Anda di halaman 1dari 6

Presentasi Kasus

KERATITIS

Disusun Oleh :
Mifta Wiraswesti

G99141133

Diah Nahdliana

G99141136

Gerry Febrian R

G99142002

Dwiana Ardianti

G99142004

Sri Retnowati

G99151045

Pembimbing :
Naziya, dr., Sp.M

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD DR. MOEWARDI
SURAKARTA
2015

KERATITIS
A. Definisi
Keratitis adalah radang pada kornea atau infiltrasi sel radang pada
kornea yang akan mengakibatkan kornea menjadi keruh sehingga tajam
penglihatan menurun. Infeksi pada kornea bisa mengenai lapisan superficial
yaitu pada lapisan epitel atau membran bowman dan lapisan profunda jika
sudah mengenai lapisan stroma.1
B. Epidemiologi
Menurut Murillo Lopez (2006), Sekitar 25.000 orang Amerika terkena
keratitis bakteri per tahun. Kejadian keratitis bakteri bervariasi, dengan lebih
sedikit pada negara-negara industri yang secara signifikan lebih sedikit
memiliki jumlah pengguna lensa kontak.2 Insiden keratitis jamur bervariasi
sesuai dengan lokasi geografis dan berkisar dari 2% dari kasus keratitis di
New York untuk 35% di Florida. Spesies Fusarium merupakan penyebab
paling umum infeksi jamur kornea di Amerika Serikat bagian selatan (4576% dari keratitis jamur), sedangkan spesies Candida dan Aspergillus lebih
umum di negara-negara utara. secara signifikan lebih sedikit yang berkaitan
dengan infeksi lensa kontak. 3
C. Etiologi
Keratitis dapat disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya:
1.
2.
3.
4.

Virus
Bakteri
Jamur
Paparan sinar ultraviolet seperti sinar matahari atau sunlamps. Hubungan

ke sumber cahaya yang kuat lainnya seperti pengelasan busur


5. Iritasi dari penggunaan berlebihan lensa kontak.
6. Mata kering yang disebabkan oleh kelopak mata robek atau tidak
cukupnya pembentukan air mata
7. Adanya benda asing di mata

8. Reaksi terhadap obat tetes mata, kosmetik, polusi, atau partikel udara
seperti debu, serbuk sari, jamur, atau ragi
9. Efek samping obat tertentu. 1
D. Patofisiologi
Mata yang kaya akan pembuluh darah dapat dipandang sebagai
pertahanan imunologik yang alamiah. Pada proses radang, mula-mula
pembuluh darah mengalami dilatasi, kemudian terjadi kebocoran serum dan
elemen darah yang meningkat dan masuk ke dalam ruang ekstraseluler.
Elemen-elemen darah makrofag, leukosit polimorf nuklear, limfosit, protein
C-reaktif imunoglobulin pada permukaan jaringan yang utuh membentuk
garis pertahanan yang pertama. Karena tidak mengandung vaskularisasi,
mekanisme kornea dimodifikasi oleh pengenalan antigen yang lemah.
Keadaan ini dapat berubah, kalau di kornea terjadi vaskularisasi. Rangsangan
untuk vaskularisasi timbul oleh adanya jaringan nekrosis yang dapat
dipengaruhi adanya toksin, protease atau mikroorganisme. Secara normal
kornea yang avaskuler tidak mempunyai pembuluh limfe. Bila terjadi
vaskularisasi terjadi juga pertumbuhan pembuluh limfe dilapisi sel.
Reaksi imunologik di kornea dan konjungtiva kadang-kadang disertai
dengan kegiatan imunologik dalam nodus limfe yang masuk limbus (kornea
perifer) dan sklera yang letaknya berdekatan dapat ikut terkait dalam sindrom
iskhemik kornea perifer, suatu kelainan yang jarang terjadi, tetapi merupakan
kelainan yang serius. Patofisiologi keadaan ini tidak jelas, Antigen cenderung
ditahan oleh komponen polisakarida di membrana basalis. Dengan demikian
antigen dilepas dari kornea yang avaskuler, dan dalam waktu lama akan
menghasilkan akumulasi sel-sel yang memiliki kompetensi imunologik di
limbus. Sel-sel ini bergerak ke arah sumber antigen di kornea dan dapat
menimbulkan reaksi imun di tepi kornea. Sindrom iskhemik dapat dimulai
oleh berbagai stimuli. Bahwa pada proses imunologik secara histologik
terdapat sel plasma, terutama di konjungtiva yang berdekatan dengan ulkus.
Penemuan sel plasma merupakan petunjuk adanya proses imunologik. Pada

keratitis herpetika yang khronik dan disertai dengan neo-vaskularisasi akan


timbul limfosit yang sensitif terhadap jaringan kornea. 4
E. Klasifikasi
F. Manifestasi Klinis
G. Diagnosis Banding
H. Diagnosis
I. Tatalaksana
J. Komplikasi
Komplikasi yang paling ditakuti dari keratitis adalah penipisan kornea
dan akhirnya perforasi kornea yang dapat mengakibatkan endophtalmitis
sampai hilangnya penglihatan (kebutaan). Beberapa komplikasi yang lain
diantaranya:

Gangguan refraksi
Jaringan parut permanent
Ulkus kornea
Perforasi kornea
Glaukoma sekunder

K. Prognosis
Keratitis dapat sembuh dengan baik jika ditangani dengan tepat dan jika
tidak diobati dengan baik dapat menimbulkan ulkus yang akan menjadi
sikatriks dan dapat mengakibatkan hilang penglihatan selamanya.
Prognosis visual tergantung pada beberapa faktor, tergantung dari:

Virulensi organisme
Luas dan lokasi keratitis
Hasil vaskularisasi dan atau deposisi kolagen

DAFTAR PUSTAKA
1.

Roderick B. Kornea. In: Vaughan & Asbury. Oftalmologi Umum Edisi 17.
Jakarta : EGC. 2009. p. 125-49.

2.

Lopez FHM. Bacterial Keratitis. 2014.


http://emedicine.medscape.com/article/1194028-overview#a6. Diakses 21
Oktober 2015

3.
4.

Mansjoer A dkk. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid I Edisi Ketiga. Jakarta:

5.

Media Aesculapius FK UI. 2007. p: 56


Deschnes J, Fansler JL, Plouznikoff

A.

Chalazion.

http://emedicine.medscape.com/article/1212709-overview.

Diakses

2014.
21

Oktober 2015
6.

Vaughan DG, Asbury T, Riordan Eva P. Oftalmologi Umum. Edisi 14.

7.

Jakarta: Widya Medika, 2000.


Leonid
SJ.
Hordeolum

and

Chalazion

Treatment.

2002.

www.optometry.co.uk. Diakses tanggal 19 Oktober 2015.

DAFTAR PUSTAKA LAMA


1.

Ilyas S (2010). Ilmu penyakit mata. Jakarta:


FK Universitas Indonesia

2.

Ilyas S, Mailangkay HHB, Taim H, Saman R, Simarwata M, Widodo PS


(eds). 2010. Ilmu penyakit mata untuk dokter umum dan mahasiswa

3.

kedokteran. Jakarta: Sagung Seto


Wicaksono
EN
(2013).

Kalazion

(Chalazion).

http://emirzanurwicaksono.blog.unissula.ac.id/author/emirzanurwicaksono/
4.

Diakses tanggal 23 Maret 2014.


Vaughan DG, Asbury T, Riordan Eva P. Oftalmologi Umum. Edisi 14.

5.

Jakarta: Widya Medika, 2000.


Mansjoer, Arif. Dkk., 1999. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid I. Media

6.

Aesculapius, Jakarta
Leonid
SJ
(2014).

Hordeolum

and

Chalazion

www.optometry.co.uk. Diakses tanggal 23 Maret 2014

Treatment.