Anda di halaman 1dari 4

Teorema Taylor

20 4th order Taylor exp(x) 15 10 5 0 -4 -3 -2 -1 0 1
20
4th order Taylor exp(x)
15
10
5
0
-4
-3
-2
-1
0
1
2
3
4
x
Fungsi eksponensial y = e x (garis merah kontinu) dan polinomi-
al Taylor orde empat di sekitar titik asal (garis hijau putus-putus)

Dalam kalkulus, teorema Taylor memberikan barisan pendekatan sebuah fungsi yang diferensiabel pada sebu- ah titik menggunakan suku banyak (polinomial). Koefi- sien polinomial tersebut hanya tergantung pada turunan fungsi pada titik yang bersangkutan. Teorema ini juga memberikan estimasi besarnya galat dari pendekatan itu. Teorema ini mendapat nama dari matematikawan Brook Taylor, yang menyatakannya pada tahun 1712, meskipun hasilnya sudah ditemukan pertama kali tahun 1671 oleh James Gregory

1 Teorema Taylor dalam satu vari- abel

Teorema Taylor menyatakan sembarang fungsi mulus da- pat dihampiri dengan polinomial. Contoh sederhana pe- nerapan teorema Taylor adalah hampiran fungsi ekspo- nensial e x di dekat x = 0:

e x 1 + x + x 2! 2

+ x 3! 3

+ ··· + x n! n .

Hampiran ini dinamakan hampiran Taylor orde ke-n' ter- hadap e x karena menghampiri nilai fungsi eksponensial menggunakan polinomial derajat n. Hampiran ini hanya berlaku untuk x mendekati nol, dan bila x bergerak men- jauhi nol, hampiran ini menjadi semakin buruk. Kualitas hampiran dinyatakan oleh suku sisa:

R n (x) = e x ( 1 + x +

x 2

2!

+ x 3 + ··· + x n ) .

3!

n!

Lebih umum lagi, teorema Taylor berlaku untuk setiap fungsi yang dapat diturunkan ƒ, dengan hampiran untuk x di dekat titik a, dalam bentuk:

f (x)

f (a)+f (a)(xa)+ f 2! (a) (xa) 2

f (n) n! (a) (xa) n .

Suku sisa adalah perbedaan antara fungsi dan polinomial hampirannya:

R n (x) = f(x)( f(a) + f (a)(x a) + f 2! (a) (x a) 2 +

f (n) (a) ( n!

Meskipun rumus eksplisit untuk suku sisa ini jarang di- gunakan, teorema Taylor juga memberikan estimasi nilai sisanya. Dengan kata lain, untuk x cukup dekat terhadap a, suku sisa haruslah cukup kecil. Teorema Taylor mem- berikan informasi persis seberapa kecil suku sisa terse- but.

1.1 Pernyataan

Pernyataan cermat teorema ini adalah sebagai berikut:

bila n ≥ 0 adalah bilangan bulat dan f adalah fungsi yang terturunkan kontinu pada selang tertutup [a, x] dan ter- turunkan n + 1 kali pada selang terbuka (a, x), maka

f (x) = f (a)+ f (a) (xa)+ f (2) (a) (xa) 2 +···+ f (n) (a) (xa) n +R n

1!

2!

n!

Di sini n! melambangkan n faktorial dan Rn(x) adalah

suku sisa, melambangkan beda antara polinomial Taylor derajat-n terhadap fungsi asli. Suku sisa Rn(x) tergantung pada x, dan kecil bila x cukup dekat terhadap a. Ada

beberapa pernyataan untuk suku sisa ini.

Bentuk Lagrange [1] dari suku sisa menyatakan bahwa terdapat bilangan ξ antara a dan x sedemikian sehingga

R n (x) = f (n+1) (ξ) (x a) n+1 .

(n + 1)!

Ini mengungkapkan teorema Taylor sebagai perampatan

teorema nilai rata-rata. Sebenarnya, teorema nilai rata- rata digunakan untuk membuktikan teorema Taylor de- ngan suku sisa bentuk Lagrange.

Bentuk Cauchy [2] suku sisa menyatakan bahwa terdapat bilangan ξ antara a dan x sehingga

1

2

2 PEMBUKTIAN: SATU VARIABEL

R n (x) = f (n+1) n! (ξ) (x ξ) n (x a).

Secara umum, bila G(t) adalah fungsi kontinu pada se- lang tertutup [a,x], yang terturunkan dengan turunan ti- dak nol pada (a,x), maka ada suatu bilangan ξ antara a dan x sehingga

R n (x) = f (n+1) n! (ξ)

(x ξ) n · G(x) G(a) G (ξ)

.

Ini mengungkapkan teorema Taylor sebagai generalisasi teorema nilai rata-rata Cauchy.

Bentuk di atas terbatas pada fungsi riil. Namun bentuk integral [3] dari suku sisa juga berlaku untuk fungsi kom- pleks, yaitu:

R n (x) =

a

x

f

(n+1) (t)

n!

(x t) n dt,

dengan syarat, seperti yang biasa ditemui, f kontinu mut- lak dalam [a, x]. Ini menunjukkan teorema ini sebagai perampatan teorema dasar kalkulus.

Secara umum, suatu fungsi tidak perlu sama dengan deret Taylor-nya, karena mungkin saja deret Taylor tersebut ti- dak konvergen, atau konvergen menuju fungsi yang ber- beda. Namun, untuk banyak fungsi f(x), kita dapat me- nunjukkan bahwa suku sisa Rn mendekati nol saat n men- dekati ∞. Fungsi-fungsi tersebut dapat dinyatakan seba- gai deret Taylor pada persekitaran titik a, dan disebut se- bagai fungsi analitik.

|R n (x)| ≤ M n

r n+1

(n + 1)!

untuk semua x ∈ (a r, a + r). Ini disebut sebagai esti- masi seragam galat pada polinomial Taylor yang terpusat pada a, karena ini berlaku seragam untuk setiap x dalam selang.

Bila ƒ adalah fungsi mulus pada [a r, a + r], maka kon- stanta positif Mn ada untuk tiapn = 1, 2, 3, … sedemikian sehingga | ƒ (n+1) (x)| ≤ Mn untuk semua x ∈ (a r, a + r). Tambahan lagi, jika mungkin memilih konstanta ini, se- hingga

M

n

r n+1

(n+1)! 0 as n → ∞,

maka ƒ adalah fungsi analitik pada (a r, a + r). Secara khusus, suku sisa pada hampiran Taylor, Rn(x) cenderung menuju nol secara seragam saat n→∞. Dengan kata la- in, fungsi analitik adalah limit seragam dari polinomial Taylornya pada sebuah selang.

2 Pembuktian: satu variabel

Berikut adalah bukti teorema Taylor dengan suku sisa integral [4]

Teorema dasar kalkulus menyatakan bahwa

a

x

f (t) dt = f (x) f (a),

1.2 Estimasi suku sisa

Versi umum teorema Taylor lainnya berlaku pada selang

(a r, a + r) tempat variabel x mengambil nilainya. Peru- musan teorema ini memiliki keuntungan bahwa mungkin mengendalikan ukuran suku-suku sisa, dan dengan demi- kian kita dapat menghitung hampiran fungsi yang sahih pada seluruh selang, dengan batas yang cermat untuk mu-

tu hampirannya.

Versi yang cermat untuk teorema Taylor dalam bentuk ini adalah sebagai berikut. Misalkan ƒ adalah fungsi yang

terturunkan kontinu n kali pada selang tertutup [a - r, a

+ r] dan terturunkan n + 1 kali pada selang terbuka (a

r, a + r). Bila ada konstanta positif riil Mn sedemikian sehingga |ƒ (n+1) (x)| ≤ Mn untuk semua x ∈ (a r, a + r), maka

yang dapat disusun ulang menjadi:

f(x) = f(a) +

a

x

f

(t) dt.

Sekarang kita dapat melihat bahwa penerapan integrasi parsial menghasilkan

f (x) =

f (a) + xf (x) af (a)

a

x

tf (t) dt

= f(a) +

a

x

xf (t) dt + xf (a) af (a)

a

= f(a) + (x a)f (a) +

a

x

(x t)f (t) dt.

Persamaan pertama diperoleh dengan memisalkan u =

f (t) dandv = dt; persamaan kedua didapatkan dengan

xf (t) dt = xf (x)xf (a) ; yang

n! ketiga didapatkan dengan mengeluarkan faktor yang sa- ma.

f (a)+ f (a) (xa)+ f (2) (a) (xa) 2 +···+ f (n) (a) (xa)

1!

2!

mencatat bahwa

x

f (x) =

n +R n (x),

a

di mana fungsi sisa Rn memenuhi ketidaksamaan (dikenal

sebagai estimasi Cauchy)

Bila integrasi parsial ini diteruskan didapatkan:

x

tf (t) dt

3

3 Catatan kaki

f (x) = f (a)+(xa)f (a)+ 1 2 (xa) 2 f (a)+

1

2

a

x

(xt) 2 f (t) dt.

[1] Klein (1998) 20.3; Apostol (1967) 7.7.

Dengan mengulangi proses ini, kita dapat menurunkan teorema Taylor untuk nilai n yang lebih tinggi.

Proses ini dapat diformalkan dengan menerapkan teknik induksi matematika. Jadi misalkan teorema Taylor ber- laku unutk n tertentu, yaitu, misalkan

[2] Apostol (1967) 7.7.

[3] Apostol (1967) 7.5.

[4]

Perhatikan bahwa bukti ini mensyaratkan bahwa f n konti- nu mutlak pada[a, x] sehingga teorema dasar kalkulus ber- laku. Kecuali pada bagian akhir saat teorema nilai rata-

rata diterapkan, keterdiferensialan f n tidak perlu diasum-

sikan, karena kekontinan mutlak menyiratkan keterdife-

f (x) = f (a)+ f (a) (xa)+· · ·+ f (n) (a) (xa) n +

1!

n!

a

Kita dapat menulis ulang integral dengan integrasi parsial. Sebuah antiturunan (x t) n sebagai fungsi dari t diberikan sebagai −(xt) n+1 / (n + 1), sehingga

x f (n+1)

n!

rensialan hampir di mana saja, serta kesahihan teorema

(xt) n dt.

()

dasar kalkulus, dengan syarat integral yang terlibat dipa- hami sebagai integral Lebesgue. Sebagai akibatnya, ben- tuk integral suku sisa berlaku dengan pelemahan asumsi terhadap f.

(t)

a

=

x

f

(n+1) (t)

n!

(x t) n dt

[ f (n+1)

(n +

1)n! (x t) n+1 ] x +

(t)

a

a

x

4 Rujukan

Apostol, Tom (1967). Calculus. Jon Wiley & Sons, Inc. ISBN 0-471-00005-1.

Klein, Morris (1998). Calculus: An Intuitive and

f (n+2)

(t)

1)n! (xt) n+1 dt

(n +

Physical Approach. Dover. ISBN 0-486-40453-6.

=

f (n+1) (a)

(n

+ 1)! (xa) n+1 +

a

x

f

(n+2) (t)

(n + 1)! (xt) n+1 dt.

Mensubstitusikan ini dalam (*) membuktikan teorema Taylor untuk n + 1, dan karenanya untuk semua n bilang-

an bulat non-negatif.

Suku sisa dalam bentuk Lagrange dapat diturunkan de- ngan teorema nilai rata-rata untuk integral dengan cara berikut:

5 Pranala luar

(Inggris)Trigonometric Taylor Expansion Applet demonstrasi interaktif

R n =

a

x

f

(n+1) (t)

n!

(xt) n dt = f (n+1) (ξ)

a

x

(x t) n n!

dt,

di mana ξ adalah suatu bilangan dari selang [a, x]. In-

tegral terakhir dapat dievaluasi langsung, yang mengha- silkan

R n = f (n+1) (ξ)

(n + 1)!

(x a) n+1 .

Secara lebih umum, untuk tiap fungsi G(t), teorema nilai rata-rata menjamin eksistensi ξ dalam selang [a,x] yang memenuhi

R n =

a

x

f

(n+1) (t)

n!

(xt) n G

G

(t) dt = f (n+1) (ξ)

(t)

n!

=

f (n+1) (ξ)

n!

(x ξ) n · G(x) G(a)

G (ξ)

.

(xξ) n

G (ξ)

1

a

x

G (t) dt

4

6 TEXT AND IMAGE SOURCES, CONTRIBUTORS, AND LICENSES

6 Text and image sources, contributors, and licenses

6.1 Text

Teorema Taylor Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Teorema_Taylor?oldid=6734042 Kontributor: Borgx, Borgxbot, Gombang, JAn- Dbot, Kenrick95Bot, EmausBot, TuHan-Bot, WikitanvirBot dan Pengguna anonim: 1

6.2 Images

Berkas:Taylorspolynomialexbig.svg Sumber: https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/6/64/Taylorspolynomialexbig.svg Li- sensi: CC BY-SA 3.0 Kontributor: Karya sendiri Pembuat asli: Alessio Damato

6.3 Content license