Anda di halaman 1dari 3

Kerangka Konseptual Penelitian

Kerangka konseptual penelitian menurut Sapto Haryoko dalam Iskandar (2008:


54) menjelaskan secara teoritis model konseptual variabel-variabel penelitian,
tentang bagaimana pertautan teori-teori yang berhubungan dengan variabelvariabel penelitian yang ingin diteliti, yaitu variabel bebas dengan variabel
terikat.
Kerangka konseptual dalam suatu penelitian perlu dikemukakan apabila
penelitian berkenaan dengan dua variabel atau lebih. Apabila penelitian hanya
membahas sebuah variabel atau lebih secara mandiri, maka perlu dilakukan
deskripsi teoritis masing-masing variabel dengan argumentasi terhadap variasi
besarnya variabel yang diteliti.
Kerangka konseptual yang baik menurut Uma Sekaran sebagaimana yang
dikutip oleh Sugiyono dalam Iskandar (2008: 54) sebagai berikut:
1)
Variabel-variabel penelitian yang akan diteliti harus jelas.
2)
Kerangka konseptual haruslah menjelaskan hubungan antara variabelvariabel yang akan diteliti, dan ada teori yang melandasi.
3)
Kerangka konseptual tersebut lebih selanjutnya perlu dinyatakan dalam
bentuk diagram, sehingga masalah penelitian yang akan dicari jawabannya
mudah dipahami.
Iskandar (2008:55) mengemukakan bahwa dalam penelitian kuantitatif,
kerangka konseptual merupakan suatu kesatuan kerangka pemikiran yang utuh
dalam rangka mencari jawaban-jawaban ilmiah terhadap masalah-masalah
penelitian yang menjelaskan tentang variabel-variabel, hubungan antara
variabel-variabel secara teoritis yang berhubungan dengan hasil penelitian
yang terdahulu yang kebenarannya dapat diuji secaraempiris.
https://yusrizalfirzal.wordpress.com/2010/11/22/kajian-teori-kerangka-konseptual-dan-hipotesis/
Kerangka Konsep merupakan model konseptual yang berkaitan dengan bagaimana
seorang peneliti menyusun teori atau menghubungkan secara logis beberapa factor yang
dianggap penting untuk masalah. Sehingga KERANGKA KONSEP akan membahas saling
ketergantungan antar variable yang dianggap perlu untuk melengkapi dinamika situasi
atau hal hal yang diteliti. Penyusunan KERANGKA KONSEP akan
membantu kita untuk membuat hipotesis, menguji hubungan tertentu dan membantu
peneliti dalam menghubungkan hasil penemuan dengan teori yang hanya dapat diamati
atau diukur melalui variable. Oleh karena itu, dalam menyusun sebuah KERANGKA
KONSEP, peneliti hendaknya memahami variable konsep yang hendak diukur.
Kerangka Konsep juga berperan untuk mengidentifikasi jaringan hubungan antar variable
yang dianggap penting bagi masalah yang sedang diteliti. Dengan demikian, sangatlah
penting untuk memahami apa arti variable dan apa saja jenis variable yang ada yang
berkaitan dengan konsep dari masalah yang ditelit tersebut.
Contoh :
Pada penelitian yang berjudul FAKTOR FAKTOR YANG MEMENGARUHI PERILAKU IBU

DALAM PEMBERIAN ASI.


FAKTOR PREDISPOSISI
Pendidikan
Pengetahuan
FAKTOR PENDUKUNG
Pendapatan Keluarga
Ketersediaan Waktu
PERILAKU PEMBERIAN ASI
FAKTOR PENDORONG
Sikap Ibu
Sikap Petugas Kesehatan
Berdasarkan KERANGKA KONSEP tersebut, ada 4 (empat) konsep utama, yaitu : Konsep
tentang Faktor Predisposisi, Faktor Pendukung dan Faktor Pendorong terjadinya perilaku
serta konsep tentang Perilaku Pemberian ASI. Setiap konsep mempunyai variable sebagai
indikasi pengukuran dari konsep itu sendiri.
Pengukuran terhadap Factor Predisposisi dilakukan melalui variable tingkat pendidikan dan
pengetahuan. Factor Pendukung diukur dengan vaiabel tingkat pendapatan keluarga dan
ketersediaan waktu, dan FactorPendorong diamati melalui variable sikap ibu dan sikap
petugas kesehatan. Sedangkan Perilaku Pemberia ASI (sebagai Variabel Dependent) dapat
diukur melalui variable Praktek Pemberian ASI/Menyusui.
Parameter yang dapat diukur dari contoh judul penelitian tersebut adalah pertanyaan
Apakah para ibu memberikan ASI (menyusui) bayinya
atau tidak..?. Kemudian selanjutnya, apabila memberikan (menyusui) ; Bagaimanakah
Frekuensi dan Caranya..?.

http://novitaadadisini.blogspot.co.id/2011/01/pengertian-kerangka-teori-dan-konsep.html
. Kerangka Konsep Penelitian
1. Pengertian
Konsep adalah definisi yang dipergunakan untuk menggambarkan secara abstrak suatu fenomena
sosial. Bailey (1982) menyebutkan sebagai persepsi (mental Image). Atau abstraksi yang dibentuk dengan
menggeneralisasikan hal-hal khusus. Konsep merupakan suatu kesatuan pengertian tentang sesuatu hal
atas persoalan yang perlu dirumuskan.
Dalam merumuskannya, peneliti harus dapat menjelaskan sesuai dengan maksud peneliti memakai konsep
tersebut. Oleh karena itu, peneliti harus konsisten dalam memakainya. Dari uraian pengertian tersebut di
atas, maka dapat disimpulkan dalam suatu penelitian adalah : Kerangka Konsep adalah Suatu hubungan
atau kaitan antara konsep konsep atau variable variable yang akan diamati atau diukur melalui penelitian
yang akan dilaksanakan. Konsep adalah istilah, terdiri dari satu kata atau lebih yang menggambarkan suatu
gejala atau menyatakan suatu ide (gagasan) tertentu.
Kerangka konsep penelitian adalah kerangka hubungan antara konsep konsep yang ingin diamati atau
diukur melalui penelitian yang akan dilakukan. Konsep dalam hal ini adalah suatu abstraksi atau gambaran

yang dibangun dengan menggeneralisasikan suatu pengertian. Agar supaya konsep tersebut dapat diamati
dan diukur, maka konsep tersebut harus dijabarkan terlebih dahulu menjadi variabel-variabel.

2. Peranan
Peranan konsep, pada dasarnya untuk menghubungkan antara dunia teori dengan dunia observasi,
antara abstraksi dan realitas. Dalam bentuk yang lebih umum ada beberapa konsep yang digunakan untuk
menjelaskan realitas sosial politik: Misalnya kita kenal konsep:
1. Karl D. Jackson, yang mencoba menjelaskan birokrasi pada masa orde baru yang ia sebut dengan
dengan konsep bureaucratic polity yang berakar pada budaya.
2. Konsep Harold Crouch tentang neo-patrimonialism untuk menunjukkan bahwa sistem politik pada waktu
itu [Orba] lebih menyerupai negara patrimonial daripada suatu polity yang moderen.demikian.
3. Konsep Richard Robinson tentang bureacratic capitalism.
4. Konsep Geertz, tentang religiousness dan religious-mindedness dalam upaya penjelaskan gerakan
radikalisasi keagamaan atau terjadinya proses sekularisasi dan juga tentang politik aliran yang kini cair
dengan adanya kualisi kebangsaan itu.
5. Konsep Religiusitas Glock dan Stark:
a) Keterlibatan ritual [ritual involvement], yaitu tingkatan sejauhmana seseorang mengerjakan kewajiban
ritual di dalam agama mereka.
b) Keterlibatan ideologis [ideological involvement], yaitu tingkatan sejauhmana seseorang menerima hal-hal
yang bersifat dogmatik terhadap agamanya.
c) Keterlibatan intelektual [intelectual involvement], yang menggambarkan seberapa jauh seseorang
mengetahui tentang ajaran agamanya.
d) Keterlibatan pengalaman [experiential involvement], yang menunjukkan apakah seseorang pernah
mengalami pengalaman spektakular yang merupakan keajaiban yang datangnya dari Tuhan.
e) Keterlibatan secara konsekuen [consequential involvement], yaitu tingkatan sejauhmana perilaku
seseorang konsekuen dengan ajaran agamanya.

3. Cara mengembangkan
Cara yang terbaik untuk mengembangkan kerangka konsep tentu saja harus memperkaya asumsiasumsi dasar yang berasal dari bahan-bahan referensi yang digunakan. Pola berpikir deduksi adalah proses
logika yang berdasar dari kebenaran umum mengenai suatu fenomena (teori) dan menggeneralisasikan
kebenaran tersebut pada suatu peristiwa atau data tertentu yang berciri sama dengan fenomena yang
bersangkutan.
Pola pikir induksi adalah proses logika yang berangkat dari data empirik lewat observasi menuju
kepada suatu teori. Dengan kata lain induksi adalah proses mengorganisasikan fakta-fakta atau hasil-hasil
pengamatan yang terpisah menjadi suatu rangkuman hubungan atau suatu generalisasi.

http://eviwulandari123.blogspot.co.id/2013/11/kerangka-teori-penelitian-dan-kerangka.html