Anda di halaman 1dari 28

UNIVERSITAS

PROGRAM EKSTENSI
PROGRAM STUDI

INDONESIA
MANAJEMEN

MAKALAH
PENGANTAR HUKUM BISNIS
DISTRIBUSI BARANG DAN PERIZINAN USAHA

Oleh:
Aldila Ayuningtyas(1306482331)
Fiqih Amalia Nurti (1306482804)
Lando Anania (1306483095)
Rizki Rahmadani (1306483605)

SALEMBA
2013

STATEMENT OF AUTHORSHIP

Kami yang bertanda dibawah ini menyatakan bahwa makalah terlampir adalah
murni hasil pekerjaan kami sendiri. Tidak ada pekerjaan orang lain yang kami
gunakan tanpa menyebutkan sumbernya.
Materi ini belum pernah disajikan sebagai bahan untuk makalah pada mata ajaran
lain kecuali kami menyatakan dengan jelas bahwa kami menyatakan dengan jelas
menggunakannya.
Kami memahami bahwa makalah yang kami kumpulkan ini dapat diperbanyak
dan atau dikomunikasikan untuk tujuan mendeteksi adanya plagiarisme.

Nama
: Aldila Ayuningtyas
NPM
: 1306482331
Tandatangan :
Nama
: Fiqih Amalia Nurti
NPM
: 1306482804
Tandatangan :
Nama
: Lando Anania
NPM
: 1306483095
Tandatangan :
Nama
: Rizki Rahmadani
NPM
: 1306483605
Tandatangan :
Mata Ajar
: Pengantar Hukum Bisinis
Judul Makalah: Distribusi Barang dan Perizinan Usaha
Tanggal
: 20 November 2013
Dosen
: Zoelkifli Siregar S.H., M.H

ii

KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat dan
anugerahNya penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah ini dengan baik.
Penulisan makalah ini bertujuan untuk memperluas wawasan dan menambah ilmu
mengenai pengantar ilmu hukum dan juga sebagai pelengkap nilai tugas untuk
mata kuliah Pengantar Hukum Bisnis.
Mata kuliah Pengantar Hukum Bisnis merupakan salah satu mata kuliah
yang dipelajari oleh mahasiswa program ekstensi Fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia pada semester pertama. Dalam perkuliahan ini secara garis besar
membahas tentang aspek hukum bisnis.Penulisan makalah kali ini secara khusus
membahas tentang distribusi barang dan perizinan usaha.
Penulisan makalah ini tentunya belum sempurna, kritik dan saran dari
pembaca semua diharapkan dapat memperbaiki kekurangan makalah ini. Semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca, akhir kata kami ucapkan banyak
terima kasih.

Jakarta, November 2013

Penulis

iii

DAFTAR ISI
STATEMENT OF AUTHORSHIP

ii

KATA PENGANTAR

iii

DAFTAR ISI

iv

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.1.1 Distribusi barang

1.1.2 Perizinan Usaha

1.2 Permasalahan

1.3 Tujuan Penulisan

1.4 Kerangka Teori

1.5 Metode Penulisan

10

BAB II TINJAUAN TEORITIS DAN PEMBAHASAN

11

2.1 Pembayaran dan Penyerahan Barang

11

2.1.1 Pembayaran harga barang

11

2.1.2 Penyerahan Barang

13

2.2 Pengangkutan dan Pengiriman

17

2.3 Perizinan di Bidang Kegiatan Usaha

22

BAB III PENUTUP

25

3.1 Kesimpulan

25

DAFTAR PUSTAKA

26

iv

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


1.1.1 Distribusi barang
Dalam ekonomi beberapa kegiatan yang kita kenal antara lain adalah proses
produksi, distribusi dan konsumsi. Khususnya kegiatan konsumsi tidak dapat
dilakukan apabila setelah dilakukan kegiatan produksi tidak ada kegiatan
penyampaian produk tersebut ke pihak konsumen, maka disini kita akan
membahas secara jauh tentang kegiatan distribusi barang.
Distribusi sendiri dapat diartikan sebagai kegiatan ekonomi yang
menghubungkan antara kegiatan produksi dan konsumsi. Berkat adanya kegiatan
distribusi ini, semua produk barang dan jasa dapat sampai ke tangan konsumen.
Dengan demikian kegunaan dari barang dan jasa itu sendiri akan lebih baik
setelah dapat dikonsumsi oleh konsumen.
Selain pengertian dari distribusi diatas, ada juga pembagian distribusi dari
fungsi fungsi distribusi itu sendiri. Fungsi distribusi sendiri adalah melakukan
penyampaian atau pengantaran barang atau jasa yang dihasilkan oleh produsen
baik dari tempat atau daerah yang dekat maupun jauh agar semua segmen
masyarakat di seluruh daerah dapat menikmati hasil produksi barang dan jasa
yang dihasilkan oleh produsen. Dari fungsi ini kemudian dibagi menjadi dua
fungsi antara lain fungsi distribusi pokok, fungsi tambahan, penjualan dan
pembelian.
Fungsi distribusi pokok adalah segala tugas yang harus dilakukan untuk
dapat mendistribusikan barang atau jasa. Dalam hal ini dapat dicontohkan seperti

pengangkutan atau trasportasi yang digunakan. Fungsi pengangkutan atau


transportasi untuk menyalurkan barang dan jasa karena tanpa adanya transportasi
tentunya barang dan jasa tidak dapat sampai ke tangan konsumen.
Kemudian untuk fungsi tambahan, fungsi tambahan ini dibagi menjadi dua
yaitu seleksi dan pengemasan.Guna seleksi disini adalah untuk memisahkan
barang berdasarkan kelompok dan ukuran nya. Pengemasan sendiri merupakan
tindakan preventif agar barang yang akan didistribusikan dapat sampai ke tangan
konsumen dengan keadaan yang baik dan tidak rusak.
Saluran distribusi sendiri umumnya ada tiga macam yaitu, saluran distribusi
langsung, saluran distribusi semi langsung, dan saluran distribusi tidak langsung.
Dapat dilihat dari jenisnya untuk saluran distribusi langsung biasanya untuk
produk barang dan jasa bisa sampai ke tangan konsumen langsung setelah
melewati tahap produksi tanpa melalui perantara seperti pedagang eceran, namun
untuk saluran distribusi tidak langsung biasanya melalui penadah atau wholesale,
baru setelah itu disampaikan ke konsumen.

1.1.2 Perizinan Usaha


Untuk perizinan usaha biasa nya orang memiliki Surat Izin Usaha
Perdagangan (SIUP) sebagai legalita untuk menjalankan usahanya. Surat Izin
Usaha Perdagangan (SIUP) adalah surat izin untuk dapat melaksanakan kegiatan
usaha perdagangan. Setiap perusahaan, koperasi, persekutuan maupun perusahaan
perseorangan, yang melakukan kegiatan usaha perdagangan wajib memperoleh
SIUP yang diterbitkan berdasarkan domisili perusahaan dan berlaku di seluruh
wilayah Republik Indonesia.
SIUP terdiri dari beberapa kategori yaitu SIUP kecil, SIUP menengah dan
SIUP besar. Pembagian kategori SIUP ini didasari oleh kekayaan bersih dari
perusahan itu sendiri. Contohnya untuk SIUP besar adalah untuk perusahaan
dengan kekayaan bersih diatas Rp. 10.000.000.000 (sepuluh milyar).
Legalitas lain yang digunakan adalah Tanda Daftar Perusahaan (TDP).
Berdasarkan Pasal 1 angka 1 UU 3 Tahun 1982 yang dimaksud dengan Daftar
Perusahaan adalah daftar catatan resmi yang diadakan menurut atau berdasarkan
ketentuan undang-undang ini dan atau peraturan-peraturan pelaksanaannya, dan
memuat hal-hal yang wajib didaftarkan oleh setiap perusahaan serta disahkan oleh
pejabat yang berwenang dari kantor pendaftaran perusahaan.
Kemudian NPWP atas nama perusahaan yang bersangkutan biasanya juga
sangat diperlukan dalam pengurusan administrasi keuangan bagi perusahaan,
khususnya bila berkaitan dengan pihak bank. Lalu apabila diperlukan, perusahaan
dapat membuat Surat Izin Gangguan. Berdasarkan Pasal 1 angka 3 Permendagri
27 Tahun 2009, yang dimaksud dengan Izin Gangguan adalah pemberian izin
tempat usaha atau kegiatan kepada orang pribadi atau badan usaha di lokasi

tertentu yang dapat menimbulkan bahaya, kerugian, dan gangguan, tidak termasuk
tempat atau kegiatan yang telah ditentukan oleh Pemerintah Pusat atau Pemerintah
Daerah.
1.2

Permasalahan
Adapun permasalahan dalam makalah ini dapat diuraikan dalam poin-poin

sebagai berikut :
a. Pengertian distribusi barang
b. Fungsi distribusi barang
c. Jenis saluran distribusi
d. Macam macam izin usaha
e. Izin gangguan
1.3

Tujuan Penulisan
Adapun tujuan utama penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi syarat

nilai salah satu tugas mata kuliah hukum bisnis, selain itu terdapat pula tujuan lain
yang dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Untuk mengetahui definisi distribusi barang;
b. Untubk mengetahui fungsi distribusi barang;
c. Untuk mengetahui macam macam saluran distribusi barang;
d. Untuk mengetahui tentang perizinan usaha;
e. Untuk mengetahui tentang izin gangguan;
1.4

Kerangka Teori
Saluran Distribusi adalah lembaga-lembaga distributor atau lembaga-

lembaga

penyalur

yang

mempunyai

kegiatan

untuk menyalurkan atau

menyampaikan barang-barang atau jasa-jasa dari produsen ke konsumen.


(Nitisemito; 1993 p.102)
Menurut Kotler (1991 : 279) saluran distribusi adalah sekelompok
perusahaan atau perseorangan yang memiliki hak pemilikan atas produk atau
membantu memindahkan hak pemilikan produk atau jasa ketika akan dipindahkan
dari produsen ke konsumen.
Faktor yang mendorong suatu perusahaan menggunakan distributor, adalah:

a) Para produsen atau perusahaan kecil dengan sumber keuangan terbatas tidak
mampu mengembangkan organisasi penjualan langsung.
b) Para distributor nampaknya lebih efektif dalam penjualan partai besar karena
skala operasi mereka dengan pengecer dan keahlian khususnya.
c) Para pengusaha pabrik yang cukup model lebih senang menggunakan dana
mereka untuk ekspansi daripada untuk melakukan kegiatan promosi.
d) Pengecer yang menjual banyak sering lebih senang membeli macam-macam
barang dari seorang grosir daripada membeli langsung dari masing-masing
pabriknya.
Fungsi utama saluran distribusi adalah menyalurkan barang dari produsen
ke konsumen, maka perusahaan dalam melaksanakan dan menentukan saluran
distribusi harus melakukan pertimbangan yang baik.
Adapun fungsi-fungsi saluran distribusi menurut Kotler (1997 : 531-532)
adalah :
1. Information, yaitu mengumpulkan informasi penting tentang konsumen dan
pesaing untuk merencanakan dan membantu pertukaran.
2. Promotion, yaitu pengembangan dan penyebaran komunikasi persuasif tentang
produk yang ditawarkan.
3. Negotiation, yaitu mencoba untuk menyepakati harga dan syarat-syarat lain,
sehingga memungkinkan perpindahan hak pemilikan.
4. Ordering, yaitu pihak distributor memesan barang kepada perusahaan.
5. Payment, yaitu pembeli membayar tagihan kepada penjual melalui bank atau
lembaga keuangan lainnya.
6. Title, yaitu perpindahan kepemilikan barang dari suatu organisasi atau orang
kepada organisasi / orang lain.
7. Physical Possesion, yaitu mengangkut dan menyimpan barang-barang dari
bahan mentah hingga barang jadi dan akhirnya sampai ke konsumen akhir.

8. Financing, yaitu meminta dan memanfaatkan dana untuk biaya-biaya dalam


pekerjaan saluran distribusi.
9. Risk Taking, yaitu menanggung resiko sehubungan dengan pelaksanaan
pekerjaan saluran distribusi.
Perizinan usaha adalah bentuk persetujuan atau pemberian izin dari pihak
berwenang atas penyelenggaran suatu kegiatan usaha oleh seorang pengusaha atau
suatu perusahaan.
Jenis izin usaha yang dikeluarkan oleh pemerintah yang menyangkut izin
usaha perdagangan meliputi :
1. SIUP
SIUP adalah surat izin yang diberikan oleh menteri atau pejabat yang ditunjuk
kepada pengusaha untuk melaksanakam kegiatan usaha di bidang perdagangan
dan jasa. SIUP diberikan kepada para pengusaha, baik perseorangan, firma,
CV, PT, koperasi, BUMN, dsb. Kewajiban pemilik atau pemegang SIUP antara
lain:
a. melapor kepada kepala kantor wilayah departemen perdagangan atau kepala
kantor departemen perdagangan yang menerbitkan SIUP apabila perusahaan
tidak melakukan lagi kegiatan perdagangan atau menutup perusahaan
disertai dengan pengembalian SIUP
b. melapor kepada kepala kantor wilayah departemen perdagangan setempat
mengenai hal berikut:
1) pembukaan cabang atau perwakilan perusahaan.
2) penghentian kegiatan atau penutupan cabang

atau

perwakilan

perusahaan.
Formulir SIUP berwarna putih untuk perusahaan kecil, biru untuk
perusahaan menengan, dan kuming untuk perusahaan besar.
2. SITU

Setiap perusahaan yang ada perlu dan harus mengurus SITU demi keamanam
dan kelancaran usahamya. SITU, dikeluarkan oleh pemerintah kabupaten atau
kotamadya sepanjang ketentuan2 undang2 gangguam(HO/hider ordonnatie)
mewajibkannya. Berikut prosedur pengurusan SITU:
a. Pengusaha atau pemohon mengisi formulir permohonan SITU dengan
dilampiri izin tertulis pada tetangga kiri, kanan, depan dan belakang, dalam
bentuk tanda tangan persetujuan dan tidak keberatan dengan keberadaan dan
kegiatan usaha tersebut.
b. Formulir permohonam SITU dimintakan pengesahan atau diketahui pejabat
kelurahan dan kecbtan untuk memperkuat izin tempat usaha.
c. Setelah diketahui oleh lurah dan camat, maka formulir permohonan izin
tersebut diurus ke kabupaten/kotamadya untuk memperoleh SITU. Setiap
setahun sekali SITU dilakukan registrasi (daftar ulamg)
d. Membayar biaya izin dan leges berdasarkan perda no 17/PD/1976, no
35/PD/1977
3. NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak)
Setiap pribadi yang berpenghasilan diatas penghasilan tidak kena pajak (PTKP,
dan badan usaha wajib atau harus mendaftarkan diri sebagai wajib pajak pada
Kantor Pelayanan Pajak Setempat dan akan diberikan Nomor Pokok Wajib
Pajak (NPWP). Terhadap para wajib pajak yang tidak mendaftarkan dirinya
sebagai wajib pajak dan mendaftarkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP),
akan dikenakan sanksi pidana sesuai dengan ketentuan Undang-undang Nomor
X Tahun 2000, yaitu sebagai berikut : Barang siapa dengan sengaja tidak
mendaftarkan dirinya atau menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak
NPWP, sehingga dapat menimbulkan kerugian pada negara, dipidana dengan

pidana penjara selama-lamanya tiga tahun dan atau denda setinggi-tingginya


empat kali jumlah pajak yang terutang atau yang kurang atau tidak dibayar.
4. NRT (Nomor Register Perusahaan)
Berdasarkan Undang-undang Nomor 3 Tahun 1982 tentang wajib daftar
perusahaan, maka perusahaan diwajibkan mendafarkan ke kantor pendaftaran
perusahaan, yaitu di Kantor Departemen Perdagangan setempat. NRP (Nomor
Register Perusahaan) disebut juga TDP. NRP atau TDP wajib dipasang di
tempat yang mudah dilihat oleh umum. Nomor NRP/TDP wajib dicantumkan
pada papan nama perusahaan dan dokumen-dokumen yang dipergunakan
dalam kegiatan usaha.
5. AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan)
AMDAL adalah suatu hasil studi yang dilakukan dengan pendekatan ilmiah,
dipandang dari beberapa sudut pandang ilmu pengetahuan, yang merupakan
dampak penting usaha atau kegiatan yang terpadu yang direncanakan terhadap
lingkungan hidup dalam suatu kesatuan hamparan ekosistem dan melibatkan
kewenangan lebih dari satu instansi yang bertanggung jawab.
1.5

Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan dalam makalah adalah :
1. Metode Pustaka
Pengumpulan data sekunder diperoleh melalui metode kepustakaan. Data
sekunder yang berfungsi sebagai penunjang dari penulisan makalah
diperoleh internet dan buku. Data sekunder yaitu data yang diperoleh
melalui studi kepustakaan. Data sekunder dibidang hukum :

Bahan hukum primer adalah data yang mempunyai kekuatan hukum


yang mengikat, contohnya yaitu UUD 1945.
Bahan hukum sekunder adalah bahan-bahan yang berkaitan erat dengan
bahan hukum primer, contohnya yaitu RUU, Hasil penelitian, Jurnal, dan
makalah.
2. Diskusi
Pengumpulan data dan informasi dilakukan dengan melakukan diskusi di
dalam kelompok.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS DAN PEMBAHASAN

2.1

Pembayaran dan Penyerahan Barang

2.1.1 Pembayaran harga barang


Menurut Pasal 1457 KUHP salah satu kewajiban pembeli adalah membayar
harga barang. Dalam jual beli perusahaan pembayaran harga barang sering disertai
dengan syarat-syarat

yang telah ditetapkan terlebih dahulu dalam perjanjian.

Syarat-syarat itu biasanya meliputi 3 (tiga) hal yaitu :


A. Cara pembayaran, dikenal dengan 3 cara yaitu :
1. Cara pembayaran yang lazim dipergunakan dalam jual beli perusahaan
adalah pembukaan kredit berdokumen atau dengan cara pembukaan
L/C. Kredit berdokumen/ Documentair Credit, yaitu jaminan dari devisa
bank pembeli, bahwa ia akan membayar harga barang sesuai dengan yang
telah diperijanjikan dengan syarat penjual menyerahkan beberapa dokumen
yang sudah ditentukan dalam L/C kepada Bank Devisa Pembeli, sedangkan
pembayaran terjadi dengan cara penjual menerbitkan wesel atau dengan cara
lain.
2. Cara Cash Payment yaitu pembayaran yang dilakukan oleh pembeli
secara tunai kepada penjual, tanpa menggunakan L/C. Uang itu disetorkan
melalui advising bank di Negara penjual.

10

Di samping itu, dalam syarat pembayaran seringkali dicantumkan syaratsyarat

khusus

yang

disepakati

kedua

belah

pihak.

Contoh:
a. n/30, artinya pembayaran seluruh harga barang dagangan dapat dilakukan
selambat-lambatnya 30 hari sejak tanggal faktur (tanggal transaksi).
b. n/eom, (eom = end of month) artinya pembayaran seluruh harga barang
dagangan dapat dilakukan selambat-lambatnya sampai akhir bulan yang
bersangkutan. Misal, pembelian dilakukan tanggal 5 Maret 2006 dengan
syarat n/eom maka pembeli dapat melunasi pembayaran selambatlambatnya sampai dengan tanggal 31 Maret 2006.
c. 2/10, n/30; 2/10 artinya pembeli akan menerima potongan harga sebesar
2% apabila pembayaran dilakukan paling lambat 10 hari setelah tanggal
transaksi; n/30 artinya jangka waktu pelunasan adalah 30 hari.
3. Cara Cash Devisa, : penjual memberi kredit kepada pembeli, yg harus
dibayar kembali oleh pembeli dalam jangka waktu tertentu seperti
ditentukan dalam perjanjian. Pembayaran ini juga melalui bank devisa.
a. Tempat pembayaran
Menurut Psl 1393 ayat (1) KUH Pdt tempat pembayaran dapat ditentukan
sesuai dengan perjanjian. Adapun cara yang paling lazim dengan cara
pembukaan L/C, di mana penjual dapat meminta kepada pembeli agar
kredit dibuka pada bank devisanya atas nama penjual. Jadi penjual akan

11

menerima pembayaran itu melalui bank devisa yang ditunjuknya dalam


jual beli perusahaan.
b. Saat pembayaran
Menurut Psl 1513 KUH Pdt saat pembayaran dapat ditentukan dalam
perjanjian, sedangkan jika dalam perjanjian tidak ditentukan apa-apa
tentang syarat pembayaran, maka pembeli harus membayar di tempat dan
pada saat terjadinya penyerahan (Psl 1514 KUH Pdt).

2.1.2 Penyerahan Barang


A. Penyerahan dan beralihnya hak milik
Hak milik atas barang baru beralih setelah adanya penyerahan secara
hukum yaitu penyerahan barang dari pihak yang berhak atas penyerahan barang
(penjual) kepada pihak yang berhak atas penerimaan barang (pembeli) (Pasal
1459 KUHP).
Penyerahan benda bergerak berlaku Pasal 612, 613 KUH P dan peraturanperaturan khusus lainnya contohnya penyerahan alat kendaraan bermotor.
Penyerahan benda tetap (tanah) berlaku PP No. 10 Tahun 1961, dan penyerahan
untuk kapal terdaftar berlaku S. 1938 48 (Ordonansi Pendaftaran Kapal).
Tempat penyerahan barang (Pasal 1393 KUH Pdt) biasanya dihadiri oleh
kedua belah pihak serta ada beberapa kemungkinan :
1. Di tempat yang telah diperjanjikan
2. Di tempat tinggal pembeli
3. Di tempat barang berada saat perjanjian

12

4. Di tempat tinggal penjual

Dalam jual beli perusahaan penyerahan tidak mungkin selalu dihadiri oleh
para pihak karena jarak di antara mereka berjauhan, maka syarat penyerahan
dalam jual beli perusahaan dipengaruhi oleh syarat2 yang ditentukan. Contohnya
syarat f.o.b (Free on Board), maka saat penyerahan terjadi di atas kapal yang
disediakan oleh pembeli di pelabuhan penjual, dan pada syarat franco, maka
penyerahan terjadi saat barang diletakkan di gudang pembeli.
a. Penyerahan dokumen berarti penyerahan barang-barang yang tersebut di
dalamnya
(Penyerahan dokumen lazim dilakukan dalam jual beli perusahaan). Pemegang
dokumen inilah yang berhak atas benda-benda yang tercantum dalam
dokumen.
Dokumen adalah surat berharga, yakni surat tanda bukti tuntutan utang,
mengandung hak dan mudah dijual belikan. Agar dokumen tersebut mudah
dijual belikan maka harus berbentuk atas pengganti (aan order) atau atas bawa
(aan tonder).
Dokumen

utama

dalam

jual

beli

perusahaan

adalah

konosemen

(cognossement), yaitu dokumen pengangkutan yang merupakan bukti


penerimaan barang muatan, ditandatangani oleh pengangkut/kuasanya, yang
memberikan hak kepada pemegangnya untuk menuntut penyerahan barangbarang sebagaimana yang disebutkan dalam konsosemen.

13

Konsosemen sebagai dokumen utama itu dilampiri dengan dokumen-dokumen


pembantu yang menjelaskan tentang isinya seperti berat, ukuran, kualitas, asal
barang dll, yang fungsinya untuk memberi pembuktian bagi kepentingan
pembeli agar tidak ragu-ragu tentang keadaan barang yang dibelinya.
Dasar hukum pengaturan konosemen Psl 505, 506 KUHD yang dapat
diterbitkan atas nama, atas pengganti, atas bawa (Psl 506 ayat (2) KUHD).
Konosemenpun merupakan surat berharga yang bersifat kebendaan (Psl 510
ayat (1) KUHD), dan penyerahan konosemen dianggap sebagai penyerahan
barang-barang yang disebutkan di dalamnya (Psl 517 a KUHD).
b. Syarat Penyerahan Barang
Syarat penyerahan barang merupakan kesepakatan antara pembeli dan penjual
mengenai tempat serah terimanya barang yang diperjualbelikan. Dalam syarat
penyerahan barang ditentukan pihak yang me- nanggung beban pengiriman
barang dari gudang penjual sampai ke gudang pembeli. Syarat-syarat
pembayaran yang biasanya sering terjadi dalam perdagangan adalah sebagai
berikut:
1) Franco Gudang Penjual (Free on Board Shipping Point/FOB Ship- ping
point)
Seringkali kita berhadapan dengan penjual yang tidak mau mengirim barang
yang kita beli sampai di rumah. Penjual hanya melayani sebatas di
tempatnya menjual saja. Pola penjualan seperti ini disebut sebagai franco
gudang penjual atau FOB shipping point. FOB shipping point, artinya

14

penjual menyerahkan semua barang yang dijual kepada pembeli di gudang


penjual. Pencatatan transaksi dan pemindahan hak pemilikan barang
dagangan diakui sejak berada di gudang penjual. Jadi, pihak yang
menanggung beban pengiriman barang adalah pembeli. Jika terjadi
kehilangan atau kerusakan dalam perjalanan maka ditanggung oleh pembeli.
Biaya pengangkutan barang dagangan tersebut akan menambah harga pokok
barang yang dibeli. Contoh, perusahaan membeli sejumlah barang dagangan
seharga Rp10.000.000,00 dan biaya angkut/beban pengiriman dari gudang
penjual sebesar Rp800.000,00. Perusahaan sebagai pihak pembeli akan
mencatat harga pokok barang sebesar Rp10.800.000,00.
2) Franco Gudang Pembeli (Free on Board Destination Point/FOB Destination
Point)
Sebagian besar penjual menggunakan sistem ini. Pembeli tidak perlu
mengeluarkan

biaya

transport

untuk

membawa

pulang

barang

pembeliannya. FOB Destination Point, artinya penjual menyerahkan barang


yang dijual kepada pembeli di gudang pembeli. Pencatatan transaksi dan
pemindahan hak pemilikan ke tangan pembeli diakui setelah barang sampai
di gudang pembeli. Segala kerugian yang terjadi saat pengiriman
ditanggung oleh penjual.
3) Cost Insurance and Freight (CIF), artinya pihak penjual harus menanggung
beban pengiriman barang dan premi asuransi kerugian barang yang dijual.
Syarat CIF biasanya dilakukan pada transaksi ekspor dan impor. Akun

15

pembelian barang dagangan termasuk ke dalam beban se- hingga pada awal
dan akhir periode tidak akan terdapat saldo, setiap transaksi pembelian
barang dagangan akan dicatat pada sisi debit akun pembelian, pada akhir
periode, akun pembelian akun ditutup dan saldonya akan dipindahkan ke
akun ikhtisar laba/rugi atau harga pokok penjualan.

2.2

Pengangkutan dan Pengiriman


Pengangkutan adalah suatu proses kegiatan memuat barang/penumpang ke

dalam alat pengangkutan membawa barang/ penumpang dari pemuatan ke tempat


tujuan dan dan menurunkan barnag/penumpang dari alat pengangkutan ke tempat
yang ditentukan. Disini sering menimbulkan tanggungjawab dari pengangkut.
Hukum Pengangkutan bila ditinjau dari segi keperdataan,dapat kita tunjuk
sebagai keseluruhnya peraturan-peraturan, di dalam dan diluar kodifikasi ( KUH
Perdata; KUHD ) yang berdasarkan atas dan bertujuan untuk mengatur hubunganhubungan hukum yang terbit karena keprluan pemindahan barang-barang dan/atau
orang-orang dari suatu kelain tempat untuk memenuhi perikatan-perikatan yang
lahir

dari

perjanjian-perjanjian

tertentu

untuk

memberikan

perantaraan

mendapatkan. Hukum pengangkutan darat, dapat dibagi menjadi 2:


1. Angkutan darat yang berada di jalan
2. Angkutan
darat
yang
menggunakan
rel
(perkeretaapian).
Dasar hukum angkutan darat adalah UU No. 22 Tahun 2009 tentang lalu lintas
angkatan darat di jalan dan angkutan jalan. UU ini bersifat umum, yang lebih
rinci diatur dalam peraturan menteri/PP. diatur dalam Bab X dari pasal 137 ada
peran serta pemerintah dalam pengadaan jalan, angkutan umum, terminal tetapi

16

peraturannya masih umum, perizinan, dan lain-lain. UU No.23 Tahun 2007


tentang perkeretaapian angkutan kereta api.
a. Beberapa asas (prinsip-prinsip yang

mempengaruhi

keabsahan

pengangkutan) dalam pelaksanaannya dalam hukum pengangkutan :


1) Perjanjian pengangkutan bersifat konsensuil artinya kesepakatan (tidak
diperlkukan adanya perjanjian tertulis, asal mereka sepakat, itu sudah sah
untuk dilaksanakan memerlukan rasa saling percaya antara para pihak).
2) Asas koordinatif artinya para pihak yang terlibat dalam pengangkutan itu
mempunyai kedudukan yang sejajar/setara.
3) Hukum pengangkutan merupakan campuran dari 3 jenis perjanjian yaitu:
1. perjanjian pemberian kuasa
2. perjanjian penyimpanan barang
3. perjanjian melakukan perbuatan
4) Pengiriman barang oleh pengangkut.
5) Pengangkutan itu dapat dibuktikan dengan dokumen. Dokumen tersebut
berupa perjanjian pengangkutan yang tertulis antara para pihak yang
terlibat dalam pengangkutan tersebut.
b. Sifat-sifat Perjanjian Pengangkutan secara umum sama dengan perjanjian
lainnya, yaitu:
1) Timbal balik dalam arti para pihak dalam melakukan perjanjian
menimbulkan hak dan kewajibannya masing-masing.
2) Berupa perjanjian berkala seperti merupakan

perjanjian

yang

menggunakna jasa pengirim secara berkala di masyarakat diistilahkan


dengan borongan.
3) Perjanjian sewa menyewa, yang disewa adalah alat angkut/kendaraan
untuk mengangkut barang disewa oleh pihak pengirim untuk mengirim
sendiri ke pihak penerima. Obyek sewa menyewa adalah alat angkutnya.
c. Prinsip-prinsip Tanggung Jawab Pengangkut
1) Tanggungjawab praduga tak bersalah. Prinsip ini intinya bahwa si
pengangkut selalu dianggap bersalah apabila hal-hal yang tidak

17

diinginkan kecuali dalam hal si pengangkut dapat membuktikan bahwa ia


tidak bersalah (pasal 468 ayat 2 KUHD).
2) Tanggungjawab atas dasar kesalahan (kebalikan praduga tak bersalah).
Intinya bahwa yang dirugikanlah yang seharusnya membuktikan bahwa
si pengangkut bersalah baik pengirim maupun penerima (pasal 1365
KUHPerdata).
3) Tanggungjawab

pengangkut

mutlak.

Sesuai

dengan

istilahnya,

pengangkut bertanggungjawab mutlak atas kesalahan-kesalahan yang


menimbulkan kerugian bagi pihak-pihak yang mengadakan perjanjian
dalam

pengangkutan.

(bisa

diterapkan

tanpa

pembuktian).

Tanggungjawab ini bisa dialihkan ke perusahaan asuransi, pengangkut


wajib mendaftarkan apa yang diangkutnya ke pihak asuransi agar jika
terjadi kesalahan, tanggungjawab bisa dialihkan ke perusahaan asuransi.
Dalam pasal 2 UU No. 22 Tahun 2009, ada istilah Pembina yaitu
pemerintah melalui instansi-instansi terkait. Penyelenggaraan angkutan
baik melalui darat, laut, udara diselenggarakan pemerintah melalui
instansi yang terkait.
d. Angkutan Penumpang
Kewajiban dari pengangkut terhadap angkutan penumpang adalah
membawa penumpang ke tempat tujuan dalam keadaan selamat.
Pengangkut akan dibebaskan dari tanggungjawabnya apabila dalam keadaan
overmacht, overmacht disini yaitu:
1) Kejadian-kejadian yang di luar perkiraan pengangkut/ di luar
kemampuan pengangkut sehingga terjadi hal-hal yang tidak diinginkan
oleh penumpang.

18

2) Overmacht termasuk tindakan /kejadian yang dilakukan oelh penumpang


itu sendiri.
3) Overmacht: sarana jalan/jembatan yang tidak layak untuk digunakan.
e. Izin Usaha Pengangkut
Diberlakukan bagi perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang bisnis
pengangkutan.
1) memiliki NPWP.
2) memiliki akta pendirian perusahaan/akta pendirian koperasi.
3) memiliki keterangan domisili perusahaan
4) memiliki surat izin tempat usaha
5) pernyataan kesanggupan untuk menyelenggarakan usahanya secara
berkala baik itu dalam hal penyediaan maupun perawatan dari alat
angkut-angkut tersebut, serta kesanggupan menyediakan fasilitas
penyimpanan kendaraan. Pernyataan kesanggupan untuk memiliki alat
angkut tersebut. Izin usaha dapat dikeluarkan oleh bupati, walikota
madya dan gubernur. Sedangkan izin bagi badan usaha yang berbentuk
koperasi diberikan oleh Dirjen Perhubungan Darat.
f. Surat Pengangkutan
Pasal 90 KUHD, mengatur bahwa surat pengangkutan merupakan
persetujuan antara si pengirim dengan penerima mengenai waktu dalam
mana pengangkutan telah harus selesai dikerjakan dan mengenai
penggantian rugi dalamn hal kelambatan yagn mana hal tersebut telah
disetujui bersama. Isi surat pengangkutan :
1) barang muatan
2) nama, jumlah, berat, ukuran, merk dari barang yang diangkut
3) alamat dan nama pengirim
4) nama dan tempat kediaman pengangkut
5) uang atau upah angkutan
6) tanggal dibuatnya surat muatan/surat angkutan
7) tanda tangan pengirim.
2.3

Perizinan di Bidang Kegiatan Usaha

19

Dalam dunia usaha terdapat berbagai macam jenis usaha yang harus dimiliki
wirausahawan jika akan melakukan suatu kegiatan usaha , Macam Izin usaha
tersebut antara lain :
A. Akta Pendirian
Akta pendirian usaha ialah izin yang dibuat dan disahkan secara resmi oleh
notaris sebagaipejabat pemerintah yang akan dipakai oleh wirausahawan
sebagai dasar untuk mendirikan usaha.
B. Surat Izin Tempat usaha (SITU)
Surat izin tempat usaha ialah izin yang di keluarkan oleh pemerintah Daerah
Tingkat II Kotamadya atau kabupaten untuk melakukan suatu usaha, setiap
usaha baik yang berbentuk perusahaan perorangan, perseroan terbatas, maupun
bentuk lainnya harus mempunyai surat izin tempat usaha sebagai dasar hokum
atas tempat usahanya.
C. Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP)
Surat izin perdagagan ialah surat izin yang diberikan oleh mentri atau pejabat
yang ditunjuk kepada pengusaha untuk melaksanakan kegiatan usaha dibidang
perdagangan dan jasa. SIUP dikeluarkan berdasarkan domisili pemilik atau
penanggung jawab perusahaan dengan ketentuan.
Siup perusahaan kecil dan menengah diterbitkan dan di tandatangani oleh
Kepala Kantor Wilayah Departemen Perdagangan Daerah Tingkat II atas nama
mentri dengan masa berlaku yang tidak terbatas selama perusahaan yang di
milikinyan masih menjalankan kegiatan usahanya.
Siup peerusahaan besar diterbitkan dan di tandatangani oleh Kepala Kantor
Wilayah Departemen perdagangan Daerah Tingkat I atas nama mentri dengan
masa berlaku 5 tahun, berdasarkan tempat kedudukan perusahaan serta berlaku
untuk melkaukan kegiatan perdagangan dalam negri di seluruh wilayah

20

Republik Indonesia. Ketentuan untuk mengurus Surat Izin Usaha Perdagangan


berlaku pula untuk mengurus surat izinusaha industri.
D. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)
NPWP dalah nomor pokok wajib pajak yang di berikan kepada setiap pajak
yang mendaftarkan dirinya pada kantor pelayanan pajak setempat, sedangkan
yang disebut wajib pajak adalah :
1. Setiap badan yang menjadi subyek pajak penghasilan yaitu : PT, CV, Firma,
BUMN/BUMD, Persekutuan, Perseroan, Koprasi dan bentuk usaha tetap.
2. Setap orang pribadi yang menjadi subjek pajak penghaasilan yang
mempunyai penghasilan neto di atas Penghasilan Tidak kena Pajak (PTKP)
yang mulai berlaku 1 januari 2005, besarnya adalah :
a. Rp. 12.000.000,00/tahun untuk diri wajib pajak
b. Rp. 1.200.000,00/tahun untuk wajib pajak yang kawin
c. Rp. 1.200.000,00/tahun untuk setiap orang keluarga sedarah dan semenda
dalam garis lurus dan anak angkat yang menjadi tanggungan
sepenuhnya, dan maksimal tiga orang.
E. Nomor Register Perusahaan (NRP)
NRP di sebut juga Tanda Daftar Perusahaan (TDP) Tanda Daftar Perusahaan
ini harus dipasankan di tempat yang muda dilihat oleh umum dan harus
dicantumkan pada papan nama perusahaan serta pada dokumen yang di
pergunakan dalam kegiatan usaha. Apabila TDP ini rusak atau hilang wajib
mengajukan pemintaan tertulis kepada kantor pendaftaran perusahaan untuk
memperoleh penggantinya dalam waktu tiga bulan setelah kehilangan atau
rusak. TDP dihapus apabila perusahaan menghentikan segala kegiatan

21

usahanya, perusahaan berhenti pada waktu akta pendiriannya kadaluarsa serta


perusahaan dihentikan berdasarkan suatu keputsan Pengadilan Negri yang telah
memperoleh kekuatan hukum yang tetap.
F. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)
Amdal adalah hasil studi mengenai dampak pentingg darii usaha atau kegiatan
yang mungkin akan terjadi terhadap lingkungan hidup dalam satu kesatuan
hamparan ekosistem dan melibatkan kewenangan lebih dari satu intansi yang
bertanggung jawab.

BAB III
PENUTUP
3.1

Kesimpulan
Distribusi adalah kegiatan menyalurkan barang yang dibuat oleh produsen

agar sampai kepada konsumen yang tersebar luas. Distribusi merupakan bagian
inti dari kegiatan pemasaran. Sedangkan saluran distribusi adalah sekelompok
orang atau perseorangan yang mempunyai hak kepemilikan atas produk atau
mempunyai hak untuk menyalurkan barang dari produsen ke konsumen. Kegiatan
distribusi meliputi pembayaran dan penyerahan barang, serta pengangkutan dan
pengiriman.

22

Perizinan usaha adalah pemberian izin dari pihak yang berwenang atas
penyelenggaraan suatu kegiatan usaha. Agar kegiatan usaha berjalan lancar, maka
setiap pengusaha wajib untuk mengurus dan memiliki izin usaha dari instansi
pemerintahan yang sesuai dengan bidangnya. Jenis izin usaha yang ada yaitu
Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), Surat Izin Tempat Usaha (SITU), Nomor
Pokok Wajib Pajak (NPWP), Nomer Register Perusahaan (NRP), dan Analisis
Mengenal Dampak Lingkungan (AMDAL).

23

DAFTAR PUSTAKA

S. Nitisemito, Alex. 1993. Marketing; Ed 7th. Jakarta : Ghalia.


Kotler, Philip. 1997. Manajemen Pemasaran. Jakarta : Prenhallindo.
W. Rintatik, Sudarno. 2008. Kewirausahaan 3. Solo : PT Tiga Serangkai Pustaka
Mandiri.

24