Anda di halaman 1dari 75

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Kanker leher rahim adalah keganasan dari leher rahim (serviks) yang disebabkan oleh
virus HPV (Human Papiloma Virus). Kanker payudara merupakan neoplasma spesifik
yang terlazim pada wanita dan merupakan sebab utama kematian akibat kanker pada
wanita berusia 40-44 tahun.
Di dunia, kanker merupakan penyebab kematian nomor 2 setelah penyakit
kardiovaskular. Diperkirakan 7,5 juta orang meninggal akibat kanker, dan lebih dari 70%
kematian terjadi di negara miskin dan berkembang. Jenis kanker tertinggi pada
perempuan di dunia adalah kanker payudara (38 per 100.000 perempuan) dan kanker
leher rahim (16 per 100.000 perempuan).
Di Indonesia, prevalensi kanker adalah sebesar 1,4 per 1.000 penduduk (Riskesdas
2013), serta merupakan penyebab kematian nomor 7 (5,7%) dari seluruh penyebab
kematian (Riskesdas, 2013). Estimasi insidens kanker payudara di Indonesia sebesar 40
per 100.000 perempuan dan kanker leher rahim 17 per 100.000 perempuan
(Globocan/IARC 2012). Angka ini meningkat dari tahun 2002, dengan insidens kanker
payudara 26 per 100.000 perempuan dan kanker leher rahim 16 per 100.000 perempuan
(Globocan/IARC 2012). Jenis kanker tertinggi pada pasien rawat inap di rumah sakit
seluruh Indonesia tahun 2010 adalah kanker payudara (28,7%), disusul kanker leher
rahim (12,8%). Estimasi tahun 1985, hanya 5% perempuan di negara sedang berkembang
yang mendapat pelayanan penapisan, dibandingkan dengan 40% perempuan di negara
maju. Berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar 2013, Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI dan Data Rutin Subdit
Pengendalian Penyakit Kanker Dit. Penanggulangan Penyakit Tidak Menular, Ditjen
Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan RI.
Estimasi jumlah kasus kanker servik dan dan kanker payudara di profinsi Sumatera Barat
untuk kanker serviks sebesar 2.285 dan untuk kanker payudara sebanyak 2.285.
Tingginya prevalensi kanker di Indonesia perlu dicermati dengan tindakan
pencegahan dan deteksi dini yang telah dilakukan oleh penyedia layanan kesehatan.
Kasus kanker yang ditemukan pada stadium dini serta mendapat pengobatan yang cepat
dan tepat akan memberikan kesembuhan dan harapan hidup lebih lama. Oleh karena itu,

penting dilakukan pemeriksaan rutin secara berkala sebagai upaya pencegahan dan
deteksi dini kanker.
Komite Penanggulangan Kanker Nasional (KPKN) merupakan Komite yang dibentuk
berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK
02.02/MENKES/389/2014 pada 17 Oktober 2014. KPKN bertujuan untuk menurunkan
angka kesakitan dan angka kematian akibat kanker di Indonesia dengan mewujudkan
penanggulangan kanker yang terintegrasi, melibatkan semua unsur pemerintah, swasta,
dan masyarakat.
Upaya untuk mencegah kanker didukung pula oleh Ibu Negara, Iriana Joko Widodo,
beserta Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja (OASE-KK), yang terdiri dari para
pendamping menteri dan unsur eksekutif lain, yang bersifat nonprofit dan berbadan
hukum. Organisasi ini mewadahi serangkaian program untuk mendukung tercapainya
nawacita Presiden Jokowi yang terkait upaya revolusi mental dan pemberdayaan
masyarakat yang melibatkan berbagai kementerian/institusi/lembaga terkait yang sudah
ada sejak lama, secara profesional di masyarakat dengan bersinergi sehingga dapat
mendukung tercapainya visi, misi dan tujuan OASE-Kabinet Kerja. Komitmen
pencegahan kanker diwujudkan dengan pencanangan program nasional peran serta
masyarakat dalam pencegahan dan deteksi dini kanker pada perempuan Indonesia untuk
periode 2015-2019.
Skrining merupakan upaya deteksi dini untuk mengidentifikasi penyakit atau kelainan
yang secara klinis belum jelas dengan menggunakan tes, pemeriksaan atau prosedur
tertentu. Upaya ini dapat digunakan secara cepat untuk membedakan orang-orang yang
kelihatannya sehat tetapi sesungguhnya menderita suatu kelainan. Skrining kanker
payudara di Puskesmas Penyelenggara Deteksi Dini dilakukan dengan Clinical Breast
Examination (CBE) dan skrining kanker serviks dilakukan dengan tes IVA (Inspeksi
Visual Asam Asetat).
Deteksi dini kanker leher rahim dan kanker payudara dilakukan pada kelompok
sasaran perempuan 20 tahun ke atas, namun prioritas program deteksi dini di Indonesia
pada perempuan usia 30-50 tahun dengan target 50 % perempuan sampai tahun 2019.
Deteksi dini kanker payudara dilakukan dengan pemeriksaan payudara klinis (SADANIS)
yaitu pemeriksaan payudara oleh petugas kesehatan sambil mengajarkan kepadan
Ibu/klien untuk melakukan SADARI setiap bulannya

Berdasarkan data rutin Subdit Kanker Direktorat Penyakit Tidak Menular, Direktorat
Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan RI,
sampai dengan tahun 2013, program deteksi dini kanker serviks dan kanker payudara
baru diselenggarakan pada 717 Puskesmas dari total 9.422 Puskesmas di 32 provinsi.
Dengan demikian, dapat dilihat bahwa Puskesmas yang memiliki program deteksi dini
masih sangat sedikit atau sekitar 7,6%.
Untuk capaian deteksi dini kanker cervik dan kanker payudara di Puskesmas Tanjung
Paku tergolong masih rendah dari target yakni 7,22 % ( 50 orang dari target 692 orang )
1.2.

Rumusan Masalah
Rendahnya cakupan deteksi dini kanker payudaara dan kanker serviks diwilayah kerja
puskesmas Tanjung Paku kota Solok tahun 2014 dan belum diketahuinya masalah yang
menyebabkan rendahnya cakupan deteksi dini kanker payudaara dan kanker serviks

1.3.
Tujuan Penulisan
1.3.1. Tujuan Umum
Mengetahui dan memahami tentang program atau upaya kesehatan masyarakat yang
dilaksanakan oleh puskesmas Tanjung Paku Kota Solok.
1.3.2. Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui bagaimana cakupan pecapaian program deteksi dini Ca
Mamme dan Ca Cerviks diwilayah kerja puskesmas Tanjung Paku kota Solok
tahun 2014.
2. Untuk mengetahui masalah-masalah yang mempengaruhi dalam pencapaian
program deteksi dini Ca Mamme dan Ca Cerviks diwilayah kerja puskesmas
Tanjung Paku kota Solok tahun 2014.
3. Untuk megetahui dan mencari bagaimana solusi yang diharapkan dapat mengatasi
masalah yang menghambat pencapaian program deteksi dini Ca Mamme dan Ca
Cerviks diwilayah kerja puskesmas Tanjung Paku kota Solok tahun 2014.
1.4.
Manfaat Penulisan
1.4.1. Bagi penulis
Menambah pengetahuan penulis tentang manfaat deteksi dini Ca Mamme dan Ca
Cerviks dan pencapaian deteksi dini Ca Mamme dan Ca Cerviks diwilayah kerja
puskesmas Tanjung Paku kota Solok tahun 2014.
1.4.2. Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penulisan ini nantinya dapat dijadikan sebagai bahan acuan untuk mahasiswa
yang akan mengevaluasi program yang sama.
1.4.3. Bagi Puskesmas Tanjung Paku
Sebagai alernatif pemecahan masalah rendahnya cakupan program deteksi dini Ca
Mamme dan Ca Cerviks diwilayah kerja puskesmas Tanjung Paku.
3

1.5.

Ruang Lingkup Penulisan


Ruang lingkup penulisan dalam pembahasan masalah ini adalah mengenai gambaran
management program deteksi dini Ca Mamme dan Ca Cerviks diwilayah kerja puskesmas
Tanjung Paku kota Solok tahun 2014.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Situasi Penyakit Kanker Secara Global dan di Indonesia


Penyakit kanker merupakan salah satu penyebab kematian utama di seluruh dunia.
Pada tahun 2012, kanker menjadi penyebab kematian sekitar 8,2 juta orang. Kanker paru,
hati, perut, kolorektal, dan kanker payudara adalah penyebab terbesar kematian akibat
kanker setiap tahunnya.

Gambar 2.1. estimasi persentase kasus baru dan kematian akibat kanker pada penduduk dunia
tahun 2012
Berdasarkan Data GLOBOCAN, International Agency for Research on Cancer
(IARC), diketahui bahwa pada tahun 2012 terdapat 14.067.894 kasus baru kanker dan
8.201.575 kematian akibat kanker di seluruh dunia. Gambar 1 menunjukkan bahwa
kanker payudara, kanker prostat, dan kanker paru merupakan jenis kanker dengan
persentase kasus baru (setelah dikontrol dengan umur) tertinggi, yaitu sebesar 43,3%,
30,7%, dan 23,1%. Sementara itu, kanker paru dan kanker payudara merupakan
penyebab kematian (setelah dikontrol dengan umur) tertinggi akibat kanker.
Dilihat pada Gambar 2 di bawah ini, maka dapat diketahui bahwa kanker paru
ditemukan pada penduduk laki-laki, yaitu sebesar 34,2%, sedangkan kematian akibat
kanker paru pada penduduk laki-laki sebesar 30,0%. Pada penduduk perempuan,
kanker payudara masih menempati urutan pertama kasus baru dan kematian akibat
kanker, yaitu sebesar 43,3% dan 12,9%.

Gambar 2.2. estimasi persentase kasus baru da kematian akibat kanker pada penduduk lakilaki dan perempuan di dunia tahun 2012
Pada kuesioner Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilaksanakan oleh
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI tahun
2013, salah satu pertanyaan adalah apakah penduduk pernah didiagnosis oleh dokter.
Berdasarkan wawancara tersebut, didapatkan prevalensi penderita kanker pada
penduduk semua umur di Indonesia sebesar 1,4. Prevalensi kanker tertinggi berada
pada Provinsi DI Yogyakarta, yaitu sebesar 4,1, jauh lebih tinggi dibandingkan
dengan angka nasional. Prevalensi tertinggi berikutnya berada pada Provinsi Jawa
Tengah dan Bali, yaitu sebesar 2,1 dan 2,0. Informasi mengenai prevalensi
kanker di Indonesia tahun 2013 menurut provinsi dapat dilihat pada Gambar 7 di
bawah ini.

Gambar 2.3. prevalensi kanker pada penduduk semua umur di Indonesia tahun 2013

Estimasi jumlah penderita kanker serviks dan kanker payudara di Indonesia pada
tahun 2013 berdasarkan Tabel 1, diketahui bahwa Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah dan
Jawa Barat memiliki estimasi jumlah penderita kanker serviks dan kanker payudara
terbesar, sementara itu Provinsi Gorontalo dan Papua Barat memiliki estimasi jumlah
penderita terkecil dari seluruh provinsi.
Tabel 2.1. Estimasi Jumlah Kasus, Jumlah Provider, Jumlah Trainer, dan Skrining Kanker
Serviks dan Payudara berdasarkan Provinsi, Tahun 2013.

No

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
34

Provinsi

Aceh
Sumatera Utara
Sumatera Barat
Riau
Jambi
Sumatera Selatan
Bengkulu
Lampung
Kep. Bangka
Belitung
Kep. Riau
DKI Jakarta
Jawa Barat
Jawa Tengah
DI Yogyakarta
Jawa Timur
Banten
Bali
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara
Timur
Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Sulawesi Utara
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara
Gorontalo
Sulawesi Barat
Maluku
Maluku Utara
Papua Barat
Papua
INDONESIA

Estimasi Jumlah
Kasus
Kanker
Kanker
Serviks
Payuda
ra
1.401
1.869
4.694
2.682
2.285
2.285
894
894
1.792
977
1.544
772
705
705
765
1.148
323
194

0
53
40
34
18
20
20
20
0

0
70.268
507
0
0
0
498
151
0

0
6
6
12
18
6
15
6
18

1.416
5.919
15.635
19.734
2,703
21.313
2.252
1.438
958
1.002

378
3.946
6.701
11.511
4.325
9.688
2.252
1.233
479
1.252

17
249
86
243
90
118
35
169
83
31

685
82.615
129.538
101.107
9.280
92.345
600
78.359
3.059
322

12
10
6
21
6
6
5
7
36
18

882
335
2.087
752
1.615
680
3.400
354
0
625
824
819
40
2.018
98.692

441
112
1.328
1.879
346
408
2.975
590
111
188
165
218
80
466
61.682

91
21
0
51
0
20
83
70
0
0
0
0
20
0
1.682

2.655
1.119
38.213
486
21.833
3.052
8.469
51
0
73
0
0
46
105
645.436

24
23
15
6
6
6
6
16
9
11
23
19
15
12
405

Jumlah
provider

Skrining

Jumlah
trainer

Sumber : Diolah berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar 2013, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,
Kementerian Kesehatan RI dan Data Rutin Subdit Pengendalian Penyakit Kanker Dit. Penanggulangan Penyakit Tidak
Menular, Ditjen Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan RI.

2.2.
Kanker Serviks
2.2.1. Definisi
Definisi Kanker leher rahim adalah kanker primer yang terjadi pada jaringan leher
rahim (serviks)10 Sementara lesi prakanker, adalah kelainan pada epitel serviks akibat
terjadinya perubahan sel-sel epitel, namun kelainannya belum menembus lapisan basal
(membrana basalis).
2.2.2. Etiologi
Penyebab primer kanker leher rahim adalah infeksi kronik leher rahim oleh satu atau
lebih virus HPV (Human Papiloma Virus) tipe onkogenik yang beresiko tinggi menyebabkan
kanker leher rahim yang ditularkan melalui hubungan seksual (sexually transmitted
disease).3,11,12 Perempuan biasanya terinfeksi virus ini saat usia belasan tahun, sampai
tigapuluhan, walaupun kankernya sendiri baru akan muncul 10-20 tahun sesudahnya.9
Infeksi virus HPV yang berisiko tinggi menjadi kanker adalah tipe 16, 18, 45, 56,13 dimana
HPV tipe 16 dan 18 ditemukan pada sekitar 70% kasus1. Infeksi HPV tipe ini dapat
mengakibatkan perubahan sel-sel leher rahim menjadi lesi intra-epitel derajat tinggi (highgrade intraepithelial lesion/ LISDT) yang merupakan lesi prakanker. Sementara HPV yang
berisiko sedang dan rendah menyebabkan kanker (tipe nononkogenik) berturut turut adalah
tipe 30, 31, 33, 35, 39, 51, 52, 58, 66 dan 6, 11, 42, 43, 44, 53, 54,55.13
2.2.3. Predisposisi
Faktor risiko terjadinya infeksi HPV adalah hubungan seksual pada usia dini, berhubungan
seks dengan berganti-ganti pasangan,

dan memiliki pasangan yang suka berganti-ganti

pasangan.1 Infeksi HPV sering terjadi pada usia muda, sekitar 25-30% nya terjadi pada usia
kurang dari 25 tahun.

Beberapa ko-faktor yang memungkinkan infeksi HPV berisiko

menjadi kanker leher rahim adalah :


a. Faktor HPV :
tipe virus
infeksi beberapa tipe onkogenik HPV secara bersamaan
jumlah virus (viral load)
b. Faktor host/ penjamu :

status imunitas, dimana penderita imunodefisiensi (misalnya penderita HIV


positif) yang terinfeksi HPV lebih cepat mengalami regresi menjadi lesi prekanker
dan kanker.

c.

jumlah paritas, dimana paritas lebih banyak lebih berisiko mengalami kanker

Faktor eksogen

Merokok

Ko-infeksi dengan penyakit menular seksual lainnya

Penggunaan jangka panjang ( lebih dari 5 tahun) kontrasepsi oral

2.2.4. Perjalanan Alamiah Kanker Leher Rahim


Pada perempuan saat remaja dan kehamilan pertama, terjadi metaplasia sel skuamosa
serviks. Bila pada saat ini terjadi infeksi HPV, maka akan terbentuk sel baru hasil
transformasi dengan partikel HPV tergabung dalam DNA sel. Bila hal ini berlanjut maka
terbentuklah lesi prekanker dan lebih lanjut menjadi kanker. Sebagian besar kasus displasia
sel servix sembuh dengan sendirinya, sementara hanya sekitar 10% yang berubah menjadi
displasia sedang dan berat. 50% kasus displasia berat berubah menjadi karsinoma. Biasanya
waktu yang dibutuhkan suatu lesi displasia menjadi keganasan adalah 10-20 tahun.
Kanker leher rahim invasif berawal dari lesi displasia sel-sel leher rahim yang
kemudian berkembang menjadi displasia tingkat lanjut, karsinoma in-situ dan akhirnya
kanker invasif. Penelitian terakhir menunjukkan bahwa prekursor kanker adalah lesi displasia
tingkat lanjut (high-grade dysplasia) yang sebagian kecilnya akan berubah menjadi kanker
invasif dalam 10-15 tahun, sementara displasia tingkat rendah (lowgrade dysplasia)
mengalami regresi spontan.

Gambar 2.4. Patofisiologi Kanker

NIS : Neoplasma Intraepitel Serviks Nasiell et.al.16 melaporkan waktu yang dibutuhkan
untuk progresivitas lesi tipe NIS2 menjadi karsinoma in-situ paling cepat terjadi pada
kelompok perempuan usia 26-50 tahun yaitu 40-41 bulan, sementara pada kelompok
perempuan usia dibawah 25 tahun dan diatas 50 tahun berturut-turut adalah 54-60 bulan, dan
70-80 bulan.
2.2.5. Klasifikasi dan stadium
1. Sistem Klasifikasi Lesi Prakanker
Ada beberapa sistem klasifikasi lesi prakanker yang digunakan saat ini, dibedakan
berdasarkan pemeriksaan histologi dan sitologinya. Berikut tabel klasifikasi lesi prakanker:
Table 2.2. Klasifikasi Lesi Prakanker

ASC-US : atypical squamous cell of undetermined significance


ASC-H : atypical squamous cell: cannot exclude a high grade squamous epithelial lesion
LISDR : Lesi Intraepitel Skuamosa Derajat Rendah
LISDT : Lesi Intraepitel Skuamosa Derajat Tinggi (Dikutip dari Comprehensive Cervical Cancer
Control. A Guide to Essential Practice, Geneva : WHO, 2006)

2. Stadium Kanker Rahim


International Federation of Gynecologists and Obstetricians Staging System for Cervical
Cancer (FIGO) pada tahun 2000 menetapkan stadium kanker sebagai berikut :
Table 2.3. Stadium Kanker Rahim

10

2.2.6.

Skrining Kanker Serviks


Berbagai metode skrining kanker leher telah dikenal dan diaplikasikan, dimulai sejak

tahun 1960-an dengan pemeriksaan tes Pap. Selain itu dikembangkan metode visual dengan
gineskopi, atau servikografi, kolposkopi. Hingga penerapan metode yang dianggap murah
yaitu dengan tes IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat). Skrining DNA HPV juga
ditujukan untuk mendeteksi adanya HPV tipe onkogenik, pada hasil yang positif, dan
memprediksi seorang perempuan menjadi berisiko tinggi terkena kanker serviks.
1. Gejala dan Tanda
Lesi prakanker dan kanker stadium dini biasanya asimtomatik dan hanya dapat
terdeteksi dengan pemeriksaan sitologi. Boon dan Suurmeijer melaporkan bahwa sebanyak
76% kasus tidak menunjukkan gejala sama sekali.18 Jika sudah terjadi kanker akan timbul
gejala yang sesuai dengan tingkat penyakitnya, yaitu dapat lokal atau tersebar. Gejala yang
timbul dapat berupa perdarahan pasca sanggama atau dapat juga terjadi perdarahan diluar
masa haid dan pasca menopause. Jika tumornya besar, dapat terjadi infeksi dan menimbulkan
cairan berbau yang mengalir keluar dari vagina. Bila penyakitnya sudah lanjut, akan timbul
nyeri panggul, gejala yang berkaitan dengan kandung kemih dan usus besar. Gejala lain yang
timbul dapat berupa gangguan organ yang terkena misalnya otak (nyeri kepala, gangguan
kesadaran), paru (sesak atau batuk darah), tulang (nyeri atau patah), hati (nyeri perut kanan
atas, kuning, atau pembengkakan) dan lain-lain.
2. Penegakan Diagnosis
Diagnosis definitif harus didasarkan pada konfirmasi histopatologi dari hasil biopsi
lesi sebelum pemeriksaan dan tatalaksana lebih lanjut dilakukan. Tindakan penunjang
diagnostik dapat berupa kolposkopi, biopsi terarah, dan kuretase endoservikal.
2.2.7. Tatalaksana Lesi Prakanker Serviks
Penatalaksanaan lesi prakanker serviks yang pada umumnya tergolong NIS
(Neoplasia Intraepitelial Serviks) dapat dilakukan dengan observasi saja, medikamentosa,
terapi destruksi, dan/atau terapi eksisi.

11

Tindakan observasi dilakukan pada tes pap dengan hasil HPV, atipia, NIS I yang
termasuk dalam Lesi Intraepitelial Skuamousa Derajat Rendah (LISDR).
Terapi NIS dengan destruksi dapat dilakukan pada LISDR dan LISDT (Lesi Intra
epitelial Skuamousa Derajat Tinggi). Demikian juga, terapi eksisi dapat ditujukan pada
LISDR dan LISDT. Perbedaan antara terapi destruksi dan terapi eksisi adalah pada terapi
destruksi tidak mengangkat lesi, tetapi pada terapi eksisi ada spesimen lesi yang diangkat.
Tabel 2.4. Garis besar penanganan lesi prakanker serviks

Terdapat beberapa metode pengobatan lesi prakanker serviks


1. Terapi NIS dengan Destruksi Lokal
Yang termasuk pada metode terapi ini adalah krioterapi, elektrokauter,
elektrokoagulasi, dan CO2 laser.

Penggunaan setiap metode ini bertujuan untuk

memusnahkan daerah-daerah terpilih yang mengandung epitel abnormal, yang kelak akan
digantikan dengan epitel skuamosa yang baru.
a. Krioterapi
Krioterapi ialah suatu usaha penyembuhan penyakit dengan cara mendinginkan
bagian yang sakit sampai dengan suhu di bawah nol derajat Celcius. Pada suhu
sekurang-kurangnya 25 derajat Celcius sel-sel jaringan termasuk NIS akan mengalami
nekrosis. Sebagai akibat dari pembekuan tersebut, terjadi perubahan-perubahan
tingkat seluler dan vaskuler, yaitu (1) sel-sel mengalami dehidrasi dan mengerut; (2)
konsentrasi elektrolit dalam sel terganggu; (3) syok termal dan denaturasi kompleks
lipid protein; (4) status umum sistem mikrovaskular. Pada awalnya digunakan cairan
Nitrogen atau gas CO2, tetapi pada saat ini hampir semua alat menggunakan N2O.
b. Elektrokauter
12

Metode elektrokauter dapat dilakukan pada pasien rawat jalan. Penggunaan


elektrokauter memungkinkan untuk pemusnahan jaringan dengan kedalaman 2 atau 3
mm. Lesi NIS I yang kecil di lokasi yang keseluruhannya terlihat pada umumnya
dapat disembuhkan dengan efektif.
c. Diatermi Elektrokoagulasi Radikal
Diatermi elektrokoagulasi dapat memusnahkan jaringan lebih luas dan efektif jika
dibandingkan dengan elektrokauter, tetapi harus dilakukan dengan anestesi umum.
Tindakan ini memungkinkan untuk memusnahkan jaringan serviks sampai kedalaman
1 cm, tetapi fisiologi serviks dapat dipengaruhi, terutama jika lesi tersebut sangat luas.
Dianjurkan penggunaannya hanya terbatas pada kasus NIS 1/2 dengan batas lesi yang
dapat ditentukan.
d. CO2 Laser
Penggunaan sinar laser (light amplication by stimulation emission of radiation), suatu
muatan listrik dilepaskan dalam suatu tabung yang berisi campuran gas helium, gas
nitrogen, dan gas CO2 sehingga akan menimbulkan sinar laser yang mempunyai
panjang gelombang 10,6u. Perubahan patologis yang terdapat pada serviks dapat
dibedakan dalam dua bagian, yaitu penguapan dan nekrosis. Lapisan paling luar dari
mukosa serviks menguap karena cairan intraselular mendidih, sedangkan jaringan
yang mengalami nekrotik terletak di bawahnya. Volume jaringan yang menguap atau
sebanding dengan kekuatan dan lama penyinaran.
2. Terapi NIS dengan Eksisi
a. LEEP ( Loop Electrosurgical Excision Procedures)
Ada beberapa istilah dipergunakan untuk LEEP ini. Cartier dengan menggunakan
kawat loop kecil untuk biopsi pada saat kolposkopi yang menyebutnya dengan istilah
diatermi loop.

Prendeville et al. menyebutnya LLETZ (Large Loop Excisional

Tranformation Zona).
b. Konisasi.
Tindakan konisasi dapat dilakukan dengan berbagai teknik:
1) konisasi cold knife
2) konisasi diatermi loop (=LLETZ), dan
3) konisasi laser.
Di dalam praktiknya, tindakan konisasi juga sering merupakan tindakan

diagnostik.

c. Histerektomi
Tindakan histerektomi

pada NIS kadang-kadang merupakan terapi terpilih pada

beberapa keadaan, antara lain, sebagai berikut:


1) Histerektomi pada NIS dilakukan pada keadaan kelanjutan konisasi.
13

2) Konisasi akan tidak adekuat dan perlu dilakukan histerektomi dengan mengangkat
bagian atas vagina.
3) Karena ada uterus miomatosus; kecurigaan invasif harus disingkirkan.
4) Masalah teknis untuk konisasi, misalnya porsio mendatar pada usia lanjut.

2.2.8. Tatalaksana Kanker Leher Rahim Invasif


Pada prinsipnya tatalaksana kanker leher rahim disesuaikan

dengan

kebutuhan penderita untuk memberikan hasil yang terbaik (tailored to the best interest
of patients). Terapi lesi prakanker leher rahim dapat berupa bedah krio (cryotherapy),
atau loop electrosurgical excision procedure (LEEP), keduanya adalah tindakan yang
relatif sederhana dan murah, namun sangat besar manfaatnya untuk mencegah
perburukan lesi menjadi kanker. Sementara terapi kanker leher rahim dapat berupa
pembedahan, radioterapi, atau kombinasi keduanya. Kemoterapi tidak digunakan
sebagai terapi primer, namun dapat diberikan bersamaan dengan radioterapi. Terapi
kanker leher rahim lebih kompleks, memiliki risiko dan efek samping, dan tentu saja
lebih mahal. Karenanya pencegahan lesi prakanker menjadi kanker sangat penting dan
sangat bermanfaat.
2.2.9. Deteksi Dini Kanker Serviks
Kanker leher rahim adalah penyakit yang diawali oleh infeksi virus HPV yang
merubah sel-sel leher rahim sehat menjadi displasia dan bila tidak diobati pada
gilirannya akan tubuh menjadi kanker leher leher rahim.

Prinsip dasar kontrol

penyakit ini adalah memutus mata rantai infeksi, atau mencegah progresivitas lesi
displasia sel-sel leher rahim (disebut juga lesi prakanker) menjadi kanker. Bila lesi
displasia ditemukan sejak dini dan kemudian segera diobati, hal ini akan mencegah
terjadinya kanker leher rahim dikemudian hari.

Lesi prakanker yang perlu

diangkat/diobati adalah jenis LISDT (lesi intraepitelial skuamosa derajat tinggi),


adapun jenis LISDR (lesi intraepitelial skuamosa derajat rendah) dianggap lesi yang
jinak dan sebagian besar akan mengalami regresi secara spontan.Perempuan yang
terkena lesi prakanker diharapkan dapat sembuh hampir 100%, sementara kanker
yang ditemukan pada stadium dini memberikan harapan hidup 92%. Karenanya
deteksi sedini mungkin sangat penting untuk mencegah dan melindungi perempuan
dari kanker leher rahim.

14

WHO menyebutkan 4 komponen penting yang menjadi pilar dalam


penanganan kanker leher rahim, yaitu : pencegahan infeksi HPV, deteksi dini melalui
peningkatan kewaspadaan dan program skrining yang terorganisasi, diagnosis dan
tatalaksana, serta perawatan paliatif untuk kasus lanjut.
Deteksi dini kanker leher rahim meliputi program skirining yang terorganisasi
dengan sasaran perempuan kelompok usia tertentu, pembentukan sistem rujukan
yang efektif pada tiap tingkat pelayanan kesehatan, dan edukasi bagi petugas
kesehatan dan perempuan usia produktif.
Skrining dan pengobatan lesi displasia (atau disebut juga lesi prakanker)
memerlukan biaya yang lebih murah bila dibanding pengobatan dan penatalaksanaan
kanker leher rahim.
Beberapa hal penting yang perlu direncanakan dalam melakukan deteksi dini
kanker, supaya skrining yang dilaksanakan terprogram dan terorganisasi dengan baik,
tepat sasaran dan efektif, terutama berkaitan dengan sumber daya yang terbatas :
1. Sasaran yang akan menjalani skrining
WHO mengindikasikan skrining dilakukan pada kelompok berikut :
a. setiap perempuan yang berusia antara 25-35 tahun, yang belum pernah menjalani tes
Pap sebelumnya, atau pernah mengalami tes Pap 3 tahun sebelumnya atau lebih.
b. Perempuan yang ditemukan lesi abnormal pada pemeriksaan tes Pap sebelumnya
c. Perempuan yang mengalami perdarahan abnormal pervaginam, perdarahan pasca
sanggama

atau perdarahan pasca menopause atau mengalami tanda dan gejala

abnormal lainnya.
d. Perempuan yang ditemukan ketidaknormalan pada leher rahimnya
Amerika Serikat dan Eropa merekomendasikan sasaran dan interval skrining kanker servik
seperti tampak pada tabel berikut :
Tabel 2.5. Skrining Kanker Servik
Pedoman pencegahan dan skrining kanker di Eropa dan Amerika
European
ACS
ACOG
ASCCP
US Preventive Service
guidelines
(American
(American (American Task Force; 2003
for quality
Cancer
College of Society for http://www.preventiveservi
assurance
Society);
Obstetrici
Colposcop ces.ahrq.gov
in cervical
2007
ans &
y&
cancer
Gynecolo
Cervical
screening;
gists);
Pathology)
2007
2003
; 2006
http://www
.acog.org

15

Waktu awal
skrining
dengan tes
Pap

Usia 2030
tahun

Penggunaa
n tes HPV
pada
program
skrining

Kira-kira 3
tahun
setelah
aktivitas
seksual
yang
pertama,
namun
tidak lebih
dari usia 21
tahun
Bersamaan
dengan
pemeriksaa
n sitologi
pada
wanita 30
tahun

Belum
direkomend
asikan,
masih
menunggu
hasil
penelitian
Interval Skrining
- Tes Pap
Tiap 35
Tiap tahun;
konvension tahun
atau tiap 2
al
3 tahun
untuk
wanita usia
30 tahun

- skrining
dengan tes
HPV

Tidak ada
laporan

Penghentian
skrining

Setelah usia
6065 tahun
dengan 3
kali berturutturut hasil
skrining
negatif

Kira-kira 3
tahun
setelah
aktivitas
seksual
yang
pertama,
namun
tidak lebih
dari usia
21 tahun
Bersamaa
n dengan
pemeriksa
an sitologi
pada
wanita
30 tahun

Tidak ada
laporan

Tiap
tahun;
atau tiap
23 tahun
untuk
wanita
usia 30
tahun
dengan 3
kali
berturutturut hasil
skrining

dengan 3 kali
berturut-turut
hasil skrining
negative
Tiap 3 tahun
bila hasil tes
HPV dan
sitologi
negatif
Wanita usia
70 tahun
dengan 3
kali berturutturut hasil tes
negatif dan
tanpa hasil
tes abnormal
dalam 10
tahun terakhir

Kira-kira 3 tahun setelah


aktivitas seksual yang
pertama, namun tidak
lebih dari usia 21 tahun

Tidak cukup evidens

Tidak ada
laporan

Sekurangkurangnya
tiap 3 tahun

negatif

Tiap 3 tahun
bila hasil tes
HPV dan
sitologi
negatif
Dari buktibukti yang
ada tidak
dapat ditarik
kesimpulan
untuk
menentukan
batas usia
penghentian
skrining .

Tidak ada
laporan

Tidak cukup
evidens

Tidak ada
laporan

Untuk wanita
usia 65
tahun dengan
hasil tes
negatif, yang
bukan risiko
tinggi kanker
serviks

16

Manajement
hasil skrining
yang
abnormal ASC-US ASC-H - LSIL
- HSIL

(Dikutip

dari

ASC-US:
reflex HPV
testing; LSIL:
ulang
pemeriksaan
sitologi atau
kolposkopi;
ASC-H:
kolposkopi;
HSIL:
kolposkopi
dan biopsi.

Barzon

et

Tidak ada
laporan

al.

Tidak ada
laporan

Infectious

Agents

ASC-US:
HPV tes, atau
ulang tes
sitologi, atau
lakukan
kolposkopi
pada wanita
20 tahun;
ASC-H:
kolposkopi
LSIL:
kolposkopi
HSIL: segera
lakukan
LEEP atau
kolposkopi
dengan
endocervical
assessment.
and

Cancer

Tidak ada
laporan

2008

3:14

doi:10.1186/1750-9378-3-14)

2. Interval skrining
American Cancer Society (ACS) merekomendasikan idealnya skrining dimulai 3 tahun
setelah dimulainya hubungan seksual melalui vagina. Beberapa penelitian menyebutkan
bahwa risiko munculnya lesi prakanker baru terjadi setelah 3-5 tahun setelah paparan
HPV yang pertama.
Interval yang ideal untuk dilakukan skrining adalah 3 tahun.9 Skrining 3 tahun sekali
memberi hasil yang hampir sama dengan skrining tiap tahun. ACS merekomendasikan
skrining tiap tahun dengan metode tes Pap konvensional atau 2 tahun sekali bila
menggunakan pemeriksaan sitologi cairan (liquid-based cytology), setelah skrining yang
pertama.7 Setelah perempuan berusia 30 tahun, atau setelah 3 kali berturut-turut skrining
dengan hasil negatif, skrining cukup dilakukan 2-3 tahun sekali.7 Bila dana sangat
terbatas skrining dapat dilakukan tiap 10 tahun atau sekali seumur hidup dengan tetap
memberikan hasil yang signifikan.
WHO merekomendasikan:
Bila skrining hanya mungkin dilakukan 1 kali seumur hidup maka sebaiknya

dilakukan pada perempuan antara usia 35-45 tahun.


Untuk perempuan usia 25-49 tahun, bila sumber daya memungkinkan, skrining

hendaknya dilakukan 3 tahun sekali.


Untuk perempuan dengan usia diatas 50 tahun, cukup dilakukan 5 tahun sekali

17

Bila 2 kali berturut-turut hasil skrining sebelumnya negatif, perempuan usia diatas
65 tahun, tidak perlu menjalani skrining.
Tidak semua perempuan direkomendasikan melakukan skrining setahun sekali
3. Metode skrining yang akan digunakan
Ada beberapa metode skrining yang dapat digunakan, tergantung dari ketersediaan
sumber daya. Metode skrining yang baik memiliki beberapa persyaratan, yaitu akurat,
dapat diulang kembali (reproducible), murah, mudah dikerjakan dan ditindak-lanjuti,
akseptabel, serta aman. Beberapa metode yang diakui WHO adalah sebagai berikut:
1) Metode Sitologi
a. Tes Pap konvensional
Tes Pap atau pemeriksaan sitologi diperkenalkan oleh Dr. George Papanicolau
sejak tahun 1943. Sejak tes ini dikenal luas, kejadian kanker leher rahim di negaranegara maju menurun drastis. Pemeriksaan ini merupakan suatu prosedur pemeriksaan
yang mudah,murah, aman, dan non-invasif. Beberapa penulis melaporkan sensitivitas
pemeriksaan ini berkisar antara 78-93%, tetapi pemeriksaan ini tak luput dari hasil
positif palsu sekitar 16-37% dan negatif palsu 7-40% Sebagian besar kesalahan
tersebut disebabkan oleh pengambilan sediaan yang tidak adekuat, kesalahan dalam
proses pembuatan sediaan dan kesalahan interpretasi.
b. Pemeriksaan sitologi cairan (Liquid-base cytology/LBC)
Dikenal juga dengan Thin Prep atau monolayer. Tujuan metode ini adalah
mengurangi hasil negatif palsu dari pemeriksaan Tes Pap konvensional dengan
cara optimalisasi teknik koleksi dan preparasi sel. Pada pemeriksaan metode ini
sel dikoleksi dengan sikat khusus yang dicelupkan ke dalam tabung yang sudah
berisi larutan fiksasi. Keuntungan penggunaan teknik monolayer ini adalah sel
abnormal lebih tersebar dan mudah tertangkap dengan fiksasi monolayer sehingga
mudah dikenali. Kerugiannya adalah butuh waktu yang cukup lama untuk
pengolahan slide dan biaya yang lebih mahal.
2) Metode pemeriksaan DNA-HPV
Deteksi DNA HPV dapat dilakukan dengan metode hibridisasi berbagai cara
mulai dari cara Southern Blot yang dianggap sebagai baku emas, filter in situ, Dot
Blot, hibridisasi in situ yang memerlukan jaringan biopsi, atau dengan cara
pembesaran, seperti pada PCR (Polymerase Chain Reaction) yang amat sensitif.
3) Metode inspeksi visual
a. Inspeksi visual dengan lugol iodin (VILI)
b. Inspeksi visual dengan asam asetat (IVA)
Selain

dua metode visual ini, dikenal juga metode visual kolposkopi dan

servikografi.
18

Setiap metode skrining mempunyai sensitifitas dan spesifisitas berbeda. Sampai


saat ini belum ada metode yang ideal dimana sensitivitas dan spesifisitas 100%
(absolut). Oleh karena itu, dalam pemeriksaan skrining, setiap wanita harus mendapat
penjelasan dahulu (informed consent) Berikut adalah tabel perbandingan metode
dengan kelemahan dan kelebihannya masing-masing :
Table 2.6. tabel perbandingan metode skrining kanker serviks
Metod
e
Sitologi
konvension
al (Tes
Pap)

Prosedur
Sampel
diambil oleh
tenaga
kesehatan
dan diperiksa
oleh
sitoteknisi di
laboratorium

Kelebihan

Metode yang
telah lama
dipakai
Diterima secara
luas
Pencatatan
hasil
pemeriksaan
permanen
Training dan
mekanisme
kontrol kualitas
telah baku
Investasi yang
sederhana
pada program
yang telah ada
dapat
meningkatkan
pelayanan
Spesifisitas
tinggi

Kekurangan

Liquid
Base
Citology

Sampel
diambil oleh
tenaga
kesehatan,
dimasukkan
dalam cairan
fiksasi dan
dikirim untuk
diproses dan
di periksa di
laboratorium

Jarang
diperlukan
pengambilan
sample ulang
bila bahan
sediaan tidak
adekuat
Waktu yang
dibutuhkan
untuk
pembacaan
hasil lebih
singkat bila
dilakukan oleh
sitoteknisi yang
berpengalaman

Hasil tes tidak


didapat dengan
segera
Diperlukan
sistem yang
efektif untuk
follow up
wanita yang
diperiksa
setelah ada
hasil
pemeriksaan
Diperlukan
transport bahan
sediaan dari
tempat
pemeriksaan
ke
laboratorium,
transport hasil
pemeriksaan
ke klinik
Sensitivitas
sedang

Status

Telah lama
digunakan
di banyak
negara
sejak tahun
1950
Terbukti
menurunka
n angka
kematian
akibat
kanker
leher rahim
di negaranegara
maju

Hasil tes tidak


didapat dengan
segera
Fasilitas
laboratorium
lebih mahal
dan canggih

19

Tes DNA
HPV

Tes DNA
HPV secara
molekuler.
Pengambilan
sampel dapat
dilakukan
sendiri oleh
wanita dan
dibawa ke
laboratorium

Sampel dapat
digunakan juga
untuk tes
molekuler
(misalnya HPV
tes

Pengambilan
sampel lebih
mudah
Proses
pembacaan
otomatis oleh
alat khusus
Dapat
dikombinasi
dengan Tes
Pap untuk
meningkatkan
sensitivitas
Spesifitas tinggi
terutama pada
perempuan
>35 tahun

Mudah dan
murah

Metode
Visual (IVA
dan VILI)

Pemulasan
leher rahim
dapat
dilakukan
oleh tenaga
kesehatan
yang terlatih
(bidan/
dokter/peraw
at)

Hasil didapat
dengan segera
Sarana yang
dibutuhkan
sederhana

Dapat
dikombinasi
dengan
tatalaksana
segera
lainnya yang
cukup dengan
pendekatan
sekali
kunjungan
(single visit
approach)

Hasil tes tidak


didapat dengan
segera
Biaya lebih
mahal
Fasilitas
laboratorium
lebih mahal
dan canggih
Perlu reagen
khusus
Spesifitas
rendah pada
perempuan
muda (,35
tahun)

Digunakan
secara
komersial di
negara-negara
maju sebagai
tambahan
pemeriksaan
sitologi

Spesifitas
rendah,
sehingga
berisiko
overtreatment
Tidak ada
dokumentasi
hasil
pemeriksaan
Tidak cocok
untuk skrining
pada
perempuan
pasca
menopause
Belum ada
standarisasi
Seringkali perlu
training ulang
untuk tenaga
kesehatan

Belum
cukup data
dan
penelitian
yang
mendukung
, terutama
sehubunga
n dengan
efeknya
terhadap
penurunan
angka
kejadian
dan
kematian
kanker
leher rahim

Saat ini
hanya
direkomendas
ikan pada
daerah
proyek
Dikutip dari Comprehensive Cervical Cancer Control. A Guide to Essential
Practice. Geneva : WHO, 2006
20

2.2.10. Metode IVA


Di negara maju, skrining secara luas dengan metode pemeriksaan sitologi tes Pap
telah menunjukkan hasil yang efektif dalam menurunkan insidens kanker leher rahim.
Namun di negara-negara berkembang yang hanya memiliki sumber daya terbatas,
skrining hanya menjangkau sebagian kecil perempuan saja, terutama di daerah perkotaan.
Ada beberapa kelemahan tes Pap diantaranya keterbatasan jumlah laboratorium sitologi
dan tenaga sitoteknologi terlatih, sehingga menyebabkan hasil tes Pap baru didapat dalam
rentang waktu yang relatif lama (berkisar 1 hari- 1 bulan). Skrining dengan metode tes
Pap memerlukan tenaga ahli, sistem transportasi, komunikasi dan tindak lanjut (followup) yang belum dapat dipenuhi oleh negara-negara berkembang. Hanya sebagian kecil
dari perempuan yang menjalani dan mendapatkan hasil tes Pap juga menjalani evaluasi
dan pengobatan yang semestinya bila ditemukan abnormalitas. Sebagai konsekuensinya,
angka insidens kanker leher rahim tetap tinggi dan kebanyakan pasien datang pada
stadium lanjut.
Masalah yang berkembang akibat keterbatasan metode tes Pap inilah yang
mendorong banyak penelitian untuk mencari metode alternatif skrining kanker leher
rahim. Salah satu metode yang dianggap dapat dijadikan alternatif adalah metode inspeksi
visual dengan asam asetat (IVA). Efektivitas IVA sudah di teliti oleh banyak peneliti.
Walaupun demikian perbandingan masing-masing penelitian tentang IVA agak sulit
dievaluasi karena perbedaan protokol dan populasi. Secara umum dapat dikatakan bahwa
sensitivitas IVA untuk mendeteksi High Grade SIL berkisar 60-90 %., sehingga dapat
dikatakan bahwa sensitifitas IVA setara dengan sitologi walaupun spesifisitasnya lebih
rendah.
Metode IVA memberi peluang dilakukannya skrining secara luas di tempat-tempat
yang memiliki sumberdaya terbatas, karena metode ini memungkinkan diketahuinya hasil
dengan segera dan terutama karena hasil skrining dapat segera ditindaklanjuti. Metode
satu kali kunjungan (single visit approach) dengan melakukan skrining metode IVA dan
tindakan bedah krio untuk temuan lesi prakanker (see and treat) memberikan peluang
untuk peningkatan cakupan deteksi dini kanker leher rahim, sekaligus mengobati lesi
prakanker.
1. Dasar Pemeriksaan IVA

21

Pemeriksaan inspeksi visual dengan asam asetat (IVA) adalah pemeriksaan yang
pemeriksanya (dokter/bidan/paramedis) mengamati leher rahim yang telah diberi asam
asetat/asam cuka 3-5% secara inspekulo dan dilihat dengan penglihatan mata telanjang.
Pemeriksaan IVA pertama kali diperkenalkan oleh Hinselman (1925) dengan cara
memulas leher rahim dengan kapas yang telah dicelupkan dalam asam asetat 35%.
Pemberian asam asetat itu akan mempengaruhi epitel abnormal, bahkan juga akan
meningkatkan osmolaritas cairan ekstraseluler. Cairan ekstraseluler yang bersifat
hipertonik ini akan menarik cairan dari intraseluler sehingga membran akan kolaps dan
jarak antar sel akan semakin dekat. Sebagai akibatnya, jika permukaan epitel mendapat
sinar, sinar tersebut tidak akan diteruskan ke stroma, tetapi dipantulkan keluar sehingga
permukaan epitel abnormal akan berwarna putih, disebut juga epitel putih (acetowhite).
Daerah metaplasia yang merupakan daerah peralihan akan berwarna putih juga
setelah pemulasan dengan asam asetat tetapi dengan intensitas yang kurang dan cepat
menghilang. Hal ini membedakannya dengan proses prakanker yang epitel putihnya lebih
tajam dan lebih lama menghilang karena asam asetat berpenetrasi lebih dalam sehingga
terjadi koagulasi protein lebih banyak. Jika makin putih dan makin jelas, main tinggi
derajat kelainan jaringannya.58 Dibutuhkan 1-2 menit untuk dapat melihat perubahanperubahan pada epitel. Leher rahim yang diberi 5% larutan asam asetat akan berespons
lebih cepat daripada 3% larutan tersebut. Efek akan menghilang sekitar 50-60 detik
sehingga dengan pemberian asam asetat akan didapatkan hasil gambaran leher rahim
yang normal (merah homogen) dan bercak putih (mencurigakan displasia). Lesi yang
tampak sebelum aplikasi larutan asam asetat bukan merupakan epitel putih, tetapi disebut
leukoplakia; biasanya disebabkan oleh proses keratosis.
2. Teknik Pemeriksaan IVA dan Interpretasi
Prinsip metode IVA adalah melihat perubahan warna menjadi putih (acetowhite)
pada lesi prakanker jaringan ektoserviks rahim yang diolesi larutan asam asetoasetat
(asam cuka). Bila ditemukan lesi makroskopis yang dicurigai kanker, pengolesan asam
asetat tidak dilakukan namun segera dirujuk ke sarana yang lebih lengkap. Perempuan
yang sudah menopause tidak direkomendasikan menjalani skrining dengan metode IVA
karena zona transisional leher rahim pada kelompok ini biasanya berada pada endoserviks
rahim dalam kanalis servikalis sehingga tidak bisa dilihat dengan inspeksi spekulum.
Perempuan yang akan diskrining berada dalam posisi litotomi, kemudian dengan
spekulum dan penerangan yang cukup, dilakukan inspeksi terhadap kondisi leher
rahimnya. Setiap abnormalitas yang ditemukan, bila ada, dicatat. Kemudian leher rahim
22

dioles dengan larutan asam asetat 3-5% dan didiamkan selama kurang lebih 1-2 menit.
Setelah itu dilihat hasilnya. Leher rahim yang normal akan tetap berwarna merah muda,
sementara hasil positif bila ditemukan area, plak atau ulkus yang berwarna putih.
Alat dan Bahan
1. Spekulum
2. Lampu
3. Larutan asam asetat 3-5%
Dapat digunakan asam cuka 25% yang dijual di pasaran kemudian diencerkan
menjadi 5% dengan perbandingan 1:4 (1 bagian asam cukadicampur dengan 4
bagian air) Contohnya: 10 ml asam cuka 25% dicampur dengan 40 ml air akan
menghasilkan 50 ml asam asetat 5 %. Atau 20 ml asam cuka 25 % dicampur

dengan 80 ml air akan menghasilkan 100 ml asam asetat 5%


Jika akan menggunakan asam asetat 3%, asam cuka 25 % diencerkan dengan air
dengan perbandingkan 1:7 (1 bagian asam cuka dicampur 7 bagian air) Contohnya
: 10 ml asam cuka 25% dicampur dengan 70 ml air akan menghasilkan 80 ml

asam asetat 3%
Campur asam asetat dengan baik Buat asam asetat sesuai keperluan hari itu. Asam

asetat jangan disimpan untuk beberapa hari.


4. Kapas lidi
5. Sarung tangan
6. Larutan klorin untuk dekontaminasi peralatan
Metode Pemeriksaan
1. Memastikan identitas , memeriksa status dan kelengkapan informed consent klien
2. Klien diminta untuk menanggalkan pakaiannya dari pinggang hingga lutut dan
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

menggunakan kain yang sudah disediakan


Klien diposisikan dalam posisi litotomi
Tutup area pinggang hingga lutut klien dengan kain
Gunakan sarung tangan
Bersihkan genitalia eksterna dengan air DTT
Masukkan spekulum dan tampakkan serviks hingga jelas terlihat
Bersihkan serviks dari cairan , darah, dan sekret dengan kapas lidi bersih
Periksa serviks sesuai langkah-langkah berikut :
a. Terdapat kecurigaan kanker atau tidak :
Jika ya, klien dirujuk , pemeriksaan IVA tidak dilanjutkan . Jika
pemeriksaan adalah dokter ahli obstetri dan ginekologi , lakukan biopsi
b. Jika tidak dicurigai kanker, identifikasi Sambungan Skuamo kolumnar (SSK)
Jika SSK tidak tampak , maka : dilakukan pemeriksaan mata telanjang
tanpa asam asetat, lalu beri kesimpulan sementara, misalnya hasil
negatif namun SSK tidak tampak. Klien disarankan untuk melakukan

23

pemeriksaan selanjutnya lebih cepat atau pap smear maksimal 6 bulan


lagi.
c. Jika SSK tampak, lakukan IVA dengan mengoleskan kapas lidi yang sudah
dicelupkan ke dalam asam asetat 3-5% ke seluruh permukaan serviks
d. Tunggu hasil IVA selama 1 menit, perhatikan apakah ada bercak putih
( acetowhite epithelium) atau tidak
e. Jika tidak (IVA negatif), jelaskan kepada klien kapan harus kembali untuk
mengulangi pemeriksan IVA
f. Jika ada (IVA positif) , tentukan metode tata laksana yang akan dilakukan
10. Keluarkan speculum
11. Buang sarung tangan , kapas, dan bahan sekali pakai lainnya ke dalam
container ( tempat sampah) yang tahan bocor, sedangkan untuk alat-alat yang
dapat digunakan kembali, rendam dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit
untuk dekontaminasi.
12. Jelaskan hasil pemeriksaan kepada klien, kapan harus melakukan pemeriksaan
lagi, serta rencana tata laksana jika diperlukan

Gambar 2.5. langkah IVA

24

Lesi prakanker ringan/jinak (NIS 1) menunjukkan lesi putih pucat yang bisa
berbatasan dengan sambungan skuamokolumnar. Lesi yang lebih parah (NIS 2-3
seterusnya) menunjukkan lesi putih tebal dengan batas yang tegas, dimana salah satu
tepinya selalu berbatasan dengan sambungan skuamokolumnar (SSK). Beberapa kategori
temuan IVA tampak seperti tabel berikut :
Table 2.7. Kategori Temuan IVA
Normal
2. Infeksi
3. Positif IVA
4.Kanker leher Rahim

Kategori Temuan IVA


1. Negatif

2. Positif 1 (+)

3. Positif 2 (++)

Licin, merah muda, bentuk porsio


normal
servisitis (inflamasi, hiperemis)
banyak fluor ektropion polip
plak putih epitel acetowhite (bercak
putih)
pertumbuhan seperti bunga kol
pertumbuhan mudah berdarah

- tak ada lesi bercak putih (acetowhite


lesion) - bercak putih pada polip
endoservikal atau kista nabothi - garis
putih mirip lesi acetowhite pada
sambungan skuamokolumnar
- samar, transparan, tidak jelas,
terdapat lesi bercak putih yang
ireguler pada serviks - lesi bercak
putih yang tegas, membentuk sudut
(angular), geographic acetowhite
lessions yang terletak jauh dari
sambungan skuamokolumnar
- lesi acetowhite yang buram, padat
dan berbatas jelas sampai ke
sambungan skuamokolumnar - lesi
acetowhite yang luas, circumorificial,
berbatas tegas, tebal dan padat
-pertumbuhan pada leher rahim
menjadi acetowhite

Baku emas untuk penegakan diagnosis lesi prakanker leher rahim adalah biopsi
yang dipandu oleh kolposkopi.1,48 Apabila hasil skrining positif, perempuan yang
diskrining menjalani prosedur selanjutnya yaitu konfirmasi untuk penegakan diagnosis
melalui biopsi yang dipandu oleh kolposkopi. Setelah itu baru dilakukan pengobatan lesi
prakanker. Ada beberapa cara yang dapat digunakan yaitu

kuretase endoservikal,

25

krioterapi, atau loop electrosurgical excision procedure (LEEP)1, laser, konisasi, sampai
histerektomi simpel.
3. Akurasi Pemeriksaan IVA
Beberapa penelitian terdahulu menyebutkan bahwa metode IVA berpotensi
menjadi alternatif metode skrining kanker leher rahim di daerah-daerah yang memiliki
sumber daya terbatas. Namun demikian, akurasi metode ini dalam penerapan klinis masih
terus dikaji di berbagai negara berkembang.
Penelitian Universitas Zimbabwe dan JHPIEGO Cervical cancer project yang
melibatkan 2.203 perempuan di Zimbabwe melaporkan bahwa skrining dengan metode
IVA dapat mengidentifikasi sebagian besar lesi prakanker dan kanker. Sensitivitas IVA
dibanding pemeriksaan sitologi (Tes Pap) berturut-turut adalah 76,7% dan 44,3%.
Meskipun begitu, dilaporkan juga bahwa metode IVA ini kurang spesifik, angka
spesifisitas IVA hanya 64,1% dibanding sitologi 90,6%.48 Penelitian lainnya mengambil
sampel 1997 perempuan di daerah pedesaan di Cina, dilakukan oleh Belinson JL dan
kawan-kawan untuk menilai sensitivitas metode IVA pada lesi prakanker tahap NIS 2 atau
yang lebih tinggi, dikonfirmasi dengan kolposkopi dan biopsi leher rahim. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa angka sensitivitas IVA untuk NIS 2 atau yang lebih tinggi
adalah 71%, sementara angka spesifisitas 74%.
Beberapa penelitian menunjukkan sensitivitas IVA lebih baik daripada sitologi.
Claey et al. melaporkan penelitiannya di Nikaragua, bahwa metode IVA dapat mendeteksi
kasus LDT (Lesi Derajat Tinggi) dan kanker invasif 2 kali lebih banyak daripada Tes Pap.
Demikian juga laporan dari Basu et al.
Berikut adalah tabel tampilan beberapa kajian tentang IVA yang telah dilakukan
oleh beberapa peneliti terdahulu.
Table 2.8. tampilan Beberapa Kajian Tentang Iva Yang Telah Dilakukan Oleh Beberapa
Peneliti Terdahulu.
Penulis
(tahun)

Negara

Arbyn et al
(2008)62

India dan
Afrika

Jumlah
Responde
n
58.000

Sensitivita
s (%)

Spesifitas
(%)

Tingkat
Petugas

Derajat
Lesi

79.2

84.7

Perawat,
bidan,
sitoteknisi

NIS 1 atau
lebih berat

26

Doh et al.
(2005)63
Ghaemagh
ami
(2004)64
Bellinson et
al. (2001)2
Univ.of
Zimbabwe
JHPIEGO
(1999)48
Denny et
al.
(2000)65

Kamerun

4813

70.4

77.6

Iran

1.200

74.3

94

Residen
Obgin

NIS 1 atau
lebih berat

Cina

1.997

71

74

Zimbabwe

2.203

77

64

Ginekologi
Onkologi
Perawat,
Bidan

NIS 2 atau
lebih berat
LISDT dan
lebih berat

Afrika

2.944

67

83

Perawat

LISDT

Selatan

Sankaranar
ayan et al
(1998)45

India

3.000

90

92

Sitoteknisi

Sankaranar
ayan et al
(1999)46

India

1.351

96

68

Perawat

Londhe et
al. (1997)55
Megevand
et al.
(1996)49
Cecchini et
al. (1993)52
Slawson et
al. (1992)54
Ottaviano
M.,
LaTorreP
(1982) 50

India

372

72

54

Afrika

2.426

65

98

Tidak
spesifik
Perawat

Itali

2.105

88

83

Bidan

USA

2.827

29

97

Klinikus

Itali

2.400

Tidak di uraikan jelas

Kolposkop
ist,
postgrad.tr
ain

dan lebih
berat
Displasia
sedang,
berat atau
lebih berat
Displasia
sedang,
berat atau
lebih berat
LISDT dan
lebih berat
LISDT dan
lebih berat
NIS 2 dan
lebih berat
NIS 2 dan
lebih berat
NIS 1-2 dan
Berat

Tabel 2.9. Perbandingan beberapa hasil penelitian iva di indonesia

Nama
Peneliti

Jumlah
Subjek

Hanafi,
dkk67.
(Indonesia,
2002)
Nuranna L20
(Indonesia,
2005)

1000

1260

Hasil Tes
IVA Positif
(%)
Prevalensi
Lesi
Prakanker
(%)
1.2 1.3
(LDR+LDT)
0.5 (LDT)

Sensitivita
s (%)

Spesifisita
s (%)

Nilai
Prediksi
Positif (%)

Baku Emas

90.9 -

99.8 -

83.3 16.7

Tes Pap
Kolp-biopsi

1.98 0.92
(LISDR+DT
) 0.2

92.3

98.8

48

Tes Pap

27

(LISDT)
Ocviyanti
D66
(Indonesia,
2006)
Program
Female
Cancer
(Unpublishe
d)

1250

10.4 5.4
(LDR+LDT)
0.2 (LDT)

51.5

Kolposkopi(
biopsi)

22035

4.5%
(LDR+LDT)

98.19

59.89

59.9

Biopsi
histopatolog
i

Beberapa penelitian terbaru tentang IVA menambah data tentang


kemungkinan penggunaan IVA sebagai alternatif metode skrining secara luas di
negara-negara berkembang.
Ghaemmaghami et al. (2004) melaporkan angka sensitivitas IVA dibandingkan
dengan Tes Pap berturut-turut adalah 74.3% dan 72%, sementara angka spesifisitas
adalah 94% dan 90.2%. Penelitian dilakukan terhadap 1200 perempuan yang
menjalani skrining dengan metode IVA dan Tes Pap dan dikonfirmasi dengan
kolposkopi dan biopsi. Hasil positif dari kedua pemeriksaan tersebut berjumlah 308
orang, 191 orang diantaranya terdeteksi positif melalui metode IVA. Hasil konfirmasi
histologi menunjukkan 175 sampel dinyatakan positif (dengan kriteria NIS I atau
yang lebih berat), dari 175 sampel tersebut, 130 diantaranya terdeteksi melalui metode
IVA.
Sementara Doh et al. (2005) melaporkan hasil penelitian di Kamerun terhadap
4813 perempuan yang menjalani skrining dengan metode IVA dan Tes Pap. Hasil
penelitian menunjukkan sensitivitas IVA dibanding Tes Pap 70.4% dan 47.7%,
sedangkan spesifitas IVA dan Tes Pap berturut-turut 77.6% dan 94.2%, nilai prediksi
negatif (NPV/ Negative Predictive Value) untuk VIA dan Tes Pap berturut-turut
adalah 91.3% dan 87.8%.
Suatu penelitian meta-analisis atas 11 penelitian potong lintang (crosssectional studies)yang dilakukan di India dan beberapa negara di Afrika (2008) yang
dilakukan Arbyn et al.62 membandingkan penggunaan metode IVA, VILI, IVA
dengan pembesaran (VIAM/Visual Inspection with Acetoacetat with a Magnifying
device), tes Pap dan HC2 (Hybrid Capture-2 assay) Penelitian ini melibatkan lebih
dari 58.679 perempuan usia 2564 tahun. Hasil penelitian meta-analisis ini untuk
angka sensitivitas IVA,Vili, tes Pap dan HC2 berturut-turut adalah sebagai berikut :
Tabel 2.10. sensitifitas, spesifisitas berbagai metode skrining terhadap CIN 2.1
28

Metode
IVA
VILI
Tes Pap
HC2

Sensitivitas(%)
79.2
91.2
57
62

Spesifisitas (%)
84.7
84.5
93
94

Berbagai penelitian telah menyatakan bahwa skrining dengan metode IVA


lebih mudah, praktis dan lebih sederhana, mudah, nyaman, praktis dan murah. Pada
tabel dibawah ini dapat dilihat perbandingkan antara pap smear dan IVA dalam
berbagai aspek pelayanan.
Tabel 2.11. Perbandinganskrining tes pap dan iva
Uraian/ Metode
Skrining
Petugas kesehatan

Sensitivitas
Spesifisitas
Hasil
Sarana
Biaya
Dokumentasi

Tes Pap

IVA

Sample takers
(Bidan/perawat/dokte
r umum/ Dr.
Spesialis) Skrinner/
Sitologis/Patologis
70 % - 80%
90% - 95%
1 hari 1 bulan
Spekulum Lampu
sorot Kaca benda
(slide) Laboratorium
Rp. 15.000 Rp.
75.000
Ada (dapat dinilai
ulang)

Bidan Perawat
Dokter umum Dr.
Spesialis
65% - 96%
54% - 98%
Langsung
Spekulum Lampu
sorot Asam asetat
Rp. 3.000
Tidak ada

4. Alur pemeriksaan IVA dan tindak lanjut


Jika tim skrining sudah cukup kompeten, terapi dengan krioterapi dapat langsung
dilakukan pada hasil IVA positif. Namun jika masih ada keraguan, pada hasil skrining
IVA positif dapat dimasukkan ke alur triase sebagai mana yang diusulkan pada hasil
kajian Ocviyantii.
Tabel 2.12. Persiapan fasilitas kesehatan dan sumber daya manusia untuk program skrining
kanker leher rahim di Indonesia
Pelayanan Primer
(Pemeriksaan
skrining)

Rujukan tahap
pertama
(pemeriksaan
triase)

Rujukan tahap
kedua (diagnostik
dan terapi)

29

Tenaga medis

Fasilitas
kesehatan

Sarana dan
prasarana

Kompetensi yang
harus dimiliki

Perawat, bidan dan


dokter umum
terlatih

Perawat, bidan dan


dokter umum
terlatih

Posyandu, bidan
praktik swasta,
rumah bersalin,
puskesmas, klinik,
dokter praktik
swasta
Meja ginekologi
Set pemeriksaan
gineko-logi Kit tes
IVA dan atau Kit
tes Pap

Dokter praktik
swasta, klinik,
puskesmas, rumah
sakit (pemerintah
atau swasta)

Melakukan tes IVA


atau melakukan
tes Pap

Melakukan tes Pap


Melakukan tes
HPV Melakukan
servikografi

Kamar periksa
ginekologi lengkap
dengan : Kit tes
Pap atau Kit tes
HPV atau
Serviskop

Dokter spesialis
obstetri dan
ginekologi
Dokter spesialis
patologi anatomi
Rumah
sakit(pemerintah
atau swasta)
Klinik spesialis
Kamar periksa
ginekologi lengkap
dengan : Kit tes
Pap Kit tes HPV
Kolposkop dan kit
biopsi Kit
diatermi/konisasi/be
dah krio
Laboratorium untuk
memproses : tes
Pap, tes HPV, dan
histopatologi
Membaca
servigram
Melakukan
kolposkopi biopsi
Melakukan terapi
lesi prakanker
Pembacaan hasil
tes HPV, sitologi
dan patologi

5. Analisis Biaya
Penyusunan suatu analisis biaya, dibutuhkan tiga komponen biaya, yaitu direct
cost, indirect cost dan intangible cost. Komponen direct cost dalam skrining kanker
serviks dengan metode IVA meliputi:
1) Komponen Diagnostik
2) Jasa Medik
Table 2.13. Perbandingan biaya skrining kanker serviks dangan metode tes pap dan iva.

30

Komponen indirect cost, meliputi :


- Biaya pelatihan tenaga medis
- Alat tak habis pakai :
a. Lampu sorot atau lampu pijar 100 W, atau senter yang cukup untuk menerangi
vagina
b. Kamera digital/ servikografi (jika ada untuk dokumentasi ).

2.3.
Karsinoma Mammae
2.3.1. Definisi
Carsinoma mammae adalah pertumbuhan dan pembelahan sel khususnya sel
pada jaringan mammae yang tidak normal/abnormal yang terbatas serta tumbuh
perlahan karena suplai limpatik yang jarang ketempat sekitar jaringan mammae yang
banyak mengandung banyak pembuluh limfe dan meluas dengan cepat dan segera
bermetastase.
Penyakit kanker payudara adalah penyakit keganasan yang berasal dari
struktur parenkim payudara. Paling banyak berasal dari epitel duktus laktiferus (70
%), epitel lobulus (10%) sisanya sebagian kecil mengenai jaringan otot dan kulit
payudara, kanker payudara tumbuh lokal ditempat semula, lalu selang beberapa waktu
menyebar melalui saluran limfe (penyebaran sisitemik) ke organ vital lain seperti
paru-paru, tulang, hati, otak dan kulit.
2.3.2. ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO
Etiologi kanker payudara tidak diketahui dengan pasti. Namun beberapa faktor
resiko pada pasien diduga berhubungan dengan kejadian kanker payudara yaitu :
1. usia > 30 tahun

31

2. Menarche dini.
Resiko kanker payudara meningkat pada wanita yang mengalami menstruasi
sebelum usia 12 tahun.
3. Nulipara

dan

usia

maternal

lanjut

saat

kelahiran

anak

pertama.

Wanita yang mempunyai anak pertama setelah usia 30 tahun mempuyai resiko dua
kali lipat untuk mengalami kanker payudara dibanding dengan wanita yang
mempunyai anak pertama mereka pada usia sebelum 20 tahun.
4. Menopause pada usia lanjut.
Menopause setelah usia 50 tahun meningkatkan risiko untuk mengalami kanker
payudara. Dalam perbandingan, wanita yang telah menjalani ooforektomi bilateral
sebelum usia 35 tahun mempunyai resiko sepertiganya.
5. Riwayat penyakit payudara jinak.
Wanita yang mempunyai tumor payudara disertai perubahan epitel proliferatif
mempunyai resiko dua kali lipat untuk mengalami kanker payudara. Wanita
dengan hiperplasia tipikal mempunyai resiko empat kali lipat untuk mengalami
penyakit ini.
6. Obesitas, resiko rendah diantara wanita pascamenopause.
Wanita gemuk yang didiagnosa penyakit ini mempunyai angka kematian lebih
tinggi, yang paling sering berhubungan dengan diagnosis yang lambat.
7. Kontraseptif oral.
Wanita yang menggunakan kontraseptif oral beresiko tinggi untuk mengalami
kanker payudara. Resiko tinggi ini menurun dengan cepat setelah penghentian
medikasi.
8. Terapi pengganti hormone.
Terdapat laporan yang membingungkan tentang resiko kanker payudara pada
terapi penggantian hormon. Wanita yang berusia lebih tua yang menggunakan
estrogen suplemen dan menggunakannya untuk jangka panjang (Lebih dari 10-15
tahun) dapat mengalami peningkatan risiko. Sementara penambahan progesteron
terhadap penggantian estrogen meningkatkan insiden kanker endometrium, hal ini
tidak menurunkan risiko kanker payudara.
32

9.

Masukan alkohol.
Sedikit peningkatan risiko ditemukan pada wanita yang menkonsumsi alkohol
bahkan dengan hanya sekali minum dalam sehari. Resikonya dua kali lipat
diantara wanita yang minum alkohol tiga kali sehari. Di negara dimana minuman
anggur dikonsumsi secara teratur (misal: Prancis dan Italia), Angkanya sedikit
lebih tinggi. Beberapa temuan menunjukkan bahwa wanita muda yang minum
alkohol lebih rentan untuk mengalami kanker payudara pada tahun-tahun
berikutnya.

2.3.3.

PATOFISIOLOGI
Kejadian karsinoma payudara dihubungkan dengan terjadinya hiperplasia sel
dengan perkembangan sel-sel atipik, kemudian terjadi karsinoma intraepitelial
(karsinoma insitu), setelah terjadinya karsinoma in situ akan terjadi multiplikasi selsel dengan cepat. Selanjutnya sel-sel tersebut akan menginvasi stroma jaringan ikat di
sekitarnya pada payudara.
Membutuhkan waktu kurang lebih sekitar 7 tahun pada karsinoma untuk
tumbuh dari sebuah sel tunggal sampai menjadi massa yang cukup besar untuk dapat
teraba (diameter sekitar 1 cm). Pada ukuran itu sekitar kasus sudah disertai dengan
kejadian metastasis

2.3.4. MANIFESTASI KLINIS


1. Terdapat massa utuh kenyal, biasa di kwadran atas bagian dalam, dibawah ketiak
bentuknya tak beraturan dan terfiksasi.
2. Nyeri di daerah massa.
3. Perubahan bentuk dan besar payudara, adanya lekukan ke dalam, tarikan dan
refraksi pada areola mammae.
4. Edema dengan peau d orange (keriput seperti kulit jeruk)
5. Pengelupasan papilla mammae

33

6. Keluar cairan abnormal dari putting susu berupa nanah, darah, cairan encer
padahal ibu tidak sedang hamil / menyusui.
7. Ditemukan lessi pada pemeriksaan mamografi
2.3.5. KLASIFIKASI
Klasifikasi karsinoma payudara menurut WHO dibagi menjadi :
1. Ductal karsinoma
a. Non infiltrating ductal cell carcinoma
b. Infiltrating ductal cell carcinoma, terdiri dari :
medullary carcinoma
papillary carcinoma
paget carcinoma
epidermoid carcinoma
2. Lobular carcinoma
Dewasa ini menggunakan cara penggolongan TNM menurut Perhimpunan
Anti Kanker Internasional (edisi tahun 2002).
Tumor primer (T)
Tx : Tumor primer tidak dapat ditentukan
To : Tidak terbukti adanya tumor primer
Tis : Kanker in situ, paget dis pada papila tanpa teraba tumor
T1 : Tumor < 2 cm
o T1a : Tumor < 0,5 cm
o T1b : Tumor 0,5 1 cm
o T1c : Tumor 1 2 cm
T2 : Tumor 2 5 cm
34

T3 : Tumor diatas 5 cm
T4 : Tumor tanpa memandang ukuran, penyebaran langsung ke dinding thorax
atau kulit.
o T4a : Melekat pada dinding dada
o T4b : Edema kulit, ulkus, peau dorange, satelit
o T4c : T4a dan T4b
o T4d : Mastitis karsinomatosis
Nodus limfe regional (N)
Nx : Pembesaran kelenjar regional tidak dapat ditentukan
N0 : Tidak teraba kelenjar axila
N1 : Teraba pembesaran kelenjar axila homolateral yang tidak melekat.
N2 : Teraba pembesaran kelenjar axila homolateral yang melekat satu sama
lain atau melekat pada jaringan sekitarnya.
N3 : Terdapat kelenjar mamaria interna homolateral
Metastase jauh (M)

Mx : Metastase jauh tidak dapat ditemukan

M0 : Tidak ada metastase jauh

M1 : Terdapat metastase jauh, termasuk kelenjar subklavikula

Table 2.14. Stadium klinis kanker payudara


Stadium

Tis

N0

M0

T1

N0

M0

35

IIA

IIB

IIIA

IIIB

IV

T0

N1

M0

T1

N1

M0

T2

N0

M0

T2

N1

M0

T3

N0

M0

T0

N2

M0

T1

N2

M0

T2

N2

M0

T3

N1,N2

M0

T4

Setiap N

M0

Setiap T

N3

M0

Setiap T

Setiap N

M1

2.3.6. DIAGNOSIS
Untuk menegakkan diagnosis kanker payudara diperlukan :
1. Pemeriksaan fisik meliputi anamnesa seperti mengenai keluhan-keluhan,
perjalanan penyakit, keluhan tambahan, dan faktor-faktor resiko tinggi.
Teknik pemeriksaan fisik sebagai berikut :
Posisi duduk
Lakukan inspeksi pada pasien dengan posisi tangan jatuh bebas ke
samping dan pemeriksa berdiri di depan dalam posisi lebih kurang sama
tinggi. Perhatikan keadaan payudara kiri dan kanan, simetris / tidak;
adakah kelainan papilla, letak dan bentuknya, retraksi putting susu,
kelainan kulit berupa peau dorange, dimpling, ulserasi, atau tanda-tanda
36

radang. Lakukan juga dalam keadan kedua lengan di angkat ke atas untuk
melihat apakah ada bayangan tumor di bawah kulit yang ikut bergerak atau
adakah bagian yang tertinggal, dimpling dan lain-lain.
Posisi berbaring
Sebaiknya dengan punggung diganjal dengan bantal, lakukan
palpasi mulai dari cranial setinggi iga ke-2 sampai distal setinggi iga ke-6,
serta daerah subaerolar dan papilla atau dilakukan secara sentrifugal,
terakhir dilakukan penekanan daerah papilla untuk melihat apakah ada
cairan yang keluar. Tetapkam keadaan tumornya, yaitu lokasi tumor
berdasarkan kuadranny; ukuran, konsistensi, batas tegas / tidak; dan
mobilitas terhadap kulit, otot pektoralis, atau dinding dada.
Pemeriksaan KGB regional di daerah :
a. Aksila, yang ditentukan kelompok kelenjar :
Mammaria eksterna di anterior, dibawah tepi otot pectoralis
Subskapularis di posterior aksila
Apikal di ujung atas fasia aksilaris
b. Supra dan infraklavikula, serta KGB leher utama.
Organ lain yang diperiksa untuk melihat adanya metastasis yaitu hepar,
lien, tulang belakang, dan paru. Metastasis jauh dapat bergejala sebagai
berikut:
Otak : nyeri kepala, mual, muntah, epilepsi, ataksia, paresis,
paralisis.
Paru : efusi pleura, coint lesion foto paru, atelektasis,
Hati : hepatomegali, fungsi hati terganggu SGOT/SGPT, ikterus,
asites.
37

Tulang : nyeri tekan, osteolytic lesion, destruksi tulang, lesi


osteoblastik.
2. Pemeriksaan penunjang
Mammografi
Suatu pemeriksaan soft tissue teknik. Adanya proses keganasan akan
memberi tanda-tanda primer dan sekunder. Tanda primer berupa fibrosis
reaktif, comet sign, adanya perbedaan yang nyata ukuran klinik dan
rontgenologik dan adanya mikrokalsifikasi. Tanda-tanda sekunder berupa
retraksi, penebalan kulit dan bertambahnya vaskularisasi, perubahan posisi
papilla dan aerola adanya bridge of tumor, keadaan daerah tumor dan jaringan
fibroglanduler tidak teratur, infiltrasi dalam jaringan lunak di belakang
mammae dan adanya metastasis ke kelenjar. Mamografi ini dapat mendeteksi
tumor-tumor yang secara palpasi tidak teraba jadi sangat baik untuk diagnosis
dini dan screening.
Ultrasonografi (USG)
Dengan pemeriksaan ini hanya dapat dibedakan lesi solid dan kistik.

Pemeriksaan lain seperti :thoraks foto, bone scanning/ bone survey serta usg
abdomen / liver dilakukan untuk mencari jauhnya ekstensi tumor atau metastasis.
Pemeriksaan ini umumnya hanya dilakukan apabila diperlukan ( atas indikasi ).
Pemeriksaan laboratorium untuk melihat toleransi penderita, juga dapat
melihat kemungkinan adanya metastasis misalnya alkali fosfatase.
3. Pemeriksaan histopatologis
Pemeriksaan ini merupakan diagnosis pasti adanya kanker payudara. Bahan
pemeriksaan diambil dengan cara :

38

Eksisional biopsy, kemudian diperiksa PA. ini untuk kasus-kasus yang


diperkirakan masih operabel / stadium dini.
Insisional biopsy, cara ini untuk kasus-kasus ganas yang sudah inoperable /
lanjut.
FNAB ( Fine Needle Aspiration Biopsy ).
Suatu pemeriksaan sitopatologi yang dipakai untuk menetukan apakah
akan segera disiapkan pembedahan dengan sediaan beku atau akan
dilanjutkan dengan pemeriksaan lain atau langsung dilakukan eksterpasi.
Hasil positif pada pemeriksaan sitologi bukan untuk indikasi bedah radikal
karena hasil positif palsu sering terjadi.
2.3.7. DIAGNOSIS BANDING
1. Fibroadenoma mammae ( FAM ), merupakan tumor jinak payudara yang biasanya
terdapat pada usia muda ( 15 30 tahun ) , dengan konsistensi padat kenyal, batas
tegas, tidak nyeri dan mobile. Terapi pada tumor ini cukup dengan eksisi.
2. Kelainan fibrokistik, merupakan tumor yang tidak berbatas tegas, konsistensi padat
kenyal atau kistik, terdapat nyeri terutama menjelang haid, ukuran membesar,
biasanya bilateral / multiple. Terapi tumor ini dengan medikamentosa simtomatis.
3. Kistosarkoma filoides menyerupai FAM yang besar, berbentuk bulat lonjong, berbatas
tegas, mobile dengan ukuran dapat mencapai 20- 30 cm. terapi tumor ini dengan
mastektomi simple.
4. Galaktokel, merupakan masa tumor kistik yang timbul akibat tersumbatnya saluran/
ductus laktiferus. Tumor ini terdapat pada ibu yang baru atau sedang menyusui.
5. Mastitis, yaitu infeksi pada payudara dengan tanda radang lengkap bahkan dapat
berkembang menjadi abses. Biasanya terdapat pada ibu yamg sedang menyusui.
2.3.8. PENATALAKSANAAN
Dalam hal pengobatan yang perlu diketahui :
39

1. Pengobatan pada stadium dini akan memberi harapan kesembuhan dan memberi
harapan hidup yang baik.
2. Jenis jenis pengobatan :
Pada stadium I , II , III awal ( stadium operable ), sifat pengobatan adalah
kuratif. Semakin dini semakin tinggi kurasinya. Pengobatan pada stadium I , II , IIIA
adalah operasi yang primer, terapi lainnya hanya bersifat adjuvant. Untuk stadium I ,
II pengobatan adalah radikal mastektomi atau modified radikal mastektomi, dengan
atau tanpa radiasi dan sitostatika adjuvant. Berdasarkan protokol di RSCM , diberikan
terapi radiasi pasca operasi radikal mastektomi, tergantung dari kondisi kelenjar getah
bening aksila. Jika kelenjar getah bening aksila tidak mengandung metastase, maka
terapi radiasi dan sitostatika adjuvant tidak diberikan. Stadium IIIA adalah simple
mastektomi dengan radiasi dan sitostatika adjuvant.
Stadium IIIB dan IV, sifat pengobatannya adalah paliasi, yaitu terutama untuk
mengurangi penderitaan pasien dan memperbaiki kualitas hidup. Untuk stadium IIIB
atau localy advanced pengobatan utama adalah radiasi dan dapat diikuti oleh
modalitas lain yaitu hormonal terapi dan sitostatika ( kemoterapi ).
Stadium IV pengobatan yang primer adalah bersifat sistemik yaitu hormonal
dan kemoterapi. Radiasi terkadang diperlukan untuk paliasi pada daerah daerah
tulang weight bearing yang mengandung metastase atau pada tumor bed yang
berdarah difuse dan berbau yang mengganggu sekitarnya.
Perlu dikemukaan suatu metode pengobatan kanker payudara stadium dini
yaitu breast conservating treatment. Cara ini yaitu hanya dengan mengangkat tumor
(tumorektomi atau segmentektoni atau kwadrantektomi ) dan diseksi aksila dan diikuti
dengan radiasi kuratif. Hanya dikerjakan untuk stadium I atau II ( 3 cm,untuk yang
lebih besar belum dikerjakan dan mempunyai prognosa yang buruk dari terapi
radikal ).

Oleh karena itu penerapan cara ini memerlukan pertimbangan yang lebih

jauh, antara lain


Penentuan stadium harus betul betul akurat

40

Tersedianya fasilitas terapi radiasi yang cukup, karena pada breast


conserving treatment antara operasinya dan radiasi merupakam satu
kesatuan.
Pendidikan masyarakat atau penderita yang baik dan mau control secara
teratur.
Dan teknik diseksi aksila benar benar dikerjakan dengan baik. Diseksi
aksila dikerjakan lebih sulit karena otot-otot pectoral tetap intake dan
jaringan payudara sendiri masih ada yang menghambat pembukaan
lapangan operasi aksila yang baik.
Hormonal terapi
1. Dari pemberian terapi hormonal ini adalah kenyataan bahwa 30 40 % kanker
payudara adalah hormone dependen. Terapi ini semakin berkembang dengan
ditemukannya hormone estrogen dan progesteron reseptor. Pada kanker payudara
dengan estrogen reseptor dan progesteron reseptor yang positif respon terapi
hormonal sampai 77 %.
2. Hormonal terapi merupakan terapi utama pada stadium IV disamping khemoterapi
karena kedua-keduanya merupakan terapi sistematik.
3. Dibedakan 3 golongan penderita menurut status menstruasi yaitu :
Premenoupause.
Untuk premenopause terapi hormonal berupa terapi ablasi yaitu bilateral
opharektomi.
1 5 tahun menoupause.
Untuk 1 5 tahun menopause, jenis terapi hormonal tergantung dari aktivitas
efek estrogen. Efek estrogen positif dilakukan terapi ablasi, efek estrogen
negative dilakukan pemberian obat obatan anti estrogen.
Postmenoupause.
Untuk postmenopause terapi hormonal berupa pemberian obat anti estrogen.
41

Kemoterapi.
Terapi ini bersifat sistemik, bekerja pada tingkat sel. Terutama diberikan pada
kanker payudara yang sudah lanjut, bersifat paliatif, tapi dapat pula diberikan pada
kanker payudara yang sudah dilakukan operasi mastektomi dengan adanya metastase
bersifat terapi adjuvant. Tujuannya adalah menghancurkan mikrometastasis yang
biasanya terdapat pada pasien yang kelenjar aksilanya sudah mengandung metastasis.
Biasanya diberikan terapi kombinasi CMF.( C : Cyclophosphamide = endoxan ; M :
methotrexate ; F : 5-Fluorouracil) selama 6 bulan pada wanita pramenopause,
sedangkan pada wanita pascamenopause diberikan terapi adjuvant hormonal berupa
pil anti estrogen.
2.3.9. PROGNOSIS
Prognosis kanker payudara ditentukan oleh :
1. Staging ( TNM )
Semakin dini semakin baik prognosisnya.
Stadium I :

5 10 tahun

80 %

Stadium II:

60 %

Stadium III:

30 %

stadium IV:

5%

2. Jenis histopatologis keganasan


Karsinoma in situ mempunyai prognosis yang baik dibandingkan
dengan karsinoma yang sudah invasive.
Suatu kanker payudara yang disertai oleh gambaran peradangan
dinamakan mastitis karsinomatosa, ini mempunyai prognosis yang sangat buruk.
Harapan hidup 2 tahun hanya kurang lebih 5 %. Tepat tidaknya tindakan terapi
yang diambil berdasarkan staging sangat mempengaruhi prognosis.
42

2.3.10. PEMERIKSAAN DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA


Petugas harus peka terhadap perasaan dan kekhawatiran klien sebelum, selama
dan setelah melakukan pemeriksaan payudara. Perempuan tersebut mungkin malu
atau tidak ingin diperiksa karena dia harus memperlihatkan payudaranya. Petugas
kesehatan mungkin juga merasa kurang nyaman pada awalnya. Sikap yang tenang dan
perhatian dapat membantu kepercayaan klien.
Beberapa hal yang memerlukan perhatian pada saat pemeriksaan yaitu:
1. Cara memeriksa kedua payudara dan puting untuk melihat apakah
adaperubahan dalam bentuk dan ukuran, bintik-bintik pada kulit, dan
keluarnya cairan dari putting
2. Cara memeriksa kedua payudara dan ketiak apakah terdapat kista atau massa
yang menebal dan berisi cairan (tumor)

Persiapan
Pada saat pemeriksaan payudara dibutuhkan persiapan seperti:
1. Katakan bahwa Anda akan memeriksa payudara seorang perempuan.
Ini merupakan saat yang tepat untuk menanyakan apakah ibu mengetahui adanya
perubahan dalam payudaranya dan apakah ibu secara rutin telah melakukan
pemeriksaan payudara sendiri.

2. Sebelum klien pergi untuk membuka pakaian bagian atas, katakan bahwa
Anda akan menjelaskan cara memeriksa payudara yang juga dapat
dilakukannya sendiri
3. Setelah seorang perempuan membuka pakaian mulai pinggang ke atas, minta
dia agar duduk di meja periksa dengan kedua lengan di sisi tubuhnya.
Dokter bedah :
Memeriksa dan mendiagnosa kasus rujukan.
Melakukan biopsy pada suspek kanker
Identifikasi sarana umum perawatan paliatif, misalnya : penghilang nyeri,
asuhan psikologi dan dukungan moral.
Mengawasi dan mendukung petugas klinis.
Merujuk atau mendiskusikan dalam tumor board dengan bagian/ disiplin lain jika
perlu.
Kanker payudara yang sudah dikonfirmasi dengan USG/ mammografi

Inspeksi

43

1. Lihatlah bentuk dan ukuran payudara (Gambar 2.6 ). Perhatikan apakah ada
perbedaan bentuk, ukuran, puting atau kerutan atau lekukan pada kulit
(Gambar 2.7). Walaupun beberapa perbedaan dalam ukuran payudara bersifat
normal, ketidakberaturan atau perbedaan ukuran dan bentuk dapat
mengindikasikan adanya massa. Pembengkakan, kehangatan, atau nyeri yang
meningkat pada salah satu atau kedua payudara dapat berarti adanya infeksi,
khususnya jika si perempuan tersebut sedang menyusui.

Gambar 2.6. Tampilan Payudara (Kedua Tangan di Sisi Tubuh)

Gambar 2.7. Kerutan atau Lekukan Pada Payudara

2. Lihat puting susu dan perhatikan ukuran dan bentuknya serta arah jatuhnya
(misalnya apakah kedua payudara menggantung secara seimbang?). Periksa
juga apakah terdapat ruam atau nyeri pada kulit dan apakah keluar cairan dari
puting.
3. Minta ibu/klien untuk mengangkat kedua tangan ke atas kepala (Gambar
2.8.a.) kemudian menekan kedua tangan di pinggang untuk mengencangkan
otot dadanya (m.pectoral/otot pektoralis) (Gambar 2.8.b). Pada setiap posisi,
periksa ukuran, bentuk dan simetri, lekukan puting atau kulit payudara dan
lihat apakah ada kelainan. (Kedua posisi tersebut juga dapat terlihat jeruk atau
44

lekukan pada kulit jika ada.) Kemudian minta klien untuk membungkukkan
badannya ke depan untuk melihat apakah kedua payudara tergantung secara
seimbang (Gambar 2.8.c).

Gambar 2.8. a, b dan c. Tampilan Payudara (kiri ke kanan): Lengan ke Atas,


Tangan di Pinggang, Membungkuk

Palpasi
1. Minta klien untuk berbaring di meja periksa.
2. Dengan meletakkan sebuah bantal di bawah punggung pada sisi yang akan diperiksa
akan membuat jaringan ikat payudara menyebar, sehingga dapat membantu
pemeriksaan payudara.
3. Letakkan kain bersih di atas perut ibu/klien
4. Letakkan lengan kiri ibu ke atas kepala. Perhatikan payudaranya untuk melihat
apakah tampak sama dengan payudara sebelah kanan dan apakah terdapat lipatan atau
lekukan.
5. Gunakan permukaan tiga jari tengah Anda (Gambar 2.9. a), lakukan palpasi payudara
dengan menggunakan teknik spiral. Mulai pada sisi terluar payudara (Gambar 2.9.b).
Tekan jaringan ikat payudara dengan kuat pada tulang rusuk setelah selesai tiap satu
putaran dan secara bertahap pindahkan jari-jari Anda menuju areola. Lanjutkan
sampai semua bagian selesai diperiksa. Perhatikan apakah terdapat benjolan atau
nyeri (tenderness).

45

Gambar 2.9. a dan 2.9.b. Teknik spiral untuk pemeriksaan payudara

6. Dengan menggunakan ibu jari dan jari telunjuk, tekan puting payudara dengan lembut
(Gambar 2.10.). Lihat apakah keluar cairan: bening, keruh, atau berdarah. Cairan
keruh atau berdarah yang keluar dari puting harus ditulis dalam catatan ibu/klien.
Walaupun cairan keruh dari salah satu atau kedua payudara dianggap normal sampai
selama 1 tahun setelah melahirkan atau berhenti menyusui, hal tersebut jarang
disebabkan karena kanker, infeksi, tumor, atau kista jinak.

Gambar 2.10. Memeriksa Cairan Puting (Payudara Kiri)

7. Ulangi langkah tersebut pada payudara sebelah kiri.


8. Jika ada keraguan tentang temuan (misalnya apakah terdapat benjolan) ulangi
langkah-langkah, ibu duduk dengan kedua lengan di sisi badannya.
9. Untuk mempalpasi bagian pangkal payudara, minta ibu duduk dan mengangkat
lengan kirinya setinggi bahu. Bila perlu, minta ibu meletakkan tangannya di bahu
Anda. Tekan sisi luar dari otot pektoralis sambil bertahap menggerakkan jari-jari ke
pangkal ketiak untuk memeriksa apakah terdapat pembesaran kelenjar getah bening
(lymph nodes) atau kekenyalan (Gambar 2.10). Penting untuk melakukan palpasi pada
pangkal payudara karena disini biasanya terdapat kanker.

46

Gambar 2.11 Memeriksa Pangkal Payudara (Payudara Kiri)

10. Ulangi langkah tersebut untuk payudara sebelah kiri.


11. Jelaskan temuan kelainan jika ada, dan hal yang perlu dilakukan. Jika pemeriksaan
sepenuhnya normal, katakana bahwa semua normal dan sehat dan waktunya untuk
kembali melakukan pemeriksaan (misalnya tiap tahun atau jika ibu menemukan
adanya perubahan pada pemeriksaan payudara sendiri).Untuk memudahkan
pemeriksaan, dapat menggunakan cairan pelicin seperti minyak kelapa, baby oil atau
Lotion
12. Tunjukkan kepada ibu cara melakukan pemeriksaan payudara sendiri (lihat di bawah).
13. Catat temuan.

47

BAB III
HASIL KEGIATAN
3.1 Profil Puskesmas
3.1.1 Peta Wilayah

3.1.2

Kondisi Geografis
Puskesmas Tanjung Paku merupakan salah satu puskesmas yang ada di Kota Solok

yang berdiri pada tahun 1983 dengan luas tanah 1050 M 2, dan merupakan puskesmas non
perawatan atau puskesmas rawat jalan.

48

Puskesmas Tanjung Paku terletak di Kecamatan Tanjung Harapan dengan batas


batas wilayah sebagai berikut :
-

Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Lubuk Sikarah Kota Solok.


Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Aripan Kabupaten Solok.
Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Saok Laweh Kabupaten Solok.
Sebelah selatan berbatsan dengan Kelurahan Simpang Rumbio Kota
Solok.

Jarak antara Puskesmas Tanjung Paku dengan Ibukota Propinsi Sumatera Barat 65
km, dengan Luas wilayah kerja 22,64 km yang terbagi atas 4 (empat) kelurahan, yaitu :
3.1.3

Koto Panjang
Pasar Pandan Air Mati (PPA)
Tanjung Paku
Kampung Jawa

Kondisi Demografis dan Kependudukan


Puskesmas Tanjung Paku berpenduduk 18.756 jiwa dengan 4.323 KK, dengan jumlah

penduduk perkelurahan sebagai berikut :


Tabel 3.1 Data Jumlah Penduduk di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Paku Tahun 2014
No

Kelurahan

Jumlah Penduduk

Jumlah KK

Kota Panjang

2.040

439

PPA

5.275

1.186

Tanjung Paku

5.493

1.196

Kampung Jawa

5.948

1.502

Jumlah

18.756

4.323

Sumber Data : Data Dasar Puskesmas Tanjung Paku Kota Solok Tahun 2014
3.1.4
1.
2.
3.

4.

Sosial Budaya
Agama
Puskesmas Tanjung Paku berpenduduk mayoritas beragama islam.
Suku
Sebagian besar masyarakatnya suku minang.
Mata Pencaharian
Masyarakat Puskesmas Tanjung Paku bermata pencaharian sebagai pegawai,
pedagang, dan petani.
Sarana Kependidikan
49

Sarana pendidikan yang terdapat di wilayah Puskesmas Tanjung Paku cukup


lengkap, yaitu 9 TK/PAUD, 17 SD/MI, 3 SLTP,dan 3 SLTA. Pada tabel berikut dapat
dilihat fasilitas pendidikan di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Paku menurut
Kelurahan :

Tabel 3.2 Fasilitas Pendidikan di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Paku Tahun 2014
No

Kelurahan

1
2
3
4

Tj. Paku
PPA
KT. Panjang 1
Kp. Jawa
Total

Jumlah kelurahan
TK
SD
SMP
2
4
1
2
5
1
1
4
7
1
9
17
3

SLTP
2
1
3

Sumber
Data

Data Dasar

Puskesmas Tanjung Paku Kota Solok Tahun 2014


3.1.5

Sumber Daya Kesehatan


1. Tenaga Kesehatan
Tenaga kesehatan yang ada di wilayah Puskesmas Tanjung Paku sudah cukup
memadai, yang masih kurang adalah tenaga non kesehatan.
Tabel 3.3 Ketenagaan
No

Jenis Tenaga

Jumlah

Dokter Umum

4 orang

Dokter Gigi

1 orang

Sarjana Kesehatan
Masyarakat

4 orang

Nurse

2 orang

S1 Keperawatan

2 orang

D3 Perawat

5 orang

SPK

3 orang

D3 Bidan

16 orang

D1 Bidan

2 orang

10

D3 Kesling

1 orang

11

D3 Gizi

2 orang

12

D3 Gigi

1 orang

Ket
1 Kepala Puskesmas
TU, Gizi, Kesling,
Promkes

2 kontrak, 1 sukarela
3 PTT, 1 sukarela

50

13

D3 Apikes

2 orang

1 kontrak

14

D3 Refraksi

1 orang

15

D3 AAK

1 orang

16

Tenaga Elektromedik

1 orang

17

SMAK

1 orang

18

D3 Farmasi

1 Orang

19

SMF

1 orang

20

Sopir

1 orang

Kontrak

21

Petugas Jaga Malam

1 orang

Kontrak

22

Cleaning Servis

1 orang

Kontrak

23

Umum

1 orang

JUMLAH

55 orang

2. Sarana dan Prasarana


Sarana dan prasarana kesehatan yang dimiliki oleh Puskesmas Tanjung Paku
adalah :
Tabel 3.4 Sarana dan Prasarana
No Jenis Sarana

Jumlah

1.

Puskesmas Induk

1 Unit

2.

Puskesmas Pembantu

5 Unit

3.

Poskeskel

4 Unit

4.

Posyandu Balita

31 Unit

5.

Posyandu Lansia

11 Unit

6.

Kendaraan Dinas Roda 4

2 Unit

7.

Kendaraan Dinas Roda 2

22 Unit

8.

Apotik

4 unit

9.

Optikal

4 unit

10. Toko Obat Berizin

4 unit

11. RSUD/RST

1 unit

12. Rumah Sakit Swasta

1 unit

51

13. Labor

2 unit

Sumber Data : Data Dasar Puskesmas Tanjung Paku Kota Solok Tahun 2014
3.1.6

Visi, Misi, Sasaran dan Strategi


A.
VISI
Terwujudnya pelayanan prima menuju masyarakat mandiri untuk hidup sehat
B.
C.
D.

2020.
MISI
Meningkatkan pemberdayaan masyarakat untuk ber PHBS
Meningkatkan kemitraan dengan stake holder bidang kesehatan
Meningkatkan cakupan dan mutu pelayanan kesehatan
Meningkatkan sumber daya manusia kesehatan
Memantapkan manajemen puskesmas dan sistem informasi
MOTTO
Pelayanan kami pengabdian terbaik
SASARAN
Sasaran yang digunakan diperoleh dari data sasaran program kesehatan tahun
2014 Kota Solok Kecamatan Tanjung Harapan, yaitu :

Tabel 3.5 Data Penduduk di Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Paku tahun 2014
No

Kelurahan

kt.Panjang

Jlh
Pdduk

Bayi
(0-12 bl)

Anak
Balita

PUS

Bumil

Bulin

Bufas

2090

43

168

377

48

46

43

PPA

5404

113

434

974

124

118

112

Tj. Paku

5627

117

452

1014

129

123

117

Kp. Jawa

6093

127

490

1098

139

133

128

Total

19214

408

1544

3462

440

420

400

Sumber Data: Data Dasar Puskesmas Tanjung Paku Kota Solok Tahun 2014
3.2 Gambaran Umum Program-Program Kesehatan Masyarakat
Upaya kesehatan layanan dasar yang diselenggarakan puskesmas meliputi: 6
Upaya Kesehatan Wajib ditambah dengan Upaya Kesehatan Pengembangan atau Inovasi.
Adapun hasil kegiatan dari upaya kesehatan tersebut adalah sebagai berikut :
52

3.2.1

Upaya Kesehatan Wajib


1. Promosi Kesehatan
A. Kegiatan yang dilakukan
Penyuluhan ke Sekolah
Penyuluhan di Posyandu
Penyuluhan Keliling
Pembinaan Kelurahan model PHBS KTR
Pelaksanaan kegiatan Kelurahan Siaga
2.

KIA dan KB
A. Kegiatan yang dilakukan
Kelas Ibu Hamil
Pelayanan ANC
Kunjungan Bumil Resti
Kunjungan Nifas
Pemantauan Stiker P4K/ANC berkwalitas
otopsi verbal
Pembinaan BPS
Pembinaan GSI
Kegiatan Prog Kesehatan Anak
-

DDTK
Kelas Ibu Balita
Kunjungan rumah balita bermasalah
LBI

Keluarga Berencana
-

Pelayanan dan konseling


Penanganan komplikasi ringan

3. Gizi Masyarakat
A. Kegiatan yang dilakukan
- Penimbangan Masal & Pembr Vit A (bulan Februari dan Agustus).
- Pengukuran Status Gizi Murid TK/PAUD
- Pengukuran Status Gizi Siswa SLTP & SLTA
- Pemantauan Status Gizi Sekolah yg mendapat
PMT-AS
- Kunjungan rumah Balita Gizi kurang dan buruk
serta Bumil KEK
- Pemantauan Posyandu
- Pemberian PMT Pemulihan
- TFC
- Pendataan Kadarzi
Pengambilan sampel garam RT dan pemeriksaan gondokanak SD
untuk Survey GAKY
53

Kelas ASI Eksklusif


Kelas MP- ASI
Kelas Gizi
Kegiatan rutin seperti :
pemberian vit A
pemberian tablet Fe
pemantauan pertumbuhan balita
- GERNASDARZI

4. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit


A. Kegiatan yang dilakukan
1) . Program Imunisasi
- Pelayanan Imunisasi
- BIAS
- TT WUS
- Sweeping
- Pelacakan KIPI
2) . Program P2P
- Sosialisasi P2P dan Surveilans
- Survey dan Pemetaan wilayah TB
- Penyegaran Kader TB
- Penyuluhan HIV AIDS,IMS & TB untuk pemuda
- Survey Epidemiologi
- PTM
- Posbindu
3) . Kegiatan Program TB
- Penyuluhan TB pada pemuda dan masyarakat lainnya
- Penjaringan suspek dan penemuan penderita TB BTA positif
- Penyuluhan TB pada penderita dan pasien yang diduga TB
- Survey dan pemetaan TB
- Pelacakan kasus kontak
- Pelaksanaan PMO
- Pemantauan gizi penderita TB
4) . Program Rabies
- Penyuluhan bahaya penyakit Rabies dan penanggulangan dini kasus
-

gigitan hewan tersangka Rabies bagi petugas dan tokoh masyarakat.


Pemberian vaksin anti Rabies (VAR) dan serum anti Rabies (SAR)

pada kasus sesuai indikasi.


Melakukan monitoring dan evaluasi pada pasien yang mendapat VAR
dan SAR

5) . Program penyakit tidak menular (PPTM)


- Melakukan pencatatan dan pelaporan kasus yang tergolong penyakit
tidak menular di poli.
54

Melakukan pemeriksaan dan pembinaan calon jemaah haji.


Melakukan sosialisasi tentang deteksi dini penyakit kanker leher rahim

dan kanker payudara kepada masyarakat.


Melakukan pemeriksaan deteksi dini kanker leher rahim dan kanker
payudara wanita yang sudah pernah berhubungan seksual terutama

yang berumur 30 tahun sampai degan 50 tahun.


Melakukan konseling pra IVA dan pra krioterapi
Melakukan tindakan krioterapi pada pasien IVA positif yang kandidat

krioterapi.
Melakukan rujukan kasus tumor atau benjolan payudara.
Melakukan rujukan kasus curiga kanker leher rahim atau kasus IVA

positif lesi luas (bukan kandidat krioterapi)


Melakukan pembinaan kegiatan Posbindu di kelurahan.

6) . Demam Berdarah Dengue


- Penyuluhan penyakit, pencegahan dan pemberantasan DBD kepada
-

masyarakat.
Pemantauan jentik oleh kader jumantik
Pemberian bubuk abate pada masyarakat yang dimonitoring oleh

petugas surveilans puskesmas


Melakukan penyelidikan epidemiologi (PE) pada kasus positif DBD
Melakukan Fogging pada kasus yang dianggap perlu

7) . Penemuan dan penanggulangan kasus ISPA dan Pneumonia


- Melakukan penyuluhan ISPA dan Pneumonia pada pasien yang
-

tersangka pneumonia
Pencatatan dan pelaporan kasus ISPA dan Pneumonia berkunjung ke

puskesmas
Melakukan kunjungan rumah pada pasien tersanga Pneumonia
Melakukan rujukan kasus pada Pneumonia sedang-berat

8) . Penemuan dan Penanggulangan Diare


- Penyuluhan tentang diare dan cara penanggulangan diare di rumah
sebelum dan sesudah dibawa ke pelayanan kesehatan kepada tokoh
-

masyarakat dan kader posyandu.


Penemuan dan penatalaksanaan kasus diare.
Melakukan rujukan kasus diare dengan dehidrasi sedang-berat.
Melakukan penyelidikan epidemiologi pada kasus diare berdampak
KLB.

9) . Pelaksanaan Program VCT dan IMS


- Melakukan penyuluhan VCT dan IMS pada masyarakat.
- Melakukan kerja sama dengan LMS dalam penjaringan masyarakat
beresiko.
55

Melakukan pemeriksaan VCT dan IMS pada klien yang datang sendiri

atau diantar oleh penjangkauannya (LSM) ke puskesmas.


Melakukan pemeriksaan VCT dan HIV pada ibu hamil.
Melakukan mobile VCT dan IMS di kampus dan instansi yang

berminat.
Melakukan tindak lanjut pada kasus-kasus positif VCT dan IMS.

10) . Program imunisasi


- Melakukan pemberian imunisasi dasar di puskesmas dan di posyandu.
- Melakukan sosialisasi dan pemberian booster imunisasi.
- Melakukan sweeping pada sasaran yang tidak datang ke posyandu dan
-

dievaluasi tiap triwulan.


Melakukan Bias Campak pada anak kelas 1 SD tiap tahun.
Melakukan Bias DT/TT pada anak SD kelas 1 sampai dengan kelas 3

tiap tahun.
Melakukan TT WUS di SMA dan posyandu tiap tahun.

5. Kesehatan Lingkungan
A. Kegiatan yang dilakukan
- Inspeksi sanitasi dasar
- Rumah sehat
- Pemeriksaan TTU-TPM
- STBM
- Pengelolaan sampah RT
- Pembinaan dan Pengawasan kwalitas air
- Penyuluhan Hygiene sanitasi ke sekolah
- Penyuluhan kawasan sehat
3.2.2

Program Pengembangan (Inovasi)


1. UKS
A. Kegiatan yang dilakukan
- Skrining murid kelas 1 SD/SLTP/SLTA
- Pembinaan Sekolah Sehat
- Pelatihan Dokter Kecil/Kader Kesehatan
2. Perkesmas
A. Kegiatan yang dilakukan
- Asuhan keperawatan pada keluarga
- Kunjungan rumah KK Resti
3. Kesehatan Jiwa
A. Kegiatan yang dilakukan
- Penemuan dini dan penanganan kasus jiwa
- Rujukan kasus jiwa
4. Kesehatan Mata

56

A. Kegiatan yang dilakukan


-

Penemuan dan penangan kasus


Rujukan

5. Kesehatan Lansia
A. Kegiatan yang dilakukan
-

Pelayanan di dalam dan luar gedung


Pembinaan kelompok Lansia
Senam lansia
Penyuluhan Kesehatan Lansia
Deteksi Dini Kesehatan Lansia

6. PKPR (Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja)


A. Kegiatan yang dilakukan
-

Pelatihan kader PKPR


Penyuluhan & konsultasi ke sekolah
Konsultasi bagi remaja

7. Kesehatan Gigi & Mulut


A. Kegiatan yang dilakukan
1) Dalam Gedung :
- Pelayanan kedaruratan Gigi
- Pelayanan Kesehatan Gigi dan mulut dasar
- Pelayanan medik gigi dasar
2) Luar Gedung :
- UKGS
- UKGM
3.3 Fokus Kajian Program Kesehatan Masyarakat
3.3.1
Identifikasi Masalah Kesehatan Masyarakat
3.3.1.1.
Target dan capaian program puskesmas Tanjung Paku tahun 2014
sebagai pelayanan wajib :
Hasil Kegiatan:
Tabel 3.6 Hasil Kegiatan Promosi Kesehatan puskesmas Tanjung Paku tahun
2014
No

Kegiatan

Pencapaian

Penyuluhan di posyandu

62 kali

Penyuluhan ke sekolah

46 kali

Penyuluhan Keliling

8 kali

Target

57

Pembinaan kelurahan model PHBS KTR

3 kali

Kelurahan Siaga

100%

92%

Tabel 3.7.Hasil Kegiatan Program Kesehatan Ibu puskesmas Tanjung Paku


tahun 2014
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Kegiatan
Cakupan K1
Cakupan K4
Persalinan oleh Nakes
Persalinan komplikasi obstetri yang
ditangani
Kunjungan nifas
Deteksi bumil resti oleh nakes
Deteksi bumil resti oleh masyarakat
Kematian bumil/bulin/bufas
Cakupan Neonatus

Pencapaian
96,6%
91%
92,4%
100%

Target
100%
95%
90%
80%

92,4%
19,32%
19,32%
2
97%

90%
20%
20%
90%

Tabel 3.8. Hasil Kegiatan Kesehatan Anak puskesmas Tanjung Paku tahun
2014
No

Kegiatan

Pencapaian

Target

1
2
3

Cakupan KN1
Cakupan KN lengkap
Neonatus dengan komplikasi yang
ditangani
Pelayanan kesehatan bayi
DDTK bayi 4 kali pertahun
Bayi DDTK yang dirujuk
DDTK balita 2 kali pertahun
Balita DDTK yang dirujuk
DDTK APRAS 2 kali pertahun
Pelayanan kesehatan anak balita
Cakupan MTBM
Jumlah kunjungan neonatus MTBM yang
dirujuk
Cakupan MTBS
Jumlah kunjungan MTBS yang dirujuk
Jumlah kematian neonatus
Jumlah kematian bayi
Jumlah kematian balita

97%
90%
100%

90%
90%
80%

90%
91,2%
0
105%
6 orang
63,2%
95,5%
100%
0

87%
90%
85%
83%
80%
-

78%
3,2%
1 kasus
1 kasus
1 kasus

80%
-

4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

Tabel 3.9 Hasil Kegiatan Keluarga Berencana puskesmas Tanjung Paku tahun
2014

58

No
1
2
3
4
5
6
7

Kegiatan
Jumlah PUS
Peserta KB baru
Peserta KB aktif
DO
KB paska salin
PUS Gakin
KB aktif Gakin

Pencapaian

Target
2940 jiwa
70%
747 jiwa
70%

9,18%
73,9%
9,79%
11,48%
63,12%

Tabel 3.10 Hasil Kegiatan Gizi Masyarakat puskesmas Tanjung Paku tahun 2014
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Kegiatan
Cakupan D/S balita
Cakupan N/D balita
Cakupan BGM/D balita
Cakupan ASI eksklusif
Cakupan vitamin A balita
Cakupan penimbangan massal
Cakupan Fe3 ibu hamil
Cakupan Fe ibu nifas
Cakupan vitamin A ibu nifas
Cakupan PMT pemulihan balita gizi kurang
Cakupan PMT pemulihan ibu hamil KEK
Cakupan TFC

Pencapaian
72,9%
74,8%
0,4%
81,4%
86%
95,9%
84%
80,9%
80,9%
100%
100%
100%

Target
85%
78%
3,6%
80%
85%
90%
95%
78%
78%
100%
100%
100%

- Program pencegahan dan penanggulanaga penyakit


1. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit TBC

Table 3.11. Capaian Program Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit TBC


puskesmas Tanjung Paku tahun 2014

Penemuan BTA positif

Pencapaia
n
17 orang

BTA positif kambuh

3 orang

BTA negatif, rontgen positif

10 orang

2. P

Penemuan TB anak

2 orang

No

Kegiatan

Target
30 orang

n
cegahan dan Pemberantasan DBD.

Table 3.12. Capaian Program Pencegahan dan Pemberantasan DBD puskesmas


Tanjung Paku tahun 2014
No

Kegiatan

Angka bebas jentik (ABJ)

Pencapaia
n
86,3%

2
3

Penemuan kasus DBD


Penanganan kasus DBD

16 kasus
100%

100%

Kematian akibat DBD

Target
95%

59

3. Penemuan dan penanggulangan ISPA dan Pneumonia


Table 3.13. Capaian Program Penemuan dan penanggulangan ISPA dan Pneumonia

puskesmas Tanjung Paku tahun 2014


No

Kegiatan

Pencapaia
n

Target

Penemuan kasus Pneumonia

128 kasus

192 kasus

Kasus Pneumonia yang dirujuk

Kematian akibat Pneumonia

4.
4.
4.
4.

Penemuan dan Penanggulangan Kasus Diare


Table 3.14. Capaian pelaksanaan Program Penemuan dan Penanggulangan Kasus
Diare puskesmas Tanjung Paku tahun 2014
No

Kegiatan

Pencapaia
n

Target

Penemuan kasus Diare

356 kasus

Pemakaian oralit

1424 bks

1424 bks

Kasus Diare yang dirujuk

5.

Kematian akibat Diare

5.

Pelaksanaan Program VCT dan IMS

Table 3.15. Capaian Pelaksanaan Program VCT dan IMS Puskesmas Tanjung Paku
tahun 2014
No

Kegiatan

Pencapaia
n

Target

Mobile VCT

18 kali

Klien VCT laki-laki

178 orang

Klien VCT perempuan

354 orang

Ibu hamil yang diperiksa HIV

119 orang

Mobile IMS

18 kali

Klien IMS laki-laki

75 orang

Klien IMS perempuan

337 orang

6. Penemuan dan Penanganan Kasus Rabies


Table 3.16. Capaian Pelaksanaan Program Penemuan dan Penanganan Kasus Rabies

Puskesmas Tanjung Paku tahun 2014


60

No

Kegiatan

Pencapaia
n

Target

Kasus gigitan oleh binatang penular


Rabies

25 kasus

Pemberian VAR

11 kasus

Pemberian SAR

a.
b.
c.
d.
e.

7. Program Penyakit Tidak Menular (PPTM)


Table 3.17. Capaian Pelaksanaan Program Penyakit Tidak Menular (PPTM)

Puskesmas Tanjung Paku tahun 2014


Kegiatan

Pencapaia
n

Target

Cakupan deteksi dini Ca. Mamme


dan Ca. Cerviks

50 orang

692 orang

Kasus tumor jinak pada Mamme

2 kasus

Kasus curiga kanker Mamme

Kelainan lain pada Mamme

Kasus IVA positif

Kasus curiga kanker serviks

Kelainan lain pada serviks

Pemeriksaan calon jemaah haji

42 orang

42 orang

Jumlah calon jemaah >60 tahun

18 orang

10

Jumlah calon jemaah 50-60 tahun

13 orang

11

Jumlah calon jemaah <50 tahun

11 orang

12

Penyakit terbanyak calon jemaah

Jantung dan
pemb.
darah,
metabolik

13

Jumlah Posbindu yang aktif

2 buah

4 buah

14

Jumlah kader Posbindu yang aktif

6 orang

12 orang

No

8.
8.
8.
8.
8.
8.
8.
8.
8.
8.
8.
8.
8.
8.
8.
8.
8.

Program Imunisasi

Table 3.18. Capaian Pelaksanaan Program Imunisasi Puskesmas Tanjung Paku


tahun 2014

61

No

Kegiatan

Kontak pertama
a. HB0
b. BCG
c. DPT+HB1
Kontak lengkap
a. DPT+HB3
b. Polio 4
c. Campak
BIAS Campak anak SD
Imunisasi lanjutan
a. Pentavalen
b. Campak
BIAS DT anak SD
BIAS TT anak SD
TT WUS siswi SLTA
TT WUS di posyandu
Kasus KIPPI

3
4

5
6
7
8
9

Tabel
Hasil

Pencapaia
n

Target

97,3%
98%
97,8%

95%
95%
95%

97,8%
98,3%
97,3%
98,5%

90%
90%
90%
95%

97%
96,4%
81,2%
78,4%
0

70%
70%
90%
90%
80%
80%
-

3.19
Kegiatan

Kesehatan Lingkungan Puskesmas Tanjung Paku tahun 2014


\

No

Kegiatan

Pencapaian

Target

Akses air bersih

94,6%

92%

Jamban keluarga

90,65%

90%

Pembuangan limbah

87,9%

75%

Pengeloaan sampah

89,19%

95%

Rumah sehat

87,33%

80%

TTU

84,6%

75%

3.3.1.2.

TPM

65,8%

65%

3.3.1.2.

3.3.1.2.
3.3.1.2.
3.3.1.2.
3.3.1.2.

3.3.1.2.
Target dan capaian program pengembangan puskesmas Tanjung Paku tahun 2014 :
Tabel 3.20. Hasil Kegiatan UKS Puskesmas Tanjung Paku tahun 2014
No

Kegiatan

Pencapaia
n

Target

Cakupan skrining SD

17 sekolah

17 sekolah

Cakupan skrining SLTP/SLTA

6 sekolah

6 sekolah

Pelatihan dokter kecil

5 sekolah

17 sekolah

Pembinaan sekolah sehat

5 sekolah

23 sekolah

Tabel

Pelayanan dalam dan luar gedung PKPR

3111 orang

3346 orang

3.21.
Hasil

No

Kegiatan

Pencapaian

Target

Cakupan pelayanan jiwa

18,77%

15%

Total kunjungan jiwa

3714

5073

Tiga penyakit terbanyak pada lansia

Hipertensi, RA,
ISPA

62

Kegiatan Kesehatan Jiwa, Kesehatan Lansia, Parkesmas, dan PKPR Puskesmas Tanjung Paku
tahun 2014

Dari data yang diatas terlihat bahwa, beberapa target bidang kesehatan yang
menjadi target pelayanan di puskesmas Tanjung Paku sudah tercapai sedangkan yang
belum tercapai adalah :
1.
Imunisasi lanjutan
2.
Deteksi dini Ca mammae dan Ca serviks
3.
Cakupan BGM/D balita
4.
BTA positif
5.
Cakupan Fe 3 Bumil
6.
Angka Bebas Jentik (ABJ)
7.
Penemuan kasus pneumonia
8.
Lansia pelayanan dalam dan luar gedung
9.
KB aktif Gakin
3.3.2. Penetapan Prioritas Masalah
Beberapa

masalah yang ditemukan di puskesmas tanjung paku harus di

tentukan prioritas masalahnya dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan


puskesmas. Upaya yang dilakukan untuk menentukan prioritas masalah tersebut
adalah menggunakan teknik criteria matrix(criteria matrix technique).
Rumus
P= I x T x R
P : prioritas masalah
I : pentingnya masalah (Importance)
T : kalayakan teknologi (Technology)
R : Sumber daya yang tersedia (Resources)
Berikan nilai antara 1 sampai dengan 5 untuk setiap criteria yang sesuai.
Pentingnya masalah (P)

Makin

penting

Importancy)

masalah

tersebut,

makin

diprioritaskan

penyelesaiannya.
Ukuran pentingnya maslaah banyak macamnya diantaranya:
Besarnya masalah (prevalence)
Akibat yang ditimbulkan oleh masalah (Severity)
Kenaikan besarnya masalah (Rate of increase)

63

Derajat keinginan masyarakat yang tidak terpenuhi (Degree of unmeet


need)
Keuntungan social karena selesainya masalah (social benefit)
Rasa prihatin masyarakat terhadap masalah (public concern)
Suasana politik (political climate)
Pentingnya masalah (I) pemberian nilai untuk I (pentingnya masalah)

Niali 5 : sangat penting


Nilai 4 : penting
Nilai 3 : agak penting
Nilai 2 : kurang penting
Niali 1 : tidak penting

Kelayakan teknologi (T)

Makin layak teknologi yang tersedia dan dapat dipakai untuk mengatasi maslah

(technical feasibility), makin diprioritaskan masalah tersebut.


Kelayakan teknologi yang dimaksud disini adalah menunjuk pada penguasaan
ilmu dan teknologi yang sesuai.

Pemberian nilai untuk T

Nilai 5 : sangat mudah


Nilai 4 : mudah
Nilai 3 : agak mudah
Nilai 2 : kurang mudah
Nilai 1 : tidak mudah

Sumber daya yang tersedia (R)

Makin tersedia sumber daya yang dapat dipakai untuk mengatasi masalah

( Resources availability), makin diprioritaskan maslaah tersebut.


Sumber daya yang dimaksudkan disini adalah yang menunjuk pada tenaga (man),
dana ( money), dan sarana (material).

Pemberian nilai untuk R

Nilai 5 : sangat tersedia


Nilai 4 : tersedia
Nilai 3 : agak tersedia
Nilai 2 : kurang tersedia
Nilai 1 : tidak tersedia

3.3.3. Penilaian Prioritas Masalah Di Puskesmas Tanjung Paku


Berdasarkan keseluruhan program yang belum mencapai target,dipilih lima
masalah yang memiliki skor tertinggi berdasarkan teknik criteria matrix. Penilaian
64

lima masalah prioritas tersebut ditentukan berdasarkan data laporan tahunan


puskesmas, wawancara dengan pemegang program dan pimpinan puskesmas.
Permasalahan ini tidak hanya dilihat dari kesenjangan antara target dan pencapaian,
tetapi

juga

dilihat

dari

prioritas

masalah,

pentingnya

maslah,

kelayakan

teknologi,sumber daya yang tersedia. Adapun maslah yang menjadi prioritas utama
berdasarkan teknik criteria matrix adalah rendahnya cakupan program deteksi dini Ca
mamae dan ca servik di wilayah kerja puskesmas tanjung paku kota solok tahun 2014.
3.22. Table Penilaian prioritas masalah berdasarkan teknik criteria matrix
Masalah
I
T
R
Total
prioritas
cakupan program 5
5
5
125
P1
deteksi dini Ca
mamae dan ca
servik
Cakupan BGM/D 5

100

P2

balita
BTA positif
5
Angka
bebas 5

5
5

4
3

100
75

P3
P4

jentik (ABJ)

65

66

A.

N
o
1

Analisis Sebab Akibat Masalah


Tabel. 3.23. Analisis sebab akibat
Variabel masalah
Faktor
penyebab
Man

Penyebab masalah
-

Methode

Alternative pemecahan
masalah

kurangnya
pengetahuan tentang
program deteksi dini
Ca mamae dan ca
servik
Masyarakat
masih
Malu
untuk
melakuan
pemeriksaan deteksi
dini Ca mamae dan
ca servik
Kurang
aktifnya
petugas dan kader
dalam
melakukan
penjaringan pasien
baru di lapangan.
Kurangnya pelatihan
petugas-petugas baru
tentang pemeriksaan
deteksi
dini
Ca
mamae dan ca servik
kurang
memanfaatkan media
cetak dan media
elektronik
untuk
sosialisasi
tentang
program deteksi dini
Ca mamae dan ca
servik
Kurangnya kegiatan
deteksi
dini
Ca
mamae dan ca servik

Memberikan edukasi pada


ibu-ibu.
Meningkatkan
keaktifan
petugas dan kader kesehatan
dalam
melakukan
penjaringan
pasien-pasien
yang dilakukan di posyandu
dan
PUSTU.
Dan
memberikan penyegaran ilmu
kepada petugas dan kader
kesehatan tentang pentingnya
deteksi dini Ca mamae dan
ca servik.
Memberikan
pelatihan
kepada
petugas-petugas
kesehatan
baru
tentang
pemeriksaan deteksi dini Ca
mamae dan ca servik.

lebih memanfaatkan media


cetak dan media elektronik
untuk
sosialisasi
dalam
promosi kesehatan deteksi
dini Ca mamae dan ca servik
kepada masyarakat
memperbanyak
kegiatan
deteksi dini ca mammae dan
ca cerviks di lapangan.

67

yang di lakukan di
lapangan.
kurangnya anggaran untuk
melakukan
promosi
tentang
deteksi
dini
Ca
mamae dan ca servik

Money

Material

Kurang tersedianya leaflet


tentang
deteksi
dini
Ca
mamae dan ca servik

Lingkungan

Kurang perdulinya masyarakat


dalam
mendukung program
puskesmas
Dukungan
suami yang kurang
Kurangnya dukugan dari stakeholder

Menyediakan dana khusus


untuk promosi kesehatan
tentang deteksi dini Ca
mamae dan ca servik

Pengadaan leaflet untuk


mendukung
pelaksanaan
program serta memperbanyak
dan lebih memanfaatkan
poster dan leaflet tentang
deteksi dini Ca mamae dan
ca servik
Memberikan
penyukuhan
kepada mayarakat tentang
peran mereka mensukseskan
program puskesmas
memberikan edukasi kepada
suami.
lebih
meyakinkan
stakeholder akan pentingnya
deteksi dini ca cervik dan ca
mammae.

B. Penetapan Alternatif Pemecahan Masalah


1. Man
A. Masih kurangnya pengetahuan ibu tentang deteksi dini Ca mamae dan ca servik
1) Kegiatan
:Memberikan penyuluhaan deteksi dini Ca mamae dan ca
servik
2) Tujuan

: Meningkatkan pengetahuan serta pemahaman Ibu tentang

deteksi dini Ca mamae dan ca servik


3) Sasaran
: wanita usia subur (wanita yang sudah menikah atau sudah
pernah melakukan hubungan intim) dan wanita yang mempunyai resiko tinggi
(usia 30-50 tahun)
4) Lokasi
: Puskesmas, Puskesmas pembantu, Posyandu.
5) Pelaksana
: Dokter, Bidan dan Petugas yang mendapat pelatihan tentang
deteksi dini Ca mamae dan ca servik
B. Masyarakat masih Malu untuk melakuan pemeriksaan deteksi dini Ca mamae dan ca
servik
68

1) Kegiatan : Memberikan penyuluhaan deteksi dini Ca mamae dan ca servik


2) Tujuan
: Meningkatkan pengetahuan serta pemahaman Ibu tentang deteksi dini
Ca mamae dan ca servik
3) Sasaran : masyarakat
4) Lokasi
: Puskesmas, Puskesmas pembantu, Posyandu.
5) Pelaksana : Dokter, Bidan dan Petugas yang mendapat pelatihan tentang deteksi
dini Ca mamae dan ca servik
C. Kurang aktifnya petugas dan kader dalam melakukan penjaringan pasien baru di
lapaangan.
1) Kegiatan

: Memberikan penyuluhan dan melakukan pemeriksaan deteksi

dini Ca mamae dan ca servik di lapangan.


2) Tujuan
: menjaring pasien baru
3) Sasaran
: wanita usia subur (wanita yang sudah menikah atau sudah
pernah melakukan hubungan intim) dan wanita yang mempunyai resiko tinggi
(usia 30-50 tahun)
4) Lokasi
: Puskesmas, Puskesmas pembantu, Posyandu.
5) Pelaksana
: Dokter, Bidan, Petugas dan kader yang mendapat pelatihan
tentang deteksi dini Ca mamae dan ca servik
D. Kurangnya pelatihan petugas-petugas baru tentang

pemeriksaan deteksi dini Ca

mamae dan ca servik.


1) Kegiatan : Memberikan pelatihan kepada petugas-petugas baru tentang tentang
pemeriksaan deteksi dini Ca mamae dan ca servik
2) Tujuan
: Meningkatkan pengetahuan petugas-petugas baru tentang
pemeriksaan deteksi dini Ca mamae dan ca servik.
3) Sasaran : Petugas puskesmas
4) Lokasi
: Puskesmas
5) Pelaksana : Dokter, Kepala Puskesmas dan penanggung jawab program.
2. Methode
A. kurang memanfaatkan media cetak dan media elektronik untuk sosialisasi
tentang program deteksi dini Ca mamae dan ca servik
1) Kegiatan
: melakukan promosi kesehatan tentang program
deteksi dini Ca mamae dan ca servik melalui media elektronik radio
maupun media cetak seperti koran.
2) Tujuan : Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang program
pemeriksaan deteksi dini Ca mamae dan ca servik.
3) Sasaran
: masyarakat
4) Lokasi : Stasiun Radio, percetakan koran
5) Pelaksana : Dokter, Kepala Puskesmas dan penanggung jawab
program.
3. Material
A. Tidak tersedianya leaflet.
1)
Kegiatan : Pengadaan leaflet deteksi dini Ca mamae dan ca servik
69

2)

Tujuan :Mempermudah penyebaran informasi tentang deteksi dini Ca mamae dan ca

3)
4)
5)
B.

servik.
Sasaran
: masyarakat
Lokasi : Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Posyandu.
Pelaksana
: Penanggung jawab program.
Kurangnya kegiatan deteksi dini Ca mamae dan ca servik yang di lakukan di
lapangan.
1) Kegiatan : melakukan penyuluhan dan pemeriksaan deteksi dini ca mammae
dan ca cerviks di lapangan
2) Tujuan : menjaring pasien-pasien baru
6) Sasaran
: wanita usia subur (wanita yang sudah menikah atau sudah
pernah melakukan hubungan intim) dan wanita yang mempunyai resiko tinggi
(usia 30-50 tahun)
3) Lokasi
: Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Posyandu.
4) Pelaksana
: Penanggung jawab program.

C. PLAN OF ACTION
Tabel. 3.24. Plane of Action
NO

Kegiatan

1.

Pelatihan
Petugas
kesehatan
dan kader

2.

Penyuluhan

Tujuan
Meningkatka
n
pengetahuan
Petugas
kesehatan dan
kader
terhadap
deteksi dini
kanker
serviks dan
kanker
mammae..
Memberikan
informasi dan
edukasi
kepada
masyarakat
tentang
deteksi dini
kanker
serviks dan

Sasaran
Petugas
kesehatan
dan kader

Lokasi
Puskesmas,
Pustu, dan
Posyandu

Volume
Kegiatan
1 kali
dalam 1
tahun

Pelaksanaan
Dokter,
Bidan dan
Petugas yang
mendapat
pelatihan
tentang
deteksi dini
Ca mamae
dan ca servik

Masyarakat Puskesmas,
1
kali Dokter,
Pustu,
dan dalam 1 Bidan
dan
posyandu
bulan
Petugas yang
mendapat
pelatihan
tentang
deteksi dini
kanker
serviks dan
70

3.

4.

kanker
mammae
Pelaksanaa Agar semua
n
deteksi wanita
dini kanker mendapat
serviks dan pemeriksaan
kanker
deteksi dini
mammae
kanker
secara pasif serviks dan
kanker
mammae

Pelaksanaa
n
deteksi
dini kanker
serviks dan
kanker
mammae
secara aktif

#Melakukan
sosialisasi
tentang
deteksi dini
Melakukan
sosialisasi
tentang
deteksi dini
# Mendorong
masyarakat
untuk
melakukan
deteksi dini

wanita usia Puskesmas


subur
(wanita
yang sudah
menikah
atau sudah
pernah
melakukan
hubungan
intim) dan
wanita
yang
mempunya
i
resiko
tinggi (usia
30-50
tahun)

wanita usia
subur
(wanita
yang sudah
menikah
atau sudah
pernah
melakukan
hubungan
intim) dan
wanita
yang
mempunya

kanker
mammae
Setiap
#pelaksanaan
hari
dapat
di
integrasikan
dengan
program
Infeksi
Saluran
Reproduksi
(ISR)/Infeksi
Menular
Seksual
(IMS)
dan
Integrasi
dengan
Keluarga
Berencana
(KB)
# pelaksana:
Dokter,
Bidan
dan
Petugas yang
mendapat
pelatihan
tentang
deteksi dini
kanker
serviks dan
kanker
mammae
pada
Deteksi dini
peringata dilaksanakan
n hari-hari pada acarabesar
acara tertentu
dengan
berkoordinas
i dan bekerja
sama dengan
lintas
program dan
lintas sektor
seperti
peringatan
71

pemeriksaan
deteksi dini
kanker
serviks dan
kanker
mammae

5.

Pengadaan
leaflet

Promosi

i
resiko
tinggi (usia
30-50
tahun)

Memberikan
Masyarakat
informasi dan
edukasi
kepada
masyarakat
tentang
deteksi dini
kanker
serviks dan
kanker
mammae
Memberikan
Masyarakat

Puskesmas, 1 kali
PUSTU,
dalam 1
POSYANDU tahun

Stasiun

1 kali

hari besar,
percepatan
deteksi dini
dan tempat
pelaksanaan
tidak hanya
di fasilitas
kesehatan
namun bisa
di
kantor, pusat
keramaian
yang
memenuhi
syarat untuk
pemeriksaan
IVA dibawah
koordinasi
FKTP
setempat.
#pelaksana:
Dokter,
Bidan, kader
dan Petugas
yang
mendapat
pelatihan
tentang
deteksi dini
Ca
mamae
dan
ca
servik.
Dokter dan
coordinator
program.

Dokter,
72

kesehatan
di
media
elektronik
(radio) dan
media cetak
(koran)

informasi dan
edukasi
kepada
masyarakat
tentang
deteksi dini
kanker
serviks dan
kanker
mammae

radio,
percetakan
koran

dalam 1
bulan

coordinator
program dan

73

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1. Kesimpulan
Berdasarkan data yang didapat maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :
1. Cakupan kunjungan wanita untuk pemeriksaan deteksi dini kanker payudara dan
kanker leher rahim di Wilayah Puskesmas Tanjung Paku Kota Solok tahun 2014
sebanyak 50 orang dari target yang telah ditentukan yaitu 692 orang.
2. Dilihat dari factor yang mempengaruhi rendahnya cakupan kunjungan wanita untuk
pemeriksaan IVA di Wilayah keja Puskesmas Tanjung Paku di pengaruhi oleh
beberapa hal sebagai berikut:
A. Man
-

kurangnya pengetahuan tentang program deteksi dini Ca mamae dan ca servik


Masyarakat masih Malu untuk melakuan pemeriksaan deteksi dini Ca mamae

dan ca servik
Kurang aktifnya petugas dalam melakukan penjaringan pasien baru di
lapangan.

Kurangnya pelatihan petugas-petugas baru tentang pemeriksaan deteksi dini

Ca mamae dan ca servik


B. Methode
-

kurang memanfaatkan media cetak dan media elektronik untuk sosialisasi


tentang program deteksi dini Ca mamae dan ca servik

Kurangnya kegiatan deteksi dini Ca mamae dan ca servik yang di lakukan di

lapangan.
C. Money
-

kurangnya

anggaran untuk melakukan promosi tentang deteksi dini Ca

mamae dan ca servik


D. Material
- Kurang tersedianya poster dan leaflet tentang deteksi dini Ca mamae dan ca
servik
E. Lingkungan
-

Kurang perdulinya masyarakat dalam mendukung program puskesmas


Dukungan suami yang kurang

Kurangnya dukugan dari stakeholder

4.2. Saran
74

Dari masalah yang menjadi penyebab rendahnya cakupan kunjungan wanita untuk
pemeriksaan IVA di Wilayah Puskesmas Tnjung Paku, dapat disarankan beberapa hal
berikut sebagai langkah pemecahan masalah yang dihadapi baik untuk Puskesmas
Tnjung Paku maupun Dinas Kesehatan Kota Solok. Adapun saran tersebut adalah:
1. Man
Memberikan edukasi pada ibu-ibu. Meningkatkan keaktifan petugas dan kader
kesehatan dalam melakukan penjaringan pasien-pasien yang dilakukan di posyandu
dan PUSTU. Memberikan penyegaran ilmu kepada petugas dan kader kesehatan
tentang pentingnya deteksi dini Ca mamae dan ca servik.
2. Methode
Lebih memanfaatkan media cetak dan media elektronik untuk sosialisasi dalam
promosi kesehatan deteksi dini Ca mamae dan ca servik kepada masyarakat dan
memperbanyak kegiatan deteksi dini ca mammae dan ca cerviks di lapangan.
3. Money
Menyediakan dana khusus untuk promosi kesehatan tentang deteksi dini Ca
mamae dan ca servik
4. Material
Pengadaan poster dan leaflet untuk mendukung pelaksanaan program serta
memperbanyak dan lebih memanfaatkan poster dan leaflet tentang deteksi dini Ca
mamae dan ca servik
5. Lingkungan
Memberikan penyukuhan kepada mayarakat tentang peran mereka mensukseskan
program puskesmas. Memberikan edukasi kepada suami. Lebih meyakinkan
stakeholder akan pentingnya deteksi dini ca cervik dan ca mammae.

75