Anda di halaman 1dari 28

TUGAS CRITICAL THINKING

GRAND THEORY
Dosen: Abu Bakar, M.Kep., Ns., Sp.KMB

Oleh: Kelompok 2
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Kusniyati Utami (131314153010)


Sofia Rhosma Dewi (131314153011)
Hanim Mufarokhah (131314153012)
Dian Adriana (131314153013)
Rahmawati Maulidia (131314153014)
Nunung Ernawati (131314153015)
Ika Nur Fauziah (131314153016)
Tukatman (131314153017)
Didik S. (131314153018)

PROGRAM STUDI MAGISTER KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2013

BAB 1
PENDAHULUAN
1. 1 Latar Belakang
Keperawatan

merupakan

bentuk

pelayanan

professional

yang

merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, yang berbentuk ilmu


dan seni keperawatan, ditujukan pada unsur bio-psiko-sosio-spiritualkultural baik pada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat secara
komprehensif, yang berbentuk upaya promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitatif (PPNI, 1993; UU. No 36/2009).
Pelayanan keperawatan merupakan bagian penting dalam pelayanan
kesehatan yang bersifat komprehensif meliputi biopsikososiokultural dan
spiritual yang ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat, baik dalam keadaan sehat maupun sakit dengan pendekatan
proses keperawatan (Lokakarya Nasional, 1983). Pelayanan keperawatan
yang berkualitas didukung oleh pengembangan teori dan model konseptual
keperawatan. Perlu diyakini bahwa penerapan suatu teori keperawatan
dalam pelaksanaan asuhan keperawatan akan berdampak pada peningkatan
kualitas asuhan keperawatan. Pelayanan keperawatan sebagai pelayanan
profesional akan berkembang bila didukung oleh teori dan model
keperawatan serta pengembangan riset keperawatan dan diimplementasikan
di dalam praktek keperawatan.
Pelaksanaan asuhan keperawatan merupakan aplikasi unsur dan konsep
dari beberapa teori dan model keperawatan yang di adopsi, digabung,
dikembangkan serta dilaksanakan. Penerapan secara langsung filosofi teori
dan grand teori dalam tatanan praktik keperawatan tidak mungkin dapat
dialakukan. Karena teori tersebut masih terlalu luas dan perlu pengkajian
yang mendalam. Namun teori-teori tersebut dapat digunakan untuk
pengembangan munculnya teori baru yang dapat langsung diaplikasikan
dalam tatanan praktek. Teori keperawatan ini sangat penting artinya bagi
pengembangan profesionalisme keperawatan. Teori keperawatan ini
berfungsi untuk membedakan ilmu keperawatan dengan disiplin ilmu yang

lain,

serta

membantu

menyampaikan

pengetahuan

dalam

rangka

memperbaiki praktek keperawatan.


Profesi keperawatan mengenal empat tingkatan teori yang terdiri dari
metatheory, grand theory, middle range theory dan practice theory. Teoriteori tersebut diklasifikasikan berdasarkan tingkat keabstrakannya, dimulai
dari meta theory sebagai yang paling abstrak hingga practice theory sebagai
yang lebih konkret. Dimana Fawcett, 1995 dalam Sell dan Kallofisudis
mengungkapkan grand theory didefinisikan sebagai teori yang memiliki
cakupan yang luas dan kurang abstrak disbanding model konseptual tetapi
tersusun atas konsep-konsep umum yang relative abstrak dan hubungannya
tidak dapat di uji secara empiris.
Oleh karena

itu melalui

makalah

ini diharapkan

mahasiswa

keperawatan mampu memberikan kontribusi yang besar dalam menelaah


dan mengkaji grand theory agar mampu memberikan arti dalam ilmu dan
praktek keperawatan.
1. 2 Rumusan Masalah
Bagaimana deskripsi dan analisis pengetahuan tentang Conceptual model:
Grand Theory?
1. 3 Tujuan
1.3. 1 Tujuan Umum
Setelah mengikuti pembelajaran ini mahasiswa mampu
menjelaskan dan menganalisis teori tentang Conceptual model:
Grand Theory sebagai dasar pembentukan nilai, sikap dan perilaku
dalam memberikan pelayanan dan asuhan keperawatan pada klien di
berbagai area keperawatan.
1.3. 2 Tujuan Khusus
1.

Menjelaskan tinjauan teoritis Grand Theory

2.

Menjelaskan tokoh yang termasuk dalam Grand Theory dan


teorinya

3. Menjelaskan dan

menelaah tentang Conceptual model : Grand

Theory
1.4 Manfaat
1.4. 1 Teoritis
Manfaat makalah ini secara teoritis dapat memberikan pengetahuan
tentang teori-teori dan model keperawatan khususnya model
konseptual:

Grand

Theory

sehingga

mahasiswa

mampu

mengembangkan teori dan model teori keperawatan di berbagai area


pendidikan keperawatan dan penelitian keperawatan
1.4. 2 Klinis
Manfaat makalah ini secara klinis dapat diaplikasikan mahasiswa
dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien di tingkat
pelayanan

BAB 2
TINJAUAN TEORI
2. 1 Definisi Grand Theory
Profesi keperawatan mengenal empat tingkatan teori, yang terdiri dari
meta theory, grand theory, middle range theory, dan practice theory. Teoriteori tersebut diklasifikasikan berdasarkan tingkat keabstrakannya, dimulai
dari meta theory sebagai yang paling abstrak, hingga practice theory sebagai
yang lebih konkrit (Krippendorf 1986 dalam Sell dan Kalofissudis, 2004).
Menurut Alligood (2010), NursingTheories dibagai menjadi 4 tipe,
yaitu tipe 1: Philosophies Theories, Tipe 2: Nursing Conceptual Models,
Tipe 3: Nursing Theories, Tipe 4: Middle Range Theories. Grand theory
disebut juga konseptual model, dalam hal ini termasuk Nursing Conceptual
Models dan Nursing Theories. Alligood (2010) mendefinisikan Nursing
Conceptual Models adalah konsep-konsep dan hubungannya yang melihat
secara spesifik dari fenomena dari keperawatan. Nursing Theories
mendeskripsikan, menjelaskan atau

memprediksikan hubungan antara

konsep-konsep dalam fenomena keperawatan. Nursing teori dikembangkan


dari berbagai level abstraksi. Nursing Theories yang berada dalam level
yang sama dengan Grand theory memiliki tingkat keabstrakan yang
mendekati Nursing Conceptual Models yang menjadi acuan pengembangan
nursing teori ini. Oleh karena itu ada beberapa literatur yang menyamakan
Nursing Theories dan Nursing Conceptual Models.
Grand theory adalah setiap teori yang dicoba dari penjelasan
keseluruhan dari kehidupan sosial, sejarah, atau pengalaman manusia. Pada
dasarnya berlawanan dengan empirisme, positivisme atau pandangan bahwa
pengertian hanya mungkin dilakukan dengan mempelajari fakta-fakta,
masyarakat dan fenomena. (Skinner:1985)
Grand theory, istilah yang diciptakan oleh C. Wright Mills
dalam The sociological imagination (1959) yang berkenaan dengan bentuk
abstrak tertinggi suatu peneorian yang tersusunan atas konsep-konsep yang
diprioritaskan atas dapat mengerti dunia sosial.

Fawcett (1995 dalam Sell dan Kalofissudis, 2004) mendefinisikan


grand theory sebagai teori yang memiliki cakupan yang luas, kurang abstrak
dibanding model konseptual tetapi tersusun atas konsep-konsep umum yang
relatif abstrak dan hubungannya tidak dapat di uji secara empiris.
Grand theory menegaskan fokus global dengan board perspective
dari praktik keperawatan dan pandangan keperawatan yang berbeda
terhadap sebuah fenomena keperawatan. (Fawcet, 2006 dalam Alligood,
2010)
Bagan 2.1 Hierarki Teori Keperawatan
METAPARADIGM
PERSON, ENVIRONMENT,
NURSING, HEALTH

Philosophi
es:
Nigtingale
Watson
Benner
Faye
Abdillah
Widenbach
Henderson

Conceptual Model : Grand Theories


Levines Conservation Model
Rogers Science of Unitary Human Beings
Orems Self Care Framework
Kings Geeral Systems Framework
Betty Neumans Systems Model
Roys Adaption Model
Johnsons Behavioral Systems Model
Anne Boykins Transforming Practice Model
Pender; Health Promotion Model
Leningers Theory of Culture Care Diversity &
Universality
Margaret Newmans Theory of Health as expanding
Conciousness
Middle-Range Theories
ParsesMarcers
Theory of
HumanRole
Becoming
Maternal
Attainment Theory
Hellen Merle
et al Modelling
Role Modeling
H Misheleand
Uncertainty
in illness Theory
Gladys
Symphonological
Bioethical
Theory
Pamela Gdalam
R SelfGrand
Tracendence
2.2 Tokoh-tokoh
Theory Theory
Carolyn L Theory of illness
Georgene G E Theory of Chronic Sorrow
Phil Barker The Tidal Model of Mental Health Recovery
2. 2. 1 Myra Estrin Levine: The Conservation Model
Katharine Colcaba Theory of Comfort
Levine
menyampaikan
bahwa
interaksi manusia
Cherlyn
T B Postpartum
depression
Theorybersifat holistik, meliputi
Theory
of caring
adaptasi Swansons
dan konservasi.
Dalam
adaptasi meliputi historicity, specificity, dan
Ruland and Moore : Peaceful End of life Theory

redundancy. Lingkungan dalam konsep ini dibedakan menjadi lingkungan internal


(fisiologis & patofisiologi), dan lingkungan eksternal (persepsi, operasional,
konseptual). Dalam proses adaptasi respon organism dibedakan menjadi
menghadapi atau menghindar (fight or flight), respon inflamasi, respon terhadap
stress, perceptual awareness. Pada fase konservasi perlu diperhatikan 4 hal yaitu:
energy, integritas struktur, integritas individu, integritas sosial.
6

Gambar 2.1: Bagan teori konservasi


Model Levine menekankan pada proses interaksi dan intervensi
keperawatan yang diberikan bertujuan untuk peningkatan kemampuan beradaptasi
dan mempertahankan keutuhan tersebut. Tindakan keperawatan berdasar pada
empat prinsip, yaitu (Levine dalam Ruddy, 2007):
1.

Konservasi energi
Merupakan keseimbangan dan perbaikan energi yang dibutuhkan individu
untuk melakukan aktivitas. Hal tersebut juga termasuk keseimbangan energi
input dan output untuk menghindari kelemahan yang berlebihan. Contohnya
adalah proses penyembuhan dan proses penuaan. Intervensi keperawatan
dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pemenuhan kebutuhan.
Contoh lain adalah istirahat yang adekuat, mempertahankan nutrisi yang

2.

adekuat dan aktivitas.


Konservasi integritas struktural
Penyembuhan adalah proses perbaikan integritas struktur dan fungsi dalam
mempertahankan keutuhan diri. Contohnya bila menghadapi individu pasca
amputasi, perawat harus membantu individu tersebut untuk menuju tingkat
adaptasi baru. Contoh tindkan lain adalah membantu klien dalam latihan

3.

ROM, mempertahankan personal hygiene klien.


Konservasi Integritas Personal

Menyadari pentingnya harga diri dan identitas diri klien serta penghormatan
terhadap privasi. Dalam hal ini, perawat dalam melakukan intervensi
keperawatan harus menghargai keberadaannya seperti menghargai nilai dan
norma yang dianut serta keinginannya, menyapa dengan sopan, meminta izin
sebelum melakukan tindakan dan melakukan tahapan terminasi setelah
melakukan tindakan dan sebelum meninggalkan klien. Selain itu, perawat
4.

juga memahami, menghargai dan melindungi kebutuhan akan jarak (space).


Konservasi Integritas Sosial
Keterlibatan anggota keluarga dalam pemenuhan kebutuhan keagamaan atau
spiritual dan penggunaan hubungan interpersonal. Individu mendapatkan
makna

kehidupan

melalui

komunitas

sosial.

Perawat

membantu

menghadirkan anggota keluarga dan menggunakan hubungan interpersonal


untuk menjaga integritas sosial.
Levine (1991) dalam Parker (2001) dan Tomey & Alligood (2006)
mengemukakan 3 (tiga) karakteristik dari adaptasi yaitu:
1. Historicity
Adaptasi merupakan proses historis, dimana respons didasarkan pada
pengalaman masa lalu, baik itu dari segi personal maupun genetik.
2. Specifity
Adaptasi juga bersifat spesifik, artinya bahwa pada perilaku individu memiliki
pola stimulus respons yang spesifik dan unik dalam aktivitas kehidupan seharihari.
3. Redundancy
Adaptasi bersifat redundancy yang berarti pilihan akan selamat atau gagal oleh
individu untuk memastikan terjadinya adaptasi yang berkelanjutan. Jika suatu
sistem tubuh tidak mampu beradaptasi, maka sistem yang lain akan mengambil
alih dan melengkapi tugasnya. Redundancy dipengaruhi oleh trauma, usia,
penyakit atau kondisi lingkungan yang membuat individu tersebut sulit untuk
mempertahankan hidup.
2. 2. 2 Martha E Rogers : Unitary Human Being
Praktek keperawatan profesional yang

disampaikan

Roger

menekankan pada interaksi harmonis antara manusia dan lingkungannya


untuk menguatkan integritas individu, dan

menetukan pola interaksi

manusia dengan lingkungannya untuk memaksimalkan potensi kesehatan.


Roger memandang manusia secara utuh, terbuka, unindirectionality, pola
8

& organisasi, sentence, dan pikiran. Area yang disampaikan Roger


meliputi area energy dan area lingkungan. Area energy meliputi kesatuan
sebagai system terbuka, pola, dan dimensional.
2. 2. 3 Dorothea E. Orem : Self Care Defisit Theory of Nursing
Menurut Orem, asuhan keperawatan dilakukan dengan keyakinan
bahwa setiap orang mempunyai kemampuan untuk merawat diri sendiri
sehingga membantu individu dalam memenuhi kebutuhan hidup,
memelihara kesehatan, dan mencapai kesejahteraan. Teori Orem ini
dikenal dengan Self Care Defisit Theory. Orem mengembangkan 3 teori
yaitu self care (dependen care), self care deficit, dan nursing system.
1. Teori Self Care
Teori ini memandang bahwa seorang individu akan selalu
menginginkan adanya keterlibatan dirinya terhadap perawatan diri, dan
bahwa individu tersebut juga mempunyai keinginan untuk dapat
merawat dirinya secara mandiri. Kebutuhan seorang individu untuk
terlibat dan merawat dirinya sendiri inilah yang disebut sebagai self
care therapeutic demand atau disebut juga self care requisites (Parker,
2001). Self care merupakan sesuatu yang dapat dipelajari dan
kemampuan individu untuk menentukan tindakan yang diambil sebagai
respon dari adanya kebutuhan.
2. Teori Self Care Defisit
Self Care Defisit merupakan bagian penting dalam perawatan secara
umum di mana segala perencanaan keperawatan diberikan pada saat
perawatan dibutuhkan. Keperawatan dibutuhkan seseorang pada saat
tidak mampu atau terbatas untuk melakukan self care nya secara terus
menerus. Self care defisit dapat diterapkan pada anak yang belum
dewasa, atau kebutuhan yang melebihi kemampuan serta adanya
perkiraan penurunan kemampuan dalam perawatan dan tuntutan dalam
peningkatan self care, baik secara kualitas maupun kuantitas. Dalam
pemenuhan perawatan diri sendiri serta membantu dalam proses
penyelesaian masalah, Orem memiliki metode untuk proses tersebut
diantaranya bertindak atau berbuat untuk orang lain, sebagai
pembimbing

orang

lain,

memberi

support,

meningkatkan

pengembangan

lingkungan

untuk

pengembangan

pribadi

serta

mengajarkan atau mendidik pada orang lain.


3. Teori Nursing System
Kemampuan yang berkembang dari seseorang yang mempunyai
pendidikan perawat untuk membantu pemenuhan therapeutic self-care
demand dan melatih kemampuan self-care dari seseorang yang
mempunyai penurunan kemampuan self-care. Komponen dari self-care
dan self-care defisit tergabung dalam teori sistem keperawatan. Teori
sistem keperawatan inilah yang menghubungkan antara tindakan dan
peran perawat dengan tindakan dan peran pasien (Hartweg, 1995).
Sistem keperawatan adalah serangkaian tindakan keperawatan yang
berkoordinasi dengan pasien untuk mengenali dan memenuhi
kebutuhan akan therapeutic self-care serta menjaga kemampuan pasien
untuk melaksanakan self-care (Alligood, 2010). Teori self care
mengembangkan

self

care

requisites

baik

yang

universal,

developmental, dan health deviation. Teori self care deficit menjelaskan


bahwa self care deficit muncul jika self care demand lebih besar
daripada self care agency, dan jika kondisi ini muncul diperlukan
nursing agency, sebagaimana pada bagan dibawah ini :

R
Conditioning
factor

Self care
agency

Self care
R
<

Self care
demand

Deficit
R
R

Conditioning
factor
Nursing
agency

Gambar 2.2 Bagan Model Orem


2. 2. 4 Imogene M. King : Conceptual System

10

Conditioning
factor

King berpendapat bahwa manusia dipandang sebagai system individu,


system interpersonal dan sistem social yang saling berkaiatan,
sebagaimana gambar dibawah ini :
Social system
(Society)
Interpersonal system (group)

Personal system
(Individuals)

Gambar 2.3 Bagan Model Imogene M. King


1. Sistem Personal
Menurut king setiap individu adalah system personal (system terbuka).
Untuk system personal konsep yang relevan adalah persepsi, diri,
peretumbuhan dan perkembangan, citra tubuh, dan waktu.
a. Persepsi
Persepsi adalah gambaran seseorang tentang objek, orang dan
kejadian- kejadian. Persepsi berbeda dari satu orang dan orang lain
dan hal ini tergantung dengan pengalaman masa lalu, latar
belakang, pengetauhan dan status emosi. Karakteristik persepsi
adalah universal atau dialami oleh semua, selekltif untuk semua
orang, subjektif atau personal.
b. Diri
Diri adalah bagian dalam diri seseorang yang berisi benda-benda
dan orang lain. Diri adalah individu atau bila seseorang berkata
AKU. Karakteristik diri adalah individu yang dinamis, system
terbuka dan orientasi pada tujuan.
c. Pertumbuhan dan perkembangan

11

Tumbuh kembang meliputi perubahan sel, molekul dan perilaku


manusia. Perubah ini biasnya terjadi dengan cara yang tertib, dan
dapat diprediksiakan walaupun individu itu berfariasi, dan
sumbangan fungsi genetic, pengalam yang berarti dan memuaskan.
Tumbuh kembang dapat didefinisikan sebagai proses diseluruh
kehidupan seseorang dimana dia bergerak dari potensial untuk
mencapai aktualisasi diri.
d. Citra tubuh
King mendefinisikan citra diri yaitu bagaimana orang merasakan
tubuhnya dan reaksi-reaksi lain untuk penampilanya.
e. Ruang
Ruang adalah universal sebab semua orang punya konsep ruang,
personal atau subjektif, individual, situasional, dan tergantung
dengan

hubunganya

dengan

situasi,

jarak

dan

waktu,

transaksional, atau berdasarkan pada persepsi individu terhadap


situasi. Definisi secara operasioanal, ruang meliputi ruang yang
ada untuk semua arah, didefinisikan sebagai area fisik yang
disebut territory dan perilaku oran yang menempatinya.
f.

Waktu
King mendefisikan waktu sebagai lama antra satu kejadian dengan
kejadian yang lain merupakan pengalaman unik setiap orang dan
hubungan antara satu kejadian dengan kejadian yang lain

2. Sistem Interpersonal
King mengemukakan system interpersonal terbentuk oleh interkasi
antra manusia. Interaksi antar dua orang disebut DYAD, tiga orang
disebut TRIAD, dan empat orang disebut GROUP. Konsep yang
relefan dengan system interpersonal adalah interkasi, komunikasi,
transaksi, peran dan stress.
a. Interaksi
Interaksi didefinisakan sebagai tingkah laku yang dapat diobserfasi
oleh dua orang atau lebih didalam hubungan timbal balik.
b. Komunikasi

12

King mendefinisikan komunikasi sebagai proses diman informasi yang


diberikan dari satu orang keorang lain baik langsung maupun tidak
langsung, misalnya melalui telpon, televisi atau tulisan kata. ciri-ciri
komunikasi

adalah

verbal,non

verbal,

situasional,

perceptual,

transaksional, tidak dapat diubah, bergerak maju dalam waktu,


personal, dan dinamis. Komunikasi dapat dilakukan secara lisan
maupun tertulis dalam menyampaikan ide- ide satu orang keorang lain.
Aspek perilaku nonverbal yang sangat penting adalah sentuhan. Aspek
lain dari perilaku adalah jarak, postur, ekspresi wajah, penampilan fisik
dan gerakan tubuh.
c.

Transaksi
Ciri-ciri transaksi adalah unik, karena setiap individu mempunyai
realitas personal berdasarkan persepsi mereka. Dimensi temporalspatial, mereka mempunyai pengalaman atau rangkaian-rangkaian
kejadian dalam waktu.

d. Peran
Peran melibatkan sesuatu yang timbal balik dimana seseorang pada
suatu saat sebagai pemberi dan disat yang lain sebagai penerima ada 3
elemen utama peran yaitu, peran berisi set perilaku yang di harapkan
pada orang yang menduduki posisi di social system, set prosedur atau
aturan yang ditentukan oleh hak dan kewajiban yang berhubungan
dengan prosedur atau organisasi, dan hubungan antara 2 orang atau
lebih berinteraksi untuk tujuan pada situasi khusus.
e.

Stress
Definisi stress menurut King adalah suatu keadaan yang dinamis
dimanapun

manusia

berinteraksi

dengan

lingkungannya

untuk

memelihara keseimbangan pertumbuhan, perkembangan dan perbuatan


yang melibatkan pertukaran energi dan informsi antara seseorang
dengan lingkungannya untuk mengatur stressor. Stress adalah suatu
yang dinamis sehubungan dengan system terbuka yang terus-menerus
terjadi pertukaran dengan lingkunagn, intensitasnya berfariasi, ada

13

diemnsi yang temporal-spatial yang dipengaruhi oleh pengalaman lalu,


individual, personal, dan subjektif.
3. Sistem Sosial
King mendefinisikan system social sebagai system pembatas peran
organisasi sosisal, perilaku, dan praktik yang dikembangkan untuk
memelihara nilai-nilai dan mekanisme pengaturan antara praktk-praktek
dan aturan (George, 1995). Konsep yang relevan dengan system social
adalah organisasi, otoritas, kekuasaan, status dan pengambilan keputusan.
a. Organisasi
Organisasi bercirikan struktur posisi yang berurutan dan aktifitas yang
berhubungan dengan pengaturan formal dan informal seseorang dan
kelompok untuk mencapai tujuan personal atau organisasi.
b. Otoritas
King mendefinisikan otoritas atau wewenang, bahwa wewenang itu aktif,
proses transaksi yang timbal balik dimana latar belakang, persepsi, nilainilai dari pemegang mempengaruhi definisi, validasi dan penerimaan
posisi di dalam organisasi berhubungan dengan wewenang.
c. Kekuasaan
Kekuasaan adalah universal, situasional, atau bukan sumbangan personal,
esensial dalam organisasi, dibatasi oleh sumber-sumber dalam suatu
situasi, dinamis dan orientasi pada tujuan.
d. Pembuatan keputusan
Pembuatan atau pengambilan keputusan bercirikan untuk mengatur setiap
kehidupan dan pekerjaan, orang, universal, individual, personal, subjektif,
situasional, proses yang terus menerus, dan berorientasi pada tujuan.
e. Status
Status bercirikan situasional, posisi ketergantungan, dapat diubah. King
mendefinisikan status sebagai posisi seseorang didalam kelompok atau
kelompok dalam hubungannya dengan kelompok lain di dalam organisasi
dan mengenali bahwa status berhubungan dengan hak-hak istimewa,
tugas-tugas, dan kewajiban.

14

2. 2. 5

Betty Neuman: System Model


Teori model Betty Neuman menerapkan ide dari teori
sistem umum tentang sifat dasar kehidupan sistem terbuka yang
merupakan gabungan semua elemen yang berinteraksi dalam
struktur organisasi tubuh kita yang kompleks.
Konsep yang dikemukakan oleh Betty Neuman adalah
konsep Health care

system

yaitu

model

konsep yang

menggambarkan aktifitas keperawatan yang ditujukan kepada


penekanan penurunan stress dengan memperkuat garis pertahanan
diri secara fleksibel atau normal maupun resistan dengan sasaran
pelayanan adalah komunitas. Betty Neuman mendefinisikan
manusia secara utuh merupakan gabungan dari konsep holistic dan
pendekatan system terbuka. Konsep utama yang terdapat pada
model Neuman, meliputi: stresor, garis pertahanan dan perlawanan,
tingkatan pencegahan, lima variabel sistem klien, struktur dasar,
intervensi dan rekonstitusi (Fitzpatrick & Whall, 1989)
2. 2. 6

Sister Calista Roy: Adaptation Model


Sister Calista Roy mengkombinasikan teori adaptasi Helson
dengan definisi dan pandangan terhadap manusia sebagai sistem yang
adaptif. Roy juga mengadaptasi nilai Humanisme dalam model
konseptualnya berasal dari konsep A.H. Maslow untuk menggali
keyakinan dan nilai dari manusia. Menurut Roy, humanisme dalam
keperawatan adalah keyakinan, terhadap kemampuan koping manusia
dapat meningkatkan derajat kesehatan.
Roy mendefinisikan bahwa keperawatan merupakan suatu analisa
proses dan tindakan sehubungan dengan perawatan sakit atau
potensial seseorang untuk sakit. Teori adaptasi Roy memandang klien
sebagai suatu sistem adaptasi. Sesuai dengan model Roy, tujuan dari
keperawatan adalah membantu seseorang untuk beradaptasi terhadap
perubahan kebutuhan fisiologis, konsep diri, fungsi peran, dan
hubugan

interdependensi

Tomery,1994).

selama

sehat

dan

sakit

(mariner-

Model Adaptasi Roy berasumsi bahwa dasar ilmu

keperawatan adalah pemahaman tentang proses adaptasi manusia


15

dalam menghadapi situasi hidupnya. Roy mengidentifikasikan 3 aspek


dalam model keperawatannya yaitu: pasien sebagai penerima layanan
keperawatan, tujuan keperawatan dan intervensi keperawatan.
Konsep adaptasi diasumsikan bahwa individu merupakan sistem
terbuka dan adaptif yang dapat merespon stimulus yang datang baik
dari dalam maupun luar individu (Roy & Andrews, 1991 dalam
Araich, 2001). Dengan Model Adaptasi Roy, perawat dapat
meningkatkan penyesuaian diri pasien dalam menghadapi tantangan
yang berhubungan dengan sehat-sakit, meningkatkan penyesuaian diri
pasien menuju adaptasi dan dalam menghadapi stimulus.

Skema model konsep adaptasi Roy


Stimuli adaptation
level

Fungsi fisiologis
Konsep diri
Fungsi peran
interdependen

Mekanisme
koping
Regulator
kognator

Adaptif dan
respon inefektif

Gambar 2.4. Person As An Adaptive System


Sistem adalah Suatu kesatuan yang di hubungkan karena fungsinya sebagai
kesatuan untuk beberapa tujuan dan adanya saling ketergantungan dari setiap
bagian-bagiannya. System terdiri dari proses input, autput, kontrol dan umpan
balik ( Roy, 1991 ), dengan penjelasan sebagai berikut :
1. Input
Roy mengidentifikasi bahwa input sebagai stimulus, merupakan kesatuan
informasi, bahan-bahan atau energi dari lingkungan yang dapat
menimbulkan respon, dimana dibagi dalam tiga tingkatan yaitu stimulus
fokal, kontekstual dan stimulus residual.
a. Stimulus fokal yaitu stimulus yang langsung berhadapan dengan
seseorang, efeknya segera, misalnya infeksi .
b. Stimulus kontekstual yaitu semua stimulus lain yang dialami seseorang
baik internal maupun eksternal yang mempengaruhi situasi dan dapat
diobservasi, diukur dan secara subyektif dilaporkan. Rangsangan ini

16

muncul secara bersamaan dimana dapat menimbulkan respon negatif pada


stimulus fokal seperti anemia, isolasi sosial.
c. Stimulus residual yaitu ciri-ciri tambahan yang ada dan relevan dengan
situasi yang ada tetapi sukar untuk diobservasi meliputi kepercayan, sikap,
sifat individu berkembang sesuai pengalaman yang lalu, hal ini memberi
proses belajar untuk toleransi. Misalnya pengalaman nyeri pada pinggang
ada yang toleransi tetapi ada yang tidak.
2. Kontrol
Proses kontrol seseorang menurut Roy adalah bentuk mekanisme koping
yang di gunakan. Mekanisme kontrol ini dibagi atas regulator dan
kognator yang merupakan subsistem.
a. Subsistem regulator.
Subsistem regulator mempunyai komponen-komponen : input-proses
dan output. Input stimulus berupa internal atau eksternal. Transmiter
regulator sistem adalah kimia, neural atau endokrin. Refleks otonom
adalah respon neural dan brain sistem dan spinal cord yang diteruskan
sebagai perilaku output dari regulator sistem. Banyak proses fisiologis
yang dapat dinilai sebagai perilaku regulator subsistem.
b. Subsistem kognator
Stimulus untuk subsistem kognator dapat eksternal maupun internal.
Perilaku output dari regulator subsistem dapat menjadi stimulus umpan
balik untuk kognator subsistem. Kognator kontrol proses berhubungan
dengan fungsi otak dalam memproses informasi, penilaian dan emosi.
Persepsi atau proses informasi berhubungan dengan proses internal
dalam memilih atensi, mencatat dan mengingat. Belajar berkorelasi
dengan proses imitasi, reinforcement (penguatan) dan insight
(pengertian yang mendalam). Penyelesaian masalah dan pengambilan
keputusan adalah proses internal yang berhubungan dengan penilaian
atau analisa. Emosi adalah proses pertahanan untuk mencari
keringanan, mempergunakan penilaian dan kasih sayang.
3. Output.

17

Output dari suatu sistem adalah perilaku yang dapt di amati,


diukur atau secara subyektif dapat dilaporkan baik berasal dari dalam
maupun dari luar . Perilaku ini merupakan umpan balik untuk sistem.
Roy mengkategorikan output sistem sebagai respon yang adaptif atau
respon yang

tidak

mal-adaptif. Respon yang

adaptif dapat

meningkatkan integritas seseorang yang secara keseluruhan dapat


terlihat bila seseorang tersebut mampu melaksanakan tujuan yang
berkenaan dengan kelangsungan hidup, perkembangan, reproduksi
dan keunggulan. Sedangkan respon yang mal adaptif perilaku yang
tidak mendukung tujuan ini.
Roy telah menggunakan bentuk mekanisme koping untuk
menjelaskan proses kontrol seseorang sebagai adaptif sistem.
Beberapa mekanisme koping diwariskan atau diturunkan secara
genetik (misal sel darah putih) sebagai sistem pertahanan terhadap
bakteri yang menyerang tubuh. Mekanisme yang lain yang dapat
dipelajari seperti penggunaan antiseptik untuk membersihkan luka.
Roy memperkenalkan konsep ilmu Keperawatan yang unik yaitu
mekanisme kontrol yang disebut Regulator dan Kognator dan
mekanisme tersebut merupakan bagian sub sistem adaptasi.
2. 2. 7 Dorothy Johson : Behavioral System Model
Dorothy E. Johnson meyakini bahwa asuhan keperawatan
dilakukan untuk membantu individu memfasilitasi tingkah laku yang
efektif dan efisien untuk mencegah timbulnya penyakit. Manusia
adalah makhluk yang utuh dan terdiri dari 2 sistem yaitu sistem
biologi dan tingkah laku tertentu. Lingkungan termasuk masyarakat
adalah sistem eksternal yang berpengaruh terhadap perilaku
seseorang. Seseorang diakatan sehat jika mampu berespon adaptif
baik fisik, mental, emosi dan sosial terjadap lingkunagn internal dan
eksternal dengan harapan dapat memelihara kesehatannya. Asuhan
keperawatan dilakukan untuk membantu kesimbangan individu
terutama koping atau cara pemecahan masalah yang dilakukan ketika
ia sakit. Menurut Johnson ada 4 tujuan asuhan keperawatan kepada
18

individu, yaitu agar tingkah lakunya sesuai dengan tuntutan dan


harapan masyarakat, mampu beradaptasi terhadap perubahan fungsi
tubuhnya, bermanfaat bagi dirinya dan orang lain atau produktif serta
mampu mengatasi masalah kesehatan yang lainnya.
2. 2. 8 Anne Boykin and Savina O.Scoenhofer : The theory of Nursing
as Caring : A model for transforming practice
Menurut Boykin dan Schoenhofer, pandangan seseorang
terhadap caring dipengaruhi oleh dua hal yaitu persepsi tentang
caring dan konsep perawat sebagai disiplin ilmu dan profesi.
Kemampuan caring tumbuh di sepanjang hidup individu, namun tidak
semua perilaku manusia mencerminkan caring (Julia, 1995).
2. 2. 9 Nola J. Pender : Health Promotion Model
Karakteristik dan pengalaman individu yang mempengaruhi tindakan
kesehatan (Pender, 2000 dalam Tomey & Alligood, 2010)
(1) Perilaku terdahulu
(2) Faktor Personal
a. Faktor biologis personal
b. Faktor psikologis personal
c. Faktor sosiokultural
(3) Melihat manfaat tindakan
(4) Melihat hambatan tindakan
(5) Melihat kekuatan diri (self efficacy)
(6) Sikap yang berhubungan dengan perilaku
(7) Pengaruh interpersonal
(8) Pengaruh situasional
(9) Komitmen terhadap rencana
(10)

Kebutuhan dan pilihan lain yang mendesak.

(11)

Perilaku promosi kesehatan

Perilaku promosi kesehatan, merupakan perilaku akhir yang


diharapkan atau hasil dari sebuah pengambilan keputusan kesehatan
untuk mencapai kehidupan yang optimal, produktif dan terpenuhinya
kebuttuhan personal.

19

Gambar 2.5 Health Promotion Model


2. 2. 10 Medeleine M. Leininger: Transcultural Nursing
Keperawatan transkultural adalah suatu

pelayanan

keperawatan yang berfokus pada analisis dan studi pebandingan


tentang perbedaan budaya (Leninger, 1978 dalam Sudiharto, 2007).
Keperawatan transkultural adalah ilmu dan kiat yang humanis,
yang difokuskan pada perilaku individu atau kelompok, serta
proses untuk mempertahankan atau meningkatkan perilaku sehat
atau perilaku sakit secara fisik dan psikokultural sesuai latar
belakang budaya (Leninger, 1984 dalam Sudiharto, 2007). Teori ini
bertujuan untuk menjelaskan faktor budaya dan asuhan yang
mempengaruhi kesehatan, kesakitan dan kematian manusia sebagai
upaya untuk meningkatkan dan memajukan praktek keperawatan.
Tujuan paling utama dari teori ini adalah memberikan asuhan yang
sesuai dengan budaya, gaya hidup maupun nilai-nilai yang
dipercaya oleh klien (Parker, 2001).

20

Gambar 2.6 Model Sunrise


2. 2. 11 Margaret A Newman
1. Kesehatan
Kesehatan adalah pola dari seluruh manusia dan termasuk sakit
yang dimanifestasikan secara menyeluruh dalam kehidupan yang
berkelanjutan, menyangkut penyakit dan nonpenyakit, ekspilasi pola
yang mendasari individu & lingkungan. Sebagai suatu proses
perkembangan kesadaran diri dan lingkungan bersama-sama dengan
peningkatan kemampuan untuk mempersepsikan alternatif dan
berespon dalam berbagai cara.
2. Pola
Pola adalah informasi yang menggambarkan individu secara
holistic dan memahami arti hubungan satu dengan yang lain. Pola ini
sebagai pedoman untuk melengkapi yang sudah ada, dan menyatukan
segala perbedaan. Pola ini yang menjadi identitas individu sebagai
particular person. Dalam teori Helath as expanding consciousness,
Newman mengemukakan bahwa pola adalah salah satu konsep
mayornya. Ini digunakan untuk memahami individu sebagai manusia
secara menyeluruh. Newman menjelaskan paradigm shift yang terjadi
di

pelayanan

keperawatan

mulai

perawatan

gejala

penyakit,

menemukan pola dan memaknai pola tersebut.


3. Kesadaran
Kapasitas informasional system dan kemampuan sistem
berinteraksi dengan lingkungannya. Kesadaran tidak hanya berfokus
pada kemampuan kognitif dan afektif tetapi juga kesinambungan
system kehidupan termasuk pemeliharaan psikokimia dan proses
perkembangan yang beepengaruh pada system imun. Newman

21

mengidentifikasi 3 hubungan antara waktu, gerakan dan ruang sebagai


manifestasi pola secara keseluruhan.
4. Gerakan ruang waktu
Newman menyatakan bahwa ini penting untuk menjelaskan
perubahan ruang dan waktu secara bersama-sama sebagai emerging
pattern of consciousness dari pada menjelaskan secara terpisah.
2. 2. 12 Rosemarie Rizzo Parse :Humanbecoming
Dalam teori ini Parze membahas lebih dalam mengenai
pedidkan

keperawatan.

Parze

menjelaskan

bahwa

perawat

membutuhkan pengetahuan yang unik berdasarkan proses praktik dan


penelitian keperawatan dan ilmu keperawatan untuk memenuhi
komitmen terhadap klien. Parze membangun Humanbecoming dari
3 prinsip yaitu:
1. Meaning
2. Rhithmicity
3. Transcendent
2. 2. 13 Helen C. Erickson, Evelyn M. Tomlin, Marry Ann P. Swain
Teori dan paradigma model & Role-model dikembangkan
menggunakan retroductive proses, dengan menggunakan dasar teori
Maslow (kebutuhan manusia), Erikson, Piaget (teori perkembangan
kognitif), Engel, Selye (kehilangan dan respon stress individu), and
M. Erickson. Erickson menyampaikan bahwa dalam diri manusia
terhadapat hubungan antara pikiran-tubuh, manusia juga mempunyai
kemampuan mengidentifikasi sumber potensial untuk mengatasi
stress. Erickson menjelaskan hubungan antara tingkat kebutuhan dan
proses perkembangan, kebutuhan kepuasan dan pencapaian tujuan,
kehilangan & kondisi sakit, sehat & rasa puas. Tomlin dan Swain
menfasilitasi dan mewujudkan model praktek Erickson, serta
mengembangkan fenomena dan hubungan teori tersebut.
Winnicott, Klein, Mahler dan Bowlby mengintegrasikan antara
model perkembangan dan menambahkan konsep Affiliated-Individu
(AI). Teori ini mengidentifikasi hubungan antara keterikatan objek
(object attachment) dan kebutuhan rasa puas (need satisfaction),
artinya

jika

objek/individu

22

berulangkali

menemukan/terpenuhi

kebutuhan dasarnya, maka keterikatan/hubungan antara keduanya


terjalin. Selanjutnya disimpulkan bahwa kehilangan/tidak tersedianya
objek menyebabkan deficit kebutuhan dasar. Sintesa teori-teori
sebelumnya dan integrasi hasil observasi klinis dengan pengalaman
Erickson dikembangkan menjadi Model penilaian potensi adaptasi/the
Adaptive Potential Assessment Model (APAM) yang berfokus pada
kemampuan individu untuk menggunakan sumber-sumber yang ada
untuk mengatasi stress sampai dengan proses adaptasi.
2. 2. 14 Gladys L. Husted and James H.Husted : Symphonological
Bioethical Theory
Teori ini menyatakan bahwa simfonologi adalah sebuah sistem
yanag berdasarkan etik dalam terminologi dan syarat dari sebuah
kesepakatan. Dalam teori ini mengacu pada lingkup, agency, konteks,
kesepakatan lingkungan, sehat, keperawatan, pasien dan hak.
Simfonologi dapat tercapai apabila seorang perawat atau agent,
mampu

menggunakan

pendidkan

dan

pengalamannya

dalam

memandirikan pasien apabila dia mampu. Tindakan keperawatan tidak


akan dapat terlaksana apabila tidak ada perawat dan pasien, Tidak
akan ada interaksi perawat apabila tidak ada interaksi (Husted &
Husted, 2001 dalam Alligood 2010)

23

BAB 3
PEMBAHASAN
Berdasarkan analisa kelompok bahwa Grand teori masih berupa
conceptual framework sehingga hanya berorientasi pada pemikiranpemikiran

yang

bisa menjadi

dasar untuk pengembangan

teori

keperawatan berikutnya.
Mengapa tokoh-tokoh ini dimasukkan dalam grand theory?

Deskriptif dan
Eksplanatori

Prediktif

Prespriktif

DOROTHEA
ELIZABETH
OREM

Orem
mengemukakan
ada 3 teori
tentang self
care secara
umum yaitu:
Self Care, Self
Care Defisit,
dan Nursing
System.

Orem dapat
memprediksikan
hubungan kondisi
pasien dengan
deficit perawatan
diri

Seorang pasien
bias mengalami
kondisi deficit
perawatan diri
karena sakitnya.

SISTER
CALLISTA
ROY

Roy
mengemukakan
bahwa manusia
merupakan
system yang
adaptif.
Johnson
mengemukakan
bahwa perilaku
berpengaruh
terhadap
kesehatan fisik
dan social.

Ada hubungan
timbal balik dalam
suatu sistem antara
input, control
proses dan output.

Bahwa individu
mampu
beradaptasi
dalam suatu
system.

Bahwa perilaku
atao behavior
ditentukan oleh
tujuan yang ingin
dicapai oleh
individu.

Individu dapat
jatuh sakit
apabila
perilakunya
menyimpang.

D. E
JOHNSON

24

BETTY
NEUMAN

Menjelaskan
tentang suatu
system terbuka
dimana
manusia
berinteraksi,
beradaptasi dan
disesuaikan
dengan
lingkungan,
dimana
lingkungan
tersebut
digambarkan
menjadi suatu
stressor.

Neuman
mengemukakan
bagaimana system
(manusia) dapat
bereaksi terhadap
stressor baik
internal maupun
eksternal.

Neuman
mengemukakan
bagaimana
system
(manusia) pada
suatu kondisi
bisa terpapar
stressor

IDA J.
ORLANDO

Orlando
mengemukakan
ada 3 aspek
terkait dengan
teori
keperawatan
yaitu perawat,
proses
keperawatan
dan reaksi
pasien.

Orlando
mengemukankan
bahwa ada yang
dinamakan disiplin
proses keperawatan
yaitu adanya timbal
balik antara ke3
aspek tersebut yaitu
perawat, proses
keperawatan dan
reaksi pasien

ada hubungan
timbal balik
antara pasien
dan perawat.

MEDELEINE
LEININGER

Leininger
mengemukakan
bahwa perawat
harus mampu
memberikan
asuhan secara
komprehensif
dengan
memperhatikan
nilai cultural.

Leininger
mengemukakan
perawat mampu
memberikan
asuhan
keperawatan
dengan
mempertimbnagkan
aspek budaya
(pemeliharaan,
akomodasi,
negosiasi dan

Perilaku
caring dalam
asuhan
keperawatan.
berfokus pada
studi dan
analisis kultural

25

restrukturisasi
budaya)

Menurut McKenna (2005) Grand Theories bisa ditingkatkan menjadi Practice


Theories melalui tahapan proses sebagai berikut:

GRAND THEORIES

RESEARCH

MID. RANGE
THEORIES

Science/Knowledge

RESEARCH

PRACTICE
THEORIES
Grand Theories sebagai teori yang memiliki cakupan luas dan abstrak perlu
dikembangkan melalui penelitian dimana diperlukan knowledge sebagai dasar
pemikiran.
Proses penelitian tersebut meliputi analisis, sintesis dan derivation sehingga
menghasilkan konsep, statement dan teori. Dari ketiga proses tersebut lahirlah
model keperawatan. Melalui penelitian lebih lanjut akan menghasilkan format
keperawatan berupa SAK dan SOP yang dapat diaplikasikan dalam tatanan
praktik sehingga menghasilkan practice theories yang lebih sempit cakupannya.

26

BAB 4
PENUTUP
4. 1

Kesimpulan
Menurut Fawcett grand theory sebagai teori yang memiliki cakupan
yang luas, kurang abstrak dibanding model konseptual tetapi tersusun
atas konsep-konsep umum yang relatif abstrak dan hubungannya tidak
dapat di uji secara empiris. Konsep Model yang di bahas dalam Grand
Theory diantaranya teori model Myra Estrin Levine, Martha E Roger,
Dorothea Orem, Imogene M.King, Betty Newman, Callista Roy,
Dorothy Johnson, Anne Boykin and Savina O, Afaf Ibrahim M, Nola J
Pender, Medeleine M, Margaret, Rosemarie, Helen , Evelyn, Mary dan
Gladys and James. Dimana masing-masing teori tersebut memiliki
kekurangan dan kelebihan

di setiap penerapannya dalam asuhan

keperawatan. Sehingga dalam setiap penerapannya diperlukan ketelitian


dari perawat dalam pemilihan konsep teori yang akan digunakan.
Sehingga dari teori yang hanya bersifat konseptual ini bisa
diintepretasikan ke dalam bentuk yang lebih aplikatif dalam praktik
4. 2

asuhan keperawatan.
Saran
1. Pengembangan Teori Keperawatan model Konseptual : Grand
Theory ke ranah Practical Theory
2. Blended beberapa Teori Keperawatan model Konseptual untuk
menemukan suatu temuan terbaru untuk meminimalisasi adanya
kekurangan dari setiap teori
3. Tidak ada kategori Teori model keperawatan yang paling baik
namun dalam penerapannya seorang perawat bisa menggunakan
sesuai kebutuhan

27

DAFTAR PUSTAKA
Daniel, R et all. 2010. Nursing Fudamental:Caring & Clinical Decisions Making.
2nd. Ed. New York : Delmar Cengage Learning
Skinner,Q.1985. The Return of Grand Theory in the Human Sciences.-:Cambridge
Tomey, A.M & Martha R.G. 2010. Nursing Theorist and Their Work
7th.Ed.Missouri:Elsevier Inc.

28