Anda di halaman 1dari 25

TUTORIAL KLINIS

Nama

: Pagela Pascarella Renta

NIM

: 20100310166

Preceptor

: dr. Tri Wahyuliati Sp. S., M. Kes


Problem

- Anamnesis :
Keluhan Utama : Sakit kepala
RPS
: Sejak 4 tahun yang lalu pasien sering
mengeluh sakit kepala, timbulnya mendadak tanpa
sebab yang jelas, hilang timbul, frekuensi 2-3 kali
dalam sehari, rasa sakit berdenyut-denyut pada bagian
kiri kepala dan tidak menjalar. Pasien juga mengeluh
sulit berkonsentrasi. Bertambah sakit apabila
melakukan aktifitas berat dan merasa lebih baik saat
beristirahat. Pasien tidak mengkonsumsi obat
penghilang nyeri.
1 tahun yang lalu, pasien mengeluh pusing berputar,
cepat merasa lelah, telinga berdenging, kehilangan
stamina, badan sering terasa mau jatuh, pandangan
menjadi gelap. Pasien berobat ke dokter dan didiagnosis
vertigo. Pasien merasa lebih baik setelah minum obat
dari dokter. Akan tetapi, pasien lupa nama obatnya.
1 bulan yang lalu penderita mengalami kecelakaan
lalu lintas, kepala terbentur ke aspal. Sejak itu pasien

Hip
otesi
s

Data Tambahan

Tujuan Belajar

1. Mengetahui
Pemeriksaan Head CTScan ( 8 September 2015) :

Gyri dan sulci tak


prominent
Batas cortex dan
medulla tegas
Tak tampak lesi
hipo/iso/hyperdens di
intraserebral dan
intracerebellar
Systema ventriculair
tak
melebar/menyempit
Structura mediana di
tengah

Decision maker

Diagnosis pada pasien ini


dapat
ditegakkan
dari
pembagian
anamnesis,pemeriksaan fisik,
dari
nyeri
dan pemeriksaan penunjang.
kepala
2. Bisa
Diagnosis klinis : Nyeri
kepala berdenyut
membedakan
Diagnosis etiologi : Migren
nyeri kepala
tanpa aura
primer
dan Diagnosis topis :
sekunder
3. Mengetahui
Penatalaksanaan :
definisi
migren,
klasifikasi,
manifestasi
klinis,

sering mengeluh nyeri kepala di sebelah kiri, kadang


kadang di sebelah kanan, nyeri dirasakan di satu sisi
kepala dan berdenyut. Nyeri diperberat ketika sedang
melakukan aktivitas fisik atau naik tangga. Namun
terasa ringan jika dibawa istirahat.
Sejak kurang lebih 1 hari sebelum berobat ke rumah
sakit pasien mengeluh nyeri kepala berdenyut di kepala
sebelah kiri. Nyeri terpusat di tempat yang sama dan
tidak menjalar. Nyeri muncul mendadak, dirasakan
terus menerus dan semakin lama semakin memberat.
Nyeri semakin berat jika digunakan untuk berjalan dan
melakukan aktivitas. Nyeri berkurang jika digunakan
untuk berbaring. Pasien sudah minum obat anti nyeri,
namun tidak berkurang. Pasien juga mengeluh mual dan
lemas. Pasien tidak mengalami demam, pandangan
kabur tidak ada, pandangan gelap tidak ada, pandangan
ganda tidak ada, telinga berdengung tidak ada,
kesemutan tidak ada. Pasien juga menyangkal pernah
mengalami kejang, mulut mengot, dan bicara pelo.
Buang air kecil dan buang air besar tidak ada masalah,
masih dalam batas normal.
Riwayat Penyakit Dahulu :

Riwayat kecelakaan lalu lintas 1 bulan yang


lalu, kepala terbentur aspal.

Riwayat hipertensi disangkal

patofisiologi,
Kesan :

cara
Tak tampak kelainan
pada Head CT-Scan
saat ini
Tak tampak tanda
tanda EDH, SDH,
SAH maupun ICH

mendiagnosis,
dan
penatalaksanaa
n.

Riwayat Diabetes Mellitus disangkal

Riwayat gastritis disangkal.

Riwayat pingsan sebelumnya

Riwayat nyeri kepala yang menahun

Riwayat kejang disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga

Riwayat keluhan serupa disangkal

Riwayat hipertensi disangkal

Riwayat Diabetes Mellitus disangkal

Riwayat Penyakit jantung disangkal

Riwayat Penyakit Sosial Ekonomi : Pasien tinggal di


kos. Hubungan dengan teman kos baik. Hubungan
engan keluarga juga baik. Biaya pengobatan diperoleh
dari ayah.
Anamnesis Sistem:

Sistem serebrospinal
Sistem kardiovaskuler
Sistem respirasi
Sistem gastrointestinal
Sistem musculoskeletal
Sistem integumentum
Sistem urogenital

:
:
:
:
:
:
:

Nyeri kepala sebelah kiri


Tidak ada keluhan
Tidak ada keluhan
Tidak ada keluhan
Tidak ada keluhan
Tidak ada keluhan
Tidak ada keluhan

Riwayat obstetri : pasien lahir normal, cukup bulan.


Pasien belum menikah.
Riwayat tumbuh kembang : tumbuh kembang pasien
sesuai dengan usianya, berat badan cukup.
Riwayat trauma : pasien mengalami kecelakaan lalu
lintas 1 bulan yang lalu, kepala terbentur aspal.
Riwayat lingkungan : pasien tinggal di lingkungan
kos yang bersih, memelihara hewan unggas (-).
Riwayat kebiasaan : konsumsi alkohol dan napza
disangkal.

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
Keadaan Umum

:Tampak sakit sedang.


Compos mentis,

GCS: E4V5M6

Tanda Vital

Kepala

Tekanan darah : 120/80 mmHg


Nadi
: 86x/menit
: 18x/menit
: Respirasi
Suhu
: Afebris

Mesosephal,
Konjungtiva tidak anemis,
sklera tidak ikterik,
pupil isokor diameter 3/3 mm,
reflek cahaya +/+,
: reflek kornea +/+, luka (-),
kelainan lainnya (-)
Palpasi :
Nyeri disekitar wajah (-).

Leher

Dada

Limfonodi tak membesar,


Simetris

Paru:
Inspeksi :
Dada tampak datar,
simetris,

warna sesuai sekitar.


Palpasi : nyeri tekan (-), massa (-), kuat angkat normal
Perkusi :
Sonor diseluruh lapang paru
Auskultasi :
Vesikuler diseluruh lap. paru,
suara tambahan (-).
Jantung:
Inspeksi :
Ictus cordis tak tampak
Palpasi :
Teraba ictus cordis kuat angkat, nyeri (-)
Perkusi :
Konfigurasi kesan dbn,
Auskultasi :
SI-II teratur reguler,

suara tambahan (-)

Inspeksi : Datar,
warna sesuai kulit sekitar
Auskultasi : bising usus (+)
normal
Abdomen

: Perkusi

thimpani
Palpasi: Supel,
nyeri tekan (-)
diseluruh lapang abdomen

Status Psikiatrik
Tingkah laku

: Normoaktif
Perasan hati
: Normotimik
Orientasi
: Dalam batas normal
Kecerdasan
: Dalam batas normal
Daya ingat
: Dalam batas normal
Status Neurologis:
Sikap Tubuh
Gerakan Abnormal
Cara Berjalan

:
:
:

Simetris
(-)
Normal

Kepala

Mesocephal

Saraf otak :
N. I : tidak dilakukan
N. II : tidak dilakukan
N. III : ptosis (-/-), refleks cahaya (+/+), diplopia
(-/-), nistagmus (-/-), strabismus (-/-).
N. IV : diplopia (-/-), strabismus (-/-)
N. V : tidak dilakukan
N. VI : diplopia (-/-), strabismus (-/-)
N. VII : mendengar suara berbisik (-/-)
N. VIII : tidak dilakukan.
N. IX : tidak dilakukan.

N. X : tidak dilakukan.
N. XI : tidak dilakukan.
N. XII : tidak dilakukan.
Pemeriksaan meningeal sign :
1. Kaku Kuduk :
2. Tanda Kernig :
3. Buzinsky 1 :
4. Buzinsky 2 :
Anggota gerak atas :
Inspeksi : warna kulit kecoklatan.
Refleks fisiologis : positif
Refleks patologis ( hoffman dan tromner) : negatif
Tonus : normal
Clonus : negatif
Atrofi : negatif
Anggota gerak bawah :
Inspeksi : warna kulit kecoklatan, edema (-/-)
Refleks fisiologis : hiperefleks
Refleks patologis ( babinski, chaddok): negatif
Tonus : normal
Clonus : negatif
Atrofi : negatif
Motorik :
Kekuatan otot : 5 5
5 5

PEMBAHASAN

Nyeri kepala timbul sebagai hasil perangsangan terhadap bagian tubuh di wilayah kepala dan leher yang peka terhadap nyeri.
Bukan hanya masalah fisik semata sebagai sebab nyeri kepala tersebut namun masalah psikis juga sebagai sebab dominan. Untuk
nyeri kepala yang disebabkan oleh faktor fisik lebih mudah didiagnosis karena pada pasien akan ditemukan gejala fisik lain yang
menyertai sakit kepala, namun tidak begitu halnya dengan nyeri kepala yang disebabkan oleh faktor psikis. Nyeri kepala yang
sering timbul di masyarakat adalah nyeri kepala tanpa kelainan organik, dengan kata lain adalah nyeri kepala yang disebabkan oleh
faktor psikis.
Dalam anamnesis akan ditanyakan kualitas nyeri, intensitas, lokasi, durasi, frekuensi, gejala yang mnyertai serta perjalanan penyakitnya.
Nyeri kepala yang berlangsung kronik dan sering kambuh tentu berbeda dengan nyeri dengan nyeri yang akut. Nyeri yang kronik dan sering
kambuh cenderung ke penyebab vaskuler dan psikogenik, sedangkan yang akut dan berat mungkin mempunyai latar belakang yang lebih serius.
Secara garis besar nyeri kepala dibagi menjadi dua macam; primer dan sekunder. Pada nyeri kepala primer, nyeri kepala merupakan
keluhan utama, artinya nyeri kepala tersebut bukan timbul karena ada kelainan yang mendasari. Dengan kata lain, nyeri kepala merupakan
penyakit tersendiri, dengan patofiologi tersendiri pula. Nyeri kepala primer yang utama berdasarkan klasifikasi dari IHS adalah: (1) migren

dengan dan tanpa aura, (2) nyeri kepala tipe tegang (tension-type headache), dan (3) nyeri kepala berkelompok (cluster headache). Sedangkan
nyeri kepala sekunder dapat dibagi menjadi nyeri kepala yang disebabkan oleh karena trauma pada kepala dan leher, nyeri kepala akibat kelainan
vaskular kranial dan servikal, nyeri kepala yang bukan disebabkan kelainan vaskular intrakranial, nyeri kepala akibat adanya zat atauwithdrawal,
nyeri kepala akibat infeksi, nyeri kepala akibat gangguan homeostasis, sakit kepala atau nyeri pada wajah akibat kelainan kranium, leher, telinga,
hidung, dinud, gigi, mulut atau struktur lain di kepala dan wajah, sakit kepala akibat kelainan psikiatri.
Klasifikasi dan perbedaan nyeri kepala primer:
Nyeri kepala
Migren
umum

Sifat nyeri
Berdenyut

Lokasi
Unilateral
atau bilateral

Lama nyeri
6-48 jam

Migren
klasik

Berdenyut

Unilateral

3-12 jam

Klaster

Menjemukan
, tajam

Unilateral,
orbita

15-120 menit

Tipe tegang

Tumpul,
ditekan

Difus,
bilateral

Terus
menerus

Frekuensi
Sporadik,
beberapa kali
sebulan

Gejala ikutan
Mual,
muntah,
malaise,
fotofobia
Sporadik,
Prodoma
beberapa kali visual, mual,
sebulan
muntah,
malaise,
fotofobia
Serangan
Lakrimasi
berkelompok ipsilateral,
dengan
wajah merah,
remisi lama
hidung
tersumbat,
horner
Konstan
Depresi,
ansietas

MIGREN
A. Definisi
Migren merupakan nyeri kepala akibat gangguan pembuluh darah yang biasanya bersifat unilateral dan seringkali memiliki
kualitas berdenyut. Seringkali berasosiasi dengan mual, muntah, fotofobia, fonofobia.
B. Prevalensi
Prevalensi migren ini beranekaragam bervariasi berdasarkan umur dan jenis kelamin. Migren dapat tejadi dari mulai kanak-kanak
sampai dewasa. Dari penelitian dengan mengunakan titik terang diungkapkan migren lebih sering ditemui pada wanita daibandingkan pria

yaitu 2:12. Wanita hamil pun tidak luput dari serangan migren yang biasanya menyerang pada trimester I kehamilan. Migren biasanya
jarang terjadi seteah usia 40 tahun. Risiko mengalami migren semakin besar pada orang yang mempunyai riwayat keluarga penderita
migren.

C. Klasifikasi
1. Migren dengan aura
Migren dengan aura disebut juga sebagai migren klasik. Diawali dengan adanya gangguan pada fungsi saraf, terutama visual, diikuti
oleh nyeri kepala unilateral, mual, dan kadang muntah, kejadian ini terjadi berurutan dan manifestasi nyeri kepala biasanya tidak lebih
dari 60 menit yaitu sekitar 5-20 menit.
2. Migren tanpa aura
Migren tanpa aura disebut juga sebagai migren umum. Sakit kepalanya hampir sama dengan migren dengan aura. Nyerinya pada
salah satu bagian sisi kepala dan bersifat pulsatil dengan disertai mual, fotofobia dan fonofobia. Nyeri kepala berlangsung selama 4-72
jam.
D. Etiologi
1. Teori vaskular
Menyatakan bahwa nyeri kepala migren disebabkan oleh pelebaran pembuluh darah di kepala. Sehingga banyak pengobatan yang
digunakan berefek pada vasokonstriksi pembuluh darah.
2. Teori neurologis
Edward Living (1873) mengajukan teori bahwa migren disebabkan oleh kekacauan saraf diotak.
3. Neurotransmiter
Berdasarkan penelitian, perubahan konsentrasi serotonin (5-hydroxytryptamine atau 5HT) selama berlangsungnya serangan migren
ketika dikeluarkan dari tempat penyimpanannya di dalam tubuh.

E. Faktor pemicu
1. Perubahan hormon estrogen
Hormon estrogen yang banyak terdapat pada wanita dapat memicu migren. Khususnya pada saat jumlah estogen sedang tidak stabil,
misalnya pada saat sebelum dan selama masa haid, selama masa kehamilan, penggunaan alat kontrasepsi atau jika sedang menjalani
terapi hormon.
2. Stimulasi indra tubuh
Cahaya yang terlalu terang, suara yang terlalu keras,atau bau tertentu yang sangat menyengat seperti bau parfum dan asap rokok dapat
menjadi pemicu.
3. Perubahan cuaca
Perubahan cuaca yang ekstrem atau tidak menentu serta perubahan tekanan udara dapat menjadi pemicu migren.
4. Jadwal tidur yang tidak biasa
Jika pola tidur Anda tidak seperti biasanya. Misalnya, jangka waktu tidur yang sebentar bahkan tidur terlalu lama bisa membuat Anda
mengalami migren. Jika Anda baru berpergian, jet lag juga dapat menjadi penyebabnya.
5. Kelelahan
Berolahraga atau melakukan aktivitas fisik yang lebih berat dari biasanya dapat memperbesar kemungkinan terkena migren.
6. Makanan dan Minuman
Kandungan yang terdapat pada makanan dan minuman dapat menjadi pemicu. Minuman beralkohol seperti bir dan wine atau
kandungan kafein yang terdapat pada kopi sebaiknya dihindari. Mengkonsusmsi coklat, keju tua, makanan yang banyak mengandung
MSG atau pengawet juga merupakan pemicu migrain.
F. Patofisiologi

Cutaneous allodynia (CA) adalah nafsu nyeri yang ditimbulkan oleh stimulus non noxious terhadap kulit normal. Saat
serangan/migren 79% pasien menunjukkan cutaneus allodynia (CA) di daerah kepala ipsilateral dan kemudian dapat menyebar kedaerah
kontralateral dan kedua lengan.
Allodynia biasanya terbatas pada daerah ipsilateral kepala, yang menandakan sensitivitas yang meninggi dari neuron trigeminal
sentral (second-order) yang menerima input secara konvergen. Jika allodynia lebih menyebar lagi, ini disebabkan karena adanya kenaikan
sementara daripada sensitivitas third order neuron yang menerima pemusatan input dari kulit pada sisi yang berbeda, seperti sama
baiknya dengan dari duramater maupun kulit yang sebelumnya.
Ada 3 hipotesa dalam hal patofisiologi migren yaitu:
a. Pada migren yang tidak disertai CA, berarti sensitisasi neuron ganglion trigeminal sensoris yang menginervasi duramater
b. Pada migren yang menunjukkan adanya CA hanya pada daerah referred pain, berarti terjadi sensitisasi perifer dari reseptor meningeal
(first order) dan sensitisasi sentral dari neuron komu dorsalis medula spinalis (second order) dengan daerah reseptif periorbital.
c. Pada migren yang disertai CA yang meluas keluar dari area referred pain, terdiri atas penumpukan dan pertambahan sensitisasi neuron
talamik (third order) yang meliputi daerah reseptif seluruh tubuh.
Pada penderita migren, disamping terdapat nyeri intrakranial juga disertai peninggian sensitivitas kulit. Sehingga patofisiologi
migren diduga bukan hanya adanya iritasi pain fiber perifer yang terdapat di pembuluh darah intrakranial, akan tetapi juga terjadi
kenaikan sensitisasi set safar sentral terutama pada sistem trigeminal, yang memproses informasi yang berasal dari struktur intrakranial
dan kulit.
Pada beberapa penelitian terhadap penderita migren dengan aura, pada saat paling awal serangan migren diketemukan adanya
penurunan cerebral blood flow (CBF) yang dimulai pada daerah oksipital dan meluas pelan-pelan ke depan sebagai seperti suatu
gelombang ("spreading oligemia'; dan dapat menyeberang korteks dengan kecepatan 2-3 mm per menit. Hal ini berlangsung beberapa jam
dan kemudian barulah diikuti proses hiperemia. Pembuluh darah vasodilatasi, blood flow berkurang, kemudian terjadi reaktif
hiperglikemia dan oligemia pada daerah oksipital, kejadian depolarisasi set saraf menghasilkan gejala scintillating aura, kemudian
aktifitas set safar menurun menimbulkan gejala skotoma. Peristiwa kejadian tersebut disebut suatu cortical spreading depression (CDS).
CDS menyebabkan hiperemia yang berlama didalam duramater, edema neurogenik didalam meningens dan aktivasi neuronal didalam

TNC (trigeminal nucleus caudalis) ipsilateral. Timbulnya CSD dan aura migren tersebut mempunyai kontribusi pada aktivasi trigeminal,
yang akan mencetuskan timbulnya nyeri kepala. Pada serangan migren, akan terjadi fenomena pain pathway pada sistem
trigeminovaskuler, dimana terjadi aktivasi reseptor NMDA, yang kemudian diikuti peninggian Ca sebagai penghantar yang menaikkan
aktivasi proteinkinase seperti misalnya 5-HT, bradykinine, prostaglandin, dan juga mengaktivasi enzim NOS. Proses tersebutlah sebagai
penyebab adanya penyebaran nyeri, allodynia dan hiperalgesia pada penderita migren.

G. Manifestasi Klinis
Gambaran klinis yang sering ditemui antara lain:
1. Nyeri kepala : bersifat unilateral (pada salah satu sisi), bentuknya berdenyut menandakan adanya rangsangan aferean pada
pembuluh darah.
2. Mual : mual adalah gejala yang paling sering dikemukakan oleh penderita, menunjukkan adanya ekstravasasi protein.
3. Aura : aura yang timbul biasanya berupa gangguan penglihatan (fotofobia atau fonofobia), bunyi atau bebauan tertentu,
menandakan adanya proyeksi difus locus ceruleus ke korteks serebri, adanya gejala produksi monocular pada retina dan produksi
bilateral yang tidak normal.
4. Rasa kebal / baal

5. Vertigo : pusing, karena gerakan otot yang tidak terkontrol,menandakan adanya gejala neurologic yang berasal dari korteks serebri
dan batang otak.
6. Rasa lemas waktu berdiri : disebabkan oleh turunnya tekanan darah waktu berdiri (postural hypotension).
7. Kontraksi otot-otot : disekitar dahi, pipi, leher, dan bahu, menandakan adanya ganguan mekanisme internal tubuh yang disebut jam
biologis (biological clock).

Migren tanpa aura


Serangan dimulai dengan nyeri kepala berdenyut di satu sisi dengan durasi serangan selama 4-72 jam. Nyeri bertambah berat dengan
aktivitas fisik dan diikuti dengan nausea dan atau fotofobia dan fonofobia.
Migren dengan aura

Sekitar 10-30 menit sebelum sakit kepala dimulai (suatu periode yang disebut aura), gejala-gejala depresi, mudah tersinggung, gelisah,
mual atau hilangnya nafsu makan muncul pada sekitar 20% penderita. Penderita yang lainnya mengalami hilangnya penglihatan pada daerah
tertentu (bintik buta atau skotoma) atau melihat cahaya yang berkelap-kelip. Ada juga penderita yang mengalami perubahan gambaran,
seperti sebuah benda tampak lebih kecil atau lebih besar dari sesungguhnya. Beberapa penderita merasakan kesemutan atau kelemahan pada
lengan dan tungkainya. Biasanya gejala-gejala tersebut menghilang sesaat sebelum sakit kepala dimulai, tetapi kadang timbul bersamaan
dengan munculnya sakit kepala. Nyeri karena migren bisa dirasakan pada salah satu sisi kepala atau di seluruh kepala. Kadang tangan dan
kaki teraba dingin dan menjadi kebiru-biruan. Pada penderita yang memiliki aura, pola dan lokasi sakit kepalanya pada setiap serangan
migran adalah sama. Migren bisa sering terjadi selama waktu yang panjang tetapi kemudian menghilang selama beberapa minggu, bulan
bahkan tahun.
Migren dengan aura dapat dibagi menjadi empat fase, yaitu:
Fase I Prodromal
Sebanyak 50% pasien mengalami fase prodromal ini yang berkembang pelan-pelan selama 24 jam sebelum serangan. Gejala: kepala
terasa ringan, tidak nyaman, bahkan memburuk bila makan makanan tertentu seperti makanan manis, mengunyah terlalu kuat, sulit/malas
berbicara.
Fase II Aura.
Berlangsung lebih kurang 30 menit, dan dapat memberikan kesempatan bagi pasien untuk menentukan obat yang digunakan untuk
mencegah serangan yang dalam. Gejala dari periode ini adalah gangguan penglihatan (silau/fotofobia), kesemutan, perasaan gatal pada
wajah dan tangan, sedikit lemah pada ekstremitas dan pusing.
Periode aura ini berhubungan dengan vasokonstriksi tanpa nyeri yang diawali dengan perubahan fisiologi awal. Aliran darah serebral
berkurang, dengan kehilangan autoregulasi lanjut dan kerusakan responsivitas CO2.
Fase III sakit kepala

Fase sakit kepala berdenyut yang berat dan menjadikan tidak mampu yang dihubungkan dengan fotofobia, mual dan muntah. Durasi
keadaan ini bervariasi, beberapa jam dalam satu hari atau beberapa hari.
Fase IV pemulihan
Periode kontraksi otot leher dan kulit kepala yang dihubungkan dengan sakit otot dan ketegangan lokal. Kelelahan biasanya terjadi,
dan pasien dapat tidur untuk waktu yang panjang.
H. Diagnosis
Tidak ada tes laboratorium yang dapat mendukung penegakan diagnosis migren. Migren kadangkala sulit untuk didiagnosis
karena gejalanya dapat menyerupai gejala sakit kepala lainnya. Pemeriksaan standar yang dilakukan adalah dengan menggunakan kriteria
International Headache Society yaitu, seseorang didiagnosis migren jika mengalami 5 atau lebih serangan sakit kepala tanpa aura (atau 2
serangan dengan aura) yang sembuh dalam 4 sampai 72 jam tanpa pengobatan dan diikuti dengan gejala mual, muntah, atau sensitif
terhadap sinar dan suara.
Kriteria diagnosis bagi migren tanpa aura dikemukakan oleh HIS sekurang-kurangnya terdapat 5 serangan, diantaranya :
a. Nyeri kepala berlangsung 4-74 jam (bila tidak diobati atau pengobatan gagal)
b. Nyeri kepala sekurang-kurangnya memenuhi 2 kriteria:
- Lokasi unilateral
- Sifat berdenyut
- Intensitas nyerinya sedang atau berat
- Agravasi (bertambah berat) atau mengganggu aktivitas
c. Sewaktu berlangsung nyeri nyeri kepala terdapat sekurang-kurangnya satu gejala:
- Nausea dan/atau muntah
- Fatofobia dan fonofobia
d. Tidak disebabkan gejala lain
Kriteria diagnosis bagi migren dengan aura dikemukakan oleh HIS sekurangnya terdapat 2 serangan, diantaranya:
a. Aura terdiri dari satu gejala berikut (tanpa kelemahan motorik):

- Gejala visual: cahaya berkunang-kunang, bercak atau garis, atau penglihatan hilang
- Gejala sensoris: semutan atau rasa baal
- Gejala gangguan bicara
b. Sekurangnya ada 2 gejala berikut:
- Gejala visual homonim dan/atau gejala sensorik unilateral
- Sekurangnya 1 gejala aura yang muncul gradual 5 menit dan/atau berbagai gejala aura muncul berurutan selama 5
menit
- Tiap gejala berlangsung 5 menit, namun 60 menit
c. Nyeri kepala mulai sewaktu aura atau mengikuti aura dalam waktu 60 menit
d. Tidak disebabkan gangguan lain
Gejala migren yang timbul perlu diuji dengan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit lain
dan kemungkinan lain yang menyebabkan sakit kepala. Pemeriksaan lanjutan tersebut adalah:
1. MRI atau CT Scan, yang dapat digunakan untuk menyingkirkan tumor dan perdarahan otak.
2. Punksi Lumbal, dilakukan jika diperkirakan ada meningitis atau perdarahan otak
I. Diagnosis banding
Nyeri kepala migren tanpa aura sering kali sulit dibedakan dengan nyeri kepala tegang (tension headache), nyeri kepala claster
(clusther headache), dan gangguan peredaran darah sepintas (transient ischemic attacks).
K. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
Dilakukan untuk menyingkirkan sakit kepala yang diakibatkan oleh penyakit struktural, metabolik, dan kausa lainnya yang memiliki
gejala hampir sama dengan migren. Selain itu, pemeriksaan laboratorium dapat menunjukkan apakah ada penyakit komorbid yang dapat
memperparah sakit kepala dan mempersulit pengobatannya.
b. Pencitraan

CT scan dan MRI dapa dilakukan dengan indikasi tertentu, seperti: pasien baru pertama kali mengalami sakit kepala, ada perubahan
dalam frekuensi serta derajat keparahan sakit kepala, pasien mengeluh sakit kepala hebat, sakit kepala persisten, adanya pemeriksaan
neurologis abnormal, pasien tidak merespon terhadap pengobatan, sakit kepala unilateral selalu pada sisi yang sama disertai gejala
neurologis kontralateral.
c. Pungsi Lumbal
Indikasinya adalah jika pasien baru pertama kali mengalami sakit kepala, sakit kepala yang dirasakan adalah yang terburuk sepanjang
hidupnya, sakit kepala rekuren, onset cepat, progresif, kronik, dan sulit disembuhkan. Sebelum dilakukan LP seharusnya dilakukan CT scan
atau MRI terlebih dulu untuk menyingkirkan adanya massa lesi yang dapat meningkatkan tekanan intracranial.
L. Tatalaksana
MEDIKAMENTOSA
Terapi Abortif
Sumatriptan
Sumatriptan cukup efektif sebagai terapi abortif jika diberikan secara subkutan dengan dosis 4-6 mg. Dapat diulang sekali setelah 2 jam
kemudian jika dibutuhkan. Dosis maksimum 12 mg per 24 jam. Triptan merupakan serotonin 5-HT 1B/1Dreceptor agonists. Golongan obat ini
ditemukan dalam suatu penelitian mengenai serotonin dan migren yang mendapatkan adanya suatu atypical 5-HT receptor. Aktivasi reseptor
ini menyebabkan vasokontriksi dari arteri yang berdilatasi. Sumatriptan juga terlihat menurunkan aktivitas saraf trigeminal
Indikasi: serangan migren akut dengan atau tanpa aura
Dosis & Cara Pemberian: dapat diberikan secara subkutan dengan dosis 4-6 mg. Dapat diulang sekali setelah 2 jam kemudian jika
dibutuhkan. Dosis maksimum 12 mg per 24 jam.
Efek Samping: flushing, lemah, mengantuk, mual, muntah, peningkatan tekanan darah sementara.
Kontraindikasi:

o
o
o
o
2.

penyakit jantung iskemik


riwayat infark miokard
prinzmetals angina
hipertensi yang tidak terkontrol.
Zolmitriptan
Zolmitriptan efektif untuk pengobatan akut. Dosis awal oral 5 mg. Gejala-gejala akan berkurang dalam 1 jam. Obat ini dapat diulang

sekali lagi setelah 2 jam jika diperlukan. Dosis maksimal adalah 10 mg untuk 24 jam. Zolmitriptan juga dapat digunakan melalui nasal spray.
Indikasi: Untuk mengatasi serangan migren akut dengan atau tanpa aura pada dewasa. Tidak ditujukan untuk terapi profilaksis migren atau
untuk tatalaksana migren hemiplegi atau basilar.
Dosis & Cara Pemberian: Pada uji klinis, dosis tunggal 1; 2,5 dan 5 mg efektif mengatasi serangan akut. Pada perbandingan dosis 2,5 dan 5
mg, hanya terjadi sedikit penambahan manfaat dari dosis lebih besar, namun efek samping meningkat. Oleh karena itu, pasien sebaiknya mulai
dengan doss 2,5 atau lebih rendah. Jika sakit terasa lagi, dosis bisa diulang setelah 2 jam, dan tidak lebih dari 10 mg dalam periode 24 jam.
Efek Samping: hiperestesia, parestesia, sensasi hangat dan dingin, nyeri dada, mulut kering, dispepsia, disfagia, nausea, mengantuk, vertigo,
astenia, mialgia, miastenia, berkeringat.
Kontraindikasi: Pasien dengan penyakit jantung iskemik (angina pectoris, riwayat infark miokard, coronary artery vasospasm, Prinzmetal's
angina), dan pasien hipersensitif.
1.

Eletriptan
Dosis & Cara Pemberian: 2040 mg po saat onset berlangsung, dapat diulang 2 jam kemudian sebanyak 1 kali. Dosis maksimum tidak
melebihi 80 mg/24 jam.
Efek Samping: parestesia, flushing, hangat, nyeri dada, rasa tidak enak pada perut, mulut kering, dispepsia, disfagia, nausea, pusing, sakit
kepala, mengantuk.
2. Rizatriptan dengan dosis 5-10 mg po saat onset berlangsung, dapat diulang setiap 2 jam sebanyak 2 kali. Dosis maksimum 30 mg/24 jam.
3. Naratriptan dengan dosis 1-2,5 mg po saat serangan migren akut, boleh diulang setelah 4 jam. Dosis maksimum 5 mg/24 jam.

4. Almotriptan dengan dosis 6,25-12,5 mg po saat onset berlangsung, dapat diulang setelah 2 jam sebanyak sekali. Dosis maksimum 25 mg/24
jam.
5. Frovatriptan dengan dosis 2,5 mg po saat onset berlangsung, dapat diulang setelah 2 jam. Waktu paruhnya lebih panjang dari eletriptan
sehingga sangat membantu bagi pasien dengan serangan migren yang panjang. Dosis maksimum 7,5 mg/24 jam.
8. Analgesik seperti aspirin
9. Analgesik opioid seperti meperidin 100 mg IM atau butorphanol tartat dengan nasal spray 1 mg untuk setiap lubang hidung. Bisa diulang
setelah 3 atau 4 jam berikutnya.
10. Dihidroergotamin mesilat 0.51 mg IV atau 12 mg SK atau IM.
11. Proklorperazin 25 mg rektal atau 10 mg IV
12. Cafergot yaitu kombinasi antara ergotamin tartat 1 mg dan kafein 100 mg. Cafergot dapat diberikan sebanyak 1-2 tablet yang diminum pada
saat onset serangan atau ketika gejala-gejala prodromal berlangsung diikuti dengan 1 tablet setiap 30 menit. Cafergot dapat diminum
maksimal 6 tablet untuk setiap serangan namun tidak boleh dikonsumsi lebih dari 10 hari per bulan. Ergotamin harus dihindari untuk orang
hamil dan bagi orang yang berisiko stroke.
Terapi Profilaktif
Tujuan dari terapi profilaktif adalah untuk mengurangi frekuensi berat dan lamanya serangan, meningkatkan respon pasien terhadap
pengobatan, serta pengurangan disabilitas. Terapi preventif yang dilaksanakan mencakup pemakaian obat dimulai dengan dosis rendah yang
efektif dinaikkan pelan-pelan sampai dosis efektif. Efek klinik tercapai setelah 2-3 bulan pengobatan, pemberian edukasi supaya pasien teratur
memakai obat, diskusi rasional tentang pengobatan, efek samping obat. Pasien juga dianjurkan untuk menulis headache diary yang berguna
untuk mengevaluasi serangan, frekuensi, lama, beratnya serangan, disabilitas dan respon terhadap pengobatan yang diberikan. Obat-obatan
yang sering diberikan:
a. Beta-blocker:
- propanolol yang dimulai dengan dosis 10-20 mg 2-3x1 dan dapat ditingkatkan secara gradual menjadi 240 mg/hari.

- atenolol 40-160 mg/hari


- timolol 20-40 mg/hari
- metoprolol 100-200 mg/hari
b. Calcium Channel Blocker:
- verapamil 320-480 mg/hari
- nifedipin 90-360 mg/hari
c. Antidepresan, misalnya amitriptilin 25-125 mg, antidepresan trisiklik, yang terbukti efektif untuk mencegah timbulnya migren.
d. Antikonvulsan:
- asam valproat 250 mg 3-4x1
- topiramat
e. Methysergid, derivatif ergot 2-6 mg/hari untuk beberapa minggu sampai bulan efektif untuk mencegah serangan migren.
NON-MEDIKAMENTOSA
Terapi abortif
Para penderita migren pada umumnya mencari tempat yang tenang dan gelap pada saat serangan migren terjadi karena fotofobia dan
fonofobia yang dialaminya. Serangan juga akan sangat berkurang jika pada saat serangan penderita istirahat atau tidur.
Terapi profilaktif
Pasien harus memperhatikan pencetus dari serangan migren yang dialami, seperti kurang tidur, setelah memakan makanan tertentu
misalnya kopi, keju, coklat, MSG, akibat stress, perubahan suhu ruangan dan cuaca, kepekaan terhadap cahaya terang, kelap kelip, perubahan
cuaca, dan lain-lain. Selanjutnya, pasien diharapkan dapat menghindari faktor-faktor pencetus timbulnya serangan migren. Disamping itu, pasien
dianjurkan untuk berolahraga secara teratur untuk memperlancar aliran darah.