Anda di halaman 1dari 19

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Olahraga, baik yang bersifat olahraga prestasi maupun rekreasi merupakan
aktivitas yang dapat memberikan manfaat bagi kesehatan fisik maupun mental. Akan
tetapi, olahraga yang dilakukan tanpa mengindahkan kaidah-kaidah kesehatan dapat
pula menimbulkan dampak yang merugikan bagi tubuh antara lain berupa cedera
olahraga. Cedera sering dialami oleh seorang atlit, seperti cedera goresan, robek pada
ligamen, atau patah tulang karena terjatuh. Cara yang lebih efektif dalam mengatasi
cedera adalah dengan memahami jenis cedera dan mengenali bagaimana tubuh kita
memberikan respon terhadap cedera tersebut. Makalah ini mengulas tentang
karakteristik cedera olahraga yang terjadi, penyebab cedera olahraga, jenis cedera
dan cara penanganan cedera olahraga. Tujuan akhir dari penanganan cedera olahraga
adalah untuk memaksimalkan proses pemulihan cedera serta untuk meminimalkan
terjadinya resiko cedera ulang.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1.
2.
3.
4.

Apakah pergertian dan penyebab dari cedera olahraga?


Bagaimana patofisiologi dan diagnosis cedera olahraga?
Apakah etiologi cedera olahraga?
Bagaimana jenis cedera olahraga : Impingement dan rotator cuff tears, Strain
dan Sprain, Contusio?

1.3 TUJUAN

1. Mengetahui pengertian dan penyebab cedera olahraga


2. Mengetahui patofisiologi dan diagnosis cedera olahraga
3. Mengetahui etiologi cedera olahraga
4. Mengetahui jenis cedera olahraga : Impingement dan rotator cuff tears, Strain
dan Sprain, Cuntosio

BAB II

TINJAUAN TEORITIS
2.1

PENGERTIAN DAN PENYEBAB CEDERA OLAHRAGA


Cedera olahraga adalah suatu keadaan patologis pada sistem integumen,
otot dan rangka yang disebabkan oleh kegiatan olahraga. Cedera olahraga
disebabkan oleh ketidakseimbangan 3 faktor, yaitu faktor host (atlet sendiri),
agent (kegiatan yang berhubungan dengan olahraga) dan environment
(lingkungan). Cedera olahraga dapat terjadi karena pengaruh dari luar (body
contact, alat olahraga), pengaruh dari dalam (koordinasi otot dan sendi yang
tidak sempurna) serta pemakaian yang berlebihan/overuse (James W et al,
1992). Cedera olahraga juga disebabkan oleh berbagai faktor antara lain
kesalahan metode latihan, kelainan struktural maupun kelemahan fisiologis
fungsi jaringan penyokong dan otot (Bahr et al. 2003).

2.2

PATOFISIOLOGI DAN DIAGNOSIS CEDERA OLAHRAGA


Secara umum patofisiologi terjadinya cedera berawal dari ketika sel
mengalami kerusakan, sel akan mengeluarkan mediator kimia yang
merangsang terjadinya peradangan. Mediator tadi antara lain berupa histamin,
bradikinin, prostaglandin dan leukotrien. Mediator kimiawi tersebut dapat
menimbulkan vasodilatasi pembuluh darah serta penarikan populasi sel-sel
kekebalan pada lokasi cedera. Secara fisiologis respon tubuh tersebut dikenal
sebagai proses peradangan.

Proses peradangan ini kemudian berangsur-angsur akan menurun sejalan


dengan terjadinya regenerasi proses kerusakan sel atau jaringan tersebut (Van

Mechelen et al. 1992). Selain berdasarkan tanda dan gejala peradangan,


diagnosis ditegakkan berdasarkan keterangan dari penderita mengenai aktivitas
yang dilakukannya dan hasil pemeriksaaan penunjang.
2.3

ETIOLOGI CEDERA OLAHRAGA


Tanda akut cedera olahraga yang umumnya terjadi adalah tanda respon
peradanagan tubuh berupa tumor ( pembengkakaan), kalor (peningkatan
suhu), rubor (warna merah), dolor (nyeri) dan functio leissa (penurunan
fungsi). Nyeri pertama kali muncul jika serat-serat otot atau tendon yang
jumlahnya terbatas mulai mengalami robekan.Selain nyeri muncul tanda
radang seperti bengkak, kemerahan, panas dan penurunan fungsi.
Pada proses lanjut tanda-tanda peradangan tersebut akan berangsur angsur
menghilang. Apabila tanda peradangan awal cukup hebat, biasanya rasa nyeri
masih dirasakan samapai beberapa hari setelah onset cedera. Kelemahan fungsi
berupa penurunan kekuatan dan keterbatasan jangakauan gerak juga sering
dijumpai (Stevenson et al. 2000).

2.4

JENIS CEDERA OLAHRAGA

2.4.1 IMPINGEMENT & ROTATOR CUFF TEARS

A. Pengertian
Cedera pada rotator cuff (otot yang menempel pada tulang lengan atas),
sedangkan shoulder impingement syndrome (gejala yang timbul yang berasal
dari tekanan pada rotator cuff tendons.
Rotator cuff adalah kumpulan otot yang penting dalam menjaga stabilitas
sendi bahu selama gerakan. Menurut Neer, shoulder impingement adalah
menyempitnya celah diantara acromion dan tuberositas mayor caput

humerus

sehingga menyebabkan insertion dari tendon supraspinatus, biceps caput


longum

serta

bursa

subacromialis

pada

shoulder

terjepit

(Shoulder

impingement).

B. Klasifikasi Shoulder impingement


Primary shoulder impingement
Terjadi pada tendon rotator cuff, tendon biceps caput longum, capsul

glenohumeral,danatau bursa subacromialis oleh akibat caput humerusdan


acromion yang mengalamibenturan.
Faktor-faktor yang berkaitan:
a) Interinsik diantaranya: kelemahan otot rotator cuff, cronic inflamasi pada
tendon rotator cuff dan bursa subacromialis, nyeri tendon rotator cuff akibat
proses

degenerative, dan

pemendekan

posterior

capsular

sehingga

mengakibatkan abnormal gerak translasiantero superior dari caput


humerus.
b) Ekstrinsik posisi curva atau hooked dari acromion, spurs pada acromion,
atau mungkin juga kelainan postur tubuh.
Secondary shoulder impingement
Didefinisikan sebagai penurunan relative dari space atau jarak antara
subacromial sehingga menyebabkan instabilitas glenohumeral joint atau
abnormal gerak kinematics scapulothoracal. Secondary Shoulder impingement
terjadi ketika rotator cuff terjepit pada posisi postero superior dengan glenoid
berada di tepi dan posisi lengan pada akhir gerakan (full) abduksi dan
eksternal rotasi. Posisi ini dapat menimbulkan patologi yang disebabkan oleh
gerak rotasi eksternal yang berlebihan, imbalance otot-otot stabilisasi scapular,
overload otot rotator cuff, dan cidera berulang paca otot rotator cuff (Aimie,
Beth, et al).

C. Etiologi

Penyebab Umum
Penggunaan berlebihan pada shoulder dan patologi pada jaringan rotator cuff,
terutama m.supraspinatus. Karena ujung insertion dari m.supraspinatus berada
tepat di permukaan bawah dari acromion danpermukaan superior dari caput

humerus.
Penyebab lainnya
Adanya gangguan instabilitas pada daerah bahu yang disebabkan oleh karena
adanya kelemahan pada otot-otot rotator cuff muscle. Gangguan imbalance
pada daerah bahu, diantaranya adalah : imbalance dari glenohumeral, aktifitas
eksentrik otot bahu, tears dari tendon biceps caput longum, scapular
dyskinesia, imbalance muscle, posterior capsular tightness dan paralysis upper
trapezius.

D. Manifestasi Klinis
Tanda yang khas dan mengarah kepada Shoulder Impingement pada
inspeksi ditemukan asymmetric shoulder line, terutama pada bahu yang
mengalami gangguan akan berusaha diposisikan lebih tinggi dan secara tidak
disadari maka tubuh telah melakukan proteksi pada bagian tubuh yang
mengalami presepsi nyeri, namun posisi tersebut dapat menyebabkan
terjadinya ischemia pada tendon dan berlanjut pada kelemahan otot-otot bahu
dan hilangnya stabilitas glenohumeral (Purbo, 2006).
E. Diagnosa
Pada pemeriksaan cepat akan ditemukan nyeri painful arc pada gerak
shoulder antara 60-120 (aktif abduksi-elevasi shoulder) dan adanya reverse
scapula humeral rhythem pada sisi bahu yang mengalami impingement.
Pemeriksaan orientasi secara cepat dapat digunakan sebagai dugaan awal
menentukan beberapa jaringan spesifik yang mungkin terjadi cidera seperti,
"hand behind the head dan hand behind the back" digunakan untuk
tesorientasi pada m.supraspinatus, m.infraspinatus dan bursa subacromialis,
dan "abdomilal press" digunakan untuk tesorientasi pada m.subscapularis
(Sugijanto, 2010).

Pada pemeriksaan fungsi gerak dasar (PFGD) aktif, pasif dan isometric
abduksi bahu maka akan ditemukan nyeri meningkat akibat adanya profokasi
pada jaringan subacromial yang mengalami peradangan.
Selanjutnya pada pemeriksaan khusus seperti Neer test, Hawkin &
Kenedy test, Empty Can test (Cooper, Joseph, 2008) dan Under caudal Traction
with Active abduction (Sugijanto,2010) makan akan lebih member profokasi
secara spesifik pada cidera jaringan subacromialis sehingga hal tersebut dapat
dipastikan sebagai sumber penyebab terjadinya penurunan aktifitas olahraga
dengan posisi lengan berada diatas kepala serta aktifitas fungsional seperti
mandi, menyisir, mengambil dompet di saku, menulis di papan tulis dan
sebagainya.
Untuk memastikan lebih lanjut maka dilakukan palpasi pada posisi-posisi
tertentu pada bahu untuk member profokasi berupa tekanan pada jaringan
subacromialis sehingga dapat memilahkan struktur jaringan spesifik yang
terpatologi, seperti palpasi tendon pada m.supraspinatus pada ventrolateral
acromion dilakukan pada kombinasi posisi bahu adduksi, ekstensi, internal
rotasi

(posisiborgol),

m.infraspinatus

pada

dorso

lateral

acromion

patatuberositas minor dilakukan pada kombinasi posisi bahu horizontal


adduksi, fleksi, eksternalrotasi (posisi sphinx), m.subscapularis dilakukan
dalam posisi bahu netral kemudian palpasi pada medial sulcusbicipitalis,
m.biceps caput longum pada sulcus bicipitalis dengan gerakan bahu internal dan
eksternal rotasi, sedangkan untuk palpasi pada bursa subacromialis pada anterior
acromion dilakukan pada posisi bahu ekstensi penuh (Sugijanto, 2010).
F. Penatalaksanaan
Penanganan yang diberikan pada kondisi Impingement Shoulder adalah
bertujuan untuk menurunkan nyeri, meningkatkan ROM, meningkatkan

kekuatan otot dan meningkatkan kestabilan pada rotator cuff muscle.


Sehingga seseorang yang pernah mengalami Impingement Shoulder, dapat
melakukan aktifitas fungsionalnya secara optimal dan kembali produktif.
Salah satu teknik manual terapi pada kondisi Shoulder Impingement berupa
traksistatik dan modalitas fisioterapi berupa intervensi microwave diathermy,
dengan latihan stabilisasi pada rotatorcuff muscle untuk terapi latihannya.

Traksi
Traksi adalah gerak tarikan terhadap satu permukaan sendi secara tegak lurus
terhadap permukaan sendi pasangannya ke arah menjauh.

Statik
Statik adalah posisi diam tanpa ada arah gerakan pada sendi, yang dapat
diaplikasikan pada semua derajat range of motion, dan dilakukan pada saat
permukaan sendi dalam keadaan distraksi dan kompresi.

Microwave diathermy (MWD)


MWD adalah energy elektromagnetik hasil arus bolak-balik, dengan frekwensi
2450Mhz dan panjang gelombang 12,25cm untuk meningkatkan panas pada
jaringan tubuh. Pengurangan nyeri oleh penerapan MWD diperoleh dari efek
gelombang elektromagnetik yang menghasilkan efek microthermal.

Latihan Stabilisasi
Latihan stabilisasi adalah suatu bentuk latihan kontraksi otot dinamik dengan
menggunakan prinsip co-contraction exercise tahanan yang digunakan berasal
dari external force. Tujuan dari latihan stabilisasi adalah untuk meningkatkan
kekuatan (strength),

meningkatkan daya tahan (endurance), meningkatkan

tenaga (power) dan hasilnya akan membentuk stabilitas yang baik pada bahu.
2.4.2 STRAIN DAN SPRAIN

10

PRINSIP UMUM
Pemulihan cedera olahraga bergantung pada beragam faktor, yaitu lokal
dan sistemik. Faktor tersebut sama untuk pemulihan setiap luka atau cedera.
Meskipun tidak spesifik untuk cedera olahraga saja, faktor tersebut perlu
dicermati

saat

menentukan

dan

mengimpilkasikan

edukasi,

program

rehabilitasi, atau perencanaan pasien. Sprain dan strain merupakan kelompok


utama cedera olahraga jaringan lunak.

SPRAIN (TERKILIR)
A. Pengertian
Sprain merupakan sedera yang berhubungan dengan regangan atau robekan
ligament. Sprain biasanya melibatkan lebih dari satu ligamen. Keparahan cidera
bergantung pada banyaknya ligamen yang cidera dan luasnya cidera pada setiap
ligamen, terutama apakah robekan bersifat parsial atau total.\
B. Etiologi

11

Sprain dapat disebabkan oleh jatuh, terpuntir tiba-tiba, atau benturan pada
tubuh yang memaksa sendi keluar dari posisi normal. Kondisi ini
mengakibatkan regangan berlebihan atau robekan pada ligamen yang menopang
sendi tersebut. Biasanya, sprain terjadi ketika seseorang terjatuh dan terhempas
dengan lengan terenggang-keluar, tergelincir, jatuh mengenai sisi kaki, atau
lutut terpuntir dengan kaki mendarat keras pada tanah. Meskipun sprain dapat
terjadi pada bagian atas dan bawah tubuh, lokasi paling umum adalah
pergelangan kaki (Wedmore & Charlette, 2000).
C. Klasifikasi
Sprain dapat diklasifikasikan dalam derajat I, II, III.

Sprain derajat I atau ringan menyebabkan renggangan berlebihan atau


robekan ringan pada ligament tanpa instabilitas sendi. Seseorang yang
mengalami sprain ringan biasanya mengalami nyeri dan pembengkakan
ringan disertai sedikit atau tidak ada kehilangan kemampuan fungsional.
Memar tidak ada atau minimal dan orang tersebut umumnya mampu
bertumpu pada sendi yang mengalami sprain.

Sprain derajat II atau sedang mengakibatkan robekan ligament parsial dan


ditandai dengan memar, nyeri sedang, dan bengkak. Orang yang mengalami
sprain sedang biasanya memiliki sedikit kesulitan bertumpu pada sendi yang
mengalami sprain dan mengalami sedikit kehilangan fungsi.

Orang yang mengalami sparin derajat III atau berat mengalami robekan total
atau rupture pada ligamen. Nyeri, bengkak, dan memar biasanya hebat. Pasien
selalu tidak mampu bertumpu pada sendi.

D. Diagnosa
Pengkajian terhadap riwayat cidera dengan cermat sangat penting dalam
mendiagnosis sprain. Pengkajian ini harus mencakup detail spesifik mengenai

12

kekuatan dan arah sendi yang megalami sprain pada saat cidera. Stabilitas,
pergerakan, dan kemampuan sendi untuk menopang berat juga diperiksa.
E. Pemeriksaan Penunjang
Sinar X biasanya digunakan untuk menyingkikan fraktur pada bagian yang
mengalami sprain. MRI dapat digunakan untuk membedakan antara cidera
parsial yang signifikan dan robekan total pada ligament.

STRAIN (TEGANGAN)
A.

Pengertian
Strain merupakan cidera yang disebabkan oleh puntiran atau tarikan pada
otot atau tendon. Beratnya strain berkisar dari regangan yang berlebihan yang
minimal pada otot atau tendon hingga robekan parsial atau total (Kannus &
Natri, 1997).

B. Etiologi
Strain dapat bersifat akut atau kronis. Strain akut disebabkan oleh trauma
dan cedera, seperti benturan pada tubuh. Selain itu, strain yang disebabkan
karena mengangkat benda berat secara tidak aman atau regangan berlebihan
pada otot merupakan masalah khusus dalam beragam pekerjaan, termasuk
perawatan. Strain kronis biasanya disebabkan oleh penggunaan secara
berlebihan, misalnya pergerakan yang lama dan berulang pada otot atau tendon.
Olahraga

kontak, seperti sepak bola, hoki, tinju, tinju, dan gulat

menyebabkan seseorang beresiko mengalami strain pada berbagai area.


Kebanyakan olahraga memiliki cedera spesifik yang umum untuk aktivitas
tersebut; misalnya, senam alat, tenis, dayung, golf, dan olahraga lain yang

13

memerlukan genggaman kuat dapat meningkatkan resiko strain pada tangan dan
lengan bawah. Strain pada siku dapat terjadi dalam olahraga raket, lempar, dan
kontak.
C.

Manifestasi Klinis
Gejala strain biasanya mencakup nyeri, spasme otot, serta kelemahan otot.
Gejala juga dapat meliputi pembengkakan, keram, atau inflamasi lokal. Strain
ringan atau sedang biasanya menyebabkan sedikit kehilangan fungsi otot.
Pasien sering mengalami nyeri pada area cidera dan kelemahan umum pada
otot ketika merika berupaya untuk menggerakannya. Strain berat yang disertai
robekan otot atau tendon parsial atau total umumnya menimbulkan nyeri hebat
dan ketunadayaan.

C.

Komplikasi
Strain yang berulang dapat menyebabkan tendonitis dan perioritis, dan
perubahan patologi adanya inflasi serta dapat mengganggu/robeknya jaringan
otot dan tendon dari intensitas ringan berat tergantung tipe strain yang di
dapatkan. Strain dapat mengakibatkan patah tulang karena robeknya ligament,
membuat tulang menjadi kaku dan mudah patah bila salah mobilisasi (Smeltzer
& Bare, 2001).

PENATALAKSANAAN SPRAIN DAN STRAIN


Umumnya, sprain dan strain tidak memerlukan hospitalisasi dan ditangani
pertama kali secara konservatif (Jarvenin et al, 2000) dalam unit kecelakaan dan

14

kedaruratan, dilanjutkan dengan rawat-jalan untuk periode yang berbeda yang


bergantung pada keparahan. Pada dasarnya, penanganan untuk sprain dan strain
adalah sama dan dapat dibagi 2 tahap: penanganan akut untuk mengurangi
pembengkakan dan nyeri, dilanjutkan dengan rehabilitasi.
1) RICE (Rest-Ice-Compress-Elevate) dan MSA (Movement-Strengh

Alternat activity) yaitu :


Istirahatkan pada bagian cedera,
Dinginkan selama 15 30 menit,
Balut pada bagian cedera dan
Tinggikan atau dinaikan pada bagian cedera.

2) Sedangkan MSA yaitu :


Gerakan sendi/otot sesuai (ROM)
Bila pembengkakan berkurang dan ROM dapat dilakukan dengan

baik, maka mulai latih kekuatan sendi dan otot


Selama fase penyembuhan dapat dilakukan latihan dengan tidak
membebani bagian yang cedera.

Bahr (2003) juga menyatakan beberapa hal dapat mengatasi strain dan sprain
yaitu :
a. Sprain/strain tingkat satu
Pada keadaan ini, bagian yang mengalami cedera cukup diistirahatkan untuk
memberi kesempatan regenerasi.
b. Sprain/strain tingkat dua
Pada keadaan ini penanganan yang dilakukan adalah berdasarkan prinsip
RICE (Rest, Ice, Compession and Elevation).
c. Sprain/strain tingkat tiga
Pada keadaan ini, penderita diberi pertolongan pertama dengan metode
RICE dan segera diikirim kerumah sakit untuk dijahit dan menyambung
kembali robekan ligamen, otot maupun tendo.

15

Obat-obatan yang dapat diberikan untuk mengatasi cedera olahraga


diantaranya adalah obat golongan penghilang rasa nyeri (analgesik) dan pereda
peradangan (anti-inflamasi) seperti NSAID (asam mefenamat, natrium
diklofenak, ibuprofen dll) atau dapat juga menggunakan asetaminofen untuk
penghilang rasa nyeri jenis lain (panadol, aspirin, dll).

2.4.3 CONTUSIO

A. Pengertian
Kontusio adalah cedera pada jaringan lunak, diakibatkan oleh kekerasan
tumpul (mis. Pukulan, tendangan, atau jatuh). Terputusnya banyak pembuluh

16

darah kecil yang terjadi mengakibatkan perdarahan ke jaringan lunak


(ekimosis,memar). Hematoma terjadi bila perdarahan cukup banyaksampai
terjadi timbunan darah (Smeltzer & Bare, 2001, hal. 2355).
Kontusio merupakan istilah yang digunakan untuk cedera pada jaringan
lunak yang diakibatkan oleh kekerasan atau trauma tumpul yang langsung
mengenai jaringan, seperti pukulan, tendangan, atau jatuh. Terputusnya
beberapa pembuluh darah kecil mengakibatkan perdarahan pada jaringan lunak
(Muttaqin, 2008, hal. 69).
Kontusio adalah luka memar/hancur yang terjadi pada bagian yang
mengalami trauma (Gordon, 1996, hal. 227).

B.

C.

Etiologi
Benturan benda keras
Pukulan
Tendangan/jatuh
Manifestasi Klinis

Perdarahan pada daerah injury (echymosis) karena rupture pembuluh darah

kecil, juga berhubungan dengan fraktur


Nyeri, bengkak dan perubahan warna
Hiperkalemia mungkin terjadi pada kerusakan jaringan yang luas dan
kehilangan darah yang banyak(Smeltzer & Bare, 2001, hal. 2355).

D.

Komplikasi

Syok

17

E.

Hipertemi
Osteomyelitis

Penatalaksanaan
Mengurangi /menghilangkan rasa tidak nyaman :

Tinggikan daerah injury


Berikan kompres dingin selama 24 jam pertama (20-30 menit setiap pemberian)

untuk vasokontriksi, menurunkan edema, dan menurunkan rasa tidak nyaman.


Berikan kompres hangat disekitar area injury setelah 24 jam pertama (20-30

menit) 4x sehari untuk melancnarkan sirkulasi dan absorpsi


Lakukan pembalutan untuk mengontrol perdarahan dan bengkak
Kaji status neurovaskuler pada daerah extremitas setiap 4 jam bila ada
indikasi(Smeltzer & Bare, 2001).
Menurut (Wahid, 2013) penatalaksanaan pada cedera kontusio adalah sebagai

berikut :
Kompres dengan es selama 12-24 jam untuk menghentikan pendarahan kapiler.
Istirahat untuk mencegah cedera lebih lanjut dan mempercepat pemulihan

jaringan-jaringan lunak yang rusak.


Hindari benturan di daerah cedera pada saat latihan maupun pertandingan
berikutnya.

2.5

PENCEGAHAN CEDERA OLAHRAGA


Menurut Stevenson (200), beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mencegah
terjadinya cedera olahraga antara lain adalah:
1. Pemeriksaan awal sebelum melakukan olahraga untuk menentukan ada
tidaknya kontraindikasi dalam berolahraga
2. Melakukan olahraga sesuai dengan kaidah baik, benar, terukur dan teratur
3. Menggunakan sarana yang sesuai dengan olahraga yang dipilih

18

4. Memperhatikan kondisi prasarana olahraga


5. Memperhatikan lingkungan fisik seperti suhu dan kelembaban udara
sekelilingnya
Cedera olahraga juga dapat dicegah dengan asupan gizi yang baik.
Penggunaan kinesio tape dan straps juga merupakan tindakan pencegahan.
HARM adalah hal-hal yang harus dihindari pada cedera olahraga untuk
mencegah yang cedera lebih parah. HARM merupakan singkatan dari Heat
(panas), Alcohol (alkohol), Running (berlari), Massage (pijat).

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Cedera olahraga adalah cedera pada sistem integumen, otot dan rangka
yang disebabkan oleh kegiatan olahraga. Cedera olahraga disebabkan oleh
berbagai faktor antara lain kesalahan metode latihan, kelainan struktural
maupun kelemahan fisiologis fungsi jaringan penyokong dan otot (Bahr et al.
2003).
Secara umum patofisiologi terjadinya cedera berawal dari ketika sel
mengalami kerusakan, sel akan mengeluarkan mediator kimia yang
merangsang terjadinya peradangan. Proses peradangan ini kemudian
berangsur-angsur akan menurun sejalan dengan terjadinya regenerasi proses
kerusakan sel atau jaringan tersebut (Van Mechelen et al. 1992).
Pada proses lanjut tanda-tanda peradangan tersebut akan berangsur angsur
menghilang. Apabila tanda peradangan awal cukup hebat, biasanya rasa nyeri

19

masih dirasakan samapai beberapa hari setelah onset cedera. Kelemahan fungsi
berupa penurunan kekuatan dan keterbatasan jangakauan gerak juga sering
dijumpai (Stevenson et al. 2000).
Impingement dan rotator cuff tears, Cuntosio, Strain dan Sprain adalah
jenis cedera olahraga. Cedera olahraga dapat dicegah dengan asupan gizi yang
baik. Penggunaan kinesio tape dan straps juga merupakan tindakan

pencegahan. HARM adalah hal-hal yang harus dihindari pada cedera olahraga
untuk mencegah yang cedera lebih parah. HARM merupakan singkatan dari Heat

(panas), Alcohol (alkohol), Running (berlari), Massage (pijat).