Anda di halaman 1dari 113

ISSN 2303-1433

JURNAL ILMU KESEHATAN

Jurnal Ilmu Kesehatan Dharma Husada merupakan Jurnal yang memuat naskah hasil
penelitian maupun artikel ilmiah yang menyajikan informasi di bidang ilmu kesehatan,
diterbitkan
setiap enam bulan sekali pada bulan Nopember dan Mei
Penasehat
Pardjono
Penanggung Jawab
Magdalena Suharjati
Pemimpin Redaksi
Hengky Irawan
Redaktur Pelaksana
Sucipto
Redaktur/Editor
Dyah Ika
M. Ali Mansur
Didik Susetiyanto A.
Puguh Santoso
Widodo
Usaha
Novita
Enggar Prayoningtyas
Atin Priyanto
Diterbitkan Oleh
Akper Dharma Husada Kediri Jawa Timur
Jl. Penanggungan no 41 A Kediri, Telp&Fax (0354) 772628
Email : jurnalakperdharma@yahoo.com

Alamat Redaksi :
Bagian Humas
Akper Dharma Husada Kediri
Jln. Penanggungan 41 A Kediri, Jawa Timur, Telp&Fax (0354) 772628
Email : jurnalakperdharma@yahoo.com
Web Site : http://akper-akbid-kediri.com

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

ii

ISSN 2303-1433

JURNAL ILMU KESEHATAN


Mei 2015 Nopember 2015
DAFTAR ISI
Pengaruh Terapi Musik Terhadap Penurunan Tingkat Kecemasan Anak
Prasekolah Yang Mengalami Hospitalisasidi Paviliun Seruni Rsud Jombang .......
Ana Farida Ulfa, Kurniawati
Peningkatan Kualitas Hidup Pada Penderita Gagal Ginjal Kronik Yang
Menjalani Terapi Hemodialisa Melalui Psychological Intervention Di Unit
Hemodialisa Rsud Gambiran Kediri........................................................................
Dhina Widayati, Nove Lestari

1-5

6 - 11

Perbedaan Peran Ibu Primipara Dan Multipara Dalam Pengasuhan Bayi Baru
Lahir ........................................................................................................................
Koekoeh Hardjito, Sumy Dwi Antono, Erna Rahma Yani

12 - 19

Hubungan Pengetahuan Ibu Tentang Gizi Dengan Status Gizi Balita Usia 1-5
Tahun Di Desa Kedawung Wilayah Kerja Puskesmas Ngadi ................................
Ira Titisari, Finta Isti Kundarti, Mira Susanti

20 - 28

Pengaruh Program Social Enterpreneurship Kelompok ODHA Terhadap


Stigma Masyarakat Tentang HIV/AIDS Di Daerah Binaan KPA Kota Kediri. ......
Siti Asiyah, Susanti Pratamaningtyas, Suwoyo

29 - 38

Hubungan Antara Status Gizi (IMT) dengan Usia Menarche pada Remaja Putri
Usia 13-14 Tahun di SMPN 1 Pace Kecamatan Pace Kabupaten Nganjuk ............
Sumy Dwi Antono

39 - 46

Effect of timing cord clamping on a vaginally delivered infant of a primigravida


in terms of the incidence of hyperbilirubinemia ......................................................
Maria Magdalena Setyaningsih, Wisoedhanie Widi Anugrahanti

47 - 54

Pengaruh Terapi Bermain Pada Anak Usia Prasekolah Terhadap Kehilangan


Kontrol Dalam Hospitalisasi Di Ruang Anak Rsud Ngudi Waluyo Wlingi ...........
Erna Susilowati, Rita Mei Dwi V

55 - 59

Analisis Penerapan Breastfeeding Peer Counseling Pada Pasien Post Partum


Fisiologis Dengan Masalah Keperawatan Menyusui Tidak Efektif Berdasarkan
Teori Maternal Role Attainment-Becoming A Mother Ramona T. Mercer ............
Dwi Rahayu, Yunarsih
Perbedaan Motivasi Wanita PUS Usia 35-49 Tahun untuk Menggunakan
Implant Sebelum dan Setelah Diberi Penyuluhan di Dusun Mojolegi Desa Bendo
Kec. Pare. .................................................................................................................
Triatmi Andri Yanuarini, Susanti Pratamaningtyas, Rika Aprilia Susanti

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

60 -67

68 - 75

iii

ISSN 2303-1433

Hubungan Tingkat Pengetahuan Penderita Hipertensi Tentang Penyakit Hipertensi


Dengan Kepatuhan Regimen Terapeutik Di Kelurahan Lirboyo Rw 03 Dan 08 Kota
Kediri...................................................................................................................................

76 - 81

Puguh Santoso
Hubungan Kadar Hb Ibu Inpartu Terhadap Kejadian BBLR di RSUD Kabupeten
Nganjuk Periode Bulan Maret-April Tahun 2013 ...................................................
Eny Sendra, Clairine Maretha Martin Putra

82 - 90

Hubungan Senam Kegel Pada Ibu Hamil Primigravida TM III Terhadap Derajat
Robekan Perineum Di Wilayah Puskesmas Pembantu Bandar Kidul Kota Kediri .
Shinta Kristianti, Yohanita Putriyana

91 - 98

The relationship between the speed of early initiation of breastfeeding with


postpartum hemorrhage volume on stage labor ......................................................
Yunarsih, Dwi Rahayu

99 -102

Analisis Keterkaitan Pendekatan Belajar dengan Indeks Prestasi Mahasiswa


Akademi Keperawatan Dharma Husada Kediri. .....................................................
Moh Alimansur

103 -108

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

iv

ISSN 2303-1433

Pengaruh Terapi Musik Terhadap Penurunan Tingkat Kecemasan Anak Prasekolah


Yang Mengalami Hospitalisasidi Paviliun Seruni Rsud Jombang
(The Effect Of Music Therapy To Decrease Anxiety Levels Pre-School Children Who

Experienced Hospitalization In Hospital Jombang Chrysan The Mum Pavilion)


Ana Farida Ulfa1), Kurniawati 2)
Prodi D3 Keperawatan FIK UNIPDU Jombang
Email: anafaridaulfa@yahoo.com

ABSTRACT
Hospitalizationis a process by which aplannedor emergency reasons, so the children
had to be hospitalized can cause children to experience anxiety. To over come anxiety
management can be given psychotherapy, one of which is with music therapy. The purpose
ofthis study was todetermine the effect of music therapy to decrease anxiety levels preschool children who experienced hospitalization in Hospital Jombang Chrysan the mum
Pavilion. This study uses the approach Quasy Experiment pretest-posttestdesign with
control group. With a total sample of 14 children (2 groups) using purposive sampling
technique. Data was collected through observation and then tabulated using data coding
and tested using Mann Whitney and Wilcoxon with = 0.05 significance level. The results
of the analysis wilcoxon obtained p valueof 0.015, p value< (0.015 <0.05) and MannWhitney obtained p valueof 0.007, p value< (0.007<0.05). So there is the effect of music
therapy on reducing anxiety levels preschoolers who experienced hospitalization in
Hospital Jombang Chrysan the mum Pavilion. The conclusion that can bedrawn from this
studyis the effect of music therapy on anxiety levels pre-school children who experienced
hospitalization in Hospital Jombang Chrysan the mum Pavilion.
Keywords: hospitalization, child anxiety, music therapy, pre-school age
Pendahuluan

Hospitalisasi pada anak merupakan


proses karena suatu alasan yang berencana
atau darurat mengharuskan anak untuk
tinggal di rumah sakit menjalani terapi
dan perawatan sampai pemulangan
kembali
kerumah..
Hospitalisasi
merupakan salah satu penyebab stres baik
pada anak maupun keluarganya, terutama
disebabkan oleh perpisahan dengan
keluarga, kehilangan kendali, perlukaan
tubuh dan rasa nyeri (Nursalam, 2003).
Dampak dari hospitalisasi, anak akan
mengalami kecemasan yang berujung
terhadap prilaku maladaptifpada anak
seperti menangis, berteriak, mencari orang
tua menhindari dan menolak kontak
dengan orang asing, menolak dilakukan
perawatan, hingga menyerang perawat ata
orang
asing
yang
mendekat
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

(Wong,2009).Pada tahap perkembangan,


perilaku maladaptif tersebut, anak
mengalami gangguan pada perkembangan
emosionalnya. Sehingga anak setelah di
rawat dirumah sakit, tidak mau pisah
dengan orang tuanya, dan bertahan dengan
usia perkembanganya hingga saat ini (usia
prasekolah) hingga dewasa. Selain itu,
reaksi terhadap hospitalisasi, anak
mencoba menghindar, tidak kooperatif,
yang
dapat
mengganggu
proses
penyembuhan sehingga dapa memperlama
anak untuk di rawat, yang mengakibatkan
pembekakan biaya pengobatan (Elfira,
2011)
Selama ini banyak
terapi yang
dilakukan untuk meminimalkan atau
menurunkan tingkat kecemasan misalnya
terapi bermain, seperti permainan hospital
story , clay therapy,yang dapat
1

ISSN 2303-1433

menurunkan kecemasan anak usia


prasekolah.Pada penelitian tahun 2008,
didapatkan pengaruh terapi musik
terhadap kecemasan anak usia toodler,
dengan respon kecemasan maladaptif pada
kelompok terapi musik sebelum diberikan
intervensi sebanyak 15 (100%), dan
sesudah dilakukan intervensi respon
kecemasan maladaptif sebanyak 11 orang
(73,3%).
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain
Quasy Eksperimental dengan desain
Pretest Posttest Control Group Design.
Dalam
penelitian
ini
variabel
independennya adalah terapi musik,
sedangkan variabel dependennya adalah
respon kecemasan anak. Dalam penelitian
ini, populasinya adalah seluruh anak usia
pra sekolah(3-6tahun) yang dirawat di
Paviliun Seruni RSUD Jombang. Teknik
sampling
yang
digunakan
adalah
purposive sampling,sehingga didapatkan
besar sampelnya adalah 14 responden
dengan 7 responden untuk kelompok
intervensi dan 7 responden untuk
kelompok kontrol.
Hasil Dan Pembahasan
Hasil Penelitian
Tabel 1 Tingkat kecemasan anak usia
prasekolah sebelum diberikan terapi
No
1
2
3
4
5

Tingkat
Kecemasan
Tidak Ada
Kecemasan
Kecemasan
Ringan
Kecemasan
Sedang
Kecemasan
Berat
Panik
Total

Kontrol

Kelompok
%
Perlakuan

28,6

28,6

71,4

71,4

100

100

Data di atas menunjukkan bahwa


tingkat kecemasan anak usia prasekolah
yang mengalami hospitalisasi sebelum
diberikan terapi sebagian besar responden
dengan kategori tingkat kecemasan berat,
hal itu dapat terlihat dari presentase yang
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

diperoleh yaitu 71,4% pada kelompok


perlakuaan dan 71,4% kelompok kontrol.
Tabel 2

No
1
2
3
4
5

Tingkat kecemasan anak usia


prasekolah sesudah dilakukan
terapi musik dan health
education

Tingkat
Kecemasan
Tidak Ada
Kecemasan
Kecemasan
Ringan
Kecemasan
Sedang
Kecemasan
Berat
Panik
Total

Kontrol
-

Kelompok
%
Perlakuan
-

14,3

42,9

42,9

42,9

57,1

100

100

Tabel di atas menunjukan bahwa


tingkat kecemasan anak usia prasekolah
yang mengalami hospitalisasi setelah
diberikan terapi musik dan health
education sebagian besar responden
kelompok kontrol dengan kategori tingkat
kecemasan berat, ini dapat terlihat dari
presentase yang diperoleh yaitu 57,1%
sedangkan pada kelompok perlakuaan
sebagian besar dengan kategori tingkat
kecemasan sedang dan ringan, ini dapat
terlihat dari presentase yang diperoleh
yaitu (42,9%) dengan kategori kecemasan
sedang, dan (42,9%) dengan kecemasan
ringan.
Tabel 3 : Tabel hasil analisa pengaruh
terapi musik terhadap tingkat kecemasan
anak usia prasekolah yang mengalami
hospitalisasi dengan menggunakan uji
wilcoxon pre-post perlakuan.
Uji
Wilcoxon

Kontrol

Perlakuan

p= 0,317

p= 0,015

Tabel 3 menunjukan bahwa uji Wilcoxon


pada kelompok perlakuan p = 0,015 (<
0,05) maka H0 ditolak dan H1 diterima
yang menunjukan bahwa ada pengaruh
yang signifikan antara sebelum dan
sesudah perlakuan. Sedangkan pada
kelompok kontrol p= 0,317 (0,317 >0,05),
maka Ho diterima yang menunjukan tidak
ada pengaruh yang signifikan antara
2

ISSN 2303-1433

sebelum dan
education.

sesudah

diberi

health

Pembahasan
Hasil penelitian menunjukan bahwa
tingkat kecemasan anak usia sebelum
diberikan perlakuan sebagian besar
dengan kecemasan berat, baik pada
kelompok perlakuan maupun pada
kelompok kontrol. Faktor-faktor yang
mempengaruhi hal ini adalah pengalaman,
berdasarkan
data
sebagian
besar
responden baru pertama kali dirawat di
rumah sakit, selain itu pada pada usia
prasekolah hospitalisasi merupakan suatu
hal yang menakutkan, ini dikarenakan
anak harus berpisah dengan orang yang
disayanginya, berpisah dari lingkungan
yang dirasakannya aman, penuh kasih
sayang, dan menyenangkan, yaitu
lingkungan rumah, permainan, dan teman
sepermainannya. Selain itu anak juga
takut dengan lingkungan rumah sakit yang
menakutkan, rutinitas rumah sakit,
prosedur yang menyakitkan, dan takut
akan kematian.
Tingkat kecemasan anak usia
prasekolah pada kelompok perlakuan dan
kelompok kontrol sesudah dilakukan
terapi musik dan helath education.
Tingkat kecemasan anak usia prasekolah
yang mengalami hospitalisasi di Paviliun
Seruni RSUD Jombang antara kelompok
yang diberikan terapi musik dengan
kelompok yang diberi health education
mengalami perbedaan. Berdasarkan hasil
penelitian, menunjukan bahwa tingkat
kecemasan anak anak usia prasekolah
yang mengalami hospitalisasi di Paviliun
Seruni RSUD Jombang sesudah diberikan
health eduction sebagian besar tidak
mengalami penuruan, ini dapat dilihat
pada tabel 2, hal ini menunjukan tidak
ada
perubahan
yang
signifikan.
Sedangkan pada kelompok perlakuan,
tingkat kecemasan anak mengalami
penurunan, ini dapat dilihat pada tabel 2,
ini menunjukan bahwa ada perubahan
pada tingkat kecemasan anak setelah
dilakukan terapi musik.
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

Analisa pengaruh
terapi
musik
terhadap penurunan tingkat kecemasan
anak usia pra sekolah yang mengalami
hospitalisasi:
Peneliti melakukan uji wilcoxon dan
uji mann-withney untuk menguji pada
kedua kelompok perlakuan dan kontrol.
Hasil penelitian ini menunjukan adanya
pengaruh terpai musik terhadap penurunan
tingkat kecemasan anak usia prasekolah
yang mengalami hospitalisasi di Paviliun
Seruni RSUD Jombang. Hal ini dapat
dilihat pada tabel tabel 3 yang
menunjukan bahwa uji Wilcoxon pada
kelompok perlakuan p = 0,015 (< 0,05)
maka H0 ditolak dan H1 diterima yang
menunjukan bahwa ada pengaruh yang
signifikan antara sebelum dan sesudah
perlakuan. Sedangkan pada kelompok
kontrol p= 0,317 (0,317 >0,05), maka Ho
diterima yang menunjukan tidak ada
pengaruh yang signifikan antara sebelum
dan sesudah diberi health education.Dan
uji Mann-Whitney pada pre-testp= 1,000
(> 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa nilai
p> 0,05 yang berarti H0 diterima yang
menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh
yang signifikan antara sebelum dan
sesudah
perlakuan
terapi
musik,
sedangkan pada post-testp = 0,007 (<
0,05). Hal ini menunjukkan bahwa nilai
p< 0,05 yang berarti H0 ditolak dan H1
diterima yang menunjukkan bahwa ada
pengaruh yang signifikan antara sebelum
dan sesudah perlakuan terapi musik.
Perbedaan tingkat kecemasan anak
pada kelompok kontrol dan kelompok
perlakuan ini dikarenkan pada kelompok
kontrol saat responden diberi health
education
anak
hanya
monoton
mendengarkan dan tidak jarang anak tidak
menghiraukan. Hal ini karena anak lebih
cenderung meyakini tentang persepsi
dirumah sakit, bahwasanya rumah sakit
adalah lingkungan yang menakutkan, dan
anak
menganggap
tindakan
dan
prosedurnya
mengancam
integritas
tubuhnya.
Menurut
Nyswander
dalam
Machfoedz
dan
Suryani
(2006).
3

ISSN 2303-1433

Pendidikan kesehatan adalah suatu proses


perubahan diri manusia yang ada
hubungannya dengan tercapainya tujuan
kesehatan perorangan dan masyarakat.
Menurut Steward dalam WijayantiM.
T(2011), pendidikan kesehatan adalah
unsur kesehatan dan kedokteran yang
didalamnya terkandung rencana untuk
mengubah perilaku perseorangan dan
masyarakat
dengan
tujuan
untuk
membantu
program
pengobatan,
rehabilitasi, pencegahan penyakit dan
peningkatan kesehatan.
Sedangkan pada kelompok perlakuan
mengalami penurunan tingkat kecemasan
yang signifikan, hal ini karena di dalam
musik terdapat 3 komponen penting yang
mampu membuat perasaan tenang yaitu
melodi, ritem dan harmonisasi.
Melodi merupakan alunan nada yang
merupakan vibrasi suara yang timbul dari
semua jenis alat musik. Ritem adalah
satuan kunci nada yang mengikuti melodi
dengan mengambil bagian bagian tertentu
sesuai dengan tempo dan ketukan yang
berbeda-beda. Sedangkan harmonisasi
ialah kebersamaan dan keselarasan dari
seluruh komponen suara/ nada, baik itu
suara, kunci nada, tempo, hingga volume.
Dari 3 komponen tadi akan menghasilkan
vibrasi suara yang mengalun melalui
gendang telinga diterima oleh system
saraf pusat melalui syaraf auditori lalu
hipotalamus
mengeluarkan
hormon
ptiutari sehingga endorphin meningkat
mengakibatkan rasa rileks, fly, nyeri
menurun, senang, tenang sehingga
mekanisme koping anak adaptif dan
tingkat kecemasan turun. Hal ini yang
menyebabkan anak merasa tenang dan
meknisme koping anak adaptif. Musik
menghasilkan rangsangan ritmis yang
kemudian ditangkap melalui organ
pendengaran dan diolah di dalam sistem
saraf tubuh dan kelenjar pada otak yang
selanjutnya mereorganisasi interpretasi
bunyi
ke
dalam
ritme
internal
pendengarnya.
Ritme
internal
ini
mempengaruhi
metabolisme
tubuh
manusia sehingga prosesnya berlangsung
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

dengan lebih baik. Dengan metabolisme


yang lebih baik, tubuh akan mampu
membangun sistem kekebalan yang lebih
baik, dan dengan sistem kekebalan yang
lebih baik tubuh menjadi lebih tangguh
terhadap kemungkinan serangan penyakit
(Satiadarma, 2002)
Kesimpulan
1. Sebelum diberikanperlakuan baik dari
kelompok perlakuan dan kontrol
tingkat kecemasan sebagian besar
kategori kecemasan berat. Hal ini
disebabkan anak merasa asing
terhadap lingkungan sekitar selain itu
juga
karena
perpisahan
dan
kehilangan kontrol (Wong& whaley,
2007).
2. Sesudah perlakuan responden pada
kelompok
perlakuan
tigkat
kecemasan mengalami penurunan.
Sedangkan pada kelompok kontrol
mayoritas tidak mengalam penurunan,
meskipun ada yang mengalami
penurunan yaitu 1 anak. Hal ini
dikarenakan vibrasi musik yang
mengalun melalui gendang telinga
diterima oleh system saraf pusat
melalui
syaraf
auditori
lalu
Hipotalamus mengeluarkan Hormon
Ptiutari
sehingga
endorphin
meningkat mengakibatkan rasa rileks,
fly, nyeri menurun, senang, tenang
sehingga mekanisme koping anak
adaptif dan tingkat kecemasan turun.
3. Pebedaan antara kelompok perlakuan
dan kontrol menunjukkan adanya
pengaruh yang signifikan pada
kelompok
perlakuan,
hal
ini
membuktikan bahwa ada pengaruh
terapai musik terhadap penurunan
tingkat kecemasan anak usia pra
sekolah.
Daftar Pustaka
Arikunto, Suharsini, Prrof, Dr (1998).
Prosedur
Penelitian
Suatu
Pendekatan Praktek. Edisi Revisi
IV. Jakarta: Rineka Cipta.
4

ISSN 2303-1433

Hawari, D. (2004). Manajemen stress,


cemas dan depresi. Jakarta: FK UI.

Tomb, D. A. (2004). Buku saku psikiatri


edisi keenam. Jakarta: EGC.

Hidayat A. Aziz Azimul, Skep, Ners


(2005).
Pengantar
Ilmu
KeperawatanAnak 1. Edisi I.
Jakarta: Salemba Medika.

Wong , D. L (2012). Editor : Sari


Kurniaingsih. Alih Bahasa : Monica
Ester. Pedoman Klinis Keperawatan
pediatrik (Wong And Whaleys
Clinical Manual of Pediatric
Nursing). Edisi 4. Jakarta: EGC.

Hockenberry, M. J., & Wilson, D. (2007).


Wongs nursing care of infants and
children (8th ed.). St. Louis: Mosby
Elsevier.

Wong dan Whaleys. (2007). Nursing care


of infants and children, 8th edition.
St
Louis:
Mosby.

Kaplan, H.I & Sadock, B. J. (2002).


Sinopsis psikiatri jilid 2. Jakarta:
Binarupa Aksara.
Nursalam (200). Konsep dan Penerapan
Metode
Penelitian
Ilmu
Keperawatan : Pedoman Skripsi,
Tesis dan Instrumen Penelitian
Keperawatan .Jakarta: Salemba
Medika.
Potter &Perry. (2005). Buku ajar
fundamental keperawatan volume 1,
Edisi 4. Jakarta: EGC
Sari, F. S., & Sulisno, Madya. (2012).
Hubungan kecemasan ibu dengan
kecemasan anak saat hospitalisasi
anak. Journal Nursing Study.
Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012.
Satiadarma, M.(2002). Terapi musik,
Cetakan Pertama. Jakarta: Milenia
Populer.
Stuart, G.W & Sundeen, S.J. (1998).
Keperawatan jiwa, Edisi 3. Jakarta:
EGC.
___________
(2001).
Buku
saku
keperawatan jiwa(edisi ketiga).
Jakarta: EGC.
Supartini, Y (2004). Editor : Monica
Ester. Buku Ajar Keperawatan
Anak. Jakarta: EGC.
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

ISSN 2303-1433

Peningkatan Kualitas Hidup Pada Penderita Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani
Terapi Hemodialisa Melalui Psychological Intervention Di Unit Hemodialisa Rsud
Gambiran Kediri
Dhina Widayati, Nove Lestari
STIKES Karya Husada Kediri/budinawida@gmail.com
ABSTRACT
Perubahan gaya hidup menyebabkan terjadi pergeseran dari penyakit menular menjadi
penyakit degeneratif yang dapat berkembang menjadi penyakit terminal, salah satunya
adalah gagal ginjal akut yang dapat berkembang menjadi gagal ginjal konik (GGK). Pada
stadium lanjut, pasien GGK tidak hanya mengalami berbagai masalah fisik tetapi juga
masalah psikososial dan spiritual yang dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien dan
keluarganya. Perawatan paliatif dapat dilakukan melalui intevensi dengan pendekatan
psikologis (psychological intervention) yang diharapkan mampu meningkatkan adaptasi
dan motivasi pasien sehingga mampu membangun mekanisme koping yang efektif dan
dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis
pengaruh psychological intervention terhadap motivasi dan kualitas hidup pasien GGK
yang menjalani teapi hemodialisa. Desain penelitian yang digunakan adalah pra
experiment pre post test design. Besar sampel sebanyak 10 orang di peroleh melalui tehnik
accidental sampling. Variabel independen adalah psychological intervention dan variabel
dependen adalah motivasi dan kualitas hidup. Hasil analisis data tingkat motivasi melalui
Wilcoxon Signed Ranks Test menunjukkan p=0,008 dan kualitas hidup melalui Paired t
Test diperoleh nilai p=0,003. Psychological intervention yang dilakukan melalui relaksasi
spiritual dalam setting kelompok ini mampu menciptakan peer group support sesama
penderita yang dapat meningkatkan motivasi mereka dalam beradaptasi terhadap
penyakitnya (menerima), sehingga mampu membangun mekanisme koping yang efektif
dan dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Kesimpulan hasil penelitian ini bahwa
psychological intervention dapat meningkatkan motivasi dan kualitas hidup pasien GGK.
Saran bagi perawat di Unit Hemodialisa untuk menerapkan intervensi tersebut sebagai
salah satu upaya meningkatkan motivasi dan kualitas hidup pasien.
.
Kata kunci : psychological intevntion, motivasi, kualitas hidup, penderita GGK,
hemodialsa
Pendahuluan
Perubahan gaya hidup menyebabkan
terjadi pergeseran penyakit di Indonesia.
Pergeseran tersebut terjadi dari penyakit
menular menjadi penyakit degeneratif.
Penyakit degeneratif yang muncul sangat
bervariasi dan dapat berkembang menjadi
penyakit terminal. Jumlah pasien dengan
penyakit terminal baik pada dewasa dan
anak seperti penyakit kanker, penyakit
degeneratif, penyakit paru obstruktif
kronis, cystic fibrosis,stroke, parkinson,
gagal jantung /heart failure, penyakit
genetika dan penyakit infeksi seperti HIV/
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

AIDS
semakin
meningkat
dan
memerlukan perawatan paliatif, disamping
kegiatan promotif, preventif, kuratif, dan
rehabilitatif. Namun saat ini, pelayanan
kesehatan di Indonesia belum sepenuhnya
menyentuh kebutuhan pasien dengan
penyakit terminal tersebut, terutama pada
stadium lanjut dimana prioritas pelayanan
tidak hanya pada penyembuhan tetapi juga
perawatan agar mencapai kualitas hidup
yang terbaik bagi pasien dan keluarganya.
Pada stadium lanjut, pasien dengan
penyakit
kronis yang berkembang
menjadi penyakit terminal tidak hanya
6

ISSN 2303-1433

mengalami berbagai masalah fisik seperti


nyeri, sesak nafas, penurunan berat badan,
gangguan aktivitas tetapi juga mengalami
gangguan psikososial dan spiritual yang
mempengaruhi kualitas hidup pasien dan
keluarganya). Kondisi kesehatan pasien
terminal secara fisiologis membuat pasien
mengalami perubahan yang cukup
signifikan. Perubahan fungsi tubuh akan
membuat pasien tidak dapat menjalankan
aktivitas keseharian dengan optimal.
Rutinitas terapi yang dijalani akan
membuat pasien mengalami banyak hal
baru yang membutuhkan penyesuaian
individu (Leung, 2003). Waktu terapi
yang semakin memendek, risiko kematian
yang semakin besar, komplikasi yang
muncul, dan harapan kesembuhan yang
tidak pasti adalah beberapa hal yang
membuat pasien menjadi stres jika tidak
mampu untuk membangun mekanisme
koping yang positif (Moskovits, Mounder,
Cohen et al, 1999). Oleh karensa itu
kebutuhan pasien pada stadium lanjut
suatu penyakit tidak hanya pemenuhan/
pengobatan gejala fisik, namun juga
pentingnya dukungan terhadap kebutuhan
psikologis, sosial dan spiritual yang
dilakukandengan pendekatan interdisiplin
yang dikenal sebagai perawatan paliatif.
(Doyle & Macdonald, 2003: 5).
Masyarakat menganggap perawatan
paliatif hanya untuk pasien dalam kondisi
terminal yang akan segera meninggal.
Namun konsep baru perawatan paliatif
menekankan
pentingnya
integrasi
perawatan paliatif lebih dini agar masalah
fisik, psikososial dan spiritual dapat
diatasi dengan baik Perawatan paliatif
adalah pelayanan kesehatan yang bersifat
holistik
dan
terintegrasi
dengan
melibatkan berbagai profesi dengan dasar
falsafah bahwa setiap pasien berhak
mendapatkan perawatan terbaik sampai
akhir hayatnya. (Doyle & Macdonald,
2003: 5). Perawatan paliatif adalah
pendekatan yang bertujuan memperbaiki
kualitas hidup pasien dan keluarga yang
menghadapi masalah yang berhubungan
dengan penyakit yang dapat mengancam
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

jiwa, melalui pencegahan dan peniadaan


melalui identifikasi dini dan penilaian
yang tertib serta penanganan nyeri dan
masalah-masalah lain, fisik, psikososial
dan spiritual (KEPMENKES RI NOMOR:
812, 2007).
Pada perawatan paliatif ini dapat
menggunakan
intervensi
dengan
psychologis berupa relaksasi spiritual.
Dalam intervensi dengan setting kelomok
ini diharapakan tercipta peer group
support sesama penderita yang akan
meningkatkan motivasi mereka dalam
beradaptasi
terhadap
penyakitnya
(menerima),
sehingga
mampu
membangun mekanisme koping yang
efektif dan dapat meningkatkan kualitas
hidupnya.
Bahan Dan Metode
Desain penelitian yang digunakan
adalah pra experimental pre post test
group design. Besar sampel diperoleh 20
responden.Tehnik sampling menggunakan
accidental sampling. Pada pemilihan
sampel juga digunakan pendekatan
melalui kriteria inklusi : 1) Pasien GGK
yang menjalani terapi hemodialsa di unit
Hemodialisa RSUD Gambiran Kota
Kediri pada tanggal 20 September-4
Oktober
2014, 2) Bersedia menjadi
responden, 3)Beragama islam.
Variabel independen pada penelitian
ini adalah psychological intervention yang
dilakukan melalui relaksasi spiritual dan
variabel dependen adalah motivasi dan
kualitas hidup.
Pengumpulan data
dilakukan dengan menggunakan kuesioner
motivasi dan WHO-QOLBREF untuk
mengukur kualitas hidup.
Pre-test dilakukan pada responden
dengan melakukan pengukuran motivasi
dan kualitas hidup. Setelah itu diberikan
intervensi selama 3 kali (seminggu sekali)
dengan durasi 30 menit tiap kali
intervensi. Pemberian intvensi dilakukan
dengan menggunakan alat berupa MP3
yang dihubungkan dengan headset. Di
dalam MP3 tersebut berisi dzikir bersama

ISSN 2303-1433

yang diiringi alunan musik islami yang


menyejukkan hati.
Pada minggu berikutnya (minggu ke4)
dilakukan
post
test
dengan
membagikan kuesioner motivasi dan
kualitas hidup. Setelah mendapatkan data
dilakukan entry data dan analisa.

Data Khusus (Variabel yang diteliti)


1. Tingkat
motivasi
responden
sebelum dan sesudah diberikan
psychological intervention

Hasil
Data Umum
Data demografi mengenai usia dan
jenis kelamin seperti yang ditunjukkan
oleh diagram 1 dan diagram 2
menunjukkan bahwa sebagian besar
responden berumur 41-60 tahun, yaitu
sebanyak 6 orang (60,00%) dan mayoritas
responden adalah laki-laki.. Menurut teori
psikologi
perkembangan,
mayoritas
penderita tersebut berada pada masa
dewasa tengah. Berdasarkan riwayat
pendidikan dan pekerjaan didapatkan data
bahwa sebagian responden mempunyai
riwayat pendidikan di tingkat perguruan
tinggi dan mempunyai pekerjaan sebagai
PNS. Data demografi tentang lama
penderita menderita penyakit terminal
seperti pada gambar 5 menunjukkan
bahwa
sebagian
besar
responden
menderita sakit dalam kurun waktu 1-3 th
60.00
%

Gambar 3
Diagram tingkat motivasi
responden pre dan post intevensi
Data tentang tingkat motivasi
responden
sebelum
dan
sesudah
intervensi, seperti nampak pada diagram
gambar 3 menunjukkan bahwa sebagian
besar responden (50% orang) mempunyai
motivasi
tingkat
sedang
sebelum
pemberian intervensi. Setelah pemberian
intervensi didapatkan hasil bahwa
mayoritas penderita tersebut mengalami
peningkatan motivasi, sebesar 70%
mempunyai motivasi tinggi.
2. Kualitas hidup responden sebelum
dan sesudah diberikan psychological
intervention
Tabel 1
Tabulasi silang rekapitulasi
skor kualitas hidup responden sebelum
dan sesudah diberikan psychological
intervention

Umur

20.00
%

20-40 th

41-60 th

20.00
%

> 60 th

Gambar 1 Diagram pie distribusi


responden berdasarkan umur

Naik

Tetap

Turun

Total

Paired
t test

80,00

20,00

0,00

10

100

0,003

Jenis kelamin

70.00%
30.00%

Laki-laki

Perempuan

Gambar 2 Diagram pie distribusi


responden berdasarkan jenis kelamin

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

ISSN 2303-1433

Gambar 4. Diagram kualitas hidup


responden sebelum dan sesudah diberikan
psychological intervention
Hasil pengukuran kualitas hidup
seperti yang terlihat pada tabel 1 dan
gambar 4 menunjukkan bahwa mayoritas
responden
mengalami
peningkatan
kualitas
hidup
setelah
diberikan
psychological
intervention
yang
didalamnya terdapat kegiatan relaksasi
spiritual dengan mendengarkan dan
mengikuti dzikir yang diiringi alunan
musik rohani yang menyejukkan jiwa.
Sebanyak 80 % responden mengalami
peningkatan kualitas hidup, dan 20 %
responden tetap.
3. Hasil pengukuran tingkat motivasi
dan kualitas hidup responden sebelum
dan sesudah diberikan psychological
intervention
Tabel 2
Hasil pengukuran tingkat
motivasi dan kualitas hidup responden
No

Wilcoxon Sign
Rank Test
Tingkat motivasi

Paired t test
Kualitas
Hidup
pre
Post

Pre

post

92

118

75

78

75

102

72

88

90

96

88

94

79

92

84

80

80

103

85

99
p = 0,003
Paired t test
p < 0,05

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
2

3
p = 0,008
Wilcoxon Sign
Rank Test
p < 0,05

Keterangan :
1 = motivasi rendah
2 = motivasi sedang
3 = motivasi tinggi
Pada tabel 2 tampak perubahan
tingkat motivasi dan kualitas hidup
responden
sebelum
dan
sesudah
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

mendapatkan psychological intervention.


Berdasarkan uji statistik Wilcoxon Signed
Rank Test ditemukan adanya perubahan
tingkat motivasi responden sebelum dan
sesudah dilakukan intervensi relaksasi
religius berbasis hospice care dengan nilai
p = 0,008. Hasil uji statistik paired t test
menunjukkan nilai p = 0,003 pada
perubahan kualitas hidup. Dari hasil diatas
diperoleh bahwa p< 0,05 dengan
kesimpulan Hipotesis diterima yang
berarti ada pengaruh psychological
intervention
terhadap
peningkatan
motivasi dan kualitas hidup penderita
GGK yang menjalani terapi hemodialisa
Pembahasan
Sebagian besar responden (penderita
GGK yang sedang menjalani hemodialisa
di Unit Hemodialisa RSUD Gambiran)
sebelum
diberikan
psychological
intervention mempunyai motivasi dalam
tingkat sedang. Faktor-faktor yang
berhubungan dengan ketidakpatuhan
pasien GGK dengan hemodialisis
menggunakan Model Perilaku Green
(1980 dalam Notoatmojo, 2007) dan
Model Kepatuhan Kamerrer, 2007 adalah
a. Faktor Pasien (Predisposing faktors)
Faktor pasien meliputi karakteristik
pasien (usia, jenis kelamin, ras, status
perkawinan, pendidikan), lamanya
sakit, tingkat pengetahuan, status
bekerja, sikap, keyakinan, nilainilai,
persepsi, motivasi, harapan pasien,
kebiasaan merokok.
b. Faktor Sistem Pelayanan Kesehatan
(Enabling factors)
Faktor pelayanan kesehatan meliputi:
fasilitas unit hemodialisa, kemudahan
mencapai
pelayanan
kesehatan
termasuk didalamnya biaya, jarak,
ketersediaan
transportasi,
waktu
pelayanan, dan keterampilan petugas.
c. Faktor Petugas/provider (Reinforcing
factors)
Faktor provider meliputi: keberadaan
tenaga perawat terlatih, ahli diet,
kualitas
komunikasi,
dukungan
keluarga.
9

ISSN 2303-1433

Beberapa faktor yang berhubungan


dengan kepatuhan pasien Gagal Ginjal
Kronik dengan hemodialisis seperti
dikemukakan diatas akan diuraikan
sebagiannya sebagai berikut:
a. Usia
Siagian (2001, dalam Syamsiah,
2011) menyatakan bahwa umur
berkaitan
erat
dengan
tingkat
kedewasan atau maturitas, yang berarti
bahwa semakin meningkat umur
seseorang, akan semakin meningkat
pula
kedewasaannya
atau
kematangannya baik secara teknis,
psikologis, maupun spiritual, serta akan
semakin
meningkatkan
pula
kemampuan
seseorang
dalam
mengambil
keputusan,
berfikir
rasional, mengendalikan emosi, toleran
dan
semakin
terbuka
terhadap
pandangan orang lain termasuk pula
keputusannya
untuk
mengikuti
program-program
terapi
yang
berdampak pada kesehatannya.
b. Pendidikan
Pendidikan
merupakan
pengalaman yang berfungsi untuk
mengembangkan kemampuan dan
kualitas pribadi seseorang, dimana
semakin tinggi tingkat pendidikan akan
semakin besar kemampuannya untuk
memanfaatkan
pengetahuan
dan
keterampilannya
(Siagian,
20011,
Rohman, 2007 dalam Syamsiah, 2011).
c. Lamanya Hemodialisis
Periode sakit dapat mempengaruhi
kepatuhan. Beberapa penyakit yang
tergolong penyakit kronik, banyak
mengalami
masalah
kepatuhan.
Pengaruh sakit yang lama, belum lagi
perubahan pola hidup yang kompleks
serta
komplikasi-komplikasi
yang
sering muncul sebagai dampak sakit
yang lama mempengaruhi bukan hanya
pada fisik pasien, namun juga
emosional, psikologis, dan sosial. Pada
pasien hemodialisis didapatkan hasil
riset yang memperlihatkan perbedaan
kepatuhan pada pasien yang sakit
kurang dari 1 tahun dengan yang lebih
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

dari 1 tahun. Semakin lama sakit yang


diderita, maka resiko penurunan tingkat
kepatuhan semakin tinggi (Kamerrer,
2007 dalam Syamsiah, 2011).
d. Kebiasaan Merokok
Merokok merupakan masalah
kesehatan yang utama di banyak
negara yang berkembang (termasuk
Indonesia). Rokok mengandung lebih
dari 4000 jenis bahan kimia yang
diantaranya bersifat karsinogenik atau
mempengaruhi sistem vaskular.
e. Pengetahuan tentang Hemodialisa
Pengetahuan
atau
kognitif
merupakan faktor yang sangat penting
untuk
terbentuknya
tindakan
seseorang sebab dari pengetahuan dan
penelitian ternyata perilakunya yang
disadari oleh pengetahuan akan lebih
langgeng dari pada perilaku yang tidak
didasari oleh pengetahuan. Manusia
mengembangkan
pengetahuannya
untuk
mengatasi
kebutuhan
kelangsungan hidupnya. Penelitian
telah
menunjukkan
bahwa
peningkatan pengetahuan tidak berarti
meningkatkan
kepatuhan
pasien
terhadap pengobatan yang diresepkan,
yang palingpenting, sesorang harus
memiliki sumber daya dan motivasi
untuk mematuhi protokol pengobatan (
Morgan, 2000, Kamerrer, 2007, dalam
Syamsiah, 2011).
f. Motivasi
Motivasi adalah merupakan sejumlah
proses -proses psikologikal, yang
menyebabkan
timbulnya,
diarahkannya,
dan
terjadinya
persistensi kegiatan-kegiatan sukarela
(volunter) yang diarahkan ketujuan
tertentu, baik yang bersifat internal,
atau eksternal bagi seorang individu,
yang menyebabkan timbulnya sikap
antusiasme dan persistensi. Penelitian
membuktikan bahwa motivasi yang
kuat memiliki hubungan yang kuat
dengan kepatuhan (Kamerrer, 2007,
dalam Syamsiah, 2011).
Psychological intervention yang
dilakukan melalui kegiatam relaksasi
10

ISSN 2303-1433

spiritual ini mampu menciptakan peer


group support sesama penderita yang
dapat meningkatkan motivasi mereka
dalam
beradaptasi
terhadap
penyakitnya (menerima),
sehingga
mampu
membangun
mekanisme
koping yang efektif dan dapat
meningkatkan kualitas hidupnya

Notoatmodjo,Soekidjo.1997.Ilmu
Kesehatan Masyarakat.Jakarta: PT
Rineka Cipta

Simpulan Dan Saran


Simpulan
Kesimpulan hasil penelitian ini bahwa
psychological
intervention
dapat
meningkatkan motivasi dan kualitas hidup
pasien GGK dalam beradaptasi terhadap
penyakitnya dan menjalankan terapi
hemodialisa.
Saran
Saran bagi perawat di unit
Hemodialisa untuk menerapkan intervensi
tersebut sebagai salah satu upaya
meningkatkan kualitas hidup pasien GGK
dan bagi penelitian slanjutnya di harapkan
dapat dilakukan pengukuran indikator
penilaian kualitas hidup tidak hanya
menggunakan kuesioner, akan tetapi juga
menggunakan wawancara agar didapatkan
hasil pengukuran yang komprehensif.

Potter
dan
Ferry.2005.Buku
Ajar
Fundamental
Keperawatan
Vol.1.Jakarta:EGC

Nursalam. (2013). Konsep dan Penerapan


Metodologi
Penelitian
Ilmu
Keperawatan. Jakarta : Salemba
Medika

Pujawayan.
2011.
Home
Care.http://wayanpuja.wordpress.co
m/2011/05/13/home- care/
di
akses tanggal 02 Oktober 2013
Sarafino, E. P. & Smith, T. W. (2011).
Health Psychology: Biopsychosocial
Interaction (7th edition). USA: John
Wiley & Sons, Inc.
The WHOQOL Group (1996) 'The World
Health Organization Quality of Life
Assessment (WHOQOL): Position
Paper From the World Health
Organization', Social Science and
Medicine, Vol. 41, No. 10, pp14031409

Daftar Pustaka
Depkes RI.1990.Pembangunan Kesehatan
Masyarakat
di
Indonesia.
Jakarta:Depkes RI
Dr.M.N Bustan.2000.Epidemiologi Pasien
Tidak Menular.Jakarta:PT Rineka
Cipta
Hidayat, Lukman. 2009. Home Care dan
"sedikit konsep untuk anda".
Diakses tanggal 02
Oktober
2013

Widuri, E. (2012). Pengaruh Acceptance


and Commitment Therapy Terhadap
Respon
Ketidakberdayaan Klien
Gagal Ginjal Kronik di RSUP
Fatmawati Jakarta. Tesis FIK UI
tidak
dipblikasikan

Mahyuddin.2006.Revitalisasi Kesehatan
Daerah Sumsel Melalui Paradigma
Sehat. Sumatra Selatan

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

11

ISSN 2303-1433

Perbedaan Peran Ibu Primipara Dan Multipara Dalam Pengasuhan Bayi Baru Lahir
Koekoeh Hardjito, Sumy Dwi Antono, Erna Rahma Yani*
*Poltekkes Kemenkes Malang Prodi Kebidanan Kediri
ABSTRACT
Primipara mother is woman which has borned a baby aterm the first time. However
multipara mother is woman which has been borned life a baby several times but it is not
more than five times. Primiparous response as parents need more support from the
environment and some women do not like to responsibilities at home and care for the baby.
Whereas in multiparous would be more realistic in anticipating his physical limitations and
can more easily adapt to the role of social interaction, in the sense of having a positive
response as a parent. The role of both in interaction and mothering of newborn baby were
observationed either from feeding, interest, respons, speech and touch by FIRST
observation method. Many things influencing interaction and ability of mother and
mothering baby, one of them are experience of mother bears and takes care of child before
it. This research aim to see is there are many difference the role of primipara and
multipara mother in mothering of newborn baby that analized with FIRST observation
method. Research design used study comparative with design sistematic of random
sampling technic for gathering of the sample. Obsevation has been to 53 mother of post
partum that consisted of 25 primipara and 28 multipara in Aura Syifa Hospital at Kediri.
These observation has been done once between first day up to seventh day after delivering
birth. Testing of data was done by Man-Whitney U Test with p value= 0,036 (= 0,05).
The result of research showed there are difference significantly between the role of mother
primipara and multipara in mothering of newborn baby. Interaction between mothers with
baby and mothering pattern of newborn baby are multipara mother better than primipara
mother with FIRST observation method.
Key word: the role, primipara, multipara, mothering
Pendahuluan
Peran orang tua adalah peran berupa
tugas dan tanggung jawab orang tua
kepada anaknya yang ditujukan untuk
mempertahankan kelangsungan hidup
anak sekaligus meningkatkan kualitas
hidup anak agar mencapai tumbuh
kembang optimal baik fisik, mental,
emosional maupun sosial serta memiliki
intelegensi majemuk sesuai dengan
potensi genetiknya (DEPKES RI.2005: 4).
Metoda observasi FIRST adalah suatu
metoda observasi yang dilakukan untuk
menilai tingkah laku dan respon ibu
terhadap bayi baru lahir. Observasi
tersebut dikembangkan dalam sisten
penilaian yang dibuat sebagai suatu
metoda pengukuran aspek-aspek tertentu
dari ibu yang mengasuh bayinya yang
baru lahir. Lima faktor yang diobservasi
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

adalah Feeding (pemberian makan),


Interest (ketertarikan), Response (respon),
Speech (berbicara) dan Touch (Sentuhan)
disingkat dengan FIRST (Christine H.
2006: 421).
Dalam periode pranatal, ibu adalah
satu satunya pihak yang membentuk
lingkungan tempat janin berkembang dan
tumbuh. Persatuan simbiosis tertutup
antara ibu dan anak berakhir saat bayi
lahir (Bobak et al. 2005: 505).
Menjadi orangtua merupakan faktor
pematangan dalam diri seorang wanita
atau pria dan untuk anak anak peran
orangtua sangat penting (Bobak et
al.2005: 505). Tugas, tanggung jawab dan
sikap yang membentuk peran menjadi
orangtua diharapkan mampu memenuhi
kebutuhan dasar anak antara lain:
kebutuhan
fisis-biomedis
(asuh),
12

ISSN 2303-1433

kebutuhan akan kasih sayang/ emosi


(asih) dan kebutuhan latihan/ rangsangan/
bermain (asah) supaya anak bisa tumbuh
dan berkembang
optimal sesuai
kemampuannya (IDAI. 2002: 12).
Ikatan ibu dan anak yang erat, mesra,
selaras, seawal dan sepermanen mungkin
sangatlah penting karena akan turut
menentukan perilaku anak di kemudian
hari, merangsang perkembangan otak
anak dan merangsang perhatian anak
kepada dunia luar. Pemenuhan kebutuhan
emosi (asih) ini dapat kita lakukan sedini
dan seawal mungkin yaitu dengan
mendekapkan bayi pada ibunya sesegera
mungkin setelah bayi lahir (IDAI. 2002:
12).
Perkenalan, ikatan dan kasih sayang
menjadi orangtua yang sering disebut
sebagai Bonding Attachment. Lima
kondisi yang mempengaruhi ikatan
tersebut adalah : kesehatan emosional
orangtua,
sistem
dukungan
sosial
(meliputi
pasangan
hidup,
teman,
keluarga), tingkat ketrampilan dalam
berkomunikasi serta dalam memberi
asuhan yang kompeten,
kedekatan
orangtua dengan bayi dan kecocokan
orangtua dengan bayi (Mercer (1982)
dalam Bobak et al. 2005: 506).
Pada primipara respon sebagai
orangtua membutuhkan dukungan yang
lebih besar dari lingkungannya dan
beberapa wanita tidak suka terhadap
tanggung jawab di rumah serta merawat
bayi (Bobak et al. 2005: 512). Sedangkan
pada multipara akan lebih realistis dalam
mengantisipasi keterbatasan fisiknya dan
dapat lebih mudah beradaptasi terhadap
peran serta interaksi sosialnya, dalam arti
mempunyai respon positif sebagai
orangtua (Bobak et al.2005: 516).
Penelitian yang dilakukan oleh Stewart
(1990) dalam Christine (2006: 560)
mengidentifikasikan bahwa pertama kali
atau kedua kali menjadi orangtua sama
sama membuat stres tetapi stres yang
dialami pada waktu kedua berbeda dengan
stres yang dialami pada waktu pertama
menjadi orang tua.
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

Penelitian oleh OHara & Swain


(1996) dalam Handoyo et al. (2007),
melaporkan sekitar 13 % wanita
melahirkan anak pertama mengalami
depresi postpartum pada periode tahun
pertama pasca-salin. Depresi postpartum
dapat mengakibatkan terjadinya gangguan
psikologis jangka pendek dan jangka
panjang, tidak saja pada wanita penderita
tapi juga pada anak dan anggota keluarga
lainnya (Armstrong et al. 2000 dalam
Handoyo et al. 2007). Selain itu dapat
juga terjadi gangguan hubungan tali kasih
ibu dengan anak, kurangnya perhatian ibu
dalam
merawat,
mengasuh
serta
membesarkan anaknya, kesulitan anak
dalam menjalin hubungan sosial dengan
lingkungan dan teman sebaya serta
konflik perkawinan (Kustjens & Wolke.
2001 dalam Handoyo et al. 2007). Indriani
dalam penelitiannya tentang studi
fenomenologi tentang pengalaman ibu
primipara dengan keluarga ini dalam
merawat bayi baru lahir menyebutkan
bahwa merawat bayi sendiri bukan
pekerjaan yang mudah, dukungan dari
tenaga profesional belum sesuai dengan
yang diharapkan. Tujuan penelitian
mengetahui perbedaan
peran ibu
primipara
dan
multipara
dalam
pengasuhan bayi baru lahir.
Metode Penelitian
Desain penelitian yang digunakan
dalam penelitian adalah study komparatif.
Populasi dalam penelitian ini adalah
semua ibu post partum yang bersalin di
RS Aura Syifa Kediri dengan sampel
sebesar 53 orang terdiri dari 25 ibu
primipara dan 28 ibu multipara. Variabel
indenpenden dalam penelitian ini adalah
ibu Primipara dan ibu Multipara,
sedangkan variabel dependen dalam
penelitian ini adalah pengasuhan bayi
baru lahir. Alat ukur yang digunakan pada
penelitian ini berupa lembar observasi
dengan skala penilaian (rating scala),
yang terdiri dari 5 poin penilaian, yaitu
Feeding (pemberian makan termasuk
ASI), Interest (ketertarikan) Respons,
13

ISSN 2303-1433

Hasil Penelitian
A. Usia responden
Berikut keadaan responden menurut
golongan usia.
Tabel.1 Usia responden
Rentang

Primipara

C. Prosentase tiap aspek pengamatan


pada ibu primipara dan multipara
a. Feeding
120

100

80

Prosentase

Speech (berbicara termasuk kontak mata)


dan Touch (sentuhan)
kemudian
ditabulasi dalam bentuk skor. Skor
terendah 0 dan skor tertinggi 10. Uji
statistik yang digunakan adalah Mann
Whitney U Test dengan alpha 0,05.

Ibu Primipara

60

Ibu Multipara
40

Multipara

20

Usia
(tahun)
15-19

frekuensi

Prosentase

frekuensi

Prosentase

12 %

0%

20-24

10

40 %

3,6 %

25-29

11

44 %

14,3 %

30-34

4%

15

53,6 %

35-39

0%

10,7 %

40-44

0%

17,8 %

Jumlah

25

100 %

28

100 %

0
skor 0

skor 1

skor 2

Skor Peran

Gambar 1
Prosentase skor aspek
Feeding pada ibu Primipara dan
Multipara
b. Interest
80
70
60

Prosentase

B. Peran ibu dalam pengasuhan bayi baru


lahir
Peran ibu primipara dan multipara
dalam pengasuhan bayi baru lahir
dikelompokkan dalam kategori baik,
cukup dan kurang. Berikut distribusi
peran responden :

50

Ibu Primipara

40

Ibu Multipara

30
20
10
0
skor 0

Tabel 2 Peran ibu Primipara dan


Multipara
Kategori

Primipara

Multipara

Peran

frekuensi

Persen

frekuensi

Persen

Baik

12 %

0%

Cukup

28 %

13

Kurang

18

72 %

15

Jumlah

25

100 %

28

46,4
%
53,6
%
100 %

skor 1

skor 2

Skor Peran

Gambar 2
Prosentase skor aspek
interest pada ibu primipara dan
multpara
c. Response
80
70

Prosentase

60
50
Ibu Primipara

40

Ibu Multipara

30
20
10
0
skor 0

skor 1

skor 2

Skor Peran

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

14

ISSN 2303-1433

Gambar 3
Prosentase skor aspek
response pada ibu primipara dan
multpara
d. Speech
80
70

Prosentase

60
50

Ibu Primipara

40

Ibu Multipara

30
20
10
0
skor 0

skor 1

skor 2

Skor Peran

Gambar 4 Prosentase skor aspek speech


pada ibu primipara dan multpara
e. Touch
70

Prosentase

60
50
40

Ibu Primipara

30

Ibu Multipara

20
10
0
skor 0

skor 1

skor 2

Skor Peran

Gambar 5 Prosentase skor aspek touch


pada ibu primipara dan multipara
D. Hasil Uji Hipotesis
Dengan menggunakan uji statistik
Mann Whitney diperoleh nilai signifikansi
sebesar 0.036. Nilai tersebut lebih kecil
dari nilai yang ditetapkan sebesar 0.05,
sehingga H0 ditolak artinya terdapat
perbedaan peran ibu primipara dan
multipara dalam pengasuhan bayi baru
lahir.
Pembahasan
A. Peran ibu primipara dalam pengasuhan
bayi baru lahir
Pada tabel 2 telah disebutkan bahwa
tidak ada satupun ibu primipara yang
memiliki peran baik dalam merawat bayi
baru lahir. Pada penelitian ini mayoritas
ibu (72 %) memiliki peran yang kurang.
Menjadi orangtua merupakan suatu
proses yang terdiri dari dua komponen.
Komponen pertama, bersifat praktis atau
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

mekanis,
melibatkan
keterampilan
kognitif dan motorik; komponen kedua
bersifat
emosional,
melibatkan
keterampilan afektif dan kognitif.
Komponen pertama dalam proses menjadi
orangtua melibatkan aktivitas perawatan
anak,
seperti
memberi
makan,
menggendong, mengenakan pakaian,
membersihkan bayi, menjaganya dari
bahaya, dan memungkinkannya untuk bisa
bergerak (Steele & Pollack, 1968 dalam
Bobak, Lowdermilk & Jensen, 2005).
Aktivitas yang berorientasi pada tugas
atau keterampilan kognitif motorik ini
tidak terlihat secara otomatis pada saat
bayi lahir, namun dipelajari orangtua dan
dipengaruhi oleh pengalaman pribadi dan
budaya (Bobak, Lowdermilk & Jensen,
2005). Kesiapan ibu menjadi orangtua
dapat dipersiapkan melalui proses belajar
guna meningkatkan pengetahuan, sikap,
dan keterampilan ibu tentang perawatan
bayi prematur di rumah.
Ibu primipara adalah seorang yang
melahirkan anak pertama kali, oleh karena
itu ibu primipara membutuhkan dukungan
yang lebih besar dari lingkungan baik dari
keluarga,
teman
maupun
petugas
kesehatan
dalam
perawatan
dan
pengasuhan bayi baru lahir (Bobak et al.
2005: 516). Sesuai dengan penelitian yang
dilakukan OHara & Swain (1996) dalam
Handoyo et al. (2007) melaporkan sekitar
13 % wanita melahirkan anak pertama
mengalami depresi postpartum pada
periode tahun pertama pascasalin. Depresi
postpartum
dapat
mengakibatkan
terjadinya gangguan psikologis jangka
pendek dan jangka panjang. Peristiwa
tersebut tidak saja terjadi pada wanita
penderita tapi juga pada anak dan anggota
keluarga lainnya (Armstrong et al. 2000
dalam Handoyo et al. 2007). Selain itu
dapat juga terjadi gangguan hubungan tali
kasih ibu dan anak serta kurangnya
perhatian ibu dalam merawat, mengasuh
serta membesarkan anaknya, kesulitan
anak dalam menjalin hubungan sosial
dengan lingkungan dan teman sebaya
serta konflik perkawinan (Kustjens &
15

ISSN 2303-1433

Wolke. 2001 dalam Handoyo et al. 2007).


Menurut Rubin ada beberapa fase adaptasi
peran menjadi orang tua yaitu: ( taking
in) fase ini terjadi pada hari 1 2 hari
setelah melahirkan yang ditandai dengan
kondisi ibu masih pasif dan tergantung
pada orang lain, perhatian ibu tertuju pada
kekuatiran terhadap bentuk tubuhnya, ibu
memerlukan ketenangan dalam tidur
untuk mengembalikan keadaan tubuh ke
kondisi normal (taking hold) fase ini
berlangsung 2- 4 hari setelah melahirkan
yang ditandai dengan ibu menaruh
perhatian pada kemampuannya untuk
menjadi orang tua, ibu berusaha untuk
menguasai ketrampilan merawat bayi.
Selama fase ini sistem pendukung
(support) menjadi sangat bernilai bagi ibu
primipara yang membutuhkan sumber
informasi dan pemulihan fisik secara
optimal,
(letting go) fase ini
berlangsung hari kelima setelah persalinan
dan seterusnya, yang ditandai dengan ibu
sudah bisa mengambil tanggung jawab
dalam merawat bayi.
Pada tabel 1 terdapat ibu primipara
yang masih berada pada rentang usia 15
19 tahun yang merupakan usia remaja.
Transisi menjadi orangtua pada masa
remaja mungkin sulit bagi orang tua yang
masih remaja. Remaja akan mengalami
kesulitan dalam menerima perubahan citra
diri dan menyesuaikan dengan peran baru
yang berhubungan dengan tanggung
jawab merawat bayi (Bobak et al.
2005:835).
B. Peran ibu multipara dalam pengasuhan
bayi baru lahir
Pada tabel 2 telah disebutkan bahwa
ibu multipara memiliki peran dengan
prosentase cukup dengan kondisi lebih
baik dibanding ibu primipara yaitu sebesar
46,4 %.
Komponen
psikologis
sebagai
orangtua, bersifat keibuan atau kebapakan
berakar dari pengalaman orangtua saat
mengalami dan menerima kasih sayang
dari orangtuanya. Keterampilan kognitif
afektif menjadi orangtua meliputi sikap
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

yang lembut, waspada, dan memberi


perhatian terhadap kebutuhan dan
keinginan bayi. Komponen menjadi
orangtua memiliki efek yang mendasar
pada cara perawatan bayi yang dilakukan
dengan praktis dan pada respon emosional
bayi terhadap asuhan yang diterima
(Bobak, Lowdermilk & Jensen, 2005).
Selain pengalaman dari orang tua juga
pengalaman seorang ibu dalam merawat
bayi
baru
lahir
berakar
dari
pengalamannya terdahulu dalam merawat
bayi yang pernah dilahirkan.
Pada tabel 1 usia ibu multipara yang
berada pada rentang 24 34 tahun sebesar
71,5 %, sedangkan yang berada di rentang
usia 35 tahun ke atas adalah sebanyak
28,5 %.
Hasil penelitian yang
menunjukkan peran ibu multipara dalam
kategori cukup berkaitan dengan usia
yang siap melaksanakan peran sebagai ibu
dalam memberikan pengasuhan pada bayi
yang baru dilahirkan dengan baik.
Sedangkan permasalahan pada usia tua
yang dapat mempengaruhi peran seorang
ibu dalam pengasuhan bayi baru lahir
adalah keletihan dan kebutuhan untuk
lebih banyak istirahat.
Ibu multipara adalah ibu yang sudah
pernah melahirkan anak beberapa kali tapi
tidak lebih dari 5 kali, oleh karena itu
pada multipara akan lebih realistis dalam
mengantisipasi keterbatasan fisiknya serta
akan lebih mudah beradaptasi terhadap
perannya dalam pengasuhan bayi (Bobak
et al. 2005: 516).
Peran
ibu
multipara
dalam
pengasuhan bayi baru lahir yang diukur
dengan metoda FIRST menunjukkan nilai
cukup, hal ini diantaranya disebabkan oleh
karena ibu multipara sudah pernah
melahirkan
anak
sehingga
secara
psikologis
lebih
siap
menghadapi
kelahiran bayi dibandingkan dengan ibu
primipara. Pada ibu multipara sudah
mempunyai
pengalaman
dalam
pengasuhan bayi sebelumnya sehingga ibu
multipara akan lebih mudah beradaptasi
terhadap peran sebagai orang tua dalam
perawatan bayi baru lahir.
16

ISSN 2303-1433

C. Perbedaan peran ibu primipara dan


multipara dalam pengasuhan bayi baru
lahir.
Hasil
penelitian
menunjukkan
terdapat perbedaan peran ibu primipara
dan multipara dalam pengasuhan bayi
baru lahir. Dari masing-masing aspek
yang dicantumkan dalam gambar 1
sampai dengan 5 menunjukkan bahwa
prosentase skor penilaian yang tinggi
didominasi oleh ibu multipara. Prosentase
Skor Feeding pada ibu multipara adalah
100 % pada skor 1, skor 1mengandung
makna bahwa seorang ibu memiliki
kemampuan antara lain jika memberi ASI,
ibu
berusaha
untuk
mendekatkan
payudaranya ke mulut
bayi, tetapi
membutuhkan banyak bantuan dan
dukungan untuk melakukan hal ini. Jika
memberikan susu botol, ibu akan
menanyakan
regimen
pemberian
makanan dan jam makan bayi; ia
membutuhkan lebih banyak bantuan dan
dukungan. Kebersihan ibu kurang baik
misalnya: ia tidak mencuci tangannya
sebelum memberikan ASI dan ceroboh
dalam mensterilkan botol susu bayi.
Mampu melaksanakan koping pada saat
menyusui dan memahami kebutuhan
makan bayi. Sedangkan ibu primipara 96
% memiliki skor 1.
Pada aspek interest menunjukkan
hasil bahwa ibu multipara 50 %
mendapatkan skor 1, sedangkan ibu
primipara 28 % mendapatkan skor 1. Skor
1 pada aspek ini ditunjukkan oleh ibu
dengan berperilaku : Ibu berkomentar
tentang penampakan bayinya, warna
rambut,
kelopak mata, kulit, bentuk
tubuh atau tingkah laku, misalnya
menangis, isapan pertama atau
rooting. Ibu hanya memperhatikan tentang
kepuasan atau ketidakpuasan pemberian
makanan dan/atau pola tidur.
Aspek
response
memberikan
gambaran pada kedua responden dengan
prosentase tertinggi sebesar 67,9 % pada
skor 1 oleh ibu multigravida dan 52 %
pada skor 0 pada ibu primigravida. Skor 0
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

ini menunjukkan terdapat keadaan yang


seperti Ibu tidak bereaksi saat bayi
menangis. Ia secara persisten berpaling
dari bayi, Tidak melihat bayi di tempat
tidurnya bayi, Menghabiskan banyak
waktu untuk menjauh dari tempat tidur
bayi. Ibu akan mendekat ke bayi hanya
jika bayi menangis. Akan meninggalkan
tidak terjaga dalam waktu lama jika ia
tidak menangis.
Skor
1
pada
aspek
speech
memberikan gambaran dari beberapa
kondisi di bawah ini dialami oleh ibu
yaitu : Bayi digendong dalam posisi yang
memungkinkan terjadinya kontak mata.
Ibu mungkin tersenyum pada bayi. Ibu
mungkin terhambat untuk bercakap-cakap
dengan bayi. Ibu mungkin berbicara
dengan bayi bukan pada bayi. Pada
aspek ini 53,6% dilakukan oleh ibu
multipara dan 32 % pada ibu primipara.
Skor 2 pada aspek touch ditunjukkan
dengan kondisi 4 % pada ibu primipara
dan 14,3 % pada ibu multipara. Skor 2 ini
ditunjukkan dengan kemampuan ibu
melaksanakan : Ibu membuat kontak yang
sering dengan menyentuh, mengelus,
mencium, atau menggendong bayi setelah
atau di antara waktu pemberian makan.
Ibu menggendong bayi secara vertikal
(diletakkan
di
bahu)
sehingga
memungkinkan pipi ibu menyentuh wajah
bayi .
Teori dan model Maternal Role
Attainment
diperkenalkan
dalam
simposium penelitian internasional yang
disponsori oleh American Nursing
Association
(ANA)
dan
konsil
keperawatan Amerika menggambarkan
bahwa
lingkungan
mempengaruhi
pencapaian peran maternal. Menurut
Mercer menjadi seorang ibu merupakan
perjalanan yang luar biasa dari siklus
kehidupan wanita, sebab hal itu
merupakan suatu proses yang tidak pernah
berhenti dan terus berkelanjutan.
Lingkungan yang paling dekat dalam
proses pencapaian peran maternal adalah
fungsi keluarga, hubungan ibu-ayah,
dukungan sosial, status ekonomi, nilai dan
17

ISSN 2303-1433

kepercayaan dalam keluarga serta sumber


stressor yang dipandang melekat dalam
sistem
keluarga.
Variabel-variabel
tersebut saling berinteraksi satu sama lain
dan memberikan pengaruh dalam transisi
menjadi motherhood. Bayi merupakan
individu yang ada di dalam sistem
keluarga. Keluarga dipandang sebagai
sistem semi tertutup yang membatasi dan
mengontrol perubahan diantara sistem
keluarga dan sistem sosial lainnya.
Komponen yang paling berpengaruh
dalam pencapaian peran maternal terjadi
melalui interaksi antara ayah, ibu dan
bayinya.
Ibu multipara memiliki pengalaman
yang lebih banyak dalam memberikan
pengasuhan pada bayi yang baru
dilahirkan jika dibandingkan dengan ibu
primipara. Proses menjadi ibu sudah lebih
dahulu
dimiliki,
sehingga
tinggal
mengasah kemampuan yang telah
dimiliki.
Simpulan Dan Saran
Simpulan
a. Peran
ibu
primipara dalam
pengasuhan bayi
baru lahir
menunjukkan bahwa interaksi antara
ibu dan bayi serta kemampuan ibu
primipara dalam pengasuhan dan
perawatan bayi baru lahir adalah
sebagian besar kurang
b. Peran
ibu
multipara dalam
pengasuhan bayi
baru lahir
menunjukkan bahwa interaksi antara
ibu dan bayi serta kemampuan ibu
multipara dalam pengasuhan dan
perawatan bayi baru lahir dalam
keadaan berimbang antara cukup dan
kurang.
c. Ada perbedaan peran antara ibu
primipara dan ibu multipara dalam
pengasuhan bayi baru lahir yang di
ukur dengan metoda observasi FIRST.
Saran
Upaya peningkatan peran ibu primipara
dalam pengasuhan bayi baru lahir perlu
lebih digiatkan.
Kerjasama dengan
keluarga dapat digunakan sebagai salah
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

satu langkah untuk meningkatkan peran


ibu tersebut. Kelas persalinan / prenatal
dapat
lebih
dikembangkan
untuk
mengantisipasi kemampuan ibu dalam
mengasuh bayinya.
Daftar Pustaka
A. Aziz Alimul Hidayat. 2007.Metoda
Penelitian Kebidanan Tehnik Analisis
Data. Jakarta: Salemba Medika.
Bobak. 2004. Buku Ajar Keperawatan
Maternitas Ed. Ke-4. Alih bahasa
Maria A A Wijayarini, Peter I.
Anugerah. Jakarta: EGC.
Departemen
Kesehatan
RI.
2005.
Pedoman Pelaksanaan Stimulasi,
deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh
Kembang Anak Di Tingkat Pelayanan
Kesehatan Dasar. Jakarta: Direktorat
Jenderal
Pembinaan
Kesehatan
Masyarakat.
Handoyo, Hartati, Lutfatul Latifah. 2007.
Penerapan skala edinburgh sebagai
alat
deteksi risiko depresi post
partum pada primipara dan multipara.
Jurnal
Ilmiah
Kesehatan
Keperawatan. 3(3): 163-171.
Henderson, Christine. 2005. Buku Ajar
Konsep Kebidanan. Alih bahasa: Ria
Anjarwati, Renata Komalasari, Dian
Adiningsih. Jakarta: EGC
Hurlock, Elizabeth. 2000. Psikologi
Perkembangan Suatu Pendekatan
sepanjang
Rentang
Kehidupan.
Ed.ke-4. Alih bahasa: Istiwidayanti.
Soedjarwo Jakarta: Erlangga.
IDAI. 2002. Buku Ajar 1 Tumbuh
Kembang Anak dan Remaja. Ed. ke-1.
Jakarta: CV SAGUNG SETO
Ida Bagus Gde Manuaba. 1998. Ilmu
Kebidanan, Penyakit Kandungan Dan
Keluarga
Berencana
Untuk
Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC
Indriani
(tanpa
tahun).
Studi
Fenomenologi : Pengalaman ibu
primipara dengan Kelarga Inti dalam
merawat bayi baru lahir di jakarta
pusat
WWW:digilib.ui.ac.id/opac/themes/li
bri2/abstrakpdf.jsp?id=127197&loka
si...
18

ISSN 2303-1433

Nursalam. 2003. Konsep Dan Penerapan


Metodologi
Penelitian
Ilmu
Keperawatan.
Jakarta:
Salemba
Medika
POGI.IBI.IDAI. Bakti Husada. 2007.
Pelatihan Asuhan Persalinan Normal
Bahan Tambahan Inisiasi Menyusu
Dini. Jakarta: JNPK KR / POGI.
Ronny Rahmann Noor. 2006. Metodalogi
Penelitian
Dan
Rancangan
Percobaan. Bogor: IPB
Suharsimi Arikunto. 2002. Prosedur
Penelitian
Kesehatan
Suatu
Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka
Cipta
Sugiyono.
2007.
Statistika
untuk
Penelitian.
Bandung:
CV
ALFABETA
Soekidjo Notoatmojo. 2005. Metodologi
Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka
Cipta
Sutcliffe, Jenny. 2002. Baby bonding
Penerjemah: Riky Nalsya. Jakarta:
Taramedia & Restu Agung.
Stright, Barbara R. 2004. Keperawatan
Ibu Bayi Baru Lahir: Alih bahasa:
Maria A. Wijayarini. Jakarta: EGC
Utami Roesli. 2008. Asi Eklusif Langkah
Awal Menjadi Anak Sehat Setiap
Saat
http: // Parentingislami.
wordppress.
Com.

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

19

ISSN 2303-1433

Hubungan Pengetahuan Ibu Tentang Gizi Dengan Status Gizi Balita Usia 1-5 Tahun
Di Desa Kedawung Wilayah Kerja Puskesmas Ngadi
(The Correlation between Knowledge of Mothers about Nutrition with Nutritional Status of
Children Aged 1-5 years in Kedawung Village Ngadi health center working area)
Ira Titisari, Finta Isti Kundarti, Mira Susanti
Prodi Kebidanan Kediri Jl.KH.Wakhid Hasyim 64 B Kediri
Email: iratitisari@ymail.com
ABSTRACT
One of the factors that affect the nutritional status of children is the mother's
knowledge. Knowledge is a determinant of attitudes and behavior of the mother.
Knowledge required for the application of the provision of food for the nutritional needs so
that the nutritional status of children is known. The purpose of this study was analyze the
correlation between nutrition knowledge of mothers about nutrition with nutritional status
of children aged 1-5 years in Kedawung Village Ngadi health center. The research used
cross-sectional method. Total population is 369 children, with proportional sampling
techniques and random sampling found 74 respondens and their children as the sample.
Data collected by questionnaire and analyzed using the Spearman rank correlation test. The
results show respondents have sufficient knowledge about children nutrition is equal to
44.59%. While most respondents children have good nutrition (81.08%). With the
Spearman Rank test results obtained = 0,5 with t formula is t value (4,9) > t table (1.993),
then Ho is rejected it means there is a correlation between nutrition knowledge of mothers
about nutrition with nutritional status of children aged 1-5 years in Kedawung village
Ngadi health center. The conclusion is obtained that the better knowledge of the mother's
so nutritional status of children will be close to normal. It is therefore suggested to provide
information about nutrition.

Keywords : Children, Knowledge, Nutritional Status


Latar Belakang
Pengetahuan merupakan hasil dari
tahu, dan ini terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu
objek tertentu. Penginderaan terjadi
melalui pancaindra manusia, yakni indra
penglihatan, pendengaran, penciuman,
rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan
manusia diperoleh melalui mata dan
telinga
(Notoatmojo,
2003;
121).
Pengetahuan
adalah
sesuatu
yang
diketahui berkaitan dengan proses
pembelajaran (Budiman, 2013; 3).
Gizi adalah suatu proses organisme
menggunakan makanan yang dikonsumsi
secara normal melalui proses digesti,
absorpsi, transportasi, penyimpanan,
metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

tidak digunakan untuk mempertahankan


kehidupan (Sibagariang, 2010; 1). Status
Gizi adalah ekspresi dan keadaan
keseimbangan dalam bentuk variabel
tertentu atau perwujudan dari nutriture
dalam
bentuk
variabel
tertentu
(Sibagariang, 2010; 1).
Usia 1-5 tahun adalah periode penting
dalam tumbuh kembang anak. Masa ini
merupakan pertumbuhan dari anak.
Apabila asupan makanan balita tidak
cukup mengandung zat-zat gizi yang
dibutuhkan dan keadaan ini berlangsung
lama, akan mengakibatkan perubahan
metabolisme dalam otak sehingga otak
tidak mampu berfungsi secara normal.
Apabila kekurangan gizi ini tetap
berlanjut dan semakin berat, maka akan
20

ISSN 2303-1433

menyebabkan pertumbuhan badan balita


terhambat, badan lebih kecil. Selain itu
kekurangan gizi pada balita dapat
mengakibatkan
keterlambatan
perkembangan motorik yang meliputi
perkembangan emosi, tingkah laku (Dewi,
2013; 47). Gangguan emosi mengganggu
tingkah laku anak wujud tingkah laku
anak seperti merusak barang, menggangu
adik, berguling-guling, gagap dan
ngompol.
Selama tahun 2012 Dinas Kesehatan
Kabupaten Kediri telah melakukan upaya
memperbaiki tingkat pertumbuhan/ gizi
balita. Berdasarkan distribusi kasus gizi
buruk dan gizi kurang pada balita
penyebab terbanyak dari kasus adalah
karena pola asuh yang kurang baik
sebanyak 72,5%. Diantaranya disebabkan
karena balita tidak diasuh langsung oleh
ibu/
dititipkan,
hygiene
sanitasi
lingkungan yang kurang, pemberian
MPASI dini, balita dibawah 2 tahun tidak
diberikan ASI dan pemberian asupan
makan balita tidak tepat. Penyebab kedua
adalah BBLR 15,4%, ketiga karena
penyakit infeksi berulang 4,4% dan ke
empat gemeli dengan prosentase 2,2%.
Berdasarkan data laporan bulanan gizi
balita di Wilayah Kabupaten Kediri,
dijelaskan bahwa keadaan gizi balita
disetiap wilayah berbeda-beda. Wilayah
yang memiliki persentase status gizi balita
dengan BB normal tertinggi yaitu di
Puskesmas Pagu 99,30% balita dengan
BB normal,
Puskesmas Purwoasri
97,53% balita dengan BB normal dan
Puskesmas Puncu 97,12% balita dengan
BB normal.
Selain itu masih terdapat balita
dengan BB kurang dengan persentase
lebih tinggi dari wilayah lainnya. Tercatat
lima wilayah yang masih tinggi balita
dengan BB kurang. Sejumlah 8,83% (263
balita) di Puskesmas Ngadi mengalami
BB kurang, 2,28% (68 balita) mengalami
BB sangat kurang. Sejumlah 12% (169
balita) di Puskesmas Ngadi mengalami
BB kurang, 2,83% (40 balita) mengalami
BB sangat kurang. Sejumlah 12,5% (309
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

balita) di Puskesmas Kepung mengalami


BB kurang, 1,01% (25 balita) mengalami
BB sangat kurang. Sejumlah 7,06% (100
balita)
di
Puskesmas
Plosoklaten
mengalami BB kurang, 2,30% (32 balita)
mengalami BB sangat kurang. Sejumlah
9.09% (96 balita) di Puskesmas Pelas
mengalami BB kurang, 1,13% (11 balita)
mengalami BB sangat kurang.
Data dari dinas kesehatan kabupaten
kediri tahun 2013 berdasarkan laporan
bulanan gizi (BB/U) balita laki-laki dan
perempuan di dapatkan bahwa di wilayah
kerja puskesmas Ngadi jumlah balita
sebanyak 1413 balita. Balita yang
mengalami BB normal adalah 77,26%
(1091 balita), BB lebih mencapai 7,91%
(111 balita), BB kurang mencapai 12%
(169 balita), dan BB sangat kurang
mencapai 2,83% (40 balita). Sedangkan di
puskesmas Sambi dengan jumlah balita
2983 balita. Balita yang mengalami BB
normal adalah 87,42% (2607 balita), BB
lebih mencapai 1,47% (43 balita),
sejumlah 8,83% (263 balita) mengalami
BB kurang, 2,28% (68 balita) mengalami
BB sangat kurang.
Hasil penelitian yang dilakukan
Munthofiah dalam tesisnya, menunjukkan
terdapat hubungan yang bermakna antara
pertumbuhan dan status gizi anak balita
dengan pengetahuan, sikap, maupun
perilaku ibu. Di samping itu umur
berhubungan dengan status gizi anak
balita. Variabel-variabel lainnya seperti
pendidikan dan pekerjaan ibu tidak
menunjukkan hubungan dengan status gizi
anak balita (Munthofiah, 2008).
Hasil studi pendahuluan yang
dilakukan di puskesmas Ngadi tercatat
bahwa desa Kedawung memiliki jumlah
balita dengan gizi kurang tertinggi dari
desa lainnya. Sebanyak 27 balita dengan
gizi kurang.
Berdasarkan fenomena di atas bahwa
perlu adanya peninjauan ulang berkenaan
dengan status gizi balita. Dengan demikan
peneliti akan melakukan penelitian
mengenai
adanya
Hubungan
Pengetahuan Ibu Tentang Gizi dengan
21

ISSN 2303-1433

Status Gizi Balita Usia 1-5 Tahun Di


Desa
Kedawung
Wilayah
Kerja
Puskesmas Ngadi.
Metode Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah
semua ibu yang memiliki balita usia 1-5
tahun beserta balitanya di desa Kedawung
wilayah
kerja
Puskesmas
Ngadi
Kabupaten Kediri tahun 2014 sejumlah
369 balita. Besarnya sampel ditentukan
dengan, jika besar populasi 1000, maka
sampel bisa diambil 20% - 30%
(Nursalam, 2008; 91).Maka: 369 x 20% =
73,8 = 74. Teknik sampling yang
digunakan adalah proportional sampling
yaitu untuk memperoleh sampel yang
representatif, pengambilan subjek dari
setiap wilayah ditentukan seimbang
sebanding dengan banyaknya subjek
dalam masing-masing wilayah (Arikunto,
2006; 139). Variabel independent
penelitian adalah pengetahuan ibu tentang
gizi balita. variabel dependentnya adalah
status gizi balita usia 1-5 tahun. Analisis
uji statistik yang digunakan, yaitu uji
Korelasi
Spearman
Rank
(Rank
Correlation Test).
Hasil Penelitian
1. Pengetahuan Ibu tentang Gizi
No
1
2
3

Kategori
Baik
Cukup
Kurang
Total

Frekuensi
24
33
17
74

Persentase
32,43%
44,59%
22,98%
100%

Berdasarkan tabel 1 dapat dijelaskan


bahwa hampir setengah dari responden
memiliki cukup pengetahuan tentang gizi
balita yaitu sebesar 44,59%.
2.Status gizi balita
Berikut ini keadaan status gizi balita dari
hasil penimbangan berat badan balita
dengan nilai di tabel BB/ U (WHO).

Tabel 2 Distribusi Status Gizi Balita


No
1
2
3
4

Kategori
Gizi Lebih
Gizi Baik
Gizi Kurang
Gizi Buruk
Total

Frekuensi
1
60
13
0
74

Persentase
1,35%
81,08%
17,57%
0
100%

Berdasarkan tabel 2 tersebut dapat


dijelaskan
bahwa
sebagian
besar
responden memiliki status gizi yang baik
(81,08%).
3.Hubungan Pengetahuan Ibu Tentang
Gizi dengan Status Gizi Balita
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan
hasil pengetahuan ibu tentang gizi dan
status gizi balita 1-5 tahun di desa
Kedawung wilayah kerja Puskesmas
Ngadi sebagai berikut:
Tabel 3 Tabel Silang Pengetahuan Ibu
tentang Gizi dengan Status Gizi Balita
usia 1-5 tahun
Status Gizi
Gizi
Gizi
Baik
Kurang

Pengeta
huan

Gizi
Lebih

Gizi
Bur
uk
0

Baik

23
(31,08%)

1
(1,35%)

Cukup

1
(1,35%)

27
(36,49%)

5
(6,76%)

Kurang

10
(13,51%)

7
(9,46%)

Jumlah

1
1,35%

60
81,08%

13
17,57%

Jumlah

24
32,43
%
33
44,60
%
17
22,97
%
74
100%

Berdasarkan tabel 3 tabel silang


antara pengetahuan ibu tentang gizi
dengan status gizi balita hampir setengah
dari responden mempunyai pengetahuan
yang cukup dan memiliki balita dengan
status gizi baik (36,49%). Kemudian
untuk mengetahui hubungan antara
pengetahuan ibu tentang gizi dengan
status gizi balita digunakan rumus
Berdasarkan
perhitungan
tersebut
didapatkan hasil, = 0,5. Karena jumlah
sampel lebih dari 30, dimana tidak ada

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

22

ISSN 2303-1433

dalam tabel rho, maka pengujian


signifikansinya menggunakan rumus:
t =

Berdasarkan
hasil
perhitungan
menggunakan uji korelasi spearman
dengan taraf kesalahan sebesar 5% (0,05)
maka diperoleh hasil perhitungan t = (4,9).
Kemudian t hitung tersebut dibandingkan
dengan t tabel dengan dk = n-2 didapatkan
t hitung (4,9) > t tabel (1,993), maka Ho
ditolak, artinya ada hubungan antara
pengetahuan ibu tentang gizi dengan
status gizi balita usia 1-5 tahun di desa
Kedawung wilayah kerja Puskesmas
Ngadi.
Pembahasan
1. Pengetahuan Ibu Tentang Gizi di Desa
Kedawung Wilayah Kerja Puskesmas
Ngadi
Mengetahui apakah zat gizi tentunya
menjadi dasar ibu untuk memiliki tingkat
pengetahuan yang lebih tinggi guna
memenuhi gizi untuk balitanya. Tentunya
sangat berpengaruh sekali mengetahui apa
pengertian dari gizi balita tersebut.
Sebagian besar ibu belum mengetahuai
apa pengertian dari zat gizi tersebut. Hal
itu bisa saja dipengaruhi karena masih ada
sebagian ibu yang belum memperoleh
informasi tentang gizi balita. Kurangnya
informasi dapat berpengaruh terhadap
pengetahuan
ibu.
Informasi
gizi
diperlukan guna menambah pengetahuan
ibu akan zat gizi.
Pengetahuan ibu tentang gizi masih
tergolong cukup, dari data penelitian
diketahui bahwa sebagian besar responden
masih rendah pengetahuannya tentang gizi
seimbang untuk balita.
Gizi seimbang sangat diperlukan
untuk balita. Sangat berpengaruh sekali
jika ibu tidak memahami mengenai gizi
seimbang akan memberikan makanan
dengan
seadanya
saja,
tanpa
memperhatikan gizi yang terkandung.
Memahami mengenai gizi seimbang balita
tentunya dapat membantu ibu untuk
menjelaskan bagaimanakah seharusnya
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

memilih makanan untuk balita. Hal


tersebut dapat dipengaruhi karena ibu
belum mengetahuai apa itu gizi. Oleh
karena itu ibu belum memahami apakah
gizi seimbang tersebut.
Berdasarkan
penjelasan
diatas,
diketahui bahwa Ibu belum bisa
memahami apakah gizi seimbang,
dikarenakan tahapan pengetahuan yang
paling utama adalah know/ tahu, dengan
tidak tahunya mengenai pengertian gizi
tersebut, tentunya akan mengurangi
pemahaman mengenai gizi lebih dalam
lagi.
Penjelasan diatas sejalan dengan
pemikiran Budiman (2013) bahwasannya
tahapan paling utama dari pengetahuan
adalah tingkat know/ tahu. Dimana know/
tahu itu sendiri artinya mengenai
kemampuan untuk mengenali dan
mengingat peristilahan, definisi, faktafakta, gagasan, pola, urutan, metodologi,
prinsip dasar, dan sebagainya. Selanjutnya
tingkatan pengetahuan meliputi tahap
memahami. Memahami diartikan sebagai
suatu kemampuan untuk menjelaskan
secara benar tentang objek yang diketahui
dan dapat menginterpretasikan materi
tersebut secara benar.
Balita
sangat
mudah
sekali
menyenangi makanan yang menarik.
Seharusnya, hal tersebut dapat digunakan
sebagai upaya menarik perhatian balita
untuk menambah nafsu makan. Akan
tetapi, kebanyakan ibu belum memiliki
pengetahuan
yang
baik
mengenai
penyusunan menu tersebut. Terutama
dalam penyajian dan penggantian menu
makanan untuk balita setiap harinya.
Kebanyakan responden mengganti menu
makanan setelah tiga sampai empat kali
penyajian. Sehingga makanan yang
disajikan kurang bervariasi. Rendahnya
pengetahuan tentang gizi seimbang dapat
berakibat dalam pemberian makanan
untuk balita. Sehingga ibu sulit
mengaplikasikan
untuk
penyajian
makanan untuk balita.
Kurangnya
pengetahuan
ibu
mengenai penyusunan menu dapat
23

ISSN 2303-1433

dipengaruhi
karena
kurangnya
pengalaman ibu dalam pengaplikasian
menu tersebut. Hal tersebut dapat
dikaitkan dengan jumlah anak yang
mereka miliki mayoritas masih memiliki
satu balita saja. Pengalaman biasanya
diperoleh dengan mengulang kembali
pengetahuan yang telah didapat. Memiliki
pengalaman yang sedikit tentu sangat
berpengaruh dengan pengetahuan yang
dimiliki.
Menurut
Budiman
(2013)
Pengalaman sebagai sumber pengetahuan
adalah suatu cara untuk memperoleh
kebenaran pengetahuan dengan cara
mengulang kembali pengetahuan yang
diperoleh dalam memecahkan masalah
yang dihadapi masa lalu. Selain itu
aplikasi pada tahapan pengetahuan
diartikan sebagai kemampuan untuk
menggunakan materi tersebut secara
benar. Dewi (2013) berpendapat pula
bahwasanya dalam penyusunan menu
balita selain memperhatikan komposisi zat
gizi, juga harus memperhatikan variasi
menu makanan agar anak tidak bosan.
Tingkat
pengetahuan
seseorang
berbeda-beda, banyak faktor yang
mempengaruhinya. Sebagaimana dari
hasil penelitian yang telah dilakukan,
didapatkan
hampir
setengah
dari
responden memiliki pendidikan yang
cukup. Berdasarkan karakteristik yang
telah didapatkan dari masing-masing
responden,
banyak
faktor
yang
mempengaruhi
perbedaan
tingkat
pengetahuan yang dimiliki responden.
Misalnya saja faktor usia ibu, pendidikan,
pekerjaan serta sumber informasi yang
telah diperoleh.
Berdasarkan
data
penelitian
didapatkan tingkat pengetahuan ibu
tergolong cukup bisa saja dikarenakan
salah satu faktor yaitu dari tingkat
pendidikan ibu. Walaupun diketahui lebih
dari 50% responden telah berpendidikan
SMP, namun dari 33 responden yang
memiliki pendidikan cukup tersebut
sebagian besar responden adalah dari
golongan lulusan SD. Hal ini bisa saja
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

sebagai
faktor
pendukungnya,
dikarenakan pendidikan merupakan salah
satu penunjang tingginya pengetahuan.
Selain itu faktor lain yang mempengaruhi
yaitu kurangnya pengalaman mengenai
pemenuhan makanan ditandai dengan
hampir
50%
responden
yang
berpengetahuan cukup memiliki satu
balita.
Hal ini sejalan dengan yang
dipaparkan Budiman (2013) bahwa
pendidikan merupakan sebuah proses
pengubahan sikap dan tata laku seseorang
atau kelompok dan
juga usaha
mendewasakan manusia melalui upaya
pengajaran dan pelatihan. Penelitian yang
dilakukan oleh Fisher (2010) juga
menyatakan bahwa berdasarkan data yang
didapat saat penelitiannya, rendahnya
pengetahuan yang dimiliki responden
penelitiannya mungkin disebabkan karena
tingkat pendidikan ibu lebih dari separuh
adalah tamatan SD, dan bahkan ada yang
tidak tamat SD.
Berdasarkan informasi gizi yang
didapat dijelaskan bahwa sebagian besar
responden sudah memperoleh informasi
tentang gizi balita (79,73%). Informasi
gizi didapatkan dari televisi dan bertanya
kepada bidan desa. Banyaknya informasi
yang
diperoleh
akan
menambah
pengetahuan mengenai gizi balita.
Seperti penjelasan Budiman (2013)
menyatakan
bahwa
lingkungan
berpengaruh terhadap proses masuknya
pengetahuan ke dalam individu yang
berada dalam lingkungan tersebut. Selain
itu informasi sebagai transfer pengetahuan
guna menyebarkan informasi dengan
tujuan tertentu.
Berdasarkan penjelasan diatas,
bervariasinya tingkat pengetahuan ibu
tentang gizi balita memang sangat
dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang
sangat erat hubungannya. Selain itu,
kebanyakan responden belum mengerti
tentang
gizi
seibang
dan
pengaplikasiannya dalam kesehariannya.
Oleh karena itu pengetahuan ibu di desa
Kedawung wilayah kerja Puskesmas
24

ISSN 2303-1433

Ngadi bermacam macam dikarenakan dari


karakteristik yang berbeda-beda pula.
2.Status Gizi Balita Usia 1-5 Tahun di
Desa
Kedawung
Wilayah
Kerja
Puskesmas Ngadi
Banyak faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan balita misalnya jumlah dan
mutu makanan, kesehatan balita, tingkat
ekonomi, pendidikan, perilaku, (orang tua/
pengasuh), sosial budaya atau kebiasaan
dan ketersediaan bahan makanan. (Depkes
RI; 2000). Status Gizi menurut
Sibagariang (2010) merupakan ekspresi
dan keadaan keseimbangan dalam bentuk
variabel tertentu atau perwujudan dari
nutriture dalam bentuk variabel tertentu.
Jumlah keluarga juga mempengaruhi
pemenuhan gizi. Memiliki satu balita
maka ibu akan fokus untuk mengurusi dan
mengasuhnya, dibandingkan mengasuh
dua balita. Seluruh perhatian sepenuhnya
akan terletak pada satu balita saja.
Sehingga, kebutuhan nutrisi balitanya
akan lebih diperhatikan.
Menurut Adriani (2012) besar
anggota keluarga merupakan salah satu
timbulnya masalah gizi. Jumlah anak
yang banyak pada keluarga akan
mengakibatkan berkurangnya perhatian
dan kasih sayang yang diterima anak juga
dapat
mengakibatkan
berkurangnya
kebutuhan primer seperti pemberian
makanan.
Pengasuhan sendiri oleh orang tua
memungkinkan balita lebih diperhatikan
dan mendapat perlakuan khusus serta
memberikan yang terbaik untuk balitanya.
Secara otomatis fasilitas untuk anak
sebagai tujuan utama pengasuhan orang
tua akan terpenuhi. Misalnya saja dalam
pemenuhan makan, tentunya ibu akan
memberikan makanan yang bergizi untuk
anaknya.
Faktor lain yaitu mayoritas balita
mendapatkan pengasuhan dari kedua
orang tuanya. Sangat memungkinkan
perhatian serta interaksi yang dekat antara
anak dan orang tua dapat menjadi faktor
baiknya pertumbuhan balita.
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

Hal
tersebut
juga
dijelaskan
berdasarkan pendapat Supartini (2012)
salah satu tujuan utama pengasuhan orang
tua adalah memfasilitasi anak untuk
mengembangkan kemampuan sejalan
dengan tahapan perkembangannya.
Menurut Adriani (2012) pola asuh
pada anak merupakan salah satu
kebutuhan dasar anak untuk tumbuh
kembang, interaksi ibu dan anak terihat
erat sebagai indikator kualitas dan
kuantitas peranan ibu dalam mengasuh
anak.
3. Hubungan Pengetahuan Ibu Tentang
Gizi dengan Status Gizi Balita Usia 15 tahun di Desa Kedawung wilayah
kerja Puskesmas Ngadi
Pengetahuan tentang gizi yang baik
tentunya akan membuat status gizi balita
baik pula. Memiliki pengetahuan tentang
gizi
seimbang
yang baik,
akan
memunculkan sikap untuk menyusun
menu makanan balita dengan tepat dan
bervariasi. Pada dasarnya pengetahuan
akan memunculkan sikap dan membentuk
perilaku
untuk
bertindak
dalam
pemenuhan gizi balitanya. Selain itu
dengan
pengetahuan
baik
akan
memperbaik cara ibu dalam pemenuhan
gizi
balitanya,
dengan
demikian
pertumbuhan dan perkembangan balita
dapat terpenuhi. Sehingga pengetahuan
yang baik memungkinkan memiliki status
gizi yang baik pula.
Kurangnya pengetahuan ibu tentang
gizi dapat membuat perilaku ibu dalam
memperhatikan gizi balitanya menjadi
kurang maksimal. Tentunya akan berbeda
dengan yang telah memiliki pengetahuan
yang baik. Mayoritas dari responden yang
berpengetahuan kurang dan memiliki
balita dengan status gizi kurang, mereka
kurang baik dalam menyusun menu untuk
balitanya. Kebanyakan memberikan menu
makanan yang sama untuk balitanya.
Selain itu responden belum mengetahui
prinsip gizi seimbang balita yang menjadi
dasar pemenuhan gizi balita.

25

ISSN 2303-1433

Terjadinya gizi kurang pada balita


tersebut bukan berarti ibu tidak
memberikan banyak makanan untuk
balitanya. Namun dengan kurangnya
pengetahuan sikap ibu dalam memilih,
mengolah dan menghidangkan makanan
untuk balita menjadi kurang benar
sehingga zat gizi yang terkandung dalam
makanan menjadi berkurang.
Hal ini sejalan dengan pendapat
Sibagariang (2010) bahwa salah satu
penyebab timbulnya masalah gizi adalah
dari faktor pengetahuan. Sama halnya
dengan hasil penelitian yang dilakukan
oleh Zuraida (2012) berdasarkan analisis
regresi logistik berganda diperoleh hasil
bahwa pengetahuan gizi ibu dan sikap
gizi ibu mempengaruhi status gizi balita,
variabel pengetahuan gizi ibu merupakan
faktor yang paling kuat hubungannya
dengan status gizi balita,
hal ini
ditunjukkan dengan nilai koefisien regresi
yang lebih besar dibandingkan dengan
koefisien variabel sikap gizi.
Berdasarkan data yang diperoleh dari
penelitian, terdapatnya responden dengan
pengetahuan yang baik namun memiliki
status gizi kurang dikarenakan karena
faktor yang lain yang menyebabkan
kondisi berbeda dari yang diharapkan.
Kondisi ini dikarenakan balita sebelumnya
sakit. Akan tetapi pada saat penimbangan
sudah sehat kembali. Hal ini yang
menyebabkan terjadinya penurunan berat
badan balita sehingga status gizinya
menjadi kurang. Selain itu pertambahan
berat badan yang relatif sedikit tiap
bulannya
dapat
juga
menjadikan
pertimbangan mengapa hal tersebut dapat
terjadi.
Hal lainnya, terdapatnya responden
dengan pengetahuan cukup namun
memiliki status gizi lebih dikarenakan
karena memang balita tersebut telah
memiliki berat badan yang relatif gemuk
dari memasuki usia balita. Tercatat pada
bulan timbang tahun 2014 ini, bahwa pada
responden tersebut juga memiliki status
gizi lebih. Hal tersebut dapat pula
dipengaruhi dari faktor genetik, bisa
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

dikarenakan ibu dari balita tersebut juga


selalu memiliki berat badan yang relatif
lebih.
Keadaan lain, terdapat responden
yang memiliki pengetahuan kurang namun
dapat memiliki balita dengan status gizi
yang baik. Adanya hal tersebut
dikarenakan, dari responden tersebut ada
yang diasuh oleh pengasuh anak, bisa saja
pengasuh
anak
tersebut
memiliki
pengetahuan
yang
baik
sehingga
pelayanan dalam memenuhi gizi balita
tersebut menjadi maksimal. Selain itu,
dengan rutinnya untuk datang timbang ke
posyandu memungkikan perhatian bidan
terhadap balita tersebut menjadi terpantau
status gizinya.
Hasil penelitian menunjukkan adanya
hubungan pengetahuan ibu tentang gizi
dengan status gizi balita. Semakin baik
pengetahuan ibu tentang gizi maka status
gizi balita akan semakin mendekati
normal.
Pengetahuan
tentang gizi
berperan penting dalam pembentukan
sikap
ibu,
yang
nantinya
akan
memunculkan perilaku untuk memberikan
asupan nutrisi yang baik untuk balitanya.
Pengetahuan ibu tentang gizi akan
menjadikan ibu lebih paham mengenai
zat-zat gizi yang dibutuhkan balitanya.
Baiknya
pengetahuan
ibu
akan
menumbuhkan perilaku yang baik untuk
pengolahan bahan pangan, menyajikan
dan menyimpan makanan agar zat-zat gizi
yang terkandung tidak hilang.
Pengetahuan ibu tentang gizi penting
untuk pertumbuhan balita, jika ibu tahu
dan memperhatikan gizi balitanya
tersebut, ibu akan menambah informasi
dan berusaha memberi yang terbaik untuk
balitanya. Pengetahuan ibu berpengaruh
pada perilaku ibu dalam memenuhi gizi
balitanya. Walaupun banyak faktor lain
yang mempengaruhi pertumbuhan balita.
Secara tidak langsung, pengetahuan ibu
berperan penting dalam peningkatan berat
badan balita dan menentukan status gizi
balita. Semakin baik pengetahuan ibu
tentang gizi maka status gizi balitanya
juga akan baik.
26

ISSN 2303-1433

Kesimpulan
1. Pengetahuan ibu tentang gizi balita usia
1-5 tahun di desa Kedawung wilayah
kerja Puskesmas Ngadi hampir
setengah dari responden adalah cukup.
2. Status gizi sebagian besar balita usia
1-5 tahun di desa Kedawung wilayah
kerja Puskesmas Ngadi adalah baik.
3. Ada hubungan pengetahuan ibu tentang
gizi dengan status gizi balita usia 1-5
tahun di desa Kedawung wilayah
kerja Puskesmas Ngadi.
Saran
1. Bagi Peneliti Selanjutnya
Diharapkan lebih mengembangkan
penelitian ini lebih dalam dan luas lagi
tentang hubungan pengetahuan ibu
tentang gizi dengan status gizi balita.
2. Bagi Tempat Penelitian
a. Dengan adanya informasi ini
diharapkan
bagi
ibu
yang
mempunyai
balita
dapat
meningkatkan lagi pengetauannya
tentang gizi balita.
b. Perlu adanya peran aktif tenaga
kesehatan
setempat
untuk
melakukan usaha promotif seperti
pembuatan banner, leaflet serta
penggalakan penyuluhan kesehatan
dalam rangka pemberian informasi
mengenai gizi balita, sehingga
masyarakat
bisa
mengetahui
informasi tersebut.
Daftar Pustaka
Adriani, M dan Bambang W. 2012.
Peranan
Gizi
Dalam
Siklus
Kehidupan.
Jakarta: Kencana
Prenada Media Group
.
2012.
Pengantar Gizi
Masyarakat.
Jakarta: Kencana
Prenada Media Group
Almatsier, S. 2005. Prinsip Dasar Ilmu
Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama
Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian.
Jakarta: Rineka Cipta
Budiman & A. Riyanto. 2013. Kapita
Selekta Kuesioner.
Jakarta:
Salemba Medika
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

Bungin, B. 2010. Metodologi Penelitian


Kuantitatif. Jakarta: Kencana
Dahlan, M.S. 2008. Statistik Untuk
kedokteran dan Kesehatan. Jakarta:
Salemba Medika
Dewi, A.B.F.K. Nurul P. Ibnu F. 2013.
Ilmu Gizi Untuk Praktisi Kesehatan.
Yogyakarta: Graha Ilmu
Fisher, E. dkk. 2010. Hubungan Tingkat
Pengetahuan Ibu Tentang Gizi
Dengan Status Gizi Balita Di Desa
Sioban
Kabupaten
Kepulauan
Mentawai.
Program
Studi
pendidikan Biologi STKIP PGRI
Sumatera Barat Jurusan Biologi
Universitas Negeri Padang. Diakses
tanggal 4 Agustus 2014 jam 16.00
WIB
Kabid Kesga & Gizi. Dinas Kesehatan
Kabupaten Kediri. Data Laporan
Gizi. 2012
. Dinas Kesehatan Kabupaten
Kediri. Data Laporan Gizi. 2013
Kurniawati, E. 2010. Hubungan Tingkat
Pengetahuan Ibu Tentang Gizi
Dengan Status Gizi Balita Di
Kelurahan Baledono, Kecamatan
Purworejo, Kabupaten Purworejo.
Diakses tanggal 4 Agustus 2014 jam
15.00 WIB
Mahfoedz, I. dkk. 2010. Teknik Menyusun
KTI-Skripsi-Tesis-Tulisan
dalam
Jurnal
Bidang
Kebidanan,
Keperawatan
dan
Kesehatan.
Yogyakarta : Fitramaya.
Munthofiah,S. 2008. Hubungan Antara
Pengetahuan, Sikap, Dan Perilaku
Ibu Dengan Status Gizi Anak Balita.
Diakses tanggal 15 Maret 2014 jam
15.15 WIB
Notoatmodjo, S.
2012.
Metodologi
Penelitian Kesehatan.
Jakarta:
Rineka Cipta
. 2005. Metodologi Penelitian
Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta
Nursalam. 2008. Konsep Dan Penerapan
Metodologi
Penelitian
Ilmu
Keperawatan.
Jakarta: Salemba
Medika

27

ISSN 2303-1433

Puskesmas Ngadi. 2013. Data Laporan


Gizi Tahun 2013
. 2014. Data Laporan Bulan
Timbang Bulan Februari 2014
Riduwan. 2010. Metode dan Teknik
Menyusun Tesis. Bandung: Alfabeta
Santoso, S. dan Anne L.
2009.
Kesehatan dan Gizi.
Jakarta :
Rineka Cipta
Suyanto, S & U. Salamah. 2009. Riset
Kebidanan, Metodologi & Aplikasi.
Yogyakarta: Mitra Cendekia
Septiari, B. 2012. Mencetak Balita
Cerdas dan Pola Asuh Orang Tua.
Yogyakarta: Nuha Medika
Setiawati, R. dkk. 2012. Hubungan
Pengetahuan dan Sikap Ibu Tentang
Pemberian Makanan Tambahan
Dengan Berat Badan Bayi Usia 612 Bulan Di Posyandu Kesamben
Blitar. Diakses tanggal 15 Maret
2014 jam 15.00
Sibagariang, E.
2010.
Gizi Dalam
Kesehatan Reproduksi.
Jakarta:
Trans Info Media
Soediaoetomo, A. D. 2010. Ilmu Gizi 1.
Jakarta: Dian Rakyat
Sugiyono.
2010.
Statistika untuk
Penelitian. Bandung: Alfabeta
.
2011.
Metode Penelitian
Kuantitatif Kualitatif dan R&D.
Bandung: Alfabeta
Supariasa, I.D.N. dkk. 2003. Penilaian
Status Gizi. Jakarta: EGC
Wawan, A dan Dewi. (2011). Teori &
Pengukuran Pengetahuan, Sikap
dan Perilaku Manusia. Yogjakarta :
Nuha Medika.
Wibowo, H.T. 2012. Hubungan Antara
Tingkat Pengetahuan Ibu Balita
Tentang Gizi Dengan Status Gizi
Balita (1-5 Tahun) Di Posyandu
Dusun Modopuro Desa Modopuro
Kecamatan Mojosari Mojokerto.
Diakses tanggal 1 April 2013 jam
14.30 WIB
Zuraida, R dan Julita N. 2010. Hubungan
Antara Pengetahuan Dan Sikap Gizi
Ibu Dengan Status Gizi Balita Di
Wilayah Kerja Puskesmas Rajabasa
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

Indah Kelurahan Rajabasa Raya


Bandar
Lampung.
Fakultas
Kedokteran Universitas Lampung .
juli_niezz@yahoo.com.
Diakses
tanggal 4 Agustus 2014 jam 16.20
WIB

28

ISSN 2303-1433

Pengaruh Program Social Enterpreneurship Kelompok ODHA Terhadap Stigma


Masyarakat Tentang HIV/AIDS Di Daerah Binaan KPA Kota Kediri.
(Influence Program "Social Enterpreneurship" group ODHA with HIV Stigma Against
People About HIV / AIDS In Local Patronage KPA Kediri.)
Siti Asiyah, Susanti Pratamaningtyas, Suwoyo
Prodi Kebidanan Kediri Jl.KH.Wakhid Hasyim 64 B Kediri
ABSTRACT
Sixth goal in the MDGs are handle a variety of the most dangerous infectious diseases.
At the top is intended to handle HIV, the virus that causes AIDS. The disease is a
devastating impact not only on public health but also to the overall state. This study aims
to look at the effect of social entrepreneurship program for public stigma about HIV /
AIDS. Analytical research design using cross sectional correlational techniques. The study
population is the ODHA, which had already independently of 50 people. Samples were
taken by simple random sampling technique, a number of 44 people. Statistical analysis
was performed with Chi Square at alpha 0.05. The result showed that, social
entrepreneurship programs that are run by people living with HIV have not succeeded run
and people living with HIV is almost entirely feel the stigma which is given by the society.
Chi Square Results obtained Alpha 0:00 less than Alpha 0.05. This means that, the Social
Entrepreneurship Program affect the public stigma about HIV / AIDS. The results of the
study can be used to support the Government's program to empower of ODHA.
Keywords: Social entrepreneurship, Stigma, ODHA
PENDAHULUAN
Tujuan ke enam dalam MDGs yaitu
menangani berbagai penyakit menular
paling berbahaya. Pada urutan teratas
ditujukan untuk menangani HIV yaitu
virus penyebab AIDS. Penyakit ini
membawa dampak yang menghancurkan
bukan
hanya
terhadap
kesehatan
masyarakat namun juga terhadap Negara.
Oleh karena itu, Masalah penanggulangan
dan pencegahan HIV/AIDS harus diyakini
merupakan
tanggungjawab
bersama. Apabila tidak ditangani dengan
serius masalah ini dapat mengganggu
bahkan mengancam ketenteraman hidup
bangsa Indonesia
Di Indonesia, jumlah penduduk yang
hidup yang hidup dengan virus HIV
diperkirakan
antara
172.000
219.000,sebagian besar adalah laki-laki.
Jumlah ini merupakan 0,1% dari jumlah
penduduk.
Menurut
Komisi
Penanggulangan AIDS Nasional (KPA),
sejak 1987 sampai 2008, tercatat 12.686
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

kasus AIDS, 2479 diantaranya telah


meninggal. Kalopun kemudian dengan
pengobatan yang baik, penderita dapat
melanjutkan kehidupan, persoalan tidak
kemudian menjadi selesai bagi ODHA.
Ketika mereka berada di masyarakat,
Stigma masih menjadi persoalan yang
banyak terjadi.
Masyarakat relative masih mudah
memberikan cap atau sebutan kepada
seseorang yang diduga mengidap suatu
penyakit yang berbahaya atau menular
tanpa
berupaya
menyelidiki
kebenarannya.
Faktor-faktor
yang
mempengaruhi Stigma antara lain bahwa
masyarakat
masih
menganggap
HIV/AIDS
adalah
penyakit
yang
mengancam hidup, ketakutan untuk
kontak dengan HIV, hubungan HIV/AIDS
dengan perilaku seperti homoseksual,
IDU, PSK dan sebagainya, ODHA dinilai
sebagai penyakit yang dibuat sendiri,
religi atau kepercayaan yang menyamakan
penyakit ini dengan kesalahan moral,
29

ISSN 2303-1433

seperti penyimpangan seks yang pantas


mendapat
hukuman,
status
social
ekonomi, usia dan gender.
Dampak stigma yang masih kuat
di masyarakat pada akhirnya akan
menyebabkan
perubahan
mengenai
bagaimana seseorang dipandang oleh
orang lain, penolakan social atau
penurunan penerimaan dalam interaksi
social,
keterbatasan/
kehilangan
kesempatan seperti misalnya tempat
tinggal, pekerjaan, akses terhadap
pelayanan kesehatan, perasaan malu dan
benci terhadap diri sendiri, menurunkan
kualitas hidup seseorang, meningkatkan
deskriminasi, menambah beban ganda
keluarga serta dapat menghambat upaya
pencegahan dan perawatan.
Berdasarkan survei Dampak Sosial
Ekonomi pada Individu dan Rumah
Tangga dengan HIV di Tujuh Provinsi di
Indonesia, didapatkan hasil bahwa rerata
hilangnya pendapatan akibat merawat
anggota rumah tangga yang sakit, 55%
lebih tinggi pada rumah tangga ODHA
dibanding rumah tangga non ODHA. 74%
Menyatakan
adanya
tambahan
pengeluaran akibat infeksi HIV. Rumah
Tangga ODHA mengeluarkan biaya
kesehatan 5 kali lebih tinggi dari Rumah
Tangga Non-ODHA. Rerata biaya
kesehatan ODHA sendiri 3 kali lebih
tinggi dari Rumah Tangga Non-ODHA.
Dari data di atas dapat diketahui
bahwa ODHA dan keluarga ODHA akan
menghadapi beban ganda, baik sosial
maupun ekonomi, meskipun mereka
masih mendapat obat ARV gratis dari
bantuan pemerintah, namun masih banyak
pengeluaran yang dibutuhkan oleh ODHA
dan keluarganya. Kebijakan nasional
penanggulangan
HIV
dan
AIDS
menggarisbawahi kebutuhan serangkaian
program layanan yang komprehensif dan
bermutu
yang
menjangkau
luas
masyarakat dengan tujuan mencegah dan
mengurangi
penularan
HIV,
meningkatkan kualitas hidup ODHA dan
mengurangi dampak sosial dan ekonomi

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

akibat HIV dan AIDS pada individu,


keluarga dan masyarakat.
Berbagai cara dapat dilakukan untuk
mengatasi masalah stigma di masyarakat
berkaitan dengan HIV/AIDS, diantaranya
di pelayanan kesehatan dapat dilakukan
dengan cara: membantu penderita untuk
mengatasi ketakutan terhadap status
HIV/AIDS, mengajarkan ketrampilan
dalam menangani penderita, sedangkan
dimasyarakat dapat dilakukan upaya
melibatkan tokoh masyarakat dalam
memasyarakatkan anti stigma. Dengan
upaya-upaya ini, maka diharapkan para
penderita HIV/AIDS dapat diterima di
masyarakat dan dapat diberdayakan untuk
memandirikan mereka melalui kegiatankegiatan
social
entrepreneurship
(Kewirausahaan Sosial).
Social Entrepreneurship akhir-akhir
ini menjadi makin popular. Namun di
Indonesia sendiri kegiatan ini masih
belum mendapatkan perhatian yang
sungguh sungguh dari pemerintah dan
para tokoh masyarakat karena memang
belum ada keberhasilan yang menonjol
secara nasional. Pengertian sederhana
dari Social Entrepreneur adalah seseorang
yang mengerti permasalahan sosial dan
menggunakankemampuan entrepreneursh
ip untuk melakukan perubahan sosial
(social change), terutama meliputi bidang
kesejahteraan (welfare), pendidikan dan
kesehatan (healthcare). Keberhasilan
Sosial Entrepreneurship
diukur dari
manfaat yang dirasakan oleh masyarakat.
Pemberdayaan
ODHA/OHIDHA
diyakini merupakan salah satu kunci bagi
penanggulangan
dan
pencegahan
HIV/AIDS. Program pemberdayaan yang
tepat dalam hal ini sangat dibutuhkan
(Rima
Jauharoh,
2011).
Program
pemberdayaan merupakan langkah yang
positif oleh karena
dapat menjawab
kebutuhan sehingga para penderita
HIV/AIDS akan mengalami perubahanperubahan yang positif dan pada akhirnya
turut pula meningkatkan mutu hidup
ODHA. Program pemberdayaan untuk
ODHA
sejalan
dengan
prinsip
30

ISSN 2303-1433

dasar andragogy di
mana
program
pemberdayaan tersebut dipandang oleh
ODHA sebagai program pemberdayaan
yang partisipatif dan menempatkan
ODHA sebagai subyek bukan obyek
sehingga mereka dapat terlibat dalam
upaya pencegahan dan penanggulangan
HIV/AIDS. Dengan demikian perlu
diadakan penelitian untuk melihat
Pengaruh
Program
Sosial
Enterpreneurship pada ODHA terhadap
Stigma masyarakat tentang HIV/AIDS.
Metode Penelitian
Desain yang digunakan dalam
penelitian ini adalah analitik korelasional,
yaitu melihat pengaruh Program Sosial
Enterpreneurship pada ODHA terhadap
Stigma masyarakat tentang HIV/AIDS.
Pendekatan waktu yang digunakan adalah
cross sectional.
Populasi dalam penelitian ini
adalah semua ODHA yang sudah
mandiri dan menjadi binaan dari KPA
Kota Kediri. Sampel penelitian ini
adalah sebagian ODHA yang sudah
mandiri dan menjadi binaan dari KPA
Kota Kediri yang diambil
dengan
simple random sampling. Besar sampel
ditentukan dengan penghitungan sbb:
N
n=
1+ N (d)
Keterangan:
n
= besar sampel
d
= Tingkat significansi
(0.05)
N
= Besar populasi
Dengan Jumlah Populasi sebesar
50, maka besar sampel yang
dibutuhkan adalah:
50
n=
1+ 50 (0.05)
50
n=
1,125

Jadi sampel penelitian ini adalah 44 orang


dengan ODHA
Kriteria Inklusi untuk ODHA:
1. Berada di wilayah binaan KPA Kota
Kediri
2. Menjalankan Usaha sebagai bentuk
program social enterpreneurship
3. Dapat membaca dan menulis
4. Bersedia menjadi responden
Tempat
Penelitian:
Penelitian
dilaksanakan di daerah Binaan KPA Kota
Kediri Waktu Penelitian : Dilakukan pada
bulan Agustus 2014. Variabel Penelitian:
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah
Program Social Enterpreneurship dan
Variabel tergantungnya adalah Persepsi
ODHA tentang Stigma HIV/AIDS di
masyarakat
Untuk
menganalisa
pengaruh
Program Sosial Enterpreneurship pada
ODHA terhadap Stigma Masyarakat
tentang HIV/AIDS dilakukan uji Chi
Square dengan 0,05.
HASIL PENELITIAN
Data Umum
1. Umur Responden
Tabel 1 Umur Responden Pengaruh
Program
Sosial
Enterpreneurship
Kelompok ODHA terhadap Stigma
Masyarakat tentang HIV AIDS
UMUR
20-35
>35
JUMLAH

24
20
44

%
54.5
45.5
100

Dari tabel di atas, tampak bahwa


Responden ODHA pada penelitian ini
54,5% berumur 20-35 tahun.
2. Pendidikan
Tabel 2 Pendidikan Responden Pengaruh
Program
Sosial
Enterpreneurship
Kelompok ODHA terhadap Stigma
Masyarakat tentang HIV AIDS
PENDIDIKAN
Dasar
Menengah
Perguruan Tinggi
JUMLAH

11
22
11
44

%
25.0
50.0
25.0
100

Dari tabel di atas, tampak bahwa


setengah Responden ODHA pada

= 44 orang
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

31

ISSN 2303-1433

penelitian ini berpendidikan menengah


(SMA) .
3. Jenis Kelamin
Tabel 3 Jenis kelamin
Responden
penelitian Pengaruh Program Sosial
Enterpreneurship
Kelompok
ODHA
terhadap Stigma Masyarakat tentang HIV
AIDS
JENIS
KELAMIN
Laki-laki
Perempuan
JUMLAH

23
21
44

52.3
47.7
100

Dari tabel di atas, tampak bahwa


Jenis Kelamin Responden ODHA pada
penelitian ini hampir berimbang antara
yang berjenis kelamin laki-laki dan
perempuan.
4. Pekerjaan
Tabel 4 Pekerjaan Responden penelitian
Pengaruh
Program
Sosial
Enterpreneurship
Kelompok
ODHA
terhadap Stigma Masyarakat tentang HIV
AIDS
PEKERJAAN
Petani
Wiraswasta
JUMLAH

2
42
44

%
4.5
95.5
100

Dari tabel di atas, tampak bahwa


Pekerjaan Responden ODHA pada
penelitian ini 95,5% bekerja di sektor
wiraswasta
Data Khusus
1. Jenis Kegiatan Usaha Sosial
Enterpreneurship Yang Dijalankan Odha
Tabel 5 Rincian usaha yang dijalankan
Responden penelitian Pengaruh Program
Sosial
Enterpreneurship
Kelompok
ODHA terhadap Stigma Masyarakat
tentang HIV AIDS

Dari tabel 5, jika dirinci bidang usaha


yang dijalankan didapatkan data sbb:
JENIS USAHA
Pertanian
Catering
Toko kelontong
Jualan Pakaian
Menjahit
Lain-lain
JUMLAH

2
5
8
2
2
25
44

%
4,5
11,4
18,2
4,5
4,5
56,9
100

Dari tabel di atas, tampak bahwa jenis


usaha yang paling banyak dikerjakan oleh
Responden ODHA pada penelitian ini
adalah bidang wirausaha lainnya seperti
model, jual bakso, bakpau, laundry,
beternak ayam dll. Dari jenis usaha/jenis
kegiatan yang dijalankan ODHA diatas,
terdapat beberapa hal yang dapat menjadi
penghambat dan pendukung dalam
mengembangkan usaha para ODHA yaitu:
1.a. Kesesuaian Minat Dan Bakat Dengan
Usaha Yang Dijalankan
Tabel 6 Minat ODHA dalam menjalankan
Program Sosial Enterpreneurship
MINAT DAN
BAKAT
Sesuai
Tidak Sesuai
JUMLAH

40
4
44

90.9
9.1
100

Dari tabel 6 dapat dilihat bahwa usaha


yang dijalankan oleh ODHA saat ini
90,9% sesuai dengan minat dan bakat
para ODHA.
1.b. Kecocokan Bidang Usaha Yang
Dijalankan
Tabel 7 Kecocokan bidang usaha yang
dijalankan para ODHA
KECOCOKAN
Cocok
Tidak Cocok
JUMLAH

40
4
44

%
90.9
9.1
100

Dari tabel 7 dapat dilihat bahwa


90,9% ODHA merasa cocok dengan
usaha yang dijalankan saat ini. Dan hanya
4 orang saja yang merasa tidak cocok
dengan usahanya saat ini.

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

32

ISSN 2303-1433

1.c. Pemenuhan Kebutuhan Hidup Dari


Usaha Yang Dijalankan
Tabel 8 Pemenuhan kebutuhan Hidup para
ODHA dari usaha yang dijalankan
PEMENUHAN
KEBUTUHAN
HIDUP
Terpenuhi
Tidak Terpenuhi
JUMLAH

Berdasar tabel di atas, dapat


disimpulkan
bahwa

ODHA
mengungkapkan bahwa adanya hambatan
berpengaruh terhadap pengembangan
usaha

32
12
44

72.7
27.3
100

1.g. Cara Mengatasi Hambatan


Tabel 12 Cara ODHA mengatasi
hambatan dalam Usaha yang dijalankan

Dari tabel di atas, dapat disimpulkan


bahwa lebih dari separo (72,7%) ODHA
dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dari
usaha yang selama ini di jalankan.
1.d. Kendala Dalam Menekuni Usaha
Tabel 9 Kendala para ODHA dalam
menekuni usaha
KENDALA
DALAM USAHA
Ada
Tidak ada
JUMLAH

21
23
44

47.7
52.3
100

Berdasar tabel 9 dapat disimpulkan


bahwa jumlah ODHA yang mengatakan
tidak ada
kendala dalam menekuni
usahanya, sedikit lebih banyak dari pada
yang merasakan kendala
1.e. Penyebab Hambatan
Tabel 10 Penyebab hambatan dalam
menjalankan usaha
PENYEBAB
HAMBATAN
Kurang Modal
Lain-lain
JUMLAH

38
6
44

86.4
13.6
100

Berdasar
tabel
4.10,
dapat
disimpulkan bahwa hambatan terbesar
para ODHA dalam menjalankan usaha
adalah kurangnya modal (86,4%)
1.f. Pengaruh Hambatan
Tabel 11 Pengaruh
hambatan dalam
pengembangan usaha
PENGARUH
HAMBATAN
THD USAHA
Berpengaruh
Tidak berpengaruh
JUMLAH

33
11
44

75.0
25.0
100

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

CARA
MENGATASI
HAMBATAN
Cari pinjaman
Berkonsultasi
Pendekatan pada
masyarakat
Lainnya
JUMLAH

21
10

47.7
22.7

18.2

5
44

11.4
100

Dari tabel 12 diketahui, bahwa solusi


terbanyak yang dipilih oleh ODHA untuk
mengatasi hambatan yang ada dalam
mengembangkan usaha adalah dengan
mencari pinjaman, di susul dengan
berkonsultasi
kepada
pihak
yang
kompeten.
1.h. Dukungan Keluarga
Tabel 13 Dukungan Keluarga dalam
menjalankan usaha
DUKUNGAN
KELUARGA
Ada
Tidak ada
JUMLAH

43
1
44

97.7
2,3
100

Dari tabel 13 diketahui, bahwa


hampir seluruh
ODHA mendapatkan
dukungan
dari
keluarga
dalam
mengembangkan usaha
1.i. Penerimaan Masyarakat Terhadap
Usaha Yang Dijalankan
Tabel 14
Penerimaan Masyarakat
terhadap usaha yang dijalankan ODHA
PENERIMAAN
MASYARAKAT
Diterima
Tidak Diterima
JUMLAH

44
0
44

100.0
0
100

Dari tabel 14, dapat dilihat bahwa


seluruh masyarakat dapat menerima
dengan baik usaha-usaha yang dilakukan
oleh ODHA

33

ISSN 2303-1433

1.j. Bantuan Organisasi Kemasyarakatan


Tabel 15
Bantuan dari Organisasi
Kemasyarakatan untuk mengembangkan
Usaha para ODHA
BANTUAN DARI
ORMAS
Ada
Tidak Ada
JUMLAH

9
35
44

20.5
79.5
100

Dari tabel 15, dapat dilihat bahwa


lebih dari separo (79,5%) ODHA
mengungkapkan bahwa mereka tidak
mendapat bantuan dari organisasi
Kemasyarakatan dalam mengembangkan
usaha
1.k. Dampak Usaha Untuk Meningkatkan
Kepercayaan Diri
Tabel 16
Dampak Usaha untuk
Kepercayaan diri para ODHA
KEPERCAYAAN
DIRI
Ada
Tidak Ada
JUMLAH

43
1
44

97.7
2,3
100

Dari tabel 16, dapat dilihat bahwa


hamper seluruh
ODHA menyatakan
bahwa usaha yang mereka jalani
meningkatkan kepercayaan diri para
ODHA
1.l. Jalinan Kemitraan
Tabel 17 Jalinan Kemitran yang di miliki
para ODHA
MENJALIN
KEMITRAAN
Ya
Tidak
JUMLAH

32
12
44

72.7
27.3
100

Dari tabel 17, dapat disimpulkan


bahwa 72,7 % ODHA menjalin kemitraan
dengan pihak lain dalam mengembangkan
usaha
1.m. Pelatihan Untuk Pengembangan
Usaha
Tabel 18 Pelatihan yang di ikuti para
ODHA
PELATIHAN
Ya
Tidak
JUMLAH

12
32
44

Dari tabel 18, dapat disimpulkan


bahwa 72,7 % ODHA belum pernah
mengikuti pelatihan yang relevan dengan
bidang usaha yang dijalankan
1.n. Peran Lsm
Tabel 19 Peran LSM bagi para ODHA
PERAN LSM
Ya
Tidak
JUMLAH

22
22
44

%
50.0
50.0
100

Dari tabel 19, dapat disimpulkan


bahwa ODHA yang mengungkapkan
bahwa LSM berperan bagi ODHA dan
yang menjawab tidak berperan dalam
pengembangan ODHA adalah sama
besarnya (50%)
2.
Keberhasilan
Program
Sosial
Enterpreneurship
Tabel 20 Keberhasilan Program Sosial
Enterpreneurship yang dijalankan pada
Kelompok ODHA
KEBERHASILAN
PROGRAM
Berhasil
Tidak Berhasil
JUMLAH

5
39
44

11,4
88,6
100

Dari tabel di atas, tampak bahwa


Program Sosial Enterpreneurship yang
dijalankan ODHA pada penelitian ini
88,6% berada pada kategori tidak berhasil
3. Stigma Masyarakat Tentang Hiv/Aids
Tabel 21 Stigma masyarakat tentang
HIV/AIDS berdasar persepsi dari para
ODHA
STIGMA
Ada
Tidak Ada
JUMLAH

40
4
44

%
90,9
9,1
100

Dari tabel di atas, hampir seluruh


responden
(90,9%)
mempersepsikan
bahwa masyarakat memberikan Stigma
(cap buruk) tentang HIV/AIDS

%
27.3
72.7
100

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

34

ISSN 2303-1433

4. Pengaruh
Program
Sosial
Enterpreneurship Terhadap Stigma
Masyarakat Tentang Hiv/Aids
Untuk
menganalisa
pengaruh
Program Sosial Enterpreneurship pada
ODHA terhadap Stigma Masyarakat
tentang
HIV/AIDS
dilakukan
menggunakan uji Chi Square dengan
0,05. Dari hasil uji didapatkan 0,00 (<
0,05) artinya ada pengaruh program Sosial
Enterpreneurship
terhadap
Stigma
masyarakat tentang HIV/AIDS (hasil uji
terlampir)
Pembahasan
Jenis kegiatan Social Enterpreneurship
yang sesuai pada ODHA
Berdasarkan tabel 4 dan 5, dapat
dilihat, bahwa bidang usaha atau jenis
kegiatan yang dijalani oleh ODHA adalah
pada bidang Wiraswasta. Dengan rincian
bidang usaha terbesar adalah pada pilihan
lain-lain
seperti menekuni dunia
modeling, jasa laundry, pedagang bakso
dan lain-lain. Jika dikaitkan dengan data
yang diperoleh selama penelitian, pilihan
bidang kerja ini berkaitan dengan
beberapa hal yaitu: dapat dikaitkan
dengan umur responden. Sebagian besar
responden berusia antara 20- 35 tahun
(54,5%) dengan pendidikan terakhir
terbanyak adalah SMA. Usia ini termasuk
ke dalam kelompok usia produktif. Usahausaha yang ditekuni oleh para ODHA,
sudah
sejalan
dengan
kebijakan
Pemerintah Kota Kediri. Sebagai daerah
perkotaan (urban), sektor perdagangan
dan jasa di Kota Kediri paling banyak
memberikan kesempatan dan lapangan
kerja bagi penduduknya. Pengembangan
sektor perdagangan dan jasa ini menjadi
fokus Pemerintah Kota Kediri dalam
mengatasi pengangguran, sebab programprogram pembangunan ekonomi riil di
sektor jasa dan perdagangan inilah yang
terbukti mampu menggerakkan aktivitas
ekonomi masyarakat (LAKIP Kota Kediri,
2013).
Tetapi jika melihat usia tersebut dan
dikaitkan dengan penyakit yang dialami
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

maka hal ini tentu merupakan hal yang


memprihatinkan. Karena justru di usia
yang rata-rata masih muda yang
seharusnya mereka memiliki masa depan
dan generasi muda yang potensial, mereka
harus dihadapkan pada kenyataan bahwa
mereka menderita HIV.
Berdasar tabel 3, dapat dilihat bahwa
jumlah ODHA laki-laki dan perempuan
yang terpilih dalam sampel penelitian ini
hampir berimbang. Hal ini dapat
dijelaskan, bahwa di kota Kediri jumlah
penderita HIV/AIDS tidak lagi didominasi
oleh kaum lelaki, tetapi jumlah wanita
juga menunjukkan trend meningkat.
Dari jenis kegiatan yang dilakukan
oleh para ODHA juga dapat disampaikan
hal-hal sbb: bahwa usaha yang digeluti
para ODHA sebagian besar sudah sesuai
dengan minat dan bakat mereka (90,9%),
dan mereka merasa cocok menjalankan
usaha tersebut. Walaupun usaha yang
dijalankan belum besar, para ODHA
mengungkapkn bahwa usahanya sudah
dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhan
(72,7%). Persoalan hambatan dalam
mengembangkan usaha, para ODHA
(47,7%)
mengungkapkan
menemui
kendala dalam berusaha. Kendala terbesar
adalah persoalan modal yang kurang
(86,4%), dan upaya yang dipilih oleh
sebagian besar responden sebagai solusi
adalah mencari pinjaman kepada pihak
lain atau keluarga. Dukungan keluarga di
rasakan hamper seluruh responden
(97,7%).
Menurut
ODHA,
dalam
mengembangkan
usaha,
semua
masyarakat dapat menerima usaha mereka
karena rata2 masyarakat tidak mengetahui
bahwa mereka dalah ODHA. Bantuan dari
organisasi
kemasyarakatn
belum
dirasakan oleh sebagian responden,
begitupun kesempatan untuk mengikuti
pelatihan-pelatihan. Sedangkan LSM
perannya masih dirasakan oleh separo saja
ODHA.

35

ISSN 2303-1433

Stigma Masyarakat tentang HIV/AIDS


Berdasarkan tabel 4. Didapatkan data
bahwa 90,9% responden mempersepsikan
bahwa masyarakat memberikan stigma
(cap buruk)
terhadap penyakit
HIV/AIDS. Dan hanya 9,1 % saja yang
menganggap masyarakat memperlakukan
para ODHA sama dengan orang lain pada
umumnya.
Stigma adalah suatu ancaman,sifat
dan karakteristik bahwa masyarakat
menerima ketidaknyamanan yang sangat
tinggi. Mendapat ancaman tersebut
membuat
seseorang
menerima
stigmatisasi (Goffman, 1963 dalam
Pusdiklat kemenkes, 2013). Stigmatisasi
adalah tindakan memfonis seseorang
sebagai buruk moral.
Dalam penelitian ini, stigma yang
secara umum selalu dirasakan oleh para
ODHA diterima dari masyarakat adalah
bahwa masyarakat samapai saat ini selalu
ketakutan dengan penyakit HIV/AIDS dan
akan menghindari jika mengetahui ada
penderita HIV/AIDS di sekitarnya. Hal ini
sejalan dengan apa yang disampaikan oleh
UNAIDS, 2006, bahwa Hukuman sosial
atau stigma oleh masyarakat di berbagai
belahan dunia terhadap pengidap HIV
AIDS terdapat dalam berbagai cara, antara
lain
tindakan-tindakan
pengasingan,
penolakan,
diskriminasi,
dan
penghindaran atas orang yang diduga
terinfeksi HIV, diwajibkannya uji coba
HIV tanpa mendapat persetujuan terlebih
dahulu atau perlindungan kerahasiaannya,
dan penerapan karantina terhadap orangorang yang terinfeksi HIV (UNAIDS :
2006).
Kekerasan atau ketakutan atas
kekerasan yang dirasakan oleh para
penderita HIV/AIDS, telah mencegah
banyak orang untuk melakukan tes HIV,
memeriksa bagaimana hasil tes mereka,
atau
berusaha
untuk
memperoleh
perawatan, sehingga mungkin mengubah
suatu sakit kronis yang dapat dikendalikan
menjadi hukuman mati dan menjadikan
meluasnya penyebaran HIV AIDS.

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

Menurut Herek GM (2002), stigma HIV


AIDS lebih jauh dapat dibagi menjadi tiga
kategori, yaitu :
1) Stigma instrumental, yaitu refleksi
ketakutan dan keprihatinan atas hal-hal
yang berhubungan dengan penyakit
mematikan dan menular.
2) Stigma simbolis, yaitu penggunaan
HIV AIDS untuk mengekspresikan sikap
terhadap kelompok sosial atau gaya hidup
tertentu yang dianggap berhubungan
dengan penyakit tersebut.
3) Stigma kesopanan, yaitu hukuman
sosial atas orang yang berhubungan
dengan isu HIV AIDS atau orang yang
positif HIV.
Stigma AIDS sering
diekspresikan dalam satu atau lebih
stigma, terutama yang berhubungan
dengan homoseksualitas, biseksualitas,
pelacuran, dan penggunaan narkoba
melalui suntikan. Banyak negara maju,
terdapat penghubungan antara AIDS
dengan
homoseksualitas
atau
biseksualitas, yang berkorelasi dengan
tingkat prasangka seksual yang lebih
tinggi,
misalnya
sikap-sikap
anti
homoseksual. Demikian pula terdapat
anggapan adanya hubungan antara AIDS
dengan hubungan seksual antar laki-laki,
termasuk bila hubungan terjadi antara
pasangan yang belum terinfeksi.
Kemensos
(2011)
menyatakan,
seseorang yang terjangkit HIV AIDS
dapat berdampak sangat luas dalam
hubungan sosial, dengan keluarga,
hubungan dengan teman-teman, relasi dan
jaringan kerja akan berubah baik kuantitas
maupun kualitas. Orang-orang yang
terjangkit HIV AIDS secara alamiah
hubungan sosialnya akan berubah.
Analisa pengaruh program Social
Enterpreneurship kelompok ODHA
terhadap Stigma Masyarakat tentang
HIV/AIDS di daerah Binaan KPA Kota
Kediri
Pengaruh
Program
Sosial
Enterpreneurship pada ODHA terhadap
Stigma Masyarakat tentang HIV/AIDS
dilakukan menggunakan uji Chi Square
36

ISSN 2303-1433

dengan 0,05. Dari hasil uji didapatkan


0,00 (< 0,05) artinya ada pengaruh
program Sosial Enterpreneurship terhadap
Stigma masyarakat tentang HIV/AIDS
(hasil uji terlampir). Kegiatan social
entrepreneurship
yang
berhasil
dilaksanakan
dengan
baik,
akan
memperbaiki cap buruk atau stigma yang
diberikan oleh masyarakat. Begitupun
sebaliknya, jika ODHA tidak memiliki
kegiatan social entrepreneurship akan
meningkatkan persepsi buruk masyarakat
tentang HIV/AIDS yang dirasakan oleh
para ODHA.
Hal ini dapat dijelaskan
sbb:
Orang-orang yang terjangkit HIV
AIDS secara alamiah hubungan sosialnya
akan berubah. Dampak yang paling berat
dirasakan oleh keluarga dan orang-orang
dekat lainnya. Perubahan hubungan sosial
dapat berpengaruh positif atau negatif
pada setiap orang. Reaksi masing-masing
orang berbeda, tergantung sampai sejauh
mana perasaan dekat atau jauh, suka dan
tidak suka seseorang terhadap yang
bersangkutan. Upaya kuratif pada aspek
sosial harus diterapkan kepada pengidap
HIV AIDS, hal itu dengan melihat bahwa
pengidap HIV AIDS mengalami proses
labelling oleh masyarakat dimana
mereka mendapatkan label buruk sebagai
orang-orang yang tidak berguna. Upaya
kuratif pada aspek sosial difokuskan
dalam upaya mendorong pengidap HIV
AIDS agar menjadi produktif dan punya
kontribusi terhadap masyarakat, maka
secara tidak langsung akan mengurangi
stigma buruk di masyarakat.
Selain hal-hal seperti yang disebutkan
di atas, ada hal lain yang perlu
diperhatikan akibat dari kurangnya
pengetahuan dan pemahaman terhadap
penyakit
HIV
AIDS,
kebanyakan
masyarakat
berasumsi
ODHA
itu
berbahaya, pembawa sial, orang hina,
tidak berguna, dan segala caci maki yang
menusuk hati. Oleh karena itu, sangat
perlu sosialisai tentang penyakit HIV
AIDS pada masyarakat umum, terutama
pada masyarakat desa.
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

Sosialisasi itu perlu agar masyarakat bisa


sadar dari persepsi buruk mereka terhadap
ODHA, dan yang terpenting adalah
menghindari perilaku-perilaku yang bisa
menyebarluaskan epidemi HIV AIDS
terhadap masyarakat luas.
Nursalam (2005) menjelaskan bahwa
seorang penderita HIV AIDS setidaknya
membutuhkan bentuk dukungan dari
lingkungan sosialnya. Dimensi dukungan
sosial meliputi tiga hal, yaitu : 1)
Emotional support, meliputi perasaan
nyaman,
dihargai,
dicintai,
dan
diperhatikan. 2) Cognitive support,
meliputi informasi, pengetahuan dan
nasehat. 3) Materials support, meliputi
bantuan atau pelayanan berupa sesuatu
barang dalam mengatasi suatu masalah.
Orang yang hidup dengan HIV dan
AIDS (ODHA) termasuk di antara
kelompok-kelompok yang paling rentan
dalam masyarakat Indonesia. Stigmatisasi
sosial akibat tidak adanya pemahaman
sehubungan dengan risiko penularan dari
orang yang terinfeksi menyebabkan
banyak ODHA kehilangan pekerjaan
mereka atau tidak dapat memperoleh
pekerjaan untuk menafkahi diri mereka
sendiri maupun keluarganya. Banyak
ODHA menanggulangi masalah ini
dengan berusaha bekerja di sector
informal, sering kali dengan mulai
membuka usaha mikro atau usaha kecil.
Oleh sebab itu, memberikan bantuan
untuk mewujudkan terbentuknya usahausaha seperti itu oleh ODHA dan
keluarganya merupakan strategi yang
berharga. Untuk mengurangi beban yang
dihadapi oleh orang-orang yang terinfeksi
HIV dan anggota rumah tangga mereka
(ILO, 2009)
Kesimpulan
Jenis Kegiatan yang paling banyak
dijalankan oleh ODHA di Kota Kediri
adalah Sektor
Wiraswasta. Hampir
seluruh ODHA mempersepsikan adanya
Stigma
dari
masyarakat
tentang
HIV/AIDS

37

ISSN 2303-1433

Program
Sosial
Enterpreneurship
berpengaruh terhadap Stigma Masyarakat
tentang HIV/AIDS
Saran
Untuk Tempat Penelitian
Mengacu pada hasil penelitian ini maka
perlu kiranya dilakukan hal-hal sebagai
berikut:
1. Perlunya
memberikan
Emotional
support, meliputi perasaan nyaman,
dihargai, dicintai, dan diperhatikan
melalui peningkatan partisipasi aktif para
ODHA dalam kegiatan kelompok
pendukung sebaya. Perlu dilakukan
konseling
pada
ODHA
untuk
penguatan mental spiritual, dan
konseling pada keluarga ODHA dan
masyarakat agar dapat memberikan
dukungan
pada
ODHA
secara
konstruktif
2. Perlunya peningkatan Cognitive support.
Melalui penyebarluasan
informasi
tentang HIV /AIDS ,peningkatan
pengetahuan melalui upaya pelatihanpelatihan dan penguatan psikologis para
ODHA melalui kerjasama dengan pihak
yang terkait. Melakukan pendidikan
pada masyarakat untuk mengurangi
stigma dan diskriminasi, membangun
dan
mengembangkan
sebanyak
mungkin dukungan sosial baik dari
komunitas ODHA sendiri maupun di
luar ODHA.
3. Pemberian Materials support, meliputi
bantuan
atau
pelayanan
berupa
peningkatan pelayanan VCT, dan
pemberdayaan
masyarakat
untuk
meningkatkan kemandirian para ODHA.
Perlu
pengembangan
program
rekreasional,
dan
pengembangan
potensi ODHA terutama pemberdayaan
ekonomi, pemanfaatan pengalam hidup
sebagai penderita HIV/AIDS untuk
mensupport orang-orang yang senasib
Untuk Penelitian Selanjutnya
Perlu dikembangkan penelitian
yang
lebih
komprehensif
dengan
melibatkan beberapa pihak yang terlibat
misalnya
mengevaluasi
dampak
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

HIV/AIDS terhadap
ekonomi para ODHA

Psikologis

dan

Daftar Pustaka
Bappeda Kota Kediri, 2013. LAKIP Kota
Kediri.
Depkes, RI. 2003. Buku Pedoman
Nasional Perawatan, Dukungan,
dan pengobatan bagi ODHA. Buku
Pegangan bagi Petugas Kesehatan
dan Petugas Lainnya. Jakarta
Depkes, RI. 2009. Sehat dan Positif untuk
ODHA. Jakarta
Depkes, RI. 2010. Pedoman Pelaksanaan
Kewaspadaan
Universal
di
Pelayanan Kesehatan. Jakarta
KPA
Nasional,
2010.
Pedoman
Pencegahan
HIV
melalui
Transmisi Seksual.
Jakarta
M.
Zainuddin,
2000.
Metodologi
Penelitian. Surabaya
Nursalam. (2003) Konsep Penerapan
Metodologi
Penelitian
Ilmu
Keperawatan. Salemba Medika,
Jakarta.
Nursalam. (2008) Konsep dan Penerapan
Metodologi
Penelitian
Ilmu
keperawatan (Edisi 2). Salemba
Medika, Jakarta
Pusdiklatnakes Kemenkes, RI. 2013.
Modul Pelatihan Managemen
HIV/AIDS bagi Tenaga Pendidik.
UPT
Pelatihan
Kesehatan
Masyarakat Murnajati
Richard, Muma. 2000.HIV Manual Untuk
Tenaga Kesehatan. EGC: Jakarta
Ronald Hutapea, 2003. AIDS& PMS dan
Perkosaan. Rineke Cipta: Jakarta
Soekidjo
Notoatmodjo.
(2005).
Metodologi Penelitian Kesehatan.
Rineka Cipta, Jakarta
Sugiyono. (2006). Statistika untuk
Penelitian. Alfabeta, Bandung
World Bank. 2009. HIV and AIDS in
South Asia: An Economic
Development Risk. World Bank.
Washington, DC

38

ISSN 2303-1433

Hubungan Antara Status Gizi (IMT) dengan Usia Menarche pada Remaja Putri Usia
13-14 Tahun di SMPN 1 Pace Kecamatan Pace Kabupaten Nganjuk
(the relationship between nutritional status with age of menarche in young women aged
13-14 years)
Sumy Dwi Antono
Poltekkes Kemenkes Malang
Prodi Kebidanan Kediri Jl.KH.Wakhid Hasyim 64 B Kediri
ABSTRACT
The average of menarche young women continoued to decline on average about 3-4
months every 10 years. The shift of the age of menarche to younger age can cause
emotional stress, the risk of breast cancer, pregnancy is noy on purpose. The purpose of
this research is to know the relationship between nutritional status with age of menarche in
young women aged 13-14 years. The type of this research use cross sectional research
design. Sampling technique of this research used proportional stratified random sampling
which the research took a random strata in the population, for this research the reseacher
using the lottery draw. The researcher abtained samples of 76 responden of total student
population of 96. The analysis data of this research is Spearman Rank. The result of the
analysis data shows that there is no relationship between nutritional status with age of
menarche which the value tcount = 0,647 less than ttable = 1,995. For this research the
researcher gives suggestion to the next researcher to develop the factor social media that
can influence the age of menarche in girls forther.
Keywords : nutritional status, age of menarche, young women
.
tumbuhnya rambut ketiak, tumbuhnya
Latar Belakang
Masa remaja adalah masa peralihan
rambut pubis, dan pembesaran payudara.
dari masa kanak-kanak ke dewasa.
Jadi menarche pada seorang wanita
Batasan usia remaja menurut World
mengindikasikan
bahwa
alat
Health Organization (WHO) (2007)
reproduksinya mulai berfungsi. Saat ini
adalah 12 sampai 24 tahun. Remaja
kebanyakan
seorang
perempuan`
merupakan tahapan seorang dimana dia
mengalami menstruasi pertama menarche
berada di antara fase anak dan dewasa
lebih cepat.
yang ditandai dengan perubahan fisik,
Berdasar hasil penelitian yang
perilaku, kognitif, biologis, dan emosi
dilakukan di SMPN 155 Jakarta tahun
yang merupakan periode pematangan
2011
tentang
Faktor-faktor
yang
organ reproduksi manusia, dan sering
Berhubungan dengan Usia Menarche pada
disebut masa pubertas (Efendi, 2009).
Remaja Putri di SMPN 155 Jakarta Tahun
Masa pubertas seorang perempuan
2011 menunjukkan bahwa responden yang
ditandai dengan menarche (menstruasi
memiliki usia menarche cepat dan status
pertama). Menarche adalah haid pertama
gizi lebih dan resiko gizi lebih adalah
kali yang dialami seorang perempuan
sebanyak 13 orang (33,3%), responden
yang merupakan ciri khas kedewasaan
yang memiliki usia menarche cepat dan
seorang perempuan, sebagai pertanda
status gizi kurang dan baik adalah
masa peralihan dari masa anak menuju
sebanyak 26 (66,7%) orang. Responden
masa dewasa. Selain ditandai dengan
yang memiliki usia menarche normal
menarche, masa pubertas ditandai juga
dengan status gizi lebih dan resiko lebih
dengan adanya ciri-ciri sekunder, yaitu
adalah sebanyak 7 orang (12,3%) dan
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

39

ISSN 2303-1433

responden yang memiliki usia menarche


normal yaitu usia 12-13 tahun dengan
status gizi kurang serta baik adalah
sebanyak 50 orang (87,7%) (Derina,
2011).
Hasil penelitian yang dilakukan pada
siswi kelas VIII SMP Muhammadiyah 5
Pucang Surabaya menunjukkan bahwa
responden dengan status gizi gemuk yaitu
30 siswi (75%) mengalami menarche
cepat, sedangkan responden dengan status
gizi normal yaitu 25 siswi (65,79%)
mengalami menarche normal. Dari hasil
analisis menggunakan uji korelasi
Spearman diperoleh nilai signifikan 0,000,
karena = 0,000 < = 0,05 maka Ho
ditolak yang berarti ada pengaruh status
gizi terhadap terjadinya menarche
(Badriyah, 2011).
Berdasarkan hasil penelitian pada
siswi kelas VII dan kelas VIII SMPN 11
Semarang diperoleh informasi bahwa
persentase seluruh siswi (100%) kelas VII
dan kelas VIII yang menjadi responden
tidak pernah mendapat paparan audio
visual berupa menonton atau membaca
majalah porno. Hal ini diperkuat dari
penelitian sebelumnya yang mengatakan
bahwa lingkungan berpengaruh pada
waktu terjadinya menarche. Remaja putri
yang tinggal di kota mendapat fasilitas
hiburan seperti internet, atau majalah/film
porno sehingga mempercepat menarche
dibandingkan dengan remaja putri yang
tinggal di pedesaan (Kusuma, 2012).
Berdasarkan hasil studi pendahuluan
yang dilakukan di SMPN 1 Pace
didapatkan dari 20 siswi terdapat 9 siswi
(45%) mengalami menstruasi pertama usia
11 tahun, 11 siswi (55%) mengalami
menstruasi pertama usia 12-13 tahun.
Fenomena di atas cukup banyak kita
jumpai dan pasti ada faktor-faktor yang
mempengaruhi hal tersebut. Diantaranya
adalah faktor suku, genetik, gizi, sosial,
ekonomi, dll. Usia anak perempuan
mengalami menarche bervariasi antara
usia 10-15 tahun (Fairus, dkk, 2011). Usia
rata-rata menarche terus menurun rata-rata
sekitar 3-4 bulan setiap 10 tahun
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

(Prawirohardjo,
2011).
Seharusnya
menarche terjadi pada wanita di usia 1213 tahun. Sedangkan pada dekade 60-an,
kebanyakan
wanita
pertama
kali
mengalami menstruasi pada usia 15-16
tahun, pada abad ke 21 menarche bergeser
ke usia lebih muda. Membaiknya standar
kehidupan berdampak pada pergeseran
usia menarche ke usia yang lebih muda.
Pergeseran usia menarche ke usia lebih
muda bisa menyebabkan stress emosional,
risiko terkena kanker payudara (Susanti
dan Sunarto, 2012), kehamilan yang tidak
disengaja (Martaadisoebrata, 2005). Hal
ini terjadi karena status gizi dan kesehatan
yang semakin baik. Wanita yang bergizi
baik mempunyai kecepatan pertumbuhan
yang lebih tinggi pada masa sebelum
pubertas (prapubertas) dibandingkan
dengan remaja yang kurang gizi.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa
hubungan antara status gizi (IMT) dengan
usia menarche pada remaja putri usia 1314 tahun di SMPN 1 Pace Kecamatan
Pace Kabupaten Nganjuk.
Metode Penelitian
Desain penelitian yang digunakan
adalah rancangan penelitian analitik
dengan
pendekatan
cross-sectional
dimana variabel bebas yaitu status gizi
dan variabel terikat yaitu usia menarche
yang diukur pada waktu yang bersamaan.
Populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh siswi SMPN 1 Pace usia 13-14
tahun yang sudah mengalami menstruasi
sejumlah 96 siswi. Sampel yang
digunakan
yaitu
sebagian
siswi
perempuan usia 13-14 tahun SMPN 1
Pace yang sudah mengalami menstruasi.
Besar sampel menggunakan tabel
Normogram Harry King dengan taraf
kesalahan 5%, sehingga didapatkan besar
sampel 75 siswi. Teknik pengambilan
sampel
menggunakan
Proportional
Stratified Random Sampling. Teknik
analisa data dengan uji Spearman Rank.

40

ISSN 2303-1433

sebagian besar responden memiliki usia


menarche normal 82,9% (63 siswi).
Hasil Penelitian
1. Status gizi pada remaja putri usia
13-14 tahun di SMPN 1 Pace
Distribusi status gizi pada remaja
putri usia 13-14 tahun di SMPN 1 Pace
dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 1 Distribusi Status Gizi pada
Remaja Putri Usia 13-14 Tahun di
SMPN 1 Pace
Kategori

Jumlah
Presentase
(n)
(%)
9
11,8
Kurang
50
65,8
Normal
17
22,4
Lebih
100
Total
Sumber: Data primer hasil penelitian tanggal 14
Juli 2014

Berdasarkan hasil penelitian yang


dilakukan pada remaja putri usia 13-14
tahun di SMPN 1 Pace seperti terlihat
pada Tabel 1 bahwa lebih dari setengah
responden 65,8% (50 siswi) berstatus gizi
normal.
2. Usia menarche pada remaja putri
usia 13-14 tahun di SMPN 1 Pace
Distribusi usia menarche pada remaja
putri usia 13-14 tahun di SMPN 1 Pace
dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 2 Distribusi Usia Menarche pada
Remaja Putri Usia 13-14
Tahun di SMPN 1 Pace
Kategori

Jumlah
Presentase
(n)
(%)
11
14,5
Cepat
63
82,9
Normal
2
2,6
Lambat
100
Total
Sumber: Data primer hasil penelitian tanggal 14
Juli 2014

Berdasarkan hasil penelitian yang


dilakukan pada remaja putri usia 13-14
tahun di SMPN 1 Pace seperti terlihat
pada Tabel 2 dapat dijelaskan bahwa

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

3. Hubungan Antara Status Gizi


dengan Usia Menarche pada Remaja
Putri Usia 13-14 Tahun di SMPN 1
Pace
Hasil analisis dari status gizi dengan
usia menarche pada remaja putri usia 1314 tahun dapat dilihat pada tabel dibawah
ini:
Tabel 3 Tabulasi Silang Status Gizi
dengan Usia Menarche pada
Remaja Putri Usia 13-14 Tahun
Status gizi
Kurang
Normal
Lebih
Jumlah

N
0
1
10
11

Cepat
%
1,3
13,2
14,5

Usia Menarche
Normal
N
%
8
10,5
48
63,2
7
9,2
63
82,9

Lambat
N
%
1
1,3
1
1,3
2
2,6

Jumlah
9
50
17
76

Sumber: Data primer hasil penelitian tanggal 14


Juli 2014

Berdasarkan Tabel 3 dapat dijelaskan


bahwa lebih dari setengah responden yaitu
63,2% (48 siswi) dengan status gizi
normal dan usia menarche normal.
Pembahasan
1. Status gizi pada remaja putri usia
13-14 tahun
Data hasil penelitian memperlihatkan
bahwa lebih dari setengah responden yaitu
sebesar 50 siswi (65,8%) berstatus gizi
normal, sebagian kecil responden yaitu
sebesar 9 siswi (11,8%) berstatus gizi
kurang, dan sebagian kecil responden
yaitu sebesar 17 siswi (22,4%) berstatus
gizi lebih.
Responden yang dalam kategori
status gizi normal lebih dari setengah
responden dan responden yang masuk
dalam kategori status gizi lebih yaitu
sebagian kecil respnden, hal ini
disebabkan karena saat ini sosial ekonomi
masyarakat semakin membaik. Dengan
membaiknya sosial ekonomi masyarakat,
makanan yang dikonsumsi remaja tentu
makanan yang banyak mengandung zat
gizi dan vitamin yang akan mempengaruhi
41

ISSN 2303-1433

pertumbuhan dan perkembangannya,


sehingga status gizi remaja akan semakin
membaik juga. Karena disini remaja
merupakan masa peralihan dari masa anak
menuju masa dewasa dimana pada masa
remaja ini terjadi pertumbuhan fisik,
mental dan emosional yang sangat cepat.
Pada remaja kebiasaan ikut-ikutan
dengan teman sebayanya merupakan salah
satu
faktor
yang
dapat
sangat
mempengaruhi keadaan pada gizi remaja
seperti sering makan diluar rumah
bersama teman-teman. Selain itu faktor
keturunan atau genetik juga bisa
mempengaruhi status gizi remaja. Remaja
yang memiliki orang tua gemuk,
kemungkinan besar remaja tersebut juga
gemuk, ataupun sebaliknya.
Menurut Dewi, dkk (2013) Pengaruh
lingkungan penting terhadap perilaku
remaja. Kebiasaan ikut-ikutan dengan
teman sekelompoknya atau teman
sebayanya merupakan salah satu masalah
yang dapat terjadi pada remaja. Bila
kebiasaan remaja buruk seperti minumminuman beralkohol, merokok, begadang
tiap malam sangat mempengaruhi keadaan
gizi remaja tersebut Faktor keturunan
juga berperan dalam mempengaruhi status
gizi remaja. Remaja yang mempunyai
orangtua gemuk, maka kemungkinan
remaja tersebut juga bisa mengalami
kegemukan. Ataupun sebaliknya, bila
orangtua kurus, maka remaja tersebut juga
mengalami hal yang sama.
Berdasarkan
penelitian
tentang
Pengaruh Status Gizi Remaja Terhadap
Usia Menarche pada Siswi SDN Dukuh
Menanggal Surabaya yang dilakukan oleh
Putri Kusnita dan Damarati (2012) bahwa
terdapat 23 siswi (63,9%) dari 36 siswi
SDN Dukuh mempunyai status gizi baik.
Berdasarkan hasil penelitian dan
beberapa penelitian orang lain dapat
dilihat bahwa banyak responden yang
mempunyai status gizi normal karena
semakin membaiknya standar kehidupan
masyarakat,
pengaruh
dari
teman
sekelompok atau teman sebaya dan faktor
genetik.
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

2. Usia menarche pada remaja remaja


putri usia 13-14 tahun
Data hasil penelitian yang dilakukan
pada remaja putri usia 13-14 tahun di
SMPN 1 Pace memperlihatkan bahwa
sebagian besar responden memiliki usia
menarche normal yaitu sebanyak 63 siswi
(82,9%), sebagian kecil responden
memiliki usia menarche cepat yaitu
sebanyak 11 siswi (14,5%), dan sebagian
kecil responden memiliki usia menarche
lambat yaitu sebanyak 2 siswi (2,6%).
Usia saat seorang anak perempuan
mendapatkan menstruasi pertama sangat
bervariasi. Usia normal bagi seorang
perempuan
mendapatkan
menstruasi
untuk pertama kalinya yaitu pada usia 1213 tahun. Saat ini kecenderungan anak
perempuan
mendapatkan
menstruasi
pertama kali pada usia yang normal. Ada
yang berusia 12 tahun saat pertama kali
mendapatkan menstruasi ada juga yang
mendapatkan menstruasi pada usia 13
tahun. Banyak
faktor
yang
mempengaruhi cepat lambatnya menarche
diantaranya adalah faktor sosial, ekonomi,
lingkungan, genetik,suku, dan gizi. Pada
penelitian ini sebagian besar responden
mendapatkan usia menarche normal dan
sebagian kecil responden memiliki usia
menarche cepat, hal ini disebabkan karena
dengan mengkonsumsi makanan yang
cukup gizi dan teratur remaja akan
tumbuh
sehat,
sehingga
akan
mempengaruhi pertumbuhan dan fungsi
organ tubuh termasuk organ reproduksi.
Karena makanan merupakan slah satu
kebutuhan yang pokok bagi manusia
untuk tumbuh dan berkembang. Selain
itu, hal ini mungkin disebabkan karena
pengaruh media sosial seperti radio,
televisi, majalah, dan internet yang ada
dilingkungan
sekitarnya
sehingga
berdampak pada tingkat kesuburan dan
kematangan hormon yang terdapat dalam
tubuh remaja tersebut sehingga remaja
akan mengalami kematangan seksual yang
lebih cepat sehingga perubahan fisik
42

ISSN 2303-1433

berkembang secara cepat juga dan akan


berdampak pada terjadinya menarche.
Menurut Karis Amalia Derina (2011)
yang berperan dalam derajat kesehatan
ada 4 faktor utama yaitu perilaku,
lingkungan, genetik, dan akses ke
pelayanan kesehatan. Bila percepatan usia
menarche dianggap sebagai perubahan
yang berhubungan dengan derajat
kesehatan maka secara garis besar faktor
yang mempercepat terjadinya usia
menarche yaitu perilaku yang dalam hal
ini bisa dicerminkan dari status gizi
responden, genetik yang dapat dilihat dari
usia menarche ibu, akses pelayanan
kesehatan sehingga responden dalam
keadaan sehat, dan yang tidak kalah
penting adalah faktor lingkungan.
Menurut Putri Kusnita dan Damarati
(2012) Percepatan proses menarche juga
dipengaruhi oleh perubahan hormon
steroid estrogen dan progesteron yang
mempengaruhi
pertumbuhan
endometrium, semakin baik gizi siswi
maka semakin cepat siswi akan
mengalami menarche.
3. Hubungan Status Gizi dengan Usia
Menarche pada Remaja Putri Usia
13-14 Tahun
Data hasil penelitian memperlihatkan
bahwa dari 76 responden lebih dari
setengah responden yaitu 48 siswi
(63,2%) dengan status gizi normal dan
usia menarche normal juga.
Setelah dilakukan pengujian hipotesis
dengan Uji Korelasi Spearmen Rank
didapatkan hasil t hitung < t tabel artinya
tidak ada hubungan antara status gizi
dengan usia menarche pada remaja putri
usia 13-14 tahun.
Hal ini dikarenakan banyak faktor
yang mempengaruhi cepat lambatnya
menarche selain dari faktor gizi
diantaranya faktor sosial, ekonomi,
lingkungan, genetik, media sosial dan
suku. Pada penelitian ini banyak remaja
yang mempunyai status gizi normal,
sehingga
banyak
remaja
yang
mendapatkan usia menarche yang normal
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

juga. Selain itu, faktor media sosial seperti


televisi, radio, majalah, dan internet juga
dapat mempengaruhi cepat lambatnya usia
menarche pada remaja perempuan.
Sekarang ini banyak masyarakat yang
sudah mempunyai televisi yang dapat
menayangkan sinetron-sinetron yang
menampilkan anak-anak berperan sebagai
orang dewasa dalam sinetron percintaan
remaja maupun orang dewasa, sehingga
terdapat kebiasaan para remaja untuk
menonton
sinetron
yang
sangat
mendukung untuk terjadinya pematangan
alat reproduksinya, karena biasanya
setelah menonton mereka memiliki
keinginan untuk menjadi peran seperti
artis yang diidolakannya.
Berdasarkan penelitian oleh Dono
Anggar Kusuma (2012) tentang hubungan
beberapa faktor siswi dengan kejadian
menarche pada remaja awal didapatkan
bahwa persentase seluruh siswi (100%)
kelas VII dan kelas VIII yang menjadi
responden tidak pernah mendapat paparan
audio visual berupa menonton atau
membaca majalah porno. Hal ini diperkuat
dari
penelitian
sebelumnya
yang
mengatakan
bahwa
lingkungan
berpengaruh pada waktu terjadinya
menarche. Remaja putri yang tinggal di
kota mendapat fasilitas hiburan seperti
internet, atau majalah/film porno sehingga
mempercepat menarche dibandingkan
dengan remaja putri yang tinggal di
pedesaan.
Dari hasil penelitian juga didapatkan
bahwa dari 76 responden sebagian kecil
responden yaitu 10 siswi (13,2%) dengan
status gizi lebih dan usia menarche cepat,
hal
ini
terjadi
karena
dengan
mengkonsumsi makanan yang bergizi dan
teratur dapat mempengaruhi pertumbuhan,
sistem kerja hormon dalam tubuh dan
fungsi organ tubuh pada remaja tersebut
termasuk organ reproduksi. Makanan
yang banyak mengandung lemak, protein
hewani, kalsium, dan lain sebagainya akan
mempengaruhi sistem kerja hormon yang
akhirnya
akan
berdampak
pada
pertumbuhan dan perkembangan sistem
43

ISSN 2303-1433

reproduksi.
Misalnya
lemak
akan
merangsang pematangan folikel dan
pembentukan estrogen. Protein hewani
akan meregulasi pertumbuhan somatik
dan kematangan organ reproduksi.
Menurut Susanti dan Sunarto (2012)
terjadinya menarche dilihat dari sistem
kerja hormon yang ada di tubuh yaitu
dengan mengkonsumsi makanan tinggi
lemak akan berakibat pada penumpukan
lemak dalam jaringan adiposa yang
berkorelasi positif dengan peningkatan
kadar leptin. Leptin ini akan memicu
pengeluaran
hormon
GnRH
(Gonadotropin Releazing Hormone) yang
selanjutnya mempengaruhi pengeluaran
FSH (Follicle Stimulating Hormone) dan
LH (Luteinizing Hormone) dalam
merangsang pematangan folikel dan
pembentukan estrogen.
Menurut Susanti dan Sunarto (2012)
Asupan protein hewani berlebih terutama
berasal dari susu dan olahannya akan
merangsang sekresi insulin dan Insulin
Like Growth Factor 1 (IGF-1). Insulin
tersebut akan menekan IGF pengikat
protein 1, kemampuan IGF-1 berpengaruh
terhadap produksi somatopedin, yaitu
suatu fasilitator pertumbuhan yang
diproduksi oleh hati sebagai hormon
pertumbuhan yang berfungsi sebagai
penggerak utama kematangan seksual.
Asupan
protein
hewani
akan
meningkatkan fase luteal. Akan tetapi jika
dikonsumsi secara berlebihan akan
berpengaruh
terhadap
peningkatan
frekuensi puncak LH dan mengalami
pemanjangan fase folikuler yang akan
mempercepat seseorang untuk memasuki
awal pubertas.
Lain halnya dengan
protein nabati yang kaya akan isoflavon
berhubungan dengan keterlambatan usia
menarche. Isoflavon dikaitkan dengan
efek antiekstrogenik yang mampu
menggantikan estradiol untuk berinteraksi
langsung dengan reseptor estrogen a (Era
gene). Kondisi inilah yang akan
mengacaukan gen ERa untuk melakukan
transkripsi gen sebagai pemicu awal
pubertas. Adapun keterlibatan asupan
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

mikronutrien yaitu kalsium, terutama pada


susu yang mempengaruhi jumlah estrogen
dan
faktor
pertumbuhan
dalam
mengirimkan sinyal fisiologis untuk
regulasi pertumbuhan somatik dan
kematangan organ reproduksi.
Menurut Susanti dan Sunarto (2012)
Serat pada makanan terutama jenis serat
larut air berpengaruh terhadap penurunan
kadar kolesterol. Berkurangnya jumlah
kolesterol dapat menurunkan kadar leptin
dalam darah. Leptin berpengaruh terhadap
sekresi GnRH dan hormon estrogen yang
digunakan untuk mengawali pubertas.
Pengaruh serat terhadap kadar kolesterol
dikaitkan dengan metabolisme asam
empedu. Serat makanan dapat menyerap
asam empedu yang disintetis dari
kolesterol di dalam hati.
Kalsium yang terkandung dalam susu
akan mengirimkan sinyal untuk mengatur
pertumbuhan somatik dan mekanisme lain
yang berhubungan dengan kematangan
reproduksi. IGF-1 merupakan bagian dari
protein susu yang strukturnya mirip
insulin. Dan terlibat dalam pertumbuhan
somatik dan kematangan reproduksi, serta
berkorelasi dengan asupan kalsium dan
susu untuk mempercepat usia menarche
menurut Susanti dan Sunarto (2012).
Simpulan
1. Status gizi remaja putri usia 13-14
tahun di SMPN 1 Pace lebih dari
setengah
responden
mempunyai
status gizi normal.
2. Usia menarche remaja putri usia 1314 tahun di SMPN 1 Pace sebagian
besar responden masuk dalam
kategori menarche normal.
3. Tidak ada hubungan antara status gizi
dengan usia menarche pada remaja
putri usia 13-14 tahun di SMPN 1
Pace karena lebih dari setengah
responden dengan status gizi normal
dan usia menarche normal.
Saran
1. Bagi Tempat Penelitian
1. Kepada
pihak
sekolah
untuk
memantau perkembangan kesehatan
44

ISSN 2303-1433

reproduksi siswi-siswi SMPN 1 Pace


dengan membuat daftar siswi yang
sudah
mengalami
menstruasi.
Mengadakan penyuluhan tentang
kesehatan
reproduksi,
terutama
masalah
kesiapan
menghadapi
menarche.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Dalam
penelitian
selanjutnya
diharapkan lebih mengembangkan
penelitiannya mengenai faktor-faktor
lain
yang
mempengaruhi
usia
menarche pada remaja putri terutama
faktor audio visual.
Daftar Pustaka
Adriani, M., dan Bambang W. 2012.
Peran Gizi dalam Siklus Kehidupan.
Jakarta: Kencana Prenada Media
Group.
Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian
Suatu Pendekatan Praktik (Edisi
Revisi VI). Jakarta: Rineka Cipta.
Badriyah, dan Sulastri. 2011. Pengaruh
Status Gizi Terhadap Terjadinya
Menarche Pada Siswi Kelas VIII
SMP Muhammadiyah 5 Pucang
Surabaya.
Jurnal
Penelitian
Kesehatan Suara Forikes. Halaman:
1-56.
Derina, K. A. 2011. Faktor-faktor yang
Berhubungan dengan Usia Menarche
pada Remaja Putri di SMPN 155
Jakarta Tahun 2011.
Dewi, A.B.F.K, dkk. 2013. Ilmu Gizi
untuk
Praktisi
Kesehatan.
Yogyakarta: Graha Ilmu.
Efendi, F. 2009. Keperawatan Kesehatan
Komunitas:Teori dan Praktik dalam
Keperawatan.
Jakarta:
Salemba
Medika.
Fairus, M., dan Prasetyowati. 2011. Buku
Saku Gizi dan Kesehatan Reproduksi.
Jakarta: EGC.
Hermawanto, H. 2010. Menyiapkan Karya
Tulis Ilmiah. Jakarta : TIM
Hidayat, A. 2009. Metode Penelitian
Kebidanan dan Teknik Analisis Data.
Jakarta: Salemba.

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

Irianto, D. P. 2007. Panduan Gizi


Lengkap Keluarga dan Olahragawan.
Yogyakarta: Andi.
Kanisius. 2009. Bebas Masalah Berat
Badan. Yogyakarta: Kanisius.
Kusnita, P. dan Damarti. Pengaruh Status
Gizi
Remaja
Terhadap
Usia
Menarche pada siswi SDN Dukuh
Menanggal Surabaya.
http://digilib.unipasby.ac.id/files/disk
1/3/gdlhub--putrikusni-121-1damarati.pdf. Diakses tanggal 21
Februari 2014.
Kusuma, D. A. 2012. Hubungan Beberapa
Faktor Siswi dengan Kejadian
Menarche Pada Remaja Awal di
SMPN 11 Kota Semarang Bulan JuniAgustus 2012. Jurnal Kesehatan
Masyarakat 2013. Halaman: 1-10.
Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi
Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka
Cipta.
Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan
Metodologi
Penelitian
Ilmu
Keperawatan Pedoman Skripsi, Tesis,
dan
Instrumen
Penelitian
Keperawatan. Jakarta: Salemba.
Martaadisoebrata,
Djamhoer.
2005.
Obstetri dan Ginekologi Sosial.
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo.
Paath, E.F, dkk. 2005. Gizi dalam
Kesehatan Reproduksi. Jakarta: EGC.
Prawirohardjo, S. 2011. Ilmu Kandungan.
Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
Proverawati, A., dan Siti A. 2009. Buku
Ajar
Gizi
Untuk
Kebidanan.
Yogyakarta: Nuha Medika.
Saifuddin, A. B. 2005. Ilmu Kandungan.
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo.
Sibagariang, E. E., dkk. 2010. Kesehatan
Reproduksi Wanita. Jakarta: Trans
Info Media
Soetjiningsih. 2004. Tumbuh Kembang
Remaja Dan Permasalahannya.
Jakarta: Sagung Seto.
Sugiyono.
2010.
Statistika
untuk
Penelitian. Bandung: Alfabet.
45

ISSN 2303-1433

Sukarni, I., dan Wahyu K. 2013. Buku


Ajar
Keperawatan
Maternitas.
Yogyakarta: Nuha Medika.
Supariasa, I D. N., dkk, 2012. Penilaian
Status Gizi. Jakarta: EGC.
Supranto. 2007. Teknik Sampling untuk
Survey & Eksperimen. Jakarta:
Rineka Cipta.
Susanti, A. V., dan Sunarto. 2012. Faktor
Risiko Kejadian Menarche Dini pada
Remaja di SMPN 30 Semarang.
Journal of Nuttrition College.
Halaman 1-12.
Tim Penulis Poltekkes Depkes Jakarta I.
2010. Kesehatan Remaja: Problem
dan Solusinya. Jakarta: Salemba
Medika.

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

46

ISSN 2303-1433

Effect of timing cord clamping on a vaginally delivered infant of a primigravida in


terms of the incidence of hyperbilirubinemia
Maria Magdalena Setyaningsih 1), Wisoedhanie Widi Anugrahanti 2)
1,2
Lecture, Panti Waluya Malang Nursing Academy
email: mmsetyaningsih70@gmail.com
Abstract
Delayed cord clamping leads to the increased level of haematocrite and victocytes
which is high risk of hyperbilirubinemia . This study is to determine if there is an effect of
timing of cord clamping relating to the incidence of hyperbilirubinemia on newborn, and to
create formulating the standard procedures in maternal interventions related to the timing
of cord clamping, another objective is preventing interventions of its occurrence when the
clamping is performed immediately after birth. Crossectional study was applied design of
the research. Population and samples included infants spontaneus by healthy
primigravidas.Two trials were included, 20 participants of each received interventions of
cord clamping more than equalivalent 1 minute and less than 1 minute followed by
bilirubin assessment 48 hours after birth, and analysed by using Linier Regression. There is
no significant effect of timing of cord clamping on newborn with regard to
hiperbilirubinemia, because the effect of the clamping on bilirubin level reaches up to
68.2%, while the other 31.8% of the varying levels are affected by other factors. There is a
need to conduct other relevant studies aimed to prevent hyperbilirubinemia starting from
antenatal to postnatal stage.
Key Words: Jaundice, Newborn, Hyperbilirubinemia, Time of Clamping, Primigravidas
.
hiperviskositas yang dapat menyebabkan
Pendahuluan
Studi mengenai pemotongan tali pusat
gangguan pada sistem neurologis.
masih menjadi kontroversi pada beberapa
Penelitian di Kanada pada tahun 1972
ahli. Ada beberapa ahli yang menyatakan
yang membandingkan transfusi plasenta
bahwa tali pusat sebaiknya dipotong
yang terjadi pada bayi aterm dan prematur
dalam waktu lebih dari 15 menit untuk
yang
berhubungan
dengan
waktu
meningkatkan aliran darah sebanyak 21%
pengikatan tali pusat. Hasil pengukuran
pada bayi. Ahli yang lain meyakini bahwa
volume darah yang dilakukan setelah 5
tali pusat sebaiknya segera dipotong
menit transfusi plasenta tidak berbeda
dalam waktu beberapa detik supaya bayi
pada bayi aterm dan prematur (terjadi
cepat beradaptasi dengan kondisi fisiknya
peningkatan volume darah 47% pada bayi
sendiri (Forro, 2007). Beberapa studi
aterm dan 50% pada bayi prematur).
menunjukkan bahwa pengikatan tali pusat
Proporsi transfusi plasenta terbesar terjadi
tertunda mengakibatkan darah plasenta
pada menit pertama. Pengikatan tali pusat
mengalir ke neonatus sehingga terjadi
tertunda memberikan waktu lebih banyak
peningkatan volume darah sebesar 30%
untuk transfer darah dari plasenta kepada
dan peningkatan 60% eritrosit. Beberapa
bayi. Stripping atau milking tali pusat
studi menunjukkan bahwa pengikatan tali
sebelum pengikatan akan menambah
pusat tertunda dapat meningkatkan kadar
volume darah bayi hingga 20%.
hematokrit dan viskositas darah secara
Viskositas
darah
didefinisikan
patologis yang menyebabkan berbagai
sebagai kontribusi faktor reologik darah
manifestasi
klinis
diantaranya
terhadap resistensi aliran darah. Viskositas
hiperbilirubinemia, takikardia dan dan
darah tergantung beberapa faktor, dimana
determinan mayornya adalah hematokrit
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

47

ISSN 2303-1433

darah, viskositas plasma, agregasi dan


bentuk sel darah merah, sel darah putih,
dan diameter pembuluh darah. Diantara
semua
faktor,
hematokrit
adalah
determinan terpenting dari viskositas
darah, dimana 50% kenaikan viskositas
didasarkan atas kenaikan hematokrit.
Viskositas
darah
berhubungan
proporsional secara langsung dengan
hematokrit dan viskositas plasma dan
berhubungan
terbalik
dengan
deformabilitas sel darah merah. Viskositas
darah dapat diukur secara langsung
menggunakan suatu alat yang bernama
Wells-Brookfield cone-plate viscometer,
tetapi karena ketersediaan alat ini masih
terbatas, maka nilai hematokrit dapat
digunakan untuk menyatakan vikositas
darah. (Berhmen, 2000).
Suatu penelitian di Amerika Serikat
pada tahun 1966 menyatakan adanya
suatu
hubungan
konsisten
antara
hematokrit
dan
viskositas
darah.
Hematokrit dari bayi baru lahir sangatlah
dipengaruhi oleh waktu pengikatan dan
pemotongan umbilikus, dimana penjepitan
tali pusat tertunda akan menyebabkan
terjadinya transfusi plasenta lebih besar
dan berkurangnya volume residu plasenta.
Polisitemia
didefinisikan
sebagai
kenaikan
kadar
hematokrit
dan
hemoglobin darah vena > 2 SD sesuai usia
gestasi
bayi.
Polisitemia
dapat
menimbulkan banyak komplikasi seperti
hiperviskositas dan hiperbilirubinemia.
Polisitemia dipengaruhi oleh berbagai
faktor risiko, salah satunya adalah faktor
obstetrik yaitu lama pengikatan tali pusat
setelah bayi dilahirkan.
Penelitian di Glasgow pada tahun
1993 melaporkan pengikatan tali pusat di
bawah introitus 20 cm, yang terlambat 30
detik dapat meningkatkan volume sel
darah dan meningkatkan rasio tekanan
oksigen arteri-alveoli pada hari pertama.
Suatu penelitian di Amerika Serikat
terhadap 34 bayi yang dilahiran dengan
persalinan normal melaporkan bayi
dengan pengikatan tali pusat terlambat
memiliki volume darah sekitar 93 mL/kg
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

saat usia 72 jam sedangkan pada bayi


dengan pengikatan tali pusat dini memiliki
volume darah sekitar 82 mL/kg sehingga
pengikatan tali pusat terlambat dapat
meningkatkan kadar Hemoglobin selama
satu minggu pertama kelahiran.
Penelitian ini bertujuan untuk
membuktikan
pengaruh
kecepatan
penjepitan tali pusat pada bayi baru lahir
normal yang dilahirkan secara spontan
oleh ibu primigravida normal terhadap
kejadian hiperbilirubinemia.
Metode
Desain penelitian cross sectional
study dengan pendekatan observasi.
Sampel penelitian adalah bayi baru lahir
normal yang dilahirkan secara spontan
oleh ibu primigravida normal. Peneliti
melakukan observasi waktu penjepitan tali
pusat pada saat proses persalinan dan
mengelompokkan sampel sesuai waktu
yang dibutuhkan untuk melakukan
penjepitan tali pusat ke dalam kelompok
penjepitan < 1 menit dan 1 menit,
hingga
masing-masing
kelompok
memperoleh 20 sampel.
Analisis dilakukan melalui dua tahap,
tahap pertama adalah analisis univariabel.
Pada analisis ini, variabel penelitian
dianalisis
secara
deskriptif
untuk
mendapatkan
gambaran
distribusi
frekuensi
responden.
Selanjutnya
dilakukan
analisis
bivariat
untuk
mengetahui pengaruh variabel bebas
terhadap
variabel
terikat.
Untuk
menganalisis pengaruh penjepitan tali
pusat bayi baru lahir terhadap kejadian
hiperbilirubinemia dengan menggunakan
uji regresi logistik dengan derajat
kemaknaan () = 0,05.
Hasil dan Pembahasan
Tabel 5.1 Distribusi Karakteristik Responden
Berdasarkan Waktu Pemotongan Tali Pusat
No.
1.
2.

Waktu
Pemotongan
Tali Pusat
< 1Menit
1 Menit

Jumlah
Sumber: Data Primer

Frekuensi

Prosentase

20
20

50%
50%

40

100%

48

ISSN 2303-1433

Berdasarkan Tabel 5.1 didapatkan


data bahwa masing-masing 20 responden
(50%) yang dilakukan penjepitan tali
pusat dengan waktu kurang dari 1 menit
dan lebih dari 1 menit
Tabel 5.2 Distribusi Karakteristik Responden
Berdasarkan Nilai Bilirubin Total
Nilai
ProsenNo.
Bilirubin
Frekuen-si
tase
Total
Normal
1.
38
95%
Tidak
2.
2
5%
Normal
Jumlah
40
100%
Sumber: Data Primer

Tabel 5.5 Distribusi Karakteristik Nilai Bilirubin


Total Responden Berdasarkan Waktu Pemotongan
Tali Pusat
Waktu Pemotongan
Tali Pusat
Nilai
N
Total
<1
Bilirubin
1 Menit
o
Menit
Total
n
n
1
2

Normal
Tidak

20
0

18
2

Jumlah
20
Sumber: Data Primer

20

38
2
40

Berdasarkan tabel 5.2 didapatkan


data bahwa sejumlah 38 responden (95%)
dari keseluruhan responden berdasarkan
nilai bilirubun total memiliki
nilai
bilirubin total normal ( 10 mg%) atau
tidak terjadi hiperbilirubin.

Berdasarkan tabel 5.5 menunjukkan


bahwa 20 orang responden pada
kelompok dengan pemotongan tali pusat
<1 menit, mempunyai kadar bilirubin
normal. Adapun pada kelompok dengan
pemotongan tali pusat 1 menit, ada
sebanyak 18 bayi yang mempunyai kadar
bilirubin dengan kategori normal.

Tabel 5.3 Distribusi Karakteristik Responden


Berdasarkan Nilai Bilirubin Direct
Nilai
FrekuenProsenNo Bilirubin
si
tase
Direct
Tidak
1.
3
7.5%
Normal
2.
37
92.5%
Normal

Tabel 5.6 Distribusi Karakteristik Nilai Bilirubin


Direct
Responden
Berdasarkan
Waktu
Pemotongan Tali Pusat
Waktu
PemotonganTali
Total
Nilai
Pusat
No Bilirubin <1
1
Direct
Menit
Menit

Jumlah

40

100%

Sumber: Data Primer

Berdasarkan tabel 5.3 didapatkan


data bahwa sejumlah 37 responden
(95.2%) memiliki nilai bilirubin direct
normal
Tabel 5.4 Distribusi Karakteristik Responden
Berdasarkan Nilai Bilirubin Indirect
No
1.
2.

Nilai Bilirubin
Indirect

Frekuensi

Normal
21
Tidak Normal
19
Jumlah
40
Sumber: Data Primer

Prosentase
52.5%
47.5%
100%

1.
2.

Normal
Tidak

19
1

18
2

37
3

20

40

Jumlah
20
Sumber : Data Primer

Berdasarkan tabel 5.6 menunjukkan


bahwa pada kelompok pemotongan tali
pusat <1 menit, sebanyak 19 bayi yang
mempunyai kadar bilirubin normal. Pada
kelompok dengan pemotongan tali pusat
1 menit, didapatkan sebanyak 18 bayi
yang mempunyai kadar bilirubin dengan
kategori normal.

Berdasarkan tabel 5.4 didapatkan


data bahwa sejumlah 21 responden
(52.5%) memiliki nilai Bilirubin Indirect
dalam batas normal ( 9 mg%) atau tidak
terjadi hiperbilirubin.

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

49

ISSN 2303-1433

Tabel 5.7 Distribusi Karakteristik Nilai Bilirubin


Indirect
Responden
Berdasarkan
Waktu
Pemotongan Tali Pusat
Waktu Pemotongan
Tali Pusat
Nilai
Total
No
Bilirubin
<1
1
Indirect
Menit
Menit
N
n
N
1.
2.

Normal
Tidak

20
0

Jumlah
20
Sumber : Data Primer

1
19

21
19

20

40

Berdasarkan tabel 5.7 menunjukkan


bahwa 20 responden pada kelompok
dengan pemotongan tali pusat <1 menit
mempunyai kadar bilirubin normal. Pada
kelompok dengan pemotongan tali pusat
1 menit, Sebayak 19 orang bayi
mempunyai kadar bilirubin normal.

karena itu, data bilirubin direct dilakukan


transformasi data dengan logaritma, agar
data dapat lebih berdistribusi normal.
Adapun hasil uji normalitas data bilirubin
direct adalah sebagai berikut:
One Sample Kolmogorov Smirnov
Test
Bilirubin
Direct (log)
N
4
Normal Parameter a,b Mean
-.3477
Std. Deviation
.25787
MostExtreme Absolute
.202
Differences
Positive
.118
Negative
-.202
Kolmogorov-Smirnov Z
1.277
Asymp. Sig. (2-tailled)
.076
a. Test distribution is normal
b. Calculated from data

Uji Regresi Linier Sederhana Pada


Bilirubin Total
Descriptive Statistic

N
Normal Par. a,bMean
Std. Deviation
MostExtremeAbsolute
Differences Positif
Negative
KolmogorovSmimovZ
Asymp. Sig. (2-tailed)
a.
b.

Std.
Deviation
1.70695
.50637

Mean

Uji Normalitas Data


Bil.
Total
40
9.1960
1.70695
.097
.097
.059
.614
.845

Bil.
Bil.
Direct Indirect
40
40
.523 8.6725
.30397
1.7088
.216
.199
.216
.199
.166
-.089
1.369
.755
.047
.618

Test distribution is Normal


Calculated from data

Berdasarkan pengujian normalitas


data
dengan
menggunakan
Uji
Kolmogorov Smirnov, data bilirubin total
dan bilirubin indirect mempunyai nilai
signifikansi 0.845 dan 0.618 (p>0.05),
sehingga dapat disimpulkan bahwa data
bilirubin indirect tersebut menyebar
mengikuti
sebaran
normal.
Pengidentifikasi tentang pengaruh waktu
pemotongan tali pusat terhadap kadar
bilirubin total dapat dilakukan dengan
menggunakan uji regresi, karena asumsi
kenormalan distribusi data telah terpenuhi.
Data bilirubin direct tergolong tidak
berdistribusi normal karena mempunyai
nilai signifikansi 0.047 (p<0.05). Oleh
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

Bil. Total
Pemotongan
tali pusat

9.1960
1.5000

N
40
40

Correlations
Bil.Total
Pearson
Bil.Total
Correlation Pem.Tali
Pusat
Sig.(1-tailed)Bil.Total
Pem. Tali Pusat
N Bilirubin total
Pem.Tali Pusat

1000
.826

Pemotongan
Tali Pusat
.826
1.000

.
.000
40
40

.000
.
40
40

Variables Entered/Removed
Model
Variables
Variables Method
Entered
Removed
1
Pemotongan
Enter
Tali Pusat
.
a. All requested variables entered
b. Dependent Variable : Bilirubin total
Model Summaryb
Model R
R
Square
1
a.
b.

Adjusted
R Square

Std. Error
of
the
Estimate
.826a
.682
.673
.97579
Predictors : (constant), Pemotongan Tali
Pusat
Dependent Variable: Bilirubin total

50

ISSN 2303-1433

Model
Regression
Residual
Total

a.
b.

Sum of
Squa-res
77.451
36.182
113.633

Df
1
38
39

Mean
Square
77.451
.952

F
81.342

Sig.
.000a

Predictors : (constant), Pemotongan Tali


Pusat
Dependent variable : Bilirubin total

Coefficientsa

Model

B
1
(constant)
Pem.Tali
Pusat

a.

Standa
rdized
Coeff

Understandized
Coeff

5.022
2.783

Std.
Error
.488
.309

sisanya (1-R Square) ditentukan oleh


factor lain. Jadi dapat dikatakan bahwa
pengaruh kecepatan pemotongan tali pusat
pada bayi baru lahir normal terhadap
kadar bilirubin total hingga 68.2%.
Terdapat 31.8% keragaman rata-rata kadar
bilirubin total tersebut dipengaruhi oleh
factor lain selain dari kecepatan
pemotongan tali pusat pada bayi baru lahir
normal.

Sig.

Uji Regresi Linier Sederhana Pada


Bilirubin Direct
Descriptive Statistic

Beta

Mean
.826

10.292
9.019

.000
.000

Bilirubin direct (log)


PemotonganTali Pusat

-.3477
1.5000

Std.
Deviation
.25787
.50637

N
40
40

Dependent Variable : Bilirubin total

Interpretasi :
Berdasarkan hasil uji regresi linier,
didapatkan persamaan regresi sebagai
berikut:
Persamaan regresi

Correlations
Pearson Correlation

Pearson
Bil.Direct(log)
CorrelationPem.Tali Pusat

1000
.156

Pemoton
gan Tali
Pusat
.156
1.000

Sig. (1-tailed)Bil.Direct(log)
Pem.TaliPusat

.
.168

.168
.

40
40

Bilirubin
Direct
(log)

R Square

Y=5.022+2.783X
68.2%
(pemotongan tali pusat)
Keterangan :
Y = Bilirubin total
X = Pemotongan tali pusat (<1 menit dan 1
menit)

Hal tersebut dapat diartikan bahwa


tanpa mempertimbangkan pengaruh dari
kecepatan pemotongan tali pusat pada
bayi baru lahir normal (<1 menit dan 1
menit), maka kadar bilirubin total akan
cenderung meningkat secara konstan
5.022 mg/dL (karena koefisien konstanta
bernilai
positif).
Namun
apabila
mempertimbangkan
pengaruh
dari
kecepatan pemotongan tali pusat 1 menit
akan menyebabkan rata-rata kadar
bilirubin total mengalami peningkatan
hingga 2.783 mg/dL. Berdasarkan hasil uji
regresi juga dihasilkan nilai koefisien
determinasi
(R
square=r2)
yang
menyatakan besarnya pengaruh kecepatan
pemotongan tali pusat pada bayi baru lahir
normal terhadap kadar bilirubin total,
dalam bentuk presentase, dan presentase
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

Bil.Direct(log)
Pem.Tali Pusat

40
40

Variables Entered/Removed
Model Variables
Variables Method
Entered
Removed
1
Pemotongan
Enter
Tali Pusat
a. All requested variables entered
b. Dependent variable: bilirubin direct (log)
Model Summaryb
Model R
R
Squa
Re

Adjusted
R
Square

.156a

.001

1
a.
b.

.024

Std.
Error of
the
Estimate
.25803

Predictors: (constant), pemotongan tali


pusat
Dependent variable: bilirubin direct (log)

51

ISSN 2303-1433

Sum of
Mean
Square Df Squar f Sig.
s
e
1 Regression
.063
1
.063 .9 .335a
Residual
2.530
38
.067
5
Total
2.593
39
3
a. Predictors: (Constant), Pemotongan Tali
Pusar
b. Dependent variable: bilirubin direct (log)
Model

Coefficientsa
Unstandarized
Coeff
Std.
Model
B
Error
1(Const)
Pem. Tali
Pusat

-.467

a.

Stadarized
Coeff
Beta

.129

Sig

-3.621

.001

Berdasarkan hasil pengujian regresi linier,


didapatkan persamaan regresi sebagai
berikut:

Y=-0.467+0.080X
(Pemotongan tali pusat)

Uji Regresi Linier Sederhana Pada


Bilirubin Indirect
Descriptive statistics
Std.
Deviation
1.70828
.50637

Mean

.080 .082
.156
.976 .335
Dependent Variable: Bilirubin direct (log)

Persamaan regresi

factor lain. Jadi dapat dikatakan bahwa


pengaruh kecepatan pemotongan tali pusat
pada bayi baru lahir normal terhadap
kadar bilirubin direct hanya 2.4%,
sedangkan 97.6% dapat dipengaruhi
faktor lain.

Bil.Indirect
Pemotongan
Tali Pusat

8.6725
1.5000

N
40
40

Correlations
Bil.
Indirect
Pearson
Bil.Indirect
Correlation
Pem.TaliPusat

Pem.
Tali Pusat
.801
1.000

1000
.801

R Square
2.4%

Keterangan:
Y = bilirubin direct (log)
X = pemotongan tali pusat (<1 menit dan 1
menit)

Hal
ini
berarti
tanpa
mempertimbangkan
pengaruh
dari
kecepatan pemotongan tali pusat pada
bayi baru lahir normal (<1 menit dan 1
menit), maka kadar bilirubin direct akan
cenderung lebih rendah secara konstan
0.467 mg/dL (karena koefisien konstanta
bernilai
negatif).
Namun
apabila
mempertimbangkan
pengaruh
dari
kecepatan pemotongan tali pusat pada
bayi
baru
lahir
normal
dimana
pemotongan tali pusat 1 menit akan
menyebabkan rata-rata kadar bilirubin
direct mengalami peningkatan hingga
0.080 mg/dL. Selanjutnya, berdasarkan
hasil uji regresi juga menunjukkan nilai
koefisien determinasi (R Square=r2) yang
menyatakan besarnya pengaruh kecepatan
pemotongan tali pusat pada bayi baru lahir
normal terhadap kadar bilirubin direct,
dalam bentuk presentase, dan presentase
sisanya (1-R Square) ditentukan oleh

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

Sig.(1-tailed)
Bilirubin indirect
Pemotongan Tali Pusat
N Bilirubin Indirect
Pemotongan Tali Pusat

.
.000

.000
.

40
40

40
40

Variables Entered/Removed
Model Variables
Variables
Method
Entered
Removed
1
Pemotongan
Enter
Tali Pusat
a. All requested variables entered
b. Dependent variable: bilirubin indirect
Model Summaryb
Model R
R
Adjusted Std.Er.of
Square R Square Estimate
1
.801a
.641
.632
1.03691
a. Predictors: (constant), pemotongan tali pusat
b. Dependent variable: bilirubin indirect

Model

Sum
of
Squar
es

Df

Mean
Squar
e

F
Sig

Sig.

1
Regression
72.954 1
72.954 67.853 .000a
Residual
40.857 38
1.075
Total
113.811 39
a. Predictors: (constant), pemotongan tali pusat
b. Dependent variable: bilirubin indirect

52

the

ISSN 2303-1433

lain selain dari kecepatan pemotongan tali


pusat pada bayi baru lahir normal.

Coefficientsa

Model

Understandized Coeff
B

Std.
Err

Stand
ardized
Coeff

Sig.

Beta

(constant)
4.621 .518
8.913
Pem.Tali
.801
2.701 .328
8.237
Pusat
Dependent variable: bilirubin indirect

.000
.000

Interpretasi:
Berdasarkan hasil pengujian dengan
menggunakan analisis regresi linier,
dengan hasil persamaan regresi sebagai
berikut:
Persamaan regresi
Y = 4.621 + 2.701X
(pemotongan tali pusat)

R Square
64.1%

Keterangan:
Y = bilirubin indirect
X = pemotongan tali pusat (<1 menit dan >1
menit)

Hal ini dapat diartikan bahwa tanpa


mempertimbangkan
pengaruh
dari
kecepatan pemotongan tali pusat pada
bayi baru lahir normal (<1 menit dan 1
menit), maka kadar bilirubin indirect
akan cenderung meningkat secara konstan
4.621 mg/dL (karena koefisien konstanta
bernilai
positif).
Namun
apabila
mempertimbangkan
pengaruh
dari
kecepatan pemotongan tali pusat pada
bayi
baru
lahir
normal
dimana
pemotongan tali pusat 1 menit akan
menyebabkan rata-rata kadar bilirubin
indirect mengalami peningkatan hingga
2.701 mg/dL. Selanjutnya, berdasarkan
hasil uji regresi juga menunjukkan nilai
koefisien determinasi (R Square=r2) yang
menyatakan besarnya pengaruh kecepatan
pemotongan tali pusat pada bayi baru lahir
normal terhadap kadar bilirubin indirect
hingga
64.1%.
Sedangkan
35.9%
keragaman rata-rata kadar bilirubin
indirect tersebut dipengaruhi oleh factor

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

Kesimpulan dan Saran


Dalam penelitian ini didapatkan hasil
bahwa tidak terdapat pengaruh yang
signifikan antara kecepatan waktu
pemotongan tali pusat pada bayi baru lahir
normal dengan kejadian hiperbilirubin.
Dalam penelitian ini secara khusus juga
dapat disimpulkan bahwa perbedaan
waktu penjepitan tali pusat yang
diberlakukan,
tidak
memberikan
perbedaan yang bermakna pada nilai
kadar bilirubin bayi baru lahir normal.
Disarankan untuk lebih memperhatikan
kondisi ibu sejak masa ante natal, intra
natal, dan post natal untuk mencegah
terjadinya hiperbilirubin pada bayi baru
lahir
Ucapan terima kasih ditujukan
kepada:
1. Direktorat P2M Dirjen Dikti yang
telah memfasilitasi penelitian berupa
pemberian dana.
2. Kopertis
Wil.VII
yang
telah
memberikan
bimbingan
dan
kesempatan
3. Direktur RS.Panti Waluya Malang
yang telah memberikan ijin dan
kesempatan penelitian
4. Direktur AKPER Panti Waluya
Malang atas bantuan dan dukungan
yang telah diberikan kepada peneliti
5. Ketua LPPM AKPER Panti Waluya
Malang atas bantuan administratif dan
non
administrative yang telah
diberikan
6. Teman-teman di AKPER Panti
Waluya yang telah memberikan
dukungan
Ibu-bu hamil yang telah bersedia menjadi
responden dalam penelitian ini.
Daftar Pustaka
Abalos. (2007). Effect of timing of
umbilical cord clamping of term
infants on maternal and neonatal
outcomes.
http://apps.who.int/rhl/pregnancy_
53

ISSN 2303-1433

childbirth/childbirth/3rd_stage/cd0
04074_abalose_com/en/.
Didownload tanggal 8 Mei 2013

Kristiyanasari. (2009). Neonatus &


Asuhan
Keperawatan
Anak.
Yogyakarta: Nuha Offset.

Behrman, Kliegman, Arvin. (2000). Ilmu


Kesehatan Anak. Jakarta: EGC

Lowdermilk, Bobak, Jensen. (1999).


Maternity Nursing 5th edition.
Missouri: Mosby Year Book

Bobak,

Lowdermilk, Jensen. (2004).


Keperawatan Maternitas edisi 4.
Jakarta: EGC

Committee on Obstetric Practice . (2007).


Timing
of
Umbilical Cord
Clamping
After
Birth.http://www.acog.org/Resourc
es%20And%20Publications/Comm
ittee%20Opinions/Committee%20
on%20Obstetric%20Practice/Timi
ng%20of%20Umbilical%20Cord%
20Clamping%20After%20Birth.as
px. Didownload tanggal 8 Mei
2013
Danim

Sudarwan.
(2003).
Riset
Keperawatan. Jakarta: EGC

Forro, Chinmayo. (2007). Childbirth with


Love.
http://www.childbirthwithlove.com
/controversy.html. Diakses tangal
23 April 2013

Margaretha. (2010). Kuning Pada


Bayi.Keluarga.com/cibubur/kuning
padabayi. Diakses tanggal 19 April
2013 jam 11.25 WIB.
Notoatmodjo,Soekidjo.
(2010).
Metodologi Penelitian Kesehatan.
Edisi revisi. Rineka Cipta: Jakarta
Patton, 2007. Efek Pemberian Zinc Per
Oral
Terhadap
Kejadian
Hiperbilirubinemia Pada Bayi
Baru Lahir Sehat Cukup Bulan.
http://rshs.or.id/e-jurnal/article/57.
didownload tanggal 7 Mei 2013
Setiadi (2007). Konsep dan Penulisan
Riset Keperawatan. Yogyakarta:
Penerbit Graha Ilmu

Hamidi, Majid dan Masoomeh Alidoosti.


(2012). The relationship between
Umbilical cord Alpha Fetoprotein
and Hyperbilirubinemia in Third
day
http://journal.skums.ac.ir/browse.p
hp?a_id=1184&sid=1&slc_lang=e
n. Didownload tanggal 8 Mei 2013
Klaus, Fanaroff. (1998). Penatalaksanaan
Neonatus Resiko Tinggi. Jakarta:
EGC
Kosim

Sholeh,Yunanto Ari, Dewi


Rizalya, Sarosa Irawan, Usman.
(2010). Buku Ajar Neonatologi.
Jakarta: Badan Penerbit IDAI

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

54

ISSN 2303-1433

PENGARUH TERAPI BERMAIN PADA ANAK USIA PRASEKOLAH


TERHADAP KEHILANGAN KONTROL DALAM HOSPITALISASI DI RUANG
ANAK RSUD NGUDI WALUYO WLINGI
ERNA SUSILOWATI, RITA MEI DWI V
AKPER DHARMA HUSADA KEDIRI
Ernabudi_80@yahoo.co.id
ABSTRACT
At child in age pre school at first times taken care in hospital, they experienced
hospitalization stress. They experience lost control (ancient) and trouble in interaction with
environment (nurse, friend and next door patient). The feeling can arouse from to face
something new and have never experienced it before, feel balmy and not save. Playing
activities as usual have to be Limited, routinely they done daily at home, they can not
conduct it at hospital. They way to minimize hospitalization stress with arrangement of
environment and perform activity like game. Hence researcher perform a research
concerning Influence of Play Therapy at child in Age of Preschool to Lost Control in
Hospitalization . This research target was to know the influence of play therapy at child in
age of pre used school to lost control in hospitalization in child room of RSUD Ngudi
Waluyo Wlingi Blitar. Research design pre experiment the types was pre post test design.
Its population was all children in age of pre school that experiencing taken care in hospital
in child room of RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Blitar (25 children age of pre school).
Sample taken counted 24 respondents. Use purposive sampling. Appliance and data
collecting used observation with checklist. Data analyzed including editing, coding,
scoring, tabulating. Research result with 24 respondents, reaction of lost control in
hospitalization before giving of play therapy got value 3-4 (62,5%) counted is children in
bad category. Value 5-7 (37,5%) counted 9 children with enough category. Reaction of lost
control in hospitalization after giving play therapy got value 8-10 (100%) in good category.
From research result can be concluded that change of reaction of control at child in age pre
school in hospitalization before and after play therapy in child room RSUD Ngudi Waluyo
Wlingi Blitar give influence to lost control in hospitalization so that child become cooperative to the therapy treatment of healing.
Key word : Play therapy, lost control (hospitalization process),Child in age of pre school
PENDAHULUAN
Proses hospitalisasi bagi anak dapat
menjadi
suatu
pengalaman
yang
menimbulkan trauma baik pada anak
maupun orang tua sehingga menimbulkan
reaksi tertentu, yang akan sangat
berdampak pada kerja sama anak dan
orang tua dalam perawatan anak selama di
rumah sakit (Supartini, 2004 Sebagaimana
dikutip dari Halstroom dan Elander, 1997,
Brewis, E, 1995 dan Brennan, A, 1994 :
187). Bermain diyakini mampu untuk
menghilangkan
berbagai
batasan
hambatan dalam diri, stress, frustasi,

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

bahkan dapat dipakai untuk terapi


bermain. (Sarie, 2002).
Di
Indonesia
angka
kejadian
kehilangan kontrol pada anak mencapai
75% dan hanya 25% anak mampu
mengendalikan kehilangan kontrol, angka
ini jauh lebih tinggi di bandingkan dengan
negara-negara yang lain. Seperti Amerika
Serikat, Jerman dan Kanada. (Judarwanto,
2006). Dan dari hasil studi Studi
pendahuluan yang dilakukan di RSUD
Ngudi Waluyo Wlingi Blitar tanggal 2325 Februari 2009 di dapatkan data 6 orang
ibu dan 3 orang bapak yang anaknya usia
prasekolah di rawat diruang anak selama 3
55

ISSN 2303-1433

hari mengatakan anaknya berhenti bahkan


ada yang sama sekali tidak beraktifitas
atau bedrest total diatas tempat tidur.
(10%) 1 orang ibu yang anaknya usia
prasekolah (4 th) mengatakan selama 3
hari dirawat, anak itu ingin cepat pulang
kerumah, bermain bersama temantemannya, takut, menangis, tidak mau
minum obat, marah ke petugas kesehatan
(perawat). Tetapi ibu tersebut setiap
anaknya menangis diberi mainan dan
akhirnya diam, mau minum obat dan
mematuhi
perawat.
Data
diatas
menunjukkan bahwa (90%) anak usia
prasekolah yang dirawat diruang anak
RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Blitar
mengalami kehilangan kontrol dalam
hospitalisasi dan hanya (10%) yang
terpenuhi
kebutuhan
bermainnya
walaupun tidak optimal.
Para anak-anak terutama mereka yang
baru pertama kalinya dirawat dirumah
sakit, stressor hospitalisasi terdiri dari
perpisahan, perlukaan tubuh dan nyeri,
sakit pasti akan merasa stress dan takut
serta kehilangan kontrol. Keadaan ini
timbul
akibat
pembatasan
fisik,
pengurangan rutinitas kegiatan dan
adaanya ketergantungan. Mereka rata-rata
takut dengan suasana rumah sakit yang
asing bagi mereka, karena mereka dalam
beraktifitas atau dalam kegiatan yang
biasa mereka lakukan tiap hari dirumah
tidak dapat mereka lakukan dirumah sakit,
karena dalam beraktifitas mereka dibatasi
terutama
untuk
program
terapi
penyembuhan penyakit dan juga karena
tidak adanya fasilitas bermain.
Permainan yang kreatif dapat
berfungsi untuk perkembangan imajinasi
anak,
mengembangkan
kemampuan
berkomunikasi
dan
dapat
mengekspresikan ide dan perasaan mereka
dengan cara yang kreatif. (Anna Craft,
200.h.88 ).
Anak sakit stresnya akan bertambah
karena sakit sendiri sudah merupakan
stressor ditambah pula dengan adanya
pemasangan infus dan bidai, injeksi setiap
hari, minum obat dan lain-lain. Akibat
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

stress yang berlebihan dengan mekanisme


koping anak yang kurang maka anak
mengalami masalah psikologis yang berat
seperti takut, anak menjadi manja dengan
orang tua, hiperaktif dan trauma dengan
hospitalisasi
(Whaley
and
Wong,
1991.h.105).
Anak sakit stresnya akan bertambah
karena sakit sendiri sudah merupakan
stressor ditambah pula dengan adanya
pemasangan infus dan bidai, injeksi setiap
hari, minum obat dan lain-lain. Akibat
stress yang berlebihan dengan mekanisme
koping anak yang kurang maka anak
mengalami masalah psikologis yang berat
seperti takut, anak menjadi manja dengan
orang tua, hiperaktif dan trauma dengan
hospitalisasi
(Whaley
and
Wong,
1991.h.105). Cara-cara meminimalisir
stressor hospitalisasi antara lain dengan
pengaturan lingkungan, membuat jadwal
rutinitas dan mengadakan permainan
Metode Penelitian
Desain atau rancangan penelitian ini,
peneliti
menggunakan
penelitian
eksperimen (Pre-Exsperimen).
Jenis penelitian ini adalah (OneGroup Pra-Test Post Test Design).
Dalam
satu
kelompok,
adalah
mengungkapkan hubungan sebab akibat
dengan cara melibatkan satu kelompok
subyek. Kelompok subyek diobservasi
sebelum dilakukan intervensi, kemudian
diobservasi lagi setelah di intervensi.
(Nursalam, 2003 : 88) Dalam penelitian
kali ini peneliti ingin melakukan suatu
perlakuan pada responden yang diambil
yaitu anak usia prasekolah yang menjalani
rawat inap diruang RSUD Ngudi Waluyo
Wlingi Blitar yaitu berupa terapi barmain
konstruktif dengan menggunakan alat
permainan edukatif (APE). Terapi
bermain dilakukan pada responden yang
telah diambil dan dipilih oleh peneliti
dengan perlakuan terapi bermain sebanyak
satu (1) kali perlakuan dan dinilai
kehilangan kontrolnya sebelum dan
sesudah perlakuan terapi bermain.

56

ISSN 2303-1433

Penelitian ini dilaksanakan pada


tanggal 5 Mei sampai dengan 21 Mei
2009, tempat penelitian di RSUD Ngudi
Waluyo Wlingi Blitar. Pada penelitian ini
populasinya adalah seluruh anak usia
prasekolah yang dirawat diruang anak
RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Blitar
berjumlah 25 anak. Penelitian ini
menggunakan
purposive
sampling
Variabel independent dalam penelitian ini
adalah terapi bermain. Variabel dependent
dalam penelitian ini adalah proses
kehilangan kontrol dalam hospitalisasi
pada anak usia pra sekolah Analisa data
menggunakan perangkat SPSS (Statistic
Package For The Social Science), dengan
uji T berpasangan
Hasil Penelitian
Diagram pengaruh reaksi kehilangan kontrol
dalam hospitalisasi pada anak usia prasekolah
sebelum dan sesudah terapi bermain di Ruang
Anak RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Blitar pada
tanggal 5 Mei 21 Mei tahun 2009

SESUDAH TERAPI

30
25
20
15
10
5
0
1

11

13 15

17 19 21

23 25 27

SEBELUM TERAPI
Series1

Series2

Series3

Series4

Series5

Diagram 1 menunjukkan bahwa


adanya pengaruh reaksi kehilangan
kontrol dalam proses hospitalisasi pada
anak usia prasekolah sebelum dan sesudah
pemberian terapi bermain, sebelum
diberikan terapi bermain sebagian besar
didapatkan nilai 3-5 dalam kategori buruk
(<50%) sebanyak 15 responden. Sesudah
diberikan terapi bermain seluruhnya
didapatkan nilai 8-10 dalam kategori baik
(75-100%) sebanyak 24 responden.
Sesudah hasil observasi reaksi
kehilangan kontrol sebelum dan sesudah
dilakukan terapi bermain didapatkan hasil
tersebut
kemudian
diolah
melalui
perhitungan SPSS (Statistic Package For

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

The Social Science), dengan uji T


berpasangan didapatkan mean (selisih
rata-rata) = -4,16667, std deviation
(simpangan baku) = 1,12932. std error
mean (galat baku rata-rata) = sd / n = 1
: 1293 Z 24 = 0.23052. menggunakan
selang
kepercayaan
95%
(4.64354.3.68980), T (T hitung) = -18.075,
derajat bebas (df) = 23 dengan
probabilitasnya pada pengujian dua pihak
(sig.2-failed) sebesar 0,000.
Karena probabilitasnya lebih kecil
dari taraf nyata /2 = 0,025, maka Ho
ditolak H1 diterima, jadi ada perbedaan
antara pengaruh terapi bermain pada anak
usia prasekolah terhadap kehilangan
kontrol dalam hospitalisasi di ruang anak
RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Blitar.
Pembahasan
Berdasarkan data yang diperoleh
bahwa
responden
tidak
dapat
mengendalikan kehilangan kontrol, karena
akibat kurang efektifnya koping perilaku
saat menjalani rawat inap sehingga anak
mengalami stress psikologis adanya
pembatasan fisik, dalam beraktifitas yang
biasa mereka lakukan tiap hari dirumah
tidak dapat mereka lakukan di rumah
sakit.
Perawat harus bisa bekerjasama
dengan orang tua maupun keluarga.
Karena orang tua dan keluarga sangat
membantu
dalam
mengendalikan
kehilangan kontrol dalam hospitalisasi.
Perawatan anak di rumah sakit
merupakan pengalaman yang penuh
dengan stress, baik bagi anak-anak
maupun orang tua. lingkungan rumah
sakit itu sendiri merupakan penyebab
stress bagi anak dan orang tuanya, baik
lingkungan fisik rumah sakit seperti ruang
perawatan, alat-alat bau khas, pakaian
putih
petugas
kesehatan
maupun
lingkungan social, seperti sesama pasien
anak, ataupun interaksi dan sikap petugas
kesehatan itu sendiri. Perasaan, seperti
takut, cemas, tegang, nyeri dan perasaan
yang tidak menyenangkan lainnya sering
kali dialami anak (Supartini, 2004,
57

ISSN 2303-1433

sebagaimana dikutip (dari Brennan, 1994 :


145). Selain itu antara anak yang sudah
sekolah (play group) dan yang belum
sekolah itu apa yang diinginkannya sangat
berbeda, sehingga perawat harus mengerti
permaianan yang disenanginya oleh anakanak sehingga anak lebih kooperatif dan
tidak
mengalami
kontrol
dalam
hospitalisasi Di ruang anak RSUD Ngudi
Waluyo Wlingi Blitar, anak usia
prasekolah yang dirawat diberi terapi
bermain oleh peneliti yaitu mewarnai,
menyusun balok, menyusun puzzel, anak
kooperatif
dengan
instruktur
penelitiannya. Secara teoritis bermain
sangat
bermanfaat
untuk
dapat
mengembangkan
kemampuan
intelektualnya,
meningkatkan
daya
kreatifitas, merupakan
cara untuk
mengatasi
kemarahannya
dan
kekhawatiran, anak belajar mengontrol
diri, bisa bergaul dengan teman sebaya,
adanya interaksi. (Soetjiningsih, 1995).
Pengobservasian responden dilakukan
dua kali, pada saat satu hari setelah
dilakukan terapi bermain. Dari data yang
didapat ternyata terbukti bahwa terapi
bermain berpengaruh besar dalam reaksi
kehilangan
kontrol
pada
proses
hospitalisasi yang dialami pada anak usia
prasekolah. Tetapi bermain sangat penting
dilakukan karena dapat meningkatkan
kepercayaan anak terhadap perawat dan
mereka merasa tidak takut lagi dengan
berbagai macam tindakan keperawatan.
Bagi anak kebutuhan bermain adalah
kebutuhan yang sangat penting, ini
terbukti dengan anak tidak memisahkan
antara bermain dan belajar. Bagi anak
bermain merupakan seluruh aktifitas anak
termasuk bekerja, kesenangannya dan
merupakan metode bagaimana mereka
mengenal dunia. Bermain tidak sekedar
mengisi
waktu,
tetapi
merupakan
kebutuhan anak seperti halnya makanan,
perawatan, cinta kasih dan lain-lain.
(Soetjiningsih,
1995)
Menurut
Soetjiningsih (1995) banyak keuntungan
yang dipetik dari bermain. Membuang
ekstra energi, bermain juga dapat
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

mengoptimalkan pertumbuhan seluruh


bagian tubuh seperti tulang, otot dan
organ-organ. Aktivitas yang dilakukan
dalam
permainan
tersebut
dapat
meningkatkan nafsu makan anak. Dari
bermain anak-anak tersebut bisa belajar
mengontrol
diri
mereka
sendiri.
Berkembangnya berbagai ketrampilan
yang akan berguna sepanjang hidupnya
dan dapat meningkatkan daya kreatifitas
anak. Bermain merupakan kegiatan yang
luar biasa karena dari bermain bisa
mendapat kesempatan menemukan arti
dari benda-benda yang ada disekitar anak.
Bermain merupakan cara untuk mengatasi
kemarahan, kekawatiran, iri hati dan
kedukaan. Mereka juga mempunyai
kesempatan untuk belajar bergaul dengan
anak lainnya, menjadi pihak yang kalah
ataupun yang menang di dalam bermain
juga, belajar mengikuti aturan-aturan dan
bermain juga dapat mengembangkan
kemampuan intelektual anak.
Dalam perawatan di rumah sakit
memaksa anak untuk berpisah dari
lingkungan yang dirasakannya aman.
Perawatan di rumah sakit juga membuat
anak kehilangan kontrol terhadap dirinya
sendiri. Bagi anak yang sakit dan dirawat
di rumah sakit, bermain tidak hanya
berfungsi untuk kesenangan anak, tetapi
dapat menjadi suatu media yang dapat
mengekspresikan perasaan cemas, takut,
nyeri, dan rasa bersalah. Maka kita dapat
mengetahui bahwa dengan bermain anak
mampu
mengendalikan
kehilangan
kontrol dalam hospitalisasi dan anak
mampu mengurangi kekawatiran dan
kedukaan yang dialami oleh mereka.
Kesimpulan dan Saran
1. Terapi bermain pada anak usia
prasekolah mampu mengendalikan
kehilangan kontrol dalam hospitalisasi
sehingga perawat tidak sulit lagi untuk
melakukan asuhan keperawatan dan
dokter juga tidak kesulitan untuk
melakukan program terapi lainnya.
2. Terapi
bermain
ternyata
dapat
mengendalikan stressor psikologis
58

ISSN 2303-1433

yang dialami sebelumnya dan mereka


menjadi kooperatif terhadap perawatan.
3. Terapi bermain berperan meningkatkan
penyembuhan anak, perkembangan dan
pertumbuhan anak.
Peneliti menyarankan agar peran
perawat dalam memberikan permainan
konstruktif untuk mengurangi stressor
hospitalisasi sehingga diharapkan proses
penyembuhan berlangsung dengan cepat.
Kita sebagai petugas kesehatan harus
bekerja sama dengan orang tua maupun
keluarga, karena orang tua maupun
keluarga merupakan panutan bagi anak
dan merekalah orang yang paling dekat
dengan anak.
Daftar Pustaka
Anna, Craft. (2000). Belajar Merawat
Anak di Bangsal. EGC : Jakarta

Nursalam. (2003). Konsep dan Penerapan


Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan. Salemba Medika :
Jakarta
Soetjiningsih. (1995). Tumbuh Kembang
Anak.
Penerbit
Buku
Kedokteran. EGC : Jakarta
Suhendi. (2001). Keperawatan Anak di
Rumah Sakit. Balai penerbit
FKUI : Jakarta
Supartini.
(2004).
Keperawatan
Jakarta

Konsep
dasar
Anak. EGC :

Whaley And Wong. (1991). Konsep


Perawatan
Pada
Pediatri.
Penerbit Buku Kedokteran EGC
:
Jakarta

Arikunto Suharsimi. (2002). Prosedur


Penelitian Edisi Revisi 5. Rineka
Cipta : Jakarta.
Betz

And Sowden. (1996). Prinsip


Keperawatan Pediatrik. EGC :
Jakarta

Delaune and Sowden. (1996). Prinsip


Keperawatan Pediatrik. EGC :
Jakarta
Friedman,
Marlyn
M.
(1995).
Keperawatan Keluarga Teori
dan Praktek Edisi 3. EGC:
Jakarta
Gayatri Arum. 1990. Kamus Kesehatan.
Arcan : Jakarta
Hurlock,

Elizabeth
B.
(1995).
Perkembangan Anak. Erlanga :
Jakarta

Nursalam,
Siti
Pariani.
(2001).
Metodologi Riset Keperawatan
Pendekatan Praktisi. CV Agung
Setyo : Jakarta

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

59

ISSN 2303-1433

Analisis Penerapan Breastfeeding Peer Counseling Pada Pasien Post Partum


Fisiologis Dengan Masalah Keperawatan Menyusui Tidak Efektif Berdasarkan Teori
Maternal Role Attainment-Becoming A Mother
Ramona T. Mercer
Dwi Rahayu, Yunarsih
Akademi Keperawatan Dharma Husada Kediri
Email: alfarezapriyoputra@yahoo.com
ABSTRACT
The postpartum period is a critical time for the mother of one side is happy at the same
times stressful to adapt after childbirth. Adaptation includes adjusting to build a positive
interaction with the baby. One of the problems that occur in the postpartum period is the
failure of mothers in exclusive breastfeeding. The low exclusive breastfeeding for mothers
because they do not know the benefits of breastfeeding for children's health. Support from
father also affect the success of exclusive breastfeeding for six months. Mother's decision
to breastfeed affected family members information about the benefits of breastfeeding, as
well as a lactation consultant. The purpose of this study is to analyze specific interventions
, namely breastfeeding peer Counseling to improve exclusive breastfeeding in the
postpartum period using theory of nursing, Maternal Role Attainment - Becoming a
Mother developed by Ramona T. Mercer. The method used in this paper is a case report on
the Physiological Postpartum Mothers treated in Kabupaten Kediri Hospital. On The
assessment results according to the theory of Ramona T Mercer in the antisipatori data
obtained on the condition of pregnancy that the mother does not experience problems, the
ANC program appropriate with the schedule of health workers. In the Formal assessment
of the phase Formal acceptance by the baby's mother obtained the difficulty breast-feeding
mother to baby and family support is still lacking. In the Informal phase obtained for fear
the baby's mother in the care especially during the current bathing and cord care. In the
personal phase obtained mother feel mothers role is very important in baby care.
Breastfeeding Peer Counseling can be applied to postpartum mothers who experience
difficulties with breastfeeding to their babies. The program is to motivate mothers to give
babies the best nutrition to their infants through exclusive breastfeeding and provide
psychological support to the mother to perform maintenance on the baby independently.
Keywords : Breastfeeding Peer Counseling, Postpartum mother, exclusive Breastfeeding
selama empat hingga enam bulan.
Persentase itu jauh dari target nasional
Pendahuluan
Periode postpartum merupakan saat
yaitu 80%. Rendahnya pemberian ASI
kritis bagi ibu salah satu sisi merupakan
eksklusif karena para ibu belum
masa-masa membahagiakan sekaligus
mengetahui manfaat ASI bagi kesehatan
penuh dengan stress untuk beradaptasi
anak. Dukungan dari ayah juga
setelah melahirkan. Adaptasi termasuk
mempengaruhi keberhasilan pemberian
menyesuaikan dengan pasangan dan
ASI eksklusif selama enam bulan.
membangun interaksi positif dengan bayi
Keputusan
ibu
untuk
menyusui
( Fleming, et.al,1998).
dipengaruhi informasi anggota keluarga
Salah satu masalah yang terjadi pada
tentang manfaat menyusui, serta konsultan
masa postpartum adalah ketidakberhasilan
laktasi (Wulandari, 2009).
ibu dalam memberikan ASI eksklusif.
Pemberian ASI secara eksklusif dapat
Pada tahun 2007 delapan belas persen ibu
menyelamatkan lebih dari tiga puluh ribu
di Indonesia memberi ASI eksklusif
balita di Indonesia. Jumlah bayi di
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

60

ISSN 2303-1433

Indonesia yang mendapatkan ASI


eksklusif terus menurun karena semakin
banyaknya bayi di bawah 6 bulan yang
diberi susu formula. Menurut Survei
Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI)
dari 1997 hingga 2002, jumlah bayi usia
enam bulan yang mendapatkan ASI
eksklusif menurun dari 7,9% menjadi
7,8%. Sementara itu, hasil SDKI 2007
menunjukkan penurunan jumlah bayi yang
mendapatkan ASI eksklusif hingga 7,2%
dan jumlah bayi di bawah enam bulan
yang diberi susu formula meningkat dari
16,7% pada 2002 menjadi 27,9% pada
2007 (Sutama, 2008).
Pemberian ASI sangat penting bagi
tumbuh kembang yang optimal baik fisik
maupun mental dan kecerdasan bayi. Oleh
karena itu pemberian ASI perlu mendapat
perhatian para ibu dan tenaga kesehatan
agar proses menyusui dapat terlaksana
dengan benar. ASI Eksklusif atau lebih
tepat disebut pemberian ASI secara
eksklusif, artinya bayi hanya diberi ASI
saja, tanpa tambahan cairan lain, seperti
susu formula, jeruk, madu, air teh, air
putih, juga tanpa tambahan makanan
padat, seperti pisang, pepaya, bubur susu,
biskuit, bubur nasi ataupun tim mulai lahir
sampai usia 6 bulan (Roesli, 2005).
Soetjiningsih (1997) menyatakan
bahwa masih rendahnya cakupan ASI
Eksklusif disebabkan oleh berbagai
macam faktor, di antaranya adalah: (1)
perubahan sosial budaya, (2) meniru
teman, (3) merasa ketinggalan zaman,(4)
faktor
psikologis,
(5)
kurangnya
penerangan oleh petugas kesehatan, (6)
meningkatnya promosi susu formula, dan
(7) informasi yang salah. Sebenarnya
pemerintah telah serius meningkatkan
cakupan ASI Eksklusif. Hal ini dibuktikan
dengan dikeluarkannya Kepmenkes RI
No. 450/MENKES/SK/ IV/2004 tentang
Pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara
eksklusif pada Bayi di Indonesia.
Keputusan ini memuat Sepuluh Langkah
Menuju Keberhasilan Menyusui, di
antaranya adalah menjelaskan kepada
semua ibu hamil tentang manfaat
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

menyusui, membantu ibu mulai menyusui


bayinya dalam 30 menit setelah
melahirkan yang dilakukan di ruang
bersalin, tidak memberikan makanan atau
minuman apapun selain ASI kepada bayi
baru lahir, melaksanakan rawat gabung
dengan mengupayakan ibu bersama bayi
24 jam sehari, dan tidak memberikan dot
atau kempeng kepada bayi yang diberi
ASI.
Asuhan keperawatan maternitas yang
di berikan seorang perawat profesional
sangat mempengaruhi kualitas pelayanan,
khususnya pelayanan pasien pada masa
postpartum. Mengingat kompleksnya
permasalahan kesehatan ini maka perlu
kemampuan professional perawat dan
sehingga mampu melakukan intervensi
yang tepat terhadap permasalahan pada
ibu pada masa postpartum. Keperawatan
maternitas dikembangkan dalam rangka
menjawab tuntunan kebutuhan masyarakat
saat ini dan tuntunan perkembangan
profesi keperawatan melalui berbagai
perannya sehingga mampu bekerja
sebagai pemberi dan pengelola asuhan
keperawatan,
pendidik,
peneliti,
bimbingan dan konseling, menerima dan
melakukan rujukan dalam mengatasi
masalah pasien.
Perawat maternitas yang professional
didalam memberikan asuhan keperawatan
pada ibu postpartum harus berdasarkan
konseptual keperawatan. Salah satu model
konseptual keperawatan yaitu Maternal
Role Attainment-Becoming a Mother yang
dikembangkan oleh Ramona T. Mercer.
Fokus utama dari teori ini adalah
gambaran proses pencapaian peran ibu
dan proses menjadi seorang ibu dengan
berbagai asumsi yang mendasarinya.
Berdasarkan hal di atas penulis
tertarik
untuk
menyusun
dan
mengaplikasikan intervensi khusus yaitu
breastfeeding peer conseling untuk
meningkatkan pemberian ASI eksklusif
pada
periode
postpartum
dengan
menggunakan
model
konseptual
keperawatan
yaitu
Maternal
Role

61

ISSN 2303-1433

Attainment-Becoming a Mother yang


dikembangkan oleh Ramona T. Mercer
.
Metode Penelitian
Tulisan ini merupakan hasil laporan
kasus (case report) pada Ibu Postpartum
Fisiologis yang di Rawat di RSUD
Kabupaten Kediri yang mengalami
ketidakefektifan
menyusui.
Asuhan
keperawatan yang diberikan pada Ibu
Postpartun Fisiologis tersebut dilakukan
dengan pendekatan teori Maternal Role
Attainment - Becoming a Mother yang
dikembangkan oleh Ramona T. Mercer.
Hasil Penelitian
Ranah Antisipatori
Riwayat Kehamilan dan Kelahiran
ANC (Antenatal care)
Trimester I : 1 kali 2 kali 3 kali
Trimester II
: 1 kali 2 kali
Trimester III
: 1 kali 2 kali
Tempat ANC : tidakterkaji
Imunisasi TT : Iya
Tidak
Konsumsi Obat
: Tidak
Konsumsi Jamu
: tidak
Keluhan kehamilan : tidak ada
Ada
Riwayat Psikologis
a. Persepsi ibu tentang kehamilannya :
Pada Kehamilan keduanya ini,
memang
direncanakan
oleh
pasangan suami istri ini, sehingga
secara psikologis ibu sangat
mengharapkan kelahiran bayinya
secara normal dan bayinya dalam
kondisi sehat.
b. Persepsi keluarga tentang
kehamilannya :
Keluarga mendukung ibu dalam
proses kehamilan, persalinan dan
perawatan bayinya.
Interaksi Selama Kehamilan
a. Interaksi ibu dengan keluarga :
Baik
b. Interaksi ibu dengan orang lain :
Baik

Ingin melahirkan secara normal dan


kondisi bayi nya sehat.
Peran yang dilakukan ibu selama
kehamilan
Sebagai ibu rumah tangga yang
memiliki 1 putra berusia 6 tahun.\
Ranah Formal
1. Fase Penerimaan Bayi oleh Ibu
Ibu menerima bayinya, tetapi ibu masih
kesulitan dalam hal perawatan bayinya
dan proses menyusui bayinya karena
ASInya belum keluar dengan lancar.
2. Bonding Attachment
Terlaksana dengan baik, bayi tenang
ketika disusui ibunya
3. Breast feeding / kolostrum
Sudah keluar tetapi belum lancar
4. Interaksi sosial selama
> 3 kelahiran
kali
Baik, ibu mampu berinteraksi
3 kali
dengan
> 3 kali
perawat ataupun3pasien
yang
kali
> 3lain
kali
dengan baik
5. Peran ayah selama kelahiran
Ayah menunggu bayi dan ibunya dan
memenuhi
kebutuhan yang dibutuhkan
Tidak
selama perawatan bayi dan ibu,
meskipun di ruangan ini, keluarga
hanya di ijinkan masuk ke ruangan
selama jam besuk.
Ranah Informal
1. Orang
yang
terlibat
dalam
perawatan bayi
Ketika di rumah sakit, Ny. M diajari
cara perawatan bayi meliputi
memandikan dan merawat tali pusat.
Dengan bekal ini diharapkan ibu
bisa melakukanya secara mandiri
ketika di Rumah.
2. Peran dalam perawatan bayi
Ibu mampu melakukan perawatan
pada bayinya, meskipun masih agak
takut ketika memandikan bayi
3. Pengalaman dalam perawatan bayi
Pernah melakukan perawatan bayi
pada anak pertamanya, tetapi
perannya masih banyak dibantu oleh
keluarga (orang tuanya)

Harapan selama Kehamilan


Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

62

ISSN 2303-1433

4. Harapan untuk perawatan bayi yang


akan datang
Mampu melakukan perawatan bayi
nya secara mandiri dan lebih baik
Ranah Personal
1. Pandangan ibu terhadap perannya
Ny. M merasa bahwa perannya
dalam perawatan bayi ini sangat
penting, untuk kesehatan bayinya
dan menumbuhkan kontak batin
antara ibu dan bayinya.
2. Pengalaman masa lalu yang
mempengaruhi peran ibu
Ny. M merasa bahwa peranya pada
masa lalu, ketika melahirkan anak
pertama belum begitu nampak,
karena banyak dibantu oleh keluarga
3. Percaya diri dalam menjalankan
peran
Ny. M merasa masih takut ketika
memandikan bayinya, dan merasa
kurang yakin mampu memberikan
ASI secara eksklusif, sehingga Ny.
M memberikan PASI untuk
mencukupi
kebutuhan
minum
bayinya.
4. Pencapaian peran
Ny. M mempunyai minat yang besar
dalam upaya pencapaian peran
sebagai seorang ibu yang melakukan
perawatan pada bayinya secara
optimal.
Pengkajian Bayi
1. Temperamen bayi
Di status pasien tertulis : bayi
menangis kuat
2. Apgars Score
8- 9
3. Penampilan Umum
a. Tanggal Lahir: 10 Nopember 2014
pukul 21.45
b. Berat badan
: 3300 gram
c. Panjang badan : 50 cm
d. Lingkar kepala : 35 cm
e. Lingkar dada
: 32 cm
f. RR
: 38 x/menit
g. Suhu
: 36C
h. Nadi
: 140 x/menit
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

4. Karakteristik umum
a. Usia bayi
: 3 hari
b. Kepala
: simetris
c. Fontanel anterior: teraba datar
d. Sutura : teraba dan belum menyatu
e. Postur : lengan dan tungkai fleksi
f. Hidung : tidak ada kelainan
g. Telinga : tidak ada kelainan
h. Mulut : tidak ada kelainan
5. Responsiveness
a. Kontak mata : bayi mampu untuk
membuka mata
b. Reflek
Reflek morro : baik
Reflek rotting : baik
Reflek sucking : baik
Reflek tonick neck
: baik
Reflek babinski : baik
Terapi dan Pemeriksaan Laboratorium
1. Terapi
ASI/PASI 8 x 20-25 cc
Amphicilin 2 x 165 mg IV
Gentamicin 1 x 16 mg IV
Thermoregulasi
Rawat Tali pusat
Diagnosa Keperawatan dan Rencana
Keperawatan
Diagnosa Keperawatan : Menyusui
tidak efektif berhubungan dengan
kurangnya kepercayaan diri ibu untuk
memenuhi kebutuhan ASI pada bayinya.
Tujuan : meningkatkan kepercayaan
ibu untuk memberikan ASI secara
eksklusif pada bayinya sehingga proses
menyusuinya menjadi efektif
Kriteria Hasil : Proses menyusui bisa
efektif dan berhasil melakukan ASI
Eksklusif
Rencana Keperawatan :
1. Kaji tentang kesehatan ibu post partum
dan sesuaikan dengan kemampuan ibu
untuk melakukan perawatan diri dan
bayinya
2. Kaji kemampuan ibu dalam proses
pemberian ASI

63

ISSN 2303-1433

3. Lakukan breastfeeding peer counseling


untuk meninngkatkan kemampuan ibu
dalam proses pemberian ASI kepada
bayinya.
Pembahasan
Analisis Penerapan Teori Maternal
Role Attainment - Becoming a Mother
pada Ny. M Post Partum Fisiologis
Model Mercer memaparkan hal-hal
yang seharusnya terindentifikasi dan
memfasilitasi ibu agar mampu menerima
dan melaksanakan peranannya sebagai
ibu. Kemampuan ibu menerima peran
sebagai ibu sejak awal akan meningkatkan
ikatan ibu dengan bayi dan mendukung
perkembangan kesehatan fisik dan mental
ibu dan bayi sepanjang kehidupan. Bila
ibu telah menerima perannya, maka ia
akan berusaha menjalankan peran sebaikbaiknya, dan bila berhasil akan merasakan
kepuasan. Kepuasan yang diperoleh
merupakan kekuatan yang mendorong
dalam memenuhi kebutuhan fisik dan
psikologis ibu beserta bayinya. Namun
model ini tidak dapat diterapkan pada ibu
yang mengalami penurunan kesadaran dan
gangguan jiwa, karena peran yang
seharusnya dilaksanakan oleh ibu akan
digantikan oleh orang lain atau
keluarganya.
Mercer juga menekankan pentingnya
dukungan suami dan keluarga sejak
kehamilan,
kelahiran
dan
setelah
melahirkan.
Pendekatan
Mercer
digunakan sejak awal sehingga kesiapan
peran ibu dapat terdeteksi oleh perawat.
Di Indonesia umumnya suatu kehamilan
dan kelahiran akan disambut dengan
sangat antusias oleh seluruh keluarga
besar sehingga pengaruh keluarga sangat
kuat dalam perawatan ibu dan bayi, justru
peran ayah yang menjadi berkurang
karena banyaknya dukungan dari keluarga
besar. Disamping itu aturan atau
kebijakann RS yang tidak mengijinkan
suami atau keluarga menunggu istri
selama
proses
melahirkan
akan
mengurangi interaksi orang tua dengan
bayinya selama proses persalinan
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

sehingga menurunkan proses pencapaian


peran. Peran ayah yang aktif dalam proses
persalinan maupun perawat bayi akan
menunjukkan keterikatan yang lebih kuat
dari pada ayah yang tidak terlibat dalam
proses persalinan dan perawatan bayi
(Reeder, 1997).
Pada awalnya model konseptual
Mercer lebih lebih ditujukan pada
pengkajian ibu post partum karena model
ini berfokus pada proses pencapaian peran
ibu dan bagaimana menjadi seorang ibu.
Namun jika meninjau konsep model yang
dikemukakan oleh Mercer ini bayi adalah
bagian yang sangat penting dalam proses
pencapaian peran tersebut, dimana
interaksi bayi dengan ibu yang terjalin
utuh dan sistematis akan mempererat
kasih sayang antara keduanya.
Penerapan konsep model Mercer
dalam praktek keperawatan maternitas
dikenal sebagai bonding attachment.
Bonding attachment adalah interaksi
antara orang tua dengan bayinya yang
dimulai
sejak
dalam
kandungan,
dilanjutkan saat proses persalinan serta
dipertahankan selama dan setelah proses
post partum. Pengertian bonding sendiri
adalah dimulainya interaksi emosi, fisik
dan sensoris antara orang tua dan bayinya
segera setelah lahir ditampilkan melalui
daya tarik satu arah oleh orang tua
tehadap bayinya. Sedangkan attachment
adalah ikatan perasaan kasih sayang
antara oarang tua dengan bayinya meliputi
pencurahan perhatian serta adanya
hubungan emosi, fisik yang kuat berupa
hubungan timbal balik yang saling
menguntungkan melalui sinyal antara
pemberi asuhan utama dan bayi yang
berkembang secara berangsur-angsur.
(Matterson, 2001)
Pengkajian terhadap bonding dapat
dilakukan dengan melakukan observasi
terhadap perilaku orang tua dengan
mengenali bayinya, memberi nama dan
mengakui adanya bayi sebagai anggota
keluarga. Attachment meliputi pengkajian
verbal dan non verbal ibu dan keluarga
saat berinteraksi dengan bayinya, meliputi
64

ISSN 2303-1433

respon orang tua saat bayi menangis,


apakah orang tau menunda pekerjaan atau
kebutuhan dan berjalan mendekat,
menerima tanggung jawab mengasuh
bayinya dan melaksanakan perawatan
pada bayi, merubah panggilan orang tua
dengan panggilan yang diharapkan anak.
(Mercer, 1995). Perilaku orang tua yang
menunjukkan adanya bonding attachment
adalah adanya sentuhan fisik dengan
menyusui, sentuhan kulit, adanya kontak
mata saat menyusui dan saat bayi
terbangun, berbicara serta memeriksa
tubuh bayi. Hal-hal tersebut sejalan
dengan
bagaimana
Mercer
menggambarkan bagaimana pencapaian
peran menjadi ibu. Tetapi bonding
attachment
bisa
terhambat
pelaksanaannya jika di rumah sakit
tersebut tidak fasilitas untuk melakukan
rooming in sesuai dengan kondisi ibu dan
bayi setelah post partum.
Mercer menegaskan pada teorinya
bahwa proses pencapaian peran ibu yang
dilalui dengan empat fase akan selalu
berhubungan dengan respon bayi. Pada
fase anticipatory yang dimulai sejak
kehamilan, bayi juga dilibatkan untuk
berinteraksi, lalu fase kedua yang dimulai
saat kelahiran bayi yang juga memerlukan
peran
perawat
dalam
melakukan
pengkajian fisik secara umum, model
Mercer ini juga mendukung dengan
pengkajian yang lebih difokuskan pada
psikososial. Pada fase ketiga informal,
peran ibu dalam proses interaksi dengan
bayinya menjadikan ibu lebih matang di
dalam menjalankan perannya. Fase
keempat
personal,
ibu
telah
menginternalisasi perannya sehingga ibu
mulai merasa percaya diri,merasa mampu
dalam menjalankan tugasnya.
Model
konseptual
Mercer
memandang bahwa sifat bayi berdampak
pada identitas peran ibu yang meliputi :
temperamen, kemampuan memberikan
isyarat, penampilan, karakteristik umum,
responsiveness
dan
kesehatan
umum.Mercer juga mengembangkan
teorinya pada bayi baru lahir yang lebih
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

spesifik dengan mengkaji kontak mata


antara bayi dengan ibunya sebagai isyarat
pembicaraan,adanya
refleks
menggenggam, refleks tersenyum dan
tingkah laku yang tenang sebagai respon
terhadap perawatan yang dilakukan ibu.
Konsistensi tingkah laku interaksi dengan
ibu dan respon yang datang dari ibu akan
meningkatkan pergerakan.
Meighan (2001), mengemukakan
bahwa teori Mercer sangat relevan
digunakan pada berbagai setting praktek
keperawatan maternitas dan anak. Hal ini
didasarkan pada hasil penelitiannya yang
selalu dapat diaplikasikan dalam tatanan
pelayanan
keperawatan.
Penerapan
konsep Mercer ini lebih banyak terfokus
pada kondisi psikologis dan fisik
sedangkan pemenuhan kebutuhan dasar
manusia tidak terkaji. Oleh karena itu agar
dapat menggali data yang komprehensif
konsep model Mercer ini harus
dikombinasi dengan teori lain yang
mencakup kebutuhan dasar manusia.
Analisa Rekomendasi Breastfeeding
Peer Counseling Dengan Masalah
Keperawatan Menyusui tidak Efektif
Pada Pasien Post partum Fisiologis.
Guna mereview
perlu adanya
breastfeeding peer counseling pada ibu
yang memberikan ASI, maka penulis
mengkaji beberapa riset yang meneliti
tentang hal tersebut. Pencarian artikel
dilakukan secara elektronik. Pencarian
tidak terbatas pada artikel penelitian yang
diterbitkan oleh negara tertentu. Artikel
yang digunakan diterbitkan pada tahun
2003 sampai 2013. Kombinasi kata kunci
(key words) yang digunakan yaitu
breastfeeding, peer, support. Pencarian
menemukan 2 artikel. Pada makalah ini
kami mereview 2 artikel yang berkaitan
dengan upaya meningkatkan status nutrisi
pada bayi dengan melakukan health
promotion kepada ibu agar memberikan
asupan nutrisi yang efektif dan maksimal
dengan breastfeeding peer counseling.
Dari
beberapa
artikel
diatas
ditemukan bahwa breastfeeding peer
65

ISSN 2303-1433

counseling
merupakan
cara
yang
dilakukan untuk memberdayakan ibu yang
menyusui degan meningkatkan motivasi,
pengetahuan, sikap dan kepercayaan diri
ibu untuk memberikan asupan ASI kepada
bayinya. Breastfeeding peer counseling
merupakan
training/pelatihan
yang
didampingi oleh konselor/perawat dan
beberapa ibu lain yang juga menyusui
bayinya. Program ini meliputi pelatihan
tentang teori (anatomy dan fisiologi
payudara dan manajemen menyusui yang
efektif), melakukan role play, praktik
langsung kepada bayi, dan kemampuan
komunikasi yang selalu dimonitor oleh
konsultan secara rutin dan dilakukan home
visit/ kunjungan rumah. Peer Conselor
diobservasi selama 2 bulan oleh seorang
konsultan laktasi yang mendampingi ibu
dengan gangguan menyusui.
Intervensi
ini
sesuai
apabila
diterapkan pada Ny. M yang mengalami
masalah dalam menyusui bayinya yang
merasa kesulitan untuk memposisikan
bayinya ketika menetek. penerapan
intervensi ini juga dapat meningkatkan
pengetahuan,
kemampuan
ibu,
kepercayaan diri ibu dalam merawat bayi
secara mandiri agar tidak mengalami
malnutrisi yang dapat mempengaruhi
tumbuh
kembangnya
dan
bisa
memberikan ASI secara Eksklusif kepada
bayinya.
Dengan adanya peer counseling dari
konsultan laktasi dalam hal ini bisa juga
dilakukan oleh perawat maternitas dan
support dari sesama anggota kelompok
training/pelatihan
laktasi
dapat
meningkatkan kemampuan ibu dalam
memberikan ASI yang efektif pada bayi.
Dalam peer / kelompok ibu bisa saling
sharing dengan sesama ibu yang lain
sehingga dapat meningkatkan pemahaman
ibu mengenai pemberian ASI yang efektif.
Bayi baru lahir mempunyai resiko
yang tinggi mengalami malnutrisi karena
ketidakseimbangan antara intake yang
didapat dan proses hipermetabolisme yang
ada dalam tubuh. Perawat sebagai
konselor dan educator harus memberikan
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

health education dan konseling pada ibu


tentang manajemen laktasi yang efektif
agar dapat meningkatkan nutrisi pada bayi
baru lahir.
Kesimpulan & Saran
Kesimpulan
1. Penerapan konsep dari teori Maternal
Role Attainment-Becoming a Mother
ini tepat digunakan untuk melakukan
pengkajian pasien post partum untuk
mencapai
adaptasi
perubahan
fisiologis ataupun psikologis pada
masa postpartum sehingga bisa
mencapai peran yang diharapkan
dalam perawatan diri dan bayinya.
2. Breastfeeding Peer Counseling dapat
diaplikasikan pada ibu postpartum
yang mengalami kesulitan dalam hal
pemberian ASI kepada bayinya.
Program ini untuk memotivasi ibu
bayi agar memberikan nutrisi terbaik
pada bayinya melalui ASI Eksklusif
dan memberikan support kepada ibu
secara psikologis untuk melakukan
perawatan pada bayinya secara
mandiri.
Saran
1. Bagi praktek keperawatan
Intervensi Breastfeeding Peer
Counseling dapat diterapkan tidak
hanya pada menyusui saja tetapi
pada
penatalaksaan
faktor
psikologis
ibu
terkait
ketidakpercayadirian ibu dalam
pemberian ASI secara Eksklusif
yang membutuhkan support dari
kelompok untuk sharing mengenai
masalah pemberian ASI secara
Eksklusif
2. Bagi riset keperawatan
Perlu dilakukan penelitian lebih
lanjut mengenai intervensi lain
yang
digunakan
untuk
meningkatkan helth promotion
khususnya masalah pemberian ASI
secara Eksklusif dan proses untuk
meningkatkan kualitas produksi
ASI sehingga ibu tidak kuatir
66

ISSN 2303-1433

dalam pemberian
bayinya.

nutrisi

pada

Daftar Pustaka
Alex K. Anderson, P; Grace Damio& etc
. (2005). A Randomized Trial
Assessing the Efficacy of Peer
Counseling
on
Exclusive
Breastfeeding in a Predominantly
Latina Low-Income Community.
Arch Pediatric Adolesc Med.
2005;159:836-841

Judith M.W .(2005) Prentice Hall Nursing


Diagnosis Handbook With NIC
Intervention and NOC Outcomes.
Pearson
Marriner-Tomey & Alligood (2006).
Nursing theorists and their works.
6th Ed.St.Louis:Mosby Elsevier, Inc
Merestein, G.B & Gradner, S.L (2002).
Handbook of neonatal intensive
care (5th ed) St. Louis : Mosby.

Bobak, I.M., Lowdermilk, D.L., & Jensen,


M.D.
(2005).
Buku
ajar
keperawatan maternitas. (edisi 4).
Jakarta: EGC.

Riset

Kesehatan Dasar (Riskesdas)


Nasional 2010. Jakarta: Badan
Penelitian
dan
Pengembangan
Kesehatan Depkes RI.

Casey, P.H., Mansell, L.M., Barrett, K.,


Bradley, R.H., & Gargus, R. (2006).
Impact of prenatal and/or postnatal
growth problems in low birth weight
preterm infants on school-age
outcomes: An 8-year longitudinal
evaluation.
Pediatrics,
118(3),
1078-1086

Taylor C., Lilis, C., LeMone, P. 1995.


Fundamental of Nursing the Art and
Science
of
Nursing
Care.
Philadelphia: Lippincot

Chin P.L.& Kramer. 1997. Theory and


Nursing : A System Approach. Sint
Louis: Mosby Company.

Tomey, M.A. 1994. Nursing Theorist and


Their Work. St. Louis : Mosby
Company

Tomey, A.M., & Alligood, M.R. 2006.


Nursing Theorists and their Work,
4th Edition. St.Louis: Mosby.

Doengoes Merillynn. (1999) (Rencana


Asuhan Keperawatan). Nursing care
plans. Guidelines for planing and
documenting patient care. Alih
bahasa : I Made Kariasa, Ni Made
Sumarwati. EGC. Jakarta.
Dorland. (1998). Kamus Saku Kedokteran
Dorland. Alih Bahasa: Dyah
Nuswantari Ed. 25. Jakarta: EGC
Esther HY Wong1, EAS Nelson. (2007).
Evaluation of a peer counselling
programme to sustain breastfeeding
practice
in
Hong
Kong.
International Breastfeeding Journal
2007, 2:12 doi:10.1186/1746-43582-12

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

67

ISSN 2303-1433

Perbedaan Motivasi Wanita PUS Usia 35-49 Tahun untuk Menggunakan Implant
Sebelum dan Setelah Diberi Penyuluhan di Dusun Mojolegi Desa Bendo Kec. Pare.
(The Difference Motivation of Childbearing Age Couples Women in Age 35-49 years to
Use Implants Before and After Giving Information in Mojolegi Hamlet Bendo Village Pare
District)
Triatmi Andri Yanuarini, Susanti Pratamaningtyas, Rika Aprilia Susanti.
Poltekkes Kemenkes Malang
Prodi Kebidanan Kediri Jl.KH.Wakhid Hasyim 64 B Kediri
ABSTRACT
Women who have age 35th years old need safety and effective contraception because
these group will get increased morbidity and mortality experience if they pregnant. Implant
is one method of effective an safety long-term contraception. Bendo Health Center have
the lowest acceptor implants in Kediri that is 0%. The purpose of this research to know the
difference motivation of childbearing age couples women in age 35-49 years to use
implant before and after giving information. The design used a pre-experiment design with
one group pre-test post-test design, the population was all childbearing age couples women
in age 35-49 years at Mojolegi Hamlet Bendo Village Pare District who have children, not
use contraception or still use non-Long Term contraception Method which total 72 people.
The samplehave a lot 61 people according to inclusion and exclusion criteria. The sample
removal technique used simple random sampling. The result of this research, from 61
respondents get average of respondent motivation before give information is 65 and after
give information is 69, show that respondents motivation get increase after got
information. And after going through the data analysis it was found z calculate > z table, so
in this case have difference motivation of childbearing age couples women in age 35-49
years to use implants before and after giving information.
Keywords: Counseling, Motivation, Implants
.
Pendahuluan
Indonesia
menghadapi
masalah
dengan jumlah dan kualitas sumber daya
manusia dengan kelahiran 5.000.000 per
tahun (Manuaba, IBG, dkk. 2010: 591).
Pertumbuhan penduduk di Indonesia
berkisar antara 2,15% hingga 2,49% per
tahun. Tingkat pertumbuhan penduduk
seperti itu dipengaruhi oleh tiga faktor
utama, yaitu: kelahiran (fertilitas),
kematian (mortalitas), dan perpindahan
penduduk
(migrasi).
Pertumbuhan
penduduk seperti dikemukakan diatas
dapat dikatakan terlalu tinggi karena dapat
menimbulkan berbagai persoalan (Arum,
Dyah, dkk. 2009: 3). Pendapat Malthus
yang
mengemukakan
bahwa
pertumbuhan
dan
kemampuan
mengembangkan sumber daya alam
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

laksana
deret
hitung,
sedangkan
pertumbuhan dan perkembangan manusia
laksana deret ukur, sehingga pada satu
titik sumber daya alam tidak mampu
menampung pertumbuhan manusia telah
menjadi kenyataan. Berdasarkan pendapat
demikian diharapkan setiap keluarga
memperhatikan dan merencanakan jumlah
keluarga yang diinginkan. (Manuaba,
IBG, dkk. 2010: 591)
BKKBN sebagai lembaga pemerintah
di Indonesia mempunyai tugas untuk
mengendalikan
fertilitas
melalui
pendekatan 4 (empat) pilar program, yaitu
Program Keluarga Berencana (KB),
Kesehatan Reproduksi (KR), Keluarga
Sejahtera (KS) dan Pemberdayaan
Keluarga
(PK).
Dalam
Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional
68

ISSN 2303-1433

(RPJMN) tahun 2009-2014, tertuang


bahwa dalam rangka mempercepat
pengendalian
fertilitas
melalui
penggunaan
kontrasepsi,
program
keluarga berencana nasional di Indonesia
lebih diarahkan kepada pemakaian
Metoda Kontrasepsi Jangka Panjang
(MKJP). Metoda Kontrasepsi Jangka
Panjang adalah kontrasepsi yang dapat
dipakai dalam jangka waktu lama, lebih
dari dua tahun, efektif dan efisien untuk
tujuan pemakaian menjarangkan kelahiran
lebih dari 3 tahun atau mengakhiri
kehamilan pada pasangan yang sudah
tidak ingin tambah anak lagi. Jenis metoda
yang termasuk dalam kelompok ini adalah
metoda kontrasepsi mantap (pria dan
wanita), Implant, dan Intra Uterine Device
(IUD). (BKKBN, 2009)
Berdasarkan hasil Survei Demografi
dan Kependudukan Indonesia tahun 2012,
angka pemakaian kontrasepsi modern bagi
wanita di Indonesia adalah suntik sebesar
31,9%, pil 13,6 %, IUD 3,9 %, Implant
3,3 %, MOW 3,2 %. Sementara angka
pemakaian kontrasepsi modern bagi
wanita di Provinsi Jawa timur adalah
suntik sebesar 34,7 %, pil 14,7 %, IUD
5,0 %, Implant 3,1 %, MOW 3,5 %
(SDKI, 2012).
Perempuan berusia lebih dari 35
tahun memerlukan kontrasepsi yang aman
dan efektif karena kelompok ini akan
mengalami peningkatan morbiditas dan
mortalitas jika mereka hamil (Saifuddin,
Abdul Bari. 2010: U-49). Penggunaan
kontrasepsi paling rendah adalah Implant,
padahal Implant dapat digunakan pada
perempuan >35 tahun yang menginginkan
kontrasepsi jangka panjang. (Saifuddin,
Abdul Bari. 2006: U-50). Selain itu
Implant memiliki angka kegagalan yang
lebih rendah dibandingkan kontrasepsi
oral, IUD dan metode barier, yaitu hanya
< 1 per 100 wanita per tahun dalam 5
tahun pertama. (Hartanto, Hanafi. 2004:
182). Implant dapat dipakai jangka
panjang, yaitu daya kerjanya sampai 5
tahun pada norplant 6 kapsul (Hartanto,
Hanafi. 2004: 179). Implant hanya sedikit
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

sekali menyebabkan efek samping lain


disamping perubahan haid dan hanya
sedikit sekali menyebabkan perubahanperubahan sistemik (Hartanto, Hanafi.
2004: 184).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh
Musdalifah dkk mengenai faktor yang
berhubungan dengan pemilihan alat
kontrasepsi hormonal, mengatakan bahwa
ada hubungan antara umur, dukungan
suami, efek samping dan pemberian
informasi petugas KB dengan pemilihan
alat kontrasepsi hormonal (Musdalifah,
dkk. 2013). Menurut BKKBN 2009, peran
petugas KB, tokoh agama, tokoh
masyarakat dan media dalam memberikan
informasi KB masih rendah (< 20 persen).
(BKKBN, 2009)
Berdasarkan hasil studi pendahuluan
pada tanggal 5 Februari 2014 di Dinkes
Kabupaten Kediri, angka pemakaian
kontrasepsi modern bagi wanita di
Kabupaten Kediri tertinggi adalah suntik
sebesar 70,24 %, diikuti pil 12,11 %, IUD
9,5 %, MOW 4,36 %, dan Implant
menempati angka terendah dengan 2,49
%. Puskesmas Puncu memiliki jumlah
akseptor Implant tertinggi di Kabupaten
Kediri yaitu 462 akseptor dengan
prosentase 6,49 %, sementara Desa Bendo
memiliki jumlah akseptor Implant
terendah yaitu sebesar 0 %.
Sesuatu yang mendorong Ibu dalam
memakai suatu alat kontrasepsi disebut
motivasi. Motivasi merupakan sesuatu
yang menggerakkan atau mendorong
seseorang atau sekelompok orang untuk
melakukan atau tidak melakukan sesuatu.
Motivasi dipengaruhi oleh faktor-faktor
tingkat pengetahuan, keyakinan atau
kepercayaan, sarana yang diperlukan, dan
dorongan. (Haska, Ardani: 2003)
Dari penelitian yang telah dilakukan
oleh Musdalifah dkk dan menurut
BKKBN diatas dapat disimpulkan bahwa
pemberian informasi atau penyuluhan
berpengaruh dalam pemilihan metode
kontrasepsi. Promosi kesehatan atau
penyuluhan kesehatan adalah kegiatan
pendidikan yang dilakukan dengan cara
69

ISSN 2303-1433

menyebarkan
pesan,
menambahkan
keyakinan, sehingga masyarakat tidak saja
sadar, tahu dan mengerti, tetapi juga mau
dan bisa melakukan suatu anjuran yang
ada hubungannya dengan kesehatan. (Ali,
Zaidin. 2010: 5)
Berdasarkan latar belakang masalah
tersebut diatas peneliti tertarik untuk
meneliti Perbedaan motivasi wanita PUS
usia 35-49 tahun untuk menggunakan
Implant sebelum dan setelah diberi
penyuluhan di Dusun Mojolegi Desa
Bendo Kecamatan Pare
Metode Penelitian
Desain
dalam
penelitian
ini
menggunakan pre-experiment design
dengan model one group pre-test post-test
design yaitu eksperimen hanya melibatkan
satu kelompok subjek yang diobservasi
sebelum dilakukan intervensi, kemudian
diobservasi lagi setelah intervensi
(Nursalam: 2008). Populasi dalam
penelitian ini adalah seluruh Wanita PUS
Usia 35-49 tahun di Dusun Mojolegi Desa
Bendo Kecamatan Pare yang sudah
memiliki anak, belum ber-KB atau masih
menggunakan kontrasepsi non-MKJP.
Besarnya populasi dalam penelitian ini
adalah 72 orang. Besar sampel 61
responden dengan tehnik sampling simple
random sampling. Varibel penelitian
adalah motivasi menggunakan implant
sebelum penyuluhan dan motivasi setelah
penyuluhan. Analisa data menggunakan
Wilcoxon Match Pairs Test.
Hasil Penelitian
Data Umum
Berdasarkan
hasil
penelitian
didapatkan sebagian besar responden
berusia 35-40 tahun (40,98%), sebagian
besar responden berpendidikan terakhir
SD (44,26%), lebih dari setengah
responden adalah sebagai ibu rumah
tangga (54,10%), lebih dari setengah
responden saat ini menggunakan KB
suntik 3 bulan (54,10%), hampir setengah
dari 61 responden memiliki 2 anak
(47,54%), hampir seluruh responden
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

sudah tidak ingin memiliki anak lagi


(90,16%), hampir seluruh responden
(83,61%) belum pernah mendapatkan
penyuluhan tentang KB Implant
Data Khusus
1. Frekuensi Motivasi wanita PUS Usia
35-49 tahun untuk Menggunakan
Implant Sebelum Diberi Penyuluhan.

52

Motivasi
Rendah

Motivasi
Motivasi
Sedang
Tinggi

Gambar 1 Distribusi Frekuensi Motivasi wanita


PUS usia 35-49 tahun untuk Menggunakan
Implant Sebelum Diberi Penyuluhan di Dusun
Mojolegi Desa Bendo Kec. Pare

Berdasarkan
gambar
1
dapat
dijelaskan hampir seluruhnya sudah
memiliki
motivasi
tingkat
sedang
(85,25%) untuk menggunakan Implant
sebelum mendapat penyuluhan.
2.

Frekuensi Motivasi wanita PUS usia


35-49 tahun untuk Menggunakan
Implant Setelah Diberi Penyuluhan
50

11

Motivasi
Sedang

Motivasi
Tinggi

Gambar 2 Distribusi Frekuensi Motivasi wanita


PUS usia 35-49 tahun untuk Menggunakan
Implant Setelah Diberi Penyuluhan di Dusun
Mojolegi Desa Bendo Kec. Pare

70

ISSN 2303-1433

Berdasarkan
gambar
2
dapat
dijelaskan hampir seluruhnya memiliki
motivasi kategori sedang (82%) untuk
menggunakan
Implant
setelah
mendapatkan penyuluhan.
3.

Frekuensi Motivasi Wanita PUS Usia


35-49 tahun untuk Menggunakan
Implant Sebelum dan Setelah Diberi
Penyuluhan.
Perbedaan motivasi wanita PUS usia
35-49 tahun untuk menggunaakan Implant
sebelum dan setelah diberi penyuluhan di
Dusun Mojolegi Desa Bendo Kec. Pare
ditampilkan dalam bentuk tabel di bawah
ini:
Tabel 1 Distribusi Frekuensi Motivasi
Wanita PUS Usia 35-49 Tahun untuk
Menggunakan Implant Sebelum dan
Setelah Diberi Penyuluhan.
Sebelum dan sesudah
Kriteria

Motivasi
Rendah
Motivasi
Sedang
Motivasi
Tinggi

X1
(f)

X2(f)

1,64

0,00

T = 213

52

85,25

50

81,97

Z = -5,2

13,11

11

18,03

Hasil penelitian tersebut dianalisis


dan dihitung menggunakan teknik analisis
data wilcoxon match pairs test. Kemudian
hasil jenjang terkecil dimasukkan dalam
rumus z dan hasilnya dibandingkan
dengan z tabel. Ternyata hasil z hitung
lebih besar dari harga z tabel, maka dapat
disimpulkan bahwa ada perbedaan
motivasi wanita PUS usia 35-49 tahun
untuk menggunakan implant sebelum dan
setelah diberi penyuluhan.
Pembahasan
1 Motivasi wanita PUS usia 35-49 tahun
untuk menggunakan implant sebelum
diberikan penyuluhan
Menurut F. Herzberg dalam Suwatno
(2011: 175), faktor yang mempengaruhi
motivasi antara lain minat, sikap positif,
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

kebutuhan motivator dan faktor kesehatan.


Hasil penelitian deskriptif dengan
pendekatan
cross
sectional
yang
dilakukan oleh Fitriani (2013) tentang
gambaran minat wanita usia subur dengan
pemilihan alat kontrasepsi implant di
wilayah kerja Puskesmas Meureudeu
menunjukkan bahwa Umur, pengetahuan
dan pendidikan mempengaruhi minat
wanita subur untuk menggunakan
Implant.
WUS
usia
>35
tahun
menunjukkan minat yang lebih tinggi
dibandingkan usia dibawahnya untuk
menggunakan Implant Semakin tinggi
pendidikan dan pengetahuan WUS
semakin tinggi pula minat menggunakan
Implant. Ini sejalan dengan penelitian
analitik
dengan
pendekatan
cross
sectional yang dilakukan oleh Susanti
(2013) tentang faktor-faktor
yang
berhubungan dengan minat ibu terhadap
penggunaan Implant di Puskesmas Ome.
Susanti menambahkan, tingkat ekonomi
juga mempengaruhi minat ibu untuk
menggunakan Implant.
Menurut asumsi peneliti, umur,
pengetahuan, pendidikan, dan ekonomi
sangat berpengaruh terhadap motivasi
wanita PUS untuk menggunakan implant.
Usia responden yang >35 tahun dalam
penelitian ini mendorong motivasi
responden untuk menggunakan Implant
karena dari segi kebutuhan mereka
membutuhkan
Implant
sebagai
kontrasepsi jangka panjang untuk
mencegah
terjadinya
kehamilan,
dibuktikan dengan 84% responden
menyatakan sudah tidak ingin memiliki
anak
lagi.
Namun
pendidikan,
pengetahuan, dan tingkat ekonomi yang
rendah menekan motivasi responden
untuk menggunakan implant. Hanya 16%
responden yang menyatakan sudah pernah
mendapatkan informasi tentang Implant
sementara 84% lainnya belum pernah, ini
menunjukkan
bahwa
pengetahuan
responden tentang implant sangat minim.
Selain itu dari segi ekonomi yang rendah,
anggapan bahwa biaya pemasangan dan
pelepasan implant yang mahal akan
71

ISSN 2303-1433

menyurutkan motivasi responden untuk


menggunakan Implant. Beredarnya rumor
yang tidak benar mengenai kontrasepsi
Implant seperti kapsul Implant dapat
hilang dalam tubuh, dapat berjalan ke
organ lain dalam tubuh dan teknik
pembedahan saat pemasangan yang
mengerikan dan menyakitkan membuat
masyarakat takut untuk menggunakan
Implant.
2 Motivasi wanita PUS usia 35-49 tahun
untuk menggunakan Implant setelah
dilakukan penyuluhan
Menurut Azrul Anwar dalam Zaidin
Ali (2010) penyuluhan adalah kegiatan
pendidikan yang dilakukan dengan cara
menyebarkan
pesan,
menambahkan
keyakinan, sehingga masyarakat tidak saja
sadar, tahu dan mengerti, tetapi juga mau
dan bisa melakukan suatu anjuran.
Menurut Israr Y., dkk (2008), rendahnya
MKJP termasuk Implant di Indonesia
karena pengetahuan klien dan kurangnya
kualitas sosialisasi/ KIE MKJP. Mereka
lebih banyak mendapat informasi dari
teman atau keluarga tentang non-MKJP
seperti suntik dan pil. Ini menunjukkan
perlu lebih ditingkatkan pengenalan KBMKJP. (BKKBN, 2009). Penelitian yang
dilakukan oleh Fitriani, Susanti, dan
Jasmaniar
menunjukkan
bahwa
pengetahuan sangat berpengaruh terhadap
minat ibu untuk menggunakan Implant.
Menurut asumsi peneliti penyuluhan
yang dilakukan
selama
penelitian
memberi tambahan informasi tentang KB
implant juga meluruskan rumor-rumor
yang tidak benar tentang implant misalnya
seperti rumor bahwa implant dapat
berjalan/ berpindah tempat dari lengan ke
organ tubuh lain atau implant dapat hilang
dalam tubuh, dan teknik pembedahan
Implant
yang
mengerikan
dan
menyakitkan.
Penyuluhan
dilakukan
dalam 2 waktu, dihadiri oleh 31 peserta
pada kelompok pertama dan 30 peserta
pada kelompok kedua, masing-masing
120 menit, menggunakan metode ceramah
dengan memberikan informasi mengenai
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

KB implant secara lengkap mulai dari


pengertian, efektivitas, cara
kerja,
keuntungan, efek samping, indikasi,
kontraindikasi,
waktu
pemasangan,
dengan menyertakan gambar kapsul
implant sebagai alat peraga sehingga
responden dapat melihat nyata inti materi
sehingga lebih mudah mencerna dan
menangkap
makna
materi
yang
disampaikan,
penyuluhan
juga
menghadirkan akseptor implant yang telah
5 tahun menggunakan Implant untuk
menceritakan
pengalaman
menguntungkan selama menggunakan
Implant sehingga dapat menambah
keyakinan responden.
Peneliti dengan dibantu oleh bidan
juga memberikan informasi mengenai
safari KB yang akan dilaksanakan pada
tanggal 16 19 Juni 2014 sehingga
tingkat ekonomi yang rendah tidak lagi
menjadi penghambat motivasi responden
untuk menggunakan Implant. Anggapan
bahwa biaya pemasangan implant yang
mahal dapat disingkirkan karena adanya
safari KB yang memungkinkan responden
mendapatkan pelayanan implant secara
gratis sehingga motivasi responden untuk
menggunankan implant meningkat.
Pada akhir sesi penyuluhan peneliti
mengadakan tanya jawab dengan dibantu
oleh bidan dan akseptor KB Implant yang
dihadirkan. Banyak responden yang
mengajukan
pertanyaan,
hal
ini
menunjukkan bahwa penyuluhan telah
menimbulkan ketertarikan pada Implant
yang selama ini mereka abaikan karena
tidak begitu mengenal kontrasepsi ini.
Dengan tanya jawab, responden dapat
mengutarakan ketidaktahuannya tentang
KB
Implant
sehingga
dengan
mendapatkan jawaban yang tepat dari
petugas dapat menghindari adanya
kesalahpahaman tentang KB Implant yang
dapat berujung pada rumor yang membuat
Implant dihindari oleh masyarakat.

72

ISSN 2303-1433

3 Perbedaan motivasi wanita PUS usia


35-49 tahun untuk menggunakan
implant sebelum dan setelah diberi
penyuluhan
Menurut
asalnya
motivasi
dikelompokkan menjadi dua, motivasi
internal dan eksternal. Masing-masing
dibagi lagi menjadi dua, positif dan
negatif. Salah satu contoh motivasi yang
berasal dari luar (motivasi eksternal) yang
bersifat
positif
adalah
promosi/
penyuluhan (Irianto, Anton. 2005).
Menurut penelitian eksperimen semu
dengan menggunakan model one group
pretest posttest yang berjudul perbedaan
pengetahuan sebelum dan sesudah
penyuluhan tentang kontrasepsi Implant
oleh Ely Rohmawati (2011), didapatkan
adanya perbedaan pengetahuan tentang
kontrasepsi implan pada wanita usia subur
sebelum dan setelah penyuluhan dengan
value = 0,00, yaitu pengetahuan wanita
usia subur meningkat setelah mendapat
penyuluhan. Penelitian yang dilakukan
oleh Fitriani, Susanti, dan Jasmaniar
menunjukkan bahwa pengetahuan sangat
berpengaruh terhadap minat ibu untuk
menggunakan Implant.
Menurut asumsi Peneliti, adanya
peningkatan pengetahuan responden oleh
karena mendapatkan penyuluhan tentang
kontrasepsi
Implant
menyebabkan
meningkatnya motivasi responden untuk
menggunakan Implant. Hal ini sejalan
dengan penelitian yang dilakukan oleh
Fitriani, Susanti, dan Jasmiar di atas yang
menyebutkan bahwa pengetahuan sangat
berpengaruh terhadap minat responden
untuk menggunakan Implant. Minat
merupakan salah satu faktor yang dapat
menimbulkan motivasi. Dengan adanya
peningkatan minat, maka akan memacu
peningkatan motivasi pula sehingga
penyuluhan tentang kontrasepsi implant
ini memberikan pengaruh terhadap
motivasi responden untuk menggunakan
implant.
Dengan
demikian
dapat
disimpulkan ada perbedaan motivasi
wanita PUS usia 35-49 tahun untuk

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

menggunakan implant sebelum


setelah mendapat penyuluhan.

dan

Kesimpulan
1. Motivasi wanita PUS usia 35-49 tahun
untuk menggunakan Implant sebelum
diberi
penyuluhan
menunjukkan
kategori sedang
2. Motivasi wanita PUS usia 35 49
tahun untuk menggunakan Implant
setelah
diberi
penyuluhan
menunjukkan kategori sedang.
3. Ada perbedaan motivasi wanita PUS
usia 35-49 tahun untuk menggunakan
Implant di Dusun Mojolegi Desa
Bendo Kec. Pare.
Saran
Setelah melakukan penelitian tentang
perbedaan motivasi wanita PUS usia 3549 tahun untuk menggunakan Implant
sebelum dan setelah diberi penyuluhan di
Dusun Mojolegi Desa Bendo Kecamatan
Pare
Kabupaten
Kediri,
peneliti
menyarankan kepada:
1. Peneliti Selanjutnya
Dari kesimpulan yang didapat bahwa
ada perbedaan motivasi wanita PUS usia
35 49 tahun untuk menggunakan
Implant sebelum dan setelah diberi
penyuluhan, disini berarti penyuluhan
berpengengaruh terhadap motivasi ibu
untuk menggunakan Implant sehingga
diharapkan pada penelitian selanjutnya
dibahas mengenai faktor-faktor yang
berpengaruh
terhadap
pemilihan
kontrasepsi Implant.
2.

Tempat penelitian
Bidan diharapkan dapat lebih
meningkatkan
pemberian
informasi
tentang kontrasepsi implant secara lebih
lengkap meliputi cara kerja implant,
keuntungan dan kerugian implant, indikasi
dan kontraindikasi, biaya pemasangan
implant, dan mengenai safari KB. Bidan
juga dapat menggunakan alat bantu
berupa flipchart sehingga informasi yang
diterima jelas karena pada flipchart

73

ISSN 2303-1433

terdapat gambar dan penjelasan yang


mudah dimengerti.

Sugiyono.
2010.
Statistika
untuk
Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Daftar Pustaka
Maulana, Heri D. J. 2012. Promosi
Kesehatan. Jakarta: EGC

Ali,

Arum, Dyah Noviawati S., dkk. 2009.


Panduan Lengkap Pelayanan KB
Terkini.
Mitra
Cendikia:
Yogjakarta.
Hartanto, Hanafi. 2004. Keluarga
Berencana
dan
Kontrasepsi.
Pustaka Sinar Harapan: Jakarta.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2007. Promosi
Kesehatan & Ilmu Periaku.
Jakarta: Rineka Cipta.
Everett, Suzanne. 2012. Buku Saku
Kontrasepsi
dan
Kesehatan
Seksual Reproduktif. Jakarta: EGC.
Saifuddin, Abdul Bari. 2010. Buku
Panduan
Praktis
Pelayanan
Kontrasepsi, Edisi Ke-2. Jakarta:
YBP-SP.
Manuaba, Ida Bagus Gde, dkk. 2010.Ilmu
Kebidanan, Penyakit Kandungan
dan KB untuk Pendidikan Bidan.
Edisi 2. Jakarta: EGC.
Nursalam. 2009. Konsep dan Penerapan
Metodologi
Penelitian
Keperawatan. Jakarta: Salemba
Medika.
Saryono,
dkk.
Penelitian
Kuantitatif
Kesehatan.
Medika.

2013.
Metodologi
Kualitatif
dan
dalam
Bidang
Yogyakarta: Nuha

Notoadmodjo,
Soekidjo.
2010.
Metodologi Penelitian Kesehatan.
Jakarta: Rineka Cipta.

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

Zaidin.
2010.
Dasar-dasar
Pendidikan Kesehatan Masyarakat
dan Promosi Kesehatan. Jakarta:
Trans Info Media.

Syafrudin, Yudhia Fratidhina. 2009.


Promosi
Kesehatan
untuk
Mahasiswa Kebidanan. Jakarta:
Trans Info Media.
Hidayat, A. Aziz Alimul. 2009. Metode
Penelitian Kebidanan & Teknik
Analisis Data. Jakarta: Salemba
Medika.
Suwatno dan Donni J. P. 2011.
Manajemen
SDM
dalam
Orgnaisasi Publik dan Bisnis.
Bandung: Alfabeta.
Mayliana, Esther, Herminarto Sofyan.
2013. Penerapan Accelerated
Learning dengan Pendekatan SAVI
untuk Meningkatkan Motivasi dan
Hasil
Belajar
Kompetensi
Menggambar
Busana.
Jurnal
Pendidikan Vokasi. Vol 3, Nomor
1, Februari 2013. Halaman 14-28
Susilawati, Fitriani. 2013. Gambaran
Minat Wanita Usia Subur dengan
Pemilihan
Alat
Kontrasepsi
Implant
di
Wilayah
Kerja
Puskesmas Meureudu Kecamatan
Meureudu Kabupaten Pidie Jaya.
Jurnal Karya Tulis Ilmiah.
Halaman 1-10.
Musdalifah, Mukhsen Sarake, dkk. 2013.
Faktor yang Berhubungan dengan
Pemilihan Kontrasepsi Hormonal
Pasutri
di
Wilayah
Kerja
Puskesmas Lampa Kecamatan
Duampanua Kabupaten Pinrang
2013. Halaman 113.

74

ISSN 2303-1433

Jasamaniar. 2013. Faktor-faktor yang


Mempengaruhi Minat Akseptor
KB Terhadap Pemakaian Alat
Kontrasepsi Implant di Puskesmas
Simuelue Timur. Halaman 1-8.
Susanti, Mona Wowor, dkk. 2013. FaktorFaktor yang Berhubungan Dengan
Minat Ibu terhadap Penggunaan
Alat Kontrasepsi Implant di
Puskesmas Ome Kota Tidore
Kepulauan. ejournal keperawatan
(e-Kp) Volume 1. Nomor 1.
Agustus 2013. Halaman 1-5.
Rohmawati, Ely, Dkk. Perbedaan
Pengetahuan
Sebelum
Dan
Sesudah Penyuluhan Tentang
Kontrasepsi Implan Di Rw IV
Desa Wonolopo Kecamatan Mijen
Kota Semarang. Hamalan 1-9.
BKKBN. 2009. Analisa Lanjut SDKI
2007, Faktor yang Mempengaruhi
Pemakaian Kontrasepsi Jangka
Panjang
(MKJP).
Jakarta:
BKKBN.
Haska, Ardani. 2003. Hubungan Motivasi
Mahasiswa Terhadap Sadari di
Program Studi Kebidanan Kediri.
Karya
Tulis
yang
Tidak
dipublikasikan.
BPS, BKKBN, dan Kemenkes. 2012.
Laporan
Pendahuluan
Survei
Demografi
dan
Kesehatan
Indonesia (SDKI).

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

75

ISSN 2303-1433

Hubungan Tingkat Pengetahuan Penderita Hipertensi Tentang Penyakit Hipertensi Dengan


Kepatuhan Regimen Terapeutik Di Kelurahan Lirboyo Rw 03 Dan 08 Kota Kediri

ABSTRACT
In the prevention of complications of hypertension motivated by three factors:
predisposing factors include knowledge, attitudes, beliefs, values, family traditions,
contributing factors include the availability of source facilities, predisposing factors
include attitudes, behaviors of health workers, family and friends. Knowledge or cognition
is the dominant factor is very important to person's behavior to obey with the therapeutic
regimen. Methods: This study design using analytical observation, while the population in
this study are patients with hypertension who are in the Urban Village Lirboyo RW 03 and
08 of Kediri. Sample studies using total sampling, which amounted to 21 respondents.
Questionnaires given to obtain in-depth information about the level of knowledge and
compliance in hypertensive patients undergoing therapeutic regimen. Results, level of
knowledge about hypertension hypertensive patients almost all respondents (71%) good
knowledge, few respondents knowledgeable enough (29%). Therapeutic regimen
compliance majority of respondents (76%) adherence to the therapeutic regimen, a small
portion of respondents (24%) are less adherent to the therapeutic regimen. Results of the
research necessary to increase knowledge and necessary also social support, resources,
attitudes, behaviors, and motivations of people with hypertension to improve compliance
in implementing the therapeutic regimen.
Keywords: Knowledge Level, compliance
Pendahuluan
Penyakit hipertensi atau tekanan
darah tinggi merupakan tekanan darah
persisten dimana tekanan sistoliknya
diatas 140 mmHg dan tekanan
diastoliknya diatas 90 mmHg (Dalimartha,
2008). Apabila hipertensi tetap tidak
diketahui dan tidak dirawat akan
mengakibatkan kematian ( Brunner dan
Suddart, 2010: 897 ).
Penderita hipertensi di Amerika yang
diobati sebanyak 59 % dan yang
terkontrol 34 % sedangkan dinegara Eropa
penderita yang diobati hanya sebesar 27 %
dan dari jumlah tersebut 70 % tidak
terkontrol.
Penderita hipertensi di
Indonesia diperkirakan sebesar 15 juta
penduduk Indonesia yang kontrol hanya
4%. (www.health.kompas.com)
baik
dipuskesmas maupun dirumah sakit
terdapat 50% penderita hipertensi tidak
menyadari dirinya sebagai penderita
hipertensi. Terdiri dari 70% adalah
hipertensi ringan dan 90% hipertensi
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

esensial, hipertensi yang tidak diketahui


penyebabnya dilaporkan yang teratur
kontrol sebanyak 22,8 % sedangkan yang
tidak teratur kontrol sebanyak 77,2 %,
dari pasien hipertensi dengan riwayat
kontrol tidak teratur tekanan darah yang
belum terkontrol 91,7 % sedangkan yang
mengaku kontrol teratur dalam tiga bulan
terakhir mudah dilaporkan 100 % masih
mengidap penyakit hipertensi (Dewi T,
2013)
Prevalensi hipertensi secara nasional
mencapai 31,7%. Pada kelompok umur
25-34 tahun sebesar 7% naik menjadi 16%
pada kelompok umur 35-44 tahun dan
kelompok umur 65 tahun atau lebih
menjadi
29%
(Survey
Kesehatan
Nasional, 2007 dalam Eka 2011: 3)
Kediri merupakan salah satu kota
yang memiliki tingkat hipertensi tinggi
diJawa Timur yaitu sebesar 38.626
jiwayang
menyebar
di
sembilan
puskesmas yang berada di Kota Kediri
setelah Kota Pasuruan, Probolinggo dan
76

ISSN 2303-1433

Madiun yang mana hipertensi merupakan


faktor dominan terhadap kejadian stroke.
Hal ini diketahui berdasarkan data dari
Dinas Kesehatan Jawa Timur yang
menunjukkan jumlah angka hipertensi di
Jawa Timur mencapai 275.000 jiwa yang
mana memiliki faktor resiko strok.
Dalam
pencegahan
komplikasi
hipertensi dilatar belakangi oleh tiga
faktor yaitu faktor predisposisi meliputi
pengetahuan, sikap, kepercayaan, nilai,
tradisi keluarga, faktor pendukung
meliputi ketersediaan sumber fasilitas,
faktor pendorong meliputi sikap, perilaku
petugas kesehatan, anggota keluarga dan
teman dekat(Agrina,2011). Pengetahuan
atau kognitif merupakan faktor dominan
yang sangat penting dalam membentuk
tindakan seseorang (Ekarini, 2011).
Perilaku yang didasari oleh pengetahuan
akan lebih langgeng daripada perilaku
yang tidak didasari oleh pengetahuan
(Notoatmodjo, 2007: 144)
Penelitian
Mardiyati
(2009),
menunjukkan bahwa penderita hipertensi
mempunyai sikap yang buruk dalam
menjalani diet hipertensi hal tersebut
disebabkan oleh faktor pengetahuan
penderita hipertensi. Sikap merupakan
suatu tindakan aktivitas, akan tetapi
merupakan predisposisi dari perilaku.
Menurut Notoatmodjo (2007: 145),
Perilaku seseorang adalah penyebab
utama
menimbulkan
masalah
kesehatan,tetapi juga merupakan kunci
utama pemecahan. Perilaku merupakan
faktor kedua terjadi perubahan derajat
kesehatan masyarakat (Wawan, 2011).
Jadi kepatuhan dapat ditingkatkan jika
jika petugas kesehatan menjelaskan
kepada pasien mengenai nilai hasil
pengobatan dan menjelaskan bahwa
mengikuti anjuran akan mendapatkan
hasil baik dan jika pasien mengetahui
serta menyadari sistem pengobatan,
kenyakinan
pasien,
perasaan
dan
kebiasaan pasien akan meningkat dalam
mematuhi regimen dan meningkatkan
perilaku mematuhi ( Kaplan dan Saddock:
2001).
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

Berdasarkan hasil obeservasi, dari


berbagai kegiatan yang dilakukan,
antusias masyarakat (penderita hipertensi)
yang menjadi target program . Hal ini
dapat disimpulkan dari jumlah kehadiran
para penderita hipertensi pada kegiatan
posyandu lansia di kelurahan Lirboyo
diikuti
1117 orang, pada kegiatan
senam sehat penderita hipertensi hadir 10
12 peserta. Bulan Februari 2015 yang
lalu peneliti melakukan pendataan
dikelurahan Lirboyo RW 03 dan RW 08
memiliki kasus hipertensi tertinggi yaitu
70% dari penderita di Kelurahan Lirboyo
,warga yang didata merupakan penderita
hipertensi dan 5% diantaranya terkena
komplikasi
jantung
dan
stroke.
Berdasarkan studi pendahuluan kepada 12
warga RW 03 Lirboyo pada bulan
Pebruari 2015 didapatkan hasil bahwa
sembilan orang diantaranya tahu apa itu
hipertensi tapi mereka sendiri tidak
mengetahui penyebab, komplikasi dan
cara penurunan faktor resiko hipertensi
seperti apa. Untuk menurunkan angka
komplikasi
dan
kematian
akibat
hipertensi, maka pengetahuan tentang
hipertensi di RW 03 dan 08 di Kelurahan
Lirboyo penting diteliti sebagai dasar
menetapkan intervensi untuk penderita
hipertensi di RW 03 dan 08 di Kelurahan
Lirboyo Kota Kediri sehingga tidak
menimbulkan komplikasi lain ataupun
kematian.
Metode Penelitian
Penelitian ini dimulai pada bulan
Pebruari sampai bulan Maret 2015.
Penelitian ini menggunakan desain
penelitian cross sectional yaitu penelitian
observasional analitik yang dilakukan dan
diamati dalam satu waktu (Nasehudin &
Nanang 2012).
Sedangkan populasi dalam penelitian
ini adalah penderita hipertensi
yang
berada di Wilayah Kelurahan Lirboyo RW
03 dan 08 Kota Kediri. Penelitian ini
menggunakan
Total
sampling.
(Notoatmojo, 2005:89), yang berjumlah
21 responden.
77

ISSN 2303-1433

Variabel
independent
dalam
penelitian ini adalah pengetahuan
penderita hipertensi tentang penyakit
hipertensi (X), sedangkan variabel
dependentnya adalah adalah kepatuhan
regimen terapeutik. (Y). Instrumen yang
dipakai dalam penelitian ini adalah
Kuesioner
Pengetahuan
tentang
Hipertensi. Kuesioner ini berisi 15
pertanyaan dengan penjelasan pengertian,
penyebab, tanda dan gejala, komplikasi,
pencegahan, dan diet. Kuesioner ini
menjelaskan tiga kategori yaitu baik,
cukup, kurang (Wawan & Dewi 2011).
Kuesioner tentang Kepatuhan Diet
Hipertensi berisi 10 pertanyaan dengan
jawaban sangat sering, sering, kadangkadang, tidak pernah.
Pada penelitian ini untuk menguji
hubungan tingkat pengetahuan penderita
tentang Hipertensi terhadap Kepatuhan
Diet Hipertensi digunakan uji regresi
linier. Pengolahan perhitungan tersebut
menggunakan bantuan program SPSS
versi 17.
Hasil Dan Pembahasan
Karakteristik variabel disajikan pada tabel
berikut:
Tabel 1. Tingkat pengetahuan
Tingkat
F
pengetahuan
1
Baik
15
2
Cukup baik
6
Jumlah
21
Sumber : Data Primer Tahun 2015
No.

P
71%
29%
100%

Berdasarkan
hasil
penelitian
menunjukkan bahwa hampir seluruh
responden (71%) memiliki Tingkat
pengetahuan dalam kategori baik.
Tabel 2. Tingkat Kepatuhan
No.
1
2

Katogori
F
Patuh
16
Kurang Patuh
5
Jumlah
21
Sumber : Data Primer Tahun 2015

P
76%
24%
100%

Berdasarkan
hasil
penelitian
menunjukkan bahwa hampir seluruh
responden (76%) memiliki tingkat
kepatuhan dalam kategori patuh.

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

Hasil Analisis Hubungan pengetahuan


penderita Hipertensi tentang hipertensi
Terhadap
Kepatuhan Reg imen
Terapeutik
Hasil
analisis
menunjukkan
(p=0,039) sehingga Ho ditolak dan H
diterima yang berarti terdapat hubungan
antara pengetahuan penderita hipertensi
tentang penyakit hipertensi dengan
kepatuhan regimen terapeutik di kelurahan
lirboyo RW 03 dan RW 08 Kota Kediri.
Pembahasan
Pada bagian ini akan di bahas
mengenai hubungan tingkat pengetahuan
pasien hipertensi tentang penyakit
hipertensi dengan kepatuhan regimen
terapeutik.
1. Tingkat
pengetahuan
pasien
hipertensi tentang penyakit hipertensi
Tingkat
pengetahuan
pasien
hipertensi tentang penyaki hipertensi
didapatkan data hampir seluruhnya
responden mempunyai pengetahuan baik
yaitu 71%
Hal ini dipengaruhi oleh informasi
karena
menurut
hasil
penelitian
disebutkan
bahwa
sebagian
besar
responden 15 orang (71%) memperoleh
informasi sari petugas kesehatan berupa
penyuluhan. Pengetahuan adalah hasil
tahu dan ini terjadi setelah orang
melakukan pengideraan melalui suatu
objek tertentu. Penginderaan terjadi
melalui panca indera manusia yakni:
indera
penglihatan,
pendengaran,
penciuman rasa dan raba. ebagian besar
pengetahuan diperoleh melalui mata dan
telinga ( Notoatmodjo, 2003: 127 )
Dari
uraian
diatas
peneliti
berpendapat
bahwa
pengetahuan
seseorang diperoleh dari informasi karena
dengan
lebih
sering
seseorang
memperoleh informasi yang didapat
langsung tersimpan kedalam memori otak
manusia juga bertambah(Nugroho, 2003).
Sehingga ketika seseorang diberikan
rangsangan yang berupa pertanyaan pertanyaan atau kuesioner, mereka hanya

78

ISSN 2303-1433

mengingat kembali (recoll) informasi


yang tersimpan dimemori mereka.
2. Kepatuhan Regimen Terapeutik
Tingkat
kepatuhan
responden
terhadap regimen terapeutik didapatkan
data sebagian besar (76%) responden
patuh terhadap regimen terapeutik. Hal ini
dipengaruhi oleh tingkat pendidikan
responden ,Menurut
Niven (2008)
mengemukakan bahwa semakin tinggi
pendidikan seseorang tingkat kematangan
dan kekuatan seseorang akan lebih matang
dalam berfikir. Meskipun Menurut
Nugroho (2003) intelegensi seseorang
akan menurun tepat sejalan dengan
bertambahnya usia yaitu kemampuan
menerima
dan
mengingat
suatu
pengetahuan yang tentunya berpengaruh
terhadap pengetahuan yang didapat .
Dari uraian diatas dapat dijelaskan
bahwa kepatuhan regimen terapeutik
seseorang dipengaruhi oleh pendidikan.
Semakin cukup pendidikan tingkat
kematangan dan kekuatan seseorang akan
lebih matang dalam berfikir serta
menyadari betapa pentingnya mematuhi
regimen terapeutik (Ramayulis,2008).
yang
dapat
menurunkan
resiko
peningkatan tekanan darah karena mereka
yakin bahwa dengan mematuhi regimen
terapeutik akan membantu dalam proses
penyembuhan dam menjaga kestabilan
tekanan darah dalam tubuh (Palmer, 2007)
3.

Hubungan Tingkat Pengetahuan


Penderita
Hipertensi
Tentang
Penyakit
Hipertensi
Dengan
Kepatuhan Regimen Terapeutik Di
Kelurahan Lirboyo RW 03 dan 08
Kota Kediri
Berdasarkan Uji Statistik didapatkan
hasil dengan tingkat signifikan atau
probabilitas p = 0,039 maka Ho ditolak
sehingga dapat disimpulkan terdapat
hubungan antara pengetahuan penderita
hipertensi tentang penyakit hipertensi
dengan kepatuhan regimen terapeutik,
dengan koefisien korelasi 0,554 yang
artinya
terdapat
hubungan
yang
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

substansial
yaitu
hubungan
yang
mendasari pada pengetahuan dengan
kepatuhan regimen terapeutik begitu juga
sebaliknya.
Dari hasil penelitian diketahui hampir
seluruh responden berpengetahuan baik
(71%) tentang penyakit hipertensi. Lalu
sebagian besar responden patuh terhdap
regimen terapeutik (76%). Pengetahuan
merupakan hasil tau dan ini terjdi setelah
orang melakukan pengineraan terhadap
suatu objek tertentu( Widyasari, 2010).
Penginderaan terjadi melalui panca indera
manusia yakni : indera penglihatan,
pendengaran, penciuman rasa dan raba.
Sebagian besar pengetahuan manusia
diperoleh dari mata dan telinga
(Notoatmodjo, 2003). Salah sau faktor
yang mempengaruhi pengetahuan adalah
pendidikan.
Pendidikan
merupakan
bimbingan yang diberikan oleh seseorang
terhadap perkembangan orang lain menuju
kearah
suatu
cita-cita
tertentu
(Niven,2008).
Jadi
dapat
dikatakan
bahwa
pendidikan itu menuntun manusia untuk
berbuat dan mengisi kehidupanbnya untuk
mencapai keselamatan dan kebahagiaan.
Pendidikan
diperlukan
untuk
mendapatkan informasi misalnya hal-hal
yang menunjang kesehatan , sehingga
dapat
meningkatkan
kualitas
hidup(hawari,2003). Menurut Y. B
Mantra yang dikutip oleh Notoatmodjo
(1995) pendidikan dapat mempengaruhi
seseorang termasuk
juga
perilaku
seseorang akan pola hidup terutama dalam
memotivasi untuk sikap berperan serta
dalam pembangunan kesehatan. Makin
tingi pendidikan seseorang makin mudah
menerima informasi sehingga makin
banyak pula pengetahuan yang dimiliki
(agoes,2013). Dalam hal ini pengetahuan
mempengaruhi
kepatuhan
seseorang
dalam regimen terapeutik, kepatuhan
adalah sifat patuh, ketaatan dan mau
menjalani perintah yang diberikan
kepadanya ( mardiyati, 2009). Dalam hal
ini penderita mau mematuhi regimen
terapeutik yang dianjurkan( utami,2009).
79

ISSN 2303-1433

Kesimpulan
1. Tingkat pengetahuan pasien hipertensi
tentang penyakit hipertensi hampir
seluruh
responden
(71%)
berpengetahuan baik.sebagian kecil
responden
berpengetahuan
cukup
(29%). Tingkat pengetahuan yang baik
dipengaruhi oleh informasi yang
diperoleh dari petugas kesehatan
berupa penyuluhan.
2. Kepatuhan regimen terapeutik di
Kelurahan Lirboyo RW 07 dan 08 di
Kota Kediri sebagian besar responden
(76%) Patuh terhadap regimen
terapeutik, sebagian kecil responden
(24%) kurang mematuhi terhadap
regimen terapeutik.
Saran
1. Bagi Profesi Keperawatan Diharapkan
dapat
mempertahankan
tingkat
kepatuhan regimen terapeutik dan bila
perlu ditingkatkan dengan memberikan
penyuluhan yang lebih intensif.
2. Bagi peneliti selanjutnya Penelitian ini
dijadikan
sebagai
bahan
untuk
penelitian selanjutnya tentang faktorfaktor yang mempengaruhi regimen
terapeutik.
3. Bagi
Responden
Perlu
lebih
meningkatkan
lagi
kepatuhan
melakukan regimen tarapeutik secara
optimal dirumah agar tidak terjadi
kompikasi dari hipertensi.
4. Bagi
Institusi
Pendidikan
Mempertahankan sistem pendidikian
dan kurikulum yang ada dan bila perlu
institusi
memberikan
pengapdian
masyarakat dalam bentuk penyuluhan
hipertensi.
Daftar Pustaka
Agoes, A dkk 2013, Hubungan Tingkat
Pengetahuan
tentang
Faktor
Resiko
Hipertensi
dengan
Kejadian Hipertensi Pada Lansia
di Dinoyo RW II Malang, diakses
Juli 2013

Arikunto2010, Prosedur Penelirian Suatu


Pendekatan Praktek, (Edisi revisi
2010), RinekaCipta, Jakarta
Dalimartha, Setiawan 2008, Care You Self
Hipertensi, Penebar Plus,Jakarta
Ekarini, Diyah 2011. Faktor-Faktor yang
Berhubungan dengan Tingkat
Kepatuhan Klien Hipertensi dalam
Menjalani
Pengobatan
di
Puskesmas
Gondangrejo
Karanganyar, diakses selama
tahun 2011
Fisher, NDL & Gordon, HW 2005,
Hypertensive Vascular Disease
dalam Harrisons Principles of
Internal Medicine 16thedition, Me
Graw-Hill Profesional, USA
Gunawan, Lany 2004, Hipertensi Tekanan
Darah Tinggi, Kanisius Media,
Yogyakarta
Hawari, Dadang 2003, Manajemen Stres,
Cemas, dan Depresi, Fakultas
Kedokteran
Universitas
Indonesia,Jakarta
Hidayat, A 2007, Metode Penelitian dan
Teknik Analisa Data, Salemba
Medika, Jakarta
Mardiyati, Y 2009.Hubungan Tingkat
Pengetahuan Penderita Hipertensi
dengan Sikap Menjalani Diet
Hiperte nsi di Puskesmas Ngawen
1 Kabupaten Gunung kidu
lProvinsi
D.I.Y,
Universitas
Muhamadiyah Surakarta
Megarani, AM 2007, Pada 2025
Seperlima Penduduk Indonesia
Lansia,www.Tempointeraktif.com,
Diakses tanggal 20 Oktober 2009
Murwani, A & Wiwin, P 2010, Gerontik
Konsep Dasar dan Asuhan
Keperawatan Home Care dan

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

80

ISSN 2303-1433

Komunitas,
Yogyakarta
Niven

Fitramaya,

2008, Psikologi Kesehatan


:Pengantar untuk Perawat dan
Profesional, EGC, Jakarta

Notoatmojo,
S
2005,
Metodologi
Penelitian
Kesehatan,
Edisi
Revisi, Rineka Cipta, Jakarta
Notoatmojo,
S2012.
Promosi
Kesehatandan Perilaku Kesehatan,
PT. Rinek a Cipta, Jakarta
Nugroho,
W
2003,
Keperawatan
Gerontik, EGC, Jakarta
Nursalam 2008, Konsep dan Penerapan
Metodologi
Penelitian
Ilmu
Keperawatan, Salemba Medika,
Jakarta
Statistik,
Indonesia
2010,
http://www.datastatistikindonesia.com, Diakses tanggal 2
Oktober 2009
Sugiyono 2013, Metode Penelitian
Kuantitatif Kualitatif Dan R&D,
Alfabeta, Bandung
Utami,

Prapti 2009, Solusi Sehat


Mengatasi Hipertensi, Agromedia
Pustaka, Jakarta

Wawan, A & Dewi, M 2011, Teori &


Pengukuran Pengetahuan, Sikap,
dan
Perilaku
Manusia,Nuha
Medika, Yogyakarta
Widyasari, DF & Anika, C 2010,
Pengaruh Pendidikan tentang
Hipertensi
Terhadap Perubahan Pengetahuan dan
Sikap Lansia di Desa Makamhaji
Kartasura
Sukoharjo,Diakses
tanggal 20 Februari 2010

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

81

ISSN 2303-1433

Hubungan Kadar Hb Ibu Inpartu Terhadap Kejadian BBLR di RSUD Kabupeten


Nganjuk Periode Bulan Maret-April Tahun 2013
(Relation of the Hemoglobin Rate Inpartu Mother Against Low Birth Weight in Nganjuk
District The Period Month Of March-April 2013)
Eny Sendra, Clairine Maretha Martin Putra
Poltekkes Kemenkes Malang
Prodi Kebidanan Kediri Jl.KH.Wakhid Hasyim 64 B Kediri
ABSTRACT
The report of the Health Office District/City Health on 2012, It is known that the
number of LBW baby in East Java is 3,32% .And the number of LBW birth in Kediri is
2,24% . There are lower than the rate of LBW births in Nganjuk. The LBW births in
Nganjuk is 3.39%. There found 260 cases in 2012 and 272 cases in 2013. LBW is one of
the biggest causes of neonatal death. LBW can be caused by many factors, There are
maternal factors, fetal factors, placental factors and eviromental. The purpose of this study
is for knowing relation hemoglobin rate inpartu mother against the incidence of low birth
weight. The population of this study used 31 respondent who mother give birth to LBW
baby by simple Random sampling techniques, It get 29 sample of mother who give birth to
LBW baby. These variables of study are measured by documentation guideline, the results
of the status medical record patients. This study method use Cross Sectional design by
independent variable of hemoglobin rate inpartu mother and dependent variable of the
incidence of LBW by using the Spearman Rank Test. The result from Spearman Rank
analysis there was not relation Hb rate inpartu mother against incidence of low birth weight
( calculate = - 0,031 and table 5% = 1,699 so calculate < table) so it can be
concluded that Ho is accepted at significance level 0.05. It can conclude so there is no
relation Hb rate inpartu mother against incident of low birth weight.
Keywords: low birth weight, maternal Hb inpartu
Pendahuluan
Kehamilan adalah masa di mana
seorang wanita memiliki janin yang
sedang tumbuh di dalam tubuhnya. Dan
saat itu pula, kebutuhan makanan bergizi
perlu ditingkatkan. Karena pada saat itu,
ibu hamil bukan hanya makan untuk
dirinya saja, namun juga untuk janin yang
ada di perutnya. Selama kehamilan,
jumlah makanan menjadi penting, yang
paling penting adalah makan-makanan
bergizi (Sinsin, 2008).
Untuk mencapai sasaran Millenium
Development Goals (MDGs), yaitu Angka
Kematian Bayi (AKB) menjadi 23 per
1.000 KH pada tahun 2015, perlu upaya
percepatan yang lebih besar dan kerja
keras karena kondisi saat ini, AKB 34 per
1.000 KH. Salah satu penyebab AKB
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

disebabkan dari berat bayi lahir tidak


normal (MDGS, 2010).
Diketahui bahwa jumlah bayi dengan
Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) di
Jawa Timur mencapai 3,32% yang
diperoleh dari persentase 19.712 bayi dari
594.461 bayi baru lahir yang ditimbang.
Untuk jumlah kelahiran BBLR di
Kabupaten Kediri yaitu 2,24%. Angka
kelahiran
tersebut
lebih
rendah
dibandingkan dengan angka kelahiran
BBLR di Kabupaten Nganjuk yaitu 3,39
%. Berdasarkan Laporan Tribulan (LB3)
tahun 2012 Kesehatan Ibu dan Anak
(Seksi Kesehatan Keluarga Dinas
Kesehatan
Provinsi
Jawa
Timur),
kematian neonatal yang disebabkan oleh
BBLR mencapai 38,03% dan ini
merupakan angka tertinggi dibandingkan
82

ISSN 2303-1433

penyebab lainnya. BBLR merupakan


salah satu penyebab kematian neonatal.
Dari Studi Pendahuluan yang
dilakukan di RSUD Nganjuk ditemukan
bahwa jumlah bayi yang lahir dengan
berat badan lahir rendah pada tahun 2012
ada 260 kasus dari 2484 jumlah
persalinan. Pada tahun 2013 di temukan
272 kasus dari 1068 jumlah persalinan.
Menurut Fraser dan Cooper (2011 :
763) mengatakan bahwa salah satu
penyebab
hambatan
pertumbuhan
intrauterine adalah kadar hemoglobin
yang kurang dalam darah. Sehinga kadar
hemoglobin yang kurang dalam darah
juga dapat menghambat pertumbuhan
janin dalam kandungan.
Pengukuran
kadar
Hb
untuk
mengetahui kondisi ibu apakah ibu
menderita anemia gizi besi. (Fraser dan
Cooper, 2011 : ).
Dengan mengukur Kadar Hb dapat
diketahui anemia gizi atau tidaknya
seseorang . Dengan mengambil sedikit
darah di ujung jari, kadar Hb dapat dengan
mudah diketahui. Pada kehamilan
trimester
tiga
hingga
menjelang
persalinan, wanita hamil seringkali
terkena anemia, karena pada masa ini
janin menimbun cadangan zat besi untuk
dirinya sendiri sebagai persediaan bulan
pertama sesudah lahir (Sinsin,2008).
Menurut WHO kematian ibu yang
disebabkan oleh defisiensi besi dan
perdarahan akut mencapai 40 %. Kadar
Hb yang kurang pada wanita hamil dan
berlangsung
hingga
kepersalinan
merupakan masalah kesehatan yang
dialami oleh seluruh wanita di dunia
terumata
di
negara
berkembang
(Indonesia).
Laporan
dari
WHO
mengatakan 35-75% wanita hamil
mengalami defisiensi serta meningkat
seiring dengan bertambahnya usia
kehamilan. Kadar Hb yang kurang dalam
kehamilan meningkatkan resiko kematian
maternal,
angka
prematuritas,
peningkatkan angka kematian perinatal,
dan kelahiran BBLR. Banyak faktor yang
menyebabkan timbulnya anemia antara
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

lain dikarenakan kurang gizi


dan
kurangnya asupan zat besi dan protein dari
makanan
(Rukiyah,
Yeyeh
dan
Yulianti,2010).
Low first-trimester hemoglobin and
low birth weight, preterm birth and small
for gestational age newborn. : Ren A,
Wang J, Ye R.W, dkk (2007) bahwa
wanita dengan Hb 80-99 g/L memiliki
pengaruh signifikan yang tinggi terhadap
kejadian BBLR, kehamilan cukup bulan
dan kecil masa kehamilan dari pada
wanita yang memiliki Hb 100-119 g/L.
dan Tidak ada peningkatan risiko tercatat
untuk wanita dengan Hb 120 g / L.
Preconception
Hemoglobin
and
Ferritin Concentrations Are Associated
with Pregnancy Outcome in a Prospective
Cohort of Chinese Women. : Ronnenberg
Alayne G, Wood Richard J, Wang
Xiaobin, dkk (2004) bahwa anemia
Prenatal dan kekurangan zat besi memiliki
hubungan yang merugikan dengan hasil
kelahiran, peneliti meneliti hubungan
antara anemia prakonsepsi , kekurangan
zat besi , dan hasil akhir kehamilan pada
wanita yang sehat pada 405 perempuan
Cina yang diteliti ( waktu median dari
koleksi sampel untuk kehamilan akhir 316
) . Keduanya ringan ( 95 Hb < 120 ) g /
L dan moderat Hb ( < 95 g / L ) anemia
secara signifikan terkait dengan berat lahir
rendah ( 139 dan 192 g , masing-masing) ;
besi - anemia defisiensi sendiri ( Hb < 120
g , feritin < 12 mikrogram / L , ada
kekurangan vitamin B ) dikaitkan dengan
242 g penurunan berat lahir . Keduanya
rendah ( < 12 mikro gram / L ) dan tinggi
( 60 mikrogram / L ) . Prasangka ,
khususnya anemia defisiensi besi ,
dikaitkan
dengan
mengurangi
pertumbuhan bayi dan meningkatkan
risiko hasil kehamilan yang merugikan
pada wanita Cina.
Penelitian yang dilakukan oleh
Rahayu W. (2005) , menunjukkan bahwa
sebanyak 40 ibu hamil dan 40 janin
diperoleh bayi dengan Berat Bayi Lahir
Normal (BBLN) yang dilahirkan dari ibu
hamil yang sukses dalam pencapaian
83

ISSN 2303-1433

Metode Penelitian.
Desain penelitian ini menggunakan
metode survei analitik dengan rancangan
Cross
Sectional. Penelitian
Cross
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

Sectional. Dalam penelitian ini, variabel


terikat (berat badan lahir rendah) dan
variabel bebas (kadar Hb) akan diamati
dalam waktu yang sama dan dinilai hanya
satu kali tanpa adanya tindak lanjut.
Populasi dalam penelitian ini adalah
31 ibu yang melahirkan bayi dengan berat
badan lahir rendah di RSUD Nganjuk
Periode Maret-April Tahun 2013.
Sampel dari penelitian ini sebanyak
29 ibu yang melahirkan BBLR di RSUD
Nganjuk dengan teknik pengambilan
sampel dengan menggunakan Simple
Random
Sampling.Analisis
data
univariate (analisis deskriptif) untuk
menjelaskan
atau
mendeskripsikan
karakteristik setiap variabel penelitian.
Peneliti melakukan uji statistik
dengan
Spearman
Rank
untuk
menganalisis data antara Kadar Hb Ibu
Inpartu dengan Kejadian BBLR adalah
Spearman Rank dengan taraf signifikansi
0,05.
Hasil Penelitian
Data Umum
1. Usia Ibu Inpartu
Usia Ibu Inpartu Yang Melahirkan
bayi BBLR di RSUD Nganjuk dapat
dilihat pada diagram batang sebagai
berikut :
76%

80%

Persentasi usia
responden

kadar hemoglobin harapan sebesar 100%


dan yang gagal dalam pencapaian kadar
hemoglobin harapan sebesar 61,5%
diperoleh bayi dengan Berat Bayi Lahir
Rendah (BBLR) yang dilahirkan dari ibu
hamil yang sukses dalam pencapaian
kadar hemoglobin harapan sebesar 0%
dan yang gagal dalam pencapaia kadar
hemoglobin harapan sebesar 38,5%.
Berdasarkan studi pendahuluan di
RSUD Nganjuk pada bulan Januari 2013,
didapatkan 14 ibu inpartu yang di tes
kadar Hemoglobin, dimana jumlah ibu
inpartu yang melahirkan bayi BBLR
dengan kadar hemoglobin di bawah
normal ada 7 orang dan sisanya (7 orang )
dengan kadar hemoglobin normal
melahirkan bayi dengan BBLR. Pada
bulan Februari didapatkan 18 ibu inpartu
yang di tes kadar hemoglobin, dimana
jumlah ibu inpartu yang melahirkan bayi
BBLR dengan kadar hemoglobin di
bawah normal ada 6 orang dan 12 orang
lainnya melahirkan bayi BBLR dengan
kadar hemoglobin normal.
Ketika ibu mulai hamil maka perlu
ditingkatkan pelayanan / asuhan antenatal
untuk memeriksakan sedini mungkin,
diperlukan pula monitoring untuk
mendukung kesehatan ibu hamil serta
mendeteksi kehamilan ibu hamil agar
berjalan secara normal tanpa ada
komplikasi hingga menjelang persalinan
(Prawirohardjo, Sarwono, 2010).
Kadar hemoglobin yang kurang
dalam darah juga dapat menghambat
pertumbuhan janin dalam kandungan,
kadar hemoglobin yang kurang ketika
menjelang persalinan
menunjukkan
bahwa
selama
kehamilan
kadar
hemoglobin
dalam
darah
ibu
kemungkinan juga akan berkurang, hal ini
merupakan salah satu yang bisa
menyebabkan kelahiran bayi dengan Berat
Badan Lahir Rendah.

60%
40%
20%

24%
0%

0%
< 20

20-35
> 35
usia ibu (tahun)

Berdasarkan diagram diatas diketahui


bahwa dari 29 ibu inpartu, sebagian besar
ibu inpartu yaitu 76% berusia 20-35
tahun.

84

ISSN 2303-1433

70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%

62%

4. Penyulit
Penyulit Ibu Inpartu Yang Melahirkan
bayi BBLR di RSUD Nganjuk dapat
dilihat pada diagram batang sebagai
berikut :

38%

Persentasi Penyulit

Persentasi Graviditas

2. Graviditas
Graviditas
Ibu
Inpartu
Yang
Melahirkan bayi BBLR di RSUD Nganjuk
dapat dilihat pada diagram batang sebagai
berikut :

0%

55%

60%

45%

40%
20%
0%

Ada penyulit

Penyulit

Graviditas

Persentasi Usia Kehamilan

3. Usia Kehamilan
Usia Kehamilan Ibu Inpartu Yang
Melahirkan bayi BBLRdi RSUD Nganjuk
dapat dilihat pada diagram
batang
sebagai berikut :
55%
38%

7%
Premature
(< 37
minggu)

Aterm
(37-42
minggu)

Postdate
(> 42
minggu)

Usia Kehamilan

Berdasarkan diagram diatas diketahui


bahwa dari 29 ibu inpartu, lebih dari
setengah ibu inpartu yaitu 55% ada
penyulit. Penyulit tersebut ialah yaitu 4
responden dengan PEB, 7 responden
dengan PER, 2 responden dengan plasenta
previa, 1 responden dengan KPD, 1
responden
dengan
KPD+PER,
1
responden dengan PER+Plasenta Previa.
Data Khusus
1. Kadar Hb Ibu Inpartu
Kadar Hb Ibu Inpartu Yang
Melahirkan bayi BBLR di RSUD Nganjuk
dapat dilihat pada diagram batang sebagai
berikut :
Persentase Kadar Hb Ibu

Berdasarkan diagram diatas diketahui


bahwa dari 29 ibu inpartu, sebagian besar
ibu
inpartu
yaitu
62%
adalah
multigravida.

60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%

Tidak ada
penyulit

80%

75.9%

60%
40%
17.2%

20%

6.9%

0%

Berdasarkan diagram diatas diketahui


bahwa dari 29 ibu inpartu, lebih dari
setengah ibu inpartu yaitu 55% memiliki
usia kehamilan aterm.

kadar Hb
11 gr%

kadar Hb
10-<11 gr% kadar Hb 89,9 gr%

Kadar Hb Ibu

Berdasarkan
diagram
daiatas
diketahui bahwa dari 29 ibu inpartu,
sebagian besar ibu inpartu yaitu 75.9%
memiliki kadar Hb 11gr%.
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

85

ISSN 2303-1433

Persentasi kejadian BBLR

2. BBLR (Berat Badan Lahir Rendah)


Ibu Inpartu yang melahirkan bayi
BBLR di RSUD Nganjuk dapat dilihat
pada diagram batang sebagai berikut :
100%

93. 1%

80%
60%
40%
20%

6.9%
0%

0%
BBLR

BBLSR

BBLER

Klasifikasi BBLR

Berdasarkan diagram diatas diketahui


bahwa dari 29 ibu inpartu yang
melahirkan bayi dengan BBLR, mayoritas
melahirkan bayi BBLR yaitu 93,1 %
dengan klasifikasi bayi BBLR yaitu berat
dibawah 2500 gram.
3. Hubungan Kadar Hb Ibu Inpartu
Terhadap Kejadian BBLR di RSUD
Kabupaten Nganjuk.
Berikut hasil analisis data hubungan
kadar Hb Ibu Inpartu Terhadap Kejadian
BBLR di RSUD kabupaten Nganjuk.
Maka dengan menggunakan rumus
korelasi spearman maka dapat dihitung
hasil koefisien korelasi Spearman Rank
(Lampiran 9 dan 10hal : 58-59 )
Dari hasil perhitungan didapatkan
nilai hitung = 0,031 < tabel pada taraf
signifikansi 5 % = 0,3705 , maka dapat
disimpulkan Ho diterima pada derajat
kemaknaan 0,05 artinya tidak ada
hubungan kadar Hb ibu inpartu dengan
kejadian berat badan lahir rendah.
Pembahasan
1. Mengidentifikasi Kadar Hemoglobin
Ibu Inpartu
Hasil Penelitian menunjukkan dari 29
ibu inpartu sebagian besar ibu inpartu
yaitu 75.9% memiliki kadar Hb 11gr%,

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

17,2% memiliki kadar Hb 10-<11gr% dan


6,9% memiliki kadar Hb 8-9,9g%.
Menurut Bakta (2013) bahwa bila
kadar Hb 11 gr% maka tidak anemia,
bila kadar Hb 10 gr% sampai< 11 gr%
disebut anemia ringan sekali, bila kadar
Hb berkisar antara8gr % sampai 9,9 gr %
maka terkena penyakit anemia ringan,
bila kadar 6 gr sampai 7,9 gr % maka
terkena penyakitanemia sedang dan
apabila memiliki kadar Hb< 6 gr% maka
mengalami penyakit anemia berat.
Dari penjelasan diatas dapat diketahui
bahwa
hasil penelitian yang telah
dilakukan di RSUD Kabupaten Nganjuk
diketahui ada 75,9% ibu yang tidak
anemia dan ada 17,2% ibu tersebut
terkena anemia ringan sekali, serta sisanya
ada 6,9%ibu terkena anemia ringan. Hal
ini menunjukkan bahwa kadar Hb yang
dimiliki selama hamil hingga menjelang
bersalin tidak terlalu buruk karena kadar
Hb yang dimiliki hanya menunjukkan
anemia dengan batas ringan tidak sampai
pada anemia berat.
Menurut Manuaba (2007), kadar Hb
dapat mempengaruhi hambatan tumbuh
kembang janin dalam rahim. Menurut
Proverawati dan Sulistyorini (2010),
faktor yang mempengaruhi BBLR yaitu
faktor ibu, faktor janin, faktor plasenta
dan faktor lingkungan.
Kadar Hb ibu inpartu termasuk dalam
faktor ibu yang dapat mempengaruhi
kelahiran bayi BBLR. Kurangnya kadar
Hb biasanya disebabkan kurangnya zat
besi. Zat besi banyak dijumpai pada
makanan yang bergizi.Selama kehamilan
hingga menjelang persalinan seorang ibu
harus memiliki gizi yang cukup, karena
gizi yang didapat dipergunakan untuk
dirinya sendiri dan juga janinnya. Bila zat
besi kurang selama kehamilan hingga
persalinan, maka akan mempengaruhi
pertumbuhan bayi dalam rahim.
Menurut Prasasti, S (2004) Hasil
penelitiannya menunjukkan 44,0% ibu
hamil menderita anemia dan 56,0%tidak
menderita anemia. Selain itu diperoleh
72,0% ibu hamil melahirkanbayi dengan
86

ISSN 2303-1433

berat bayi normal dan sisanya 28,0%


melahirkan berat bayilahir rendah.
Ibu hamil yang Hbnya rendah dapat
membahayakan jiwa ibu yaitu risiko
perdarahan sebelum dan pada saat
persalinan, bahkan dapat menyebabkan
kematian ibu. Ibu yang melahirkan bayi
dengan BBLR tidak selalu memiliki kadar
Hb yang rendah. Bila ibu hingga
menjelang persalinan (inpartu) memiliki
kadar hemoglobin yang rendah maka ibu
tersebut memiliki resiko untuk melahiran
bayi dengan BBLR, masih banyak resiko
lainnya yang dapat mempengaruhi
kelahiran bayi dengan BBLR yaitu faktor
ibu , faktor janin, faktor plasenta dan
faktor lingkungan.
2. Mengidentifikasi Kejadian Berat
Badan Lahir Rendah
Hasil Penelitian menunjukkan dari 29
ibu inpartu yang melahirkan bayi dengan
BBLR, mayoritas melahirkan bayi
klasifikasi BBLR yaitu 93,1 %, 6,9%
dengan klasifikasi bayi BBLSR dan tidak
ada satupun bayi dalam klasifikasi
BBLER (0%).
Menurut Fraser dan Cooper (2011)
menyatakan, bahwa bayi BBLRadalah
bayi dengan berat badan dibawah 2500 g
pada saat lahir, sedangkan BBLSR adalah
bayi dengan berat badan dibawah1500g
pada saat lahir.Klasifikasi berat badan
lahir rendah di RSUD Kabupaten Nganjuk
terdiri dari berat badan dibawah 2500 g
dan berat badan dibawah 1500 g.
Menurut Prawirohardjo, S (2009)
bayi BBLR terdiri dari premature dan
cukup bulan (dismatur).
Kelahiran Berat Badan Lahir Rendah
bisa juga dikarenakan dari kelahiran
premature dan mungkin juga karena
cukup bulan. Bayi lahir premature yaitu
bayi yang lahir dengan usia kehamilan
kurang dari 37 minggu sehingga sebagian
besar organ tubuhnya juga belum
berfungsi dengan baik sehingga biasanya
berat badannya kurang dari normal.
Sedangkan bayi yang lahir dengan berat
badan rendah dari usia cukup bulan yaitu
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

bayi yang lahir dengan usia kehamilan 3742 minggu dimana bayi tersebut
mengalami masalah gizi dalam rahim
sehingga berat badan yang dihasilkan
kurang dari normal.
Menurut Darmayanti, dkk (2010)
Hasil analisis bivariabel menunjukkan
bahwa umur kehamilan preterm memiliki
risiko12,7 kali bayi lahir dengan BBLR
dan
analisisregresi
ganda
logistik
menunjukkan
umurkehamilan
tetap
berpengaruh terhadap risikoBBLR.
Hal ini tidak sama dengan hasil
penelitian yang terjadi di RSUD
Kabupaten Nganjuk dimana lebih dari
setengan ibu inpartu yang melahirkan bayi
BBLR memiliki usia kehamilan aterm
(37-42minggu).
3. Menganalisis Hubungan Kadar Hb
Ibu Inpartu Terhadap Kejadian
Berat Badan Lahir Rendah
Berdasarkan uji statistik dengan
menggunakan uji Spearman Rank dapat
ditarik kesimpulan bahwa data dari
penelitian ini menunjukkan tidak adanya
hubungan antara kadar Hb ibu inpartu
terhadap
kejadian
BBLR
yang
ditunjukkan
dengan
nilai

dimana nilai
hitung lebih kecil dibandingkan dengan
nilai
tabel = 0,3705, sehingga dapat
ditarik
kesimpulan
tidak
adanya
Hubungan Kadar Hb Ibu Inpartu Terhadap
Kejadian BBLR di RSUD Kabupaten
Nganjuk Periode Maret-April Tahun
2013.
Dari data sebelumnya dapat dilihat
bahwa sebagian besar ibu inpartu 75,9%
memiliki kadar Hb normal dan mayoritas
ibu inpartu melahirkan bayi BBLR yaitu
93,1 % dengan klasifikasi bayi BBLR
yaitu berat dibawah 2500 gram.
Pada kadar Hb 11 gr%
menunjukkan karakteristik 8 bayi yang
lahir dengan berat badan 2200, 6 bayi
yang lahir dengan berat badan 2400 gram,
2 bayi yang lahir dengan berat badan
2300gr ,2 bayi yang lahir dengan berat
badan2100, serta masing-masing 1 bayi
87

ISSN 2303-1433

yang lahir dengan berat badan 1700 gr,


1600gr, 1500 gr, dan 1300 gr. Pada kadar
Hb 10 sampai < 11 gr% karakteristik bayi
yang dilahirkan yaitu 2 bayi yang lahir
dengan berat badan 2400 gr dan sisanya
masing-masing 1 bayi lahir dengan berat
badan 2350 g, 1300g, dan 1800g dan Pada
kadar Hb 8-9,9gr% memiliki berat badan
2400 gr dan 2100 gr.
Dari hasil tersebut di atas jelas tidak
ada kaitannya kadar Hb yang rendah
menghasilkan berat badan yang kurang.
Pada kadar Hb 8-9,9 gr% menunjukkan
berat badan yang lebih baik dibandingkan
dengan kadar Hb 10 sampai < 11 gr
%.Dari data ini jelas terlihat bahwa
sebagian besar ibu inpartu yang
melahirkan bayi berat badan lahir rendah
memiliki kadar Hb yang normal yaitu
kadar Hb 11 gr%. Teori Manuaba
(2007) tidak mendukung hasil di atas
dengan pernyataannya , bila kadar Hb ibu
hamil kurang dari normal maka dapat
mempengaruhi
hambatan
tumbuh
kembang janin dalam rahim. Dengan kata
lain bahwa tidak selalu ibu yang
melahirkan bayi dengan berat badan lahir
rendah selalu memiliki kadar Hb yang
rendah.
Hasil penelitian ini juga diperkuat
dengan penelitian dari Setiawan, A dkk
(2013) yang menyatakan , rata-rata kadar
hemoglobin ibu hamil trimester III adalah
11,16 gr/dl dan ditemukan ibu hamil yang
mengalami anemia sebesar 31,25%. Ratarata berat bayi lahir pada penelitian adalah
3.103 gram dan ditemukan bayi yang
mempunyai berat lahir rendah sebesar
3,1% sehingga kesimpulannya tidak
ditemukan adanya hubungan kadar
hemoglobin ibu hamil trimester III dengan
berat bayi lahir di kota Pariaman, dimana
kadar hemoglobin yang di ukur pada ibu
hamil trimester III ini juga kurang
lebihnya sama dengan kadar hemoglobin
ibu inpartu.
Terdapat
faktor-faktor
yang
mempengaruhi terjadinya BBLR, menurut
pernyataan
Proverawati
dan
Sulistyorini(2010) bahwa faktor-faktor
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

yang mempengaruhi terjadinya BBLR


terdiri dari berbagai macam faktor .Faktor
faktor tersebut bisa berupa dari faktor
ibu yaitu berupa penyakit atau komplikasi
selama kehamilan seperti Perdarahan
antepartum, hipertensi, preeklampsia
berat,
eklampsia,
infeksi
selama
kehamilan (infeksi kandung kemih dan
ginjal, malaria, HIV/AIDS, ibu dengan
usia < 20 tahun atau lebih dari 35 tahun,
ibu yang mempunyai riwayat BBLR,
keadaan sosial ekonomi yang kurang, ibu
perokok / minum alkohol. Faktor lainnya
yaitu faktor janin, faktor plasenta dan
faktor lingkungan.
Menurut Darmayanti, dkk (2010)
menyatakan variabel yang memiliki nilai
signifikan terhadap risikoterjadinya BBLR
adalah umur kehamilan, paritas,hipertensi
dalam kehamilan, riwayat preterm
danprenatal care. Variabel yang tidak
signifikan adalahusia, jarak kehamilan,
riwayat BBLR, anemia danjenis kelamin
bayi.
Pernyataan dari Darmayanti, dkk.
2010 nampaknya memiliki sedikit
persamaan dari hasil penelitian di RSUD
Kabupaten Nganjuk.Dimana lebih dari
setengah ibu inpartu yaitu 55% ada
penyulit. Adanya penyulit misalnya
seperti hipertensi/preeklasmpsia dan tidak
adanya resiko dari usia ibu menyebabkan
kelahiran BBLR. Penyulit tersebut ialah
(Lampiran 7 halaman 56) yaitu 4
responden dengan PEB, 7 responden
dengan PER, 2 responden dengan plasenta
previa, 1 responden dengan KPD, 1
responden
dengan
KPD+PER,
1
responden dengan PER+Plasenta Previa.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang
telah dilaksanakan di RSUD Kabupaten
Nganjuk, dapat ditarik kesimpulan sebagai
berikut:
1. Sebagian besar ibu inpartu yang
melahirkan bayi BBLR di RSUD
Kabupaten Nganjuk Periode Bulan
Maret-April Tahun 2013 memiliki
kadar hemoglobin normal.
88

ISSN 2303-1433

2. Mayoritas ibu inpartu yang melahirkan


bayi BBLR
di RSUD Kabupaten
Nganjuk Periode Bulan Maret-April
Tahun 2013 melahirkan bayi BBLR
dengan klasifikasi bayi BBLR (berat
dibawah 2500g)
3. Tidak ada hubungan antara kadar Hb
ibu inpartu terhadap kejadian BBLR di
RSUD Kabupaten Nganjuk Periode
Bulan Maret-April Tahun 2013
Daftar Pustaka

Adriani, M dan Wirjatmadi, B. 2012 .


Peranan Gizi Dalam Siklus
Kehidupan.
Jakarta
Kencana
Prenada Media Group.
Alisjahbana, Armida S, dkk. 2010.
Laporan Pencapaian
Tujuan
Pembangunan Milenium Indonesia
2010
:
BAPPENAS.<
http://gizi.depkes.go.id/wpcontent/uploads/2011/10/lappemb-milenium-ind-2010.pdf
>
akses tanggal 01-02-2014.
Asmadi. 2008. Teknik Prosedural Konsep
dan Aplikasi Kebutuhan Dasar
Klien. Jakarta : Salemba Medika.
Bakta, I. 2013. Hematologi Klinik
Ringkas. Jakarta : EGC.
Darmayanti, dkk. 2010. Pengaruh
Kenaikan Berat Badan Rata
Rata
Per
Minggu
Pada
Kehamilan Trimester Ii Dan III
Terhadap RisikoBerat Bayi Lahir
Rendah.
<jurnal.ugm.ac.id/bkm/article/view
/3481/3008> akses tanggal 5-82014.
Fraser, D. M. dan Cooper M. A. 2011.
Buku Ajar Bidan Myles. Jakarta :
EGC.
Hidayat, A. A. A. 2007. Metode
Penelitian Kebidanan
Teknik
Analisa
Data.
Jakarta
:
Salemba Medika.
J, A.Ren, dkk. 2007. Low First-Trimester
Hemoglobin And Low Birth
Weight, Preterm Birth And Small
For Gestational Age Newborns.
<http://ac.els-

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

dn.com/S0020729207002962/1s2.0-S0020729207002962main.pdf?tid=67803e72-a15911e3bcaa00000aacb35d&acdnat=1393
6892910ce4e8fc1ee3acd
45212cdf74a39330b>.
akses
tanggal 01-03-2014 jam 23.46
WIB .
Manuaba, dkk. 2007. Pengantar Kuliah
Obstetri. Jakarta : EGC
Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi
Penelitian Kesehatan. Jakarta
:PT.RINEKA CIPTA.
Nursalam, 2008. Konsep Dan Penerapan
Metodologi
Penelitian
Ilmu
Keperawatan. Jakarta : Salemba
Medika.
, 2009. Konsep Dan Penerapan
Metodologi
Penelitian
Ilmu
Keperawatan. Jakarta : Salemba
Medika.
, 2011. Konsep Dan Penerapan
Metodologi
Penelitian
Ilmu
Keperawatan. Jakarta : Salemba
Medika.
Prasasti, S. Hubungan Kadar Hb Ibu
Hamil Trimester III Dengan Berat
Bayi Lahir Di Wilayah Puskesmas
Boyolali II Kecamatan Boyolali
Kabupaten
Boyolali
Tahun2014.<http://www.fkm.undi
p.ac.id/data/index.php?action=4&i
dx=225> akses tanggal 15-7-2014
Prawirohardjo, S. 2010.
Pelayanan
Kesehatan Maternal dan Neonatal.
Jakarta : Yayasan Bina Pustaka.
Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur.
2012
.
<
http://dinkes.jatimprov.go.id/userfi
le/dokumen/1380615402_PROFIL
_KESEHATAN_PROVINSI_JAW
ATIMUR_2012.pdf akses tanggal
01-01-2014 jam 23.21 WIB.
Proverawati, A. dan Sulistyorini, C. I.
2010.
Berat
Badan
Lahir
Rendah.Yogyakarta:
Nuha
Medika.

89

ISSN 2303-1433

Rahayu, D. E, dkk. 2013. Pedoman Ujan


Akhir Program (UAP) Jurusan
Kebidanan Poltekkes Malang.
Rahayu, W.
2005.
Hubungan
Pencapaian Kadar Hemoglobin
Harapan Ibu Hamil Trimester III
Dengan Berat Bayi Lahir Di
Rumah Sakit Umum Pelayanan
Kesejahteraan
Umat
(PKU)
Muhammadiyah
Delanngu
Kabupaten
Klaten.
<
http://eprints.undip.ac.id/10032/1/2
638.pdf>. akses tanggal 01-032014.
Ronnenberg,
A.G,
dkk.
2004.
Preconception Hemoglobin and
Ferritin
Concentrations
Are
Associated
with
Pregnancy
Outcome in a Prospective Cohort
of
Chinese
Women.
<
http://search.proquest.com.ezproxy
.ugm.ac.id/docview/197452260/ful
ltextPDF/2E8E2C44C7E34E46PQ
/1?accountid=13771 akses tanggal
01-03-2014 jam 23.46 WIB>.
Rukiyah, Ai Yeyeh dan Lia Yulianti.
2010. Asuhan Kebidanan 4
(Patologi). Jakarta :CV.Trans Info
Media.
Sacher, R. A dan McPherson, R.A. 2004.
Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan
Laboratorium. Jakarta : EGC
Sari, Reni dan Wulan. 2008. Dangerous
Junk Food. Yogyakarta : O2
Saryono dan
Mekar D A. 2013.
Metodologi Penelitian Kualitatif dan
Kuantitatif
Dalam
Bidang
Kesehatan. Yogyakarta : Nuha
Medika.
Setiawan, A, dkk. 2013. Hubungan Kadar
Hemoglobin Ibu Hamil Trimester III
Dengan Berat
Bayi Lahir di
Kota
Pariaman.
<http://jurnal.fk.unand.ac.id>.akse
s tanggal 15-7-2014
Sinsin, I. 2008. Masa Kehamilan Dan
Persalinan. Jakarta : PT. Elex Media
Komputindo
Sofro, A.S.M. 2011. Darah. Yogyakarta :
Pustaka Pelajar
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

Sugiyono. 2012. Metodologi Penelitian


Pendidikan. Bandung : Alfabeta
Sugiyono. 2013. Metodologi Penelitian
Pendidikan. Bandung : Alfabeta
Syafrudin dan Hamidah. 2009. Kebidanan
Komunitas. Jakarta : EGC

90

ISSN 2303-1433

Hubungan Senam Kegel Pada Ibu Hamil Primigravida TM III Terhadap Derajat
Robekan Perineum Di Wilayah Puskesmas Pembantu Bandar Kidul
Kota Kediri
Shinta Kristianti, Yohanita Putriyana
Poltekkes Kemenkes Malang
Prodi Kebidanan Kediri Jl.KH.Wakhid Hasyim 64 B Kediri
Abstract
Chiilddbirt injuries often result in the birtht canal, or tearing of the perineum or
perineum rupture. Perineum laceration can be caused by maternal parity, estimated fetal
weight, and so on becaused the perineum is elastic, but can also be found on the perineum
rigid, especially on the first pregnancy (primigravida). Doing Kegel exercises can increase
elastisitasion maternal perineum area. Kegel exercises to strengthen pelvic muscles before
delivery, and can flex muscle of perineum as delivery baby. The purpose of this study was
to determine the relationship of kegel exercises for pregnant women primigravida TM III
with the degree of rupture perineum on normal deliveries at Puskesmas Bandar Kidul
district of kediri. The design of this study using Analitic Correlation study with crosssectional approach. Population from this study were 19 respondent and Samples were 16
respondents pregnant women primigravida TM III with Consecutive Sampling. Instrument
in this study using a cheklist sheet and observation sheets. From the result, the results of
most respondents do kegel exercise with frequency =5x each day. From the analysis of the
data using the Spearman Rank r count showed 0.12 < t table 0.506 means Ho received no
relationship kegel exercise with degree of rupture perineum in Puskesmas Bandar Kidul of
Kediri. Kegel execises should be done on healing perineal wound.
Keywords : Kegel exercises, Primigravida, Degree of rupture perineum
.
dapat menjadi sumber perdarahan
Pendahuluan
Persalinan
primipara
dapat
(Prawiroharjo, 2007).
menimbulkan perlukaan jalan lahir
Jenis trauma jalan lahir salah satunya
ataupun pada perineum, Luka persalinan
robekan perineum, yang mengakibatkan
biasanya ringan, tetapi kadang-kadang
robekan tingkat I, II, III, dan IV. Dengan
terjadi juga luka yang luas dan berbahaya.
gejala
klinis
perdarahan
ringan,
Robekan perineum itu sendiri adalah
perdarahan sedang, hingga perlukaan
robekan atau koyaknya jaringan secara
dalam, dan apabila robekan terjadi pada
paksa yang terletak antara vulva dan anus
sekitar klitoris dan uretra dapat
panjangnya rata-rata 4 cm (Wiknjosastro,
menimbulkan perdarahan hebat dan
2007). Trauma jalan lahir perlu
mungkin
sulit
untuk
diperbaiki
mendapatkan perhatian karena dapat
(Prawiroharjo, 2007).
menyebabkan disfungsi organ bagian
Robekan perineum dapat disebabkan
paling luar sampai alat reproduksi vital,
oleh paritas ibu, taksiran berat badan
sebagai sumber perdarahan yang dapat
janin, dan sebagainya, dikarenakan daerah
berakibat fatal, dan sumber atau jalan
perineum bersifat elastis, tapi dapat juga
masuknya infeksi, yang kemudian dapat
ditemukan pada perineum kaku, terutama
menyebabkan
kematian
karena
pada nullipara yang baru mengalami
perdarahan atau sepsis (Chapman, 2006).
kehamilan
pertama
(primigravida)
Setiap trauma jalan lahir memerlukan
(Surinah, 2008).
tindakan yang cepat dan tepat karena
Di Dunia, berbagai Negara paling
sedikit seperempat dari seluruh kematian
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

91

ISSN 2303-1433

ibu
disebabkan
oleh
perdarahan
proporsinya berkisar antara kurang dari 10
% sampai hampir 60 %. Walaupun
seorang perempuan bertahan hidup setelah
mengalami pendarahan pasca persalinan,
namun ia akan menderita akibat
kekurangan darah yang berat (anemia
berat) dan akan mengalami masalah
kesehatan yang berkepanjangan (WHO,
2007).
Menurut
Prawiroharjo
angka
kematian ibu di Indonesia karena
perdarahan post partum mempunyai
peringkat yang tinggi salah satu penyebab
perdarahannya adalah Atonia Uteri atau
tidak adanya kontraksi pada uterus, dan
robekan perineum menjadi penyebab
perdarahan
postpartum
kedua.
(Prawiroharjo, 2007). Berdasarkan data
yang diperoleh dari Dinas Kesehatan
Propinsi Jawa Timur, selama tahun 2011
tercatat sebanyak 627 ibu yang meninggal
dunia di Jawa Timur. Penyebab utama
kematian ibu di Jatim adalah perdarahan
saat persalinan dan tekanan darah tinggi
saat hamil (preeklamsia). (Dinkes Jatim,
2011). Jumlah AKI yang disebabkan oleh
perdarahan di Propinsi Jawa Timur,
selama 2009 sebanyak 260 ribu ibu
meninggal setiap 10.000 kelahiran per
tahun. Angka ini menurun dibanding
2007, yakni 320 ribu ibu meniggal setiap
10.000 kelahiran per tahun. Tahun 2015,
ditarget AKI turun sampai 112 ribu
(Jatimprov,
2010).
Sementara
berdasarkan hasil dari studi pendahuluan
untuk wilayah Kota Kediri pada tahun
2012
angka
kejadian
perdarahan
persalinan didapatkan sebanyak 10 dari
3365 persalinan, atau sekitar 0,297%.
Bahaya dan komplikasi robekan
perineum antara lain perdarahan, infeksi,
dan disparenia (nyeri selama hubungan
seksual). Perdarahan pada robekan
perineum dapat menjadi hebat khususnya
pada robekan derajat III dan IV atau jika
robekan meluas kesamping atau naik ke
vulva mengenai klitoris. Karena letak
perineum berdekatan dengan anus,
laserasi perineum dapat dengan mudah
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

terkontaminasi feses. Infeksi juga dapat


menjadi sebab luka tidak segera menyatu
sehingga timbul jaringan parut. Jaringan
parut yang terbentuk sesudah laserasi
perineum inilah yang nantinya dapat
menyebabkan nyeri selama berhubungan
seksual (Seller, 2008).
Penelitian Ruliati (2010) yang
berjudul pengaruh pijat perineum pada
kehamilan terhadap kejadian ruptur
perineum pada persalinan di Bidan
Praktek Swasta BPS Siswati dan BPS Siti
Zulaikah Jombang, mengatakan pada
kelompok yang diberikan intevensi pijat
perineum : primigravida tidak mengalami
ruptur sebanyak 44,4%, ruptur derajat I
55,6%, sedangkan pada multigravida tidak
mengalami ruptur perineum sebanyak
55,6%, ruptur derajat I sebanyak 44,4%.
Pada kelompok kontrol : primigravida
yang tidak mengalami ruptur perineum
sebanyak 22,2%, ruptur perineum derajat I
sebanyak 22,2%, dan ruptur perineum
derajat II sebanyak 55,6%. Sedangkan
untuk multigravida yang tidak mengalami
ruptur perineum sebanyak 11,1%, 33,3%
mengalami ruptur perineum derajat I, dan
55,6% dengan ruptur perineum derajat II.
Ada beberapa cara yang dapat
digunakan untuk mencegah terjadinya
robekan perineum karena persalinan
normal, diantaranya adalah mengajarkan
ibu untuk sering melakukan senam Kegel,
serta menganjurkan ibu untuk memilih
posisi yang nyaman, meneran saat ada
his, tidak mengangkat bokong saat
meneran, bagi petugas kesehatan tidak
melakukan dorongan pada fundus untuk
membantu kelahiran bayi,
serta
melindungi perineum saat kepala mulai
tampak 5-6 cm di depan vulva dengan
satu tangan untuk menahan belakang
kepala bayi agar tetap fleksi pada saat
keluar (JNPK-KR, 2007).
Senam Kegel adalah senam untuk
menguatkan otot dasar panggul menjelang
persalinan, tujuannya untuk menguatkan
otot-otot dasar panggul, membantu
mencegah masalah inkontinensia urine,
serta dapat melenturkan jaringan perineum
92

ISSN 2303-1433

sebagai jalan lahir bayi. Sehingga seluruh


ibu harus dimotivasi untuk menggerakan
otot dasar panggul sedikit-sedikit dan
sesering mungkin, perlahan dan cepat
pada masa mendekati persalinan. Prosedur
senam Kegel dapat diingat dan dilakukan
bersama aktifitas yang berkaitan dengan
kegiatan ibu sehari hari. Seperti saat ibu
duduk di kamar mandi setelah berkemih
dan ini adalah posisi relaks untuk
mengkontraksi otot tersebut, serta pada
saat ibu ingin tidur dan dalam keadaan
apapun. Melakukan senam Kegel secara
teratur dapat membantu melenturkan
jaringan perineum ibu menyambut
persalinan (Proverawati, 2012).

yang dilakukan oleh ibu adalah lembar


cheklis sedangkan untuk kejadian robekan
perineum menggunakan lembar observasi
pada saat persalinan. Analisa hubungan
antara senam Kegel dengan derajat
robekan perineum, peneliti menggunakan
rumus Spearman Rank.

Metode Penelitian
Penelitian
ini
menggunakan
rancangan
Analitik
Corelation.
Pendekatan yang digunakan Cross
Sectional, metode Analitik Corelation ini
digunakan untuk mengukur korelasi antara
senam kegel yang dilakukan pada ibu
hamil primigravida TM III dengan
robekan perineum pada persalinan normal.
Populasi dalam penelitian ini adalah
semua ibu hamil primigravida TM III di
Wilayah Puskesmas Pembantu Bandar
Kidul Kota Kediri yang memenuhi kriteria
inklusi dalam penelitian. Jumlah populasi
dalam penelitian ini adalah 20 orang ibu
hamil primigravida TM III, sedangkan
sampelnya adalah sebagian ibu hamil
primigravida TM III di Wilayah
Puskesmas Pembantu Bandar Kidul Kota
Kediri yang memenuhi kriteria inklusi
dalam penelitian. Jumlah sampel dalam
penelitian ini sejumlah 10 orang yang
diambil dengan consecutive sampling .
Cara yang akan dilakukan oleh
peneliti yaitu pengambilan sampel dengan
meneliti responden ibu hamil yang sesuai
dengan kriteria inklusi di Wilayah
Puskesmas Pembantu Bandar Kidul Kota
Kediri, dipantau dalam beberapa kurun
waktu tertentu hingga pada saat persalinan
dilakukan observasi.
Pada penelitian ini instrumen yang
digunakan untuk mengetahui senam Kegel

Berdasarkan tabel 1 dapat diketahui


hampir setengahnya responden telah
melaksanakan senam Kegel =5x setiap
harinya yaitu sebesar 7 responden
(43,75%) dari total 16 responden.

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

Hasil Penelitian
Frekuensi Senam Kegel
Tabel 1. Distribusi Frekuensi
Kegel
Frekuensi
Senam Kegel
1. <5x
2. =5 x
3. >5 x
Jumlah

Frekuensi
5

Senam
%
31,25
43,75
25,00
100,00

7
4
16

Frekuensi Derajat Robekan Perineum


Tabel2. Distribusi Frekuensi Derajat
Robekan Perineum
Derajat Robekan
Perineum
Derajat 0
Derajat 1
Derajat 2
Jumlah

Frekuensi
1
6
9
16

%
6,25
37,50
2,25
100,00

Berdasarkan tabel 2 dapat diketahui


sebagian besar responden mengalami
robekan perineum derajat 2 pada saat
persalinan yaitu sebesar 9 responden
(52,25%) dari total 16 responden.
Hubungan Senam Kegel Pada Ibu
Hamil Primigravida Trimester III
Terhadap Derajat Robekan Perineum
Tabel 3. Hubungan Senam Kegel Pada Ibu
Hamil
Primigravida
Trimester
III
Terhadap Derajat Robekan Perineum
N
o

Frekuensi
Senam
Kegel

1.
< 5x
2.
= 5x
3.
>5x
JUMLAH

Derajat Robekan Perineum


Derajat
0

Derajat
1

Derajat
2

0
1
0
1

2
2
2
6

3
4
2
9

5
7
4
16

93

ISSN 2303-1433

Berdasarkan tabel 3 diketahui


sebagian besar responden yang memiliki
frekuensi senam
Kegel =5x dan
mengalami robekan perineum derajat 2
sebanyak 4 responden (57,1%) dan
hampir setengah responden yang memiliki
frekuensi senam Kegel <5x dan
mengalami robekan perineum derajat 2
sebanyak 3 responden (60,0%). Hal
tersebut menunjukan bahwa semakin
sering melakukan senam Kegel belum
tentu dapat meminimalkan terjadinya
robekan perineum dengan derajat yang
rendah.
Guna membuktikan kecenderungan
hubungan senam Kegel terhadap derajat
robekan perineum maka dilakukan analisis
Korelasi Spearman rank. Hasil analisa
sebagai berikut:
Tabel 4. Uji Korelasi Spearman Rank
Hubungan Senam Kegel dengan
Derajat Robekan Perineum
Variabel
Senam Kegel Derajat
Robekan Perineum
N = 16
= 0,05

r tabel

0,506

0,12

Berdasarkan hasil penghitungan


hitung didapatkan hasil 0,12 untuk hasil
analisa hubungan senam Kegel dengan
derajat robekan perineum. Dari tabel
terlihat bahwa untuk n=16, pada taraf
kesalahan 5% diperoleh harga 0,506 dan
Hasil rho hitung ternyata lebih kecil dari
rho tabel untuk taraf kesalahan 5%.
Berdasarkan hal tersebut menunjukan
tidak
terdapat
kesesuaian
yang
nyata/signifikan antara frekuensi senam
Kegel dengan derajat robekan perineum.
Dari tabel 5.5 diketahui tidak ada
hubungan senam Kegel dengan derajat
robekan perineum ibu di Puskesmas
Bandar Kidul Kota Kediri ( = 0,12 <
0,506 maka Ha ditolak).
Pembahasan
Puskemas Pembatu Bandar Kidul
Kota Kediri adalah Puskesmas Pembatu
Wilayah Campurejo Kota Kediri, pada
Puskesmas ini terdapat data Ibu hamil
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

primigravida dengan kunjungan K4


terbanyak di Wilayah Kota Kediri, dan
merupakan sasaran dari peneliti sehingga
peneliti memilih Puskesmas Pembantu
Bandar Kidul Kota Kediri sebagai tempat
penelitian. Dalam penelitian ini populasi
berjumlah 19 responden, yaitu seluruh Ibu
Hamil Primigravida TM III Di Wilayah
Puskesmas Bandar Kidul Kota Kediri
yang termasuk dalam kriteria inklusi
penelitian (consecutive sampling). Namun
dalam proses penelitian terdapat 3
responden masuk dalam kriteria eksklusi.
2 responden dilakukan episiotomi dan 1
responden dilakukan tindakan (SC).
Karakteristik Frekuensi Senam Kegel
Ibu Hamil Primigravida TM III
Pada penelitian yang telah dilakukan
di dapatkan hasil diketahui hampir
setengahnya
responden
telah
melaksanakan senam Kegel =5x setiap
harinya yaitu sebesar 7 responden
(43,75%) dari total 16 responden. Hal ini
dikarenakan ibu terkadang lupa untuk
melakukan anjuran dari peneliti.
Bila senam Kegel dilakukan secara
teratur maka dapat dirasakan manfaatnya.
Untuk hasil terbaik, senam Kegel perlu
dilakukan secara konstan setiap hari.
Hasilnya tidak akan didapat dalam waktu
sehari. Kebanyakan orang akan merasakan
perubahan setelah 3 minggu dengan
berlatih beberapa menit setiap hari. Bagi
wanita sebaiknya senam Kegel ini
dilakukan sepanjang hidup, tidak hanya
pada saat hamil saja, bila rajin melakukan
senam Kegel sejak muda, maka ketika tua
otot panggul akan tetap kuat sehingga
terhindar dari mengompol, sulit menahan
kencing dan masalah-masalah lainnya
yang sering dialami oleh para lansia
(Widianti & Proverawati, 2010).
Keelastisitasan otot-otot perineum
yang telah dilatih oleh senam Kegel saat
mendekati
persalinan
dapat
meminimalkan
terjadinya
robekan
perineum pada saat persalinan, minimnya
robekan yang terjadi pada saat persalinan

94

ISSN 2303-1433

dapat turut meminimalkan juga resiko


infeksi penyembuhan dari luka perineum.
Hal ini juga sependapat dengan
penelitian yang dilakukan oleh Novita
(2012) dari Kelompok yang diberikan
intervensi senam Kegel sebanyak 7
responden,
didapatkan 5 responden
(71,4%) mengalami penyembuhan luka
perineum lebih awal di banding 2
responden
lainnya. Sedangkan pada
kelompok kontrol sebanyak 7 responden,
yang tidak diberikan intervensi senam
Kegel 2 (28,57%) diantaranya mengalami
penyembuhan luka perineum lebih awal.
Hal ini menunjukan bahwa senam Kegel
bukan merupakan faktor utama dalam
penyembuhan luka perineum karena
peneliti tidak memberikan lembar
pemantauan yang diberikan untuk
mencatat hasil melakukan senam Kegel
selama dirumah (Novita,2012).
Penanganan yang dianjurkan terhadap
keadaan diatas adalah dengan memahami
seutuhnya manfaat besar dari senam
Kegel bagi wanita. Disaat seluruh wanita
paham tentang manfaat dari senam kegel
(terutama responden) maka wanita akan
melakukan senam Kegel dengan senang
hati, sesering mungkin, kapanpun dan
dimanapun ia berada, sehingga wanita
tersebut dapat dengan mudah merasakan
berbagai macam manfaat dari senam
Kegel.
Derajat Robekan Perineum Pada Ibu
Bersalin Normal.
Pada penelitian yang telah dilakukan
diketahui sebagian besar responden
mengalami robekan perineum derajat 2
pada saat persalinan yaitu sebesar 9
responden
(52,25%) dari total 16
responden. Hal ini mungkin dikarenakan
responden hanya memiliki frekuensi
melakukan senam Kegel =5x setiap
harinya, berat badan lahir bayi, serta
keadaan responden yang seluruhnya
nulipara. Hal ini sangat memungkinkan
terjadinya derajat robekan perineum
derajat 2, nulipara memiliki otot-otot

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

perineum yang kaku dibanding ibu


bersalin primi/multipara.
Hal ini sependapat dengan teori yang
dikemukakan oleh Sarwono (2009)
mengatakan bahwa salah satu faktor
resiko terjadinya robekan perineum adalah
Primigravida. Serta didukung juga dengan
teori yang mengatakan bahwa paritas
sangat berpengaruh dengan terjadinya
robekan perineum pada saat proses
persalinan
berlangsung,
hal
ini
dikarenakan daerah perineum bersifat
elastis, tapi dapat
juga ditemukan
perineum yang kaku, terutama pada
nullipara yang baru mengalami kehamilan
pertama (primigravida) (Surinah, 2008).
Berdasarkan jurnal yang didapatkan
dari penelitian yang dilakukan di BPS
Yohana daerah Bandarharjo Semarang
pada April 2012, hasil pemantaun
persalinan yang menggunakan partograf
menunjukan bahwa dari 60% ibu bersalin
yang mengalami laserasi perineum dan
67% diantaranya adalah primipara.
Setelah dilakukan wawancara dengan
ketiga ibu bersalin yang mengalami
laserasi perineum ternyata selama hamil
tidak melakukan senam Kegel. Observasi
menunjukan bahwa laserasi perineum
mayoritas dialami oleh primipara yang
tidak
melakukan
senam
Kegel
(Yanti,2012).
Pada ibu bersalin nulipara masih
memiliki keadaan perineum yang utuh
dibanding ibu bersalin primi/multipara,
karena pada ibu bersalin nulipara otot-otot
perineum belum mengalami trauma
(persalinan). Dibanding dengan ibu
bersalin primi/multipara yang sudah
mengalami trauma (persalinan) dengan
jumlah yang berbeda. Oleh sebab itu,
dapat ditarik kesimpulan bahwa pada
seorang nulipara resiko terjadinya robekan
perineum semakin tinggi dibanding
dengan seorang primi/multipara yang
mengalami robekan perineum pada saat
berlangsungnya proses persalinan.
Penanganan dari keadaan tersebut
diatas adalah dengan menganjurkan ibu
hamil untuk sesering mungkin melakukan
95

ISSN 2303-1433

senam Kegel saat mendekati proses


persalinan, karena senam Kegel dapat
meningkatkan keelastisitasan otot-otot
perineum ibu terlebih pada seorang
nulipara. Serta didukung dengan peran
penolong persalinan dalam hal ini bidan
untuk mengantisipasi dan menangani
komplikasi yang mungkin terjadi pada ibu
dan
janin.
Proses
keberhasilan
berlangsungnya persalinan tergantung dari
kemampuan skill dan kesiapan penolong
dalam
menghadapi
persalinan
(Bobak,2005).
Hubungan Senam Kegel Pada Ibu
Hamil Primigravida TM III Terhadap
Derajat Robekan Perineum.
Hasil penelitian diketahui bahwa
sebagian besar responden yang memiliki
frekuensi senam
Kegel =5x dan
mengalami robekan perineum derajat 2
sebanyak 4 responden (57,1%) dan
hampir setengah responden yang memiliki
frekuensi senam Kegel <5x dan
mengalami robekan perineum derajat 2
sebanyak 3 responden (60,0%). Hal
tersebut menunjukan bahwa senam Kegel
bukan merupakan faktor utama dalam
meminimalkan
terjadinya
robekan
perineum. Setelah dilakukan analisis
Korelasi Spearman rank didapatkan hasil
analisis sebagai berikut: diketahui tidak
ada hubungan senam Kegel dengan
derajat robekan perineum ibu di
Puskesmas Bandar Kidul Kota Kediri ( =
0,12 < 0,506 maka Ha ditolak).
Hal ini tidak sepedapat dengan teori
mengatakan manfaat dari senam Kegel
salah satunya dapat memudahkan wanita
melahiran bayi tanpa banyak merobek
jalan lahir (tanpa atau sedikit merobek
jalan lahir) (Proverawati,2010).
Penelitian Ruliati (2010) yang
berjudul pengaruh pijat perineum pada
kehamilan terhadap kejadian ruptur
perineum pada persalinan di Bidan
Praktek Swasta BPS Siswati dan BPS Siti
Zulaikah Jombang, mengatakan pada
kelompok yang diberikan intevensi pijat
perineum: primigravida tidak mengalami
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

ruptur sebanyak 44,4%, ruptur derajat I


55,6%, sedangkan pada multigravida tidak
mengalami ruptur perineum sebanyak
55,6%, ruptur derajat I sebanyak 44,4%.
Pada kelompok kontrol: primigravida
yang tidak mengalami ruptur perineum
sebanyak 22,2%, ruptur perineum derajat I
sebanyak 22,2%, dan ruptur perineum
derajat II sebanyak 55,6%. Sedangkan
untuk multigravida yang tidak mengalami
ruptur perineum sebanyak 11,1%, 33,3%
mengalami ruptur perineum derajat I, dan
55,6% dengan ruptur perineum derajat II
(Yanti,2012).
Tidak terdapatnya hubungan senam
Kegel dengan derajat robekan perineum
juga tidak dapat dipungkiri. Hal ini terjadi
karena terjadinya robekan perineum juga
dipengaruhi oleh beberapa faktor, faktor
ibu dan janin. Diantaranya paritas ibu,
ukuran besar janin, serta kemahiran
penolong dalam memimpin persalinan.
Dalam penelitian ini responden yang
telah melakukan senam Kegel dengan
teratur namun mengalami robekan
perineum derajat 2 mungkin dikarenakan
berat badan lahir bayi dan kemahiran
penolong. Hal ini sesuai dengan teori yang
dikemukakan oleh Prawiroharjo (2009)
yang mengatakan robekan perineum dapat
dipengaruhi dari faktor janin yaitu dimana
keadaan kepala janin yang besar, janin
dengan presentasi defleksi, janin dengan
letak sungsang, serta janin makrosomia.
Sementara untuk kemahiran penolong
sesuai dengan teori yang tertulis dalam
Buku Acuan Asuhan Persalinan Normal
(2008) kerjasama dengan ibu dan
penggunaan manual yang tepat dapat
mengatur kecepatan lahirnya bayi dan
mencegah
terjadinya
laserasi.
Pengendalian kecepatan dan pengaturan
diameter kepala saat melalui introitus
dan
perineum
dapat
mengurangi
kemungkinan
terjadinya
robekan
perineum. Bimbing ibu untuk meneran
dan beristirahat atau bernapas dengan
cepat pada
waktunya. Saat kepala
membuka vulva (5-6cm), letakan kain
bersih dan kering yang dilipat 1/3
96

ISSN 2303-1433

bagiannya dibawah bokong ibu (untuk


mengeringkan bayi segera setelah lahir).
Lindungi perineum dengan satu tangan
(dibawah kain bersih dan kering), ibu jari
pada salah satu sisi perineum dan 4 jari
tangan pada sisi yang lain
pada
belakang kepala bayi. Tahan belakang
kepala bayi agar posisi kepala tetap
fleksi pada saat keluar secara bertahap
melewati
introitus dan perineum.
Melindungi
perineum
dan
mengendalikan keluarnya kepala bayi
secara bertahap dan hati-hati dapat
mengurangi
regangan berlebihan
(robekan) pada vagina dan perineum.
Penanganan yang dapat digunakan
untuk mengurangi terjadinya robekan
perineum pada saat persalinan spontan
yaitu dengan cara senantiasa melakukan
senam Kegel dari masih muda hingga
selanjutnya dengan sesering mungkin dan
konstan, serta menjaga masa kehamilan
dengan cermat dan sehat, selalu
memeriksakan kehamilan pada pelayan
kesehatan
yang
terjangkau
guna
mendeteksi keadaan serta kesejahteraan
janin di dalam kandungan, serta mengatur
asupan nutrisi dengan pola diit yang
seimbang.
KESIMPULAN
Kesimpulan penelitian ini yaitu
1. Hampir setengah dari responden telah
melaksanakan senam kegel dengan
frekuensi =5x setiap harinya.
2. Sebagian besar responden mengalami
robekan perineum derajat 2 pada saat
persalinan.
3. Tidak ada hubungan dilakukannya
senam Kegel pada ibu hamil
primigravida TM III terhadap derajat
robekan perineum pada persalinan
normal, ( = 0,12 < 0,506 maka Ha
ditolak).
SARAN
1. Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini dapat digunakan
sebagai dasar informasi tentang
manfaat senam Kegel untuk wanita
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

pada umumnya dan responden (ibu


hamil) pada khususnya, mengingat
manfaat senam Kegel sangat beragam
seperti menghindari ngompol pada
lansia, meningkatkan keelastisitasan
otot-otot perineum pada ibu hamil dan
ibu nifas, serta lebih mudah mencapai
orgasme bagi wanita, dll. Apabila
dilakukan sesuai dengan prosedur yang
telah ditentukan.
2. Bagi Responden
Diharapkan bagi ibu hamil TM III
setiap harinya melaksanakan senam
Kegel sesuai prosedur untuk membantu
meningkatkan keelastisitasan otot-otot
perineum yang dapat mengurangi
derajat robekan perineum pada saat
persalinan.

Daftar Pustaka
Abdurahman, M, dkk. 2011. Dasar-dasar
Metode Statistika Untuk Penelitian.
Bandung : Pustaka Setia.
Bobak, I, dkk. 2005. Buku Ajar
Keperawatan Maternitas. Jakarta :
EGC.
Brock, Katie. 2007. Nutrisi, Medikasi, dan
Senam Kehamilan. Jakarta : Prestasi
Pustakaraya.
Chapman, V. 2006. Asuhan Persalinan
dan Kelahiran. Jakarta : EGC.
Hidayat, A. A. A. 2005. Metode
Penelitian Kebidanan & Teknik
Analisis Data Jakarta : Salemba
Medika.
Jones, Ilewellyn. 2002.
Dasar-dasar
Obstetri dan Ginekologi Edisi 6.
Jakarta : Hipokrates.
Kusmiyati, Y, dkk. 2009. Perawatan Ibu
Hamil. Yogyakarta : Fitramaya.
Liu, D. 2008. Manual Persalinan (Labour
Ward Manual) Edisi 3. Jakarta : EGC.
Maimunah, S. 2005. Kamus Kebidanan.
Jakarta : EGC.
Manuaba, C, dkk. 2008. Gawat Darurat
Obstetri-Ginekologi & ObstetriGinekologi Sosial untuk
Profesi
Bidan. Jakarta : EGC.
97

ISSN 2303-1433

Notoatmodjo, S. 2002. Metodologi


Penelitian Kesehatan. Jakarta :
Rineka Cipta.
Prawiroharjo, S. 2005. Buku Acuan
Nasional
Pelayanan
Kesehatan
Maternal dan Neonatal Edisi 1.
Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawiroharjo.
. 2007. Ilmu Kebidanan
Edisi 3. Jakarta : Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawiroharjo.
Proverawati, 2010. Senam Kesehatan
Aplikasi Senam Untuk Kesehatan.
Yogyakarta : Muha Medika.
Pujiastuti, S, dkk. 2003. Fisioterapi Untuk
Lansia. Jakarta : EGC.
Ruliati, 2010. Pengaruh Pijat Perineum
Pada Kehamilan terhadap Kejadian
Ruptur Perineum pada Persalinan di
BPS Jombang. Malang : UMM.
Karya Tulis Ilmiah.
Sastrawinata. 2005. Obstetri Ginekologi
Universitas Padjajaran Bandung.
Bandung : Elstra Offset.
Saifuddin, A. 2007. Ilmu Kandungan
Sarwono Prawirohardjo. Jakarta :
YBPSP.
Setiawan , A. 2010. Metodologi Penelitian
Kebidanan DIII, DIV, S1, S2 Edisi 1.
Yogyakarta : Muha Medika.
Stoppard,
W.
2005.
Panduan
Mempersiapkan
Kehamilan
&
Kelahiran. Yogyakarta : Pustaka
Pelajar.
Sumarah. 2008. Asuhan Persalinan
Normal & Inisiasi Menyusui Dini.
Jakarta : JNPK KR.
. 2009. Perawatan Ibu Bersalin
(Asuhan Kebidanan Pada Ibu
Bersalin). Yogyakarta : Fitramaya.
Sugiyono,
2010.
Statistika
Untuk
Penelitian. Bandung : Alfabeta.
Suririnah, 2008. Buku Pintar Kehamilan
& Persalinan (Panduan Bagi Calon
Ibu Untuk Menjalani Kehamilan yang
Sehat & Menyenangkan). Jakarta :
Gramedia.
Suseno T, 2009. Kamus Kebidanan.
Yogyakarta
:
Cipta
Pustaka
Yogyakarta.
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

Ujiningtyas,
S.
2009.
Asuhan
Keperawatan Persalinan Normal.
Jakarta : Salemba Medika.Walsh, L.
2007.
Buku
Ajar
Kebidanan
Komunitas. Jakarta : EGC.
Verralls, S. 2003 : Anatomi & Fisiologi
Terapan dalam Kebidanan. Jakarta :
EGC.
Wiknjosastro, H. 2002. Buku Panduan
Praktis
Pelayanan
Kesehatan
Maternal dan Neonatal. Jakarta :
Tridasa Printer.
Yanti,
2012.
Jpttunumus-gdlherfinaoctt/2012/senamkegel.html.(di
akses 15 Januari 2013).

98

ISSN 2303-1433

The relationship between the speed of early initiation of breastfeeding with


postpartum hemorrhage volume on stage labor
Yunarsih, Dwi Rahayu
Akper Dharma Husada Kediri
ABSTRACT
Maternal mortality rate in Indonesia is assumed to be high enough; it is 228 per a
hundred thousand alive birth case in 2010 with the main factor is a heavy bleeding. The
decrease of maternal mortality rate can be done by decreasing one of its factors that is
avoiding a heavy bleeding after the delivery by doing a first breast feeding procedure. The
purpose of the study is to find the correlation between the speed of early initiation of
breastfeeding with the volume of blood occur at the fourth stage of the labor (post partum
hemorrhage). The method used in the study is an analytical observation (longitudinal
prospective). While the population of study is some mothers who experience a vaginal
birth in BPM Bunda district Prambon. The number of the sample is 29 mothers using a
random sampling technique. The independent variable is the speed of early initiation
breastfeeding and the dependent variable is the volume of blood on the fourth stage (post
partum hemorrhage). The datum are analyzed by ( SPSS ) T analyzed on two random
sample and match to the meaningful degree of < 0,05. The result of the study shows that
there is a correlation between the speed of first breastfeeding with the volume of the
blood p = 0,00. Therefore the conclusion of the study is that there is a correlation between
the speed of the first breastfeeding and the volume of the blood, so that the researcher hope
that the person on duty for the delivery process to encourage the first breastfeeding
procedure to the mother and also to enlarge the knowledge of health education of the
expecting mother about the essential effect of first breast feeding application.
Keyword : early initiation of breastfeeding, post partum hemorrhage, maternal mortality
Pendahuluan
Inisiasi menyusui dini adalah proses
alami mengembalikan bayi manusia untuk
menyusu,
yaitu
dengan
memberi
kesempatan pada bayi untuk mencari dan
menghisap ASI sendiri, dalam satu jam
pertama pada awal kehidupannya (Roesli
Utami, 2008). Adapun manfaat dari
inisiasi menyusui dini antara lain adalah
sentuhan tangan bayi di puting susu dan
sekitarnya, hisapan dan jilatan bayi pada
puting susu merangsang hormon oksitosin
yang dapat membantu rahim berkontraksi
sehingga membantu pengeluaran plasenta
dan mengurangi perdarahan post partum.
Normalnya plasenta akan lepas dalam
waktu kurang dari 30 menit setelah
kelahiran bayi.
Berdasarkan
Survei
Demografi
Kesehatan Indonesia (SDKI) AKI di
Indonesia cukup tinggi, 228 per seratus
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

ribu kelahiran hidup pada tahun 2010.


Penyebab utama kematian ibu di
Indonesia adalah perdarahan, infeksi,
eklamsi yang terbanyak disebabkan
perdarahan yaitu 27 persen. Kebanyakan
perdarahan terjadi setelah bayi dilahirkan,
hal ini berkaitan dengan plasenta dan
relaksasi otot rahim. Oleh karena itu,
penatalaksanaan dan observasi pada kala
IV harus mendapat perhatian. Penurunan
AKI ini bisa dilakukan dengan mengatasi
penyebabnya yang salah satunya adalah
mencegah terjadinya perdarahan paska
persalinan dengan salah satu caranya
dengan menerapkan inisiasi menyusui
dini.
Metode Penelitian
Penelitian
ini
menggunakan
pendekatan kuantitatif dengan jenis
penelitian observasional Analitik untuk
99

ISSN 2303-1433

mencari hubungan antar variabel dan


dilakukan analisis terhadap data yang
dikumpulkan untuk mengetahui seberapa
hubungan antar variabel yang ada. Peneliti
melakukan
observasi
waktu
yang
dibutuhkan bayi sejak diletakkan di dada
antara dua payudara ibu sampai bayi
berhasil mencapai puting susu ibu dan
menghisapnya dan Volume perdarahan
kala empat diukur sejak setelah plasenta
lahir sampai 2 (dua) jam setelah
melahirkan dengan cara menimbang
underpad (pembalut) yang digunakan ibu.
Penelitian dilakukan terhadap 29 Ibu yang
melahirkan normal di BPM (Bidan
Praktek
Mandiri)
Bunda
wilayah
Kecamatan Prambon pada bulan OktoberDesember
2014.
Data
dianalisis
menggunakan uji T bebas (Independent TTest) dengan derajat kemaknaan () =
0,05.
Hasil Penelitian
Tabel 1 Hubungan antara kecepatan
inisiasi menyusui dini dengan
volume perdarahan pada kala
empat dalam cc.
Kelp
IMD <
30 mnt
IMD
30-60
menit

Mean

SD

260,0

14,1

0,00

23

360,8

49,4

Keterangan
Ada
perbedaan
signifikan

Berdasarkan tabel 1 didapatkan


bahwa rerata volume perdarahan ibu pada
kala empat pada kelompok
inisiasi
menyusui dini kurang dari 30 menit lebih
rendah yaitu 260,0 cc dibandingkan
inisiasi menyusui dini 30-60 menit yaitu
360,8 cc perbedaan volume perdarahan
pada kala empat pada kelompok inisiasi
menyusui dini kurang dari 30 menit
dengan 30-60 menit adalah signifikan
(p= 0,00). Berarti ada hubungan yang
signifikan antara kecepatan inisiasi
menyusui dini dengan volume perdarahan
kala empat.

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

Pembahasan
Hasil analisis bivariat dengan
menggunakan uji T ada hubungan yang
signifikan antara kecepatan inisiasi
menyusui dini dengan volume perdarahan
pada kala empat.
Oleh karena itu
observasi yang cermat dan tindakan yang
tepat pada ibu setelah melahirkan sangat
penting dilakukan karena perdarahan
sering terjadi dalam waktu empat jam
setelah persalinan. Perdarahan masih
menduduki urutan pertama penyebab
kematian ibu di Indonesia. Salah satu
tindakan yang tepat adalah dengan
melakukan inisiasi menyusui dini. Pada
saat dilakukan inisiasi menyusui dini
sentuhan, jilatan, usapan pada puting susu
ibu akan merangsang pengeluaran hormon
oxyitosin yang dapat
merangsang
kontraksi uterus sehingga menurunkan
resiko perdarahan pasca persalinan.
Ada penelitian yang hampir serupa
dengan penelitian ini yaitu penelitian yang
diadakan di Australia oleh Thompson et
al. yang menunjukkan hasil bahwa ada
hubungan antara kejadian perdarahan
setelah melahirkan dengan penundaan
inisiasi menyusui dini. Perbedaan
penelitian ini dengan penelitian yang
peneliti lakukan adalah pada penelitian ini
respondennya ibu yang mengalami
perdarahan setelah melahirkan kemudian
dihubungkan
dengan
apakah
ibu
melakukan inisiasi menyusui dini,
sehingga kesimpulan penelitiannya bahwa
ibu yang mengalami perdarahan setelah
melahirkan ada hubungan dengan
penundaan inisiasi menyusui dini.
Sedangkan penelitian yang peneliti
lakukan, respondennya adalah ibu yang
melahirkan normal kemudian dilakukan
inisiasi menyusui dini diobservasi
waktunya dan diukur volume perdarahan
kala empat dan ternyata setelah dilakukan
inisiasi menyusui dini tidak ada responden
yang mengalami perdarahan setelah
melahirkan, perdarahan yang keluar masih
dalam batas normal yaitu kurang dari
500cc.

100

ISSN 2303-1433

Penelitian serupa juga dilakukan oleh


Rahmaningtyas dkk. di Kediri dengan
hasil penelitian ada perbedaan kontraksi
uterus pada ibu post partum sebelum dan
sesudah melaksanakan inisiasi menyusui
dini. Perbedaan dengan penelitian yang
peneliti lakukan adalah peneliti tersebut
menghubungkan antara inisiasi menyusui
dini dengan variabel kontraksi uterus yang
nantinya juga akan berpengaruh terhadap
volume perdarahan ibu, sedangkan
penelitian yang peneliti lakukan saat ini
dihubungkan dengan variabel volume
perdarahan pada kala empat. Kontraksi
uterus nantinya juga bisa sebagai indikator
volume
perdarahan
dimana
kalau
kontraksi uterusnya baik maka perdarahan
juga akan sedikit begitu pula sebaliknya.
Pada ibu setelah melaksanakan inisiasi
menyusui dini, kontraksi uterusnya lebih
baik dibandingkan dengan sebelum
dilaksanakan inisiasi menyusui dini.
Menurut Gusnita, 2008 dengan adanya
bayi di perut ibu, akan menahan
perdarahan
karena
otot-otot
yang
mengeluarkan darah akan mengkerut
karena ditekan oleh badan bayi. Menurut
(Mander, 1998) kontraksi uterus yang
baik akan membantu mempercepat
pelepasan plasenta dari dinding rahim dan
secara fisiologis akan menyebabkan
kontraksi serabut-serabut miometrium
yang mengelilingi pembuluh darah yang
memvaskularisasi
daerah
implantasi
plasenta sehingga pembuluh-pembuluh
darah tersebut terjepit dan akan menutup
dengan demikian perdarahan akan
berkurang. Sehingga semakin cepat
inisiasi menyusui dini maka semakin
sedikit perdarahan yang keluar pada kala
empat.
KESIMPULAN
Setelah dilakukan analisis data, dapat
disimpulkan bahwa:
Terdapat hubungan yang signifikan antara
kecepatan inisiasi menyusui dini dengan
volume perdarahan pada ibu bersalin kala
empat di BPM Bunda wilayah Kecamatan
Prambon yaitu semakin cepat waktu yang
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

dibutuhkan untuk inisiasi menyusui dini


semakin sedikit perdarahan yang keluar.
SARAN
Berdasarkan
kesimpulan
hasil
penelitian diatas, beberapa saran yang
dapat peneliti sampaikan: hendaknya
pengambil kebijakan pada tatanan
pelayanan kesehatan lebih meningkatkan
pendidikan kesehatan pada ibu hamil
tentang pentingnya pelaksanaan inisiasi
menyusui dini dan mengharuskan petugas
kesehatan khususnya bidan dan perawat
untuk benar-benar melaksanakan IMD
dalam
upaya
membantu
program
pemerintah menurunkan angka kesakitan
dan kematian ibu bersalin /AKI karena
HPP.
Daftar Pustaka
Aziz. (2006). Pengantar Kebutuhan
Dasar Manusia. Jakarta: Penerbit
Salemba Medika.
Bobak.,Lowdermilk.,Jensen.
(2004).
Keperawatan Maternitas edisi 4.
Jakarta:
Penerbit
Buku
Kedokteran EGC.
Chandra, Budiman. (2007). Metodologi
Penelitian Kesehatan. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC
Corwin. (1997). Buku Saku Patofisiologis.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC.
Cunningham., Gant., Leveno.,Gilstrap.,
Hauth.,
Wenstrom.
(1995).
Obstetri William. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC.
Frisda. (2010). Faktor-faktor Pada bidan
Yang Mempengaruhi Praktik
Inisiasi
Menyusui
Dini.
Tesis.Universitas
Diponegoro
Semarang.
Hamilton, PM. (1995). Dasar-Dasar
Keperawatan
Maternitas.
Jakarta:
Penerbit
Buku
Kedokteran EGC.
Idris. (2009). Peran Faktor Perilaku
Dalam
Penerapan
Inisiasi
Menyusui Dini di Kota Pare Pare.

101

ISSN 2303-1433

Tesis. Universitas Hasanuddin


Makasar.
Lowdermilk.,Bobak.,Jensen.
(1999).
Maternity Nursing 5th edition.
Missouri: Mosby Year Book
Mander. (2004). Nyeri Peralinan. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC
Manuaba (1998). Ilmu Kebidanan,
Penyakit Kandungan & Keluarga
Berencana
untuk
Pendidikan
Bidan. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC
Mehta.,
Gupta.,
Goel.
(2009).
Postoperative Oral Feeding After
Cesarean Section-Early Versus
Late Initiation: A Prospective
Randomized Trial. Journal of
Gynecologic Surgery. December
2010, Vol. 26, ISSN: 1528-8439
No. 4: 247-250.
Nakao, Moji, Honda, Oishi, (2008).
Initiation of breastfeeding within
120 minutes after birth is
associated with breastfeeding at
four months among Japanese
women:
A
self-administered
questionnaire
survey.
International
Breastfeeding
Journal
2008,
3:1 doi:10.1186/1746-4358-3-1
Notoatmodjo,Soekidjo.
(2008).
Metodologi Penelitian Kesehatan.
Edisi revisi. Rineka Cipta: Jakarta
Rahmaningtyas. Wijanti, Hardjito .(2010).
Perbedaan kekuatan kontraksi
uterus pada ibu post partum
antara sebelum dan sesudah
melaksanakan inisiasi menyusui
dini. jurnal penelitian kesehatan
forikes vol.1 No.3.ISSN 20863098
Roesli, Utami (2008). Inisiasi Menyusui
Dini. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC
Saifuddin.,Adriaansz.,Wiknjosastro.,Wasp
odo.
(2000). Buku Acuan
Nasional Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal, Jakarta:
Penerbit
JNPKKR-POGI

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

bekerjasama dengan Yayasan Bina


Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Setiadi (2007). Konsep dan Penulisan
Riset Keperawatan. Yogyakarta:
Penerbit Graha Ilmu
Theresia Catur Wulan Setyaningrum.
(2009).
Pengaruh
inisiasi
menyusui dini terhadap jumlah
perdarahan pada kala II sampai
kala IV di Rumah Sakit Umum
Daerah Kota Surakarta. Skripsi.
Universitas Sebelas Maret Solo.
Varney.,Kriebs.,Gegor., (2008). Buku Ajar
Asuhan Kebidanan. Edisi 4.
Volume 2. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC
Weisbrod.,
Sheppard.,
Chernofsky.,
Gage.,
(2009).
Emergent
management
of
postpartum
hemorrhage for the general and
acute care surgeon. World Journal
of Emergency Surgery 2009,
4:43 doi:10.1186/1749-7922-4-43

102

ISSN 2303-1433

Analisis Keterkaitan Pendekatan Belajar dengan Indeks Prestasi Mahasiswa Akademi


Keperawatan Dharma Husada Kediri.
(Analisys the relationship between Learning Approach Academy of Nursing Student
Achievement Index Dharma Husada Kediri)
Moh Alimansur
Akademi Keperawatan Dharma Husada Kediri
Abstract
Student approaches to learning used to be very important because it is often the case of
a student who has the cognitive abilities higher than his friends , was only able to achieve
similar results to those achieved by his friends , when learning the right approach then we
will get the Achievement Index much better . The purpose of this study to analisys the
relationship between Learning Approach Academy of Nursing Student Achievement Index
Dharma Husada Kediri . Design used is descriptive correlation with cross sectional method
. Sample Nursing Academy students Husada Kediri Dharma and the second semester IV
Semester many as 124 students , which is used proportionate Stratified Sampling Simple
Random Sampling . Learning approach to data collection is done by using a questionnaire ,
while the Achievement Index data using a data collection sheet . The data were analyzed
by using a test " Kendal Tau " with a significance level p < 0.05 . Statistical test results
obtained p = 0.000 and r = 0.612 which indicates no relationship between the Approaches
to Learning Student Nursing Student Achievement Index Dharma Husada Kediri with a
strong degree of relationship . Positive value of the correlation coefficient indicates that the
higher the type of approach used the better achievement index.
Key word: Learning Approach, Achievement Index
Pendahuluan
Dalam era globalisasi disegala bidang
maka diperlukan suatu pendidikan yang
bermutu dan mampu menghasilkan tenaga
kerja yang siap bersaing. Dalam rangka
memenuhi kebutuhan tenaga yang
bermutu diperlukan penanganan khusus
terhadap mahasiswa agar dalam menjalani
proses belajar dapat berhasil sesuai
dengan tujuan yang dicita-citakan. Salah
satunya adalah mengenai pendekatan
belajar yang digunakan mahasiswa, hal ini
menjadi penting karena sering terjadi
seorang mahasiswa yang memiliki
kemampuan ranah kognitif yang lebih
tinggi dari teman-temannya, ternyata
hanya mampu mencapai hasil yang sama
dengan yang dicapai teman-temanya itu.
Bahkan tidak mustahil jika suatu saat
mahasiswa cerdas tersebut mengalami
kemerosotan prestasi sampai ke titik yang
lebih rendah daripada prestasi temannya
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

yang berkapasitas rata-rata. Penelitian


Jaumil Akhir, 1990 menunjukkan bahwa
banyak anak berbakat yang termasuk
underachiever (berprestasi dibawah taraf
kemampuannya) yang apabila tidak
ditangani akan merupakan penyia-nyiaan
potensi intelektual yang unggul.(Syah,
2005).
Sebaliknya, seorang mahasiswa yang
sebenarnya hanya memiliki kemampuan
ranah cipta rata-rata atau sedang, dapat
mencapai
puncak
prestasi
yang
memuaskan,
lantaran
menggunakan
pendekatan belajar yang efisien dan
efektif. Konsekuensi positifnya ialah
harga diri (Sef-esteem) mahasiswa tersebut
melonjak hingga setara dengan temantemannya,
yang
beberapa
orang
diantaranya mungkin berkapasitas kognitif
lebih tinggi.(Syah, 2005).
Pada hakikatnya prestasi mahasiswa /
indeks prestasi mahasiswa merupakan
103

ISSN 2303-1433

suatu pencerminan dari kemajuan


akademik mahasiswa yang didalamnya
mengandung hakikat pribadi mahasiswa
seperti kedisiplinan, keuletan belajar,
kerja keras dan pengembangan pola
pikir(Warsiki, 2005). Sehingga untuk bisa
berprestasi yang maksimal bukan hanya
Intelegensi saja tapi juga harus diikuti
dengan pola belajar yang tepat pula.
Pada era globalisasi sekarang ini
prestasi dan kompetensi merupakan
prasyarat yang sangat penting dalam dunia
kerja. Fakta yang dapat kita lihat adalah
saat ini beberapa unit pelayanan telah
menjadikan Indeks Prestasi sebagai salah
satu indicator yang menjadi bahan
pertimbangan suatu instansi dalam
merekrut pegawai disamping tes bakat,
pengalaman kerja dan wawancara.
Dengan melihat kondisi tersebut
maka peneliti ingin meneliti adakah
hubungan antara Pendekatan belajar
dengan Indeks Prestasi Mahasiswa Akper
Dharma Husada Kediri.
Metodologi Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis
penelitian Deskriptif Korelasional dengan
pendekatan
cross
sectional
yang
mempelajari dinamika korelasi antara
variabel independen (pendekatan belajar)
dan variabel dependen (indeks prestasi
mahasiswa) dengan penekanan terletak
pada waktu pengukuran/observasi data
yang hanya satu kali, pada suatu saat dan
tidak ada follow-up.
Variabel dalam penelitian ini terdiri
atas dua variabel, yaitu: variabel dependen
dan variabel independen. Variabel
dependen dalam penelitian ini adalah
Indeks Prestasi mahasiswa Akademi
Keperawatan Dharma Husada Kediri.
Sedangkan variabel independennya adalah
Pendekatan Belajar mahasiswa Akademi
Keperawatan Dharma Husada Kediri.
Dalam penelitian ini populasinya
adalah mahasiswa Akademi Keperawatan
Dharma Husada Kediri semester II dan
Semester IV sebanyak 190 mahasiswa.

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

Mahasiswa semester VI tidak diteliti


karena dalam masa praktek Profesi.
Besarnya sampel pada penelitian ini
adalah 124 orang, dimana teknik
penghitungan
sampelnya
dilakukan
dengan menggunakan rumus:

Keterangan:
n = Perkiraan jumlah sampel
N = besar populasi
d = Tingkat kesalahan yang dipilih ( d =
0.05 )
(Arikunto, 1998)
Teknik sampling yang digunakan
dalam penelitian ini adalah proportionate
Stratified Simple Random Sampling.
Instrumen pengumpulan data pada
penelitian ini
dengan menggunakan
kuesioner dan lembar pengumpul data.
Pada penelitian ini karena kedua variabel
(independen dan dependen) berbentuk
ordinal maka analisa data yang digunakan
adalah Kendal Tau dengan menggunakan
SPSS 19 for Windows.
Hasil Penelitian
Karakteristik Responden
Tabel 1 Distribusi Frekwensi Responden
Berdasarkan Jenis Kelamin dan Usia
No

1.
2.

Jenis
Kelamin

Laki-laki
Wanita
Jumlah

Usia

Jumlah

18 - 19 Th

20 - 21 Th

22-24 Th

Jml

Jml

Jml

15
50
65

12
40
52

25
24
49

20
19
39

7
3
10

6
3
9

Berdasarkan tabel tersebut diatas


terlihat bahwa responden yang berjenis
kelamin wanita adalah 62% dan
responden yang berjenis kelamin laki-laki
adalah 38%. Juga terdapat 52% responden
berusia 18-19 tahun dan 9% responden
berusia 22-24 tahun.

104

Jml

47
77
124

38
62
100

ISSN 2303-1433

Tabel 2 Distribusi Frekwensi Responden


Berdasarkan Alasan masuk Akper Dharma
Husada Kediri.
Jumlah
No

Alasan Masuk Akper

1.
2.
2.

Keinginan Sendiri
Disuruh Orang Tua
Disuruh Saudara
Jumlah

Jml
72
49
3
124

%
58
40
2
100

Berdasarkan tabel tersebut diatas


terlihat bahwa responden masuk ke Akper
Dharma
Husada
Kediri
hampir
setengahnya ( 58% ) karena keinginan
sendiri, hampir setengahnya (40%) karena
disuruh orang tua dan sebagian kecil (2%)
disuruh saudara.
Data Khusus
Pendekatan Belajar

Hubungan
Pendekatan
Belajar
mahasiswa dengan Indeks Prestasi
Mahasiswa Akper Dharma Husada
Kediri
Tabel 3 Tabel Tabulasi Silang antara
Pendekatan Belajar dengan Indeks
Prestasi mahasiswa.
Indeks Prestasi

Pendekatan
Belajar

Total

Tinggi
Sedang

26.6% 37.1%

Rendah

36.3%

Gambar 1 Diagram Pie Pendekatan Belajar yang


digunakan oleh mahasiswa Akper Dharma Husada
Kediri

Pada gambar 1 di atas diperoleh hasil


sebagian
besar
(37,1%)
responden/mahasiswa
menggunakan
pendekatan belajar tinggi/achieving.
Indeks Prestasi Kumulatif.
33.87
%

Melihat gambar di atas didapatkan


sebagian besar (66,13 %) responden
mempunyai IPK dengan kategori Baik
(2,76-3,50).

0.00%

Dengan
Pujian
Baik
Cukup

66.13
%
Gambar 4.2
Diagram Pie Indeks Prestasi
kumulatif yang dicapai oleh responden.

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

Total

Cukup

Baik

Rendah

32

33

Sedang

43

45

Tinggi

38

46

42

82

124

Dari tabel diatas terlihat bahwa


mahasiswa
yang
menggunakan
pendekatan sedang mendapatkan nilai IP
baik terbanyak dan IP Cukup terendah.
Dari hasil uji statistik Kendal Tau
didapatkan p = 0,000 dan r = 0,612 yang
menunjukkan ada hubungan antara
Pendekatan Belajar mahasiswa dengan
Indeks Prestasi Mahasiswa Akper Dharma
Husada Kediri dengan derajat hubungan
kuat. Nilai positif dari koefisien korelasi
menunjukkan bahwa semakin tinggi jenis
pendekatan yang digunakan maka hasil
indeks prestasinya semakin baik.
Pembasan
Pendekatan Belajar Mahasiswa
Dari hasil penelitian pada gambar 1
diperoleh gambaran sebagian besar
(37,1%)
responden/mahasiswa
menggunakan
pendekatan
belajar
tinggi/achieving. Pendekatan achieving
pada umumnya dilandasi oleh motif
ekstrinsik yang berciri khusus yang
disebut ego-enhancement yaitu ambisi
pribadi yang besar dalam meningkatkan
prestasi keakuan dirinya dengan cara

105

ISSN 2303-1433

meraih indeks prestasi setinggi-tingginya (


Syah, 2005). Jadi mahasiswa masih
banyak yang melakukan kegiatan belajar
karena ingin mendapatkan nilai Indeks
Prestasi yang tinggi. Jika kita mendalami
lebih jauh maka cara belajar ini
sebenarnya memiliki kekurangan dimana
hasil belajar yang diraih mungkin saja
tinggi, tetapi kurang opimal karena hanya
menganggap penting nilai berupa angka.
Kondisi ini bisa muncul pada
mahasiswa mungkin karena masih banyak
dari dosen yang pengajarannya berfokus
pada dosen dan hanya mementingkan
pencapaian nilai semata. Sering kita
mendengar dosen akan mengatakan
mahasiswa itu pintar karena bisa
menyebutkan kembali apa yang diajarkan
sesuai dengan hand out dari dosen tersebut
atau karena nilai ujiannya bagus. Kondisi
ini menyebabkan mahasiswa mempunyai
persepsi bahwa belajar adalah untuk dapat
mengerjakan soal dan mendapatkan nilai
yang bagus.
Kondisi ini juga bisa disebabkan
karena orang tua sering menggunakan
Nilai IPK saja dalam meniali kemajuan
belajar anaknya. Kondisi ini yang
mendorong mahasiswa akan berupaya
untuk mendapatkan nilai yang tinggi.
Selain itu kondisi di lapangan pekerjaan
saat dimana banyak pengguna yang
mematok nilai tertentu bagi pencari kerja
untuk bisa kerja ditempatnya. Kita
berharap kedepan orang bisa bekerja
bukan karena nilai KHSnya saja tetapi
karena kemampuan yang dimilikinya.
Dari hasil penelitian juga didapatkan
26,6 % mahasiswa yang menggunakan
pendekatan rendah/Surface. Mahasiswa
mau belajar karena dorongan dari luar
antara lain takut tidak lulus yang
mengakibatkan dia malu. Oleh karena itu,
gaya belajarnya santai, asal hafal, dan
tidak mementingkan pemahaman yang
mendalam (Syah, 2005). Pendekatan
Surface ini bisa muncul karena memang
tidak semua mahasiswa masuk ke
Akademi Perawatan karena dorongan diri
sendiri dari data penelitian didapatkan ada
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

52 mahasiswa yang masuk ke Akademi


Perawat
karena
dorongan
orang
tua/saudara. Kondisi ini menyebabkan
minat dan motivasi mahasiswa dalam
belajar menjadi rendah dan asal-asalan.
Sehingga mahasiswa yang menggunakan
pendekatan ini sering belajarnya hanya
pada
saat
mau
ujian
dengan
menghafalakan apa yang diajarkan
dosennya saja, tidak pernah dikaitkan
dengan aspek-aspek lain, dilakukan hanya
untuk mendapatkan nilai yang baik saat
tes dan sehabis tes maka mahasiswa
tersebut sudah lupa dengan apa yang
dipelajari tadi.
Dari hasil penelitian juga bisa kita
lihat sebanyak 36,3% mahasiswa telah
menggunakan pendekatan sedang atau
Deep Aproach. Sebenarnya pendekatan ini
adalah pendekatan yang paling ideal
dalam
belajar.
Karena
dengan
menggunakan pendekatan ini mahasiswa
mempelajari materi karena memang dia
tertarik dan merasa membutuhkannya
(instrinsik). Oleh karena itu, gaya
belajarnya serius dan berusaha memahami
materi secara mendalam serta memikirkan
cara mengaplikasikannya. Bagi siswa ini,
lulus dengan nilai baik adalah penting,
tetapi yang lebih penting adalah memiliki
pengetahuan yang cukup banyak dan
bermanfaat bagi kehidupannya (Syah,
2005). Mahasiswa yang menggunakan
pendekatan belajar mendalam pada
akhirnya akan menghasilkan hasil belajar
yang optimal dan mahasiswa akan
mempunyai
kemampuan
dalam
memecahkan masalah dengan baik. Hal
ini bisa disebabkan karena 58 %
mahasiswa masuk ke Akper karena
keinginan sendiri hal ini tentunya
memberikan motivasi tersendiri bagi
mahasiswa yang bersangkutan. Disini
peran dari dosen sangat penting dalam
meningkatkan semangat dan motivasi
mahasiswa dalam belajar , dengan
menggunakan
pendekatan
belajar
berfokus pada mahasiswa.

106

ISSN 2303-1433

Indeks Prestasi Mahasiswa


Dari hasil penelitian pada gambar
4.2.1 diperoleh gambaran sebagian besar
(66,13 %) responden mempunyai IPK
dengan kategori Baik (2,76-3,50). Hasil
nilai indeks prestasi yang baik ini bisa
disebabkan karena sebagian besar 58%
mahasiswa masuk ke Akademi Perawatan
Dharma Husada karena keinginan sendiri.
Karena sudah merupakan suatu yang
diminati maka mahasiswa akan lebih
memusatkan perhatiannya pada studi yang
diminatinya itu, sehingga mahasiswa akan
lebih giat belajar dan berusaha mencapai
prestasi yang sebaik mungkin(Syah,
2005). Selain itu nilai yang baik itu juga
bisa disebabkan karena tersedianya sarana
belajar yang sudah cukup memadai di
Akademi Perawatan Dharma Husada
Kediri.
Hubungan antara Pendekatan Belajar
Mahasiswa dengan Indeks Prestasi
Mahasiswa.
Dari hasil uji statistik Kendal Tau
didapatkan p = 0,000 dan r = 0,612 yang
menunjukkan ada hubungan antara
Pendekatan Belajar mahasiswa dengan
Indeks Prestasi Mahasiswa Akper Dharma
Husada Kediri dengan derajat hubungan
kuat. Nilai positif dari koefisien korelasi
menunjukkan bahwa semakin tinggi jenis
pendekatan yang digunakan maka hasil
indeks prestasinya semakin baik.
Apabila kita perhatikan tabel Tabulasi
Silang antara Pendekatan Belajar dengan
Indeks Prestasi mahasiswa maka dapat
kita lihat bahwa indeks prestasi
mahasiswa
yang
menggunakan
pendekatan belajar mendalam ( deep
approach ) adalah yang paling optimal
hasilnya dibandingkan mahasiswa yang
menggunakan
pendekatan
belajar
permukaan ( Surface approach ) dan
pendekatan belajar mengejar prestasi
(Achieving Aproach ). Karena dengan
menggunakan pendekatan ini mahasiswa
mempelajari materi karena memang dia
tertarik dan merasa membutuhkannya
(instrinsik). Oleh karena itu, gaya
Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

belajarnya serius dan berusaha memahami


materi secara mendalam serta memikirkan
cara mengaplikasikannya. (Syah, 2005).
Apabila kondisi ini ditunjang dengan
pengajaran dosen yang berfokus pada
mahasiswa maka mahasiswa akan
mempunyai
kemampuan
untuk
mengkonstruksi
pengetahuan,
menggunakan
pengetahuan
dalam
kehidupan
nyata,
dan
mampu
menumbuhkan konsep diri akademik yang
positif pada mahasiswa.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang
telah dilakukan maka dapat di simpulkan
sebagai berikut:
1. Sebagian
besar
(37,1%)
responden/mahasiswa menggunakan
pendekatan belajar tinggi/achieving.
2. Sebagian besar (66,13 %) responden
mempunyai IPK dengan kategori
Baik (2,76-3,50)
3. Hasil uji statistik Kendal Tau
didapatkan p = 0,000 dan r = 0,612
yang menunjukkan ada hubungan
antara Pendekatan Belajar mahasiswa
dengan Indeks Prestasi Mahasiswa
Akper Dharma Husada Kediri dengan
derajat hubungan kuat. Nilai positif
dari koefisien korelasi menunjukkan
bahwa
semakin
tinggi
jenis
pendekatan yang digunakan maka
hasil indeks prestasinya semakin baik.
Saran
Bagi Institusi Pendidikan Akper Dharma
Husada Kediri.
1. Perlunya pemantauan dan pembinaan
yang lebih kepada mahasiswamahasiswa yang masih mengalami
kesulitan
dalam
menggunakan
pendekatan belajar yang efektif
dengan
mengaktifkan
dosen
pembimbing akademik.
2. Perlunya
peningkatan
pada
kemampuan dosen dalam melakukan
pengajaran yang berfokus pada
mahasiswa.

107

ISSN 2303-1433

3.

4.

Bagi Mahasiswa
Diharapkan mahasiswa menggunakan
pendekatan belajar mendalam agar
mendapatkan hasil belajar yang jauh
lebih baik.
Bagi Peneliti Selanjutnya.
Penelitian
selanjutnya
bisa
menggunakan hasil penelitian ini
untuk meneliti lebih jauh mengenai
faktor-faktor yang mempengaruhi
indeks prestasi mahasiswa.

Daftar Pustaka
Arikunto,Suharsini.
1998.
Prosedur
Penelitian Suatu Pendekatan
Praktek. Jakarta:
PT. Rineka Cipta
Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Psikologi
Belajar. Jakarta: PT Asdi
Mahasetya
Syah, Muhibbin, 2005, Psikologi BelajarEd, Revisi, Cet. 4, Jakarta : PT
Raja Grafindo Persada
Warsiki, Bejo Utomo, Suhartini, 2005,
Analisis antara Indeks Prestasi
dan
Faktor
Lain
yang
berpengaruh dalam Keberhasilan
Studi pada Mahasiswa Jurusan
Tehnik Elektromedik (Jurnal
Humaniora
Kopertis
VII),
Surabaya : Kopertis VII.
Budiarto,
Eko,
2003,
Metodologi
Penelitian Kedokteran, Jakarta:
EGC.
Budiarto, Eko, 2003, Biostatistika untuk
Kedokteran
dan
Kesehatan
Masyarakat, Jakarta: EGC.
Hamalik, Oemar. 2002. Psikologi Belajar
Mengajar. Bandung: PT Sinar
Baru Algensindo
Hasan, Iqbal, 2004, Analisis Data
Penelitian
dengan
Statistik,
Jakarta, PT. Bumi Aksara.
Nursalam. 2003. Konsep dan Penerapan
Metodologi
Penelitian
Ilmu
Keperawatan. Jakarta: Salemba
Medika
Notoatmojo, Soekidjo. 2002. Metodologi
Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

Purwanto, M Ngalim. 2002. Psikologi


Pendidikan.
Bandung:
PT.
Remaja Rosdakarya
Riduwan. 2002. Skala Pengukuran
Variabel-Variabel
Penelitian.
Bandung: Alfabeta,
Rosjidan dkk. 1996. Belajar dan
Pembelajaran.
Malang:
Depdiknas
Rohani, Ahmad . 2004. Pengelolaan
Pengajaran. Jakarta: PT Asdi
Mahasatya
Sardiman.A.M. 1988. Interaksi dan
Motivasi Belajar Mengajar.
Jakarta: CV.Rajawali
Suciati. 2001.
Taksonomi Tujuan
Instruksional. Jakarta : PAUPPAI, Universitas Terbuka
Suparno, Suhaenah 2001. Membangun
Kompetensi Belajar. Jakarta:
Depdiknas
Sutadipura, Balnadi. 1985. Aneka
Problem Keguruan. Bandung: PT
Angkasa
Usman, Moh.Uzer. 2002. Menjadi Guru
Profesional.
Bandung:
PT.
Remaja Rosdakarya
Winkel
W.S,
19996,
Psikologi
Pengajaran.
Jakarta:
PT.
Gramedia
Sugiyono, 2004. Statistik Non Parametrik
Untuk
Penelitian.
Bandung
Alfabeta

108

ISSN 2303-1433

PANDUAN UNTUK PENULIS NASKAH

Jurnal Ilmu Kesehatan berupa hasil penelitian , konsep-konsep pemikiran atau ide kreatif
dan inovatif yang bermanfaat untuk menunjang kemajuan ilmu, pendidikan dan praktek
keperawatan professional. Naskah hasil penelitian hendaknya disusun menurut sistematika
sebagai berikut :
1. Judul, menggambarkan isi pokok tulisan secara ringkas dan jelas, ditulis dalam
bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Judul artikel dicetak dengan huruf besar di
tengah-tengah menggunakan font 12 Times New Roman.
2. Nama penulis, tanpa gelar. Jumlah penulis yang tertera dalam artikel minimal 1
orang, jika penulis terdiri 4 orang atau lebih, yang dicantumkan di bawah judul
artikel.
3. Abstrak, ditulis dalam bahasa Inggris dan merupakan intisari seluruh tulisan,
meliputi : masalah, tujuan, metode, hasil dan simpulan (IMRAD: Introduction,
Method, Result, dan Discussion). Abstrak ditulis dengan kalmat penuh. Di bawah
abstrak disertakan 3-5 kata-kata kunci (keywords)
4. Pendahuluianmeliputi latar bela
kang masalah, rumusan masalah serta tujuan
penelitian dan harapan untuk waktu yang akan datang.
5. Bahan dan Metode, berisi penjelasan tentang bahan-bahan dan alat-alat yang
digunakan, waktu tempat, teknik dan rancangan percobaan.
6. Hasil, dikemukakan dengan jelas dalam bentuk narasi dan data yang dimasukkan
berkaitan dengan tujuan penelitian.
7. Pembahasan, menerangkan arti hasil penelitian yang meliputi:fakta, teori dan opini.
8. Simpulan dan saran, berupa keseimpulan hasil penelitian dalam bentuk narasi yang
mengacu pada tujuan penelitian. Saran berisi saran yang dapat diberikan oleh
penulis berdasarkan hasil penelitian.
9. Pengutipan, perujukan dan pengutipan menggunakan teknik rujukan berkurung
(nama,tahun).
10. Kepustakaan, sumber rujukan (kepustakaan) sedapat mungkin merupakan pustaka
terbitan 10 tahun terakhir diutamakan adalah hasil laporan penelitian dan artikel
ilmiah dalam jurnal imiah.
Naskah yang dikirim ke redaksi hendaknya diketik dalam CD, disertai cetakan pada
kertas HVS dengan salah satu program pengolah data MS Word, ukuran A4 (210X297
mm) dengan jarak 1 spasi, font 11 Times New Romans, batas kertas 3 cm dari tepi kiri
2,5 cm dan tepi bawah, kanan dan atas.

Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3 No. 2 Mei 2015

109