulang.

TERAPI PEMELIHARAAN JANGKA


PANJANG
Kortikosteroid inhalasi : Beclometasone dipropionate,
Budesonide, Fluticasone dipropionate.
Long acting 2 agonis : Salmoterol, Formoterol.
Metil Xanthin : Aminofilin, Teofilin.

TERAPI NON
FARMAKOLOGI

1. Edukasi dan pembelajaran pada pasien tentang self management skill


merupakan suatu pondasi pada program treatment terapi. Self
management meningkatkan kepatuhan terhadap regiment obat dan
penggunaan pelayanan kesehatan.
2. Menghindari alergen yang diketahui untuk meringankan gejala,
mengurangi pengobatan, dan mengurangi BHR (bronkohiperresponsif).
Alergen yang berasal dari lingkungan (hewan) harus dihindari pada
pasien yang sensitif, dan perokok harus berhenti merokok.
3. Pasien dengan asma akut berat harus menerima oksigen tambahan.
Terapi untuk mempertahankan saturasi oksigen arteri di atas 90% (di
atas 95% di wanita hamil dan pasien dengan penyakit jantung).
Dehidrasi yang signifikan harus diperiksa; berat jenis urine dapat
membantu terapi sebagai panduan penilaian status hidrasi pada anakanak. Dimana penilaian status hidrasi mungkin sulit.

Daftar Pustaka
DiPiro Pharmacotherapy 7th Edition
ISO Farmakoterapi
Zulies Ikawatis lectures ASTHMA 2009
Thamrin, Husnia dkk. Obat-obat Penting Edisi 6.
Depkes RI. 2010