Anda di halaman 1dari 2

Episkleritis merupakan peradangan yang mengenai episklera, yakni lapisan tipis jaringan

ikat vaskuler yang menutupi sklera.Kelainan ini cenderung terjadi pada orang muda, khasnya
pada dekade ketiga atau keempat kehidupan, mengenai wanita tiga kali lebih sering dibanding
pria. Bersifat unilateral pada dua-pertiga kasus. Kekambuhan sering terjadi dan penyebabnya
tidak diketahui. Kelainan lokal atau sitemik terkait misalnya rosasea okular, atopi, gout, infeksi
atau penyakit kolagen vaskuler dijumpai pada sepertiga populasi pasien.
Episkleritis menunjukkan respon inflamasi yang terlokalisir pada superficial episcleral
vascular network, patologinya menunjukkan inflamasi nongranulomatous

dengan dilatasi

vascular dan infiltrasi perivascular. Penyebab tidak diketahui, paling banyak bersifat idiopatik
namun sepertiga kasus berhubungan dengan penyakit sistemik dan reaksi hipersensitivitas
mungkin berperan.
Terdapat dua tipe klinik yaitu episkleritis sederhana dan nodular. Tipe yang paling sering
dijumpai adalah simple episcleritis (80%), merupakan penyakit inflamasi moderate hingga
severe yang sering berulang dengan interval 1-3 bulan, terdapat kemerahan yang bersifat sektoral
atau dapat bersifat diffuse dan edema episklera. Tiap serangan berlangsung 7-10 hari dan paling
banyak sembuh spontan dalam 1-2 atau 2-3 minggu. Dapat lebih lama terjadi pada pasien dengan
penyakit sistemik. Faktor presipitasi jarang ditemukan namun serangan dapat dihubungkan
dengan stress dan perubahan hormonal. Pasien dengan nodular episcleritis mengalami serangan
yang lebih lama, berhubungan dengan penyakit sistemik (30% kasus, 5% berhubungan dengan
artritis rematoid, 7% berhubungan dengan herpes zoster ophthalmicus atau herpes simplex dan
3% dengan gout atau atopy) dan lebih nyeri dibandingkan tipe simple. Nodular episcleritis (20%)
terlokalisasi pada satu area, membentuk nodul dengan injeksi sekelilingnya.
Gejala episkleritis meliputi kemerahan dan iritasi ringan atau rasa tidak nyaman. Pasien
mengeluhkan rasa tidak nyaman (mild to moderate) yang berlangsung akut, seringkali bersifat
unilateral, walaupun ada yang melaporkan tidak nyeri, kemerahan, nyeri seperti ditusuk-tusuk,
nyeri saat ditekan, dan lakrimasi. Pada tipe noduler gejala lebih hebat dan disertai perasaan ada
yang mengganjal.
Pemeriksaan mata memperlihatkan injeksi episklera, yang bersifat nodural, sektoral, atau
difus. Tidak tampak peradangan atau edema pada sklera dibawahnya, keratitis dan uveitis jarang
menyertai. Diagnosa konjungtivitis disingkirkan dengan tidak adanya injeksi konjungtiva
palpebralis ataupun sekret.Tanda objektif dapat ditemukan kelopak mata bengkak, konjungtiva

bulbi kemosis disertai pelebaran pembuluh darah episklera dan konjungtiva.Apabila pasien
mengalami episkleritis nodular, pasien mungkin memiliki satu atau lebih benjolan
kecil atau benjolan pada daerah putih mata. Pasien mungkin merasakan bahwa benjolan tersebut
dapat bergerak di permukaan bola mata.
Episkleritis Sederhana ditandai dengan kemerahan sektoral dan gambaran yang lebih
jarang adalah kemerahan difus. Jenis ini biasanya sembuh spontan dalam 1-2 minggu. Sedangkan
episkleritis noduler ditandai dengan adanya kemerahan yang terlokalisir, dengan nodul kongestif
dan biasanya sembuh dalam waktu yang lebih lama.
Kelainan ini bersifat jinak dan perjalanan penyakit biasanya sembuh sendiri dalam 1-2
minggu. Tanpa adanya penyakit sistemik, terapi yang diberikan berupa airmata buatan setiap 4-6
jam hingga kemerahan mereda. Namun, pada kasus-kasus yang didasari oleh kelainan lokal atau
sistemik, dibutuhkan terapi yang lebih spesifik, contohnya doxycycline, 100 mg dua kali sehari
untuk rosasea, terapi antimikroba untuk tuberkulosis, sifilis atau infeksi herpes virus, obat
antiinflamasi nonsteroid lokal atau sistemik atau kortikosteroid untuk penyakit kolagen vaskuler.
Steroid Topikal mungkin cukup berguna, akan tetapi penggunaannya dapat menyebabkan
rekurensi. Oleh karena itu dianjurkan untuk memberikannya dalam periode waktu yang pendek.
Terapi topikal dengan Deksametason 0,1 % meredakan peradangan dalam 3-4 hari.
Kortikosteroid lebih efektif untuk episkleritis sederhana daripada daripada episkleritis noduler.
Oral Non Steroid Anti-Inflammatory Drugs (NSAIDs). Obat yang termasuk golongan ini
adalah Flurbiprofen 300 mg sehari, yang diturunkan menjadi 150 mg sehari setelah gejala
terkontrol, atau Indometasin 25 mg tiga kali sehari. Obat ini mungkin bermanfaat untuk kedua
bentuk episkleritis, terutama pada kasus rekuren.

Pemberian aspirin 325 sampai 650 mg per

oral 3-4 kali sehari disertai dengan makanan atau antasid