Anda di halaman 1dari 9

Psikologi Dalam Kesehatan

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas limpahan
karuniaNya, penulis dapat menyelesaikan makalah Psikologi yang berjudul PSIKOLOGI
DALAM KESEHATAN dengan tepat waktu tanpa halangan suatu apapun. Diharapkan
makalah ini dapat memberikan wawasan dan informasi kepada pembaca
tentang perkembangan pentingnya psikologi bagi kesehatan seseorang.
Bagaimana pun penulis telah berusaha membuat makalah ini dengan sebaik-baiknya,
namun tidak ada kesempurnaan dalam karya manusia. Penulis menyadari masih banyak
kekurangan dalam penyusunan makalah ini. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat penulis
harapkan untuk lebih menyempurnakan makalah ini. Mudah-mudahan sedikit yang penulis
sumbangkan ini, akan menjadi ilmu yang bermanfaat.

Yogyakarta, 26 April 2012

Penulis

Psikologi Dalam Kesehatan


A. Budaya dan Psikologi Kesehatan
Pada awal abad ke-20, pemahaman tentang kesehatan didominasi oleh pandangan dari
perspektif biologis medis, dimana kesehatan di definisikan sebagai sebuah keadaan dimana
tidak adanya penyakit. Kemudian berkembang pandangan dari biopsikososial yang
menekankan peran sosial-budaya dalam membentuk kesehatan atau menimbulkan sebuah
penyakit. Sebagaimana definisi kesehatan menurut WHO (World health organization) pada
tahun 1948, mendefinisikan kesehatan sebagai keadaan lengkap dari fisik, mental dan sosial
serta kesejahteraan dan bukan hanya bebas dari penyakit atau kelemahan. Defenisi ini
meminta perhatian terhadap kompleksitas dan multidimensionalitas konsep dari kesehatan.
Menambahkan kesejahteraan sosial pada definisi itu membuka jalan untuk konseptualisasi
individu sebagai makhluk sosial dalam definisi kesehatan bukan hanya dari aspek
fisik/biologi/fisiologi semata.

Pergeseran dari definisi ini, juga berimbas pada ilmu psikologi, yang sebelumnya
hanya menganalisis penyakit dan gangguan psikologis, menjadi analisis individu untuk
mencapai kesejahteraan seperti promosi-promosi kesehatan. Sebelumnya, ilmu psikologi
dikenal sebagai psikologi negatif (psikologi orang sakit), dengan definisi ini berubah dan
menjadikan psikologis sebagai sarana keilmuan memanusiakan manusia (mencapai
kesejahteraan). Kita mengetahui bahwa perkembangan ilmu psikologi dimulai dari teori
psikoanalisia, behavioristic, humanistic, dan sekarang sedang berkembangan indigenous
psychology yang menekankan pentingnya dan besarnya pengaruh budaya setempat terhadap
tingkah laku seseorang.
Perkembangan terbaru dari pendekatan ini memandang kesehatan sebagai sebuah
jaringan yang kompleks yang sangat di pengaruhi oleh sosial-budaya. Bisa saja sebuah
budaya memandang sebuah perilaku itu adalah penyimpangan, tetapi pada budaya lain, itu
adalah hal yang normal.
Memasukkan budaya dan psikologi ke dalam terapan ilmu kesehatan sangat penting.
Misalnya, dalam promosi kesehatan, preventif, keratif, rehabilitasi, tidak mungkin
mengesampingkan budaya setempat. Bahkan beberapa budaya terdapat berbagai penyakit
yang memang khas budaya tersebut, yang hanya bisa dipahami, jika kita memasukkan konsep
budaya dalam penangan penyakit tersebut. Misalnya beberapa penyakit yang memiliki
kecenderungan mendapat pengaruh budaya seperti Hikokomori (lazim di Jepang) dan
anoreksia (lazim dalam masyarakat barat). Memahami alasan yang mendasari hal ini, cara
pencegahan dan pengobatan yang efektif untuk penyakit seperti ini akan memerlukan
pendekatan budaya.

B. Ilmu Psikologi Dalam Kesehatan


Secara umum kesehatan dibedakan atas kesehatan individu dan kesehatan masyarakat.
Kesehatan individu tercermin dari kesehatan fisik dan kesehatan mental seseorang. Sehat
secara fisik apabila seseorang merasa dirinya sehat dan dapat dibuktikan secara klinis ketika
organ-organ didalam tubuh berfungsi normal. Sedangkan sehat secara mental meliputi sehat
pada pikiran, emosional dan spiritual.Kesehatan masyarakat sebagai sebuah cabang keilmuan
mempelajari cara-cara pencegahan penyakit dengan mengenali faktor-faktor risiko penyakit
sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara agregat. Prof. Winslow
dari Yale University memberikan batasan ilmu kesehatan masyarakat adalah ilmu dan seni
mencegah penyakit, memperpanjang hidup, meningkatkan kesehatan fisik dan mental, dan
efisiensi melalui usaha masyarakat yang terorganisir untuk meningkatkan sanitasi
lingkungan, kontrol infeksi di masyarakat, pendidikan individu tentang kebersihan
perorangan, pengorganisasian pelayanan medis dan perawatan untuk diagnosa dini,
pencegahan penyakit dan pengembangan aspek sosial, yang akan mendukung agar setiap
orang di masyarakat mempunyai standar kehidupan yang kuat untuk menjaga kesehatannya
(Leavel and Clark, 1958).
Dalam disiplin ilmu kesehatan masyarakat, dipelajari Ilmu Perilaku untuk pendidikan
kesehatan. Biasanya disebut Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku (PKIP). Dalam disiplin
ilmu tersebut, mempelajari pentingnya Psikologi dalam dunia Kesehatan menyangkut ilmuilmu perilaku kesehatan untuk memberikan kontribusi nyata kepada peningkatan derajat
kesehatan masyarakat. Pengembangan keilmuan dibidang Pendidikan Kesehatan dan Ilmu
Perilaku diarahkan kepada aspek konseptual dan aspek terapan, di antaranya metode dan
teknologi pendidikan promosi kesehatan serta bidang ilmu perilaku kesehatan dengan
mempertimbangkan dan mengapresiasi aspek-aspek sosial budaya masyarakat. Peminat

cabang keilmuan psikologi kesehatan diharapkan memiliki kemampuan merumuskan,


menganalisis, merencanakan, menerapkan dan mengevaluasi berbagai strategi, metode dan
teknik promosi kesehatan untuk meningkatkan dan memelihara derajat kesehatan masyarakat.

C. Pendekatan Perilaku Dalam Kesehatan Masyarakat


Kesehatan merupakan hasil perpaduan berbagai faktor yang mempengaruhi, baik secara
internal maupun secara eksternal. Secara internal, kesehatan dipengaruhi oleh kesehatan fisik
dan kesehatan psikis, sedangkan secara eksternal dipengaruhi oleh masalah sosial, budaya,
politik, ekonomi, pendidikan, lingkungan, dan sebagainya. Upaya penyelenggaraan kesehatan
dibedakan atas tiga yakni:
(1) Primary Care, sarana pemeliharaan kesehatan primer;
(2) Secondary Care, sarana pemeliharaan kesehatan tingkat dua;
(3) Tertiery Care, sarana pemeliharaan kesehatan tingkat tiga.
Sasaran primary care seperti kepala keluarga untuk kesehatan umum, ibu hamil dan
menyusui, anak usia sekolah, dan sebagainya. Sedangkan sasaran secondary care meliputi
pemasyarakat tanaman obat keluarga (toga), penyuluhan cara menjaga lingkungan sehat, dan
seterusnya. Sementara sasaran tertiery care adalah para penentu kebijakan bidang kesehatan,
baik pada tingkat pusat maupun level daerah. Untuk memasyarakatkan pemeliharaan
kesehatan melalui pola hidup sehat, maka pendekatan ilmu perilaku sangat penting. Menurut
L. Green, perilaku seseorang dipengaruhi oleh tiga faktor yakni faktor predisposisi, faktor
pemungkin (enabling factors) dan faktor penguat (reinforcing factors). Faktor predisposisi
meliputi pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan, tradisi, dan kepercayaan
masyarakat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan, sistem nilai yang dianut
masyarakat, tingkat pendidikan dan tingkat sosial-ekonomi, dan sebagainya. Faktor
pemungkin mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas kesehatan bagi
masyarakat, misalnya ketersediaan air bersih, tempat pembuangan sampah dan tinja,
ketersediaan makanan bergizi, termasuk keterjangkauan pada sarana pelayanan kesehatan
seperti Puskesmas, Posyandu, Polindes, dan sebagainya. Sedangkan faktor penguat mencakup
faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat, perilaku petugas kesehatan, serta peraturan
perundang-undangan dibidang kesehatan mulai dari undang-undang, peraturan pemerintah,
peraturan teknis dibidang kesehatan.
Untuk mempengaruhi perilaku masyarakat agar menerapkan pola hidup sehat, pendekatan
pendidikan kesehatan mutlak dilakukan. Karena pada dasarnya, Pendidikan adalah sebuah
proses sosialisasi ilmu dan nilai untuk mempengaruhi orang lain secara individu atau
kelompok agar mau mengikuti ilmu dan nilai yang diajarkan seorang pendidik kesehatan.
Unsur-unsur dalam pendidikan kesehatan untuk mempengaruhi perilaku seseorang adalah
unsur input dan unsur output. Unsur input seperti sarana pendidikan dan tenaga pendidik
sedang unsur output yakni proses pendidikan yang dilakukan sebagai upaya untuk
mempengaruhi orang lain agar melakukan tindakan sesuai yang diharapkan petugas
pendidik.

D. Peran Psikologi dalam Dunia Kesehatan


Harapannya semua orang berada dalam kondisi sehat. Psikologi Kesehatan
(keperawatan) dikembangkan untuk memahami pengaruh psikologis terhadap bagaimana
seseorang menjaga dirinya agar tetap sehat, dan mengapa mereka menjadi sakit dan untuk
menjelaskan apa yang mereka lakukan saat mereka jatuh sakit.
Selain mempelajari hal-hal tersebut di atas, psikologi kesehatan mempromosikan
intervensi untuk membantu orang agar tetap sehat dan juga mengatasi kesakitan yang
dideritanya. Psikologi kesehatan tidak mendefinisikan sehat sebagai tidak sakit. Sehat
dilihat sebagai pencapaian yang melibatkan keseimbangan antara kesejahteraan fisik, mental
dan sosial. Psikologi kesehatan mempelajari seluruh aspek kesehatan dan sakit sepanjang
rentang hidup. Psikologi kesehatan fokus pada pemeliharaan dan peningkatan kesehatan,
seperti bagaimana mendorong anak mengembangkan kebiasaan hidup sehat, bagaimana
meningkatkan aktivitas fisik, dan bagaimana merancang suatu kampanye yang dapat
mendorong orang lain memperbaiki pola makannya.
Psikologi Kesehatan juga mempelajari aspek-aspek psikologis dari pencegahan dan
perawatan sakit. Seorang psikologi kesehatan misalnya, membantu mereka yang bekerja di
lingkungan yang memiliki tingkat stress yang tinggi untuk mengelola stress dengan efektif,
sehingga tekanan yang dialami di lingkungan kerja tidak mempengaruhi kesehatan mereka.
Seorang psikolog kesehatan juga dapat bekerja dengan mereka yang sedang menderita suatu
penyakit agar dapat menyesuaikan mental dan fisik mereka dengan penyakit tersebut atau
untuk mematuhi treatment yang dirancang oleh dokter yang merawatnya. Psikologi kesehatan
juga fokus pada etiologi dan kaitannya dengan kesehatan, sakit dan disfungsi. Etiologi
merujuk pada asal dan penyebab sakit, dan psikolog kesehatan secara khusus tertarik pada
faktor-faktor perilaku dan sosial yang menyumbang kesehatan dan sakit dan disfungsi.
Faktor-faktor tersebut meliputi kebiasaaan yang merusak atau menunjang kesehatan seperti
konsumsi alkohol, merokok, olahraga, mengenakan sabuk pengaman, dan cara-cara
berkawan dengan stress. Pada akhirnya, psikolog kesehatan menganalisa dan berusaha
meningkatkan system perawatan kesehatan dan merumuskannya dalam kebijakan kesehatan.
Psikologi kesehatan mempelajari dampak institusi kesehatan dan tenaga medis dan paramedis
terhadap perilaku orang.
Psikologi kesehatan bertujuan untuk memahami dinamika psikologis individu yang
tetap menjaga kesehatannya, dinamika psikologis individu yang sehat namun kemudian
mendapat diagnosa penyakit kronis serta dinamika psikologis individu saat merespon
keadaan sakit kronis yang sedang dialami. Kita pasti pernah bertemu dengan orang yang
tampak selalu sehat dan jarang sakit. Terbersit dalam benak kita, apa yang dilakukan orang
tersebut sehingga kesehatannya terjaga? How does he or she maintain his or her
health? Dinamika psikologis apa yang tercermin pada individu yang berhasil menjaga
kesehatannya? Kita pernah pula berjumpa dengan orang yang sehat, namun setelah orang
tersebut mendapat diagnosa penyakit tertentu, muncul banyak perubahan pada dirinya.
Perubahan fisik dan juga perubahan emosional. Orang tersebut menjadi lebih sensitif
perasaannya-lebih emosional, menjadi kurang semangat dalam berkarya-malas, bahkan
mungkin memperlihatkan perubahan perilaku yang sangat berbeda dalam kesehariannya.
Dinamika psikologis apa yang terlihat pada individu yang demikian? Kita mungkin
juga pernah bertemu dengan orang yang tengah berjuang dalam menghadapi penyakit kronis
yang dideritanya. Kita seolah dapat membaca cerminan jiwanya, antara yakin dan tidak yakin
bahwa dirinya bisa terbebas dari penyakit yang dideritanya. Terkadang kita melihat orang itu
tampak bersemangat dan akan melakukan apapun demi kesembuhannya, namun di saat lain

kita meyaksikan orang tersebut berada pada puncak keputusasaannya. Sehingga apapun yang
kita katakan atau kita lakukan seolah tidak terlalu bermakna bagi dirinya. Dinamika
psikologis apa yang ada pada individu yang demikian? Dinamika psikologis individu yang
sehat ? Individu ini menyadari bahwa kesehatan adalah sesuatu yang teramat penting. Bentuk
kesadaran ini tercermin dalam perilaku sehat (health behaviour). Perilaku sehat adalah
perilaku seseorang dalam mempertahankan status kesehatannya. Olah raga teratur dan
mengkonsumsi makanan sehat dan bergizi adalah contoh perilaku sehat.
Individu selalu belajar (learn) dari kisah kesehatan orang lain. Proses ini adalah bagian dari
dinamika psikologis orang yang sehat. Karena ia mendapatkan pemahaman (insight)
bagaimana menjaga kesehatannya dan bagaimana terhindar dari penyakit yang dialami oleh
orang lain. Sehingga jika ada keinginan untuk melakukan perilaku yang tidak sehat (poor
health behavior) - misal merokok - akan selalu ada yang informotaknya untuk tidak
meneruskan keinginan berperilaku tidak sehat. Dinamika psikologis individu yang sehat
kemudian sakit ? Individu yang sehat dapat melakukan banyak aktivitas secara mandiri.
Ketika kemudian ia terdiagnosa dengan penyakit kronis tertentu akan muncul ketakutan dan
kecemasan atas eksistensi dan performansinya. Kecemasan ini merupakan masalah tersendiri,
bukan karena mendatangkan stres bagi individu namun mempengaruhi kemampuan individu
dalam menjalankan fungsi kehidupan sehari-hari. Ketika suatu penyakit terjadi pada
seseorang, seluruh aspek kehidupannya akan terpengaruh. Dinamika psikologis dan
emosional yang muncul seringkali berupa pertanyaan seperti "siapa yang akan merawat
mereka ketika mereka telah sembuh? Jika pada akhirnya mereka tidak dapat bekerja lagi,
bagaimana mereka dapat membayar/menangani masalah keuangan? Jika selama ini individu
tersebut merasa mampu melakukan semua hal sendiri secara mandiri, dapatkah mereka
kemudian menerima keadaan baru mereka (jadi tergantung pada orang lain). Bagaimana jika
individu ini tidak dapat lagi melakukan hobi lama?

Ada beberapa respon emosional yang muncul pada pasien atas penyakit kronis yang
dideritanya, yaitu :
1. Penolakan (Denial)
Merupakan reaksi yang umum terjadi pada penderita penyakit kronis seperti jantung,
stroke dan kanker. Atas penyakit yang dideritanya ini, pasien akan memperlihatkan sikap
seolah-olah penyakit yang diderita tidak terlalu berat (menolak untuk mengakui bahwa
penyakit yang diderita sebenarnya berat) dan menyakini bahwa penyakit kronis ini akan
segera sembuh dan hanya akan memberi efek jangka pendek (menolak untuk mengakui
bahwa penyakit kronis ini belum tentu dapat disembuhkan secara total dan menolak untuk
mengakui bahwa ada efek jangka panjang atas penyakit ini, misalnya perubahan body image).
2. Cemas
Setelah muncul diagnosa penyakit kronis, reaksi kecemasan merupakan sesuatu yang umum
terjadi. Beberapa pasien merasa terkejut atas reaksi dan perubahan yang terjadi pada dirinya
bahkan membayangkan kematian yang akan terjadi padanya. Bagi individu yang telah

menjalani operasi jantung, rasa nyeri yang muncul di daerah dada, akan memberikan reaksi
emosional tersendiri. Perubahan fisik yang terjadi dengan cepat akan memicu reaksi cemas
pada individu dengan penyakit kanker.
3. Depresi
Depresi juga merupakan reaksi yang umum terjadi pada penderita penyakit kronis. Kurang
lebih sepertiga dari individu penderita stroke, kanker dan penyakit jantung mengalami
depresi. Untuk dapat memahami respon yang terjadi atas perubahan yang ada pada penderita
penyakit kronis, perlu pemahaman yang mendalam tentang diri individu (self) itu
sendiri. Self merupakan salah satu konsep utama dalam ilmu psikologi. Para psikolog
mengacu pada self concept sebagai keyakinan atas kualitas dan penilaian yang dimiliki
seseorang.
Penyakit kronis dapat menghasilkan perubahan yang drastis pada self concept dan self
esteem. Beberapa perubahan yang ada bisa bersifat sementara, walaupun ada juga yang
bersifat permanen. Self concept itu sendiri merupakan bagian dari self evaluation termasuk
didalamnya beberapa aspek seperti body image, prestasi, fungsi sosial dan the private self.

1. The Physical Self


Body image merupakan penilaian dan evaluasi atas fungsi dan penampilan fisik
seseorang. Body image yang rendah berhubungan dengan harga diri yang rendah diikuti
dengan terjadinya peningkatan depresi serta kecemasan.
2. The Achieving Self
Jika keadaan penyakit kronis menjauhkan individu dari aktivitas ini, konsep diri individu
yang bersangkutan bisa terkoyak dan rusak. Namun jika pekerjaan dan hobi sama sekali tidak
terpengaruh oleh keadaan sakit dan sebagainya, individu dapat memperoleh kepuasan
tersendiri dan meningkatkan harga dirinya.
3. The Social Self
Sebagaimana yang telah diketahui bersama, menciptakan kembali kehidupan sosial pasien
penderita penyakit kronis merupakan aspek yang penting. Bentuk sumber daya sosial yang
dapat membantu individu yang menderita penyakit kronis misalnya dengan pemberian
informasi, bantuan dan dukungan emosional. Partisipasi keluarga dalam proses rehabilitasi
merupakan sesuatu yang sangat dianjurkan. Memberikan informasi pada anggota keluarga
lain (bahkan anak-anak) yang akurat dan cukup mengenai keadaan individu yangs akit
(misalnya gangguan/penyakit yang dialaminya, proses/treatment yang akan dijalaninya bahka
perubahan emosional yang terlihat) merupakan sesuatu yang penting untuk dilaksanakan agar
terhindar dari kebingungan dan kesalahpahaman dalam berkomunikasi antara individu yang
sakit
dengan
pihak
keluarga.
Dengan demikian, setiap individu memiliki dinamika psikologisnya tersendiri bilamana
dikaitkan dengan status kesehatannya. Antara individu yang sehat, individu yang sehat
kemudian sakit dan individu yang telah terkena penyakit kronis memiliki dinamika psikologis
dan emosional yang harus dipahami. Psikologi kesehatan mencoba memahami aspek

kejiwaan (psikologis dan emosional) individu yang berada pada salah satu situasi diatas
(terlebih pada individu yang sakit).

E.

Contoh Aplikasi Psikologi dalam Kesehatan

Studi Kasus Perilaku Merokok


Berbagai penelitian kesehatan tentang dampak rokok sudah banyak dilakukan para
ahli kesehatan masyarakat. Namun meski telah banyak dilakukan penelitian dan sudah
terbukti berdampak buruk bagi kesehatan, jumlah perokok tidak kunjung turun, utamanya
dinegara-negara berkembang termasuk Indonesia. Untuk itu, dibutuhkan pendekatan perilaku
dalam promosi kesehatan tentang bahaya rokok. Publikasi terbaru hasil penelitian tentang
rokok dirilis pada 6 Februari 2012 dalam jurnal Archives of General Psychiatry, yang
dilakukan Severine Sabia dan rekan-rekannya dari University College London. Penilaian
fungsi mental para responden dilakukan selama tiga kali selama kurun waktu 10 tahun.
Sedangkan penilaian status merokok responden dilakukan enam kali dalam kurun waktu 25
tahun. Usia rata-rata responden adalah sekitar 56 tahun ketika penilaian pertama dilakukan.
Hasil analisis data sekitar 5.100 pria dan lebih dari 2.100 wanita terkait fungsi mental,
seperti memori, pembelajaran, dan pengolahan pikiran. Peneliti menemukan bahwa di
kalangan kaum pria, merokok berhubungan dengan merosotnya kemampuan otak yang lebih
cepat. Selain itu, penurunan yang lebih massif terjadi pada pria yang terus merokok selama
masa penelitian. Peneliti menemukan bahwa pria yang berhenti merokok dalam 10 tahun
sebelum penilaian pertama dilakukan ternyata masih berisiko mengalami penurunan mental,
terutama terkait fungsi eksekutif pada otak. Namun, mereka yang telah berhenti merokok
dalam jangka waktu lama, cenderung mengalami penurunan fungsi otak lebih lambat. Dalam
riset tersebut, Severine Sabia dan rekan-rekannya tidak menemukan hubungan antara efek
merokok dan penurunan fungsi mental pada kaum wanita. Alasan untuk perbedaan jenis
kelamin ini belum terungkap dengan jelas. Tetapi, hal itu mungkin berkaitan dengan fakta
bahwa pria umumnya cenderung merokok lebih banyak ketimbang wanita. Untuk merubah
perilaku merokok, maka beberapa teori perilaku bisa menjadi rujukan seperti Teori Kurt
Lewin, Teori Festinger, dan sebagainya. Menurut Kurt Lewin (1970), perilaku manusia
adalah suatu keadaan yang seimbang antara kekuatan-kekuatan pendorong (driven forces)
dan kekuatan-kekuatan penahan (restining forces). Pada teori Kurt Lewin, melakukan
perubahan perilaku dengan cara melakukan ketidakseimbangan antara kedua kekuatan
didalam diri seseorang sehingga ada tiga kemungkinan terjadinya perubahan pada diri
seseorang.
Ketiga kemungkinan tersebut adalah pertama, kekuatan-kekuatan pendorong
meningkat; adanya stimulus yang mendorong untuk terjadinya perubahan-perubahan
perilaku, seperti penyuluhan kesehatan dan bentuk-bentuk promosi kesehatan lainnya. Kedua,
kekuatan-kekuatan penahan menurun; adanya stimulus yang memperlemah kekuatan penahan
seperti anggapan bahwa merokok tidak mengganggu kesehatan. Anggapan yang keliru
tersebut dapat memperlemah driven forces. Ketiga, kekuatan pendorong meningkat sedang
kekuatan penahan menurun; kondisi inilah yang memungkinkan terjadinya perubahan
perilaku, termasuk perilaku merokok. Dari studi kasus perilaku merokok, maka bisa dilihat
hubungan erat pentingnya Ilmu Psikologi dalam dunia kesehatan. Apalagi Ilmu Kesehatan
Masyarakat yang memiliki pendekatan preventif dan promotif, maka penggunaan Psikologi
sangat penting dan relevan dalam upaya-upaya pencegahan ancaman terjangkit penyakit.

F. Kesimpulan
Peranan Psikologi dalam dunia keperawatan sangat besar. Hal tersebut disebabkan
karena peran psokologis seseorang selalu menyertai diri, sejak mulai merasakan sakit
kemudian masuk rumah sakit hingga keluar dari rumah sakit dan sembuh, peran psikologis
seseorang tersebut sangat besar. Selain itu, dengan ilmu psikologi kita dapat lebih memahami
kepribadian dan tingkah laku pasien sehingga kita dapat menyeleseikan masalah tersebut
dengan sudut pandang yang berbeda.
Psikologi kesehatan bertujuan untuk memahami tentang seseorang dalam dinamika
psikologis yang selalu menjaga kesehatannya, dinamika psikologis seseorang yang sehat
tetapi dia mengalami diagnosa penyakit kronis serta dinamika psikologis seseorang saat
merespon sakit kronis yang dialaminya.
G. DAFTAR PUSTAKA
o http://www.yarsi.ac.id/web-directory/kolom-dosen/73-fakultas-psikologi/173-metta.html
o http://kesehatan.kompasiana.com/kejiwaan/2012/03/20/pentingnya-ilmu-psikologi-dalamkesehatan/
o http://ml.scribd.com/doc/22686304/MAKALAH-PSIKOLOGI
o http://www.anneahira.com/psikologi-kesehatan.htm
o http://www.psikologi.ui.ac.id/pages/peminatan-terapan-psikologi-kesehatan
o http://www.psychologymania.com/2012/03/budaya-dan-psikologi-kesehatan.html
o http://psikologi.infogue.com/apakah_psikologi_kesehatan_
Posted by Merrie Sova at 5:27 PM

No comments:
Post a Comment
Newer PostOlder PostHome
Subscribe to: Post Comments (Atom)

Translate
Diberdayakan oleh

Blog Archive
2015 (7)
2014 (15)
2013 (7)

Terjemahan

2012 (18)
December (2)
November (6)
October (5)
Toleransi Dalam Sebuah Keluarga
Satuan Acara Penyuluhan (SAP), Teknik Menyusui
Psikologi Dalam Kesehatan
Laporan Tutorial I
Primary Health Care
June (2)
April (3)
2011 (3)

Digital clock

About Me

There was an error in


this gadget

Merrie Sova
writing,
reading and
music is my
world :)
View my complete
profile

Followers
Assova. Watermark template. Powered by Blogger.