Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

GIZI BURUK
A. EPIDEMIOLOGI
Masalah gizi adalah
penanggulangannya

masalah kesehatan masyarakat


tidak

dapat

yang

dilakukan

dengan

pendekatan medis dan pelayanan kesehatan saja. Masalah gizi disamping


merupakan sindrom kemiskinan yang erat kaitannya dengan masalah
ketahanan pangan di tingkat rumah tangga dan juga menyangkut
aspek pengetahuan serta perilaku yang kurang mendukung pola hidup
sehat.

Keadaan gizi masyarakat

tingkat kesehatan dan


satu unsur utama

umur

akan

harapan hidup

dalam

mempengaruhi

yang

merupakan

penentuan

salah

keberhasilan

pembangunan negara yang dikenal dengan istilah Human Development


Index (HDI). Secara umum di Indonesia terdapat dua masalah gizi utama
yaitu kurang gizi makro dan kurang gizi mikro Kurang gizi makro pada
dasarnya

merupakan gangguan kesehatan yang

kekurangan

asupan energi dan protein.

masalah gizi yang

utamanya

disebabkan

disebabkan

Masalah gizi makro


ketidakseimbangan

oleh
adalah
antara

kebutuhan dan asupan energi dan protein. Kekurangan zat gizi makro
umumnya disertai dengan kekurangan zat gizi mikro.
B. DEFINISI
Gizi buruk adalah suatu kondisi di mana seseorang dinyatakan
kekurangan nutrisi, atau dengan ungkapan lain status nutrisinya berada di
bawah

standar

rata-rata. Nutrisi yang

dimaksud

bisa

berupa protein, karbohidrat dan kalori. Status gizi buruk dibagi menjadi
tiga bagian, yakni gizi buruk karena kekurangan protein (disebut
kwashiorkor), karena kekurangan

karbohidrat

atau

kalori

(disebut

marasmus), dan kekurangan kedua-duanya. Gizi buruk ini biasanya


terjadi pada anak balita (bawah lima tahun) dan ditampakkan oleh
membusungnya perut (busung lapar). Zat gizi yang dimaksud bisa
berupa protein, karbohidrat dan kalori. Gizi buruk (severe malnutrition)

adalah suatu istilah teknis yang umumnya dipakai oleh kalangan gizi,
kesehatan dan kedokteran. Gizi buruk adalah bentuk terparah dari
proses terjadinya kekurangan gizi menahun (Nency, 2005).
Anak balita (bawah lima tahun) sehat atau kurang gizi dapat
diketahui dari pertambahan berat badannya tiap bulan sampai usia
minimal 2 tahun (baduta). Apabila pertambahan berat badan sesuai
dengan

pertambahan

umur

menurut

suatu

standar

organisasi

kesehatan dunia, dia bergizi baik. Kalau sedikit dibawah standar


disebut bergizi kurang yang bersifat kronis. Apabila jauh dibawah standar
dikatakan bergizi buruk. Jadi istilah gizi buruk adalah salah satu bentuk
kekurangan gizi tingkat berat atau akut (Pardede, J, 2006).
C. ETIOLOGI
Banyak faktor yang

mengakibatkan

terjadinya

kasus gizi

buruk.

Menurut UNICEF ada dua penyebab langsung terjadinya gizi buruk, yaitu :
1.

Kurangnya

asupan gizi dari makanan.

Hal

ini

disebabkan

terbatasnya jumlah makanan yang dikonsumsi atau makanannya tidak


memenuhi unsur gizi yang

dibutuhkan

karena

alasan

sosial

dan ekonomi yaitu kemiskinan.


2.

Akibat

terjadinya penyakit yang

mengakibatkan infeksi.

Hal

ini

disebabkan oleh rusaknya beberapa fungsi organ tubuh sehingga tidak


bisa menyerap zat-zat makanan secara baik.
Faktor lain yang mengakibatkan terjadinya kasus gizi buruk yaitu:
1. Faktor ketersediaan pangan yang bergizi dan terjangkau oleh
masyarakat
2. Perilaku dan budaya dalam pengolahan pangan dan pengasuhan
asuh anak
3. Pengelolaan

yang

buruk

dan

perawatan kesehatan yang

tidak

memadai.
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), ada 3 faktor penyebab
gizi buruk pada balita, yaitu:
1. Keluarga miskin
2. Ketidaktahuan orang tua atas pemberian gizi yang baik bagi anak

3. Faktor penyakit bawaan pada anak, seperti: jantung, TBC, HIV/AIDS,


saluran pernapasan dan diare.
D. KLASIFIKASI GIZI BURUK
Terdapat 3 tipe gizi buruk adalah marasmus, kwashiorkor, dan
marasmus-kwashiorkor. Perbedaan tipe tersebut didasarkan pada ciriciri atau tanda klinis dari masing-masing tipe yang berbeda-beda.
1. Marasmus
Marasmus adalah gangguan gizi karena kekurangan karbohidrat.
Gejala yang timbul diantaranya muka seperti orangtua (berkerut),
tidak terlihat lemak dan otot di bawah kulit (kelihatan tulang di
bawah kulit), rambut mudah patah dan kemerahan, gangguan
kulit, gangguan pencernaan (sering diare), pembesaran hati dan
sebagainya. Anak tampak sering rewel dan banyak menangis
meskipun

setelah

makan,

karena masih merasa lapar. Berikut

adalah gejala pada marasmus adalah (Depkes RI, 2000) :


a. Anak tampak sangat kurus karena hilangnya sebagian besar
b.
c.
d.
e.

lemak dan otot-ototnya, tinggal tulang terbungkus kulit


Wajah seperti orang tua
Iga gambang dan perut cekung
Otot paha mengendor (baggy pant)
Cengeng dan rewel, setelah mendapat makan anak masih terasa

lapar
2. Kwashiorkor
Penampilan tipe kwashiorkor seperti anak yang gemuk (suger baby),
bilamana dietnya mengandung cukup energi disamping kekurangan
protein, walaupun dibagian tubuh lainnya terutama dipantatnya
terlihat adanya atrofi. Tampak sangat kurus dan atau edema
pada kedua punggung kaki sampai seluruh tubuh
a. Perubahan status mental : cengeng, rewel, kadang apatis
b. Rambut tipis kemerahan seperti warna rambut jagung dan
mudah dicabut, pada penyakit kwashiorkor yang lanjut dapat
terlihat rambut kepala kusam.
c. Wajah membulat dan sembab
d. Pandangan mata anak sayu

e. Pembesaran hati, hati yang membesar dengan mudah dapat


diraba dan terasa kenyal pada rabaan permukaan yang licin dan
pinggir yang tajam.
f. Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan
berubah menjadi coklat kehitaman dan terkelupas
3. Marasmik-Kwashiorkor
Adapun marasmik-kwashiorkor memiliki

ciri

gabungan

beberapa gejala klinis

dari

kwashiorkor

dan marasmus disertai edema yang tidak mencolok.


E. PATOFISIOLOGI
Patofisiologi gizi buruk pada balita adalah anak sulit makan atau
anorexia bisa terjadi karena penyakit akibat defisiensi gizi, psikologik
seperti suasana makan, pengaturan makanan dan lingkungan. Rambut
mudah rontok dikarenakan kekurangan protein, vitamin A, vitamin C dan
vitamin E. Karena keempat elemen ini merupakan nutrisi yang penting
bagi

rambut.

Pasien

juga

mengalami

rabun

senja.

Rabun

senja

terjadi karena defisiensi vitamin A dan protein. Pada retina ada sel
batang dan sel kerucut. Sel batang lebih hanya bisa membedakan
cahaya terang dan gelap. Sel batang atau rodopsin ini terbentuk
dari vitamin A dan suatu protein. Jika cahaya terang mengenai sel
rodopsin,

maka

mengumpul

lagi

sel
pada

tersebut
cahaya

akan

terurai.

Sel

yang

gelap.

Inilah

tersebut
yang

akan

disebut

adaptasi rodopsin. Adaptasi ini butuh waktu. Jadi, rabun senja terjadi
karena kegagalan atau kemunduran adaptasi rodopsin.
Turgor atau elastisitas kulit jelek karena sel kekurangan air (dehidrasi).
Reflek patella negatif terjadi karena kekurangan aktin myosin pada
tendon

patella

dan degenerasi saraf motorik akibat dari kekurangn

protein, Cu dan Mg seperti gangguan neurotransmitter.

Sedangkan,

hepatomegali

Jika

terjadi

karena

kekurangan

protein.

terjadi

kekurangan protein, maka terjadi penurunan pembentukan lipoprotein.


Hal ini membuat penurunan HDL dan LDL. Karena penurunan HDL dan
LDL, maka lemak yang ada di hepar sulit ditransport ke jaringanjaringan, pada akhirnya penumpukan lemak di hepar.

Tanda khas pada penderita kwashiorkor adalah pitting edema.


Pitting edema adalah edema yang jika ditekan, sulit kembali seperti
semula.

Pitting

edema disebabkan oleh kurangnya protein, sehingga

tekanan onkotik intravaskular menurun. Jika hal ini terjadi, maka terjadi
ekstravasasi plasma ke intertisial. Plasma masuk ke intertisial, tidak ke
intrasel, karena pada penderita kwashiorkor tidak ada kompensansi
dari

ginjal

untuk

reabsorpsi

natrium.

Padahal

natrium

berfungsi

menjaga keseimbangan cairan tubuh. Pada penderita kwashiorkor,


selain defisiensi protein juga defisiensi multinutrien. Ketika ditekan, maka
plasma pada intertisial lari ke daerah sekitarnya karena tidak terfiksasi
oleh membran sel dan mengembalikannya membutuhkan waktu yang
lama karena posisi sel yang rapat. Edema biasanya terjadi
ekstremitas

bawah

karena

pengaruh

gaya

gravitasi,

pada

tekanan

hidrostatik dan onkotik (Sadewa, 2008).


Sedangkan menurut Nelson (2007), penyebab utama marasmus
adalah kurang kalori protein yang dapat terjadi karena : diet yang
tidak cukup, kebiasaan makan yang tidak tepat seperti hubungan orang
tua dengan anak terganggu, karena kelainan metabolik atau malformasi
kongenital. Keadaan ini merupakan hasil akhir dari interaksi antara
kekurangan makanan dan penyakit infeksi. Selain faktor lingkungan
ada beberapa faktor lain pada diri anak sendiri yang dibawa sejak
lahir, diduga berpengaruh terhadap terjadinya marasmus. Secara garis
besar sebab-sebab marasmus adalah sebagai berikut :
a. Masukan
masukan

makanan
kalori

yang

kurang

marasmus

terjadi

akibat

yang sedikit, pemberian makanan yang tidak

sesuai dengan yang dianjurkan akibat dari ketidaktahuan orang


tua si anak, misalnya pemakaian secara luas susu kaleng yang
terlalu encer.
b. Infeksi yang
terutama

berat

infeksi

dan

enteral

lama

menyebabkan

misalnya

infantil

marasmus,

gastroenteritis,

bronkhopneumonia, pielonephiritis dan sifilis kongenital.


c. Kelainan struktur bawaan misalnya : penyakit jantung bawaan,
penyakit

Hirschpurng,

deformitas

palatum,

palatoschizis,

mocrognathia, stenosis pilorus. Hiatus hernia, hidrosefalus, cystic


fibrosis pankreas
d. Prematuritas dan penyakit pada masa neonatus. Pada keadaan
tersebut pemberian ASI kurang akibat reflek mengisap yang kurang
kuat
e. Pemberian ASI yang terlalu lama tanpa pemberian makanan
tambahan yang cukup
f. Gangguan
metabolik,

misalnya

renal

asidosis,

idiopathic

hypercalcemia, galactosemia, lactose intolerance


g. Tumor hypothalamus, kejadian ini jarang dijumpai dan baru
ditegakkan bila penyebab maramus yang lain disingkirkan
h. Penyapihan yang terlalu dini desertai dengan pemberian makanan
tambahan yang kurang akan menimbulkan marasmus
i. Urbanisasi mempengaruhi dan merupakan predisposisi

untuk

timbulnya marasmus, meningkatnya arus urbanisasi diikuti pula


perubahan
dengan

kebiasaan penyapihan

pemberian

susu

manis

dini
dan

dan

kemudian

diikuti

susu yang terlalu encer

akibat dari tidak mampu membeli susu, dan bila disertai infeksi
berulang terutama gastroenteritis akan menyebabkan anak jatuh
dalam marasmus.
F. MANIFESTASI KLINIS
Tanda dan gejala gizi buruk pada umumnya adalah:
1. Kelelahan dan kekurangan energi
2. Pusing
3. Sistem kekebalan tubuh yang rendah
4. Kulit kering dan bersisik
5. Gusi mudah berdarah
6. Sulit untuk berkonsentrasi dan mempunyai reaksi yang lambat
7. Berat badan kurang
8. Pertumbuhan yang lambat
9. Kelemahan otot
10.
Perut kembung
11.
Tulang mudah patah
12.
Terdapat masalah pada fungsi organ tubuh

G. KOMPLIKASI
Pada penderita gangguan gizi sering terjadi gangguan asupan
vitamin dan mineral. Karena begitu banyaknya asupan jenis vitamin dan
mineral yang terganggu dan begitu luasnya fungsi dan organ tubuh
yang terganggu maka jenis gangguannya sangat banyak. Pengaruh KEP
bisa terjadi pada semua organ sistem tubuh. Beberapa organ tubuh
yang sering terganggu adalah saluran cerna, otot dan tulang, hati,
pancreas, ginjal, jantung, dan gangguan hormonal.
Anemia gizi adalah kurangnya kadar Hemoglobin pada anak yang
disebabkan karena kurangnya asupan zat Besi (Fe) atau asam Folat.
Gejala yang bisa terjadi adalah anak tampak pucat, sering sakit kepala,
mudah lelah dan sebagainya. Pengaruh sistem hormonal yang terjadi
adalah gangguan hormon kortisol, insulin, Growht hormon (hormon
pertumbuhan) Thyroid Stimulating Hormon meninggi tetapi fungsi tiroid
menurun. Hormon-hormon tersebut berperanan dalam metabolisme
karbohidrat, lemak dan tersering mengakibatkan kematian (Sadewa,
2008).
Mortalitas atau kejadian kematian dapat terjadi pada penderita
KEP, khususnya pada KEP berat. Beberapa penelitian menunjukkan pada
KEP berat resiko kematian cukup besar, adalah sekitar 55%. Kematian
ini seringkali terjadi karena penyakit infeksi (seperti Tuberculosis, radang
paru, infeksi saluran cerna) atau karena gangguan jantung mendadak.
Infeksi

berat

gangguan

sering

mekanisme

terjadi

karena

pertahanan

pada

tubuh.

KEP

sering mengalami

Sehingga

mudah

terjadi

infeksi atau

bila

terkena

infeksi

beresiko

terjadi

komplikasi

yang

lebih berat hingga mengancam jiwa (Nelson, 2007).


1. Perubahan Berat Badan
Berat badan merupakan ukuran antropometrik yang terpenting,
dipakai pada setiap kesempatan memeriksa kesehatan anak pada
semua

kelompok

umur.

Berat

badan

merupakan

hasil

peningkatan/penurunan semua jaringan yang ada pada tubuh, antara


lain tulang, otot, lemak, cairan tubuh dan lain-lainnya. Berat
badan

dipakai sebagai

mengetahui

keadaan

indikator

gizi

dan

terbaik

pada

saat

tumbuh kembang

ini

anak,

untuk
sensitif

terhadap perubahan sedikit saja, pengukuran objektif dan dapat


diulangi,

dapat

digunakan

timbangan

apa

saja

yang

relatif

murah, mudah dan tidak memerlukan banyak waktu. Indikator


berat badan dimanfaatkan dalam klinik untuk :
a. Bahan informasi untuk menilai keadaan gizi baik yang akut,
maupun kronis, tumbuh kembang dan kesehatan
b. Memonitor keadaan kesehatan, misalnya pada pengobatan penyakit
c. Dasar perhitungan dosis obat dan makanan yang perlu diberikan.
2. Penilaian status gizi secara Antropometri
Penilaian status gizi terbagi atas penilaian secara langsung dan
penilaian

secara

tidak

langsung

dibagi

menjadi

klinis,

biokimia

dan

langsung.

Adapun

empat penilaian

biofisik.

Sedangkan

penilaian

adalah

secara

antropometri,

penilaian status

gizi

secara tidak langsung terbagi atas tiga adalah survei konsumsi


makanan, statistik vital dan faktor ekologi.
H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Antropometri
Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia. Ditinjau
dari sudut pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan dengan
berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh
dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi (Supariasa, 2002). Beberapa
indeks antropometri yang sering digunakan

adalah

berat

badan

menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U), dan berat
badan menurut tinggi badan (BB/TB).
a. Indeks berat badan menurut umur (BB/U)
Merupakan pengukuran antropometri yang
sebagai indikator dalam

keadaan

normal,

sering

digunakan

dimana

keadaan

kesehatan dan keseimbangan antara intake dan kebutuhan gizi


terjamin. Berat badan memberikan gambaran tentang massa tubuh
(otot

dan

lemak).

Massa

tubuh

sangat

sensitif

terhadap

perubahan keadaan yang mendadak, misalnya terserang infeksi,


kurang nafsu makan dan menurunnya jumlah makanan yang
dikonsumsi. BB/U lebih menggambarkan status gizi sekarang.
Berat badan yang bersifat labil, menyebabkan indeks ini lebih
menggambarkan status gizi seseorang saat ini (Current Nutritional
Status)
b. Indeks tinggi badan menurut umur (TB/U)
Indeks TB/U disamping memberikan gambaran status gizi masa
lampau, juga lebih erat kaitannya dengan status ekonomi (Beaton
dan Bengoa (1973) dalam.
c. Indeks berat badan menurut tinggi badan (BB/TB)
Berat badan memiliki hubungan yang linear

dengan

tinggi

badan. Dalam keadaan normal, perkembangan berat badan akan


searah dengan pertumbuhan tinggi badan dengan kecepatan
tertentu (Supariasa,dkk 2002).
d. Melakukan pemeriksaan darah untuk melihat ketidaknormalan.
Melakukan pemeriksaan X-Ray untuk

memeriksa apakah ada

kelainan pada tulang dan organ tubuh lain Memeriksa penyakit atau
kondisi lain yang dapat menyebabkan terjadinya gizi buruk.
I. PENATALAKSANAAN
Dalam proses pengobatan KEP berat terdapat 3 fase, adalah
fase stabilisasi, fase transisi dan fase rehabilitasi. Petugas kesehatan
harus trampil memilih langkah mana yang cocok untuk setiap fase.
Tatalaksana ini digunakan baik pada penderita kwashiorkor, marasmus
maupun marasmik-kwarshiorkor.
1.

Tahap Penyesuaian

Tujuannya adalah menyesuaikan kemampuan pasien menerima


makanan hingga ia mampu menerima diet tinggi energi dan
tingi protein (TETP). Tahap penyesuaian ini dapat berlangsung
singkat, adalah selama 1-2 minggu atau lebih lama, bergantung
pada kemampuan pasien untuk menerima dan mencerna makanan.
Jika berat badan pasien kurang dari 7 kg, makanan yang
diberikan berupa makanan bayi. Makanan utama adalah formula
yang dimodifikasi. Contoh: susu rendah laktosa +2,5-5% glukosa
+2% tepung. Secara berangsur ditambahkan makanan lumat
dan makanan lembek. Bila ada, berikan ASI. Jika

berat badan

pasien 7 kg atau lebih, makanan diberikan seperti makanan


untuk

anak

di

atas

tahun.

Pemberian

makanan

dimulai

dengan makanan cair, kemudian makanan lunak dan makanan


biasa, dengan ketentuan sebagai berikut:
a.

Pemberian energi dimulai dengan 50 kkal/kg berat badan

sehari.
b.
Jumlah cairan 200 ml/kg berat badan sehari.
c.
Sumber protein utama adalah susu yang diberikan secara
bertahap dengan keenceran 1/3, 2/3, dan 3/3, masing-masing
tahap

selama

2-3

hari.

Untuk

meningkatkan

energi

ditambahkan 5% glukosa, dan


d.
Makanan diberikan dalam porsi kecil dan sering, adalah 8-10
kali

sehari

tiap

2-3

jam.

Bila

konsumsi

per-oral

tidak

mencukupi, perlu diberi tambahan makanan lewat pipa (per2.

sonde) (RSCM, 2003).


Tahap Penyembuhan
Bila nafsu makan dan toleransi terhadap makanan bertambah
baik,

secara

berangsur,

tiap

1-2

hari,

pemberian

makanan

ditingkatkan hingga konsumsi mencapai 150-200 kkal/kg berat


badan sehari dan 2-5 gram protein/kg berat badan sehari.
3.

Tahap Lanjutan
Sebelum pasien dipulangkan, hendaknya ia sudah dibiasakan
memperoleh makanan biasa yang bukan merupakan diet TETP.
Kepada orang tua hendaknya diberikan penyuluhan kesehatan

dan gizi, khususnya tentang mengatur makanan, memilih bahan


makanan, dan mengolahnya sesuai dengan kemampuan daya
belinya.
Suplementasi zat gizi yang mungkin diperlukan adalah :
a. Glukosa biasanya secara intravena diberikan bila terdapat
tanda-tanda hipoglikemia.
b. KCl, sesuai dengan kebutuhan, diberikan bila ada hipokalemia.
c. Mg, berupa MgSO4 50%, diberikan secara intra muskuler
bila terdapat hipomagnesimia.
d. Vitamin A diberikan sebagai pencegahan sebanyak 200.000
SI peroral atau 100.000 SI secara intra muskuler. Bila terdapat
xeroftalmia, vitamin A diberikan dengan dosis total 50.000 SI/kg
berat badan dan dosis maksimal 400.000 SI.
e. Vitamin B dan vitamin C dapat diberikan secara suntikan peroral. Zat besi (Fe) dan asam folat diberikan bila terdapat
anemia yang biasanya menyertai KKP berat.
J. PENGKAJIAN
1. Anamnesis
Riwayat yang perlu ditanyakan pada ibu dalam anamesis untuk
menegakkan mencari etiologi dan faktor-faktor yang berpengaruh
terhadap terjadinya gizi buruk:
a.
Riwayat persalinan sebelumnya
b.
Paritas, jarak kelahiran sebelumnya
c.
Kenaikan berat badan selama hamil
d.
Aktivitas
e.
Penyakit yang diderita selama hamil
f. Obat-obatan yang diminum selama hamil
g.
Pemberian nutrisi pada bayi
h.
Kenaikan berat badan bayi dan tinggi badan
2. Pemeriksaan Fisik
a. Tanda-tanda anatomis
1) Berat badan kurang dari 2500 gram
2) Panjang badan kurang dari 45 cm
3) Lingkar kepala kurang dari 33 cm
4) Lingkar dada kurang dari 30 cm
5) Kulit keriput, tipis, penuh lanugo pada dahi, pelipis, telinga dan
lengan, lemak jaringan sedikit (tipis)
b. Tanda fisiologis

1) Gerakan bayi pasif dan tangis hanya merintih, walaupun lapar


bayi tidak menangis, bayi lebih banyak tidur dan lebih malas.
2) Suhu tubuh mudah untuk menjadi hipotermi.
Penyebabnya adalah :
1) Pusat pengatur panas belum berfungsi dengan sempurna.
2) Kurangnya
lemak
pada
jaringan
subcutan
akibatnya
mempercepat terjadinya perubahan suhu.
3) Kurangnya mobilisasi sehingga produksi panas berkurang.
K. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d Ketidakmampuan keluarga
merawat anggota keluarga yang mengalami gangguan kesehatan
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d
Ketidakmampuan

keluarga

merawat

mengalami gangguan kesehatan


3. Tidak
efektifnya
termoregulasi
mengenal masalah kesehatan.
4. Resiko gangguan integritas

kulit

anggota

keluarga

b.d Ketidaktahuan
b.d Ketidaktahuan

yang

keluarga
keluarga

mengenal masalah kesehatan


5. Cemas pada keluarga berhubungan dengan Ketidaktahuan keluarga
mengenal masalah kesehatan.
6. Resiko infeksi b/d Ketidaktahuan keluarga mengenal masalah
kesehatan

L. RENCANA KEPERAWATAN

NO

DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN

DX
1.

KOLABORASI
Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d
Ketidakmampuan
anggota

keluarga

keluarga

gangguan kesehatan

yang

TUJUAN (NOC)

INTERVENSI (NIC)
NIC :

NOC :

merawat
mengalami

Respiratory status : Ventilation

Airway suction

Respiratory status : Airway patency

1. Auskultasi

sebelum

Aspiration Control
Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang

sesudah

2. Informasikan pada klien dan

keluarga tentang suctioning


(mampu 3. Minta
klien
nafas
dalam
mengeluarkan sputum, mampu bernafas dengan mudah,
sebelum suction dilakukan.
4. Berikan
O2
dengan
tidak ada pursed lips)
bersih,

dan

nafas

suctioning.

Kriteria Hasil :

suara

tidak

ada

sianosis

dan

dyspneu

Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa

menggunakan

tercekik, irama nafas, frekuensi pernafasan dalam rentang

memfasilitasi

nasal

untuk
suksion

normal, tidak ada suara nafas abnormal)

nasotrakeal
Mampu mengidentifikasikan dan mencegah factor yang 5. Gunakan alat yang steril sitiap
melakukan tindakan
dapat menghambat jalan nafas
6. Anjurkan
pasien
untuk
istirahat
setelah

dan

napas

kateter

dalam

dikeluarkan

dari nasotrakeal
7. Monitor status oksigen pasien
8. Ajarkan keluarga bagaimana
cara melakukan suksion
9. Hentikan suksion dan berikan

oksigen

apabila

menunjukkan

pasien
bradikardi,

peningkatan saturasi O2, dll.


Airway Management
1. Buka jalan nafas, guanakan

teknik chin lift atau jaw thrust

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.

2007.

Ciri-Ciri

Kurang Gizi.

Diakses

15

Desember

2008:

Portal Kesehatan Online


Anonim. 2008. Kalori Tinggi Untuk Gizi Buruk. Diakses 15 Desember 2008:
Republika Online.
Nency, Y. 2005. Gizi Buruk, Ancaman Generasi Yang Hilang. Inpvasi Edisi
Vol. 5/XVII/ November 2005: Inovasi Online
Notoatmojo, S. 2003. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat.
Cetakan Ke-2. Jakarta: Rineka Cipta
Doengoes, M.E., 2000, Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta.
Johnson, M., et all. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second
Edition. New Jersey: Upper Saddle River
Mc Closkey, C.J., et all. 1996. Nursing Interventions Classification (NIC)
Second Edition. New Jersey: Upper Saddle River
Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006.
Jakarta: Prima Medika

Anda mungkin juga menyukai