Anda di halaman 1dari 11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 HSA Superabsorben
HSA (Hidrogel Super Absorben) merupakan suatu jaringan rantai polimer
hidrofilik yang saling terikat silang satu sama lain dan memiliki kemampuan absorpsi
yang tinggi hingga 99,9% [7]. Sesuai dengan kemajuan dalam pengembangan di
bidang penelitian dan teknologi, maka pada beberapa tahun belakangan ini penelitian
yang berkaitan dengan HSA banyak di aplikasikan antara lain : pembuatan HSA dari
polimer poliakrilamida (PAAM) digunakan di bidang kosmetik sebagai pengganti
silikon dalam bedah plastik;HSA dari polimer PAAM sebagai bahan penyerap dalam
personal care misalnya sebagai absorben dalam popok bayi, pembalut wanita dan
pembalut luka [26];HSA Poli akrilamida ko kalium akrilat (AAm-ko-KA) untuk
mengeliminasi kontaminasi ion logam CU2+ dan Fe3+ dalam air serta memiliki
potensi digunakan sebagai wadah penyimpan air dan media pertumbuhan holtikultura
[25];HSA kitosan terikat silang asetaldehid diaplikasikan sebagai diaper [2]; dan HSA
berbasis PVP-Karaginan berikatan silang digunakan untuk menyerap eksudat dari
luka basah dan sebagai pendingin luka[15].Gugus fungsi hidrofilik yang terdapat
pada HSA diantaranya OH (Polivinil Alkohol), -COOH (Asam Akrilat), -CONH2
(Akrilamida),dan SO3H yang dapat menyerap air tanpa larut [8]. Hal ini karena
molekul-molekulnya terikat silang secara kimia maupun fisika dari rantai polimer
hidrofilik [9]. Sedangkan sifat ketidaklarutannya dalam air dan kemampuannya
mempertahankan bentuk dipengaruhi oleh struktur tiga dimensi dari HSA.
HSA merupakan polimer yang memiliki karakteristik hidrofilik (menyukai
air) ini disebabkan oleh kehadiran dari gugus fungsi yang bersifat water-solubizing.
Ketika HSA dimasukkan ke dalam air akan terjadi interaksi antara polimer dengan
molekul air. Kemampuan penyerapan air ditentukan dengan menghitung selisih massa
HSA yang sudah menyerap air pada massa yang relatif konstan dengan massa polimer

kering dibagi dengan massa polimer kering. Jika nilai selisih tersebut makin besar,
maka polimer tersebut memiliki kemampuan penyerapan air yang semakin baik.[12].
HSA memiliki sifat fisik dan kimia antara lain:
a. Termoplastik dan Termostat
Hidrogel berdasarkan asal-uslnya dapat berasal sebagai hasil proses sintesis
alami dan proses kimia atau fisika. Hidrogel yang terbentuk secara alami pada
umumnya berasal dari proses biologis yang terjadi di dalam tanaman dan
ewan misalnya, agar, gel lidah buaya, gelatin dan alginate, Sedangkan
hidrogel sintetik pada umumnya sebagai komponen utamanya adalah
monomer/polimer sintetik. Sifat fisik produk yang dihasilkan dari hidrogel
sintetis bersifat sebagai termoplastik dan thermoset. Termoplastik hidrogel
dapat larut dalam air, alcohol dan ikatan silang yang terbentuk terjadi
berdasarkan proses interaksi fisika dan mudah meleleh, sedangkan thermoset
adalah jenis hidrogel yang dibentuk bersifat rapuh serta bentuk relatif stabil.
b. Penyerapan Air (Water Absorption)
Jika hidrogl kering direndam dalam air, pada awalnya molekul air akan
menghidrasi gugus yang paling polar dalam rantai molekulnya seperti gugus
hidrofilik , dan gugus ionik serta gugus-gugus fungsi yang dapat membentuk
ikatan hidrogen. Hal yang terjadi selanjutnya yaitu selama proses tersebut
yaitu rantai molekul dalam jaringan hidrogel mulai mengembang disertai
dengan gugus-gugus fungsi hidrofobik mulai tersingkap (exposed) pada
molekul-molekul air dan berinteraksi melalui interaksi hidrofobik membentuk
sistem. Air yang dihasilkan dari proses interaksi tersebut dikenal sebagai air
terikat sekunder. Jika interaksi antara air dengan punggung polimer telah
mencapai keadaan jenuh, jaringan hidrogel akan menghambat air dan
selanjutnya berekspansi membentuk keadaan setimbang. Air yang dihasilkan
dari proses tersebut dikenal sebagai air bebas (free water) yang mengisi poripori dan mikropori dalam hidrogel yang menyebabkan hidrogel swelling
c. Absorpsi

Sifat absorpsi hidrogel adalah sifat permukaannya yang khas. Pada umumnya
senyawa yang dapat diabsorpsi hidrogel adalah senyawa larut dalam air yang
dipengaruhi oleh ukuran diameter senyawa, sedangkan sebagian besar
senyawa non polar tidak dapat diabsorpsi oleh hidrogel.
d. Sifat Permukaan Hidrogel
Sifat permukaan hidrogel dipengaruhi oleh sifat komponen utamanya yang
terdiri dari gugus hidrofilik dan hidrofobik. Jika hidrofilitas hidrogel relatif
dominan dibandingkan hidrofibisitasnya, hidrogel dengan mudah dibasahi
oleh air, Sedangkan pada hidrogel dengan sifat permukaannya didominasi
oleh gugus hidrofobik, permukaannya relatif sukar dibasahi oleh air dan
mudah dibasahi oleh minyak. Selain itu jika hidrogel terdiri dari gugus
hidrofilik dan hidrofobik yang terdistribusi secara heterogen, permukaan
hidrogel dapat dibasahi oleh air maupun minyak[15].
Mekanisme penggembungan pada HSA terjadi karena air akan terdifusi oleh
tekanan osmotik HSA lalu berinteraksi dengan gugus hidrofilik. Setelah mencapai
tahap kesetimbangan, air yang terserap akan terikat dengan gugus akrilat membentuk
ikatan hidrogen. Pada akhirnya air yang terserap ini akan tetap tertahan pada HSA
sehingga

polimer

mengalami

pengembungan.

Driving

force

untuk

HSA

menggembung adalah perbedaan antara tekanan osmotik di dalam dan di luar gel. Air
dapat diserap oleh HSA karena tekanan osmotik air lebih rendah dari tekanan osmotik
HSA. Sehingga, air akan masuk ke dalam HSA, karena zat akan berpindah dari
tekanan osmotik yang rendah ke tekanan osmotik yang tinggi. Penetralan rantai
polimer akan meningkatkan tekanan osmotik dari HSA dan meningkatkan kapasitas
penggembungan. Tetapi kapasitas penggembungan ini dibatasi oleh derajat crosslink,
maka hasil akhir dari kapasitas penggembungan adalah keseimbangan dari keduanya.
[12]. Bentuk HSA menyerupai air karena polimer tersebut hampir seluruh bagiannya
mengandung air [13]. Gambar 1 merupakan ilustrasi penampakan fisik sebelum dan
sesudah mengembang (swelling).

Gambar 1. Penampakan fisik HSA


HSA merupakan bahan yang dapat mengabsorpsi dan menahan air dalam
jumlah besar, tetapi tidak larut dalam air. Umumnya HSA dibuat dari polimer
hidrofilik baik dalam bentuk tunggal atau kombinasi dengan polimer lainnya dengan
teknik kimia atau radiasi sehingga membentuk ikatan silang (crosslinking). Polimer
yang digunakan dapat berupa polimer sintetis seperti PVA (Polivinil alkohol) dan
Poliakrilamida atau polimer alam seperti agar, karaginan, alginat serta beberapa
turunan dari senyawa karbohidrat lainnya.
Tujuan utama pengembangan HSA sebagai bahan biomaterial adalah untuk
memperbaiki daya serap serta untuk memperbaiki sifatnya melalui penggunaan
biomaterial [10]. Biomaterial adalah material yang digunakan untuk memperbaiki
kerusakan jaringan atau sebagai interface dengan lingkungan fisiologis. Biomaterial
dapat berupa bahan alam seperti kolagen, serat protein (silk, wool, dan rambut),
polisakarida (pati, selulosa dan kitosan) [11].

2.2 Asam Akrilat


Polimer yang digunakan untuk pembuatan HSA superabsorben harus
memenuhi persyaratan yaitu bersifat hidrofilik, tidak larut dalam air, mempunyai

gugus fungsi yang bersifat ionik [15]. Sifat hidrofilik muncul karena adanya gugus
polar. Ikatan utama polimer superabsorben terdiri dari gugus asam karboksilat (COOH) yang dapat diionisasi. Rantai polimer ini dapat diberi ikatan silang pada
gugus OH [24].
Asam akrilat merupakan bahan polimer superabsorben yang banyak
digunakan karena merupakan monomer hidrofilik yang dalam bentuk ioniknya (-COO-) mempunyai afinitas yang besar terhadap air. Namun demikian sintesis AA
(Asam Akrilat)

menjadi PAA (Poli-Asam Akrilat) sukar dilakukan baik dengan

reaksi kimia maupun radiasi. Hal ini dikarenakan gugus karboksilat (-COOH) dari
AA akan mengalami reaksi oksidasi menjadi gas karbon dioksida (CO2) [25]. Oleh
karena itu, untuk mencegah terjadinya reaksi oksidasi dari asam akrilat, maka pada
pembuatan HSA dari PAA berbasis AA digunakan AA dalam bentuk garam natrium
akrilat atau kalium akrilat.
Asam akrilat merupakan cairan yang tidak berwarna, berbau tajam khas,
mudah terbakar, memiliki Rumus molekul C3H4O2 dengan berat molekul 72,06
g/mol, Titik didih 141 C, dan Titik leleh 14 C

Gambar 2. Struktur Asam Akrilat


Beberapa penelitian menunjukkan asam akrilat mampu meningkatkan daya
serap, contohnya adalah HSA poli (Akrilamida ko asam akrilat ) yang digunakan
sebagai penyerapan air dibidang holtikultura, pembuatan HSA asam akrilat onggok
(hasil samping pengolahan singkong menjadi tapioka) menggunakan metode
kopolimerisasi pencangkokan yang menghasilkan daya serap terhadap air yang tinggi

yaitu 329,99 g/g [24].Efek konsentrasi asam akrilat dan ikatan silang pada pembuatan
HSA superabsorben poli (asam akrilatko akrilonitril) yaitu daya serap meningkat
dengan peningkatan konsetrasi asam akrilat dan daya serap menurun dengan
peningkatan ikatan silang, hal ini menunjukkan asam akrilat merupakan bahan
polimer yang mempunyai daya serap yang tinggi. [24]
2.3 Kitosan
Kitosan adalah produk alami turunan dari kitin, polisakarida yang ditemukan
dalam eksoskleton krustacea seperti udang, rajungan, dan kepiting. Secara kimiawi,
kitosan adalah sellulosa seperti serat tanaman yang mempunyai sifat-sifat sebagai
serat tetapi memiliki kemampuan untuk mengikat lemak seperti busa penyerap lemak
dalam saluran pencernaan. Kitosan pada umumnya tidak larut dalam air tetapi larut
dalam pelarut asam dengan pH di bawah 6 seperti asam asetat, asam format dan asam
laktat yang digunakan sebagai pelarut kitosan dan yang sering digunakan adalah
pelarut asam asetat 1%.
Kitosan mempunyai sifat mudah mengalami degradasi secara biologis, tidak
beracun, mempunyai berat molekul yang tinggi, tidak larut pada pH 6,5. Kitosan
mempunyai gugus amino bebas sebagai polikationik, dan pembentuk dispersi dalam
larutan asam asetat. gugus amino bebas inilah yang banyak memberikan kegunaan
pada kitosan. Bila dilarutkan dalam asam, kitosan akan menjadi polimer kationik
dengan struktur linier sehingga dapat digunakan dalam proses flokulasi, dan
pembentuk film
Kitosan adalah senyawa biopolimer yang diturunkan dari kitin, yaitu senyawa
dengan struktur homopolimer P-(1-4) Nacetyl-D-glucosamine. Kitosan adalah
turunan kitin yang paling banyak kegunaannya. Dibawah ini struktur dari kitosan:

10

Gambar 3. Struktur Kitosan


Kitosan telah digunakan secara luas dalam berbagai bidang, dari pengolahan limbah,
pemrosesan pangan, bidang kesehatan, dan bioteknologi. Selain itu kitosan
merupakan material penting dalam bidang farmasi karena sifatnya yang
biodegradabel, biokompatibel, antimikroba, non toksik, mudah membentuk emulsi,
pengikat air dan lemak, serta pembentuk gel [27].
Kitosan ini merupakan bahan yang sumbernya melimpah dan dapat
diperbaharui, maka dalam situasi pengurangan sumber-sumber alam yang
berkelanjutan serta perkembangan bioteknologi yang demikian pesat menjadikan
pemanfaatan sumber daya alam alternatif seperti limbah kulit udang merupakan hal
yang sangat diperlukan [28].
Pembuatan komposit polimer superabsorben dapat dilakukan dengan proses
pencangkokan (grafting) polimer dengan bahan alam dan proses penggabungan
(intercalating) monomer dengan bahan alam kemudian diikuti proses polimerisasi
[15] dengan tujuan untuk memperbaiki kelemahan superabsorben sebelumnya.
Banyak penelitian yang dilakukan untuk memodifikasi polimer dengan bahan lain
untuk meningkatkan kemampuan absorpsi dan ketahanan sifat fisiknya dengan
memanfaatkan bahan-bahan alam seperti kitosan. Kitosan merupakan polimer alami
yang bukan hanya terdapat secara melimpah di alam, akan tetapi juga bersifat tidak
beracun dan dapat terurai di alam. Beberapa penelitian yang telah dilakukan terkait
superabsorben-kitosan yaitu [29] dengan menggunakan bahan poli(akrilamida-ko
asam akrilat) yang mengandung kitosan dibuat mengunakan radiasi gamma untuk

11

menaikkan kemampuan HSA untuk mengadsorpsi ion logam Cu2+ dan Fe3+. [30]
dengan menggunakan bahan kopoli (asam akrilat)-kitosan yang dibuat mengunakan
iradiasi gamma untuk mengembangkan HSA superabsorben dan diperoleh rasio
swelling dalam air yaitu 252g/g.
2.4 Netralisasi Parsial
Ketika asam dan basa bereaksi satu sama lain, maka akan terbentuk spesies
garam yang biasanya diikuti dengan pembentukan air. Reaksi ini disebut dengan
reaksi netralisasi. Pada sub bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai asam akrilat
yang banyak dipakai sebagai bahan pembuat HSA karena asam akrilat merupakan
monomer hidrofilik yang dalam bentuk ionnya mempunyai afinitas yang besar
terhadap air, memiliki gugus penukar kation asam lemah yang dapat digunakan pada
proses pertukaran ion, dan mengandung ikatan rangkap yang mudah diinisiasi dengan
adanya inisiator sehingga mudah mengalami polimerisasi. Namun, sintesis asam
akrilat menjadi Poli (asam akrilat) PAA sulit dilakukan, baik dengan reaksi kimia
maupun iradiasi hal ini disebabkan karena gugus karboksilat (-COOH) dari asam
akrilat akan mengalami reaksi oksidasi menjadi gas karbon dioksida hal yang dapat
dilakukan untuk mencegah reaksi oksidasi yaitu menggunakan asam akrilat dalam
bentuk garam natrium akrilat atau kalium akrilat atau asam akrilat dinetralisasi
dengan basa. Proses netralisasi ini berpengaruh terhadap kemampuan absorpsi
polimer karena akan menyebabkan lebih banyak gugus hidrofilik yang tercangkok
pada rantai komposit yang mendukung untuk pengembangan jaringan dan
meningkatnya tekanan osmotik sehingga membantu penyerapan air [17,18,19].
Netralisasi perlu dilakukan karena monomer asam akrilat secara spontan akan
berpolimerisasi dan membentuk dimer asam akrilat (- akriloksi asam propionat).
Bentuk dimer asam akrilat ini mempunyai rintangan sterik yang lebih besar
dibandingkan dengan bentuk monomernya, sehingga sukar tercangkok pada rantai
komposit. Bentuk dimer dapat di hidrolisa dengan NaOH untuk menghasilkan
natrium akrilat dan -hidroksi asam propionat [31]. Netralisasi asam akrilat akan

12

meningkatkan kapasitas absorpsi dari superabsorben karena menyebabkan lebih


banyak gugus hidrofilik yang tercangkok pada rantai komposit, hal ini mendukung
untuk pengembangan jaringan dan meningkatnya tekanan osmotik sehingga
membantu penyerapan air [17,18,19].
Menurut Sunardi 2013 menyatakan bahwa kemampuan swelling dari polimer
akan meningkat dengan bertambahnya derajat netralisasi disebabkan oleh banyaknya
natrium akrilat yang tercangkok pada rantai selulosa.
Terjadinya swelling pada jaringan natrium akrilat disebabkan oleh dua hal,
pertama keberadaan ion-ion yang bergerak seperti Na+ dalam strukrur jaringan
superabsorben. Ion-ion ini tidak dapat meninggalkan jaringan karena keseimbangan
muatan dalam fase gel yang menyebabkan perbedaan tekanan osmotik antara fase gel
dan larutan. Perbedaan tekanan ini menghasilkan gaya dorong yang kuat bagi larutan
untuk masuk ke dalam fase gel. Proses osmosis terus berlanjut hingga perbedaan
tekanan osmotik menjadi nol [20]. Penyebab kedua adalah keberadaan ion-ion COOdalam struktur jaringan yang saling tolak menolak sehingga jarak antar jaringan
menjadi lebar atau membesar yang memungkinkan untuk menyerap lebih banyak air
dan swelling. Tetapi setelah netralisasi lebih dari 85% maka semakin banyak ion Na +
yang terdapat dalam jaringan yang akan berinteraksi dengan gugus COO- sehingga
mengurangi gaya tolak menolak antara gugus COO- . Akibatnya jarak antar jaringan
tetap dan kemampuan swelling menurun[21].
Dalam beberapa penelitian diperoleh derajat netralisasi maksimum adalah 60%
dimana penyerapan maksimumnya dalam akuades dan larutan NaCl 0,9% adalah
1268 g/g dan 93 g/g pada hidrogel poli asam akrilat [23]; 80% dengan penyerapan
maksimumnya dalam akuades dan larutan NaCl 0,9% adalah 405 g/g dan 46 g/g pada
hidrogel modifikasi antara asam akrilat, bubuk gandum dan jerami [18]; 85% dengan
penyerapan maksimum dalam akuades dan NaCl 0,9% adalah 133,76 g/g dan 33,83
g/g pada hidrogel bubuk jerami [19]; dan 57 g/g dalam akuades pada hidrogel etil
selulosa [22].

13

2.5 Sintesis Hidrogel Superabsorben


Secara umum ada dua metode yang dapat digunakan untuk membuat HSA
yaitu Teknik Konvensional dan Teknik Radiasi. Pada metode pertama, HSA dibuat
melalui polimerisasi dan pembentukan ikatan silang (crosslinking) monomer
hidrofilik dengan bantuan agen pengikat silang atau melalui pembentukan ikatan
silang polimer larut dalam air menggunakan reaksi organik khusus yang melibatkan
gugus fungsi polimer tersebut. Bahan inisiator yang biasanya digunakan ialah garam
persulfat (K+, Na+, NH4+) atau hidrogen peroksida, sedangkan bahan pengikat silang
ialah N,N-metilena-bisakrilamida (MBA) atau 1,1,1-trimetilpropana triakrilat. Pada
metode iradiasi, HSA dapat dibuat melalui polimerisasi dan pembentukan ikatan
silang dari monomer dengan menggunakan sinar gamma atau elektron. Dengan
teknik ini tidak diperlukan adanya inisiator kimia atau agen pengikat silang, proses
lebih mudah dan produk yang didapat lebih murni [14]. Pemakaian radiasi ionisasi
yang banyak digunakan untuk pembuatan HSA adalah sinar gamma yang berasal dari
sumber radioisotop cobalt-60 dan elektron cepat yang dihasilkan oleh akselerator
elektron. Dengan teknik radiasi ini, HSA dapat dibuat dengan meradiasi monomer
baik dalam bentuk larutan dalam air maupun dalam bentuk padat.
Metode radiasi sintesis HSA mempunyai beberapa keunggulan antara lain
adalah sebagai berikut;
Reaksi dapat dikontrol
Tidak terdapat residu
Tidak dibutuhkan katalisator, inisiator, dan crosslinker
Reaksi dapat berlangsung pada suhu yang relatif rendah
Pelarut dapat menginduksi reaksi
Fabrikasi dan sterilisasi dapat dilakukan dengan cara serentak
[15]
Pada proses polimerisasi dengan radiasi pengion bisa dibagi menjadi tiga
tahap, yaitu [16].
1. Tahap inisiasi
Pada tahap inisiasi mula-mula terjadi reaksi pembentukan radikal bebas oleh
suatu inisiator (sinar gamma). Bila sinar gamma berinteraksi dengan monomer
(M) makan M akan membentuk radikal. Dapat digambarkan sebagai berikut:
Sinar gamma

14

R
R (reaksi pembentukan radikal).(1)
Radikal yang terbentuk (R) bereaksi dengan monomer
R + M
RM(2)
2. Tahap Propagasi
Pada tahap ini radikal-radikal bebas yang dihasilkan oleh reaksi inisiasi
tumbuh dari satu molekul menjadi molekul yang lebih besar. Radikal (RM)
bertemu dengan molekul monomer lainnya sehingga terjadi pembentukan
radikal-radikal yang lebih besar. Reaksi propagasi dapat digambarkan sebagai
berikut:
RM + M

RM2 (propagasi)..(3)

3. Tahap terminasi
Pada tahap ini pertumbuhan radikal propagasi sudah mengalami kejenuhan
kemudian mulai melakukan reaksi penggabungan sampai mencapai
keseimbangan dan reaksi berhenti.
RM2 + RM2
P..(4)