Anda di halaman 1dari 8

I.

TUJUAN PRAKTIKUM
1. Menentukan tetapan laju reaksi (k) dan energi aktivasi (Ea) dari reaksi antara
larutan KI dengan larutan K2S2O8
2. Mengetahui pengaruh suhu dan konsentrasi terhadap laju reaksi

II. DASAR TEORI


Laju reaksi adalah perubahan konsentrasi pereaksi ataupun produk dalam
satu satuan waktu. Laju reaksi dapat dinyatakan sebagai laju berkurangnya
konsetrasi suatu pereaksi, atau laju bertambahnya suatu produk. (Keenan,
dkk,1990).
Konstanta laju reaksi didefinisikan sebagai laju reaksi bila konsentrasi dari
masing-masing jenis adalah satu. Satuan tergantung pada orde reaksi. Suatu reaksi
yang merupakan proses satu tahap di sebut reaksi dasar.
Hukum laju reaksi adalah persamaan yang menyatakan laju reaksi V sebagai
fungsi dari dari konsentrasi semua spesies yang ada, termasuk produknya. Hukum
laju mempunyai dua penerapan utama. Penerapan teoritis hukum ini adalah
pemandu dua mekanisme reaksi, untuk penerapan praktisnya setelah mengetahui
hukum laju dan konstanta laju (Atkins, 1996). Hukum laju reaksi konstanta laju
reaksi dirumuskan dengan persamaan berikut (Chang, 2004).
V = k . (A)a . (B)b
Keterangan :

= tetapan (konstanta laju reaksi)

(A) = konstanta pereaksi A


(B) = konstanta pereaksi B
a
= orde atau tingkat reaksi terhadap zat A
b
= orde atau tingkat reaksi terhadap zat B
Energi aktivasi sangat dipengaruhi oleh laju reaksi, maka apabila
semakin besar konstanta laju reaksi semakin kecil energi aktivasinya. Dengan ada
nya energi aktivasi yang kecil diharapkan reaksi semakin cepat berlangsung.
Pengaruh konstanta laju reaksi terhadap energi aktivasi dapat dilihat dari
persamaan

Arrhenius yang semakin besar nilai konstanta laju reaksi,

energi

aktivasinya akan semakin kecil (Desnelli, dkk, 2009). Menurut teori tumbukan,

sebelum terjadi reaksi, molekul pereaksi harus saling bertumbukan. Sebagian


molekul pada tumbukan ini, membentuk molekul-molekul yang aktif. Molekul ini
kemudian berubah menjadi hasil reaksi agar pereaksi dapat membentuk komplek
yang aktif.
Molekul-molekul ini hanya mempunyai energi minimum yang disebut energi
aktivasi (Sukardjo, 2002).
Persamaan Arrhenius : k = A . e Ea/RT
Keterangan : k

= konstanta laju reaksi

Ea

= energi pengaktifan/aktivasi

= eksponen = 2,71828

= faktor frekuensi

= tetapan gas

= suhu absolut (oK)

Energi pengaktifan adalah energi minimun yang harus dimiliki oleh


molekul-molekul pereaksi agar menghasilkan reaksi jika saling bertabrakan.

III. ALAT DAN BAHAN


Alat :
1.
2.
3.
4.
5.

Biuret 50 ml
Glass beaker 100 ml
Pemanas air
Tabung reaksi
Termometer

Bahan :
1.
2.
3.
4.
5.

Amilum
Aquades
KI 0,4 N
K2S2O8 0,2 M
Na2S2O3 0,01 M

IV. PROSEDUR KERJA

Empat buah biuret disediakan dan masing-masing diisi dengan larutan KI,
larutan K2S2O8, larutan Na2S2O3 dan air suling.
Percobaan dengan pengaruh konsentrasi terhadap laju reaksi dilakukan untuk
konsentrasi persulfat yang bervariasi (25 ml, 20 ml, 15 ml, dan 10 ml). Waktu
dicatat ketika terjadi perubahan warna. Langkah kerjanya adalah kedalam beaker
glass A, KI diukur sebanyak 20 ml, kemudian ke dalam beaker glass B, diukur
sebanyak 25 ml dan Na2S2O3 diukur sebanyak 1 ml dan larutan amilum 0,5 %
ditambahkan sebanyak 8 tetes. Pada suhu konstan, larutan dalam beaker glass A
dan beaker glass B dicampurkan, diaduk dan dengan stopwatch tentukan waktu
dimana perubahan warna terjadi.
Percobaan dengan variasi suhu dilakukan untuk variasi suhu yang berbeda (40 o
C, 45oC dan 50oC) tetapi penambahan air suling tidak dilakukan ke dalam beaker
glass A, KI diukur sebanyak 20 ml, lalu ke dalam beaker glass B, K 2S2O8 diukur
sebanyak 20 ml dan Na2S2O3 diukur sebanyak 1 ml dan larutan amilum 0,5%
ditambahkan sebanyak 8 tetes. Pada suhu konstan, larutan dalam beaker glass A
dan beaker glass B dicampurkan, diaduk dan dengan stopwatch tentukan waktu
dimana perubahan warna terjadi. Masukkan data hasil pencatatan waktu ke dalam
data hasil pengamatan.
V. PEMBAHASAN
Pada praktikum ini membahas mengenai tetapan laju reaksi dan energi
aktivasi. Laju reaksi tak lepas dari kinetika kimia, dimana kinetika kimia
menjelaskan mengenai bagaimana laju bergantung pada konsentrasi dan reaksi
serta mekanisme reaksinya berdasarkan pengetahuan yang diperoleh dari
percobaan. Laju reaksi adalah waktu perubahan konsentrasi pereaksi atau produk
dalam satu waktu. Dapat pula dinyatakan sebagai laju berkurangnya konsentrasi
pereaksi atau tambahnya konsentrasi di suatu produk. Laju reaksi berhubungan
pula dengan tumbukan-tumbukan antar molekul akibat adanya penambahan zat
tertentu, pengaruh suhu, luas permukaan maupun konsentrasi suatu zat, sehingga
ini erat kaitannya dengan energi aktifasi yang merupakan energi minimum yang
dimiliki oleh suatu molekul untuk ditumbukkan.

Pada praktikum ini, telah dilakukan percobaan mengenai faktor-faktor yang


mempengaruhi laju reaksi. Faktor-faktor tersebut yaitu konsentrasi, suhu, dan luas
permukaan. Pada percobaan pertama dilakukan pengamatan faktor laju reaksi,
yaitu konsetrasi, yang dilakukan dengan mereaksikan K2S2O8 dengan Na2S2O3
yang konsentrasinya berbeda-beda. Konsentrasi mempengaruhi laju reaksi. Jika
konsentrasi suatu zat semakin besar maka laju reaksinya semakin cepat pula,
begitu juga sebaliknya. Suatu larutan dengan konsentrasi pekat mengandung
partikel yang lebih cepat, jika dibandingkan dengan larutan yang berkonsentrasi
kecil (encer) sehingga lebih mudah dan lebih sering ditumbukan.
Dari data hasil pengamatan dapat dilihat bahwa semakin tinggi suhu semakin
sedikit waktu yang diperlukan larutan untuk bereaksi artinya larutan beraksi cepat.
Hal ini disebabkan karena suhu sangat berperan dalam mempengaruhi laju reaksi.
Apabila suhi pada suatu reaksi dinaikkan maka akan menyebabkan partikel akan
semakin bergerak, sehingga tumbukan yang terjadi semakin sering, sehingga
menyebabkan laju reaksi semakin besar. Sebaliknya apabila suhu diturunkan,
maka partikel semakin tidak aktif, sehingga laju reaksi akan semakin kecil dan
semakin lama pula waktu yang diperlukan untuk beraksinya.
VI. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum maka dapat disimpulkan bahwa jika konsentrasi
suatu zat semakin besar maka laju reaksinya semakin cepat pula, begitu juga
sebaliknya. Sedangkan pada suhu semakin tinggi suhu maka semakin sedikit
waktu yang diperlukan larutan untuk bereaksi, artinya larutan beraksi cepat.
VII.

DAFTAR PUSTAKA

Atkins, p.w, 1996, Kimia Fisika, Erlangga, Jakarta.


Bird,T, 1994, Kimia Fisik Untuk Universitas, Gramedia Pustaka

Utama,

Jakarta.
Chang, R, 2004, Konsep Konsep Inti Kimia Dasar Jilid 2, Erlangga,
Jakarta.

MONOGRAFI
1. Kalium Iodida
MONOGRAFI
1. KI

Kalium Iodida mengandung tidak kurang dari 99,0% dan tidak lebih dari
101,5% KI, dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan. Pemerian hablur heksa
hedral ; transparan atau tidak berwarna, opak dan putih; atau serbuk butiran putih.
Higroskopik. Kelarutan sangat mudah larut dalam air, lebih mudah larut dalam air
mendidih; larut dalam etanol 95% P;mudah larut dalam gliserol P.
2. Amilum
Amilum atau kanji merupakan kombinasi amilosa yang memberikan warna
biru jika bereaksi dengan yodium dan amilopektin yang memberikan merah
violet jika bereaksi dengan

yodium. Titrasi yodimetri,

amilum sebaiknya

ditambahkan saat mendekati titik ekivalen untuk mencegah kompleks berwarna

biru antara amilum dengan yodium yang sukar larut dalam air dingin. Iodida pada
konsentrasi < 10-5M dapat dengan mudah ditekan oleh amilum. Sensitivitas
warnanya tergantung pada pelarut yang digunakan. Kompleks iodium-amilum
mempunyai kelarutan kecil dalam air sehingga biasanya ditambahkan pada titik
akhir reaksi.
3.

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FARMASI


PENETAPAN LAJU REAKSI DAN ENERGI AKTIVASI
Disusun untuk Memenuhi Tugas Salah Satu Mata Kuliah Praktikum Kimia
Farmasi

Oleh :
Desy Apriani (31112124)
Farmasi IVC

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BAKTI TUNAS HUSADA


TASIKMALAYA
2015