Anda di halaman 1dari 26

SURVEY DAN PEMETAAN I

Materi : 6
APLIKASI PENGUKURAN DAN
PEMETAAN DALAM PEKERJAAN
KONSTRUKSI

Secara umum pengukuran yang dilakukan


pengukuran dalam pemasangan pilar atau
patok
pengukuran poligon
pengukuran waterpass
pengukuran situasi
pengukuran profil melintang

Dibahas pada
Survey dan
Pemetaan II

pengukuran profil memanjang

Pemasangan Pilar dan Patok serta


Pengukuran Titik Kontrol
Sebelum dilakukan pengukuran, terlebih dahulu
dilakukan pemasangan titik-titik kontrol berupa pilarpilar beton dan patok-patok kayu atau bambu yang
semuanya diberi baut atau paku sebagai titik
penunjuk (acuan).
Pilar-pilar beton digunakan untuk titik-titik utama
poligon dan waterpas, sedangkan patok-patok
digunakan untuk titik-titik bantunya. Pilar beton dibuat
dengan ukuran 20 cm x 20 cm x 100 cm dengan
tinggi 10 cm muncul dipermukaan tanah dengan
maksud agar posisi beton cukup aman dan mudah
ditemukan, sedangkan patok kayu dibuat cukup
dengan ukuran 5 cm x 5 cm x 50 cm dengan tinggi 3
maksimum 15 cm muncul di permukaan tanah

Pilar-pilar beton diletakkan pada tempat yang


diperkirakan aman selama masa pelaksanaan
konstruksi, mengingat pilar-pilar beton tersebut
menyimpan koordinat dan ketinggian yang selalu
diperlukan dalam pelaksanaan konstruksi. Pilar-pilar
beton dan patok-patok diberi nomor kode yang
jelas, jangan sampai ada nomor double.
Diantara dua patok yang berdekatan atau antara
pilar dan patok terdekat saling terlihat satu sama
lain.
Posisi titik kontrol ditentukan dengan melakukan
pengukuran poligon.
Pengukuran yang dilakukan adalah pengukuran
jarak, sudut horisontal dan azimuth (sudut jurusan).
5

Pematokan atau Setting Out


Berbagai rancangan pekerjaan konstruksi yang
merupakan desain para ahli perancang pada
akhirnya harus ditempatkan kembali ke lapangan
sesungguhnya, yaitu ke atas permukaan fisik bumi.
Proses pemindahan dari bentuk gambar di atas
peta ke atas permukaan bumi tersebut dikenal
dengan nama pematokan atau setting out ataupun
stake out.
Dengan demikian pematokan adalah proses
memindahkan atau retransformasi titik-titik yang
terdapat di peta sebagai hasil dari perencanaan ke
lapangan sesungguhnya.
6

Pengukuran staking out untuk keperluan pelaksanaan


konstruksi adalah melakukan pekerjaan pengukuran
dengan mengambil data dari peta atau gambar kerja
dan memindahkannya atau menterjemahkannya ke
lapangan.
Sehingga sebelum suatu titik/garis di atas peta
dipindahkan ke lapangan, harus dilakukan
perhitungan terlebih dahulu di kantor (diatas kertas).
Staking out dilakukan baik pada posisi horizontal
maupun vertikal.
Dalam pengukuran staking out terdapat beberapa
macam cara atau bentuk pengukuran :
a. staking out titik
b. staking out garis lurus
c. staking out lengkungan horizontal
d. staking out lengkung vertikal
7

Staking out titik

Staking Out Garis Lurus


Jika suatu rencana konstruksi, misalnya jalan di peta
arahnya lurus maka untuk memindahkannya ke
lapangan dengan cara staking out garis lurus.
j1

j2

j3

Theodolit diletakkan di titik A yang telah diketahui


letaknya di lapangan. Arahkan teropong pada titik
referensi lainnya (titik B) atau arahkan sesuai dengan
azimuth yang diketahui (menggunakan alat theodolit
kompas), lalu di titik B tersebut dipasang yalon.
9

Staking Out Garis Tegak Lurus


Peralatan yang diperlukan adalah pita ukur/waterpass,
prisma siku-siku dan yalon.
Dengan menggunakan prisma siku-siku untuk
membuat sinar bayangan yang masuk dari titik A dan
dipantulkan secara tegak lurus, kemudian tancapkan
yalon di titik j. Selanjutnya dengan pita ukur/waterpass
diukur jarak B ke titik yang telah tentukan pada gambar
kerja melalui titik j.
A

A, B = patok
j = jalon

10
B

Staking Out Lengkung Horizontal


Dalam membuat jalan, kita tidak mungkin selalu
dapat membuat rute yang lurus. Ada kalanya
ditemukan tikungan dan tanjakan. Hal tersebut
terjadi dikarenakan kondisi lahan yang tersedia,
sehingga diperlukan bentuk lengkungan horizontal
maupun vertikal yang ideal agar pemakai jalan tetap
aman dan nyaman.
Dalam pembuatan rute jalan, perencanaan pertama
selalu menggunakan garis-garis patah dalam
perubahan arahnya. Untuk menghubungkan dua
arah yang berpotongan digunakan busur lingkaran
agar perubahan dari satu arah ke arah yang lain
dapat berjalan dengan lancar.
11

V (PI)

M
T1

T2

ARAH I

ARAH II

1/2

1/2

12

Penentuan posisi titik utama


Menentukan titik A dan B pada arah I dan titik C dan
D pada arah II.
Menentukan titik E dan F pada garis AB dan titik G
dan H pada garis CD. Titik E, F, G, dan H
diperkirakan dekat dengan titik V, jarak EF dan GH
diperkirakan tidak lebih besar daripada pasang pita
ukur.
Gunakan dua buah pita ukur, pasang pita ukur I
melalui titik E dan F pita ukur II melalui G dan H.
Maka perpotongan kedua pita adalah merupakan titik
V (PI).Ukur jarak sebesar R tan dari titik V ke arah
A/B atau ke arah C/D, maka didapat titik T1 dan titik
T2 di lapangan.
Titik M dan O posisinya dilapangan tidak diperlukan.13

Setting out titik detil di lapangan


Alat yang digunakan adalah theodolit, pita ukur dan prisma
siku-siku.
Letakkan theodolite di titik T1, arahkan ke titik V (titik T1
dan B sudah ada patoknya di lapangan).
Sepanjang garis bidik theodolite, ukur jarak sepanjang X1
= Rsin dengan pita ukur ( R dan diketahui ), maka
didapat titik 1 dilapangan.
Dengan menggunakan prisma siku dititik 1, buat garis
tegak lurus terhadap garis T, V.
Pada garis T,V tersebut dengan menggunakan pita ukur,
ukur jarak sepanjang Y1 = R (1- cos ), R dan
diketahui. Maka didapatkan titik 1 di lapangan, pada posisi
tersebut diberi patok no. 1
Dari titik 1 sepanjang garis bidik theodolit ke arah titik V,
untuk sepanjang (X2 X1) = Rsin2- Rsin atau
R (sin2sin). Maka didapat titik 2 dilapangan dimana
14
jalon dititk 2 berimpit dengan jalon 1.

T1

1'
a
X1

1"
2"

X2

Y1
1

V
3'

2'
a

Y2
2

Y3
a

3"

X3

O
15

Dengan menggunakan prisma siku dititik 2, buat garis


tegak lurus terhadap garis T,V.
Pada garis yang tegak lurus gari T,V tersebut, dengan
menggunakan pita ukur, ukur jarak sepanjang
Y2 = R (1 cos2 ). Maka didapatkan titik 2 di
lapangan
Dari titik 2 sepanjang garis titik theodolit kearah titik V,
ukur jarak sepanjang (X3 X4) = R sin3 Rsin2 =
R (sin3 sin2). Maka didapat titik 3 dilapangan,
dimana jalon titik 3 berimpit dengan jalon 2.
Dengan menggunakan prisma siku dititik 3, buat garis
tegak lurus terhadap garis T,V.
Pada garis yang tegak lurus garis T,V tersebut dengan
menggunakan pita ukur, ukur jarak sepanjang
Y3 = R (1 cos3). Maka didapat titik 3 dilapangan,
pada posisi terebut diberi patok no. 3.
Dengan cara yang sama dapat di setting out titik
seterusnya. (4, 5, 6, dst).
16

Staking Out Dengan Rintangan


Sering terjadi, bahwa titik potong pada suatu daerah
tidak dapat dipatok, karena rintangan yang ada atau
letak titik V yang tidak dapat terjangkau, misalnya titik
V tersebut tepat jatuh di tengah sungai.
Dalam hal ini titik V atau titik potong dapat dihitung
dengan menggunakan poligon. Peralatan yang
diperlukan adalah pita ukur (jika jarak pendek), EDM
dan theodolite.

17

Cara penentuan titik T1 dan T2, adalah


sebagai berikut
Titik A, B, C dan D diketahui di lapangan.
Tentukan titik X dan Y dengan menggunakan theodolit
dari titik A dan C. Titik X dan Y pada posisi yang
mudah dijangkau.
Ukur jarak XY dengan menggunakan pita ukur atau
EDM.
Dengan menggunakan theodolit, ukur sudut a dan b
I=a+b
Hitung XV dan YV dengan rumus sinus :
L XVY = 180o (a + b)
XV
XY

sin b sin L XVY

XY
XV
. sin b
sin L XVY

18

YV
XY

sin a sin L XVY

XY
YV
. sin a
sin L XVY
VT1 = VT2 = R tan
T1X = VT1 XV
T2Y = VT2 YV
Dengan menggunakan pita ukur dan theodolit dapat
ditentukan posisi T1 dan T2 di lapangan, yakni
dengan menempatkan theodolit di titik A dan C yang
diarahkan ke titik B dan D
Kemudian dari titik X dan Y diukur jarak sebesar
T1X dan T2Y sepanjang garis bidik theodolit.
19

T1

X
a

b
Y

T2

20

Staking Out Lengkung Vertikal


Dalam merencanakan trase jalan, akan didapat
daerah yang merupakan tanjakan ataupun
turunan.
Pada bagian trase tersebut memerlukan disain
lengkung vertikal yang model matematikanya
adalah sebuah parabola sederhana.
Untuk kepentingan pematokan tanjakan atau
turunan tersebut, diperlukan beberapa informasi
pendahulu, seperti :
Panjang lengkungan; panjang lengkungan ini
terikat pada tanjakan (gradient) dari pelurus dan
jarak penglihatan yang diperlukan.
21
Kemiringan tanjakan penurunan ketinggian.

Jika Ea = tinggi titik A


Ex = tinggi titik P
Ex = Ea + (g1 + rx)
Dimana

g 2 g1
r
L
L

1/2 L

1/2 L

g1

g2
A

B
p
Xp

Yp
V

V = Vstex (point of
intersection vertical)
J = Panjang lengkung
parabola
A = Titik awal lengkung
vertikal
B = titik akhir lengkung
vertikal
g1 dan g2 = kelandaian
(dalam %)
Jika naik = g (+)
Jika turun = g(-)
22

Contoh soal :
Suatu perubahan landai pada perencanaan jalan raya
dengan landai I = -1% dan landai II = +2%, akan
dilicinkan dengan lengkung parabola yang panjangnya
400 m. Titik Vstex jatuh pada sta. 100,00 dan mempunyai
ketinggian = 125,40 m.
Tentukan ketinggian patok-patok vertikal setiap 50 m
(staking out)!
Penyelesaian :
Untuk jarak 100 m
h = 1 m, maka
Untuk jarak 200 m
h=2m
Ketinggian titik A (Ex) = 125,4 m + 2 m = 127,4 m jatuh pada
sta 98,00
23

24

25

Patok

Station

g + rx

Ea (m)

Ex (m)

98,00

127,40 127,40

98,50

0,5

-0,406

127,40 126,99

99,00

1,0

-0,625

127,40 126,77

99,50

1,5

-0,656

127,40 126,74

100,00

2,0

-0,5

127,40 126,90

100,50

2,5

+ 7,34

127,40 134,74

101,00

3,0

+ 9,37

127,40 136,77

101,50

3,5

+ 14,59

127,40 138,99

102,00

4,0

+ 14,0

127,40 141,40
26