Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH BIOSECURITY

PENERAPAN BIOSECURITY PADA TEMPAT BUDIDAYA IKAN

OLEH KELOMPOK 2
NAMA ANGGOTA :
1. Maria G. G. Gena
2. Romula A. Jemadi
3. Tom Imnick K. Suruk
4. Indah Sulistyani
5. Yakobus R. Ladju
6. Ledy C. Salestin
7. Bergitha Soge
8. Elmarlen I. N. P. Oematan
9. Yuni Ratiani Riwu
10.Christin Melkianus
11.Yunita Amelia Nope
12.Nina I. Welndy
13.Agnes Y. Taek
14.Lucyan M. A. Owa Milo

1309012013
1309012014
1309012015
1309012016
1309012017
1309012018
1309012019
1309012020
1309012022
1309012023
1309012024
1309012025
1309012027
1309012028

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2016

DAFTAR ISI
HALAMAN COVER .......................................................................

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

.....................................................................

ii

...............................................................................

iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG .........................................................
1.2 TUJUAN ........................................................................

1
2

BAB II ISI
BAB III PENUTUP
3.1 KESIMPULAN ................................................................

11

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................

12

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha
Esa atas berkat rahmat sertakasih-Nya sehingga kami dapat

ii

menyelesaikan
makalah
ini
dengan
judul
PENERAPAN
BIOSECURITY PADA TEMPAT BUDIDAYA IKAN.
Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi nilai tugas
kelompok sekaligus sebagai bahan pembelajaran bagi mahasiswa
khususnya pada mata kuliah Biosecurity.
Selesainya makalah ini tidak terlepas dari bantuan berbagai
pihak, sehingga pada kesempatan ini dengan rendah hati kami
mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah
membantu selama pengerjaan makalah sampai selesai. Kami juga
mengucapkan terimakasih kepada dosen mata kuliah Biosecurity
yang telah memberikan tugas dengan penyusunan makalah ini
sebagai bahan pembelajaran dan sekaligus melengkapi nilai tugas
mata kuliah dimaksud.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, oleh sebab itu kami mengharapkan kritik dan saran
yang membangun dari semua pihak demi kesempurnaan makalah
ini.
Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita
semua dan semoga Tuhan memberkati.

Kupang, Januari 2016


Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

LATAR BELAKANG

iii

Berdasarkan laporan FAO Year Book 2009, Produksi perikanan


tangkap Indonesia sampai dengan tahun 2007 berada pada
peringkat ke-3 dunia dengan tingkat produksi perikanan tangkap
pada periode 2003-2007 mengalami kenaikan rata-rata produksi
sebesar 1,54%. Disamping itu, Indonesia juga merupakan produsen
perikanan budidaya pada urutan ke-4 di dunia, sampai dengan
tahun 2007 posisi produksi dengan kenaikan rata-rata produksi
pertahun sejak 2003 mencapai 8,79%. Hal ini menyebabkan
Indonesia memiliki kesempatan untuk menjadi penghasil produk
perikanan terbesar dunia, karena terus meningkatnya kontribusi
produk perikanan Indonesia di dunia pada periode 2004-2009.
Menurut Daryanto (2007), sumberdaya pada sektor
perikanan merupakan salah satu sumberdaya yang penting bagi
hajat hidup masyarakat dan memiliki potensi dijadikan sebagai
penggerak utama (prime mover) ekonomi nasional. Hal ini didasari
pada kenyataan bahwa pertama, Indonesia memiliki sumberdaya
perikanan yang besar baik ditinjau dari kuantitas maupun
diversitas. Kedua, Industri di sektor perikanan memiliki keterkaitan
dengan sektor-sektor lainnya. Ketiga, Industri perikanan berbasis
sumberdaya nasional atau dikenal dengan istilah national resources
based industries, dan keempat Indonesia memiliki keunggulan
(comparative advantage) yang tinggi di sektor perikanan
sebagimana dicerminkan dari potensi sumberdaya yang ada.
Mengingat sangat besar manfaat ikan bagi masyarakat,
maka perlu dilakukan upaya kelestariannya. Ikan merupakan
sumberdaya yang dapat diperbaharui, artinya jika pengelolaan
sumberdaya perikanan dilakukan dengan memperhatikan aspek
kontinuitas, maka ketersediaan protein hewani juga akan stabil.
Salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian penting adalah
aspek penyakit. Penyakit yang sulit ditanggulangi tentu akan
mengancam kelestarian sumberdaya perikanan. Prinsip pengobatan
terhadap penyakit bukan lagi merupakan salah satu hal utama
yang harus dilakukan. Kecenderungan prinsip dalam bidang
kesehatan sekarang telah bergeser menjadi prinsip pencegahan
terhadap penyakit. Oleh karena itu, perlu diperkuat Standar
Operasional Prosedur (SOP) atau sistem pertahanan untuk
mencegah masuknya penyakit-penyakit ikan yang belum pernah
ada di Indonesia (penyakit eksotik) dan tersebarnya penyakit ikan
dari suatu area ke area lain. Wabah penyakit sedang semakin diakui

iv

sebagai hambatan yang signifikan untuk produksi perikanan


budidaya dan perdagangan dan mempengaruhi pembangunan
ekonomi sektor di banyak negara di dunia. Penyakit sekarang
dianggapsebagai salah satu faktor pembatas dalam budidaya, yang
menimbulkan efek langsung pada kerugian ekonomi, dan pengaruh
secara tidak langsung yaitu pada aspek sosial dan aspek lainnya,
seperti masalah perdagangan dan ketenagakerjaan, penggunaan
bahan kimia dan obat-obatan, dan biaya lingkungan, tidak pernah
benar diukur (FAO, 1997)
1.2

TUJUAN
1. Untuk mengetahui penerapan biosekuriti di tempat budidaya
ikan
2. Mengetahui SOP yang dapat diterapkan di tempat budidaya
ikan agar mengurangi tingkat manifestasi dan infeksi penyakit
3. Untuk mendapatkan nilai tugas mata kuliah Biosecurity

BAB II
ISI
2.1

PENGERTIAN S.O.P
SOP (Standar Operasional Prosedur) adalah suatu set instruksi
(perintah kerja) terperinci dan tertulis yang harus diikuti demi
mencapai keseragaman dalam menjalankan suatu pekerjaan tertentu
(detailed, written instructions to achieve uniformity of the
performance of a specific function) dengan berpedoman pada tujuan
yang harus dicapai. SOP menjadi pedoman bagi para pelaksana
pekerjaan. SOP dibuat dengan tujuan untuk memberikan pelayanan
dan hasil yang maksimal untuk pihak-pihak yang dilayani.

2.2 ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENTING YANG PERLU DILINDUNGI


DARI ANCAMAN PENYAKIT
Penular penyakit ini dapat melalui udara, darat dan air. Adapun
yang berpotensi menyebarkan penyakit pada kegiatan perikanan
diantaranya Manusia, Hewan, Peralatan, Kondisi Alam, dan Sistem.
A. Manusia
Mobilitas manusia sangat tinggi, bergerak dari satu tempat ke
tempat lainnya. Manusia merupakan carrier penyakit yang paling
berbahaya. Oleh karena itu, semua yang terlibat dalam kegiatan
budidaya baik langsung maupun tidak langsung, harus memperoleh
informasi yang lengkap dan jelas mengenai biosecurity.
Penerapan Biosecurity pada manusia :
1. Alas kaki dilepas dan diganti dengan perlengkapan khusus ketika
memasuki daerah sensitif.

vi

Penggantian alas kaki


2. Menggunakan pakaian khusus bila memasuki fasilitas sensitif

Pakaian khusus
3. Peralatan tidak steril tidak boleh berada di tambak

Sandal tidak boleh naik ke jembatan dan pematang tambak


B. Hewan
Hewan bisa masuk ke kawasan budidaya melalui :
Darat : kepiting, kodok, ular, ayam, kambing, bebek, angsa,
unggas liar dan hewan liar lainnya.
Air : ikan liar, udang liar, crustaceae kecil, kepiting, ular,
serangga air.
Udara : Burung, serangga, mikroorganisme yang terbawa
angin atau aerosol.

vii

Berbagai jenis hewan liar yang biasa masuk ke tambak


yang berpotensi menyebarkan penyakit
Penerapan Biosecurity untuk mencegah hewan liar masuk
lahan budidaya:
1. Multiple Screening

Penerapapa Multiple Screening di Tambak


2. Crab Protecting Wall

Penerapan jaring pencegah kepiting


3. Bird Scaring Line

Penerapan Bird Scaring Line di Tambak


C. Peralatan

viii

Peralatan yang biasa digunakan di tambak


Setiap selesai menggunakan peralatan di tambak/lahan
perikanan, peralatan tersebut harus dicuci dan dikeringkan.
D. Kondisi Alam
1. Lokasi pertambakan di bawah garis pasang surut, sehingga air
pasang bisa masuk ke tambak dan ada potensi terjadi kontaminasi.

Air pasang tinggi bisa melimpas diatas tanggul tambak


2. Lokasi tambak berpasir, porous, sehingga bisa terjadi
kontaminasi silang antar tambak atau antara tambak dengan kanal
distribusi.
E. Sistem
Sistem budidaya
terbuka
(Open
System) lebih
besar
kemungkinan terjadi kontaminasi, baik secara mikrobiologis maupun
kimiawi. Carrier bisa masuk ke dalam sistem melalui air.
Upaya Pencegahan kontaminasi penyakit :
1. Bak pencuci

Pembuatan bak pencuci sebelum masuk ke area tambak

ix

2. Foot Bath dan Disinfectant

Penerapan Foot Bath dan Penyemprotan Disinfectant untuk mencegah


kontaminasi bibit penyakit
2.3 ANALISIS FAKTOR RESIKO MASUK DAN KELUARNYA PENYAKIT
Salah satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan dalam
suatu
usaha
pembenihan
ikan
adalah
kemampuan
dalam
mengendalikan masuknya dan berkembangnya organisme pathogen
pada unit pembenihan tersebut. Hal ini hanya dapat dipenuhi melalui
penerapan biosecurity yang sistematis dan konsisten.
Penerapan biosecurity dapat dilakukan secara fisik melalui :
1. Pengaturan tata letak
Pengaturan tata letak yang baik di suatu unit pembenihan dapat
mencegah menyebarnya oganisme pathogen dan kontaminasi bahan
kimia yang tidak diinginkan dari satu area ke area lainnya. Oleh karena
itu harus dilakukan pengaturan tata letak sub unit pembenihan
berdasarkan alur produksi, dilakukan pemagaran/penyekatan dan
pengaturan penyimpanan sarana produksi pada tempat yang sesuai
dengan fungsinya masing-masing
a) Pengaturan berdasarkan alur produksi
Yang dimaksud dengan pengaturan tata letak berdasarkan
alur produksi adalah menata tata letak serta aliran input di masingmasing sub unit secara berurutan mulai dari sub unit karantina,
induk, pemijahan dan penetasan, pemeliharaan benih, penyediaan
pakan hidup, sampai pemanenan benih sehingga mencegah
kontaminasi pathogen antar sub unit.
b) Pemagaran dan penyekatan

Untuk
membatasi
masuknya
orang
yang
tidak
berkepentingan dan hewan yang berpotensi membawa organisme
pathogen dan pencemar kedalam unit pembenihan, maka harus
dilakukan pemagaran keliling pada bagian terluar dari batas lokasi
unit pembenihan tersebut. Demikian pula pemagaran atau
penyekatan antara area sub unit produksi yang satu dengan lainnya
mutlak diperlukan untuk mencegah terjadinya kontaminasi silang.
c) Penyimpanan
Penurunan mutu bahan biologi dan bahan kimia akibat
penyimpanan yang tidak baik dapat mengakibatkan proses
pembenihan yang dilakukan tidak efektif. Oleh karena itu pakan,
bahan kimia dan obat-obatan harus disimpan ditempat yang
terpisah dengan kondisi sesuai petunjuk teknis. Demikian pula
peralatan produksi harus disimpan dengan baik di tempat yang
terpisah, bersih dan siap pakai sesuai dengan peruntukannya.
2. Pengaturan akses masuk ke lokasi unit pembenihan,
Masuknya personil, kendaraan, bahan dan peralatan ke lokasi
unit pembenihan dapat menjadi sumber transmisi organisme
pathogen masuk ke unit pembenihan. Pengaturan akses masuk ke
lokasi unit pembenihan dapat dilakukan dengan membatasi akses
masuk hanya satu pintu dan menyediakan sarana sterilisasi.
Demikian pula untuk masing-masing sub unit produksi sebaiknya
melalui satu pintu dengan menyediakan sarana sterilisasi.
3. Sterilisasi wadah, peralatan dan ruangan
Selain melakukan pengaturan tata letak dan akses masuk
dari luar ke lokasi unit pembenihan, hal yang sangat penting dalam
penerapan biosecurity
adalah
dengan
melakukan
sterilisasi
lingkungan dalam unit pembenihan yang meliputi sterilisasi, wadah
pemeliharaan, peralatan kerja dan ruangan/bangsal tempat bekerja.
Tujuan sterilisasi ini adalah untuk mengeliminasi semua organisme
pathogen yang berpotensi menyebabkan penyakit yang dapat
merugikan usaha pembenihan.
a. Desinfeksi wadah pemeliharaan
Pemakaian wadah pemeliharaan yang terus menerus tanpa
perlakuan desinfeksi akan menjadi sumber penyakit yang dapat
berkembang dari siklus pemeliharaan yang satu ke siklus
pemeliharaan berikutnya. Pencucian wadah pemeliharaan dengan
desinfektan harus dilakukan setelah digunakan dan setiap memulai
pemeliharaan baru untuk memastikan bahwa sumber penyakit tidak
berkembang dari siklus pemeliharaan sebelumnya. Jenis desinfektan

xi

yang digunakan harus berupa bahan yang direkomendasikan dan


memperhatikan prosedur penggunaan dan penetralannya.
b. Desinfeksi peralatan dan sarana produksi
Peralatan dan sarana yang digunakan dan berhubungan
langsung dengan air media pemeliharan dapat menjadi media
berkembangnya organisme pathogen. Oleh karena itu peralatan
operasional yang digunakan harus didesinfeksi baik sebelum
maupun setelah digunakan dalam operasional pembenihan.
Sedangkan sarana pipa pengairan dan aerasi harus diberi
desinfektan dan dikeringkan setiap selesai satu siklus produksi.
Selain menggunakan bahan desinfektan dapat dibantu dengan
penjemuran sinar matahari
c. Sterilisasi ruangan produksi
Sterilisasi ruangan atau bangsal pembenihan bertujuan
memutus siklus hidup organisme yang tidak dikehendaki, dilakukan
pada lantai, dinding, atap dan sudut-sudut ruangan yang sulit
dibersihkan dengan cara fumigasi atau penyemprotan bahan
desinfektan oksidatif yang direkomendasikan.
4. Sanitasi Lingkungan Pembenihan
Lingkungan yang mempunyai sanitasi yang baik dapat
memperkecil peluang berkembangnya organisme pathogen. Upaya
sanitasi lingkungan pembenihan ini harus didukung oleh tersedianya
fasilitas pendukung kebersihan yang memadai, antara lain:
peralatan kebersihan, tempat sampah dan toilet. Di masing-masing
sub unit produksi harus tersedia tempat sampah tertutup dan selalu
dibersihkan setiap hari. Toilet ditempatkan terpisah dari unit
produksi benih dengan septic tank berjarak minimal 10 meter dari
sumber air. Toilet harus dilengkapi dengan sabun antiseptik.
5. Pengolahan limbah hasil kegiatan pembenihan
Air yang digunakan untuk pemeliharaan induk dan benih,
setelah tidak dipakai dan dibuang akan membawa bahan kimia atau
bahan biologi yang dipakai dalam proses produksi yang berpotensi
mencemari lingkungan perairan sekitarnya. Oleh karena itu, air
buangan dari proses produksi ini sebelum sampai ke perairan umum
atau lingkungan sekitarnya harus diolah terlebih dahulu agar
menjadi netral kembali. Untuk maksud ini maka setiap unit
pembenihan harus mempunyai bak/petak pengolah limbah untuk
bahan organik, mikroorganisme dan bahan kimia.
6. Pengaturan personil/karyawan

xii

Dalam penerapan biosecurity di suatu unit pembenihan,


pengaturan personil/karyawan menjadi sangat penting agar
penerapan biosecurity dapat berjalan efektif dan aman bagi
personil/karyawan yang terlibat di dalamnya dan berkomitmen
untuk melaksanakannya. Upaya pengaturan dimulai dengan
pemahaman bahwa personil/karyawan yang terlibat dalam proses
pemeliharaan/produksi mempunyai potensi menjadi pembawa
organism pathogen. Cara yang dapat dilakukan dalam pengaturan
personil/karyawan tersebut antara lain adalah sebagai berikut :
1) Pakaian dan perlengkapan kerja
Pakaian dan perlengkapan kerja personil/karyawan yang
tidak bersih dapat menjadi sumber kontaminan atau agen
transmisi organisme pathogen bagi benih ikan yang dipeliharanya,
dan dapat pula mempengaruhi kesehatan personil/karyawan yang
memakainya. Untuk sterilisasi dan melindungi kesehatan
personil/karyawan
maka
pemakaian
sepatu boot merupakan
keharusan selama dalam bekerja. Setiap personil/karyawan
sebaiknya menggunakan sarung tangan dan menggunakan
penutup hidung bila bekerja dengan bahan kimia dan obat-obatan.
2) Sterilisasi alas kaki dan tangan
Pada saat memasuki sub unit produksi, karyawan sebaiknya
untuk melakukan sterilisasi alas kaki dan tangannya sebelum dan
setelah melakukan pekerjaan Dalam melakukan pekerjaan di unit
pembenihan seringkali digunakan bahan kimia, bahan biologi dan
obat
obatan
yang
dapat
berpotensi
berbahaya
bagi
personil/karyawan yang terlibat di dalamnya. Agar bahan tersebut
tidak
meracuni
personil/karyawan
maka
sebaiknya
bagi
personil/karyawan untuk cuci tangan/kaki segera setelah selesai
melakukan pekerjaan.
2.4 LANGKAH-LANGKAH STRATEGIS YANG PERLU DILAKUKAN
UNTUK
MEMINIMALISIR
RESIKO
PENULARAN/PENYEBARAN
PENYAKIT
1. Sarana dan Prasarana
a. Pengelolaan air
- Air masuk menggunakan saluran yang tertutup dan terpisah
dengan saluran pembuangan;
- Air bebas cemaran dan layak untuk pemeliharaan ikan.

xiii

b. Desinfeksi wadah/bak/akuarium
- Untuk menghindari kemungkinan timbulnya organisme
pathogen pada wadah/bak/akuarium;
- Desinfeksi wadah/bak/akuarium dilakukan sebelum dan
sesudah digunakan.
c. Sekat/jarak pemisah
- Jika memungkinkan setiap tahapan proses produksi dibuat
ruangan terpisah;
- Sekat pemisah antar ruangan dibuat dari bahan yang tidak
berbahaya dan mampu memisahkan/membatasi kemungkinan
kontaminasi.
d. Penomoran (identitas) bak/wadah
Penomoran/pemberian identitas wadah bertujuan
memudahkan pencatatan dan ketertelusuran data;
Setiap wadah/bak/akuarium wajib diberi penomoran.

untuk

e. Rambu/marka
- Rambu/marka dibuat sebagai petunjuk untuk dipatuhi oleh
seluruh karyawan atau tamu;
- Rambu/marka ditempatkan pada lokasi yang mudah dilihat dan
jelas terbaca;
- Rambu/marka dapat berupa tanda dilarang masuk, dilarang
makan, area karantina, dan tanda lain dengan tulisan berwarna
hitam dan berwarna latar kuning.
2. Personil
a. Perlengkapan kerja personil
- Merupakan perlengkapan yang khusus digunakan oleh personil
di UUPI;
- Sekurang-kurangnya berupa sepatu boot, dan dapat dilengkapi
dengan pakaian kerja (wearpack), sarung tangan karet, masker,
dan kelengakapan lain;Tersedia dalam jumlah yang cukup sesuai
dengan jumlah personil.
b. Sarana desinfeksi tangan
- Merupakan sarana untuk desinfeksi tangan personil yang akan
masuk dan keluar unit produksi;
- Berupa tempat pencuci tangan/wastafel yang dilengkapi dengan
sabun antiseptik dan tissue atau hand sanityzer yang
ditempatkan di depan pintu masuk dan keluarnya unit produksi.

xiv

c. Sarana desinfeksi alas kaki (foot dipping mat)


- Merupakan tempat untuk desinfeksi alas kaki personil yang akan
masuk dan keluar unit produksi;
- Terbuat dari bak semen maupun bahan lain dengan ukuran
sesuai lebar pintu dengan ketinggian larutan desinfeksi 10
cm;
- Dilengkapi dengan bahan desinfeksi yang aman dan efektif
digunakan.
3. Ikan
a. Pemasukan Ikan
1) Ikan masuk
Jika dimungkinkan setiap ikan masuk harus dilengkapi dengan
sertifikat kesehatan ikan/surat keterangan dari area asal.
Ikan hasil tangkapan
- Ikan tidak menunjukkan gejala klinis sakit;
- Ikan berasal dari suplier atau pemasok yang dipercaya;
- Berasal dari perairan yang tidak tercemar, dan bukan dari daerah
wabah;
- Untuk ikan hias laut ditangkap dari daerah penangkapan yang
jaraknya minimal 5 km dari daerah budidaya;
- Tidak ditangkap dengan menggunakan bahan/alat berbahaya
untuk manusia, ikan maupun lingkungan.
Ikan hasil budidaya
- Ikan tidak menunjukkan gejala klinis sakit;
- Ikan berasal dari suplier atau pemasok yang dipercaya;
- Ikan hias air tawar atau laut tidak boleh dipelihara bercampur
dengan ikan konsumsi, dan ikan untuk pemancingan;
- Jauh dari cemaran limbah industri, pertanian/perikanan dan
tambang;
- Berasal dari petani/breeder yang mempunyai rekaman data ikan.
2) Penerimaan ikan
- Pemeriksaan kelengkapan dokumen dari area asal;
- Apabila ikan masuk mengalami mortalitas (Dead on
- Arrival/DOA) sebanyak lebih dari 30% maka ikan ditolak.
b. Pemeliharaan ikan
- Penggantian air secukupnya;
- Pemberian pakan secara benar (untuk pakan alami, diberikan
- perlakuan/treatment terlebih dahulu sebelum diberikan);
- Pengamatan gejala klinis ikan dengan terjadwal dan berkelanjutan;
- Pemeriksaan kualitas air dengan terjadwal.

xv

c.
-

Penanganan ikan sakit


Ikan dipindahkan ke ruang/sarana perlakuan;
Ikan diberikan obat yang legal sesuai metode, jenis dan dosisnya;
Dilakukan pengamatan dan pemeriksaan kesehatan ikan secara
laboratoris;
- Dilakukan penggantian air secukupnya.

d. Penanganan ikan mati


- Ikan yang mati diambil dan dikumpulkan dari bak/wadah/akuarium;
- Ikan dimusnahkan dengan cara dibakar atau dikubur;
- Ikan mati dilarang digunakan sebagai pakan.
e. Pra panen dan pengemasan
- Ikan yang telah diseleksi dari wadah/bak/akuarium pemeliharaan
dipindah menuju ruang/sarana pra panen;
- Dilakukan pengamatan kesehatan dan pemberokan, jika perlu
diberikan perlakuan;
- Hindarkan stress berlebihan pada saat panen;
- Pada saat pengemasan dilakukan pengaturan kepadatan sesuai
dengan jenis, umur, ukuran dan waktu tempuh;
- Kemasan diberi label sesuai dengan ketentuan.

4. Lingkungan
a. Lingkungan Internal
1) Pengelolaan air
- Dilakukan pencucian dan desinfeksi secara berkala terhadap
sistem resirkulasi dan filterisasi;
- Jika
memungkinkan
pada
setiap
jalur/baris
pada
bak/wadah/akuarium memiliki sistem resirkulasi dan filterisasi
air masing-masing;
- Konstruksi sistem resirkulasi dan filterisasi harus tertutup
dan/atau berada di dalm ruangan yang tertutup dengan
senantiasa menjaga kualitas airnya;
- Untuk
menjaga
kestabilan
parameter
kualitas
air,
masingmasing
wadah/bak/akuarium
dilengkapi
dengan
peralatan penjaga kestabilan kualitas air (misalnya heater,
chiller); dan,
- Memiliki alur suplai air/distirbusi air baku yang tertutup.
2) Pengaturan jarak wadah/akuarium
- Jarak antar jalur wadah/bak/akuarium diatur sedemikian rupa
- sehingga tidak terjadi kontaminasi silang akibat percikan air;

xvi

- Jarak antar jalur pada baris wadah/bak/akuarium minimal 75


cm.
3) Lantai
- Kondisi lantai harus selalu bersih dan kering;
- Permukaan lantai dibuat kemiringan yang mengarah ke
saluran air/drainase sehingga tidak memungkinkan terjadi
genangan air.
4) Desinfeksi peralatan dan wadah
- Semua peralatan sebelum dan sesudah digunakan pada
wadah/bak/akuarium yang berbeda didesinfeksi terlebih
dahulu;
- Jika memungkinkan masing-masing jalur wadah/bak/akuarium
memiliki wadah desinfeksi tersendiri atau terpisah;
- Sebelum dan sesudah digunakan, peralatan masing-masing
jalur didesinfeksi/direndam pada tempat yang disediakan di
masing-masing jalur;
- Dilarang mendesinfeksi peralatan pada jalur yang berbeda;
- Sebelum dan sesudah proses produksi, setiap wadah dilakukan
proses desinfeksi.
5) Pengelolaan air limbah
- Air sisa pembuangan dari wadah/akuarium yang jatuh ke
lantai, terkumpul dalam suatu saluran yang mengalir menuju
tempat penampungan limbah;
- Air imbah (bekas desinfeksi peralatan), harus dibuang di
saluran air/drainase yang menuju tempat penampungan
limbah;
- Saluran air/drainase menuju penampungan limbah harus
dibuat sedemikian rupa, sehingga tidak terjadi genangan dan
sumbatan.
b. Lingkungan eksternal
1) Pagar
- Pagar mampu berfungsi sebagai pelindung dari masuknya
hewan dari luar yang kemungkinan berpotensi sebagai sarana
pembawa organisme patogen, disamping itu pemagaran
dilakukan untuk membatasi akses masuk hanya satu pintu;
- Pagar dapat terbuat dari material seperti besi, tembok, bambu
atau material lainnya yang kokoh dan rapat.
2) Sarana desinfeksi kendaraan
- Pada pintu masuk utama, harus disediakan sarana desinfeksi
bagi roda kendaraan yang akan masuk ke dalam lingkungan unit
usaha budidaya perikanan;

xvii

- Berupa Sarana celup roda umumnya terbuat dari semen/beton


dengan ukuran luas dan kedalaman disesuaikan dengan
lebarnya jalan serta kendaraan; atau
- Sprayer yang berisi larutan desinfektan.
3) Toilet dan sarana pencuci tangan
- Tersedia sarana toilet dan sarana pencuci tangan (wastafel)
yang dilengkapi dengan desinfektan seperti sabun atau hand
sanytizer.
2.5 STUKTUR SOP

1. Supplier
Ikan berasal dari supplier yang dipercaya oleh perusahaan, dan
telah memenuhi standar yang dipersyaratkan oleh perusahaan, yaitu
ikan harus berasal dari daerah bebas wabah penyakit HPIK/HPI
tertentu, bukan berasal dari area yang dilindungi serta dilengkapi
dengan sertifikat karantina ikan atau surat keterangan sehat.
2. Pemasukan ikan

xviii

Dilakukan seleksi ikan secara intensif terhadap kesehatan dan


kualitas ikan yang dimasukkan dengan cara pengamatan ikan secara
visual dan morfologis. Bila ikan menunjukkan gejala klinis sakit atau
tidak sesuai dengan yg dipersyaratkan perusahaan, maka dilakukan
penolakan dan ikan dikembalikan ke supplier. Kemudian dilanjutkan
proses aklimatisasi dan adaptasi yang merupakan titik kritis terhadap
penyebaran penyakit HPIK/HPI tertentu ke dalam lingkungan UUPI.
Kegiatan yg dilakukan adalah pengamatan gejala klinis terhadap
kondisi ikan yang ada pada ruang aklimatisasi&adaptasi. Apabila
setelah dilakukan pengamatan selama waktu tertentu ternyata ikan
menunjukkan gejala sakit, maka dilakukan penolakan/pemusnahan.
3. Aklimatisasi dan adaptasi
Kegiatan
aklimatisasi
dan
adaptasi,
bertujuan
untuk
menyesuaikan ikan dengan lingkungan baru di UUPI. Aklimatisasi
dilakukan selama 30-60 menit, dan adaptasi dilakukan selama 2-5 hari,
kemudian dicatat tanggal masuk, sumber ikan, jumlah dan ukuran ikan,
serta melakukan pemeriksaan kesehatan ikan. Apabila ikan terserang
penyakit, maka dilakukan isolasi terhadap ikan-ikan yang sakit, untuk
selanjutnya dilakukan pengobatan. Proses ini merupakan titik kritis dari
kemungkinan penyebaran penyakit HPIK/HPI tertentu ke dalam
lingkungan UUPI. Apabila ikan tidak dapat diobati /mati, maka ikan
segera dimusnahkan.
4. Pemeliharaan ikan
Pada proses ini dilakukan kegiatan penggantian aiir dan
pembersihan wadah setiap hari. Filter pada setiap wadah dilakukan
pembersihan sebanyak 2 kali per minggu. Melakukan pemberian pakan
pellet yang berkualitas. Pemberian pakan hidup atau segar wajib
dilakukan perendaman dengan menggunakan potassium permanganat
selama 15 menit, kemudian baru diberikan pada ikan. Tidak
menggunakan wadah dari unit lain. Tahap pemeliharaan merupakan
titik kritis terhadap penyebaran HPIK/HPI tertentu apabila tidak
dilakukan dengan baik dan benar.
5. Pra-Panen (Isolasi)
Selama dalam proses karantina, observasi ketat dilakukan setiap
hari selama 2-14 hari. Jika menemukan gejala klinis penyakit, maka
digunakan obat sesuai dengan dosis dan jenis yang telah ditentukan.

xix

Data kematian dan pengobatan harus tercatat dalam rekaman data


(log book). Terhadap ikan mati dilakukan desinfeksi dengan cara
dimasukkan dalam ember berkaporit yang ada di dalam ruang
karantina. Proses ini merupakan titik kritis sebelum dilakukan panen
dan pengemasan. Karena berpotensi membawa HPIK/HPI tertentu.
Pada proses ini harus ditentukan bahwa ikan yang akan dipanen bebas
dari HPIK/HPI tertentu sesuai dengan persyaratan negara tujuan.
6. Panen dan pengemasan
Peralatan yang digunakan pada proses pemanenan dilakukan
sterilisasi. Sebelum ekspor yang diperiksa oleh manjer operasional, dan
manajer mutu. Jika ditemukan ikan yang terdapat gejala klinis sakit,
maka ikan akan dipindahkan dan dimasukkan dalam ruang
perlakuan/pengobatan penyakit ikan. Proses pemanenan, harus
menggunakan plastik dan styrofoam yang baru. Kemudian dilakukan
pelabelan dan pengemasan yang baik.

BAB III
PENUTUP
3.1 SARAN
a. Setiap pelaku usaha perikanan budidaya perlu ditingkatkan
pemahaman dan keterampilannya mengenai biosecurity dalam
pengendalian penyakit ikan dan penurunan mutu lingkungan
budidaya.
b. Untuk efektivitas pengendalian penyakit ikan dan penurunan mutu
lingkungan budidaya maka penegakan aturan terkait kesehatan
ikan dan lingkungan sesuai dengan standart operasional prosedur
dengan menerapkan biosecurity perlu ditingkatkan dan diikuti
dengan sosialisasi dan pembinaan yang memadai kepada seluruh
stakeholders

xx

DAFTAR PUSTAKA

xxi