Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH OPERASI TEKNIK KIMIA II

TIPE-TIPE EVAPORATOR

Oleh :
Hanitya Noor Fajar

2311 100 177

Faishal Ausaf Bahtiar

2312 100 050

Naufal Fauzan

2312 100 119

Sinta Nuclea

2315 105 015

Dwi Kurnia Hariandini

2315 105 016

Akhmad Nurman Luthfiyanto

2315 105 017

Wiwit Widiana

2315 105 018

PROGRAM STUDI S1 TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2015

I. EVAPORASI
Evaporasi merupakan suatu proses penguapan sebagian dari pelarut sehingga
didapatkan larutan zat cair pekat yang konsentrasinya lebih tinggi. Tujuan dari evaporasi
itu sendiri yaitu untuk memekatkan larutan yang terdiri dari zat terlarut yang tak mudah
menguap dan pelarut yang mudah menguap. Dalam kebanyakan proses evaporasi,
pelarutnya adalah air. Evaporasi tidak sama dengan pengeringan, dalam evaporasi sisa
penguapan adalah zat cair, kadang-kadang zat cair yang sangat viskos, dan bukan zat padat.
Begitu pula, evaporasi berbeda dengan distilasi, karena disini uapnya biasanya komponen
tunggal, dan walaupun uap itu merupakan campuran, dalam proses evaporasi ini tidak ada
usaha untuk memisahkannya menjadi fraksi-fraksi. Biasanya dalam evaporasi, zat cair pekat
itulah yang merupakan produk yang berharga dan uapnya biasanya dikondensasikan dan
dibuang.
Proses evaporasi terdiri dari dua peristiwa yang berlangsung :
1. Interface evaporation, yaitu transformasi air menjadi uap air di permukaan tanah. Nilai ini
tergantung dari tenaga yang tersimpan.
2. Vertikal vapour transfers, yaitu perpindahan lapisan yang kenyang dengan uap air dari
interface ke uap (atmosfer bebas).
Besar kecilnya penguapan dari permukaan air bebas dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:
a. Kelembaban udara (semakin lembab semakin kecil penguapannya)
b. Tekanan udara
c. Kedalaman dan luas permukaan, semakin luas semakin besar penguapannya
d. Kualitas air, semakin banyak unsur kimia, biologi dan fisika, penguapan semakin kecil.
e. Kecepatan angin
f. Topografi, semakin tinggi daerah semakin dingin dan penguapan semakin kecil
g. Sinar matahari
h. Temparatur
Evaporasi dapat diartikan sebagai proses penguapan daripada liquid (cairan) dengan
penambahan panas (Robert B. Long, 1995). Panas dapat disuplai dengan berbagai cara,
diantaranya secara alami dan penambahan steam. Evaporasi didasarkan pada proses pendidihan
secara intensif, yaitu :
- Pemberian panas ke dalam cairan.
Makin tinggi pressure makin besar panas yang dibutuhkan jadi pressure perlu diturunkan
untuk mendapatkan kondisi operasi yang optimal.
- Pembentukan gelembung-gelembung (bubbles) akibat uap.
Peristiwa bubbling yaitu terbentuknya nukleat sebagai awal pembentukan gelembung.
- Pemisahan uap dari cairan.
Evaporasi atau penguapan juga dapat didefinisikan sebagai perpindahan kalor ke dalam
zat cair mendidih (Warren L. Mc Cabe, 1999). Perbedaan evaporasi dengan proses lain adalah:

Evaporasi dengan pengeringan.


Evaporasi tidak sama dengan pengeringan, dalam evaporasi sisa penguapan adalah zat
cair kadang-kadang zat cair yang sangat viskos dan bukan zat padat. Perbedaan
lainnya adalah, pada evaporasi cairan yang diuapkan dalam kuantitas relatif banyak,
sedangkan pada pengeringan sedikit.
Evaporasi dengan distilasi.
Evaporasi berbeda pula dari distilasi, karena uapnya biasa dalam komponen tunggal, dan
walaupun uap itu dalam bentuk campuran, dalam proses evaporasi ini tidak ada usaha
unutk memisahkannya menjadi fraksi-fraksi. Selain itu, evaporasi biasanya digunakan untuk
menghilangkan pelarut-pelarut volatil, seperti air, dari pengotor nonvolatil. Contoh pengotor
nonvolatil seperti lumpur dan limbah radioaktif. Sedangkan distilasi digunakan untuk pemisahan
bahan-bahan nonvolatil.
Evaporasi dengan kristalisasi.
Evaporasi lain dari kristalisasi dalam hal pemekatan larutan dan bukan pembuatan zat
padat atau kristal. Evaporasi hanya menghasilkan lumpur kristal dalam larutan induk
(mother liquor). Evaporasi secara luas biasanya digunakan untuk mengurangi volume
cairan atau slurry atau untuk mendapatkan kembali pelarut pada recycle. Cara ini biasanya
menjadikan konsentrasi padatan dalam liquid semakin besar sehingga terbentuk kristal.
Faktor-faktor yang mempengaruhi percepatan evaporasi antara lain :
1. Suhu
Walaupun cairan bisa evaporasi di bawah suhu titik didihnya, namun prosesnya akan
cepat terjadi ketika suhu di sekeliling lebih tinggi. Hal ini terjadi karena evaporasi menyerap
kalor laten dari sekelilingnya. Dengan demikian, semakin hangat suhu sekeliling semakin
banyak jumlah kalor yang terserap untuk mempercepat evaporasi.
2. Kelembapan udara
Jika kelembapan udara kurang, berarti udara sekitar kering. Semakin kering udara
(sedikitnya kandungan uap air di dalam udara) semakin cepat evaporasi terjadi. Contohnya,
tetesan air yang berada di kepingan gelas di ruang terbuka lebih cepat terevaporasi lebih cepat
daripada tetesan air di dalam botol gelas. Hal ini menjelaskan mengapa pakaian lebih cepat
kering di daerah kelembapan udaranya rendah.
3. Tekanan
Semakin besar tekanan yang dialami semakin lambat evaporasi terjadi. Pada tetesan air
yang berada di gelas botol yang udaranya telah dikosongkan (tekanan udara berkurang), maka
akan cepat terevaporasi.
4. Gerakan udara
Pakaian akan lebih cepat kering ketika berada di ruang yang sirkulasi udara atau
angin lancar karena membantu pergerakan molekul air. Hal ini sama saja dengan
mengurangi kelembapan udara.

5. Sifat cairan
Cairan dengan titik didih yang rendah terevaporasi lebih cepat daripada cairan yang
titik didihnya besar. Contoh, raksa dengan titik didih 357C lebih susah terevapporasi
daripada eter yang titik didihnya 35C.
(Frayekti, 2012).
II.EVAPORATOR
Evaporator adalah sebuah alat yang berfungsi mengubah sebagian atau keseluruhan
sebuah pelarut dari sebuah larutan dari bentuk cair menjadi uap. Evaporator mempunyai
dua prinsip dasar, untuk menukar panas dan untuk memisahkan uap yang terbentuk dari
cairan. Evaporator umumnya terdiri dari tiga bagian, yaitu penukar panas, bagian evaporasi
(tempat di mana cairan mendidih lalu menguap), dan pemisah untuk memisahkan uap dari cairan
lalu dimasukkan ke dalam kondenser (untuk diembunkan/kondensasi) atau ke peralatan
lainnya. Hasil dari evaporator (produk yang diinginkan) biasanya dapat berupa padatan
atau larutan berkonsentrasi. Larutan yang sudah dievaporasi bisa saja terdiri dari beberapa
komponen volatil (mudah menguap). Evaporator biasanya digunakan dalam industri kimia dan
industri makanan. Pada industri kimia, contohnya garam diperoleh dari air asin jenuh
(merupakan contoh dari proses pemurnian) dalam evaporator. Evaporator mengubah air
menjadi uap, menyisakan residu mineral di dalam evaporator. Uap dikondensasikan
menjadi air yang sudah dihilangkan garamnya. Pada sistem pendinginan, efek pendinginan
diperoleh dari penyerapan panas oleh cairan pendingin yang menguap dengan cepat
(penguapan membutuhkan energi panas). Evaporator juga digunakan untuk memproduksi air
minum, memisahkannya dari air laut atau zat kontaminasi lain.
Evaporator adalah sebuah alat yang berfungsi mengubah sebagian atau keseluruhan
sebuah pelarut dari sebuah larutan dari bentuk cair menjadi uap. Evaporator mempunyai
dua prinsip dasar, yaitu untuk menukar panas dan untuk memisahkan uap yang terbentuk dari
cairan. Evaporator umumnya terdiri dari tiga bagian, yaitu penukar panas, bagian evaporasi
(tempat di mana cairan mendidih lalu menguap), dan pemisah untuk memisahkan uap dari
cairan lalu dimasukkan ke dalam kondensor (untuk diembunkan/kondensasi) atau ke
peralatan lainnya. Hasil dari evaporator (produk yang diinginkan) biasanya dapat berupa
padatan atau larutan berkonsentrasi.
Larutan yang sudah dievaporasi bisa saja terdiri dari beberapa komponen volatile (mudah
menguap). Evaporator biasanya digunakan dalam industri kimia dan industri makanan.
Pada industri kimia, contohnya garam diperoleh dari air asin jenuh (merupakan contoh
dari proses pemurnian) dalam evaporator. Evaporator mengubah air menjadi uap, menyisakan
residu mineral di dalam evaporator. Uap dikondensasikan menjadi air yang sudah dihilangkan
garamnya. Pada sistem pendinginan, efek pendinginan diperoleh dari penyerapan panas oleh
cairan pendingin yang menguap dengan cepat (penguapan membutuhkan energi panas).
Evaporator juga digunakan untuk memproduksi air minum, memisahkannya dari air laut
atau zat kontaminasi lain.
(Frayekti, 2012).
III.

PRINSIP KERJA EVAPORATOR

Evaporator adalah alat untuk mengevaporasi larutan sehingga prinsip kerjanya


merupakan prinsip kerja atau cara kerja dari evaporasi itu sendiri. Prinsip kerjanya dengan
penambahan kalor atau panas untuk memekatkan suatu larutan yang terdiri dari zat terlarut
yang memiliki titik didih tinggi dan zat pelarut yang memiliki titik didih lebih rendah sehingga
dihasilkan larutan yang lebih pekat serta memiliki konsentrasi yang tinggi.
1. Pemekatan larutan didasarkan pada perbedaan titik didih yang sangat besar antara zat-zatnya.
2. Titik didih cairan murni dipengaruhi oleh tekanan.
3. Dijalankan pada suhu yang lebih rendah dari titik didih normal.
4. Titik didih cairan yang mengandung zat tidak mudah menguap (misalnya: gula)akan
tergantung tekanan dan kadar zat tersebut.
5. Beda titik didih larutan dan titik didih cairan murni disebut kenaikan titik didih (boiling).
Proses evaporasi dengan skala komersial di dalam industri kimia dilakukan dengan
peralatan yang namanya evaporator. Ada empat komponen dasar yang dibutuhkan dalam
evaporasi yaitu : Evaporator, kondensor , injeksi uap, dan perangkap uap.
1. Kondensor
Kondensor adalah salah satu jenis mesin penukar kalor (heat exchanger) yang berfungsi untuk
mengkondensasikan fluida
2. Injeksi uap
3. Perangkap uap
Evaporasi dilaksanakan dengan cara menguapkan sebagian dari pelarut pada titik
didihnya, sehingga diperoleh larutan zat cair pekat yang konsentrasinya lebih tinggi.
Uap yang terbentuk pada evaporasi biasanya hanya terdiri dari satu komponen, dan jika
uapnya berupa campuran umumnya tidak diadakan usaha untuk memisahkan komponenkomponennya.
(Frayekti, 2012).
IV.

TIPE-TIPE EVAPORATOR
Dalam bagian ini akan dibahas skema peralatan evaporasi dan prinsip kerja berbagai
evaporator serta beberapa kelebihan dan kekurangan masing-masing.
1. Horizontal Tube Evaporator
Alat ini merupakan evaporator yang paling klasik dan sederhana. Evaporator ini banyak
digunakan untuk keperluan-keperluan kecil dengan teknologi sederhana

Features :
- Tidak memberikan kondisi untuk terjadinya sirkulasi/aliran cairan, sehingga koefisien
transfer panas rendah yang menjadikan perpindahan panas tidak efisien.
- Pengendapan kerak terjadi diluar pipa, sehingga sulit untuk dibersihkan. Konstruksi alat
harus diusahakan sedemikian rupa sehingga bundel pipa bisa dikeluarkan untuk
dibersihkan.
2. Basket Evaporator
Features :
- Sirkulasi/aliran cairan bisa berjalan dengan baik sehingga koefisien transfer panas
akibat konveksi alami (natural convection) besar, menjadikan transfer panas cukup
efisien. Sirkulasi aliran terjadi secara alami (natural circulation) rapat massa yang
diakibatkan oleh adanya beda fasa antara cairan yang berada diluar pipa dengan
cairan yang ada didalam pipa (dalam pipa < diluar pipa). Pengendapan kerak terjadi
didalam pipa, sehingga lebih mudah untuk dibersihkan.
- Pengendapan kerak terjadi didalam pipa, sehingga lebih mudah untuk dibersihkan.

3. Standard Vertical-Tube Evaporator

Pada alat ini, cairan mengalir dalam pipa sedangkan steam pemanas mengalir
dalam shell. Cairan dalam tabung mendidih, uap yang timbul bergerak keatas dengan
membawa cairan. Sirkulasi aliran dalam pipa terjadi karena beda rapat massa yang terjadi
karena perbedaan fasa antara fluida dalam pipa (yaitu : campuran uap-cair) dengan yang
diluar pipa (cair). Diatas pipa terdapat ruang uap yang berfungsi untuk memisahkan cairan
dengan uap. Uap akan menuju lubang pengeluaran diatas, sedangkan cairan jatuh kebawah
melewati saluran besar yang ada ditengah bejana, dan kembali bersirkulasi masuk pipapipa. Konveksi alami (natural convection) berjalan baik sehingga transfer panas lebih
efisien. Kerak dan endapan terbentuk didalam pipa, sehingga lebih mudah untuk dibersihkan.
Adanya sirkulasi menyebabkan cairan berkali-kali kontak dengan permukaan pemanas. Hal ini
kurang baik untuk bahan-bahan yang tidak tahan terhadap panas, misalnya : susu, juice dan
berbagai dairy product.

4. Long Tube Vertical Evaporator


Mempunyai prinsip kerja yaitu untuk memperbesar kecepatan sirkulasi cairan dengan
harapan koefisien perpindahan panas makin tinggi, pipa-pipa transfer panas dibuat lebih panjang
Aliran cairan, setelah masuk ruang uap untuk dipisahkan dengan uap yang terbentuk, kembali
kebawah melalui pipa diluar evaporator.
Keuntungan: Koefisien transfer panas karena sirkulasi alami (natural circulation) lebih
besar, sehingga transfer panas bisa lebih efisien.
Kerugian: Jumlah cairan yang menguap setiap passsangat besar (karena pipa panjang)
sehingga konsentrasi lokal dimulut pipa bagian atas akan sangat tinggi (ingat cairan dalam
evaporator tidak homogen, karena adanya perbedaan suhu dan konsentrasi padatan local). Hal ini
dapat menyebabkan kristalisasi atau pembentukan gel pada pipa, sehingga bisa menggangu
sirkulasi aliran.

5. Vertical Tube Evaporator


with Forced Circulation
Sirkulasi
cairan
untuk
memperbesar koefisien transfer panas
dibantu dengan pompa. Perpindahan panas
terjadi karena konveksi paksa (forced
convection)
sehingga koefisien transfer panas bisa lebih tinggi. Disamping itu, karena sirkulasi besar, maka
penyumbatan penyumbatan dalam pipa bias diatasi oleh aliran oleh pompa. Pipa tidak terlalu
panjang. Sirkulasi berjalan cepat, sehingga larutan dalam evaporator lebih homogen. Adanya
pompa yang menjadi satu dengan evaporator membuat alat ini lebih mahal (baik biaya pembelian
maupun biaya operasinya). Karena aliran keluar pipa cepat, maka pemisahan uap cairan
dalam ruang uap menjadi Iebih sulit, sehingga diperlukan baffle,yang Iebih balk dan
ruang pemisah yang Iebih besar dibagian atas.

Gambar (a dan b) dibawah, yaitu boiling tube evaporator and sub merged tube evaporator adalah
contoh lain dan forced circulation vertical tube evaporator.

Pada submerged tube type, seluruh pipa pemanas tercelup dalam cairan. Umpan masuk melalui
saluran dalam bejana pemisah uap-cair kemudian mengalir kedalam pemanas dan bawah. Pada
boifing tube type, tidak seluruh pipa pemanas tercelup oleh larutan. Larutan umpan angsung
masuk kebagian bawah seksi pemanas.

6. Forced Circulation Evaporator with External Heater


Pompa, heat exchanger dan pemisah uap cairan masing-masing merupakan unit yang
terpisah. Untuk mendapatkan alat ini bias digunakan alat-alat biasa yang dirangkai sendiri.
Kelakuan alat ini seperti pada verticaltube evaporatorwith forced circulation, akan tetapi Iebih
murah dan fleksibel karena bisa dirangkai sendiri. Akan tetapi alat ini membutuhkan ruang yang
Iebih luas (kurang kompak).

7. Climbing Film, Long Tube Vertical Evaporator with External Heater


Pada prinsipnya sama seperti Long Tube Vertical Evaporator, hanya alat pemanas dan
pemisah uap terpisah. Seperti forced circulation evaporator dengan external heater, alat ini
mudah dirangkai sendiri, tetapi kurang kompak. Nama lain dan jenis evaporator diatas adalah
Rising Film Evaporator with external heater.

8. Falling Film Evaporator


Dalam falling film evaporator, cairan mengalir kebawah membentuk film disekeliling
dinding dalam pipa. Aliran disebabkan oleh gaya berat dan gesekan uap. Uap yang terbentuk
bergerak kebawah Meskipun _t kecil, tetapi aliran tetap baik karena adanya gaya gravitasi
(bandingkan dengan natural convection evaporator). Luas permukaan pemanasan jauh Iebih
besar dibandingkan dengan volume cairan dalam evaporator. Hal ini memungkinkan transfer
panas yang cukup dan perusakan bahan belum banyak terjadi karena waktu tinggal yang kecil
(volume cairan dalam evaporator kecil). Kapasitas alat ini tidak bisa divariasi terlalu besar.
Contoh beberapa jenis falllng film maupun rising film evaporatordapat dilihat pada gambargambar dibawah.

9. Agitated Film Evaporator


Nama lain : turbulent film evaporator atau wioed horisontal).
Evaporator berbentuk tabung (shell) vertikal atau horizontal, dengan pemanas diluar
tabung. Pada sumbu tabung terdapat batang yang dapat diputar, yang dilengkapi dengan siripsirip. Pada verticalagftatedfllm evaporator, saat batang berputar, cairan bergerak kebawah akan
terlempar ketepi tabung (bagian panas) karena putaran sirip. Cairan ditepi tabung akan terpental
kembali ketengah tabung. Pada bagian atas tabung disediakan ruang untuk pemisahan uap cairan.
Transfer panas berjalan dengan sangat efisien. Problem penyumbatan dan konsentrasi local yang
tinggi dapat teratasi. Agitated film evaporator dirancang untuk larutan yang sangat kental
(viskositas tinggi) atau untuk memproduksi padatan. Meskipun demikian, alat ini mahal
konstruksinya sulit dan biaya operasinya tinggi (karena perlu tenaga pengadukan).

10. Direct Contact Evaporator


Pada alat ini, cairan berkontak langsung dengan gas pemanas

Koefisien transfer panas sangat besar. Ruang didalam tabung ditengah berfungsi untuk
pembakaran. Evaporator ini digunakan untuk cairan yang sangat kental, bahkan sluriy. emakalan
panas kembali sulit dilakukan.

V. PEMILIHAN JENIS EVAPORATOR

Pemilihan jenis evaporator setidak-tidaknya harus memperhatikan factor-faktor berikut:


Kapasitas produksi yang disyaratkan (throughput requirea)
Viskositas umpan dan kenaikkan viskositas selama penguapan
Produk yang diinginkan: padatan, slurry atau larutan pekat
Sensitivitas bahan/produk terhadap panas
Apakah larutan yang diproses fouling (menimbulkan kerak) atau non-foullng
Apakah larutan dapat menimbulkan busa (foaming)
Apakah harus dilakukan pemanasan langsung (direct heating)

Tabel dibawah memberikan pedoman pemilihan evaporator dengan memperhitungkan faktorfaktor diatas (sumber: Coulson and Richardson, 1983, Chemical Engineering Volume .6).

DAFTAR PUSTAKA
Frayekti, M. C. (2012). Evaporator. Operasi Teknik Kimia II , 1-17.
Renny. (2012). Evaporator-Prinsip Kerja dan Peralatan. Evaporator-Prinsip Kerja dan Peralatan
, 1-31.