Anda di halaman 1dari 9

NAMA

: ADITIANISA AZKA AULIA

NIM

: 1513031

MATA KULIAH

: SATUAN OPERASI 3

Teori Dasar Destilasi


Destilasi didefinisikan sebagai sebuah proses dimana campuran dua atau
lebih zat liquid atau vapor dipisahkan menjadi komponen fraksi yang murni, dengan
pengaplikasian dari perpindahan massa dan panas.

Gambar 1. Gambaran umum destilasi


II. TEORI PRINSIP DISTILASI
Pemisahan komponen-komponen dari campuran liquid melalui destilasi
bergantung pada perbedaan titik didih masing-masing komponen. Juga bergantung
pada konsentrasi komponen yang ada. Campuran liquid akan memiliki karakteristik
titik didih yang berbeda.
Tekanan uap suatu liquid pada temperatur tertentu adalah tekanan
keseimbangan yang dikeluarkan oleh molekul-molekul yang keluar dan masuk pada
permukaan liquid. Berikut adalah hal-hal penting berkaitan dengan tekanan uap :
a. Input energi menaikkan tekanan uap
b. Tekanan uap berkaitan dengan proses mendidih
c. Liquid dikatakan mendidih ketika tekanan uapnya sama dengan tekanan udara
sekitar.
d. Mudah atau tidaknya liquid untuk mendidih bergantung pada volatilitasnya.
e. Liquid dengan tekanan uap tinggi (mudah menguap) akan mendidih pada temperatur

yang lebih rendah.


f. Tekanan uap dan titik didih campuran liquid bergantung pada jumlah relatif
komponen-komponen dalam campuran.
g. Destilasi terjadi karena perbedaan volatilitas komponen-komponen dalam campuran
liquid.

Gambar 2. Tower destilasi


Secara fundamental semua proses-proses distilasi dalam kilang minyak bumi
adalah sama. Semua proses distilasi memerlukan beberapa peralatan yang penting
seperti Kondensor dan Cooler, Menara Fraksionasi, Kolom Stripping.
Proses pemisahan secara distilasi dengan mudah dapat dilakukan terhadap
campuran, dimana antara komponen satu dengan komponen yang lain terdapat dalam
campuran :
a.

Dalam keadaan standar berupa cairan, saling melarutkan menjadi campuran

homogen.
b.

Mempunyai sifat penguapan relatif () cukup besar.

c. Tidak membentuk cairan azeotrop.


Keseimbangan Uap Cair
Tiga macam diagram keseimbangan yang akan dibicarakan, yaitu :
a. Diagram Titik didih
Diagram titik didih adalah diagram yang menyatakan hubungn antara temperatur
atau titik didih dengan komposisi uap dan cairan yang berkeseimbangan. Di dalam
diagram titik didih tersebut terdapat dua buah kurva, yaitu kurva cair jenuh dan uap

jenuh. Kedua kurva ini membagi daerah didalam diagram menjadi 3 bagian, yaitu :
1. Daerah satu fase yaitu daerah cairan yang terletak dibawah kurva cair jenuh.
2. Daerah satu fase yaitu daerah yang terletak datas kurva uap jenuh.
3. Daerah dua fase yaitu daerah uap jenuh dan cair jenuh yang terletak di antara kurva
cair jenuh dan kurva uap jenuh.
b. Diagram Keseimbangan uap-cair
Diagram keseimbangan uap-cair adalah
diagram yang menyatakan hubungan keseimbangan antara komposisi uap dengan
komposisi cairan. Diagram keseimbangan uap-cair dengan mudah dapat digambar,
jika tersedia titik didihnya.
c. Diagram Entapi-komposisi
Diagram entalpi-komposisi adalah diagram yang menyatakan hubungan antara
entalpi dengan komposisi sesuatu sistim pada tekanan tertentu. Didalam diagram
tersebut terdapat dua buah kurva yaitu kurva cair jenuh dan kurva uap jenuh. Setiap
titik pada kurva cair jenuh dihubungkan dengan gari hubung tie line dengan titik
tertentu pada kurva uap jenuh, dimana titik-titik tersebut dalam keadaan
keseimbangan. Dengan adanya kedua kurva tersebut, daerah didalam diagram
terbagi menjadi 3 daerah, yaitu
Daerah cairan yang terletak dibawah kurva cair jenuh.
Daerah uap yang terletak diatas kurva uap jenuh.
Daerah cair dan uap yang terletak diantara kurva cair jenuh dengan kurva uap jenuh
Dibawah kurva cair jenuh terdapat isoterm-isoterm yang menunjukkan entalpi cairan
pada berbagai macam komposisi pada berbagai temperatur.
Klasifikasi Destilasi
Distilasi berdasarkan prosesnya terbagi menjadi dua, yaitu :
1. Distilasi kontinyu
2. Distilasi batch
Berdasarkan basis tekanan operasinya terbagi menjadi tiga, yaitu :
1.Distilasi atmosferis (0,4-5,5 atm mutlak)
2. Distilasi vakum ( 300 mmHg pada bagian atas kolom)
3. Distilasi tekanan ( 80 psia pada bagian atas kolom)
Berdasarkan komponen penyusunnya :
1.Distilasi sistem biner
2.Distilasi sitem multi komponen

Berdasarkan sistem operasinya terbagi dua, yaitu :


1.Single-stage Distillation
2.Multi stage Distillation
Umumnya Distilasi juga dapat dibedakan sebagai berikut :
1.Destilasi Kilat (Flash Destilation)
Destilasi kilat merupakan destilasi continue (steady state) satu tahap tanpa
refluks. Destilasi kilat ini terdiri dari penguapan sebagian dari suatu zat cair
sedemikian rupa sehingga uap yang keluar berada dalam keseimbangan dengan zat
cair yang tersisa. Uap tersebut dipisahkan dari zat cair dan dikondensasikan.
Destilasi ini digunakan untuk memisahkan komponen-koponen yang memiliki titik
didih yang berbeda. Destilasi ini tidak efektif untuk memisahkan komponenkomponen yang volatilitasnya sebanding.
2. Destilasi Continue dengan Refluks (Rektifikasi)

Gambar 3. . Neraca Bahan Plate n


Dari gambar 3 terlihat di dalam kolom terdapat plate ideal. Jika plate ini
diberi nomor dari atas ke bawah maka plate acuan adalah plate ke-n dari puncak, di
atasnya adalah plate ke-n-1 dan di bawahnya adalah plate ke-n+1.
Ada dua arus fluida yang masuk ke plate ke-1 dan dua arus keluar, yaitu arus
zat cair Ln-1 mol/jam dari plate ke-n-1 dan arus uap Vn-1 mol/jam dari plate ke-n+ 1
yang mengalami kontak akrab di plate ke-n:
a. Uap keluar dari plate, Yn
b. Zat cair yang keluar dari plate, Xn
c. Uap masuk ke plate, Yn+1
d. Zat cair masuk ke plate, Xn+1

Gambar 4. proses Distilasi


3. Distilasi Vakum
Distilasi vakum adalah distilasi yang tekanan operasinya 0,4 atm (300 mmHg
absolut). Distilasi yang dilakukan dalam tekanan operasi ini biasanya karena
beberapa alasan yaitu :

Gambar 5. Diagram Titik Didih


Gambar 5 menunjukkan titik didih campuran yang diolah, dan keempat
konsentrasi yang disebutkan di atas tergambar pada diagram tersebut. Uap dan zat
cair yang keluar dari plate ke-n berada dalam kesetimbangan, sehingga Xn dan Yn
merupakan konsentrasi kesetimbangan. Bila uap yang keluar dari plate ke-n+1 dan
zat cair dari plate ke-n-1 dikontakkan secara akrab, konsentrasinya cenderung
bergerak kearah keadaan setimbang. Arus zat cair berada pada titik gelembung
(bubble point), sedangkan arus uap berada pada pada titik embunnya (dew point),
sehingga kalor yang diperlukan untuk menguapkan komponen A harus didapat dari
kalor yang dibebaskan pada waktu kondensasi komponen B. Setiap plate berfungsi
sebagai piranti pertukaran pada saat komponen A.
III. PERANCANGAN KOLOM DISTILASI
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Operasi Kolom Destilasi

Kinerja kolom destilasi ditentukan oleh beberapa faktor, diantaranya :


1. Kondisi Feed (q)
a. Keadaan campuran dan komposisi feed
(q)

mempengaruhi garis operasi dan jumlah stage dalam pemisahan. Itu juga

mempengaruhi lokasi feed tray.


2. Kondisi Refluks
Pemisahan semakin baik jika sedikit tray yang digunakan untuk mendapatkan
tingkat pemisahan. Tray minimum dibutuhkan di bawah kondisi total refluks, yakni
tidak ada penarikan destilat. Sebaiknya refluks berkurang, garis operasi untuk seksi
rektifikasi bergerak terhadap garis kesetimbangan.
3. Kondisi Aliran Uap
Kondisi aliran uap yang merugikan dapat menyebabkan :
a. Foaming
Mengacu pada ekspansi liquid melewati uap
atau gas. Walaupun menghasilkan kontak antar fase liquid-uap yang tinggi, foaming
berlebihan sering mengarah pada terbentuknya liquid pada tray.
b. Entrainment
Mengacu pada liquid yang terbawa uap menuju tray di atasnya dan
disebabkan laju alir uap yang tinggi menyebabkan efisiensi tray berkurang.
Bahan yang sukar menguap terbawa menuju plate yang menahan liquid
dengan bahan yang mudah menguap. Dapat mengganggu kemurnian destilat.
Enterainment berlebihan dapat menyebabkan flooding.
c. Weeping/Dumping
Fenomena ini disebabkan aliran uap yang rendah. Tekanan yang dihasilkan
uap tidak cukup untuk menahan liquid pada tray. Karena itu liquid mulai merembes
melalui perforasi.
d. Flooding
Terjadi

karena

aliran

uap

berlebih menyebabkan liquid terjebak pada

uap di atas kolom. Peningkatan tekanan dari uap berlebih menyebabkan kenaikkan
liquid yang tertahan pada plate di atasnya.
Flooding ditandai dengan adanya penurunan tekanan diferensial dalam kolom
dan penurunan yang signifikan pada efisiensi pemisahan.
Jumlah tray aktual yang diperlukan untuk pemisahan khusus ditentukan oleh
efisiensi plate dan packing. Semua faktor yang menyebabkan penurunan efisiensi

tray juga akan mengubah kinerja kolom. Effisiensi tray dipengaruhi oleh fooling,
korosi, dan laju dimana ini terjadi bergantung pada sifat liquid yang diproses.
Material yang sesuai harus dipakai dalam pembuatan tray.
Dasar Peralatan Destilasi dan Pengoperasiannya
a. Komponen Utama Kolom Destilasi
Sebuah sistem destilasi umumnya mengandung beberapa komponen utama :
Sebuah Shell vertikal dimana pemisahan komponen liquid terjadi, terdapat pada
bagian dalam kolom (internal column) seperti tray atau plate dan packing yang
digunakan untuk meningkatkan derajat pemisahan komponen.
Sebuah Reboiler untuk menyediakan penguapan yang cukup pada proses destilasi.
Kondenser untuk mendinginkan dan mengkondensasikan uap yang keluar dari atas
kolom.
Reflux drum untuk menampung uap yang terkondensasi dari top kolom sehingga
liquid(reflux) dapat di recycle kembali ke kolom.
Gambaran unit destilasi dengan satu feed dan dua aliran produk adalah sebagai
berikut :

Gambar 6. Skema destilasi yang sederhana


b. Pengoperasian Destilasi
Campuran liquid yang akan diproses dikenal sebagai feed dan diinput pada bagian
tengah kolom pada sebuah tray yang dikenal sebagai feed tray. Feed tray dibagi
menjadi kolom atas (enriching or rectification) dan kolom bottom (stripping). Feed
mengalir ke bawah kolom dikumpulkan pada bagian bawah reboiler.

Gambar 7. Bottom destilasi


Panas di suplai ke reboiler untuk menghasilkan uap. Sumber panas dapat
berasal dari fluida, tetapi kebanyakan juga digunakan steam. Pada penguapan,
sumber panas di dapat dari aliran keluar dari kolom lain. Uap terbentuk pada reboiler
diinput kembali pada bagian bottom. Liquid dikeluarkan dari reboiler dikenal
sebagai produk bottom.

Gambar 8. Top destilasi


Uap bergerak ke atas kolom, didinginkan oleh kondensor. Liquid yang
dikondensasi ditampung pada vessel yang dikenal sebagai reflux drum. Sebagian
liquid di recycle kembali ke top yang dikenal reflux. Liquid yang terkondensasi
dikeluarkan dari sistem dikenal sebagai destilat atau produk top.
Type dari kolom destilasi berdasarkan tipe internal column
1. Tray dan Plate
Istilah tray dan plate adalah sama. Ada banyak tipe desain tray, tetapi yang
paling umum adalah:
a. Bubble cap tray
Bubble-cup biasanya didesain di atas plate pada sudut equilateral triangular, dengan
baris yang disesuaikan secara normal dengan arah aliran menyilang plate. Bubble
cap tray mempunyai tingkat-tingkat atau cerobong yang terpasang di atas hole
(lubang), dan sebuah cap yang menutupi tingkat-tingkat. Bubble cap tray
digunakan pada kondisi aliran rendah, di mana tray harus tetap basah, kecuali
kondisi bentuk polymer, coking, atau fouling yang tinggi.

Gambar 9.. Bubble cap tray


b. Valve Tray
Pada valve tray, perforasi (lubang-lubang kecil) ditutupi dengan valve yang mudah
dilepas. Uap naik melalui perforasi pada tray, bubble pada liquid berbentuk sama.
Valve yang terangkat menunjukkan uap mengalir horizontal ke dalam liquid, dengan
demikian menyediakan campuran yang mungkin terjadi dalam sieve tray.
c. Sieve Tray
Adalah plate metal sederhana dengan lubang diantaranya. Vapor lewat ke atas
melalui liquid pada plate. Jumlah
dan ukuran lubang menjadi parameter desain. Karena luas range operasi, kemudahan
perawatan, dan faktor biaya, kebanyakan aplikasinya sieve dan valve tray diganti
dengan bubble cup tray.

Gambar 11. Sieve Tray


2. Packing
Ada

kecenderungan

untuk

meningkatkan

pemisahan

dengan

penambahan

penggunaan tray dengan packing. Packing adalah peralatan pasif yang didesain
untuk meningkatkan kontak area interfacial uap-liquid.
Pemilihan Tipe Kolom Destilasi
Kolom destilasi yang digunakan yaitu tipe sieve tray dengan alasan:
a. tray ini lebih ringan dan sedikit mahal
b. lebih mudah dan murah dalam pemasangan dibanding dengan bubble cap
c. kapasitas uap dan liquid yang di-handle lebih besar
d. efisiensi peak lebih besar
e. pressure drop lebih rendah dibanding dengan bubble cap
f. biaya pemeliharaan berkurang karena konstruksinya lebih sederhana