Anda di halaman 1dari 29

RESUSITASI DAN STABILISASI TRAUMA

OLEH :

KELOMPOK 7
1.
2.
3.
4.

BELATRIX REBECA A
MARIA MARGARETA
NI PUTU ELIK ARMAYANTI
ROSARILIA SERAFIN D BAJO

(201202010)
(201202036)
(201202044)
(201202051)

PRODI S1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KATOLIK
ST. VINCENTIUS A PAULO
SURABAYA
2015

BAB 1
KONSEP MEDIS RESUSITASI DAN STABILISASI

1.1. Pengertian
Resusitasi jantung paru (RJP) adalah istilah yang dipakai untuk menyebut
terapi segera untuk henti jantung dan atau napas. RJP terdiri dari pemberian bantuan
sirkulasi dan napas, dan merupakan terapi umum yang bisa diterapkan pada hampir
semua kasus henti jantung atau napas. Namun, tindakan ini tidak mengesampingkan
perlunya menegakkan diagnosis akurat sehingga terapi spesifik, bila tersedia, bisa
diberikan sedini mungkin untuk bisa menyelamatkan nyawa. Menegakkan diagnosis
dengan menggunakan semua fasilitas yang tersedia. Misalnya anamnesis dari
penolong pertama (perawat, petugas ambulans, dan lain-lain), menemukan resep atau
obat bebas dalam saku, pemeriksaan fisik, EKG segera, foto toraks, dan lain-lain.
(Patrick Davey, 2005:131)
1.2. Etiologi
Beberapa penyebab henti jantung dan nafas adalah
1.1.

Infark miokard akut, dengan komplikasi fibrilasi ventrikel, cardiac standstill,


aritmia lain, renjatan dan edema paru.

1.2.

Emboli paru, karena adanya penyumbatan aliran darah paru.

1.3.

Aneurisma disekans, karena kehilangan darah intravaskular.

1.4.

Hipoksia, asidosis, karena adanya gagal jantung atau kegagalan paru berat,
tenggelam, aspirasi, penyumbatan trakea, pneumothoraks, kelebihan dosis obat,
kelainan susunan saraf pusat.

1.5.

Gagal ginjal, karena hiperkalemia

1.6.

Henti jantung biasanya terjadi beberapa menit setelah henti nafas. Umumnya,
walaupun kegagalan pernafasan telah terjadi, denyut jantung masih dapat
berlangsung terus sampai kira-kira 30 menit. Pada henti jantung, dilatasi pupil
kadang-kadang tidak jelas. Dilatasi pupil mulai terjadi 45 detik setelah aliran
darah ke otak terhenti dan dilatasi maksimal terjadi dalam waktu 1 menit 45
detik. Bila telah terjadi dilatasi pupil maksimal, hal ini menandakan sudah
terjadi 50 % kerusakan otak irreversibel.

1.7.

Adapun sebab henti nafas adalah :


1.1.

Sumbatan jalan nafas


Bisa disebabkan karena adanya benda asing, aspirasi, lidah yang
jatuh ke belakang, pipa trakhea terlipat, kanula trakhea tersumbat,
kelainan akut glotis dan sekitarnya (sembab glotis, perdarahan).

1.2.

Depresi pernafasan

Sentral : obat, intoksikasi, Pa O2 rendah, Pa CO2 tinggi, setelah


henti jantung, tumor otak dan tenggelam. Perifer : obat pelumpuh
1.1.7.3.

otot, penyakit miastenia gravis, poliomyelitis.


Sebab- sebab henti jantung:
1.1.
Penyakit kardiovaskuler
1.2.
Penyakit jantung sistemik, infark miokardial akut,
embolus

paru,

fibrosis

pada sistem

konduksi

(penyakit lenegre, sindrom adams stokes, noda sinus


1.3.
1.4.

1.2.7.4.

atrioventrikulaer sakit).
Kekurangan oksigen akut.
Henti nafas, benda asing di jalan nafas, sumbatan

jalan nafas
1.5.
oleh sekresi, asfiksia dan hipoksia.
Penyebab obstruksi jalan napas :
1.1.
Lidah
1.2.
Muntahan, darah,secret
1.3.
Benda asing
1.4.
Pembengkakan jaringan
1.5.
Edema laring
1.6.
Spasme laring
1.7.
Obstruksi trakeobronkial
(Jevon, Philip.2008:26-28)

1.3. Manifestasi klinis


1.1. Sianosis
1.2. Akral dingin
1.3. apneau
1.4. Tujuan RJP
Pemberian RJP memiliki dua tujuan utama, yaitu:
1.1.

Mencegah berhentinya sirkulasi darah atau berhentinya pernapasan

1.2.

Memberikan bantuan eksternal terhadap sirkulasi (melalui kompresi dada)


dan ventilasi (melalui bantuan napas penolong) dari pasien yang mengalami
henti jantung atau henti napas.

1.5 Indikasi RJP


RJP dilakukan pada pasien yang mengalami henti jantung atau cardiac
arrest.
1.6. Fase RJP
Penelitian telah menunjukkan bahwa cardiac arrest akibat VF terjadi dalam
tiga fase,
yaitu :
1.1.

Fase 1 (fase elektris).

Fase ini berlangsung sejak munculnya henti jantung VF hingga 5 menit setelah
henti jantung. Tindakan defibrilasi awal menjadi tindakan paling penting
selama periode ini.
1.2.

Fase 2 (fase sirkulasi atau hemodinamik).


Fase ini berlangsung sejak 5 menit hingga 15 menit setelah henti jantung. RJP
menjadi tindakan paling penting selama periode ini, setelah itu diikuti dengan
pemberian tindakan defibrilasi jika tersedia.

1.3.

Fase 3 (Fase metabolik).


Fase ini berlangsung setelah 15 menit terjadinya henti jantung. Selama fase ini,
efektifitas defibrilasi dan RJP sudah menurun. Penelitian menunjukkan adanya
manfaat pada pemberian terapi hipotermia dalam jangka waktu beberapa menit
hingga beberapa jam setelah munculnya tanda sirkulasi spontan (spontaneous
circulation).
Saat ini hipotermia terapeutik telah dimasukkan sebagai bagian dari strategi
terapi standar pada korban henti jantung yang mengalami koma. Hipotermia
terapeutik akan memberikan manfaat sebagai berikut, yaitu:
1.1.

Penghambatan atau supresi reaksi-reaksi kimia yang dipicu oleh


cedera reperfusi

1.2.

Memperbaiki pengiriman oksigen ke otak

1.3.

Menurunkan frekuensi jantung dan meningkatkan resistensi


vaskuler sistemik tetapi tetap mempertahankan volume sekuncup
dan tekanan darah arteri.

1.8. Komplikasi RJP


Komplikasi yang dapat muncul akibat pemberian napas bantuan dan
kompresi dada yaitu:
1.1. Akibat napas buatan
1.1.1.

Inflasi gaster

1.1.2.

Regurgitasi

1.1.3.

Bila terjadi inflasi gaster, perbaiki jalan napas dan hindari tidal
volume yang besar dan laju pemberian bapas buatan yang terlalu
cepat.

1.2. Akibat kompresi dada

1.1.

Fraktur iga dan sternum. Komplikasi ini sering terjadi terutama


pada orang tua. RJP tetap diteruskan walaupun terasa ada fraktur
iga. Posisi tangan yang salah saat melakukan kompresi dada
dapat menyebabkan fraktur iga.

1.2.

Pneumothoraks

1.3.

Hemothoraks

1.4.

Kontusio paru

1.5.

Laserasi hati dan limpa

1.6.

Posisi tangan yang terlalu rendah akan menekan procesus


xipoideus ke arah hepar/limpa dan menyebabkan cedera pada
hati dan limpa

1.7.

Emboli lemak

1.9. Penghentian RJP


Upaya pemberian bantuan hidup dasar dihentikan pada beberapa kondisi di
bawah ini, yaitu:
1.1.

Kembalinya sirkulasi & ventilasi spontan

1.2.

Ada yang lebih bertanggung jawab

1.3.

Penolong lelah atau sudah 30 menit tidak ada respon

1.4.

Adanya Do Not Resuscitation (DNR)

1.5.

Tanda kematian yang ireversibel


Beberapa tanda kematian yang dapat diidentifikasi yaitu :
1.1.

Lebam mayat, muncul sekitar 20 30 menit setelah kematian,


darah akan berkumpul pada bagian tubuh yang paling rendah
akibat daya tarik bumi.

1.2.

Terlihat sebagai warna ungu pada kulit

1.3.

Kaku mayat (rigor mortis). Kaku pada tubuh dan anggota gerak
setelah kematian. Terjadi 1 -23 jam kematian

1.4.

Pupil melebar (midriasis) dan refleks terhadap cahaya negative

1.5.

Cedera mematikan, yaitu cedera yang bentuknya begitu parah


sehingga hamper dapat dipastikan pasien/ korban tersebut tidak
mungkin bertahan hidup.

1.10. Langkah-langkah (Sekuens) Resusitasi Jantung Paru

Guidelines 2010, AHA mengatur ulang sekuens RJP dari A-B-C menjadi
C-A-B, sehingga memungkinkan setiap penolong memulai kompresi dada
sesegera mungkin.
Rangkaian bantuan hidup dasar pada dasarnya dinamis, namun sebaiknya
tidak ada langkah yang terlewatkan untuk memperoleh hasil yang optimal.
Pedoman baru ini berisi beberapa rekomendasi yang didasarkan pada pembuktian
ilmiah, yaitu:
1.1.1.

Pengenalan segera henti jantung tiba-tiba (suddent cardiact arrest)


didasarkan pada pemeriksaan kondisi unresponsive dan tidak adanya
napas

normal

(seperti,

korban

tidak

bernapas

atau

hanya

gasping/terengah-engah). Penolong tidak boleh menghabiskan waktu


lebih dari 10 detik untuk melakukan pemeriksaan nadi. Jika nadi tidak
dapat dipastikan dalam 10 detik, maka dianggap tidak ada nadi dan RJP
harus dimulai atau memakai AED (automatic external defibrilator) jika
tersedia.
1.1.2.

Perubahan pada RJP ini berlaku pada korban dewasa, anak dan bayi tapi
tidak pada bayi baru lahir. Karena penyebab tersering pada bayi baru
lahir yang tidak sadarkan diri dan tidak bernafas adalah karena masalah
jalan nafas (asfiksia).

1.1.3.

Look,listen and feel telah dihilangkan dari algoritme bantuan hidup


dasar. Alasannya adalah kunci utama menyelamatkan seseorang dengan
henti jantung adalah bertindak bukan menilai. Telepon ambulan segera
saat kita melihat korban tidak sadar dan tidak bernafas dengan baik. Jika
anda mencoba menilai korban bernapas atau tidak dengan mendekatkan
pipi anda pada mulut korban, itu boleh-boleh saja. Tapi tetap saja sang
korban tidak bernafas dan tindakan look listen and feel ini hanya akan
menghabiskan.

1.1.4.

Kecepatan kompresi dada 100 kali per menit. Sekarang AHA


merekomendasikan

kita

untuk

kompresi

dada

minimal

100

kompresi/menit. Pada kecepatan ini, 30 kompresi membutuhkan waktu


18 detik.
1.1.5.

Penolong terus melakukan RJP hingga terjadi return of spontaneous


circulation (ROSC). Alasannya adalah setiap penghentian kompresi dada
berarti menghentikan aliran darah ke otak yang mengakibatkan kematian

jaringan otak jika aliran darah berhenti terlalu lama. Membutuhkan


beberapa kompresi dada untuk mengalirkan darah kembali. AHA
menghendaki kita untuk terus melakukan kompresi selama kita bisa atau
sampai alat defibrilator otomatis datang dan siap untuk menilai keadaan
jantung korban. Jika sudah tiba waktunya untuk pernapasan dari mulut
ke mulut, lakukan segera dan segera kembali melakukan kompresi dada.
1.1.6.

Kedalaman kompresi untuk korban dewasa telah diubah dari 1 - 2 inchi


menjadi 2 inchi (5 cm). pada pedoman RJP sebelumnya, kedalaman
kompresi dada adalah 1 -2 inchi (4-5 cm), namun sekarang AHA
merekomendasikan untuk melakukan kompresi dada dengan kedalaman
minimal 2 inchi (5 cm ).

1.1.7.

Peningkatan fokus untuk memastikan bahwa RJP diberikan dengan highquality didasarkan pada :
1.1.1.

Kecepatan dan kedalaman kompresi diberikan dengan

1.1.2.
1.1.3.

adekuat dan memungkinkan full chest recoil antara kompresi


Meminimalkan interupsi saat memberikan kompresi dada
Menghindari pemberian ventilasi yang berlebihan

1.1. Resusitasi Jantung Paru dengan Satu Orang Penolong


Sebelum melakukan tahapan resusitasi jantung paru, harus terlebih dahulu
dilakukan prosedur awal pada korban/pasien, yaitu :
1.1.1.

Danger (Bahaya)
Memastikan keamanan baik penolong, korban maupun lingkungan. Biasa
disingkat dengan 3A (Tiga Aman). Keamanan penolong harus lebih
diutamakan sebelum mengambil keputusan untuk menolong korban agar
penolong tidak menjadi korban kedua atau korban berikutnya.

1.1.2.

Respone
Memastikan keadaan pasien dengan
memanggil nama/sebutan yang umum
dengan keras seperti Pak! / Bu! /
Mas! / Mbak! disertai menyentuh
atau menggoyangkan bahu dengan
lembut dan mantap untuk mencegah
pergerakan

yang

berlebihan.

Memanggil korban juga dapat disertai dengan memberikan instruksi


sederhana seperti Pak, buka matanya!, Pak, siapa namanya pak?.
Prosedur ini disebut sebagai teknik touch and talk. Hal ini cukup untuk
membangunkan orang tidur atau merangsang seseorang untuk bereaksi.
Jika tidak ada respon, kemungkinan pasien tidak sadar. Jika pasien
berespon atau terbangun, tinggalkan pada posisi seperti pada saat
ditemukan dan hindari kemungkinan resiko cedera lain yang bisa terjadi.
Analisa kebutuhan perlunya bantuan dari tim gawat darurat. Jika
sendirian, tinggalkan pasien sementara dan meminta bantuan, kemudian
lakukan observasi dan kaji ulang secara regular.

1.1.3.

Call for Help


Jika pasien/korban tidak memberikan
respon terhadap panggilan atau instruksi,
segera meminta bantuan dengan cara
berteriak Tolong!, ada orang tidak
sadar untuk mengaktifkan emergency
medical service (EMS).

1.1.4.

Pengaturan Posisi
1.1.1.

Posisi Pasien
Pasien terlentang pada permukaan keras dan rata. Jika
ditemukan tidak dalam posisi terlentang, terlentangkan pasien
dengan teknik log roll, yaitu digulingkan secara bersamaan
kepala, leher dan punggung.

1.1.2.

Posisi Penolong
Berlutut sejajar dengan bahu pasien agar dapat memberikan
resusitasi jantung paru (RJP) secara efektif tanpa harus
mengubah posisi atau menggeser lutut.

Setelah melakukan prosedur dasar, maka langkah-langkah prosedur


selanjutnya yang harus dilakukan, yaitu:
1.11.5.

Circulation
Terdiri atas dua tahapan, yaitu:
1.1.1.

Memastikan

ada

tidaknya

denyut nadi pasien/korban


Ada
denyut

nadi

tidaknya
korban

ditentukan dengan meraba arteri karotis yang berada di daerah


leher pasien/korban dengan menggunakan dua jari tangan (jari
telunjuk dan tengah)diletakkan pada pertengan leher sehingga
teraba trakhea, kemudian kedua jari digeser kira 2 3 cm ke
sisi kanan atau kiri (sebaiknya sisi yang terdekat dengan
penolong). Jika dalam 10 detik nadi karotis sulit dideteksi,
kompresi dada harus segera dimulai. AHA Guideline 2010
tidak

menekankan

pemeriksaan

nadi

karotis

sebagai

mekanisme untuk menilai henti jantung karena penolong

sering mengalami kesulitan mendeteksi nadi, sehingga


penolong awam tidak harus memeriksa denyut nadi karotis.
Korban dianggap cardiac arrest jika pasien tiba-tiba tidak
sadar, tidak bernapas atau bernapas tapi tidak normal (hanya
gasping).
1.1.5.2.

Melakukan bantuan sirkulasi


Bila nadi karotis tidak teraba, segera
mulai lakukan siklus 30 kompresi dan 2
ventilasi, dengan teknik sebagai berikut:
1.1.1.

Penolong berlutut di sisi bahu


korban

1.1.2.

Posisi badan tepat diatas dada


pasien, bertumpu pada kedua
tangan.

1.1.3.

Penolong

meletakkan

salah

satu tumit telapak tangan p ada


sternum, diantara 2 puting
susu dan telapak tangan lainnya
di atas tangan pertama dengan
jari saling bertaut.
1.1.4.

Dengan posisi badan tegak lurus, penolong


mekan dada lurus ke bawah secara teratur
dengan kecepatan 100x/menit (hampir 2 x/detik)
dengan kedalaman adekuat. AHA Guideline
2010 merekomendasikan agar kompresi dada
dilakukan cepat dan dalam (push and hard)
dengan kedalaman yang adekuat, yaitu:
1.1.1.

Dewasa : 2 inchi (5 cm). rasio 30 :

1.1.2.

2 ( 1 atau 2 penolong )
Anak : 1/3 diameter anteroposterior dada ( 5 cm), rasio 30 :
2 (1 penolong ) dan 15 : 2 ( 2
penolong )

1.1.3.

Bayi

: 1/3 diameter

anterio-

posterior dada ( 4 cm), rasio 30 :


2 (1 penolong) dan 15 : 2 (2
penolong )
Selain itu, kompresi yang dilakukan memungkinkan terjadinya
complete chest recoil atau pengembangan dada seperti semula setelah
kompresi sebelum memulai kompresi kembali. Dari tindakan kompresi
yang benar hanya akan mencapai tekanan sistolik 6080 mmHg, dan
diastolik yang sangat rendah, sedangkan curah jantung (cardiac output)
hanya 25% dari curah jantung normal. Selang waktu mulai dari
menemukan pasien dan dilakukan prosedur dasar sampai dilakukannya
tindakan bantuan sirkulasi (kompresi dada) tidak boleh melebihi 30 detik.
1.21.5.

Airway
Penolong memastikan jalan napas
bersih dan terbuka sehingga memungkinkan
pasien dapat diberi bantuan napas, sehingga
langkah ini terdiri atas dua tahapan, yaitu:
1.1.1.5.1.

Membersihkan jalan napas

Membuka mulut dengan


cara jari silang (cross
finger), ibu jari diletakkan
berlawanan dengan jari telunjuk pada mulut korban.

Memeriksa adanya sumbatan pada jalan napas. Jika


ditemukan sumbatan benda cair, bersihkan dengan
teknik finger sweep (sapuan jari) yaitu menyusuri
rongga mulut dengan dua jari, bisa dilapisi dengan
kasaatau potongan kain untuk menyerap cairan. Jika
ditemukan sumbatan benda padat, dapat dikorek dengan
menggunakan jari telunjuk yang dibengkokkan. Namun
teknik ini harus dilakukan dengan hati-hati, karena
teknik ini dapat mendorong sumbatan semakin dalam .
Semua prosedur ini tidak bleh dilakukan lebih dari 10
detik.

1.1.1.5.2.

Membuka jalan napas

Setelah jalan napas dipastikan bebas dari sumbatan


benda asing, jalan napas pasien/korban harus dibuka. Bia
sanya pada korban yang tidak sadar tonus otot-ototnya
menghilang termasuk tonus otot pada palatum sehingga
palatum dapat turun dan menempel pada epiglotis. Kondisi
ini menjadi penyebab sumbatan jalan napas pada pasien
tidak sadar. Pembebasan jalan napas dapat dilakukan dengan
menggunakan tiga teknik yaitu head tilt (tengadah kepala),
chin lift (angkat dagu) dan jaw thrust (dorongan rahang).
Ketiga teknik ini dikenal dengan Triple Airway Manuveur.
AHA Guideline 2010 merekomendasikan untuk :

Menggunakan head tilt-chin lift untuk membuka jalan


napas pada pasien yang tidak ada kecurigaan trauma
kepala dan leher. Sekitar 0,12-3,7% mengalami cedera
spinal dan risiko cedera spinal meningkat jika pasien
mengalami cedera kraniofasial dan/atau GCS <8.

Gunakan jaw thrust jika pasien dicurigai mengalami


cedera servikal. Pasien suspek cedera spinal lebih
diutamakan dilakukan restriksi manual (menempatkan 1
tangan di tiap sisi kepala pasien) dari pada menggunakan
spinal immobilization devices karena dapat mengganggu
jalan napas, namun alat ini bermanfaat mempertahankan
kesejajaran spinal selama transportasi.

1.31.5. Breathing
Bantuan napas dapat dilakukan melalui mulut ke mulut, mulut ke
hidung atau mulut ke stoma (lubang yang dibuat pada tenggorokan) dengan
cara memberikan hembusan napas sebanyak 2 kali hembusan. Waktu yang
dibutuhkan untuk tiap kali hembusan adalah 1,52 detik dan volume udara
yang dihembuskan adalah 400 -600 ml (10 ml/kg) atau sampai dada
pasien/korban tampak mengembang. Jika mengalami kesulitan untuk
memberikan hembusan napas yang efektif, periksa apakah masih ada
sumbatan di mulut pasien serta perbaiki posisi tengadah kepala dan angkat
dagu pasien/korban.

Pemberian bantuan pernapasan, terdiri atas 3 (tiga) tekinik yaitu:


1) Mouth to Mouth (Mulut ke Mulut)
Teknik ini merupakan cara
yang cepat dan efektif untuk
memberikan udara ke paruparu
korban

dilakukan

pasien.

Pada

hembusan

saat
napas

penolong harus mengambil napas


terlebih

dahulu

dan

mulut

penolong harus dapat menutup seluruh mulut pasien/korban dengan baik


agar tidak terjadi kebocoran saat menghembuskan napas dan juga penolong
harus menutup lubang hidung pasien/korban dengan ibu jari dan jari
telunjuk untuk mencegah udara keluar kembali dari hidung.
2) Mouth to Nose (Mulut ke Hidung)
Teknik ini direkomendasikan jika usaha bantuan napas dari mulut
korban tidak memungkinkan, misalnya pada mulut korban mengalami luka
yang berat. Tekniknya sama dengan mouth to mouth, perbedaanya pada saat
memberikan hembusan pada hidung pasien/korban, penolong harus harus
menutup mulut pasien/korban.
3) Mouth to stoma ( Mulut ke stoma)
Pasien yang pernah menjalani laringotomi memiliki lubang (stoma)
pada area leher yang menghubungkan trakea lansung ke kulit. Bila pasien
ini mengalami kesulitan pernapasan maka harus dilakukan bantuan
pernapasan dari mulut ke stoma .
Setelah dilakukan pemberian 2 kali hembusan napas (ventilasi)
maka penolong segera melanjutkan kembali pemberian kompresi 30 kali
dan ventilasi 2 kali hingga 5 siklus.
1.41.5. Evaluasi (Penilaian Ulang)
Sesudah pemberian 5 siklus kompresi dan ventilasi (kira-kira 2
menit), penolong kemudian melakukan evaluasi, dengan ketentuan sebagai
berikut:

Jika tidak ada nadi karotis, penolong kembali melanjutkan kompresi


dan ventilasi dengan rasio 30 : 2 sebanyak 5 siklus

Jika ada nadi tapi napas belum ada, penolong memberikan bantuan
napas sebanyak 10- 12 x/menit dan monitor nadi tiap 2 menit.

Jika ada napas dan denyut nadi teraba namun pasien belum sadar,
letakkan pasien/korban pada posisi pemulihan (recovery position)
untuk menjadi jalan napas tetap terbuka dan bila pasien muntah tidak
terjadi aspirasi. Waspada terhadap kemungkinan pasien mengalami
henti napas kembali, jika terjadi segera terlentangkan pasien dan
lakukan bantuan napas kembali. Langkah-langkah pemberian posisi
pemulihan dapat dilihat pada gambar berikut:

AHA Guideline 2010 memberikan beberapa rekomendasi sebagai berikut :

Pemberian bantuan napas (ventilasi) sama dengan rekomendasi AHA 2005,


yaitu :
1)

Pemberian dilakukan sesuai tidal volume

2)

Setelah alat intubasi terpasang pada 2 orang penolong : selama


pemberian RJP, ventilasi diberikan tiap 8-10 x/menit tanpa usaha
sinkronisasi antara kompresi dan ventilasi. Kompresi dada tidak
boleh dihentikan untuk pemberian ventilasi.

Tidak

menekankan

pemeriksaan

breathing

karena

penolong

baik

profesional maupun awam kemungkinan tidak dapat menentukan secara


akurat ada atau tidaknya napas pada pasien tidak sadar karena jalan napas

tidak terbuka atau karena pasien mengalami occasional gasping yang dapat
terjadi pada beberapa menit pertama setelah henti jantung.

Bila tersedia, gunakan Automated External Defibrillator (AED).

1.51.5. Defibrilation
Defibrilation atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan
istilah defibrilasi adalah suatu terapi kejut jantung dengan memberikan
energi listrik. Hal ini dilakukan jika penyebab henti jantung (cardiac arrest)
adalah kelainan irama jantung yang disebut dengan Fibrilasi Ventrikel.
Dimasa sekarang ini sudah tersedia alat untuk defibrilasi (defibrilator) yang
dapat digunakan oleh orang awam yang disebut Automatic External
Defibrilation, dimana alat tersebut dapat mengetahui korban henti jantung
ini harus dilakukan defibrilasi atau tidak, jika perlu dilakukan defibrilasi
alat tersebut dapat memberikan tanda kepada penolong untuk melakukan
defibrilasi atau melanjutkan bantuan napas dan bantuan sirkulasi.
1.12 Tindakan Tahap Dua : Bantuan Hidup Lanjut (BHL)
Dalam tahap dua tahap ini dimaksudkan sebagai bantuan hidup lanjut
(BHL, advanced life support), yaitu memalui kembali sirkulasi spontan dan
memantapkan system paru jantung, dengan cara memberikan obat-obatan dan cairan
serta jika perlu terapi fibrilasi sesuai dengan gambaran EKG diperlukan untuk
memastikan diagnosis henti jantung, apakan asistole, fibrilasi ventrikel atau kolaps
kardiovaskuler hebat.
Tahap satu dan dua harus diberikan dengan sangat segera untuk
menghasilkan sirkulasi spontan yang adekuat, karna dengan melakukan kompresi
jantung luar hanya menghasilakan 6-30% aliran darah normal.
Kompresi

jantung

dalam

dilakukan

melalui

rongga

dada

yang

dibuka.dengan cara ini lebih efektif dan dapat menghasilkan 50% aliran darah normal.
Akan tetapi cara ini tidak dapat dilakukan di luar rumah sakit
Pada waktu melakukan tindakan tahap ke dua ini, yaitu memberikan obatobatan dan cairan melalui intravena serta pemantauan EKG, tindakan konpresi jantung
dan ventilasi paru jantung dihentikan. Bila mungkin lakukan intubasi trakea atau
krikotirotomi.
1. Obat- obatan dan cairan
Pasang segera kateter intravena dan berikan infus larutan glukosa 5% atau 2A

Berikan segera adrenalin 0,5-1 mg (untuk orang dewasa) intravena. Ulangi


dosis ini atau dosis yang lebih besar (1-2 mg) tiap 2-5 menit. Jika kateter
intravena belum terpasang, obat dapat langsung diberikan intrakea melalui
pipa endotrakea. Pemberian cairan intrakea ini harus diencerkan dahulu
dengan 9 ml aquades steril. Cara intrakardial juga dapat dikerjakan, tetapi

hanya dapat dikerjakan bila cara intravena atau intratrakea tidak mungkin.
Jika henti jantung berlangsung > 2 menit atau hipoksia jaringan telah terjadi
sebelum henti jantung, berikan Na-bikarbonat 1 mEq/kg BB intravena
perlahan-lahan kedalam infus yang sedang berjalan. Na-bikarbonat ini
bertujuan untuk mengatasi asidosis yang terjadi yang bila tidak akan

menghambat kerja adrenalin.


Ulangi Na-bikarbonat tiap 10 menit dengan dosis 0,5 mEq/kg BB intravena.
Bila sudah ada hasil analisa gas darah, berikan Na-bikarbonat berdasarkan

pH darah arteri sampai pH normal kembali.


2. Posisi syok. Bila sirkulasi darah pasien belum stabil pasien masih dalam keadaan
syok, letakan pasien dengan posisi badan Horisontal (terlentang) dan tungkai 30
40 derajat ke atas
3. Pantau EKG; untuk menentukan jenis henti jantung dan aritma jantung yang timbul
hingga dapat ditentukan terapi selanjutnya
Pantau analisa gas darah: untuk menentukan terapi selanjutnya dari oksigenasi dan
ventilasi paru serta keseimbangan asam basah.
Pantau produksi urin: dengan memasang kateter urin tetap untuk mengetahui
perubahan perfusi ginjal terutama masih dalam keadaan syok.
4. Terapi fibrilasi
Pukulan prekodial : bila tindakan ini sempat dikerjakan dalam beberapa menit
pertama, segera pukul daerah midsternum pasien dengan pagien urnal atau
hipoternal dari kepalan (tinju) penolong. Bila timbul fibrilasi ventrikel berikan
terapi defibrilasi dengan defibrillator.
Defibrilasi luar
Defibrilasi dengan defibrilator (DC shok) 100- 400 joul (mulai dari 2 J/ kg BB
sampai 200 J tingkat dosis, ulangi 25-50% dosis awal dengan maksimum 5 J/kg
BB). Setelah defibrilasi berhasil, EKG mungkin menunjukan sistole kompleks
EKG abnormal atau kompleks EKG yang mendekati normal. Apapun yang
ditunjukan oleh alat pantau EKG, kompresi jantung harus diteruskan selama
tidak ada denyut karotis atau femoralis yang spontan. Jika EKG menunjukan
asistole, resusitasia adrenalin Na-Bikarbonat harus diteruskan. Berikan kalsium

klorida 10%, 0,1-0,2 ml/kg BB, bolus perlahan sampai 250-500 mg (2.5-5 ml),
dan vasopressor seperti neropinefrin 3g (0,2 ml/70 kg/ menit), larutan (8 mg
larutan neropinefrin dalam 500 ml dekstrose 5% NaCl 0,9 %) atau metarominol
(Aramin) IV bolus 1-5 mg dan titrasi infus 100 mg dalam 250 ml NaCl 0,9%
sampai tekanan arteri rata-rata stabil. Kemudian lanjutkan dengan dopamine 210 g/kg/BB/menit untuk membantu curah jantung.
Lidokain (lignokain)
Jika fibrilasi ventrikel menetap atau berlangsung sampai pemberian defibrilasi
mencapai dosis 5 J/kg BB atau 400 J, walaupunsudah dilakukan dekompresi
jantung, ventilasi buatan dengan mesin tekanan positif intermiten dan adrenalin
serta Na-Bikarbonat dalam jumlah yang cukup, berikan Lidokain jika perlu.
Lanjutkan tetasan infus. Ulangi terus usaha ini (termasuk pemberian obat
bretilium 5 mg / kg BB, dosis ulang 10 mg/kgBB dan maksimum 30 mg/kg
BB)samapai berhasil atau terjadi asistole yang ireversibl dengan tanda-tanda
kematian miokardium (asitole listrik intra kabel). Teruskan usaha resusitasi
sampai denyut nadi membaik dan usahakan supaya tensi segera normal kembali.

BAB 2
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
2.1 Pengkajian
2.1.1 Primary Survey
Primary survey menyediakan evaluasi yang sistematis, pendeteksian
dan manajemen segera terhadap komplikasi akibat trauma parah yang
mengancam kehidupan. Tujuan dari

Primary survey adalah untuk

mengidentifikasi dan memperbaiki dengan segera masalah yang mengancam


kehidupan. Prioritas yang dilakukan pada primary survey antara lain (Fulde,
2009) :

Circulation dan kontrol perdarahan eksternal

Airway maintenance dengan cervical spine protection

Breathing dan oxygenation

Disability-pemeriksaan neurologis singkat

Exposure dengan kontrol lingkungan


Sangat penting untuk ditekankan pada waktu melakukan primary

survey bahwa setiap langkah harus dilakukan dalam urutan yang benar dan

langkah berikutnya hanya dilakukan jika langkah sebelumnya telah


sepenuhnya dinilai dan berhasil. Setiap anggota tim dapat melaksanakan tugas
sesuai urutan sebagai sebuah tim dan anggota yang telah dialokasikan peran
tertentu seperti airway, circulation, dll, sehingga akan sepenuhnya menyadari
mengenai pembagian waktu dalam keterlibatan mereka (American College of
Surgeons, 1997). Primary survey perlu terus dilakukan berulang-ulang pada
seluruh tahapan awal manajemen. Kunci untuk perawatan trauma yang baik
adalah penilaian yang terarah, kemudian diikuti oleh pemberian intervensi
yang tepat dan sesuai serta pengkajian ulang melalui pendekatan AIR
(assessment, intervention, reassessment).
Primary survey dilakukan melalui beberapa tahapan, antara lain
(Gilbert., DSouza., & Pletz, 2009) :
2.1.1.1 General Impressions
Memeriksa kondisi yang mengancam nyawa secara umum.
Menentukan keluhan utama atau mekanisme cedera
Menentukan status mental dan orientasi (waktu, tempat, orang)
2.1.1.2 Pengkajian Circulation
Shock didefinisikan sebagai tidak adekuatnya perfusi organ dan
oksigenasi jaringan. Hipovolemia adalah penyebab syok paling umum pada
trauma. Diagnosis shock didasarkan pada temuan klinis: hipotensi, takikardia,
takipnea, hipotermia, pucat, ekstremitas dingin, penurunan capillary refill,
dan penurunan produksi urin. Oleh karena itu, dengan adanya tanda-tanda
hipotensi

merupakan

salah

satu

alasan

yang

cukup

aman

untuk

mengasumsikan telah terjadi perdarahan dan langsung mengarahkan tim


untuk melakukan upaya menghentikan pendarahan. Penyebab lain yang
mungkin membutuhkan perhatian segera adalah: tension pneumothorax,
cardiac tamponade, cardiac, spinal shock dan anaphylaxis. Semua
perdarahan eksternal yang nyata harus diidentifikasi melalui paparan pada
pasien secara memadai dan dikelola dengan baik (Wilkinson & Skinner,
2000)..
Langkah-langkah dalam pengkajian terhadap status sirkulasi pasien, antara
lain :

Cek nadi dan mulai lakukan CPR jika diperlukan.

CPR harus terus dilakukan sampai defibrilasi siap untuk digunakan.

Kontrol perdarahan yang dapat mengancam kehidupan dengan


pemberian penekanan secara langsung.

Palpasi nadi radial jika diperlukan:


Menentukan ada atau tidaknya
Menilai kualitas secara umum (kuat/lemah)
Identifikasi rate (lambat, normal, atau cepat)
Regularity

Kaji kulit untuk melihat adanya tanda-tanda hipoperfusi atau hipoksia


(capillary refill).
Lakukan treatment terhadap hipoperfusi
2.1.1.3 Pengkajian Airway
Tindakan pertama kali yang harus dilakukan adalah memeriksa
responsivitas pasien dengan mengajak pasien berbicara untuk memastikan
ada atau tidaknya sumbatan jalan nafas. Seorang pasien yang dapat berbicara
dengan jelas maka jalan nafas pasien terbuka (Thygerson, 2011). Pasien yang
tidak sadar mungkin memerlukan

bantuan airway dan ventilasi. Tulang

belakang leher harus dilindungi selama intubasi endotrakeal jika dicurigai


terjadi cedera pada kepala, leher atau dada. Obstruksi jalan nafas paling
sering disebabkan oleh obstruksi lidah pada kondisi pasien tidak sadar
(Wilkinson & Skinner, 2000).
Yang perlu diperhatikan dalam pengkajian airway pada pasien antara lain :

Kaji kepatenan jalan nafas pasien. Apakah pasien dapat berbicara atau
bernafas dengan bebas?

Tanda-tanda terjadinya obstruksi jalan nafas pada pasien antara lain:


Adanya snoring atau gurgling
Stridor atau suara napas tidak normal
Agitasi (hipoksia)
Penggunaan otot bantu pernafasan / paradoxical chest movements
Sianosis

Jika terjadi obstruksi jalan nafas, maka pastikan jalan nafas pasien terbuka.

Lindungi tulang belakang dari gerakan yang tidak perlu pada pasien yang
berisiko untuk mengalami cedera tulang belakang.
Gunakan berbagai alat bantu untuk mempatenkan jalan nafas pasien sesuai
indikasi :
Chin lift/jaw thrust
Lakukan suction (jika tersedia)
Oropharyngeal airway/nasopharyngeal airway, Laryngeal Mask Airway
Lakukan intubasi
2.1.1.4 Pengkajian Breathing (Pernafasan)
Pengkajian pada pernafasan dilakukan untuk menilai kepatenan jalan
nafas dan keadekuatan pernafasan pada pasien. Jika pernafasan pada pasien
tidak memadai, maka langkah-langkah yang harus dipertimbangkan adalah:
dekompresi dan drainase tension pneumothorax/haemothorax, closure of
open chest injury dan ventilasi buatan (Wilkinson & Skinner, 2000).
Yang perlu diperhatikan dalam pengkajian breathing pada pasien antara lain :
Look, listen dan feel; lakukan penilaian terhadap ventilasi dan oksigenasi
pasien.
Inspeksi dari tingkat pernapasan sangat penting. Apakah ada tanda-tanda
sebagai berikut : cyanosis, penetrating injury, flail chest, sucking chest
wounds, dan penggunaan otot bantu pernafasan.
Palpasi untuk adanya : pergeseran trakea, fraktur ruling iga,
subcutaneous emphysema, perkusi berguna untuk diagnosis haemothorax
dan pneumotoraks.
Auskultasi untuk adanya : suara abnormal pada dada.
Buka dada pasien dan observasi pergerakan dinding dada pasien jika perlu.
Tentukan laju dan tingkat kedalaman nafas pasien; kaji lebih lanjut
mengenai karakter dan kualitas pernafasan pasien.
Penilaian kembali status mental pasien.
Dapatkan bacaan pulse oksimetri jika diperlukan
Pemberian intervensi untuk ventilasi yang tidak adekuat dan / atau
oksigenasi:
Pemberian terapi oksigen

Bag-Valve Masker
Intubasi (endotrakeal atau nasal dengan konfirmasi penempatan yang
benar), jika diindikasikan
Catatan: defibrilasi tidak boleh ditunda untuk advanced airway
procedures

Kaji adanya masalah pernapasan yang mengancam jiwa lainnya dan berikan
terapi sesuai kebutuhan.

2.1.1.5 Pengkajian Level of Consciousness dan Disabilities


Pada primary survey, disability dikaji dengan menggunakan skala AVPU :
A - alert, yaitu merespon suara dengan tepat, misalnya mematuhi
perintah yang diberikan
V - vocalises, mungkin tidak sesuai atau mengeluarkan suara yang tidak
bisa dimengerti
P - responds to pain only (harus dinilai semua keempat tungkai jika
ekstremitas awal yang digunakan untuk mengkaji gagal untuk merespon)
U - unresponsive to pain, jika pasien tidak merespon baik stimulus nyeri
maupun stimulus verbal.
2.1.1.6 Expose, Examine dan Evaluate
Menanggalkan pakaian pasien dan memeriksa cedera pada pasien.
Jika pasien diduga memiliki cedera leher atau tulang belakang, imobilisasi inline penting untuk dilakukan. Lakukan log roll ketika melakukan
pemeriksaan pada punggung pasien. Yang perlu diperhatikan dalam
melakukan pemeriksaan pada pasien adalah

mengekspos pasien hanya

selama pemeriksaan eksternal. Setelah semua pemeriksaan

telah selesai

dilakukan, tutup pasien dengan selimut hangat dan jaga privasi pasien,
kecuali jika diperlukan pemeriksaan ulang (Thygerson, 2011).
Dalam situasi yang diduga telah terjadi mekanisme trauma yang
mengancam jiwa, maka Rapid Trauma Assessment harus segera dilakukan:
Lakukan pemeriksaan kepala, leher, dan ekstremitas pada pasien
Perlakukan setiap temuan luka baru yang dapat mengancam nyawa
pasien luka dan mulai melakukan transportasi pada pasien yang
berpotensi tidak stabil atau kritis.(Gilbert., DSouza., & Pletz, 2009)
2.1.2

Survei sekunder dan intervensinya

Pada tahap ini survei sekunder dilakukan sembari menganalisis kembali


keseluruh komponen dari survey primer. Kembali lakukan penanganan untuk
menstabilkan cedera setelah permasalahan teridentifikasi. Setelah survey
sekunder ini, diagnostik dan terapi definitnya dapat ditentukan. Konsultan dapat
dipanggil dan beberapa pemeriksaan dapat dilakukan. Hasil laboratorium
biasanya sudah ada dan setiap tindakan yang diperlukan harus dilakukan.
Survei sekunder ini merupakan saat yang tepat untuk menggali riwayat
pasien terutama mengenai alergi terhadap penisilin dan yodium. Bila pasien
dikirim untuk dilakukan pemeriksaan CT Scan , informasi ada tidaknya
allergen terhadap yodium ini sangat penting sebelum zat tersebut disuntikkan
ke tubuh pasien. Alergi terhadap penisilin sangat krusial pada tahap ini ketika
biasanya diberikan dosis tunggal antibiotic spectrum luas. Jika tetanus belum
diperbaharui, maka diberikan juga. Survey sekunder merupakan evaluasi
keseluruhan dari kepala hingga mata kaki untuk mengidentifikasi adanya
trauma dan tindakan seperti apa yang diperlukan selanjutnya.
2.2 Prinsip Etik
Pada awal dan akhir resusitasi, perbedaan etik dan norma norma budaya
harus dipertimbangkan. Meskipun prinsip prinsip etik tentang beneficence, non
maleficence, autonomy dan justice dapat diterima di seluruh budaya, tetapi prioritas
prinsip-prinsip tersebut dapat bervariasi antara kebudayaan yang berbeda. Di
Amerika Serikat sebagian besar penekanan pada otonomi individual. Di Eropa
lebih menekankan pada penyedia layanan kesehatan otonomi yang menjadi tugas
mereka dalam mengambil keputusan bila timbul masalah. Sedangkan di Asia
keputusan kelompok masyarakat mendominasi keputusan yang diambil. Dikatakan
bahwa resusitasi adalah paduan usaha antara data ilmiah dan nilai nilai sosial
sedangkan pada saat yang sama juga terdapat upaya mempertahankan otonomi
budaya, sehingga dokter harus memainkan peranan penting dalam mengambil
keputusan berdasarkan data ilmiah dan keinginan (preferensi) pasien.
1) Prinsip Beneficence
Prinsip beneficence pada RJP adalah pemulihan kesehatan dan fungsi-fungsinya
serta meringankan rasa sakit dan penderitaan. Resusitasi elektif yang dilakukan
pada tahun 1940an dan awal 1950 seperti perawatan pernafasan intensif
meningkatkan harapan hidup pasien poliomyelitis bulbar dari 15% menjadi lebih
dari 50%. Satu decade kemudian, 14 dari 20 pasien (70%) yang ditangani
dengan pemijatan jantung paru tertutup dapat bertahan hidup. Kouwenhoven et

al melaporkan bahwa tingkat pemulangan pasien di RS John Hopkins berkisar


14% pada tahun 1985, dan di bawah 10% pada tahun 1994. Tingkat kesuksesan
sekitar 70% tidak pernah dipublikasikan.5 Keuntungan terbesar dari tindakan
RJP, dengan kemungkinan hidup lebih dari 20%, telah dilaporkan pada henti
jantung selama tindakan anestesi, overdosis obat, dan penyakit jantung koroner
atau aritmia ventriculer primer. Pada tahun 1995 tingkat pemulangan pasien
hanya sekitar 17%, yang diikuti oleh pelaksanaan tindakan RJP pada pasien di
ruang unit jantung koroner terpadu dan dimonitor oleh pegawai yang terlatih.
Jarang sekali pasien bertahan hidup setelah dilakukan RJP ketika henti jantung
yang timbul disebabkan oleh penyakit selain jantung atau disfungsi organ.
Harapan hidup pasien setelah dilakukan tindakan RJP sangat buruk (<5%) bila
henti jantung terjadi pada pasien dengan gagal ginjal, kanker (kecuali dengan
penyakit yang minimal), atau AIDS; dan dengan tidak adanya penyakit
penyebab yang irreversible,diikuti dengan trauma, perdarahan, hipotensi yang
berkepanjangan

atau

pneumonia.

Dibatasinya

pelaksanaan

RJP

telah

meningkatkan derajat harapan hidup pasien sebesar 10,5% setelah tindakan RJP,
meskipun 7-10% lainnya ditunda untuk dilakukan RJP.5 RJP yang dimulai
dengan cepat di Seattle menghasilkan tingkat harapan hidup sebesar 36%, itu
merupakan angka tertinggi yang dicapai dibandingkan dengan data yang
terdapat di literatur saat ini. Pada daerah lalu lintas yang mempunyai sistem
yang lebih buruk angka keberhasilan RJP lebih rendah. Secara spesifik di kota
New York dan Chicago tingkat harapan hidup setelah tindakan RJP kurang dari
2%, hal itu terjadi karena RJP yang terlambat terkait dengan padatnya arus lalu
lintas.5 Usia bukan merupakan salah satu kontraindikasi dilakukannya tindakan
RJP. Walaupun dikatakan proses penuaan berkaitan dengan akumulasi berbagai
kelemahan dan penyakit, dengan terdapatnya perawatan jangka panjang dan
penurunan fungsi tubuh, masih menjadi salah satu perkiraan hasil RJP yang
buruk.
2) Prinsip Non Maleficence (Do No Harm)
Tingkat kerusakan otak berkaitan dengan tindakan RJP bervariasi antara 1083%. Pada salah satu penelitian, 55 dari 60 anak meninggal karena pemberian
RJP yang berkepanjangan;lima lainnya bertahan hidup pada kondisi coma
persistent atau status vegetative di rumah sakit. Banyak pasien dengan
disabilitas berat yang diikuti dengan kerusakan otak berada dalam kondisi yang

sama dengan kematian. RJP menjadi berbahaya dan bersifat merusak ketika
risiko kerusakan otak relatif tinggi. Oleh karena gangguan aliran darah ke otak
atau ke jantung dapat menyebabkan kerusakan berat, RJP dapat dikatakan
berhasil hanya jika dilakukan tepat waktu. Seorang investigator dari Swedia
melaporkan bahwa harapan hidup melebihi 80% pada pemberian RJP oleh orang
di sekitar korban dan ambulan dating kurang dari 2 menit, akan tetapi angka ini
menjadi lebih buruk bahkan kurang dari 6% ketika ambulan dating lebih dari 6
menit atau tidak ada orang di sekitar korban yang melakukan RJP. Pada
beberapa negara di Amerika Serikat, walaupun petugas gawat darurat sudah
membatasi dilakukannya tindakan RJP di lapangan, masih dapat ditemukan
bukti RJP yang tidak dikehendaki. Bahkan didapatkan 7% pasien yang
dipulangkan dari rumah sakit tidak menghendaki dilakukannya RJP.5 Tindakan
RJP dikatakan tidak merusak jika keuntungan yang didapatkan lebih besar.
3) Prinsip Otonomi
Otonomi pasien harus dihormati secara etik dan di sebagian besar negara
dihormati secara legal. Akan tetapi hal itu membutuhkan kemampuan
komunikasi seorang pasien untuk dapat menyetujui atau menolak tindakan
medis termasuk RJP. Di Amerika Serikat, pasien dewasa dianggap memiliki
kapasitas dalam mengambil keputusan kecuali jika pengadilan telah menyatakan
bahwa mereka tidak kompeten untuk membuat keputusan tindakan medis
sedangkan di negara lain keputusan pengadilan tidak diperlukan untuk
penderita-penderita dengan incompetency seperti pada penderita penyakit
jiwa.Informed consent mensyaratkan bahwa pasien dapat menerima dan
memahami informasi yang akurat tentang kondisi mereka dan prognosis, jenis
tindakan medik yang diusulkan, tindakan alternatif lainnya, risiko dan manfaat
dari tindakan medis tersebut. Pasien juga harus dinilai kapasitasnya dalam
mengambil keputusan. Bila pasien ragu-ragu maka dia harus dianggap
mempunyai kapasitas, dan bila kapasitas dalam mengambil keputusan tersebut
terganggu Analisis Etik Terkait Resusitasi Jantung Paru Analisis Etik Terkait
Resusitasi Jantung Paru oleh karena obat-obatan, penyakit-penyakit penyerta,
maka kapasitas pasien harus dikembalikan terlebih dahulu. Dalam keadaan
darurat, dan preferensi pasien belum jelas, dengan waktu yang terbatas untuk
mengambil keputusan maka adalah bijaksana untuk memberikan perawatan
medis yang standard.

Pasien biasanya tidak mempunyai rencana tentang apa yang terjadi pada akhir
kehidupannya (end of life), banyak yang tidak ingin menyiapkan advanced
directives, livin wills (surat wasiat) atau mendiskusikan RJP. Dokter juga jarang
mendiskusikan hal-hal tersebut dengan pasienpasiennya, bahkan jika pasien
tersebut menderita sakit yang parah. Banyak pasien memiliki pemahaman yang
samar-samar tentang RJP dan konsekuensi-konsekuensinya. Masyarakat
umumnya berharap banyak tentang kemungkinan untuk bertahan hidup dari
serangan jantung. Beberapa penderita mungkin akan menolak dilakukan RJP
karena mereka mengetahui adanya defisit sensorik berat yang timbul setelah
serangan tersebut. Akan tetapi banyak penelitian tentang kualitas hidup
penderita yang selamat dari serangan jantung menyatakan bahwa risiko tersebut
dapat diterima.Baik dokter dan penderita mungkin mempunyai persepsi yang
berbeda tentang kualitas hidup. Dokter mempunyai kewajiban untuk
menerangkan kepada pasien tentang RJP dan hasilnya. Pengambilan keputusan
yang tepat dapat terjadi bila penderita mempunyai pemahaman yang baik
tentang persepsi dan hasil resusitasi. Masalah kemudian dapat timbul karena
banyak dokter tidak dapat memprediksi secara akurat tentang kemungkinan
hidup dari serangan jantung, sehingga penderita tidak dapat dipaksa untuk
mengambil persetujuan tentang tindakan RJP. Baik Kant maupun Rawls
mengatakan sebuah keputusan moral otonom harus rasional dan tidak memihak
salah satu pembuat keputusan. Rawls mengatakan dengan jelas bahwa pembuat
keputusan, para pemilih, tidak mengetahui masa depan mereka dalam suatu
komunitas. Dari prinsip tersebut para ahli menyimpulkan bahwa pasien harus
dapat menentukan pengobatannya sendiri. Prinsip tersebut mengharuskan kita
mengkaji ulang dan menyelesaikan dua masalah. Pertama, pasien selalu
memikirkan hasil dari keputusan tindakan medis tersebut oleh karena itu tidak
harus selalu berdasarkan prinsip otonomi bahkan ketika keputusan tentang
tindakan medis tersebut tidak dapat meeredakan rasa nyeri, atau penderitaan.
Kedua, merupakan prinsip keadilan yang menghasilkan kemampuan untuk
menerima sesuatu, bukan otonomi. Dalam formulasi terbarunya Beuchamp dan
Childress lebih akurat mengatakan prinsip ini sebagai penghormatan terhadap
otonomi. Ada beberapa bukti bahwa wali pengganti yang bertindak atas nama
pasien pada saat pasien telah kehilangan kapasitas pengambilan keputusan,
ternyata pasien tidak secara tepat dapat mengatakan keinginan yang sebenarnya.

Sekitar sepertiga penderita ginjal kronik menerima keputusan yang diambil oleh
wali pengganti, ternyata keputusan itu bertentangan dengan keinginannya.
4) Prinsip Keadilan (Justice)
Pemikiran tentang prinsip keadilan meliputi dibuatnyahak-hak untuk menerima
sesuatu,

persaingan

untukmendapatkan

kepentingan

pribadi

dan

menyeimbangkantujuan sosial. Masalahnya adalah seharusnya diperlukan nilai


moral

keadilan

untuk

menyediakan

perawatan

medis

kepada

yang

memerlukannya dengan efek yang bermanfaat, karena keadilan diperlukan untuk


mengurangi ketidaksamaan dalam perlakuan yang sering timbul dalam
masyarakat. Dokter harus menyesuaikan diri dengan sumber penghasilan
masyarakat untuk merawat mereka berdasarkan sumber penghasilan yang secara
umum disediakan seperti dari asuransi pribadi, atau pemerintah atau dukungan
institusi secara langsung. Akan tetapi, untuk menentukan apakah diperlukan
nilai keadilan moral untuk kelayakan minimal dalam memberikan pelayanan
medis harus dinilai seberapa penting masalah yang dihadapi, oleh karena itu
diusulkan pelayanan kesehatan dasar sebaiknya: (1) mencegah, mengobati, dan
mengusahakan oneyear survival lebih dari 75 persen (2) menghasilkan lebih
sedikit toksisitas atau disabilitas jangka panjang (3) dapat memberikan manfaat
dan (4) secara nyata lebih menguntungkan daripada memberatkan.
5) Prinsip Kesia-siaan (Principle of Futility)
Futility adalah kata yang berarti tidak adanya keuntungan. Kata sia-sia berasal
dari bahasa Latin futilis, yang berarti mudah meleleh atau mengalir. Penggunaan
kata ini berasal dari legenda Yunani ketika Raja Argos dibunuh atas kejahatan yang
dilakukannya, kemudian istri dan anakanaknya dikutuk selama-lamanya untuk
mengumpulkan air dengan menggunakan ember yang bocor ke suatu tempat
sehingga saat sampai di tempat tujuan ember tersebut kosong.Definisi sia-sia,
tidak berguna atau futility digunakan untuk menggambarkan ketidakbergunaan
atau tidak adanya efek, khususnya tidak adanya efek yang diinginkan dan jika
diasumsikan bahwa efek yang diinginkan intervensi medis adalah untuk sesuatu
yang bermanfaat bagi pasien maka sia-sia menggambarkan ketiadaan manfaat
tersebut.Dalam Rogets Link Thesaurus sia-sia digunakan dengan konsep umum
inutility, sama dengan kata-kata seperti tidak berguna, inefficacy, kebodohan,
ketidakmampuan, unfruitfulness,suatu pekerjaan yang sia-sia bahkan tidak berharga
dan hanya lelucon dan dengan konsep umum absurditas seperti kedunguan,
omong kosong, kesalahan, kekacauan, keledai, omong kosong,

nonsen.Dikatakan juga kesia --siaan menggambarkan ketiadaan manfaat tanpa


pertimbangan biaya.7 Bagaimana jika tindakan intervensi medis yang dilakukan
memberikan sedikit manfaat? Siapakah yang harusnya memutuskan untuk
dilakukannya tindakan tersebut? Ketika kehidupan seseorang digambarkan dengan
penyakit lanjut, ketergantungan penuh dengan orang lain,
6) Analisis Etik Terkait Resusitasi Jantung Paru demensia, sedangkan keuntungan
yang didapat dari tindakan RJP ternyata tidak adekuat dan tidak sesuai yang
diharapkan? Memberikan hak sepenuhnya kepada pasien untuk memutuskan
tindakan yang akan dilakukan tidak akan menyelesaikan masalah. Ketika
permasalahan yang terkait dengan kematian dan koma menjadi sangat sulit maka
perlu ketegasan tentang tujuan sebenarnya yang akan dicapai. Jika resusitasi adalah
sia-sia maka setiap kerugian yang terjadi akan membawa sesuatu yang tidak
menguntungkan/ membahayakan keseimbangan, sehingga melakukan tindakan
tanpa tujuan yang berguna adalah suatu hal yang tidak efektif. Tomlinson dan
Brody mengakui bahwa untuk menyatakan suatu tindakan atau intervensi medik
harus melibatkan keseimbangan yang kompleks antara ketidakpastian dan
kewajiban akan tanggung jawab. Schneiderman dan Jacker telah mempelajari
tentang makna kesia-siaan dan membuat definisi kuantitatif dari sia-sia yang
membutuhkan kepastian bahwa intervensi tersebut minimal 100 kali gagal
digunakan. Hal itu menunjukkan bahwa tindakan tersebut tidak memiliki suatu
kejelasan tertentu, sehingga diperlukan diskusi yang mendalam dengan pasien atau
keluarga untuk mengevaluasi keuntungan dan beban atau tanggung jawab yang
masih tersisa. Di Unit Perawatan Intensif (ICU) pasien yang meninggal sebagai
akibat dari keputusan dipertahankannya (withhold) atau ditariknya (withdraw) alatalat pendukung kehidupan (life support) adalah sekitar 70-90%. Persentase tersebut
meningkat secara signifikan dari waktu ke waktu, dan alasan yang paling umum
untuk dilakukannya tindakan medis untuk mempertahankan (withhold) atau
menarik kembali (withdraw) alat-alat penunjang kehidupan tersebut adalah
persepsi bahwa pasien mempunyai prognosis yang buruk. RJP adalah tindakan
medis yang paling sering dipertahankan dan ventilasi mekanis adalah tindakan
medis yang paling sering ditarik kembali, kebanyakan unit perawatan intensif
dokter menganjurkan withhold dan withdraw berdasarkan persepsi futility.Upaya
untuk mengukur kesia-siaan adalah berdasarkan pada penilaian RJP fisiologis atau
fitur prognosis lainnya yang ternyata memberikan hasil yang tidak banyak

bermanfaat. Berbagai definisi kesia-siaan termasuk di sini adalah gagal untuk


memperpanjang hidup, gagal untuk mencapai efek fisiologis pada tubuh dan
gagal untuk mencapai manfaat terapetik bagi pasien.Waisel dan Troug
menyimpulkan tiga perbedaan yang konseptual dari definisi kesiasiaan. Kesia-siaan
fisiologis terjadi apabila gagal atau tidak dapat memberikan tujuan fisiologis.
Sebagai contoh ketika RJP tidak menghasilkan denyut nadi atau ketika transfuse
tidak menghasilkan tekanan darah, maka intervensi tersebut adalah sia-sia dari
perspektif definisi sebuah kesia-siaan fisiologis. Schneiderman et al, berpendapat
bahwa konsep kesia-siaan fisiologis bukan merupakan nilai bebas, penilaian
terapi tersebut adalah sebuah pilihan nilai dan bahwa pilihan yang dibuat adalah
nilai pengukuran fungsi organ daripada nilai hasil untuk pasien. Definisi kesiasiaan lainnya adalah kesia-siaan yang berpusat pada asas manfaat (benefit
centered), yang didefinisikan sebagai kesia-siaan yang terdiri dari pertimbangan
kuantitatif dan kualitatif. Perkiraan kuantitatif kesia-siaan adalah saat intervensi
medis dianggap sia-sia jika gagal dalam jumlah yang ditentukanterakhir kali
mencoba, dan disarankan usaha tersebut berhasil apabila dilakukan 100 kali
sebagai ambang batas minimal yang dianggap oleh penilaian profesional pada
umumnya. Komponen kualitatif menggambarkan kesia-siaan yang terjadi saat
kualitas hidup pasien jatuh di bawah ambang batas minimal yang dianggap oleh
penilaian professional pada umumnya. Murphy dan Finucane mengusulkan definisi
kesiasiaan operasional sebagai perlakuan yang sangat tidak mungkin untuk berhasil
dan banyak orang awam maupun kalangan profesional menganggap bahwa hal
tersebut tidak sepadan dengan biaya.The American Thoracic Society mengadopsi
makna kesia-siaan dengan lebih konservatif, namun definisinya lebih samar-samar,
dimana dikatakan bahwa intervensi medis tersebut dikatakan sia-sia jika sudah
sangat tidak mungkin untuk menghasilkan makna kehidupan. Oleh karena itu The
American Thoracic Society memberikan definisi kesia-siaan berasal dari campuran
antara kuantitatif (sangat tidak mungkin) dan kualitatif (bermakna untuk bertahan
hidup). American Heart Association mengambil definisi kualitatif kesia-siaan
secara ekstrem, dikatakan bahwa RJP adalah sia-sia ketika tidak ada yang selamat
seperti yang dilaporkan pada sebuah penelitian yang didesain dengan baik, dan
dibuat untuk mempertimbangkan bahwa tindakan RJP adalah tidak sia-sia. Definisi
yang dikemukakan oleh American Heart Association tersebut tampaknya untuk
mendukung tidak dilakukan RJP pada situasi-situasi yang akan membawa lebih

banyak kerugiannya daripada keuntungannya, dan definisi kesia-siaan tersebut


konsisten dengan definisi kesia-siaan yang ada yaitu tidak ada manfaatnya.
7) Do Not Resuscitation (DNR) dan Allow Natural Death(AND)
Venneman et al, berpendapat bahwa Do Not Resuscitation adalah bermasalah dan
harus diganti dengan membiarkan mati wajar atau Allow Natural Death (AND),10
akan tetapi beberapa penulis mengatakan bahwa Do Not Resuscitation(DNR) tidak
sama dengan Allow Natural Death (AND). Beberapa studi menyimpulkan bahwa
85% dari tenaga kesehatan umumnya mendukung perubahan DNR ke AND, dan
pada umumnya mereka sepakat bahwa AND bukan urutan pengganti DNR.10 RJP
telah disetujui oleh American Heart Association tahun 1974 dan sejak itu, semakin
banyak rumah sakit dan asosiasi medis profesional telah mengadopsi pedoman
untuk DNR orders. DNR secara umum berarti bahwa pasien tidak akan menerima
RJP pada saat cardiac arrest.10 Surat Wasiat (Advanced Directives dan Living
Wills)