Anda di halaman 1dari 19

TINJAUAN TEORITIS

SKIN DEGLOVING

A. Defenisi
Skin degloving adalah suatu keadaan dimana jaringan kulit dan
subkutis tersobek secara paksa dari dasarnya yang berupa fascia sebagai
akibat trauma keras dan mendadak/shearing force. kelainan ini sering
dihubungkan dengan morbiditas yang tinggi, kasus ini merupakan masalah
yang penting dan perlu mendapat perhatian. Dalam pemeriksaan pertama
kasus dengan multipel trauma, kelainan degloving ini sering terlewatkan
terutama yang jenis closed degloving. Kalaupun kelainan ini terdiagnosis tapi
dalam hal penanganannya tidak cukup memadai, terutama dalam penilaian
vitalitas jaringan sering sulit (Smeltzer & Bare, 2002).
Akibat dari masalah ini dapat meningkatkan morbiditas bahkan dapat
menyebabkan kematian dan bila ditinjau dari segi biaya rumah sakit juga
meningkat. Perlu kiranya mengenal hal yang menyangkut patogenesis,
diagnosis dan penanganan dari degloving injury ini dalam menghadapi kasus
trauma di unit gawat darurat. Diharapkan dengan ini dapat dicegah
meningkatnya morbiditas maupun mortalitas yang seharusnya tidak perlu
terjadi (Price & Wilson, 2012).
Degloving merupakan gangguan pada kulit sedikit sampai luas dengan
variasi kedalaman jaringan yang disebabkan trauma ditandai dengan rusaknya
struktur yang menghubungkan kulit dengan jaringan dibawahnya ,kadang
masih ada kulit yang melekat dan ada juga bagian yang terpisah dari jaringan
dibawahnya. Degloving dapat juga berhubungan dengan permukaan pada
jaringan

lunak,

tulang,

persarafan

ataupun

vaskuler. Jika

trauma

menyebabkan kehilangan aliran darah pada kulit, maka dapat terjadi nekrosis.
Trauma

degloving

ini

seringkali

membutuhkan

debridement

untuk

menghilangkan jaringan yang nekrosis. Trauma degloving dalam jumlah

besar disertai dengan jaringan yang lebih profunda menyebabkan jaringan


terkelupas atau berupa sayatan (Muttakin, 2008).
Degloving paling sering terjadi pada daerah lengan maupun tungkai.
Hal ini biasanya disebabkan oleh trauma mekanis, biasanya oleh karena
trauma pada kendaraan bermotor, trauma akibat kipas angin. Namun juga
bisa akibat trauma tumpul (Zairin, 2011).
B. Anatomi
Kulit merupakan bagian yang sering mengalami degloving , karena
merupakan bagian dari organ tubuh yang terletak paling luar dan
membatasinya dengan lingkungan hidup manusia. Kulit juga sangat
kompleks, elastis dan sensitif , bervariasi pada keadaan iklim , umur , seks,
ras dan juga bergantung pada lokasi tubuh. Luas kulit orang dewasa 1.5-2m,
dengan berat kira-kira 15% berat badan. Tebalnya antara 1.5-5 mm,
bergantung pada letak kulit , umur , jenis kelamin , suhu dan keadaan gizi.
Kulit paling tipis di kelopak mata , penis , labium minor ,dan bagian medial
lengan atas. Sedangkan kulit yang tebal terdapat di telapak tangan dan kaki ,
punggung, bahu, bokong (Price & Wilson, 2012).
Kulit terdiri dari tiga lapisan, yaitu
1. Lapisan epidermis .
Lapisan epidermis merupakan epitel berlapis gepeng yang sel
selnya menjadi pipih bila matang dan naik ke permukaan, yang terdiri
dari stratum korneum, stratum granulosum, stratum spinosum dan stratum
basale dengan melanosit, juga tidak terdapat pembuluh darah. Pada telapak
tangan dan kaki, epidermis sangat tebal untuk menahan robekan dan
kerusakan yang terjadi pada daerah ini. Pada bagian tubuh yang lainnya, misalnya
pada bagian medial lengan atas dan kelopak mata, kulit sangat tipis.
2. Lapisan dermis.
Lapisan dermis ini lebih tebal dari pada epidermis. Lapisan ini terdiri
atas jaringan ikat padat yang banyak mengandung pembuluh darah,
pembuluh limfatik dan saraf. Dermis terdiri dari stratum papilare dan
stratum retikulare. Tebalnya dermis berbeda beda pada berbagai bagian
tubuh dan cenderung menjadi lebih tipis pada permukaan anterior

dibanding dengan permukaan posterior. Dermis pada perempuan lebih tipis


dibandingkan pada laki laki.
3. Lapisan subkutis.
Lapisan ini merupakan kelanjutan dari dermis, terdiri atas jaringan
ikat longgar yang berisi sel sel lemak. Berfungsi sebagai pengatur suhu
dan pelindung bagi lapisan kulit yang lebih superficial terhadap tonjolan
tonjolan tulang.
Di dalam dermis, sebagian besar berkas serabut serabut kolagen
berjalan sejajar. Insisi bedah pada kulit yang dilakukan disepanjang atau
antara berkas berkas ini menimbulkan kerusakan minimal pada kolagen
sehingga luka yang sembuh dengan sedikit jaringan parut. Sebaliknya, insisi
yang dibuat memotong berkas berkas kolagen akan merusaknya dan menyebabkan
pembentukan kolagen baru yang berlebihan sehingga terbentuk jaringan
parut yang luas dan jelek. Arah berkasberkas kolagen ini dikenal sebagai
garis insisi (garis Langer), dan garis

garis ini cenderung berjalan

longitudinal pada extremitas dan melingkar pada leher dan batang badan.
Struktur lain yang ada pada kulit yaitu kuku , folikel rambut , kelenjar
sebasea dan kelenjar keringat (Zairin, 2011)

C. Etiologi
Trauma degloving dapat disebabkan beberapa faktor, antara lain
karena kecelakaan lalu lintas seperti terlindas dari kendaraan atau kecelakaan
akibat dari olah raga seperti roller blade, sepeda gunung, acrobat dan skate
board. Trauma degloving ini mengakibatkan penurunan supplai darah ke
kulit, yang pada akhirnya dapat terjadi kerusakan kulit. Degloving yang luas
dan berat biasanya diakibatkan oleh ikat pinggang dan ketika tungkai masuk
3

ke roda kendaraan. Adapun penyebab lainnya bisa berupa kecelakaan pada


escalator atau biasa juga disebabkan oleh trauma tumpul (Smeltzer & Bare,
2002).
Degloving minimal biasa terjadi pada pasien yang sudah tua, misalnya
benturan terhadap meja. Selain pada extremitas, degloving juga biasa terjadi
pada mucosa mandibula, yang diakibatkan oleh high jump pada acrobat
biking atau kecelekaan lalu lintas (Smeltzer & Bare, 2002).
D. Klasifikasi
Menurut Zairin (2011) Trauma degloving dibagi 2 yaitu :
1. Trauma degloving dengan luka tertutup.
Trauma ini jarang terjadi tapi penting diperhatikan karena terjadi
pada pasien dengan multiple trauma, dimana jaringan subkutan terlepas
dari jaringan dibawahnya. Klinis awalnya dari jenis ini seringkali tampak
normal pada permukaan kulit, dapat disertai dengan echimosis. Dan jika
tidak dikoreksi, akan menyebabkan peningkatan dari morbiditas yaitu
jaringan yang terkena akan mengalami necrosis. Untuk itu dilakukan
drainase dengan membuat insisi kecil yang bertujuan untuk kompresi, karena
terdapat ruangan yang terisi oleh hematome dan cairan. Luka degloving
yang tertutup terjadi jika ada kekuatan shear dengan energi yang cukup
dalam waktu yang singkat sehingga kulit tidak terkelupas. Tapi
didalamnya kadang dapat terjadi pemisahan antara jaringan dengan
pembuluh darah, hal ini menyebabkan bagian yang atas dari jaringan yang
terpisah menjadi nekrosis karena tidak mendapat aliran darah. Komplikasi
dari traksi dapat mengakibatkan trauma degloving luka tertutup pada kulit
sehingga dapat menyebabkan terjadinya lesi pada kulit. Hal ini mungkin
disebabkan oleh usia lanjut dan kulit yang lemah. Jadi pada trauma
degloving tertutup jaringan subkutan terlepas dari jaringan dibawahnya,
sedang bagian luar atau permukaan kulit tanpa luka atau ada luka dengan
ukuran yang kecil.
2. Trauma degloving dengan luka terbuka.
Trauma degloving ini terjadi akibat trauma pada tubuh yang
menyebabkan jaringan terpisah. Gambarannya berupa terangkatnya kulit

dari jaringan dibawahnya disertai dengan luka yang terbuka. Ini


merupakan trauma degloving dengan luka terbuka.
E. Gambaran Klinis
Terkelupasnya lapisan kutis dan subkutis dari jaringan dibawahnya,
dapat juga masih terdapat bagian dari kulit yang melekat, ini terjadi pada
trauma degloving terbuka. Gejala klinik yang lain dapat pula ditemukan
gambaran

permukaan kulit yang normal atau dapat disertai dengan

echimosis, ini terjadi pada trauma degloving tertutup (Smeltzer & Bare,
2002).
F. Penanganan
Jika terjadi kehilangan jaringan yang luas dapat terjadi syok dilakukan
penanganan dari syok. Penanganan dari trauma degloving ini berupa kontrol
perdarahan dengan membungkusnya dengan kassa steril pada luka dan
sekitar luka, debridement luka dan dilakukan amputasi bila jaringan tersebut
nekrosis. Trauma degloving seharusnya di lakukan pencucian atau
debridemen dari benda asing dan jaringan nekrotik juga dilakukan penutupan
dari luka. Bila lukanya kotor maka dilakukan perawatan secara terbuka
sehingga terjadi penyembuhan secara sekunder, lukanya bersih dilakukan
penutupan luka primer
Pada trauma degloving tertutup sering tidak diketahui, dimana tidak
terdapat luka pada kulit, yang mana jaringan subkutan terlepas dari jaringan
dibawahnya, menimbulkan suatu rongga yang berisi hematoma dan cairan.
Pada degloving tertutup ini dapat dilakukan aspirasi dari hematome atau insisi
kecil selanjutnya dilakukan perban kompresi. Insisi dan aspirasi untuk
mengeluarkan darah dan lemak nekrosis, volume yang dievakuasi antara 15 -800 ml
( rata-rata 120 ml ).
Sedang pada trauma degloving dengan luka terbuka, yang mana terdapat avulsi
dari kulit, dilakukan pencucian dari jaringan tersebut yaitu debridement dari
benda asing dan jaringan nekrotik. Pada luka yang kotor atau infeksi
dilakukan rawat terbuka sehingga terjadi penyembuhan secara sekunder. Kulit
dari degloving luka yang terbuka dapat dikembalikan pada tempatnya seperti
skin graft dan dinilai tiap hari ,keadaan dari kulit tersebut. Jika kulit menjadi

nekrotik, maka dilakukan debridemen dan luka ditutup secara split thickness
skin graft.
Terapi degloving yang sekarang dipakai adalah Dermal Regeneration
Template (DRT), yaitu pembentukan neodermis dengan cara Graft Epidermal.
Adapun tekniknya berupa Full Thickness Skin Graft (FTSG), Split Thickness
Skin Graft (STSG) , Pedical Flap atau Mikrovascular Free Flap. Penggunaan
DRT merupakan terapi terbaik untuk trauma degloving dan juga dapat
dipertimbangkan sebagai terapi, jika terdapat kehilangan jaringan sekunder
yang bisa menyebabkan avulsi.
Sebelum dilakukan FTSG dan STSG, diperlukan tindakan berupa
mempersiapkan daerah luka dengan Vacum Assisted Closure ( VAC ). Tiga
minggu setelah terapi VAC, maka pada daerah luka terjadi revascularisasi
disertai dengan terbentuknya jaringan granulasi sehingga siap untuk di graft.
Biasanya pada degloving yang luas, terjadi drainase yang berlebihan, resiko kontaminasi
bakteri yang luas dan cenderung menyebabkan luka yang avaskuler . Ketiga hal
tersebut mengakibatkan sukar sembuh pada luka yang telah dilakukan skin
graft. Oleh karena itu dengan VAC diharapkan drainase lebih terkontrol,
kontaminasi bakteri menurun serta terjadi stimulasi jaringan granulasi pada
dasar luka (Muttakin, 2008).
G. Prognosis
Bagian yang hilang pada degloving tidak dapat tumbuh kembali .Jika
terjadi kehilangan jaringan yang minimal, biasanya akan mengering dan
sembuh sendiri (Price & Wilson, 2012).
II. PROSES PENYEMBUHAN LUKA
Penyembuhan luka merupakan suatu proses yang kompleks, yang
melibatkan respons vaskular, aktivitas seluler dan substansi mediator di daerah
luka. Setiap proses penyembuhan luka akan melalui 3 tahapan yang dinamis,
saling terkait dan berkesinambungan serta tergantung pada jenis dan derajat
luka. Dalam keadaan normal, proses penyembuhan luka mengalami 3 tahap
atau fase yaitu:
1. Fase inflamasi
Fase ini terjadi sejak terjadinya luka hingga sekitar hari kelima.
Dalam fase inflamasi terjadi respons vaskular dan seluler yang terjadi akibat
6

luka atau cedera pada jaringan yang bertujuan untuk menghentikan


perdarahan dan membersihkan daerah luka dari benda asing, sel-sel mati
dan bakteri.
Pada awal fase inflamasi, terputusnya pembuluh darah akan
menyebabkan perdarahan dan tubuh akan berusaha untuk menghentikannya
(hemostasis), dimana dalam proses ini terjadi:
Konstriksi pembuluh darah (vasokonstriksi)
Agregasi (perlengketan) platelet/trombosit dan pembentukan jala-jala
fibrin
Aktivasi serangkaian reaksi pembekuan darah.
Proses tersebut berlangsung beberapa menit dan kemudian diikuti
dengan peningkatan permeabilitas kapiler sehingga cairan plasma
darah keluar dari pembuluh darah, penyebukan sel radang, disertai
vasodilatasi (pelebaran pembuluh darah) setempat yang menyebabkan
edema (pembengkakan). Selain itu juga terjadi rangsangan terhadap
ujung saraf sensorik pada daerah luka. Sehingga pada fase ini dapat
ditemukan tanda-tanda inflamasi atau peradangan seperti kemerahan,
teraba hangat, edema, dan nyeri. Aktivitas seluler yang terjadi berupa
pergerakan sel leukosit (sel darah

putih) ke lokasi luka dan

penghancuran bakteri dan benda asing dari luka oleh leukosit.


2. Fase proliferasi
Fase proliferasi disebut juga fase fibroplasia, yang berlangsung sejak
akhir fase inflamasi sampai sekitar akhir minggu ketiga. Pada fase ini, sel
fibroblas berproliferasi (memperbanyak diri). Fibroblas menghasilkan
mukopolisakarida, asam amino dan prolin yang merupakan bahan dasar
kolagen yang akan mempertautkan tepi luka. Fase ini dipengaruhi oleh
substansi yang disebut growth factor
.

Pada fase ini terjadi proses:


Angiogenesis
Yaitu proses pembentukan kapiler baru untuk menghantarkan nutrisi
dan oksigen ke daerah luka. Angiogenesis distimulasi oleh suatu
growth factor yaitu TNF-alpha2 (Tumor Necrosis Factor alpha 2).
7

Granulasi
yaitu pembentukan jaringan kemerahan yang mengandung kapiler pada dasar
luka dengan permukaan yang berbenjol halus (jaringan granulasi).
Kontraksi
Pada fase ini, tepi-tepi luka akan tertarik ke arah tengah luka yang
disebabkan oleh kerja miofibroblas sehingga mengurangi luas luka.
Proses ini kemungkinan dimediasi oleh TGF-beta (Transforming
Growth Factor-beta).
Re-epitelisasi
Proses re-epitelisasi merupakan proses pembentukan epitel baru pada
permukaan luka. Sel-sel epitel bermigrasi dari tepi luka mengisi
permukaan luka. EGF (Epidermal Growth Factor ) berperan utama
dalam proses ini.
Fase maturasi atau remodelling
Fase ini terjadi sejak akhir fase proliferasi dan dapat berlangsung
berbulan-bulan. Tujuan dari fase maturasi adalah menyempurnakan
terbentuknya jaringan baru menjadi jaringan yang lebih kuat dan
berkualitas. Pembentukan kolagen yang telah dimulai sejak fase
proliferasi akan dilanjutkan pada fase maturasi menjadi kolagen
yang lebih matang.
Pada fase ini terjadi penyerapan kembali sel-sel radang,
penutupan dan penyerapan kembali kapiler baru serta pemecahan
kolagen yang berlebih. Selama proses ini jaringan parut yang semula
kemerahan dan tebal akan berubah menjadi jaringan parut yang
pucat dan tipis. Pada fase ini juga terjadi pengerutan maksimal pada
luka.
Selain pembentukan kolagen juga akan terjadi pemecahan
kolagen oleh enzim kolagenase. Untuk mencapai penyembuhan yang
optimal diperlukan keseimbangan antara kolagen yang diproduksi dengan yang
dipecah. Kolagen yang berlebihan akan menyebabkan terjadinya
penebalan jaringan parut atauhypertrophic scar , sebaliknya

produksi kolagen yang berkurang akan menurunkan kekuatan jaringan parut


dan luka tidak akan menutup dengan sempurna.

KONSEP
ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan dalam proses
keperawatan, untuk itu diperlukan kecermatan dan ketelitian tentang masalahmasalah klien sehingga dapat memberikan arah terhadap tindakan
keperawatan. Keberhasilan proses keperawatan sangat bergantuang pada tahap
ini. Tahap ini terbagi atas: (Taylor & Ralph, 2012).
1. Pengumpulan Data
a. Anamnesa
1) Identitas Klien

Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa


yang dipakai, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, asuransi,
golongan darah, no. register, tanggal masuk rumah sakit, diagnosa
medis.
2) Keluhan Utama
Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah
rasa nyeri. Nyeri tersebut bisa akut atau kronik tergantung dan
lamanya serangan. Untuk memperoleh pengkajian yang lengkap
tentang rasa nyeri klien digunakan:
a) Provoking Incident: apakah ada peristiwa yang menjadi faktor
memperberat dan faktor yang memperingan/ mengurangi nyeri
b) Quality of Pain: seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau
digambarkan klien. Apakah seperti terbakar, berdenyut, atau
menusuk.
c) Region : radiation, relief: apakah rasa sakit bisa reda, apakah
rasa sakit menjalar atau menyebar, dan dimana rasa sakit
terjadi.
d) Severity (Scale) of Pain: seberapa jauh rasa nyeri yang
dirasakan klien, bisa berdasarkan skala nyeri atau klien
menerangkan

seberapa

jauh

rasa

sakit

mempengaruhi

kemampuan fungsinya.
e) Time: berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah
bertambah buruk pada malam hari atau siang hari.
3) Riwayat Penyakit Sekarang
Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab
dari skin degloving, yang nantinya membantu dalam membuat
rencana tindakan terhadap klien. Ini bisa berupa kronologi
terjadinya penyakit tersebut sehingga nantinya bisa ditentukan
kekuatan yang terjadi dan bagian tubuh mana yang terkena. Selain
itu, dengan mengetahui mekanisme terjadinya kecelakaan bisa
diketahui luka kecelakaan yang lain

10

4) Riwayat Penyakit Dahulu


Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab
skin degloving dan memberi petunjuk berapa lama tulang tersebut
akan menyambung. Penyakit-penyakit tertentu seperti kanker
tulang yang menyebabkan fraktur patologis yang sering sulit untuk
menyambung. Selain itu, penyakit diabetes dengan luka di kaki
sangat beresiko terjadinya osteomyelitis akut maupun kronik dan
juga diabetes menghambat proses penyembuhan tulang
5) Riwayat Penyakit Keluarga
Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit
tulang merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya skin
degloving, seperti diabetes, osteoporosis yang sering terjadi pada
beberapa keturunan, dan kanker tulang yang cenderung diturunkan
secara genetik.
6) Riwayat Psikososial
Merupakan respons emosi klien terhadap penyakit yang
dideritanya dan peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta
respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-harinya baik
dalam keluarga ataupun dalam masyarakat
b. Pola-Pola Fungsi Kesehatan
1) Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat
Pada kasus skin degloving akan timbul ketidakadekuatan
akan terjadinya kecacatan pada dirinya dan harus menjalani
penatalaksanaan

kesehatan

untuk

membantu

penyembuhan

kulitnya. Selain itu, pengkajian juga meliputi kebiasaan hidup klien


seperti penggunaan obat steroid yang dapat mengganggu
metabolisme

kalsium,

pengkonsumsian

alkohol

yang

bisa

mengganggu keseimbangannya dan apakah klien melakukan


olahraga atau tidak
2) Pola Nutrisi dan Metabolisme

11

Pada klien skin degloving harus mengkonsumsi nutrisi


melebihi kebutuhan sehari-harinya seperti kalsium, zat besi,
protein, vit. C dan lainnya untuk membantu proses penyembuhan
kulit dan tulang. Evaluasi terhadap pola nutrisi klien bisa
membantu menentukan penyebab masalah muskuloskeletal dan
mengantisipasi komplikasi dari nutrisi yang tidak adekuat terutama
kalsium atau protein dan terpapar sinar matahari yang kurang
merupakan faktor predisposisi masalah muskuloskeletal terutama
pada lansia. Selain itu juga obesitas juga menghambat degenerasi
dan mobilitas klien.
3) Pola Eliminasi
Untuk kasus multiple ftaktur dan skin degloving, misalnya
fraktur humerus dan fraktur tibia tidak ada gangguan pada pola
eliminasi, tapi walaupun begitu perlu juga dikaji frekuensi,
konsistensi, warna serta bau feces pada pola eliminasi alvi.
Sedangkan pada pola eliminasi uri dikaji frekuensi, kepekatannya,
warna, bau, dan jumlah. Pada kedua pola ini juga dikaji ada
kesulitan atau tidak.
4) Pola Tidur dan Istirahat
Semua klien skin degloving timbul rasa nyeri, keterbatasan
gerak, sehingga hal ini dapat mengganggu pola dan kebutuhan
tidur klien. Selain itu juga, pengkajian dilaksanakan pada lamanya
tidur, suasana lingkungan, kebiasaan tidur, dan kesulitan tidur serta
penggunaan obat tidur.
5) Pola Aktivitas
Karena timbulnya nyeri, keterbatasan gerak, maka semua
bentuk kegiatan klien, seperti memenuhi kebutuhan sehari hari
menjadi berkurang. Misalnya makan, mandi, berjalan sehingga
kebutuhan klien perlu banyak dibantu oleh orang lain.
6) Pola Hubungan dan Peran

12

Klien akan kehilangan peran dalam keluarga dan dalam


masyarakat. Karena klien harus menjalani rawat inap, klien
biasanya

merasa

rendah

diri

terhadap

perubahan

dalam

penampilan, klien mengalami emosi yang tidak stabil.


7) Pola Persepsi dan Konsep Diri
Dampak yang timbul pada klien skin degloving yaitu timbul
ketidakutan akan kecacatan akibat kerusakan kulitnya, rasa cemas,
rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara optimal,
dan gangguan citra diri.
8) Pola Sensori dan Kognitif
Pada klien skin degloving daya rabanya berkurang terutama
pada bagian distal fraktur, sedang pada indera yang lain tidak
timbul gangguan. begitu juga pada kognitifnya tidak mengalami
gangguan. Selain itu juga, timbul rasa nyeri akibat skin degloving.
9) Pola Reproduksi Seksual
Dampak pada klien skin degloving yaitu, klien tidak bisa
melakukan hubungan seksual karena harus menjalani rawat inap
dan keterbatasan gerak serta rasa nyeri yang dialami klien.
10) Pola Penanggulangan Stress
Pada klien skin degloving timbul rasa cemas tentang
keadaan dirinya, yaitu ketidakutan timbul kecacatan pada diri dan
fungsi tubuhnya. Mekanisme koping yang ditempuh klien bisa
tidak efektif
11) Pola Tata Nilai dan Keyakinan
Untuk klien skin degloving tidak dapat melaksanakan
kebutuhan beribadah dengan baik terutama frekuensi dan
konsentrasi. Hal ini bisa disebabkan karena nyeri dan keterbatasan
gerak klien.
2. Pemeriksaan Fisik

13

Dibagi menjadi dua, yaitu pemeriksaan umum (status generalisata)


untuk mendapatkan gambaran umum dan pemeriksaan setempat (lokalis).
Hal ini perlu untuk dapat melaksanakan total care karena ada
kecenderungan dimana spesialisasi hanya memperlihatkan daerah yang
lebih sempit tetapi lebih mendalam.
a. Gambaran Umum
Perlu menyebutkan:
1) Keadaan umum: baik atau buruknya yang dicatat adalah tandatanda, seperti:
2) Kesadaran penderita:
a) Composmentis: berorientasi segera dengan orientasi sempurna
b) Apatis : terlihat mengantuk tetapi mudah dibangunkan dan
pemeriksaan penglihatan , pendengaran dan perabaan normal
c) Sopor: dapat dibangunkan bila dirangsang dengan kasar dan
terus menerus
d) Koma: tidak ada respon terhadap rangsangan
e) Somnolen: dapat dibangunkan bila dirangsang dapat disuruh
dan menjawab pertanyaan, bila rangsangan berhenti pasien
tidur lagi.
3) Kesakitan, keadaan penyakit: akut, kronik, ringan, sedang, berat
dan pada kasus fraktur biasanya akut, spasme otot, dan hilang rasa.
4) Tanda-tanda vital tidak normal karena ada gangguan baik fungsi
maupun bentuk.
5) Neurosensori, seperti kesemutan, kelemahan, dan deformitas.
6) Sirkulasi, seperti hipertensi (kadang terlihat sebagai respon
nyeri/ansietas), hipotensi ( respon terhadap kehilangan darah),
penurunan nadi pada bagian distal yang cidera, capilary refil
melambat, pucat pada bagian yang terkena, dan masa hematoma
pada sisi cedera.
7) Keadaan Lokal
Pemeriksaan pada sistem muskuloskeletal adalah sebagai berikut :

14

a) Look (inspeksi).
Perhatikan apa yang dapat dilihat antara lain sebagai
berikut :
(1) Sikatriks (jaringan parut baik yang alami maupun buatan
seperti bekas operasi).
(2) Fistula warna kemerahan atau kebiruan (livide) atau
hyperpigmentasi.
(3) Benjolan, pembengkakan, atau cekungan dengan hal-hal
yang tidak biasa (abnormal)
(4) Posisi dan bentuk dari ekstrimitas (deformitas)
(5) Posisi jalan (gait, waktu masuk ke kamar periksa)
b) Feel (palpasi)
Pada waktu akan palpasi, terlebih dahulu posisi penderita
diperbaiki mulai dari posisi netral (posisi anatomi). Pada
dasarnya ini merupakan pemeriksaan yang memberikan
informasi dua arah, baik pemeriksa maupun klien. Yang perlu
dicatat adalah:
(1) Perubahan suhu disekitar trauma (hangat) dan kelembaban
kulit. Capillary refill time Normal (3 5) detik
(2) Apabila ada pembengkakan, apakah terdapat fluktuasi atau
oedema terutama disekitar persendian
(3) Nyeri tekan (tenderness), krepitasi, catat letak kelainan
(1/3 proksimal, tengah, atau distal)
(4) Otot: tonus pada waktu relaksasi atau kontraksi, benjolan
yang terdapat di permukaan atau melekat pada tulang.
Selain itu juga diperiksa status neurovaskuler. Apabila ada
benjolan, maka sifat benjolan perlu dideskripsikan
permukaannya, konsistensinya, pergerakan terhadap dasar
atau permukaannya, nyeri atau tidak, dan ukurannya.
(5) Kekuatan otot (Carpenito, 1999) :
1

= otot tidak dapat berkontraksi

15

= kontraksi sedikit dan ada tekanan waktu jatuh

= mampu menahan gravitasi tapi dg sentuhan jatuh

= kekuatan otot kurang

= kekuatan otot utuh (5).

c) Move (pergerakan terutama lingkup gerak)


Setelah

melakukan

pemeriksaan

feel,

kemudian

diteruskan dengan menggerakan ekstrimitas dan dicatat apakah


terdapat keluhan nyeri pada pergerakan. Pencatatan lingkup
gerak ini perlu, agar dapat mengevaluasi keadaan sebelum dan
sesudahnya. Gerakan sendi dicatat dengan ukuran derajat, dari
tiap arah pergerakan mulai dari titik 0 (posisi netral) atau dalam
ukuran metrik. Pemeriksaan ini menentukan apakah ada
gangguan gerak (mobilitas) atau tidak. Pergerakan yang dilihat
adalah gerakan aktif dan pasif. (Arif Muttaqin, 2008 )
3. Pemeriksaan Diagnostik
a. Pemeriksaan Radiologi
Sebagai

penunjang,

pemeriksaan

yang

penting

adalah

pencitraan menggunakan sinar rontgen ( Sinar-X ). Untuk


mendapatkan gambaran 3 dimensi keadaan dan kedudukan jaringan
kulit dan sub kutis yang sulit. Dalam keadaan tertentu diperlukan
proyeksi tambahan (khusus) ada indikasi untuk memperlihatkan
pathologi yang dicari karena adanya superposisi. Perlu disadari bahwa
permintaan Sinar-X harus atas dasar indikasi kegunaan. Pemeriksaan
penunjang dan hasilnya dibaca sesuai dengan permintaan. Hal yang
harus dibaca pada Sinar-X mungkin dapat di perlukan teknik khusus,
seperti hal-hal sebagai berikut (Muttakin, 2008)
1) Tomografi: menggambarkan tidak satu struktur saja tapi struktur
yang lain tertutup yang sulit divisualisasi. Pada kasus ini
ditemukan kerusakan struktur yang kompleks dimana tidak pada
satu struktur saja tapi pada struktur lain juga mengalaminya.

16

2) Myelografi: menggambarkan cabang-cabang saraf spinal dan


pembuluh darah di ruang tulang vertebrae yang mengalami
kerusakan akibat trauma.
3) Arthrografi: menggambarkan jaringan-jaringan ikat yang rusak
karena ruda paksa.
4) Computed Tomografi-Scanning: menggambarkan potongan secara
transversal dari tulang dimana didapatkan suatu struktur tulang
yang rusak.
b. Pemeriksaan Laboratorium
1) Kalsium Serum dan Fosfor Serum meningkat pada tahap
penyembuhan tulang.
2) Alkalin Fosfat meningkat pada kerusakan tulang dan menunjukkan
kegiatan osteoblastik dalam membentuk tulang. Enzim otot seperti
Kreatinin Kinase, Laktat Dehidrogenase (LDH-5), Aspartat Amino
Transferase (AST), Aldolase yang meningkat pada tahap
penyembuhan tulang
3) Hematokrit dan leukosit akan meningkat
c. Pemeriksaan lain-lain
1) Pemeriksaan

mikroorganisme

kultur

dan

test

sensitivitas:

didapatkan mikroorganisme penyebab infeksi.


2) Biopsi tulang dan otot: pada intinya pemeriksaan ini sama dengan
pemeriksaan diatas tapi lebih diindikasikan bila terjadi infeksi.
3) Elektromyografi:

terdapat

kerusakan

konduksi

saraf

yang

diakibatkan fraktur.
4) Arthroscopy: didapatkan jaringan ikat yang rusak atau sobek
karena trauma yang berlebihan.
5) Indium Imaging: pada pemeriksaan ini didapatkan adanya infeksi
pada tulang.
6) MRI: menggambarkan semua kerusakan akibat fraktur.

17

B. Diagnose Keperawatan
Adapun diagnosa keperawatan yang lazim dijumpai pada klien skin
degloving adalah sebagai berikut: (Wilikson & Ahern, 2012).
1. Nyeri akut berhubungan dengan spasme otot, gerakan fragmen tulang,
edema, cedera jaringan lunak, kerusakan jaringan kulit, stress/ansietas.
2. Risiko infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan primer
(kerusakan kulit, taruma jaringan lunak, prosedur invasif)
3. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan rangka
neuromuskular, nyeri, terapi restriktif (imobilisasi)
4. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan kerusakan kulit akibat
cidera.
5. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan neuromuskular,
penurunan kekuatan dan kesadaran, serta kehilangan kontrol otot.
6. Risiko disfungsi neurovaskuler perifer berhubungan dengan penurunan
aliran darah (cedera vaskuler, edema, pembentukan trombus)
7. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan ketidakadekuatan
intake dan output cairan.
8. Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan asupan nutrisi
tidak adekuat.
9. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan
berhubungan dengan kurang terpajan atau salah interpretasi terhadap
informasi, keterbatasan kognitif, kurang akurat/lengkapnya informasi yang
ada.

18

Daftar Pustaka

Muttakin, A. (2008). Buku ajar sistem muskuloskeletal. Jakarta: Salemba Medika.


Price, S. A., & Wilson, L. M. (2012). Patofisiologi konsep klinis proses-proses
penyakit volume 1 edisi 6. Jakarta: EGC.
Smeltzer, S. C., & Bare, B. G. (2002). Buku ajar keperawatan medikal bedah.
Jakarta: EGC.
Taylor, C. M., & Ralph, S. S. (2012). Diagnosis keperawatan dengan rencana
asuhan edisi 10. Jakarta: EGC.
Wilikson, J. M., & Ahern, N. R. (2012). Buku saku diagnosis keperawatan edisi 9.
Jakarta: EGC.
Zairin. (2011). Buju ajar gangguan muskuloskeletal. Jakarta: Salemba Medika.

19

Anda mungkin juga menyukai