Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL

COLLYRIUM

DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS LAPORAN


PRAKTIKUM MATA KULIAH TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL
KELOMPOK A1
Adhelita Audina Pradanti

12010002

Auliatun Nisa

12010010

Bella Sakti Oktora

12010012

Christian Imbang

12010015

S-1 FARMASI REGULER


DOSEN PEMBIMBING PRAKTIKUM
Drs. Pramono Abdullah, Apt.
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI INDUSTRI DAN FARMASI
BOGOR
10 DESEMBER 2015

I.

Tujuan Praktikum
Memahami teknik pembuatan formula larutan mata seperti obat cuci mata
steril atau collyrium.

II. Dasar Teori


Kolirium, Collyria, obat cuci mata adalah sediaan berupa larutan steril,
jernih, bebas zarah asing, isotonis, digunakan untuk membersihkan
mata. Kolirium dibuat dengan melarutkan obat dalam air, saring hingga
jernih, dimasukkan dalam wadah dan disterilkan dengan cara sterilisasi A, B
dan C, dipindahkan ke dalam tempat steril secara aseptis. Alat dan wadah
yang digunakan dalam pembuatan kolirium harus bersih dan steril.
Catatan:
1. Pada etiket harus juga tertera
a. masa penggunaan setelah botol dibuka penutupnya.
b. Obat Cuci Mata
2. Kolirium yang tidak mengandung zat pengawet hanya boleh digunakan
paling lama 24 jam setelah botol dibuka tutupnya.
3. Kolirium yang mengandung zat pengawet dapat dipergunakan paling
lama 7 hari setelah dibuka tutupnya. (Anonim, 1978, Formularium
Nasional, 310).
Syarat collyrium:
1. Steril dengan cara sterilisasi uap, sterilisasi panas kering, sterilisasi gas,
sterilisasi dengan radiasi ion, sterilisasi dengan penyaringan, sterilisasi
denagn cara aseptis.
2. Jernih dan bebas zarah asing agar collyrium bebas dari partikel asing,
maka larutan harus disaring, sehingga pada pembuatan larutan jumlah
bahan diberi kelebihan 5 10 ml untuk membasahi kertas saring.
3. Isotonis Larutan dikatakan isotonis jika:
a. Mempunyai tekanan osmotis sama dengan tekanan osmotis cairan
tubuh (darah, cairan lumbal, air mata) yang nilainya sama dengan
tekanan osmotis larutan NaCl 0,9 % b/v.
b. Mempunyai titik beku sama dengan titik beku cairan tubuh, yaitu 0,
52C. Jika larutan mempunyai tekanan osmotis lebih besar dari
larutan NaCl 0,9 % b/v, disebut hipertonis, jika lebih kecil dari larutan
NaCl

0,9

%b/v

disebut

hipotonis. Kadang

untuk

collyrium

dikehendaki bersifat hipertonis karena ditujukan supaya kotoran


dalam mata akan ditarik keluar dari sel mata supaya mata bersih,

peristiwa ini akan menyebabkan mata menjadi sakit, tetapi keadaan ini
bersifat sementara dan tidak akan menyebabkan rusaknya sel tersebut.

Larutan mata dapat ditambahkan zat dapar untuk menyeimbangkan


isotonisitasnya. Guna pendaparan diantaranya: menstabilkan sediaan,
mengurangi ketidaknyamanan pasien (mungkin sebelum didaparkan larutan
masih hipotonis), menjaga khasiat atau terapeutik obat. pH air mata normal
adalah 7,4. Untuk larutan mata tidak boleh hipotonis, usahakan isotonis akan
tetapi sedikit hipertonis masih ditoleransi. Larutan dapar yang sering
digunakan adalah dapar asam fosfat dan asam borat.
Keuntungan collyrium:
1.
2.
3.
4.

Campuran homogen.
Dosis dapat diubah-ubah.
Dapat diberikan dalam larutan encer.
Kerja awal lebih cepat karena obat cepat diabsorbsi.

Kerugian collyrium:
1. Volume bentuk larutan lebih besar.
2. Ada yang tidak stabil dalam larutan.
III. Formulasi
Tiap 100 ml mengandung:
Zinci sulfas
250 mg
Acidum boricum
1,62 g
API
ad
100 ml
IV. Alat dan Bahan
A. Alat
- Kertas perkamen
- Kertas saring
- Spatel
- Erlenmayer
- Corong
- Beakerglass
- Gelas ukur
B. Bahan
- Acidum Boricum
- Natrii Tetraboras
- Aquadest
- Karbon aktif

V. Prosedur Kerja
1. Dibuat API, dengan cara panaskan aqua pro injeksi dengan arang aktif
sampai mendidih ditunggu sampai 15 menit.
2. Dikalibrasi botol hingga 100ml.
3. Disterilkan alat dan ditimbang bahan.
4. Dilarutkan asam borat dan natrii tetraboras dengan aqua pro injeksi di
erlenmayer.
5. Ditambahkan zinc sulfas, lalu ditambahkan sisa API hingga 100ml.
6. Disaring ke dalam botol yang sudah steril.
7. Diukur pH, pH standar 6,5 6,8 jika terlalu basa ditambahkan HCl
setetes demi setetes.
8. Disterilkan A dan sterilisasi C.
VI. Hasil Pengamatan
- Sediaan jernih tetapi terdapat sedikit partikel partikel ketika dicek
pada sinar UV
- Memiliki pH ; 5,05
VII.Pembahasan
VIII. Kesimpulan
IX. Saran

DAFTAR PUSTAKA
Anief, M. 2000. Ilmu Meracik Obat Teori dan Praktek. Cetakan ke-9. Yogyakarta:
Gadjah Mada Univ. Press.
Anonim, 1979, Farmakope Indonesia. Edisi III, 7, Departemen Kesehatan
Republik Indonesia, Jakarta. Hal. 15 dan 912.
Anonim. 1995. Farmakope Indonesia ediai IV. Jakarta: Departemen Kesehatan
RI.
Badan Pengawas Obat dan Makanan. ISFI. 2006. ISO Indonesia, volume IV.
Jakarta: PT. Anem Kosong Anem (AKA).
Departemen Kesehatan RI. 1978. Formularium Nasional edisi II. Jakarta.
Departement

of

pharmaceutical

Science.

1982. Martindale

the

Extra

Pharmacoeia 28th edition. London: The Pharmaceutical Press.


Hardjasaputra, S. L. Purwanto, Dr. dkk. 2002. Data Obat di Indonesia (DOI),
edisi 10. Jakarta: Grafidian medi press.
Lachman dkk. 1994. Teori Dan Praktek Farmasi Industri. Jakarta: UI Press.
Soetopo dkk. 2002. Ilmu Resep Teori. Jakarta: Departemen Kesehatan.
Voigt. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Yogyakarta: UGM Press.
Van Duin. 1947. Ilmu Resep. Jakarta: Soeroengan
Wade, Ainley and Paul J Weller.Handbook of Pharmaceutical excipients.Ed
II.1994.London; The Pharmaceutical Press.