Anda di halaman 1dari 46

Matriks dan Determinan

Rahmi Rusin
Departemen Matematika, FMIPA UI

Sistem Persamaan Linear


Secara umum, sistem persamaan linear (SPL) dengan m
persamaan dan n variable yang tidak diketahui dapat
dituliskan dalam bentuk:

a11 x1 a12 x2 L a1n xn b1


a21 x1 a22 x2 L a2 n xn b2
M
M
am1 x1 am 2 x2 L amn xn bm

Atau bentuk matriks:

a11
a
21

a12

a22

L
O

am1

am 2 L

a1n
a2 n
M

amn

x1
x
2

M

xn

b1

b
2
M

bm

atau
Ax = b
Dimana A adalah matriks ukuran m n, x vektor ukuran
n 1 dan b vektor ukuran m 1.
Jika b = 0, SPL di atas disebut SPL homogen
dan jika b 0, disebut SPL Nonhomogen

SPL Nonhomogen dengan Dua Persamaan Dua Variabel

a11 x a12 y b1
a21 x a22 y b2

Tepat satu penyelesaian

Tidak terdapat penyelesaian

Banyak penyelesaian

Kemungkinan penyelesaian SPL Nonhomogen Ax=b

Tepat satu penyelesaian


Banyak penyelesaian
Tidak mempunyai penyelesaian

SPL Nonhomogen disebut konsisten jika mempunyai paling


sedikit satu penyelesaian, jika tidak disebut inkonsisten

Metode Penyelesaian SPL Ax = b

Eliminasi Gauss
Eliminasi Gauss-Jordan
Dengan mencari invers dari A, yaitu A1 dan x = A1b
Aturan Cramer

Eliminasi Gauss Jordan


Matriks diperbesar (Augmented Matrix)
a11 a12
a
21 a22
M

am1 am 2

L
L
O
L

a1n b1
a2 n b2
M M

amn bm

Operasi Baris Elementer:

Mengalikan suatu baris dengan konstanta yang tidak


nol

Menukar dua baris

Menambah suatu baris dengan kelipatan baris lain.

Contoh:
Selesaikan SPL x1 x2 2 x3 8

x1 2 x2 3 x3 1

3 x1 7 x2 4 x3 10

Jawab:
Matriks yang diperbesar
1 1 2 8
1 2 3 1

3 7 4 10

1 1 2 8
1 2 3 1

3 7 4 10

1
0

B2 + B1

1 5 9
0 10 2 14

1 1 2
0 1 5

8
9
3 7 4 10

B3+10 B2

B3 3B1

2
8
1 1
0 1 5

0 10 2 14

8
1 1 2
0 1 5

0 0 52 104

B3( 1 )
52

B2(1 )

1 1 2 8
0 1 5 9

0 0 1 2

Matriks yang terakhir bersesuaian dengan SPL


x1 x2 2 x3 8
x2 5 x3 9
x3 2

Dengan melakukan substitusi balik akan


diperoleh x 3, x 1, x 2
1

Sampai langkah ini, matriksnya kita sebut


matriks eselon baris (metode Eliminasi
Gauss).

Jika dilanjutkan
1 1 2 8
0 1 5 9

0 0 1 2

1 0 0 3
0 1 0 1

0 0 1 2

B1 B 2

1 0 7 17
0 1 5 9

0 0 1 2

B1 7B3

1 0 0 3
0 1 5 9

0 0 1 2

B2+5B3

Diperoleh hasil yang sama, x1 3, x2 1, x3 2

Matriks tersebut dinamakan matriks eselon baris


tereduksi dan metodenya disebut eliminasi GaussJordan.

Matriks dan Operasi Matriks


Definisi :
Matriks adalah kelompok bilangan yang disusun dalam
suatu jajaran berbentuk persegi atau persegi panjang yang
terdiri atas baris-baris atau kolom-kolom.
Bilangan-bilangan tersebut disebut entri/elemen dari
matriks
Ukuran/ordo matriks m n menyatakan bahwa matriks
tersebut mempunyai m baris dan n kolom
Jika m= n, maka disebut matriks bujursangkar/persegi

Penjumlahan Dua Matriks


Definisi :
Misalkan A dan B adalah matriks-matriks berukuran m x n
dengan entri aij dan bij. Jika matriks C adalah jumlah
matriks A dengan matriks B atau C = A+B,
maka matriks C juga berukuran m x n dengan
cij = aij+bij
,untuk semua i dan j.

Sifat-Sifat Penjumlahan Matriks


Misalkan A,B,C dan 0 adalah matriks-matriks yang
berukuran sama, maka dalam penjumlahan matriks :
Komutatif : A + B = B + A
Asosiatif : (A + B) + C = A + (B + C)
Terdapat sebuah matriks identitas, yaitu matriks 0
bersifat
A+0=0+A=A
Semua matriks A mempunyai lawan atau negatif A
bersifat
A + (-A) = 0

Perkalian skalar
Definisi :
Misalkan A adalah suatu matriks berukuran m x n dengan
entri aij dan k adalah suatu bilangan real. Jika
matriks C adalah hasil perkalian bilangan real k terhadap
matriks A, ditulis C = kA, maka matriks C berukuran m x n
dengan entrinya adalah
cij = kaij
,untuk semua i dan j

Sifat-Sifat Perkalian Skalar


Misalkan p dan q adalah bilangan-bilangan real, A dan B
adalah matriks-matriks berukuran m x n, maka perkalian
bilangan real dengan matriks memenuhi sifat-sifat :
(p + q)A = pA + qA
p(A + B) = pA + pB
p(qA) = (pq)A
1A = A
(-1)A = -A

Perkalian Dua Matriks


Definisi :
Misalkan A adalah matriks berukuran m x n dengan
entri aij dan B adalah matriks berukuran n x p dengan
entri bij.
Jika matriks C adalah hasil perkalian matriks A terhadap
matriks B,atau C = AB, maka matriks C berukuran m x p
dan entri matriks C pada baris ke-i dan kolom ke-j (cij)
diperoleh dengan cara mengalikan elemen-elemen baris
ke-i dari matriks A terhadap elemen-elemen kolom ke-j dari
matriks B, kemudian masing-masing
dijumlahkan. atau
n
ditulis
c
a b
ij

k 1

ik

kj

Catatan :
Jika banyak kolom matriks A sama banyak dengan banyak baris
matriks B, maka matriks A dan B dikatakan dua matriks yang
sepadan untuk dikalikan.
Sifat-Sifat Perkalian Dua Matriks atau lebih yang sepadan
Pada umumnya tidak komutatif
Bersifat asosiatif
Bersifat distributif
Dalam perkalian matriks yang hanya memuat matriks-matriks
persegi dengan ukuran yang sama, terdapat sebuah matriks
identitas I yang bersifat IA =AI = A
Jika AB = 0, belum tentu A = 0 atau B = 0
Jika AB = AC, belum tentu B = C
Jika p dan q adalah bilangan-bilangan real serta A dan B
adalah matriks-matriks, maka berlaku (pA)(qB)=(pq)(AB)
Jika AT dan BT berturut-turut adalah transpos dari matriks A
dan B, maka berlaku (AB)T =BTAT.

Invers Matriks
Definisi
Misalkan A dan B masing-masing adalah matriks persegi
berukuran n n dan
berlaku
AB = BA = I
Maka A adalah invers dari B atau B adalah invers A atau A
dan B merupakan dua matriks yang saling invers.

Invers matriks bujursangkar berukuran 2 2


a
Jika matriks A
c
invers matriks A adalah

b
d
A

, maka

ad bc

d
c

b
a

dengan syarat ad bc 0
Sifat Invers dari perkalian dua matriks
Misalkan matriks A dan B merupakan matriks-matriks bujursangkar
yang tak singular, A-1 dan B-1 berturut-turut adalah invers dari matriks
A dan B, maka berlaku :
(AB)-1= B-1A-1
(BA)-1= A-1B-1

Determinan
3 4
5 6

2 5
1 1

2 4

5
0 - 1

1
2

1
2
?
9

3
5
3
3

1
2
8
2

-2

Fungsi Determinan
Definisi
Suatu permutasi dari bilangan-bilangan bulat {1, 2, 3, , n}
adalah penyusunan bilangan-bilangan tersebut dengan
urutan tanpa pengulangan
Contoh:
Permutasi dari {1, 2, 3} adalah
(1, 2, 3) (2, 1, 3)
(3, 1, 2)
(1, 3, 2) (2, 3, 1)
(3, 2, 1)
Secara umum, bilangan-bilangan pada {1, 2, , n} akan
mempunyai n! permutasi

Suatu permutasi (j1, j2, , jn) dikatakan mempunyai 1


inversi jika terdapat satu bilangan yang lebih besar
mendahului suatu bilangan yang lebih kecil.
Contoh:
(6, 1, 3, 4, 5, 2)
6 mendahului 1, 3, 4, 5, 2
3 mendahului 2 = 1 inversi
4 mendahului 2 = 1 inversi
5 mendahului 2 = 1 inversi

= 5 inversi

Jadi terdapat 8 inversi dalam permutasi di atas


(1, 2, 3, 4) : tidak terdapat inversi

Definisi
Suatu permutasi dikatakan permutasi genap jika
banyaknya inversinya sejumlah genap dan dikatakan
permutasi ganjil jika banyak inversinya sejumlah ganjil
Perkalian elementer dari matriks A ukuran nn adalah
perkalian dari n entri dari A dimana tidak ada yang datang
dari baris atau kolom yang sama
Contoh:

a11 a12
a

21 a22

maka a11a22 dan a12a21 merupakan perkalian elementer

a11
A a21
a31

a12
a22
a32

a13
a23
a33

Perkalian elementer dari matriks A adalah dalam bentuk

a1_a2_a3_
dimana bilangan pada kolom diisi dengan permutasi dari
{1, 2, 3}
Jadi perkalian elementer dari A adalah:

a11a22a33
a11a23a32

a12a21a33
a12a23a31

a13a21a32
a13a22a31

Jika A adalah matriks berukuran nn maka terdapat n!


perkalian elementer dengan bentuk dimana adalah
permutasi dari {1, 2, ..., n}
Perkalian elementer bertanda dari A adalah perkalian
elementer dikali +1 jika merupakan permutasi genap dan
dikali 1 jika merupakan permutasi ganjil.
Pada Contoh 2 bagian b di atas perkalian bertanda dari A
adalah

a11a22a33

a12a21a33

a13a21a32

a11a23a32

a12a23a31

a13a22a31

Definisi
Jika A adalah matriks bujursangkar. Fungsi determinan dari
A, det(A) didefinisikan sebagai jumlah semua perkalian
elementer bertanda dari A.

det(A) = a11a22a33 + a13a21a32 + a12a23a31 a12a21a31


a11a23a32 a13a22a31

Reduksi Baris untuk mencari determinan


Teorema
Misalkan A adalah matriks bujursangkar
Jika A memiliki satu baris nol atau kolom nol,maka
det(A) = 0
det(A) = det (AT)
Teorema
Jika A adalah matriks segitiga nn (segitiga atas, segitiga
bawah atau diagonal), maka det(A) adalah perkalian entrientri pada diagonal utamanya
det(A) = a11a22...ann

Teorema 2.2.3
Misalkan A adalah matriks bujursangkar
Jika B adalah matriks yang dihasilkan dari perkalian
suatu baris atau kolom dengan skalar k 0 maka
det(B) = k det(A)
Jika B adalah matriks yang dihasilkan dari pertukaran
dua baris atau kolom dari A maka det(B) = det(A)
Jika B adalah matriks yang dihasilkan ketika suatu baris
ditambahkan dengan kelipatan baris lain atau suatu
kolom ditambahkan dengan kelipatan kolom lain dari A,
maka det(B) = det(A).

Contoh:

ka11

ka12

ka13

a12

a13

a21
a31

a22
a32

a23 k a21 a22


a33
a31 a32

a23
a33

a11
a31
a21

a12
a32
a22

a11

a13
a11
a33 a21
a23
a31

a11 ka31
a21

a12 ka32
a22

a31

a32

a12
a22
a32

a13
a23
a33

a13 ka33 a11 a12


a23
a21 a22
a33

a31

a32

a13
a23
a33

Teorema
Misal E adalah matriks elementer berukuran n n,
Jika E dihasilkan dari suatu baris In dikali k, maka
det(E) = k
Jika E dihasilkan dari pertukaran dua baris pada In, maka
det(E) = 1
Jika E dihasilkan dari suatu baris ditambah kelipatan
baris lain di In, maka det(E) = 1

Contoh:

1 0 0
0 1 0 2
0 0 2
1 0 0
0 0 1 1
0 1 0

1 2 0
0 1 0 1
0 0 1

Teorema
Jika A adalah matriks bujursangkar dimana terdapat dua
baris atau dua kolom yang saling berkelipatan, maka
det(A) = 0

Contoh:
1 3 0
A 2 4 1
5 2 2

3 0 B 2 B 1 3
2
1
2 4 1
0 2
5 2
5 2 2
1 3
= 2 0 1
0 13
1

0
1 3 0
B3 5 B1
1
0 2 1

2
0 13 2
0
12
2

B3 13 B2

17
17
2

(2)(1)(1)

1 3 0
2 0 1 12
0 0 172

1
2
A
0

7
1
2
0
7

0
7
6
3

3
6
0

3 1 5

0 0
7 0
6 3

0 3
0 6
3 0
1 5

1
C4 3C1 2

0
7

0
7
6
3

0 0
0 0
(1)(7)(3)(26) 546
3 0
1 26

Teorema
Suatu matriks bujursangkar A invertible jika dan hanya jika
det (A) 0
Teorema
Jika A dan B adalah matriks bujursangkar dengan ukuran
sama, maka
det(AB) = det (A) det(B)
Teorema
Jika A invertible, maka

1
det( A )
det( A)
1

Ekspansi Kofaktor dan Aturan Cramer


Definisi
Jika A matriks bujursangkar, maka minor dari entri aij,
dinotasikan dengan Mij adalah determinan dari submatriks
setelah baris ke-i dan kolom ke-j dihilangkan dari A.
i j
(

1)
M ij , dinotasikan
Kofaktor dari entri aij adalah bilangan

dengan Cij.

Contoh:

3 1 4
A 2 5 6
1 4 8
3 1 4
5 6
M 11 2 5 6
16
4 8
1 4 8

C11 = (-1)1+1M11 = M11 = 16

Tanda untuk cij dapat digambarkan dari posisinya


pada matriks berikut

L
L

L
L
M M M M M

Ekspansi Kofaktor

a11 a12
A a21 a22
a31 a32

a13
a23
a33

det(A) = a11a22a33 + a13a21a32 + a12a23a31


a12a21a33 a11a23a32 a13a22a31
det(A)

= a11 (a22a33 a23a32) a12 (a21a33 a23a31)


+ a13 (a21a32 a22a31)
= a11M11 a12M12 + a13M13
= a11c11 + a12c12 + a13c13

Formula ini menyatakan determinan matriks A ekspansi


kofaktor

Teorema
Determinan dari matriks A n n dengan cara ekspansi
kofaktor
n
det( A) aij cij , i = 1, 2, ..., n : Ekspansi menurut baris i
j 1
n

det( A) aij cij , j = 1, 2, ..., n : Ekspansi berdasarkan


i 1
kolom j

3 1 0
Contoh:
Hitung determinan A 2 4 3
5 4 2
Ekspansi berdasarkan kolom 1

3 1 0
4 3
1 0
1 0
A 2 4 3 3
2
5
4 2
4 2
4 3
5 4 2
= 3(4) + 2(2) + 5(3) = 1

Atau berdasarkan baris pertama

3 1 0
4 3
2 3
A 2 4 3 3
1
4 2
5 2
5 4 2
= 3(4) (11) = 1

3
1
2
3

5 2 6 3 7 4
0 0 0
2 1 1

4 1 5 3 6 6
0 1 8
7 5 3

6
3 7 4
1
3 6 6
5
3

3 7 60
3 60
18
3 6 54
3 54
0 1 0

Definisi
Jika A adalah matriks nn, Cij kofaktor dari aij, maka

C11 C12 L
C
21 C22
M
O

Cn1 Cn 2 L

C1n
M

Cnn

disebut matriks kofaktor dari A.


Transposenya disebut matriks Adjoin dari A, ditulis Adj(A)

Contoh:

3 2 1
A 1 6 3
2 4 0

Kofaktor dari A
C11 = 12, C12 = 6, C13 = 16, C21= 4, C22 = 2,
C23 = 16, C31 = 12, C32 = 10, C33 = 16
12 6 16
Maka matriks kofaktor dari A adalah

4
2
16

12 10 16
Matriks adjoin dari A adalah
12 4 12
Adj( A) 6
2 -10
-16 16 16

Teorema
Jika A adalah matriks invertible, maka

1
A
Adj( A)
det( A)
1

Teorema (Aturan Cramer)


Jika Ax = b adalah spl dengan n peubah, det (A) 0 maka
spl mempunyai solusi tunggal

det( Ai )
xi
det( A)
dimana Ai adalah matriks A dengan kolom ke-i diganti
dengan b