Anda di halaman 1dari 49

Kasus Pembunuhan

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Jl. Arjuna Utara No.6 Kebon Jeruk, Jakarta 11510

Abstrak
Setiap harinya terjadi kasus-kasus kriminal diantara masyarakat, semua hal tersebut
perlu ditindaklanjuti, salah satu diantaranya ialah kasus pembunuhan. Umumnya hal ini dapat
diketahui jika pihak yang berwajib melayangkan surat permintaan visum korban untuk
diautopsi. Pihak yang berhak melayangkan surat permintaan visum adalah pihak penyidik
(dengan syarat dan ketentuan yang berlaku). Dari hasil visum tersebut dapat diketahui
apakah meninggalnya korban merupakan suatu hal yang ia inginkan sendiri atau dibunuh oleh
orang lain. Pada pemeriksaan autopsi yang hanya boleh dilakukan oleh ahli forensik ini, akan
dilakukan pemeriksaan luar dan dalam, juga laboratorium. Setelah selesai semuanya hasilhasil tersebut akan dirangkum dalam sebuah visum dan diserahkan kepada penyidik.
Kata kunci : kasus pembunuhan, autopsi, visum, ahli forensik, dan penyidik.
Abstract
Every day criminal cases occur among people, all these things need to be followed, one of
which is a murder case. Generally, it can be known if the authorities sent a letter requesting
the victim to the post mortem autopsy. The party entitled to the autopsy report was sent a
letter requesting the investigator (with terms and conditions apply). From the examination
results can be known whether the death of the victim is something that he wanted himself or
was killed by someone else. At autopsy examination which should only be carried out by
forensic experts, will be examined outside and inside, as well as laboratories. After
completion of all the results will be summarized in a vise and handed over to investigators.
Keywords: homicide, the autopsy, the autopsy report, forensic experts and investigators.

PENDAHULUAN
Ilmu kedokteran forensik adalah salah satu cabang spesialistik dari ilmu
Kedokteran yang mempelajari pemanfaatan ilmu kedokteran untuk kepentingan
penegakkan hukum serta keadilan.
Di masyarakat, kerap terjadi peristiwa pelanggaran hukum yang menyangkut
tubuh dan nyawa manusia. Berdasarkan kasus yang ditemukan, diduga telah terjadi kasus
pembunuhan. Belum ada dugaan terhadap siapa pembunuhnya.
Dugaan tersebut dibuat berdasarkan penemuan di TKP dan berdasarkan
penampakan luar dari tubuh korban. Oleh karena itu dilakukanlah pemeriksaan medik
untuk membantu penegakan hukum, yaitu pembuatan Visum et Repertum terhadap
seseorang yang dikirim oleh polisi (penyidik) karena diduga sebagai korban tindak
pidana.
Untuk pengusutan dan penyidikan serta penyelesaian masalah hukum ini di
tingkat lebih lanjut sampai akhirnya pemutusan perkara di pengadilan, diperlukan bantuan
berbagai ahli di bidang terkait untuk membuat jelas jalannya peristiwa serta keterkaitan
antara tindakan yang satu dengan yang lain dalam rangkaian peristiwa tersebut. Dalam
hal terdapat korban, baik yang masih hidup maupun yang meninggal akibat peristiwa
tersebut, diperlukan seorang ahli dalam bidang kedokteran untuk memberikan penjelasan
bagi para pihak yang menangani kasus tersebut. Dokter yang diharapkan membantu
dalam proses peradilan ini akan berbekal pengetahuan kedokteran yang dimilikinya.1
Dalam suatu perkara pidana yang menimbulkan korban, dokter diharapkan dapat
menemukan kelainan yang terjadi pada tubuh korban, bilamana kelainan tersebut timbul,
apa penyebabnya serta apa akibat yang timbu terhadap kesehatan korban.
Dalam hal korban meninggal, dokter diharapkan dapat menjelaskan penyebab
kematian yang bersangkutan, bagaimana mekanisme terjadinya kematian tersebut, serta
membantu dalam perkiraan saat kematian dan perkiraan cara kematian.1
Untuk semua itu, dalam bidang lmu kedokteran forensic dipelajari tata laksana
mediko-legal, tanatologi, traumatologi, dan segala sesuatu yang terkait, agar dokter dapat
memenuhi kewajibannya membantu penyidik, dan dapat benar-benar memanfaatkan
segala pengetahuan kedokteran-nya untuk kepentingan peradilan serta kepentingan lain
yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat.1

SKENARIO 2

1. ASPEK HUKUM
Sesuai dengan kasus diatas dapat kita temukan berbagai aspek hukum yang terkait mengenai
kejadian perkara. Berikut beberapa aspek hukum mengenai perkara pembunuhan atau
penganiayaan yang termasuk pula didalamnya disertakan pasal-pasal hukum terkait: 1
Pasal 338 KUHP :
Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan,
dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
Pasal 339 KUHP
Pembunuhan yang diikuti, disertai atau didahului oleh suatu perbuatan pidana, yang
dilakukan dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah pelaksanaannya,
atau untuk melepaskan diri sendiri maupun peserta lainnya dari pidana dalam hal
tertangkap tangan, ataupun untuk memastikan penguasaan barang yang diperolehnya
secara melawan hukum, diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau selama waktu
tertentu, paling lama dua puluh tahun.
Pasal 340 KUHP
Barangsiapa dengan sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang
lain, diancam, karena pembunuhan dengan rencana (moord), dengan pidana mati atau
penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh lima tahun.
2. PROSEDUR MEDIKOLEGAL
Dalam perundang-undangan terdapat beberapa prosedur medikolegal yang harus dipatuhi
oleh setiap pihak yang terkait dalam penyelidikan kasus diatas. Berikut beberapa prosedur
medikolegal yang harus dipatuhi: 1
*Kewajiban Hukum :

Pihak yang berwenang meminta VetR: Penyidik

Sesuai pasal 133 ayat (1).Sedangkan yang termasuk kategori penyidik adalah Pejabat
Polisi Negara RI yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang dengan pangkat
serendah-rendahnya Pembantu Letnan Dua ( pasal 6 ayat (1) KUHAP, PP 27 tahun 1983
pasal 2 ayat (1).

Pihak yang berwenang membuat VetR: Dokter


Kewajiban dokter untuk membuat Keterangan Ahli seperti disebutkan dalam pasal
133 KUHAP. Keterangan ahli ini akan dijadikan sebagai alat bukti yang sah di depan
sidang pengadilan. ( pasal 184 KUHAP )

Prosedur permintaan: Tertulis


Prosedur permintaan Keterangan Ahli oleh penyidik harus dilakukan secara tertulis,
gterutama untuk korban mati (pasal 133 ayat (2).
Surat permintaan keterangan ahli ditujukan kepada instansi kesehatan atau instansi
khusus untuk itu, bukan kepada individu dokter yang bekerja di dalam instansi tersebut.
Korban / benda bukti yang diperiksa : tubuh manusia, baik masih hidup maupun telah
meninggal. Disertai oleh petugas kepolisian yang berwenang.

Penggunaan VetR: Kepentingan peradilan saja , tidak boleh digunakan untuk penyelesaian
klaim asuransi.
Karena hanya untuk keperluan peradilan maka berkas Keteranagan Ahli ini hanya
boleh diserahkan kepada penyidik (instansi) yang memintanya.
Bila diperlukan keterangan untuk klaim asuransi, maka pihak asuransi dapat meminta
kepada dokter keterangan yang khusus untuk hal tersebut, dengan memperhatikan
ketentuan tentang wajib simpan rahasia jabatan.

Penyerahan VetR

Pasal 133
(1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka,
keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia
berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman
atau dokter dan atau ahli lainnya.
(2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara
tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau
pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.
(3) Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit
harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan
4

diberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan diberi cap jabatan yang
dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.
Pasal 134
(1) Dalam hal sangat diperlukan dimana untuk keperluan pembuktian bedah mayat tidak
mungkin lagi dihindari, penyidik wajib memberitahukan terlebih dahulu kepada keluarga
korban.
(2) Dalam hal keluarga keberatan, penyidik wajib menerangkan dengan sejelas-jelasnya
tentang maksud dan tujuan perlu dilakukannya pembedahan tersebut.
(3) Apabila dalam waktu dua hari tidak ada tanggapan apapun dari keluarga atau pihak yang
diberi tahu tidak diketemukan, penyidik segera melaksanakan ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam pasal 133 ayat (3) undang-undang ini.
Pasal 179
(1) Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakirnan atau dokter
atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.
(2) Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang memberikan
keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan sumpah atau janji akan
memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan yang sebenarnya menurut pengetahuan
dalam bidang keahliannya.
Pasal 120
(1) Dalam hal penyidik menganggap perlu, ia dapat minta pendapat orang ahli atau orang
yang memiliki keahlian khusus.
(2) AhIi tersebut mengangkat sumpah atau mengucapkan janji di muka penyidik bahwa ia
akan memberi keterangan menurut pengetahuannya yang sebaik-baiknya kecuali bila
disebabkan karena harkat serta martabat, pekerjaan atau jabatannya yang mewajibkan ia
menyimpan rahasia dapat menolak untuk memberikan keterangan yang diminta.
Pasal 168
Kecuali ditentukan lain dalam undang-undang ini, maka tidak dapat didengar keterangannya
dan dapat mengundurkan diri sebagai saksi:
a. keluarga sedarah atau semenda dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sarnpai derajat
ketiga dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai terdakwa.
5

b. saudara dan terdakwa atau yang brsama-sama sebagal terdakwa, saudara ibu atau saudara
bapak, juga mereka yang mempunyai hubungan karena perkawinan dari anak-anak
saudara terdakwa sampal derajat ketiga
c. suami atau isteri terdakwa meskipun sudah bercerai atau yang bersama-sama sebagai
terdakwa.
Pasal 170
(1) Mereka yang karena pekerjaan, harkat martabat atau jabatannya diwajibkan menyimpan
rahasia, dapat minta dibebaskan dari kewajiban untuk memberi keterangan sebagai saksi,
yaitu tentang hal yang dipercayakan kepada mereka.
(2) Hakim menentukan sah atau tidaknya segala alasan untuk permintaan tersebut.

Bentuk bantuan dokter bagi peradilan dan manfaatnya

Pasal 179
(1) Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakirnan atau dokter
atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.
(2) Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang memberikan
keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan sumpah atau janji akan
memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan yang sebenarnya menurut pengetahuan
dalam bidang keahliannya.
Pasal 180
(1) Dalam hal diperlukan untuk menjernihkan duduknya persoalan yang timbul di sidang
pengadilan, hakim ketua sidang dapat minta keterangan ahli dan dapat pula minta agar
diajukan bahan baru oleh yang berkepentingan.
(2) Dalam hal timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau penasihat hukum terhadap
hasil keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hakim memerintahkan agar
hal itu dilakukan penelitian ulang.
(3) Hakim karena jabatannya dapat memerintahkan untuk dilakukan penelitian ulang
sebagaimana tersebut pada ayat (2).
(4) Penelitian ulang sebagaimana tersebut pada ayat (2) dan ayat (3) dilakukan oleh instansi
semula dengan komposisi personil yang berbeda dan instansi lain yang mempunyai
wewenang untuk itu.

Pasal 183
Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan sekurangkurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana
benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya.
Pasal 184
(1) Alat bukti yang sah ialah:
a. keterangan saksi;
b. keterangan ahli;
c. surat;
d. petunjuk;
e. keterangan terdakwa.
(2) Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan.
Pasal 185
(1) Keterangan saksi sebagai alat bukti ialah apa yang saksi nyatakan di sidang pengadilan.
(2) Keterangan seorang saksi saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa terdakwa bersalah
terhadap perbuatan yang didakwakan kepadanya.
(3) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tidak berlaku apabila disertai dengan
suatu alat bukti yang sah lainnya.
(4) Keterangan beberapa saksi yang berdiri sendiri-sendiri tentang suatu kejadian atau
keadaan dapat digunakan sebagai suatu alat bukti yang sah apabila keterangan saksi itu
ada .hubungannya satu dengan yang lain sedemikian rupa, sehingga dapat membenarkan
adanya suatu kejadian atau keadaan tertentu.
(5) Baik pendapat maupun rekan, yang diperoleh dari hasil pemikiran saja, bukan
merupakan keterangan saksi.
(6) Dalam menilai kebenaran keterangan seorang saksi, hakim harus dengan sungguhsungguh memperhatikan
a. persesuaian antara keterangan saksi satu dengan yang lain;
b. persesuaian antara keterangan saksi dengan alat bukti lain;
c. alasan yang mungkin dipergunakan oleh saksi untuk memberi keterangan yang
tertentu;
d. cara hidup dan kesusilan saksi serta segala sesuatu yang pada umumnya dapat
mempengaruhi dapat tidaknya keterangan itu dipercaya.
7

(7) Keterangan dari saksi yang tidak disumpah meskipun sesuai satu dengan yang lain tidak
merupakan alat bukti namun apabila keterangan itu sesuai dengan keterangan dari saksi
yang disumpah dapat dipergunakan sebagai tambahan alat bukti sah yang lain.
Pasal 186
Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan.
Pasal 187
Surat sebagaimana tersebut pada Pasal 184 ayat (1) huruf c, dibuat atas sumpah jabatan atau
dikuatkan dengan sumpah, adalah:

berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh pejabat umum yang
berwenang atau yang dibuat di hadapannya, yang memuat keterangan tentang kejadian
atau keadaan yang didengar, dilihat atau yang dialaminya sendiri, disertai dengan alasan
yang jelas dan tegas tentang keterangannya itu;

surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan perundang-undangan atau surat yang dibuat
oleh pejabat mengenal hal yang termasuk dalam tata laksana yang menjadi tanggung
jawabnya dan yang diperuntukkan bagi pembuktian sesuatu hal atau sesuatu keadaan;

surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya
mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi dan padanya;

surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dengan isi dari alat pembuktian
yang lain.

Sangsi bagi pelanggar kewajiban dokter

Pasal 216
(1) Barang siapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan
menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh
pejabat berdasarkan tugasnya, demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau
memeriksa tindak pidana; demikian pula barang siapa dengan sengaja mencegah,
menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan undangundang yang dilakukan oleh salah seorang pejabat tersebut, diancam dengan pidana
penjara paling lama empat bulan dua minggu atau pidana denda puling banyak sembilan
ribu rupiah.

(2) Disamakan dengan pejahat tersebut di atas, setiap orang yang menurut ketentuan undangundang terus-menerus atau untuk sementara waktu diserahi tugas menjalankan jabatan
umum.
(3) Jika pada waktu melakukan kejahatan belum lewat dua tahun sejak adanya pemidanaan
yang menjadi tetap karena kejahatan semacam itu juga, maka pidananya dapat ditambah
sepertiga.
Pasal 222
Barang siapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan
pemeriksaan mayat forensik, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau
pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.
Pasal 224
Barang siapa dipanggil sebagai saksi, ahli atau juru bahasa menurut undang-undang dengan
sengaja tidak memenuhi kewajiban berdasarkan undang-undang yang harus dipenuhinya,
diancam:
1. dalam perkara pidana, dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan;
2. dalam perkara lain, dengan pidana penjara paling lama enam bulan.
Pasal 522
Barang siapa menurut undang-undang dipanggil sebagai saksi, ahli atau juru bahasa, tidak
datang secara melawan hukum, diancam dengan pidana denda paling banyak sembilan ratus
rupiah.
*Kewajiban Moral :
Pasal 7 KODEKI (Hanya memberi keterangan yang benar):
7. Setiap dokter hanya memberi surat keterangan dan pendapat yang telah diperiksa sendiri
kebenarannya.
7a. Seorang dokter harus, dalam setiap praktik medisnya, memberikan pelayanan medis yang
kompeten dengan kebebasan teknis dan moral sepenuhnya, disertai rasa kasih sayang
(compassion) dan penghormatan atas martabat manusia.
7b. Seorang dokter harus bersikap jujur dalam berhubungan dengan pasien dan sejawatnya,
dan berupaya untuk mengingatkan sejawatnya yang dia ketahui memiliki kekurangan dalam
9

karakter atau kompetensi, atau yang melakukan penipuan atau penggelapan, dalam
menangani pasien.
7c. Seorang dokter harus senantiasa menghormati hak-hak pasien, hak-hak sejawatnya, dan
hak tenaga kesehatan lainnya, dan harus menjaga kepercayaan pasien.
7d. Setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup mahkluk
insani. 1
3. PEMERIKSAAN MEDIS
Pada kebanyakan kasus kejahatan dengan kekerasan fisik, seperti pembunuhan,
penganiayaan, perkosaan, dan lain-lain, mungkin ditemukan darah, cairan mani, air liur, urin,
rambut, dan jaringan tubuh lain di tempat kejadian perkara. Bahan-bahan tersebut mungkin
berasal dari korba atau pelaku kejahatan atau dari keduanya, dan dapat digunakan untuk
membantu mengungkapkan peristiwa kejahatan tersebut secara ilmiah.
Dalam kasus ini dapat kita lakukan beberapa pemeriksaan seperti pemeriksaan luar jenasah,
dalam jenasah, maupun pemeriksaan laboratorium untuk membantu proses penyelidikan. 1, 2
PEMERIKSAAN LUAR
Pada pemeriksaan luar dapat meliputi pemeriksaan label, benda-benda disamping mayat,
pakaian, ciri-ciri identitas fisik, ciri-ciri tanatologis, perlukaan yang terjadi pada mayat, serta
ada tidaknya patah tulang. Berikut sistematika pemeriksaannya adalah: 2
1) Label mayat
Sehelai karton yang diikatkan pada ibu jari kaki serta penyegelan pada tali
pengikat untuk menjaga keaslian barang bukti. Serta untuk menjaga agar mayat
tidak tertukar saat diambil oleh keluarga.
2) Tutup mayat dan bungkus mayat
Mayat sering kali dibawa dalam keadaan ditutupi atau terbungkus. Penutup mayat
atau bungkusan harus dicatat jenis dan bahannya, warna corak serta bahan yang
melekat atau yang mengotori.
3) Pakaian
Pakaian yang dipakai harus dicatat dengan teliti dari bagian tubh sebelah atas
hingga kebawah. Pencatatan meliputi bahan, warna dasar corak dari tekstil,
bentuk dan model pakaian, ukuran, merk, cap binatu, bila terdapat pengotoran
atau robekan pada pakaian maka harus dicatat ukuran dan letaknya.
4) Perhiasan

10

Semua perhiasan yang dipakai oleh korban harus dicatat, warna bentuk, ukuran
merk sebagai barang bukti.
5) Benda disamping mayat
Kadang-kadang mayat dikirim berserta barang yang adda disampingnya, semua
barang yang ada dicatat dengan teliti dan lengkap
6) Tanda kematian
Tanda kematian diperiksa berdasarkan perubahan Tanatologi (dibahas terpisah)
7) Identifikasi umum
Meliputi jenis kelamin, ras, umur, warna kulit, tinggi dan berat badan, keadaan
kelamin yang di sikumsisi dan adany strie pada dinding perut
8) Identifikasi khusus
Meliputi adanya tanda-tanda khusus dari korban seperti tattoo, jaringan parut,
kapalan (callus), kelainan pada kulit dan anomaly dan cacat pada tubuh lainnya.
9) Pemeriksaan rambut
Diantara jaringan-jaringan tubuh yang mungkin ditemukan dan merupakn bukti
penting dalam kasus kejahatan, rambut mempunyai peranan yang cukup
menonjol. Disamping jaringan keras seperti tulang, gigi, dan kuku, rambut juga
bersifat sangat stabil terhadap temperatur lingkungan dan pembusukan.
Nilai bukti dari rambut akan bertambah pada asus yang tidak ditemukan buktibukti lain atau bukti-bukti lainnya telah rusak.
Pemeriksaan rambut berguna dalam bidang forensik utnuk membantu penentuan
identitas seseorang, menunjukan keterkaitan antara seseorang yang dicurigai
dengan suatu peristiwa kejahatan tertentu, antara korban dengan senjata atau
anatara korban dengan kendaraan yang dicurigai.
Pemeriksaan laboratorium terhadap rambut meliputi pemeriksaan makroskopis
dan mikroskopik.
Pada pemeriksaan makroskopik yang perlu diperhatikan dan dicatat adalah
keadaan warna, panjang, bentuk (lurus, ikal, keriting), zat perwarna rambut yang
mungkin dijumpai. Sedangkan untuk pemeriksaan mikroskopik perlu diuat
sediaan mikroskopik rambut sebagai berikut:
Rambut dibersihkan dengan air, alkohol, dan eter. Kemudian letakan pada gelas
objek, lalu diteteskan gliserin dan tutup dengan gelas penutup. Dengan cara ini
dapat dilihat gambaran medula rambut.
Untuk melihat pola sisik dari rambut secara mikroskopik, dibuat cetakan rambut
tersebut pada sehelai film selulosa dengan meneteskan asam asetat glasial, lalu
meletakan rambut yang telah dibersihkan diatasnya dan ditekan menggunakan
11

gelas objek. Pola sisik dapat didokumentasikan dengan membuat foto hasil
pemeriksaan mikroskopik.
Disamping itu pada pemeriksaan mikroskopik ditentukan pula hal-hal seperti,
apakah itu merupakan rambut manusia ataukah rambut hewan, jika manusia
darimanakah rambut manusia itu tumbuh berasal apakah rambut kepala, alis, bulu
mata, bulu hidung, kumis, jenggot, rambut badan, rambut ketiak, ataukah rambut
kemaluan, lalu apakah rambut tersebut merupakan rambut utuh atau rusak. Selain
itu pula dari rambut pula kadang-kadang memberi petunjuk jenis kelamin dan
perkiraan umur seseorang walaupun memang untuk perkiraan umur berdasarkan
pemeriksaan keadaan pigmen rambut sukar sekali dilakukan.
Tidak hanya itu dari rambut juga bisa ditentukan golongan darah pemilik nya
yaitu dengan menggunakan teknik absorpsi elusi.
i.)

Rambut manusia atau rambut hewan


Rambut manusia berbeda dengan rambut hewan pada sifat-sifat lapisan
sisik(kutikula), gambaran korteks dan medula rambut.
Rambut manusia memiliki diameter sekitar 50-150 mikron dengan bentuk
kutikula yang pipih sedangkan rambut hewan memiliki diameter kurang dari 25
mikron atau lebih dari 300 mikron dengan kutikula kasar dan menonjol.
Pigmen pada rambut manusia sedikit dan terpisah-pisah sedangkan pada hewan
padat dan tidak terpisah.
Perbandingan diameter medula dengan diameter rambut pada rambut manusia
(indeks medula) adalah 1:3 sedangkan indeks medula rambut hewan adalah 1:2
atau lebih besar. Pemeriksaan indeks medula merupakan pemeriksaan yang
terpenting untuk membedakan rambut manusia dari rambut hewan.

ii.)

Asal tumbuh rambut manusia


Rambut kepala umumnya kasar, lemas, bisa lurus, ikal, ataupun keriting, dan
panjang penampang melintang yang berbentuk bilat (pada rambut lurus), oval
(pada rambut keriting/ikal). Alis, bulu mata, dan bulu hidung umumnya relatif
kasar, kadang-kadnag kaku, dan pendek. Rambut kemaluan dan rambut ketiak

iii.)

lebih kasar, sedangkan rambut badan halus dan pendek.


Rambut utuh atau rusak
Pemeriksaan mikroskopik rambut utuh akan memperlihatkan akar bagian tengah
dan ujung lengkap. Pada rambut yang tercabut rambut akan terlihat utuh dangan
disertai jaringan kulit. Sebaliknya rambut yang lepas sendiri akan mempunyai
12

akar yang megerut tanpa jaringan kulit. Rambut yang terpotong benda tajam
dengan mikroskop akan terlihat terpotong rata sedangkan akibat benda tumpul
iv.)

akan terlihat terputus tidak rata.


Jenis kelamin
Panjang rambut kepala kadang-kadang dapat memberikan petunjuk jenis kelamin.
Tetapi untuk menentukan jenis kelamin yang pasti harus dilakukan pemeriksaan
terhadap sel-sel sarung akar rambut dengan larutan Orcein. Pada rambut wanita
dapat ditemukan adanya kromatin seks pada inti sel-sel tersebut.

v.)

Umur
Umumnya dapat dikatakan bahwa bila usia bertambah maka rambut akan rontok.
Rontoknya rambut pada pria umumnya terjadi pada dekade kedua atau ketiga,
sedangkan pada wanita sering terjadi rontoknya rambut ketiak dan pertumbuhan
rambut pada wajah pada saat menopause. Rambut ketiak dan rambut kemaluan
akan tumbuh pada usia pubertas.
Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap rambut tidak dapat menentukan rambut
tersebut berasal dari individu tertentu tetapi hanya dapat memastikan rambut
tersebut bukan berasal dari orang tertentu.
10) Pemeriksaan mata
Periksa kelopak apakah tertutup atau terbuka, ada tidaknya tanda-tanda kekerasan
serta kelaianan lain yang timbul oleh penyakit atau sebagainya. Pemeriksaan
kelopak mata.
11) Pemeriksaan daun telinga dan hidung
Pemeriksaan meliputi pecatatan terhadap bentuk dari daun telinga dan hidung,
terutama pada mayat dengan bentuk yang luar biasa arena hal ini mungkin dpat
membatnu dalam idntifikasi. Catat pula kelainan seta tanda kekerasan yang
ditemukan. Periksa apakah dari lubang telinga dan hidung keluar cairan / darah.
12) Pemeriksaan mulut dan rongga mulut
Pemeriksaan meliptui bibir, lidah, rongga mulut serta gigi geligi. Catat kelaiann
atau tanda kekerasan yang ditemukan. Periksa dengan teliti keadaan rongga mulut
akan kemungkinan terdapatnya benda asing. Terhadap gigi geligi, pencataan
harus diakukan selengkap-lengkapnya meliputi jumlah gigi yang terdapat, gigi
geligi yang hilang/patah/mendapat tmabalan/ bungkus logam, gigi palsu, kelainan
13

letak, pewarnaan dan sebagainya. data gigi geligi merupakan akat yang sangat
berguna untuk identifikasi bila terdapat data pembanding. Perlu diingat bahwa
gigi geligi adalah bagian tubuh yang paling keras dan than terhadap kerusakan.
13) Pemeriksaa alat kelamin dan anus
Pada mayat laki-laki, catat apakah alat kelamin mengalami sirkumsisi. Catat
kelainan bawaan yang mungkin ditemukan (epispadia, hypospadia phymosis),
adanya manik-manik yang ditanam di bawah kemaluan serta kelaian yang
ditimbulkan cairan dari lubang kemaluan serta kelainan yang ditimbulkan oleh
penyakit atau sebab lain.
Pada duagan telah terjadinya suatu persetubahan beberapa saat, dapat diambil
preparat tekan menggunakan kaca objek yang ditekankan pada daerah glans atau
corona glandis yang kemudian dapat dilakuakn pemeriksaan terhadap sadanya sel
epitel vagina menggunakan teknik laboratorium tertentu. Pada mayat wania
periksa keadaan selaput dara dabn komisur posterior akan memungkinaan adanya
tanda kekerasan. Pada kasus persangkaan telah melakukan persetubuhan beberapa
saat sebelumnya, jangan lupa dilakuakn pemeriksaan laboratorium terhadap
cairan/sekret liang sanggama.
Pada mayat yang sering mendapat perlakuan sodomi, mungkin ditemukan anus
berbentuk corong yang selaput lendirnya sebagian berubah menjadi lapisan
bertanduk dan hilang rugaenya.
14) Pemeriksaan tanda-tanda kekerasan
Pada pemeriksaan terhadap tanda kekerasan /luka, perlu dilakukan pencatatan
yang teliti dan objektif terhadap : letak luka, jenis luka, bentuk luka, arah luka,
tepi luka, sudut luka, dasar luka, sekitar luka, ukuran luka, saluran luka, pada luka
lecet jenis parut, pemeriksaan teliti terhadap permukaan luka terhadap pola
penumpukan kulit ari yang terserut dapat mengungkapkan arah kekerasan yang
menyebabkan luka tersebut.
15) Pemeriksaan kemungkinan patah tulang
Tentukan letak patah tulang yang ditemukan serta catat sifat/jenis masing-masing
patah tulang yang terdapat.

14

16) Pemeriksaan air liur


Air liur merupakan cairan yang dihasilkan oleh kelejar liur. Air liur (saliva)
terdiri dari air, enzim ptialin (alfa amilase), protein, lipid, ion-ion anorganik
seperti tiosianat, klorida dan lain-lain.
Dalam bidang kedokteran forensik pemeriksaan air lir penting untuk kasus-kasus
dengan jejas gigitan untuk menentukan golongan darah penggigitnya.
Dalam kasus ini harus diperiksa dulu pada mayat apakah ada bekas gigitan atau
tidak jika ada baru lakukan pemeriksaan liur pada jejas yang biasanya
ditimbulkan dari gigitan tersebut.
17) Lain-lain
Perlu diperhatikan aan kemungkinan adanya:
a. Tanda pembendungan, ikterus, warna kebiru-biruan pada kuku/ujung-ujung jari
(pada sianosis) atau adanya edema/sembab.
b. Bekas pengobatan berupa bekas kerokan, tracheotomi, suntikan pungsi lumbal,
dan lain-lain.
c. Terdapatnya bercak lumpur atau pengotoran lain pada tubuh, kepingan atau
serpihan cat, pecahan kaca, lumuran aspal dan lain-lain.
Pemeriksaan Dalam
Selain pemeriksaan luar juga dilakukan pemeriksaan dalam pada mayat, berupa pemeriksaan
organ-organ tubuh mayat dengan membuka rongga dan memeriksa isi rongga kepala, leher,
dada, perut dan panggul, selain itu pemeriksaan dengan membuka bagian tubuh lain dapat
dilakukanapabila diperlukan. Pemeriksaan organ atau alat tubuh biasanya dimulai dari lidah,
oesofagus, trakea, dan seterusnya sampai meliputi seluruh alat tubuh. Otak biasanya diperiksa
terakhir. 2
1) Lidah
Pada lidah, perhatikan permukaan lidah, adakah kelainan bekas gigitan, baik yang
baru maupun yang lama. Bekas gigitan yang berulang dapat ditemukan pada
penderita epilepsi. Bekas gigitan ini dapat pula terlihat pada penampang lidah.
Pengirisan lidah sebaiknya tidak sampai teriris putus, agar setelah selesai autopsi,
mayat masih tampak berlidah utuh.
2) Tonsil

15

Perhatikan permukaan maupun penampang tonsil, adakah selaput, gambaran


infeksi, nanah, dsb. Ditemukannya tonsilektomi kadang-kadang membantu dalam
identifikasi.

3) Kelenjar Gondok
Untuk melihat kelenjar gondok dengan baik, otot-otot leher terlebih dahulu
dilepaskan dari perlekatannya di sebelah belakang. Dengan pinset bergigi pada
tangan kiri, ujing bawah otot-otot leher dijepit dan sedikit diangkat, dengan
gunting pada tangan kanan, otot leher dibebaskan dari bagian posterior. Setelah
otot leher ini terangkat, maka kelenjar gondok akan tampak jelas dan dapat
dilepaskan dari perlekatannya pada rawan gondok dan trakea.
Perhatikan ukuran dan beratnya. Periksalah apakah permukaannya rata, catat
warnanya, adakah perdarahan berbintik, atau resapan darah. Lakukan pengirisan
di bagian lateral pada kedua bagian kelenjar gondok dan catat peragai penampang
kelenjar ini.
4) Kerongkongan (Esofagus)
Esofagus dibuka dengan jalan menggunting sepanjang dinding belakang.
Perhatikan adanya benda-benda asing, keadaan selaput lendir, serta kelainan yang
mungkin ditemukan (misalnya striktura, varises).
5) Batang Tenggorok (Trakea)
Pemerikaan dimulai pada mulut atas batang tenggorok, dimulai pada epiglotis.
Perhatikan adakah edema, benda asing, perdarahan dan kelainan lain. Perhatikan
pula pita suara dan kotak suara.
Pembukaan trakea dilakukan dengan melakukan pengguntingan dinding belakang
(bagian jaringan ikat pada cincin trakea) sampai mencapai cabang bronkus kanan
dan kiri. Perhatikan adanya benda asing, busa, darah, serta keadaan selaput
lendirnya.
6) Tulang Lidah (os hyoid), Rawan Gondok (cartilago tiroidea), dan Rawan Cincin
(cartilago cricoidea)

16

Tulang lidah kadang-kadang ditemukan patah unilateral pada kasus pencekikan.


Tulang lidah terlebih dahulu dilepaskan dari jaringan sekitarnya dengan
menggunakan pinset dan gunting. Perhatikan adanya patah tulang, resapan darah.
Rawan gondok dan rawan cincin seringkali juga menunjukkkan resapan darah
pada kasus dengan kekerasan pada daerah leher (pencekikan, penjeratan,
gantung).
7) Carotis Interna
Arteri carotis comunis dan interna biasanya tertinggal melekat pada permukaan
depan ruas tulang leher. Perhatikan adanya tanda-tanda kekerasan pada sekitar
arteria ini.
Buka pula arteria ini, dengan menggunting dinding depannya dan perhatikan
keadaan intima. Bila kekerasan pada daerah leher mengenai arteria ini, kadangkadang dapat ditemukan kerusakan pada intima di samping terdapatnya resapan
darah. Pada sekitar arteria pada dinding depannya dan perhatikan keadaan intima.
Bila kekerasan pada daerah leher mengenai arteria ini, kadang-kadang dapat
ditemukan kerusakan pada intima di samping terdapatnya resapan darah.
8) Kelenjar Kacangan (Thymus)
Kelenjar kacangan biasanya telah berganti menjadi thymic fat body pada orang
dewasa

namun

kadang-kadang

masih

dapat

ditemukan

(pada

status

thymicolymphaticus).
Kelenjar kacangan terdapat melekat di sebelah atas kandung jantung. Pada
permukaannya perhatikan akan adanya perdarahan berbintik serta kemungkinan
adanya kelainan lain.
9) Paru-Paru
Kedua paru masing-masing diperiksa tersendiri. Tentukan permukaan paru. Pada
paru yang mengalami emfisema, dapat ditemukan cekungan bekas penekanan iga.
Perhatikan warnanya, serta bintik perdarahan, bercak perdarahan akibat aspirasi
darah ke dalam alveoli (tampak pada permukaan paru sebagai bercak berwarna
merah / hitam dengan batas tegas), resapan darah, luka, bulla, dsb.
Perabaan paru yang normal terasa seperti meraba spons atau karet busa. Pada paru
dengan proses peradangan, perabaan dapat menjadi padat atau keras.

17

Penampang paru diperiksa setelah melakukan pengirisan paru yang dimulai dari
apeks sampai ke basal dengan tangan kiri memegang paru pada daerah hilus. Pada
penampang paru ditemukan warnanya serta dicatat kelainan yang mungkin
ditemukan.
10) Jantung
Jantung dilepas dari pembuluh darah besar yang keluar atau masuk ke jantung
dengan jalan memegang apeks jantung dan mengangkatnya serta menggunting
pembuluh tadi sejauh mungkin dari jantung.
Perhatikan besarnya jantung, bandingkan dengan kepalan tinju kanan mayat.
Perhatikan akan adanya resapan darah, luka, atau bintik-bintik perdarahan.
Pada autopsi jantung, ikuti sistematika pemotongan dinding jantung yang
dilakukan dengan mengikuti aliran darah di dalam jantung.
Pada daerah katup semilunaris aorta dapat ditemukan 2 muara aa. Coronaria, kiri
dan kanan. Untuk memeriksa keadaan A. Coronaria sama sekali tidak boleh
menggunakan sonde, karena itu akan mendorong trombus yang mungkin terdapat.
Pemeriksaan nadi jantung ini dilakukan dengan membuat irisan melintang
sepanjang jalan pembukuh darah.
A.coronaria kiri berjalan di sisi depan septum, dan A.coronaria kanan keluar dari
dinding pangkal aorta ke arah belakang. Pada penampang irisan perhatikan tebal
dinding arteri, keadaan lumen, serta kemungkinan terdapatnya trombus.
Septum jantung dibelah untuk melihat kelainan otot baik merupakan kelainan
yang bersifat degeneratif maupun kelainan bawaan.

Nilai pengukuran pada jantung normal orang dewasa adalah sbb : ukuran jantung
sebesar kepalan tangan kanan mayat, berat sekitar 300 gr, ukuran lingkaran katup
serambi bilik kanan sekitar 11 cm, yang kiri sekitar 9,5 cm, lingkaran katup
pulmonal sekitar 7 cm, dan aorta sekitar 6,5 cm. Tebal otot bilik kanan 3-5 mm,
sedangkan yang kiri sekitar 14 mm.
11) Aorta Torakalis

18

Pengguntingan pada dinding belakang Ao. Torakalis dapat memperlihatkan


permukaan dalam aorta. Perhatikan kemungkinan terdapatnya deposit kapur,
ateroma, atau pembentukkan aneurisma. Kadang-kadang pada aorta dapat
ditemukan tanda kekerasan merupakan resapan darah atau luka. Pada kasus
kematian bunuh diri dengan jalan menjatuhkan diri dari tempat yang tinggi, bila
korban mendarat dengan kedua kaki terlebih dahulu, seringkali ditemukan
robekan melintang pada A.torakalis.

12) Aorta Abdominalis


Bloc organ perut dan panggul dilerakkan diatas di meja potong dengan
permukaaan belakang menghadap ke atas. Ao. Abdominalis digunting dinding
belakangnya mulai dari tempat pemotongan aa. Iliaca comunis kanan dan kiri.
Perhatikan dinding aorta terhadap adanya penimbunan perkapuran atau atheroma.
Perhatikan pula muara dari pembuluh nadi yang keluar dari Ao. Abdominalis ini
terutama muara aa.renalis kanan dan kiri. Mulai pada muaranya aa.renalis kanan
dan kiri dibuka sampai memasuki ginjal. Perhatikan apakah terdapat kelainan
pada dinding pembuluh darah yang mungkin merupakan dasar dideritanya
hipertensi renal bagi yang bersangkutan.
13) Glandula Suprarenalis (anak ginjal)
Kedua anak ginjal harus dicari terlebih dahulu sebelum dilakukan pemeriksaan
lanjut pada bloc alat rongga perut dan panggul.
Hal ini perlu mendapat perhatian, karena bila telah dilakukan pemeriksaan atau
pemisahan alat rongga perut dan panggul, anak ginjal sukar ditemukan. Anak
ginjal kanan terletak di mediokranial dari kutub atas ginjal kanan, tertutup oleh
jaringan lemak, berada diantara permukaan belakang hati dan permukaan bawah
diafragma. Untuk menemukan anak ginjal sebelah kanan ini, pertama-tama
digunting otot diafragma sebelah kanan. Pada tempat yang disebutkan di atas,
lepaskan dengan pinset dan gunting jaringan lemak yang terdapat dan akan
tampak anak ginjal yang berwarna kuning kecoklat-coklatan, berbentuk trapesium
dan tipis. Anak ginjal kemudian dibebaskan dari jaringan sekitarnya dan diperiksa
terhadap kemungkinan terdapatnya kelainan ukuran, resapan darah, dsb.

19

Anak ginjal kiri terletak di bagian mediokranial kiri kutub atas ginjal kiri, juga
tertutup dalam jaringan lemak, terletak diantara ekor kelenjar liur perut (pankreas
dan diafragma). Dengan cara yang sama seperti pada pengeluaran anak ginjal
kanan, anak ginjal kiri yang bebentuk bulan sabit tipis dapat dilepaskan untuk
dilakukan pemeriksaan dengan seksama. Pada anak ginjal yang normal,
pengguntingan anak ginjal akan memberikan penampang dengan bagian korteks
dan medula yang tampak jelas.

14) Ginjal, Ureter, Dan Kandung Kencing


Kedua ginjal masing-masing diliputi oleh jaringan lemak yang dikenal sebagai
kapsula adiposa renis. Adanya trauma yang mengenai daerah ginjal seringkali
menyebabkan resapan darah pada kapsula ini. Dengan melakukan pengirisan di
bagian lateral kapsula, ginjal dapat dibebaskan.
Untuk pemeriksaan lebih lanjut, ginjal digenggam pada tangan kiri dengan pelvis
renis dan ureter terletak antara telunjuk dan jari tengah. Irisan pada ginjal dibuat
dari arah lateral ke medial, diusahakan tepat di bidang tengah sehingga
penampang akan melewati pelvis renis. Pada tepi irisan, dengan menggunakan
pinset bergigi, simpai ginjal dapat dicubit dan kemudian dikupas secara tumpul.
Pada ginjal yang normal, hal ini dapat dilakukan dengan mudah. Pada ginjal yang
mengalami peradangan, simpai ginjal mungkin akan melekat erat dan dulit
dilepaskan. Setelah simpai ginjal dilepaskan, lakukan terlebih dahulu pemeriksaan
terhadap permukaan ginjal. Adakah kelainan berupa resapan darah, luka-luka,
ataupun kista-kista retensi.
Pada penampang ginjal perhatikan gambaran korteks dan medula ginjal. Juga
perhatikan pelvis renis akan kemungkinan terdapatnya batu ginjal, tanda
peradangan, nanah, dsb.
Ureter dibuka dengan meneruskan pembukaan pada pelvis renis , terus mencapai
vesika urinaria. Perhatikan kemungkinan terdapatnya batu, ukuran penampang, isi
saluran, serta keadaan mukosa. Kandung kencing dibuka dengan jalan
menggunting dinding depan mengikuti huruf T. Perhatikan isi serta selaput
lendirnya.

20

15) Hati Dan Kandung Empedu


Pemeriksaan dilakukan terhadap permukaan hati yang pada keadaan biasa
menunjukkan permukaan yang rata dan licin, berwarna merah coklat. Kadangkala
pada permukaan hati dapat ditemukan kelainan berupa jaringan ikat, kista kecil,
permukaan yang berbenjol-benjol, bahkan abses.
Pada perabaan, hati normal memberikan perabaan yang kenyal. Tepi hati biasanya
tajam. Untuk memeriksa penampang, buatlah 2-3 irisan yang melintang pada
punggung hati sehingga dapat terlihat sekaligus baik bagian kanan maupun kiri
hati. Hati yang normal menunjukkan penampang yang jelas gambatan hatinya.
Pada hati yang telah lama mengalami pembendungan, dapat ditemukan gambaran
hati pala.Kandung empedu diperiksa ukurannya serta diraba akan kemungkinan
terdapatnya batu empedu untuk mengetahui ada tidaknya sumbatan pada saluran
empedu, dapat dilakukan pemeriksaan dengan jalan menekan kandung empedu ini
sambil memperhatikan muaranya pada duodenum (papila Vateri). Bila tampak
cairan coklat-hijau keluar dari muara tersebut, ini menandakan saluran empedu
tidak tersumbat. Kandung empedu kemudian dibuka dengan gunting untuk
memperlihatkan selaput lendirnya yang seperti beludru berwarna hijau-kuning.
16) Limpa Dan Kelenjar Getah Bening
Limpa dilepaskan dari sekitarnya. Limpa yang normal menunjukkan permukaan
yang berkeriput, berwarna ungu dengan perabaan lunak kenyal. Buatlah irisan
penampang limpa, limpa normal mempunyai gambaran limpa yang jelas,
berwarna coklat-merah dan bila dikikis dengan punggung pisau, akan ikut
jaringan penampang limpa. Jangan lupa mencatat ukuran dan berat limpa.
Catat pula bila ditemukan kelenjar getah bening regional yang membesar.
17) Lambung, Usus Halus, Dan Usus Besar
Lambung dibuka dengan gunting pada kurvaktura mayor. Perhatikan isi lambung
dan simpan dalam botol atau kantung plastik bersih bila isi lambung ini diperlukan
untuk pemeriksaan toksikologi atau pemeriksaan lab lainnya. Selaput lendir
lambung diperiksa terhadap kemungkinan adanya erosi, ulserasi, perdarahan, atau
resapan darah.
Usus diperiksa akan kemungkinan terdapat darah dalam lumen serta kemungkinan
terdapatnya kelainan bersifat ulseratif, polip, dan lainnya.
21

18) Kelenjar Liur Perut (Pankreas)


Pertama-tama lepaskan lebih dahulu pankreas ini dari sekitarnya. Pankreas yang
normal mempunyai warna kelabu agak kekuningan, dengan permukaan yang
berbelah-belah, dan perabaan yang kenyal. Perhatikan ukuran serta beratnya catat
bila ada kelainan.
19) Otak Besar, Otak Kecil, Dan Batang Otak
Perhatikan permukaan luar dari otak dan catat kelainan yang ditemukan. Adakah
perdarahan subdural, perdarahan subarachnoid, kontusio jaringan otak, atau
kadangkala bahkan sampai terjadi laserasi.
Pada udema serebri, girus otak akan tampak mendatar dan sulkus tampak
menyempit. Perhatikan pula akan kemungkinan terdapatnya tanda penekanan
yang menyebabkan sebagian permukaan otak menjadi datar.
Pada daerah ventral otak, perhatikan keadaan sirkulus Wilisi. Nilai keadaan
pembuluh darah pada sirkulus, adakah penebalan dinding akibat kelainan ateroma,
adakah penipisan dinding akibat aneurisma, adakah perdarahan.
Bila terdapat perdarahan hebat, usahakan agar dapat ditemukan sumber
perdarahan tersebut. Perhatikan pula bentuk cerebellum pada keadaan peningkatan
tekanan intrakranial akibat udema cerebri misalnya dapat terjad herniasi
cerebellum ke arah foramen magnum, sehingga bagian bawah cerebellum tampak
menonjol. Pisahkan otak kecil dari otak besar dengan melakukan pmotongan pada
pedunculus cerebri kanan dan kiri. Otak kecil ini kemudian dipisahkan juga dari
batang otak dengan melakukan pemotongan pada pedunculus cerebelli. Otak besar
diletakkan dengan bagian ventral menghadap pemeriksa. Lakukan pemotongan
otak besar secara koronal/melintang, perhatikan penampang irisan.
Tempat pemotongan haruslah sedemikian rupa agar struktur penting dalam otak
besar dapat diperiksa dengan teliti.
20) Alat Kelamin Dalam(Genitalia Interna)
Pada mayat laki-laki, testis dapat dikeluarkan dari scrotum melalui rongga
perut.jadi tidak dibuat irisan baru pada scrotum. Perhatikan ukuran, konsistensi
serta konsistensinya.

22

Pada mayat wanita, perhatikan bentuk serta ukuran indung telur, saluran telur, dan
uterus sendiri. Pada uterus diperhatikan kemungkinan terdapatnya pendarahan,
resapan darah, ataupun luka akibat tindakan abortus provokatus. Uterus dibuka
dengan membuat irisan berbentuk huruf T pada dinding depan, melalui saluran
serviks serta muara kedua saluran telur pada fundus uteri. Perhatikan keadaan
selaput lendir uterus, tebal dinding, isi rongga rahim serta kemungkinan
terdapatnya kelainan lain.
21) Timbang

dan

catatlah

berat

masing-masing

alat

atau

organ

sebelum

mengembalikan organ-organ (yang telah diperiksa secara makroskopik) kembali


ke

dalam

tubuh

diperlukannya

mayat,

potongan

pertimbangkan
jaringan

guna

terlebih

dahulu

pemeriksaan

kemungkinan

histopatologi

atau

diperlukannya organ guna pemeriksaan toksikologi.


Potongan jaringan untuk pemeriksaan histopatologi diambil dengan tebal
maksimal 5mm. Potongan yang terlampau tebal akan mengakibatkan cairan
fiksasi tidak dapat masuk ke dalam potongan tersebut dengan sempurna.
Usahakan mengambil bagian organ di daerah perbatasan antara bagian yang
normal dan yang mengalami kelainan.
Jumlah potongan yang diambil dari setiap organ agar disesuaikan dengan
kebutuhan masing-masing kasus. Potongan ini kemudian dimasukkan ke dalam
botol yang berisi cairan fiksasi yang dapat merupakan larutan formalin 10%
(=larutan formaldehida 4%) atau alkohol 90-96%, dengan jumlah cairan fiksasi
sekitar 20-30 kali volume potongan jaringan yang diambil.
Jumlah organ yang perlu diambil untuk pemeriksaan toksikologi disesuaikan
dengan kasus yang dihadapi serta ketentuan laboratorium pemeriksa. Sedapat
mungkin setiap jenis organ ditaruh dalam botol tersendiri. Bila diperlukan
pengawet agar digunakan alkohol 90%. Pada pengiriman bahan untuk
pemeriksaan toksikologi, contoh bahan pengawet agar juga turut dikirimkan di
samping keterangan klinik dan hasil sementara autopsi atas kasus tersebut.
Pemeriksaan Laboratorium
Selain pemeriksaan diatas juga dapat dilakukan beberapa pemeriksaan tambahan yang dapat
membantu menunjang penyelidikan yang dilakukan sesuai dengan indikasi yang dibutuhkan.

23

Pemeriksaan penunjang dapat berupa pemeriksaan histopatologi, toksikologi, serologi, dan


dna, parasitologi, mikrobiologi, balisitik, sidik jari, uji material, rambut, serat textile, biologi,
dan lain-lain. 1, 3
Pada kasus keracunan As, kadar dalam darah, urin, rambut, dan kuku meningkat. Nilai batas
normal kadar As adalah sebagai berikut :
Rambut kepala normal
Curiga keracunan

:
:

Keracunan akut
Kuku normal
Curiga keracunan
Keracunan akut

0.5 mg/kg

0.75 mg/kg
:

30 mg/kg

sampai 1 mg/kg

1 mg/kg
:

80 ug/kg

Dalam urin, Arsen dapat ditemukan dalam waktu 5 jam setelah diminum, dana dapat
terus ditemukan hingga 10 12 hari.
Pada keracunan kronik, Arsen diekskresikan tidak terus menerus (intermitten)
tergantung pada intake. Titik basophil pada eritrosit dan lekosit muda mungkin ditemukan
pada darah tepi, menunjukkan beban sumsum tulang yang meningkat. Uji Kopro-por-firin
urin akan memberi hasil positif.
Kematian dapat terjadi sebagai akibat malnutrisi dan infeksi.
Pemeriksaan toksikologik
Uji Reinsch :
Berdasar hukum Deres Volta ( sebagian deret Volta adalah : K Na Ca Mg Al Zn Fe Pb
H Cu As Ag Hg Au ), unsur yang letaknya di sebelah kanan akan mengendap bila ada unsur
yang letaknya lebih kiri dalam larutan tersebut. Letak As dalam deret adalah lebih kanan dari
pada Cu.
10 cc darah + 10 cc HCl pekat dipanaskan hingga terbentuk As2O3.

24

Celupkan batang tembaga ke dalam larutan, akan terbentuk endapan kelabu sampai
hitam dari As pada permukaan batang tembaga tersebut.
Untuk membedakan dari Ba, digunakan sifat sublimasi As.
Uji Guszeit

Noda coklat sampai hitam pada kertas saring

Uji Marsh

Zat + HCl + Zn (logam) --- cermin As

Fisika

As menunjukkan nyala api yang khas

Kromatografi gas

Pemeriksaan Darah

Diantara berbagai cairan tubuh, darah merupakan yang paling pentung karena merupakan
cairan biologik dengan sifat-sifat potensial lebih spesifik untuk golongan manusia tertentu.
Pemeriksaan darah forensik ertujuan untuk membantu identifikasi pemilik darah tersebut,
dengan membandingkan bercak darah yang ditemukan di TKP pada obyek-obyek tertentu,
dalam kasus ini pada lapang sungai kering berbatuan tempat ditemukannya mayat laki-laki
tesebut, manusia dan pakaiannya dengan darah korban atau darah tersangka pelaku kejahatan.
Hasil pemeriksaan laboratorium tersebut penting untuk menunjang atau menyingkirkan
keterlibatan seseorang dengan TKP dengan catatan walaupun dengan uji yang modern dan
dengan peralatan yang canggih sekalipun, masih sulit untuk memastikan bahwa darah
tersebut berasal dari individu tertentu. 1
Dari bercak yang dicurigai harus dibuktikan bahwa bercak tersebut benar-benar darah,
merupakan darah dari manusia dan bukan hewan, diketahui golongan darahnya jika memang
merupakan darah manusia, dan lain-lain. 1
Pemeriksaan bercak tersebut dapat diketahui dengan melakukan beberapa pemeriksaan
penunjang seperti yang telah disebutkan sebelumnya yaitu, antara lain: 1, 2
a. Pemeriksaan mikroskopik
Pada pemeriksaan mikroskopik bertujuan untuk melihat morfologi sel-sel darah
merah, namun dalam hal ini darah harus merupakan darah yang masi baik dan tidak
mengalami kerusakan pada sel-sel darah tersebut.
Cara pemeriksaan yaitu dengan mengambil sampel darah yang masih basah atau baru
mengering ditaruh pada kaca obyek dan diberikan 1 tetes larutan garam faal,

25

kemudian ditutup dengan kaca penutup, dan dilihat pada mikroskop. Cara lainnya
adalah dengan membuat sediaan hapus dengan perwarnaan Wright atau Giemsa.
Dari pemeriksaan ini yang dilihat adalah bentuk dan inti dari sel darah merah. Namun
dari pemeriksaan ini hanya dapat menentukan kelas dan bukan spesies darah tersebut.
Untuk kelas mamalia mempunyai sel darah merah berbentuk cakram dan tidak berinti,
sedangkan untuk kelas lainnya berbentuk oval dan berinti. Pengecualian pada kelas
mamalia genus Cannelidae (unta) dengan sel darah merah berbentuk oval namun tidak
berinti.
Keuntungan sediaan hapus dibandungkan dengan sediaan tanpa pewarnaan adalah
dapat terlihatnya sel-sel leukosit berinti banyak. Bila terlihat drum stick dalam jumlah
lebih dari 0.05% dapatlah dipastikan bahwa darah tersebut berasal dari seorang
wanita.
Dalam kasus ini jika dalam pemeriksaan darah menunjukan hasil pemeriksaan sesuai
dengan kelas mamalia dan bukan kelas lain, dapat dipastikan merupakan darah
manusia yang dapat menjadi kemungkinan bersal dari si korban ataupun pelaku dapat
wanita atau pun laki-laki.
b. Pemeriksaan kimiawi
Cara pemeriksaan kimiawi dilakukan bila ternyata sel darah merah sudah dalam
keadaan rusak sehingga pemeriksaan mikroskopik tidak bermanfaat lagi.
Pada pemeriksaan kimiawi terdiri dari pemeriksaan penyaring darah dan pemeriksaan
penentuan darah. 1, 2
i.)
Pemeriksaan penyaring darah
Prinsip pemeriksaan ini adalah:
H2O2 H2O + On

Reagen Perubahan warna (teroksidasi)


Pemeriksaan penyaring yang biasa dilakukan adalah reaksi benzidin dan reaksi
fenoftalin.
Dalam reaksi benzidin digunakan reagen larutan jenuh kristal benzidin dalam
asam asetat glasial, sedangakan dalam reaksi fenoftalin digunakan reagens
yang dibuat dari fenoftalin 2 gram + 100 ml NaOH 20% dan dipanaskan
dengan biji-biji Zinc sehingga terbentuk fenoftalin yang tidak berwarna.
Cara pemeriksaan dilakukan pada bercak yang dicurigai yang digosokan pada
sepotong kertas saring yang kemudian diteteskan 1 tetes H2O2 20% dan 1
tetes reagen benzidin.
Hasil pemeriksaan positif pada reaksi benzidin bila timbul warna biru gelap
pada kertas saring

26

Sedangkan pada reaksi fenoftalin kertas saring yang telah digosokan pada
bercak yang dicurigai langsung diteteskan dengan reagen fenoftalin yang akan
memberikan warna merah muda jika positif.
Hasil negatif pada kedua reaksi tersebut memastikan bahwa bercak tersebut
bukanlah darah sedangkan hasil positif menyatakan bahwa bercak tersebut
ii.)

mungkin darah sehingga perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.


Pemeriksaan penentuan darah
Pemeriksaan penentuan darah berdasarkan terdapatnya pigmen / kristal
hematin (hemin) dan hemokromogen. Pemeriksaan yang biasa digunakan
adalah Reaksi Teichman dan Reaksi Wagenaar.
Pada pemeriksaan reaksi Teichman, seujung jarum bercak kering diletakan
pada kaca objek dengan ditambahkan 1 butir kristal NaCl dan 1 tetes asam
asetat glasial dan kemudian di tutup dengan kaca penutup dan dipananskan.
Hasil menunjukan positif dinyatakan dengan tampaknya kristal hemin HCl
yang berbentuk batang berwarna coklat yan terlihat dengan mikroskop.
Pada pemeriksaan Reaksi Wagenaar, seujung jarum bercak kering di letakan
pada kaca objek dengan diletakan pula sebutir pasir lalu ditutup dengan kaca
penutup sehingga antara kaca objek dan kaca penutup terdapat celah untuk
penguapan zat. Pada satu sisi diteteskan aceton dan pada sisi berlawanan
diteteskan HCl encer, kemudian dipanaskan. Hasil positif bila terlihat kristal
aceton-hemin berbentuk batang berwarna coklat.
Hasil positif pada pemeriksaan penentuan darah memastikan bahwa bercak
adalah darah. Hasil negatif selain menyatakan bahwa bercak tersebut bukan
bercak darah, juga dapat dijumpai pada pemeriksaan terhadap bercak darah
yang struktur kimiawinya telah rusak misalnya bercak darah yang sudah lama
sekali, tebakar, atau sebagainya.

c. Pemeriksaan Spektroskopik
Pemeriksaan ini memastikan bahan yang diperiksa adalah darah bila dijumpai pitapita absorpsi yang khas dari hemoglobin atau turunannya.
Bercak kering dilarutkan dengan akuades dalam tabung reaksi dan kemudian dilihat
dengan spektroskop. Hemoglobin dan derivatnya akan menunjukan pita-pita absorpsi
yang khas pada septrum warna.
Suspensi yang mengandung oksihemoglobin berwarna merah terang dengan dua pita
absorbsi berwarna hitam didaerah kuning (pada panjang gelobang 54 dan 59). Bila
ditambhakan reduktor (Na-ditionit), akan terbentuk hemoglobin tereduksi yang
27

berwarna merah keunguan dengan satu pita absorbsi yang lebar didaerah kuning. Bila
ditambahkan lagi dengan alkali encer (NaOH atau KOH) akan terbentuk
hemokromogen berwarna merah jingga dengan dua pita absorbsi yang menempati
daerah kuning (panjang gelombang 56) dan daerah perbatasan dengan hijau (panjang
gelombang 52).
Darah yang sudah lama atau pada kasus keracunan nitirit, nitrat, nitrobenzena, anilin,
dan sulfonal, terkandung banyak methemoglobin berwarna merah kecoklatan dengan
empat pita absorpsi yaitu dua pita yang sama dengan pita absopsi oksihemoglobin,
satu pita didaerah merah (pada panjang gelombang 64) dan satu lagi didaerah hijau.
Bila ditambahkan reduktor akan terbentu hemoglobin dalam keadaan tereduksi dan
bila ditambhakan lagi dengan alkali encer akan terbentuk hemokromogen.
Pemeriksaan darah pada kasus keracunan gas CO dengan cara ini akan
memperlihatkan dua pita absorbsi dari karboksi hemoglobin (COHb) didaera kuning
yang mirip dengan pita absorbsi oksi-hemoglobin tetapi leih bergeser kearah hijau
(pada panjang gelombang 53 dan 57). Sifat lain dari COHb adalah tidak dapat
direduksi sehingga dengan pernambahan reduktor akan tetap terlihat dua pita
absorpsi.

d. Pemeriksaan Serologik
Pemeriksaan serologik diperlukan untuk menentukan sepsies dan golongan darah.
Untuk itu dibutuhkan antiserologik terhadap protein manusia (anti human globulin)
serta terhadap protein hewan dan juga antisera terhadap golongan darah tertentu.
Prinsip pemeriksaan adalah suatu reaksi antara antigen (bercak darah) dengan antibodi
(antiserum) yang dapat merupakan reaksi presipitasi atau reaksi aglutinasi.
i.)
Penentuan Species
Ekstraksi bercak atau darah kering dengan larutan garam faal sebanya 1 cm2
bercak atau 1 gram darah kering, tetapi tidak melebihi separu bahan yang
tersedia.
Cara-cara yang dapat dipergunakan adalah:
- Reaksi cincin (presipitin dalam tabung)
Kedalam tabing reaksi kecil, dimasukan serum anti globulin manusia dan
keatasnya dituangkan ekstrak darah perlahan-laha melalui tepi tabing.
Biarkan pada temperatur ruang kurang lebih 1.5 jam. Hasil positif tampak
sebagai cincin presipitasi yang keruh pada perbatasan kedua cairan.
28

Reaksi presipitasi dalam agar


Gelas objek dibersihkan dengan spiritus sampai bebas dengan lemak, lalu
dilapisi dengan selapis tipis agar buffer. Setelah agak mengeras dibuat
lubang pada agar dengan diameter kurang lebih 2 mm, yang dikelilingi
oleh lubang-lubang sejenis.
Masukan serum anti globulin manusia ke lubang ditengah dan ekstrak
darah dengan berbagai derajat pengenceran dilubang-lubang sekitarnya.
Letakan gelas objek ini dalam ruang lembab pada temperatur ruang selama
satu malam. Hasil positif memberikan presipitium jernih pada perbatasan

ii.)

lubang tengah dan lubang tepi.


Penentuan golongan darah
Darah yang telah mengering dapat berada dalam berbagai tahap kesegaran.
Bisa berupa bercak darah dengan sel darah merah masih utuh, bercak dengan
sel darah merah yang sudah rusak tetapi dengan aglutinin dan antigen yang
masi dapat terdeteksi, Sel darah merah yang sudah rusak dengan jenis antigen
yang asi dapat dideteksi namun sudah terjadi kerusakan aglutinin, ataupun sel
darah merah yang sudah rusak dengan antigen dan aglutinin yang juga sudah
tidak dapat dideteksi.
Bila sel darah merah masih utuh dapat dilakukan pemeriksaan golongan darah
dengan cara langsung seperti pada penentuan golongan darah orang hidup
yaitu dengan meneteskan 1 tetes antiserum ke atas 1 tetes darah dan dilihat
terjadinya aglutinasi.
Namun jika sel darah merah sudah rusak maka penentuan darah golongan
darah dapat dilakukan dengan cara menentukan jenis aglutinin dan antigen.
Antigen mempunyai sifat yang jauh lebih stabil dibandingkan dengan
aglutinin. Diantara sistem-sistem golongan darah yang paling lama bertahan
adalah antign dari sistem gologan darah ABO.
Penentuan jenis antigen dapat dilakukan dengan cara absorpsi inhibisi absorpsi
elusi atau aglutinasi campuran.
Cara yang biasa dilakukan dengan cara absorpsi elusi, yaitu dengan prosedur
menggunakan 2-3 helai benang yang mengandung bercak kering difiksasi
denga metil alkohol selama 15 menit.
Benang diangkat dan dibiarkan mengering. Selanjutnya dilakukan penguraian
benang tersebut menjadi serat-serat halus dengan menggunakan 2 buah jarum.
Lakukan juga tehadap bangnga yang tidak mengandung bercak darah sebagai
kontrol negatif.
29

Serat benang dimasukan ke dalam 2 tabung reaksi. Kedalam tabung pertama


diteteskan serum antiA dan kedalam tabung kedua diteteskan serum antiB
sehigga serabut benang-benang tersebut terendam seluruhnya. Kemudian
tabung-tabung tersebut disimpan dalam lemari pendingin dengan suhu 4
derajat celsius dalam satu malam.
Setelahnya lakukan pencucian dengan menggunakan larutan faal garam dingin
(4 derajat celcius) sebanyak 5-6 kali, lalu tambahkan 2 tetes suspensi 2% sel
indikator (sel darah merah golongan Apada tabung pertama dan golongan B
pada tabung kedua), Pusing dnegan kecepatan 1000 RPM selama 1 menit. Bila
tidak terjadi aglutinasi cuci sekali lagi dan kemudian tambahkan 1-2 tetes
larutan garam faal dingin. Panaskan pada suhu 56 derajat celcius selama 10
menit dan pindahkan eluat kedalam tabung lain. Tambahkan 1 tetes suspensi
sel indikator kedalam masing-masing tabung dan biarkan selama 5 menit lalu
pusing selama 1 menit dengan kecepatan 1000 RPM.
Pembacaan hasil dilakukan secara makroskopik. Bila terjadi aglutinasi berarti
darah mengandung antigen yang sesuai dengan antigen sel indikator.
IDENTIFIKASI JENAZAH
Dalam mengidentifikasi jenazah, beberapa metode forensik kedoteran seperti tanatologi,
traumatologi diterapkan guna membantu mendapatkan hsil temuan yang baik dan benar serta
akurat.
Tanatologi
Tanatologi berasal dari kata thanatos (yang berhubungan dengan kematian) dan logos
(ilmu). Tanatologi adalah bagian dari ilmu kedokteran forensik yang mempelajari kematian
dan perubahan yang terjadi setelah kematian serta faktor yang mempengaruhi perubahan
tersebut. Tanatologi merupakan ilmu paling dasar dan paling penting dalam ilmu kedokteran
kehakiman terutama dalam hal pemeriksaan jenazah (visum et repertum). Pada tanatologi
dipelajari perubahan-perubahan pada manusia setelah meninggal dunia. Perubahan
perubahan yang terjadi setelah kematian dibedakan menjadi dua yaitu perubahan yang terjadi
secara cepat (early) dan perubahan yang terjadi secara lambat (late). Perubahan yang terjadi
secara cepat antara lain henti jantung, henti nafas, perubahan pada mata, suhu dan kulit.
Sedangkan perubahan yang terjadi secara lanjut antara lain lebam mayat, kaku mayat,
penurunan suhu, pembusukan, adiposera dan mummifikasi. Manfaat tanatologi, antara lain
30

untuk dapat menetapkan hidup atau matinya korban, memperkirakan lama kematian korban,
serta menentukan wajar atau tidak wajarnya kematian korban.
Dalam tanatologi dikenal beberapa istilah tentang mati, yaitu;

Mati somatis (mati klinis atau sistematis) adalah terhentinya ketiga sistem penunjang
kehidupan (sistem pernapasan, kardiovaskular, dan susunan saraf pusat) secara
irreversibel sehingga menyebabkan terjadinya anoksia jaringan yang lengkap dan
menyeluruh. Secara klinis tidak ditemukan refleks-refleks, EEG mendatar, nadi tidak
teraba, denyut jantung tidak terdengar, tidak ada gerakan pernafasan dan suara pernafasan
tidak terdengar pada auskultasi. Jadi stadium kematian ini telah sampai pada kematian
otak yang irreversibel (brain death irreversible).

Mati suri (suspended animation, apparent death) adalah terhentinya ketiga sistem
kehidupan diatas yang ditentukan dengan alat kedokteran sederhana. Dengan peralatan
kedokteran canggih masih dapat dibuktikan bahwa ketiga sistem tersebut masih
berfungsi. Mati suri sering ditemukan pada kasus keracunan obat tidur, tersengat aliran
listrik, dan tenggelam

Mati seluler (mati molekuler) adalah berhentinya aktivitas sistem jaringan, sel, dan
molekuler tubuh, sehingga terjadi kematian organ atau jaringan tubuh yang timbul
beberapa saat setelah kematian somatis. Daya tahan hidup masing-masing organ atau
jaringan berbeda-beda, sehingga terjadinya kematian seluler pada tiap organ atau jaringan
tidak bersamaan, hal ini penting dalam transplantasi organ. Sebagai gambaran dapat
dikemukakan bahwa susunan saraf pusat mengalami mati seluler dalam 4 menit, otot
masih dapat dirangsang (listrik) sampai kira-kira 2 jam setelah mati dan mengalami mati
seluler setelah 4 jam, dilatasi pupil masih terjadi pada pemberian adrenalin 0,1% atau
penyuntikan sulfas atropin 1% kedalam kamera okuli anterior, pemberian pilokarpin 1%
atau fisostigmin 0,5% akan mengakibatkan miosis hingga 20 jam setelah mati. Kulit
masih dapat berkeringat sampai lebih dari 8 jam setelah mati dengan cara menyuntikkan
subkutan pilokarpin 2% atau asetil kolin 20%, spermatozoa masih dapat bertahan hidup
beberapa hari dalam epididimis, kornea masih dapat ditransplantasikan dan darah masih
dapat dipakai untuk transfusi sampai 6 jam pasca-mati.

31

Mati serebral adalah kerusakan kedua hemisfer otak yang ireversibel kecuali batang otak
dan serebelum, sedangkan kedua sistem lainnya yaitu sistem pernapasan dan
kardiovaskular masih berfungsi dengan bantuan alat.

Mati otak (mati batang otak) adalah bila terjadi kerusakan seluruh isi neuronal
intrakranial yang ireversibel, termasuk batang otak dan serebelum. Dengan diketahuinya
mati otak (mati batang otak) maka dapat dikatakan seseorang secara keseluruhan tidak
dapat dinyatakan hidup lagi, sehingga alat bantu dapat dihentikan.
Kematian adalah suatu proses yang dapat dikenal secara klinis pada seseorang berupa

tanda kematian, yaitu perubahan yang terjadi pada tubuh mayat. Perubahan tersebut dapat
timbul dini pada saat meninggal atau beberapa menit kemudian, misalnya kerja jantung dan
peredaran darah berhenti, pernafasan berhenti, refleks cahaya dan kornea hilang, kulit pucat
dan relaksasi otot. Setelah beberapa waktu timbul perubahan pasca mati yang jelas yang
memungkinkan diagnosis kematian lebih pasti. Tanda-tanda tersebut dikenal sebagai tanda
pasti kematian berupa lebam mayat (hipostasis atau lividitas pasca mati), kaku mayat (rigor
mortis), penurunan suhu tubuh, pembusukan, mumifikasi dan adiposera.
Tanda Kematian Tidak Pasti
Pernafasan berhenti, dinilai selama lebih dari 10 menit (inspeksi, palpasi, auskultasi).
Terhentinya sirkulasi, dinilai selama 15 menit, nadi karotis tidak teraba.
Kulit pucat, tetapi bukan merupakan tanda yang dapat dipercaya, karena mungkin
terjadi spasme agonal sehingga wajah tampak kebiruan.
Tonus otot menghilang dan relaksasi. Relaksasi dari otot-otot wajah menyebabkan
kulit menimbul sehingga kadang-kadang membuat orang menjadi tampak lebih
muda. Kelemasan otot sesaat setelah kematian disebut relaksasi primer. Hal ini
mengakibatkan pendataran daerah-daerah yang tertekan, misalnya daerah belikat dan
bokong pada mayat yang terlentang.
Pembuluh darah retina mengalami segmentasi beberapa menit setelah kematian.
Segmen-segmen tersebut bergerak ke arah tepi retina dan kemudian menetap.

32

Pengeringan kornea menimbulkan kekeruhan dalam waktu 10 menit yang masih


dapat dihilangkan dengan meneteskan air.
Tanda Pasti Kematian
Lebam mayat (Livor Mortis)
Setelah kematian klinis maka eritrosit akan menempati tempat terbawah akibat
gaya gravitasi, mengisi vena dan venula, membentuk bercak merah ungu (Livide).
Pada bagian terbawah tubuh, kecuali pada bagian tubuh yang tertekan alas keras.
Darah tetap cair karena adanya aktivitas fibrinolisin yang berasal dari endotel
pembuluh darah. Lebam mayat biasanya mulai tampak 20-30 menit pasca mati, makin
lama intensitasnya bertambah dan menjadi lengkap dan menetap setelah 8-12 jam.
Sebelum waktu ini, lebam mayat masih hilang pada penekanan dan dapat berpindah
jika posisi mayat diubah. Memucatnya lebam akan lebih cepat dan lebih sempurna
apabila penekanan atau perubahan posisi tersebut dilakukan dalam waktu 6 jam
pertama setelah mati klinis. Tetapi, walaupun setelah 24 jam, darah masih tetap cukup
cair, sehingga sejumlah darah masih dapat mengalir, dan membentuk lebam mayat di
tempat rendah yang baru. Kadang-kadang dijumpai bercak perdarahan warna biru
kehitaman akibat pecahnya pembuluh darah. Menetapnya lebam disebabkan oleh
bertimbunnya sel-sel darah dalam jumlah cukup banyak sehingga sulit berpindah lagi.
Selain itu, kekakuan otot-otot dinding pembuluh darah ikut mempersulit perpindahan
tersebut. Lebam mayat dapat digunakan untuk tanda pasti kematian; memperkirakan
sebab kematian, misalnya pada keracunan gas CO dengan gas CN tanpa pemeriksaan
laboratorium dapat dibedakan dari baunya (CN- bau amandel), serta dari warna
jaringannya. Pada keracunan CN jaringan berwarna gelap (kurang oksigen, karena
pelepasan oksigen ke jaringan lambat), Sedangkan pada keracunan CO jaringan juga
berwarna merah terang. Lebam warna kecoklatan pada keracunan aniline, nitrat, nitrit,
sulfonal; mengetahui perubahan posisi mayat yang dilakukan setelah terjadinya lebam
mayat yang menetap; dan memperkirakan saat kematian. Apabila pada mayat
terlentang yang telah timbul lebam mayat belum menetap dilakukan perubahan posisi
menjadi telungkup, maka setelah beberapa saat akan terbentuk lebam mayat baru di
bagian daerah dada dan perut. Lebam mayat yang belum menetap atau masih hilang
pada penekanan menunjukkan saat kehamilan kurang dari 8-12 jam sebelum saat

33

pemeriksaan. Mengingat pada lebam mayat darah terdapat di dalam pembuluh darah
maka keadaan ini digunakan untuk membedakannya dengan resapan darah akibat
trauma (ekstravasasi). Bila pada daerah tersebut dilakukan irisan dan kemudian
disiram dengan air, maka warna merah darah akan hilang atau pudar pada lebam
mayat, sedangkan pada resapan darah tidak menghilang.
Kaku mayat (rigor mortis)
Kelenturan otot setelah kematian masih dipertahankan karena metabolism
tingkat seluler masih berjalan berupa pemecahan cadangan glikogen otot yang
menghasilkan energi. Energi ini digunakan untuk mengubah ADP menjadi ATP.
Selama masih terdapat ATP maka serabut aktin dan myosin tetap lentur. Bila cadangan
glikogen dalam otot habis, maka energy tidak terbetuk lagi, aktin dan myosin
menggumpal dan otot menjadi kaku. Kaku mayat dibuktikan dengan memeriksa
persendian. Kaku mayat mulai tampak kira-kira 2 jam setelah mati klinis, dimulai dari
bagian luar tubuh (otot-otot kecil) kea rah dalam (sentripetal). Teori lama
menyebutkan bahwa kaku mayat ini menjalar kraniokaudal. Setelah mati klinis 12 jam
kaku mayat menjadi lengkap, dipertahankan selama 12 jam dan menghilang dalam
urutan yang sama. Kaku mayat umumnya tidak disertai pemendekan serabut otot,
tetapi jika sebelum terjadi kaku mayat otot berada dalam posisi teregang, maka saat
kaku mayat terbentuk akan terjadi pemendekan otot.
Faktor-faktor yang mempercepat terjadinya kaku mayat adalah aktivitas fisik
sebelum mati, suhu tubuh yang tinggi, bentuk tubuh kurus dengan otot-otot kecil dan
suhu lingkungan tinggi. Kaku mayat dapat dipergunakan untuk menunjukkan tanda
pasti kematian dan memperkirakan saat kematian. Terdapat kekakuan pada mayat
yang menyerupai kaku mayat, seperti;

Cadaveric spasme (instantaneous rigor), adalah bentuk kekakuan otot yang


terjadi pada saat kematian dan menetap. Cadaveric spasme sesungguhnya
merupakan kaku mayat yang timbul dengan intensitas sangat kuat tanpa
didahului oleh relaksasi primer. Penyebabnya adalah akibat habisnya
cadangan glikogen dan ATP yang bersifat setempat pada saat mati klinis
karena kelelahan emosi yang hebat sesaat sebelum meninggal. Cadaveric
spasm ini jarang dijumpai, tetapi sering terjadi dalam masa perang.
34

Kepentingan medikolegalnya adalah menunjukkan sikap terakhir masa


hidupnya. Misalnya, tangan yang menggenggam erat benda yang diraihnya
pada kasus tenggelam, tangan yang menggenggam senjata pada kasus bunuh
diri.

Heat stiffening, yaitu kekakuan otot akibat koagulasi protein otot oleh panas.
Otot-otot berwarna merah muda, kaku, tetapi rapuh (mudak robek). Keadaan
ini dapat dijumpai pada korban mati terbakar. Pada heat stiffening serabutserabut ototnya memendek sehingga menimbulkan fleksi leher, siku, pada dan
lutut, membentuk sikap petinju (pugilistic attitude). Perubahan sikap ini tidak
memberikan arti tertentu bagi sikap semasa hidup, intravitalitas, penyebab

atau cara kematian.


Cold stiffening, yaitu kekakuan tubuh akibat lingkungan dingin, sehingga
terjadi pembekuan cairan tubuh, termasuk cairan sendi, pemadatan jaringan
lemak subkutan dan otot, sehingga bila sendi ditekuk akan terdengar bunyi

pecahnya es dalam rongga sendi.


Penurunan suhu tubuh (algor mortis)
Penurunan suhu tubuh terjadi karena proses pemindahan panas dari suatu
benda kebenda yang lebih dingin, melalui cara radiasi, konduksi, evaporasi dan
konveksi. Penurunan suhu tubuh akan lebih cepat pada suhu keliling yang rendah,
lingkungan berangin dengan kelembaban rendah, tubuh yang kurus, posisi terlentang,
tidak berpakaian atau berpakaian tipis, dan pada umumnya orang tua serta anak kecil.
Beberapa rumus kecepatan penurunan suhu tubuh pasca mati ditemukan sebagai hasil
dari penelitian di Negara Barat, namun ternyata sukar dipakai dalam praktek karena
faktor-faktor yang berpengaruh di atas berbeda pada setiap kasus, lokasi cuaca dan
iklim
Pembusukan (decomposition, putrefaction)
Pembusukan adalah proses degradasi jaringan yang terjadi akibat autolysis dan
kerja bakteri. Autolisis adalah pelunakan dan pencairan jaringan yang terjadi dalam
keadaan steril. Autolisis timbul akibat kerja digestif oleh enzim yang dilepaskan sel
pascamati dan hanya dapat dicegah dengan pembekuan jaringan.Setelah seseorang
meninggal, bakteri yang normal hidup dalam tubuh segera masuk ke jaringan. Darah
merupakan media terbaik bagi bakteri tersebut untuk bertumbuh. Sebagian besar
bakteri berasal dari usus dan yang terutama adalah Clostridium welchii. Pada proses
pembusukan ini terbentuk gas-gas alkana, H2S, dan HCN, serta asam amino dan asam

35

lemak. Pembusukan baru tampak kira-kira 24 jam pasca mati berupa warna kehijauan
pada perut kanan bawah, yaitu daerah sekum yang isinya lebih cair dan penuh dengan
bakteri serta terletak dekat dinding perut. Warna kehijauan ini disebabkan oleh
terbentuknya sulf-met-hemoglobin. Secara bertahap warna kehijauan ini akan
menyebar ke seluruh perut dan dada, dan bau busuk pun mulai tercium. Pembuluh
darah bawah kulit akan tampak seperti melebar dan berwarna hijau kehitaman.
Selanjutnya kulit ari akan terkelupas atau membentuk gelembung berisi cairan
kemerahan berbau busuk. Pembusukan gas didalam tubuh, dimulai didalam lambung
dan usus, akan mengakibatkan tegangnya perut dan keluarnya cairan kemerahan dari
mulut dan hidung. Gas yang terdapat didalam jaringan dinding tubuh akan
mengakibatkan terabanya derik (krepitasi). Gas ini menyebabkan pembengkakan
tubuh yang menyeluruh, tetapi ketegangan terbesar terdapat didaerah dengan jaringan
longgar, seperti skrotum dan payudara. Tubuh berada dalam sikap seperti petinju
(pugilistic attitude), yaitu kedua lengan dan tungkai dalam sikap setengah fleksi akibat
terkumpulnya gas pembusukan didalam rongga sendi. Selanjutnya, rambut menjadi
mudah dicabut dan kuku mudah terlepas, wajah menggembung dan berwarna ungu
kehijauan, kelopak mata membengkak, pipi tembem, bibir tebal, lidah membengkak
dan sering terjulur diantara gigi. Keadaan seperti ini sangat berbeda dengan wajah asli
korban, sehingga tidak dapat lagi dikenali oleh keluarga. Larva lalat akan dijumpai
setelah pembusukan gas pembusukan nyata, yaitu kira-kira 36-48 jam pasca mati.
Kumpulan telur lalat telah dapat ditemukan beberapa jam pasca mati, dialis mata,
sudut mata, lubang hidung dan diantara bibir. Telur lalat tersebut kemudian akan
menetas menjadi larva dalam waktu 24 jam. Dengan identifikasi spesies lalat dan
mengukur panjang larva, maka dapa diketahui usia larva tersebut, yang dapat
dipergunakan untuk memperkirakan saat mati, dengan asumsi bahwa lalat biasanya
secepatnya meletakkan telur setelah seseorang meninggal (dan tidak lagi dapat
mengusir lalat yang hinggap). Alat dalam tubuh akan mengalami pembusukan dengan
kecepatan yang berbeda. Perubahan warna terjadi pada lambung terutama didaerah
fundus, usus, menjadi ungu kecoklatan. Mukosa saluran nafas menjadi kemerahan,
endokardium dan intima pemukuh darah juga kemerahan, akibat hemolisis darah.
Difusi empedu dari kandung empedu mengakibatkan warna coklat kehijauan
dijaringan sekitarnya. Otak melunak, hati menjadi berongga seperti spons, limpa
melunak dan mudah robek. Kemudian alat dalam akan mengerut. Prostat dan uterus
non gravid merupaka organ padat yang paling lama bertahan terhadap perubahan
36

pembusukan. Pembusukan akan timbul lebih cepat bila suhu keliling optimal (26.5
derajat Celcius hingga sekitar suhu normal tubuh), kelembababn dan udara yang
cukup, banyak bakteri pembusuk, tubuh gemuk atau penderita penyakit infeksi dan
sepsis. Media tempat mayat terdapat juga berperan. Mayat yang terdapat di udara
akan lebih cepat membusuk dibandingkan dengan yang terdapat dalam air atau dalam
tanah. Perbandingan kecepatan pembusukan mayat yang berada dalam tanah : air :
udara adalah 1:2:8. Bayi baru lahir umumnya lebih lambat membusuk, karena hanya
memiliki sedikit bakteri dalam tubuhnya dan hilangnya panas tubuh yang cepat pada
bayi akan menghambat pertumbuhan bakteri.
Adiposera (lilin mayat)
Adiposera adalah terbentuknya bahan yang berwarna keputihan , lunak atau
berminyak, berbau tengik yang terjadi didalam jaringan lunak tubuh pasca mati. Dulu
disebut sebagai saponifikasi, tetapi istilah adiposera lebih disukai karena
menunjukkan sifat-sifat diantara lemak dan lilin. Adiposera terutama terdiri dari
asam-asam lemak tak jenuh yang terbentuk oleh hidrolisis lemak dan mengalami
hidrogenisasi sehingga terbentuk asal lemak jenuh pasca mati yang tercampur dengan
sisa-sisa otot, jaringan ikat,jaringan saraf yang termumifikasi (Mant dan Furbank,
1957) dan kristal-kristal sferis dengan gambaran radial( Evans, 1962). Adiposera
terapung di air, bila dipanaskan mencair dan terbakar dengan nyala kuning, larut di
dalam alkohol panas dan eter. Adiposera dapat terbentuk disembarang lemak tubuh,
bahkan didalam hati, tetapi lemak superficial yang pertama kali terkena. Biasanya
perubahan berbentuk bercak, dapat terlihat di pipi, payudara atau bokong, bagian
tubuh atau ekstremitas. Jarang seluruh lemak tubuh berubah menjadi adiposera.
Adiposera akan membuat gambaran permukaan luar tubuh dapat bertahan hingga
bertahun-tahun, sehingga identifikasi mayat dan perkiraan sebab kematian masih
dimungkinkan. Faktor-faktor yang mempermudah terbentuknya adiposera adalah
kelembaban dan lemak tubuh yang cukup, sedangkan yang menghambat adalah air
yang mengalir yang membuang elektrolit. Udara yang dingin menghambat
pembentukan, sedangkan suhu yang hangat akan mempercepat. Invasi bakteri
endogen kedalam jaringan pasca mati juga akan mempercepat pembentukannya.
Pembusukan akan terhambat oleh adanya adiposera, karena derajat keasaman dan
dehidrasi jaringan bertambah. Lemak segar hanya mengandung kira-kira 0,5% asam
lemak bebas, tetapi dalam waktu 4 minggu pasca mati dapat naik menjadi 20% dan
setelah 12 minggu menjadi 70% atau lebih. Pada saat ini adiposera menjadi jelas
37

secara makroskopik sebagai bahan berwarna putih kelabu yang menggantikan atau
menginfiltrasi bagian-bagian lunak tubuh. Pada stadium awal pembentukannya
sebelum makroskopik jelas, adiposera paling baik dideteksi dengan analisis asam
palmitat.
Mummifikasi
Mummifikasi adalah proses penguapan cairan atau dehidrasi jaringan yang
cukup cepat sehingga terjadi pengeringan jaringan yang selanjutnya dapat
menghentikan pembusukan. Jaringan berubah menjadi keras dan kering,berwarna
gelap, berkeriput dan tidak membusuk karena kuman tidak dapat berkembang pada
lingkungan yang kering. Mumifikasi terjadi bila suhu hangat, kelembaban rendah,
aliran udara yang baik, tubuh yang dehidrasi dan waktu yang lama (12-14 minggu).
Mumifikasi jarang dijumpai pada cuaca yang normal.
Perkiraan Saat Kematian
Selain perubahan pada mayat tersebut diatas, beberapa perubahan lain dapat
digunakan untuk memperkirakan saat mati.
Perubahan pada mata. Bila mata terbuka pada atmosfer yang kering, sclera dikiri
kanan kornea akan berwarna kecoklatan dalam beberapa jam berbentuk segitiga
dengan dasar ditepi kornea( taches noires sclerotiques). Kekeruhan kornea terjadi
lapis demi lapis. Kekeruhan yang terjadi pada lapis terluar dapat dihilangkan dengan
meneteskan air, tetapi kekeruhan yang telah mencapai lapisan lebih dalam tidak dapat
dihilangkan dengan tetesan air. Kekeruhan yang menetap ini terjadi sejak kira-kira 6
jam pasca mati. Baik dalam keadaan mata tertutup maupun terbuka, kornea menjadi
keruh kira-kira 10-12 jam pasca mati dan dalam beberapa jam saja fundus tidak
tampak jelas. Setelah kematian tekanan bola mata menurun, memungkinkan distorsi
pupil pada penekanan bola mata. Tidak ada hubungan antara diameter pupil dengan
lamanya mati. Perubahan pada retina dapat menunjukkan saat kematian hingga 15 jam
pasca mati. Hingga 30 menit pasca mati kekeruhan macula dan mulai memucatnya
diskus optikus. Kemudian hingga 1 jam pasca mati, macula lebih pucat dan tepinya
tidak tajam lagi. Selama dua jam pertama pasca mati, retina pucat dan daerah sekitar
diskus menjadi kuning. Warna kuning juga tampak disekitar macula yang menjadi
lebih gelap. Pada saat itu pola vascular koroid yang tampak sebagai bercak-bercak
dengan latar belakang merah dengan pola segmentasi yang jelas, tetapi pada kira-kira
3 jam pasca mati menjadi kabur dan setelah 5 jam menjadi homogen dan lebih pucat.
Pada kira-kira 6 jam pasca mati, batas diskus kabur dan hanya pembuluh-pembuluh
besar yang mengalami segmentasi yang dapat dilihat dengan latar belakang kuning38

kelabu. Dalam waktu 7-10 jam pasca mati akan mencapai tepi retina dan batas diskus
akan sangat kabur. Pada 12 jam pasca mati diskus hanya dapat dikenali dengan
adanya konvergensi beberapa segmen pembuluh darah yang tersisa. Pada 15 jam
pasca mati tidak ditemukan lagi gambaran pembuluh darah retina dan diskus, hanya

macula saja yang tampak berwarna coklat gelap.


Perubahan dalam lambung. Kecepatan pengosongan lambung sangat bervariasi,
sehingga tidak dapat digunakan untuk memberikan petunjuk pasti waktu antara makan
terakhir dan saat mati. Namun keadaan lambung dan isinya mungkin membantu
dalam membuat keputusan. Ditemukannya makanan tertentu (pisang, kulit tomat, bijibijian) dalam isi lambung dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa korban

sebelum meninggal telah makan makanan tersebut.


Perubahan rambut. Dengan mengingat bahwa kecepatan tumbuh rambut rata-rata
0,4mm/hari, panjang rambut kumis dan jenggot dapat dipergunakan untuk
memperkirakan saat kematian. Cara ini hanya dapat digunakan bagi pria yang
mempunyai kebiasaan mencukur kumis atau jenggotnya dan diketahui saat terakhir ia

mencukur.
Pertumbuhan kuku. Sejalan dengan hal rambut tersebut diatas, pertumbuhan kuku
yang diperkirakan sekitar 0,1 mm perhari dapat digunakan untuk memperkirakan saat

kematian bila dapat diketahui saat trakhir yang bersangkutan memotong kuku.
Perubahan dalam cairan serebrospinal. Kadar nitrogen asam amino < 14 mg%
(kematian belum lewat 10 jam), kadar nitrogen non protein < 80 mg% (kematian
belum 24 jam), kadar kreatin < 5 mg% (kematian belum 10 jam) dan kadar kreatin <

10 mg% (kematian belum 30 jam).


Dalam cairan vitreus terjadi peningkatan kadar kalium yang cukup akurat untuk

memperkirakan saat kematian antara 24 hingga 100 jam pasca mati.


Kadar semua komponen darah berubah setelah kematian, sehingga analisis darah
pasca mati tidak memberikan gambaran konsentrasi zat-zat tersebut semasa hidupnya.
Perubahan tersebut diakibatkan oleh aktivitas enzim dan bakteri, serta gangguan
permeabilitas dari sel yang telah mati. Selain itu gangguan fungsi tubuh selama proses
kematian dapat menimbulkan perubahan dalam darah bahkan sebelum kematian itu
terjadi. Hingga saat ini belum ditemukan perubahan dalam darah yang dapat

digunakan untuk memeperkirakan saat mati dengan lebih tepat.


Reaksi supravital. Merupakan reaksi jaringan tubuh sesaat pascamati klinis yang
masih sama seperti reaksi jaringan tubuh pada seseorang yang hidup.

Traumatologi
39

Luka Akibat Suhu / Temperatur


Suhu tinggi dapat mengakibatkan terjadinya exhaustion primer. Temperature
kulit yang tinggi dan rendahnya pengelepasan panas dapat menimbulkan kolaps pada
seseorang karena ketidak seimbangan antara darah sirkulasi dengan lumen pembuluh
darah. Hal ini sering terjadi pada pemaparan terhadap pana, kerja jasmani teralu berat
dan pakaian terlalu tebal. Dapat pula terjadi heat exhaustion sekunder akibat
kehilangan cairan tubuh yang berlebihan. Heat stroke adalah kegagalan kerja pusat
pengaturan suhu tubuh akibat terlalu tinngginya temperature pusat tubuh. Suhu lethal
eksogen adalah 43 derajat Celcius. Pengelepasan panas tubuh secara konduksi dan
radiasi sudah dimulai pada saat suhu eksogen tubuh 30 derajat Celcius, sedangkan
diatas 35 derajat celcius panas tubuh harus dikeluarkan melalui penguapan keringat.
Sun stroke harus terjadi akibat panas sinar matahari yang menyebabkan hipertermia.
Sedangkan heat cramps dapat terjadi akibat hilangnya NaCl darah dengan cepat akibat
suhu tinggi.
Luka bajar terjadi akibat kontak kulit dengan benda bersuhu tinggi. Kerusakan
kulit yang terjadi bergantung pada tingginya suhu dan lama kontak. Kontak kulit
dengan uap air panas selama 2 detiik mengakibatkan suhu kulit pada kedalaman 1 mm
dapat mencapai 66 derajat Celcius, sedangkan dalam ledakan bensin dalam waktu
singkat mencapai suhu 47 derajat Celcius. Luka bakar sudah dapat terjadi pada suhu
43-44 derajat Celcius bila kontak cukup lama.
Pelebaran kapiler bawah kulit mulai terjadi pada saat suhu mencapai 35
derajat Celcius selama 120 detik, vesikel terjadi pada suhu 53-57 derajat Celcius
selama kontak 30-120 detik
Luka bakar yang terjadi dapat dikatagorikan ke dalam 4 derajat luka bakar

1.
2.
3.
4.

Eritema
Vesikel dan billae
Nekrosis koagulasi
Karbonasi

Kematian pada luka bakar dapat terjadi melalui berbagai mekanisme


1. Syok neurogen; commutio neuro-vascularis

40

2. Gangguan permeabilitas akibat pengelepasan histamine dan kehilangan NaCl kulit


yang cepat (dehidrasi)
Pemaparan terhadap suhu rendah seperti di puncak yang tinggi, dapat
menyebabkan kematian mendadak. Mekanisme kematian dapat diakibatkan kegagalan
pusat pengaturan suhu tubuh maupun rendahnya disosiasi Oxy-Hb. Bayi dan orang tua
secara fisiologis kurang tanggap terhadap dingin. Demikian juga dengan kelelahan,
alcoholism, hipopituarism, myodema, dan steathorea. Pada kulit dapat terjadi luka yang
terbagi dalam berbagai derajat kelainan:
1.
2.
3.
4.

Hyperemia
Edema dan vesikel
Nekrosis
Pembekuan disertai kerusakan jaringan

Luka Akibat Trauma Listrik


Factor yang berperan pada cedera listrik adalah tegangan (volt), kuat aurs

(ampere), tahanan kulit (ohm), luas dan lama kontak.


Tegangan rendah (<65 V) biasanya tidak berbahaya bagi manusia. Namun
tegangan 65-1000 V dapat mematikan.
Banyaknya arus listrik yang mengalir ke tubuh manusia menentuikan fatalitas
seseorang. Makin besar arus, makin berbahaya bagi kelangsungan hidup.
Selain factor factor kuat arus, tahanan dan lama kontak, hal lain yang penting
diperhatikan adalah luas kontak. Luas kontak sebesar 50 cm persegi dapat mematikan
tampa menimbulkan jejas listrik pada kuat arus letal 100 mA, kepadatan arus pada daerah
selebar telapak tangan tersebut hanya 2 mA/cm persegi yang tidak cukup besar untuk
menimbulkan jejas listrik.
Kuat arus yang masih mungkin untuk dilepaskan yang memegangnya disebu let
go current yang besarnya berbeda-beda untuk tiap individu.
Gambaran makroskopis jejas listrik pada daerah kontak berupa kerusakan lapisan
tanduk kulit sebagai luka bakar dengan tepi yang menonjol, disekitarnya terdapat daerah
yang pucat dikelilingi oleh kulit yang hiperemi. Bentuknya sering dengan benda
penyebabnya. Metalisasi dapat juga ditemukan pada jejas listrik.
41

Sesuai dengan mekanisme terjadinya, gambaran serupa jejas listrik secara


makroskopik juga bias timbul akibat persentuhan kulit dengan benda/logam panas
(membara). Walaupun demikian keduanya dapat dibedakan dengan pemeriksaan
mikroskopis.
Jejas listrik bukanlah tanda intravital karena dapat juga ditimbulkan pada kulit mayat.
Kematian dapat terjadi karena fibrilasi ventrikel, kelumpuhan otot pernapasan dan
kelumpuhan pusat pernapasan.

Luka akibat Petir


Petir adalah loncatan arus listrik dengan tegangan tinggi antar awan dengan tanah.

Tegangan dapat mencapai 10 mega Watt, dengan kuat arus mencapai 100.000 A. kematian
dapat terjadi akibat efek arus listrik, panas, dan ledakan gas panas yang timbul.
Pada korban akan ditemukan aboresent mark (kemerahan kulit seperti
pervabangan pohon, metilisasi (pemindahan partikel metal dari benda yang dipakai
kedalam kulit), magnetisasi (benda metal yang dipakai berubah menjadi magnet), pakaian
sering terbakar ataupun robek-robek.

Luka Akibat Perubahan Tekanan Udara


Peningkatan tekanan udara yang diikuti oleh perubahan volume gas di dalam

tubuh dapat mengakibatkan trauma fisik, berupa barotrauma aural, barotrauma pulmoner,
penyakit diskompresi (disbarisme), dan emboli udara.
Barotrauma aural adalah rasa nyeri ringan dan berdengung pada telinga yang
sering di jumpai pada saat pesawat lepas landas atau pada saatv akan mendarat, atau
waktu menyelam. Gejala yang lebih berat adal;ah retraksi gendang telinga, hiperemi,
kongesti telinga tengah, dan pecahnya gendang telinga. Barotrauma pulmoner dapat
berkembang menjadi emfisema, pneumothorax, kerusakan jaringan paru dan emboli
udara.
Kelainan lain yag dapat timbul adalah nyeri pada gigi berkavitas, vertigo,
gangguan pengelihatan, gangguan pendengaran serta gangguan keseimbangan.

42

Perubahan volume gas dalam susunan saraf pusat dapat mengakibatkan tremor,
konvuylsi, somolen, pusing, dan mual. Sedangkan perubahan volume gas dalam
persendian dapaty mengakibatkan atralgia hiperbarik.
Penyakit dekompresi merupakan reaksi fisiologis terhadap tekanan tinggi. Pada
saat tekanan tinggi, kelarutan gas-gas tubuh terutama nitrogen akan meningkat. Apabila
kemudian terjadi penurunan tekanan secara tiba-tiba, maka kelarutan gas juga akan turun
sehingga pembebasan gas-gas tersebut dalam bentuk gelembung-gelembung mikro dalam
pembuluh darah (emboli udaa) dan jaringan. Gejala utamanya adalah nyeri, pusing,
paralisis, napas pendek, kelelahan ekstremitas dan kolaps.
Toksikologi
KERACUNAN ARSEN (As)
Senyawa arsen dahulu sering digunakan sebagai racun unti=uk membunuh orang lain,
dan tidaklah mustahil dapat ditemukan kasus peracunan dengan arsen di masa sekarang ini.
Disamping itu, keracunan Arsen kadang dapat terjadi karena kecelakaan dalam industry dan
pertanian akibat memakan/meminum makanan/minuman yang terkontaminasi Arsen.
Kematian akibat Arsen sering tidak menimbulkan kecurigaan karena gejala keracunan
akutnya menyerupai gejala gangguan gastroenteritistinal yang hebat sehingga dapa
didiagnosa salah sebagai suatu penyakit.
Sumber
Industri dan pertanian. Arsen dalam bentuk NA/K-arsenit terdapat dalam bahan
yang digunakan untuk penyemprotan buah-buahan, insektisida, fungisida, rodentisida,
pembasmi tanaman liar dan pembunuh lalat (fly paper). Juga kadang didapatkan pada cat dan
kosmetika.
Tembaga-aseto-arsenit (Scheeles green/ paris green) juga digunakan pada beberapa
pembasmi tanaman liar. Pada abadyang lalu zat ini secara luas digunakan sebagai pigmen
dalam pembuatan wallpaper berwarna, bunga-bungaan artifisal, lilin dan gula-gula.
Orpiment (yellow arsenic-sulphide), digunakan sebagai pigmen dan juga merupakan
konstituen (bahan utama) dari fly paper dan cairan untuk merontokkan rambut.

43

As2O3 (arsenious acid) adalah racun umum yang sekarang telah jarang digunakan lagi,
ada dalam warangan (racun tikus). Larutan fowler (liquor arsenicalis) yaitu larutan As2O3,
dahulu digunakan untuk mengobati demam kebuat sebagai tonikum tetapi sekarang tidak
popular lagi.
Arsin (AsH3) merupakan gas tidak berwarna dengan bau seperti bawang, ada dalam
industry, merupakan paling berbahaya dari golongan arsen serta merupakan salah satu racun
industry yang mematikan. Ada pendapat, bahwa keracunan Paris Green yang ada pada
wallpaper diakibatkan oleh terbentuknya arsin akibat kerja jamur pada pigmen tersebut. Arsin
dapat pula terbentuk bila senyawaan arsen bereaksi dengan Hidrogen nascent atau asam.
Tanah. Arsen juga ada dalam tanah sehingga kita harus berhati-hati dalam
penyimpulan kasus dugaan keracunan arsen yang telah dikuburkan. Contoh tanah harus di
ambil dari tempat di atas dan bawah peti mati/jenasah dan juga pada tempat yang jauh dari
peti/jenasah tetapi masih di taman pemakaman tersebut, guna penarikan kesimpulan dari hasil
pemerkisaan toksikologik.
Air. Air minum dapat terkontaminasi dengan arsen dari industry atau sumber arsen
alami sehingga dapat menyebabkan keracunan kronik.
Bir. Arsen mungkin ada dalam bir, yaitu berasal dari iron pyrites yang digunakan
pada pembuatan glukosa untuk bir.
Kerang. Arsen ada dalam keong, kepiting, kerang dan ikan. Kerang (Oyster) dapat
mengandung 3.7 ppm arsen.
Tembakau. Asap tembakau mengandung 8.3 50 ppm arsen. Asap sigaret 3.3 10.5
ug/L dan asap cerutu 0.2 3.0 ug/L.
Obat-obatan. Arsen dalam obat-obatan umumnya merupakan arsen organic turunan
benzene, misalnya carbasone (4-ureido benzene arsenic acid), tryparsamide (sodium Ncarbamyl methyl-p-amino benzene arsenate), glycobiarsol. Senyawa organic asam arsenat
digunakan sebagai anti tripanosomiasis, amebisida, anti cacing pada binatang ( filiariasis
pada kucing), trichomoniasis dan moniliasis. Obat-obatan ini larut dalam lemak sehingga
dapat masuk ke dalam tubuh melalui kulit. Salvarsan (arsphenamine = 606) dahulu digunakan
untuk mengobati sifilis. Asam cacodylate, digunakan dalam tonikum.

44

Lain-lain. Lewisite (klorvinil dikloro-arsin) merupakan gas racun yang digunakan


dalam peperangan.
Umumnya yang digunakan sebagai racun untuk membunuh adalah As2O3 (warangan/
racun tikus).
As2O3 ada dalam bentuk bubuk berwarna putih atau Kristal, jernih tidak mempunyai
rasa dan tidak berbau. Dalam larutan juga tidak berwarna sehingga dapat diberikan tanpa
menimbulkan kecurigaan korban. Bentuk bubuk dikenal sebagai arsen putih.
Bentuk Kristal lebih mudah larut (daya larut dalam air panas 1:10, dalam air dingin
3:1000) daya larut dapat diperbesar dengan adanya asam atau basa.
Dalam bentuk larutan, bentuk Kristal akan berubah menjadi bubuk putih, sehingga
pada larutan jenuh Kristal tersebut bila didiamkan akan terjadi endapan putih yang cenderung
menempel pada dinding.
Farmakokinetik keracunan Arsen
Arsen dapat masuk kedalam tubuh melalui mulut, inhalasi (pada debu Arsen dan
Arsin) dan melalui kulit.
Setelah diabsorpsi melalui mukosa usus, Arsen kemudian ditimbun dalam hati, ginjal,
kulit dan tulang.
Pada keracunan kronik, Arsen juga ditimbun dalam jaringan lainnya, misallnya kuku
dan rambut yang banyak mengandung keratin yang kandung disulfide.
Eksresi terjadi dengan lambat melalui feses dan urin sehingga dapat terjadi akumulasi
dalam tubuh.
Farmakodinamik keracunan Arsen
Arsen menghambat sistim enzim sulfhidril dalam sel sehingga metabolism sel
dihambat.
R-As =

O + 2 H-S-Protein

H-O-H

45

R-As-S-Protein

S-Protein
(pada keracunan Arsin, terjadi hemolysis sel darah merah, serta efek depresi pada
SSP)
Nilai ambang batas dalam air minum adalah 0.2 ppm.
Pada orang dewasa, kadar normal dalam urin 100 ug/L, rambut 0.5 mg/kg dan kuku
0.5 mg/kg. kadar dalam rambut pada keracunan 0.75 mg/kg dan pada kuku 1 mg/kg atau
lebih.
Kadar dalam darah normal anak-anak 30 ug/L, urin 100 ug/24 jam.
Takaran fatal As2O3 adalah 200-300 mg sedangkan untuk Arsin adalah 1 : 20000
dalam udara.
TANDA DAN GEJALA KERACUNAN
Keracunan akut. Timbul gejala gastro-intestinal hebat. Mula-mula rasa terbakar di
daerah tenggorok dengan rasa logam pada mulut, diikuti mual dan muntah hebat. Isi lambung
dan bahakan isi duodenum dapat keluar, muntahan dapat mengandung bubuk berwarna putih
(As2O3), kadang sedikit berdarah.
Kemudian terjadi nyeri epigastrium yang cepat menjalar ke seluruh perut hingga nyeri
pada perabaan, diare hebat. Kadang terlihat bubuk putih pada kotoran yang dapat tampak
seperti air cucian beras dengan jalur darah. Muntah dan berak hebat dapat berhenti spontan
untuk kemudian timbul lagi. Akhirnya terjadi dehidrasi dan syok. As juga memperlemah kerja
otot jantung dan mempengaruhi ondotel kapiler yang mengakibatkan dilatasi kapiler sehingga
menyebabkan syok bertambah berat.
Kematian dapat terjadi sebagai akibat dehidrasi jaringan dan syok hipovolemik yang
terjadi.
Keracunan Arsin. Arsin yang berbentuk gas ini masuk kedalam tubuh melalui
inhalasi, yang selanjutnya akan mencapai darah dan menimbulkan hemolysis hebat serta
penekanan terhadapa SSP. Korban menunjukkan gejala menggigil, demam, muntah, nyeri
punggung, ikteris, anemia dan hipoksia, kadang disertai kejang. Urin dapat mengandung
hemoglobin, eritrosit, dan silinder. Kematian terjadi karena kegagalan kardio-respirasi.

46

Bila tidak segera meninggal, pada ginjal dapat terjadi nekrosis tubuler dan obstruksi
tubuli oleh silinder eritrosit dengan akibat anuri dan uremia.
Keracunan kronik. Pada keracunan kronik, korban tampak lemah, melanosis arsenic
berupa pigmentasi kulit yang berwarna kuning coklat, lebih jelas pada daerah fleskor, putting
susu dan perut sebelah bawah serta aksilla. Rambut tumbuh jarang.
Pigmentasi berbintik-bintik halus berwarna coklat, umumnya terlihat pada pelipis,
kelopak mata dan leher yang menyerupai pigmentasi pada penyakit Addison tetapi mukosa
mulut tidak terkena. Dapat pula menyerupai pitriasis rosea dalam gambaran dan distribusi,
tetapi menetap.keratosis dapat ditemukan pada telapak tangan dan kaki (keratosis arsenic).
Gejala lain yang tidak khas seperti malaise, berat badan turun, mata berair, fotofobi,
pilek kronis, mulut kering, lidah menunjukkan bulu halus berwarna putih perak di atas
jaringan berwarna merah.
Gejala neurologic berupa neuritis perifer, mula-mula rasatebal dan kesemutan pada
tangan dan kaki, kemudian terjadi kelemahan otot, tidak stabil, kejang otot terutama pada
malam hari.
PEMERIKSAAN
Korban mati keracunan kaut
Pada pemeriksaan luar ditemukan tanda dehidrasi.
Pada pembedahan jenazah ditemukan tanda iritasi lambung, mukosa berwarna merah,
kadang dengan perdarahan (flea bitten appereance). Iritasi lambung dapat menyebabkan
produksi musin yang menutuoi mukosa dengan akibat partikel Arsen dapat tertahan.
Orpiment terlihat sebagai partikel As berwarna kuning sedangkan As 2O3 tampak sebagai
partikel berwarna putih.
Pada jantung ditemukan perdarahan sub-endokard pada septum. Histopatologik
jantung menunjukkan infiltrasi sel radang bulat pada miokard. Sedangkan organ lain
parenkimnya dapat mengalami degenerasi bengkak keruh.
Pada korban meninggal perlu di ambil semua organ, darah, urin, isi usus, isi lambung,
rambut, kuku, kulit, dan tulang.

47

Bahan yang perlu diambil untuk pemeriksaan toksikologik pada korban hidup adalam
muntahan, urin, tunja, bilas lambung, darah, rambut dan kuku.
Korban mati akibat keracunan Arsin
Bila korban cepat meninggal setelah menghirup Arsin, akan terlihat tanda kegagalan
kardio-respirasi akut.
Bila meninggalnya lambat, dapat ditemukan icterus dengan anemi hemolitik, tandatanda kerusakan ginjal berupa degenerasi lemak dengan nekrosis fokal serta nekrosis tubuli.
Korban mati akibat keracunan kronik
Pada pemeriksaan luar tampak keadaan gizi buruk. Pada kulit terdapat pigmentasi
coklat (melanosis arsenic), keratosis telapak tangan dan kaki (keratosis arsenic). Kuku
memperlihatkan garis putih (Mees line) pada bagian kuku yang tumbuh dan dasar kuku.
Temuan pemeriksaan dalam tidak khas.

INTERPRETASI TEMUAN
1. Korban adalah seorang pengusaha kayu yang sukses. Kesuksesan korban bias
menambah kemungkinan terjadinya pembunuhan karena alas an kekayaan yang ada
pada korban.
2. Meninggal di dalam kamar yang terkunci. Hal ini dapat mempertegas bahwa korban
dibunuh dan kamar dikunci oleh pembunuh.
3. Korban meninggal dengan posisi tidur di tempat tidur. Dari TKP, didapati bahwa
korban mati dalam keadaan tertidur, sehingga dapat diperkirakan bahwa korban
dibunuh pada saat tertidur.
4. Tidak ada tanda perkelahian. Hal ini membuktikan bahwa tidak terjadinya perlawanan
antara korban dan pembunuh.
5. Ruangan rapi dan tidak ada barang yang hilang menunjukkan bahwa pelaku
membunuh bukan karena material yang ada di kamar pasien.
6. Tidak ada luka pada kedua korban dapat menunjukkan bahwa korban meninggal
karena keracunan zat toksik.
7. Tidak adanya bau pada ruangan dapat menunjukkan zat yang digunakan berupa arsin.
8. Bila terdapat tanda dehidrasi pada kedua korban, maka akan memperkuat bahwa
kedua korban meninggal karena keracunan arsen akut.

48

VISUM et REPERTUM
KESIMPULAN
Daftar Pustaka

49