Anda di halaman 1dari 7

SEJARAH RANJAU DI INDONESIA

Berdasarkan peta laut terbitan Dishidros TNI AL yang di adoptasi dari peta peninggalan
Belanda, di perairan Indonesia banyak ditemukan daerah ranjau. Daerah-daerah ranjau
tersebut diyakini merupakan peninggalan Jepang ketika menguasai Indonesia pada tahun
1942-1945. Benarkah di perairan utara Jawa banyak terdapat daerah ranjau peninggalan
Jepang, dan mengapa mereka melaksanakan peranjauan di daerah tersebut ?

Berdasarkan sejarah, pada akhir tahun 1941, Jepang melancarkan serangan besar-besaran ke
Pearl Harbor, Kepulauan Pasifik, Philipina, Hong Kong dan Malaysia. Kepulauan Jepang tidak
memiliki sumber minyak mentah, dan mereka tidak memiliki cadangan minyak yang cukup
untuk melanjutkan peperangan dalam waktu lama (Pada saat itu Jepang hanya memiliki
cadangan minyak untuk mendukung mesin-mesin perangnya selama satu tahun). Agar dapat
memenuhi kebutuhan minyak untuk mendukung kampanye perangnya, mereka harus dapat
menguasai Hindia Belanda (Indonesia) yang kaya akan minyak mentah.

Secara singkat, Jepang melancarkan aksi untuk menguasai Hindia Belanda dimulai pada
Desember 1941 dimulai melancarkan serangan dari utara untuk menguasai Borneo
(Kalimantan) Utara dan Sulawesi, melaksanakan pendaratan di Pulau Jawa setelah
memenangkan pertempuran Laut Jawa melawan Sekutu pada akhir Februari 1942 dan berhasil
menguasai Hindia Belanda pada Maret 1942.

Sesuai dengan tujuan Jepang untuk menguasai sumber-sumber minyak terutama di pulau
Jawa, saat pertama kali tentara Jepang mendarat di Rembang, yang menjadi sasaran adalah
galangan-galangan kapal Belanda di Sungai Lasem, yang berada di Kecamatan Lasem. Pada
saat itu, Sungai Lasem adalah pelabuhan dagang besar dan kemungkinan Jepang ingin
membawa minyak dari Cepu ke negaranya dengan kapal-kapal tanker melalui Pelabuhan
Lasem.

Dengan bantuan romusha, Jepang membangun tempat-tempat penimbunan minyak dalam


tanah di Cepu, mengangkut minyak mentah dengan kereta api menuju pelabuhan Lasem dan

mengolahnya menjadi bahan bakar untuk pesawat dan kendaraan bermotor. Jepang menyadari
betapa vitalnya kawasan sumber minyak di Pulau Jawa dan untuk melindunginya, selain
melatih para buruh perminyakan untuk berperang, mereka juga menyebar ranjau anti
pendaratan di sepanjang pesisir pulau Jawa dan memperkuat armada perangnya di pelabuhan
Lasem.

Selama Perang Dunia II, diperkirakan Jepang telah menyebar 50.000 ranjau di kawasan Pasifik
Barat, termasuk di perairan Indonesia, terutama didaerah-daerah yang dianggap vital dan
rawan serangan dari pihak Sekutu. Selain menggunakan Kapal Penyebar Ranjau (Mine Layer),
tercatat bahwa pada 18-19 Desember 1941, kapal selam I-123 Jepang melaksanakan
penyebaran ranjau di perairan Surabaya.
Selain Jepang, tercatat pula Belanda pernah melaksanakan peranjauan di laut Jawa dengan
kapal penyebar ranjau HNMS Gouden Leeuw (yang berakhir tragis dengan ditenggelamkan
oleh ABK kapalnya sendiri di Surabaya pada 7 Maret 1942 untuk mencegah tertangkap oleh
Jepang) yang menyebabkan kapal destroyer Royal Navy, HMS Jupiter menabrak ranjau dan
tenggelam pada tanggal 27 February 1942 pada saat mendukung sekutu selama Pertempuran
Laut Jawa. Dalam usaha merebut kembali Indonesia dari tangan Jepang, pada tanggal 3
Januari 1945, kapal selam Belanda O-19 berhasil melaksanakan operasi peranjauan di perairan
timur pulau Bawean. Mengenai adanya medan ranjau di Perairan Utara Jawa, berdasarkan data
yang diperoleh walaupun pada tahun 1945, Kerajaan Jepang mengerahkan 350 kapal dan
25.000 personel untuk melaksanakan operasi penyapuan ranjau di kawasan Pasifik Barat
(termasuk Indonesia) namun diyakini masih banyak tertanam ranjau-ranjau peninggalan Jepang
dan juga Belanda di perairan Indonesia, terutama di perairan Utara Jawa.

Lalu bagaimana mengatasinya?

Satuan Ranjau di TNI AL berdiri sejak tanggal 01 Juli 1952 berdasarkan Skep Kasal No.A5/3/23 tanggal 21 Agustus 1952 dengan nama Dinas Ranjau Angkatan Laut Indonesia yang
dipimpin Kepala Dinas Ranjau yang berkedudukan di Surabaya. Pada tahun 1953 namanya
diubah menjadi Flotila Penyapu Ranjau berdasarkan Skep Kasal No.R/5/3/23 tanggal 24
Agustus 1953. Selanjutnya pada tahun 1959 berdasarkan Skep Kasal No.A-4/2/10 tanggal 14

September 1959 diubah lagi dengan nama Skuadron Dinas Ranjau dibawah Pembinaan
Komando Armada.
Pada Bulan September 1962, kedudukan Skuadron Dinas Ranjau yang semula berada di
Surabaya dipindahkan ke Semarang.

Tahun 1964 Skuadron Dinas Ranjau diubah menjadi Komando Dinas Ranjau dan pindah dari
Semarang ke Ujung Pandang. Komando Dinas Ranjau dibagi menjadi tiga Divisi, yaitu : Divisi
711 OMS, Divisi 712 CMS dan Divisi 713 CMS. Tanggal 15 Juni 1971 mengalami perubahan
lagi menjadi Satuan Kapal Ranjau (Satran). Selanjutnya pada tahun 2000 terjadi perubahan
struktur Organisasi Armada menjadi Flotila, sehingga Satuan Kapal Ranjau berubah menjadi
Skuadron Kapal Ranjau (Ronran) namun hal ini hanya berjalan kurang lebih 3 tahun . Pada
tahun 2003 Organisasi Flotila dirubah kembali menjadi Satuansatuan, hingga saat ini namanya
Satuan Kapal Ranjau (Satran).

Sejak awal berdirinya Angkatan Laut Indonesia dalam arti sesudah penyerahan
kemerdekaan/kedaulatan tahun 1950, unsur-unsur kapal ranjau yang dimiliki Angkatan Laut
Indonesia seperti KRI Flores, KRI Jombang dan KRI Jampea. Mulai tahun 1955 pemerintah
mulai mengadakan pembelian kapal-kapal ranjau dari Jerman Barat sebanyak 10 kapal jenis
CMS. Kegiatan tersebut, merupakan tulang punggung dari Flotila Penyapu Ranjau Angkatan
Laut dalam mengemban tugas utamanya yaitu Penyapuan Ranjau maupun operasi yang lain.
Tahun 1962 mulai berdatangan kapal ranjau jenis OMS dari Rusia. Kehadirannya menambah
kemampuan dalam melaksanakan peperangan ranjau, karena pada masa itu, ranjau
merupakan senjata utama dalam pertahanan pangkalan. Semua yang ada 6 buah kapal dan 4
diantaranya ikut aktif dalam pembebasan Irian Barat.

Pada periode tahun 1992 1993, TNI AL menambah postur otot-ototnya dengan melakukan
pengadaan armada kapal perang eks Jerman Timur, Sebanyak total 39 kapal perang baik dari
jenis korvet, LST (landing ship tank), dan penyapu ranjau yang diboyong dalam waktu
berkdekatan. Pasca reunifikasi Jerman, armada kapal Kondor tidak lagi diaktifkan. Selain dijual
ke Indonesia, Kondor Class juga dijual ke AL Uruguay pada 1991 (3 unit) dan ada 2 unit yang
dijual ke AL Latvia.

Kesembilan kapal tersebut adalah KRI Pulau Rote (721), KRI Pulau Raas (722), KRI Pulau
Romang (723), KRI Pulau Rimau (724), KRI Pulau Rondo (725), KRI Pulau Rusa (726), KRI
Pulau Rangsang (727), KRI Pulau Raibu (728), KRI Pulau Rempang (729)

Dari ketiga tipe kapal eks-Jerman Timur (Volksmarine) ini, armada Kondor Class sesuai dengan
fungsi yang diembannya masuk dalam arsenal Satran (Satuan Kapal Penyapu Ranjau) TNI AL,
baik Satran Koarmabar dan Satran Koarmatim. Kehadirannya melengkapi kekuatan Satran
yang sebelumnya telah mengoperasikan kapal buru ranjau kelas Tripartite buatan Belanda.

Seiring berjalannya waktu beberapa kapal Kondor Class ini telah mengalami penurunan pada
kemampuannya, terutama pada fungsi penyapuan ranjau. Nah, karena malfungsinya pada
kemampuan sapu ranjau tersebut, dua dari kesembilan kapal tersebut akhirnya kemudian
dimutasikan tugasnya, yang awalnya menjadi arsenal Satran kini beralih menjadi armanda
Satrol (Satuan Kapal Patroli) TNI AL. Kedua kapal tersebut adalah KRI Pulau Rondo (725) yang
berubah menjadi KRI Kelabang (826), dan KRI Pulau Raibu (728) yang berubah identitas
menjadi KRI Kala Hitam (828)

Sementara itu Untuk KRI Pulau Rote (721), KRI Pulau Romang (723) dan KRI Pulau Rempang
(729), Kemudian dihibahkan kepada Satuan Surveihidros (Satsurveihidros) TNI AL dengan
memodifikasi kapal-kapal Kondor Class tersebut sesuai dengan tugasnya sebagai Kapal Survei.

Sedangkan untuk empat unit yang tersisa dilakukan pemuktahiran baik itu teknis kapal berupa
platform maupun Sewaco (sensor, weapon, and command), hal ini dikarenakan banyak
peralatan-peralatan yang mengalami kerusakan terutama peralatan yang diperlukan untuk
mendukung fungsi asasinya sebagai kapal penyapu ranjau. Oleh Karena itu, untuk
meningkatkan kemampuan tempur kapal kelas Kondor, perlu diadakan perbaikan peralatanperalatan tertentu baik bidang platform maupun Sewaco sehingga fungsi asasi dan tugas
pokoknya dapat terlaksana sesuai yang diharapkan.

Seperti pada bulan April tahun 2012 yang lalu, KRI Pulau Raas-722 dan KRI Pulau Rimau-724,
KRI Pulau Rusa 726 dan KRI Pulau Rangsang 727 melaksanakan docking di Dock Jogja

Fasharkan Surabaya dalam rangka perbaikan maupun pergantian peralatan khususnya


dibagian Platform, seperti pergantian mesin pendorong (engine) yang dipesan langsung dari
Verbuse Amerika, replate geladak, perbaikan akomodasi, dan pergantian beberapa peralatan
untuk mendukung kegiatan operasional kapal. Diharapkan setelah melaksanakan perbaikan, ke
dua kapal penyapu ranjau yang dimiliki TNI AL tersebut dapat kembali beroperasi sesuai fungsi
asasinya.

Selain itu dilakukan pula solusi untuk memperpanjang usia dan kemampuan kapal ini. seperti
dilakukan program repowering yang mencakup pengadaan motor pokok gear box dan sistem
kontrol, perbaikan DG dan MSB, pengadaan cat bawah garis air dan zink anoda, perawatan
bawah garis air, perbaikan sistem pendingin, perbaikan sistem akomodasi/ruangan-ruangan,
pengadaan alat bahari, perbaikan kompresor berikut sistemnya, perbaikan dan pengadaan alat
keselamatan, dan gear box baru.

Untuk tugas sapu ranjau, kapal ini dilengkapi teknologi deteksi sonar MG-11/Tamir-II.
Sementara untuk menetralisir ranjau yang berhasil di deteksi, dapat menggunakan peralatan
Double Oropesa Sweep, yaitu Alat Penyapu Ranjau (APR) mekanik yang dilengkapi dengan
gunting ledak (Explosive Cutter) yang berfungsi untuk penyapuan ranjau jangkar. Peralatan ini
sangat berguna untuk memutuskan rantai ranjau jangkar, sehingga bola ranjau jangkar yang
terkena sapuan APR ini akan mengapung di permukaan air laut, yang kemudian selanjutnya
bola ranjau ini bisa dinetralisasir oleh Tim EOD (Explosive Ordnance Disposal).

Dalam pengoperasiannya APR ini ditunda oleh Kapal Penyapu Ranjau atau Tug Boat Low
Magnetic. Kemudian ada Mini Dyad Sweep, yaitu Alat Penyapu Ranjau (APR) yang terdiri dari
beberapa batang/pipa magnetik (Orange pipe) yang bisa menghasilkan medan magnet
pengaruh yang penggunaannya ditunda oleh Kapal Penyapu Ranjau. Rangkaian Mini Dyad
Sweep juga dilengkapi dengan alat pembangkit suara (noise generator) sehingga bisa berfungsi
ganda yaitu sebagai APR Akustik dan Magnetik.

Semantara untuk Kapal pemburu ranjau kelas Tripartite (Tripartite Class) yang jadi andalan
Satran Koarmatim (Satuan Kapal Penyapu Ranjau Komando Armada Timur) TNI AL ini adalah

Sosok kapal pemburu ranjau (mine hunter), kapal ini sejatinya bukan barang baru lagi di
arsenal TNI AL, Tripartite class dibangun oleh galangan GNM (Van der Gessen de Noord
Marinebouw BV ) di Albasserdam, Belanda. Berbeda dengan frigat kelas Tribal dan frigat kelas
Van Speijk yang merupakan kapal beli bakas pakai. Tripartite class TNI AL adalah barang baru,
alias bukan alutsista second dan Kapal Perang ini hingga kini masih jadi andalan armada laut
NATO.

Kedua kapal pemburu ranjau kelas Tripartite milik TNI AL tersebut adalah KRI Pulau Rengat
(711) dan KRI Pulau Rupat (712). KRI Pulau Rengat mulai dibuat pada 19 Desember 1985 lalu
diluncurkan pada 27 Agustus 1987 dan resmi memperkuat TNI AL pada 26 Maret 1988. Dirunut
dari sejarahnya, kapal kelas Tripartite dirancang pada tahun 70-an dan mulai dibangun pada
tahun 1981 hingga 1989 untuk mengisi kebutuhan armada NATO akan kapal pemburu ranjau
yang lincah namun berbekal alat sensor canggih.

Awalnya kedua kapal ini dibangun untuk kebutuhan AL Belanda. KRI Pulau Rengat 711 dibuat
untuk membangun M864 Willemstad dan KRI Pulau Rupat 712 untuk M863 Vlaardingen. Tetapi
pada akhirnya kedua kapal ini berpindah tangan menjadi milik TNI AL. Sesuai namanya
Tripartite, kapal ini merupakan hasil kerja kongsi antara 3 negara NATO, yakni Perancis,
Belanda dan Belgia. Seperti halnya dalam proyek pesawat komersial Airbus, masing-masing
negara tadi menyumbang kontribusi dalam penciptaan kapal ini. Perancis dalam hal ini
menyiapkan perangkat teknologi mine hunting, sedangkan Belgia menyiapkan perangkat
elektronik, dan Belanda berperan dalam konstruksi dan tenaga gerak kapal.

Lambung kapal ini dibangun dari material khusus yang tidak menimbulkan jejak magnetik, yakni
mengadopsi jenis plastik yang diperkuat dengan kaca (glass-reinforced plastic atau GRP).
Untuk perangkat buru ranjaunya menggunakan sistem sensor dan processing 1 unit Sonar
DUBM, 1 Thales underwater system TSM, side scan sonar, Sonar TSM 2022, 1 SAAB Bofors
Double Eagle Mk III Self Propelled Variable Depth Sonar, dan 1 Consilium Selesmar Type T250/10CM003 Radar. Sedangkan untuk kelengkapan navigasinya menggunakan radar Decca

1229. Untuk jenis ranjau yang bisa dipindai adalah ranjau kontak, ranjau akustik, dan ranjau
magnetik.

UNTUK LEBIH LENGKAP:

http://patriotgaruda.com/2014/10/23/catatan-kecil-mahluk-halus-jilid-3-ranjau-laut-tidak-akanmemenangkan-pertempuran-akan-tetapi-ranjau-laut-akan-menentukan-jalannya-suatupertempuran/