Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PASIEN
Nama
: Ny. MA
Umur
: 36 tahun
Pekerjaan
: Ibu Rumah Tangga
Agama
: Islam
Alamat
: Jl. Perintis Kemerdekaan
Masuk RS
: 18 Desember 2015
B. ANAMNESIS
Keluhan Utama
Mengeluh keluar darah dari jalan lahir sejak jam 05.00 subuh
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien G1P0A0 masuk rumah sakit dengan keluhan darah yang keluar dari jalan
lahir yang dirasakan terus-menerus sejak pukul 05.00 subuh. Darah berwarna merah
segar dan tidak bergumpal, nyeri perut tembus kebelakang tidak ada. Pelepasan
lendir tidak ada, pelepasan air tidak ada. Riwayat perdarahan sebelumnya disangkal.
Setelah masuk rumah sakit, tidak lama kemudian pasien bertambah lemah dan
perdarahan semakin banyak.
Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat hipertensi disangkal
Riwayat Diabetes melitus disangkal
Riwayat asma disangkal
Riwayat Operasi
Riwayat belum pernah dioperasi sebelumnya
Riwayat Alergi
Riwayat alergi makanan disangkal
Riwayat alergi obat-obatan disangkal
Riwayat alergi cuaca disangkal
Riwayat Perkawinan
Kawin ke-1, masih kawin, lama kawin 15 tahun
Riwayat Haid
Menarche : Umur 16 tahun, teratur, lama haid 7 hari, siklus 28 hari.
HPHT
: 13 03 2015
Taksiran persalinan : 20-12-2015
Riwayat ANC
ANC 2 kali di puskesmas
Tetanus toksoid tidak pernah
1

C. PEMERIKSAAN FISIK UMUM


KU
: Sakit Sedang
Kesadaran
: composmentis
Tekanan darah : 110/80 mmHg
Nadi
: 82 x/menit
Pernapasan
: 20x/menit
Suhu
: 36,8 0C
Status generalis
Kepala
Rambut

: Lurus, Hitam, Pendek

Mata

: Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)

Mulut

: Mukosa bibir lembab (+)

Gigi

: caries (-)

Leher

: kelenjar tiroid membesar (-), pembesaran KGB (-)

Thorax
Jantung

: BJ I dan II regular (+), murmur (-), gallop (-)

Paru

: vesikuler (+/+) , wheezing (-/-) , ronkhi (-/-)

Payudara

: simetris, puting susu menonjol (+)

Abdomen

: membesar sesuai kehamilan (-), striae (+), linea nigra (+)

Vagina

: pengeluaran pervaginam (+), darah (+) , lendir (-), flour albus (-)
penyakit kelamin (-), varices (-)

Ekstremitas

: akral hangat (+/+) , CRT <2 detik (+/+) , udema (-/-)

D. STATUS OBSTETRI
Pemeriksaan luar
I : cembung (+), abdomen melebar, fundus uteri diatas umbilikus, linea nigra (+),
striae gravidarum (+)
P : TFU 34 cm
Leopold I
: teraba bagian besar luak, presentasi bokong, TFU 34 cm
Leopold II : teraba bagian keras memanjang disisi kiri ibu, situs memanjang
Leopold III : teraba bagian besar bulat keras, presentasi kepala
Leopold IV : konvergen, perlimaan : 5/5
A : DJJ 138 x / menit, teratur
Pemeriksaan dalam tidak dilakukan
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
HEMATOLOGI
2

Laboratorium
Pemeriksaan
Hemoglobin
Leukosit
Hematokrit
Trpmbosit

Hasil
12,5
5700
35,4
248000

Satuan
g/dl
/u
%
/u

Nilai normal
13-17
4,5 10,4
42 -50
185000- 402000

USG : Janin tunggal hidup intrauterine, TBJ 3300 gr, Plasenta di corpus posterior
hingga kebawah hingga OUI, amnion jumlah cukup
Ultrasonografi
Keterangan

: Janin tunggal hidup intrauterin letak oblik


Taksiran Berat janin 3300 gr
Plasenta insersi di corpus posterior meluas hingga
kebawah hingga Orifisium Uteri Interna
Liquor amnion jumlah cukup
Tidak nampak kelainan kongenital mayor

Kesimpulan

: Plasenta Previa Totalis

F. ASSESSMENT
G1P0 A0 gravid 40 minggu dengan plasenta previa totalis
G. RENCANA
Observasi keadaan umum, vital sign dan denyut jantung janin
R/ - IVFD Ringer Laktat 28 tetes/menit
Cito Seksio Sesaria (elektif)
H. RESUME
Pasien G1P0A0 HPHT 13 03 2015 TP 20 12 -2015 masuk rumah sakit dengan
keluhan darah yang keluar dari jalan lahir yang dirasakan terus-menerus sejak pukul
05.00 subuh. Darah berwarna merah segar dan tidak bergumpal, Nyeri perut tembus
kebelakang tidak ada. Pelepasan lendir tidak ada, pelepasan air tidak ada. Riwayat
3

perdarahan sebelumnya disangkal. Riwayat ANC 2 kali dipuskesmas, riwayat injeksi


tetanus toksoid tidak ada. Riwayat alergi tidak ada. Riwayat HT tidak ada, DM tidak
ada, asma tidak ada. Riwayat operasi sebelumnya tidak ada. Setelah masuk rumah
sakit, tidak lama kemudian pasien bertambah lemah dan perdarahan semakin banyak.
Pada pemeriksaan fisis didapatkan keadaan umum pasien tidak tampak sakit,
composmentis. Status vitalis TD : 110/80 mmHg, N : 82x?menit, pernapasan :
20x/menit, suhu : 36,8 C. Pada pemeriksaan laboratorium tidak didapatkan
peningkatan bermakna. Pada pemeriksaan USG didapatkan plasenta insersi di corpus
post meluas hingga kebawah hingga Orifisium Uteri Interna. Dilakukan
penatalaksanaan berupa Observasi keadaan umum, vital sign, denyut jantung janin,
IVFD ringer laktat 28 tetes/menit dan cito seksio sesaria.
I.

FOLLOW UP
Hari dan tanggal
19 12 -2015

S : nyeri pada bekas Diagnose : P1A0 post sc


jahitan
a/i plasenta previa totalis
O: ku : tampak sakit
H+1
sedang
Terapi :
Kesadaran : CM
IVFD RL 28 TPM
TTV : TD : 120/80 mmHg Cefotaxime 2x1
Nadi : 88 x/menit
RR: 18 x/menit
Suhu : 36,7 c
Payudara : ASI (+/+) ,
puting menonjol
Abdomen : BU (+) , NTE
(-)
Vagina : darah (+)
Otonom : BAB (-) , BAK

20 - 12 2015

(+) , flatus (+)


S : keluhan (-)
Diagnosa : P1A0 post sc
O: ku : tampak sakit
a/i plasenta previa H+2
ringan
Terapi :
Kesadaran : CM
- Terapi lanjut
TTV : TD : 120/70 mmHg
- App infuse
Nadi : 86 x/menit
- App kateter
RR: 18 x/menit
4

Suhu : 36,2 c
Payudara : ASI (+/+) ,
puting menonjol
Abdomen : BU (+) , NTE
(-)
Vagina : darah (+)
Otonom : BAB (+) , BAK
(+) , flatus (+)

BAB 1
PENDAHULUAN
Penyebab terpenting kematian maternal di Indonesia adalah perdarahan 40-60%,
infeksi 20-30% dan keracunan kehamilan 20-30%, sisanya sekitar 5% disebabkan
penyakit lain yang memburuk saat kehamilan atau persalinan.Perdarahan sebagai
5

penyebab kematian ibu terdiri atas perdarahan antepartum dan perdarahan postpartum.
Perdarahan antepartum merupakan kasus gawat darurat yang kejadiannya berkisar 3%
dari semua persalinan, penyebabnya antara lain plasenta previa, solusio plasenta, dan
perdarahan yang belum jelas sumbernya.
Plasenta previa adalah plasenta yang implantasinya tidak normal, sehingga
menutupi seluruh atau sebagian ostium internum kasus ini masih menarik dipelajari
terutama di negara berkembang termasuk Indonesia, karena faktor predisposisi yang
masih sulit dihindari, prevalensinya masih tinggi serta punya andil besar dalam angka
kematian maternal dan perinatal yang merupakan parameter pelayanan kesehatan. Di RS
Parkland didapatkan prevalensi plasenta previa 0,5%. Clark dkk melaporkan prevalensi
plasenta previa 0,3%. Nielson dkk dengan penelitian prospektif menemukan 0,33%
plasenta previa dari 25.000 wanita yang bersalin di Indonesia berkisar 2-7%, sedang di
RS Sanglah kejadiannya 2,7%.
Plasenta previa pada kehamilan prematur lebih bermasalah karena persalinan
terpaksa; sebagian kasus disebabkan oleh perdarahan hebat, sebagian lainnya oleh proses
persalinan. Prematuritas merupakan penyebab utama kematian perinatal sekalipun
penatalaksanaan plasenta previa sudah dilakukan dengan benar. Di samping masalah
prematuritas, perdarahan akibat plasenta previa akan fatal bagi ibu jika

tidak ada

persiapan darah atau komponen darah dengan segera.

BAB II
PEMBAHASAN

PLASENTA PREVIA
DEFINISI
Plasenta previa ialah plasenta yang letaknya abnormal, yaitu pada segmenbawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan-lahir.
Pada keadaan normal plasenta terletak di bagian atas uterus.
KLASIFIKASI
Belum ada kata sepakat diantara para ahli, terutama mengenai berapa
pembukaan jalan lahir. Oleh karena pembagian tidak didasarkan pada keadaan
anatomi, melainkan pada keadaan fisiologis yang berubah-ubah , maka klasifikasi
akan berubah setiap waktu. Misalnya, pada pembukaan yang masih kecil, seluruh
pembukaan ditutupi jaringan plasenta (plasenta previa totalis), namun pada
pembukaan yang lebih besar, keadaan ini akan menjadi plasenta previa lateralis. Ada
juga penulis yang menganjurkan

bahwa menegakkan diagnosa adalah sewaktu

moment opname yaitu takala penderita diperiksa.


Menurut de Snoo, berdasarkan pada pembukaan 4-5 cm:
1. plasenta previa sentralis (totalis), bila pada pembukaan 4-5 cm teraba plasenta
menutupi seluruh osrium.
2. plasenta previa lateralis, bila pada pembukaan 4-5 cm sebagian pembukaan
ditutupi oleh plasenta, dibagi dua:
-

plasenta previa lateralis posterior; bila sebagian menutupi ostium


bagian belakang.

Plasenta previa lateralis anterior : bila menutupi ostium bagian depan.


7

Plasenta previa marginalis: bila sebagian kecil atau hanya pinggir


ostium yang ditutupi plasenta.

Menurut penulis buku-buku Amerika Serikat:


1. plasenta previa totalis: seluruh ostium ditutupi plasenta
2. plasenta previa partialis : sebagian ditutupi plasenta
3. plasenta letak rendah (low-lying placenta): tepi plasenta berada 3-4 cm diatas
pinggir pembukaan, pada pemeriksaandalam tidak teraba.
Menurut Browne :
1. tingkat I : lateral placenta previa.
Pinggir bawah plasenta berinsersi sampai ke segmen bawah rahim, namun
tidak sampai ke pinggir pembukaan.
2. tingkat 2 : Marginal plasenta previa
plasenta mencapai pinggir pembukaan (ostium)
3. tingkat 3 : Complete plasenta previa
plasenta menutupi osteum waktu tertutup, dan tidak menutupi bila pembukaan
hampir lengkap.
4. tingkat 4 : Central plasenta previa
plasenta menutupi seluruhnya pada pembukaan hampir lengkap.
Menurut penulis lain plesenta previa dibagi menurut presentase plasenta yang
menutupi pembukaan ;
o plasenta previa 25%, 50%, 75% dan 100%
o Di beberapa institut di Indonesia termasuk di RS. Pirgandi
Medan, klasifikasi yang dipakai kurang lebih menurut
pembagian de Snoo pada pembukaan kira-kira 4 cm.
o Ada pula yang disebut plasenta previaservikalis, yaitu bila
sebagian

plasenta

tumbuh

masuk

kanalais

servikalis.

Normalnya, plasenta beromplantasi di bagian atas uterus, pada


bagian dalam belakang (60%), depan (40%).

FAKTOR PREDISPOSISI :
11. Multiparitas dan umur lanjut ( >/ = 35 tahun).
22. Defek vaskularisasi desidua yang kemungkinan terjadi akibat perubahan
atrofik dan inflamatorotik.
33. Cacat atau jaringan parut pada endometrium oleh bekas pembedahan (SC,
Kuret, dll).
44. Chorion leave persisten.
55. Korpus luteum bereaksi lambat, dimana endometrium belum siap menerima
hasil konsepsi.
66. Konsepsi dan nidasi terlambat.
7. Plasenta besar pada hamil ganda dan eritoblastosis atau hidrops fetalis

ETIOLOGI
Penyebab pasti plasenta previa masih belum bisa dipastikan. Beberapa hipotesis
menyatakan bahwa kondisi berikut berkaitan dengan terjadinya plasenta previa :
-

Adanya jaringan parut pada endometrium (uterus), seperti pada bekas operasi
cesar atau aborsi.

Riwayat kehamilan yang berjarak dekat

Resiko akan meningkat pada wanita diatas 30 tahun.

Plasenta yang besar seperti pada kehamilan kembar (gemelli) atau


erythroblastosis.

Bentuk uterus yang abnormal

Pembentukan plasenta yang abnormal


Menurut Kloosterman, frekuensi plasenta previa pada primigravida yang

berumur lebih dari 35 tahun kira-kira 10 kali lebih sering dibandingkan dengan
primigravida yang berumur kurang dari 25 tahun; pada grande multipara yang
berumur lebih dari 35 tahun kira-kira 4 kali lebih sering dibandingkan dengan grande
multipara yang berumur kurang dari 25 tahun.
PATOFISIOLOGI
Plasenta previa terjadi akibat gangguan implantasi karena vaskularisasi
endometrium yang abnormal yang terkait dengan atropi dan scaring akibat trauma
atau inflamasi. Hal ini menyebabkan implantasi embrio pada segmen bawah rahim.
Perumbuhan plasenta menyebabkan plasenta menutupi cervix. Normalnya plasenta
berimplantasi di fundus uteri dan aliran darah di fundus lebih baik dari segmen bawah
uterus. Adanya implantasi abnormal dapat diakibatkan jaringan parut/skar pada uterus
dan kerusakan pada uterus.
Perdarahan antepartum akibat plasenta previa terjadi sejak kehamilan >20
minggu saat segmen bawah uterus telah terbentuk dan mulai melebar serta menipis.

10

Umumnya terjadi pada trimester ketiga karena segmen bawah uterus lebih banyak
mengalami perubahan. Pelebaran segmen bawah uterus dan pembukaan serviks
menyebabkan sinus uterus robek karena lepasnya plasenta dari dinding uterus atau
karena robekan sinus marginalis dari plasenta. Perdarahan tidak dapat dihindarkan
karena ketidakmampuan serabut otot segmen bawah uterus untuk berkontraksi seperti
pada plasenta letak normal.
GAMBARAN KLINIK
Perdarahan tanpa alasan dan tanpa rasa nyeri merupakan gejala utama dan
pertama dari plasenta previa. Perdarahan dapat terjadi selagi penderita tidur atau
bekerja biasa. Perdarahan pertama biasanya tidak banyak, sehingga tidak akan
berakibat fatal. Akan tetapi, perdarahan berikutnya hampir selalu lebih banyak
daripada sebelumnya, apalagi kalau sebelumnya telah dilakukan pemeriksaan dalam.
Walaupun perdarahannya sering dikatakan terjadi pada triwulan ketiga, akan tetapi
tidak jarang pula dimulai sejak kehamilan 20 minggu karena sejak itu segmen-bawah
uterus telah terbentuk dan mulai melebar serta menipis. Dengan bertambah tuanya
kehamilan, segmen-bawah uterus akan lebih melebar lagi, dan serviks mulai
membuka. Apabila plasenta tumbuh pada segmen bawah uterus, pelebaran segmen
bawah uterus dan pembukaan serviks tidak dapat diikuti oleh plasenta yang melekat
di situ tanpa terlepasnya sebagian plasenta dari dinding uterus. Pada saat itu mulailah
terjadi perdarahan. Darahnya berwarna merah segar, berlainan dengan darah yang
disebabkan oleh solusio plasenta yang berwarna kehitam-hitaman.
Sumber perdarahannya ialah sinus uterus yang terobek karena terlepasnya
plasenta dari dinding uterus, atau karena robekan sinus marginalis dari plasenta.
Perdarahannya tak dapat dihindarkan karena ketidakmampuan serabut otot segmen
bawah uterus untuk berkontraksi menghentikan perdarahan itu, tidak sebagaimana
serabut otot uterus menghentikan perdarahan pada kala III dengan plasenta yang
letaknya normal. Makin rendah letak plasenta, makin dini perdarahan terjadi. Oleh

11

karena itu, perdarahan pada plasenta previa totalis akan terjadi lebih dini daripada
plasenta letak rendah, yang mungkin baru berdarah setelah persalinan mulai.
Turunnya bagian terbawah janin ke dalam pintu atas panggul akan terhalang
karena adanya plasenta di bagian bawah uterus. Apabila janin dalam presentasi
kepala, kepalanya akan didapatkan belum masuk ke dalam pintu atas panggul yang
mungkin karena plasenta previa sentralis; mengolak ke samping karena plasenta
previa parsialis; menonjol di atas simfisis karena plasenta previa posterior; atau
bagian terbawah janin sukar ditentukan karena plasenta previa anterior. Tidak jarang
terjadi kelainan letak, seperti letak-lintang atau letak-sungsang.
Nasib janin tergantung dari banyaknya perdarahan, dan tuanya kehamilan
pada waktu persalinan. Perdarahan mungkin masih dapat diatasi dengan transfusi
darah, akan tetapi persalinan yang terpaksa diselesaikan dengan janin yang masih
prematur tidak selalu dapat dihindarkan.
Apabila janin telah lahir, plasenta tidak selalu mudah dilahirkan karena sering
mengadakan perlekatan yang erat dengan dinding uterus. Apabila plasenta telah lahir,
Perdarahan postpartum sering kali terjadi karena kekurang-mampuan serabut-serabut
otot segmen bawah uterus untuk berkontraksi menghentikan perdarahan dari bekas
insersio plasenta; atau karena perlukaan serviks dan segmen bawah uterus yang rapuh
dan mengandung banyak pembuluh darah besar, yang dapat terjadi bila persalinan
berlangsung per vaginam.
DIAGNOSIS
Pada setiap perdarahan antepartum, pertama kali harus dicurigai bahwa
penyebabnya ialah plasenta previa sampai kemudian ternyata dugaan itu salah.

Anamnesis.
12

Perdarahan jalan-lahir pada kehamilan setelah 22 minggu berlangsung tanpa


nyeri, tanpa alasan, terutama pada multigravida. Banyaknya perdarahan tidak dapat
dinilai dari anamnesis, melainkan dari pemeriksaan hematokrit.
Pemeriksaan luar.
Bagian terbawah janin biasanya belum masuk pintu atas panggul. Apabila
presentasi kepala, biasanya kepalanya masih terapung di atas pintu atas panggul atau
mengolak ke samping, dan sukar didorong ke dalam pintu atas panggul. Tidak jarang
terdapat kelainan letak janin, seperti letak-lintang atau letak-sungsang. Pemeriksaan
inspekulo. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui apakah perdarahan berasal
dari ostium uteri eksternum atau dari kelainan serviks dan vagina, seperti erosio
porsionis uteri, karsinoma porsionis uteri, polipus servisis uteri, varises vulva, dan
trauma. Apabila perdarahan berasal dari ostium uteri eksternum, adanya plasenta
previa harus dicurigai.
Penentuan letak plasenta tidak langsung.
Penentuan letak plasenta secara tidak langsung dapat dilakukan dengan
radiografi, radioisotopi, dan ultrasonografi. Nilai diagnostiknya cukup tinggi di
tangan yang ahli, akan tetapi ibu dan janin pada pemeriksaan radiografi dan
radioisotopi masih dihadapkan pada bahaya radiasi yang cukup tinggi pula, sehingga
cara ini mulai ditinggalkan.
Ultrasonografi.
Penentuan letak plasenta dengan cara ini sangat tepat, tidak menimbulkan
bahaya radiasi bagi ibu dan janinnya, dan tidak menimbulkan rasa nyeri.

Penentuan letak plasenta secara langsung.


13

Untuk menegakkan diagnosis yang tepat tentang adanya dan jenis plasenta
previa ialah secara langsung meraba plasenta melalui kanalis servikalis. Akan tetapi
pemeriksaan ini sangat berbahaya karena dapat menimbulkan perdarahan banyak.
Oleh karena itu pemeriksaan melalui kanalis servikalis hanya dilakukan apabila
penanganan pasif ditinggalkan, dan ditempuh penanganan aktif. Pemeriksaannya
harus dilakukan dalam keadaan siap operasi. Pemeriksaan dalam di meja operasi
dilakukan sebagai berikut.
Perabaan fornises.
Pemeriksaan ini hanya bermakna apabila janin dalam presentasi kepala.
Sambil mendorong sedikit kepala janin ke arah pintu atas panggul, perlahanlahan
seluruh fornises diraba dengan jari. Perabaannya terasa lunak apabila antara jari dan
kepala janin terdapat plasenta; dan akan terasa padat (keras) apabila antara jari dan
kepala janin tidak terdapat plasenta. Bekuan darah dapat dikelirukan dengan plasenta.
Plasenta yang tipis mungkin tidak terasa lunak. Pemeriksaan ini harus selalu
mendahului pemeriksaan melalui kanalis servikalis, untuk mendapat kesan pertama
ada tidaknya plasenta previa.
Pemeriksaan melalui kanalis servikalis.
Apabila kanalis servikalis telah terbuka, perlahan-lahan jari telunjuk
dimasukkan ke dalam kanalis servikalis, dengan tujuan kalau-kalau meraba kotiledon
plasenta. Apabila kotiledon plasenta teraba, segera jari telunjuk dikeluarkan dari
kanalis servikalis. Jangan sekali-kali berusaha menyelusuri pinggir plasenta
seterusnya karena mungkin plasenta akan terlepas dari insersionya yang dapat
menimbulkan perdarahan banyak.

14

Cara persalinan.
Pada umumnya memilih cara persalinan yang terbaik tergantung dari derajat
plasenta previa, paritas, dan banyaknya perdarahan. Beberapa hal lain yang harus
diperhatikan pula ialah apakah terhadap penderita pernah dilakukan pemeriksaan
dalam, atau penderita sudah mengalami infeksi seperti seringkali terjadi pada kasuskasus kebidanan yang terbengkalai.
Plasenta previa totalis merupakan indikasi mutlak untuk seksio sesarea, tanpa
menghiraukan faktor-faktor lainnya. Plasenta previa parsialis pada primigravida
sangat cenderung untuk seksio sesarea. Perdarahan banyak, apalagi yang berulang,
merupakan indikasi mutlak untuk seksio sesarea karena perdarahan itu biasanya
disebabkan oleh plasenta previa yang lebih tinggi derajatnya daripada apa yang
ditemukan pada pemeriksaan-dalam, atau vaskularisasi yang hebat pada serviks dan
segmen-bawah uterus.
Multigravida dengan plasenta letak rendah, plasenta previa marginalia, atau
plasenta previa parsialis pada pembukaan lebih dari 5 cm dapat ditanggulangi dengan
pemecahan selaput ketuban. Akan tetapi, apabila ternyata pemecahan selaput ketuban
tidak mengurangi perdarahan yang timbul kemudian, maka seksio sesarea harus
dilakukan. Dalam memilih cara persalinan per vaginam hendaknya dihindarkan cara
persalinan yang lama dan sulit karena akan sangat membahayakan ibu dan janinnya.
Pada kasus yang terbengkalai, dengan anemia berat karena perdarahan atau
infeksi intrauterin, baik seksio sesarea maupun persalinan per vaginam sama-sama
tidak mengamankan ibu maupun janinnya. Akan tetapi, dengan bantuan transfusi
darah dan antibiotika secukupnya, seksio sesarea masih lebih aman daripada
persalinan per vaginam untuk semua kasus plasenta previa totalis dan kebanyakan
kasus plasenta previa parsialis. Seksio sesarea pada multigravida yang telah
mempunyai

anak-hidup

banyak

dapat

dipertimbangkan

dilanjutkan

dengan

histerektomia untuk menghindarkan perdarahan postpartum yang sangat mungkin

15

akan terjadi, atau sekurang-kurangnya dipertimbangkan untuk dilanjutkan dengan


sterilisasi untuk menghindarkan kehamilan berikutnya.
Terdapat 2 pilihan cara persalinan, yaitu persalinan per vaginam, dan
persalinan abdominal (seksio sesarea). Persalinan per vaginam bertujuan agar bagian
bawah janin menekan plasenta dan bagian plasenta yang berdarah selama persalinan
berlangsung, sehingga perdarahan berhenti. Seksio sesarea bertujuan secepatnya
mengangkat sumber perdarahan; dengan demikian, memberikan kesempatan kepada
uterus untuk berkontraksi menghentikan perdarahannya, dan menghindarkan
perlukaan serviks dan segmen-bawah uterus yang rapuh dilangsungkan persalinan per
vaginam.
Seksio sesarea.
Di rumah sakit yang serba lengkap, seksio sesarea akan merupakan cara
persalinan yang terpilih. Seksio sesarea dilakukan pada kira-kira dari semua kasus
plasenta previa, yang kebanyakan terdiri dari kasus-kasus tidak terdaftar. Gawat janin,
atau kematian janin tidak boleh merupakan halangan untuk melakukan seksio sesarea,
demi keselamatan ibu. Akan tetapi, gawat ibu mungkin terpaksa menunda seksio
sesarea sampai keadaannya dapat diperbaiki, fasilitas memungkinkan. Apabila
fasilitasnya tidak memungkinkan untuk segera memperbaiki keadaan ibu, jangan
ragu-ragu untuk melakukan seksio sesarea satu-satunya tindakan yang terbaik, seperti
pada plasenta previa totalis dengan perdarahan banyak.
Walaupun diakui bahwa seksio sesarea transperitonealis profunda merupakan
jenis operasi yang terbaik untuk melahirkan janin per abdominam, akan tetapi
hendaknya ragu-ragu untuk melakukan seksio sesarea korporalis apabila ternyata
plasenta pada dinding-depan uterus, untuk menghindarkan sayatan pada plasenta, dan
menghindarkan sayatan pada segmen-bawah uterus yang biasanya rapuh dan dengan
penuh pembuluh darah besar-besar; dengan demikian, menghindarkan perdarahan
postpartum. Sayatan pada dinding uterus sedapat mungkin menghindarkan sayatan
pada plasenta, agar perdarahan dari pihak ibu dan janin jangan lebih banyak lagi.
16

Perdarahan dari janin akan sangat membahayakan kehidupannya, apabila tidak segera
ditemukan tali pusatnya untuk kemudian dijepit.
Perdarahan yang berlebihan dari bekas insersio plasenta tidak selalu dapat
diatasi dengan pemberian uterotonika, apalagi kalau penderita telah sangat anemis.
Memasukkan tampon ke dalam uterus untuk menghentikan perdarahan dari segmen bawah uterus selagi melakukan seksio sesarea merupakan suatu tindakan yang tidak
adekuat. Histerektomia totalis merupakan tindakan yang cepat untuk menghentikan
perdarahan, dan dapat menyelamatkan jiwa penderita; namun sebelumnya sebaiknya
dicoba terlebih dahulu untuk menghentikan perdarahan itu dengan jahitan. Apabila
cara-cara tersebut tidak berhasil mengatasi perdarahan, dianjurkan untuk menghentikan perdarahan demikian itu dengan jalan mengikat arteria hipogastrika.
Prognosis
Dengan penanggulangan yang baik seharusnya kematian ibu karena plasenta
previa rendah sekali, atau tidak ada sama sekali. Sejak diperkenalkannya penanganan
pasif pada tahun 1945, kematian perinatal berangsur-angsur dapat diperbaiki.
Walaupun demikian, hingga kini kematian perinatal yang disebabkan prematuritas
tetap memegang peranan utama.
Penanganan pasif maupun aktif memerlukan fasilitas tertentu, yang belum
dicukupi pada banyak tempat di tanah air kita, sehingga beberapa tindakan yang
sudah lama ditinggalkan oleh dunia kebidanan mutakhir masih terpaksa dipakai juga
seperti pemasangan cunam Willett, dan versi Braxton-Hicks. Tindakan-tindakan ini
sekurang-kurangnya masih dianggap penting untuk menghentikan perdarahan di
mana fasilitas seksio sesarea belum ada. Dengan demikian tindakan-tindakan itu lebih
banyak ditujukan demi keselamatan ibu daripada janinnya.

17

DAFTAR PUSTAKA
1. Chalik TMA. Plasenta Previa. Dalam: Hemoragi Utama Obstetri dan
Ginekologi. Ed.1. Jakarta: Widya Medika, 1997. hal 129-143
2. Cunningham, Gary et al. Williams Obstetrics 22nd Edition. United States :
McGraw-Hill Company. 2005. p 820
3. Prawirohardjo. S, Ilmu Kebidanan, Ed. III, cet.II, Jakarta, Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 1992,hal.365-376.
4. Mochtar. R, Sinopsis Obstetri I, Ed. II, Jakarta, EGG, 1989,hal.300-311.
5. Bagian Obstetri & Ginekologi Fak. Kedokteran Universitas Sumatera
Utara/R.S Dr. Pringadi Medan, Pedoman Diagnosis dan Therapi ObstetriGinekologi R.S. Dr. Pringadi Medan, 1993, halo 6-10,
6. Bagian Obstetri & Ginekologi Fak.Kedokteran Universitas Padjajaran
Bandung, Obstetri Patologi, Ed. 1984, Elstar Offset Bandung, halo 110-120
7. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 1999. hal 362-376. Perdarahan
Antepartum dalam: Obstetri Patologi. Bagian Obstetri dan Ginekologi
Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung. Elstar Offset
Bandung, 1982. hal. 110-120
8. Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran UNPAD Bandung.
Obstetri Patologi. Bandung: Elstar offset, 1982; 110-27.
9. PB. POGl, Standar Pelayanan Medik Obstetri dan Ginekologi. Bagian 1,
Jakarta: Balai Penerbit FK UI, 1991; 9-13.
10. Mochtar R. Sinopsis Obstetri 1. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC,
1990; 296-322.
11. Heller L. Emergencies in Gynaecology and Obstetrics. diterjemahkan oleh
Mochaznad Martoprawiro dan Adji Dharma. Gawat Darurat Ginekologi dan
Obstetri. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC, 1988; 25-9.

18