Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
Prevalensi ablasio retina didunia adalah 1 kasus dalam 10.000 populasi. Biasanya
ablasio retina terjadi pada usia 40-70 tahun. Prevalensi meningkat pada beberapa keadaan
seperti Miopi tinggi, Afakia/pseudofakia dan trauma.

Pada penderita penderita ablasio

retina ditemukan adanya Miopia sebesar 55%, lattice degenerasi 20 30 %, trauma 10-20 %
dan Afakia/pseudofakia 30 40 %. Traumatik ablasio retina lebih sering terjadi pada orang
muda, dan ablasio retina akibat miopia yang tinggi biasa terjadi pada usia 25-45 tahun, dan
laki-laki memiliki resiko mengalami ablasio retina lebih besar dari perempuan.2
Insidensi dari ablasio retina di amerika serikat berkisar antara 1 dari 15.000 populasi,
dengan prevalensi 0,3% dari total populasi. Insidensi tahunan diperkirakan mencapai 10.000.
sumber lain mengatakan bahwa hubungan umur dengan idiopatik ablasio retina mencapai
12,5 kasus per 100.000 per tahunnya. Atau sekitar 28.000 kasus pertahun di amerika serikat.2
Ablasio retina jarang terjadi pada anak-anak, tetapi kadang-kadang dapat terjadi sebagai hasil
dari retinopati akibat prematur, tumor (retinoblastoma), trauma, atau myopia.2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Retna


Retina adalah selembar tipis jaringan saraf yang semi transparan, yang melapisi
bagian dalam dua pertiga posterior dinding bola mata. 1 Retina membentang hampir sama
jauhnya dengan badan silia dan berakhir pada tepi ora serrata. Permukaan luar retina sensorik
adalah bertumpuk dengan epitel pigmen retina dan dengan demikian berhubungan dengan
membran Bruch's, choroid, dan sclera. Di sebagian besar tempat, retina dan epitel pigmen
retina dapat dengan mudah terpisah untuk membentuk ruang subretinal, seperti terjadi di
ablasi retina. Tetapi pada diskus optikus, ora serrata, retina dan epitel pigmen retina yang
tegas terikat bersama-sama, sehingga membatasi penyebaran cairan subretinal di ablasi
retina.3
Lapisan retina, mulai dari aspek dalamnya, adalah sebagai berikut:
(1) lapisan membran limitan interna
(2) lapisan serat saraf, yang berisi akson sel ganglion melewati ke saraf optik

(3) lapisan sel ganglion


(4) lapisan plexiform dalam, yang berisi sambungan dari sel-sel ganglion dengan sel
amakrin dan bipolar
(5) lapisan nukleus dalam badan bipolar, amacrine, dan sel horizontal
(6) lapisan plexiform luar, yang berisi koneksi dari bipolar dan horizontal sel dengan
fotoreseptor
(7) lapisan nukleus dalam sel fotoreseptor
(8) lapisan membran limitan eksterna
(9) lapisan fotoreseptor batang dan segmen dalam dan luar kerucut
(10) Epitel pigmen retina. Lapisan dalam dari membran Bruch yang sebenarnya adalah
membran basal epitel pigmen retina.

Retina menerima suplai darah dari dua sumber: koriokapillaris yang berada di luar
membran Bruch, yang memasok sepertiga luar retina, termasuk plexiform luar, lapisan inti
luar, fotoreseptor, dan epitel pigmen retina, dan arteri sentralis retina, yang memasok dua
3

pertiga bagian retina. fovea seluruhnya diperdarahi oleh koriokapillaris dan rentan terhadap
kerusakan retina dapat diperbaiki ketika dilepas.3
Pembuluh darah retina memiliki lapisan endotel yang membentuk sawar darahretina. Lapisan endotel pembulu koroid dapat ditembus. Sawar darah-retina luar terletak
setinggi lapisan epitel pigmen retina.3

Retinal Pigment Epithelium (RPE)


RPE merupakan suatu lapis sel kuboid yang berasal dari neuroektoderm. Pada bagian
anterior RPE berlanjut menjadi epitel pigmen badan silier dan iris sedangkan pada bagian
posterior membran basalis RPE berfusi dengan serabut saraf papil nervus optikus. Sisi basal
RPE saling bersilangan secara rumit dengan lapisan dalam membran Bruch. Bagian lateral sel
sel RPE saling berikatan erat pada zonula adherens dan zonula occludens. Ikatan tersebut
merupakan sawar darah retina bagian luar (outer blood retinal barrier) yang mencegah
masuknya cairan dari lapisan koriokapiler. Permukaan apikal mempunyai vili yang
menyelubungi segmen luar fotoreseptor. Sawar darah retina bagian dalam (inner blood
retinal barrier) dibentuk oleh ikatan endotel pembuluh darah retina yang bersifat
impermeabel.4
RPE terdiri dari satu lapisan sel sel kuboid berpigmen. Bagian basal melekat erat
pada membran Bruch sedangkan bagian apeks berbentuk mirovilli yang berintegrasi pada
segmen luar fotoreseptor. Pada bagian tepi dari sel didekat apeks, sel sel melekat erat satu
dengan lainnya yang disebut tight junctions. Dengan demikian molekul molekul dan cairan
dari koroid tidak dapat melewati sel sel RPE. Hanya zat zat yang akan diperlukan akan
melewati RPE, sedangkan yang bersifat racun terhadap retina akan ditahan. Barier darah
retina ini termasuk salah satu fungsi penting dari RPE. Fungsi lain dari RPE adalah
membantu perlekatan neuroretina dengan RPE, proses katabolit retina dan ekses cairan,
menyerap sinar. 3
Korpus Vitreus
Korpus vitreus adalah suatu badan gelatin yang jernih dan avaskular

yang

membentuk dua pertiga dari volume dan berat mata. Vitreus terdiri dari 99% air dan 1%
meliputi dua komponen, yaitu kolagen dan asam hialuronat yang memberikan bentuk dan
konsistensi seperti gel vitreus. Vitreus mengisi ruangan yang dibatasi oleh lensa, retina dan
diskus optikus. Membran hialoid merupakan permukaan luar vitreus yang normalnya
4

berkontak dengan kapsul lensa posterior di anterior dan serat zonula, epitel pars plana dan
membran limitan interna retina di bagian posterior.5
Basis vitreus mempunyai luas 3 4 mm yang melekat erat pada ora serata. Jaringan
vitreus kortikal pada daerah ini lebih kuat perlekatannya. Perlekatan yang kuat antara korteks
vitreus dengan basis vitreus menyebabkan pada posterior vitreus detachment (PVD) akut
permukaan membran hialoid posterior meninggalkan sisa perlekatan pada batas posterior
basis vitreus. Trauma tumpul yang berat pada mata mengakibatkan tarikan basis vitreus
dengan robekan pars plana sepanjang batas anterior dan pada retina sepanjang batas
posterior.5
Vitreus bagian tengah terdapat ruang dengan diameter 1-2 mm memanjang dari
belakang ke arah kaput nervus optikus yang disebut Cloquets canal yang ke arah anterior
membentuk fossa patelar. Ligamen hialoideokapsular merupakan perlekatan sirkuler antara
tepi fosa patelar dan permukaan posterior lensa. Ruang yang terbentuk antara lensa dengan
fossa patelar disebut Bergers space. Cloquets canal ke arah posterior melebar dan
membentuk ruang yang disebut space of Martegiani.5
Perlekatan vitreus paling kuat terletak pada basis vitreus. Basis vitreus
mempertahankan perlekatan pada lapisan epitel pars plana dan retina yang terletak di
belakang ora serata. Tempat perlekatan vitreus lain yang relatif kuat di sekeliling tepi diskus
optikus, sedangkan di sekeliling fovea dan pembuluh darah retina perifer perlekatannya
lemah. 5

Koroid

Koroid melapisi bagian posterior dari retina. Struktur ini terdiri dari tiga lapisan
pembuluh darah yaitu lapisan koriokapiler yang bersifat permeabel pada bagian dalam,
lapisan pembuluh darah kecil pada bagian tengah dan lapisan pembuluh darah besar pada
bagian luar. Lapisan ini menebal pada bagian posterior dan menipis pada bagian anterior bola
mata.5
2.2 Fisiologi Retina
Retina adalah jaringan paling kompleks dimata. Untuk melihat, mata harus berfungsi
sebagai suatu alat optik, sebagai suatu reseptor kompleks, dan sebagai suatu tranduser yang
elektif. Sel sel batang dan kerucut dilapisan foto reseptor mampu mengubah rangsang
cahaya menjadi suatu impuls saraf yang dihantarkan oleh lapisan serat saraf retina melalui
saraf optikus dan pada akhirnya ke korteks penglihatan.3
Makula bertanggung jawab untuk ketajaman penglihatan yang terbaik dan untuk
penglihatan warna, dan sebagian besar selnya adalah sel kerucut. Di fovea sentralis, terdapat
hubungan hampir 1 : 1 antara fotoreseptor kerucut, sel ganglionnya, dan serat saraf yang
keluar, dan hal ini menjamin penglihatan yang paling tajam. Di retina perifer, banyak
fotoreseptor dihubungkan ke sel ganglion yang sama, dan diperlukan sistem pemancar yang
lebih kompleks. Akibat dari susunan seperti itu adalah bahwa makula terutama di gunakan
untuk penglihatan sentral dan warna (penglihatan fotopik) sedangkan bagian retina lainnya,
yang sebagian besar terdiri dari fotoreseptor batang, digunakan terutama untuk penglihatan
perifer dan malam (skotopik). 7
Fotoreseptor kerucut dan batang terletak di lapisan terluar yang avaskular pada retina
sensorik dan merupakan tempat berlangsungnya reaksi kimia yang mencetuskan proses
penglihatan. Setiap sel fotoreseptor kerucut mengandung rodopsin, yang merupakan suatu
pigmen penglihatan fotosensitif yang terbentuk suatu molekul protein opsin bergabung
dengan 11-sis-retinal. Sewaktu foto cahaya di serap oleh rodopsin, 11-sis-retinal segera
mengalami isomerisasi menjadi bentuk all-trans. Rodopsin adalah suatu glukolipid membran
yang separuh terbenam dilempeng membran lapis ganda pada segmen paling luar
fotoreseptor. Penyerapan cahaya puncak pada rodopsin terjadi pada panjang gelombang
sekitar 500 nm, yang terletak di daerah biru-hijau pada spektrum cahaya. 7
Penglihatan skotopik seluruhnya diperantarai oleh fotoreseptor sel batang. Pada
bentuk penglihatan adaptasi gelap ini, terlihat bermacam macam nuansa abu abu, tetapi
warna tidak dapat dibedakan. Sewaktu retina telah beradaptasi sepenuhnya, sensitivitas
spektral retina bergeser dari puncak dominasi rodopsin 500 nm ke sekitar 560 nm, dan
6

muncul sensasi warna. Suatu benda akan berwarna bila benda tersebut mengandung
fotopigmen yang menyerap panjang - panjang gelombang tertentu dan secara selektif
memantulkan atau menyalurkan panjang panjang gelombang tertentu di dalam spektrum
sinar tampak (400 700 nm). Penglihatan siang hari terutama diperantarai oleh fotoreseptor
kerucut, sore / senja diperantarai oleh kombinasi sel batang dan kerucut, dan penglihatan
malam oleh fotoreseptor batang. Warna retina biasanya jingga dan kadang kadang pucat
pada anemia dan iskemia dan merah pada hiperemia. 7
Pembuluh darah di dalam retina merupakan cabang arteri opthalmika, arteri retina
sentralis masuk retina melalui papil saraf optik yang akan memberikan nutrisi pada retina
dalam. Lapisan retina luar atau sel kerucut dan batang mendapat nutrisi dari koroid. 7
Untuk melihat fungsi retina maka dilakukan pemeriksan subjektif retina seperti tajam
penglihatan, penglihatan warna dan lapang pandang. pemeriksaan objektif adalah
opthalmoskop direct dan indireck, slitlamp (biomikroskop), elektroretinografi (ERG),
elektrookulografi (EOG), dan visual evoked respons (VER). 7
Mekanisme Perlekatan Retina Normal
Retina dan lapisan epitel berpigmen dalam keadaan normal tidak dapat dipisahkan.
Keadaan ini berhubungan dengan struktur di sekitar retina sensoris yang masing masing
memiliki peranan penting dalam mempertahankan retina dalam keadaan attached. Secara
normal retina melekat sangat erat pada epitel pigmen retina (EPR) dan tidak akan lepas
kecuali pada beberapa keadaan patologis. Vitreous melekat dianterior pada retina perifer, pars
plana, dan sekitar lempeng optik dan agak longgar pada makula dan pembuluh darah retina.
Basis vitreous mempertahankan penempelan yang kuat sepanjang hidup ke lapisan epitel pars
plana dan retina tepat dibelakang ora serata.4
Retina yang attached memerlukan lima hal yang harus berfungsi baik, yaitu fungsi
korpus vitreous sebagai tamponade internal, adanya matrik interfotoreseptor, tekanan negatif
yang dihasilkan oleh fungsi transpor RPE, sawar darah retina yang intak, dan tekanan
osmotik koriokapilaris yang akan menarik cairan dari ruang subretina. 4
Korpus vitreous yang dibungkus oleh membran hialoid yang berhadapan langsung
dengan kapsul posterior lensa di anterior dan sisanya berhadapan dengan membran limitan
interna retina. Karena posisinya ini korpus vitreous berperan sebagai tamponade internal. 4
Matriks interfotoreseptor yang dihasilkan RPE berfungsi sebagai pelekat yang
melekatkan retina dengan RPE. Matriks ini mengandung protein, glikoprotein dan
glikosaminoglikan yang melapisi setiap fotoreseptor dan melekatkannya dengan RPE. Adhesi
7

antara retina dan RPE ini yang mempertahankan retina pada tempatnya, kecuali ada tarikan
kuat seperti traksi dari vitreous yang akan melepaskan adhesi ini. Struktur dan fungsi adhesi
matriks interfotoreseptor ini tergantung pada derajat hidarasi dan kandungan ion, yang
keduanya dikontrol oleh fungsi transpor sel RPE. 4
Tekanan negatif terjadi oleh fungsi transpor selektif bersama dengan adanya tight
junction antara sel RPE yang tidak memungkinkan difusi cairan secara pasif melalui RPE.
Keadaan ini menyebabkan retina attached. 4
Bagian apikal pada badan sel menunjukkan aktivitas metabolik. Keadaan ini
memungkinkan RPE berperan sebagai sawar darah retina dan berfungsi mengontrol
masuknya cairan dan nutrisi yang sangat penting bagi fotoreseptor. Membran RPE bagian
apikal dan basal mengandung kanal kanal ion selektif yang berperan dalam transpor aktif
air, ion, glukosa dan asam amino. Pompa Na-K berada pada membran basal, dan pompa
klorida-bikarbonat berada pada membran apikal. Potensial listrik yang dihasilkan dari kerja
ion ion mengontrol cairan di ruang subretinal. Fungsi transpor aktif ini memerlukan RPE
yang intak. 4
2.3 Definisi Ablasio Retina
Ablasio retina adalah suatu kelainan pada mata yang disebabkan karena terpisahnya
lapisan Neuroretina dari lapisan Epitel Pigmen retina sehingga terdapat cairan didalam
rongga subretina atau karena adanya suatu tarikan pada retina oleh jaringan ikat atau
membran vitreoretina.1
Istilah ablasio retina menandakan pemisahan retina sensorik, yaitu foto reseptor dan
lapisan jaringan dibagian dalam, dari epitel pigmen retina dibawahnya. Biasanya Ablasio
retina ini adalah suatu kelainan yang berhubungan dengan meningkatnya usia dan miopia
tinggi, dimana akan terjadi perubahan degeneratif pada retina dan vitreous. 3 Ablasio retina
dibagi menjadi tiga, berdasarkan penyebabnya : Ablasio retina regmatogenosa, Ablasio retina
traksional,dan Ablasio retina eksudatif. 2

2.4 Patogenesis
Ruangan potensial antara neuroretina dan epitel pigmennya sesuai dengan rongga
vesikel optik embriogenik. Kedua jaringan ini melekat longgar, pada mata yang matur
dapat berpisah :6,7
1. Jika terjadi robekan pada retina, sehingga vitreus yang mengalami likuifikasi dapat
memasuki ruangan

subretina

dan menyebabkan ablasio progresif (ablasio

regmatogenosa).

Ablasio Retina Regmatogenosa dengan horshoe tear

1. Terjadi akibat akumulasi cairan subretinal dengan tanpa adanya robekan retina
ataupun traksi pada retina. Pada penyakit vaskular, radang, atau neoplasma retina,
epitel pigmen, dan koroid, maka dapat terjadi kebocoran pembuluh darah sehingga
berkumpul di bawah retina. Walaupun jarang terjadi, bila cairan berakumulasi dalam
ruangan subretina akibat proses eksudasi, yang dapat terjadi selama toksemia pada
kehamilan (ablasio retina eksudatif)

Ilustrasi Ablasi Retina Eksudatif13

2. Terjadi pembentukan yang dapat berisi fibroblas, sel glia, atau sel epitel pigmen
retina. Awalnya terjadi penarikan retina sensorik menjauhi lapisan epitel di sepanjang
daerah vaskular yang kemudian dapat menyebar ke bagian retina midperifer dan
makula. Pada ablasio tipe ini permukaan retina akan lebih konkaf dan sifatnya lebih
terlokalisasi tidak mencapai ke ora serata. Jika retina tertarik oleh serabut jaringan
kontraktil pada permukaan retina, misalnya seperti pada retinopati proliferatif pada
diabetes mellitus (ablasio retina traksional).

2.4 Klasifikasi
Pemisahan retina sensoris dari lapisan epitel retina disebabkan oleh tiga mekanisme
dasar. Tiga mekanisme dasar pemisahan retina sensoris dari lapisan epitel retina ialah 2
:
1. Lubang atau robekan di lapisan saraf yang menyebabkan cairan vitreous
masuk dan memisahkan antara lapisan neuro retina dan lapisan epitel pigmen.
(ablasio retina regmatogenosa).
2. Traksi dari inflamasi dan membran fibrosa vaskular pada permukaan retina,
yang terikat pada vitreous. (ablasio retina traksional)
3. Pengeluaran eksudat kedalam ruang subretina. Eksudat ini berasal dari
pembuluh darah retina, yang disebabkan oleh karena hipertensi, oklusi vena
retina setralis, vaskulitis, atau papiledema. (ablasio retina eksudatif)

10

Ablasio

retina

dapat

berhubungan

dengan

kelainan

kongenital,

gangguan

metabolisme, trauma (termasuk operasi mata sebelumnya), penyakit vaskuler, tumor koroidal,
miopia tinggi atau penyakit vitreous, atau degenerasi.

2.4.1 Ablasio Retina Regmatogenosa


Ablasio retina regmatogenosa adalah lepasnya sensory retina yang disebabkan oleh
terjadinya traksi vitreoretinal.5 Perlekatan vitreoretinal yang kuat dapat menyebabkan
terjadinya robekan, sehingga cairan dapat masuk keantara sel pigmen epitel dengan retina,
dan terjadi pendorongan retina oleh cairan vitreous yang masuk melalui robekan atau lubang
pada retina ke rongga subretina sehingga mengapungkan retina dan terlepas dari lapis epitel
pigmen koroid.2
Ablasio retina regmatogenosa adalah kasus ablasio retina yang paling sering terjadi.
Karakteristik ablasio regmatogenosa adalah pemutusan total pada retina sensorik. Ablasio
retina regmatogenosa spontan biasanya didahului atau disertai oleh pelepasan korpus
vitreum. Miopia, afakia, degenerasi lattice, dan trauma mata biasanya berkaitan dengan
ablasio retina jenis ini.3
Ablasio retina yang berlokalisasi di daerah supratemporal sangat berbahaya karena
dapat mengangkat makula. Penglihatan akan turun secara akut pada ablasio retina bila
dilepasnya retina mengenai makula lutea.4 Pada pemeriksaan fisik dapat terlihat Cell dan flare
dibilik depan mata pada ablasio retina regmatogenosa, serta terdapat pigmen dalam vitreous
anterior (tobacco dusting atau Shaffer sign).5 Pada pemeriksaan funduskopi akan terlihat
retina yang terangkat berwarna pucat dengan pembuluh darah di atasnya dan terlihat adanya
11

robekan retina berwarna merah dan apabila bola mata bergerak akan terlihat retina yang lepas
bergoyang-goyang.2
Jika diperhatikan dengan seksama terdapat satu atau lebih pemutusan retina total,
misalnya robekan berbentuk tapal kuda, lubang atrofik bundar, atau robekan sirkumferensial
anterior (dialisis retina).
Letak pemutusan retina bervariasi sesuai dengan jenis; robekan tapal kuda paling
sering terjadi di kuadran supratemporal, lubang atrofik di kuadran temporal, dan dialisis
retina di kuadran inferotemporal. Apabila terdapat robekan retina multipel, maka defek
biasanya terletak dalam 90 derajat satu sama lain. 4Pada ablasio retina regmatogenosa kronis
dapat disertai dengan penipisan retina, kista intraretinal, dan fibrosis subretinal.5
Terdapat juga pre-evaluasi untuk menilai derajat atau luas robekan yang terjadi pada
ablsio retina regmatogenosa (ARR) yaitu Lincoff Rules.

Rule 1

Rule 2

Rule 3

Rule 4

Rule 1- Temporal superior atau nasal. ARR: Sekitar 98% kasus robekan primer
seluas kurang dari sudut jam 1.30 dari bagian atas.
Rule 2- Seluruh atau bagian atas ARR melewati sudut jam 12 Meridian: Sekitar 93%
kasus robekan pada sudut jam 12 meridian.

12

Rule 3- ablasio bagian bawah: sekitar 95% kasus robekan pada bagian atas ARR
sebagai petanda diskus bagian atas terjadi robekan.
Rule 4- bullous bawah: Tipe ini merupakan lanjutan dari robekan bagian atas

Gambar 1. gambaran regmatogenosa ablasi retina. Perhatikan bahwa makula terlibat dan bahwa retina
bergelombang dan memiliki warna yang sedikit buram.

Gambar 2. gambaran ablasi retina regmatogenosa melibatkan makula. Perhatikan lipatan temporal
pada fovea tersebut.

2.4.2 Ablasio Retina Traksional


Ablasio retina traksional adalah lepasnya jaringan retina yang terjadi akibat tarikan
jaringan parut pada korpus vitreous dan disertai penglihatan turun tanpa rasa sakit. 4 Ablasio
retina akibat traksional adalah jenis tersering kedua dan terutama disebabkan oleh retinopati
diabetes proliferatif, vitreoretinopati proliferatif, retinopati pada prematuritas, atau trauma
mata, kontraktil vitreoretina, epiretina, intraretina (sangat jarang) atau subretina membran
yang mendorong neurosensory retina menjauh dari epitel pigmen retina.7
13

Vitreoretinopati proliferatif dapat mewakili respon penyembuhan luka yang tidak


tepat atau tidak terkontrol. Pemeriksaan mikroskopis membran ini telah mengungkapkan
komposisi selular mereka. sel epitel pigmen retina, sel glial, fibrocytes, makrofag, dan fibril
kolagen merupakan komponen penting membran ini. sel-sel epitel pigmen retina adalah
pemain utama dalam membran. Mereka mendapatkan akses ke dalam rongga vitreous selama
kerusakan retina. Telah terbukti bahwa jumlah sel-sel epitel pigmen retina dalam rongga
vitreous berkorelasi dengan ukuran kerusakan retina. Semakin besar kerusakan semakin besar
jumlah sel epitel pigmen retina didalam rongga vitreous.7
Proses patologik dasar pada mata yang mengalami vitreoretinopati proliferatif adalah
pertumbuhan dan kontraksi membran selular di kedua sisi retina dan di permukaan korpus
vitreum posterior.3
Berbeda dengan penampakan konveks pada ablasio regmatogenosa, ablasio retina
akibat traksi yang khas memiliki permukaan yang lebih konkaf dan cenderung lebih lokal,
biasanya tidak meluas ke ora serata. Gaya-gaya traksi yang secara aktif menarik retina
sensorik menjauhi epitel pigmen di bawahnya. Pada ablasio retina akibat traksi pada diabetes,
kontraksi korpus vitreum menarik jaringan fibrovaskular dan retina di bawahnya ke arah
anterior menuju dasar korpus vitreum. Pada awalnya pelepasan mungkin terbatas di
sepanjang arcade - arkade vaskular, tetapi dapat terjadi perkembangan sehingga kelainan
melibatkan retina midperifer dan makula. Traksi fokal dari membran selular dapat
menyebabkan robekan retina dan menimbulkan kombinasi ablasio retina regmatogenosatraksional.3

14

Gambar 3. Pasien dengan oklusi vena retina sentral komplikasi dengan oleh neovaskularisasi pada disk dengan
ablasi retina traksional berikutnya.

Gambar 4. Pasien mengalami sclera buckling untuk ablasi retina regmatogenosa. Sekarang, pasien
menyajikan dengan vitreoretinopathy proliferasi dengan membran yang cenderung memisahkan
retina.

Gambar 5. Pasien dengan diabetes retinopati proliferatif disertai ablasio retina traksional dibagian
supratemporal.

2.4.3 Ablasio Retina Eksudatif


Ablasio retina eksudatif adalah lepasnya retina yang terjadi akibat tertimbunnya
cairan di bawah retina sensorik dan terutama disebabkan oleh penyakit epitel pigmen retina
dan koroid.3 Kelainan ini dapat terjadi pada skleritis, koroiditis, tumor retrobulbar, radang
uvea, idiopati, toksemia gravidarum. Cairan di bawah retina tidak dipengaruhi oleh posisi
kepala. Permukaan retina yang terangkat terlihat cincin. Pada ablasio tipe ini penglihatan
dapat berkurang dari ringan sampai berat. Ablasio ini dapat hilang atau menetap bertahuntahun setelah penyebabnya berkurang atau hilang.4
15

Komposisi cairan interstisial choroidal memainkan peranan penting dalam


patogenesis dari ablasio retina serosa dan hemoragik. Komposisi cairan interstisial choroidal
pada gilirannya dipengaruhi oleh tingkat permeabilitas vaskular koroidalis. Setiap proses
patologis yang mempengaruhi permeabilitas pembuluh darah choroidal berpotensi
menyebabkan ablasi retina eksudatif. Akan tetapi kerusakan pada epitel pigmen retina dapat
mencegah pemompaan cairan dan dapat menyebabkan akumulasi cairan dalam ruang
subretinal. Beberapa inflamasi, infeksi, pembuluh darah, kondisi patologis degeneratif, ganas,
atau ditentukan secara genetik telah diakui menyebabkan ablasio retina eksudatif.8
Lepasnya retina bulosa dengan pergeseran cairan subretinal: Tergantung pada posisi
pasien, dan letak cairan terakumulasi. Segmen anterior dapat menunjukkan tanda-tanda
peradangan (misalnya, injeksi episcleral, iridocyclitis) atau bahkan rubeosis tergantung pada
penyebab yang mendasari. Dalam kasus-kasus kronis pengendapan eksudat keras dapat
dilihat, teleangiektasis pembuluh darah dapat dilihat.8

Gambar 6. Perhatikan eksudat di makula

2.5 Gejala Klinis


Gejala klinis dari ablasio retina regmatogenosa adalah :
1. Fotopsia dan floaters.
Pada awal penyakit biasanya penderita mengeluh melihat kilatan cahaya (fotopsia)
maupun melihat adanya bercak bercak yang bergerak pada lapangan penglihatanya
(floaters). Setelah itu timbul bayangan pada lapangan pandang perifer yang jika
diabaikan akan menyebar dan melibatkan seluruh lapangan penglihatan.6 Dalam
16

keadaan normal stimulasi terhadap retina terjadi jika terdapat cahaya. Namun retina
juga dapat terstimulasi jika terdapat kerusakan mekanik. Saat terjadi kerusakan
mekanik akibat separasi badan kaca posterior, akan terjadi pelepasan fosfen lalu
retina akan terstimulasi dan terjadilah sensasi cahaya yang dirasakan oleh penderita
sebagai kilatan cahaya (fotopsia).7 Floaters (melihat bercak bergerak) merupakan
gejala yang umum di populasi namun etiologinya harus dibedakan karena banyak
penyakit dapat menimbulkan gejala ini. Floaters yang timbul mendadak dan terlihat
sebagai

bercak-bercak

besar

pada

tengah

lapangan

penglihatan

biasanya

mengindikasikan posterior vitreous detachment (PVD). Pasien akan mengeluh


timbulnya floaters seperti cincin jika vitreous terlepas dari insersinya yang anular
pada papil nervus optikus. Floaters berupa garis-garis kurva timbul pada degenerasi
badan kaca. Kadang-kadang timbul ratusan bintik-bintik hitam dibelakang mata. Hal
ini patognomonik untuk perdarahan vitreus sebagai akibat pecahnya pembuluh darah
retina akibat robekan atau lepasnya perlekatan badan kaca pada retina. Beberapa saat
setelah itu dapat timbul jaring laba-laba yang mengindikasikan pembentukan klot
(bekuan darah). Sebagai catatan lokasi dari kilatan cahaya maupun floaters dalam
lapangan pandang ini tidak menunjukkan lokasi defek pada retina.7
3. Penurunan visus
Gejala ini dapat terjadi jika ablasi melibatkan makula dan kadang kadang benda
terlihat seperti bergetar atau disebut pula metamorphopsia.1,7
4. Defek lapangan pandang
Gejala ini adalah merupakan gejala lanjut dari ablasio retina. Pasien biasanya
mengeluh hanya bisa melihat setengah bagian, bisa hanya melihat bagian atas atau
hanya bisa melihat bagian bawah. Berbeda dengan lokasi fotopsia dan floaters yang
tidak menunjukkan lokasi kerusakan, Defek lapangan pandang sangat spesifik untuk
menentukan lokasi dari robekan atau ablasi retina. Ablasi di depan ekuator tidak
dapat dinilai melalui pemeriksaan lapangan pandang. Sedangkan lesi di belakang
ekuator dapat ditentukan dengan pemeriksaan lapangan pandang namun biasanya
tidak jelas dirasakan sebelum melibatkan makula. Defek lapangan pandang di
superior menunjukan ablasio retina di inferior, sedangkan defek lapangan pandang di
inferior menunjukkan ablasio retina superior.4,7
2.6 Diagnosis
17

Diagnosis ablasio retina ditegakan dari anamnesis dimana pasien mengeluhkan gejalagejala yang telah disebutkan di atas. Dari pemeriksaan visus didapatkan penurunan tajam
penglihatan akibat macula lutea ataupun kekeruhan pada media refraksi. Apabila makula
lutea ikut terangkat maka penglihatan akan sangat menurun. Pemeriksaan lapangan pandang
dimana akan terjadi defek lapangan pandang seperti tertutup tabir atau bisa juga pasien
melihat seperti pijaran api.4,5
Diagnosis pasti ditegakkan dengan oftalmoskopi. Direct oftalmoscopy dapat mendeteksi
perdarahan vitreus dan ablasi retina yang luas. Daerah ablasi ditandai dengan daerah abu-abu
dengan warna pembuluh darah lebih gelap yang terletak pada daerah yang melipat. Daerah
ablasi akan terlihat berundulasi atau bergelombang ketika mata digerakkan, namun jika ablasi
masih dangkal akan sangat sulit untuk dievaluasi. Dengan daya pandang pemeriksaan yang
sempit sering diagnosis ablasio retina terlewatkan, oleh karena itu perlu dilakukan
pemeriksaan secara indirek yang secara signifikan meningkatkan visualisasi fundus bagian
perifer.6,8
Pemeriksaan penunjang lain yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan ultrasonografi
yaitu ocular B-scan ultrasonografi. Dengan ini bisa membantu mendiagnosis ablasio retina
dan keadaan patologis yang menyertai seperti proliverative vitreoretinopati. Bisa juga
digunakan untuk mengetahui kelainan yang menyebabkan ablasio retina eksudatif misalnya
tumor dan posterior skleritis. Pemeriksaan dengan slit lamp biomicroscopy dimana biasanya
kamera okuli anterior ditemukan dalam batas normal. Pada pemeriksaan badan kaca kadangkadang ditemukan adanya pigmen yang terlihat sebagai tobacco dust. Hal ini merupakan
tanda patognomonik untuk robekan retina pada 70 % kasus tanpa riwayat penyakit mata atau
pembedahan sebelumnya.6

2.7 Diagnosis Banding13


1. Retinosiklis senil : terlihat lebih transparan
2. Separasi koroid :

- Terlihat lebih gelap


- Dapat melewati ora serrata

3. Tumor koroid (melanoma maligna)


18

2.8 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan ablasio retina saat ini hanya dapat dilakukan dengan operasi,
penatalaksanaan medika mentosa biasa tidak dapat mengobati penyakit ini. Beberapa teknik
operasi pada ablasio retina :
1. Scleral buckle
Metode ini paling banyak digunakan pada ablasio retina regmatogenosa terutama
tanpa disertai komplikasi lainnya. Prosedur meliputi lokalisasi posisi robekan retina,
menangani robekan dengan cryoprobe, dan selanjutnya dengan scleral buckle (sabuk). Sabuk
ini biasanya terbuat dari spons silikon atau silikon padat. Ukuran dan bentuk sabuk yang
digunakan tergantung lokasi dan jumlah robekan retina. Pertama-tama dilakukan cryoprobe
atau laser untuk memperkuat perlengketan antara retina sekitar dan epitel pigmen retina.
Sabuk dijahit mengelilingi sklera sehingga terjadi tekanan pada robekan retina sehingga
terjadi penutupan pada robekan tersebut. Penutupan retina ini akan menyebabkan cairan
subretinal menghilang secara spontan dalam waktu 1-2 hari.9

19

2. Pneumatic retinopexi
Pneumatic retinopexi merupakan metode yang juga sering digunakan pada ablasio
retina regmatogenosa terutama jika terdapat robekan tunggal pada bagian superior retina.
Teknik pelaksanaan prosedur ini adalah dengan menyuntikkan gelembung gas ke dalam
rongga vitreus. Gelembung gas ini akan menutupi robekan retina dan mencegah pasase cairan
lebih lanjut melalui robekan. Jika robekan dapat ditutupi oleh gelembung gas, cairan
subretinal biasanya akan hilang dalam 1-2 hari. Robekan retina dapat juga dilekatkan dengan
kriopeksi atau laser sebelum gelembung disuntikkan. Pasien harus mempertahankan posisi
kepala tertentu selama beberapa hari untuk meyakinkan gelembung terus menutupi robekan
retina.9

3. Vitrektomi
Vitrektomi merupakan cara yang paling banyak digunakan pada ablasio akibat
diabetes, dan juga digunakan pada ablasio regmatogenosa yang disertai traksi vitreus atau
20

perdarahan vitreus. Cara pelaksanaannya yaitu dengan membuat insisi kecil pada dinding
bola mata kemudian memasukkan instrumen hingga ke cavum vitreous melalui pars plana.
Setelah itu dilakukan vitrektomi dengan vitreus cutter untuk menghilangkan berkas badan
kaca (vitreous strands), membran, dan perlekatan-perlekatan. Teknik dan instrumen yang
digunakan tergantung tipe dan penyebab ablasio.9

21

BAB IV
KESIMPULAN

Ablasio retina adalah suatu kelainan pada mata yang disebabkan karena terpisahnya
lapisan Neuroretina dari lapisan Epitel Pigmen retina akibat adanya cairan di dalam rongga
subretina atau akibat adanya suatu tarikan pada retina oleh jaringan ikat atau membran
vitreoretina. Ablasio retina merupakan suatu kegawat daruratan karena dapat menyebabkan
kebutaan bagi penderitanya.
Ablasio retina berdasarkan penyebabnya dibagi menjadi tiga, ialah ablasio retina
regmantogenosa, Ablasio retina traksional dan Ablasio retina eksudatif.5
Penatalaksanaan ablasio retina saat ini hanya dapat dilakukan dengan operasi,
penatalaksanaan medika mentosa biasa tidak dapat mengobati penyakit ini. Terdapat beberapa
teknik dalam operasi ablasio retina antara lain, Sklera buckling yang mendekatkan sklera
pada retina yang robek, menjadikan reposisi retina lebih dekat ke epitel pigmen retina dengan
mengurangi tarikan vitreus pada retina yang robek, pneumatic retinopexi yang digunakan
digunakan pada ablasio retina tertentu yang disebabkan robekan pada 2/3 superior yang
tampak pada fundus dimana prosedur ini memakai gelembung gas yang disuntikkan dalam
ruang intravitreal untuk menekan retina yang robek sampai retina itu melekat kembali, dan
Vitrektomi bertujuan melepaskan tarikan vitreus, drainase internal cairan subretinal,
22

tamponade intra okuler (udara, gas, silicon oil, cairan perfluorocarbon), dan membuat adhesi
chorioretinal memakai endolaser photocoagulation atau cryopexy.9

DAFTAR PUSTAKA
1. "Retinal detachment". MedlinePlus Medical Encyclopedia. National Institutes of
Health.

2005.

Retrieved

2006-07-18.

[online]

available

from

URL:

http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001027.htm
2. Larkin GL. Retinal Detachment. [online]. 2009 Nov 23: Available from:
URL: http://emedicine.medscape.com/article/798501-overview
3. Vaughan DG, Asbury T, Eva PR. Retina & Tumor Intraokular. In: Oftalmologi Umum.
14th ed. Widya Medika: Jakarta; 2006:197, 207-9.
4. Ilyas S, dkk. Ablasio Retina. Dalam: Sari Ilmu Penyakit Mata. Cetakan ke-4. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; 2007

23

5. Lihteh Wu. Retinal Detachment, Rhegmatogenous. [online]. 2010 feb 18 : available


from: URL: http://emedicine.medscape.com/article/1224737-overview
6. "Retinal
detachment".
[online]
:
available
from

URL:

http://www.bissy.scot.nhs.uk/master_code/medcon/detail2_body.asp?
Recno=23069583&CategoryTitle=16777233
7. Lihteh Wu. Retinal Detachment, Traction. [online]. 2010 feb 18 : available from:
URL: http://emedicine.medscape.com/article/1224891-overview
8. Lihteh Wu. Retinal Detachment, Exudative. [online]. 2010 feb 23 : available from:
URL: http://emedicine.medscape.com/article/1224509-overview
9. The Northwest Kansas Eye Clinic, located in Hays, Kansas, [online]. available from:
URL: http://www.nwkec.org/005rd010.htm
10. Analogy with the Rods and Cones of the Eye's Retina. [online] : available from :
URL: http://hamwaves.com/antennas/diel-rod.html
11. Eye anatomy. [online] : available from : URL: http://www.eyesod.com/anatomy.htm
12. Eye
disease
library.
[online]
:
available
from
:
URL:
http://www.bethesdaretina.com/library.htm
13. RSUD dr. Soetomo. Pedoman Diagnosis dan Terapi Bag / SMF Ilmu Penyakit Mata
Edisi III. Surabaya. 2006
14. Kanski, JJ. Chemical Injuries. Clinical Opthalmology. Edisi keenam. Philadelphia:
Elseiver Limited. 2000.

24

Anda mungkin juga menyukai