Anda di halaman 1dari 20

REFLEKSI KASUS

BRONKOPNEUMONIA
Diajukan untuk Memenuhi Tugas Kepaniteraan Klinik
Bagian Ilmu Kesehatan Anak

Pembimbing:
dr. Kurnia Dwi Astuti, Sp.A

Disusun oleh :
Aris Maulana
01.210.6092

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. R. SOEDJATI SOEMODIARDJO
PURWODADI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNISSULA SEMARANG
2015

A. IDENTITAS PASIEN
Nama

: an. k

Umur

: 1 tahun

Jenis kelamin

: laki-laki

Alamat

: Sendangharjo, Karangrayung

Nama orangtua

: Tn. M

Pekerjaan orangtua

: Wiraswasta

Tanggal dirawat

: 12 November 2015

Ruang perawatan

: bangsal Cempaka

B. DATA DASAR
Anamnesis
Dilakukan di bangsal Cempaka pada tanggal 12 November 2015 pukul 14.00
dengan orangtua pasien.
a. Keluhan utama
Sesak
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke RS dengan keluhan sesak nafas sejak 3 hari SMRS yang
dirasakan tiba-tiba dan semakin memberat. Sesak napas tidak berhubungan
dengan aktivitas. Keluhan sesak nafas tidak disertai adanya suara nafas berbunyi
(mengi) atau mengorok, juga tidak disertai adanya bengkak-bengkak pada kedua
tungkai serta kebiruan pada ujung-ujung jari maupun sekitar mulut. Pasien juga
mengalami batuk sejak 3 hari SMRS. Batuk dan pilek dirasakan berdahak tanpa
disertai darah dan dahak sulit sekali dikeluarkan.
Pasien juga mengalami demam sejak 5 hari SMRS sudah diberi obat
penurun panas namun sampai hari ke-3 panas belum juga turun. Panas badan
tidak disertai mimisan, kejang maupun penurunan kesadaran. Orang tua pasien
mengatakan pasien rewel, Buang air besar dan buang air kecil tidak ada keluhan.
Ibu pasien mengatakan tidak ada keluarga pasien yang menderita penyakit
batuk-batuk lama ataupun sesak napas. Ayah pasien mempunyai kebiasaan
merokok didalam rumah.

c. Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat demam tinggi dan kejang

: (-)

Riwayat demam tinggi tanpa kejang : (-)


Riwayat pengobatan TB

: (-)

Riwayat sakit telinga

: (-)

Riwayat batuk pilek

: (-)

Riwayat alergi

: (-)

Riwayat radang tenggorokan

: (-)

d. Riwayat Penyakit Keluarga


Keluarga pasien saat ini tidak ada yang sakit seperti ini. riwayat asma di
keluarga disangkal.
e. Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien adalah anak kedua hidup bersama kedua orangtuanya. Ayah pasien
bekerja sebagai wiraswasta dan ibu sebagai ibu wiraswasta. Pengobatan pasien
ditanggung sendiri, kesan ekonomi baik.
f.

Riwayat Kehamilan dan Prenatal Care


Perawatan ANC

: Rutin, dilakukan sebanyak 5 kali selama hamil dan

Tempat kelahiran
:
Penolong kelahiran :
Cara persalinan
:
Keadaan bayi
:
BBL
:
Kelainan bawaan
:
Kesan
:
Riwayat ibu muntah

diperiksakan ke bidan.
Klinik bersalin
Bidan
Spontan, usia kehamilan 39 minggu
Sehat, langsung menangis
3000 gram
(-)
Neonatal Aterm
berlebih (-), sakit kepala berat (-), riwayat jatuh saat

kehamilan (-), riwayat minum jamu dan pijat perut (-), selama hamil, ibu pasien
hanya menerima dan mengkonsumsi vitamin penambah darah yang diberikan
oleh bidan.

g. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan


Pertumbuhan
BB lahir

: 3000 gram

BB saat ini

: 10,5 kg

TB saat ini

: 77 cm

kesan

: Gizi baik

Perkembangan
Mengangkat kepala

: 1.5 bulan

Memiringkan kepala

: 2 bulan

Tengkurap dan

: 3.5 bulan

mempertahankan posisi kepala


Duduk

: 5 bulan

Merangkak

: 7 bulan

Berdiri, bersuara

: 10 bulan

Berjalan, memanggil mama

: 11 bulan

Kesan: pertumbuhan dan perkembangan sesuai anak seusianya


Riwayat Imunisasi Dasar
0-7 hari

: Hb O

1 bulan

: BCG dan Polio 1

2 bulan

: DPT, HB, HIB, Polio 2

3 bulan

: DPT, HB, HIB, Polio 3

4 bulan

: DPT, HB, HIB, Polio 4

9 bulan

: Campak

Kesan

: Imunisasi dasar lengkap

Riwayat Pemberian Makan dan Minum


Pasien mendapatkan ASI dari 0-12 bulan, mulai usia 6 bulan ditambah
bubur bayi dan buah yang dihaluskan. Pasien tidak suka makan sayur namun
buah-buahan dikonsumsi dengan baik dalam jumlah cukup, begitu juga dengan
lauk dan nasi.

PEMERIKSAAN FISIK
a. Keadaan umum

: pasien rewel, tampak sesak, nafas cuping hidung (-)


sianosis (-)

b.

Kesadaran

: komposmentis

Tanda vital :
HR

: 128 x/menit

RR

: 62 x/menit

: 38.0oC

Kepala

: rambut hitam, tidak mudah dicabut

Mata

: tidak cekung, konjungtiva anemis -/-, injeksi konjungtiva -/-

Telinga

: otorhea -/-, hiperemis -/-

Hidung

: nafas cuping hidung -, epistaksis -, sekret -

Mulut

: bibir kering -, sianosis -, pucat -,perdarahan gusi -, mukosa


hiperemis -, tonsil T1-T1 tidak hiperemis, faring tidak hiperemis.

Leher

: tidak ada pembesaran KGB

Thorax :
Pulmo:
Inspeksi

: simetris, retraksi intercosta +

Palpasi

: sterm fremitus kanan = kiri, krepitasi (-)

Perkusi

: sonor seluruh lapang paru

Auskultasi

: suara dasar vesikuler (+/+), ronkhi basah halus+/+,


wheezing -/-

Cor :
Inspeksi

: iktus kordis tak tampak

Palpasi

: iktus kordis teraba pada ICS V linea midclavicula

sejajar papilla mamae


Perkusi:
Batas kanan atas

: ICS II linea parasternal kanan

Batas kanan bawah

: ICS III, linea parasternal kanan

batas kiri atas

: ICS II linea parasternal kiri

batas kiri bawah

: ICS IV linea midclavicula kiri.

Auskultasi

:BJ I dan II regular,bising jantung (-)

l. Abdomen
Inspeksi

: datar, tidak tampak gerakan peristaltik

Auskultasi

: bising usus (+) normal

Palpasi

: supel, turgor kembali cepat, tidak ada nyeri tekan, hepar dan lien
tidak teraba.

Perkusi
m. Extremitas

: timpani seluruh lapang abdomen


: sianosis (-), akral dingin (-), Capillary refill< 2 detik,
Oedem -/-

n. KGB

: pembesaran (-)

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hasil Laboratorium darah rutin dan elektrolit (12/11/2015) :
Hb

: 14.5 g/dl

(14 18)

Leukosit

: 15.100/mm3

(4000 10.000)

BBS I/II

: 6/10 mm3

(10 20)

Hitung jenis

Eosinofil

:0

(1 5)

Basofil

:0

(0 1)

Batang

:0

(3 5)

Segmen

: 57

(37 50)

Limfosit

: 32

(25 40)

Monosit

:11

(1 6)

Eritrosit

: 4.250.000/mm3

(4.5 5.5 juta)

Trombosit

: 358.000/mm3

(150.000 500.000)

HT

: 31.4%

Kesan: leukositosis, shift to the left

Foto thorax
Cor
: bentuk dan ukuran normal.
Pulmo :
Corakan vaskular normal

Tampak bercak kesuraman perihiler dx &sn


Diafragma dx & sn normal
Sinus costofrenikus dx & sn normal
Kesan : Bronchopneumonia

DAFTAR MASALAH
Sesak Nafas 3 hari
Batuk berdahak 3 hari
Demam 5 hari
Takipneu
Terdengar suara tambahan berupa ronkhi basah halus di hemithorax kanan dan
kiri
Tampak adanya retraksi intercosta
leukositosis, shift to the right
DIAGNOSIS BANDING
Bronkopneumonia
Bronkiolitis
Asma
DIAGNOSIS SEMENTARA
bronkopneumonia

INITIAL PLAN DIAGNOSIS


INITIAL PLAN THERAPY
O2 nasal kanul 2 liter/menit.
Infus KAEN 1B 8 tpm
inj visillin sx 3 x 200 mg
inj gentamicin 1 x 50 mg

nebul ventolin 1/2 ampul tiap 12 jam


Oral :
Ambroxol syrup 3 x cth
Pamol syrup 3 x 1 cth
INITIAL PLAN MONITORING
Monitoring suhu, frekuensi jantung, frekuensi pernapasan, dan tekanan darah
Monitoring sesak nafas bertambah atau tidak.

INITIAL PLAN EDUKASI


Menjelaskan pada keluarga pasien agar menjauhkan pasien dari paparan asap rokok
dan debu.
Motivasi keluarga pasien agar mengusahakan ventilasi udara di rumah baik,
menjaga kebersihan lingkungan dan individu.
menjelaskan pada keluarga pasien bahwa penyakit ini bisa dicegah dengan
melakukan imunisasi HiB (Haemophylus Influenzae) dan vaksin pneumokokal,
terutama bagi golongan resiko tinggi (orang usia lanjut, penderita penyakit kronis).

PEMBAHASAN
Definisi
Pneumonia merupakan infeksi yang mengenai parenkim paru.
Bronkopneumonia disebut juga pneumoni lobularis, yaitu radang paru-paru yang
disebabkan oleh bakteri, virus, jamur dan benda-benda asing.
Bronkopneumonia didefinisikan sebagai peradangan akut dari parenkim paru pada bagian
distal bronkiolus terminalis dan meliputi bronkiolus respiratorius, duktus alveolaris, sakus
alveolaris, dan alveoli.

Epidemiologi
Pneumonia hingga saat ini masih tercatat sebagai masalah kesehatan utama pada
anak di Negara berkembang.
Insiden penyakit ini pada negara berkembang hampir 30% pada anak-anak di
bawah umur 5 tahun dengan resiko kematian yang tinggi,
ETIOLOGI
Berbagai bentuk klinis pneumonia sering kali di klasifikasikan berdasarkan
pembagian serta penyebaran anatomis dan etiologinya.
1.

Berdasarkan anatominya pneumonia di bagi atas :


a. Pneumonia Lobaris
b. Pneumonia Lobularis (Bronchopneumonia)
c. Pneuminia Interstitialis (Bronkiolitis)

2.

Berdasarkan etiologinya dibagi atas :

a. Bakteri : Diplococcus pneumoniae, Pneumococcus, Streptococcus hemolyticus,


Streptococcus aureus, Hemophilus influenza, Bacillus friedlander,
Mycobacterium tuberculosis
b. Virus : Respiratory syncytial virus, Virus influenza, adenovirus, Virus sitomegalik
Virus penyebab pneumonia yang paling lazim adalah virus respiratori
sinsitial, virus para influenza, virus influenza, virus adeno, virus
cytomegalo virus. virus

respiratori

sinsitial

yang

paling

sering

menyebabkan pneumonia terutama pada bayi. Pneumonia virus paling


sering terjadi pada bulan-bulan musim dingin. Angka serangan puncak
untuk pneumonia virus adalah 2-3 tahun dan menurun untuk sesudahnya.
c. Jamur : Histoplasma capsulatum, Cryptococcus neoformis, Blastomyces
dermalitides,Coccidiodes limmitis, Aspergylus species, Candida albicans.
d. Aspirasi : Makanan, kerosene (bensin, minyak tanah), cairan amnion, benda asing.
e. Pneumonia hipostatik
Disebabkan oleh tidur terlentang terlalu lama, misalnya pada anak yang sakit
dengan kesadaran menurun, penyakit lain yang harus istirahat di tempat tidur yang
lama sehingga terjadi kongesti pada paru belakang bawah. Kuman yang tadinya
komensal berkembang biak menjadi patogen dan menimbulkan radang. Oleh
karena itu pada anak yang menderita penyakit dan memerlukan istirahat panjang
seperti tifoid harus diubah ubah posisi tidurnya.
f. Sindrom Loeffler (Etiologi oleh larva A. Lumbricoedes.)
Secara klinis biasa, berbagai etiologi ini sukar dibedakan. Untuk pengobatan tepat,
pengetahuan tentang penyebab pneumonia perlu sekali, sehingga pembagian
etiologis lebih rasional dari pada pembagian anatomis.
Pneumokokus merupakan penyebab utama pneumonia. Pneumokokus dengan
serotipe 1 sampai 8 menyebabkan pneumonia pada orang dewasa lebih dari 80 %
sedangkan pada anak ditemukan tipe 14, 1, 6 dan 9.
Angka kejadian tertinggi ditemukan pada usia kurang dari 4 tahun dan berkurang
dengan meningkatnya umur.
Usia

Lahir sampai 20 hari

Etiologi yang sering


Bakteri
E. colli
Streptococcus Grup B
Listeria monocytogenes

Bakteri
ChlamydiaTrachomatis
Streptococcus pneumonia

Etiologi yang jarang


Bakteri
Bakteri Anaerob
Streptococcus Grup D
Haemophillus influenza
Streptococcus pneumonia
Ureaplasma Urealyticum
Virus
Virus cytomegalo
Virus Herpes Simplex
Bakteri
Bordetella pertussis
Haemophillus influenza tipe B

3 minggu sampai 3 bulan

4 bulan sampai 5 tahun

Virus
Virus Adeno
Virus Influenza
Virus Parainfluenza 1,2,3
Respiratory Syncytial Virus
Bakteri
Chlamydia pneumonia
Mycoplasma pneumonia
Streptococcus pneumonia
Virus
Virus Adeno
Virus Influenza
Virus Parainfluenza 1,2,3
Respiratory Syncytial Virus
Virus Rhino
Bakteri
Chlamydia pneumonia
Streptococcus pneumonia
Mycoplasma pneumonia

5 tahun sampai remaja

Moraxella catarrhalis
Staphylococcus Aureus
Ureaplasma Urealyticum
Virus
Virus cytomegalo
Bakteri
Haemophillus influenza
Moraxella catarrhalis
Neisseria meningitidis
Staphylococcus Aureus
Virus
Virus Varicella zoster

Bakteri
Haemophillus influenza
Legionella sp
Staphylococcus Aureus
Virus
Virus Adeno
Virus Epstein-barr
Virus Influenza
Virus Parainfluenza
Virus Rhino
Respiratory Syncytial Virus

Faktor non-infeksi :
Terjadi akibat disfungsi menelan atau refluks esophagus meliputi :
Bronkopneumonia hidrokarbon :
Terjadi oleh karena aspirasi selama menelan muntah atau sonde lambung. zat
hidrokarbon seperti pelitur, minyak tanah, dan bensin.
Bronkopneumoni lipoid :
Terjadi akibat pemasuksn obat yang mengandung minyak secara intranasal,
termasuk jeli petroleum. Setiap keadaan yang mengganggu mekanisme menelan seperti
palatoskizis, pemberian makanan dengan posisi horizontal, atau pemaksaan pemberian
makanan seperti minyak ikan pada anak yang sedang menangis. Keparahan penyakit
tergantung pada jenis minyak yang terinhalasi. Jenis minyak binatang yang mengandung
asam lemak tinggi bersifat paling merusak contohnya seperti susu dan minyak ikan.
KLASIFIKASI

Pneumonia dapat diklasifikasikan berdasarkan :


1. Asal infeksi
Community-acquired pneumonia (CAP)
infeksi parenkim paru yang didapatkan individu yang tidak sedang
dalamperawatan di rumah sakit paling sedikit 14 hari sebelum timbulnya gejala.
Hospital-acquired pneumonia (HAP)
infeksi parenkim paru yang didapatkan selama perawatan di rumah sakit yang
terjadi setelah 48 jam perawatan (Depkes : 72 jam) atau karena perawatan di rumah
sakit sebelumnya, dan bukan dalam stadium inkubasi.
2. Lokasi lesi di paru
Bronkopneumonia
Pneumonia lobaris
Pneumonia interstitiali
3. Etiologi
1.

Infeksi
Berdasarkan mikroorganisme penyebab :
Pneumonia bakteri
Pneumonia virus
Pneumonia jamur
Pneumonia mikoplasma

2. Non infeksi
Aspirasi makanan/asam lambung/benda asing/hidrokarbon/substansi lipoid,
reaksihipersensitivitas, drug- dan radiation-induced pneumonitis.
4. Karakteristik penyakit
Pneumonia Tipikal
Pneumonia Atipikal (mis. Mycoplasma pneumoniae, Chlamydia neumoniae,
Mycobacterium tuberculosis)
5. Derajat keparahan penyakit

Untuk mengklasifikasikan beratnya pneumonia perlu diperhatikan adanya tanda


bahaya (danger signs), yaitu : takipnea dan tarikan dinding dada bagian bawah ke
arah dalam (retraksi epigastrik).
PATOGENESIS
Mikroorganisme masuk ke dalam paru melalui jalan nafas secara percikan (droplet),
proses radang pneumonia dapat dibagi atas 4 stadium, yaitu :
1.

Stadium kongesti (4-12 jam pertama)


Kapiler melebar dan kongesti serta di dalam alveolus terdapat eksudat jernih, bakteri
dalam jumlah banyak, beberapa neutrofil dan makrofag.

2.

Stadium hepatisasi merah (48 jam berikutnya)


Lobus dan lobulus yang terkena menjadi padat dan tidak mengandung udara, warna
menjadi merah. Dalam alveolus didapatkan fibrin, leukosit netrofil, eksudat dan
banyak sekali eritrosit dan kuman. Stadium ini berlangsung sangat pendek.

3.

Stadium hepatisasi kelabu (3-8 hari)


Lobus masih tetap padat dan warna merah menjadi pucat kelabu. Permukaan pleura
suram karena diliputi oleh fibrin. Alveolus terisi fibrin dan leukosit, tempat terjadi
fagositosis pneumokokus. Kapiler tidak lagi kongestif.

4.

Stadium resolusi (8-11 hari)


Eksudat berkurang. Dalam alveolus makrofag bertambah dan leukosit mengalami
nekrosis dan degenerasi lemak. Fibrin diresorbsi dan menghilang. Secara patologi
anatomis bronkopneumonia berbeda dari pneumonia lobaris dalam hal lokalisasi
sebagai bercak bercak dengan distribusi yang tidak teratur. Dengan pengobatan
antibiotika urutan stadium khas ini tidak terlihat.
GEJALA KLINIS
Bronchopneumonia biasanya di dahului oleh infeksi saluran napas bagian atas
selama beberapa hari. Suhu dapat naik sangat mendadak sampai 39 40 0 C dan mungkin
disertai kejang demam yang tinggi. Anak megalami kegelisahan, kecemasan, dispnoe
pernapasan. Kerusakan pernapasan diwujudkan dalam bentuk napas cepat dan dangkal,
pernapasan cuping hidung, retraksi pada daerah supraclavikular, ruang-ruang intercostal,
sianosis sekitar mulut dan hidung, kadang-kadang disertai muntah dan diare. Pada awalnya
batuk jarang ditemukan tetapi dapat dijumpai pada perjalanan penyakit lebih lanjut, mulamula batuk kering kemudian menjadi produktif.

Pada bronkopneumonia, pemeriksaan fisik tergantung dari pada luas daerah yang
terkena. Pada perkusi toraks sering tidak ditemukan kelainan. Pada auskultasi mungkin
terdengar ronki basah nyaring halus sedang.
Bila sarang bronkopneumonia menjadi satu (konfluens), mungkin pada perkusi
terdengar keredupan dan suara pernapasan pada auskultasi terdengar mengeras. Pada
stadium resolusi, ronki terengar lagi. Tanpa pengobatan biasanya penyembuhan dapat
terjadi sesudah 2 3 minggu.
Gejala klinik pada bronkopneumonia juga dapat dibagi berdasarkan usia penderita.
1. Neonatus
Pneumonia pada neonatus jarang menimbulkan gejala batuk. Biasanya gejala yang
muncul adalah adanya apnea, takipnea, sianosis, retraksi pada pernapasan, muntah,
lethargi, tidak mau minum dan merintih. Merintih pada neonatus disebabkan oleh
pendekatan dari pita suara untuk mengusahakan peningkatan tekanan positif akhir
ekspirasi dan menjaga agar jalan napas bawah tetap terbuka. Merintih menandakan
adanya penyakit pada saluran napas bagian bawah. Retraksi muncul karena usaha
untuk meningkatkan tekanan intrathoraks untuk mengkompesasi menurunnya
compliance paru.
2. Bayi sampai usia 1 tahun
Merintih lebih jarang muncul, namun takipnea dan retraksi sering muncul dan
mungkin diikuti dengan batuk persisten, sumbatan, demam, iritabilitas, nafsu makan
yang menurun, demam menggigil serta gejala gastrointestinal seperti muntah dan
diare.
3. Balita usia pra sekolah
Gejala yang sering muncul adalah demam dan batuk, baik produktif ataupun
nonproduktif, takipnea, dan sumbatan. Terdapat juga muntah setelah batuk.
4. Anak dan remaja
Pada kelompok usia ini gejala yang sering muncul adalah demam, batuk, sumbatan,
nyeri dada, dehidrasi dan letargi. Dapat juga muncul gejala ekstrapulmonal seperti
nyeri perut dan muntah pada penderita pneumonia paru lobus inferior, nuchal rigidity
pada penderita pneumonia paru kanan lobus superior.

Pemeriksaan fisik
Dalam pemeriksaan fisik penderita bronkopneumoni ditemukan hal-hal sebagai
berikut :
Pada nafas terdapat retraksi otot epigastrik, interkostal, suprasternal, dan pernapasan
cuping hidung.
Pada palpasi ditemukan vokal fremitus yang simetris.
Konsolidasi yang kecil pada paru yang terkena tidak menghilangkan getaran fremitus
selama jalan napas masih terbuka, namun bila terjadi perluasan infeksi paru (kolaps
paru/atelektasis) maka transmisi energi vibrasi akan berkurang.

Pada perkusi tidak terdapat kelainan

Pada auskultasi ditemukan crackles sedang nyaring.


Crackles adalah bunyi non musikal, tidak kontinyu, interupsi pendek dan berulang
dengan spektrum frekuensi antara 200-2000 Hz. Bisa bernada tinggi ataupun rendah
(tergantung tinggi rendahnya frekuensi yang mendominasi), keras atau lemah
(tergantung dari amplitudo osilasi) jarang atau banyak (tergantung jumlah crackles
individual) halus atau kasar (tergantung dari mekanisme terjadinya). Crackles
dihasilkan oleh gelembung-gelembung udara yang melalui sekret jalan napas/jalan
napas kecil yang tiba-tiba terbuka.
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium
Peningkatan jumlah leukosit. Hitung leukosit dapat membantu membedakan
pneumoni viral dan bakterial.
Infeksi virus

: leukosit

normal

atau

meningkat

(tidak

melebihi

20.000/mm3 dengan limfosit predominan)


Infekai bakteri : leukosit meningkat 15.000-40.000 /mm3 dengan neutrofil
yang predominan. Pada hitung jenis leukosit terdapat
pergeseran ke kiri serta peningkatan LED.
Pemeriksaan radiologi
Foto rontgen toraks pada pneumonia ringan tidak rutin dilakukan, hanya
direkomendasikan pada pneumonia berat yang dirawat. Umumnya pemeriksaan yang
diperlukan untuk menunjang diagnosis pneumonia hanyalah pemeriksaan posisi AP.

Secara umum gambaran foto toraks terdiri dari :


- Infiltrat interstisial, ditandai dengan peningkatan corakan bronkovaskular,
peribronchial cuffing dan hiperaerasi.
- Infiltrat alveolar, merupakan konsolidasi paru dengan air bronchogram. Konsolidasi
dapat mengenai satu lobus disebut dengan pneumonia lobaris atau terlihat sebagai
lesi tunggal yang biasanya cukup besar, berbentuk sferis, berbatas yang tidak terlalu
tegas dan menyerupai lesi tumor paru disebut sebagai round pneumonia.
- Bronkopneumonia ditandai dengan gambaran difus merata pada kedua paru berupa
bercak-bercak infiltrat yang dapat meluas hingga daerah perifer paru disertai
dengan peningkatan corakan peribronkial.

C-Reactive Protein (CRP)


Secara klinis CRP digunakan sebagai alat diagnostik untuk membedakan antara
faktor infeksi dan noninfeksi, infeksi virus dan bakteri, atau infeksi bakteri
superfisialis dan profunda.
Pemeriksaan Mikrobiologis
Pemeriksaan mikrobiologik untuk diagnosis pneumonia anak tidak rutin
dilakukan kecuali pada pneumonia berat yang dirawat di RS. Untuk pemeriksaan
mikrobiologik, spesimen dapat berasal dari usap tenggorok, sekret nasofaring, bilasan
bronkus, darah, pungsi pleura, atau aspirasi paru.

DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan berdasarkan : Gejala klinis, Pemeriksaan fisik, Pemeriksaan
laboratorium dan gambaran radiologis.
Diagnosis etiologik berdasarkan pemeriksaan mikrobiologis dan atau/ serologis
merupakan dasar terapi yang optimal. Akan tetapi, penemuan bakteri penyebab tidak selalu
mudah karena memerlukan laboratorium penunjang yang memadai. Oleh karena itu,
pneumonia pada anak didiagnosis berdasarkan gambaran klinis yang menunjukkan
keterlibatan sistem respiratori serta gambaran radiologis. Prediktor paling kuat adalah
adanya demam, sianosis, dan lebih dari satu gejala respiratori sebagai berikut :
Takipnea, batuk, napas cuping hidung, retraksi, ronki dan suara napas melemah.
Akibat tingginya angka morbiditas dan mortalitas pnemonia pada balita,maka dalam
upaya penanggulangannya WHO mengembangkan pedoman diagnosis dan tata laksana
yang sederhana. Pedoman ini terutama ditujukan untuk pelaksana Pelayanan Kesehatan
Primer, dan sebagai pendidikan kesehatan masyarakat di negara berkembang. Tujuannya
ialah menyederhanakan kriterai diagnosis berdasarkan gejala klinis yang langsung dapat
dideteksi; menetapkan klasifikasi penyakit, dan menentukan dasar pemakaian antibiotik.
Gejala klinis sederhana tersebut dapat meliputi napas cepat, sesak napas, dan berbagai
tanda bahaya agar anak dapat ,langsung dirujuk ke pusat pelayanan kesehatan. Napas cepat
dinilai dengan menghitung frekuensi napas selama satu menit penuh ketika bayi dalam
keadaan tenang. Sesak napas dilihat dengan adanya tarikan dinding dada bagian bawah
kedalam ketika menarik napas (retraksi epigastrium). Tanda bahaya pada anak berusia 2
bulan-5 tahun adalah tidak dapat minum, kejang, kesadaran menurun, stridor, dan gizi
buruk; tanda bahaya untuk bayi berusia dibawah 2 bulan adalah malas minum, kejang,
kesadaran menurun, stridor,mengi dan demam atau terasa dingin.
Frekuensi pernapasan (hitung napas selama 1 menit ketika anak tenang). Napas
cepat :
Umur < 2 bulan : > 60 kali/menit
Umur 2-11 bulan : > 50 kali/menit
Umur 1-5 tahun : > 40 kali/menit
Umur > 5 tahun : > 30 kali/menit

Bayi dan anak berusia 2 bulan 5 tahun :


Pneumonia berat
1.

Bila ada sesak napas

2.

Harus dirawat dan diberikan antibiotik


Pneumonia
1. Bila tidak ada sesak napas
2. Ada napas cepat dengan laju napas :
a. >50x/menit untuk usia 2 bulan 1 tahun
b. >40x/menit untuk anak >1 5 tahun
3. Tidak perlu dirawat, diberikan antibiotik oral
Bukan pneumonia

1.

Bila tidak ada napas cepat dan sesak napas

2.

Tidak perlu dirawat dan tidak perlu antibiotik, hanya pengobatan simptomatis
seperti penurun panas.

Bayi berusia dibawah 2 bulan :


Pada bayi berusia bibawah 2 bulan, perjalanan penyakitnya lebih bervariasi, mudah
terjadi komplikasi dan sering menyebabkan kematian.
Klasifikasi pneumonia pada kelompok usia ini adalah sebagai berikut :
1.

Pneumonia

Bila ada napas cepat (>60x/menit) atau sesak napas

Harus dirawat dan diberikan antibiotik

2.

Bukan pneumonia

Tidak ada napas cepat atau sesak napas

Tidak perlu dirawat, cukup diberikan pengobatan simptomatis

PENATALAKSANAAN
Sebagian besar pneumonia pada anak tidak perlu dirawat inap. Indikasi perawatan
terutama berdasarkan berat ringannya penyakit, misalnya toksis, distres pernapasan, tidak
mau makan/minum atau ada penyakit dasar yang lain, komplikasi dan terutama
mempertimbangkan usia pasien. Neonatus dan bayi kecil dengan kemungkinan klinis
pneumonia harus dirawat inap.

Dasar tatalaksana pneumonia rawat inap adalah pengobatan kausal dengan antibiotik
yang sesuai, serta tindakan suportif. Pengobatan suportif meliputi pemberian cairan
intravena, terapi oksigen dan koreksi terhadap gangguan keseimbangan asam-basa,
elektrolit dan gula darah. Untuk nyeri dan demam dapat diberikan analgetik/antipiretik.
Suplementasi vitamin A tidak terbukti efektif. Penyakit penyerta harus ditanggulangi
dengan adekuat, komplikasi yang mungkin terjadi harus dipantau dan diatasi.
Penggunaan antibiotik yang tepat merupakan kunci utama keberhasilan pengobatan.
Terapi antibiotik harus segera diberikan pada anak dengan pneumonia yang diduga
disebabkan oleh bakteri.
Identifikasi dini mikroorganisme penyebab tidak dapat dilakukan karena tidak
tersedianya uji mikrobiologis cepat. Oleh karena itu,antibiotik dipilih berdasarkan
pengalaman empiris sesuai pola kuman tersering yaitu streptococcus pneumonia dan
haemophilus pneumoniae. Umumnya pemilihan antibiotik empiris didasarkan pada
kemungkinan etologi penyebab dengan mempertimbangkan usia dan keadaan klinis pasien
serta faktor epidemiologis.
Pemberian antibiotic sesuai dengan kelompok umur :
1.

Usia <3 bulan :

Penisilin (ampisilin 50-100 mg/kgBB/hari, i.m/i.v, terbagi dalam 4 dosis)

Aminoglikosida (gentamisin 5-7 mg/kgBB/hari, i.m/i.v , terbagi dalam 2


dosis)

2.

Usia >3 bulan:


o Ampisilin + Kloramfenikol (50-100 mg/kgBB/hari i.v terbagi dalam 3-4 dosis)
merupakan obat pilihan utama.
o Bila keadaan pasien berat atau terdapat empiema, antibiotic pilihan adalah
golongan sefalosporin. Antibiotic parenteral diberikan sampai 48-72 jam setelah
panas turun, dilanjutkan dengan pemberian per oral selama 7-10 hari.
o Bila diduga penyebab pneumonisnya adala S aureus, kloksasilin 50 mg/kgbb/hari
i.v terbagi dalam 4 dosis dapat segera di berikan. Bila alergi terhadap penisilin
dapat diberikan cefazolin, klindamicin atau vancomycin. Lama pengobatan untuk
stafilokok adalah 3-4 mgg.
o Dilakukan teapi bedah bila

ditemukan

komplikasi

pneumothoraks

atau

pneumomediastinum. Pemberiaan terapi suportif dapat berupa pemberian oksigen


sesuai derajat sesaknya. Tunda pemberian nutrisi secara oral bila anak masih sesak

dan mulai dengan nutrisi parenteral. Bila terjadi atelektasis diperlukan rujukkan ke
rehabilitasi medic.
DAFTAR PUSTAKA

Antonius., editor. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia. Edisi
2; 2011.Jilid 1 Hal 250

Said M. Pneumonia. Dalam: Supriyatno B., Rahajoe N., editors. Buku Ajar
Respirologi Anak.

Sectish T. Pneumonia. In: Behrman M., Kliegman S., editors. Nelson Textbook of
Pediatric. 17th edition. Wisconsin. Elsevier.2004. p. 1432-1435.