Anda di halaman 1dari 8

http://id.wikipedia.org/wiki/Asam_asetat 29 oktober pukul 11.

15
http://indonesiaindonesia.com/f/89641-larutan-kimia-cuka/ 29 oktober pukul 11.15
http://www.slideshare.net/Putri_yusril/penentuan-kadar-asam-cuka 29 oktober 11.16
penentuan kadar asam cuka

Larutan kimia : Cuka

Asam asetat
Asam asetat, asam etanoat atau asam cuka[2] adalah senyawa kimia asam organik yang dikenal
sebagai pemberi rasa asam danaroma dalam makanan. Asam cuka memiliki rumus empiris C2H4O2.
Rumus ini seringkali ditulis dalam bentuk CH3-COOH, CH3COOH, atau CH3CO2H. Asam asetat murni
(disebut asam asetat glasial) adalah cairan higroskopis tak berwarna, dan memiliki titik beku 16.7C.
Asam asetat merupakan salah satu asam karboksilat paling sederhana, setelah asam format. Larutan
asam asetat dalam air merupakan sebuah asam lemah, artinya hanya terdisosiasi sebagian
menjadi ion H+ dan CH3COO-. Asam asetat merupakan pereaksi kimia dan bahan baku industri yang
penting. Asam asetat digunakan dalam produksi polimer seperti polietilena tereftalat, selulosa asetat,
dan polivinil asetat, maupun berbagai macam serat dan kain. Dalam industri makanan, asam asetat
digunakan sebagai pengaturkeasaman. Di rumah tangga, asam asetat encer juga sering digunakan
sebagai pelunak air. Dalam setahun, kebutuhan dunia akan asam asetat mencapai 6,5 juta ton per tahun.
1.5 juta ton per tahun diperoleh dari hasil daur ulang, sisanya diperoleh dari industripetrokimia maupun
dari sumber hayati.

Penamaan[sunting | sunting sumber]


Asam asetat merupakan nama trivial atau nama dagang dari senyawa ini, dan merupakan nama yang
paling dianjurkan oleh IUPAC. Nama ini berasal dari kata Latin acetum, yang berarti cuka.Nama
sistematis dari senyawa ini adalah asam etanoat. Asam asetat glasial merupakan nama trivial yang
merujuk pada asam asetat yang tidak bercampur air. Disebut demikian karena asam asetat bebas-air
membentuk kristal mirip es pada 16.7 C, sedikit di bawah suhu ruang.
Singkatan yang paling sering digunakan, dan merupakat singkatan resmi bagi asam asetat
adalah AcOH atau HOAc dimana Ac berarti gugus asetil, CH3C(=O). Pada konteks asam-basa, asam
asetat juga sering disingkat HAc, meskipun banyak yang menganggap singkatan ini tidak benar. Ac juga
tidak boleh disalahartikan dengan lambang unsur Aktinium (Ac).

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Kristal asam asetat yang dibekukan

Cuka telah dikenal manusia sejak dahulu kala. Cuka dihasilkan oleh berbagai bakteria penghasil asam
asetat, dan asam asetat merupakan hasil samping dari pembuatan bir atau anggur.
Penggunaan asam asetat sebagai pereaksi kimia juga sudah dimulai sejak lama. Pada abat ke-3
Sebelum Masehi, Filsuf Yunani kuno Theophrastosmenjelaskan bahwa cuka bereaksi dengan logamlogam membentuk berbagai zat warna, misalnya timbal putih (timbal karbonat), dan verdigris, yaitu suatu
zat hijau campuran dari garam-garam tembaga dan mengandung tembaga (II) asetat.
Bangsa Romawi menghasilkan sapa, sebuah sirup yang amat manis, dengan mendidihkan anggur yang
sudah asam. Sapa mengandung timbal asetat, suatu zat manis yang disebut juga gula
timbal dan gulaSaturnus. Akhirnya hal ini berlanjut kepada peracunan dengan timbal yang dilakukan oleh
para pejabat Romawi.
Pada abad ke-8, ilmuwan Persia Jabir ibn Hayyan menghasilkan asam asetat pekat dari cuka
melalui distilasi. Pada masa renaisans, asam asetat glasial dihasilkan dari distilasi kering logam asetat.
Pada abad ke-16 ahli alkimia Jerman Andreas Libavius menjelaskan prosedur tersebut, dan
membandingkan asam asetat glasial yang dihasilkan terhadap cuka. Ternyata asam asetat glasial
memiliki banyak perbedaan sifat dengan larutanasam asetat dalam air, sehingga banyak ahli kimia yang
mempercayai bahwa keduanya sebenarnya adalah dua zat yang berbeda. Ahli kimia PrancisPierre
Adet akhirnya membuktikan bahwa kedua zat ini sebenarnya sama.
Pada 1847 kimiawan Jerman Hermann Kolbe mensintesis asam asetat dari zat anorganik untuk pertama
kalinya. Reaksi kimia yang dilakukan adalahklorinasi karbon disulfida menjadi karbon tetraklorida, diikuti
dengan pirolisis menjadi tetrakloroetilena dan klorinasi dalam air menjadi asam trikloroasetat, dan
akhirnya reduksi melalui elektrolisis menjadi asam asetat.
Sejak 1910 kebanyakan asam asetat dihasilkan dari cairan piroligneous yang diperoleh dari distilasi kayu.
Cairan ini direaksikan dengan kalsium hidroksida menghasilkan kalsium asetat yang kemudian
diasamkan dengan asam sulfat menghasilkan asam asetat.

Sifat-sifat kimia[sunting | sunting sumber]


Keasaman
Atom hidrogen (H) pada gugus karboksil (COOH) dalam asam karboksilat seperti asam asetat dapat
dilepaskan sebagai ion H+ (proton), sehingga memberikan sifat asam. Asam asetat adalah asam
lemah monoprotik dengan nilai pKa=4.8. Basa konjugasinya adalah asetat (CH3COO). Sebuah larutan
1.0 M asam asetat (kira-kira sama dengan konsentrasi pada cuka rumah) memilikipH sekitar 2.4.

Dimer siklis

Dimer siklis dari asam asetat, garis putus-putus melambangkan ikatan hidrogen.

Struktur kristal asam asetat menunjukkan bahwa molekul-molekul asam asetat berpasangan
membentuk dimer yang dihubungkan oleh ikatan hidrogen.[3] Dimer juga dapat dideteksi
pada uap bersuhu 120 C. Dimer juga terjadi pada larutan encer di dalam pelarut tak-berikatan-hidrogen,
dan kadang-kadang pada cairan asam asetat murni. [4] Dimer dirusak dengan adanya pelarut berikatan
hidrogen (misalnya air). Entalpi disosiasi dimer tersebut diperkirakan 65.066.0 kJ/mol, entropi disosiasi
sekitar 154157 J mol1 K1.[5] Sifat dimerisasi ini juga dimiliki oleh asam karboksilat sederhana lainnya.
Sebagai Pelarut
Asam asetat cair adalah pelarut protik hidrofilik (polar), mirip seperti air dan etanol. Asam asetat
memiliki konstanta dielektrik yang sedang yaitu 6.2, sehingga ia bisa melarutkan baik senyawa polar
seperi garam anorganik dan gula maupun senyawa non-polar seperti minyak dan unsurunsur seperti sulfur dan iodin. Asam asetat bercambur dengan mudah dengan pelarut polar atau nonpolar
lainnya seperti air, kloroform dan heksana. Sifat kelarutan dan kemudahan bercampur dari asam asetat
ini membuatnya digunakan secara luas dalam industri kimia.
Reaksi-reaksi kimia
Asam asetat bersifat korosif terhadap banyak logam seperti besi, magnesium, dan seng, membentuk
gas hidrogen dan garam-garam asetat (disebut logam asetat). Logam asetat juga dapat diperoleh dengan
reaksi asam asetat dengan suatu basa yang cocok. Contoh yang terkenal adalah reaksi soda kue
(Natrium bikarbonat) bereaksi dengan cuka. Hapir semua garam asetat larut dengan baik dalam air.
Salah satu pengecualian adalah kromium (II) asetat. Contoh reaksi pembentukan garam asetat:
Mg(s) + 2 CH3COOH(aq) (CH3COO)2Mg(aq) + H2(g)
NaHCO3(s) + CH3COOH(aq) CH3COONa(aq) + CO2(g) + H2O(l)

Aluminium merupakan logam yang tahan terhadap korosi karena dapat membentuk
lapisan aluminium oksida yang melindungi permukaannya. Karena itu, biasanya asam asetat
diangkut dengan tangki-tangki aluminium.

Dua reaksi organik tipikal dari asam asetat

Asam asetat mengalami reaksi-reaksi asam karboksilat, misalnya menghasilkan garam asetat
bila bereaksi denganalkali, menghasilkan logam etanoat bila bereaksi dengan logam, dan
menghasilkan logam etanoat, air dan karbondioksida bila bereaksi dengan garam karbonat atau
bikarbonat. Reaksi organik yang paling terkenal dari asam asetat adalah
pembentukan etanol melalui reduksi, pembentukan turunan asam karboksilat seperti asetil
klorida atauanhidrida asetat melalui substitusi nukleofilik. Anhidrida asetat dibentuk melalui
kondensasi dua molekul asam asetat.Ester dari asam asetat dapat diperoleh melalui
reaksi esterifikasi Fischer, dan juga pembentukan amida. Pada suhu 440 C, asam asetat terurai
menjadi metana dan karbon dioksida, atau ketena dan air.
Deteksi
Asam asetat dapat dikenali dengan baunya yang khas. Selain itu, garam-garam dari asam asetat
bereaksi dengan larutan besi(III) klorida, yang menghasilkan warna merah pekat yang hilang bila
larutan diasamkan. Garam-garam asetat bila dipanaskan dengan arsenik trioksida (AsO 3)
membentuk kakodil oksida ((CH3)2As-O-As(CH3)2), yang mudah dikenali dengan baunya yang
tidak menyenangkan.

Biokimia[sunting | sunting sumber]


Gugus asetil yang terdapat pada asam asetat merupakan gugus yang penting bagi biokimia pada hampir
seluruh makhluk hidup, seperti gugus asetil yang berikat pada koenzim A menjadi senyawa yang
disebut Asetil-KoA, merupakan enzim utama bagi metabolisme karbohidrat dan lemak. Namun demikian,
asam asetat bebas memiliki konsentrasi yang kecil dalam sel, karena asam asetat bebas dapat
menyebabkan gangguan pada mekanisme pengaturan pH sel. Berbeda dengan asam karboksilat
berantai panjang, asam asetat tidak ditemukan pada trigliserida dalam tubuh makhluk hidup. Sekalipun
demikian, trigliserida buatan yang memiliki gugus asetat, triasetin (trigliserin asetat), adalah zat
aditif yang umum pada makanan, dan juga digunakan dalam kosmetika dan obat-obatan.
Asam asetat diproduksi dan diekskresikan oleh bakteri-bakteri tertentu, misalnya
dari genus Acetobacter dan spesies Clostridium acetobutylicum. Bakteri-bakteri ini terdapat pada
makanan, air, dan juga tanah, sehingga asam asetat secara alami diproduksi pada buah-

buahan/makanan yang telah basi. Asam asetat juga


terdapat pelumas vagina manusia dan primata lainnya, berperan sebagai agen anti-bakteri.[6]

Biosintesis asam asetat[sunting | sunting sumber]


Asam asetat merupakan produk katabolisme aerob dalam jalur glikolisis atau perombakan glukosa. Asam
piruvat sebagai produk oksidasi glukosa dioksidasi oleh NAD+ terion lalu segera diikat oleh Koenzim-A.
Pada prokariota proses ini terjadi di sitoplasma sementara pada eukariota berlangsung pada mitokondria.

Produksi[sunting | sunting sumber]

Pabrik pemurnian asam asetat di tahun 1884

Asam asetat diproduksi secara sintetis maupun secara alami melalui fermentasi bakteri. Sekarang hanya
10% dari produksi asam asetat dihasilkan melalui jalur alami, namun kebanyakan hukum yang mengatur
bahwa asam asetat yang terdapat dalam cuka haruslah berasal dari proses biologis. Dari asam asetat
yang diproduksi oleh industri kimia, 75% diantaranya diproduksi melalui karbonilasi metanol. Sisanya
dihasilkan melalui metode-metode alternatif.[7]
Produksi total asam asetat dunia diperkirakan 5 Mt/a (juta ton per tahun), setengahnya diproduksi
di Amerika Serikat. Eropa memproduksi sekitar 1 Mt/a dan terus menurun,
sedangkan Jepang memproduksi sekitar 0.7 Mt/a. 1.51 Mt/a dihasilkan melalui daur ulang, sehingga total
pasar asam asetat mencapai 6.51 Mt/a.[8][9] Perusahan produser asam asetat terbesar
adalah Celanese dan BP Chemicals. Produsen lainnya adalah Millenium Chemicals, Sterling
Chemicals, Samsung, Eastman, dan Svensk Etanolkemi.

Karbonilasi metanol[sunting | sunting sumber]


Kebanyakan asam asetat murni dihasilkan melalui karbonilasi. Dalam reaksi ini, metanol dan karbon
monoksida bereaksi menghasilkan asam asetat
CH3OH + CO CH3COOH
Proses ini melibatkan iodometana sebagai zat antara, dimana reaksi itu sendiri terjadi dalam tiga
tahap dengan katalis logam kompleks pada tahap kedua.
(1) CH3OH + HI CH3I + H2O
(2) CH3I + CO CH3COI
(3) CH3COI + H2O CH3COOH + HI
Jika kondisi reaksi diatas diatur sedemikian rupa, proses tersebut juga dapat
menghasilkan anhidrida asetat sebagai hasil tambahan. Karbonilasi metanol sejak lama
merupakan metode paling menjanjikan dalam produksi asam asetat karena baik
metanol maupun karbon monoksida merupakan bahan mentah komoditi. Henry
Dreyfus mengembangkan cikal bakal pabrik karbonilasi metanol pada
perusahaan Celanese di tahun 1925.[10] Namun, kurangnya bahan-bahan praktis yang
dapat diisi bahan-bahan korosif dari reaksi ini pada tekanan yang dibutuhkan yaitu 200
atm menyebabkan metoda ini ditinggalkan untuk tujuan komersial. Baru pada 1963
pabrik komersial pertama yang menggunakan karbonilasi metanol didirikan oleh
perusahaan kimia Jerman, BASF dengan katalis kobalt (Co). Pada 1968, ditemukan
katalis kompleks Rhodium, cis[Rh(CO)2I2] yang dapat beroperasi dengan optimal pada
tekanan rendah tanpa produk sampingan. Pabrik pertama yang menggunakan katalis
tersebut adalah perusahan kimia AS Monsanto pada 1970, dan metode karbonilasi
metanol berkatalis Rhodium dinamakan proses Monsanto dan menjadi metode produksi
asam asetat paling dominan. Pada akhir 1990'an, perusahan petrokimia British
Petroleum mengkomersialisasi katalis Cativa ([Ir(CO)2I2]) yang didukung
oleh ruthenium. Proses berbasis iridium ini lebih efisien dan lebih "hijau" dari metode
sebelumnya[11], sehingga menggantikan proses Monsanto.

Oksidasi asetaldehida[sunting | sunting sumber]


Sebelum komersialisasi proses Monsanto, kebanyakan asam asetat diproduksi
melalui oksidasi asetaldehida. Sekarang oksidasi asetaldehida merupakan metoda
produksi asam asetat kedua terpenting, sekalipun tidak kompetitif bila dibandingkan
dengan metode karbonilasi metanol. Asetaldehida yang digunakan dihasilkan melalui
oksidasi butana atau nafta ringan, atau hidrasi darietilena. Saat butena atau nafta ringan
dipanaskan bersama udara disertai dengan beberapa ion logam, termasuk
ion mangan, kobalt dan kromium, terbentuk peroksida yang selanjutnya terurai menjadi
asam asetat sesuai dengan persamaan reaksi dibawah ini.

2 C4H10 + 5 O2 4 CH3COOH + 2 H2O


Umumnya reaksi ini dijalankan pada temperatur dan tekanan sedemikian rupa
sehingga tercapai suhu setinggi mungkin namut butana masih berwujud cair.
Kondisi reaksi pada umumnya sekitar 150 C and 55 atm. Produk sampingan
seperti butanon, etil asetat, asam format dan asam propionat juga mungkin
terbentuk. Produk sampingan ini juga bernilai komersial dan jika diinginkan kondisi
reaksi dapat diubah untuk menghasilkan lebih banyak produk samping, namun
pemisahannya dari asam asetat menjadi kendala karena membutuhkan biaya lebih
banyak lagi.
Melalui kondisi dan katalis yang sama asetaldehida dapat dioksidasi
oleh oksigen udara menghasilkan asam asetat.
2 CH3CHO + O2 2 CH3COOH
Dengan menggunakan katalis modern, reaksi ini dapat memiliki rasio hasil
(yield) lebih besar dari 95%. Produk samping utamanya adalah etil
asetat, asam format dan formaldehida, semuanya memiliki titik didih yang lebih
rendah daripada asam asetat sehingga dapat dipisahkan dengan mudah
melalui distilasi.

Penggunaan[sunting | sunting sumber]

Botol berisi 2,5 liter asam asetat di laboratorium

Asam asetat digunakan sebagai pereaksi kimia untuk menghasilkan berbagai senyawa kimia. Sebagian
besar (40-45%) dari asam asetat dunia digunakan sebagai bahan untuk memproduksi monomer vinil
asetat (vinyl acetate monomer, VAM). Selain itu asam asetat juga digunakan dalam produksi anhidrida
asetat dan jugaester. Penggunaan asam asetat lainnya, termasuk penggunaan dalam cuka relatif kecil.

Keamanan[sunting | sunting sumber]

Asam asetat pekat bersifat korosif dan karena itu harus digunakan dengan penuh hati-hati. Asam asetat
dapat menyebabkan luka bakar, kerusakan matapermanen, serta iritasi pada membran mukosa. Luka
bakar atau lepuhan bisa jadi tidak terlihat hingga beberapa jam setelah kontak. Sarung tangan latex tidak
melindungi dari asam asetat, sehingga dalam menangani senyawa ini perlu digunakan sarung tangan
berbahan karet nitril. Asam asetat pekat juga dapat terbakar di laboratorium, namun dengan sulit. Ia
menjadi mudah terbakar jika suhu ruang melebihi 39 C (102 F), dan dapat membentuk campuran yang
mudah meledak di udara (ambang ledakan: 5.4%-16%).