Anda di halaman 1dari 5

Ruang OK 8 Bedah Thorax Cardiovascular

Central Operating Theater


RSUP. Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar

ASUHAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF


CIMINO (A-V SHUNT)
CHRONIC KIDNEY DISEASE STAGE V

Oleh:
IRSYANDI
C12108312
CI. INSTITUSI

CI. LAHAN

(........................................)
(........................................)

PROGRAM PROFESI NERS


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR

2012
A. Informasi Umum
Nama klien
Umur
Pendidikan
Pekerjaan
Agama
Status perkawinan
Alamat
Ruang perawatan
No. RM.
Diagnosa medis

:
:
:
:
:
:
:
:

Ny. A.M.
73 Tahun
S1
Pensiunan
: Islam
Kawin
: Makassar
PCC, VIP no.217
544376
CKD Stage V ec. PNC Bilateral

B. Pre Operatif
1. Pengkajian
a. Keadaan umum
Kesadaran
: Composmentis (GCS 15)
TD
: 180/80 mmHg
Nadi
: 96x/i
Pernafasan
: 24x/i
Suhu
: 36,9 OC
b. Integritas ego
Gejala
Faktor stres
: Rencana operasi
Tanda
Status emosional
: Cemas, takut
Respon fisiologik
: Menangis
2. Diagnosa keperawatan
Kecemasan berhubungan dengan rencana operasi.
3. Intervensi
Tujuan
: Setelah dilakukan tindakan keperawatan, rasa cemas klien
berkurang.
Intervensi :
a. Identifikasi tingkat kecemasan klien.
R : Rasa cemas yang berlebihan

atau

terus-menerus

akan

mengakibatkan reaksi sters yang berlebihan.


b. Catat ekspresi yang ditunjukkan klien.
R : Klien mugkin telah berduka terhadap kehilangan yang ditunjukkan
dengan antisipasi prosedur pembedahan.
c. Beritahu kepada klien tentang dilakukanya anastesi.
R : Mengurangi rasa cemas bahwa klien mungkin akan kerasakan
nyeri.
d. Beri dukungan spiritual.
R : Dapat mengurangi rasa cemas dengan mengingat sang pencipta.
4. Implementasi
a. Mengidentifikasi tingkat kecemasan klien.
Hasil
:
Klien mengatakan merasakan cemas.
b. Mencatat ekspresi yang ditunjukkan klien.
Hasil
:
Klien tampak mengerutkan wajah dan menangis.

c. Memberitahukan kepada klien tentang dilakukanya anastesi.


Hasil
:
Klien mengerti tentang tindakan anastesi yang akan dilakukan.
d. Memberikan dukungan spiritual.
Hasil
:
Kien tampak berzikir (berdoa).
5. Evaluasi
S
: Klien mengatakan merasakan cemas.
Klien mengerti tentang tindakan anastesi yang akan dilakukan.
O
: Klien tampak mengerutkan wajah dan menangis.
Kien tampak berzikir (berdoa) setelah diberi dukungan spiritual.
A
: Rasa cemas berkurang.
P
:C. Intra Operatif
1. Pengkajian
a. Keadaan umum
Kesadaran
: Composmentis (GCS 15)
TD
: 216/83 mmHg
Nadi
: 99x/i
b. Keamanan
Tanda
Integritas kulit
: Luka insisi pada daerah antebrachii dextra
2. Diagnosa keperawatan
Risiko infeksi dengan faktor risiko trauma jaringan.
3. Intervensi
Tujuan
: Setelah dilakukan tindakan aseptik, infeksi tidak terjadi.
Intervensi :
a. Tetap pada fasilitas kontrol infeksi, sterilisasi dan prosedur/kebijakan
aseptik.
R : Tetapkan mekanisme yang dirancang untuk mencegah infeksi.
b. Uji kesterilan semua peralatan.
R : Benda-benda yang dipaket mungkin tampak steril. Meskipun
demikian, setiap benda harus secara teliti diperiksa kesterilannya,
adanya kerusakan pada pemaketan, efek lingkungan pada paket dan
teknik pengiriman. Sterilisasi paket, tanggal kadaluarsa, nomor seri
harus didokumentasikan jika perlu.
c. Identifikasi gangguan pada teknik aseptik dan atasi dengan segera
pada waktu terjadi.
R : Kontaminasi

dengan

lingkungan/kontak

personal

akan

menyebabkan daerah yang steril menjadi tidak steril sehingga dapat


meningkatkan risiko infeksi.
d. Sediakan pembalut yang steril.
R : Mencegah kontaminasi lingkungan pada luka yang baru.
e. Lakukan irigasi luka yang banyak, misalnya salin, air, antibiotik atau
antiseptik.
R : Dapat digunakan dalam intra operasi untuk mengurangi jumlah
bakteri pada lokasi dan pembersihan luka debris.
4. Implementasi

a. Tetap pada fasilitas kontrol infeksi, sterilisasi dan prosedur/kebijakan


aseptik.
Hasil
:
Perawat instrumen dan operator dalam keadaan steril.
Instrumen yang digunakan dalam keadaan steril.
Tampak lokasi pembedahan didisinfeksi dengan antiseptik.
Tampak klien dipasangi doek untuk mempersempit area
operasi dan menutupi area yang tidak steril.
b. Menguji kesterilan semua peralatan.
Hasil
:
Peralatan bedah dalam keadaan steril yang masih tersegel.
Tidak tampak kerusakan dalam pemaketan.
c. Mengidentifikasi gangguan pada teknik aseptik dan atasi dengan
segera pada waktu terjadi.
Hasil
:
Tidak tampak terjadi kontaminasi dengan lingkungan luar yang
tidak steril.
d. Menyediakan pembalut yang steril.
Hasil
:
Perawat instrumen menyiapkan kasa steril di atas meja mayo.
e. Melakukan irigasi luka dengan larutan salin dan antiseptik.
Hasil
:
Tampak luka diirigasi dengan larutan NaCl 0,9% dan betadine
dengan menggunakan spoit.
5. Evaluasi
S
:O
: Perawat instrumen dan operator dalam keadaan steril.
Instrumen yang digunakan dalam keadaan steril.
Tampak lokasi pembedahan didisinfeksi dengan antiseptik.
Tampak klien dipasangi doek untuk mempersempit area operasi
dan menutupi
area yang tidak steril.
Peralatan bedah dalam keadaan steril yang masih tersegel.
Tidak tampak kerusakan dalam pemaketan.
Tidak tampak terjadi kontaminasi dengan lingkungan luar yang
tidak steril.
Perawat instrumen menyiapkan kasa steril di atas meja mayo.
Tampak luka diirigasi dengan larutan NaCl 0,9% dan betadine
dengan
menggunakan spoit.
A
: Infeksi tidak terjadi.
P
:D. Post Operatif
1. Pengkajian
a. Keadaan umum
Kesadaran
b. Keamanan
Tanda

: Composmentis (GCS 15)

Integritas kulit

: Luka insisi pada daerah antebrachii dextra,

adanya
jahitan pada luka.
2. Diagnosa keperawatan
Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan interupsi mekanis pada
kulit.
3. Intervensi
Tujuan
:

Setelah

dilakukan

tindakan

keperawatan,

terjadi

penyembuhan luka
tepat waktu..
Intervensi :
a. Tutup luka dengan balutan kasa dan plester kertas. Gunakan teknik
aseptik yang ketat.
R : Lindungi luka dari perlukaan mekanis dan kontaminasi. Mencegah
akumulasi cairan yang dapat menyebabkan ekskoriasi.
b. Ingatkan klien untuk tidak menyentuh daerah luka.
R : Mencegah kontaminasi luka.
4. Implementasi
a. Menutup luka dengan balutan kasa dan plester kertas. Menggunakan
teknik aseptik yang ketat.
Hasil
:
Luka ditutup dengan kasa kering yang steril dan plester kertas
(Hipafix).
b. Mengingatkan klien untuk tidak menyentuh daerah luka.
Hasil
:
Klien tidak menyentuh lukanya.
5. Evaluasi
S
:O
: Luka ditutup dengan kasa kering yang steril dan plester kertas
(Hipafix).
A
: Masalah belum teratasi.
P
: Pertahankan intervensi
Beri penguatan pada balutan awal, tutup dengan plester kertas.
Gunakan
teknik aseptik yang ketat.
Ingatkan klien untuk tidak menyentuh daerah luka.
Lanjutkan intervensi
Periksa luka secara teratur, catat karakteristik, integritas kulit dan
adanya
drainase.
Ganti balutan dengan sering dan bersihkan luka dengan larutan
salin.