Anda di halaman 1dari 22

1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1;

Pengetahuan

2.1.1; Pengertian
Pengetahuan adalah hasil dari tahu, dan terjadi setelah orang melakukan
penginderaan terhadap suatu objek tertentu.

Penginderaan itu terjadi

melalui panca indera manusia yakni indera penglihatan, pendengaran,


penciuman, rasa dan raba.

Sebagian besar penginderaan manusia

diperoleh melalui mata dan telinga.

Pengetahuan kognitif merupakan

domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt


behavior) Notoatmodjo (2012)
Selanjutnya Notoadmodjo menyimpulkan bahwa perubahan perilaku tidak
selalu melewati 5 tahap yaitu awarenest (kesadaran), interest (tertarik pada
stimulus), evaluation (mengevaluasi atau menimbang baik tidaknya
stimulus) dan trial (mencoba) serta adoption (subyek telah berprilaku
baru). Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku didasari
oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap positif, maka perilaku tersebut
akan bersifat langgeng (long lasting). Sebaliknya apabila perilaku tidak
didasari oleh pengetahuan, dan kesadaran maka tidak akan berlangsung
lama.

2.1.2; Tingkatan pengetahuan


Pengetahuan dibagi menjadi enam tingkatan yang tercakup dalam domain
kognitif yaitu :
a; Mengetahui/Tahu (Know)
Dapat diartikan sebagai mengingat materi yang telah dipelajari
sebelumnya termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah
mengingat kembali (Recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan
yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Tahu (know) ini
merupakan tingkatan pengetahuan yang paling rendah.
b; Pemahaman (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan
secara

benar

tentang

objek

yang

diketahui

menginterprestasikan materi tersebut secara benar.

dan

dapat

Seseorang yang

telah paham terhadap objek atau materi tersebut harus dapat


menyimpulkan dan menyebutkan contoh, menjelaskan, meramalkan,
dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.
c; Penerapan/Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi
yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi real (sebenarnya).
Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan
hukum-hukum, rumus-rumus dan metode, prinsip dan sebagainya
dalam konteks atau situasi yang lain.

d; Analisa (Analysis)
Arti dari analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi
atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam
struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain.
Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti
menggambarkan

(membuat

bagan),

membedakan,

memisahkan,

mengelompokkan dan sebagainya.


e; Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjukan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian kepada suatu bentuk keseluruhan yang
baru. Dengan kata lain sintesis itu adalah kemampuan untuk menyusun
formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada, misalnya dapat
menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkas, dapat menyesuaikan,
dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah
ada.
f; Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi
atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian ini
didasarkan

pada

menggunakan

suatu

kriteria

kriteria-kriteria

yang

yang

ditentukan

telah

ada

sendiri

misalnya

atau
dapat

membandingkan antara anak yang cukup gizi dengan anak yang


kekurangan gizi, dapat menanggapi terjadinya diare di suatu tempat dan
sebagainya.

2.1.3; Cara mengukur pengetahuan


Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket
yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek
penelitian atau responden.

Guna mengukur suatu pengetahuan dapat

digunakan suatu pertanyaan. Adapun pertanyaan yang dapat dipergunakan


untuk pengukuran pengetahuan secara umum dapat dikelompokkan
menjadi dua jenis yaitu pertanyaan subjektif misalnya jenis pertanyaan
esai dan pertanyaan objektif misalnya pertanyaan pilihan ganda (multiple
choice), betul-salah dan pertanyaan menjodohkan (Notoatmodjo, 2012).
Pertanyaan esai disebut pertanyaan subyektif karena penilaian untuk
pertanyaan ini melibatkan faktor subjektif dari nilai, sehingga nilainya
akan berbeda dari seorang penilai yang satu dibandingkan dengan yang
lain dan dari satu waktu ke waktu lainnya, pertanyaan pilihan ganda, betulsalah, menjodohkan disebut pertanyaan obyektif karena pertanyaanpertanyaan itu dapat dinilai secara pasti oleh penilainya tanpa melibatkan
faktor subyektifitas dari penilai (Notoatmodjo, 2012).
Pertanyaan obyektif khususnya pertanyaan pilihan ganda lebih disukai
dalam pengukuran pengetahuan karena lebih mudah disesuaikan dengan
pengetahuan yang akan diukur dan penilaiannya akan lebih cepat.
Sebelum orang menghadapi perilaku baru, didalam diri seseorang terjadi
proses berurutan yakni : Awareness (kesadaran) dimana orang tersebut
menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus.

Interest (merasa tertarik) terhadap obyek atau stimulus tersebut bagi


dirinya.

Trail yaitu subyek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai

dengan

pengetahuan,

kesadaran

dan

sikapnya

terhadap

stimulus

(Notoatmojo, 2012).
2.2;

Ante Natal Care (ANC) Terpadu

2.2.1; Pengertian
Adalah pelayanan antenatal komprehensif dan berkualitas yang diberikan
kepada semua ibu hamil (Kemenkes, 2010).
2.2.2; Tujuan Antenatal Care
a; Tujuan Umum
Untuk memenuhi hak setiap ibu hamil memperoleh pelayanan antenatal
yang berkualitas sehingga mampu menjalani kehamilan dengan sehat,
bersalin dengan selamat, dan melahirkan bayi yang sehat.
b; Tujuan Khusus
1; Menyediakan pelayanan antenatal terpadu, komprehensif dan
berkualitas, termasuk konseling kesehatan dan gizi ibu hamil,
konseling KB dan pemberian ASI.
2; Menghilang

missed

oppprtunity

pada

ibu

hamil

dalam

mendapatkan pelayanan antenatal terpadu, komprehensif, dan


berkualitas.
3; Mendeteksi secara dini kelainan/penyakit/gangguan yang diderita
ibu hamil.

4; Melakukan intervensi terhadap kelainan/penyakit/gangguan pada ibu


hamil sedini mungkin.
5; Melakukan rujukan kasus ke fasilitas pelayanan kesehatan sesuai
dengan sistem rujukan yang ada (Kemenkes, 2010).
Pelayanan antenatal terpadu dan berkualitas secara keseluruhan meliputi
hal-hal sebagai berikut:
a; Memberikan pelayanan dan konseling kesehatan termasuk gizi agar
kehamilan berlangsung sehat.
b; Melakukan deteksi dini masalah, penyakit dan penyulit/komplikasi
kehamilan. Menyiapkan persalinan yang bersih dan aman
c; Merencanakan antisipasi dan persiapan dini untuk melakukan rujukan
jika terjadi penyulit/komplikasi.
d; Melakukan penatalaksanaan kasus serta rujukan cepat dan tepat waktu
bila diperlukan (Kemenkes, 2010).
2.2.3; Indikator Antenatal Care Terpadu
a; Kunjungan pertama (K1)
K1 adalah kontak pertama ibu hamil dengan tenaga kesehatan yang
mempunyai kompetensi, untuk mendapatkan pelayanan terpadu dan
komprehensif sesuai standar. Kontak pertama harus dilakukan sedini
mungkin pada trimester pertama, sebaiknya sebelum minggu ke 8.
b; Kunjungan ke-4 (K4)
K4 adalah ibu hamil dengan kontak 4 kali atau lebih dengan tenaga

kesehatan

yang

mempunyai

kompetensi,

untuk

mendapatkan

pelayanan terpadu dan komprehensif sesuai standar. Kontak 4 kali


dilakukan sebagai berikut: sekali pada trimester I (kehamilan hingga 12
minggu) dan trimester ke 2 (>12-24 minggu), minimal 2 kali kontak
pada trimester ke 3 dilakukan setelah minggu ke 24 sampai dengan
minggu ke 36. Kunjungan antenatal bisa lebih dari 4 kali sesuai
kebutuhan dan jika ada keluhan, penyakit atau gangguan kehamilan.
Kunjungan ini termasuk dalam K4.
c; Penanganan Komplikasi (PK)
PK adalah penanganan komplikasi kebidanan, penyakit menular
maupun tidak menular serta masalah gizi yang terjadi pada waktu
hamil, bersalin dan nifas. Pelayanan diberikan oleh tenaga kesehatan
yang mempunyai kompetensi (Kemenkes, 2010).
2.2.4; Standart minimal pelayanan termasuk 10 T (Kemenkes, 2010):
a; Timbang berat badan
Penimbangan berat badan pada setiap kali kunjungan antenatal
dilakukan untuk mendeteksi adanya gangguan pertumbuhan janin.
Penambahan berat badan yang kurang dari 9 kilogram selama
kehamilan atau kurang dari 1 kilogram setiap bulannya menunjukkan
adanya gangguan pertumbuhan janin (Kemenkes, 2010).
b; Ukur lingkar lengan atas (LiLA).
Pengukuran LiLA hanya dilakukan pada kontak pertama untuk skrining
ibu hamil berisiko kurang energi kronis (KEK). Kurang energi kronis

disini maksudnya ibu hamil yang mengalami kekurangan gizi dan telah
berlangsung lama (beberapa bulan/tahun) dimana LiLAkurang dari 23,5
cm. Ibu hamil dengan KEK akan dapat melahirkan bayi berat lahir
rendah (BBLR) (Kemenkes, 2010).
c; Tekanan darah.
Pengukuran tekanan darah pada setiap kali kunjungan antenatal
dilakukan untuk mendeteksi adanya hipertensi (tekanan darah e140/90
mmHg) pada kehamilan dan preeklampsia (hipertensi disertai edema
wajah dan atau tungkai bawah; dan atau proteinuria) (Kemenkes, 2010).
d; Ukur tinggi fundus uteri
Pengukuran tinggi fundus pada setiap kali kunjungan antenatal
dilakukan untuk mendeteksi pertumbuhan janin sesuai atau tidak
dengan umur kehamilan. Jika tinggi fundus tidak sesuai dengan umur
kehamilan, kemungkinan ada gangguan pertumbuhan janin. Standar
pengukuran menggunakan pita pengukur setelah kehamilan 24 minggu
(Kemenkes, 2010).
e; Hitung denyut jantung janin (DJJ)
Penilaian DJJ dilakukan pada akhir trimester I dan selanjutnya setiap
kali kunjungan antenatal. DJJ lambat kurang dari 120/menit atau DJJ
cepat lebih dari 160/menit menunjukkan adanya gawat janin
(Kemenkes, 2010).
f; Tentukan presentasi janin
Menentukan presentasi janin dilakukan pada akhir trimester II dan
selanjutnya

setiap

kali

kunjungan

antenatal.

Pemeriksaan

ini

dimaksudkan untuk mengetahui letak janin. Jika, pada trimester III


bagian bawah janin bukan kepala, atau kepala janin belum masuk ke
panggul berarti ada kelainan letak, panggul sempit atau ada masalah
lain (Kemenkes, 2010).

g; Beri imunisasi Tetanus Toksoid (TT)


Untuk mencegah terjadinya tetanus neonatorum, ibu hamil harus
mendapat imunisasi TT. Pada saat kontak pertama, ibu hamil diskrining
status imunisasi TT-nya. Pemberian imunisasi TT pada ibu hamil,
disesuai dengan status imunisasi ibu saat ini (Kemenkes, 2010).
h; Beri tablet tambah darah (tablet besi),
Untuk mencegah anemia gizi besi, setiap ibu hamil harus mendapat
tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan diberikan sejak
kontak pertama (Kemenkes, 2010).
i; Periksa laboratorium (rutin dan khusus)
1; Pemeriksaan golongan darah
2; Pemeriksaan kadar hemoglobin darah (HB)
3; Pemeriksaan protein dalam urine
4; Pemeriksaan kadar gula darah
5; Pemeriksaan darah malaria
6; Pemeriksaan tes sifilis
7; Pemeriksaan HIV
8; Pemeriksaan BTA
j; Tatalaksana atau penanganan kasus
Berdasarkan hasil pemeriksaan antenatal diatas dan hasil pemeriksaan
laboratorium, setiap kelainan yang ditemukan pada ibu hamil harus
ditangani sesuai dengan standart dan kewenangan tenaga kesehatan.
Kasus- kasus yang tidak dapat ditangani dirujuk sesuai dengan system
rujukan (Kemenkes, 2010).

10

k; KIE efektif
KIE efektif dilakukan pada setiap kunjungan antenatal yang meliputi:
1; Kesehatan ibu
2; Perilaku hidup bersih dan sehat
3; Peran suami dalam kehamilan dan perencanaan persalinan
4; Tanda bahaya pada kehamilan, persalinan dan nifas serta kesiapan
menghadapi komplikasi
5; Asupan gizi seimbang
6; Gejala penyakit menular dan tidak menular.
7; Penawaran untuk melakukan konseling dan testing HIV di
daerah tertentu (risiko tinggi).
8; Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan pemberian ASI ekslusif
9; KB paska persalinan
10; Imunisasi
11; Peningkatan kesehatan intelegensia pada kehamilan (Brain
booster).
2.2.5; Jenis Pelayanan
Pelayanan antenatal terpadu diberikan oleh tenaga kesehatan yang
kompeten yaitu dokter, bidan dan perawat terlatih, sesuai dengan
ketentuan yang berlaku. Pelayanan antenatal terpadu terdiri dari :
a; Anamnesa
b; Pemeriksaan
c; Penanganan dan tindak lanjut kasus

11

2.2.6; Tanda bahaya pada kehamilan


Tanda-tanda bahaya kehamilan adalah gejala yang menunjukkan bahwa
ibu dan bayi dalam keadaan bahaya. Tanda bahaya kehamilan meliputi:
a; Perdarahan pervaginam
Perdarahan yang terjadi pada masa kehamilan kurang dari 22 minggu.
Pada masa kehamilan muda, perdarahan pervaginam yang berhubungan
dengan kehamilan dapat berupa: abortus, kehamilan mola, kehamilan
ektopik (Prawirihardjo, 2007).
Macammacam perdarahan pervaginam
1. Abortus
Abortus adalah penghentian atau pengeluaran hasil konsepsi pada
kehamilan 16 minggu atau sebelum plasenta selesai.

2. Mola Hidatidosa
Pada trimester I gambaran mola hidatidosa tidak spesifik, sehingga
sering kali sulit dibedakan dari kehamilan anembrionik, missed
abortion, abortus inkompletus, atau mioma uteri (Prawirihardjo,
2007).
b; Mual muntah berlebihan
Mual (nausea) dan muntah (emesis gravidarum) adalah gejala yang
wajar dan sering kedapatan pada kehamilan trimester I. Mual biasa
terjadi pada pagi hari, tetapi dapat pula timbul setiap saat dan malam

12

hari. Gejalagejala ini kurang lebih terjadi 6 minggu setelah hari


pertama haid terakhir dan berlangsung selama kurang lebih 10 minggu.
Jika muntah terus menerus bisa terjadi kerusakan hati. Komplikasi
lainya

adalah

perdarahan

pada

retina

yang

disebabkan

oleh

meningkatnya tekanan darah ketika penderita muntah.


c; Sakit kepala yang hebat
Sakit kepala yang bisa terjadi selama kehamilan, dan sering kali
merupakan ketidaknyamanan yang normal dalam kehamilan. Sakit
kepala yang menunjukan suatu masalah serius dalam kehamilan adalah
sakit kepala yang hebat, menetap dan tidak hilang dengan beristirahat.
Terkadang sakit kepala yang hebat tersebut, ibu mungkin menemukan
bahwa penglihatanya menjadi kabur atau terbayang. Hal ini merupakan
gejala dari pre-eklamsia dan jika tidak diatasi dapat menyebabkan
kejang maternal, stroke, koagulopati dan kematian.
d; Penglihatan kabur
Penglihatan menjadi kabur atau berbayang dapat disebabkan oleh sakit
kepala yang hebat, sehingga terjadi oedema pada otak dan
meningkatkan resistensi otak yang mempengaruhi sistem saraf pusat,
yang dapat menimbulkan kelainan serebral (nyeri kepala, kejang), dan
gangguan penglihatan. Perubahan penglihatan atau pandangan kabur,
dapat menjadi tanda pre-eklampsia.
Masalah visual yang mengidentifikasikan keadaan yang mengancam
jiwa adalah perubahan visual yang mendadak, misalnya penglihatan

13

kabur atau berbayang, melihat bintik-bintik (spot), berkunang-kunang.


Selain itu adanya skotama, diplopia dan ambiliopia merupakan tandatanda yang menujukkan adanya pre-eklampsia berat yang mengarah
pada eklampsia. Hal ini disebabkan adanya perubahan peredaran darah
dalam pusat penglihatan di korteks cerebri atau didalam retina (oedema
retina dan spasme pembuluh darah).
e; Bengkak pada wajah, kaki dan tangan
Oedema ialah penimbunan cairan yang berlebih dalam jaringan tubuh,
dan dapat diketahui dari kenaikan berat badan serta pembengkakan
kaki, jari tangan dan muka. Oedema pretibial yang ringan sering
ditemukan pada kehamilan biasa, sehingga tidak seberapa berarti untuk
penentuan diagnosis pre-eklampsia. Hampir separuh dari ibu-ibu akan
mengalami bengkak yang normal pada kaki yang biasanya hilang
setelah

beristirahat

atau

meninggikan

kaki.

Oedema

yang

mengkhawatirkan ialah oedema yang muncul mendadak dan cenderung


meluas. Oedema biasa menjadi menunjukkan adanya masalah serius
dengan tanda-tanda antara lain: jika muncul pada muka dan tangan,
bengkak tidak hilang setelah beristirahat, bengkak disertai dengan
keluhan fisik lainnya, seperti: sakit kepala yang hebat, pandangan mata
kabur. Hal ini dapat merupakan pertanda anemia, gagal jantung atau
pre-eklampsia.
f; Gerakan janin berkurang

14

Ibu tidak merasakan gerakan janin sesudah kehamilan 22 minggu atau


selama persalinan.
g; Nyeri perut yang hebat
Nyeri perut pada kehamilan 22 minggu atau kurang. Hal ini mungkin
gejala utama pada kehamilan ektopik atau abortus.
h; Keluar air ketuban sebelum waktunya
Keluarnya cairan berupa air dari vagina setelah kehamilan 22 minggu,
ketuban dinyatakan pecah dini jika terjadi sebelum proses persalinan
berlangsung. Pecahnya selaput ketuban dapat terjadi pada kehamilan
preterm sebelum kehamilan 37 minggu maupun kehamilan aterm.

i; Kejang
Pada umumnya kejang didahului oleh makin memburuknya keadaan
dan terjadinya gejalagejala sakit kepala, mual, nyeri ulu hati sehingga
muntah. Bila semakin berat, penglihatan semakin kabur, kesadaran
menurun kemudian kejang. Kejang dalam kehamilan dapat merupakan
gejala dari eklamsia.
j; Demam Tinggi
Ibu hamil menderita deman dengan suhu tubuh lebih 38 C dalam
kehamilan merupakan suatu masalah. Demam tinggi dapat merupakan

15

gejala adanya infeksi dalam kehamilan.


2.2.7; Penanganan komplikasi kehamilan
a; Pre eklamsi
Merupakan akibat langsung dari kehamilan (murni), sebagai kumpulan
gejala yang timbul pada ibu hamil, bersalin, dan dalam masa nifas yang
terdiri dari trias : hipertensi, proteinuria dan edema (Manuaba. 2010).
1; Penatalaksanaan:
Jika kehamilan < 37 minggu, dan tidak ada tanda-tanda perbaikan,
lakukan penilaian 2 kali seminggu secara rawat jalan :
a; Pantau tekanan darah, proteinuria, refleks dan kondidi janin
b; Lebih banyak istirahat
c; Diet biasa
d; Tidak perlu diberi obat-obatan
e; Jika rawat jalan tidak mungkin, rawat dirumah sakit :
f;

Diet biasa,

g; Pantau tekanan darah 2 x sehari, proteinuria 1 x sehari,


h; Tidak perlu obat-obatan
i;

Tidak perlu diuretik, kecuali jika terdapat edema paru,


dekompensasi kordis atau gagal ginjal akut,

j;

Jika tekanan diastolik turun sampai normal, pasien dapat


dipulangkan :
1; Nasehatkan untuk istirahat dan perhatikan tanda-tanda pre-

16

eklampsia berat
2; Kontrol 2 x seminggu
3; Jika tekanan diastolik naik lagi maka rawat kembali
4; Jika tidak ada tanda-tanda perbaikan maka tetap dirawat
5; Jika terdapat tanda-tanda pertumbuhan janin terhambat,
pertimbangkan terminasi kehamilan
6; Jika proteinuria meningkat, tangani sebagai pre-eklampsia
berat
Jika kehamilan > 37 minggu, pertimbangkan terminasi :
Jika serviks matang, lakukan induksi dengan oksitosin 5 IU dalam 500
ml dekstrose IV 10 tetes/menit atau dengan prostaglandin. Jika serviks
belum matang, berikan prostaglandin, misoprostol atau kateter Foley
atau terminasi dengan seksio sesarea.

b; Perdarahan
Pendarahan antepartum adalah perdarahan yang terjadi setelah
kehamilan 28 minggu. Biasanya lebih banyak dan lebih berbahaya
daripada perdarahan kehamilan sebelum 28 minggu (Manuaba. 2010).
Perdarahan antepartum dapat berasal dari :
1; Plasenta previa
2; Solusio plasenta (abruptio plasenta)
Pendarahan antepartum yang belum jelas sumbernya seperti :

17

1; Insersio Velamentosa
2; Ruptura Sinus Marginalis
3; Plasenta Sirkumvalata
Penanganan
a; Perbaiki kekurangan cairan atau darah dengan memberikan infus
cairan I.V. (NaCl 0,9 % atau Ringer Laktat)
b; Lakukan penilaian jumlah perdarahan :
1; Jika perdarahan banyak dan berlangsung terus, persiapkan
seksio sesarea tanpa memperhitungkan usia kehamilan/
prematuritas.
2; Jika perdarahan sedikit dan berhenti dan fetus hidup tetapi
prematur pertimbangkan terapi ekspektatif sampai persalinan
atau terjadi perdarahan banyak (Manuaba. 2010).

c; Ketuban pecah dini


Ketuban pecah dini kehamilan prematur terjadi pada 1% -3% dari
seluruh kehamilan dan bertanggung jawab untuk sepertiga dari semua
kelahiran premature (Nugroho, 2012).
Penatalaksanaan KPD tergantung pada umur kehamilan. Kalau umur
kehamilan tidak diuketahui secara pasti segera dilakukan pemeriksaan
ultrasonografi (USG) untuk mengetahui umur kehamilan dan letak
janin. Resiko yang lebih sering pada KPD dengan janin kurang bulan

18

adalah RDS dibandingkan dengan sepsis. Oleh karena itu pada


kehamilan kurang bulan perlu evaluasi hati-hati untuk menentukan
waktu yang optimal untuk persalinan. Pada umur kehamilan 34 minggu
atau lebih biasanya paru-paru sudah matang, chorioamnionitis yang
diikuti dengan sepsis pada janin merupakan sebab utama meningginya
morbiditas dan mortalitas janin. Pada kehamilan cukup bulan, infeksi
janin langsung berhubungan dengan lama pecahnya selaput ketuban.
Kebanyakan para ahli mengambil 2 faktor yang harus dipertimbangkan
dalam mengambil sikap atau tindakan terhadap penderita KPD yaitu
umur kehamilan dan ada tidaknya tanda-tanda infeksi pada ibu.
2.3; Tenaga kesehatan
Dalam UU Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan yang dimaksud tenaga
kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang
kesehatan, memiliki pengetahuan dan atau keterampilan melalui pendidikan
di bidang kesehatan yang memerlukan kewenangan dalam menjalankan
pelayanan kesehatan. Tenaga kesehatan yang diatur dalam Pasal 2 ayat (2)
sampai dengan ayat (8) Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang
Tenaga Kesehatan terdiri dari :
a; Tenaga medis terdiri dari dokter dan dokter gigi;
b; Tenaga keperawatan terdiri dari perawat dan bidan;
c; Tenaga kefarmasian terdiri dari apoteker, analis farmasi dan asisten
apoteker;

19

d; Tenaga kesehatan masyarakat meliputi epidemiolog kesehatan, entomolog


kesehatan, mikrobiolog kesehatan, penyuluh kesehatan, administrator
kesehatan dan sanitarian;
e; Tenaga gizi meliputi nutrisionis dan dietisien;
f; Tenaga keterapian fisik meliputi fisioterapis, okupasiterapis dan
g; terapis wicara;
h; Tenaga keteknisian medis meliputi radiografer, radioterapis, teknisi gigi,
teknisi elektromedis, analis kesehatan, refraksionis optisien, othotik
prostetik, teknisi tranfusi dan perekam medis.
Dalam UU Praktik Kedokteran yang dimaksud dengan Petugas adalah
dokter, dokter gigi atau tenaga kesehatan lain yang memberikan pelayanan
langsung kepada pasien. Menurut PP No. 32 Tahun 1996, maka yang
dimaksud petugas dalam kaitannya dengan tenaga kesehatan adalah dokter,
dokter gigi, perawat, bidan, dan keteknisian medis.
2.3.1; Definisi Bidan
Bidan dalam bahasa Inggris berasal dari kata Midwife yang artinya
Pendamping wanita, sedangkan dalam bahasa Sanksekerta Wirdhan
yang artinya : Wanita Bijaksana. Pengertian bidan adalah seseorang yang
telah menyelesaikan program Pendidikan Bidan yang diakui oleh negara
serta memperoleh kualifikasi dan diberi izin untuk menjalankan praktik
kebidanan di negeri itu. Dia harus mampu memberikan supervisi, asuhan
dan memberikan nasehat yang dibutuhkan kepada wanita selama masa

20

hamil, persalinan dan masa pasca persalinan (post partum period),


memimpin persalinan atas tanggung jawabnya sendiri serta asuhan pada
bayi baru lahir dan anak (Widyastuti, dkk. 2008).

Asuhan ini termasuk tindakan preventif, pendeteksian kondisi abnormal


pada ibu dan bayi, dan mengupayakan bantuan medis serta melakukan
tindakan pertolongan gawat darurat pada saat tidak hadirnya tenaga medik
lainnya. Dia mempunyai tugas penting dalam konsultasi dan pendidikan
kesehatan, tidak hanya untuk wanita tersebut, tetapi juga termasuk
keluarga dan komunitasnya. Pekerjaan itu termasuk pendidikan antenatal,
dan persiapan untuk menjadi orang tua, dan meluas ke daerah tertentu dari
ginekologi, keluarga berencana dan asuhan anak. Dia bisa berpraktik di
rumah sakit, klinik, unit kesehatan, rumah perawatan atau tempat-tempat
lainnya.
2.3.2; Pengertian Bidan Indonesia, dengan memperhatikan aspek sosial budaya
dan kondisi masyarakat Indonesia, maka Ikatan Bidan Indonesia (IBI)
menetapkan bahwa bidan Indonesia adalah: seorang perempuan yang lulus
dari pendidikan Bidan yang diakui pemerintah dan organisasi profesi di
wilayah Negara Republik Indonesia serta memiliki kompetensi dan
kualifikasi untuk diregister, sertifikasi dan atau secara sah mendapat lisensi
untuk menjalankan praktik kebidanan (Widyastuti, dkk. 2008).

21

2.3.3; Falsafah

Asuhan

Kebidanan

Falsafah atau filsafat berasal dari bahasa arab yaitu falsafah (timbangan)
yang dapat diartikan pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi
mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal dan hukumnya. Menurut
bahasa Yunani philosophyberasal dari dua kata yaitu philos (cinta) atau
philia (persahabatan, tertarik kepada) dan sophos (hikmah, kebijkasanaan,
pengetahuan, pengalaman praktis, intelegensi). Filsafat secara keseluruhan
dapat diartikan cinta kebijaksanaan atau kebenaran. (Widyastuti, dkk.
2008).
2.4;

Penelitian Terkait

Penelitian yang dilakukan oleh Dewi AA (2014), tentang gambaran


pengetahuan tenaga kesehatan tentang antenatal care terpadu di Puskesmas
Ranomuut Kota Manado, di peroleh hasil bahwa sebagian besar tenaga
kesehatan berpengetahuan kurang tentang ANC terpadu, yaitu 25 orang
(65,8%).
2.5;

Kerangka Teori
Kerangka teori merupakan gambaran dari teori dimana suatu problem riset
berasal atau dikaitkan (Notoatmodjo, 2010).
Pengetahuan ANC Terpadu Standar Minimal
Pelayanan Termasuk 10 T
a; Timbang berat badan
b; Ukur lingkar lengan atas (LiLa)
c; Pengukuran tekanan darah, ukur TFU
d; Hitung denyut jantung janin (DJJ)
e; Tentukan presentasi janin
f; Beri imunisasi tetanus toxoid (TT)
g; Beri tablet tambah darah (Fe)
h; Periksa labolatorium (rutin dan khusus)
i; Tatalaksana atau penanganan kasus
j; KIE efektif

22

Sumber : (Kemenkes RI, 2010)


Gambar 2.1 Kerangka Teori
2.6;

Kerangka Konsep
Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah kerangka hubungan antara
konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian-penelitian
yang dilakukan (Notoatmodjo, 2010).
Pengetahuan tenaga kesehatan tentang pelayanan antenatal
terpadu dalam penanganan komplikasi pada ibu hamil,
meliputi:
1; Pengertian ANC terpadu
2; Penenganan komplikasi pada perdarahan
3; Penanganan komplikasi dengan preeklamsi

Bagan 2.2 Kerangka Konsep