Anda di halaman 1dari 29

KATA PENGANTAR

Laporan Praktik Kerja Industri (Prakerin) dengan subjudul Pengaruh


Urutan Penambahan Warna Pada Proses Pembasahan merupakan
pemenuhan persyaratan ujian akhir semester VIII di kelas XIII tahun
ajaran 201/52016. Syarat ini berlaku bagi calon analis kimia di Sekolah
Menengah Kejuruan SMAK Bogor yang telah melaksanakan Prakerin
selama tiga setengah bulan (10 November 2013 29 Februari 2014).
Laporan ini berisi tentang pendahuluan, sejarah dan struktur organisasi
tempat prakerin, kegiatan di laboratorium, metode analisis, hasil dan
pembahasan, serta simpulan dan saran.
Pada kesempatan ini, penyusun mengucapkan puji dan syukur ke
hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan nikmat dan
karunianya sehingga penyusun dapat menyelesaikan laporan akhir
Prakerin sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. Penyusun juga
mengucapkan terima kasih kepada:
1. Mama, Papa, kakak, adik, serta keluarga besar penulis yang telah
memberikan dukungan baik moril maupun materil.
2. Ibu Hadiati Agustine selaku Kepala Sekolah Menengah Kejuruan
SMAK Bogor.
3. Ibu Nurhayati Subakat selaku pemilik dan Direktur Utama PT Paragon
Technology and Innovation.
4. Bapak Harman Subakat selaku Manager Operasional yang telah
memberikan kesempatan dan fasilitas untuk melaksanakan kegiatan
Prakerin.
5. Ibu Cah Ayu Restu Esa selaku pembimbing selama pelaksanaan
Prakerin di PT Paragon Technology and Innovation.
6. Ibu Amilia Sari Ghani selaku Wakil Kepala Sekolah bidang Hubungan
Kerjasama Industri.
7. Bapak Suparlan selaku pembimbing di sekolah yang telah memberikan
bimbingan dan pengarahan selama pelaksanaan Prakerin.
8. Teman seperjuangan Prakerin, Adi, April, dan Fikry.
1

9. Teman-teman seperjuangan penyusun, Cephatrov Zenova 58 th.


10. Staf tenaga pendidik dan kependidikan SMK-SMAK Bogor.
11. Karyawan dan Karyawati PT Paragon Technology and Innovation
terutama ka Gaby, ka Nisha, ka Ica, ka Siti, ka Linda, ka Ipey, ka Sylvi,
ka Eka, ka Desi, ka Sungging, ka Meti, ka Uli, ka Tatay, ka Stella, ka
Ria, ka Ike, ka Ika.
12. Pihak-pihak lain yang membantu baik moril maupun materil selama
pelaksanaan Prakerin ini.
Penyusun menyadari masih banyak kekurangan dalam pembuatan
laporan ini. Oleh karena itu, penyusun sangat mengharapkan saran dan
kritik yang membangun.
Akhir kata, penyusun berharap laporan ini dapat bermanfaat bagi
pembaca, khususnya bagi warga SMK-SMAK Bogor dan masyarakat luas
pada umumnya.

Bogor, Februari 2016


Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................1
DAFTAR ISI............................................................................................................3
DAFTAR TABEL.....................................................................................................5
DAFTAR GAMBAR................................................................................................6
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
A.Latar Belakang..................................................................................................1
B.Tujuan Praktik Kerja Industri...........................................................................2
C.Materi Praktik Kerja Industri ...........................................................................3
D.Tempat dan Waktu Praktik Kerja Industri .......................................................4
E.Tujuan Pembuatan Laporan Praktik Kerja Industri...........................................4
BAB II INSTITUSI PRAKTIK KERJA INDUSTRI...............................................4
A.Sejarah Institusi................................................................................................4
B.Struktur Organisasi...........................................................................................7
C.Personalia..........................................................................................................8
D.Kemajuan dan Produksi Unggulan...................................................................8
E.Bagian Pengawasan Mutu (Quality Control)....................................................9
F.Bagian Penelitian dan Pengembangan (Research and Development).............10
G.Bagian Produksi..............................................................................................11
1.Proses Panas...............................................................................................11
2.Proses Dingin.............................................................................................12
H.Tahapan Proses Produksi................................................................................12
1.Persiapan Bahan Baku...............................................................................12
2.Proses Pengolahan.....................................................................................12
3.Pengkondisian (Aging)..............................................................................12
4.Pengecekan................................................................................................12
5.Pengisian....................................................................................................13
6.Pengemasan...............................................................................................13
7.Penyimpanan..............................................................................................13
I.Mesin dan Peralatan.........................................................................................13
1.Mesin dan Peralatan Produksi...................................................................13
2.Mesin dan Alat Pengisian..........................................................................14
3.Mesin dan Alat Pengemasan......................................................................15
4.Alat Penanganan Bahan.............................................................................15
3

5.Alat Printing...............................................................................................16
J.Pemasaran Produk............................................................................................16
K.Pengolahan Air...............................................................................................17
L.Pengolahan Limbah.........................................................................................18
1.Limbah Domestik......................................................................................18
2.Limbah B3.................................................................................................19
BAB III KEGIATAN DI LABORATORIUM........................................................20
A.Tinjauan Pustaka.............................................................................................20
1.Pengertian Kosmetik..................................................................................20
2.Penggolongan Kosmetik............................................................................21
3.Isi Kosmetik...............................................................................................22

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Proses Pengolahan Air di PT PTI.............................................................15

DAFTAR GAMBAR

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Seiring dengan semakin berkembangnya pembangunan di sektor


industri, maka semakin memacu sekolah-sekolah menengah kejuruan
agar mampu menghadapi tuntutan dan tantangan yang muncul di masa
kini, tak terkecuali dengan Sekolah Menengah Kejuruan - SMAK Bogor.
Mengingat tuntutan dan tantangan masyarakat industri di tahun-tahun
mendatang akan semakin meningkat, maka sekolah-sekolah menengah
kejuruan khususnya di bidang kimia analisis harus lebih memfokuskan
pengembangan pendidikannya pada kualitas lulusan.
Untuk melengkapi kebutuhan teori maupun praktik yang telah diberikan
sekolah, juga untuk mempersiapkan diri untuk terjun di dunia industri,
maka sangat penting adanya hubungan antara sekolah dengan dunia
industri. Oleh karena itu, seluruh siswa kelas XIII wajib melaksanakan
kegiatan Prakerin (Praktik Kerja Industri) agar dapat mengetahui
bagaimana dunia industri yang sesungguhnya, juga sebagai persyaratan
untuk menempuh ujian akhir di Sekolah Menengah Kejuruan - SMAK
Bogor.
Sama seperti sekolah kejuruan lainnya, Sekolah Menengah Kejuruan
SMAK Bogor mempunyai visi dan misi, yaitu:
1. Visi
Menjadi sekolah menengah analis kimia nasional bertaraf internasional
yang menghasilkan lulusan professional dan bermartabat.
2. Misi:
a. Meningkatkan

kemitraan

nasional

dan

membina

kemitraan

internasional.

b. Melaksanakan pendidikan analis kimia kejuruan yang berkualitas,


mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dunia usaha dan dunia
industri baik tingkat nasional maupun internasional.
c. Membina

dan

menyelenggarakan

fungsi

social

dan

kemasyarakatan.
d. Mengoptimalkan sumber daya sekolah sebagai salah satu
komponen untuk menunjang kearah kemandirian.

3. Tujuan
Menyiapkan tamatan untuk menjadi tenaga kerja tingkat menengah
dalam bidang teknisi pengelola laboratorium, pengatur dan pelaksana
analisis kimia, serta melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Dengan

melakukan

kegiatan

prakerin,

siswa

dapat

melihat,

mempelajari, dan mempraktikan prosedur dan peralatan di dunia industri


modern yang belum pernah dilakukan selama bersekolah. Pada
kesempatan tersebut siswa dapat belajar untuk beradaptasi dengan
lingkungan kerja, sehingga saat lulus, siswa akan menjadi analis kimia
yang terampil, kreatif, dan bermoral.
B. Tujuan Praktik Kerja Industri

Adapun tujuan dari pelaksanaan Prakerin adalah:


1. Meningkatkan kemampuan dan memantapkan keterampilan siswa
sebagai bekal kerja yang sesuai dengan program studi kimia analisis.
2. Meningkatkan wawasan siswa pada aspek aspek yang potensial
dalam dunia kerja, antara lain: struktur organisasi, disiplin, lingkungan,
dan sistem kerja.
3. Meningkatkan pengetahuan siswa dalam hal penggunaan instrumen
kimia analisis yang lebih modern, dibandingkan dengan fasilitas yang
tersedia di sekolah.

4. Menumbuhkembangkan dan memantapkan sikap profesional siswa


dalam rangka memasuki lapangan kerja.
5. Memperoleh masukan dan umpan balik guna memperbaiki dan
mengembangkan pendidikan di SMK - SMAK Bogor.
6. Memperkenalkan fungsi dan tugas seorang analis kimia (sebutan bagi
lulusan Sekolah Menengah Analis Kimia) kepada lembaga - lembaga
penelitian dan

industri industri

di tempat pelaksanaan Prakerin

(sebagai konsumen tenaga analis kimia).

C. Materi Praktik Kerja Industri


Salah satu misi SMK - SMAK Bogor adalah menghasilkan Sumber
Daya Manusia dalam bidang analisis kimia tingkat menengah yang
terampil dan produktif. Oleh karena itu, materi yang diberikan dalam
Praktik Kerja Industri ini meliputi:
1.

Struktur organisasi, fungsi organisasi, disiplin kerja, administrasi


(terutama

administrasi

laboratorium)

institusi

dimana

siswa

melaksanakan Prakerin.
2.

Pengetahuan tentang komoditi yang di analisis baik secara teoritis


maupun secara praktis.

3.

Pengetahuan tentang metode analisis kimia yang dilaksanakan


secara teoritis maupun secara praktis.

4.

Pengetahuan tentang instrumen analisis kimia yang digunakan


secara teoritis maupun praktis.

5.

Pengetahuan tentang pengetahuan mutu (terutama bagi yang


melaksanakan Prakerin di perusahaan industri).

6.

Materi yang diberikan dititik beratkan pada latihan analisis kimia,


bukan penelitian seperti halnya pada program diploma atau sarjana.

D. Tempat dan Waktu Praktik Kerja Industri


Praktik Kerja Industri dilaksanakan di unit atau bagian pada
perusahaan atau lembaga penelitian yang terkait dengan bidang analisis
kimia. Adapun tempat Praktik Kerja Industri yang dipilih oleh penyusun
adalah PT Paragon Technology and Innovation yang berlokasi di Jalan
Industri Raya IV Blok AG No. 4, Kawasan Industri Jatake Tangerang,
Banten. Penyusun melaksanakan Prakerin sekitar 4 bulan, mulai tanggal
10 November 2015 29 Februari 2016.
E. Tujuan Pembuatan Laporan Praktik Kerja Industri

Setelah melaksanakan prakerin, siswa SMK SMAK Bogor wajib


membuat laporan selama melaksanakan prakerin. Adapun tujuan
pembuatan laporan prakerin ini adalah:
1. Siswa

dapat

membuat

laporan

kerja

dan

mempertanggungjawabkannya.
2. Siswa mampu mencari alternatif lain dalam pemecahan masalah
analisis kimia secara lebih rinci dan mendalam (seperti apa yang
terungkap dalam laporan prakerin yang dibuatnya).
3. Memantapkan siswa dalam pengembangan dan penerapan pelajaran
dari sekolah di institusi tempat prakerin.
4. Menambah koleksi pustaka di perpustakaan sekolah maupun institusi
prakerin, sehingga dapat meningkatkan pengetahuan, baik bagi dirinya
(penyusun), maupun bagi para pembaca.

BAB II INSTITUSI PRAKTIK KERJA INDUSTRI

A. Sejarah Institusi

PT Paragon Technology and Innovation atau yang disingkat PT PTI


telah berganti nama semenjak 27 Mei 2011, yang sebelumnya bernama

PT Pusaka Tradisi Ibu. PTI berganti nama karena ingin mengembangkan


produk ke luar negeri, sehingga orang luar negeri mengerti arti dari nama
perusahaan. PTI merupakan industri yang bergerak di bidang kosmetika
dan merupakan pelopor munculnya kosmetik berlabel halal. PTI didirikan
oleh pasangan suami istri Drs. H. Subakat Hadi, M. Sc dan Dra. Hj.
Nurhayati Subakat, Apt. Pada tanggal 28 Februari 1985.
Drs. H. Subakat Hadi M. Sc merupakan sarjana kimia lulusan Institut
Teknologi Bandung pada tahun 1972 dan meraih gelar master untuk
bidang kimia murni pada tahun 1977. Sedangkan Dra. Hj. Nurhayati
Subakat, Apt merupakan sarjana farmasi lulusan perguruan tinggi yang
sama dan lulus pada tahun 1975 yang kemudian memperoleh gelar
apoteker pada tahun 1976. Dengan latar belakang tersebut, juga
pengalaman bekerja pada bagian pengendalian mutu (Quality Control) di
salah satu perusahaan multinasional, ibu Dra. Hj. Nurhayati Subakat, Apt
mulai membuka usaha rumahan yang memproduksi sampo (Shampoo)
yang dipasarkan di salon-salon.
Dua tahun setelah berdirinya industri rumahan milik Dra. Hj. Nurhayati
Subakat, Apt , ia mulai mengembangkan produknya dengan memproduksi
obat pengeriting rambut, dan emustral (creambath) dengan merk dagang
Ega, kemudian lahir produk Putri.
Pada tahun 1985 1990, PT. Pusaka Tradisi Ibu mengalami
perkembangan pesat. Di daerah JABOTABEK, produknya mulai menyebar
bersaing langsung dengan pemain lama yang sudah eksis. Prestasi
PUTRI merupakan kebanggan tersendiri. Mulai dari 1990 produk salonnya
bersaing dengan yang eksis.
Pada tahun 1990, PT. Pusaka Tradisi Ibu mengalami musibah
kebakaran yang tidak hanya mengenai pabrik, tetapi juga menghanguskan
rumah tinggal. Tidak ada aset yang tersisa, hanya kepercayaan konsumen
dan karyawan. Setelah musibah kebakaran tersebut, PTI bangkit kembali.
Seiring dengan permintaan pasar yang cukup besar, maka perluasan
pabrik menjadi kebutuhan yang harus segera dipenuhi. Pada bulan
5

Desember 1990, seluruh kegiatan produksi yang semula dipusatkan di


Jalan Swadarma Raya, Kampung Baru V RT 04/02 No. 44 B, Ulujami
Kebayoran Lama, Jakarta Selatan dipindahkan ke lokasi baru di Kota
Tangerang, tepatnya di Kawasan Industri Cibodas. Sedangkan lokasi
pabrik di Jakarta, difungsikan menjadi kantor pusat dan pemasaran serta
tempat produksi kosmetik tata rias wajah (make up), bedak, dan parfum.
Pada tahun 1993, PT Paragon Technology & Innovation meluncurkan
produk perawatan rambut dan kulit dengan merek dagang PUTRI yang
ditujukan untuk keperluan sehari-hari. Pada tahun 1995, untuk memenuhi
permintaan konsumen, PT Paragon Technology & Innovation meluncurkan
produk kosmetik halal terutama untuk umat Islam dengan merek dagang
WARDAH yang kemudian disusul oleh peluncuran Zahra, Camilla, Fadila
dan Muntaz yang dipasarkan dengan sistem Multilevel Marketing (MLM)
dengan distributor PT Ahad-Net dan ada sebagian yang dipasarkan
melalui WarMal. Hingga saat ini, kantor cabang untuk brand WARDAH
telah terdapat sebanyak 26 cabang yang tersebar di beberapa kota besar
di Indonesia dan Malaysia.
Pada tahun 1999 2003 PTI mengalami perkembangan kedua. Pada
masa ini penjualan Zahra dan Wardah melonjak pesat, dengan brand
image Marissa, Ratih Sang dan Inneke. Karena perkembangan yang
cukup pesat dan naiknya jumlah permintaan pasar, maka PT Paragon
Technology & Innovation kembali memperluas pabriknya dengan cara
memindahkan lokasi pabrik ke kawasan Industri Jatake. Sejak tanggal 1
Juli 2001 secara bertahap kegiatan produksi baik yang semula di Jakarta
maupun Cibodas telah pindah ke Jatake. Sedangkan untuk kantor pusat
dan kantor pemasaran masih berlokasi di Jakarta.
Tahun 2005 PTI sudah menerapkan Good Manufacturing Practices
(GMP)/ Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik (CPKB). PTI merupakan
salah satu dari 80 pabrik yang sudah mengimplementasikan CPKB dari
total 760 pabrik kosmetik. Selain itu, PTI menjadi percontohan
pelaksanaan CPKB untuk industri kosmetika yang lainnya.
6

B. Struktur Organisasi

Suatu perusahaan harus mempunyai sistem organisasi yang teratur,


dengan tugas dan tanggung jawab yang jelas. Dengan adanya sistem
oganisasi yang teratur, maka tugas dapat dilaksanakan dengan baik dan
efektif,

dan

apabila

terdapat

masalah

dalam

perusahaan

dapat

diselesaikan dengan baik.


PT Paragon Technology and Innovation dipimpin oleh seorang
komisaris yang membawahi seorang Direktur Utama. Direktur Utama
membawahi bagian marketing, operasional, produk, dan finance. Bagian
operasional membawahi DC (Distribution Center), INL (Innovation and
Lean), PPIC (Production Planning & Inventory Control), produksi, QC
(Quality Control), logistik, maintenance, purchasing, dan IT.
Bagian PPIC membawahi bagian PPIC bahan baku, PPIC packaging,
dan penjadwalan produksi. PPIC bertanggung jawab terhadap persediaan
bahan baku dan kemasan, penjadwalan produksi dan pengolahan, serta
Customer Order yang bertanggung jawab terhadap permintaan dan
pengiriman barang kepada customer. Untuk bagian penjadwalan produksi
dibagi menjadi penjadwalan olah, penjadwalan filling, dan penjadwalan
packing.

Sedangkan

bagian

QC

bertanggung

jawab

terhadap

pengawasan mutu bahan baku, packaging, bulk hasil olah, dan produk
jadi.
Bagian produk membawahi bagian R&D (Research & Development),
Prodev (Product development), tim art, tim desain, dan legal (registrasi).
Bagian R&D dibagi menjadi R&D formulator, R&D Proses, R&D
packaging, serta R&D bahan baku dan uji efikasi. R & D bertanggung
jawab terhadap penelitian dan pengembangan produk yang formulanya
dibagi menjadi bentuk sediaan lipstick, powder, skin care, dan personal
care.
Lingkup kerja seorang manager produksi meliputi sub bagian
pengolahan, dan pengisian. Masing-masing sub bagian dipimpin oleh
seorang supervisor yang membawahi leader. Sub bagian pengolahan

bertanggung jawab terhadap proses produksi untuk semua produk


kosmetik baik dalam bentuk padat, cair maupun krim.
C. Personalia

PT Paragon Technology & Innovation mempunyai karyawan lebih dari


4500 yang berada di Kawasan Industri Jatake, head office di Jakarta
Selatan, dan Distributor Center yang terbesar di seluruh wilayah
Indonesia.
Penempatan karyawan di PT Paragon Technology & Innovation sesuai
dengan tingkat pendidikan dan keahlian karyawan. Karyawan yang baru
masuk akan menjalani masa percobaan selama 3 bulan dan akan dilihat
kemampuan kerja dan perilakunya sebagai penilaian untuk pengangkatan
sebagai karyawan baru.
Jam kerja di pabrik PT Paragon Technology & Innovation dimulai pukul
07.00 WIB s.d. Pukul 16.00 WIB. Waktu Istirahat antara pukul 12.00 s.d.
pukul 13.00 WIB, kecuali hari jumat jam istirahat dimulai pukul 11.30 s.d.
pukul 13.00 WIB, dan jam kerja berakhir pada pukul 16.30 WIB.
Dalam bekerja, keamanan dan keselamatan adalah hal yang harus di
utamakan. Demi keselamatan karyawan, PT Paragon Technology &
Innovation memberikan alat pelindung berupa seragam, sepatu, dan
masker kepada para karyawannya untuk melindungi diri mereka dari
kontaminasi bahan kimia, serta partikel-partikel halus bedak.
D. Kemajuan dan Produksi Unggulan

Produk pertama yang diproduksi oleh PT Paragon Technology &


Innovation adalah shampoo. Setelah itu, PT PTI mulai memproduksi obet
keriting, creambath, hair tonic, hair spray, dan produk perawatan rambut
lainnya.
Produk perawataan ini telah lama dipercaya oleh para profesional di
salon-salon, dan disukai oleh para pelanggannya karena produk

perawatan rambut ini menyediakan kosmetika rambut yang berkualitas


tinggi dan lengkap.
Bila dilihat bahwa ada ratusan merk internasional dan merk lokal yang
beredar dipasar Indonesia, maka prestasi diatas patut disyukuri. Bisa
dikatakan bahwa produk PT Paragon Technology & Innovation ini telah
ada hampir diseluruh wilayah Indonesia, khususnya di wilayah Jabotabek.
Tahun 1995 PT Paragon Technology & Innovation memproduksi
kosmetik berlabel halal dengan merk dagang Wardah. Kosmetik ini
merupakan kosmetik yang bebas dari alkohol. Peluncuran produk ini
diterima baik oleh konsumen. Kepercayaan konsumen ini tidak lepas dari
diterimanya produk perawatan rambut yang telah diproduksi sebelumnya.
E. Bagian Pengawasan Mutu (Quality Control)

Bagian Pengawasan Mutu (Quality Control) merupakan bagian yang


sangat penting bagi perusahaan yang selalu mengedepankan mutu
produknya. Hal ini juga dijalankan oleh PT Paragon Technology &
Innovation pada bagian Pengawasan Mutu. Pengawasan mutu dilakukan
mulai dari bahan baku sampai proses pengemasan.
Pengawasan mutu untuk bahan baku dilakukan ketika bahan baku
datang. Pengawasan selanjutnya dilakukan saat bahan baku ditimbang,
yaitu kesesuaian jenis, kesesuaian bahan baku dan kesesuaian jumlah
dengan formula pada batch record. Saat proses produksi berlangsung,
personil pengawasan mutu ikut mengawasi kesesuaian prosedur kerja
dan parameter fisik produk yang meliputi warna, bau, pH dan lain-lain.
Pengecekan

fisik

produk

kembali

dilakukan

setelah

masa

pengkondisian. Untuk setiap batch produksi, dilakukan pengambilan


sampel yang dicek stabilitasnya secara berkala setiap hari untuk minggu
pertama, kemudian setiap minggu selama satu bulan, setiap tiga bulan
selama satu tahun dan setiap satu tahun selama tiga tahun.
Kualitas produk kembali diperiksa sebelum dilakukan pengisian. Hal ini
dilakukan

karena

kerusakan

mungkin

saja

terjadi

selama

masa

pengkondisian. Selain itu sebelum kemasan diisi, hasil pencetakan pada

10

kemasan dicek terlebih dahulu. Setelah disegel kemasan kembali dicek


baik kondisi tulisan, warna maupun hasil penyegelannya. Pengambilan
sampel kembali dilakukan pada produk jadi per batch untuk retaining
sample. Retaining sample merupakan produk pertinggal yang digunakan
sebagai pembanding bila dikemudian hari tedapat pengaduan kerusakan
produk dari konsumen. Retaining sample

digunakan untuk menelusuri

costumer complaint. Perusahaan akan bertanggung jawab apabila


kerusakan juga terjadi pada retaining sample tersebut.
Jika hasil retaining sample ternyata masih dalam kondisi baik, hal itu
menandakan

kerusakan

yang

dilaporkan

oleh

konsumen

bukan

disebabkan oleh kesalahan produksi melainkan karena faktor lain,


misalnya kondisi penyimpanan saat berada di konsumen itu sendiri
maupun kerusakan selama proses distribusi. Retaining sample itu dapat
disimpan selama tiga tahun atau sesuai dengan masa kadaluarsa produk
kosmetika.
Pengujian mutu dapat dilakukan di internal perusahaan atau institusi di
luar perusahaan. Meskipun analisis dan pengujian dilakukan oleh
laboratorium luar, tanggung jawab pengawasan mutu tetap berada di
tangan perusahaan. Sifat dan luas analisis harus disepakati dan
ditetapkan dengan jelas dalam suatu kontrak. Dan metode pengujian rinci
yang relevan diberikan kepada laboratorium luar tersebut.
Bagian pengawasan mutu hendaknya ikut bertanggung jawab dalam
menentukan pemasok yang mampu menyediakan bahan baku dan bahan
pengemas yang memenuhi spesifikasi. Wakil bagian pengawasan mutu,
bagian pengolahan dan bagian pembelian hendaklah menilai kualifikasi
teknis pemasok dengan tetap mengutamakan mutu. Pengawasan mutu
tidak melakukan uji stablitas, yang melakukan hanya R&D.
F. Bagian Penelitian dan Pengembangan (Research and Development)

Bagian penelitian dan pengembangan (R & D) ini bertanggung jawab


untuk mengembangkan suatu produk yang telah ada agar menjadi lebih
baik, dan juga menciptakan serta mengembangkan produk baru yang
berkualitas baik.
10

11

Produk baru yang dibuat berdasarkan pada permintaan marketing. R &


D akan mengembangkan produk sampai memenuhi kriteria marketing.
Setelah disetujui maka R & D melakukan uji stabilitas, uji stabilitas formula
maupun formula dengan packaging. Selain itu, R & D akan menentukan
bahan baku yang digunakan dalam suatu formula sesuai produk yang
diinginkan. Setelah lolos uji stabilitas, formula diregistrasi oleh bagian
Legal ke BPOM dan LPPOM MUI. Setelah produk diregistrasi, R & D akan
melakukan trial produksi. Skala produksi yang dilakukan R & D proses dan
R & D formulator.
Bagian penelitian dan pengembangan juga mempunyai tugas terkait
dengan pengolahan bulk di produksi, R & D harus melakukan validasi
metode untuk pengolahan produk baru melalui trial produksi. Jika ada bulk
hasil pengolahan yang tidak sesuai atau terjadi kerusakan akibat faktor
bahan baku, pengolahan maupun penyimpanan, maka R & D yang akan
melakukan reproduksi dan harus dapat membuat prosedur perbaikan.
G. Bagian Produksi

Cara produksi kosmetik yang baik meliputi seluruh aspek yang


menyangkut produksi dan pengawasan mutu. Hal ini dilakukan untuk
menjamin mutu kosmetik yang dihasilkan agar senantiasa memenuhi
persyaratan keamanan dan mutu yang ditetapkan serta bermanfaat bagi
pemakainya.
Proses produksi di perusahaan ini dimulai dari proses pencampuran
(mixing). Pada proses ini kecepatan dan waktu pengadukan merupakan
faktor yang sangat penting untuk diperhatikan. Selain itu pemilihan jenis
mesin dan peralatan harus disesuaikan dengan karakteristik bahan yang
akan dicampur. Kemudian dilanjutkan dengan proses pengisian (filling)
dan pengemasan (packing).
Proses produksi di PT Paragon Technology & Innovation melputi:
1. Proses Panas
Proses panas yaitu proses produksi yang hampir seluruh bahan
bakunya

memerlukan

pemanasan

terlebih

dahulu.

Proses

11

12

pencampurannya pun dilakukan pada suhu tertentu di atas suhu ruang.


Produk kosmetik yang dicampur dengan cara ini adalah produk krim,
lotion dan creambath.
2. Proses Dingin
Proses dingin yaitu proses produksi yang seluruh bahan bakunya tidak
memerlukan proses pemanasan. Contohnya produk shampoo, cold
wave, hair tonic, dan hair spray.
H. Tahapan Proses Produksi

Proses produksi di PT Paragon Technology & Innovation dapat dibagi


menjadi beberapa tahapan, yaitu :
1. Persiapan Bahan Baku
Sebelum proses produksi dilaksanakan, terlebih dahulu dilakukan
penyiapan bahan baku. Sesuai dengan formulasi yang tertera di batch
record, semua bahan baku ditimbang di ruang penimbangan.
2. Proses Pengolahan
Semua bahan yang telah ditimbang dibawa ke ruang produksi untuk
diproses sesuai prosedur kerjanya. Hasil bulk ruahan dimasukkan ke
dalam drum-drum dan disimpan (pengkondisian) hingga siap untuk
dilakukan pengisian.
3. Pengkondisian (Aging)
Produk

cair

dan

krim,

sebelum

dilakukan

pengisian

produk

memerlukan pengkondisian terlebih dahulu. Produk disimpan beberapa


lama tergantung jenis produknya. Misalnya untuk produk shampoo
memerlukan pengkondisian selama lebih kurang 3 hari sampai semua
busa tidak ada lagi.
4. Pengecekan
Beberapa jenis hasil produksi yang baru selesai proses pengolahan
segera dicek mutunya oleh petugas QC (Quality Control). Beberapa
jenis lainnya akan dicek setelah proses pengkondisian.

12

13

5. Pengisian
Produk

yang

telah

melalui

proses

uji

Quality

Control

dan

pengkondisian selanjutnya diisikan pada kemasan yang sebelumnya


telah dicetak merek dan spesifikasi produknya oleh bagian printing.
6. Pengemasan
Bebarapa produk yang telah dikemas dalam kemasan primernya,
dikemas kembali dengan lembaran plastik film yang selanjutnya
disegel hingga tertutup rapat. Selanjutnya dikemas dalam karduskardus dengan jumlah tertentu.
7. Penyimpanan
Kardus kardus berisi produk jadi yang telah dikemas dibawa ke
gudang produk jadi.
I.

Mesin dan Peralatan

Berdasarkan bagian kerjanya, mesin dan peralatan di PT Paragon


Technology & Innovation dapat dikelompokkan sebagai berikut:

1. Mesin dan Peralatan Produksi


a) Proses Panas
Mesin dan peralatan yang digunakan dalam proses ini adalah
cream mixer, kompor gas, pemanas, dan neraca. Kapasitas cream
mixer adalah 80 liter dengan tiga skala kecepatan pengadukan,
yaitu 1 (9rpm), 2 (19 rpm), 3 (30 rpm). Tipe pengaduk disesuaikan
dengan viskositas bahan, dimana viskositas bahan krim lebih besar
dibandingkan dengan produk cair. Kompor gas dan pemanas
digunakan dalam proses pemanasan bahan yang tergolong dalam
fase minyak. Neraca digunakan untuk menimbang bahan baku.
b) Proses Dingin

13

14

Mesin dan peralatan yang digunakan dalam proses ini adalah liquid
mixer, cold wave drum dan pengaduk. Liquid mixer memiliki
kapasitas 80 liter dengan impeller bertipe baling-baling namun tidak
memiliki skala kecepatan pengadukan (kecepatannya tetap). Cold
wave drum dan pengaduk digunakan dalam proses pembuatan
cold wave. Produk ini mengalami proses produksi manual dengan
mencampurkan

bahan-bahan

tanpa

memerlukan

proses

pemanasan.
c) Produk Padat
Mesin dan peralatan yang digunakan untuk produk padat terdiri dari
mesin penggiling, powder mixer, mesin pengayak dan neraca.
Mesin penggiling (grinder) digunakan untuk menghaluskan bahan
sedangkan powder mixer digunakan dalam pencampuran seluruh
bahan yang akan digunakan. Dalam produksi eye shadow, mesin
penggiling (grinder) juga berfungsi untuk meningkatkan intensitas
warna dari zat pewarna yang ditambahkan sedangkan mesin
pengayak tipe vibration digunakan untuk mendapatkan produk
dengan butiran yang homogen.
2. Mesin dan Alat Pengisian
a) Cream Filling Machine
Mesin ini digunakan dalam pengisian produk krim. Mesin ini bekerja
dengan prinsip tekanan dimana produk yang telah dimasukkan ke
dalam mesin akan keluar melalui pipa keluaran yang diameternya
tergantung dari viskositas bahan. Volume keluaran dapat diatur
berdasarkan waktunya.
b) Liquid Filling Machine
Mesin pengisi ini digunakan dalam pengisian produk shampoo dan
produk cair lainnya. Prinsip kerjanya sama dengan Cream Filling

14

15

Machine. Namun karena viskositasnya lebih rendah dibanding


produk krim, diameter pipa keluarannya dibuat lebih kecil.
c) Mesin Pengisi Pasta Gigi
Mesin pengisi pasta gigi hampir sama dengan pengisi lainnya,
namun ukurannya lebih besar.
3. Mesin dan Alat Pengemasan
a) Impuls Sealer
Mesin ini digunakan untuk merekatkan kemasan plastik untuk
produk seperti shampoo sachet, bedak, masker bengkoang dan
pasta gigi. Prinsip kerja alat ini dengan memanfaatkan panas dan
tekanan.
b) Thermal Compact Packer
Mesin ini digunakan dalam penyegelan. Prinsip kerjanya dengan
memanfaatkan tekanan dan temperatur tinggi. Mesin ini dilengkapi
dengan belt konveyor. Produk yang telah dibungkus dengan film
plastik dilewatkan dengan konveyor untuk kemudian memasuki
ruang dengan tekanan dan suhu tinggi. Tekanan dan suhu tinggi
menyebabkan produk yang melewati ruang ini keluar dengan
kondisi plastik tertutup rapat.
c) Crimpring Sprayer
Alat ini berfungsi untuk melekatkan sprayer pada botol parfum.
Botol yang telah dipasang sprayer dimasukkan ke dalam lubang
silinder kemudian tuasnya ditekan hingga sprayer dan botol parfum
dapat disatukan.
4. Alat Penanganan Bahan
Alat penanganan bahan yang digunakan berupa forklift yang
digunakan untuk transportasi bahan produksi dari dan ke gudang, tangga
dan rak-rak penyimpanan bahan.

15

16

5. Alat Printing
Alat printing berupa cetakan sablon yang dioperasikan secara manual.
Peralatan penunjang lainnya antara lain: pengering tinta, pembakar
spiritus, dan lain-lain.
J. Pemasaran Produk

Pemasaran merupakan proses sosial dan manajerial yang melibatkan


individu-individu atau kelompok yang ingin mendapatkan apa yang
mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan dan
mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain. PT Paragon
Technology & Innovation telah menempatkan kebijakan dengan target
konsumennya adalah konsumen menengah ke atas, hal ini merupakan
strategi yang disusun oleh PT Paragon Technology & Innovation dalam
rangka mengembangkan usahanya.
Setiap produk PT Paragon Technology & Innovation mempunyai fungsi
yang berbeda-beda dalam penggunaannya. Semua

produk yang

dihasilkan merupakan kosmetik suci dan aman untuk para konsumen


umat Islam, karena komitmennya sebagai produk kosmetika bebas
alkohol.
Sebelum Wardah berkembang seperti sekarang ini dari beberapa
merek dagang yang dimiliki oleh PT Paragon Technology & Innovation,
ada satu merek dagang yang produk-produknya tidak dijual bebas ke
konsumen, melainkan melalui jalur Multi Level Marketing syari'ah. Melalui
jalur ini, PT Paragon Technology & Innovation bekerja sama dengan
distributor terbesarnya, yaitu PT Ahad-Net Internasional yang merupakan
satu-satunya pemegang hak penjualan produk tersebut.
Dari segi presentase pendapatan, pemasaran lewat jalur MLM syariah
ini memiliki porsi terbesar dalam memberi pemasukan bagi perusahaan.
Untuk itu, perusahaan lebih memfokuskan strategi pemasarannya ke
sistem MLM syariah ini. Pemasaran dengan menggunakan MLM syariah
dipandang lebih potensial dari pada pemasaran konvensional biasa,
karena dalam hal produk kosmetika Islami, PT Paragon Technology &
Innovation bergerak sendiri di pasar dan tidak ada pesaing. Selain itu

16

17

dengan jalur MLM syariah ini kedatangan permintaan dari pelanggan


relatif konstan meskipun dalam jumlah fluktuatif.
Dari beberapa penjualan yang telah dilakukan, bagian pemasaran
membuat laporan penjualan setiap akhir bulan. Bagian PPIC yang akan
menghitung laba penjualan tiap bulan dan laporan ini digunakan sebagai
dasar perencanaan bagi perusahaan.
K. Pengolahan Air

PT Paragon Technology & Innovation sangat memerlukan air bersih


untuk kebutuhan produksinya, sedangkan air tanah disekitar pabrik
memiliki kandungan logam berat yang cukup tinggi. Produk-produk
kosmetika tertentu yang memerlukan air sebagai salah satu bahan baku
pembuatannya tidak dapat menggunakan air dengan kandungan logam
berat yang tinggi.
Air dengan kadar logam berat tinggi dapat mempengaruhi mutu hasil
produksi sehingga akan menyebabkan produk cepat rusak dan dapat
menimbulkan iritasi terhadap kulit yang tidak cocok. Selain itu air bersih
yang mengandung logam berat tinggi tidak dapat digunakan untuk
pencucian alat-alat produksi, alat-alat laboratorium, maupun untuk
kebutuhan karyawan. Oleh karena itu PT Paragon Technology &
Innovation mengolah sendiri air tanah yang akan digunakan untuk proses
produksinya sehingga setiap produk yang dihasilkan dapat terkontrol
kebersihannya.
Proses pengolahan air yang dilakukan di PT Paragon Technology &
Innovation terdiri dari beberapa tahap, yaitu:

17

18

NPMTA T A T
eai r
rn
sner g P d
iog m - a
nkST P p
Fiu an r
Reim i d T m
Oapu l m g
trn t u
em
n n
re
a R
n
Ok
t a
n

a a
i

ke
e

P ty
a
a

a
ri

i
n

p
e

r
e

k
y

a
e

n
-

Tabel 1. Proses Pengolahan Air di PT PTI

Di PT PTI, sistem pemurnian air untuk produksi menggunakan mesin


RO (Reverse Osmosis). Pertama-tama, air tanah masuk ke dalam mesin
pre-treatment untuk di filtrasi, kemudian hasil filtrasi masuk ke dalam
mesin nano filter yang berfungsi untuk dimurnikan dengan menggunakan
penyaring halus. Lalu hasil dari nano filter akan masuk kedalam mesin RO
yang berfungsi untuk menghilangkan mineral-mineral yang terkandung
dalam air tanah, sehingga air tanah benar-benar murni dan dapat
digunakan untuk proses produksi.
L. Pengolahan Limbah

PT Paragon Technology & Innovation menghasilkan produk sampingan


yang tidak bermanfaat lagi (limbah). Limbah yang dihasilkan PT Paragon
Technology & Innovation terbagi menjadi dua bagian, yaitu:
1. Limbah Domestik
Limbah domestik merupakan limbah yang dihasilkan dari proses
produksi dan juga selain dari proses produksi, seperti yang berasal dari
mess, office, kantin, dan lain-lain. Pengelolaan limbah domestik dilakukan
oleh pihak ke-3 dengan cara PT PTI menjual limbah tersebut ke pihak ke3

18

19

2. Limbah B3
Limbah ini terbagi atas 2 jenis, yaitu:
a) Padat
Limbah ini merupakan limbah yang dihasilkan dari proses produksi
yang kadar airnya kurang dari 70%, yaitu dari sisa hasil produksi
cream, powder dan lipstik. Limbah tersebut akan dikumpulkan dalam
suatu wadah dan kemudian akan diberikan kepada pihak ke-3 yang
mempunyai izin dalam menangani limbah tersebut.
b) Cair
Limbah ini merupakan limbah yang dihasilkan dari proses produksi
yang kadar airnya lebih dari 70%, yaitu dari sisa hasil produksi
shampoo, hair tonic, toner, parfume, dan lain-lain. Limbah tersebut
kemudian diolah di IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah).

19

20

BAB III KEGIATAN DI LABORATORIUM

A. Tinjauan Pustaka

1. Pengertian Kosmetik
Kosmetik sendiri sebenarnya berasal dari bahasa Yunani kosmetikos
yang

berarti

keterampilan

menghias,

mengatur,

namun

pada

perkembanganya istilah kosmetik telah dipakai oleh banyak kalangan dan


profesi yang berbeda, sehingga pengertian kosmetik menjadi begitu luas
dan tidak jelas, istilah kosmetologi telah dipakai sejak tahun 1940 di
Inggris, Perancis, Jerman. Istilah ini tidak sama bagi tiap profesi yang
menggunakanya.
Pada tahun 1970 oleh Jellinek, kosmetologi diartikan sebagai ilmu
pengetahuan yang mempelajari hukum-hukum fisika, biologi, maupun
mikrobiologi
(aplikasi)

tentang

kosmetik.

pembuatan,
Selanjutnya

penyimpanan,
di

tahun

1997

dan

penggunaan

Mitsui

menyebut

kosmetologi sebagai ilmu kosmetik yang baru, yang lebih mendalam dan
menyeluruh.
Dari mulai abad ke 19, kosmetik mulai mendapat perhatian, yaitu
kosmetik tidak hanya untuk kecantikan saja, melainkan juga untuk
kesehatan. Perkembangan ilmu kosmetik serta industri secara besarbesaran baru dimulai pada abad ke-20 (Wall, Jellinek, 1970). Kosmetik
menjadi sebuah alat usaha. Bahkan sekarang dengan kemajuan
teknologi, kosmetik menjadi sebuah perpaduan antara kosmetik dan obat
(Pharmaceutical) atau yang sering desebut kosmetik medik (cosmeticals).
Sejak semula kosmetik merupakan salah satu segi ilmu pengobatan
atau ilmu kesehatan, sehingga para pakar kosmetik dahulu adalah juga
pakar kesehatan; seperti para tabib, dukun, bahkan penasehat keluarga
istana. Dalam perkembangannya kemudian, terjadi pemisahan antara
kosmetik dan obat, baik dalam hal jenis, efek, efek samping, dan lainnya
(Wasitaatmadja, 1997).
20

21

Sejak 40 tahun terakhir, industri kosmetik semakin meningkat, Industri


kimia memberi banyak bahan dasar dan bahan aktif kosmetik. Kualitas
dan kuantitas bahan biologis untuk digunakan pada kulit terus meningkat.
Banyak para dokter yang terjun langsung dan meningkatkan perhatian
terhadap ilmu kecantikan kulit (cosmetodermatology), serta membangun
kerja sama yang saling menguntungkan dengan para ahli kosmetik dan
ahli kecantikan. Misalnya dalam hal pengetesan bahan baku atau bahan
jadi, dan penyusunan formula berdasarkan konsepsi dermatologi atau
kesehatan.
Definisi kosmetik dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No.
220/MenKes/Per/X/1976 tanggal 6 september 1976 yang menyatakan
bahwa kosmetika adalah bahan atau campuran bahan untuk digosokkan,
dilekatkan, dituangkan, dipercikkan, atau disemprotkan pada, dimasukkan
ke dalam, dipergunakan pada badan atau bagian badan manusia dengan
maksud untuk membersihkan, memelihara, menambah daya tarik atau
mengubah rupa, dan tidak termasuk golongan obat (Wasitaatmadja,
1997).
Kosmetik adalah sediaan atau paduan bahan yang siap untuk
digunakan pada bagian luar badan seperti epidermis, rambut, kuku, bibir,
gigi, dan rongga mulut antara lain untuk membersihkan, menambah daya
tarik, mengubah penampakan, melindungi supaya tetap dalam keadaan
baik, memperbaiki bau badan tetapi tidak dimaksudkan untuk mengobati
atau menyembuhkan suatu penyakit (Tranggono, 2007).
2. Penggolongan Kosmetik
Kosmetik yang beredar di pasaran saat ini sudah banyak bentuk dan
fungsinya. Oleh karena itu para ahli mencoba mengelompokan kosmetik
menjadi lebih sederhana berdasarkan cara kerja dan kegunaannya
sebagai berikut:
a. Toiletries

21

22

Yang termasuk kosmetika jenis ini adalah sampo, sabun, kondisioner,


hair spray, pewarna rambut, deodoran, dan pengeriting rambut serta
pelurus rambut.
b. Skin Care
Skin care adalah kosmetika pemeliharaan dan perawatan kulit yang
terdiri dari pembersih, pelembab, pelindung, masker, astringent, dan
lain-lain.
c. Kosmetik Rias (Decorated Cosmetic atau Make Up)
Kosmetik rias adalah kosmetik yang dipakai untuk merias wajah, kuku,
dan rambut dengan tujuan mempercantik diri. Contoh kosmetik rias
diantaranya adalah liquid make up, foundation, eye liner, blush on,
eyeshadow, mascara, nail enamel, dan cat rambut.
d. Kosmetik Wangi-Wangian
Contoh kosmetik jenis ini adalah parfum, cologne, bath powder, after
shave agents, dan pewangi mulut.
Kosmetik berdasarkan tempat aplikasi dibagi menjadi 4 golongan, yaitu
kosmetik rambut, wajah, mata, dan kuku.
3. Isi Kosmetik
Pada umumnya kosmetik terdiri atas berbagai macam bahan yang
mempunyai tugas tertentu di dalam campuran tersebut, yaitu:
a. Bahan Dasar
Bahan dasar sebagai pelarut atau merupakan tempat dasar bahan lain
sehingga umumnya menempati volume yang jauh lebih besar dari
bahan lainnya.
1. Bahan yang Menstabilkan Campuran ( Stabillizer )
Bahan yang menstabilkan campuran sehingga kosmetik tersebut
lebih tahan lama dalam warna, bau, dan bentuk fisik. Bahan tersebut
adalah emulgator, pengawet, dan pelekat.
2. Bahan Aktif ( Active Ingredient )

22

23

Merupakan bahan kosmetik terpenting dan mempunyai daya kerja


yang diunggulkan dalam kosmetik tersebut sehingga memberikan
daya kerjanya pada seluruh campuran bahan tersebut. Salah satu
contoh bahan aktif adalah asam salisilat yang terkandung dalam
Acne Cleansing Gel (New Look).
b. Bahan Utama
Bahan utama yang digunakan dalam pembuatan kosmetik yaitu air,
maka, kualitas air yang digunakan untuk kegiatan produksi sangat perlu
diperhatikan demi kestabilan kualitas produksi.
4.

23