Anda di halaman 1dari 10

REAKSI LEPRA

1. Reaksi kusta tipe 1 disebabkan oleh hipersensitivitas selular


(reaksi reversal upgrading)

Gambar Reaksi Tipe 1

Gambaran reaksi kusta tipe 1

2. Reaksi Tipe 2, disebabkan oleh hipersensitivitas humoral


(ENL/eritema nodusum leprosum)

Gambaran reaksi kusta tipe 2

Penatalaksanaan ENL bertujuan untuk mengatasi peradangan akut,


mengurangi

nyeri,

menghentikan

kerusakan

mata

dan

mencegah

serangan selanjutnya.
Penderita ENL harus istirahat dan mendapat terapi anti inflamasi.
Prednisone merupakan obat pilihan terutama sedang dan berat dimulai
dengan dosis tinggi 40 mg/hari. Prednisone akan menunjukkan reaksi
cepat sehingga dosis dapat diturunkan secepat mungkin sampai 30
mg/hari, dan kemudian diturunkan dengan perlahan.

Gambar 2. Reaksi Tipe 2 atau ENL

Perbedaan Reaksi Kusta Tipe 1 dan Tipe 2


No
.
1
2

Gejala / Tanda
Kondisi umum
Peradangan
kulit

Waktu terjadi

Tipe 1
Baik atau demam

Tipe2
Buruk,

ringan
di Bercak kulit lama

malaise dan febris


Timbul
nodul

menjadi lebih

kemerahan, lunak

meradang (merah),

dan

dapat timbul bercak

Biasanya

baru.

lengan

Tipe Kusta

nyeri

tekan.
pada
dan

tungkai.

Nodul

dapat

pecah

Awal pengobatan

(ulserasi)
Biasanya

MDT

pengobatan
lama,

disertai

Dapat tipe PB dan

setelah
yang

umumnya

lebih dari 6 bulan


Hanya terjadi pada

MB
Sering terjadi,

Saraf

MB
Dapat terjadi

umumnya berupa
nyeri tekan saraf
dan/atau gangguan
6

fungsi saraf
Hampir tidak ada

Peradangan
pada organ lain

Terjadi pada mata,


KGB, sendi, ginjal,
testis, dll

Perbedaan Reaksi Kusta Ringan dan Berat Tipe 1 dan Tipe 2

No
1

Gejala /
Tanda
Kulit

Tipe 1

Tipe 2

Ringan
Bercak :

Berat
Bercak :

Ringan
Nodul :

Berat
Nodul : merah,

merah,

merah,

Merah,

panas, nyeri

tebal,

tebal,

panas,

yang

panas, nyeri panas, nyeri nyeri

bertambah

yang

parah sampai

bertambah

pecah

parah
sampai
2

Saraf Tepi

Nyeri pada

pecah
Nyeri pada

Nyeri pada

Nyeri pada

perabaan

perabaan

perabaan

perabaan (+)

Keadaan

(-)
Demam (-)

(+)
Demam (+)

(-)
Demam

Demam (+)

Umum
Gangguan

(+)
-

pada organ

Terjadi

lain

peradangan
pada:
Mata

Iridocyclitis
Testis:
Epididimoorchi
tis
Ginjal : Nefritis
Kelenjar limpa:
Limfadenitis
Gangguan
pada tulang,
hidung dan
tenggorokan

* Bila ada reaksi pada lesi kulit yang dekat dengan saraf, dikategorikan sebagai reaksi berat
Fenomena Lucio
Fenomena lucio merupakan reaksi kusta yang sangat berat yang terjadi pada kusta tipe
lepromatosa non nodular difus. Gambaran klinis berupa plak atau infiltrate difus, berwarna
merah muda, bentuk tidah teratur dan terasa nyeri. Lesi terutama di ekstermitas, kemudian
meluas keseluruh tubuh. Lesi yang berat tampak lebih eritematous disertai purpur, bula
kemudian dengan cepat terjadi nekrosis serta ulserasi yang nyeri. Lesi lambat menyembuh dan
akhirnya terbentuk jaringan parut.
Gambaran histopatologi

menunjukan nekrosis epidermal iskemik dengan nekrosis

pembuluh darah superficial, edema, dan proliferasi endothelial pembuluh darah lebih dalam.
Didapatkan basil M.Leprae di endotel kapiler. Walaupun tidak ditemukan infiltrate
polimorfonuklear seperti pada ENL namun dengan imunofluorensi tampak deposit
imonoglobulin dan komplemen didalam dinding pembuluh darah. Titer kompleks imun yang
beredar dan krigobulin sangat tinggi pada semua penderita.

Terapi reaksi kusta


Terapi reaksi kusta ringan
Non medikamentosa
Istirahat, imobilisasi dan berobat jalan.
Medikamentosa
Aspirin

mengatasi nyeri dan anti radang, 600-1200 mg diberikan setiap 4 jam

Klorokuin

kombinasi aspirin dan klorokuin lebih baik khasiatnya dibandingkan pemberian


tunggal, 3 kali 150 mg/hari
Efek toksik pada penggunaan jangka panjang dapat berupa ruam pada kulit,
fotosintesis serta gangguan gastrointestinal, penglihatan dan pendengaran.

Antimon

dugunakan pada reaksi tipe 2 yang ringan untuk mengatasi rasa nyeri sendisendi dan tulang
Dosis 2-3 ml diberikan selang-seling
Efek samping ruam pada kulit, bradikardi, hipotensi.

Talidomid

obat ini digunakan pada reaksi tipe 2 agar dapat melepaskan ketergantungan
terhadap kortikosteroid
Dosis mula-mula 400 mg/hari sampai reaksi teratasi, kemudian berangsur-angsur
diturunkan sampai 50 mg/hari. Tidak dianjurkan pada wanita subur.

Terapi reaksi kusta berat

Jika terjadi reaksi kusta dapat diberikan prednison 30 60 mg/hari serta pemberian obat
simtomatis, lalu diturunkan. Pedoman terapi adalah:
1.

Terapi standar untuk pasien PB dengan reaksi kusta


Minggu
1-2

2.

Dosis harian
40 mg

3-4

30 mg

5-6

20 mg

7-8

15 mg

9-10

10 mg

11-12

5 mg

Terapi standar pasien MB dengan reaksi kusta. Pada reaksi tipe 2


dapat ditambah dengan Klofazimin 300 mg/hari selama 1 bulan, 200 mg/hari selama 3-6
bulan selanjutnya 100 mg/hari sampai gejala menghilang.
Minggu
1-4

Dosis harian
40 mg

5-8

30 mg

9-12

20 mg

13-16

15 mg

17-20

10 mg

21-24

5 mg

MONITORING DAN EVALUASI PENGOBATAN


1. Setiap petugas harus memonitor tanggal pengambilan obat
2. Apabila penderita terlambat mengambil obat paling lama dalam 1 bulan harus dilakukan
pelacakan
3. RFT dapat dinyatakan setelah dosis dipenuhi tanpa diperlukan pemeriksaan laboratorium.
Setelah RFT penderita dikeluarkan dari form monitoring penderita
4. Masa pengamatan : pengamatan setelah RFT dilakukan secara pasif
a. Tipe PB selama 2 tahun
b. Tipe MB selama 5 tahun tanpa diperlukan pemeriksaan laboratorium
5. Penderita PB yang telah mendapatkan pengobatan 6 dosis (blister) dalam waktu 6-9 bulan
dinyatakan RFT, tanpa harus pemeriksaan laboratorium
6. Penderita MB yang telah mendapat pengobatan MDT 12 dosis (blister) dalam waktu 12-18
bulan dinyatakan RFT, tanpa harus pemeriksaan laboratorium
7. Defaulter
Jika seorang penderita PB tidak mengambil obatnya lebih dari 3 bulan maka dinyatakan
sebagai Defaulter PB.
Jika seorang penderita MB tidak mengambil obatnya lebih dari 6 bulan maka dinyatakan
sebagai Defaulter MB.
Tindakan bagi penderita defaulter :
a. Dikeluarkan dari monitoring dan register
b. Bila kemudian datang lagi maka harus dilakukan pemeriksaan klinis ulang, pengobatan
menyesuaikan dengan gejala klinis yang didapat
8. Relaps/ Kambuh
Dinyatakan kambuh setelah dinyatakan RFT timbul lesi baru pada kulit maka untuk
menyatakan relaps harus dikonfirmasikan ke dokter kusta yang memiliki kemampuan klinis
dalam mendiagnosis relaps. Untuk relaps MB jika ternyata pada pemeriksaan ulang BTA
setelah RFT terjadi peningkatan Indeks Bakteriologi 2 atau lebih disbanding saat diagnosis
maka penderita dinyatakan Relaps. Rujuan dalam kasus relaps memungkinkan karena kasus
relaps bukan termasuk kedaruratan. Bila hasil relaps telah dikonfirmasikan maka penderita
diobati sesuai hasil pemeriksaan pada saat itu.
Catatan :
Untuk mereka yang pernah mendapat pengobatan Dapson monoterapi (sebelum
diperkenalkan MDT) namun kemudian muncul kembali sebagai tanda kusta aktif yang
membutuhkan MDT, maka penderita tersebut dimasukkan dalam kategori relaps.
9. Indikasi pengeluaran penderita dari register adalah : RFT, meninggal, pindah, salah
diagnosis, ganti klasifikasi, default.

10. Pada keadaan khusus dapat diberikan sekaligus beberapa blister disertai dengan pesan
penyuluhan lengkap dengan efek samping dan indikasi untuk kembali ke pelayanan
kesehatan.