Anda di halaman 1dari 24

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah
ini dengan judul PNEUMONIA . Makalah ini di susun dalam rangka memenuhi
tugas khusus

Program Studi

Apoteker di Universitas 17 Agustus 1945 .

Penulis menyadari bahwa dalam menyusun makalah ini masih jauh dari
sempurna, untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya
membangun guna sempurnanya makalah ini. Penulis berharap semoga makalah ini
dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca umumnya. Dalam
menyusun makalah ilmiah ini, penulis banyak memperoleh bantuan serta bimbingan
dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan ucapan terima
kasih kepada Dosen Pembimbing dan kepada teman teman yang telah mendukung

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pneumonia merupakan masalah kesehatan di dunia karena angka kematiannya
tinggi, tidak saja dinegara berkembang, tapi juga di negara maju seperti AS, Kanada
dan negara-negara Eropa. Di AS misalnya, terdapat dua juta sampai tiga juta kasus
pneumonia per tahun dengan jumlah kematian rata-rata 45.000 orang.Di Indonesia,
pneumonia merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah kardiovaskuler dan
tuberkulosis. Faktor sosial ekonomi yang rendah mempertinggi angka kematian.
Gejala Pneumonia adalah demam, sesak napas, napas dan nadi cepat, dahak berwarna
kehijauan atau seperti karet, serta gambaran hasil ronsen memperlihatkan kepadatan
pada bagian paru. Kepadatan terjadi karena paru dipenuhi sel radang dan cairan yang
sebenarnya merupakan reaksi tubuh untuk mematikan luman. Tapi akibatnya fungsi
paru terganggu, penderita mengalami kesulitan bernapas, karena tak tersisa ruang
untuk oksigen. Pneumonia yang ada di masyarakat umumnya, disebabkan oleh
bakteri, virus atau mikoplasma ( bentuk peralihan antara bakteri dan virus ). Bakteri
yang umum adalah streptococcus Pneumoniae, Staphylococcus Aureus, Klebsiella Sp,
Pseudomonas sp,vIrus misalnya virus influensa.
Pneumonia sebenarnya bukan peyakit baru. American Lung Association
misalnya, menyebutkan hingga tahun 1936 pneumonia menjadi penyebab kematian
nomor satu di Amerika. Penggunaan antibiotik, membuat penyakit ini bisa dikontrol

beberapa tahun kemudian. Namun tahun 2000, kombinasi pneumonia dan influenza
kembali merajalela dan menjadi penyebab kematian ketujuh di negara itu.
Pneumonia menyebabkan infeksi paru meradang. Kantung-kantung udara
dalam paru yang disebut alveoli dipenuhi nanah dan cairan sehingga kemampuan
menyerap oksigen menjadi kurang. Kekurangan oksigen membuat sel-sel tubuh tidak
bisa bekerja. Gara gara inilah, selain penyebaran infeksi ke seluruh tubuh, penderita
pneumonia bisa meninggal. Sebenarnya pneumonia bukanlah penyakit tunggal.
Penyebabnya bisa bermacam-macam dan diketahui ada 30 sumber infeksi, dengan
sumber utama bakteri, virus, mikroplasma, jamur, berbagai senyawa kimia maupun
partikel. Mengingat tentang bahaya penyakit pneumonia maka perawat harus tahu apa
Pneumonia itu dan bagaimana cara merawat pasien dengan penyakit Pneumonia.

1.2 Tujuan
1 Mengetahui definisi Pneumonia dan jenis jenis Pneumonia
2 Mengetahui etiologi Pneumonia
3. Mengetahui patofisiologi Pneumonia
4. Mengetahui manifestasi klinis Pneumonia
5. Mengetahui pemeriksaan diagnostic Pneumonia
6.Penatalaksanaan medis penyakit Pneumonia
7. Mengetahui komplikasi penyakit Pneumonia
8. Prognosis Pneumonia
9. Cara penularan penyakit Pneumonia
10. Pencegahan penyakit Pneumonia

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Pneumonia adalah suatu infeksi dari satu atau dua paru-paru yang biasanya
disebabkan oleh bakteri-bakteri, virus-virus, atau jamur. Pneumonia adalah infeksi
yang menyebabkan paru-paru meradang. Kantung-kantung udara dalam paru yang
disebut alveoli dipenuhi nanah dan cairan sehingga kemampuan menyerap oksigen
menjadi kurang. Di dalam buku Pedoman Pemberantasan Penyakit ISPA untuk
Penanggulangan Pneumonia pada Balita, disebutkan bahwa pneumonia merupakan
salah satu penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) yang mengenai bagian
paru (jaringan alveoli) (Depkes RI, 2004:4)
Pneumonia adalah infeksi saluran pernafasan akut bagian bawah yang
mengenai parenkim paru. Menurut anatomis, pneumonia pada anak dibedakan
menjadi pneumonia lobaris, pneumonia interstisialis, dan bronkopneumonia (
Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari
bronkiolus respiratorius dan alveoli, serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan
gangguan pertukaran gas setempat (Dahlan, 2007).

Klasifikasi pneumonia antara lain:


1. Pneumonia Lobaris

Penyakit pneumonia dimana seluruh lobus ( biasanya 1 lobus ) terkena infeksi scara
difusi. Penyebabnya adalah streptococcus pneumonia. Lesinya yaitu bakteri yang
dihasilkannya menyebar merata ke seluruh lobus.
2. Bronchopneumonia
Pada Bronchopneumonia terdapat kelompok-kelompok infeksi pada seluruh jaringan
pulmo dengan multiple focl infection yang terdistibusi berdasarkan tempat dimana
gerombolan bakteri dan debrisnya tersangkut di bronchus. Penyebab utamanya adalah
obstruksi bronchus oleh mukus dan aspirasi isi lambung lalu bakteri terperangkap
disana kemudian memperbanyak diri dan terjadi infeksi pada pulmo.
Bronchopneumonia terbagi menjadi 2 subtipe,yakni:
a. Pneumonia aspirasi
Mekanisme infeksi terjadi saat partikel-partikel udara membawa bakteri masuk ke
paru-paru. Banyak terjadi pada pasien-pasien post operasi dan pasien-pasien dengan
kondisi yang lemah.
b. Pneumonia intertitialis
Reaksi inflamasi melibatkan dinding alveoli dengan eksudat yang relatif sedikit dan
sel-sel lekosit poli-morfo-nuklear dalam jumlah yang relatif sedikit. Pneumonia
intertitialis biasanya ada kaitannya dengan infeksi saluran pernapasan

atas.

Penyebabnya adalah virus ( influenza A dan B, respiratory syncytial virus, dan rhino
virus ) dan mycoplasma pneumonia.
2.2 Etiologi

Penyebab pneumonia bermacam-macam dan diketahui ada 30 sumber infeksi


dengan sumber utama: bakteri, virus, mikroplasma, jamur, dan senyawa kimia
maupun partikel.
a. Pneumonia oleh bakteri.
Heiskansen et.al (1997) menjelaskan bahwa S. pneumoniae adalah jenis
bakteri penyebab pneumonia pada anak-anak di semua umur berdasarkan
komunitas penyakit pneumonia. Sedangkan M. pneumoniae dan Chlamydia
pneumoniae adalah penyebab utama pneumonia pada anak di atas umur 5
tahun. Begitu pertahanan tubuh menurun oleh sakit, usia tua, atau malnutrisi,
bakteri segera memperbanyak diri dan menyebabkan kerusakan. Seluruh
jaringan paru dipenuhi cairan dan infeksi dengan cepat menyebar ke seluruh
tubuh melalui aliran darah. Pneumonia yang dipicu bakteri bisa menyerang
siapa saja, mulai dari bayi sampai usia lanjut. Pada pencandu alkohol, pasien
pasca-operasi, orang-orang dengan penyakit gangguan pernapasan, dan
penurunan kekebalan tubuh adalah golongan yang paling berisiko. Anak-anak
juga termasuk kelompok yang rentan terinnfeksi penyakit ini karena daya tahan
tubuh yang masih lemah. Penelitian lainnya menyebutkan bahwa S.pneumoniae
diidentifikasikan sebagai agen etiologi pada 34 dari 64 pasien (53%) dan pada
34 dari 43 pasien (79%). S.pneumonia adalah pathogen teridentifikasi yang
sering ditemukan pada pasien di segala usia walaupun tidak ada hubungan
antara usia dan kemungkinan jenis darah positif terinfeksi (Wall., et al: 1986).
b. Pneumonia oleh virus

Setengah dari kejadian pneumonia diperkirakan disebabkan oleh virus.


Sebagian besar virus-virus ini menyerang saluran pernapasan bagian atas
(terutama pada anak). Namun, sebagian besar pneumonia jenis ini tidak berat
dan dapat disembuhkan dalam waktu singkat. Bila infeksi terjadi bersamaan
dengan virus influensa, gangguan ini masuk ke dalam tingkatan berat dan
kadang menyebabkan kematian. Virus yang menginfeksi paru akan berkembang
biak walau tidak terlihat jaringan paru yang dipenuhi cairan.
c. Pneumonia oleh Mikoplasma
Mikoplasma adalah agen terkecil di alam bebas yang menyebabkan
penyakit pada manusia. Mikoplasma tidak bisa diklasifikasikan sebagai virus
maupun bakteri walaupun memiliki karakteristik keduanya. Pneumonia yang
dihasilkan biasanya berderajat ringan dan tersebar luas. Mikoplasma menyerang
segala jenis usia. Tetapi paling sering pada anak pria remaja dan usia muda.
Angka kematian sangat rendah, bahkan pada orang yang tidak menjalani
pengobatan. Pneumonia jenis ini berbeda gejala dan tanda fisiknya bila
dibandingkan dengan pneumonia pada umumnya. Oleh karena itu, pneumonia
yang diduga disebabkan oleh virus yang belum ditemukan ini sering disebut
Atypical Pneumonia pneumonia yang tidak tipikal. Pneumonia mikoplasma
mulai diidentifikasi saat perang dunia II.
d. Pneumonia jenis lainnya
Pneumonia lain yang jarang ditemukan, yakni disebabkan oleh masuknya
makanan, cairan, gas, debu maupun jamur. Pneumocystitis Carinii Pneumonia

(PCP) yang diduga disebabkan oleh jamur, adalah salah satu contoh dari
pneumonia jenis lainnya. PCP biasanya menjadi tanda awal serangan penyakit
pada pengidap HIV/AIDS. PCP dapat diobati pada banyak kasus. Namun, bisa
saja penyakit ini muncul lagi beberapa bulan kemudian. Rickettsia (golongan
antara virus dan bakteri yang menyebabkan demam Rocky Mountain, demam
Q, tipus, dan psittacosis) juga mengganggu fungsi paru.
2.3 Patofisiologi
Gejala dari infeksi pneumonia disebabkan invasi pada paru-paru oleh
mikroorganisme dan respon sistem imun terhadap infeksi.Meskipun lebih dari
seratus jenis mikroorganisme yang dapat menyebabkan pneumonia, hanya sedikit
dari mereka yang bertanggung jawab pada sebagian besar kasus.Penyebab paling
sering pneumonia adalah virus dan bakteri. Penyebab yang jarang menyebabkan
infeksi pneumonia ialah fungi dan parasit.
Virus
Virus menyerang dan merusak sel untuk berkembang biak.Biasanya virus
masuk kedalam paru- paru bersamaan droplet udara yang terhirup melalui mulut dan
hidung.setelahmasuk virus menyerang jalan nafas dan alveoli. Invasi ini sering
menunjukan kematiansel, sebagian virus langsung mematikan sel atau melalui suatu
tipe penghancur sel yang disebut apoptosis.Ketika sistem imun (DL leukosit
meningkat) merespon terhadap infeksi virus,dapat terjadi kerusakan paru.Sel darah
putih,sebagian besar limfosit, akan mengaktivasi sejenis sitokin yang membuat cairan
masuk ke dalam alveoli.Kumpulan dari sel yang rusak dan cairan dalam alveoli

mempengaruhi pengangkutan oksigen ke dalam aliran darah (terjadi pertukaran


gas) .Sebagai tambahan dari proses kerusakan paru,banyak virus merusak organ lain
dan kemudian menyebabkan fungsi organ lain terganggu.Virus juga dapat membuat
tubuh rentan terhadap infeksi bakteri, untuk alasan ini, pneumonia karena bakteri
sering merupakan komplikasi dari pneumonia yang disebabkan oleh virus.Pneumonia
virus biasanya disebabkan oleh virus seperti virus influensa,virus syccytial
respiratory(RSV),adenovirus dan metapneumovirus.Virus herpes simpleks jarang
menyebabkan pneumonia kecuali pada bayi baru lahir. Orang dengan masalah pada
sistem

imun

juga

berresiko

terhadap

pneumonia

yang

disebabkan

oleh

cytomegalovirus(CMV).
Bakteri
Bakteri secara khusus memasuki paru-paru ketika droplet yang berada di
udara dihirup,tetapi mereka juga dapat mencapai paru-paru melalui aliran darah
ketika ada infeksi pada bagian lain dari tubuh.Banyak bakteri hidup pada bagian atas
dari saluran pernapasan atas seperti hidung,mulut,dan sinus dan dapat dengan mudah
dihirup menuju alveoli.Setelah memasuki alveoli,bakteri mungkin menginvasi
ruangan diantara sel dan diantara alveoli melalui rongga penghubung.Invasi ini
memacu sistem imun untuk mengirim neutrophil yang adalah tipe dari pertahanan sel
darah putih,menuju paru.Neutrophil menelan dan membunuh organisme yang
berlawanan dan mereka juga melepaskan cytokin,menyebabkan aktivasi umum dari
sistem imun.Hal ini menyebabkan demam,menggigil,dan mual umumnya pada

pneumoni yang disebabkan bakteri dan jamur.Neutrophil,bakteri,dan cairan dari


sekeliling pembuluh darah mengisi alveoli dan mengganggu transportasi oksigen.
Bakteri sering berjalan dari paru yang terinfeksi menuju aliran darah
menyebabkan penyakit yang serius atau bahkan fatal seperti septik syok dengan
tekanan darah rendah dan kerusakan pada bagian-bagian tubuh seperti otak,ginjal,dan
jantung.Bakteri juga dapat berjalan menuju area antara paru- paru dan dinding
dada(cavitas pleura) menyebabkan komplikasi yang dinamakan empyema.Penyebab
paling umum dari pneumoni yang disebabkan bakteri adalah Streptococcus
pneumoniae,bakteri gram negatif dan bakteri atipikal.Penggunaan istilah Gram
positif dan Gram negatif merujuk pada warna bakteri(ungu atau merah) ketika
diwarnai menggunakan proses yang dinamakan pewarnaan Gram.Istilah atipikal
digunakan karena bakteri atipikal umumnya mempengaruhi orang yang lebih
sehat,menyebabkan pneumoni yang kurang hebat dan berespon pada antibiotik yang
berbeda dari bakteri yang lain.
Tipe dari bakteri gram positif yang menyebabkan pneumonia pada hidung
atau

mulut

dari

banyak

orang

sehat.

Streptococcus

pneumoniae,

sering

disebutpneumococcus adalah bakteri penyebab paling umum dari pneumoni pada


segala usia kecuali pada neonatus.Gram positif penting lain penyebab dari pneumonia
adalah Staphylococcus aureus.Bakteri Gram negatif penyebab pneumonia lebih
jarang daripada bakteri gram negatif.Beberapa dari bakteri gram negatif yang
menyebabkan

pneumoni

pneumoniae,Escherichia

termasuk

Haemophilus

coli,Pseudomonas

influenzae,Klebsiella

aeruginosa,dan

Moraxella

catarrhalis.Bakteri ini sering hidup pada perut atau intestinal dan mungkin memasuki
paru-paru jika muntahan terhirup.Bakteri atipikal yang menyebabkan pneumonia
termasuk Chlamydophila pneumoniae, Mycoplasma pneumoniae,dan Legionella
pneumophila.
Jamur
Pneumonia yang disebabkan jamur tidak umum,tetapi hal ini mungkin terjadi
pada individu dengan masalah sistem imun yang disebabkan AIDS,obat- obatan
imunosupresif atau masalah kesehatan lain.patofisiologi dari pneumonia yang
disebabkan oleh jamur mirip dengan pneumonia yang disebabkan bakteri,Pneumonia
yang

disebabkan

jamur

paling

sering

disebabkan

oleh

Histoplasma

capsulatum,Cryptococcus neoformans,Pneumocystis jiroveci dan Coccidioides


immitis.Histoplasmosis paling sering ditemukan pada lembah sungai Missisipi,dan
Coccidiomycosis paling sering ditemukan pada Amerika Serikat bagian barat daya.
Parasit
Beberapa varietas dari parasit dapat mempengaruhi paru-paru.Parasit ini
secara khas memasuki tubuh melalui kulit atau dengan ditelan.Setelah memasuki
tubuh,mereka berjalan menuju paru-paru,biasanya melalui darah.Terdapat seperti
pada pneumonia tipe lain ,kombinasi dari destruksi seluler dan respon imun yang
menyebabkan ganguan transportasi oksigen.Salah satu tipe dari sel darah
putih,eosinofil berespon dengan dahsyat terhadap infeksi parasit.Eosinofil pada paruparu dapat menyebabkan pneumonia eosinofilik yang menyebabkan komplikasi yang
mendasari pneumonia yang disebabkan parasit.Parasit paling umum yang dapat

menyebabkan pneumonia adalah Toxoplasma gondii,Strongioides stercoralis dan


Ascariasis.
2.4 Manifestasi Klinis
Menurut Wahab (2000: 884, dalam skripsi Annisa Rizkianti) menyebutkan
gambaran klinis pneumonia ditunjukkan dengan adanya pelebaran cuping hidung,
ronki, dan retraksi dinding dada atau sering disebut tarikan dinding dada bagian
bawah ke dalam (chest indrawing). Rizkianti menambahkan bahwa penyakit yang
sering terjadi pada anak-anak ini ditandai dengan ciri-ciri adanya demam, batuk
disertai nafas cepat (takipnea) atau nafas cepat. Gejala dan tanda pneumonia
tergantung kuman penyebab, usia, status imunologis, dan beratnya penyakit.
Gejala dan tanda dibedakan menjadi gejala umum infeksi (non spesifik), gejala
pulmonal, pleural, dan ekstrapulmonal.
Gejala-gejala tersebut meliputi:
1. demam
2. menggigil
3. sefalgia
4. gelisah
5.muntah, kembung, diare (terjadi pada pasien dengan gangguan gastrointestinal)
6. wheezing (pneumonia mikoplasma)
7.otitis

media,

konjungtivitis,

sinusitis

pneumonia atau Haemophillus influenza)

(pneumonia

oleh

streptococcus

2.5 Pemeriksaan Diagnostik


1. Sinar X Mengidentifikasikan distribusi strukstural (mis. Lobar, bronchial);
dapat juga menyatakan abses luas/infiltrate, empiema (stapilococcus); infiltrasi
menyebar atau terlokalisasi (bacterial); atau penyebaran/perluasan infiltrate
nodul (lebih sering virus). Pada pneumonia mikoplasma, sinar x dada mungkin
bersih.
2. GDA Tidak normal mungkin terjadi, tergantung pada luas paru yang terlibat
dan penyakit paru yang ada.
3. JDL leukositosis biasanya ada, meskipun sel darah putih rendah terjadi pada
infeksi virus, kondisi tekanan imun.
4. LED meningkat
5. Fungsi paru hipoksemia, volume menurun, tekanan jalan nafas meningkat dan
komplain menurun.
6. Elektrolit Na dan Cl mungkin rendah
7. Bilirubin meningkat
8. Aspirasi / biopsi jaringan paru Alat diagnosa termasuk sinar-x dan pemeriksaan
sputum.
Perawatan

tergantung dari penyebab pneumonia; pneumonia disebabkan

bakteri dirawat dengan antibiotik. Pemeriksaan penunjang:


1. Rontgen dada;
2. Pembiakan dahak;
3. Hitung jenis darah;

4. Gas darah arteri.


2.6 Penatalaksanaan
1. Indikasi MRS :
a. Ada kesukaran nafas, toksis
b. Sianosis
c. Umur kurang 6 bulan
d. Ada penyulit, misalnya :muntah-muntah, dehidrasi, empiema
e. Diduga infeksi oleh Stafilokokus
f. Imunokompromais
g. Perawatan di rumah kurang baik
h. Tidak respon dengan pemberian antibiotika oral
2. Pemberian oksigenasi : dapat diberikan oksigen nasal atau masker, monitor
dengan pulse oxymetry. Bila ada tanda gagal nafas diberikan bantuan ventilasi
mekanik.
3. Mempertahankan suhu tubuh normal melalui pemberian kompres
4. Pemberian cairan dan kalori yang cukup (bila perlu cairan parenteral). Jumlah
cairan sesuai berat badan, kenaikan suhu dan status hidrasi.
5. Bila sesak tidak terlalu hebat dapat dimulai diet enteral bertahap melalui selang
nasogastrik.
6. Jika sekresi lendir berlebihan dapat diberikan inhalasi dengan salin normal
7. Koreksi kelainan asam basa atau elektrolit yang terjadi.

8. Pemilihan antibiotik berdasarkan umur, keadaan umum penderita dan dugaan


penyebab Evaluasi pengobatan dilakukan setiap 48-72 jam. Bila tidak ada
perbaikan klinis dilakukan perubahan pemberian antibiotik sampai anak
dinyatakan sembuh. Lama pemberian antibiotik tergantung : kemajuan klinis
penderita, hasil laboratoris, foto toraks dan jenis kuman penyebab :
Stafilokokus : perlu 6 minggu parenteral
Haemophylus influenzae/Streptokokus pneumonia : cukup 10-14 hari Pada
keadaan imunokompromais (gizi buruk, penyakit jantung bawaan, gangguan
neuromuskular, keganasan, pengobatan kortikosteroid jangka panjang, fibrosis
kistik, infeksi HIV), pemberian antibiotic harus segera dimulai saat tanda awal
pneumonia didapatkan dengan pilihan antibiotik : sefalosporin generasi 3.
Dapat dipertimbangkan juga pemberian :
- Kotrimoksasol pada Pneumonia Pneumokistik Karinii
- Anti viral (Aziclovir , ganciclovir) pada pneumonia karena CMV
- Anti jamur (amphotericin B, ketokenazol, flukonazol) pada pneumonia karena
jamur
- Imunoglobulin

a. Vaksin

Saat ini ada 2 jenis vaksin pneumokokus yaitu vaksin pneumococcal conjugate
(PCV13) dan vaksin polisakarida pneumokokus (PPSV). Berikut tahap pemberian
vaksin :
1. Bayi dan Anak di bawah Usia 2 Tahun
a. PCV13 secara rutin diberikan kepada bayi sebagai rangkaian 4 dosis, satu
dosis di setiap usia: 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, dan 12 sampai 15 bulan. Anakanak yang kehilangan tembakan mereka atau memulai seri nanti masih harus
mendapatkan vaksin
b. Jumlah dosis yang dianjurkan dan interval antara dosis akan tergantung pada
usia anak saat vaksinasi dimulai.
2. Anak-anak usia 2 sampai 5 Tahun Sehat anak-anak 24 bulan sampai 4 tahun
yang tidak divaksinasi atau belum menyelesaikan seri PCV13 harus
mendapatkan 1 dosis. Anak-anak 24 bulan sampai 5 tahun dengan kondisi medis
seperti berikut ini harus mendapatkan 1 atau 2 dosis PCV13 jika mereka belum
menyelesaikan seri 4-dosis. Tanyakan pada penyedia layanan kesehatan untuk
rincian penyakit sel sabit, limpa limpa rusak atau tidak,koklea implan, cairan
cerebrospinal (CSF) kebocoran,HIV / AIDS atau penyakit lain yang
mempengaruhi sistem kekebalan (seperti diabetes, kanker, atau penyakit hati),
kronis jantung atau penyakit paru-paru, atau anak- anak yang memakai obat
yang mempengaruhi sistem kekebalan tubuh, seperti kemoterapi atau steroid.
3. Anak-anak usia 6 sampai 18 Tahun

Dosis tunggal PCV13 dapat diberikan kepada anak-anak 6 sampai 18 tahun


dengan kondisi medis tertentu (misalnya, penyakit sel sabit, infeksi HIV, atau
kondisi immunocompromising lainnya, implan koklea, atau kebocoran cairan
serebrospinal), terlepas dari apakah mereka sebelumnya telah menerima vaksin
pneumokokus. Tanyakan pada penyedia layanan kesehatan untuk rincian. PCV
dapat diberikan pada waktu yang sama dengan vaksin lainnya.
Menurut

Misnadiarly (2008) penatalaksanaan

untuk

pneumonia

bergantung pada penyebab, sesuai yang ditentukan oleh pemeriksaan sputum


mencakup:
- Oksigen 1 2 L/menit
- IVFD dekstrose 10% : NaCl 0,9% = 3:1, + KCl 10 mEq/500 ml cairan
- Jumlah cairan sesuai berat badan, kenaikkan suhu, dan status hidrasi
- jika sesak tidak terlalu berat dapat dimulai makanan enteral bertahap melalui
selang nasogastrik dengan feeding drip
- Jika sekresi lender berlebihan dapat diberikan inhalasi dengan salin normal
dan beta agonis untuk memperbaiki transport mukosilier
- Koreksi gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit
Antibiotik sesuai hasil biakan atau diberikan untuk kasus pneumonia
community base:
- Ampisilin 100 mg/kg BB/hari dalam 4 kali pemberian
- kloramfenikol 75 mg/kg BB/hari dalam 4 kali pemberian

Untuk kasus pneumonia hospital base:


- Sefatoksim 100 mg/kg BB/hari dalam 2 kali pemberian
- Amikasin 10 15 mg/kg BB/hari dalam 2 kali pemberian
2.7 Komplikasi
Komplikasi yang menyertai penyakit pneumonia , sebagai berikut:
1. efusi pleura;
2. empyema;
3. pneumothoraks;
4. piopneumotoraks;
5. pneumatosel;
6. abses paru;
7. sepsis
8. gagal nafas;
9. ileus paralitik fungsional.
2.8 Prognosis
Faktor resiko pneumonia antara lain :
1. Faktor yang meningkatkan resiko berjangkitnya pneumonia
a. Umur dibawah 2 bulan
b. Jenis kelamin laki-laki
c. Gizi kurang
d. Berat badan lahir rendah
e. Tidak mendapat ASI memadai

f. Polusi udara
g. Kepadatan tempat tinggal
h. Imunisasi yang tidak memadai
i. Defisiensi vitamin A
2. Faktor yang meningkatkan resiko kematian akibat pneumonia
a. Umur dibawah 2 bulan
b. Tingkat sosial ekonomi rendah
c. Gizi kurang
d. Berat badan lahir rendah
e. Tingkat pendidikan ibu rendah
f. Tingkat pelayanan kesehatan rendah
g. Imunisasi yang tidak memadai
h. Menderita penyakit kronis
2.9 Cara Penularan Penyakit Pneumonia
Pada umumnya Pneumonia termasuk kedalam penyakit menular yang
ditularkan melalui udara. Sumber penularan adalah penderita pneumonia yang
menyebarkan kuman ke
droplet.

udara pada saat batuk atau bersin dalam bentuk

Inhalasi merupakan cara terpenting masuknya kuman penyebab

pneumonia kedalam saluran pernapasan yaitu bersama udara yang dihirup,


disamping itu terdapat juga cara penularan langsungyaitu melalui percikan
droplet yang dikeluarkan oleh penderita saat batuk, bersin dan berbicara kepada
orang di sekitar penderita, transmisi langsung dapat juga melalui ciuman,

memegang dan menggunakan benda yang telah terkena sekresi saluran


pernapasan penderita (Azwar, 2002).
2.10. Pencegahan penyakit Pneumonia

Pneumonia dapat dihindari dengan beberapa langkah berikut:


Melakukan vaksinasi, seperti vaksin flu dan vaksin pneumonia. Anak-anak juga
sebaiknya melakukan vaksinasi secara rutin.
Selalu mencuci tangan hingga bersih.
Tidak merokok.
Beristirahat yang cukup dan menjaga tubuh tetap fit.
Mengonsumsi makanan yang sehat.
Usahakan beristirahat di rumah ketika sakit, dan tutup mulut dengan tisu atau bagian
dalam siku ketika batuk maupun bersin.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru- paru
(alveoli). Terjadinya pnemonia pada anak seringkali bersamaan dengan proses
infeksi akut pada bronkus (biasa disebut bronchopneumonia). Gejala penyakit ini
berupa napas cepat dan napas sesak, karena paru meradang secara mendadak.
Gejala yang lain pada Pneumonia adalah demam, sesak napas, napas dan nadi
cepat, dahak berwarna kehijauan atau seperti karet, serta gambaran hasil ronsen
memperlihatkan kepadatan pada bagian paru
3.2 Saran
Dengan makalah ini, diharapkan mahasiswa dapat menambah dan
mengembangkan referensi tentang penyakit pneumonia dalam melakukan study di
fakultas keperawatan serta bagi perawat diharaapkan juga menangani dan
menanggulangi penyakit pneumonia pada kliennya.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2008. Pengertian Pneumonia.
http://sobatbaru.blogspot.com
2008/12/pengertian- pneumonia.html.Diakses tanggal 7 Juni 2011.

Asih, Retno., S, Landia., MS, Makmuri. 2006. Naskah Lengkap Continuing


Education Ilmu Kesehatan Anak XXXVI Kapita Selekta Ilmu Kesehatan
Anak VI: Pneumonia. Diakses tanggal 7 Juni 2011 dari www.Pediatrik.com
SMF
Ilmu
Kesehatan
Anak
FK
Unair
Web
Site
:
http://www.pediatrik.com/isi03.php?
page=html&hkategori=pdt&direktori=pdt&filepdf=0&pdf=&html=07110lvzc283.html .
Centers for Disease Control and Prevention. 2010. Pneumococcal Disease In Short.
http://www.cdc.gov/vaccines/vpd-vac/pneumo/in-short-both.html. Diakses
tanggal 7 Juni 2011.
Dahlan, Zul. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid 2 edisi 4. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
Kosma, Heiskansen., Tarja., Korppi., Matti., Jokinen., Camilla., et al. 1998. Etiology
of childhood pneumonia: serologic results of a prospective, population-based
study. Diakses tanggal 7 Juni 2011, dari The Pediatric Infectious Disease
Journal
Web
site:
http://journals.lww.com/pidj/Abstract/1998/11000/Etiology_of_childhood_pn
eumonia__serologic_results.4.aspx.
Misnadiarly. 2008. Penyakit Infeksi Saluran Napas Pneumonia pada Anak, Orang
Dewasa, Usia Lanjut, Pneumonia Atipik & Pneumonia Atypik
Mycobacterium. Jakarta: Pustaka Obor Populer
Nurmawaty, Eka. 2009. Pneumonia. http://ekanurmawaty.blogspot. com/2009/08/
pneumonia. html. Diakses tanggal 7 Juni 2011.
Somantri, Irman. 2008. Keperawatan Medikal Bedah: Asuhan Keperawatan pada
Pasien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika.
Supriyadi,
Agung.
2009.
Pneumonia.
http://recyclearea.wordpres.
com/2009/09/08/pneumonia/. Diakses tanggal 7 Juni 2011.

Wall, R. A., P. T. Corrah., D. C. W. Mabey., & B. M. Greenwood. 1986. The etiology


of lobar pneumonia in the Gambia. Diakses tanggal 7 Juni 2011,dari Pubmed
Central Web site: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2490896/?
page=3.