Anda di halaman 1dari 440

PEMBAHASAN

LATIHAN SOAL UKDI CLINIC I


OPTIMAPREP
BATCH AGUSTUS 2015
Office Address:
Jl Padang no 5, Manggarai, Setiabudi, Jakarta Selatan
(Belakang Pasaraya Manggarai)
Phone Number : 021 8317064
Pin BB 2A8E2925
WA 081380385694

Medan :
Jl. Setiabudi No. 65 G, Medan
Phone Number : 061 8229229
Pin BB : 24BF7CD2
www.optimaprep.com

dr. Widya, dr. Eno, dr. Yolina


dr. Cemara, dr. Reza
dr. Yusuf

ILMU PENYAKIT DALAM

1. Syok Anafilaktik

www.resus.org.uk/pages/reaction.pdf
2012.

2. Intoksikasi Kadmium
Etiologi
Digunakan dalam industri baterai, fotografi,
TV tabung dll
Patogenesis:
Dalam tubuh terakumulasi dalam ginjal dan
hati terikat sebagai metalothionein
Lebih beracun bila terhisap melalui saluran
pernafasan daripada saluran pencernaan
http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/LAINNYA/POLUSI DAN
LINGKUNGAN

2. Intoksikasi Kadmium
Keracunan akut: menghisap debu dan asap kadmium oksida (CdO).
Gejala: Gangguan saluran nafas, nausea, muntah, kepala pusing
dan sakit pinggang. Kematian disebabkan karena terjadinya edema
paru-paru. Apabila pasien tetap bertahan, akan terjadi emfisema
atau gangguan paru-paru yang jelas terlihat
Keracunan kronis: Memakan atau inhalasi dosis kecil Cd dalam waktu
yang lama.
Nefrotoksisitas karena tingginya afinitas jaringan ginjal terhadap
Kadmium
Gangguan kardiovaskuler dan hipertensi
Osteomalasea karena terjadi gangguan daya keseimbangan
kandungan kalsium dan fosfat dalam ginjal.

http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/LAINNYA/POLUSI DAN
LINGKUNGAN

3. Defisiensi G6PD
Penderita defisiensi enzim G6PD yang dicurigai
melalui anamnesis ada keluhan atau riwayat
warna urin coklat kehitaman setelah minum obat
(golongan sulfa, primakuin, kina, klorokuin dan
lain-lain) dosis mingguan 0,75mg/kgBB selama
8-12 minggu.

Pengobatan malaria pada penderita dengan


Defisiensi G6PD segera dirujuk ke rumah sakit
dan dikonsultasikan kepada dokter ahli
Lampiran Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 5
Tahun 2013 Tentang Pedoman Tata Laksana Malaria

3. Defisiensi G6PD: Etiologi

Defisiensi G6PD
Diturunkan melalui kromosom X
Tidak dapat mengaktifkan jalur metabolik fantose-fosfat
tidak dapat melawan stres oksidatif
Hemolisis hanya terjadi bila terpapar obat yang berpotensi
oksidan, kacang fava, atau setelah infeksi anemia hemolitik
akut, favism, neonatal jaundice, atau anemia kronis nonhemolitik sferositik
Gejala: kelelahan, sakit punggung, anemia, dan jaundice.
Peningkatan bilirubin tak terkonjugasi, laktat
dehidrogenase,dan retikulositosis adalah marker kelainan
tersebut
(Cappellini,2008)

Defisiensi G6PD
Diagnosis
Penilaian aktivitas enzim,secara kuantitatif dengan analisa
spektrofotometri dari produksi NADPH dari NADP
(Cappellini,2008)
Dipikirkan juga jika ditemukan hemolisis akut pada laki-laki ras
afrika

Terapi
hemolisis terjadi self-limited sehingga tidak perlu terapi khusus
kecuali terapi untuk infeksi yang mendasari dan hindari zat
oksidan yang mencetuskan hemolisis serta mempertahankan
aliran ginjal yang adekuat karena adanya hemoglobinuria saat
hemolisis akut. Pada hemolisis berat mungkin diperlukan
transfusi darah
(Rinaldi,2009)

4. Acute Mountain Sickness


Patogenesis:
Atmosfer yang lebih tinggi tekanan barometrik Tiap
1x nafas: O2 menjadi lebih sedikit di setiap ketinggian
Nafas lebih cepat & dalam menyebabkan CO2
darah rangsangan untuk bernafas <<

Proses aklimatisasi:
Proses di mana tubuh seseorang menyesuaikan dengan
ketersediaan oksigen yang menurun di daerah dataran
tinggi. Seseorang yang akan pergi ke dataran tinggi
dianjurkan untuk pelan-pelan menapaki ketinggiannya,
bukan langsung mendarat di ketinggian tertentu sehingga
membuat badan kaget gejala AMS.
http://www.alma.nrao.edu/memos/html-memos/alma162/memo162.html#4
http://www.webmd.com/a-to-z-guides/altitude-sickness-topic-overview?page=2
http://www.traveldoctor.co.uk/altitude.htm

Acute Mountain Sickness


High altitude: 1500 3500 meter di atas
permukaan air laut.
Very high altitude: 3500 5500 meter di atas
permukaan air laut.
Extremely high altitude: >5500 meter di atas
permukaan air laut.

5. GERD
GERD
Kondisi patologis dan cedera pada esofagus akibat
naiknya isi lambung/ GI
Gejala
Nyeri ulu hati; rasa terbakar yang menjalar dari
kerongkongan,regurgitasi, disfagia

Terapi
Modifikasi gaya hidup dan terapi farmakologis

GI-Liver secrets

5. Barretts Esophagitis
Definisi: Epitel skuamosa pada distal esofagus
digantikan oleh epitel kolumnar (seperti pada
usus) dan memiliki sel goblet
Merupakan komplikasi dari GERD
Merupakan lesi premaligna dari adenokarsinoma
esofagus

NEJM 2002; 346: 836-842

Barretts Esofagitis

NEJM 2002; 346: 836-842

6. Inflammatory Bowel Disease


Kondisi kronik akibat
autoimun
Ulcerative colitis
Penyakit inflamasi kronis
ulseratif yang terbatas
pada rektum dan kolon
Hanya sedalam mukosa
dan submukosa

Crohn disease
Dapat mengenai bagian
mana saja sepanjang
saluran cerna
Sedalam transmural

Robbins & Kumar Pathologic basis of disease. 2010.

6. Inflammatory Bowel Disease


Diagnosis

Crohn
disease
Colitis
ulcerative

Karakteristik

Diare tidak berdarah; nyeri perut tumpul pada


kuadran kanan bawah, dipicu atau diperparah
seteah makan, penurunan BB
Diare dengan atau tanpa darah di feses. Bila
inflamasi mengenai rektum, darah terlihat
melapisi feses, tnesmus, urgensi, nyeri rektal, BAB
lendir

Fauci et al. Harrisons principles of internal medicine. 18th ed. McGraw-Hill; 2012.

6. Inflammatory Bowel Disease


Faktor risiko kanker
pada kolitis ulseratif
kronik
meluas
Riwayat Ca pada
keluarga
Kolangitis sklerosis
primer
Striktur kolom
Adanya pseudopolip
pada kolonoskopi

Fauci et al. Harrisons principles of internal medicine. 18th ed. McGraw-Hill; 2012.

7. Algoritma Terapi Hipertensi

Anti Hipertensi
The Joint National Committee on prevention,
detection, evaluation, and treatment of high blood
pressure (JNC) 7 membagi tatalaksana terapi
hipertensi secara farmakologis menjadi menjadi dua :
1. First Line:
Diuretik, -blocker, ACE, ARB, CCB
2. Second Line:
Penghambat saraf adrenergik, -blocker, dan
vasodilator
In Health Gazzette Divisi Pelayanan Obat

-1 blocker (Terazosin dan Doxazosin)


Bekerja pada pembuluh darah perifer dan menghambat
pengambilan katekolamin pada sel otot halus dan menyebabkan
terjadinya vasodilatasi dan penurunan tekanan darah
Keuntungan pada laki-laki dengan BPH (benign prostatic
hyperplasia) karena obat ini memblok reseptor postsinaptik alfa
adrenergik pada prostat sehingga menyebabkan relaksasi dan aliran
urin berkurang.
Efek samping
Pusing sementara atau pingsan, palpitasi, dan bahkan sinkop 1 -3 jam
setelah dosis pertama.
Dapat juga terjadi pada kenaikan dosis
Diatasi dengan meminum dosis pertama dan kenaikan dosis
berikutnya menjelang tidur.
Hati-hati pada pasien lansia: -1 bloker melewati hambatan darah
otak dan dapat menyebabkan efek samping CNS seperti kehilangan
tenaga, letih, dan depresi.
In Health Gazzette Divisi Pelayanan Obat

8. Parotitis
Etiologi
Virus mumps merupakan virus RNA genus paramyxovirus,
merupakan salah satu virus parainfluenza
Virus mumps mudah menular melalui droplet, kontak langsung,
air liur, dan urin
Gejala
Demam, nyeri kepala, nafsu makan menurun selama 3-4 hari,
yang diikuti peradangan kelenjar parotis (parotitis) dalam waktu
48 jam dan dapat berlangsung selama 7-10 hari
Penularan terjadi 24 jam sebelum sampai 3 hari setelah
terlihatnya pembengkakan kelenjar parotis.
Satu minggu setelah terjadi pembengkakan kelenjar parotis
pasien dianggap sudah tidak menular
Masarani M, Wazait H, Dinneen M. Parotitis epidemica orchitis. J R Soc Med 2006;99:573-5.
9. Manson, AL. Parotitis epidemica orchitis. Urology 1990;36:355.

Orkhitis Pasca Parotitis


Reaksi inflamasi testis akibat infeksi virus mumps yang
ditandai dengan pembengkakan testis yang disertai rasa
nyeri.
Insidens: Sebelum pubertas 14%, sesudah pubertas 30%38%. Insidens tertinggi: Usia 15-29 tahun
Patogenesis
Terjadi satu sampai dua minggu setelah pembengkakan kelenjar
parotis.
Muncul tiba-tiba, dapat disertai kenaikan suhu, nyeri kepala,
mual, dan nyeri pada abdomen bagian bawah.
Testis yang terkena terasa nyeri, bengkak, dan kulit disekitarnya
menjadi merah dan edematous.
Umumnya terjadi selama 4 hari.
Orkitis juga dapat terjadi tanpa tanda-tanda parotitis.
Masarani M, Wazait H, Dinneen M. Parotitis epidemica orchitis. J R Soc Med 2006;99:573-5.
9. Manson, AL. Parotitis epidemica orchitis. Urology 1990;36:355.

9. Aksis Hipotalamus - Pituitari

10. Tipe-Tipe Demam


1. Continued fever: Suhu tubuh terus-menerus di atas normal

2. Remittent fever: Suhu tubuh tiap hari turun naik tanpa kembali ke
normal
3. Intermittent fever: Suhu tubuh tiap hari kembali ke (bawah)
normal, kemudian naik lagi
4. Hectic fever: Memiliki fluktuasi temperatur yang jauh lebih besar
daripada remittent fever, mencapai 2C - 4 C. Hal ini ditandai
dengan menurunnya temperatur dengan cepat ke normal atau di
bawah normal, biasanya disertai dengan pengeluaran keringat
yang berlebihan.
Munandar, A. dan Tjandra Leksana. 1979. Pedoman Pengobatan. cet. I .
Jakarta : Medipress, hal. 9-11.

Tipe-Tipe demam
5.

Recurrent fever: Demam yang mengambuh.

6.

Undulant fever: Kenaikan suhu tubuh secara berangsur yang diikuti


dengan penurunan suhu tubuh secara berangsur pula sampai normal

7.

Irreguler fever: Variasi diurnal yang tidak teratur dalam selang waktu
yang berbeda

8.

Inverted fever: Suhu tubuh pagi hari lebih tinggi daripada malam hari
TBC paru-paru, sepsis dan bruselosis.

9.

Demam siklik : Kenaikan suhu badan selama beberapa hari, diikuti oleh
periode bebas demam untuk beberapa hari yang kemudian diikuti oleh
kenaikan suhu seperti semula.

10. Demam saddleback/ pelana (bifasik): Beberapa hari demam tinggi


disusul oleh penurunan suhu lebih kurang satu hari, dan kemudian
muncul demam tinggi kembali
Sudoyo, dkk. 2009.
Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi 5 Jilid 3
. Jakarta:Universitas Indonesia

11-12. Pneumonia Atipik


Resisten terhadap penisilin, tapi dihambat oleh
tetrasiklin atau eritromisin
Gejala:
Sakit kepala, demam dan batuk bersputum, toraks:
gambaran infiltrat, ronki basah dan wheezing
Penularan: melalui sekresi tubuh

Penunjang:
Kultur, serologi, dan PCR
Media kultur: khusus Enriched SP 4 (mycotrim RS
Biphasic System/SP 4 broth agar lyophilized)

11-12. Pneumonia Atipik


Penularan
Sekret tubuh pasien

Reaksi Non Spesifik


Hemaglutinin dingin
Complement Fixation Test: positif bila titer 4x

Terapi
laktam tidak efektif
DOC: Makrolid atau fluorokuinolon

13. Hipoparatiroid
Pada proses tiroidektomi
maka kelenjar paratiroid
dapat ikut terambil.
Terdapat 4 kelenjar paratiorid
yang terletak pada bagian
psoterior kelenjar tiroid
Kelenjar parathyorid
bertanggungjawab pada
menjada keseimbangan
kalsium:
Tulang: menstimulasi
pelepasan kalsium, resorpsi
kalsium oleh osteoklas
Ginjal: menstimulasi absorpsi
kalsium, meningkatkan
absorbsi kalsium di usus

Gejala Hipokalsemia
Sistemik
Confusion
kelemahan

Neuromuskular

Paresthesia
Psikosis
Kejang
Chovstek sign
Depresi

Kardiak
Prolonged QT interval
Perubahan gelombang T

Okular
katarak

Dental
Hipoplasia enamel gigi

Pernafasan
Laryngospasm
Bronkospasm
stridor

Tatalaksana
Pada pasien dengan hipokalsemia ringan tanpa
gejala maka terapi berupa suplementasi kalsium
oral dengan anjuran sebanyak 1-3 g/hari.
Pada hipokalsemia berat dengan gejala
simptomatik, diperlukan terapi kalsium IV
sebanyak 0,5-2 mg/kg per jam. Terapi parenteral
biasanya hanya diberikans elama beberapa hari
dan selanjutnya diberikan terapi oral.

14 & 16. Sirosis Hati: Uji Fungsi Hati


Klinis dibedakan menjadi bentuk laten dan
dekompensasi
Laten
SGOT& SGPT, SGOT > SGPT, GGT,

Dekompensasi
SGOT, SGPT, ALP, GGT, urobilinogen,
hiperbilirubinemia, albumin

www.abclab.co.id

14 & 16. Sirosis Hati: Uji Fungsi Hati


albumin: shifting dullness, asites
estrogen tak terdegradasi: eritema palmaris
Hiperbilirubinemia: sklera ikterik

15. Hepatoma
Faktor Risiko: infeksi hepatitis kronis,
aflatoksin, sirosis
Gejala
-fetoprotein pada > 50% kasus
Hati teraba keras, bisa terdapat nodul
Adanya bruit atau friction rub pada perabaan hati

Current diagnosis & treatment in gastroenterology.

15. Hepatoma

17. Intoksikasi Metanol


Etiologi: terhirup, minuman keras yang dioplos
Patofisiologi:
Metanol terminum diubah menjadi formaldehid
segera berubah menjadi asam formiat racun bagi tubuh

Gejala dan Tanda


12-24 jam pertama: Sakit kepala, pusing, sakit otot, lemah,
kehilangan kesadaran dan kejang-kejang ini\
Tahap selanjutnya: Kerusakan syaraf optik dengan gejala
berupa dilatasi pupil, penglihatan menjadi kabur dan
akhirnya kebutaan yang permanen, metabolisme acidosis
POM RI: Penyalahgunaan Zat

17. Intoksikasi Metanol: Terapi


Bersihkan diri dari paparan
Kulit: Segera cuci daerah yang terkena dengan air hangat dan
sabun sedikitnya selama 10-15 menit.
Mata: Cuci mata dengan cairan pencuci mata yang umum
digunakan, sedikitnya 10-15 menit.
Terhirup atau tertelan, segera minta bantuan kesehatan dari
dokter untuk dilakukan usaha-usaha
Detoksifikasi: Etanol dan sodium bikarbonat.

Etanol memiliki afinitas terhadap enzim alkohol dehidrogenase 10-20 kali


lebih kuat daripada metanol mengurangi pembentukan asam format
Diberikan secara per-oral dengan konsentrasi sampai 40%, atau melalui
intravena dengan konsentrasi 10% dalam 5% dekstrosa.
Sodium bikarbonat mengurangi metabolik asidosis akibat asam format.

POM RI: Penyalahgunaan Zat

18. Pengobatan TB pada Keadaan Khusus


Penderita TB pengguna kontrasepsi
Rifampisin berinteraksi dengan kontrasepsi hormonal (pil KB, suntikan
KB, susuk KB) efektifitas
Sebaiknya menggunakan kontrasepsi non-hormonal atau kontrasepsi
yang mengandung estrogen dosis tinggi (50 mcg).

Kehamilan
WHO: hampir semua OAT aman untuk kehamilan, kecuali
streptomisin.
Streptomisin tidak dapat dipakai pada kehamilan karena bersifat
permanent ototoxic dan dapat menembus barier placenta
gangguan pendengaran dan keseimbangan yang menetap pada bayi
yang akan dilahirkan.

Ibu menyusui dan bayinya


Semua jenis OAT aman untuk ibu menyusui
Bayi dapat terus disusui. Pengobatan pencegahan dengan INH
diberikan kepada bayi sesuai dengan berat badannya.
TUBERKULOSIS: PEDOMAN DIAGNOSIS & PENATALAKSANAAN DI INDONESIA. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia 2006

Pengobatan TB pada Keadaan Khusus


Penderita TB dengan infeksi HIV/AIDS
Prinsip pengobatan penderita TB-HIV adalah dengan
mendahulukan pengobatan TB.
Pengobatan ARV(antiretroviral) dimulai berdasarkan stadium
klinis HIV sesuai dengan standar WHO.

Penderita TB dengan hepatitis akut


Pada penderita TB dengan hepatitis akut dan atau klinis ikterik:
ditunda sampai hepatitis akutnya mengalami penyembuhan.
Bila pengobatan TB sangat diperlukan dapat diberikan
streptomisin (S) dan Etambutol (E) maksimal 3 bulan sampai
hepatitisnya menyembuh dan dilanjutkan dengan Rifampisin (R)
dan Isoniasid (H) selama 6 bulan.

TUBERKULOSIS: PEDOMAN DIAGNOSIS & PENATALAKSANAAN DI INDONESIA. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia 2006

Pengobatan TB pada Keadaan Khusus


Penderita TB dengan kelainan hati kronik
Kecurigaan gangguan faal hati: Pemeriksaan faal hati sebelum
pengobatan TB
SGOT & SGPT > 3x OAT tidak diberikan dan bila telah dalam
pengobatan, harus dihentikan.
< 3x, pengobatan dapat dilaksanakan atau diteruskan dengan
pengawasan ketat.
Penderita dengan kelainan hati, Pirasinamid (Z) tidak boleh digunakan.
Paduan OAT yang dapat dianjurkan adalah 2RHES/6RH atau
2HES/10HE

Penderita TB dengan gagal ginjal


Isoniasid (H), Rifampisin (R) dan Pirasinamid (Z) diekskresi melalui
empedu dicerna menjadi senyawa-senyawa yang tidak toksik
dapat diberikan dengan dosis standar pada penderita dengan
gangguan ginjal.
Streptomisin & Etambutol diekskresi melalui ginjal hindari
Paduan OAT yang paling aman untuk penderita dengan gagal ginjal
adalah 2HRZ/4HR
TUBERKULOSIS: PEDOMAN DIAGNOSIS & PENATALAKSANAAN DI INDONESIA. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia 2006

Pengobatan TB pada Keadaan Khusus


Penderita TB dengan Diabetes Melitus
Rifampisin mengurangi efektifitas sulfonil urea dosis obat anti
diabetes perlu ditingkatkan.
Insulin dapat digunakan untuk mengontrol gula darah, setelah selesai
pengobatan TB, dilanjutkan dengan anti diabetes oral.
Pada penderita Diabetes Mellitus sering terjadi komplikasi retinopati
diabetik hati-hati dengan pemberian etambutol, karena dapat
memperberat kelainan tersebut.
Penderita TB yang perlu mendapat tambahan kortikosteroid
Digunakan pada keadaan khusus yang membahayakan jiwa penderita
seperti:
Meningitis TB
TB milier dengan atau tanpa meningitis
TB dengan Pleuritis eksudativa
TB dengan Perikarditis konstriktiva.
Fase akut: Prednison diberikan dengan dosis 30-40 mg per hari,
kemudian diturunkan secara bertahap. Lama pemberian disesuaikan
dengan jenis penyakit dan kemajuan pengobatan
TUBERKULOSIS: PEDOMAN DIAGNOSIS & PENATALAKSANAAN DI INDONESIA. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia 2006

19. Teh
Polifenol
Sebagai anti oksidan bebas
Menghambat penyerapan vitamin B1
mengurangi metabolisme karbohidrat BB

Tannin
Mengurangi penyerapan zat besi

Agus Sumanto, 2009. Tetap Langsing dan Sehat


dengan Diet

20.

21.

22 & 23

24. Obat-Obatan dalam SKA: Nitrat


Nitrat mempunyai efek anti-iskemik melalui
berbagai mekanisme :
Menurunkan kebutuhan oksigen miokard karena
penurunan preload dan afterload,
Efek vasodilatasi sedang,
Meningkatkan aliran darah kolateral,
Menurunkan kecendrungan vasospasme, serta
Potensial dapat menghambat agregasi trombosit.
DIREKTORAT BINA FARMASI KOMUNITAS DAN KLINIK DITJEN BINA KEFARMASIAN DAN ALAT
KESEHATAN DEPARTEMEN KESEHATAN 2006: PHARMACEUTICAL CARE UNTUK PASIEN PENYAKIT
JANTUNG KORONER : FOKUS SINDROM KORONER AKUT

25. Gagal ginjal kronik


Klasifikasi penyakit ginjal kronik atas dasar penyakit dan tatalaksana
derajat

penjelasan

LFG

tatalaksana

Kerusakan ginjal dengan LFG normal


atau

90

Terapi penyakit dasar,kondisi


komorbid

Kerusakan ginjal dengan LFG


ringan

60-89

Menghambat pemburukan
funsi ginjal

Kerusakan ginjal dengan LFG


sedang

30-59

Evaluasi dan terapi komplikasi

Kerusakan ginjal dengan LFG


berat

15-29

Persiapan untuk terapi


pengganti ginjal

Gagal ginjal

<15

HD atau terapi pengganti


ginjal

LFG = (140-umur)xBB
72xCreatinin

Indikasi Hemodialisa cito :


-Keadaan umum buruk dan gejala klinis nyata
-K serum > 6 mEq/L
-Ur darah > 200mg/dL
-pH darah < 7,1
-Anuria
-Fluid overload

26. Hipoglikemia
Kadar glukosa darah <60 mg/dl atau <80mg/dl
dengan gejala klinis
Tatalaksana :
Berikan D40% 2 fl bolus intravena
Cairan D10% infus 6 jam/kolf
Cek GDS setiap 1 jam setelah pemberian D40%

ILMU BEDAH, ANASTESIOLOGI DAN


RADIOLOGI

27. Nerve Blocks of the Metatarsals


and Toes
Anatomy
Technique
Metatarsals
Interdigital web
spaces
Toes

Great Toe block


Step 1:
Inject lateral edge of toe
Needle perpendicular to toe
(straight up and down)
Inject from dorsal to plantar
surface
Use 1-2 cc of anesthetic
Step 2:
Inject dorsum of toe
Partially withdraw needle to tip
Redirect needle across dorsal
aspect of toe
Inject from lateral to medial
aspect of toe dorsum

Step 3:
Inject medial toe aspect
Insert needle perpendicular to
medial aspect
Enter skin via area anesthesized
in step 2
Inject medial aspect of toe with
1-2 cc
Inject from dorsal to plantar
surface

Digital Blocks
Dorsal and palmar digital nerves
Toes (except 1st) single needle insertion

Digital Blocks
Landmarks - bone and web space

28. Atheroma cyst (Sebacous cyst)


Massa non kanker yang
tumbuh dengan lambat
Berisi material dari folikel
ramabutkulit atau
komponen minyak yang
disebut dengan sebum
Kista sebaceous dapat
muncul saat pilosebaseus
atau kelenjar sebaseus
tersumbat
Biasanya sewarna dengan
kulit, dan memiliki punctum
(comedo, blackhead) pada
bag.puncak kubah

Diagnosis

Histologic

Lipoma

Soft mass, pseudofluctuant with a slippery edge

Atherom cyst

Occur when a pilosebaceous unit or a sebaceous gland becomes


blocked. Skin Color is usually normal, and there is a punctum
(comedo, blackhead) on the dome

Dermoid Cyst

Lined by orthokeratinized, stratified squamous epithelium surrounded


by a connective tissue wall. The lumen is usually filled with keratin.
Hair follicles, sebaceous glands, and sweat glands may be seen in the
cyst wall

Epidermal Cyst

A raised nodule on the skin of the face or neck. HistologicLined by


keratinizing epithelium the resembles the epithelium of the skin

Most commonly superotemporal Occasionally superonasal


Posterior margins are easily palpable
Freely mobile under skin

Dermoid Cyst

Lipoma

29. The Breast


Tumors

Onset

Feature

Breast cancer

30-menopause

Invasive Ductal Carcinoma , Pagets disease (Ca Insitu),


Peau dorange , hard, Painful, not clear border,
infiltrative, discharge/blood, Retraction of the
nipple,Axillary mass

Fibroadenoma
mammae

< 30 years

They are solid, round, rubbery lumps that move freely in


the breast when pushed upon and are usually painless.

Fibrocystic
mammae

20 to 40 years

lumps in both breasts that increase in size and


tenderness just prior to menstrual bleeding.occasionally
have nipple discharge

Mastitis

18-50 years

Localized breast erythema, warmth, and pain. May be


lactating and may have recently missed feedings.fever.

Philloides
Tumors

30-55 years

intralobular stroma . leaf-likeconfiguration.Firm,


smooth-sided, bumpy (not spiky). Breast skin over the
tumor may become reddish and warm to the touch.
Grow fast.

Duct Papilloma

45-50 years

occurs mainly in large ducts, present with a serous or


bloody nipple discharge

Pemeriksaan Radiologis Payudara


Mammography
Skrening wanita usia 50thn atau lebih yang
asimptomatik
Skrening wanita usia 35 thn atau lebih yang
asimtomatik dan memiliki resiko tinggi terkena
kanker payudara :

Wanita yang memiliki saudara dengan kanker


payudara yang terdiagnosis premenopaus
Wanita dengan temuan histologis yang memiliki resiko
ganas pada operasi sebelumnya, spt atypical ductal
hyperplasia

Untuk pemeriksaan wanita usia 35 thn atau lebih


yang simptomatik dengan adanya massa pada
payudara atau gejala klinis kanker payudara
yang lain
www.rad.washington.edu

USG Mamae
Tujuan utama USG mamae adalah untuk
membedakan massa solid dan kistik
Sebagai pelengkap
mamografi

pemeriksaan

klinis

dan

Merupakan pemeriksaan yang dianjurkan untuk


wanita usia muda (<35) dan berperan dalam
penilaian hasil mamografi dense breast

30-31. Batu Uretra


Berasal dari batu kandung kemih yang turun ke uretra
Sangat jarang batu uretra primerkecuali pada keadaan stasis urin yang
kronis dan infeksi seperti pada striktur uretra atau divertikel uretra

Batu uretra:
2/3 batu uretra terletak di uretra posterior
1/3 batu uretra terletak di uretra anterior

Gejalatidak spesifik, terdapat gejala-gejala obstruksi

Asimptomatik
Riwayat sering nyeri pinggang sebelumnya
Retensi urinKeluhan tersering
Disuria
Aliran mengecil
Frequency
Dribbling
Hematuria
Mengeluar batu kecil saat kencing atau kencing berpasir
Batu uretra posteriorNyeri yang menjalar ke perineum atau rectum
Batu uretra anteriornyeri pada daerah tempat batu berada atau menjalar ke
penis
http://www.bjui.org/ContentFullItem.aspx?id=840&SectionType=1&title=Ob
structing-Calculi-within-the-Male-Urethra

Pemeriksaan fisik:
Teraba massa batu pada penis
atau peno-scrotal junction
RT: teraba massa kerasbatu
uretra posterior

Pemeriksaan Penunjang:
USGSkrinning batu radiolisen
CT-scan UroGold standar
untuk kasus urolitiasis
Belum ada penelitian tentang
sensitivitasnya terhadap batu
uretra

Cystourethroscopymelihat
langsung dgn endoskopi

Tujuan tatalaksana:
Analgetik
Relieve the outflow obstruction
Punksi suprapubik

remove the stone without


damaging the urethra.

Tata laksana:
Batu uretra posterior:
Push-back lalu diterapi seperti batu
kandung kemihlitotripsi/open
bladder

batu uretra anterior


Lubrikasi anterior
Push-back lalu diterapi seperti batu
kandung kemih
Uretrotomi terbuka

batu di Fossa navikularis/meatus


eksterna
Uretrotomi terbuka:meatotomi

Komplikasi:

postobstructive renal failure


long term urethral damage
urethrocutaneous fistulas
incontinence and impotence

Case Reports: A stone down below: a urethral stone causing acute urinary
retention and renal failure. Hanna Bielawska, MD; Norman L. Epstein, MD.
CJEM 2010;12(4):377-380 in http://cjem-online.ca/v12/n4/p377

32. Urinary obstruction


Etiology
Types of obstruction
Mechanical blockade
Intrinsic
extrinsic

Functional defects
Congenital

Common sites Obstructions:


ureteropelvic and ureterovesical junctions
bladder neck
urethral meatus

When blockage is above the level of the


bladder
unilateral dilatation of the ureter
(hydroureter) and renal pyelocalyceal
system (hydronephrosis)

Lesions at or below the level of the


bladderbilateral Hydronephrosis

Ureter

Bladder Outlet

Urethra

Acquired Intrinsic Defects

Calculi

Benign prostatic
hyperplasia

stricture

Inflammation

Cancer of the
prostate

tumor

Infection

Cancer of the
bladder

calculi

Trauma

Calculi

trauma

Sloughed
Papillae

Diabetic
neuropathy

phimosis

Tumor

Spinal cord
disease

Blood Clots

Anticholinergic
drugs and alpha
adrenergic
antagonists

Uric acid
crystals

Hydronephrosis

Tanda adanya hidronefrosis:

Palpable kidney or bladder


Hydronephrosis on USG
Non visualized bladder
evidence of a dilated urinary
collection system

No bladder visualization
bilateral ureter obstruction

Bilateral ureteral obstruction


always asymmetric process
One ureter obstructed not
diagnosed because urine
production not decreased.
The next ureter obstructed
symptomatic

Derajat Hidronefrosis
I Dilatasi pelvis renalis tanpa dilatasi kaliks
Kaliks berbentuk blunting/tumpul
II Dilatasi pelvis renalis dan kaliks mayor
Kaliks berbentuk flattening/mendatar
III Dilatasi pelvis renalis, kaliks mayor dan kaliks minor, tanpa adanya penipisan
korteks
Kaliks berbentuk clubbing/menonjol
IV Dilatasi pelvis renalis, kaliks mayor dan kaliks minor, adanya penipisan korteks
Calices berbentuk ballooning/menggembung

Management
mid to proximal ureter percutaneous nephrostomy
Distal obstruction cystoscopic placement of ureteral stent
Intrarenal obstruction secondary to crystals or protein casts hydration

Acute obstruction require prompt release


emergency nephrostomy
In order to save functioning kidney

33. Acute Urinary retention


Painful inability to void, with relief of pain
following drainage of the bladder by
catheterization.
Pathophysiology:
Increased urethral resistance, i.e., bladder outlet
obstruction (BOO)
Low bladder pressure, i.e., impaired bladder
contractility
Interruption of sensory or motor innervations of
the bladder

Acute urinary retention


Causes :
Men:
Benign prostatic enlargement
(BPE) due to BPH
Carcinoma of the prostate
Urethral stricture
Prostatic abscess
Urolithiaisis

Women
Pelvic prolapse (cystocoele,
rectocoele, uterine)
Urethral stricture;
Urethral diverticulum;
Post surgery for stress
incontinence
pelvic masses (e.g., ovarian
masses)

Non traumatic
emergency

Initial Management :
Urethral catheterisation
Suprapubic puncture and
catheter ( SPC)

Late Management:
Treating the underlying
cause

http://urology.iupui.edu/papers/reconstructive_bph/s0094014305001163.pdf

34. Trauma Uretra


Curiga adanya trauma
pada traktus urinarius
bag.bawah, bila:
Terdapat trauma
disekitar traktus
urinarius terutama
fraktur pelvis
Retensi urin setelah
kecelakaan
Darah pada muara OUE
Ekimosis dan hematom
perineal

http://crashingpatient.com/trauma/abdominal-trauma.htm/

35. Retroperitoneal hematom


Zone 1: the midline
retroperitoneum
Zone 2: the perinephric
space
Zone 3: the pelvic
retroperitoneum

A hematoma in zone 2 is usually


the result of injury of the renal
vessels or parencyhma
Penetrating injury
Radiologic Examination
Ultrasonography
exploration
primary evaluation of polytrauma
A non-expanding stable
patients
follow-up of recuperating patients
hematoma resulting from blunt
CT scan urology with contrastthe
trauma better left
best imaging study
unexplored
diagnosis and staging renal injuries
haemodynamically stable patients

Cullens sign: purple-blue discoloration


around umbilicus (peritoneal
hemorrhage)

Grey Turners sign:flank


discoloration (retroperitoneal
hemorrhage)

http://www.sharinginhealth.ca/clinical_assessment/abdominal_exam.html

36. Peritonitis
Peritonitis
Peradangan dari peritoneum
Disebabkan oleh infeksi bakteri atau jamur atau reaksi
inflamasi peritoneum terhadap darah(pada kasus trauma
abdomen)

Jenis:
Peritonitis Primer
Disebabkan oleh penyebaran infeksi dari peradaran darah dan
pembuluh limfe ke peritoneumpenyakit hati
Cairaan terkumpul pada rongga peritoneum, menghasilkan
lingkungan yang cocok untuk pertumbuhan bakteri
Jarang terjadi kurang dari 1% dari seluruh kasus peritonitis

Peritonitis Sekunder
Lebih sering terjadi
Terjadi ketika infeksi menyebar dari traktus bilier atau GIT
http://www.umm.edu/altmed/articles/peritonitis-000127.htm#ixzz28YAqqYSG

Peritonitis Sekunder
Bakteri, enzim, atau cairan empedu mencapai
peritoneum dari suatu robekan yang berasal dari
traktus bilier atau GIT
Robekan tersebut dapat disebabkan oleh:

Pancreatitis
Perforasi appendiks
Ulkus gaster
Crohn's disease
Diverticulitis
Komplikasi Tifoid

Gejala dan Tanda


Distensi dan nyeri pada
abdomen
Demam, menggigil
Nafsu makan berkurang
Mual dan muntah
Peningkatan frekuensi
napas dan nadi
Nafas pendek
Hipotensi
Produksi urin berkurang
Tidak dapat kentut atau BAB

Tanda
BU berkurang atau
absenusus tidak dapat
berfungsi
Perut seperti papan
Peritonitis primerasites

Perforasi Gaster

Faktor RisikoUlkus
Peptikum e.c NSAID
Gejala klasik:
Nyeri seluruh lapang perut
yang timbul mendadak
Menjalar sampai ke bahu
Tanda peritonitis

Peneriksaan Fisik
Nyeri tekan seluruh lapang
perut
rigid abdomen; with rebound
and percussion tenderness,
and guarding (a characteristic
drum-like tender abdomen)
Pekak hepar menghilang

Radiologic Findings
Plain radiograph of abdomen
(AP)
Air under diaphragm

37. Fisura Ani

38. Hemoroid

Hemoroid eksterna

Hemoroid Interna

Diluar anal canal, sekitar sphincter

Didalam anal canal

Gejala terjadi karena thrombosis

Gejala timbul karena perdarahan atau


iritasi mukosa

Tidak dapat dimasukkan ke dalam anal


canal

dapat dimasukkan ke dalam anal canal


sampai grade III

http://emedicine.medscape.com/article/2047916

39-40. Chest Trauma


Disorders

Etiology

Clinical

Hemothorax

lacerated blood
vessel in thorax

Anxiety/Restlessness,Tachypnea,Signs of
Shock,Tachycardia
Frothy, Bloody Sputum
Diminished Breath Sounds on Affected
Side,Flat Neck Veins, Dullness to percussion

Simple/Closed
Pneumothorax

Blunt trauma
spontaneous

Opening in lung tissue that leaks air into


chest cavity, Chest Pain,Dyspnea,Tachypnea
Decreased Breath Sounds on Affected
Side,hipersonor

Open Pneumothorx

Penetrating
chest wound

Opening in chest cavity that allows air to


enter pleural cavity, Dyspnea,Sudden sharp
pain,Subcutaneous Emphysema
Decreased lung sounds on affected side
Red Bubbles on Exhalation from wound
(Sucking chest wound)

Simple/Closed Pneumothorax
Opening in lung tissue that
leaks air into chest cavity
Blunt trauma is main cause
May be spontaneousLung
infection
Usually self correcting
S/S :
Chest Pain
Dyspnea
Tachypnea
Decreased Breath Sounds on
Affected Side

Th/
ABCs with C-spine
control
Airway Assistance as
needed
If not contraindicated
transport in semi-sitting
position
Provide supportive care
Contact Hospital and/or
ALS unit as soon as
possible

http://emedicine.medscape.com/

Rongga pleura terisi oleh darah

Saat darah semakin banyak, akan menimbulkan


tekanan pada jantung dan pembuluh darah
besar di rongga dada

Treatment for Hemothorax

ABCs dengan c-spine control sesuai indikasi


Amankan Airway dengan bantuan ventilasi
bila dibutuhkan
Atasi syok karena kehilangan darah
Pertimbangkan posisi LLD bila tidak di
kontraindikasikan
Transport Secepatnya
Memberitahukan RS dan unit trauma
secepatnya
Needle decompressionBila ada indikasi
Chest tube&WSDsegera setelah pasien
stabil

Upright chest radiograph:


blunting at the costophrenic angle or
an air-fluid interface

41. Management of Trauma Patient

Shock position
Legs higher than head
auto transfusion of
about 250ml of venous
blood

http://en.wikipedia.org/wiki/Burn

42. Luka Bakar

prick test (+)

To estimate scattered burns: patient's


palm surface = 1% total body surface
area

Parkland formula = baxter formula


http://www.traumaburn.org/referring/fluid.shtml

Total Body
Surface Area

Indikasi resusitasi cairan


American Burn
Association

Unit Luka Bakar RSCM

LB derajat II > 10 % ( <


10 tahun / > 50 tahun ).
LB derajat II > 20 % ( 10
50 tahun )

LB derajat II > 10 % ( <


10 tahun / > 50 tahun ).
LB derajat II > 15% ( 10
50 tahun )

Cairan RL 4cc x BB (Kg)x


% luas luka bakar
(Baxter) dibagi 8 jam
pertama dan 16 jam
berikutnya
http://emedicine.medscape.com/article/1277360
SOP Unit Pelayanan Khusus Luka Bakar RSUPNCM 2011

43. Breast Cancer

I
IIA
IIB

IIIA

IIIB

IIIC
IV

T1N0
T1N1
T2N0
T2N1
T3N0
T1N2
T2N2
T3N1
T3N2
T4N0
T4N1
T4N2
N3
M1

Localized breast cancer


Surgery is mainstay
Halsted, 1882, radical
mastectomy
John Hopkins

Metastatic breast
cancer
Systemic treatment

Mastectomy

Breast Sparing Surgery: Lumpectomy & Partial


Mastectomy
Lumpectomy vs. Mastectomy

Breast Conserving therapy


Indication
Stage 0
Stage I
Stage IIA
Single lession

Modified radical mastectomy (MRM)


Methode:
Entire breast is removed
Classically some lymph nodes in
the level 1 (B) and level 2 (C )
were removed, called an axillary
lymph node dissection.
Pectoral muscles are spared
Used to examine the lymph
nodes identify whether the
cancer cells have spread beyond
the breasts.

Indication:
Locally Advance breast cancer
Multifocal/multicentrics cancer
Residual large cancer that persist
after adjuvant therapy
Stage I and Stage II

Neoadjuvant or preoperative induction


chemotherapy is now considered a legitimate
strategy for inclusion in the multidisciplinary
approach to locally advanced breast cancer
To downstage the tumour
to facilitate less invasive surgery
hopefully improve treatment outcome.

Radical Mastectomy
Rarely used
Method:
removing the entire
breast, the axillary
lymph nodes, and the
pectoralis major and
minor muscles behind
the breast

Indication:
Large tumor that involve
chest wall and muscle
(Stage IV)

Simple/Total Mastectomy
Indication:
Low grade carcinoma
stage II and III
Tumor phylloides
Large tumor that persist
after adjuvant therapy
Multifocal/multicentrics
carsinoma insitu

44. Hernia
HERNIA HIATALHERNIA DIAFRAGMATIKA

/VENTRAL HERNIA

Tipe Hernia

Definisi

Reponible

Kantong hernia dapat dimasukkan kembali ke dalam rongga


peritoneum secara manual atau spontan

Irreponible

Kantong hernia tidak dapat dimasukkan kembali ke dalam rongga


peritoneum

Incarserated

Obstruksi dari pasase usus halus yang terdapat di dalam kantong


hernia

Strangulated

Obstruksi dari pasase usus dan Obstruksi vaskular dari kantong


herniatanda-tanda iskemik usus: bengkak,nyeri,merah

Indirek mengikuti kanalis inguinalis


Karena adanya prosesus vaginalis
persistent
The processus vaginalis outpouching
of peritoneum attached to the testicle
that trails behind as it descends
retroperitoneally into the scrotum.
DirekTimbul karena adanya defek atau
kelemahan pada fasia transversalis dari
trigonum Hesselbach

http://emedicine.medscape.com/article/

Inguinal hernia
Most common
Most difficult to understand
Congenital ~ indirect
Acquired ~ direct or indirect
Indirect Hernia
has peritoneal sac
lateral to epigastric vessels

Direct Hernia
usually no peritoneal sac
through Hasselbach triangle,
medial to epigastric vessels

45. HYDROPNEUMOTHORAKS
Akumulasi dari cairan dan
udara bebas pada rongga
pleura
Menyebabkan tekanan
positif pada rongga
pekuraparu-paru
kolaps
Karena trauma
Biasanya darah
hematopneumothorax
X-RaysAir fluid

http://emedicine.medscape.com/article/

http://en.wikipedia.org/wiki/

46-47. Male Genital Disorders


Disorders

Etiology

Clinical

Testicular torsion

Intra/extra-vaginal
torsion

Sudden onset of severe testicular pain followed by


inguinal and/or scrotal swelling. Gastrointestinal
upset with nausea and vomiting.

Hidrocele

Congenital anomaly, accumulation of fluids around a testicle, swollen


blood blockage in the testicle,Transillumination +
spermatic cord
Inflammation or
injury

Varicocoele

Vein insufficiency

Scrotal pain or heaviness, swelling. Varicocele is


often described as feeling like a bag of worms

Hernia skrotalis

persistent patency of
the processus
vaginalis

Mass in scrotum when coughing or crying

Chriptorchimus

Congenital anomaly

Hypoplastic hemiscrotum, testis is found in other


area, hidden or palpated as a mass in inguinal.
Complication:testicular neoplasm, subfertility,
testicular torsion and inguinal hernia

Kriptorkismus
Kriptorkismus: testis tidak ada dalam skrotum dan
tidak dapat dimasukkan ke skrotum
Ectopic: tidak melewati jalur turunnya testis
Retraktil: dapat dimanipulasi hingga masuk ke dalam
skrotum dan dapat menetap tanpa tarikan
Gliding: dapat dimanipulasi hingga masuk ke dalam
skrotum namun bila dilepas akan tertarik kembali
Ascended: sebelumnya telah ada dalam skrotum lalu
tertarik ke atas secara spontan

Gejala:
Keluhan infertilitas
benjolan di perut bagian
bawah
testis tersebut dapat
mengalami trauma,
infeksi, torsio, atau
berubah menjadi tumor
testis

Pemeriksaan Fisik:
Pada skrotum dan inguinal,
teraba massa seperti
benang
Jaringan ini biasanya
gubernakulum atau
epididimis dan vas
deferens
bisa bersamaan dengan
testis intraabdominal

Testis yang tidak teraba


muncul sekitar 20-30% pada
pasien kriptorkismus
Hanya 20-40% dari testis yang
tidak teraba, saat dioperasi
benar-benar tidak ada

http://www.medscape.org/viewarticle/420354_8

HERNIA SKROTALIS

48. Ankle Sprain

Diagnosis

History of trauma
Swelling/discoloration
Pain/tenderness
Eversion restriction
Anterior drawer test
for
ankle
X-ray

www.uwec.edu/kin/majors/AT/aidil/images
/Ankle.JPG

Rehabilitation
After 5 to7 days (after inflammation subside)
start restoring motion to the hindfoot by turning
the heel in and out (Active Range of motion)

After 60 to70 percent of the ankles normal


motion has returned
begin strengthening exercises using a rubber tube
for resistance

Balance is restored by standing on the injured


leg

Ankle Sprain Tx BIG-THREE


PROTECTION (BRACE)
STRENGTH EXERCISE
PRIPRIOCEPTION TRAINING

49. Volume Perdarahan Fraktur Femur


Anatomi Os Femur
Terletak dekat dengan
pembuluh darah besar
(femoral artery)

Perdarahan akibat
fraktur femur dapat
mencapai 1,500 ml per
femur

50. Pemeriksaan Penunjang Trauma Wajah

Schedel/AP view

51. Posterior Hip


Dislocation
Gejala
Nyeri lutut
Nyeri pada sendi
panggul bag.
belakang
Sulit
menggerakkan
ekstremitas
bawah
Kaki terlihat
memendek dan
dalam posisi
fleksi, endorotasi
dan adduksi
Risk Factor
Kecelakaan
Improper seating
adjustment
sudden break in
the car
netterimages.com

soundnet.cs.princeton.edu

http://www.aaos.org/

Treatment
Survei primer (ABC) selalu
didahulukan
Setelah pasien stabil dan
diamankanperiksa
fraktur/dislokasi yang dialami
Tatalaksana terpenting untuk
fraktur dan
dislokasiPembidaian,
terutama sebelum transport

Tatalaksana Definitif Dislokasi Sendi


Panggul: Reposisi
Bila pasien tidak memiliki komplikasi lain:
Berikan Anestetic atau sedative dan manipulasi
tulang sehingga kembali pada posisi yang
seharusnya reduction/reposisi

Pada beberapa kasus, reduksi harus dilakukan


di OK dan diperlukan pembedahan
Setelah tindakan, harus dilakukan
pemeriksaan radiologis ulang atau CT-scan
untuk mengetahui posisi dari sendi.

http://orthoinfo.aaos.org/topic.cfm?topic=A00352

Anterior reduction/reposition

Posterior reduction/reposition

52. Breast Mass Diagnostic Algorithm

ILMU PENYAKIT MATA

Vaughn DG, Oftalmologi Umum, ed.14

53. Ablasio Retina


Ablasio retina adalah suatu
keadaan terpisahnya sel
kerucut dan batang retina
(retina sensorik) dari sel
epitel pigmen retina
Mengakibatkan gangguan
nutrisi retina pembuluh
darah yang bila berlangsung
lama akan mengakibatkan
gangguan fungsi
penglihatan

Jenis:
Rhegmatogenosa (paling
sering) lubang / robekan
pada lapisan neuronal
menyebabkan cairan vitreus
masuk ke antara retina
sensorik dengan epitel
pigmen retina
Traksi adhesi antara vitreus
/ proliferasi jaringan
fibrovaskular dengan retina
Serosa / hemoragik
eksudasi ke dalam ruang
subretina dari pembuluh
darah retina

Sumber: Riordan-Eva P, Whitcher JP. Vaughan and Asburys General Ophtalmology 17th ed. Philadephia: McGraw-Hill, 2007.

Ablasio Retina
Anamnesis:
Riwayat trauma
Riwayat operasi mata
Riwayat kondisi mata
sebelumnya (cth: uveitis,
perdarahan vitreus, miopia
berat)
Durasi gejala visual &
penurunan penglihatan

Gejala & Tanda:


Fotopsia (kilatan cahaya)
gejala awal yang sering
Defek lapang pandang
bertambah seiring waktu
Floaters

Funduskopi : adanya
robekan retina, retina yang
terangkat berwarna keabuabuan, biasanya ada
fibrosis vitreous atau
fibrosis preretinal bila ada
traksi. Bila tidak ditemukan
robekan kemungkinan
suatu ablasio
nonregmatogen

54. Perdarahan subkonjungtiva


Perdarahan
subkonjungtiva adalah
perdarahan akibat
rupturnya pembuluh
darah dibawah lapisan
konjungtiva yaitu
pembuluh darah
konjungtivalis atau
episklera.
Dapat terjadi secara
spontan atau akibat
trauma.

Perdarahan
subkonjungtiva akan
hilang atau diabsorpsi
dalam 1- 2 minggu tanpa
diobati.
Pengobatan penyakit
yang mendasari bila ada.

55. Dakrioadenitis
Peradangan dari kelenjar
lakrimalis
Kelenjar lakrimalis berada di
supratemporal orbita + lobus
palpebral
Patofisiologi masih belum
dimengerti, diperkirakan akibat
ascending infection kuman dari
duktus lakrimalis ke dalam
kelenjar
Lobus palpebral biasanya juga
ikut terkena
Penyebab: mumps, EBV,
stafilokokus, GO

Gejala: nyeri, kemerahan, dan


gejala penekanan pada unilateral
supratemporal orbita
Tanda: Khemosis

Injeksi konjungtiva
Sekret mukopurulent
Kelopak merah
Limfadenopati submandibular
Bengkak pada 1/3 lateral kelopak
mata (S-shaped lid)
Proptosis
Gangguan gerak bola mata
Pembesaran kelenjar parotis
Demam
ISPA
Malaise

DAKRIOSISTITIS ANATOMI DUKTUS LAKRIMALIS

Tatalaksana
Viral (paling sering) - Selflimiting, tx suportif
(kompres hangat, NSAID
oral)
Bacterial 1st generation
cephalosporins
Protozoa / fungal
antiamoebic/ antifungal
Inflammatory
(noninfectious) cek
penyebab sistemik,
tatalaksana berdasarkan
penyebabnya.

56. DAKRIOSISTITIS
Partial or complete obstruction of the nasolacrimal duct
with inflammation due to infection (Staphylococcus aureus
or Streptococcus B-hemolyticus), tumor, foreign bodies,
after trauma or due to granulomatous diseases.
Clinical features : epiphora, acute, unilateral, painful
inflammation of lacrimal sac, pus from lacrimal punctum,
fever, general malaise, pain radiates to forehead and teeth
Diagnosis : Anel test(+) :not dacryocystitis, probably skin
abcess; (-) or regurgitation (+) : dacryocystitis. Swab and
culture
Treatment : Systemic and topical antibiotic, irrigation of
lacrimal sac, Dacryocystorhinotomy

Evaluasi Sistem Lakrimal-Drainase Lakrimal :


Uji Anel : Dengan melakukan uji anel, dapat diketahui apakah fungsi dari
bagian eksresi baik atau tidak.
Cara melakukan uji anel :
Lebarkan pungtum lakrimal dengan dilator pungtum
Isi spuit dengan larutan garam fisiologis. Gunakan jarum lurus atau bengkok
tetapi tidak tajam
Masukkan jarum ke dalam pungtum lakrimal dan suntikkan cairan melalui
pungtum lakrimal ke dalam saluran eksresi , ke rongga hidung

Uji anel (+): terasa asin di tenggorok atau ada cairan yang masuk hidung.
Uji anel (-) jika tidak terasa asinberarti ada kelainan di dalam saluran
eksresi.
Jika cairan keluar dari pungtum lakrimal superior, berarti ada obstruksi di
duktus nasolakrimalis. Jika cairan keluar lagi melalui pungtum lakrimal
inferior berarti obstruksi terdapat di ujung nasal kanalikuli lakrimal
inferior, maka coba lakukan uji anel pungtum lakrimal superior.

http://emedicine.medscape.com/article/1206147

57. Jenis Glaukoma


Causes

Etiology

Clinical

Acute Glaucoma

Pupilllary block

Acute onset of ocular pain, nausea, headache, vomitting, blurred


vision, haloes (+), palpable increased of IOP(>21 mm Hg),
conjunctival injection, corneal epithelial edema, mid-dilated
nonreactive pupil, elderly, suffer from hyperopia, and have no
history of glaucoma

Open-angle
(chronic)
glaucoma

Unknown

History of eye pain or redness, Multicolored halos, Headache,


IOP steadily increase, Gonioscopy Open anterior chamber
angles, Progressive visual field loss

Congenital
glaucoma

abnormal eye
development,
congenital infection

present at birth, epiphora, photophobia, and blepharospasm,


buphtalmus (>12 mm)

Secondary
glaucoma

Drugs
(corticosteroids)
Eye diseases (uveitis,
cataract)
Systemic diseases
Trauma

Sign and symptoms like the primary one. Loss of vision

Absolute
glaucoma

end stage of all types of glaucoma, no vision, absence of


pupillary light reflex and pupillary response, stony appearance.
Severe eye pain. The treatment destructive procedure like
cyclocryoapplication, cyclophotocoagulation,injection of 100%
alcohol

http://emedicine.medscape.com/article/798811

Angle-closure (acute) glaucoma


The exit of the aqueous humor fluid is sud
At least 2 symptoms:
ocular pain
nausea/vomiting
history of intermittent blurring of vision with halos

AND at least 3 signs:

IOP greater than 21 mm Hg


conjunctival injection
corneal epithelial edema
mid-dilated nonreactive pupil
shallower chamber in the presence of occlusiondenly
blocked

58. GLAUKOMA SEKUNDER

Glaucoma sekunder merupakan glaukoma yang diketahui penyebab yang


menimbulkannya. Hal tersebut disebabkan oleh proses patologis intraokular
yang menghambat aliran cairan mata (cedera, radang, tumor)
Glaukoma terjadi bersama-sama dengan kelainan lensa seperti :
Luksasi lensa anterior, dimana terjadi gangguan pengaliran cairan mata ke sudut bilik mata.
Katarak imatur, dimana akibat mencembungnya lensa akan menyebabkan penutupan sudut bilik
mata (glaukoma fakomorfik)
Katarak hipermatur, dimana bahan lensa keluar dari lensa sehingga menutupi jalan keluar
cairan mata (glaukoma fakolitik)

Glaukoma yang terjadi akibat penutupan sudut bilik mata oleh bagian lensa
yang lisis ini disebut glaukoma fakolitik, pasien dengan galukoma fakolitik akan
mengeluh sakit kepala berat, mata sakit, tajam pengelihatan hanya tinggal
proyeksi sinar.
Pada pemeriksaan objektif terlihat edema kornea dengan injeksi silier, fler berat
dengan tanda-tanda uveitis lainnya, bilik mata yang dalam disertai dengan
katarak hipermatur. Tekanan bola mata sangat tinggi
Ilyas, Sidarta., 2004. Ilmu Penyakit Mata, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.

59. Glaukoma
Mekanisme : Gangguan aliran keluar humor akueus akibat
kelainan sitem drainase sudut kamera anterior (sudut
terbuka) atau gangguan akses humor akueus ke sistem
drainase (sudut tertutup)
Pemeriksaan :
Tonometri : mengukur tekanan Intraokuler (TIO): perpalpasi,
dengan schiotz, atau cara lain spt anaplasi
Penilaian diskus optikus : pembesaran cekungan diskus optikus
dan pemucatan diskus
Lapang pandang: kampimetri/perimetri
Gonioskopi : menilai sudut kamera anterior sudut terbuka
atau sudut tertutup

Pengobatan : menurunkan TIO obat-obatan


(asetazolamide, timolol, pilokarpin), terapi bedah atau laser

60,62. Konjungtivitis Alergi


Allergic conjunctivitis may be divided into 5
major subcategories.
Seasonal allergic conjunctivitis (SAC) and
perennial allergic conjunctivitis (PAC) are
commonly grouped together.
Vernal keratoconjunctivitis (VKC), atopic
keratoconjunctivitis (AKC), and giant papillary
conjunctivitis (GPC) constitute the remaining
subtypes of allergic conjunctivitis.

Konjungtivitis Alergi
Konjungtivitis Atopi

Konjungtivitis Vernal

Biasanya ada riwayat atopi


Gejala + Tanda: sensasi
terbakar, sekret mukoid mata
merah, fotofobia
Terdapat papila-papila halus
yang terutama ada di tarsus
inferior
Jarang ditemukan papila
raksasa
Karena eksaserbasi datang
berulanga kali
neovaskularisasi kornea,
sikatriks

Nama lain: spring catarrh/ seasonal


conjunctivitis/ warm weather
conjunctivitis
Etiologi: reaksi hipersensitivitas bilateral
(alergen sulit diidentifikasi)
Epidemiologi:

Dimulai pada masa prepubertal, bertahan


selama 5-10 tahun sejak awitan
Laki-laki > perempuan

Gejala & tanda:

Rasa gatal yang hebat, dapat disertai


fotofobia
Sekret ropy
Riwayat alergi pada RPD/RPK
Tampilan seperti susu pada konjungtiva
Gambaran cobblestone (papila raksasa
berpermukaan rata pada konjungtiva
tarsal)
Tanda Maxwell-Lyons (sekret menyerupai
benang & pseudomembran fibrinosa halus
pada tarsal atas, pada pajanan thdp panas)
Bercak Trantas (bercak keputihan pada
limbus saat fase aktif penyakit)
Dapat terjadi ulkus kornea superfisial

Tatalaksana Konjungtivitis Alergi


Self-limiting
Akut:
Steroid topikal (+sistemik
bila perlu), jangka
pendek mengurangi
gatal (waspada efek
samping: glaukoma,
katarak, dll.)
Vasokonstriktor topikal
Kompres dingin & ice
pack

Jangka panjang & prevensi


sekunder:
Antihistamin topikal
Stabilisator sel mast Sodium
kromolin 4%: sebagai
pengganti steroid bila gejala
sudah dapat dikontrol
Tidur di ruangan yang sejuk
dengan AC
Siklosporin 2% topikal (kasus
berat & tidak responsif)

Desensitisasi thdp antigen


(belum menunjukkan hasil
baik)

Vaughan & Asbury General Ophtalmology 17th ed.

Table. Major Differentiating Factors Between VKC and AKC


Characteristics

VKC

AKC

Age at onset

Generally presents at a younger


age than AKC

Sex

Males are affected preferentially.

No sex predilection

Seasonal variation

Typically occurs during spring months Generally perennial

Discharge

Thick mucoid discharge

Watery and clear discharge

Conjunctival
scarring

Higher incidence of
conjunctival scarring

Horner-Trantas
dots

Horner-Trantas dots and shield ulcers Presence of Horner-Trantas


are commonly seen.
dots is rare.

Corneal
neovascularization

Not present

Deep corneal
neovascularization tends to
develop

Presence of
eosinophils in
conjunctival
scraping

Conjunctival scraping reveals


eosinophils to a greater degree in
VKC than in AKC

Presence of eosinophils is
less likely

61. Presbiopia

Koreksi lensa positif untuk


menambah kekuatan lensa yang
berkurang sesuai usia
Kekuatan lensa yang biasa digunakan:
+ 1.0 D usia 40 tahun
+ 1.5 D usia 45 tahun + 2.0 D
usia 50 tahun + 2.5 D usia 55
tahun + 3.0 D usia 60 tahun

Pemeriksaan dengan kartu Jaeger


untuk melihat ketajaman penglihatan
jarak dekat.
The card is held 14 inches (356 mm)
from the persons's eye for the test. A
result of 14/20 means that the person
can read at 14 inches what someone
with normal vision can read at 20
inches.

(HOTV chart kartu utk memeriksa


visual acuity pd anak-anak;
sedangkan ETdRS (Early Treatment of
Diabetic Retinopathy Study) adalah
salah satu jenis kartu selain snellen
optic chart yang digunakan untuk
ketajaman penglihatan pada
umumnya

http://www.ivo.gr/files/items/1/145/51044.jpg

63. Jaegger Chart


Jaeger chart merupakan tes
yang dilakukan untuk
menilai penglihatan dekat
Jaeger chart terdiri atas
beberapa teks tulisan
dengan berbagai ukuran
huruf
Terdiri atas tipe J1 (ukuran
terkecil) dan J11 (terbesar)
Tulisan harus dibaca pada
jarak 12 inch, pasien
diminta untuk membaca
tulisan terkecil yang mampu
dibaca olehnya

64. Post Partum bloodshot eye


During delivery, women are told to push in order
to pass their baby through the vaginal canal and
into the world. While pushes should be centered
in the lower region of the body, the pressure may
feel like the same pushing associated with a
bowel movement. Out of embarrassment and
extreme effort, some women push with their face
instead of their lower body and this can cause the
blood vessels in the eyes to burst resulting in
bloodshot eyes.
Can be resolved in 1-2 weeks

NEUROLOGI

65-66. Migrain

Tatalaksana Migrain

67.Spondilitis TB
Merupakan presentasi infeksi TB ekstrapulmonal
yang menyerang vertebrae.
Dikenal juga dengan nama Potts Disease
Bagian yang sering terkena adalah bagian bawah
vertebrae thorakal dan bagian atas vertebrae
lumbal.
Manifestasi dari penyebearan TB hematogen.
Karena vertebrae merupakan bagian yang
avascular, dapat terjadi destruksi tulang yang
akibatnya terjadi kolaps vertebra dan jejas pada
medula spinalis akibat penyebaran kuman TB ini.

Tanda dan Gejala


Nyeri punggung
Kesulitan berdiri
Kesemutan, Kelemahan otot ekstremitas
inferior
Gejala klasik TB (Keringat malam, demam
subfebris, batuk lebih dari 3 minggu, dan
nafsu makan menurun)

68.Guillain Barre Syndrome


Nama lain: Acute Inflammatory Demyelienating
Polyradiculoneuropathy
Sindrom Guillain Barre adalah kumpulan gejala klinis yang
bermanifestasi kelemahan otot atau menurunnya refleks
akibat acute inflammatory polyradiculoneuropathy
Gejala klasik GBS ada demyelinating neuropathy dengan
kelemahan yang bersifat ascending yang muncul 2-4
minggu setelah infeksi saluran napas akut atau
gastrointestinal.
Kelemahan yang terjadi bersifat akut, progresif, dan dalam
beberapa hari dapat memengaruhi keempat otot
ekstremitas, otot trunkal, saraf kranial, dan otot respirasi.

Tanda dan Gejala GBS


Kelemahan otot ekstremitas
Gejala saraf kranial meliputi: kelemahan otot fasialis
(dapat rancu dengan Bells palsy), diplopia, disartria,
disfagia, oftalmoplegia, gangguan pupil.
Gangguan sensoris yang dirasakan umumnya perasaan
tebal, parestesia, tebal.
Gangguan otonomik pada GBS meliputi: takikardia,
bradikardia, paroksismal hipertensi, kemerahan pada
wajah, anhidrosis atau diaforesis, retensio urin
Gangguan pernapasan pada GBS meliputi: dispnea
pada saat aktivitas, sesak, kesulitan menelan, dan
bicara pelo

Tatalaksana GBS
Perawatan intensif diperlukan apabila didapatkan
gejala disautonomia, berkurangnya forced vital
capacity (< 20 mL/kg), kelemahan otot bulbar, dan
berkurangnya trigger napas.
Imunomodulasi dengan Intravenous Immunoglobulin
(IVIG) dan plasma exchange memiliki efektivitas yang
sama untuk memercepat proses penyembuhan
Terapi rehabilitasi untuk fisik, okupasi, dan wicara.
Sumber: http://emedicine.medscape.com/article/315632
; Harrison 18th Edition

69-70.Stroke iskemik
Gangguan neurologis yang disebabkan oleh adanya iskemia
pembuluh darah otak oleh karena adanya oklusi yang
disebabkan trombotik maupun emboli.
Manifestasi klinis yang sering didapatkan adalah defisit
neurologis akut dengan perubahan kesadaran. Manifestasi
lain adalah defisit fungsi hemosensoris, defisit lapangan
pandang, diplopia, disartria, ataksia, vertigo, nistagmus,
kelainan otot fasialis, dan afasia.
Diagnosis dapat ditegakkan dengan CT angiografi dan MRI.
Tatalaksana awal: stabilisasi ABC, kontrol tekanan darah,
identifikasi kemungkinan terapi reperfusi (fibrinolisis,
antiplatelet, maupun trombektomi mekanis)

Faktor risiko stroke


Tidak dapat dimodifikasi: umur, ras, jenis kelamin,
adanya riwayat stroke pada keluarga, dan
displasia fibromuskuler.
Faktor risiko yang dapat dimodifikasi: hipertensi,
diabetes
mellitus,
penyakit
jantung,
hiperkolestereolemia, stenosis arteri karotis,
adanya riwayat TIA, hiperhomosisteinemia,
obesitas, pengonsumsian alkohol, rokok, obatobat terlarang, dan sedentary lifestyle

Diagnosis Topis
ICA = Internal Carotid Artery
ACA = Anterior Cerebral Artery
MCA = Medial Cerebral Artery

VA = Vertebral Artery
PICA = Posterior inferior Cerebellar Artery
AICA = Anterior inferior Cerebellar Artery

Small arteries
PCA = Posterior cerebral artery
SCA = Superior cerebellar artery

71.Bells palsy
Penyebab tersering dari kelemahan wajah unilateral yang muncul tibatiba adalah stroke dan Bells palsy.
Penyebab yang paling umum dari kasus Bells palsy adalah HSV tipe 1,
diduga akibat reaktivasi virus dari tempat latennya.
Selain itu, yang banyak diperdebatkan adalah iritasi terus-menerus dalam
durasi yang cukup lama menyebabkan pembengkakan nervus fasialis
sehingga terjepit diduga juga sebagai penyebab Bells palsy.
Gejala yang didapatkan adalah: kelumpuhan otot wajah unilateral,
gangguan pada telinga (hyperacusis, otalgia), gangguan pada mata (nyeri,
mata kering oleh karena menurunnya produksi air mata, lagoftalmus,
penglihatan kabur), gangguan sensoris (rasa tebal pada pipi dan mulut)
Terapi: Kortikosteroid, antiviral (efektifitas kurang bila dibandingkan
steroid), dan perawatan mata (untuk mencegah timbulnya ulkus kornea),
dan bedah.
Sumber: Harrison, 18th Edition;
http://www.hopkinsmedicine.org/healthlibrary/GetImage.aspx?ImageId=16
1363; http://emedicine.medscape.com/article/1146903-overview

Inervasi Saraf VII


Intracranial branches
Greater petrosal nerve - provides parasympathetic
innervation to several glands, including the nasal
gland, palatine gland, lacrimal gland, andpharyngeal gland.
It also provides parasympathetic innervation to
the sphenoid sinus, frontal sinus, maxillary sinus, ethmoid
sinus and nasal cavity.
Nerve to stapedius - provides motor innervation
for stapedius muscle in middle ear
Chorda tympani
Submandibular gland
Sublingual gland
Special sensory taste fibers for the anterior 2/3 of the tongue.

Extracranial branches
Distal to stylomastoid foramen, the following nerves branch off
the facial nerve:
Posterior auricular nerve - controls movements of some of the
scalp muscles around the ear
Branch to Posterior belly of Digastric muscle as well as
the Stylohyoid muscle
Five major facial branches (in parotid gland) - from top to
bottom (a helpful mnemonic being To Zanzibar By Motor Car):

Temporal branch of the facial nerve


Zygomatic branch of the facial nerve
Buccal branch of the facial nerve
Marginal mandibular branch of the facial nerve
Cervical branch of the facial nerve

72.Gerakan Mata
For each eye, six muscles work together to
control eye position and movement. Two
extraocular muscles, themedial rectus and lateral
rectus, work together to control horizontal eye
movements
Contraction of the medial rectus pulls the eye
towards the nose (adduction or medial
movement).
Contraction of the lateral rectus pulls the eye
away from the nose (abduction or lateral
movement).

Four other extraocular muscles working together control vertical eye movements and eye
rotation around the mid-orbital axis (Figure 8.1, right). Contraction of the
superior rectus produces
eye elevation
minor movements: medial rotation and adduction

superior oblique produces


eye depression
other movements: medial rotation and abduction

inferior rectus produces


eye depression
minor movements: lateral rotation and adduction

inferior oblique produces


eye elevation
other movements: lateral rotation and abduction

Three cranial motor nuclei provide efferent control of the extraocular muscles.
Activation of the motor neurons produces contraction of the innervated muscle.
The abducens nucleus
sends its axons in the abducens (VI cranial) nerve
controls the lateral rectus of the ipsilateral eye.

The trochlear nucleus


sends its axons in the trochlear (IV cranial) nerve
controls the superior oblique of the contralateral eye.

The oculomotor complex contains nuclei that


send axons in the oculomotor (III cranial) nerve
control

the superior levator in the eyelid of both eyes

extraocular muscles, which include the

medial rectus of the ipsilateral eye,

inferior oblique of the ipsilateral eye

inferior rectus of the ipsilateral eye

superior rectus of the contralateral eye1.

73.Transient Ischemic Attack


Stroke
in
evolution/stroke-in-progression/
progressing stroke
Adalah suatu defisit neurologis yang berfluktuasi ketika pasien sedang
dalam amsa observasi.

TIA (Transient Ischemic Attack), based on AHA/ASA 2009


Episode transient mengenai disfungsi neurologis yang disebabkan oleh
iskemia sistem saraf pusat tanpa disertai infark. Gejala dapat hilang
dalam waktu 24 jam.

RIND (Reversible Ischemic Neurology Deficit)


Infark serebral yang bertahan lebih dari 24 jam namun kurang dari 72
jam.

Complete Stroke
Defisit neurologis yang masih ada dalam waktu lebih dari 3 minggu

74.Demensia
Demensia adalah kelainan kognitif dan perilaku yang
mengakibatkan gangguan fungsi sosial dan okupasional.
Demensia bersifat progresif dan tidak dapat disembuhkan.
Pada penyakit Alzheimer, didapatkan plak pada hipokampus,
struktur di dalam otak yang mengkode memori dan area otak yang
mengatur pusat berpikir dan membuat keputusan.
Gejala klinis meliputi: lupa, kebingungan mengenai lokasi rumah,
memerlukan waktu lebih lama untuk menyelesaikan tugas seharihari, sering lupa menghitung uang, kehilangan spontanitas dan
inisiatif, perubahan mood, tidak dapatmengingat hal baru, kesulitan
membaca, menulis, menghitung, kehilangan perhatian, kehilangan
kendali untuk buang air kecil maupun besar, berat badan berkurang,
hingga kesulitan menelan.

Diagnosis Demensia

Pemeriksaan kognitif meliputi atensi, konsentrasi, ingatan, bahasa, praksis, fungsi luhur, dan fungsi
visuospasial
Diagnosis Demensia

The development of multiple cognitive deficits manifested by both of the following:


Memory impairment (impaired ability to learn new information or to recall previously learned information)
One or more other cognitive disturbances: aphasia (language disturbance), apraxia (impaired ability to carry out
motor activities despite intact motor function), agnosia (failure to recognize or identify objects despite intact sensory
function), disturbance of executive functioning

B. The cognitive deficits must each cause significant impairment in social or occupational function and represent a
significant decline from a previous level of functioning.

C. The course of disease is characterized by gradual onset and continuing decline.


D. The cognitive deficits are not due to any of the following:
Other central nervous system conditions that cause progressive deficits in memory and cognition
Systemic conditions that are known to cause dementia
Substance-induced conditions
E. The deficits do not occur exclusively during the course of a delirium.

F. The disturbance is not better accounted for by another DSM-IV Axis I disorder (ie, a clinical disorder).

Pemeriksaan radiologis: didapatkan beta-amiloid plak, atrofi serebral, dan gliosis reaktif

75.Myastenia Gravis
MG merupakan kelainan transmisi neuromuskuler dengan
karakteristik kelemahan dan fatigue otot skeletal.
Kelainan yang mendasari MG adalah berkurangnya jumlah
reseptor asetilkolin (AChR) pada membran otot
postsinaptik akibat reaksi autoimun didapat yang
menghasilkan antibodi anti-AChR.
90% pasien MG mengalami manifestasi oftalmik. Ptosis
sendiri merupakan tanda yang prominen dari MG.
Fatigue merupakan karakteristik kelopak mata myasthenik,
dan biasanya disertai variasi diurnal atau variasi aktivitas,
dan bertambah berat setelah menatap (terutama ke atas)
dalam jangka waktu yang lama.

Tatalaksana Myastenia Gravis


Farmakologis: Piridostigmin, neostigmin,
edrophonium, dan kortikosteroid
Plasmapheresis
Timektomi
Pembatasan aktivitas
Diet dengan makanan cairan yang dikentalkan
untuk mencegah aspirasi

76.Glasgow Coma Scale

73. Epilepsi

PSKIATRI

77. Depresi
Gejala

Keterangan

GejalaUtama

Afek depresif;
hilang minat dan kegembiraan;
mudah lelah dan menurunnya aktifitas

Gejala Lain

Konsentrasi menurun;
harga diri dan kepercayaan diri berkurang;
rasa bersalah dan tidak berguna yang tidak beralasan;
merasa masa depan suram & pesimistis;
gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh
diri;
tidur terganggu; perubahan nafsu makan (naik atau
turun)

Ringan: 2 gej utama +2 gejala lain> 2 mgg


Sedang : 2 gej utama + 3 gejala lain >2 mgg
Berat: 3 gejala utama+ 4 gejala lain > 2mgg. Jika gejala sgt berat dan onset cepat boleh
ditegakkan < 2mgg
Berat dengan gejala psikotik: depresi berat+ waham, halusinasi atau stupor depresif
biasanya melibatkan ide tentang dosa, malapetaka yang mengancam, dan pasien merasa
bertanggung jawab utk hal itu
Maslim R, Buku Saku Diagnosis gangguan
Jiwa Rujukan ringkas dari PPDGJ - III

78.Bentuk Pikir
Gangguan Bentuk Pikir :
Ketidak mampuan mengorganisasikan proses pikir
membentuk ide bertujuan.

Jenis-2 Gangguan Bentuk /Arus Pikir :


1. Inkoherensi: gagasan satu dengan lain tidak berhubungan,
tidak logis, secara keseluruhan tidak dapat dimengerti.
2. Asosiasi longgar: bentuk lebih ringan dari inkoherensi.
gangguan proses pikir
3. Asosiasi bunyi
: gagasan satu dengan yang lain
dirangkaikan oleh kesamaan bunyi setiap kalimatnya ad
berhubungan bunyi/ kata

4. Neologisme: membentuk logika baru yang hanya


dimengerti oleh pasien
5. Sirkumstansial: penyampaian gagasan secara berbelit
dan cenderung terpaku pada detail muter2 tetapi
terjawab
6. Tangensial: ketidakmampuan untuk mempertahankan
gagasan bertujuan (cth pada pasien demensia)
berusaha jawab tetapi ide patah
7. Flight of Ideas: gagasan yang bertubi-tubi melompat
dari satu topik ke topik lain ganguan mood, cerita
cepat,
8. Verbigerasi: pengulangan kata tanpa tujuan
9. Preserverasi: pengulangan gagasan secara
persisten/tidak responsif terhadap stimulus baru
pembicaraan mengulang walaupun sudah pindah ke
topik lain

79. Transexualism
Merupakan suatu kelainan pengenalan
identitas jenis kelamin yang dicirikan dengan
keinginan untuk merubah jenis kelamin
Faktor resiko terjadinya kelainan ini:
Kedekatan yang berlebihan dengan ibu
Ketidakadaan ayah
Dinamika parenteral (ibu yang menginginkan anak
perempuan)

80.Anamnesis
Autoanamensis :
Melakukan anamnesis langsung kepada pasien

Alloanamnesis :
Melakukan anamnesis kepada keluarga atau
pengantar pasien, karena pasien memiliki
hambatan untuk dilakukan anamnesis

81. Defense Mechanism


Istilah

Keterangan

Denial

Menyangkal

Proyeksi

Emosi negatif yang dirasakan seseorang ditekan dan


diproyeksikan pada orang lain

Sublimasi

Perasaan dan pemikiran yang kurang baik disalurkan menjadi


yang baik

Introyeksi

Internalisasi objek (orang lain) untuk membangun kedekatan


dan kehadiran

Represi

Perasaan dan impuls tidak terima yang dikeluarkan dari


pikiran

82. Skizofrenia
Kriteria umum diagnosis skizofrenia:

Harus ada minimal 1 gejala berikut:

Atau minimal 2 gejala berikut:

Thought echo
Thought insertion or withdrawal
Thought broadcasting
Delusion of control
Delusion of influence
Delusion of passivity
Delusion of perception
Halusinasi auditorik

Halusinasi dari panca-indera apa saja


Arus pikiran yang terputus
Perilaku katatonik
Gejala negatif: apatis, bicara jarang, respons emosi menumpul

Gejala-gejala tersebut telah berlangsung minimal 1 bulan.


Maslim R. Buku saku diagnosis gangguan jiwa. Rujukan ringkas dari PPDGJ-III.

Skizofrenia

Gangguan isi pikir, waham, halusinasi

Paranoid

merasa terancam/dikendalikan

Hebefrenik

15-25 tahun, afek tidak wajar, tidak dapat diramalkan,


senyum sendiri

Katatonik

stupor, rigid, gaduh, fleksibilitas cerea

Skizotipal

perilaku/penampilan aneh, kepercayaan aneh, bersifat


magik, pikiran obsesif berulang

Waham menetap

hanya waham > 3 bulan

Psikotik akut

gejala psikotik <2 minggu.

Gangguan afektif
dengan ciri
psikotik

Gangguan Psikotik hanya ada selama gangguan afektif (+).


Gangguan afektif ada walau tanpa gejala psikotik
Waham sesuai dengan afeknya. Episode depresif dgn waham
bencana & pasien merasa sebagai penyebab.

Skizoafektif

gejala skizofrenia & afektif bersamaan

Siklotimik terpasuk gangguan mood type of chronic mood disorder widely


considered to be a milder or subthreshold form of bipolar disorder. Cyclothymia
is characterized by numerous mood disturbances, with periods of hypomanic
symptoms alternating with periods of mild or moderate depression.

83. Gangguan Somatoform


Diagnosis
Somatization
disorder

Presentasi klinis
Banyak keluhan
Berulang dan kronis
Riwayat penyakit lama

Conversion disorder Satu keluhan


Kebanyakan akut
Adanya stimulus penyebab penyakit
Hypochondriasis

Penyakit dimana pasien meyakini satu keluhan yang dideritanya

Kelainan Body
dysmorphic

Perasaan subjektif dimana pasien merasa bagian tubuhnya


terdapat kekurangan atau suatu yang buruk pada dirinya (fisik).

Pain disorder

Sindrome keluhan denggan tekanan

(Adapted from Folks DG, Ford CV, Houck CA. Somatoform disorders, factitious disorders,
and malingering. In: Stoudemire A, ed. Clinical Psychiatry for Medical Students.
Philadelphia: JB Lippincott; 1990:233, with permission.)

84. Gangguan Cemas


Kecemasan merupakan reaksi umum terhadap
stress.
Menyimpang bila individu tidak dapat meredam
(merepresikan) rasa cemas tersebut dalam situasi
dimana kebanyakan orang mampu menanganinya
tanpa adanya kesulitan yang berarti.
Gangguan kecemasan muncul bila rasa cemas
tersebut terus berlangsung lama, terjadi perubahan
perilaku, atau terjadinya perubahan metabolisme
tubuh.

Gejala umum gangguan cemas :


Berdebar diiringi detak jantung
cepat
Rasa sakit atau nyeri pada
dada
Rasa sesak napas
Berkeringat secara berlebihan
Kehilangan gairah seksual
Gangguan tidur
Tubuh gemetar

Gangguan Panik di ICD-10


(F41.0) termasuk dalam sub
kategori gangguan cemas
lainnya (F41) dimana
manifestasi cemas merupakan
gejala utama, dan kejadiannya
tidak terbatas situasi tertentu.
Gangguan panik sendiri
didefinisikan sebagai serangan
berulang dari kecemasan yang
berat (panik) yang tidak
terbatas situasi atau keadaan
sekitar dan tidak dapat
diprediksi. Dan disertai dengan
gejala somatik seperti gejala
serangan panik.

Diagnosis definitif dari


gangguan panik bila serangan
panik terjadi beberapa kali
dalam waktu 1 bulan:
Tanpa ada bukti bahaya di
sekitar
Tidak terbatas pada situasi
yang telah diketahui atau yang
dapat diduga sebelumnya
Dengan keadaan yang relatif
bebas dari gejala-gejala
anxietas pada periode antara
serangan-serangan panik

Obat AntiAnxietas
Diazepam, alprazolam,
buspirone, sulpiride,
hydroxyzine, bromazepam,
lorazepam, chlordiazepoxide

85. Psychosexual Development Theory


Personality developed through a series of childhood
stages in which the pleasure-seeking energies of the
id become focused on certain erogenous areas
psychosexual energy(libido) driving force behind
behavior

If these psychosexual stages are completed


successfullyhealthy personality
If certain issues are not resolved at the appropriate
stagefixations
Fixationpersistent focus on an earlier psychosexual stage
Until this conflict is resolved, the individual will remain
"stuck" in this stage

86. Gangguan Kepribadian


Gangguan Kepribadian

Keterangan

Antisosial/ dissosial

Gangguan kepribadian ini biasanya


menjadi perhatian disebabkan adanya
perbedaan yang besar antara perilaku dan
norma sosial yang berlaku, Ditandai:
Sikap tidak perduli perasaan orang lain
Dikap tidak bertanggung jawab, tidak
peduli aturan
Tidak mampu memelihara suatu
hubungan
Toleransi terhadap frustasi rendah
Sangat cenderung menyalahkan orang
lain

Histrionik

Ekspresi emosi dibuat buat seperti


bersandiwara (thetrically)
Mudah dipengaruhi orang lain atau
suatu keadaan
Keadaan afektif yang dangkal dan labil
Ingin jadi pusat perhatian

Paranoid

Kepekaan berlebih terhadap kegagalan dan penolakan


Kecenderungan untuk menyimpan dendam/ menolak
memaafkan
Kecurigaan berulang tanpa dasar
Preokupasi dengan penjelasan penjelasan yang bersekongkol
dan tidak substantif

Skizoid

Sedikit aktifitas yang memberikan kesenangan


Emosi dingin, afek mendatar atau tak perduli
Tidak mempunyai teman dekat atau hubungan pribadi yang akrab
dan tidak ingin untuk menjali hubungan seperti itu

Narcissistic

Preokupasi dengan fantasi tanpa batas tentang kesuksesan,


kekuatan, keindahan, cinta yang ideal
Adanya kekaguman berlebihan
Kurang empathy
arogant

Pembahasan : Gangguan kepribadian adalah Kondisi yg tidak berkaitan langsung


degan kerusakan atau penyakit otak berat atau gangguan jiwa lain
Memenuhi kriteria berikut :
Disharmoni sikap dan perilaku yg cukup berat biasanya meliputi beberapa bidang
fungsi ( misalnya afek, kesiagaan, pengendalian impuls, cara memandang dan
berpikir, serta gaya berhubungan dengan orang lain)
Pola perilaku abnormal berlangsung lama, jangka panjang, dan tidak terbatas pd
episode gangguan jiwa
Pola perilaku abnormalnya bersifat pervasive ( mendalam) dan amaladaptif yg jelas
terhadap berbagai keadaan pribadi dan social yg luas
Manifestasi di atas selalu muncul pd masa kanaka tau remaja dan berlanjut sampai usia
dewasa
Gangguan ini menyebabkan penderitaan pribadi yg cukup berarti, tetapi baru menjadi nyata
setelah perjalanan yang lanjut
Gangguan ini biasanya, tetapi tidak selalu, berkaitan secara bermakna dengan masalahmasalah dalam pekerjaan dan kinerja social

87. Skizofrenia
Kriteria umum diagnosis skizofrenia:

Harus ada minimal 1 gejala berikut:

Thought echoisi pikirannya berulang dikepalanya


Thought insertion or withdrawalisi pikiran yang asing dari luar masuk ke dalam pikirannya
Thought broadcastingisi pikirannya keluar sehingga orang lain/ umum mengetahuinya
Delusion of controlwaham tentang dirinya dikendalikan oleh kekuatan dari luar dirinya
Delusion of influencewaham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu dari
luar
Delusion of passivitywaham tentang dirinya tak berdaya terhadap suatu kekuatan dari luar
Delusion of perceptionpengalaman inderawi yang tidak wajar
Halusinasi auditorik

Atau minimal 2 gejala berikut:

Halusinasi dari panca-indera apa saja


Arus pikiran yang terputus
Perilaku katatonik
Gejala negatif: apatis, bicara jarang, respons emosi menumpul

Gejala-gejala tersebut telah berlangsung minimal 1 bulan.


Maslim R. Buku saku diagnosis gangguan jiwa. Rujukan ringkas dari PPDGJ-III.

Skizofrenia

Gangguan isi pikir, waham, halusinasi, minimal


1 bulan

Paranoid

merasa terancam/dikendalikan

Hebefrenik

15-25 tahun, afek tidak wajar, perilaku tidak dapat diramalkan,


senyum sendiri

Katatonik

stupor, rigid, gaduh, fleksibilitas cerea

Skizotipal

perilaku/penampilan aneh, kepercayaan aneh, bersifat magik,


pikiran obsesif berulang

Waham menetap

hanya waham

Psikotik akut

gejala psikotik <2 minggu.

Skizoafektif

gejala skizofrenia & afektif bersamaan

Residual

Gejala negatif menonjol, ada riwayat psikotik di masa lalu yang


memenuhi skizofrenia

Simpleks

Gejala negatif yang khas skizofrenia (apatis, bicara jarang, afek


tumpul/tidak wajar) tanpa didahului halusinasi/waham/gejala
psikotik lain. Disertai perubahan perilaku pribadi yang bermakna
(tidak berbuat sesuatu, tanpa tujuan hidup, penarikan diri).

PPDGJ

88. Gangguan Somatoform


Diagnosis

Karakteristik

Gangguan somatisasi

Banyak keluhan fisik (4 tempat nyeri, 2 GI tract, 1


seksual, 1 pseudoneurologis).

Hipokondriasis

Keyakinan ada penyakit fisik.

Disfungsi otonomik
somatoform

Bangkitan otonomik: palpitasi, berkeringat,


tremor, flushing.

Nyeri somatoform

Nyeri menetap yang tidak terjelaskan.

Gangguan Dismorfik
Tubuh

Preokupasi adanya cacat pada tubuhnya


Jika memang ada kelainan fisik yang kecil,
perhatian pasien pada kelainan tersebut akan
dilebih-lebihkan
PPDGJ

Gangguan Hipokondrik
Untuk diagnosis pasti, kedua hal ini harus ada:
Keyakinan yang menetap adanya sekurangkurangnya 1 penyakit fisik yang serius,
meskipun pemeriksaan yang berulang tidak
menunjang
Tidak mau menerima nasehat atau dukungan
penjelasan dari beberapa dokter bahwa tidak
ditemukan penyakit/abnormalitas fisik

Psikosomatis
Dalam DSM-4 psikosomatis
dimasukkan ke dalam faktor
psikologis yang mempengaruhi
kondisi medis dengan kriteria:
Adanya kondisi medis
Faktor psikologi mempengaruhi
kondisi medis umum, melalui 1
cara di bawah:
Faktor psikologi mempengaruhi
perjalanan penyakit, dilihat dari
hubungan waktu antara stresor
dengan timbulnya gejala
Faktor psikologi mengganggu terapi
medis
Faktor psikologi menambah risiko
pada kesehatan
Respons fisiologis terakit stres
mempresipitasi atau
mengeksaserbasi kondisi medis

Gangguan psikokutan terdiri dari


berbagai penyakit kulit yang
dipengaruhi oleh gejala psikiatri atau
stres di mana kulit menjadi sasaran
gangguan pikir, perilaku, atau
persepsi.

Atopic Dermatitis
Psoriasis
Psychogenic Excoriation
Localized Pruritus
Hyperhidrosis
Urticaria

Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry, 10th Edition.

ILMU PENYAKIT KULIT DAN


KELAMIN

89. Crazy pavement dermatosis


10-20% anak dengan kwashiokor mengalami
kelainan kulit ini
Ditandai dengan kulit yang menjadi gelap dan
kering, lalu mengalami peregangan sehingga
tampak daerah berwarna pucat dan pecah
pecah

90. Furunkel
Furunkel adalah peradangan folikel rambut
dan sekitarnyafolikel pilosebaseus
Etiologi: staphylococcus aureus
Karbunkelkumpulan furunkel (beberapa
furunkel beronfluens)
Gejala klinis: Nyeri, nodus eritematosa
berbentuk kerucut, di tengah terdapat pustul
Pengobatan: antibiotik topikal
Buku ajar ilmu penyakit kulit dan kelamin FKUI edisi kelima

91. Pemeriksaan Dermatofitosis

Penyakit jamur di kulit oleh jamur


dermatofita
3 genus:
1. Microsporum
2. Tricophyton
3. Epidermophyton

Morfologi dermatofitosis
khas:
Kelainan berbatas tegas
Polimorfik (papul, vesikel,
skuama, dll)
Tepi lebih aktif
Disertai rasa gatal
Penderita pria lebih sering
gatal karena struktur
anatominya
Klasifikasi dermatofitosis
didasarkan pada lokalisasi
kelainan kulit

Diagnosis Dermatofitosis:
1. Anamnesa
2. Gambaran klinis
3. Sediaan langsung + lar KOH 10%
Hifa sejatipanjang dan bersekat

4. Woods light (T.kapitis, T.kruris eritrasma,


P.versicolor)
5. Biakan pada agar Sabouraud spesies
penyebabnya
Terapi Dermatofitosis:
1. Griseofulvin (lini pertama),
2. ketokonazol, itrakonazol (golongan azol)
3. terbinafin

92. Kelainan Kuku


Onycholysis : pemisahan ujung kuku bagian
distal dari nail bed. Disebabkan oleh pajanan
air berlebihan, sabun, deterjen, alkali dan
baha pembersih industri
Infeksi kandida, penguat kuku dan obat-obat
pemicu fotosensitivitas dapat menyebabkan
kelainan ini

Diskolorasi

93. Filariasis
Penyakit yang disebabkan cacing Filariidae, dibagi menjadi 3
berdasarkan habitat cacing dewasa di hospes:
Kutaneus: Loa loa, Onchocerca volvulus, Mansonella streptocerca
Limfatik: Wuchereria bancroftii, Brugia malayi, Brugia timori
Kavitas tubuh: Mansonella perstans, Mansonella ozzardi

Fase gejala filariasis limfatik:


Mikrofilaremia asimtomatik
Adenolimfangitis akut: limfadenopati yang nyeri, limfangitis
retrograde, demam, tropical pulmonary eosinophilia (batuk, mengi,
anoreksia, malaise, sesak)
Limfedema ireversibel kronik

Grading limfedema (WHO, 1992):


Grade 1 - Pitting edema reversible with limb elevation
Grade 2 - Nonpitting edema irreversible with limb elevation
Grade 3 - Severe swelling with sclerosis and skin changes
Wayangankar S. Filariasis. http://emedicine.medscape.com/article/217776-overview
WHO. World Health Organization global programme to eliminate lymphatic filariasis. WHO Press; 2010.

94. Malaria

95. Gonorrhea
Penyakit yang disebabkan infeksi Neisseria
gonorrhoeae
Masa tunas 2-5 hari
Jenis infeksi:
Pada pria: uretritis, tysonitis, parauretritis, littritis,
cowperitis, prostatitis, vesikulitis, funikulitis, epididimitis,
trigonitis
Gambaran uretritis: gatal, panas di uretra distal, disusul
disuria, polakisuria , keluar duh yang kadang disertai
darah, nyeri saat ereksi
Pada wanita: uretritis, oarauretritis, servisitis, bartholinitis,
salpingitis, proktitis, orofaringitis, konjungtivitis (pada bayi
baru lahir), gonorrhea diseminata
Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.

Gonorrhea
Pemeriksaan:
Sediaan langsung: diplokokus gram negatif
Kultur: agar Thayer-Martin

Pengobatan
Diagnosis

Pilihan pengobatan

Uncomplicated gonococcal
infection of the cervix,
urethra, pharynx, or rectum

First line: Ceftriaxone (250 mg IM, single dose) or Cefixime


(400 mg PO, single dose)
plus
Treatment for Chlamydia if chlamydial infection is not ruled
out: Azithromycin (1 g PO, single dose) or Doxycycline (100 mg
PO bid for 7 days)
Alternative: Ceftizoxime (500 mg IM, single dose) or
Cefotaxime (500 mg IM, single dose) or Spectinomycin (2 g IM,
single dose) or Cefotetan (1 g IM, single dose) plus probenecid
(1 g PO, single dose) or Cefoxitin (2 g IM, single dose) plus
probenecid (1 g PO, single dose)

Longo DL. Harrisons principles of internal medicine, 18th ed. McGraw-Hill; 2012.

96. Erupsi akneiformis

97. Urinary Tract Infection (UTI)


Pathophysiology
1. Infection spreads from renal pelvis to renal cortex
2. Kidney grossly edematous; localized abscesses in cortex
surface
3. E. Coli responsible organism for 85% of acute pyelonephritis;
also Proteus, Klebsiella

Manifestations
1. Demam dan menggigil yang tiba-tiba
2. Malaise
3. muntah
4. Nyeri pinggang
5. Nyeri dan nyeri ketok Costovertebral
6. Urinary frequency, dysuria

Ada di GIT
Patofisiologi:

E. coli

Infeksi endogen setelah menembus barier imun


Sepsis dengan fokus infeksi pada traktus urinarius atau GIT,
merupakan bakteri gram negatif tersering penyebab sepsis
Urinary tract infectionSebagian besar menginfeksi pasien
dalam komunitas, ditransmisikan dari GIT secara asenden,
beberapa serotipe menempel pada traktus urinarius
Forms complex of numerous o-somatic, H- flagellar and K capsular antigens

Kultur Media Mc Conkey


Koloni merah mudamemfermentasi laktosa

Tes Methyl Red identifikasi bakteri melalui jalur


fermentasi glukosa yang digunakan
Jalur fermentasi
Menghasilkan produk asam yang cepat diubah menjadi produk
netral

Butylene glycol pathway


Produk netralacetoin and 2,3-butanediol

Mixed acid pathway


Produk asamlactic, acetic, and formic acid

Indikator pH
Merah: pH < 4.4
Kuning: pH > 6.2
Orange : diantaranya

98. Morbus Hansen

99. DERMATITIS NUMULARIS


Sinonim :
Ekzem numular
Ekzem diskoid

Etiopatogenesis
Tidak diketahui : Multi Faktor
Peningkatan koloni Staphylococcus &
Micrococcus

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.

Mekanisme Hipersensitifitas, infeksi oleh


bakteri
Dermatitis kontak ( nikel, krom, kobalt )
Trauma fisik / kimiawi
Kelembaban kurang kulit kering
Stres emosional

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.

Gejala Klinis
>> pada laki-laki
awitan 55 th 65 th/ 15 th 25 th

Subjektif : gatal hebat


Objektif
Lesi awal: vesikel / papulovesikel bergabung :
Coin berbatas tegas, edematosa & eritematosa
vesikel pecah : krusta kekuningan
melebar : ukuran 5 cm
Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.

Lesi lama
Predileksi

Distribusi
Jumlah
Ukuran

: likenifikasi, skuama
: tungkai bawah, lengan
bawah, badan dan punggung
tangan
: bilateral, simetris
: 1 atau lebih tersebar
: bervariasi milier plakat

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.

Dermatitis Numularis
Perjalanan Penyakit
Papula, makula, vesikula bergabung menjadi
bulatan batas tegas, eritematosa vesikel pecah
eksudasi & krusta likenifikasi & skuama

Atlas Penyakit Kulit & Kelamin


Airlangga University Press

Pengobatan
UMUM
Cari faktor provokasi
Fokal infeksi
Kulit kering
Hindari bahan iritan / alergen
KHUSUS
Sistemik
Topikal

: Antibiotika
Kortikosteroid
: Kompres PK 1/10.000 (lesi basah)
Kortikosteroid (lesi kering)

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.

Diagnosis Banding

100. Kandidosis
Kandidosis: penyakit jamur bisa bersifat akut/subakut disebabkan
oleh genus Candida
Klasifikasi
Kandidosis mukosa: kandidosis oral, perleche, vulvovaginitis, balanitis,
mukokutan kronik, bronkopulmonar
Kandidosis kutis: lokalisata, generalisata, paronikia & onikomikosis,
granulomatosa
Kandidosis sistemik: endokarditis, meningitis, pyelonefritis, septikemia
Reaksi id (kandidid)

Faktor
Endogen: perubahan fisiologik (kehamilan, obesitas, iatrogenik, DM,
penyakit kronik), usia (orang tua & bayi), imunologik
Eksogen: iklim panas, kelembaban tinggi, kebiasaan berendam kaki,
kontak dengan penderita

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.

Kandidosis kutis
Bentuk klinis:
Kandidosis intertriginosa: Lesi di daerah lipatan kulit ketiak, lipat
paha, intergluteal, lipat payudara, sela jari, glans penis, dan
umbilikus berupa bercak berbatas tegas, bersisik, basah,
eritematosa. Dikelilingi oleh satelit berupa vesikel-vesikel dan
pustul-pustul kecil atau bula
Kandidosis perianal: Lesi berupa maserasi seperti dermatofit
tipe basah
Kandidosis kutis generalisata: Lesi terdapat pada glabrous skin.
Sering disertai glossitis, stomatitis, paronikia

Pemeriksaan: KOH (selragi, blastospora, hifa semu), kultur


di agar Sabouraud
Pengobatan: hindari faktor predisposisi, antifungal (gentian
violet 0,5-1%, nistatin, amfoterisin B, grup azole)
Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.

101. Virulensi C. albicans


Mannoprotein:
Mempunyai sifat imunosupresif mempertinggi
pertahanan jamur terhadap imunitas hospes C.
albicans tidak hanya menempel, namun juga
melakukan penetrasi ke dalam mukosa.

Enzim yang berperan sebagai faktor virulensi


Enzim-enzim hidrolitik: proteinase, lipase dan
fosfolipase.

Tjampakasari, CR. Karakteristik Candida albicans. Cermin Dunia Kedokteran. 2006; 151: 33-36
Fuberlin. Candida albicans Patogenicity. [Cited 2012 Jan 22].

4.

Vaginal Discharge
Patologi Candida

Trikomonas

BV

Gonorre

Chlamydia

Warna

Putih seperti
santan

Kuning
kehijauan

keabuan

Kuning
keruh (pus)

Non spesifik,
ada darah

Bau

Asam

Seperti ikan

Amis, ikan
busuk

Purulen

mukopurulen

Serviks

Bercak putih
menempel
pada serviks

Strawberry
cervix

Putih homogen, Edema


melekat
serviks

Edema serviks,
rapuh

Px/

Pseudohifa,
blastospora

Parasit
berflagel

Clue cell

PMN > 30/LPB

Diplokokus
gram (-)
intrasel

102. Trikomoniasis
Infeksi saluran urogenital bagian bawah oleh Trichomonas vaginalis, bisa
bersifat akut/kronik, penularan biasanya melalui hubungan seksual (dapat
juga melalui pakaian atau karena berenang)
Gejala klinis:
Pada wanita:
Sekret vagina seropurulen berwana kekuningan, kuning-hijau, berbau tidak enak,
berbusa
Dinding vagina kemerahan, terdapat abses yang tampak sebagai granulasi berwarna
merah (strawberry appearance), dispareunia, perdarahan pascakoitus, perdarahan
intermenstrual

Pada laki-laki: gambaran klinis lebih ringan, mirip uretritis nongonore

Pemeriksaan:
Sediaan basah
Pemeriksaan pewarnaan Giemsa

Pengobatan:
Topikal: cairan irigasi (H2O, asam laktat), supositoria/gel trikomoniasudal
Sistemik: metronidazol (2 g single dose atau 500 mg x 7 hari), tinidazol

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.

103. Skabies
Etiologi: Sarcoptes scabiei
Gejala (4 tanda kardinal):
Pruritus nokturna, menyerang sekelompok orang, ditemukan
terowongan, ditemukan s. scabiei

Burrow ink test:


Papul skabies dilapisi dengan tinta cina biarkan 20-30 menit
bersihkan dengan kapas alkohol: terowongan terlihat lebih
gelap dibanding kulit sekitar karena akumulasi tinta didalam
terowongan. Tes dinyatakan positif bila terbetuk gambaran
kanalikuli yang khas berupa garis menyerupai bentuk zigzag.
Burns DA. Diseases Caused by Arthropods and Other Noxious Animals, in: Burns T,
Breathnach S, Cox N, Griffiths C. Rooks Textbook of Dermatology. Vol.2. USA: Blackwell
publishing; 2004. 37-47.
Itzhak Brook. Microbiology of Secondary Bacterial Infection in Scabies Lesions.
J Clin Microbiol. 1995. August: 33/2139-2140.

Pengobatan Skabies
Permethrin 5%
Pilihan utama, kontra indikasi pada bayi < 2 bulan , ibu
hamil (penggunaan < 2 jam) dan menyusui

Sulfur presipitat (2-10%), biasanya 6%


Aman pd segala umur, dioles 24 jam selama 3 hari

Benzil benzoat 12,5% (anak), 25%


Kontraindikasi menyerupai permethrin

Gameksan 1%
Selama 6 jam, kontraindikasi < 6 tahun

Harahap M. Ilmu Penyakit Kulit.Ed.1. Jakarta: Hipokrates; 2000. 109-13.

Amiruddin MD. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Ed.1. Makassar: Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin ; 2003. 5-10.

104. Investasi cacing


A. Lumbricoides

A. duodenale

N. americanus

T. trichiura

O. vermicularis

Morf 12-49 cm

8-13 mm

7-11 mm

30-50 mm

8-13 mm

Entry Telur terfertilisasi

Larva filariform Larva filariform Telur

Telur

Parasitologi Kedokteran FKUI

Loeffler's syndrome
Eosinofil terakumulasi di paru-paru akibat
reaksi hipersensitivitas terhadap infeksi parasit
pneumonia eosinofilik
Etiologi:
Ascaris lumbricoides, Strongyloides stercoralis,
Ancylostoma duodenale, dan Necator americanus

105. Creeping Eruption


Etiologi
Invasi larva cacing tambang Ancylostoma braziliense
dan Ancylostoma caninum

Gejala Klinis
Gatal, panas, papula linier atau berkelok-kelok
eritema
Predileksi di tungkai/ daerah yang berkontak dgn
tanah

Terapi:
Spray kloretil
Tiabendazole 50 mg/kgBB/hari, 2x/hari selama 2 hari
Atlas Penyakit Kulit & Kelamin
Airlangga University Press

106. Enterobiasis
Enterobiasis disebabkan
oleh Enterobius
vermicularis
Gejala: sering asimtomatik
Pruritus ani & vulva
terutama malam hari
Insomnia, nyeri abdomen
Enuresis pada anak

Diagnosis: menemukan
telur dengan tape di
perineum saat
malam/pagi hari sebelum
mandi
Wolfram W. Enterobiasis. http://emedicine.medscape.com/article/997814-overview

Nama cacing

Cacing dewasa

Telur

Obat

Ascaris
lumbricoides

Mebendazole,
pirantel pamoat

Taenia solium

Albendazole,
prazikuantel, bedah

Enterobius
vermicularis

Pirantel pamoat,
mebendazole,
albendazole

Ancylostoma
duodenale
Necator
americanus

Mebendazole,
pirantel pamoat,
albendazole

Schistosoma
haematobium

Prazikuantel

Trichuris
trichiura

Mebendazole,
albendazole

Brooks GF. Jawetz, Melnick & Adelbergs medical microbiology, 23rd ed. McGraw-Hill; 2004.

107. Farmakologi Primakuin

Keputusan Menteri Kesehatan RI No 44/Menkes/SK/1/2007 Tentang Pengobatan Malaria

Farmakologi Primakuin

Keputusan Menteri Kesehatan RI No 44/Menkes/SK/1/2007 Tentang Pengobatan Malaria

108. Kemoprofilaksis Malaria


Tujuan
Mengurangi risiko terjangkit penyakit malaria sehingga bila terinfeksi
gejala klinis tidak berat

Sasaran Pengguna
Orang yang akan bepergian ke daerah endemis malaria dalam waktu
yang tidak terlalu lama (turis, peneliti)
Untuk orang yang menetap lama: personal protection (kelambu,
repellent, kawat kassa, dll)

Terutama ditujukan untuk P. falciparum karena memiliki virulensi


tertinggi resisten kloroquin
Dosis
2 mg/kgBB diminum mulai H-1 keberangkatan hingga tidak lebih dari 2
minggu
Kontraindikasi: anak < 8 tahun dan ibu hamil
Pedoman Penatalaksanaan Kasus Malaria di Indonesia, Direktorat Jenderal
Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan DepKes RI

109.

110-111. Media Pertumbuhan Selektif

Eosin methylene blue (EMB): selektif untuk spesies coli


YM (yeast and mold): pH rendah untuk media jamur
MacConkey agar: Untuk bakteri gram (-)
Mannitol salt agar (MSA): Selektif untuk bakteri gram
(+)
Xylose lysine desoxyscholate (XLD): Selektif untuk
bakteri gram (-)
Buffered charcoal yeast extract agar: untuk Legionella
pneumophila
BairdParker agar: Untuk stafilokokus

Media Pertumbuhan Diferensial


Untuk membedakan subspesies
Blood agar: mengandung darah sapi yang akan
menjadi transparan bila terdapat streptokokus
hemolitikus
Eosin methylene blue (EMB): Untuk membedakan
bakteri yang memfermentasi laktosa
MacConkey (MCK): Sama seperti EMB
Mannitol salt agar (MSA): Untuk membedakan
bakteri yang memfermentasi manitol

Agar Lowenstein-Jensen
Sebagai media pertumbuhan bakteri
mycobacterium, terutama mycobacterium
tuberculosis
Tampak seperti koloni coklat bergranular

Pewarnaan Ziel-Nielsen
Pewarnaan tahan asam mewarnai golongan Mycobacterium dan
Actinomyces.
Bakteri genus Mycobacterium dan beberapa spesies nocardia pada
dinding selnya mengandung banyak zat lipid (lemak) sehingga
bersifat permeable dengan pewarnaan biasa
Bahan pemeriksaan TB: Sputum yang diambil dari pasien tersangka
KP (Koch pulmonum), tetapi dapat pula diambil dari lokasi lain
seperti cairan otak (Liquor Cerebro Spinalis), getah lambung, urine,
ulkus, dll.
Prinsip Pewarnaan
Bakteri tahan asam (BTA) akan memberikan warna merah, sedangkan
yang tidak tahan asam akan berwarna biru.
Rinda. 2014. Bakteri 1. [Online] http://rindachie.weng.com/menu/labs/bakteri-5.html
Admin. 2014. Mycobacterium tuberculosis.[Online]
http://id.m.wikipedia.org/wiki/mycobacterium.tuberculosis .

112. Pembagian Menurut WHO

Pengobatan Kusta

ILMU KESEHATAN ANAK

113-114. Congenital Hypothyroidism


Etiology

Thyroid Function:
normal brain growth and myelination
and for normal neuronal
connections.
The most critical period fis the first
few months of life.

The thyroid arises from the fourth


branchial pouches.
The thyroid gland develops between
4 and 10 weeks' gestation.
By 10-11 weeks' gestation, the fetal
thyroid is capable of producing
thyroid hormone.
By 18-20 weeks' gestation, blood
levels of T4 have reached term levels.
T

http://emedicine.medscape.com/article/919758-overview#aw2aab6b2b2aa

The fetal pituitary-thyroid axis is


believed to function independently
of the maternal pituitary-thyroid
axis.
The contributions of maternal
thyroid hormone levels to the fetus
are thought to be minimal, but
maternal thyroid disease can have
a substantial influence on fetal and
neonatal thyroid function.
Immunoglobulin G (IgG)
autoantibodies, as in autoimmune
thyroiditis, can cross the placenta
and inhibit thyroid function
(transient)
Thioamides (PTU) can block fetal
thyroid hormone synthesis
(transient)
Radioactive iodine administered to
a pregnant woman can ablate the
fetus's thyroid gland permanently.

115. Atrial Septal Defect

ASD:
Pathophysiology & Clinical Findings
Ro:

Increased flow into right side of


the heart & lungs

- enlargement of RV, RA, &


pulmonary artery
- increased vasvular marking

Constant increased of
ventricular diastolic volume

Wide, fixed 2nd heart sound


splitting

Increased flow across tricuspid


valve

Mid-diastolic murmur at the lower


left sternal border

Increased flow across


pulmonary valve

Thrill & systolic ejection murmur, best


heard at left middle & upper sternal
border

Flow across the septal defect doesnt produce murmur because the pressure gap
between LA & RA is not significant
1. Nelsons textbook of pediatrics. 18th ed.

116. Patent Ductus Arteriosus

117. Pewarisan
Genetik
Thalassemia-
Penurunan genetik thalassemia
beta jika kedua orang tua
merupakan thalassemia trait

NB: need four genes (two from


each parent) to make enough alpha
globin protein chains.

http://imagebank.hematology.org/AssetDetail.aspx?AssetID=9909&AssetType=Asset

Thalassemia-
Penurunan genetik
thalassemia beta jika kedua
orang tua merupakan
thalassemia trait
http://elcaminogmi.dnadirect.com/grc
/patient-site/alpha-thalassemiacarrier-screening/genetics-of-alphathalassemia.html?6AC396EC1151986D
584C6C02B56BBCC0

NB: need
two genes
(one from
each parent)
to make
enough beta
globin
protein
chains.

118. Difteri
Penyebab : toksin
Corynebacterium diphteriae
Organisme:
Basil batang gram positif
Pembesaran ireguler pada salah
satu ujung (club shaped)
Setelah pembelahan sel,
membentuk formasi seperti huruf
cina atau palisade

Gejala:
Gejala awal nyeri tenggorok
Bull-neck (bengkak pada leher)
Pseudomembran purulen
berwarna putih keabuan di faring,
tonsil, uvula, palatum.
Pseudomembran sulit dilepaskan.
Jaringan sekitarnya edema.
Edema dapat menyebabkan stridor
dan penyumbatan sal.napas

Pemeriksaan : Gram, Kultur


Obat:
Antitoksin: 40.000 Unit ADS IM/IV,
skin test
Anbiotik: Penisillin prokain 50.000
Unit/kgBB IM per hari selama 7
hari atau eritromisin 25-50 kgBB
dibagi 3 dosis selama 14 hari
Hindari oksigen kecuali jika terjadi
obstruksi saluran repirasi
(Pemberian oksigen dengan nasal
prongs dapat memebuat anak
tidak nyaman dan mencetuskan
obstruksi)
Indikasi trakeostomi/intubasi :
Terdapat tanda tarikan dinding
dada bagian bawah ke dalam yang
berat

Todar K. Diphtheria. http://textbookofbacteriology.net/diphtheria.html; Demirci CS. Pediatric diphtheria. http://emedicine.medscape.com/article/963334-overview; PPM IDAI

http://4.bp.blogspot.com/

119. Inverted Nipple

Bentuk puting: normal (menonjol), flat


nipple, inverted nipple
Derajat inverted/ terbenam bervariasi
Grade inverted nipple:
Grade 1 : Puting tertarik ke dalam,
masih mudah untuk ditarik dan dapat
bertahan cukup lama tanpa perlu
tarikan. Namun tekanan lembut di
sekitar areola pada kulit dapat
menyebabkan puting tertarik ke
dalam kembali.
Grade 2: Puting yang tertarik ke
dalam dan masih bisa ditarik keluar,
tidak semudah grade 1. Setelah
tarikan dilepas, puting akan masuk ke
dalam kembali
Grade 3: posisinya sangat tertarik ke
dalam dan sulit untuk ditarik keluar
apalagi untuk mempertahankan tetap
terlihat. (karena perlekatan jaringan
puting di jaringan bawahnya)

Utk bisa menyusu scr efektif, bayi harus


bisa meraih puting dan mereganggkannya
ke atas menuju langit-langit mulutnya
Sebagian besar puting rata maupun
terbenam tidak akan menyebabkan
kesulitan dalam menyusui
1/3 wanita bisa mengalami inverted
nipple, tetapi selama kehamilan terjadi
perubahan kulit yg mjd lebih elastis.
Hanya 10% sisanya yg tetap mengalami
inversi saat bayi lahir
pinch test (penekanan daerah areola
sekitar 2 cm di luar puting): utk
menentukan apakah puting datar/
terbenam

Kalau Flat menjadi menonjol


Kalau inverted menjadi retraksi atau
terbenam menghilang

Cara mengatasi inverted nipple

Setelah beberapa kali menyusu,


isapan bayi yg kuat akan
mengalahkan gaya yg menarik puting
ke dalan dan membuat puting
menonjol semakin bertambah
besar bayi, isapan semakin kuat,
puting akan semakin keluar.
Hoffman Technique: latihan manual
untuk melepaskan adhesi/ perlekatan
yg terjadi di dasar puting
Place the thumbs of both hands
opposite each other at the base of the
nipple and gently but firmly pull the
thumbs away from each other. Do this
up and down and sideways. Repeat this
exercise twice a day at first, then work
up to five times a day. You can do this
during pregnancy to prepare your
nipples, as well as after your baby is
born in order to draw them out.

After baby is born, a breast pump can


be used to draw out a flat or inverted
nipple immediately before putting
your baby on the breast.
Pumping can also be useful in order to
break the adhesions under the skin by
applying uniform pressure from the
center of the nipple.

Jalan terkahir: rekonstruksi dengan


tindakan pembedahan (operasi).

120. Food Allergy (Protein Susu Sapi)

Hipersensitivitas terhadap protein di dalam makanan (cth kasein & whey dari
produk sapi)
Mekanisme pertahanan spesifik dan non-spesifik saluran cerna belum sempurna,
antigen masuk lewat saluran cerna hipersensitivitas
Hipersensitivitas bisa diperantarai IgE atau Tidak diperantarai IgE
The prevalence of food allergies has been estimated to be 5-6% in infants and
children younger than 3 years and 3.7 % in adults
Gejala:

Anafilaktik
Kulit: dermatitis atopik, urtikaria, angioedema
Saluran nafas: asma, rinitis alergi
Saluran cerna: oral allergy syndrome, esofagitis eosinofilik, gastritis eosinofilik, gastroenteritis
eosinofilik, konstipasi kronik, dll.

Pemeriksaan: skin test, IgE serum, eliminasi diet, food challenge


Tata laksana:

Eliminasi makanan yang diduga mengandung alergen


Breastfeeding, ibu ikut eliminasi produk susu sapi dalam dietnya
Susu terhidrolisat sempurna bila susah untuk breastfeeding
Nocerino A. Protein intolerance. http://emedicine.medscape.com/article/931548-overview

PPM IDAI

121. Jenis Susu Formula/ PASI


PASI (Pengganti Air Susu Ibu) adalah alternatif terakhir bila memang ASI
tidak keluar, kurang atau karena sebab lainnya.
PASI dapat dikelompokkan menjadi
1. susu formula awal (starting formula): Starting Formula biasanya
diberikan sejak lahir sebelum usia 6 bulan
2. susu lanjutan (Followup Formula): Followup Formula diberikan di atas
usia 6 bulan.
3. susu formula khusus (specific formula): Spesific formula merupakan
formula khusus yang diberikan pada bayi yang mengalami gangguan
malabsorbsi, alergi, intoleransi ataupun penyakit metabolik.
susu hidrolisa protein ektensif
termasuk yang paling aman karena komposisinya tanpa laktosa, mengandung banyak lemak
MCT (monochain trigliserida) dan protein susu yang lebih mudah dicerna.
untuk penderita alergi susu sapi, alergi susu kedelai, malabsorspsi

susu hidrolisat protein parsial: untuk bayi yang beresiko alergi atau untuk mencegah
gejala alergi agar tidak semakin memberat
Susu formula khusus kedelai atau susu formula soya
mengandung bahan dasar kedelai sebagai pengganti susu sapi.

susu bebas atau rendah laktosa. Susu formula khusus ini digunakan untuk penderita
intoleransi laktosa

122. PNEUMONIA
Inflammation of the parenchyma of the lungs

http://emedicine.medscape.com/article/967822

Pneumonia

Tanda utama menurut WHO: fast


breathing & lower chest indrawing
Signs and symptoms :
Non respiratory: fever, headache,
fatigue, anorexia, lethargy,
vomiting and diarrhea,
abdominal pain
Respiratory: cough, chest pain,
tachypnea , grunting, nasal
flaring, subcostal retraction
(chest indrawing), cyanosis,
crackles and rales (ronchi)

Fast breathing (tachypnea)


Respiratory thresholds
Age
< 2 months
2 - 12 months
1 - 5 years

Breaths/minute
60
50
40

rawat jalan
Kotrimoksasol (4 mg TMP/kg BB/kali) 2
kali sehari selama 3 hari atau
Amoksisilin (25 mg/kg BB/kali) 2 kali
sehari selama 3 hari.

Rawat inap
ampisilin/amoksisilin (25-50
mg/kgBB/kali IV atau IM setiap 6 jam)
selama 5 hari. Selanjutnya dilanjutkan
dgn amoksisilin PO (15 mg/ kgBB/kali
tiga kali sehari) untuk 5 hari berikutnya.
Bila keadaan klinis memburuk sebelum
48 jam, atau terdapat keadaan yang
berat ampicillin ditambah kloramfenikol
(25 mg/kgBB/kali IM atau IV setiap 8
jam).
Alternatif: ampisilin-gentamisin,
seftriakson (80-100 mg/kgBB IM atau IV
sekali sehari).

123. Glomerulonefritis akut


Glomerulonefritis akut ditandai dengan edema, hematuria,
hipertensi dan penurunan fungsi ginjal (sindrom nefritik) di mana
terjadi inflamasi pada glomerulus
Acute poststreptococcal glomerulonephritis is the archetype of
acute GN
GNA pasca streptokokus terjadi setelah infeksi GABHS nefritogenik
deposit kompleks imun di glomerulus
Diagnosis
Anamnesis: Riwayat ISPA atau infeksi kulit 1-2 minggu sebelumnya,
hematuri nyata, kejang atau penurunan kesadaran, oliguri/anuri
PF: Edema di kedua kelopak mata dan tungkai, hipertensi, lesi bekas
infeksi, gejala hipervolemia seperti gagal jantung atau edema paru
Penunjang: Fungsi ginjal, komplemen C3, urinalisis, ASTO

Terapi: Antibiotik (penisilin, eritromisin), antihipertensi, diuretik


Geetha D. Poststreptococcal glomerulonephritis. http://emedicine.medscape.com/article/240337-overview

Nefrotik vs Nefritik

124. ISK: Pielonefritis


3 bentuk gejala UTI:
Pyelonefritis (upper UTI): nyeri abdomen, demam, malaise, mual,
muntah, kadang-kadang diare
Sistitis (lower UTI): disuria, urgency, frequency, nyeri suprapubik,
inkontinensia, urin berbau
Bakteriuria asimtomatik: kultur urin (+) tetapi tidak disertai gejala
Pemeriksaan Penunjang :
Urinalisis : Proteinuria, leukosituria (>5/LPB), Hematuria
(Eritrosit>5/LPB)
Biakan urin dan uji sensitivitas
Kreatinin dan Ureum
Pencitraan ginjal dan saluran kemih untuk mencari kelainan
anatomis maupun fungsional
Diagnosa pasti : Bakteriuria bermakna pada biakan urin (>10 5 koloni
kuman per ml urin segar pancar tengah (midstream urine) yang
diambil pagi hari)
Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. WHO. & PPM IDAI

Interpretasi Hasil Biakan Urin

125. Pediatric Airway Foreign Body

3% in the larynx
13% in the trachea
52% in the right main bronchus
6% in the right lower lobe
bronchus
fewer than 1% in the right
middle lobe bronchus
18% in the left main bronchus
5% in the left lower lobe
bronchus; 2% were bilateral.
In a child in a supine position,
material is more likely to enter
the right main bronchus.

LARYNGEAL FOREIGN BODY


Highest risk of death before
arrival to the hospital
Additional history/physical:

Complete airway obstruction


Hoarseness
Stridor
dyspnea

Imaging Studies
Neck X-Ray lateral and AP:
foreign body in larynx will be
in the anterior and sagittal
planes
Direct Laryngoscopy:
diagnostic and therapeutic

Airway Foreign Body


TRACHEAL FOREIGN BODY

Additional
history/physical:
Complete airway
obstruction
Audible slap
Palpable thud
Asthmatoid wheeze

BRONCHIAL FOREIGN BODY


80-90% of airway foreign
bodies
Right main stem most
common (controversial)
Additional history/physical:
Diagnostic triad (<50% of
cases):
unilateral wheezing
decreased breath sounds
cough

Chronic cough or asthma,


recurrent pneumonia, lung
abscess

http://emedicine.medscape.com/article/1001253-workup

126.
Algoritme
Penanggulan
gan dan
Pencitraan
Anak dengan
ISK

126. Tatalaksana UTI

Tujuan : Memberantas kuman penyebab, mencegah dan menangani komplikasi dini, mencari
kelainan yang mendasari
Umum (Suportif)
Masukan cairan yang cukup
Edukasi untuk tidak menahan berkemih
Menjaga kebersihan daerah perineum dan periurethra
Hindari konstipasi
Khusus
Sebelum ada hasil biakan urin dan uji kepekaan, antibiotik diberikan secara empirik
selama 7-10 hari
Obat rawat jalan : kotrimoksazol oral 24 mg/kgBB setiap 12 jam, alternatif ampisilin,
amoksisilin, kecuali jika :
Terdapat demam tinggi dan gangguan sistemik
Terdapat tanda pyelonefritis (nyeri pinggang/bengkak)
Pada bayi muda
Jika respon klinis kurang baik, atau kondisi anak memburuk berikan gentamisin (7.5
mg/kg IV sekali sehari) + ampisilin (50 mg/kg IV setiap 6 jam) atau sefalosporin gen-3
parenteral
Antibiotik profilaksis diberikan pada ISK simpleks berulang, pielonefritis akut, ISK pada
neonatus, atau ISK kompleks (disertai kelainan anatomis atau fungsional)
Pertimbangkan komplikasi pielonefritis atau sepsis

127. Skoring Tuberkulosis pada Anak


Kriteria

Keterangan di soal

Nilai

Kontak TB

Kontak TB BTA (+)

Demam > 2
minggu

1 bulan

Batuk > 3
minggu

1 bulan

Uji tuberkulin

Kelainan sendi + tulang

Foto rontgen

Pembesaran
KGB

Status gizi

BB turun tapi status


gizi tidak diketahui di
soal

JUMLAH

128. Pemberian Vaksin BCG


Vaksin BCG diberikan pada umur <3 bulan, sebaiknya pada
anak dengan uji Mantoux (tuberkulin) negatif.
Efek proteksi timbul 812 minggu setelah penyuntikan.
Vaksin BCG diberikan secara intradermal 0,10 ml untuk
anak, 0,05 ml untuk bayi baru lahir.
Diberikan secara intrakutan di daerah lengan kanan atas
pada insersio M.deltoideus
Vaksin BCG diberikan apabila uji tuberkulin negatif pada
umur lebih dari 3 bulan.
Pada bayi yang kontak erat dengan pasien TB dengan
bakteri tahan asam (BTA) +3 sebaiknya diberikan INH
profilaksis dulu, apabila pasien kontak sudah tenang bayi
dapat diberi BCG.

129. Enkopresis

involuntary discharge of feces (ie,


fecal incontinence)
divided into 2 subtypes: encopresis
with constipation (retentive
encopresis) and encopresis without
constipation (non retentive
encopresis)
Signs and symptoms
History of constipation or painful
defecation (~80-95% of children with
encopresis)
Inability to differentiate passing gas and
passing feces in underwear
Soiling episodes usually occurring
during the daytime (soiling during sleep
is uncommon)
With retentive encopresis, intermittent
passage of extremely large bowel
movements

Diagnostic criteria (DSM 5):


Repeated passage of feces into
inappropriate places, whether
involuntary or intentional
One such event occurs each month for
at least 3 months
Occurs in children at least age 4 years
(or of equivalent developmental level)
The behavior is not attributable to the
physiologic effects of a substance or
another medical condition except
through a mechanism involving
constipation

Chronic cons
tipation due
to irregular
and
incomplete
evacuation

progressive
rectal
distention
and
stretching of
both the
internal anal
sphincter
and the
external
anal
sphincter
(EAS)

the child
habituates
to chronic
rectal
distention

no longer
senses the
normal urge
to defecate

Soft or
liquid stool
eventually
leaks
around the
retained
fecal mass
> fecal
soiling.

Konstipasi

Enuresis
Eneuresis: mengompol
Diagnostic criteria:
Repeated voiding of urine into bed or clothes, whether
involuntary or intentional
The behavior either (a) occurs at least twice a week for at
least 3 consecutive months or (b) results in clinically
significant distress or social, functional, or academic
impairment
The behavior occurs in a child who is at least 5 years old
(or has reached the equivalent developmental level)
The behavior cannot be attributed to the physiologic
effects of a substance or other medical condition

130. Penyebab ikterik ec. Anemia Hemolisis


pada neonatus
Penyakit

Keterangan

Inkompatibilitas ABO

Adanya aglutinin ibu yang bersirkulasi di darah anak


terhadap aglutinogen ABO anak. Ibu dengan golongan darah
O, memproduksi antibodi IgG Anti-A/B terhadap gol. darah
anak (golongan darah A atau B). Biasanya terjadi pada anak
pertama. Pemeriksaan: Coombs Test

Inkompatibilitas Rh

Rh+ berarti mempunyai antigen D, sedangkan Rh berarti


tidak memiliki antigen D. Hemolisis terjadi karena adanya
antibodi ibu dgn Rh- yang bersirkulasi di darah anak
terhadap antigen Rh anak (berati anak Rh+). Jarang pada
anak pertama krn antibodi ibu terhadap antigen D anak yg
berhasil melewati plasenta belum banyak.
Ketika ibu Rh - hamil anak kedua dgn rhesus anak Rh +
antibodi yang terbentuk sudah cukup untuk menimbulkan
anemia hemolisis. Pemeriksaan: Coombs Test

Inkompatibilitas ABO
Terjadi pada ibu dengan
golongan darah O terhadap
janin dengan golongan
darah A, B, atau AB
Tidak terjadi pada ibu gol A
dan B karena antibodi yg
terbentuk adalah IgM yg tdk
melewati plasenta,
sedangkan 1% ibu gol darah
O yang memiliki titer
antibody IgG terhadap
antigen A dan B, bisa
melewati plasenta

Gejala yang timbul adalah


ikterik, anemia ringan, dan
peningkatan bilirubin
serum.
Lebih sering terjadi pada
bayi dengan gol darah A
dibanding B, tetapi
hemolisis pada gol darah
tipe B biasanya lebih parah.
Inkompatibilitas ABO jarang
sekali menimbulkan hidrops
fetalis dan biasanya tidak
separah inkompatibilitas Rh

131. Ikterus yang Berhubungan


dengan ASI
Breast Feeding Jaundice (BFJ)

Disebabkan oleh kurangnya asupan


ASI sehingga sirkulasi enterohepatik
meningkat (pada hari ke-2 atau 3 saat
ASI belum banyak)
Timbul pada hari ke-2 atau ke-3
Penyebab: asupan ASI kurang
cairan & kalori kurang penurunan
frekuensi gerakan usus ekskresi
bilirubin menurun

Breast Milk Jaundice (BMJ)

Berhubungan dengan pemberian ASI dari ibu


tertentu dan bergantung pada kemampuan
bayi mengkonjugasi bilirubin indirek

Kadar bilirubin meningkat pada


hari 4-7
Dapat berlangsung 3-12 minggu
tanpa penyabab ikterus lainnya
Penyebab: 3 hipotesis

Inhibisi glukuronil transferase oleh


hasil metabolisme progesteron
yang ada dalam ASI
Inhibisi glukuronil transferase oleh
asam lemak bebas
Peningkatan sirkulasi enterohepatik

Indikator

BFJ

BMJ

Awitan

Usia 2-5 hari

Usia 5-10 hari

Lama

10 hari

>30 hari

Volume ASI

asupan ASI kurang cairan &


kalori kurang penurunan
frekuensi gerakan usus
ekskresi bilirubin menurun

Tidak tergantung dari volume ASI

BAB

Tertunda atau jarang

Normal

Kadar Bilirubin

Tertinggi 15 mg/dl

Bisa mencapai >20 mg/dl

Pengobatan

Tidak ada, sangat jarang


fototerapi Teruskan ASI
disertai monitor dan evaluasi
pemberian ASI

Fototerapi, Hentikan ASI jika kadar


bilirubin > 16 mg/dl selama lebih
dari 24 jam (untuk diagnostik)
AAP merekomendasikan
pemberian ASI terus menerus dan
tidak menghentikan
Gartner & Auerbach
merekomendasikan penghentian
ASI pada sebagian kasus

For healthy term infants with breast milk or breastfeeding


jaundice and with bilirubin levels of 12 mg/dL to 17 mg/dL, the
following options are acceptable: Increase breastfeeding to 8-12
times per day and recheck the serum bilirubin level in 12-24
hours.
Temporary interruption of breastfeeding is rarely needed and is
not recommended unless serum bilirubin levels reach 20 mg/dL.
For infants with serum bilirubin levels from 17-25 mg/dL, add
phototherapy to any of the previously stated treatment options.

The most rapid way to reduce the bilirubin level is to interrupt


breastfeeding for 24 hours, feed with formula, and use
phototherapy; however, in most infants, interrupting
breastfeeding is not necessary or advisable

Breast Milk Jaundice Treatment & Management. Medscape.com

132. Atresia Bilier


Merupakan penyebab kolestasis tersering dan serius pada bayi yang
terjadi pada 1 per 10.000 kelahiran
Ditandai dengan adanya obstruksi total aliran empedu karena destruksi
atau hilangnya sebagian atau seluruh duktus biliaris. Merupakan proses
yang bertahap dengan inflamasi progresif dan obliterasi fibrotik saluran
bilier
Etiologi masih belum diketahui
Tipe embrional 20% dari seluruh kasus atresia bilier,
sering muncul bersama anomali kongenital lain seperti polisplenia, vena porta
preduodenum, situs inversus dan juga malrotasi usus.
Ikterus dan feses akolik sudah timbul pada 3 minggu pertama kehidupan

tipe perinatal yang dijumpai pada 80% dari seluruh kasus atresia bilier,
ikterus dan feses akolik baru muncul pada minggu ke-2 sampai minggu
ke-4 kehidupan.
Diagnosis dan Tatalaksana Penyakit Anak dengan Gejala Kuning. Dept IKA RSCM. 2007

Atresia Bilier
Gambaran klinis: biasanya terjadi pada bayi perempuan,
lahir normal, bertumbuh dengan baik pada awalnya, bayi
tidak tampak sakit kecuali sedikit ikterik. Tinja
dempul/akolil terus menerus. Ikterik umumnya terjadi
pada usia 3-6 minggu
Laboratorium : Peningkatan SGOT/SGPT ringan-sedang.
Peningkatan GGT (gamma glutamyl transpeptidase) dan
fosfatase alkali progresif.
Diagnostik: USG dan Biopsi Hati
Terapi: Prosedur Kasai (Portoenterostomi)
Komplikasi: Progressive liver disease, portal hypertension,
sepsis
Diagnosis dan Tatalaksana Penyakit Anak dengan Gejala Kuning. Dept IKA RSCM. 2007

133. Dehidrasi pada anak dgn diare akut

134. Hipoglikemia pada Neonatus

Hipoglikemia adalah kondisi bayi


dengan kadar glukosa darah <45
mg/dl (2.6 mmol/L), baik bergejala
atau tidak
Hipoglikemia berat (<25 mg/dl) dapat
menyebabkan palsi serebral,
retardasi mental, dan lain-lain
Etiologi

Peningkatan pemakaian glukosa


(hiperinsulin): Neonatus dari ibu DM,
Besar masa kehamilan, eritroblastosis
fetalis
Penurunan produksi/simpanan glukosa:
Prematur, IUGR, asupan tidak adekuat
Peningkatan pemakaian glukosa: stres
perinatal (sepsis, syok, asfiksia,
hipotermia), defek metabolisme
karbohidrat, defisiensi endokrin, dsb

Pedoman Pelayanan Medis IDAI 2010

Insulin dalam aliran darah fetus


tidak bergantung dari insulin ibu,
tetapi dihasilkan sendiri oleh
pankreas bayi
Pada Ibu DM terjadi
hiperglikemia dalam peredaran
darah uteroplasental bayi
mengatasinya melalui
hiperplasia sel B langerhans yang
menghasilkan insulin insulin
tinggi
Begitu lahir, aliran glukosa yang
menyebabkan hiperglikemia
tidak ada, sedangkan insulin bayi
tetap tinggi hipoglikemia

Hipoglikemia
Diagnosis
Anamnesis: tremor, iritabilitas, kejang/koma, letargi/apatis, sulit menyusui,
apneu, sianosis, menangis lemah/melengking
PF: BBL >4000 gram, lemas/letargi/kejang beberapa saat sesudah lahir
Penunjang: Pemeriksaan glukosa darah baik strip maupun darah vena, reduksi
urin, elektrolit darah

Penatalaksanaan
Bolus 200 mg/kg dengan dextrosa 10% IV selama 5 menit
Hitung Glucose Infusion Rate (GIR), 6-8 mg/kgBB/menit untuk mencapai GD
maksimal. Dapat dinaikkan sampai maksimal 12mg/kgBB/menit
Cek GD per 6 jam
Bila hasil GD 36-47 mg/dl 2 kali berturut-turut + Infus dextrosa 10%
Bila GD >47 mg/dl setelah 24 jam terapi, infus diturunkan bertahap
2mg/kgBB/menit setiap jam
Tingkatkan asupan oral

SOP Divisi Perinatologi Departemen Ilmu


Kesehatan Anak FKUI RSCM

135. Osteomielitis hematogen akut

Osteomyelitis is strictly defined as any form of


inflammation involving bone and/or bone
marrow, but it is almost exclusively the result of
infection.
unlike the infection in adults, osteomyelitis in
children is generally of hematogenous origin
and is most often acute
Acute hematogenous osteomyelitis typically
arises in the metaphysis of long tubular bones,
with approximately two-thirds of all cases
involving the femur, tibia or humerus
Bacterial pathogens:

S. aureus is the pre-eminent pathogen and is


responsible for 7090% of AHO infections in
children
Other etiological agents, include Streptococcus
pyogenes, Streptococcus pneumoniae, Group B
streptococci (in infants), coagulase-negative
staphylococci (especially in implant-associated
infections), Kingella kingae, enteric Gram-negative
bacilli (especially Salmonella spp.

Sign + symptoms

Most children and adolescents with AHO present


with a history of bone pain for several days.
The hallmark of AHO pain is its constant nature,
with the level of pain increasing gradually.
Pain generally leads to restricted use of the
involved limb.
As the sites most often involved are the long
bones of the lower limbs, children frequently
present with a limp.
In all cases, localized bone pain and fever should
raise the clinical suspicion of AHO.
The classic signs of inflammation (redness,
warmth and swelling) do not appear unless the
infection has progressed through the
metaphyseal cortex into the subperiosteal space.

Laboratory

Elevated erythrocyte sedimentation rate (ESR),


elevated C-reactive protein (CRP) and leukocytosis

136. Status Gizi


Berat Badan/Umur
Parameter pertumbuhan yang paling sederhana,
mudah diukur dan diulang, dan merupakan indeks
untuk status nutrisi sesaat

Tinggi Badan/Umur
Memberikan informasi bermakna (menggambarkan
status nutrisi dan pertumbuhan fisik) apabila dikaitkan
dengan hasil pengukuran BB

Berat Badan/Tinggi Badan


Untuk penilaian status nutrisi, mencerminkan proporsi
tubuh serta dapat membedakan antara wasting dan
stunting atau perawakan pendek

Pemantauan Pertumbuhan
Interpretasi Pengukuran TB/U

Interpretasi Pengukuran BB/U

Z Score

Z Score

>2 SD : Tergolong sangat tinggi.


Rujuk anak jika dicurigai adanya
gangguan endokrin (tinggi tidak
sesuai perkiraan tinggi kedua orang
tua, atau cenderung terus
meningkat)
2 sd (-2) SD : Normal
<-2 SD : Stunted
<-3 SD : Severly stunted

CDC-NCHS
90-110%
70-89%
<70%

: Baik/normal
: Tinggi kurang
: Tinggi sangat kurang

> 2 SD : Memiliki masalah


pertumbuhan, lebih baik dinilai
dari pengukuran berat
terhadap tinggi atau BMI/U
2 sd (-2) SD : Normal
<-2 SD : Underweight
<-3 SD : Severly underweight

CDC-NCHS
>120%
: Gizi lebih
80-120% : Gizi baik
60-80% : Gizi kurang, buruk
dengan edema
<60%
: Gizi buruk
Pedoman Pelayanan Medis Dept. IKA RSCM dan IDAI

Status Nutrisi BB/TB


Cara penilaian status nutrisi:
Z-score menggunakan kurva WHO weight-for-height

>3 obesitas
2-3 overweight
1-2 possible overweight
(-2) (-1) -- normal
(-2) (-3) moderate wasted
<-3 severe wasted

BB/IBW (Ideal Body Weight) menggunakan kurva CDC

120%
110 -120%
90-110%
80-90%
70-80%
70%

obesity
overweight

normal

mild malnutrition

moderate malnutrition

severe malnutrition.

137. KLASIFIKASI DBD


Derajat (WHO 1997):
Derajat I : Demam dengan test rumple leed
positif.
Derajat II : Derajat I disertai dengan perdarahan
spontan dikulit atau perdarahan lain.
Derajat III : Ditemukan kegagalan sirkulasi, yaitu
nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menurun/
hipotensi disertai dengan kulit dingin lembab dan
pasien menjadi gelisah.
Derajat IV : Syock berat dengan nadi yang tidak
teraba dan tekanan darah tidak dapat diukur.

WHO. SEARO. Guidelines for treatment of dengue fever/dengue hemorrhagic fever in


small hospitals. 1999.

Pemeriksaan Penunjang DBD

138. Sefalohematoma
Definisi: perdarahan subperiosteal akibat trauma
persalinan; biasanya mengenai tulang parietal dan oksipital
Etiologi: partus lama/obstruksi, persalinan dengan ekstraksi
vakum
Tanda dan gejala: massa yang teraba agak keras dan
berfluktuasi; pada palpasi ditemukan kesan suatu kawah
dangkal didalam tulang di bawah massa; pembengkakan
tidak meluas melewati batas sutura yang terlibat
Tatalaksana: dapat sembuh spontan setelah beberapa
minggu.
Catatan: Jangan mengaspirasi sefalohematoma meskipun
teraba berfluktuasi

Caput succedaneum
Serosanguineous, subcutaneous, extraperiosteal fluid collection with
poorly defined margins
Caused by the pressure of the presenting part against the dilating cervix
Extends across the midline and over suture lines and is associated with
head molding
Does not usually cause complications and usually resolves over the first
few days. Management consists of observation only

Subgaleal hematoma
Bleeding in the potential space between the skull periosteum and the
scalp galea aponeurosis. Result from a vacuum applied to the head at
delivery
Fluctuant, boggy mass developing over the scalp (especially over the
occiput). The swelling may obscure the fontanelle and cross suture lines
Patients with subgaleal hematoma may present with hemorrhagic shock.
Transfusion and phototherapy may be necessary

Nirupama Laroia. http://emedicine.medscape.com/article/980112-overview#aw2aab6b5

http://cdn.nursingcrib.com/wp-content/uploads/caput-and-cephal.jpg?9d7bd4

ILMU OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

139,150,174. Hipertensi pada Kehamilan


TABLE 49-1. Classification ofHypertensive Disorders Complicating Pregnancy
Gestational hypertension
BP 140/90 mmHg for the first time during pregnancy
No proteinuria
BP return to normal < 12 weeks postpartum
Final diagnosis made only on postpartum
May have other signs of preeclampsia, for example epigatric discomfort or thrombocytopenia
Preeclampsia
Minimum criteria
BP 140/90 mmHg after 20 weeks gestation
Proteinuria 300 mg/24 h or 1+ dipstick
Increased certainty of preeclampsia
BP 160/110 mmHg
Proteinuria 2 g/24 h or 2+
Serum creatinine >1,2 mg/dL unless known to be previously elevated
Platelets < 100.000/mm3
Microangiopathic hemolysis (increased LDH)
Elevated AST or ALT
Persistent headache or other cerebral or visual disturbance
Persistent epigastric pain

Eclampsia
Seizures that cannot be attributed to other causes in a woman with preeclampsia.
Superimposed preeclampsia (on chronic hypertension)
New onset proteinuria 300 mg/24 h in hypertensive women but no proteinuria before
20 weeks of gestation
A sudden increase in proteinuria or BP or platelet count <100.000/mm3 in women with
hypertension and proteinuria before 20 weeks of gestation
Chronic hypertension
BP 140/90 mmHg before pregnancy or diagnosed before 20 weeks of gestation
or
Hypertension first dignosed after 20 weeks gestation and persistent after 12 weeks
postpartum

140.Kehamilan Ektopik

Kehamilan Ektopik
Kehamilan ektopik yang mengalami ruptur disebut KET.
Nyeri goyang serviks ditemukan pada wanita dengan
kehamilan tuba yang ruptur.
Manifestasi klinis lain adalah adanya perdarahan per
vaginam yang dapatmenimbulkan penonjolan cavum
Douglas,
kesadaran
menurun,
pucat,
hipotensi,
hipovolemia, nyeri abdomen, dan serviks tertutup.
Penegakkan diagnosis dibantu dengan pemeriksaan USG.
Faktor predisposisi adalah adanya riwayat kehamilan
ektopik, operasi di daerah tuba, penggunaan AKDR,
merokok, infertilitis, riwaya abortus, dan riwayat persalinan
sectio caesarea

141. Perkiraan Persalinan dengan


Rumus Naegel

142.Metritis
Metritis adalah infeksi uterus pasca persalinan.
Keterlambatan terapi metritis dapat menyebabkan
abses, peritonitis, syok, trombosis vena, emboli paru,
infeksi panggul kronik, sumbatan tuba, dan infertilitas.
Faktor predisposisi adalah kurangnya higiene pasien,
nutrisi, dan tindakan aseptik saat melakukan tindakan.
Manifestasi klinis yang didapatkan adalah demam di
atas 380C dapat disertai menggigil, nyeri perut bawah,
lokia berbau dan purulen, nyeri tekan uterus,
subinvolusi uterus, dan dapat disertai perdarahan per
vaginam hingga syok

Pemeriksaan Penunjang Metritis

Pemeriksaan darah perifer lengkap


Golongan darah AB0 dan jenis rhesus
Glukosa darah sewaktu
Analisis urin
Kultur (cairan vagina, urin, dan darah)
USG (untuk menyingkirkan kemungkinan sisa
plasenta)

Tatalaksana Metritis
Berikan antibiotika sampai 48 jam bebas demam dengan
Ampisilin 2 gram IV tiap 6 jam ditambah gentamisin 5
mg/kgB IV tiap 24 jam dan metronidazol 500 mg IV tiap 8
jam. Bila demam tidak menurun dalam 72 jam, lakukan kaji
ulang tatalaksana dan diagnosis.
Cegah dehidrasi
Pertimbangkan imunisasi TT bila dicurigai terpapar tetanus
Periksa apakah ada kemungkinan sisa plasenta
Jika tidak ada kemajuan dan ada peritonitis lakukan
laparotomi dan drainase abdomen bila terdapat pus
Sumber: Buku pelayanan kesehatan ibu di fasilitas
kesehatan dasar dan rujukan.

143. Solusio
Plasenta
Sumber
http://emedicine.medscape.c
om/article/252810-overview

Solusio Plasenta
Solusio plasenta adalah suatu keadaan di mana plasenta
terlepas dari uterus sebelum terjadinya persalinan
Merupakan salah satu penyebab perdarahan antepartum.
Gejala klinis yang sering didapatkan adalah perdarahan
antepartum, kontraksi uterus, dan gawat janin.
Pemeriksaan fisis didapatkan adanya perdarahan
antepartum, kontraksi uterus, nyeri perut, tanda syok yang
tidak sesuai dengan jumlah darah yang keluar akibat
adanya perdarahan tersembunyi, kenaikan tinggi fundus
uteri oleh karena adanya perdarahan intrauterin, dan tanda
gawat janin.
Tatalaksana: resusitasi cairan, segera terminasi kehamilan

144. Fritsch or Asherman Syndrome


Merupakan suatu kondisi yang memiliki ciri khas
adanya adesi atau fibrosis endometrium yang sering
disebabkan oleh proses dilatasi dan kuretase.
Istilah lain yang sering digunakan: adesi intrauterin,
atresia uterine, atrofi uterine traumatika, sklerosis
endometrium, dan sinekia intrauterin
Diagnosis: riwayat dilatasi dan kuretase ditunjang
dengan adanya jaringan parut pada uterus oleh
histerosonografi atau histerosalfingografi.
Terapi: Bedah diikuti dengan hormonal untuk
mencegah timbulnya jaringan parut.

145. Inversio Uteri


Inversio uteri merupakan salah satu penyebab
perdarahan pasca salin
Inversio uteri harus dipikirkan bila:
Nyeri perut bawah
Fundus uteri tidak didapatkan pada palpasi
abdomen
Terdapat massa pada vagina

Tatalaksana: Reposisi uterus, Laparotomi,


Histerektomi

146. Persalinan Normal


Kala 1 pematangan dan pembukaan serviks sampai lengkap (kala
pembukaan)
Fase laten
Dimulai dari awal kontraksi hingga pembukaan mendekati 4 cm
Kontraksi mulai teratur tetapi lamanya masih diantara 20-30 detik
Tidak terlalu mulas
Fase aktif
Kontraksi diatas 3x dalam 10 menit
Lama kontraksi 40 detik atau lebih dan mulas lebih hebat
Pembukaan dari 4 cm sampai lengkap (10 cm)
Terdapat penurunan bagian terbawah janin

Kala 2 lahirnya bayi (kala pengeluaran)


Kala 3 lahirnya plasenta (kala uri)
Kala 4 masa 1 jam setelah partus, terutama untuk observasi
Sumber: Buku pelayanan kesehatan ibu di fasilitas kesehatan dasar dan
rujukan

Kala II Persalinan
Dimulai dari pembukaan lengkap hingga pada
saat bayi lahir.
1 jam pada primigravida, 2 jam pada multigravida
Tanda dan Gejala Kala II:
Ibu memiliki keinginan meneran
Ibu merasa tekanan semakin menguat pada rektum
dan atau vagina
Perineum menonjol dan menipis
Vulva-vagina dan Sfingter ani membuka

147. Infeksi Saluran Kemih pada


Kehamilan
Merupakan kasus infeksi bakterial tersering pada
kehamilan.
Perubahan
fisiologis
kehamilan
menyebabkan
meningkatnya risiko stasis urin dan refluks vesikoureteral.
Dengan ukuran uretra yang pendek dan perut membesar
memberikan tantangan tersendiri pada higiene dan
sanitasi.
Prinsip tatalaksana ISK pada kehamilan: pemberian
antibiotik, rehidrasi, rawat inap bila terdapat komplikasi.
Tatalaksana ISK: higiene sanitasi pada saat sehabis buang
air kecil, antibiotik (ampisilin 4x500mg, nitrofurantoin
2x100 mg, sulfisoxazole 4x1 gram, selama 10-14 hari)

148. Abortus
DIAGNOSIS

PERDARAHAN

SERVIKS

BESAR UTERUS

GEJALA LAIN

Abortus
imminens

Sedikit-sedang

Tertutup lunak

Sesuai
kehamilan

Abortus
insipiens

Sedang-banyak

Terbuka lunak

Sesuai atau lebih Nyeri


perut
kecil
hebat
Uterus lunak

Abortus
inkomplit

Sedikit-banyak

Terbuka lunak

Lebih kecil dari Nyeri perut kuat


usia kehamilan
Jaringan +
Uterus lunak

Abortus komplit

Sedikit-tidak ada Tertutup


atau Lebih kecil dari Sedikit
atau
terbuka lunak
usia kehamilan
tanpa
nyeri
perut
Jaringan keluar
Uterus kenyal

Abortus septik

Perdarahan
berbau

Lunak

Membesar, nyeri Demam


tekan
leukositosis

Missed abortion

Tidak ada

Tertutup

Lebih kecil dari Tidak


usia kehamilan
gejala
perut

usia Tes kehamilan +


Nyeri perut
Uterus lunak

terdapat
nyeri

149. Ekstraksi Vakum


Indikasi: Kala II memanjang, ibu tidak memiliki tenaga
untuk meneran, dan terdapat kontraindikasi medis bagi ibu
untuk meneran.
Kontraindikasi: didapatkan kelainan anatomi pada bayi,
cephalopelvic disproportion, malpresentasi fetal, selapit
amnion belum pecah.
Syarat: Letak bayi harus berada di hodge III-IV, pembukaan
lengkap, janin cukup bulan, presentasi kepala
Komplikasi: perdarahan intrakranial, edema skalp,
sefalhematoma, aberasi, dan laserasi kulit kepala pada
janin, laserasi perineum, laserasi anal, maupun laserasi
jalan lahir pada ibu.

151. Menopause
Merupakan suatu periode dalam kehidupan perempuan
setelah menstruasi berhenti lebih dari 2 tahun.
Merupakan suatu proses fisiologis, biasanya terjadi setelah
umur lebih dari 45 tahun
Patofisiologi: Ovarium berhenti memroduksi estrogen dan
progesteron.
Tanda dan Gejala dapat terjadi sebelum terjadi menopause
itu sendiri seperti perubahan pola haid, hot flashes,
kesulitan tidur, vagina menjadi kering sehingga sering nyeri
saat bersenggama, perubahan mood, kesulitan konsentrasi,
dan kerontokan rambut.
Tatalaksana: Edukasi

152.Trichomonas Vaginalis
Merupakan salah satu etiologi dari
keputihan pada perempuan
Penularan melalui hubungan seksual.
Gejala: vaginitis, keputihan yang berbuih,
berwarna hijau, berbau khas, uretritis
pada pria.
Tanda khas: strawberry cervix atau
colpitis macularis oleh karena dilatasi
kapiler oleh karena inflamasi
Tatalaksana: Metronidazole 2x500 mg
selama 7 hari

153. Perdarahan Pasca Persalinan


Merupakan perdarahan pasca persalinan yang
terjadi dalam 24 jam pertama setelah melahirkan
(primer). Perdarahan pasca persalinan sekunder
adalah perdarahan yang terjadi setelah 24 jam
hingga 12 minggu pertama setelah melahirkan.
Faktor predisposisi: Kelainan plasenta, trauma
persalinan, persalinan lama, penggunaan obat
anestesi, volume darah ibu minimal, gangguan
koagulasi, dan overdistensi uterus.

Tatalaksana Umum
Nilai tanda vital pasien, bila terdapat syok segera
lakukan tatalaksana syok.
Berikan oksigen
Pasang infus intravena dengan kanula besar dan
berikan kristaloid.
Jika fasilitas tersedia, lakukan pemeriksaan darah
lengkap, golongan darah, dan profil hemostasis.
Evaluasi tanda vital
Lakukan pemeriksaan abdomen, jalan lahir,
kelengkapan plasenta untuk mencari penyebab
perdarahan.

154. Kondiloma Akuminata


Ialah vegetasi oleh human papilloma virus, bertangkai, dan
permukaannya berjonjot
Merupakan penyakit akibat hubungan seksual. Serotipe 16
dan 18 memiliki asosiasi terhadap keganasan cervix
Tempat predileksi
Pria: di perineum, sekitar anus, glans penis, muara uretra
eksterna, korpus, pangkal penis.
Wanita: di vulva,introitus vagina

Vegetasi yang bertangkai dan berwarna kemerahan (lesi


baru) dan kehitaman bila telah lama. Permukaannya
berjonjot
Manifestasi klinis: adanya benjolan yang tidak nyeri,
perdarahan pada saat berhubungan badan.

Tatalaksana Kondiloma Akuminata


Kemoterapi :
Podofilin 25%
Asam triklorasetat
Podofilox

Elektrokauterisasi (bedah listrik)


Bedah beku
Bedah skalpel
Laser karbondioksida
Interferon
Imunoterapi

155. Kontrasepsi Pil KB


Pil KB sebaiknya dikonsumsi setiap hari pada saat yang sama
Pil pertama dimulai pada hari pertama sampai hari ke tujuh siklus
haid (dianjurkan diminum pada hari pertama).
Aturan Pil lupa. Bila lupa minum 1 pil, setelah ingat segera minum 2
pil pada hari yang sama. Bila lupa minum 2 pil sebaiknya minum 2
pil sampai 2 hari kemudian gunakan metode kontrasepsi lain atau
tidak melakukan hubungan seksual sampai pil habis.
Untuk pasien post partum yang tidak menyusui sebaiknya diminum
3 minggu setelah post partum atau menunggu haid.
Untuk pasien post partum yang menyusui sama dengan aturan
umum maupun aturan lupa.
Sumber:
Buku
panduan
praktis
pelayanan
kontrasepsi;
mayoclinic.com/health/best-birth-control-pill/MY00996/rss=1

156.Persalinan Normal
Kala 1 pematangan dan pembukaan serviks sampai lengkap (kala
pembukaan)
Fase laten
Dimulai dari awal kontraksi hingga pembukaan mendekati 4 cm
Kontraksi mulai teratur tetapi lamanya masih diantara 20-30 detik
Tidak terlalu mulas
Fase aktif
Kontraksi diatas 3x dalam 10 menit
Lama kontraksi 40 detik atau lebih dan mulas lebih hebat
Pembukaan dari 4 cm sampai lengkap (10 cm)
Terdapat penurunan bagian terbawah janin

Kala 2 lahirnya bayi (kala pengeluaran)


Kala 3 lahirnya plasenta (kala uri)
Kala 4 masa 1 jam setelah partus, terutama untuk observasi
Sumber: Buku pelayanan kesehatan ibu di fasilitas kesehatan dasar dan
rujukan

157.Anemia pada Kehamilan


Anemia adalah suatu kondisi di mana terdapat
kekurangan sel darah merah atau hemoglobin.
Diagnosis ditegakkan dengan kadar Hb < 11
gram/dL (trimester I dan III) atau < 10,5 gram/dL
(pada trimester II)
Faktor predisposisi

Diet rendah zat besi, B12, dan asam folat


Kelainan gastrointestinal
Penyakit kronis
Adanya riwayat keluarga

Tatalaksana Anemia
Tatalaksana umum anemia
Lakukan pemeriksaan apusan darah tepi untuk melihat morfologi sel
darah merah.
Bila fasilitas tidak tersedia berikan tablet 60 mg besi elemental dan
250 g asam folat, 3 kali sehari evaluasi 90 hari.

Tatalaksana khusus anemia


Bila terdapat pemeriksaan apusan darah tepi, lakukan pengobatan
sesuai hasil apusan darah tepi.
Anemia defisiensi besi (hipokromik mikrositer): 180 mg besi elemental
per hari
Anemia defisiensi asam folat dan vitamin B12: asam folat 1 x 2 mg,
dan vitamin B12 1 x 250-1000g
Transfusi dilakukan bila Hb < 7 g/dL atau hematokrit < 20% atau Hb > 7
g/dL dengan gejala klinis pusing, pandangan berkunang-kunang atau
takikardia

Sumber: Buku pelayanan kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan dasar


dan Rujukan

158.Bakterial Vaginosis
Bakterial vaginosis atau nonspesifik vaginitis adalah suatu
istilah yang menjelaskan adanya infeksi bakteri sebagai
penyebab inflamasi pada vagina.
Bakteri yang sering didapatkan adalah Gardnerella
vaginalis, Mobiluncus, Bacteroides, Peptostreptococcus,
Mycoplasma hominis, Ureaplasma urealyticum ,
Eubacterium, Fusobacterium, Veilonella, Streptococcus
viridans, dan Atopobium vaginae
Gejala klinis yang sering dijumpai adalah keputihan, vagina
berbau, iritasi vulva, disuria, dan dispareuni
Faktor risiko yang meningkatkan BV adalah penggunaan
antibiotik, penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim,
promiskuitas, douching, penurunan estrogen.

Pemeriksaan Bakterial Vaginosis


Didapatkan keputihan yang homogen
Labia, introitas, serviks dapat normal maupun didapatkan tanda
servisitis.
Keputihan biasanya terdapat banyak di fornix posterior
Dapat ditemukan gelembung pada keputihan
Pemeriksaan mikroskopis cairan keputihan harus memenuhi 3 dari
4 kriteria Amsel untuk menegakkan diagnosis bakterial vaginosis

Didapatkan clue cell.


pH > 4,5
Keputihan bersifat thin, gray, and homogenous
Whiff test + (pemeriksaan KOH 10% didapatkan fishy odor sebagai
akibat dari pelepasan amina yang merupakan produk metabolisme
bakteri)

159.Abortus
DIAGNOSIS

PERDARAHAN

SERVIKS

BESAR UTERUS

GEJALA LAIN

Abortus
imminens

Sedikit-sedang

Tertutup lunak

Sesuai usia
kehamilan

Tes kehamilan +
Nyeri perut
Uterus lunak

Abortus insipiens Sedang-banyak

Terbuka lunak

Sesuai atau lebih Nyeri perut


kecil
hebat
Uterus lunak

Abortus
inkomplit

Sedikit-banyak

Terbuka lunak

Lebih kecil dari


usia kehamilan

Nyeri perut kuat


Jaringan +
Uterus lunak

Abortus komplit

Sedikit-tidak ada Tertutup


atau Lebih kecil dari
terbuka lunak
usia kehamilan

Sedikit atau
tanpa nyeri
perut
Jaringan keluar
Uterus kenyal

Abortus septik

Perdarahan
berbau

Lunak

Membesar, nyeri Demam


tekan
leukositosis

Missed abortion

Tidak ada

Tertutup

Lebih kecil dari


usia kehamilan

Tidak terdapat
gejala nyeri
perut
Tidak disertai
ekspulsi jaringan

160.Kehamilan Ektopik
Kehamilan ektopik yang mengalami ruptur disebut KET.
Nyeri goyang serviks ditemukan pada wanita dengan
kehamilan tuba yang ruptur.
Manifestasi klinis lain adalah adanya perdarahan per
vaginam yang dapatmenimbulkan penonjolan cavum
Douglas,
kesadaran
menurun,
pucat,
hipotensi,
hipovolemia, nyeri abdomen, dan serviks tertutup.
Penegakkan diagnosis dibantu dengan pemeriksaan USG.
Faktor predisposisi adalah adanya riwayat kehamilan
ektopik, operasi di daerah tuba, penggunaan AKDR,
merokok, infertilitis, riwaya abortus, dan riwayat persalinan
sectio caesarea

161.Laserasi Perineum
First-degree tear: laceration is limited to the fourchette and
superficial perineal skin or vaginal mucosa
Second-degree tear: laceration extends beyond fourchette, perineal
skin and vaginal mucosa to perineal muscles and fascia, but not the
anal sphincter
Third-degree tear: fourchette, perineal skin, vaginal mucosa,
muscles, and anal sphincter are torn; third-degree tears may be
further subdivided into three subcategories:
3a: partial tear of the external anal sphincter involving less than 50%
thickness
3b: greater than 50% tear of the external anal sphincter
3c: internal sphincter is torn

Fourth-degree tear: fourchette, perineal skin, vaginal mucosa,


muscles, anal sphincter, and rectal mucosa are torn

162.Plasenta Previa

Tatalaksana Plasenta Previa

163.Manajemen Kala III


Setelah bayi dilahirkan, berikan suntikan oksitosin 10 unit
IM di bagian paha atas bagian distal lateral agar kontraksi
uterus baik
Jika tidak ada oksitosin, dapat dilakukan:
Merangsang puting payudara ibu atau minta ibu untuk
menyusui agar menghasilkan oksitosin alamiah.
Terapi farmakologi yang dapat diberikan adalah injeksi
ergometrin 0,2 mg IM namun tidak boleh dilakukan pada pasien
dengan preeklampsia, eklampsia, dan hipertensi karena dapat
memicu penyakit serebrovaskular.

Lakukan peregangan tali pusat terkendali


Sumber: Buku pelayanan kesehatan ibu di fasilitas
kesehatan dasar dan rujukan

164. Tatalaksana Preeklampsiaeklampsia


Tatalaksana umum
Semua ibu dengan preeklampsia maupun eklampsia
harus dirawat masuk rumah sakit
Pencegahan dan tatalaksana kejang
Bila terjadi kejang perhatikan prinsip ABCD
Magnesium sulfat diberikan sebagai tatalaksana kejang pada
eklampsia dan pencegahan kejang pada preeklampsia berat. Dosis
pemberian magnesium sulfat intravena adalah 4 gram selama 20
menit untuk dosis awal dilanjutkan 6 gram selama 6 jam untuk
dosis rumatan. Magnesium sulfat dapat diberikan IM dengan dosis
5 gram pada bokong kiri dan 5 gram pada bokong kanan.
Syarat pemberian magnesium sulfat adalah terdapat refleks
patella, tersedia kalsium glukonas, dan jumlah urin minimal 0,5
ml/kgBB/jam

Antihipertensi
Ibu dengan hipertensi berat perlu mendapat terapi
antihipertensi
Ibu dengan terapi antihipertensi di masa antenatal dianjurkan
untuk melanjutkan terapi antihipertensi hingga persalinan.
Terapi antihipertensi dianjurkan untuk hipertensi pasca
persalinan berat
Antihipertensi yang diberikan nifedipin, nikardipin, dan
metildopa. Jangan berikan ARB inhibitor, ACE inhibitor dan
klortiazid pada ibu hamil.

Pemeriksaan penunjang tambahan

Hitung darah perifer lengkap


Golongan darah AB0, Rh, dan uji pencocokan silang.
Fungsi hati (LDH, SGOT, SGPT)
Fungsi ginjal (ureum, kreatinin serum)
Fungsi koagulasi (PT, APTT, fibrinogen)
USG (terutama jika ada indikasi gawat janin atau pertumbuhan
janin terhambat)

Tatalaksana Khusus
Edema paru
Edema paru dapat diketahui dari adanya sesak napas,
hipertensi, batuk berbusa, ronki basah halus pada basal
paru pada ibu dengan preeklampsia berat.
Tatalaksana

Posisikan ibu dalam posisi tegak


Oksigen
Furosemide 40 mg IV
Bila produksi urin masih rendah (<30 ml/jam dalam 4 jam)
pemberian furosemid dapat diulang.
Ukur Keseimbangan cairan. Batasi cairan yang masuk

Sindrom HELLP (hemolysis, elevated liver enzymes, low


platelets) dilakukan dengan terminasi kehamilan
Sumber: Buku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas
Kesehatan Dasar dan Rujukan, 2013

FORENSIK

165. EUTHANASIA
Euthanasia secara etimologi berasal dari bahasa yunani yaitu ; ue yang berarti
normal atau baik, dan thanatos yang artinya mati
Dalam kamus kedokteran dinyatakan bahwa euthanasia mengakhiri dengan sengaja
kehidupan seseorang dengan cara kematian atau menghilangkan nyawa secara tenang
dan mudah untuk menamatkan penderitaan

1.

Euthanasia pasif,
yakni mempercepat kematian dengan cara menolak memberikan
pertolongan medis, atau menghentikan proses perawatan medis
yang sedang berlangsung

2. Euthanasia aktif
mempercepat kematian dengan mengambil tindakan yang baik
secara langsung maupun tidak langsung mengakibatkan kematian,
misalnya dengan memberikan tablet sianida atau menyuntikan zatzat yang mematikan kepada tubuh pasien

166.Badan Kelengkapan IDI

167&171. Jenis Autopsi

Otopsi Anatomi, dilakukan untuk keperluan pendidikan mahasiswa fakultas


kedokteran. Bahan yang dipakai adalah mayat yang dikirim ke rumah sakit yang
setelah disimpan 2 x 24 jam di laboratorium ilmu kedokteran kehakiman tidak ada
ahli waris yang mengakuinya. Setelah diawetkan di laboratorium anatomi, mayat
disimpan sekurang-kurangnya satu tahun sebelum digunakan untuk praktikum
anatomi.
Otopsi Klinik, dilakukan terhadap mayat seseorang yang diduga terjadi akibat
suatu penyakit. Tujuannya untuk menentukan penyebab kematian yang pasti,
menganalisa kesesuaian antara diagnosis klinis dan diagnosis postmortem,
pathogenesis penyakit, dan sebagainya. Otopsi klinis dilakukan dengan
persetujuan tertulis ahli waris, ada kalanya ahli waris sendiri yang memintanya.
Otopsi Forensik/Medikolegal, dilakukan terhadap mayat seseorang yang diduga
meninggal akibat suatu sebab yang tidak wajar seperti pada kasus kecelakaan,
pembunuhan, maupun bunuh diri. Otopsi ini dilakukan atas permintaan penyidik
sehubungan dengan adanya penyidikan suatu perkara. Tujuan dari otopsi
medikolegal adalah :
Untuk memastikan identitas seseorang yang tidak diketahui atau belum jelas.
Untuk menentukan sebab pasti kematian, mekanisme kematian, dan saat
kematian.
Untuk mengumpulkan dan memeriksa tanda bukti untuk penentuan identitas
benda penyebab dan pelaku kejahatan.
Membuat laporan tertulis yang objektif berdasarkan fakta dalam bentuk
visum et repertum.

168 &173. Asfiksia Mekanik


Asfiksia mekanik : Mati lemas yang terjadi bila
udara pernapasan terhalang oleh berbagai
kekerasan (yang bersifat mekanik)
Meliputi : Pembekapan, penyumbatan,
pencekikan, penjeratan, gantung diri, serta
penekanan pada dada

Tanda Kematian akibat Asfiksia

Sianosis pada bibir, ujung-ujung jari dan kuku


Lebam mayat yang gelap dan luas
Perbendungan pada bola mata
Busa halus pada lubang hidung, mulut, dan saluran
pernapasan, perbendungan pada alat-alat dalam
Bintik perdarahan (Tardieus spot) pada konjungtiva
bulbi, mukosa usus halus, epikardium, subpleura
visceralis
Perbendungan sistemik maupun pulmoner dan dilatasi
jantung kanan (lorgan lebih berat, gelap, pada
pengirisan banyak mengeluarkan darah)

169,172. Kejahatan seksual


Pemeriksaan Umum
Lukiskan penampilannya rambut dan wajah,
rapi atau kusut, keadaan emosional, tenang, sedih
atau gelisah, tanda tanda hilang kesadaran,
needle marks
Tanda bekas kekerasan, memar atau luka lecet
pada mulut, leher, pergelangan tangan, lengan,
paha bagian dalam dan pinggang
Tanda perkembangan alat kelamin sekunder,
refleks cahaya pupil, status generalis umum

Pemeriksaan genitalia
Vulva
Rambut kemaluan yang
saling melekat menjadi
satu karena air mani
mengering
Bercak air mani di sekitar
alat kelamin
Tanda tanda kekerasan
(hiperemi, edema, memar,
dan luka lecet)
Edema atau hiperemi pada
introitus vagina

Selaput dara
Ruptur atau tidak baru
atau lama, lokasi, sampai
ke insersio atau tidak
Tentukan besar orifisum
(perawan 2,5 cm
persetubuhan 9 cm
Pengambilan cairan mani
dan sel mani dalam lendir
vagina diambil dengan
swab pada forniks
posterior

170. Rahasia Kedokteran


Pasal 12 Kode Etik Kedokteran Indonesia
Setiap dokter wajib merahasiakan segala
sesuatu yang diketahuinya tentang seorang
pasien, bahkan juga setelah pasien itu
meninggal dunia
Undang-undang Praktik Kedokteran
No. 29 Tahun 2004

Undang-undang Praktik Kedokteran


No. 29 Tahun 2004

171 & 174. Kekakuan Mayat


Keterangan

Cadaveric
Spasm

Kekakuan otot yang terjadi pada saat kematian dan menetap.


Muncul akibat habisnya cadangan glikogen dan ATP yang bersifat
setempat pada saat mati klinis karena kelelahan atau emosi yang
hebat sesaat sebelum meninggal. Contoh : menggenggam erat
benda yang diraihnya pada kasus tenggelam

Heat stiffening

Kekakuan otot akibat koagulasi protein otot oleh panas. Dijumpai


pada mayat mati terbakar. Pugilistic attitude

Cold Stiffening

Kekakuan tubuh akibat lingkungan dingingi, sehingga terjadi


pembekuan cairan sendi, pemadatan jaringan lemak subkutan
dan otot, sehingga bila sendi ditekuk akan tedengar bunyi
pecahnya es dalam rongga sendi

175. Kekerasan dalam Rumah Tangga


Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah setiap
perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan,
yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau
penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau
penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk
melakukan perbuatan, pemaksaan,atau perampasan
kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup
rumah tangga.

Korban adalah orang yang mengalami kekerasan


dan/atau ancaman kekerasan dalam lingkup rumah
tangga

176. Thanatologi
Livor mortis
lengkap dan
menetap

Livor mortis mulai


muncul

20
mnt

30
mnt

2
jam

Rigor mortis
mulai
muncul

6
jam

8
jam

12
jam

Rigor mortis
lengkap (810 jam)

Budiyanto A dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Indonesia.

24
jam

Pembusukan
mulai
tampak di
caecum

36
jam

Pembusuk
an tampak
di seluruh
tubuh

ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS

177. Uji Hipotesis

* : Uji Parametrik; Tanda panah ke bawah : Uji alternatif jika parametrik tidak
terpenuhi

Langkah-langkah untuk menentukan uji hipotesis yang sesuai


Langkah
Menentukan variable yang dihubungkan

Jawaban
Berat badan bayi lahir (nominal/
kategorik) dengan IMT ibu sebelum
hamil (nominal/kategorik)

Menentukan jenis hipotesis

Apakah terdapat hubungan antara


berat badan bayi lahir dengan IMT ibu
sebelum hamil? (Komparatif)

Menentukan masalah skala variable

Kategorik
(Rendah/normal vs
normal/abnormal)
Tidak berpasangan

Menentukan berpasangan/tidak
berpasangan
Menentukan jenis tabel B x K
2x2
Kesimpulan:
Janis tabel adalah 2x2, maka uji yang digunakan adalah uji chi square bila
memenuhi syarat. Bila tidak memenuhi syarat uji chi-square, digunakan uji

Variabel Kategorik vs Numerik


Kategorik : Memiliki kategori variabel. Nominal
(kategori sederajat, cth laki-laki-perempuan)/Ordinal
(kategori bertingkat, cth baik-sedang-buruk)
Numerik : Dalam angka numerik, rasio (memiliki nilai
nol alami, cth tinggi badan)/interval (tidak memiliki
nilai nol alami, cth suhu)

Hipotesis Komparatif vs Korelatif


Komparatif : perbedaan/hubungan (cth. Apakah
terdapat/hubungan antara kadar gula darah dengan
jenis pengobatam?)
Korelasi : Cth. Berapa besar korelasi antara kadar
trigliserida dan kadar gula darah?

Skala Pengukuran
Komparatif : Dianggap skala kategorikal bila kedua
variabel kategorik. Skala numerik jika salah satu
variabel numerik
Korelatif : Dianggap skala kategorikal bila salah
satu variabel kategorik. Skala numerik jika kedua
variabel numerik

Berpasangan vs Tidak Berpasangan


Berpasangan : Dua atau lebih kelompok data
berasal dari subyek yang sama atau yang berbeda
tapi telah dilakukan matching
Tidak berpasangan : Data berasal dari kelompok
subyek yang berbeda, tanpa matching

Semua hipotesis untuk kategorik tidak berpasangan


menggunakan uji chi square, bila memenuhi syarat
uji chi square
Syarat uji chi square adalah sel yang mempunyai
nilai expected kurang dari 5, maksimal 20% dari
jumlah sel
Jika syarat uji chi square tidak terpenuhi, maka dapat
dipakai uji alternatifnya:
Alternatif uji chi square untuk tabel 2x2 adalah uji Fisher
Alternatif uji chi square untuk tabel 2xK adalah uji
Kolmogorov-Smirnov
Alternatif uji chi square untuk tabel selain 2x2 dan 2xK
adalah penggabungan sel. Setelah dilakukan
penggabungan sel akan terbentuk suatu tabel BxK yang
baru. Uji hipotesis yang dipilih sesuai dengan tabel BxK
yang baru tersebut

Regresi vs Korelasi
Analisis Korelasi : mengetahui APAKAH ADA
HUBUNGAN antara dua variabel atau lebih
Analisis Regresi : MEMPREDIKSI SEBERAPA JAUH
pengaruh yang ada tersebut (yang telah dianalisis
melalui analisis korelasi)
Tujuan dari analisis regresi adalah untuk
memprediksi besar Variabel Terikat (Dependent
Variable) dengan menggunakan data Variabel
Bebas (Independent Variable) yang sudah
diketahui besarnya

Regresi Linier (RL) vs Regresi Logistik


(RG)
1. Dalam RL variabel respon (dependen) berskala metrik dan
prediktor (independen) dapat berskala interval
atau kategori, sebaliknya, dalam RG var.respon (dependen)
berskala non-metrik (kategorik) dan prediktor (independen)
dapat berskala interval atau kategori (mixed/bebas).
2. Regresi logistik digunakan pada kasus dimana variabel
dependent bersifat dikotomi dan kategori dengan dua atau
lebih kemungkinan
3. Dalam RL asumsi normalitas, homogenitas varians,
linieritas harus terpenuhi (masing2 dibuktikan melalui uji
statistik tersendiri)

178. Teknik pengumpulan data


Teknik

Keterangan

Wawancara

proses komunikasi atau interaksi untuk mengumpulkan informasi dengan cara


tanya jawab antara peneliti dengan informan atau subjek penelitian

Teknik

Keterangan

Observasi
partisipasi

adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data


penelitian melalui pengamatan dan penginderaan di mana peneliti terlibat
dalam keseharian informan

observasi nonpartisipan

yaitu peneliti melakukan penelitian dengan cara tidak melibatkan dirinya dalam
interaksi dengan objek penelitian. Sehingga, peneliti tidak memposisikan
dirinya sebagai anggota kelompok yang diteliti

Observasi tidak
terstruktur

ialah pengamatan yang dilakukan tanpa menggunakan pedoman observasi,


sehingga peneliti mengembangkan pengamatannya berdasarkan
perkembangan yang terjadi di lapangan

Observasi
kelompok

ialah pengamatan yang dilakukan oleh sekelompok tim peneliti terhadap


sebuah isu yang diangkat menjadi objek penelitian

Teknik

Keterangan

Focus Group
Discussion

yaitu upaya menemukan makna sebuah isu oleh sekelompok orang yang
dianggap mewakili sejumlah publik yang berbeda lewat diskusi untuk
menghindari diri pemaknaan yang salah oleh seorang peneliti

optimized
optima
Hariwijaya, M, Metodologi dan teknik penulisan skripsi,
tesis,bydan
disertasi, elMatera Publishing, Yogyakarta, 2007

179. Desain penelitian


Exposure
assignment (+)

Exposure and
outcome analyzed
prospectively (+)

Kohort

Relative risk
Risiko munculnya penyakit pada populasi yang
terpajan risiko (relatif terhadap populasi yang tidak terpajan risiko)

180. Jarak Septic tank-Sumur


Jarak 10 meter sumur dan tangki septic bermula dari bakteri Coli
patogen (bersifat anaerob) yg bertahan hidup selama tiga hari.
Kecepatan aliran air dalam tanah berkisar 3 meter per hari (rata-rata
kecepatan aliran air dalam tanah di Pulau Jawa tiga meter/hari),
sehingga jarak ideal antara tangki septic dengan sumur sejauh tiga
meter per hari dikali tiga hari yang menghasilkan 9 meter + 1 meter
sebagai jarak pengaman = 10 meter

181. Identifikasi Masalah dalam


Program Puskesmas

Masalah (Pendekatan
Sistem ) adalah
Kesenjangan antara
Tolok ukur dengan
Hasil pencapaian, pada
unsur Keluaran /
Output.

Standar.
Bandingk OUTPUT
an
Standar
Keluaran
dengan
HASIL
Hasil
Output..
Keluaran

MASALAH.

Kalau
ada
Kesenjan
gan,
artinya
ada
Masalah.

http://www.scribd.com/doc/53054543/kebijakan-promkes-2010-2014

Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan


Strategi dasar promosi kesehatan
Gerakan pemberdayaan
upaya atau proses untuk menumbuhkan kesadaran, kemauan, dan
kemampuan masyarakat dalam mengenali, mengatasi, memelihara,
melindungi, dan meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri

Bina suasana
Menciptakan lingkungan yang kondusif

Advokasi
pendekatan kepada para pimpinan atau pengambil kebijakan agar dapat
memberikan dukungan maksimal, kemudahan perlindungan pada upaya
kesehatan

Diperkuat
Kemitraan
kerjasama formal antara individu-individu, kelompok-kelompok atau
organisasi-organisasi untuk mencapai suatu tugas atau tujuan tertentu

Metode sarana komunikasi yang tepat


http://isnopugel.wordpress.com/2011/03/28/strategi-promosi-kesehatan/

182. Sumber-sumber bias


1. Proses seleksi atau partisipasi subyek (
bias seleksi)
2. Proses pengumpulan data ( bias informasi)
3. Tercampurnya efek pajanan utama dengan
efek faktor risiko eksternal lainnya (
kerancuan/ confounding)

Bias seleksi
Distorsi efek berkaitan dengan cara pemilihan
subyek kedalam populasi studi
Bisa terjadi bila status penyakit pada studi
kohort (retrospektif), atau status exposure
pada kasus kontrol atau kedua-duanya pada
studi kros-seksional mempengaruhi pemilihan
subyek pada kelompok-kelompok yang
diperbandingkan

Bias informasi
Bias informasi (information bias) atau bias observasi
(observation bias) atau bias pengukuran (measurement
bias) adalah bias yang terjadi karena perbedaan
sistematik dalam mutu dan cara pengumpulan data
(misalnya karena menggunakan kriteria atau metode
pengukuran yang tidak sahih) tentang pajanan atau
penyakit/masalah kesehatan dari kelompok-kelompok
studi.
Ascertainment Bias disebut juga Information Bias.
Merupakan penyimpangan dalam memperkirakan efek
atau pengaruh karena kesalahan pengukuran atau
kesalahan pengelompokan subyek penelitian menurut
satu atau lebih variabel.

Types of bias
1. Sample (subject selection) biases
which may result in the subjects in the sample being
unrepresentative of the population which you are
interested in

2. Measurement (detection) biases


which include issues related to how the outcome of
interest was measured

3. Intervention (performance) biases


which involve how the treatment itself was carried
out.

Selection Bias
Volunteer or referral bias
People who volunteer to participate in a study (or who are referred to
it) are often different than non-volunteers/non-referrals. This bias
usually, but not always, favors the treatment group, as volunteers tend
to be more motivated and concerned about their health.
Non-response bias
When those who do not respond to a survey differ in important ways
from those who respond or participate. This bias can work in either
direction.
Self-selection bias
Arises in any situation in which individuals select themselves into
a group
Prevalence-incidence bias
Happens when mild or asymptomatic cases as well as fatal short
disease episodes are missed when studies are performed late in
disease process
http://www.umdnj.edu/idsweb/shared/biases.htm

Measurement Bias
Instrument bias. Calibration errors lead to inaccurate measurements being
recorded
Insensitive measure bias. When the measurement tool(s) used are not
sensitive enough to detect what might be important differences in the
variable of interest.
Expectation bias. Occurs in the absence of masking or blinding, when
observers may measuring data toward the expected outcome.
Recall or memory bias. If outcomes being measured require that subjects
recall past events. Often a person recalls positive events more than
negative ones.
Attention bias. Occurs because people who are part of a study are usually
aware of their involvement, and as a result of the attention received may
give more favorable responses or perform better than people who are
unaware of the studys intent.
Verification or work-up bias. Associated mainly with test validation
studies. In
http://www.umdnj.edu/idsweb/shared/biases.htm

Intervention Bias
Contamination bias. When members of the 'control' group inadvertently
receive the treatment or are exposed to the intervention
Co-intervention bias. When some subjects are receiving other
(unaccounted for) interventions at the same time as the study treatment.
Timing bias(es). If an intervention is provided over a long period of time,
maturation alone could be the cause for improvement. If treatment is very
short in duration, there may not have been sufficient time for a noticeable
effect in the outcomes of interest.
Compliance bias. When differences in subject adherence to the planned
treatment regimen or intervention affect the study outcomes.
Withdrawal bias. When subjects who leave the study (drop-outs) differ
significantly from those that remain.
Proficiency bias. When the interventions or treatments are not applied
equally to subjects. This may be due to skill or training differences among
personnel and/or differences in resources

http://www.umdnj.edu/idsweb/shared/biases.htm

183. Uji Hipotesis

* : Uji Parametrik; Tanda panah ke bawah : Uji alternatif jika parametrik tidak
terpenuhi

184. Penelitian Diagnostik

Positive predictive value (a/a+b)


adalah probabilitas adanya
penyakit pada seseorang yang
hasil testnya positif
Negative predictive value (d/c+d)
adalah probabilitas seseorang
bebas dari penyakit karena hasil
test negative
optimized by optima
Sukardi. (2004). Metodologi Penelitian Pendidikan, Kompetensi dan Prakteknya. Jakarta : Bumi aksara.

185. Keberhasilan Posyandu


Cakupan SKDN
S : Semua balita diwilayah kerja Posyandu
K : Semua balita yang memiliki KMS
D : Balita yang ditimbang
N : Balita yang naik berat badannya

D / S : baik/kurangnya peran serta masyarakat


N / D : Berhasil tidaknya Program posyandu
PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN POSYANDU. Kementerian Kesehatan
RI dan Kelompok Kerja Operasional (POKJANAL POSYANDU). 2011

Tingkat partisipasi masyarakat


(D/S x 100%)
minimal mencapai 80 %
<80 % partisipasi mayarakat untuk kegiatan pemantauan
pertumbuhan dan perkembangan berat badan sangatlah rendah

Tingkat Liputan Program


(K/S x 100%)
Mencapai 100 %.
Apabila tidak digunakan atau tidak dapat KMS
program Posyandu tersebut mempunyai liputan yang sangat rendah
Balita kehilangan kesempatan untuk mendapat pelayanan dalam KMS

Tingkat Kehilangan Kesempatan{(S-K)/S x 100%)

Tingkat Keberhasilan Program Posyandu


(N/D x 100%)

Indikator Drop Out


balita yang sudah mempunyai KMS dan pernah datang menimbang
berat badannya tetapi kemudian tidak pernah datang lagi di posyandu
untuk selalu mendapatkan pelayanan kesehatan
(K-D)/K x 100%
PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN POSYANDU. Kementerian Kesehatan
RI dan Kelompok Kerja Operasional (POKJANAL POSYANDU). 2011

186. Observational Study


Case Control
Menganalisa faktor risiko dengan
menentukan dua kelompok yang
memiliki perbedaan outcome
(penyakit), kemudian dihubungkan
dengan causal attribute- nya
Keuntungan : Membutuhkan sumber
daya, dana yang lebih sedikit, serta
waktu yang lebih singkat. Good for
rare cases, long latent period, ethical
related cases
Useful when epidemiologists
investigate an outbreak of a disease
Kelemahan : provide less evidence
for causal inference

Case control

optimized by optima

Odd Ratio

optimized by optima

187. Metode PAHO

Pemecahan Masalah
I. Membuat Prioritas Masalah
Priority = Importance x Technological Feasibility x Resources
Pentingnya masalah (Importancy = I) yang terdiri dari:

Prevalence = P. Merupakan besarnya masalah


Severity = S .Akibat yang ditimbulkan oleh masalah
Rate of Increase = RI. Merupakan suatu kenaikan besarnya masalah
Degree of unmeet need = DU. Yaitu derajat kebutuhan masyarakat yang
tidak terpenuhi
Social Benefit = SB. Adalah keuntungan sosial karena selesainya masalah
Public Concern = PB. Merupakan rasa prihatin masyarakat terhadap
masalah
Political Climate = PC. Adalah suasana politik
Importance = Prevalence + Severity +Rate of Increase + Degree of unmet need +
Political Climate + Social Benefit + Public Concern

Technology = T . Merupakan kelayakan teknologi . Makin layak


teknologi yang tersedia dan dapat dipakai untuk mengatasi
masalah, makin diprioritaskan masalah tersebut.
Sumber daya yang tersedia (Resources = R). Terdiri dari tenaga
(man), dana (money), dan sarana (material). Penyelesaian masalah
akan semakin diprioritaskan bila sumber daya yang diperlukan
tersedia.
(P = priority, T = technology, I =importancy, R=resources), dengan
memberi nilai antara 1 (tidak penting) sampai dengan 5 (sangat
penting).

II. Alternatif Pemecahan Masalah


III. Prioritas Pemecahan Masalah
= Efektivitas Jalan keluar (MxIxV)
Efisiensi jalan keluar (C)
Efektifitas jalan keluar : Magnitude x Importancy
x Velocity
Magnitude : Besarnya masalah yang dapat diatasi
Importancy : Pentingnya jalan keluar untuk
permasalahan
Velocity : Kecepatan jalan keluar mengatasi masalah

Efisiensi jalan keluar berkaitan dengan cost


Nilai diberikan 1-5

188. Studi Epidemiologi

Desain Studi
Desain

Keterangan

Deskriptif

mendeskripsikan distribusi penyakit pada populasi, berdasarkan


karakteristik dasar individu, seperti umur, jenis kelamin, pekerjaan,
kelas sosial, status perkawinan, tempat tinggal dan sebagainya,
serta waktu

Analitik

menguji hipotesis dan menaksir (mengestimasi) besarnya hubungan/


pengaruh paparan terhadap penyakit

Studi
observasional

peneliti tidak sengaja memberikan intervensi, melainkan hanya


mengamati (mengukur), mencatat, mengklasifikasi, menghitung, dan
menganalisis (membandingkan) perubahan pada variabel-variabel
pada kondisi yang alami

Studi
eksperimental

peneliti meneliti efek intervensi dengan cara memberikan berbagai


level intervensi kepada subjek penelitian dan membandingkan efek
dari berbagai level intervensi itu

optimized by optima

Cross Sectional
Studi epidemiologi yang mempelajari prevalensi, distribusi
maupun hubungan penyakit dan paparan (faktor penelitian)
dengan cara mengamati status paparan, penyakit atau
karakteristik terkait kesehatan lainnya
Status paparan dan penyakit diukur pada saat yang sama.
Data yang dihasilkan adalah data prevalensi, maka disebut
juga survei prevalensi.
Studi potong lintang pada dasarnya adalah survei

optimized by optima

Budiarto, Eko.2003. Pengantar Epidemiologi.Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

THT

189. Tonsillitis
Acute tonsillitis:
Viral: similar with acute rhinits +
sore throat
Bacterial: GABHS, pneumococcus, S.
viridan, S. pyogenes.
Detritus follicular tonsillitits
Detritus coalesce lacunar tonsillitis.
Sore throat, odinophagia, fever, malaise,
otalgia.
Th: penicillin or erythromicin

Chronic tonsillitis
Persistent sore throat, anorexia, dysphagia, &
pharyngotonsillar erythema
Lymphoid tissue is replaced by scar widened
crypt, filled by detritus.
Foul breath, throat felt dry.
Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.
Diagnostic handbook of otorhinolaryngology.

Sore Throats
Diagnosis

Clinical Features

Tonsillar neoplasm

Tonsillar asymmetry associated with rapid enlargement,


constitutional symptoms, atypical tonsillar appearance,
ipsilateral cervical lymphadenopathy, and a history of
previous malignant growths

Acute tonsillitis

Sore throat & dysphagia, earache, headache & malaise.


Fever, enlarged, hyperaemic tonsil, inflamed pharynx.

Parapharyngeal abscess

Can be caused by spread of infection from peritonsilllar,


retropharyngeal, or submandibular space.
Trismus, induration or swelling around angulus
mandibularis, high fever, swelling of pharyngeal lateral
wall.

Submandibular abscess

Infection is originated from teeth, mouth floor, pharynx,


salivary gland, submandibular lymph node.
Fever, neck pain, swelling below the mandible or tongue.

1) Menner, a pocket guide to the ear. Thieme; 2003. 2) Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007. 3) Cummings otolaryngology. 4th ed. Mosby; 2005.

190. Polip Nasi

Nasal Congestion

191. Rinitis
Diagnosis

Clinical Findings

Rinitis alergi

Riwayat atopi. Gejala: bersin, gatal, rinorea, kongesti. Tanda: mukosa


edema, basah, pucat atau livid, sekret banyak.

Rinitis
vasomotor

Gejala: hidung tersumbar dipengaruhi posisi, rinorea, bersin.


Pemicu: asap/rokok, pedas, dingin, perubahan suhu, lelah, stres.
Tanda: mukosa edema, konka hipertrofi merah gelap.

Rinitis hipertrofi Hipertrofi konka inferior karena inflamasi kronis yang disebabkan
oleh infeksi bakteri, atau dapat juga akrena rinitis alergi & vasomotor.
Gejala: hidung tersumbat, mulut kering, sakit kepala. Sekret banyak
& mukopurulen.
Rinitis atrofi /
ozaena

Disebabkan Klesiella ozaena atau stafilokok, streptokok, P. Aeruginosa


pada pasien ekonomi/higiene kurang. Sekret hijau kental, napas bau,
hidung tersumbat, hiposmia, sefalgia. Rinoskopi: atrofi konka media
& inferior, sekret & krusta hijau.

Rinitis
Hidung tersumbat yang memburuk terkait penggunaan
medikamentosa vasokonstriktor topikal. Perubahan: vasodilatasi, stroma
edema,hipersekresi mukus. Rinoskopi: edema/hipertrofi konka
dengan sekret hidung yang berlebihan.
Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.

Diagnosis

Clinical Findings

Acute rhinitis
(rhinovirus)

Warm, dry, & itchy followed by sneezing, congestion, & serous


secrete along with fever & headache.
Rhinoscopy: reddened & swollen mucous membrane.

Foreign
bodies

Nasal obstruction, unilateral rhinorrea, thick & foul smell secrete.


Edema, inflammation, sometimes ulceration.
Removal: hook for round smooth object, crocodile forceps if object
can be grasped, or suction for many object.

Rhinosinusitis

Two or more symptoms, included nasal obstruction or nasal


discharge as one of them and: facial pain/pressure or
hyposmia/anosmia.

Nasal septal
deviation

Nasal obstruction, unilateral or bilateral, headache or pain around


eyes, hyposmia if deviation located at upper septum.

Polip

white-greyish/pale soft tissue containing fluid at meatus medius.


Symptoms: nasal obstruction, nasal discharge, hyposmia, sneezing,
pain, frontal headache.
Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.

Rinitis Alergi

Rinitis Alergi

Allergic rhinitis management pocket reference 2008

Rhinitis
Atopic sign:
Allergic shiner
Dark shadow below the eyes due to nasal obstruction
causing secondary vein stasis

Allergic crease
Horizontal line at the lower third dorsum nasi caused by
repeted rub

Facies adenoid
Mouth open with high arch palate disrupted teeth growth

Cobblestone appearance at posterior pharyngeal wall


Geographic tongue
Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.

192. Vertigo
Peripheral Vertigo

Central Vertigo

Inner ear, vestibular nerve

Brainstem, cerebellum,
cerebrum

Onset

Sudden

Gradual

Nausea, vomitting

Severe

Varied

Hearing symptom

Often

Seldom

Often

Compensation/resolution

Fast

Slow

Spontaneous nystagmus

Horizontal, rotatoir

Vertical

Latency (+), fatigue (+)

Latency (-), no fatigue (-)

Paresis

Normal

Involving

Neurologic symptom

Positional nystagmus

Calory nystagmus

Vertigo of peripheral origin


Condition

Details

BPPV

Brief, position-provoked vertigo episodes caused by


abnormal presence of particles in semisircular canal

Menieres disease

An excess of endolymph, causing distension of


endolymphatic system (vertigo, tinnitus, sensorineural
deafness)

Vestibular neuronitis

Vestibular nerve inflammation, most likely due to virus

Acute labyrinthitis

Labyrinth inflammation caused by viral or bacterial


infection

Labyinthine infarct

Compromises blood flow to labyrinthine

Labyrinthine concussion

Damage after head trauma

Perylimnph fistula

Labyrinth membrane damage resultin in perylimph


leakage into middle ear

Diagnosis Vertigo

Dix Hallpike Maneuver

Treatment of BPPV
canalith repositioning maneuvre
Office treatment fo BPPV: Epley Maneuver
(canalith repositioning)

Home treatment
for BPPV: Brandt
Daroff maneuver
3 sets x 5
repetitions/day
for 2 weeks
Success rate 95%
Mostly complete
relief after 30 sets
(10 days)

Symptomatic treatment:
Antivertigo (vestibular suppressant)
Ca channel blocker: flunarizin
Histaminic: betahistine mesilat
Antihistamin: difenhidramine, sinarisin

Antiemetic:
prochlorperazine, metoclopramide

Psycoaffective:
Clonazepam, diazepam for anxiety & panic attack

193. Epistaksis
Epistaksis Posterior

Epistaksis anterior:
Sumber: pleksus kisselbach plexus
atau a. ethmoidalis anterior
Dapat terjadi karena infeksi &
trauma ringan, mudah dihentikan.
Penekanan dengan jari selama 1015 menit akan menekan pembuluh
darah & menghentikan perdarahan.
Jika sumber perdarahan terlihat
kauter dengan AgNO3, jika tidak
berhenti tampon anterior 2 x 24
jam.
Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.

Perdarahan berasal dari a.


ethmoidalis posterior atau a.
Sphenopalatina, sering sulit
dihentikan.
Terjadi pada pasien dengan
hipertensi atau arteriosklerosis.
Terapi: tampon bellocq/posterior
selama 2-3 hari.

194. Sore Throats


Peritonsillar abscess

Inadequately treated tonsillitis spread of infection pus formation between the


tonsil bed & tonsillar capsule

Symptoms & Signs


Quite severe pain with referred otalgia
Odynophagia & dysphagia drooling
Irritation of pterygoid musculature by pus & inflammation trismus
unilateral swelling of the palate & anterior pillar displace the tonsil downward & medially
uvula toward the opposite side

Therapy
Needle aspiration: if pus (-) cellulitis antibiotic. If pus (+) abscess .
If pus is found on needle aspirate, pus is drained as much as possible.

Abses Leher Dalam

Peritonsillar abscess

Retropharyngeal abscess

Parapharyngeal abscess

Submandibular abscess

193. Sore Throats

1) Menner, a pocket guide to the ear. Thieme; 2003. 2) Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007. 3) Cummings otolaryngology. 4th ed. Mosby; 2005.

195. Otitis Media


Acute Otitis Media
The bacteria responsible:
Streptococcus pneumoniae 35%,
Haemophilus influenzae 25%,
Moraxella catarrhalis 15%.

The sequence of events in acute otitis media:


1. Tubal occlusion: retracted tympanic membrane or dull.
2. Hyperemic/presuppuration: redness & edema.
3. Suppuration: painful, fever, exudate in middle ear, bulging tympanic

membrane, sometimes flattening of the manubrium mallei


4. Perforation: rupture of tympanic membrane, fever subsides.
5. Resolution: if there is no perforation tympanic membrane return
to normal. Perforated membrane secrete diminish.
1) Lecture notes on diseases of the ear, nose, and throat. 2) Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.

Otitis Media
Acute otitis media
Therapy:
Occlusion tubal: topical decongestan (ephedrin HCl)
Presuppuration: AB for at least 7 days
(ampicylin/amoxcylin/ erythromicin) & analgetic.
Suppuration: AB, myringotomy.
Perforation: ear wash H2O2 3% & AB.
Resolution: if secrete isnt stopped AB is continued until
3 weeks.

1) Diagnostic handbook of otorhinolaryngology. 2) Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.

Otitis Media
Miringotomi:
Tindakan insisi pada pars tensa membran timpani agar terjadi drainase
sekret dari telinga tengah ke telinga luar.

Miringoplasti:
Timpanoplasti tipe 1 (paling ringan), hanya merekonstruksi membran
timpani.
Tujuan: mencegah berulangnya infeksi pada OMSK tipe aman dengan
perforasi menetap.

Timpanoplasti:
Rekonstruksi membran timpani sering disertai dengan rekonstruksi
tulang pendengaran.
Tujuan: menyembuhkan penyakit & memperbaiki pendengaran.

Timpanosentesis:
Pungsi pada membran timpani untuk mendapatkan sekret guna
pemeriksaan mikrobiologik.
Buku ajar THT-KL. 6th ed. FKUI.

196. Otitis Media Supuratif Kronik


Benign/mucosal type/tubotympanic:
Tidak mengenai tulang.
Jenis perforasi: sentral.
Th: ear wash with H2O2 3% for 3-5 days, ear
drops AB & steroid, systemic AB

Malignant/bony type/aticoantral:

Large central perforation

Mengenai tulang atau kolesteatoma.


Jenis perforasi: marjinal atau attic.
Tahap lanjut: abses atau fistel retroaurikel,
polip/jaringan granulasi, terlihat
kolesteatoma pad atelinga tengah, sekret
bentuk nanah & berbau khas
Th: mastoidektomi.

1) Diagnostic handbook of otorhinolaryngology. 2) Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.

Cholesteatoma at attic
type perforation

1) Diagnostic handbook of otorhinolaryngology. 2) Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.

OMSK Tipe Benigna


Fase aktif
terdapat sekret pada telinga dan
tuli
Didahului oleh perluasan infeksi
saluran nafas atas melalui tuba
eutachius, atau setelah berenang
dimana kuman masuk melalui liang
telinga luar
Sekret bervariasi dari mukoid
sampai mukopurulen

Tatalaksana
Fase Tenang
Tidak memerlukan pengobatan,
Edukasi
tidak mengorek telinga,
air jangan masuk ke telinga sewaktu
mandi,
dilarang berenang
segera berobat bila menderita infeksi
saluran nafas atas
sebaiknya dilakukan operasi
rekonstruksi (miringoplasti,
timpanoplasti) untuk mencegah
infeksi berulang serta gangguan
pendengaran.

Fase Tenang
Tampak perforasi total yang kering
dengan mukosa telinga tengah
yang pucat
Gejala yang dijumpai berupa tuli
konduktif ringan
Gejala lain yang dijumpai seperti
vertigo, tinitus,atau suatu rasa
penuh dalam telinga.

Fase Aktif
Membersihkan liang telinga dan
kavum timpaniBila sekret keluar
terus menerus diberikan H2O2 3%
selama 3 5 hari.
Pemberian antibiotika : topikal
antibiotik ( antimikroba) dan
sistemik.

197. Trauma Laring


Etiologi menurut Ballenger :
Trauma mekanik eksternal
(trauma tumpul, tajam,
komplikasi
trakeostomi/krikotirotomi)
dan internal (endoskopi,
intubasi endotrakea atau
pemasangan NGT).
Akibat luka bakar oleh panas
dan kimia (alkohol, amonia,
Natrium hipoklorit, lisol) yang
terhirup.
Akibat radioterapi
Trauma otogen akibat vocal
abuse

Gejala Klinik :
Stridor perlahan sampai kuat.
Disfoni/afoni
Emfisema subkutan
Hemoptisis
Disfagi/odinofagi

Tatalaksana
Konservatif :
Istirahat suara
Humidifikasi
Kortikosteroid bila mukosa edem, hematom atau laserasi
ringan tanpa sumbatan laring.

Indikasi eksplorasi :
Sumbatan nafas yg perlu trakeostomi
Emfisema subkutis yg progresif
Laserasi mukosa yg luas
Terbukanya tlg rawan krikoid
Paralisis bilateral pita suara

Luka Terbuka
Diagnosis gelembung udara di daerah luka keluar
dari trakea.
Tatalaksana
ditujukan utk perbaikan sal nafas dan mencegah aspirasi ke
paru.
Tindakan segera : Trakeostomi dgn kanul yang memakai
balon.
Eksplorasi mencari dan mengikat pembuluh darah
Antibiotika dan serum ATS.

Komplikasi : aspirasi darah, paralisis pita suara dan


stenosis laring.

Luka Tertutup ( closed injury)


Diagnosis lebih sulit
Tatalaksana
Endoskopi dgn fiber opticbila fasilitas
memungkinkan
Laringoskopi direk atau indirek
foto jaringan lunak leher, foto toraks, CT-scan.
Tindakan eksplorasi dan konservatif tergantung
diagnosa diatas

After a complete trauma evaluation, flexible fiberoptic


laryngoscopy is performed to carefully evaluate the
airway

198. Tuli

Cocktail party deafness


The sign for choclear deafness, the patient is disturbed by background
noise difficult to hear in noisy environment.
found in presbikusys & noice induced hearing loss.

Presbikusys
Occur in elderly >65 yo.
Bilateral

Noise induced hearing loss


Long term exposure with noise
cochlear sensorineural
deafness with/wo tinnitus.
Bilateral

199. Audiometri
Tes Bisik

Semi kuantitatif, menentukan derajat ketulian secara kasar. Hal yang perlu
diperhatikan ialah ruangan cukup tenang, panjang minimal 6 meter. Pada
nilai normal tes berbisik : 5/6 6/6

Pemeriksaan kualitatif, Jenis pemeriksaan ini adalah tes rinne, schwabach,


dan weber.
Tes Audiometri Untuk menilai kemampuan pasien dalam pembicaraan sehari-hari, dan
untuk menilai pemberian alat bantu dengar. Pada tes ini dipakai kata-kata
tutur
yang sudah disusun dalam silabus (suku kata). Pasien diminta untuk
mengulangi kata-kata yang didengar melalui kaset tape recorder.
Tes Garpu Tala

Tes Audiometri Diperiksa kelenturan membran timpani dengan tekanan tertentu pada
meatus akustikus eksternus. Pada lesi di koklea, ambang rangsang refleks
impedans
stapedius menurun, sedangkan pada lesi di retrokoklea, ambang itu naik.
Tes Audiometri Dilakukan dengan menggunakan audiometer, dan hasil pencatatannya
disebut audiogram. Dapat dilakukan pada anak berusia lebih dari 4 tahun
Nada Murni
yang kooperatif. Sebagai sumber suara digunakan nada murni yaitu bunyi
yang hanya terdiri dari 1 frekuensi. Menilai hantaran suara melalui udara
(air conduction) dengan headphone beda frekuensi, serta menilai hantaran
tulang (bone conduction) dengan bone vibrator pada prosesus mastoid.

Interpretasi hasil audiometri


Pada interpretasi audiogram harus ditulis (a) telinga
yang mana, (b) apa jenis ketuliannya, (c) bagaimana
derajat ketuliannya, misalnya: telinga kiri tuli campur
sedang
Dalam menentukan derajat ketulian, yang dihitung
hanya ambang dengar hantaran udaranya (AC) saja.
Derajat Ketulian ISO:

0 25 dB : normal
>25 40 dB : tuli ringan
>40 55 dB : tuli sedang
>55 70 dB : tuli sedang berat
>70 90 dB : tuli berat
>90 dB : tuli sangat berat

200. Laringomalasia

Laringomalasia merupakan suatu kelainan dimana terjadi


kelemahan struktur supraglotik sehingga terjadi kolaps dan
obstruksi saluran nafas. Sedangkan padatrakeomalasia,
kelemahan terjadi pada dinding trakea.
Laringomalasia dapat terjadi di epiglotis, kartilago aritenoid,
maupun pada keduanya. Jika mengenai epiglotis, biasanya
terjadi elongasi dan bagian dindingnya terlipat. Epiglotis yang
bersilangan membentuk omega, dan lesi ini dikenal sebagai
epiglotis omega (omega-shaped epiglottis).
Jika mengenai kartilago aritenoid, tampak terjadi pembesaran.
Pada kedua kasus, kartilago tampak terkulai dan pada
pemeriksaan endoskopi tampak terjadi prolaps di atas laring
selama inspirasi. Obstruksi inspiratoris ini menyebabkan stridor
inspiratoris, yang terdengar sebagai suara dengan nada yang
tinggi

Tiga gejala yang terjadi pada berbagai tingkat dan


kombinasi pada anak dengan kelainan laring kongenital
adalah obstruksi jalan napas, tangis abnormal yang dapat
berupa tangis tanpa suara (muffle) atau disertai stridor
inspiratoris serta kesulitan menelan yang merupakan akibat
dari anomali laring yang dapat menekan esofagus
Riwayat stridor inspiratoris diketahui mulai 2 bulan awal
kehidupan. Suara biasa muncul pada minggu 4-6 awal.
Stridor berupa tipe inspiratoris dan terdengar seperti
kongesti nasal, yang biasanya membingungkan. Namun
demikian stridornya persisten dan tidak terdapat sekret
nasal.
Stridor bertambah jika bayi dalam posisi terlentang, ketika
menangis, ketika terjadi infeksi saluran nafas bagian atas,
dan pada beberapa kasus, selama dan setelah makan.
Tangisan bayi biasanya normal
Biasanya tidak terdapat intoleransi ketika diberi makanan,
namun bayi kadang tersedak atau batuk ketika diberi
makan jika ada refluks pada bayi

Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan laring


dengan menggunakan serat fiber fleksibel selama periode
pernapasan spontan.
Penemuan endoskopik yang paling sering adalah kolapsnya
plika ariepiglotik dan kartilago kuneiform ke sebelah dalam.
Laringoskopi langsung merupakan cara yang terbaik untuk
memastikan diagnosis. Bilah laringoskop dimasukkan ke
valekula dengan tekanan yang minimal pada epiglotis untuk
menegakkan diagnosis.
Pada inspirasi, struktur sekitar vestibulum, terutama plika
ariepiglotik, epiglotis, dan kartilago aritenoid akan tampak
turun ke saluran nafas, disertai stridor yang sinkron.
Visualisasi langsung memperlihatkan epiglotis berbentuk
omega selama inspirasi