Anda di halaman 1dari 10

PEMBAHASAN

Dalam praktikum kali ini praktikan akan membuat suatu sistem emulsi dimana tujuannya untuk
mengevaluasi ketidakstabilan suatu emulsi. Emulgator yang digunakan adalah Tween 80 dan
gliserin. Pertama-tama seluruh bahan yang digunakan ditimbang terlebih dahulu. Selanjutnya
Tween 80 dicampur dengan air dan gliserin dengan minyak jagung. Kedua campuran tersebut
dipanaskan diatas penanggas air dengan suhu 600. Selanjutnya kedua campuran tersebut ditaruh
diatas pengaduk elektrik selama 5 menit. Hasil ditampung di tabung sedimentasi. Tinggi emulsi
diusahakan sama disetiap tabung. Setelah diamati selama 6 hari terdapat adanya creaming pada
semua emulsi yang dibuat.
Kemungkinan besar pertimbangan yang terpenting bagi emulsi di bidang farmasi dan kosmetika
adalah stabilitas dari produk-produk jadi. Kestabilan dari emulsi farmasi berciri tidak adanya
penggabungan fase dalam, tidak adanya creaming, dan penampilan bau, warna dan sifat-sifat
fisik lainnya yang baik. Beberapa peneliti mendefinisikan ketidakstabilan suatu emulsi hanya
dalam hal terbentuknya penimbunan fase dalam dan pemisahannya dari produk. Creaming yang
diakibatkan oleh flokulasi dan konsentrasi bola-bola fase dalam, kadang-kadang tidak
dipertimbangkan sebagai suatu tanda ketidakstabilan. Tetapi suatu emulsi adalah suatu sistem
yang dinamis dan flikulasi serta creaming yang dihasilkan menggambarkan tahap-tahap potensial
terhadap terjadinya penggabungan fase dalam yang sempurna. Creaming mengakibatkan
ketidakrataan dari distribusi obat dan tanpa pengocokan yang sempurna sebelum digunakan,
berakibat terjadinya pembe;rian dosis yang berbeda. (Martin dkk, 1990)
Creaming harus dilihat terpisah dari pemecahan, karena creaming merupakan suatu proses bolakbalik, sedangkan pemecahan merupakan proses searah. Krim yang menggumpal bisa
didispersikan kembali dengan mudah dan dapat membentuk kembali suatu campuran yang
homogen dari suatu emulsi yang terbentuk krim dengan pengocokan, karena bola-bola minyak
masih dikelilingi oleh suatu lapisan pelindung dari zat pengemulsi. (Tim Penyusun, 2008)
Pada praktikum emulsifikasi, praktikan mengamati kestabilan emusli dengan mengamati
ada/tidaknya creaming pada sediaan emusli yang telah diketahui nilai HLB-nya. Praktikan
mengamati Sembilan sediaan emulsi yang masing-masing nilai HLB butuhnya adalah
6,7,8,9,10,11,12,13, dan 14. Dari semua sediaan, semuanya mengahasilkan creaming di bagian
atas dengan tinggi yang bervariasi.
Tinggi emulsi yang membentuk krim bervariasi. Nilai tinggi yang didapat dari HLB
6,7,8,9,10,11,12,13 dan 14 pada hari pertama berturut-turut adalah 2,8, 2,5, 2,3, 2,6, 2,2, 2,3, 2,6,

2,5, 2,2 cm. Pada hari kedua berturut-turut adalah 2,2, 2,7,2,6, 2,3, 2,2, 2,9, 2,4, 2,9 dan
2,6

cm.

Pada

hari

ketiga

berturut-turut

adalah

2,2, 2,7, 2,6, 2,4, 2,2, 2,9, 2,4,2,9

dan
2,7 cm. Pada hari keempat berturut-turut adalah 2,3, 2,7, 2,6, 2,4, 2,2, 2,9, 2,4,2,9 dan 2,7 cm.
Menurut persamaan Hk. Stoke tentang pengendapan yaitu :

Dimana adalah kecepatan akhir dalam cm/detik. d adalah diameter partikel dalam cm. P s dan
Po berturut-turut adalah kecepatan dari fase terdispersi dan medium pendispersi, g adalah
percepatan karena gravitasi. No adalah viskositas dari medium pendispersi dinyatkan dalam
satuan poise.
Analisa dari persamaan di atas adalah , jika fase terdispersi kurang rapat dibandingkan dengan
fase kontinyu, kecepatan sedimentasi menjadi negatif, yakni, dihasilkannya creaming yang
mengarah ke atas. Jika fase dalam lebih berat dari fase luar, bola-bola akan mengendap,
fenomena ini sering terdapat pada emulsi tipe w/o dimana fase dalamnya lebih rapat daripada
fase kontinyu minyak. Efek ini dikenal dengan creaming yang mengarah ke bawah. (Martin dkk,
1990)
Hasil pengamatan menunjukkan jenis creaming yang pertama, yakni, creaming yang mengarah
ke atas. Hal ini karena kerapatan fase terdispersi ( dalam hal ini minyak ) lebih kecil dari air.
Ketidakstabilan emulsi kemungkinan dapat disebabkan karena penggunaan emulgator yang tidak
sesuai, proses pengadukan yang kurang sempurna dan kesalahan praktikan dalam menimbang
bahan-bahan yang digunakan.
KESIMPULAN
Emulsi adalah suatu sistem yang tidak stabil secara termodinamik yang mengandung
paling sedikit dua fase cair yang tidak bercampur, dimana satu diantaranya didispersikan
sebagai bola-bola dalam dalam fase cair lain.
Creaming adalah suatu peristiwa terjadinya lapisan-lapisan dengan konsentrasi yang
berbeda-beda di dalam emulsi.

S i f a t - S i f a t E m u l s i
Distribusi ukuran tetesan dalam emulsi farmasetik sangat penting ditinjau daripertimbangan
stabilitas dan biofarmasetiknya.Makin besar ukuran tetesan, makin besardorongan terjadinya
koalesensi yang selanjutnya akan meningkatkan ukuran tetesan. Ukurantetesan lebih halus,
umumnya meningkatkan stabilitas. Distribusi ukuran tetesan dipengaruhikarakteristik
pengemulsi disamping metode manufaktur.Emulsi berukuran halus akan meningkatkan
absorpsi saluran cerna, dan hal inidiperlukan untuk sediaan oral yang mengandung nutrisi
minyak atau obat yang larut dalamminyak. Hal yang bertentangan secara klinik dapat terjadi
pada minyak minral. Emulsiparenteral harus diformulasi sedemikian rupa sehingga ukuran
tetesan minyak sama denganukuran chylomikro. Ukuran tidak boleh melebihi 5 m karena
dapat menimbulkan bahayaembolisme. Sifat reologi emulsi dipengaruhi sejumlah faktor
interaksi, termasuk sifat kontinuperbandingan volume fase, dan distribusi ukuran tetesan.
Untuk LIPR (low internal phaseratio) emulsi, konsistensi emulsi umumnya sama dengan fase
kontinu.
Emulsi a/m biasanya lebih kental dari emulsi m/a, dan konsistensi emulsi sistem
m/ameningkat dengan penambahan Gom dan pengental lain yang menunjukkan sifat
aliranplastik atau pseudoplastik. Beberapa campuran pengemulsi berinteraksi dengan
airmembentuk fase viskoelastik kontinu, menghasilkan krem semi solid m/a (Agoes, 2006).
3. P e n g g u n a a n E m u l s i
Berdasarkan penggunaannya, emulsi dibagi dalam dua golongan, yaitu:1)
Emulsi untuk pemakaian dalamEmulsi untuk pemakaian dalam meliputi pemakaian peroral dan
injeksi intravena. Emulsiuntuk pemakaian dalam digunakan secara internal untuk nutrisi, obat,
dan bahan (agen)diagnostik. Emulsi oral biasanya merupakan tipe minyak dalam air. Bau dan
rasa tidak enak minyak medisinal, secara keseluruhan atau parsial, dapat ditutupi jika
diberikandalam bentuk emulsi. Fasa luar air secara efektif mengisolasi minyak dari lidah
danmemungkinkan rasa tidak enak ditelan dengan mudah dengan meminum air (Anief,
1999;Agoes, 2006).2)Emulsi untuk pemakaian luarEmulsi untuk pemakaian luar digunakan pada
kulit atau membran mukosa, sepertilinimen, losion, dan krim (Anief, 1999).
4.Z a t P e n g e m u l s i
Pemilihan zat pengemulsi sangat penting dalam menentukan keberhasilanpembuatan suatu
emulsi yang stabil. Agar berguna dalam preparat farmasi, zat pengemulsiharus mempunyai
kualitas tertentu, diantaranya harus dapat dicampurkan dengan bahanformulatif lainnya, tidak
mengganggu stabilitas dari zat terapeutik, tidak toksik dalam jumlahyang digunakan, serta
mempunyai bau, rasa, dan warna yang lemah (Ansel, 1989).Zat pengemulsi dapat
digolongkan berdasarkan sumber sebagai berikut:a)
Golongan karbohidrat, seperti gom, tragakan, agar, dan pektin.b)
Golongan protein, seperti gelatin, kuning telur, dan kaseinc)
Golongan alkohol berbobot molekul tinggi, seperti steril alkohol setil alkohol,
gliserilmonostearat, kolesterol, dan turunan koleterol.d)

Golongan surfaktan (sintetik), bisa yang bersifat anionik, kationik, dan nonionik.e)
Golongan zat padat terbagi halus, seperti bentonit, magnesium klorida, dan
alumuniumhidroksida (Ansel, 1989).
5. P e n g g o l o n g a n E m u l s i
Dengan penambahan surfaktan dan zat pengemulsi lain, tipe emulsi yang terbentuktidak selalu
merupakan fungsi fasa volume dan urutan pencampuran, tetapi juga kelarutanrelatif dari
pengemulsi dalam minyak dan air. Pada umumnya, fasa dengan pengemulsi palinglarut menjadi
fase kontinyu (Agoes, 2006).Berdasarkan jenisnya, emulsi dibagi dalam dua golongan, yaitu:a.
Emulsi jenis m/a
Emulsi yang terbentuk jika fase dalam berupa minyak dan fase luarnya air, disebut emulsiminyak
dalam air (m/a). Polimer hidrofilik dan surfaktan akan mendorong pembentukanemulsi minyak
dalam air (m/a).
Emulsi jenis a/m
Emulsi yang terbentuk jika fase dalamnya air dan fase luar berupa minyak, disebut emulsiair
dalam minyak (a/m) Surfaktan lipofilik mendorong pembentukan emulsi air dalamminyak (m/a)
(Anonim, 1978; Agoes, 2006).
6. P e n e n t u a n J e n i s E m u l s i
Menentukan jenis emulsi dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:a.
Metode konduktivitas
listrikAliran listrik dihantarkan oleh emulsi m/a karena adanya zat-zat ionik dalam air.b.
Metode fluoresensi
Minyak dapat berfluoresensi di bawah sinar UV, emulsi m/a menunjukkan pola titiktitik,sedangkan emulsi a/m berfluoresensi seluruhnya (Lachman et al., 1994).c.
Metode pewarnaan
Jenis emulsi ditentukan dengan penambahan zat warna tertentu, dilihat dibawahmikroskop.
Misalnya, bila emulsi ditambah larutan Sudan III (larut dalam minyak) terjadiwarna merah maka
jenis emulsi adalah a/m, sedangkan bila ditambah larutan metilenblue (larut dalam air) terjadi
warna biru maka tipe emulsi adalah m/a.d.
Metode pengenceran
Bila ditetesi air emulsi segera dapat diencerkan, maka jenis emulsi adalah emulsi m/a,sedangkan
bila tidak, jenis emulsi adalah emulsi a/m. Hal ini dapat juga dilihat di bawahmikroskop (Anief,
1999).Pemberian lemak-lemak atau minyak-minyak secara peroral, baik sebagai obat
yangdiberikan tersendiri atau sebagai pembawa untuk obat-obat yang larut dalam minyak
dapatdiformulasikan sebagai emulsi minyak dalam air (m/a). Emulasi untuk pemberian
intravenadapat dalam bentuk m/a, sedangkan untuk pemberian intramuskular dapat
diformulasikandalam bentuk a/m jika obat yang larut air dibutuhkan untuk depot terapi.
Untukpenggunaan luar dapat digunakan tipe m/a atau a/m (Aulton, 1988).

7.P e m b u a t a n E m u l s i
Emulsi dapat dibuat dengan metode-metode di bawah ini:1.
Metode Gom Kering (Metode Kontinental/metode 4:2:1)
Metode ini khusus untuk emulsi dengan zat pengemulsi gom kering. Basis emulsi (corpusemuls)
dibuat dengan empat bagian minyak, dua bagian air dan satu bagian gom, lalu sisaair dan bahan
lain ditambahkan kemudian. Caranya, minyak dan gom dicampur, duabagian air kemudian
ditambahkan sekaligus dan campuran tersebut digerus dengan segera dan dengan cepat serta
terus-menerus hingga terdengar bunyi lengket, danbahan lainnya ditambahkan kemudian
dengan pengadukan.2.
Metode gom basah (metode Inggris)Metode ini digunakan untuk membuat emulsi dengan
musilago atau gom yang dilarutkansebagai zat pengemulsi. Dalam metode ini digunakan
proporsi minyak, air dan gom yangseperti pada metode gom kering. Caranya, dibuat musilago
kental dengan sedikit air,minyak ditambahkan sedikit demi sedikit dengan diaduk cepat. Bila
emulsi terlalu kental,air ditambahkan lagi sedikit agar mudah diaduk dan bila semua minyak
sudah masuk,ditambahkan air sampai volume yang dikehendaki.3.
Metode BotolMetode ini digunakan untuk membuat emulsi dari minyak-minyak menguap yang
jugamempunyai viskoditas rendah. Caranya, serbuk gom arab dimasukkan ke dalam sutubotol
kering, ditambahkan dua bagian air kemudian campuran tersebut dikocok dengankuat dalam
wadah tertutup. M inyak ditambahkan sedikit demi sedikit sambil terusmengocok campuran
tersebut setiap kali ditambahkan air. Jika semua air telahditambahkan, basis emulsi yang
terbentuk bisa diencerkan sampai mencapai volumeyang dikehendaki (Anief, 1999; Ansel,
1989).
8. K e s t a b i l a n S e d i a a n E m u l s i
Emulsi stabil jika tetesan fase terdispersi dapat mempertahankan karakter awalnya,dan masih
tetap terdispersi secara uniform ke seluruh fasa kontinu selama usia guna sediaan.Tidak boleh
ada perubahan fasa atau kontaminasi mikroba selama penyimpanan, bau, warna,dan
konsistensinya. Ketidakstabilan kimia cenderung menyebabkan kestabilan fisika (Agoes,2006)
A.Kestabilan FisikaBeberapa hal yang dapat menyebabkan ketidakstabilan emulsi secara fisika
diantaranya:a)
C r e a m i n g Creaming adalah terpisahnya emulsi menjadi dua lapisan yang satu
mengandungbutir-butir tetesan (fase terdispersi) lebih banyak daripada lapisan yang
lain dibandingkankeadaan emulsi awal. Walaupun masih boleh, terbentuknya cream tidak baik
dilihat darinilai estetika sediaan, sehingga sebisa mungkin harus dicegah. Beberapa hal yang
dapatmencegah pembentukan cream yaitu:
Memperkecil ukuran tetes-tetes cairan yang terdispersi
Meningkatkan viskositas fase luar/fase kontinyu

MONOGRAFI ZAT AKTIF


Zat aktif yang digunakan pada saat praktikum, dengan monografi sebagai berikut (
FarmakopeIndonesia, Ed. III, 1979. Hal 56) :
1.Span 80 (4:567)
Nama resmi : Sorbitan monooleat
Nama lain : Sorbitan atau span 80RM : C3O6H27Cl17
Pemerian : Larutan berminyak, tidak berwarna, baukarakteristik dari asam
lemak.Kelarutan : Praktis tidak larut tetapi terdispersidalam air dan dapat bercampur denganalko
hol sedikit larut dalam minyak biji kapas.
Kegunaan : Sebagai emulgator dalam fase minyak
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
HLB Butuh : 4,
2. Tween 80 (4:509)
Nama resmi : Polysorbatum 80
Nama lain : Polisorbat 80, tween
Pemerian : Cairan kental, transparan, tidak berwarna,hampir tidak mempunyai rasa
Kelarutan : Mudah larut dalam air, dalam etanol (95%)Pdalam etil asetat P dan dalam methanol
P,sukar larut dalam parafin cair P dan dalambiji kapas P
Kegunaan : Sebagai emulgator fase air
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
HLB Butuh : 153.
Air suling (4:96)
Nama resmi : Aqua destilata
Nama lain : Air sulingRM/BM : H2O / 18,02
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai fase air
4.Minyak kelapa (4 ; 456)
Nama resmi:Oleum Cocos
Nama lain :Minyak kelapa
Bobot jenis:0,8450,905 g/ml
Pemerian : Cairan jernih; tidak berwarna atau kuningpucat; bau khas, tidak tengik
Kelarutan:Larut dalam 2 bagian etanol (95%) P pada
suhu600C; sangat mudah larut dalam kloroform Pdan juga mudah larut dalam eter P.
Penyimpanan:Dalam wadah tertutup baik, terlindung daricahaya, di tempat sejuk.
Kegunaan : sebagai fase minyak

P E M B A H A S A N
Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan emulsifikasi. Percobaan ini bertujuanagar
mahasiswa mampu menghitung jumlah emulgator golongan surfaktan yangdigunakan dalam
pembuatan emulsi, membuat emulsi dengan menggunakanemulgator golongan surfaktan,
mengevaluasi ketidak stabilan suatu emulsi dan menentukanHLB butuh minyak yang digunkan
dalam opembuatan emulsi.Emulsi adalah suatu sistem dispersi yang secara termodinamik tidak
stabil, terdiri daripaling sedikit dua cairan yang tidak bercampur dan satu diantaranya terdispersi
sebagai globul-globul dalam cairan lainnya. Emulsi yang akandibuat pada percobaan ini adalah
emulsi minyakdalam air. Kestabilan emulsi tergantung dari emulgator yang digunakan. Creaming
merupakansalah satu bentuk ketidak stabilan emulsi yang akan diamati pada percobaan
ini.Creaming merupakan suatu peristiwa terjadinya lapisan-lapisan dengan konsentrasiyang
berbeda-beda di dalam emulsi. Lapisan dengan konsentrasii paling pekat akan berada disebelah
atas atau bawah tergantung dari bobot jenis fase. Pada percobaan emulsifikasi ini akan dibuat
satu seri emulsi dengan nilai HLB butuhmasing-masing 5,7,9,11,dan13. Bahan yang digunakan
adalah minyak dan air, sedangkan untukemulgator digunakan emulgator kombinasi surfaktan
yaitu Tween 80 dan Span 80.Proses pengerjaan diawali dengan menghitung jumlah Tween
80 dan Span yangdibutuhkan untuk setiap nilai HLB butuh mulai dari HLB butuh 5 sampai
HLB 13. Dari hasilperhitungan diperoleh jumlah Tween 80 dan Span yang dibutuhkan
adalahsebagai berikut :HLB Tween 80 Span 805 0.196 2.8047 0.757
2.2439 1.317 1.68311 1.878 1.12213 2.439 0.561Setelah mengetahui jumlah masing-masing
Tween 80 dan Span yang digunakan,praktikan kemudian membuat emulsi untuk masing-masing
nilai HLB butuh. Pertama-tamadilakukan penimbangan seluruh bahan sejumlah yang
dibutuhkan. Kemudian minyakdicampurkan dengan Span 80. Minyak dicampur dengan Span 80
karena Span bersifat nonpolar, hal ini dapat diketahui dari nilai HLB Span yang relative rendah
yaitu 3,8 sehingga sesuaidengan sifat minyak yang nonpolar. Selanjutnya, air dicampurkan
dengan Tween 80.Pencampuran Tween 80 dengan air karena nilai HLB Tween 80 relatif tinggi
yaitusebesar 15. Nilai HLB yang tinggi menunjukkan bahwa Tween 80 bersifat polar sehingga
dapatbercampur dengan air yang bersifat polar. Kedua erlenmeyer yang telah berisi
campurantersebut kemudian dipanaskan di atas penangas air pada suhu 60oC selama 30menit.
Setelahdipanaskan, campuran minyak dimasukkan ke dalam campuran air dan diaduk
menggunakanpengaduk elektrik berupa besi magnet selama 5 menit dengan kecepatan 500 rpm.
Pengadukelektrik digunakan untuk pengadukan campuran karena pengaduk elektrik dapat
mengadukdengan kecepatan yang sangat tinggi dimana pada
pembuatan emulsi ini diperlukanpengadukan dengan kecepatan tinggi agar fase terdispersi tidak
menyatu lagi sehinggaterbentuk emulsi yang baik. Pada saat peletakan besi magnet ke dalam
campuran diharapkanbesi magnet terletak di tengah-tengah agar proses pengadukan merata pada
seluruh bagiancampuran. Dari hari ke-0 sampai hari kesatu tinggi emulsi dalam tabung
sedimentasi mencapai4.5 cm, hal ini menunjukkan bahwa pada emulsi terjadi proses Creaming
ke bawah. Adapuncreaming yang terbentuk pada emulsi I ini mengarah ke bawah
(kecepatan sedimentasipositif) yang ditandai dengan menurunnya tinggi emulsii dalam tabung
dan disebabkanoleh kerapatan fase terdispersi ( dalam hal ini minyak ) yang lebih besar daripada

kerapatanair sehinggaendapan cenderung bergerak ke bawah. Pada emulsi I dengan nilai HLB 5
ini,energi bebas permukaan yang dihasilkan oleh proses creaming relatif rendah karena
endapancenderung bergerak ke bawah mendekati fase emulsi. Oleh karena itu, ketidak stabilan
emulsiyang disebabkan oleh proses creaming ini dapat segera dikembalikan
dalam bentukkestabilannya dengan pengocokan yang tidak terlalu kuat (emulsi cenderung
stabil ).Pada emulsi II dengan nilai HLB 7, mengalami penurunan tinggi creaming dalamtabung
sedimentasi. Pada emulsi II ini penurunan tinggi creaming terjadii pada hari pertamayaitu dari
4,6 cm menjadi 4,5 cm, hari kedua terjadi penurunan tingg iemulsi dalam tabungsedimentasi dari
4.5 cm menjadi 4.4 cm.Pada emulsi III dengan nilai HLB 9, mengalami penurunan tinggii
creaming dalamtabung sedimentasi. Pada emulsi III ini penurunan tinggi creaming terjadi pada
hari pertamayaitu dari 4,6 cm menjadi 4,5 cm, pada hari kedua tetap hall ini menunjukkan bahwa
padaemulsi tidak lagi terjadi proses creaming ke bawah. Adapun creaming yang terbentuk
padaemulsi III ini mengarah ke bawah ( kecepatan sedimentasi positif ) yang ditandai denganme
nurunnya tinggi emulsi dalam tabung dan disebabkan oleh kerapatan fase terdispersi (dalam hal
ini minyak ) yang lebih besar daripada kerapatan air sehingga endapan cenderungbergerak ke
bawah.Pada emulsi IV dengan nilai HLB 11, mengalami penurunan tinggi creaming
dalamtabung sedimentasi. Pada emulsi IV ini penurunan tinggi creaming terjadi pada hari
pertama
Laporan Praktikum Farmasi Fisika
2011
Lab. Farmasi Terpadu Unit E

Farmasi Fisika

Department of Pharmacy

Bandung Islamic University


17 dari 4
yaitu dari 5,2 cm menjadi 5,1 cm, pada hari kedua dari 5,1 cm menjadi 4.9 cm, Pada
emulsidengan HLB 11 ini tidak ada tinggi creaming yang tetap, setiap hari mengalamiperubahan
tinggicreaming.Pada emulsi V dengan nilai HLB 13, mengalami penurunan tinggi creaming
dalamtabung sedimentasi. Pada emulsi V ini penurunan tinggi creaming terjadi pada hari
pertamayaitu dari 4,3 cm menjadi 4,4 cm, pada hari kedua dari 4,4 cm tetap hal ini menunjukkan
bahwapada emulsi tidak lagi terjadi proses creaming ke bawah.Dari uraian diatas dapat terlihat
bahwa, emulsi dengan nilai HLB 7 dan 13 merupakanemulsi yang paling stabil karena memiliki
laju creaming yang sangat kecil sehingga tinggicreaming tidak berubah dalam beberapa hari.
Sedangkan untuk emulsi dengan nilai HLB 5,9dan 11 merupakan emulsi yang paling tidak stabil
karena memiliki laju creaming yang sangatbesar, karena sebagian besar terjadi perubahan tinggi
creaming setiap harinya. Namun jikadibandingkan antara emulsi dengan nilai HLB 5,9
dan11, yang paling tidak stabil adalah emulsidengan HLB 9, sebab laju penurunan creamingnya

amat cepat dari tinggi creaming di haripercobaan sebesar 4,3 cm menjadi 4,5 cm di hari
pengamatan kedua.Ketidakstabilan emulsi dapat terjadi karena penggunaan emulgator yang tidak
sesuai,selain itu penurunan suhu yang tiba-tiba dapat menyebabkan emulsi menjadi tidak
stabil.Penambahan air secara langsung dalam campuran juga mempengaruhi pembentukan
emulsiyang tidak stabil.Pengaruh emulgator yang tidak sesuai setiap senyawa memiliki
karakteristik tertentudalam suatu emulgator. Dalam hal ini minyak dengan air, dan emulgator
yang dipakai adalahspan 80 dan tween 80. Hasil yang maksimal dalam emulsifikasi ini apabila
minyak dicampurdengan span.Pengaruh suhu dalam proses emulsifikasi ini terjadi kesalahan
persepsi dimana saatproses pengadukan berakhir emulsi langsung dituangkan ke dalam tabung
sedimentasi.Seharusnya suhu dituhunkan secara perlahanlahan, baru dimasukkan ke dalam
tebungsedimentasi.Penambahan air Saat penambahan air ke dalam span harus dilakukan sedikit
demisedikit agar air yang diaduk nanti lebih merata, namun dalam praktikum ini air
langsungdicampur ke dalam span. Hal ini dapat menyebabkan span sedikit menggumpal
dandistribusinya tidak merata.

K E S I M P U L A N
Emulsi adalah suatu sistem dispersi yang secara termodinamika tidak stabil, terdiridaripaling
sedikit dua cairan yang tidak bercampur dan satu diantaranya terdispersisebagaiglobul-globul
dalam cairan lainnya. Sistem ini umumnya distabilkan denganemulgator.2.
Creaming adalah suatu peristiwa terjadinya lapisan-lapisan dengan konsentrasi yangberbedabeda di dalam emulsi3.
Emulsi dengan bahan air dan minyak kelapa menggunakan emulgator Tween dan Spandengan
HLB 5,7,9,11,dan13 tidak stabil karena mengalami creaming, dimana creaming yangterbentuk
mengarah ke atas.4.
Ketidakstabilan emulsi dapat terjadi karena penggunaan emulgator yang tidak sesuai,selain itu
penurunan suhu yang tiba-tiba dapat menyebabkan emulsi menjadi tidak stabil.Penambahan air
secara langsung dalam campuran juga mempengaruhi pembentukanemulsi yang tidak stabil.5.
yang paling tidak stabil adalah emulsi dengan HLB 9, sebab laju penurunan creamingnyaamat
cepat dari tinggi creaming di hari percobaan sebesar 4,3 cm menjadi 4,5 cm di haripengamatan
kedua.6.
emulsi dengan nilai HLB 7 dan 13 merupakan emulsi yang paling stabil karena memiliki
lajucreaming yang sangat kecil sehingga tinggi creaming tidak berubah dalam beberapa hari.7.
Ketidakstabilan emulsi dapat terjadi karena penggunaan emulgator yang tidak sesuai,selain itu
penurunan suhu yang tiba-tiba dapat menyebabkan emulsi menjaditidak stabil.Penambahan air
secara langsung dalam campuran juga mempengaruhipembentukanemulsi yang tidak stabil.