Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH PENDEKATAN SISTEM

PENDEKATAN SISTEM DALAM PROSES KELOMPOK MANAJEMEN KELAS


UNTUK MENJADI GURU PROFESIONAL

Oleh:
NAMA : AMINDA DEWI SUTIASIH
NIM : 1208895

Dosen Pembimbing :
Prof. Dr. H. Nizwardi Jalinus, M.Ed
Drs. Ridwan, M.Sc.Ed

MAGISTER PENDIDIKAN TEKNIK KEJURUAN


PROGRAM PASCASARJANA
F A K U L T A S T E K N I K
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2013

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam Undang-Undang Sisdiknas, disebutkan bahwa guru merupakan salah satu
tenaga profesional yang memiliki tugas mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan,
melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik melalui kegiatan pembelajaran.
Berdasarkan hal tersebut, guru memiliki dua tugas pokok yaitu melakukan pengajaran dan
mengelola kelas.pengajaran merupakan kegiatan mengaktifkan pesesta didik dalam suatu
kegiatan untuk mencapai tujuan-tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Kegiatan guru di
dalam melakukan pengajaran meliputi menganalisis kebutuhan siswa, menyusun rencana
pembelajaran, melaksanakan kegiatan pembelajaran, mengevaluasi, serta melakukan umpan
balik.Melakukan pengajaran berbeda dengan kegiatan mengelola kelas.Pengelolaan kelas
yang biasa disebut manajemen kelas menekankan pada penciptaan kondisi yang optimal agar
kegiatan pembelajaran dapat berjalan efektif dan efisien.Meskipun dalam praktiknya kegiatan
mengajar dan mengelola kelas dilaksanakan secara bersama-sama dalam suatu pembelajaran,
guru harus memahami perbedaan di antara keduanya.
Dengan begitu, guru akan dapat menangani dengan tepat setiap masalah yang muncul
dalam pembelajaran. Sudah diketahui bahwa kegiatan pembelajaran yang berlangsung di
berbagai jenjang pendidikan saat ini merupakan kegiatan pembelajaran yang berbasis kelas.
Kelas merupakan sekelompok peserta didik yang memiliki tujuan yang sama dan melakukan
kegiatan pembelajaran secara bersama-sama melalui situasi, kondisi, dan lingkungan yang
diatur secara sengaja untuk mencapai tujuan tersebut, dalam hal ini, gurulah yang
melaksanakan fungsi mengatur atau mengelola suatu kelas.dari pengertian kelas tersebut juga
dapat dipahami bahwa hampir seluruh kegiatan pembelajaran dilaksanakan dalam situasi
kelompok. Tidak dapat dihindari bahwa akan terjadi interaksi antar siswa dalam kelas
tersebut. Interaksi yang terjadi dapat mendukung tetapi juga dapat pula menimbulkan
masalah pengelolaan kelas. Oleh karena itu, diperlukan pengetahuan tentang penerapan dan
pemanfaatan interaksi tersebut melalui pendekatan proses kelompok. Melalui pendekatan ini,
diharapkan guru dapat meningkatkan hal positif yang diperoleh melalui interaksi kelompok
sehingga akan mengurangi atau bahkan menghilangkan masalah manajemen kelas.
B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka diperoleh rumusan masalah sebagai
berikut.
1.
2.
3.
4.

Apa pengertian pendekatan system dalam proses kelompok manajemen kelas?


Bagaimana peranan pendekatan system dalam proses kelompok membentuk guru
profesional?
Apa saja masalah-masalah manajemen kelas yang dapat diatasi dengan pendekatan
system dalam proses kelompok?
Bagaimana pelaksanaan pendekatan system dalam proses kelompok manajemen kelas?

C. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini yaitu untuk mengetahui:
1. Pengertian pendekatan system dalam proses kelompok manajemen kelas.
2. Peranan pendekatan system dalam proses kelompok membentuk guru profesional.
3. Masalah-masalah manajemen kelas yang dapat diatasi dengan pendekatan system dalam
proses kelompok.
4. Pelaksanaan pendekatan system dalam proses kelompok manajemen kelas.
D. Manfaat
Manfaat yang dapat diperoleh dari makalah ini yaitu:
1. Bagi penulis dan pembaca, makalah ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan
mengenai pendekatan system dalam proses kelompok manajemen kelas sehingga dapat
membantu guru atau calon guru dalam menerapkannya di kelas.
2. Bagi penulis dan pembaca, makalah ini juga dapat membantu memahami cara menjadi
guru yang profesional khususnya dalam melakukan manajemen kelas dengan pendekatan
system dalam proses kelompok.

BAB II
KAJIAN TEORI

A. Pengertian Pendekatan Sistem dalam Proses Kelompok Manajemen Kelas


Pendekatan system dalam proses kelompok (group process approach) disebut juga
pendekatan sosio-psikologis merupakan pendekatan yang mengutamakan pengaturan dan
pengoptimalan interaksi antar peserta didik dalam suatu kegiatan kelompok untuk mencapai
tujuan pembelajaran sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan efektif dan efisien.
Pendekatan ini dipilih berdasarkan prinsip psikologi sosial dan dinamika kelompok.
Hasibuan dan Moedjiono (1995:177), mengungkapkan bahwa pendekatan kelompok agar
memiliki suatu ikatan yang kuat memerlukan beberapa unsur yaitu tujuan kelompok, aturan,
dan pemimpin.
1. Tujuan kelompok
Tujuan kelompok dalam hal adalah tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.Setiap
kelompok dalam kelas harus mengetahui tujuan dari dilakukannya suatu kegiatan
kelompok. Dengan begitu, siswa akan lebih memahami dan tertarik untuk mengikuti
proses pembelajaran. Ketidaktahuan akan menimbulkan ketidakpedulian yang berakibat
munculnya masalah manajemen kelas. Dalam hal ini, guru memiliki peran merumuskan
dan mengkomunikasikan kepada peserta didik tentang tujuan atau goal yang hendak
dicapai.
2. Aturan
Aturan dapat berarti batasan perilaku yang diperbolehkan untuk dilakukan oleh
anggota kelas, baik guru maupun peserta didik.Dalam membuat peraturan, guru
hendaknya bersikap demokratis.Aturan harus merupakan suatu kesepakatan antara guru
dengan peserta didik. Aturan yang dibuat secara bersama-sama biasanya akan lebih
dipatuhi dibanding guru membuat kebijaksanaan secara otoriter.
3. Pemimpin
Guru merupakan pemimpin utama dalam kelas. Sebagai pemimpin, hal utama yang
harus dilakukan adalah menjelaskan tujuan kelompok. Selain itu dalam rangka
menciptakan dan memelihara suasana kerja kelompok yang sehat, tugas lain adalah
mendorong dan memeratakan partisipasi, mengusahakan kerjasama, mengurangi
ketegangan, dan memperjelas partisipasi serta menerapkan sanksi. Guru dapat
memberikan tanggung jawab pemimpin kepada peserta didik untuk memimpin
kelompoknya, baik baik kelompok besar maupun kelompok kecil.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat penulis simpulkan bahwa di dalam
pendekatan proses kelompok ini, peserta didik diarahkan untuk saling berinteraksi dalam
kegiatan kelompok yang secara sengaja diatur oleh guru dengan menerapkan aturan yang

telah disepakati untuk menciptakan kondisi kelas optimal dalam mencapai tujuan
pembelajaran.
Richard A. Schmuck dan Patricia A. Schmuck (dalam Mulyadi, 2009:56), mengemukakan
bahwa ada enam unsur yang menyangkut manajemen kelas proses kelompok, yaitu harapan,
kepemimpinan, kemenarikan, norma, komunikasi, dan keeratan.
1. Harapan (expectation)
Harapan berhubungan dengan tingkah laku anggota kelompok, dalam hal ini adalah
peserta didik yang mempengaruhi hubungan antar anggota kelompok, baik guru dengan
peserta didik maupun antarpeserta didik. Kelompok kelas yang efektif terjadi apabila
harapan yang ada pada diri guru dan siswa berjalan searah dan menciptakan sikap saling
pengertian akan harapan masing-masing.
2. Kepemimpinan (leadership)
Dalam proses kelompok, kepemimpinan merupakan salah satu unsur yang
menentukan keberhasilan pembelajaran maupun manajemen kelas. Guru merupakan
pemimpin utama dalam kelompok kelas. Melalui pembelajaran kelompok, tugas
kepemimpinan diberikan kepada seluruh anggota kelompok.Dengan begitu, setiap peserta
didik memiliki tanggung jawab untuk mengatur dan memposisikan dirinya dalam suatu
kelompok. Melalui kepemimpinan, akan terjadi saling koreksi antar siswa sehingga
pelaksanaan manajemen kelas tidak sepenuhnya dari guru semata, melainkan melalui
interaksi antarpeserta didik. Guru yang efektif adalah guru yang mampu mengembangkan
mutu interaksi tersebut dengan menciptakan situasi yang sesuai agar peserta didik melalui
sikap kepemimpinan tetap berorientasi pada tujuan belajar.
3. Kemenarikan (attraction)
Kemenarikan berkaitan erat dengan pola keakraban dalam hubungan kelompok
kelas.Tingkat kemenarikan ini tergantung pada hubungan interpersonal yang positif.
Untuk itu usaha guru adalah meningkatkan sikap menerima dari para anggota kelompok
terhadap situasi dan perubahan ataupun hadirnya orang lain dalam kelompok yang akan
akan membantu efektivitas manajemen kelas melalui pendekatan proses kelompok.
4. Norma (norm)
Norma merupakan aturan bertingkah laku yang telah disepakati dalam suatu
kelompok.Norma kelompok yang efektif adalah yang menjamin produktifitas kelompok
dan sebaliknya.Tugas guru adalah membantu kelompok untuk memahami,
mengembangkan, serta mempertahankan norma-norma yang sesuai untuk mencapai
tujuan.

5. Komunikasi (communication)
Komunikasi merupakan syarat utama terjadnya interaksi kelompok di dalam kelas
yang memungkinkan terjadinya proses kelompok yang efektif. Melalui komunikasi, dapat
terjadi hubungan timbal balik dan saling bertukar pendapat antarpeserta didik.Tugas guru
adalah menumbuhkan interaksi dan komunikasi yang sehat dimana selain siswa diberi
hak untuk mengungkapkan gagasan, siswa juga harus bersedia menerima pendapat orang
lain, sehingga tumbuh situasi kelas yang kondusif.
6. Keeratan (cohesiveness)
Keeratan dalam proses kelompok dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain adanya
perasaan suka dan nyaman dengan anggota kelompoknya, minat yang besar terhadap
pembelajaran, dan adanya penghargaan terhadap perannya dalam kelompok. Keeratan
kelompok juga dapat tumbuh karena tuntutan kebutuhan individu yang dapat dipenuhi
dengan jalan menjadi anggota kelompok itu. Guru dapat mengelola kelas secara efektif
apabila ia mampu menciptakan kelompok yang erat dan saling bersinergi.
Berdasarkan pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa dalam manajemen kelas
proses kelompok guru harus memperhatikan harapan peserta didik dalam mencapai
tujuan pembelajaran serta berusaha menciptakan suasana yang lebih mendukung melalui
interaksi dan komunikasi yang terarah dalam situasi kelompok sehingga pembelajaran
menjadi lebih menarik dan menantang.

B. Peranan Pendekatan sistem dalam Proses Kelompok Membentuk Guru Profesional


Seperti yang tercantum dalam Undang-Undang Sisdiknas, guru merupakan tenaga
profesional. Guru dikatakan profesional sebab dalam pembelajaran guru memerlukan suatu
keahlian dan keterampilan, baik dalam pengajaran maupun manajemen kelas sehingga
tercapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Untuk menjadi guru yang profesional, guru
harus menguasai setidaknya empat kompetensi atau kemampuan.Kompetensi merupakan
seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan
dikuasai oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya.Kompetensi tersebut
meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, serta
kompetensi profesional.

1. Kompetensi pedagogik

Kompetensi pedagogik seorang guru berhubungan dengan kemampuan guru


dalam memahami suatu tujuan pembelajaran, materi, serta cara menyampaikannya.
Kegiatan yang dilakukan antara lain: memahami peserta didik; merancang,
melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran; mengembangkan pendidikan;
memahami teori belajar, pembelajaran, strategi, kompetensi dan isi; melaksanakan
penilaian proses dan hasil; serta pengembangan akademik dan nonakademik.
Dengan mengetahui pengertian dan penerapan pendekatan proses kelompok
dalam manajemen kelas merupakan salah satu cara guru dalam mengembangkan
kemampuan pedagogisnya. Hal itu karena pendekatan ini nantinya dapat diterapkan
dalam melaksanakan tugasnya di lapangan sebagai tenaga pendidik yang kompeten.
2. Kompetensi kepribadian
Kompetensi kepribadian seorang guru berhubungan dengan sikap dan perilaku
guru sebagai individu dalam menghadapi berbagai situasi. Guru yang profesional harus
memiliki sikap dan kepribadian: mantap dan stabil; dewasa; arif dan berwibawa;
memiliki akhlaq mulia; menaati norma hukum dan sosial; memiliki rasa bangga terhadap
profesinya; konsisten dengan norma; mandiri; memiliki etos kerja yang tinggi;
berpengaruh positif bagi lingkungannya dan disegani; menaati norma religius; dapat
diteladani; serta jujur.
Pendekatan proses kelompok dapat digunakan sebagai sarana untuk menunjukkan
kompetensi kepribadian yang dimiliki guru. Melalui pembelajaran kelompok, guru dapat
menanamkan berbagai nilai positif kepada peserta didik, seperti kekompakan, sikap
saling menghargai, keberanian, dan masih banyak lagi.Jika guru berhasil melakukan hal
tersebut, maka otomatis kewibawaan dan kepercayaan diri guru menjadi meningkat.
3. Kompetensi sosial
Kompetensi sosial seorang guru merupakan kemampuan guru dalam
berkomunikasi dan menjalin hubungan dengan lingkungan sekitarnya. Hal ini dapat
dilakukan guru dengan bergaul dan mengakrabkan diri dengan peserta didik, rekan kerja,
dan masyarakat dengan bersikap menarik, penuh empati, kolaboratif, suka menolong,
mampu menjadi panutan, komunikatif, serta kooperatif.
Sikap-sikap yang dikembangkan guru dalam kompetensi sosial ini dapat
diwujudkan melalui melalui interaksi dan komunikasi dengan berbagai komponen dan
lingkungan pendidikan. Dalam pendekatan proses kelompok ini, interaksi lebih
ditekankan pada komponen peserta didik. Di sini, selain mengembangkan kompetensi
sosialnya, guru juga mengembangkan kompetensi sosial peserta didik melaluiberbagai
kegiatan kelompok.

4. Kompetensi profesional
Kompetensi profesional merupakan syarat yang paling esensial dalam lingkup
profesionalisme seorang guru. Dalam kompetensi ini, guru dituntut: menguasai keilmuan
bidang studi; memahami langkah kritis pendalaman isi bidang studi; paham terhadap
materi, struktur, konsep, dan keilmuan yang menaunginya; mampu menerapkan dalam
kehidupan sehari-hari; serta memahami metode pengembangan ilmu, telaah kritis dan
inovatif terhadap bidang studi. Kompetensi ini mengharuskan guru untuk benar-benar
memahami kedudukan suatu ilmu dalam pembelajaran maupun kehidupan sehari-hari.
Pemahaman tentang konsep pendekatan proses kelompok ini merupakan salah
satu langkah dalam memahami berbagai konsep pendekatan dalam manajemen kelas.
Guru dapat mengembangkan sendiri berbagai pendekatan yang relevan ketika
menerapkannya dalam kehidupan kelas. Sehingga, guru juga dapat berkreasi dan
berinovasi menciptakan kondisi yang produktif dengan dituasi yang tetap kooperatif.

C. Masalah-Masalah Manajemen Kelas yang Dapat Diatasi dengan Pendekatan Sistem


dalam Proses Kelompok
Dalam manajemen kelas, tindakan yang dilakukan dapat berupa dua hal yaitu untuk
mencegah dan/atau menanggulangi adanya masalah manajemen kelas agar kelas tetap dalam
situasi yang kondusif.Oleh karena itu, sebelum guru menerapkan suatu pendekatan dalam
manajemen kelas, guru terlebih dahulu menganalisis berbagai masalah manajemen kelas,
kemudian menentukan pendekatan yang sesuai dengan masalah yang terjadi.
Pada dasarnya, pendekatan system dalam proses kelompok dapat digunakan dalam
menangani berbagai situasi permasalahan manajemen kelas. Hal yang paling menentukan
adalah cara guru dalam menerapkan pendekatan proses kelompok ini di dalam kelompok
kelas. Meskipun dengan pendekatan dan masalah yang sama, guru yang berbeda dapat
memberikan hasil yang berbeda pula dalam menyelesaikan suatu permasalahan manajerial.
Oleh karena itu, guru perlu mengetahui masalah yang biasanya muncul dalam manajemen
kelas.
1. Masalah individual
Adanya masalah individual dapat dikarenakan kegagalan dari seseorang untuk
mewujudkan tujuan dan harapan yang diinginkan, terutama kebutuhan untuk
mengaktualisasikan diri dalam lingkungan sosial. Jika seorang individu merasa gagal
dalam mengembangkan dirinya, maka terdapat kecenderungan individu tersebut akan
berbuat menyimpang. Hal ini juga berlaku dalam lingkungan sosial di kelas.Berdasarkan

alasan tersebut, masalah manajemen kelas dapat digolongkan menjadi empat jenis, yaitu
sebagai berikut.
a) Attention getting behaviors (pola perilaku mencari perhatian)
Perilaku ini dilakukan peserta didik yang tidak atau belum berhasil
mengembangkan dirinya serta menemukan peran dalam suatu kelompok dengan
mencari perhatian orang lain melalui berbagai cara. Melalui proses kelompok,
diharapkan peserta didik menemukan suatu peranan yang sesuai dengan
kemampuannya yang dapat diwujudkan laksanakan melalui pemberian tanggung
jawab kelompok. Dengan begitu, potensi peserta didik untuk menciptakan masalah
dapat dicegah dan dialihkan untuk kegiatan yang lebih produktif.Dalam hal ini, guru
juga berperan membantu peserta didik dengan memberikan pengarahan dan perhatian
yang wajar.
b) Power seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan kekuatan/kekuasaan)
Tingkah laku ini ditandai dengan suatu bentuk penolakan peserta didik
terhadap suatu pembelajaran, sehingga cenderung menunjukkan suatu pertentangan
serta ketidakpatuhan. Jika dilihat melalui pendekatan proses kelompok, masalah ini
akan dapat diatasi dengan adanya aturan dan norma kelompok yang merupakan
kesepakatan bersama. Aturan dan norma tersebut akan memaksa peserta didik yang
bermasalah untuk mengikuti ketentuan. Selain itu, proses kelpmpok juga dapat
mencegah timbulnya perilaku ini karena kegiatan yang disepakati bersama dapat
mengurangi penolakan.
c) Revenge seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan balas dendam)
Perilaku peserta didik dalam hal ini sering merasa sakit hati dengan suatu
bentuk kekalahan.Sakit hati tersebut diungkapkan dalam bentuk perilaku yang
cenderung negatif dan merusak, sehingga persaingan yang terjadi kurang begitu
sehat.Setiap anak yang menunjukkan perilaku menyimpang pastilah memiliki alasan
sendiri-sendiri yang melatarbelakanginya. Sehingga,pendekatan yang digunakan pun
dapat bermacam-macam. Pendekatan kelompok menjadi salah satu alternatif jika
masalah tersebut berhubungan dengan penerimaan antarindividu dan pengembangan
kerja sama dalam suatu kelompok kelas.
d) Helplessness (peragaan ketidakmampuan)
Bentuk perilaku ini ditandai dengan tingkah laku peserta didik yang pasif
terhadap pembelajaran. Peserta didik sudah memiliki mainset bahwa dirinya tidak
mampu melakukan sesuatu yang benar dan akan selalu gagal. Sikap pasrah dan putus
asa akan sering ditunjukkan peserta didik. Melalui proses kelompok, masing-masing

siswa akan memiliki hak yang lebih besar untuk berhasil baik secara individu mapun
melalui keberhasilan kelompok. Guru juga akan lebih mudah mengontrol dan
mengaktifkan peserta didik yang berperilaku seperti ini melalui kegiatan kelompok
dengan memberikan bimbingan secara bergantian.
Keempat pola perilaku di atas merupakan masalah yang biasa terjadi dalam
manajemen kelas.Beberapa perilaku dapat terjadi secara bersama-sama, oleh karena
itu guru harus tanggang dalam merespon setiap perilaku peserta didik. Pendekatan
proses kelompok hanya merupakan salah satu cara untuk mencegah sekaligus
menangani masalah semacam ini. Pendekatan ini masih bisa dipadukan dengan
pendekatan lain sesuai dengan kebutuhan dan situasi.
2. Masalah kelompok
Masalah kelompok dapat terjadi kaena pembelajaran berlangsung dalam situasi
kelompok kelas. Pendekatan proses kelompok dapat digunakan untuk mengatasi masalah
yang berhubungan dengan kelompok seperti ini. Akan tetapi, pendekatan proses
kelompok sendiri juga dapat menimbulkan masalah kelompok semacam ini, sehingga
dibutuhkan alternatif pendekatan lainnya.Dikenal adanya tujuh masalah kelompok dalam
kaitannya dengan pengelolaan kelas, yang dapat dijelaskan sebagai berikut.
a) Kurangnya kekompakan
Kekompakan dapat terjalin dengan adanya suatu kecocokan dalam satu
kelompok. Tanpa adanya kekompakan, maka akan menimbulkan resiko terjadinya
suatu konflik yang berakibat proses kelompok menjadi tidak efektif. Hal yang utama
yang perlu dilakukan adalah menumbuhkan rasa saling memiliki dan membutuhkan
agar kekompakan dapat terbentuk.
b) Kekurangmampuan mengikuti peraturan kelompok
Peraturan kelompok yang dibuat secara otoriter tidak akan berdampak baik
untuk kegiatan kelompok itu sendiri. Jika peraturan tidak dibuat oleh seluruh anggota
kelompok, maka tanggung jawab terhadap peraturan tersebut juga kurang. apalagi
jika peraturan yang dibuat terlalu sukar, maka peserta didik akan kurang bersimpati
dengan peraturan itu.
c) Reaksi negatif terhadap sesama anggota kelompok
Terkadang, dalam suatu kelompok terjadi ketidakcocokan antar anggota
kelompok yang disebabkan oleh beberapa hal sehingga menimbulkan reaksi
negatif.Reaksi negatif ini dapat muncul karena telah terjadi konflik sebelumnya atau
dapat juga karena penyimpangan individu yang dilakukan salah satu anggota. Hal ini
juga akan mempengaruhi efektivitas proses kelompok.

d) Penerimaan kelas (kelompok) atas tingkah laku yang menyimpang


Terkadang perilaku menyimpang yang dilakukan kelompok atau salah satu
anggota kelompok mendapat dukungan dari kelompok atau anggota lain sehingga
proses kelompok kurang terarah. Dalam hal ini, guru sebagai pemimpin utama harus
memiliki kewibawaan yang kuat untuk mengarahkan kembali kegiatan.
e) Ketiadaan semangat, tidak mau bekerja, dan tingkah laku agresif atau protes
Penyebab utama yang menimbulkan tingkah laku agresif kelompok adalah
ketidakadilan yang dirasakan kelompok. Jika ini terjadi, maka gairah dan semangat
kelompok untuk mengikuti kegiatanmenjadi berkurang atau bahkan hilang sama
sekali yang ditunjukkan dengan keengganan kelompok untuk melaksanakan tugas.
f) Ketidakmampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan
Tidak semua kelompok kelas memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan
perubahan situasi yang terjadi pada lingkungannya. Saat kelompok cenderung
nyaman dengan situasi yang dimilikinya, kemudian terjadi perubahan, maka akan
berdampak kurang baik saat terjadi suatu perubahan. Perubahan itu antara lain berupa
perubahan anggota kelompok, peraturan yang diganti, perubahan jadwal, dan
pergantian guru.
Dalam menyelesaikan berbagai masalah yang berhubungan dengan kelompok
ini, guru merupakan faktor kunci dalam penentu keberhasilan. Jika dalam
menerapkan pendekatan proses kelompok timbul masalah semacam itu, guru harus
mampu memberikan pengertian kepada peserta didik dan mencarikan solusi dengan
menawarkan alternatif-alternatif pemecahan masalah kepada peserta didik sehingga
diperoleh penerimaan kelompok.
D. Pelaksanaan Pendekatan System Dalam Proses Kelompok Manajemen Kelas
Dalam melaksanakan manajemen kelas, tersapat empat langkah yang harus ditempuh
seorang guru.Pertama, guru harus merumuskaan kondisi kelas yang dikehendaki.Kemudian,
guru perlu menganalisis kondisi kelas yang ada pada saat ini untuk membandingkan
kenyataan di kelas dengan kondisi yang diharapkan.Setelah itu, guru dapat memilih dan
menggunakan strategi yang tepat untuk melakukan manajerial.Dan yang terakhir, guru perlu
menilai efektivitas manajerial agar selanjutnya dapat dilakukan umpan balik. Louis V.
Johnson dan Mary A. Bany (dalam Mulyadi, 2009:65), menggolongkan manajemen kelas
melalui pendekatan proses kelompok menjadi dua jenis, yaitu pemudahan (fasilitation) dan
mempertahankan (main essence). Pemudahan merupakan tingkah laku pengelolaan yang
mengembangkan/mempermudah perkembangan kondisi-kondisi positif di dalam kelas

sedangkan pempertahanan merupakan tingkah laku pengelolaan untuk memperbaiki /


mempertahankan kondisi kondisi efektif di dalam kelas.
Pemudahan (fasilitation)
Terdapat empat kegiatan pemudahan yang dikaitkan dengan pelaksanaan pendekatan proses
kelompok di kelas, yaitu sebagai berikut.
1. Mengusahakan terbinanya kesatuan dan kerjasama
Dalam suatu kegiatan kelompok, adanya kesatuan dan kerjasama merupakan hal
pokok yang harus ditanamkan dan dikembangkan. Melalui persatuan, akan ada rasa
saling menghargai perbedaan pendapat antar sesama angota kelompok maupun antar
kelompok. Selain itu, kerjasama yang baik dan terorganisasi menjadi faktor penentu
keberhasilan kegiatan kelompok. Dalam pendekatan proses kelompok, guru harus
membantu peserta didik menciptakan kesatuan dan kerjasama ini dengan menyediakan
kesempatan untuk saling berdiskusi, saling membantu menyelesaikan suatu persoalan,
menanamkan pada peserta didik perlunya kerjasama dalam mencapai tujuan, dan
membantu menciptakan kondisi kelompok yang menarik dan menyenangkan dalam
pembelajaran.
2. Mengembangkan aturan dan prosedur kerja
Hal lain yang perlu diperhatikan oleh guru adalah cara mengembangkan aturan
dan prosedur kerja. Seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya bahwa aturan merupakan
pedoman dan batasan untuk bertingkah laku khususnya dalam suatu kelompok
sosial.Sedangkan prosedur kerja menekankan pada alur atau tahapan yang harus
dilaksanakan dalam suatu kegiatan. Dalam pendekatan proses kelompok, aturan dibuat
melalui persetujuan bersama seluruh anggota kelompok kelas. Sedangkan dalam
menetapkan prosedur kerja, guru hendaknya memberikan pengertian yang mudah
dipahami peserta didik.Hal ini sebagai langkah agar aturan dan prosedur yang telah
ditetapkan dapat terus ditaati dan dilaksanakan oleh peserta didik.
3. Menerapkan cara-cara pemecahan masalah
Menerapkan cara-cara pemecahan masalah dilakukan dengan cara yang hampir
sama dengan pemecahan masalah pada umumnya. Langkah yang dilakukan meliputi
identifikasi masalah, menganalisis masalah, mencari dan mempertimbangkan alternatif
pemecahan masalah, melakukan penilaian hasil, dan umpan balik. Jika hal itu terus
dilakukan, maka guru akan memiliki banyak pengalaman dalam manajemen kelas yang
nantinya akan berdampak positif pada pengelolaan kelas selanjutnya.
4. Menyesuaikan pola tingkah laku kelompok (yang kurang diinginkan) yang selama ini ada
di dalam kelompok kelas

Menyesuaikan pola tingkah laku kelompok agar tetap sesuai dengan tujuan
pembelajaan bukan merupakan hal yang mudah.Itu karena setiap kelompok telah
memiliki pola tersendiri.Terlebih lagi, jika kelompok tersebut juga merupakan kelompok
diluar kelas yang kedudukannya sulit untuk diubah.Pengubahan pola tingkah laku
kelompok ini dapat dilakukan dengan melakukan pendekatan terencana. Guru dapat
menciptakan kegiatan-kegiatan baru yang dapat mengurangi dan bahkan menghilangkan
pola tingkah laku yang selama ini dianggap menimbulkan masalah manajemen kelas.
Guru juga dapat menetapkan pola baru dalam kegiatan kelompok agar tidak terjadi suatu
pengelompokan yang kurang sehat dalam kelas.
Mempertahankan (main essence)
Terdapat tiga cara untuk pemertahanan serta memperbaiki kondisi efektif di dalam kelompok
kelas, yaitu sebagai berikut.
1. Mempertahankan dan memperbaiki semangat
Tindakan mempertahankan dan memperbaiki semangat diperlukan sebab tinggi
rendahnya semangat suatu kelompok akan mempengaruhi produktivitas kelompok
tersebut. jika semangat kelompok tinggi, maka hasil yang diperoleh juga tinggi, begitu
juga sebaliknya. Semangat yang muncul dalam suatu kelompok dipengaruhi oleh
berbagai faktor, antara lain keeratan kelompok,interaksi dan komunikasi yang terjadi baik
di dalam maupun di luar kelompok, serta pemahaman dan kepedualian terhadap
kepentingan kelompok dalam mencapai satu tujuan yang dihahrapkan. Dalam hal ini,
guru dalam melakukan proses kelompok perlu mempertimbangkan penyebaran
kepemimpinan, menciptakan suasana yang santai tetapi terarah, serta meningkatkan
kerjasama antar anggota yang bukan merupakan persaingan.
2. Mengatasi konflik
Suatu konflik atau pertentangan merupakan hal yang wajar dalam suatu proses
kelompok. Terjadinya konflik tidak mungkin dapat dihindari mengingat setiap individu
memiliki pemikiran dan kepentingan awal yang berbeda-beda.Oleh karena itu, sudah
menjadi kewajiban guru untuk menjadi mediator saat terjadi konflik dalam kelompok
kelas. Guru harus bersikap bijaksana dan tidak memihak salah satu pihak agar proses
penyelesaian dapat diterima pihak yang bertentangan. Tujuan dari mengatasi konflik ini
adalah agar pihak yang bertentangan dapat saling mengurangi perbedaan dan secara
bersama-sama menyatukan pikiran untuk menyelesaikan masalah kelompok.Konflik juga
dapat terjadi antar kelompok, sehingga guru harus menjaga agar persaingan antar
kelompok berlangsung dengan sehat.Untuk mencegah terjadinya konflik, guru dianjurkan
untuk menguraikan sebanyak mungkin frustasi peserta didik dengan jalan memberikan
kesempatan kepada kelompok untuk merumuskan dan mengusahakan pencapaian tujuantujuan yang mereka benar-benar sanggup mencapainya.

3. Mengurangi masalah-masalah manajemen kelas


Dalam cara ini, guru harus menguasai dengan benar cara pemudahan dan
mempertahankan yang telah dipaparkan sebelumnya. Tujuan dari pendekatan proses
kelompok sendiri adalah menciptakan kondisi yangoptimal dengan mengurangi
kemungkinan munculnya masalah-masalah manajemen kelas. Mengurangi masalah
manajemen kelas dilakukan baik dalam dimensi preventif maupun dimensi kuratif, sebab
manajemen kelas harus terus dilaksanakan selama proses pembelajaran.
Manajemen kelas kelas merupakan proses penciptaan kondisi yang
memungkinkan peserta didik untuk belajar optimal serta cara untuk mempertahankan
kondisi tersebut agar tetap kondusif. Kedua cara yang telah disebutkan di atas, baik cara
pemudahan maupun cara mempertahankan dimaksudkan untuk mencapai tujuan
manajemen tersebut. oleh karena itu, selain mengetahui langkah pemudahan, guru harus
benar-benar memahami cara mempertahankan semangat, mengatasi konflik, dan juga
mengurangi masalah manajemen agar kelas selalu dalam kondisi optimal.
Dalam penerapannya, melaksanakan manajemen kelas melalui pendekatan proses
kelompok ini tidak lepas dari adanya metode-metode pembelajaran yang mendukung
suatu proses kelompok. Guru harus pintar dalam memilih metode yang cocok untuk suatu
proses dinamika kelompok. Sebagai contoh, saat ini terdapat model pembelajaran
kooperatif dengan berbagai tipenya.Guru tinggal memilih dan menyesuaikan dengan
situasi kelas yang dipegangnya.Atau dapat pula guru secara kreatif dan inovatif
menciptakan metode tersendiri yang sekiranya mampu menciptakan sinergi antara
pembelajaran dengan manajemen kelas.Di situlah letak keprofesionalan guru dalam
mengatur dan mengelola kelas.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, model pembelajaran kooperatif
menekankan pada penciptaan kelas yang aktif dalam situasi kelompok.Model ini
memiliki berbagai jenis karena banyaknya variasi yang dapat diciptakan dari dinamika
kelompok.Misalnya model pembelajaran STAD (Student Teams Achievement Division)
yang memberikan apresiasi terhadap keberhasilan peserta didik.Lalu TGT (Teams Gaines
Tournaments) yang memberikan kesempatan kelompok untuk bersaing secara
sehat.Kemudian ada JIGSAW (Tim Ahli) yang menekankan pada aspek saling
membelajarkan. Dan ada juga model Struktural yang memiliki beragam teknik untuk
dipadukan sesuai kebutuhan. Masih banyak lagi model pembelajaran yang mendukung
pendekatan proses kelompok untuk manajemen kelas.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pendekatan proses kelompok (group process approach) disebut juga pendekatan sosiopsikologis merupakan pendekatan yang mengutamakan pengaturan dan pengoptimalan
interaksi antar peserta didik dalam suatu kegiatan kelompok untuk mencapai tujuan
pembelajaran sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan efektif dan efisien.
Peranan pendekatan system dalam proses kelompok membentuk guru profesional adalah
sebagai salah satu cara untuk memenuhi empat kompetensi profesional guru yang meliputi
kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, serta kompetensi
profesional.
Masalah-masalah manajemen kelas yang dapat diatasi dengan pendekatan system dalam
proses kelompok dapat dibedakan menjadi dua, yaitu masalah individual dan masalah
kelompok. Masalah individual dapat dikarenakan kegagalan dari seseorang untuk
mewujudkan tujuan dan harapan yang diinginkan, terutama kebutuhan untuk
mengaktualisasikan diri dalam lingkungan sosial.Masalah kelompok dapat terjadi kaena
pembelajaran berlangsung dalam situasi kelompok kelas. Pendekatan proses kelompok juga
dapat menimbulkan masalah kelompok.
Pelaksanaan pendekatan system dalam proses kelompok manajemen kelas dibagi menjadi
dua jenis, yaitupemudahan (fasilitation) dan mempertahankan (main essence). Pemudahan
merupakan tingkah laku pengelolaan yang mengembangkan/mempermudah perkembangan
kondisi-kondisi positif di dalam kelompok kelas sedangkan pempertahanan merupakan
tingkah laku pengelolaan untuk memperbaiki / mempertahankan kondisi kondisi efektif di
dalam kelompok kelas.
B. Saran
Saran yang dapat diberikan penulis adalah sebagai berikut.
1. Sebelum menentukan pendekatan yang sesuai untuk mengatasi suatu masalah manajemen
kelas, guru yang profesional harus mampu menganalisis latar belakang terjadinya suatu
masalah agar diperoleh penyelesaian yang tepat.
2. Dalam penerapan pendekatan system dalam proses kelompok, guru dapat memadukan
pendekatan lain yang relevan untuk mengatasi kelemahan pendekatan proses kelompok.
3. Guru harus kreatif dan inovatif dalam menerapkan pendekatan system dalam proses
kelompok berbagai model pembelajaran terutama model yang menekankan kerjasama
kelompok, seperti model kooperatif.
DAFTAR PUSTAKA

Adzjiotarbiyah. 2012. Pendekatan Proses Kelompok (Group Process Approach). (Online),


(http://adzjiotarbiyah.blogspot.com/2012/03/pendekatan-proses-kelompok-group.html, diakses 1
Januari 2013).
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1982.Buku II: Modul Pengelolaan Kelas. Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Proyek
Pengembangan Institusi Pendidikan Tinggi.
Hasibuan dan Mudjiono. 1995. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Rosdakarya.
Mulyadi. 2009. Classroom Management (Mewujudkan Suasana Kelas yang Menyenangkan Bagi
Siswa). Malang. UIN- Malang Press.
R. Gunawan S. 2011. Dokumen Staf Unila:Developping of Teachers Professionallity (Online),
(http://staff.unila.ac.id/radengunawan/files/2011/09/Profesionalitas-Guru.pdf, diakses 1 Januari
2013).
Santa. 2012. Makalah Pengelolaan Kelas dengan Pendekatan Proses Kelompok. (Online),
(http://santastaga.wordpress.com/2012/04/04/makalah-pengelolaan-kelas-dengan-pendekatanproses-kelompok/, diakses 1 Januari 2013).