Anda di halaman 1dari 293

MANAJEMEN LAKTASI

Sofie Rifayani Krisnadi

Bagian Obstetri dan Ginekologi


FK UNPAD / RS dr. Hasan Sadikin
Bandung

Tujuan
Peserta mampu:
1. Mengukur kemampuan diri sendiri dengan
mengikuti tes awal
2. Menjelaskan situasi di dunia tentang masalah
menyusui
3. Menjelaskan hubungan pemanfaatan ASI
terhadap kualitas hidup ibu dan anak
4. Menjelaskan situasi pemanfaatan ASI di
Indonesia dan kebijakan saat ini
5. Menjelaskan latar belakang perlunya
lokakarya ini
6. Saling berkenalan dan menceritakan
S.1.0

Pengaruh Pemberian ASI terhadap


Kualitas Hidup Ibu dan Anak
Penjarangan
Kualita
s

Kualitas
Inovulasi
Gizi

Hidup
Ibu

Hidup
Anak

ASI
Kanker
Payudara
Kekebalan

Zat

S.1.1

Diagram Kematian Bayi Berdasarkan Kelompok


Umur dan Cara Pemberian Minuman di Pedesaan
Chili, 1973

S.1.2

Angka Kematian, Kesakitan dan Lama Perawatan


Bayi
di RSU Cipto Mangunkusumo, 1982
Rawat Pisah
Rawat
Gabung
Mortalitas

8x

Morbiditas

17,9%

2,1%

Lama Perawatan

4,7 hari

2,5 hari
S.1.8

Kematian Maternal
di RSUP Dr. Sardjito, 19901992
50
40

46.4
40.7

30
20

21.4

10
0

1990

1991

1992
S.1.9

Sebab Kematian Maternal


di RSUP Dr. Sardjito, 19901992

Tdk dapat
dihindari
27%

Dapat
dihindari
73%

Lain-lain
19%
Infeksi
11%

Pre- & Ekl


19%

Perdarahan
51%

S.1.10

Data Mortalitas, Morbiditas, Penggunaan Susu


Kaleng dan Cairan Infus di RSU Sanglah, 1985
6 bl sebelum 6 bl sesuddh
rawat gabung rawat
gabung
1. Morbiditas
- OMA
11,6% (15x)
- Diare
4,1% (8x)
- Neonatal
3,3% (4x)
2. Mortalitas - Infeksi
0,8%
3. Susu kaleng
1051985
kaleng/bl
Soetjiningsih
& Soeratmadja,

0,8%
0,5%
0,8%
2,2% (3x)
25

S.1.11

Faktorfaktor yang menyebabkan


penurunan
penggunaan ASI

1. Terbatasnya pengetahuan dan


keterampilan petugas kesehatan
2. Sosiokultural
3. Pemasaran susu buatan
S.1.12

Sudah dilaksanakan oleh Depkes RI


1. Pedoman pelayanan rawat gabung di RS
2. Pedoman pelayanan perinatal di RS tipe C
dan B
3. ASI di Indonesia

S.1.13

Jumlah Bayi dengan Gejala Infeksi


di RS Kariadi Semarang, Juli 1983 April 1984
14

13

Jumlah Bayi

12
10
8
6

2
0

2
1

Juli

1983

Agt

Sept

Okt

Nop

Des

Mulai RG

Jan

Peb

Mrt

1984
S.1.14

S.1.15

Modul 2

MANFAAT ASI DAN KERUGIAN SUSU BUATAN

S.1.15

Tujuan :

Peserta mampu menjelaskan :

1. Perbedaan komposisi air susu ibu dan mamalia


lain
2. Perbedaan komposisi pada berbagai keadaan
bayi/ibu
3. Faktor imunologi dalam ASI
4. Manfaat menyusui bagi ibu, bayi, keluarga dan
negara

S.2.0

Berbagai mamalia

S.2.1

Diagram batang komposisi ASI berbagai


mamalia

S.2.2

Diagram batang perbandingan komposisi ASI


matur dan prematur (protein, lemak,
karbohidrat)

S.2.3a

Diagram batang perbandingan komposisi ASI


matur dan prematur (mineral Na, Ca, K)

S.2.3b

Manfaat menyusui bagi ibu ditinjau dari


aspek kesehatan lbu

a. Mengurangi perdarahan pascapersalinan


b. Mempercepat involusi uterus

S.2.7

Manfaat menyusui bagi ibu ditinjau dari


aspek psikologis

a. Mendekatkan hubungan ibu dan anak


b. Memberikan perasaan diperlukan

S.2.8

Manfaat menyusui bagi ibu ditinjau dari


aspek KB:

a. Menunda kembalinya kesuburan


b. Menjarangkan kehamilan

S.2.9

Manfaat menyusui bagi bayi ditinjau dari


aspek gizi :
a. Kandungan gizi lengkap mengandung
segala kebutuhan gizi untuk pertumbuhan
yg optimal
b. Mudah dicerna dan diserap
1. Mengandung lipase untuk pencernaan
lemak
2. Laktose mudah terurai menjadi glukosa
dan

S.2.10

Manfaat menyusui bagi bayi ditinjau dari


aspek imunologi
a. Mengandung zat kekebalan antara lain :
1. imunitas selular
2. imunitas humoral
3. lisozim
4. laktoferin
5. faktor pertumbuhan laktobasilus
bifidus
b. Tidak menyebabkan alergi

S.2.11

Manfaat menyusui bagi bayi ditinjau dari


aspek psikologis
a. Mendekatkan hubungan ibu dan bayi
b. Menimbulkan perasaan aman bagi bayi
c. Mengembangkan dasar kepercayaan
d. Menimbulkan kepercayaan pada diri
sendiri
S.2.12

Manfaat menyusui lainnya bagi bayi


a. Mengurangi insidensi karies dentis
b. Mengurangi maloklusi rahang

S.2.13

Manfaat menyusui bagi keluarga


a. Aspek ekonomi :
1. hemat karena tidak perlu membeli
formula
2. bayi jarang sakit (menghemat biaya
pengobatan)
b. Aspek psikologis :
mendekatkan hubungan bayi dengan
keluarga
c. Aspek kemudahan :

S.2.14

Manfaat menyusui bagi bangsa


a. Menurunkan angka kematian dan
kesakitan anak
b. Mengurangi subsidi rumah sakit untuk
perawatan ibu dan anak
c. Mengurangi devisa untuk pembelian
susu formula
d. Meningkatkan kualitas generasi penerus
S.2.15

Kerugian pemberian SUSU BUATAN:


a. Pengenceran yang salah
b. Tidak mengandung antibodi
c. Kemungkinan terkontaminasi lebih
banyak menyebabkan diare
d. Pemberiannya kurang menimbulkan
hubungan kasih sayang
e. Tidak ekonomis, tidak praktis dan tidak
siap pakai
S.2.16

Modul 3 :
ANATOMI PAYUDARA DAN FISIOLOGI LAKTASI

S.3

Tujuan :

Peserta mampu :
1. Memahami struktur anatomi payudara
2. Menjelaskan dua hormon utama yang
berpengaruh pada proses menyusui serta
menjelaskan fungsi kedua hormon tersebut
3. Menjelaskan tentang isapan bayi yang
benar dan salah
4. Menjelaskan pentingnya pengosongan ASI
pada payudara
S.3.0

Foto puting susu normal

S.3.1

Foto puting susu terbenam

S.3.3

Foto puting susu panjang

S.3.4

Hormon terpenting yang mempengaruhi


laktasi
a. Oksitosin
b. Prolaktin

S.3.5

Fungsi hormon oksitosin dan prolaktin


Oksitosin :
1. Kontraksi saluran ASI
2. Kontraksi rahim
3. Dikeluarkan oleh neurohipofisis

Prolaktin :
1. Sekresi ASI pada alveoli
2. Menghambat terjadinya ovulasi
3. Dikeluarkan oleh adenohipofisis
S.3.6

Refleksi
produksi dan
pancaran ASI

S.3.7

Produksi ASI dan pengosongan payudara

S.3.8

Mekanisme menyusu dengan botol dan payudara

S.3.9

Modul 4 :
PERSIAPAN DAN TEKNIK MENYUSUI

S.4

Tujuan :
Peserta mampu :
1. Menjelaskan pentingnya bimbingan persiapan
menyusui.
2. Memperagakan pemeriksaan payudara, kelenturan
puting susu dan cara mengatasi masalah yang
ditemukan.
3. Menjelaskan pentingnya persiapan masa persalinan.
4. Menjelaskan pentingnya masa menyusui dan
berbagai aspeknya termasuk cara pengamatan
menyusui.
5. Memperagakan teknik menyusui yang benar.
S.4.0

Persiapan psikologis ibu untuk menyusui pada


saat kehamilan adalah penting,
karena
keputusan atau sikap ibu yang positif harus
sudah terjadi pada saat kehamilan atau saat
sebelumnya.

S.4.1

Keputusan atau sikap ibu dipengaruhi


antara lain oleh
a. Adat/kebiasaan menyusui di daerah
masingmasing
b. Kepercayaankepercayaan tentang
menyusui
c. Pengalaman menyusui dalam keluarga,
menyusui anak sebelumnya, dan
pengalaman menyusui keluarga/kerabat
lainnya
d. Pengetahuan tentang manfaat ASI

S.4.2

Persiapan psikologis ibu untuk menyusui


a. Sikap dan keyakinan akan keberhasilan dalam
menyusui
b. Pengetahuan tentang manfaat ASI dan
kerugian air susu buatan
c. Penjelasan mengenai proses persallinan
d. Pengaturan waktu dalam rumah tangga (waktu
longgar)
e. Peran serta suami dan anggota keluarga lain
yang memegang peranan dalam keluarga
S.4.3

Peran serta suami :

suami mau membantu


bagaimana caranya

tidak tahu

petugas kesehatan harus dapat


menjangkau suami

S.4.4

Pemeriksaan payudara meliputi :

a. Pemeriksaan payudara (inspeksi dan


palpasi)
b. Pemeriksaan kelenturan puting susu

S.4.5

Pemeriksaan payudara dimulai :


pada saat pertama kali periksa kehamilan

S.4.6

Cara pemeriksaan kelenturan puting susu :


a. Amati bentuk puting susu sebelum
menyentuhnya.
b. Tekan areola di sisi puting susu dengan ibu jari
dan jari telunjuk.
c. Dengan lembut tarik puting susu dan areola
untuk membentuk 'dot'.
S.4.7

Lanjutan
Bila puting susu
mudah ditarik berarti lentur
tertarik sedikit berarti kurang lentur
masuk ke dalam berarti puting susu terbenam

S.4.8

Gambar cara pemeriksaan kelenturan puting susu

S.4.9

Gambar macammacam bentuk payudara.

S.4.10

Foto puting susu terbenam

S.3.3

Cara mengatasi puting susu terbenam


a. Gerakan Hoffmann
b. Pemasangan pompa puting

S.4.13

Puting susu terbenam diatasi mulai :


selama kehamilan

S.4.14

Koreksi puting susu juga dapat


dilakukan pada masa gadis, bila
dapat ditemukan dini

S.4.15

Bila puting susu terbenam ditemukan


setelah
melahirkan :

biarkan bayi mengisap kuat dengan


posisi menyusui yang benar,
bila payudara penuh/bengkak, diperas
lebih dahulu sampai lunak,
S.4.16

Gerakan Hoffmann

S.4.17

Foto pemasangan pompa puting

S.4.18

Posisi menyusui

a. Duduk
b. Berdiri
c. Berbaring
d. Berbaring dengan bayi di atas perut
e. Ibu pascaoperasi sesar
f. Bayi kembar
S.4.19

Foto ibu menyusui dengan posisi duduk

S.4.20

Ibu menyusui dengan


posisi berdiri

S.4.21

Foto ibu menyusui dengan posisi berbaring

S.4.22

Foto ibu menyusui dengan posisi berbaring


dengan bayi di atas perut

S.4.23

Foto ibu menyusui pascaoperasi sesar


dengan berbaring

S.4.24

Ibu menyusui
pascaoperasi sesar
setengah duduk
dengan cara
memegang bola

S.4.25

Foto ibu menyusui bayi kembar dengan cara


memegang bola

S.4.26

Ibu menyusui bayi


kembar dengan
cara kombinasi

S.4.27

Foto ibu menyusui bayi kembar dengan cara


bergantian

S.4.28

Langkahlangkah menyusui yang


benar

a. Bayi menghadap perut ibu


b. Payudara dipegang
c. Menyentuh bibir bayi dengan tangan
atau puting agar mulut bayi terbuka
lebar
d. Mengarahkan mulut bayi ke puting
S.4.29

Posisi menyusui yang baik

Cara mempersiapkan puting susu


sebelum menyusui

a. Areola mammae dipijat untuk


mengeluarkan beberapa tetes ASI
b. Olesi puting susu dengan ASI

S.4.35

Cara memegang payudara yang


benar :

a. Ibu jari di atas dan empat jari yang


lain di bawah puting
b. Menopang payudara

S.4.36

Cara memasukkan payudara yang


benar

Puting dan seluruh areola masuk ke


dalam mulut bayi

S.4.37

Cara mengetahui kontak fisik ibubayi yang


benar
pada saat menyusui :

a. Bayi cukup tenang


b. Mulut bayi terbuka lebar
c. Badan bayi menempel betul pada ibu
d. Mulut dan dagu bayi menempel betul
pada payudara ibu
S.4.38

Cara mengetahui kontak fisik ibubayi yang


benar
pada saat menyusui : (lanjutan)

e. Sebagian besar areola masuk ke dalam


mulut bayi
f. Bayi nampak pelanpelan mengisap
dengan kuat
9. Puting susu ibu tidak nyeri
h. Telinga dan lengan bayi berada pada
satu garis lurus

S.4.39

Foto ibu menyusui dengan posisi duduk yang benar

S.4.40

Cara melepas isapan bayi

Jari kelingking ibu dimasukkan ke mulut


bayi melalui sudutmulut bayi atau
Dagu bayi ditekan ke bawah

S.4.41

Melepaskan puting

Cara merawat puting susu setelah menyusui


a. Areola mammae dipijat untuk mengeluarkan
beberapa tetes ASI
b. Olesi puting susu dengan ASI

S.4.42

Cara menyendawakan bayi :

Bayi digendong tegak dengan bersandar


pada pundak ibu kemudian
punggungnya ditepuk perlahanlahan
atau
Bayi ditaruh tengkurap di pangkuan ibu,
kemudian punggungnya ditepuk
perlahanlahan
S.4.43

Manfaat menyendawakan bayi

Agar udara yang terisap pada waktu


menyusu dapat ke luar
Tidak regurtasi

S.4.44

Lama dan frekuensi menyusui :

a. Menyusu bayi nirjadwal (on demand)


b. Lama menyusui tergantung kebutuhan
bayi
c. Kedua payudara disusukan secara
bergantian, setiap kali dimulai dengan
payudara yang terakhir disusukan
d. Setiap menyusui satu payudara
usahakan sampai kosong

S.4.45

Foto ibu memakai kutang


untuk menyusui yang
benar

S.4.46

Cara mengeluarkan ASI :


dengan tangan
dengan pompa payudara

S.4.47

Cara mengeluarkan ASI dengan tangan :

a. Cuci tangan
b. Siapkan cangkir/gelas yang bersih
c. Pijat payudara secara perlahan dari
pangkal ke arah areola dengan kedua
telapak tangan
S.4.48

Cara mengeluarkan ASI dengan tangan


(lanjutan) :
d. Dengan ibu jari dan empat jari di sebelah
lainnya, daerah areola ditekan ke arah dinding
dada, diulang berputar sekeliling areola
e. Untuk mengosongkan payudara dibutuhkan
waktu kurang lebih 20 menit dan dilakukan
dengan tenang
S.4.49

Cara penyimpanan ASI


a. Di udara terbuka

(suhu kamar) : 68 jam

b. Di lemari pendingin

(suhu 4oC)

: 24 jam

c. Di lemari es pembeku (suhu 18oC) : 6 bln

S.4.50

Modul 5 :
MASALAH DALAM MENYUSUI

S.5

Tujuan :

Peserta mampu menjelaskan :


1. Cara mengatasi berbagai masalah pada
masa antenatal yang dapat menghambat
keberhasilan menyusui
2. Masalah menyusui pada masa pascasalin
dini, lanjut dan pada keadaan khusus,
serta penanganannya
S.5.0

Masalah menyusui pada


masa pascalahir dini dan lanjut

Foto payudara bengkak

Penyebab payudara bengkak


1. Bendungan pembuluh darah/limfe
2. Bendungan ASI
3. Pengeluaran ASI kurang baik
4. Hambatan ejeksi susu

S.5.2

Pencegahan payudara bengkak :


1. Menyusui dini
2. Menyusui nirjadwal (ondemand)

S.5.3

Pengelolaan payudara bengkak :


1. Sering disusukan
2. Kompres hangat sebelum disusukan
3. Pengeluaran ASI sebelum
disusukan
4. Kompres dingin setelah menyusui
S.5.4

Foto puting susu/lecet

S.5.5

Penyebab puting susu lecet/luka :


1. Posisi dan teknik menyusui yang salah
2. Iritasi sabun pada puting
3. Monilia
4. Dermatitis kontak
5. Tali lidah pendek

S.5.6

Letak puting susu dalam


mulut bayi

S.5.7

Pengelolaan puting susu lecet/luka :


1. Mulai menyusukan dari puting yang
sehat
2. Menyusukan sering dan singkat
3. Betulkan teknik dan posisi menyusui
4. Oleskan ASI ke puting setelah menyusui
5. Keringkan dengan udara
S.5.8

Pengelolaan puting susu lecet/luka


(lanjutan) :
6. Analgesik ringan bila perlu (dengan
obatobatan atau kompres dingin)
7. Hindari manipulasi pada puting
8. Obati dermatitis puting
9. Bila perlu menyusui dihentikan sementara
(24 jam) tetapi ASI tetap dikeluarkan
S.5.9

Foto puting susu terbenam

S.3.3

Pemecahan masalah pada puting


susu datar/ terbenam :
1. Cara Hoffmann
2. Pompa puting
3. Perawatan puting

S.5.12

Gerakan Hoffmann

S.4.17

Hoffman Exercise

Foto penggunaan pompa puting

S.5.14

Foto perawatan puting


a. memutar
b. menarik

S.5.15

Payudara, merongkol (saluran tersumbat)

Pengelolaan payudara merongkol


(saluran susu tersumbat)
1. Teknik menyusui yang benar
2. Kompres dengan air hangat
3. Menyusui mulai dari yang sakit
4. Lama dan sering disusukan
5. ASI dikeluarkan
6. Kutang yang menopang
S.5.17

Gambar contoh kutang yang menopang

S.5.18

Foto abses payudara/mastitis

S.5.19

Dermatitis

Sore nipple, puting lecet

Abses payudara

Penyebab abses payudara / mastitis

1. Bila saluran yang tersumbat tidak dibersihkan


2. Bila saluran tersumbat terinfeksi

S.5.20

Pengelolaan abses payudara/mastitis


1. Teknik menyusui yang benar
2. Kompres air hangat air dingin
3. Pada mastitis menyusui tetap diteruskan
mulai dari yang sehat
4. Bila abses, menyusui dihentikan, tetapi
ASI tetap dikeluarkan dengan tangan
dan diberikan
S.5.21

Pengelolaan abses payudara/mastitis


(lanjutan )
5. Senam payudara
6. Insisi dan pemberian antibiotika

S.5.22

Penyebab sindroma ASI kurang :


1. Tidak sering disusukan;
2. Kurang lama disusukan;
3. Persiapan puting tidak efektif;
4. Pemberian makanan tambahan pada
bayi yang tidak benar

S.5.23

Penyebab sindroma ASI kurang


(lanjutan)
5. Ibu cemas;
6. Obatobatan;
7. Kelainan endokrin;
8. Kelainan jaringan payudara
S.5.24

Pengelolaan sindroma ASI kurang


1. Betulkan posisi dan teknik menyusui
2. Susukan lebih sering
3. Hindari obatobatan tertentu
4. Hindari makanan tambahan bayi yg tidak
benar
5. Pemberian gizi ibu yang cukup
6. Tingkatkan rasa percaya diri
S.5.25

Masalah menyusui pada keadaan


khusus

Seorang ibu pascaoperasi sesar


sudah sadar (masih diinfus)
sedang meneteki bayinya
dengan dibantu seorang
perawat

S.5.26

Pengaruh obatobatan
Tidak boleh menyusui/berhenti sementara :
1. Sitostatika
2. Thiouracil
3. Tetasiklin, kloramfenikol
4. Zat/obat radio aktif
Catatan : ASI tetap dikeluarkan dg tangan & dibuang
S.5.27

lbu bekerja :
1. Berikan ASI sebanyak mungkin selagi ibu di
rumah, terutama malam hari
2. Keluarkan ASI sebelum ibu pergi bekerja dan
disimpan dengan benar
3. Keluarkan ASI setiap tiga jam selama ibu
bekerja dan disimpan dengan benar
4. Gunakan fasilitas TPA jika tersedia
S.5.28

Penyimpanan ASI yang benar :


1. Bersih ditutup
2. Cara penyimpanan
a. di udara terbuka (suhu kamar)

: 68 jam

b. di lemari es (suhu 4o C)

: 24 jam

c. di lemari es ruang pembeku (suhu 18oC) : 6 bln

S.5.29

Cara pemberian ASI yang telah disimpan


1. ASI tidak boleh direbus
2. Tidak boleh diberikan dengan dot

S.5.30

lbu dengan HBsAg +/HIV + tidak boleh menyusui

S.5.31

Ibu menyusui kedua bayi


kembarnya dengan posisi
kombinasi (satu bayi dengan
posisi membawa bola dan
satu bayi yang lain dengan
posisi biasa)

S.5.32

Foto ibu menyusui bayi kembar dengan cara


bergantian

S.4.28

Foto ibu menyusui bayi kembar dengan cara


memegang bola

S.4.26

lbu menyusui yang hamil lagi (kesundulan)


1. Boleh terus menyusui
2. Gizi ibu harus diperhatikan

S.5.35

Ibu menyusui yang


sedang merokok

S.5.36

Pengaruh merokok :
1. Prolaktin menurun produksi ASI
menurun
2. Bayi menjadi perokok pasif

S.5.37

Alkohol :
1. Oksitosin menurun
2. Bayi mengantuk
3. Nafsu makan ibu menurun

S.5.38

Berbagai masalah menyusui pada bayi


:
1. Bingung puting
2. Bayi enggan menyusu
3. Bayi banyak menangis

S.5.39

Masalah pada bayi (Lanjutan):


4. Prematur/BBLR
5. Bayi kuning
6. Bayi sumbing
7. Bayi sakit
8. Kelainan otototot mulut
S.5.40

Bayi bingung puting :


a. ASI saja
b. Tidak memberikan botol/dot

S.5.41

Sebabsebab bayi enggan menyusu :


1. Teknik menyusui salah
2. Bingung puting
3. Tali lidah/frenulum pendek
4. Pengaruh baubauan
5. ASI memancar
6. Moniliasis mulut bayi
S.5.42

Gambar karikatur bayi bingung puting

S.5.43

Tali lidah pendek

Foto bayi moniliasis

S.5.45

Bayi sering menangis :


tidak selalu karena lapar

S.5.46

Sebabsebab bayi sering menangis :


1. Teknik menyusui salah
2. Perut kembung
3. Minta perhatian
a. popok basah
b. kedinginan
c. kesepian
4. Bayi sakit
S.5.47

Bayi Berat Lahir Rendah/Prematur :

Bayi aktif, refleks mengisap dan menelan


kuat
Menyusu ibu, K/P ditopang

Refleks mengisap dan menelan lemah/kurang


Bayi dicoba disusui, setelah lelah ASI
diberikan
dengan sendok/pipet

S.5.48

Bayi prematur diberi ASI dengan


sendok/gelas/pipet

S.5.49

Bayi prematur disusui di samping incubator


S.5.50

Bayi Kuning :
1. Fisiologis
Timbul hari ketiga, hilang < 14 hari
a. Menyusukan lebih sering dan lebih
lama
b. Jemur/terapi sinar
S.5.51

Bayi kuning (lanjutan) :


2. Patologis :
lebih dari 14 hari
terus disusui
kirim ke dokter ahli

S.5.52

Foto bayi sumbing menyusu

S.5.53

Bayi sakit di kamar


isolasi, disusui oleh
ibunya

S.5.54

Kelainan fungsi otot mulut (oral motor)


selama menyusui, dagu bayi ditopang
ke
arah maksila

S.5.55

Modul 6 :
GIZI IBU HAMIL, IBU MENYUSUI, BAYI DAN
ANAK

S.6

Tujuan :
Peserta mampu :
1. Menjelaskan kaitan antara gizi ibu hamil/
menyusui dengan produksi ASI
2. Menjelaskan pola menyusui, pemberian
makanan dan pemantauan
kecukupannya
S.6.0

Perubahan pada ibu hamil :

1. Pertumbuhan rahim dan janin


2. Pertumbuhan plasenta (ariari)
3. Penambahan volume darah
4. Pertumbuhan payudara dan
pembentukan ASI
5. Pembentukan air ketuban
6. Mempertahankan kenaikan metabolisme
tubuh

S.6.1

Hubungan gizi ibu hamil/menyusui &


produksi ASI

1. Penimbunan lemak selama hamil untuk


cadangan menyusui bulanbulan pertama
2. Volume ASI dapat dipengaruhi oleh status
gizi ibu
3. Kualitas ASI tidak dipengaruhi oleh status
gizi ibu

S.6.2

Kasus lbu Fatimah

1. yang penting untuk menjaga produksi


ASI tetap baik ialah interaksi bayi dan
ibu yang baik
2. makanan tambahan tidak selalu
memperbaiki produksi ASI

S.6.3

Produksi ASI tidak hanya dipengaruhi oleh


makanan dalam diit, tetapi juga cadangan
dalam tubuh ibu
diit
produksi ASI
cadangan
tubuh
S.6.4

Cara memberikan ASI dlm kaitannya dg


PPASI

1. Menyusun secara eksklusif (hanya ASI)


sampai usia 4 bulan
2. Meneruskan menyusui sampai 2 tahun

S.6.5

Pola pemberian makanan bayi dan anak


Umur (bl)

Makanan

Frekuensi sehari

0-4
4-6

ASI saja
ASI
buah
bubur susu

sesuka bayi
sesuka bayi
1-2x
1-2x

4-9

ASI
buah
bubur susu
tim saring

sesuka bayi
2x
2x
1x

9-12

ASI
buah
bubur susu
tim
ASI
makanan dewasa

sesuka bayi
2x
1x
2x
sesuka bayi
3x

12-24

S.6.5

Menilai kecukupan ASI eksklusif (4 bulan)


1. Berat bayi lahir pulih kembali setelah 2 minggu
2. Bayi banyak ngompol, paling tidak 6 kali sehari
3. Bayi menyusu dg kuat kemudian melemah
4. Payudara terasa lunak setelah disusukan
5. Kurva berat badan sesuai dengan KMS

S.6.7

Menilai kecukupan ASI & makanan


pendamping ASI

Kurva berat badan sesuai dengan KMS

S.6.8

Arti garis pada KMS (gambar KMS)

garis merah : batas gizi buruk dan gizi


kurang
garis titiktitik : batas gizi baik dan gizi
kurang

S.6.9

Petumbuhan bayi dan anak (gambar KMS)

garis a : pertumbuhan tidak baik, walau gizi


baik
garis b : pertumbuhan baik, walau gizi
buruk
S.6.10

Modul 7 :
KAMAR BERSALIN DAN RAWAT GABUNG

S.7

Tujuan :
Peserta mampu :
1. Memahami dan menjelaskan struktur Kamar Bersalin
yang mendukung keberhasilan menyusui
2. Menjelaskan jenis persalinan
3. Memahami dan menjelaskan jenis kegiatan yang
mendukung keberhasilan menyusui
4. Mengidentifikasi dan menjelaskan bayi risiko, tinggi
terhadap penyusuan dini
S.7.0

Tujuan :
Peserta mampu (lanjutan):
5. Memahami dan menjelaskan pengertian, tujuan dan
manfaat rawat gabung
6. Memahami dan menjelaskan kriteria bayi untuk rawat
gabung
7. Memahami, menjelaskan, dan mampu melakukan
kegiatan rawat gabung
8. Memahami dan menjelaskan apa yang harus
dikerjakan ibu setelah pulang dari rumah sakit
S.7.0b

Struktur Kamar Bersalin yang mendukung


keberhasilan menyusui

ldealnya, kamar bersalin terdiri atas :


1. Kamar persiapan
2. Kamar persalinan
3. Kamar pulih (observasi pascalahir)
Kamar septik dan aseptik
Kamar tindakan dan non-tindakan
Kamar isolasi
S.7.1

KAMAR PERSIAPAN
Sasaran : 1. lbu belum dalam persalinan
2. Persalinan kala I fase laten
3. lbu yang belum memperoleh
bimbingan persiapan menyusui

Kegiatan : 1. Konseling, motivasi ibu untuk


menyusui bayinya
2. Persiapan punting

Bahan dan alat : gambar, poster, brosur, dll.


Petugas tidak boleh over acting
S.7.2

KAMAR PERSALINAN
Penyusuan dini : 30 menit setelah lahir
Manfaat :
1. Mempercepat lahirnya plasenta
2. Mengurangi risiko perdarahan pascasalin
3. Memacu refleks prolaktin dan oksitosin
4. Kontak bayi dengan ibu memberikan rasa
kepuasan psikologis
S.7.3

Penyusuan dini tidak bisa dikerjakan :


1. Bayi prematur (umur kehamilan < 37 minggu)
2. Bayi berat lahir rendah (< 2500 gram)
3. Bayi yang lahir dengan tindakan (vakum, forseps,
ekstraksi bokong dll)
4. Bayi yang lahir dari ibu yang mendapatkan narkose
(seksio sesarea, versi ekstraksi dll)
5. Bayi dengan asfiksia (nilai Apgar 5 menit < 7)
6. Bayi yg lahir dari ibu dg penyakit tertentu (KP terbuka)
7. Bayi dengan cacat bawaan berat dll

Aturan tersebut di atas bukan harga mati

S.7.4

lbu yang mendapat narkose :


tunggu ibu sadar penuh, misal 46 jam pascaoperasi
efek narkose pada ibu dan janin telah berkurang
janin tidak mengantuk
refleks menghisap janin telah timbul kembali
petugas membantu memegang bayi,
membetulkan letak ibu dll
bayi tetap dirawat gabung
S.7.5

Bayi yang lahir dengan vakum atau forseps

sering disertai dengan trauma kepala


biasanya lahir dengan asfiksia
resusitasi intensif lebih penting
penyusuan dimulai setelah kondisi bayi
membaik, misal pernafasan teratur,
refleks menghisap baik, tidak panas dll
S.7.6

KAMAR PULIH (OBSERVASI KALA IV)

tidak bising
ibu tidak terganggu oleh ibu yang sedang
melahirkan
observasi dua jam, terutama atas
perdarahan pascasalin
bayi diletakkan di samping ibu
memberikan rasa tentram (kepuasan
psikologis)
modal keberhasilan menyusui selanjutnya
S.7.7

PENGERTIAN RAWAT GABUNG

Rawat gabung adalah perawatan di mana


ibu & bayi tidak dipisahkan, melainkan
ditempatkan dalam sebuah ruang/kamar
bersamasama selarna 24 jam penuh

S.7.8

TUJUAN RAWAT GABUNG :

1. Ibu dapat menyusui bayinya sedini


mungkin, kapan saja ia membutuhkan
2. Bayi mendapat kolostrum
3. Ibu belajar cara perawatan bayi yang
benar, sehingga mampu merawat bayinya
sendiri setelah pulang
4. Memberikan kepuasan psikologis baik bagi
ibu maupun bayi
S.7.9

MANFAAT RAWAT GABUNG

1. Aspek Fisik
2. Aspek Fisiologis
3. Aspek Medis
4. Aspek Psikologis
5. Aspek Edukatif
6. Aspek Ekonomi
S.7.10

ASPEK FISIK

mudah menjangkau bayi


penyusuan sering, sesuai kebutuhan
(nirjadwal)

S.7.11

ASPEK FISIOLOGIS

involusi rahim
menekan perdarahan pascasalin
memacu produksi ASI

S.7.12

ASPEK MEDIS

menurunkan infeksi nosokomial


menurunkan morbitas & mortalitas bayi
& ibu

S.7.13

ASPEK PSIKOLOGIS

memberikan ketenangan dan kepuasan


bagi ibu & bayi
ikatan kasih sayang ibuanak
stimulasi mental dini
memupuk rasa percaya diri

S.7.14

ASPEK EDUKATIF

ibu belajar teknik menyusui yang benar


ibu belajar cara merawat bayi
suami/keluarga ikut belajar merawat bayi
dan memberi dukungan menyusui

S.7.15

ASPEK EKONOMI

penurunan penggunaan susu buatan


lama perawatan lebih pendek
biaya lebih kecil

S.7.16

KRITERIA BAYI & IBU YANG BISA DIRAWAT


GABUNG

1. Lahir spontan, baik presentasi kepala


maupun bokong
2. Bila lahir dengan tindakan, maka rawat
gabung dilakukan setelah bayi cukup
sehat, refleks menghisap baik, tidak ada
tanda infeksi dll
3. Bayi yang lahir dengan seksio sesarea,
rawat gabung dilakukan setelah ibunya

S.7.17

KRITERIA BAYI & IBU YANG BISA DIRAWAT


GABUNG
(lanjutan)

4. Bayi tidak asfiksia setelah lima menit


pertama (nilai apgar 7 atau lebih)
5. Umur kehamilan > 37 minggu
6. Berat lahir > 2500 gram
7. Tidak terdapat tanda infeksi
8. Ibu dalam keadaan sehat

S.7.18

TIDAK BOLEH DIKERJAKAN RAWAT GABUNG

1. Bayi yang sangat prematur


2. Bayi berat lahir sangat rendah (< 1500
gram)
3. Bayi yang terinfeksi (tidak sekedar
panas)
4. Bayi dengan cacat bawaan seperti
anensefali

S.7.19

KEGIATAN DI RUANG RAWAT GABUNG

1. Ibu dapat menyusui kapan saja sesuai


keinginan bayi (penyusun nirjadwal)
2. Perawat mengajarkan dan membantu ibu
dalam

cara
cara
cara
cara

menyusui yang benar


merawat payudara
merawat bayi
merawat tali pusat

3. Bayi tidak boleh diberi susu dari botol

S.7.20

KEGIATAN DI RUANG RAWAT GABUNG


(lanjutan)

4. Tidak memberikan minuman/makanan


prelakteal kalau ASI belum ke luar, maka :
a. sampai dengan 3 hari pertama diberi air
putih dengan sendok
b. mulai hari keempat diberi susu buatan
dengan sendok

5. Bila bayi sakit, ia dipindahkan ke kamar


perawatan khusus untuk bayi sakit

S.7.21

KEGIATAN DI RUANG RAWAT GABUNG


(lanjutan)
6. Memberikan penyuluhan pada saat ibu
dan bayi pulang :
a. Menyusui secara eksklusif sampai 4 bulan
b. Tidak memberi dot/kempengan
c. Kontrol ke Klinik Laktasi dalam satu
minggu
d. Bergabung dengan kader Kelompok
Pendukung ASI di Posyandu

S.7.22

Modul 8 :
KLINIK LAKTASI

S.8

Tujuan :

Peserta mampu :
1. Menjelaskan fungsi Klinik Laktasi;
2. Menjelaskan tiga persyaratan minimal
untuk melaksanakan Klinik Laktasi
3. Menjelaskan macammacam kegiatan
yang dilakukan di Klinik Laktasi
S.8.0

Fungsi Klinik Laktasi adalah :

1. Memberi penyuluhan khusus mengenai


manajemen laktasi, perawatan bayi baru
lahir dan rujukan;
2. Memberi pelayanan klinik tentang
masalah laktasi seperti :
a. Infeksi payudara
b. Payudara bengkak,
c. Perawatan payudara
S.8.1

Syarat Klinik Laktasi :

a. Mempunyai SK kebijaksanaan rumah


sakit
b. Mempunyai tenaga terlatih
c. Mempunyai fasilitator pendukung
S.8.2

Kegiatan di Klnik Laktasi :

a. Bimbingan persiapan menyusui


b. Bimbingan ibu menyusui

S.8.3

Bimbingan Persiapan Menyusui :

1. Mempersiapkan psikis ibu


2. Pemeriksaan puting susu
3. Manfaat ASI, kerugian susu buatan
4. Penjelasan rawat gabung
5. Gizi ibu hamil

S.8.4

Bimbingan lbu Menyusui :

1. Teknik menyusui
2. Perawatan payudara pascasalin
3. Masalah dalam menyusui
4. Gizi ibu menyusui

S.8.5

Bimbingan lbu Menyusui (lanjutan)

5. Perawatan bayi baru lahir


6. Tumbuh kembang bayi
7. Gizi bayi dan anak
8. Metode kontrasepsi untuk ibu
menyusui
9. Menyusui kembali
10. Rujukan ibu dan bayi
S.8.6

Modul 9 :
KELOMPOK PENDUKUNG ASI

S.9

Tujuan :

Peserta mampu :

1. Menjelaskan pengertian, kedudukan, dan


kegiatan Kelompok Pendukung ASI
(KPASI)
2. Menyebutkan pengertian, syarat dan
Kader Kelompok Pendukung ASI
(KKPASI)

S.9.0

Pengertian KPASI :

KPASI ialah kelompok ibuibu :


relawan
seminat terhadap peningkatan
pemanfaatan ASI
bukan petugas rumah sakit
anggotanya dapat terdiri dari anggota
organisasi wanita (Dharma Wanita, DharmaS.9.1

Kedudukan KPASI :
merupakan bagian organisasi Tim PPASI
RS
kalau di organisasi oleh organisasi
wanita tertentu, KPASI juga merupakan
bagian dari organisasi wanita tersebut
S.9.2

Kegiatan KPASI :
kunjungan ke unit kerja,
dokumentasi masalah ibu hamil dan
menyusui,
mengelola TPA,
membentuk KKPASI,
mengelola posyandu binaan,
memberikan penyuluhan dan ceramah
S.9.3

KKPASl adalah :
kaderkader alumni (ibuibu habis
melahirkan) yang dibina oleh KPASI RS
atau
kader di Posyandu yang telah dibina
mengenai ASI dan menyusui oleh Tim
PPASI atau
lainnya yang tugasnya di Posyandu
setempat

S.9.4

Syarat kader KPASI (KKPASI) ialah :


ibu relawan seminat ASI,
dianjurkan ibu yang pernah atau berhasil
menyusui,
dapat membaca dan menulis latin, dapat
berkomunikasi dengan ibuibu,
telah mendapat binaan atau pelatihan
KKPASI
S.9.5

Kegiatan KKPASI :

Kegiatan KKPASI ialah di meja IVB


Posyandu

S.9.6

Alur kegiatan KKPASI di meja IVB Posyandu


(1) Semua ibu yg datang ke Posyandu, diminta melalui meja
(Kader Kelompok Pendukung ASI)
(2) Tanyakan apakah ibu menyusui ?
(3) Tidak

(4) Meja IV

(5) Ya
(6) Periksa teknik menyusui
(8) Salah

(7) Benar

(9) Berikan bimbingan teknik menyusui

(10) Tanyakan masalah menyusui (ASI kurang, puting lecet, payudara


bengkak, ibu bekerja, dll)
(12) Ada
(13) Saran

(11) Tidak ada


(14) Rujuk ke Puskesmas

S.9.7

Modul 10 :
KEMAMPUAN KOMUNIKASI

S.10

Tujuan :
Peserta mampu berkomunikasi secara baik
dan efektif dengan ibu dan mampu
memantau komunikasi petugasnya dengan
ibu

S.10.0

Definisi Komunikasi :
Suatu proses penyampaian pengertian dari
seseorang kepada orang lain, dengan
menggunakan lambanglambang yang
mengandung arti yang perlu dipahami bersama

S.10.1

Komponen Komunikasi :

a. Komunikator (sumber)
b. Pesan (berita)
C. Media (saluran)
d. Komunikan (sasaran)

S.10.2

Macam Komunikasi :
a. Berdasar cara penyampaian :
1. komunikasi langsung
2. komunikasi tak langsung

b. Berdasar jumlah sasaran :


1. komunikasi massa
2. komunikasi kelompok
3. komunikasi perorangan
S.10.3

Macam Komunikasi (lanjutan) :

c. Berdasar arah pesan


1. komunikasi satu arah
2. komunikasi dua arah

d. Bentuk lain
1. komunikasi berantai
2. komunikasi dua tahap
3. komunikasi sosial
S.10.4

Komunikasi

Satu arah

Dua arah

Kemungkinan pesan besar sekali kecil


Disalah-artikan

Waktu yang diperlukan


singkat
lama/mahal

S.10.5

Faktorfaktor yang mempengaruhi keberhasilan


komunikasi
a. Komunikator
1. kecakapan penyampaian
2. sikaphubungan kemanusiaan
3. pengetahuan
4. sistem sosial
b. Pesan
1. mudah
2. ringkas
S.10.6

Faktorfaktor yang mempengaruhi keberhasilan


komunikasi (lanjutan)
c. Media
1. macam media
2. kualitas media
d. Komunikan
1. kecakapan berkomunikasi
2. sikap
3. pengetahuan
4. sistem sosial

S.10.7

Persiapan memberikan suatu ceramah


a. Pengetahuan tentang materi ceramah
b. Urutan penyampaian materi
c. Penggunaan alat bantu/peraga
d. Teknik penyampaian

S.10.8

Pengamatan suatu ceramah :


a. Pendahuluan :
1. usaha menarik perhatian
2. pengutaraan tujuan
3. pengutaraan lingkup
b. Penyajian :
1. penguasaan materi
2. kesesuaian materi dan tingkat pengetahuan
3. kelancaran penyajian
4. kejelasan uraian
5. penggunaan kata/tata bahasa
6. penggunaan alat bantu/peraga
7. pembagian waktu

S.10.9

Pengamatan suatu ceramah (lanjutan):


c. Penutup
1. rangkuman/kesimpulan
2. usaha menarik perhatian kembali

d. Penampilan dan gaya berbicara


1. cara berpakaian
2. cara berdiri/sikap badan
3. pandangan mata
4. gerakgerik wajah/tangan
5. ketegasan
6. semangat
S.10.10

Dampak komunikasi dokter/petugas


kesehatan ibu yang tidak baik

a. Gagal mendapat keterangan yang


dibutuhkan
b. Pesan disalah-artikan
c. Ibu tidak sepakat/sanggup melakukan
petunjuk
d. Ibu tidak ingat pesan yang diberikan

S.10.11

Cara memperbaiki komunikasi yang tidak


baik

a. Pengajuan pertanyaan
b. Penggunaan contoh/alat peraga
c. Penggunaan pamflet/brosur
d. Pemberian dukungan
S.10.12

Manfaat pengajuan pertanyaan pada ibu :

a. Menggali masalah
b. Mengetahui apakah ibu telah memahami
apa yang disampaikan
c. Ibu merasa senang dan yakin akan
kemampuannya

S.10.13

Pengajuan pertanyaan :

a. Dengan sabar/tenang
b. Hindari kesan menilai pengetahuan ibu
c. Hindari pertanyaan ya/tidak
d. Gunakan kalimat seperti :
1. coba perlihatkan ..
2. tolong tunjukkan cara .
3. apakah ibu dapat menerangkan
tentang
4. dll
S.10.14

Pengajuan pemeriksaan (lanjutan) :

e. Pertanyaan kebalikan, contoh :


ibu : saya hanya memberi ASI saja
cek : apakah bayi ibu diberi minuman
tambahan ?

S.10.15

Manfaat penggunaan contoh/alat peraga :

a. Memberikan petunjuk dengan jelas


b. Mengetahui apa yg belum dimengerti
oleh ibu

S.10.16

Manfaat penggunaan brosur/pamflet :

a. Mengingatkan akan pesan yg harus


disampaikan
b. Meringankan tugas dalam menyampaikan
pesan
c. Mengingatkan ibu setelah di rumah
d. Dapat disebarluaskan oleh ibu

S.10.17

Manfaat pemberian dukungan & bantuan

Memotivasi ibu untuk melaksanakan


petunjuk yang telah diberikan

S.10.18

Modul 11 :
PRAKTEK KLINK

S.11

Tujuan :
Peserta mendapat pengalaman praktek klinik dan
memperoleh keterampilan :
1. Memupuk kepercayaan ibu
2. Mendengar dan belajar dari ibu
3. Melakukan anamnesis dan membuat diagnosis
4. Membantu ibu menyusui dini dan mendekatkan bayi
pada ibu selama di kamar bersalin
5. Melakukan observasi ibu menyusui
S.11.0

Tujuan (Lanjutan) :

Peserta mendapat pengalaman praktek klinik dan


memperoleh keterampilan :
6.

Membantu/mengajarkan ibu berbagai teknik


menyusui dengan posisi yang benar

7.

Melakukan pengeluaran ASI dg tangan

8.

Melakukan pengeluaran ASI dg pompa


payudara

9.

Memberikan ASI dengan sendok/cangkir

10. Melakukan sterilisasi susu buatan

S.11.1

Modul 12 :
PERENCANAAN PROGRAM
PENINGKATAN PEMANFAATAN AIR SUSU
IBU (PPASI)

S.12

Tujuan :

Peserta mampu :

1. Memahami dan menjelaskan enam tahap


kegiatan perencanaan program
peningkatan pemanfaatan ASI
2. Membuat dan menyajikan rencana
program peningkatan pemanfaatan ASI, di
rumah sakit masingmasing
S.12.0

Enam Tahap Perencanaan Program PPASI

Tahap I. Kesepakatan (Komitmen)


a. Pendekatan
b. Penyampaian manfaat program
c. Susunan organisasi
d. Persetujuan administrasi
S.12.1

Tahap II. Analisis Situasi


a. Pengumpulan data
b. Perkiraan kebutuhan
c. Penyusunan prioritas
d. Analisis manfaat
e. Pendekatan yang digunakan
S.12.2

Tahap III. Penentuan Tujuan Realistik


a. Penentuan tujuan yg dapat
diukur
b. Penentuan tujuan yg dapat
dilaksanakan

S.12.3

Tahap IV. Rencana Program


a. Tinjauan
b. Pembuatan rencana tertulis
c. Analisis manfaat
d. Dukungan/persetujuan
e. Pematangan rencana

S.12.4

Tahap V. Pelaksanaan Program


a. Persiapan
b. Pelaksanaan
c. Monitoring
d. Pembinaan
e. Pelestarian

S.12.5

Tahap VI. Evaluasi Program


a. Evaluasi proses kegiatan dan
hasil
b. Pelaksanaan Evaluasi
melibatkan kelompok sasaran
c. Pemanfaatan hasil
d. Identifikasi masalah baru
S.12.6

Modul 13 :
PENDALAMAN DAN TINDAK LANJUT

S.13

Tujuan :

Peserta mampu :
1. Memahami & menjelaskan halhal yang
masih belum jelas pada modul 112
2. Memahami, menjelaskan & melaksanakan
"Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan
Menyusui"
3. Memahami, menjelaskan & melaksanakan
tindak lanjut lokakarya, dan melaksanakan
koordinasi dengan instansi/organisasi terkait
S.13.0

LANGKAH 1

Mempunyai kebijakan tertulis tentang


menyusui yang secara rutin disampaikan
kepada semua staf pelayanan kesehatan
untuk diketahui

S.13.1

LANGKAH II

Melatih semua staf pelayanan kesehatan


dengan keterampilan yang diperlukan
untuk menerapkan dan melaksanakan
kebijakan tersebut

S.13.2

LANGKAH III

Memberi penjelasan kepada semua ibu


hamil tentang manfaat dan pelaksanaan
menyusui

S.13.3

LANGKAH IV

Membantu ibuibu yang baru bersalin


untuk segera menyusui bayinya dalam
waktu kurang dari 30 menit

S.13.4

LANGKAH V

Memperlihatkan kepada ibuibu bagaimana


cara menyusui dan mempertahankannya,
sekalipun ibu harus berpisah dengan
bayinya

S.13.5

LANGKAH VI

Tidak memberikan makanan atau minuman


apapun selain ASI kepada bayi baru lahir,
KECUALI atas indikasi medis

S.13.6

LANGKAH VII

Melaksanakan rawat gabung sehingga


memungkinkan ibu dan bayinya untuk
selalu bersama dalam satu ruangan selama
24 jam setiap harinya

S.13.7

LANGKAH VIII

Mendukung ibu agar dapat memberikan


ASInya kapan saja sesuai dengan keinginan
bayinya (menyusui secara on demand
atau nirjadwal)
S.13.8

LANGKAH IX

Tidak memberikan dot atau kempengan


kepada bayi yang masih menyusu

S.13.9

LANGKAH X

Membantu perkembangan aktivitas


Kelompok Pendukung ASI (KPASI) dan
menganjurkan ibuibu yang pulang dari RS
atau klinik untuk selalu berhubungan
dengan kelompok tersebut
S.13.10

Tindak lanjut setelah lokakarya :

1. Merealisasikan program sesuai dengan


modul 13
2. Mengadakan komunikasi dengan instansi
terkait baik vertikal maupun horizontal
3. Mengembangkan kegiatan PPASI
S.13.11

Modul 14 :
PENUTUPAN
(Tes akhir, Ramah Tamah dan Sambutan)

S.13

Tujuan

1. Mengetahui seberapa jauh peserta telah


menyerap materi yang diberikan
2. Melakukan evaluasi penyelenggaraan
lokakarya
3. Memberikan kesempatan kepada peserta
untuk mengemukakan kesan dan pesan
selama mengikuti lokakarya
4. Menutup secara resmi
S.14.0

LAMPIRAN
1. SOAL TES AKHIR
2. FORMULIR HASIL EVALUASI PESERTA
Nama

Tes awal

Tes akhir

Selisih

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
Rata-rata + Simpang Baku

S.14.2

EVALUASI PENYELENGGARAAN LOKAKARYA

S.12.4

Different nipple shape

Testing a nipple for protractility

Treatment inverted nipple

Persiapan
puting

Breast shield

Pemasangan
Breast shield

BH yang baik

Payu dara bengkak

Bentuk luar payudara

a : korpus mammae
b : areola
c : papilla mammae

Bermacam bentuk puting susu


c. Papilla mammae:
muara pengeluaran susu,
terdiri dari jaringan erektil,
dan ujung saraf peraba.

Anatomi kelenjar susu


Alveolus: unit terminal.
1.sel asiner: sekresi susu
2.duktulus: sal. terkecil
3.myoepitel : otot polos
4.kapiler
5.lemak
6.sel plasma

Anatomi kelenjar susu


Sekelompok alveolus bersatu
lobulus, beberapa lobulus
bergabung 15-20 lobus
Duktulus
berkumpulduktus
duktus laktiferussinus
muara (papilla).

Refleks penting pada proses laktasi

Refleks prolaktin

Refleks aliran

Mekanisme mengisap pada bayi


Mekanisme mengisap
dot : berbeda, tidak
terlalu mengeluarkan
tenaga
bingung puting.

Penyusuan
Dini

Posisi menyusui

Posisi menyusui yang baik

Posisi menyusui yang baik

Posisi menyusui yang baik

Posisi gunting

Posisi C

Berbagai
Posisi menyusui

Berbagai Posisi menyusui

Berganti Posisi menyusui